Anda di halaman 1dari 24

Makalah Gizi Buruk

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal
melalui proses digestif, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran
zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Tanpa adanya gizi yang adekuat, maka
kualitas hidup tidak akan optimal dan tentunya akan mempenagruhi proses tumbuh kembang.
1.2 Tujuan
Tujuan umum dibuatnya makalah ini adalah mengetahuinya gangguan gizi pada anak.
Sedangkan tujuan khusus dari pembuatan makalah ini meliputi :
1. Mengetahui patofisologi dari gangguan gizi.
2. Mengetahui manifestasi klinis dari tiap malnutrisi.
3. Menegtahui masalah yang dialami anak dan penatalaksanaan malnutrisi.
4. Mengetahui dampak malnutrisi.
5. Mengetahui proses tumbuh kembang anak usia sekolah terkait masalah.
6. Menerapkan proses keperawatan dari malnutrisi.
7. Mengetahui promotif dan prefentif dari malnutrisi.
1.3 Batasan Masalah
Padamakalah ini penyusun memberikan batasan masalah yaitu hal-hal yang akan dibahas
dalam makalah ini terkait dengan gangguan gizi pada anak (malnutrisi atau underweight).
Adapun malnutrisi yang akan dibahas disini adalah marasmus dan kwashiorkor beseta
dampaknya.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian Gizi Buruk


Malnutrisi (gizi buruk) adalah suatu istilah umum yang merujuk pada kondisi medis yang
disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup. Walaupun seringkali disamakan dengan
kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan
besar nutrisi atau gizi, istilah ini sebenarnya juga mencakup kelebihan gizi (overnutrition)
yang disebabkan oleh makan berlebihan atau masuknya nutrien spesifik secara berlebihan ke
dalam tubuh. Seorang akan mengalami malnutrisi jika tidak mengkonsumsi jumlah atau
kualitas nutrien yang mencukupi untuk diet sehat selama suatu jangka waktu yang cukup
lama. Malnutrisi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kelaparan, penyakit, dan
infeksi.
Tanda-tanda dari banyak kasus malnutrisi yaitu ketika cadanagn nutrisi dihabiskan dan nutrisi
serta energi yang masuk tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau tidak
memenuhi tanbahan metabolic yang meningkat.
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam
waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih
merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah
malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat
harus dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan,
lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium
Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat kurang
mengkonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Itu
ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan atau hasil
pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau marasmik kwashiorkor.

2.2 Penyebab Gizi Buruk


1. Penyebab langsung
Penyakit infeksi

1. Penyebab tidak langsung


1. Kemiskinan keluarga
2. Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua yang rendah
3. Sanitasi lingkungan yang buruk
4. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
Selain itu ada beberapa penyebab dari gizi buruk seperti :
1. Balita tidak mendapat makanan pendanping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau
lebih
2. Balita tidakmendapat ASI ekslusif (ASI saja) atau sudah mendapat makanan selain
ASI sebelum umur 6 bulan
3. Balita tidakmendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan atau
lebih
4. MP-ASI kurang dan tidak bergizi
5. Setelah umur 6 bulan balita jarang disusui
6. Balita menderita sakit dalam waktu lama,seperti diare,campak, TBC, batukpilek
7. Kebersihan diri kurang dan lingkungan kotor.
2.3 Klasifikasi Gizi Buruk
Untuk kepentingan praktis di klinik maupun di lapangan klasifikasi MEP ditetapkan dengan
patokan perbandingan berat badan terhadap umur anak sebagai berikut:
1. Berat badan 60-80% standar tanpa edema : gizi kurang (MEP ringan)
2. Berat badan 60-80% standar dengan edema : kwashiorkor (MEP berat)
3. Berat badan <60% : marasmus (MEP berat)
4. Berat badan <60% : marasmik kwashiorkor (MEP berat)

Keterangan

Gizi Baik(%)

Gizi Kurang(%)

Gizi Buruk(%)

BB/U

80-100

60-80

<60

TB/U

95-100

85-95

<85

BB/TB

90-100

70-90

<70

LLA/U

85-100

70-85

<70

LLA/TB

85-100

75-85

<75

2.4 Tipe Gizi Buruk


1. Marasmus
Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori
yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya
lemak bawah kulit dan otot. Mempunyai Individu dengan marasmus mempunyai penampilan
yang sangat kurus dengan tubuh yang kecil dan tidak terlihatnya lemak.(Dorland, 1998:649).
Marasmus biasa menyerang siapa saja atau bias menyerang semua usia.
1. Etiologi
Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang
tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat atau karena kelainan metabolik dan
malformasi kongenital.
1. Tanda dan Gejala
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan
sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan
longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak
relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput, serta wajah
seperti orang tua. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat
hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, tekanan darah dan frekuensi napas
menurun, kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Biasanya terjadi konstipasi, tetapi dapat
muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi
mucus dan sedikit.
1. Patofisiologi
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau
keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan
pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak

merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa)
dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh
untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi
kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama
puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan
makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah
protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Fisik

Mengukur TB dan BB
Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam
meter)
Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik
menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan
menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari
lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada
wanita.
Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LILA untuk memperkirakan jumlah otot
rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).

Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.

1. Kwashiorkor
Kwashiorkor ialah suatu keadaan kekurangan gizi ( protein ) yang merupakan sindrom klinis
yang diakibatkan defisiensi protein berat dan kalori yang tidak adekuat. Walaupun sebab
utama penyakit ini adalah defisiensi protein, tetapi karena bahan makanan yang dimakan
kurang mengandung nutrisi lainnya ditambah dengan konsumsi setempat yang berlainan,
maka akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
1. Etiologi
Selain oleh pengaruh negatif faktor sosial ekonomi, budaya yang berperan terhadap kejadian
malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare
kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih ( sindrom nefrotik ), infeksi
menahun, luka bakar dan penyakit hati.
1. Patofisiologi

Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan,
karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang
mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan edema dan
perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai
asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Bila diet
cukup mengandung karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam
amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan kejaringan otot.
Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi
albumin oleh hepar, yang kemudian berakibat timbulnya edema. Perlemakan hati terjadi
karena gangguan pembentukan beta- lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati
terganggu, dengan akibat adanya penimbunan lemak dalam hati.

1. Gejala Kwashiorkor

Pertumbuhan terganggu, BB dan TB kurang dibandingkan dengan yang sehat.

Pada sebagian penderita terdapat edema baik ringan dan berat.

Gejala gastrointestinal seperti anoreksia dan diare

Rambut mudah dicabut, tampak kusam kering, halus jarang dan berubah warna

Hilangnay massa otot

Dermatitis dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi

Kulit kering dengan menunjukan garis garis kulit yang mendalam dan lebar, terjadi
persisikan dan hiperpigmentasi

Terjadi pembesaran hati, hati yang teraba umumya kenyal, permukaannya licin dan
tajam.

Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita.

Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar albumin serum yang rendah,
disamping kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi.

1. Pemeriksaan Labolaturium
Hampir semua kasus kwashiorkor memperlihatkan penurunan kadar albumin, kolestrol dan
glukosa dalam serum. Kemudian pada umumnya kadar imunoglobulin serum normal, bahkan
dapat meningkat. Meskipun kadar IgA sekretori merendah.Gangguan imunitas seluler
khususnya jumlah populasi sel T merupakan kelainan imunologik yang paling sering
dijumpai pada malnutrisi berat.

1. Kurang kalori dan protein ( marasmus kwashiorkor )


Etiologi, tanda dan gejalanya merupakan gabungan dari marasmus dan kwashiorkor.
2.5 Penatalaksanaan (kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi)
1. Fase inisial (resusitasi)
1. Hipoglikemia (gula darah < 54 mg/dL)
Terapi: sukrosa/ glukosa 10% 50 ml per oral/ sonde lambung Berikan makan tiap 2 jam, min.
1 hari pertama . Jika tidak sadar, glukosa iv/ glukosa 10% dengan sonde
1. Hipotermia (S < 35C aksila / <35,5C rektal)
Terapi: beri makan segera, selimuti termasuk kepala, dekatkan pemanas atau lampu
/tempatkan anak pada dada/perut telanjang ibu selimuti.
1. Dehidrasi
Dehidrasi R-S, CRO 70-100 ml/kg BB diberikan dlm 8-12 jam
1. Antibiotik
Infeksi tidak nyata: kotrimoksazol (4 mg/kg/hr trimetropim dan 20 mg/kg/hr
sulfametoksazol, dibagi 2 dosis) selama 5 hari
Infeksi nyata: ampisilin iv 100 mg/kgBB/hr, dibagi 4 dosis (2 hr), lanjut per oral
(ampisilin/amoksilin); dan gentamisin 7.6 mg/kgBB iv/im sekali sehari (7 hari)
1. Nutrisi
Energi 80-100 kkal/kg/hr, cairan 130 ml/kgBB/hr, F75 /2 jam/24 jam
Vitamin-mineral: vit. A hr 1 &2 200.000SI/oral atau 100.ooo SI/IM diulang dosis yang
sama hari ke-14
Asam folat 5 mg hr I, selanjutnya 1 mg/hr 2 minggu
MgSO4 40% 0,25 ml/kgBB/hr maks. 2 ml IM 10 hari
ZnSO4 2-4 mg/kgBB/hr 2 minggu
Tembaga (Cuprum): 0,3 mg/kgBB/hr 2 minggu
1. Pengobatan penyakit lain: TB, diare kronik, PJB.
1. Fase Transisi
Peralihan ke energi lebih tinggi sampai 150 kkal/kgBB/hr berupa F100 secara bertahap

Energi

Susu bubuk
tanpa lemak

Gula

Tepung sereal

Minyak sayur

Campuran
mineral

Campuran
vitamin

0,75 kkal/ml

1kkal/ml

25

80

70

50

35

27

60

20

20

140

140

+ sampai vol total 1000


ml

+ sampai vol total 1000


ml

Air

1. Fase Rehabilitasi
1. Diet tinggi kalori 150-220 kkal/kgBB/hr
2. Suplemen zat besi (FeSO4) 10 mg.kgBB/x, 3x/hr
3. Atasi penyebab (infeksi, miskin)
4. Pendidikan gizi dan kesehatan
2.6 Tumbuh Kembang
Table 1.1 perkembangan kepribadian, moral, dan kognitif.

Tahap /
usia

Radius hubungan Tahap


Tahap
Tahap
bermakna(sullivan) psikoseksua psikoeksual kognitif
l (Freud)
(piaget)

Tahap
penilaian
moral

Masa
Tetangga, sekolah Latensi
anakanak
(sekolah)
6-12
tahun

(Erikcson)

(Kohlberg)

Industry vs Operasi
inferioriti konkrit
(berfikir
induktif dan
mulai logis)

Tingkat
konvensional

Orientasi anak
laki-laki yang
baik,
(4-7 tahun) perempuan
manis
Orientasi
hokum dan
perintah

1. Pengelompokkan tumbuh kembang berdasarkan teori tumbuh kembang


1. Teori psikososial Sigmund Freud
Usia sekolah merupakan tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah), dengan karakteristik
sebagai berikut :

Energi digunakan untuk aktivitas fisik dan intelektual

Ini adalah periode tenang, dimana kegiatan sexual tidak muncul (tidur).

Anak mungkin terikat dalam aktivitas erogenus (perasaan erotik) dengan teman
sebaya yang sama jenis kelaminnya.

Penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini

Konflik yang tidak diatasi pada masa ini dapat menyebabkan obsesif dan kurang
motivasi diri.

1. Teori Erikson
Industri vs inferior (industry vs inferiority) usia sekolah (6-12 tahun), dengan karakteristik
sebagai berikut :

Indikator positif : mulai kreatif, berkembang, manipulasi. Membangun rasa bersaing


dan ketekunan.

Indikator negatif : hilang harapan, merasa cukup, menarik diri dari sekolah dan teman
sebaya.

Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan produksi bendabenda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian

Anak dipengaruhi oleh guru dan sekolah.

Perasaan inferior terjadi pada saat orang dewasa memandang usaha anak untuk
belajar bagaimana sesuatu bekerja melalui menipulasi adalah sesuatu yang bodoh atau
merupakan masalah.

Perasaaan inferiorketidaksuksesan di sekolah, ketidaksuksesan dalam


perkembangan ketrampilan fisik dan mencari teman.

1. Teori kognitif Piaget fase konkret operasional (7-11 tahun), dengan karakteristik
sebagai berikut :

Memecahkan masalah konkret

Mulai mengerti tentang suatu hubungan misalnya ukuran, mengerti kanan dan kiri

Anak dapat membuat alasan mengenai apa itu, tapi tidak dapat membuat hipotesa
mengenai apa kemungkinannya dan dengan demikian tidak dapat berpikir mengenai
masalah ke depan.

1. Teori Moral Kohlberg


Selanjutnya manusia juga harus mengalami perkembangan moral dengan baik. Seorang pakar
bernama Lawrence Kohlberg mengemukakan teorinya tentang pemkembangan moral ini
dengan menyatakan bahwa pada umumnya manusia mengalami tiga tingkat perkembangan
moral, sebagai berikut:
2. Tingkat II (Konvensional) pada tingkat ini ada 2 (dua) tahap:
1. Tahao orientasi mengenai anak yang baik. Agar menjadi anak yang baik,
perbuatannya harus diterima oleh masyarakat.
2. Tahap mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas, Di sini seseorang menyadari
kewajibannya untuk ikut melaksanakan norma-norma yang ada dan mempertahankan
pentingnya ada norma-norma.
3. Tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Di sini
terhadap perjanjian antara diri seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ia berbuat baik
agar diperlakukan dengan baik.
4. Tahap prinsip universal. Di sini terdapat berkembangnya norma etis (kata hati) untuk
menentukan perbuatan moral dengan prinsip universal.

3. Tingkat III (Post Konvensional) pada tingkat ini juga ada 2 (dua) tahap:

Usia sekolah (6-12 tahun)

Kelompok teman sebaya mempengaruhi perilaku anak. Perkembangan fisik, kognitif dan
sosial meningkat. Anak meningkatkan kemampuan komunikasi.

Anak usia 6-7 tahun :

Membaca seperti mesin


Mengulangi tiga angka mengurut ke belakang
Membaca waktu untuk seperempat jam
Anak wanita bermain dengan wanita
Anak laki-laki bermain dengan laki-laki
Cemas terhadap kegagalan
Kadang malu atau sedih
Peningkatan minat pada bidang spiritual

Kebutuhan nutrisi terkait tumbuh kembang anak usia sekolah

Kebutuhan kalori anak usia sekolah adalah 85kkal/kg BB.


Karakteristik :
-

Anak dapat mengatur pola makn sendiri

Adanya pengaruh teman atau jajanan

Kebiasaan menyukai satu makannan berangsur-angsur hilang

Pengaruh aktivitas bermain dapat menyebabkan keinginnanya lebih besar pada


aktivitas bermain daripada makan

Pemenuhan nutrisi berdasarkan tumbuh kembang anak usia sekolah (6-12 tahun)

2.7 Akibat Gizi Buruk


1. Menyebabkan kematian bila tidak segera ditanggulanginoleh tenaga kesehatan
2. Kurang cerdas
3. Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari normal

4. Sering sakit infeksi seperti batuk,pilek,diare,TBC,dan lain-lain.


2.8 Komplikasi Gizi Buruk
1. Hipotermi
Penyebab :
1. Tidak/kurang/jarang diberi makan
2. Menderita Infeksi

Paparan angin :
1. Genting bocor
2. Dinding berlubang
3. Tidur dekat pintu
4. Selimut dan topi kurang rapat
Menempel benda yang dingin:
1. Tidur dilantai
2. Mandi terlalu lama
3. Popok basah tidak segera diganti(ngompol,Diare)
4. Hipoglikemi
Penyebab :
1. Tidak dapat/kurang/jarang dapat makan
2. Penyakit Infeksi
Gejala :
1. Hipotemi (<35c)
2. Lemah
3. Penurunan kesadaran
4. Infeksi

5. Diare dan Dehidrasi


6. Syok
2.9 Tindakan untuk Mencegah Hipoglikemi dan Hipotermi
1. Suhu kamar hangat
1. Atap , bocor dinding , berlubang
2. Tidur dekat jendela
3. Jangan gunakan kipas angina
4. Tubuh anak dihangati
1. Gunakan cara kanguru
2. Gunakan selimut,topi & kaos kaki
3. Jangan mandi terlalu lama (<5>
4. Jangan gunakan botol panas,Inkubator
5. Sering diberi makan ( makan yang benar )
6. Obati Infeksi
2.10

Diet untuk Anak dengan Berat Badan Kurang

1. Bahan makanan yang dianjurkan


1. Semua sumber hidrat arang : bubur nasi tim, bubur roti, gandum, pasta,
jagung, kentang, sereal dan singkong
2. Sumber protein

Hewan : daging yang gemuk, ayam telur, ikan,kerang, udang , cumi, dan sumber laut
lainnya

Nabati : tempe, tahu, oncom dan kacang-kacangan

1. Semua jenis sayuran : yang berwarna hijau dan merah sebagai sumber vitamin A dan
Fe seperti kangkung, daun katuk, bayam, wortel,kembang kol, sawi, selada
2. Buah-buahan atau sari buah sumber vitamin A dan vitamin C seperti ; jeruk, apel,
papaya, melon, jambu air, salak, semangka, belimbing.
3. Susu penuh full cream , yoghurt, susu kacang, keju, mayones

4. Bahan makanan yang dibuat :


5. Makanan yang digoreng seperti kerupuk, kripik, kacang, karena lemak menyebabkan
anak cepat kenyang sehingga susah untuk makan makanan utama
6. Minuman yang dingin seperti es dan makanan / minuman yang manis seperti sirop,
dodol, permen, coklat, disamping itu makanan yang manis menyebabkan gigi cepat
rusak sehingga anak menjadi susah makan/ sakit kalau makan dan anak cepat
kenyang.
7. Bahan makanan yang dihindari :
8. Makanan jajanan yang tidak bersih karena akan menyebabkan sakit perut
9. Minuman yang mengandung alcohol atau soda seperti : brem, soft drink, karena akan
menyebabkan anak cepat kenyang dan tidak mau makan makanan utama
10. Cara mengatur diet
1. Makan dalam porsi yang kecil tapi sering dan bervariasi agar menarik minat
anak untuk makan
2. Diperlukan kesabaran untuk membujuk anak agar mau makan. Misalnya
sambil diajak bermain, anak tidak boleh dipaksa
3. Untuk anak dibawah 1 tahun , konsistensi makanan diberikan secara bertahap,
dimulai dari anak umur 6 bulan
4. Makanlah cukup sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung
vitamin dan mineral
5. Untuk balita dapat diberikan makanan formula seperti formula tempe ,
formula ikan terutama pada anak yang menderita diare
6. Konsultasi kepada dokter untuk diperiksa kondisi kesehatannya serta
mendapatkan suplemen multi vitamin dan mineral bila diperlukan.
Table kecukupan energi sehari untuk bayi dan anak menurut umur.

Golongan Umur

Kecukupan Energi

Kecukupan Energi

( tahun )

Laki-laki ( kkal/kg BB ) Perempuan ( kkal/kg BB )

0-1

110-120

110-120

1-3

100

100

4-6

90

90

6-9

80-90

60-80

10-14

50-70

40-55

14-18

40-50

40

Table Contoh menu sehari-hari


Pagi

Siang

Malam

Nasi goreng

Nasi

Nasi

Telur dadar

Ayam goreng

Empal daging

Ketimun + tomat

Tempe bacem

Tahu pepes

Susu

Sayur bening bayam

Sup sayuran

Jeruk manis

Pisang
susu

Pukul 10.00

Pukul 16.00

Pukul 21.00

Bubur kacang hijau

Puding coklat

Biscuit, Susu

2.11

Proses Keperawatan

1. Riwayat Keperawatan
1. Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan (berat badan
semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang
menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.

1. Riwayat Keperawatan Sekarang


Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan
yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih,
baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu
dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan
protein dan kalori dalam waktu relatif lama).
1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan
kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang
penyakit klien dan lain-lain.
1. Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan
kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang
penyakit klien dan lain-lain. Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too
yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah,
dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmus-Kwashiorkor adalah pengukuran
antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda
dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:

Penurunan ukuran antropometri

Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)

Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra

Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot


intercostal)

Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi
diare.

Edema tungkai

Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis


terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas
jari kaki, paha dan lipat paha).

Inspeksi

Lihat keadaan klien apakah kurus, ada edema pada muka atau kaki

Lihat warna rambut, kering dan mudah dicabut


Mata cekung dan pucat
Pada marasmus terlihat pergerakan usus
Auskultasi
dengar denyut jantung apakah terdengar bunyi S1, S2, S3 serta S4
bagaimana dengan tekanan darahnya
dengarkan juga bunyi peristaltik usus
bunyi paru paru terutama weezing dan ronchi

Perkusi

perut apakah terdengar adanya shitting duilnees


bagaimana bunyinya pada waktu melakukan perkusi

Palpasi

hati : bagaimana konsistensinya, kenyal, licin dan tajam pada permukaannya. Berapa
besarnya dan apakah ada nyeri tekan
pada marasmus usus terasa dengan jelas
limpa : apakah terjadi pembesaran limpa
tungkai : apakah ada pembesaran pada tungkai
1. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik
normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum
tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan
gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun.
Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.

Pemeriksaan Labolatorium

Biokimia :
Hb anemia

kadar albumin yang rendah


kadar globulin kadang kadang rendah dan tinggi
kadar asam amino biasanya kurang dari satu
Biopsi : ditemukan perlemakan pada hati, dan terjadinya nekrosis dan infiltrasi
Autopsi : hampir semua organ tubuh mengalami degenerasi seperti jantung, tulang
2.12

Rencana Asuhan Keperawatan

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan yang
tidak adekuat

Tujuan : Klien akan menunjukkan peningkatan status gizi.

Kriteria Hasil :

1. Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien,
kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat
seimbang.
2. Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet
(per sonde/per oral) sesuai program dietetic

Intervensi

1. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan,


susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan contoh jenis
sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien.
Rasional :
Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk
pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan
selama hospitalisasi.
1. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk
melakukannya sendiri.
Rasional :
Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas
peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.
1. Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.
Rasional :

Roborans meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai
keadaan malnutrisi.
1. Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi.
Rasional :
Menilai perkembangan masalah klien.
1. Kolaborasi dengan ahli gizi menyusun menu dan kalori.
Rasional :
Menu dan kalori dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan nutrisi anak.

1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan NGT.


Rasional :
NGT dapat membantu pemenuhan nutrisi anak walaupun keadaannya tidak memungkinkan
untuk makan lewat oral.
1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan asupan kalori dan
protein yang tidak adekuat.

Tujuan: Klien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.

Kriteria : Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia.

Intervensi

1. Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas
perkembangan sesuai usia anak.
Rasional :
Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
anak.
1. Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan.
Rasional :
Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi diprogramkan secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan anak dan kemampuan toleransi sistem pencernaan.
1. Lakukan pengukuran antropo-metrik secara berkala.

Rasional :
Menilai perkembangan masalah klien.
1. Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien.
Rasional :
Stimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek
motorik, bahasa dan personal/sosial.

1. Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan dan perkembangan


(Puskesmas / Posyandu)
Rasional :
Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak
dengan memberdayakan sistem pendukung yang ada.
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan nutrisi, dehidrasi

Tujuan: Integritas kulit kembali normal

Kriteria hasil

1. Gatal hilang / berkurang


2. Kulit kembali halus, kenyal dan utuh

Intervensi

1. Anjurkan pada keluarga tentang pentingnya merubah posisi sesering mungkin.


Rasional :
Untuk mencegah terjadinya infeksi dekubitus
1. Anjurkan keluarga lebih sering mengganti pakaian anak bila basah atau kotor dan
kulit anak tetap kering
Rasional :
Agar kulit anak tetap terjaga kebersihannya dan mencegah terjadinya infeksi pada kulit
1. Kolaborasi dengan dokter untuk pengobatan lebih lanjut.
Rasional :

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien


1. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi tentang kondisi, prognosi dan kebutuhan
nutrisi

Tujuan: Pengetahuan keluarga bertambah

Kriteria hasil

1. Keluarga mengerti dan memahami isi penyuluhan


2. Dapat mengulangi isi penyuluhan
3. Mampu menerapkan isi penyuluhan di rumah sakit dan nanti sampai di rumah

Intervensi

1. Tentukan tingkat pengetahuan dan kesiapan untuk belajar


Rasional :
Agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif
1. Jelaskan tentang nama penyakit anak, penyebab penyakit, akibat yang ditimbulkan,
dan pengobatan yang dilakukan.
Rasional :
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang penyakit anak.
1. Jelaskan tentang pengertian nutrisi dan pentingnya pola makan yang betul untuk anak
sesuai umurnya, dan bahan makanan yang banyak mengandung vitamin terutama
banyak mengandung protein.
Rasional :
Membantu memulihkan kondisi anak
1. Beri kesempatan keluarga untuk mengulangi isi penyuluhan.
Rasional :
Mengetahui sampai dimana pemahaman keluarga setelah diberi penyuluhan
1. Anjurkan keluarga untuk membawa anak kontrol di poli gizi setelah pulang dari
rumah sakit.
Rasional :

Dapat membantu mempertahankan status gizi anak dengan pengetahuan yang ada.
2.13

Implementasi

Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah


direncanakan sebelumnya
2.14

Evaluasi

Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001). Evaluasi merupakan pengukuran
keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka
dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam
implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka
dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai. Adapun hasil evaluasi
yang diharapkan pada askep gizi buruk adalah :
1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan baik dan berat badan klien
berada dalam batas normal
2. Klien dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.Kebutuhan
nutrisi klien terpenuhi
3. Tidak ada gangguan integritas kulit
4. Keluarga dapat benar benar mengetahui tentang penyakit si anak secara etiologi dan
terapi terapinya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gizi buruk adalah keadaan dimana asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan tubuh.
Umumnya gizi buruk ini diderita oleh balita karena pada usia tersebut terjadi peningkatan
energy yang sangat tajam dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus / bakteri.
Adapun penyebab dari gizi buruk adalah :
1. Penyebab langsung
Penyakit infeksi
1. Penyebab tidak langsung
1. Kemiskinan keluarga
2. Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua yang rendah
3. Sanitasi lingkungan yang buruk
4. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
Sedangkan tipe dari gizi buruk yaitu kurang kalori (marasmus), kurang protein (kwashiorkor)
dan kurang kalori dan protein ( marasmus kwashiorkor ).
3.2 Saran
Setelah menelusuri berbagai sumber pustaka, maka dapat diajukan saran-saran agar
mahasiswa keperawatan dapat lebih teliti dalam menghadapi masalah gizi dan mendapatkan
hasil yang diharapkan sebagai berikut :
1. Diharapkan mahasiswa keperawatan dapat menganalisa mengenai gizi di tiap tahap
tumbuh kembang.
2. Diharapkan mahasiswa keperawatan dapat mempelajari masalah gizi bukan hanya
dari definisi, akan tetapi dari aspek lain agar dapat mengetahui penanganan dan
spesifikasi dari masalah yang dialami.
3. Diharapkan mahasiswa keperawatan dapat menegakkan diagnosa sesuai dengan
masalah yang dialami dan dapat menegakkannya menurut prioritas serta melakukkan
tindakkan berdasarkan diagnose.
Dengan dibuatnya makalah ini, diharap mahasiswa paham tentang bagaimana promosi dan
preventif dari masalah gizi serta bagaimana merealisasikannya terhadap diri sendiri kususnya
dan mayarakat umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Documents%20and%20Settings/AAN/My%20Documents/Downloads/askep%20gizi
%20buruk.htm
http://witrilegina.blogspot.com/2008/09/askep-malnutrisi-under.html
http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/02/gizi-buruk.htm
Potter & Perry, 2006. Fundamental Keperawatan