Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Gastropati

merupakan

kelainan

pada

mukosa

lambung

dengan

karakteristik perdarahan subepitelial dan erosi. Salah satu penyebab dari gastropati adalah
efek dari NSAID (Non steroidal anti inflammatory drugs) serta beberapa faktor lain seperti
alkohol, stres, ataupun faktor kimiawi. Gastropati NSAID dapat memberikan keluhan dan
gambaran klinis yang bervariasi seperti dispepsia, ulkus, erosi, hingga perforasi.1,2
Di Indonesia, Gastropati NSAID merupakan penyebab kedua gastropati setelah
Helicobacter pylori dan penyebab kedua perdarahan saluran cerna bagian atas setelah ruptur
varises oesophagus.1
Menurut data dari Moskow Ilmiah Lembaga Penelitian Gastroenterology, pengobatan
dengan NSAID menyebabkan gastritis akut dalam 100% kasus dalam satu minggu setelah
awal pengobatan. Lesi erosif gastrointestinal terjadi pada 20-40% pasien, yang menerima
secara teratur NSAID. Sekali atau untuk perawatan waktu yang lama dengan tukak lambung
NSAID menyatakan di 12-30%, dan ulkus duodenum - di 2-19%.2
Para pasien dengan rheumatoid arthritis yang mengambil NSAID secara
jangka panjang, komplikasi yang terkait dengan risiko GI perdarahan dan kematian perkiraan
1,3-1,6% per tahun. Hal ini membuat kemungkinan untuk menyimpulkan bahwa pada pasien
dengan rheumatoid arthritis masalah gastrointestinal adalah salah satu komplikasi yang paling
sering dari perawatan penyakit.2
I. EPIDEMIOLOGI/INSIDEN KASUS
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia dengan prevelensi berbeda tergantung pada
sosial ekonomi, demografi dan dijumpai lebih banyak pada pria usia lanjut dan kelompok
sosial ekonomi rendah dengan puncak pada dekade keenam. Di Amerika Serikat,
diperkirakan 13 juta orang menggunakan NSAID secara teratur. Sekitar 70 juta resep
ditulis

setiap

tahun,

dan

30

miliar

NSAID

dijual

setiap

tahun.

Dengan

meluasnya penggunaan NSAID telah mengakibatkan peningkatan prevalensi terjadi


gastropati NSAID.2,3,4
II. FAKTOR RISIKO2,3,5
Beberapa faktor risiko gastropathy NSAID meliputi:
usia lanjut >60 tahun
Riwayat pernah menderita tukak
Riwayat perdarahan saluran cerna

III.

Digunakan bersama-sama dengan steroid


Dosis tinggi atau menggunakan 2 jenis NSAID
Menderita penyakit sistemik yang beratMungkin sebagai faktor risiko
Bersama-sama dengan infeksi Helicobacter pylory
Merokok
Meminum alkohol
FISIOLOGI LAMBUNG
Lambung adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga
abdomen dibawah diafragma. Semua bagian, kecuali sebagian kecil, terletak
sebelahkiri garis tengah. Ukuran dan bentuk setiap individu bervariasi. Secara
anatomi, lambung terdiri dari kardia, fundus, korpus, dan pilorus. Fungsi lambung
antara lain, penyimpanan makanan, produksi kimus, digesti protein, produksi
mucus dan produksi faktor intrinsik, suatu glikoprotein yang disekresi sel
parietal.6,7
Sekresi kelenjar lambung menurut bagian-bagian histologi lambung:6
1. Kelenjar kardia hanya mensekresi mukus
2. Kelenjar fundus-korpus terdiri dari sel utama (chief

cell)

mensekresi pepsinogen, Sel parietal mensekresi asam klorida (HCl) dan


faktor intrinsik, serta sel leher mukosa mensekresi mukus.
3. Kelenjar pilorus di antrum pilorus mensekresi mukus dan gastrin.
Tahap-tahap fisiologi sekresi HCl lambung, terdiri dari 3 tahap:6,7
1. Tahap sefalik, diinisiasi dengan melihat, merasakan, membaui, dan
menelanmakan,

yang

dimediasi

oleh

aktivitas

vagal.

Hal

ini

mengakibatkan kelenjar gastrik menyekresi HCL, pepsinogen, dan


menambah mukus .
2. Tahap gastrik meliputi stimulasi reseptor regangan oleh distensi lambung
dandimediasi oleh impuls vagal serta sekresi gastrin dari sel endokrin (sel
G) dikelenjar-kelenjar antral. Sekresi Gastrin dipicu oleh asam amino dan
peptida dilumen dan mungkin distimulasi vagal.
3. Tahap intestinal terjadi setelah kimus meninggalkan lambung dan
memasuki proximal usus halus yang memicu faktor dan hormon. Sekresi
lambung distimulasi oleh sekresi gastrin duodenum, melalui sirkulasi
menuju lambung. Sekresi dihambat oleh hormon-hormon polipeptida yang
dihasilkan duodenum jika PH di bawah 2 dan jika ada makanan berlemak.
Hormon-hormon ini meliputi gastric inhibitory polipeptide (GIP),
sekretin, kolesistokinin dan hormon pembersih enterogastron.
Semua signal yang menyebabkan aktivasi pompa proton pada sel parietal
meliputi, asetilkolin dihasilkan dari aferen chepalic-vagal atau vagal lambung,

menstimulasi

sel-sel

parietal

melalui

reseptor

kolinergik-muskarinik

menghasilkan peningkatan Ca2+ sitoplasma dan berakibat aktivasi pompa proton.


Gastrin mengaktivasi reseptor gastrin sehingga mengningkatkan Ca2+ sitoplasma
dalam sel parietal. sel-sel Enterochromaffin-like (ECF) memainkan peranan
sentral, gastrin dan aferen vagal menginduksi pelepasan histamin dari sel-sel ECL,
yang mana histamin akan menstimulasi reseptor H2 pada sel-sel parietal. Cara ini
dianggap paling penting untuk aktivasi pompa proton. Aktivasi beberapa
reseptor pada permukaan sel parietal menghambat produksi asam. Reseptor
tersebut meliputi reseptor somatostatin, prostaglandin seri E, dan faktor
pertumbuhan epidermal.6
Sistem Pertahanan Mukosa7
Untuk penangkal iritasi tersedia sistem biologi canggih, dalam mempertahankan keutuhan
dan pembaikan mukosa lambung bila timbul kerusakan. Sistem pertahan mukosa
gastrodeudonal terdiri dari 3 rintangan yaitu : pre-epitel, epitel dan sub-epitel
a. Lapisan pre-epitel :
Sekresi mukus : lapisan tipis pada permukaan mukosa lambung. Cairan yang
mengandung asam dan pepsin keluar dari kelenjar lambung melewati
lapisan permukaan mukosa dan memasuki lumen lambung secara langsung

tanpakontak langsung dengan sel-sel epitel permukaan lambung.


Sekresi bikarbonat : sel-sel epitel permukaan lambung mensekresi bikarbonat
kezona batas adhesi mukus, membuat PH mikro lingkungan netral pada

perbatasan dengan sel epitel.


Active surface phospholipid yang berperan untuk meningkatkan hidrofobisitas

membrane sel dan meningkatkan viskositas mucus.


b. Lapisan epitel :
Kecepatan perbaikan mukosa yang rusak dimana terjadi migrasi sel-sel yangsehat

ke daerah yang rusak untuk pembaikan


Pertahanan seluler yaitu kemampuan untuk memelihara electrical gradient dan

mencegah pengasaman sel


Kemampuan transporter asam basa untuk mengangkut bikarbonat ke dalamlapisan

mukus dan jaringan subepitel dan untuk mendorong asam keluar jaringan.
Prostaglandin merangsang produksi mukus dan bikarbonat, yang mana akan
menghambat sekresi asam sel parietal. Disamping itu, aksi vasodilatasi
dari prostaglandin E dan I akan meningkatkan aliran darah mukosa. Obat-obat

yang menghambat sintesis prostaglandin, misalnya NSAID akan menurunkan

sitoproteksi dan memicu perlukaan mukosa lambung dan ulserasi.


Faktor pertumbuhan: Beberapa faktor pertumbuhan memegang peran seperti:

EGF, FGF, TGF dalam membantu proses pemulihan.


c. Lapisan sub-epitel :
Aliran darah (mikrosirkulasi) yang berperan mengangkut nutrisi, oksigen

dan bikarbonat ke epitel sel.


Ekstravasasi leukosit yang merangsang reaksi inflamasi jaringan.

Gambar 2. Komponen pertahanan dan pembaikan mukosa gastrduodenal7


IV.PATOMEKANISME GASTROPATI NSAID
Mekanisme NSAID menginduksi traktus gastrointestinal tidak sepenuhnya dipahami.
Dalam sebuah referensi, NSAID merusak mukosa lambung melalui 2 mekanisme yaitu
tropikal dan sistemik. Kerusakan mukosa secara tropikal terjadi karena NSAID bersifat
asam dan lipofili, sehingga mempermudah trapping ion hydrogen masuk mukosa dan
menimbulkan kerusakan. Efek sistemik NSAID lebih penting yaitu kerusakan mukosa
terjadi akibat produksi prostaglandin menurun secara bermakna. Seperti diketahui
prostaglandin merupakan substansi sitoprotektif yang amat penting bagi mukosa
lambung. Efek sitoproteksi itu dilakukan dengan cara menjaga aliran darah mukosa,
meningkatkan sekresi mukosa dan ion bikarbonat dan meningkakan epitel defensif. Ia
memperkuat sawar mukosa lambung duodenum dengan meningkatkan kadar fosfolipid
mukosa sehingga meningkatkan hidrofobisitas permukaan mukosa, dengan demikian
mencegah/mengurangi difusi balik ion hidrogen. Selain itu, prostaglandin juga

menyebabkan hiperplasia mukosa lambung duodenum (terutama di antara antrum


lambung), dengan memperpanjang daur hidup sel-sel epitel yang sehat (terutama sel-sel
di permukaan yang memproduksi mukus), tanpa meningkatkan aktivitas proliferasi.3
Elemen kompleks yang melindungi mukosa gastroduodenal merupakan prostaglandin
endogenous yang di sintesis di mukosa traktus gastrointestinal bagian atas. COX
(siklooksigenase) merupakan tahap katalitikator dalam produksi prostaglandin. Sampai
saat ini dikenal ada dua bentuk COX, yakni COX-1 dan COX-2. COX-1 ditemukan
terutama dalam gastrointestinal, ginjal, endotelin, otak dan trombosit: dan berperan
penting dalam pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. COX-2 pula ditemukan
dalam otak dan ginjal yag juga bertanggung jawab dalam respon inflamasi. Endotel
vaskular secara terus-menerus menghasilkan vasodilator prostaglandin E dan I yang
apabila terjadi gangguan atau hambatan (COX-1) akan timbul vasokonstriksi sehingga
aliran darah menurun dan menyebabkan nekrosis epitel.4
Penghambatan COX oleh NSAID ini lebih lanjut dikaitkan dengan
perubahan produksi mediator inflamasi. Sebagai konsekuensi dari penghambatan COX2, terjadi sintesis leukotrien yang disempurnakan dapat terjadi oleh shunting
metabolisme asam arakidonat terhadap-lipoxygenase jalur 5. Leukotrien yang
memberikan kontribusi terhadap cedera mukosa lambung dengan mendorong iskemia
jaringan dan peradangan. Peningkatan ekspresi molekul adhesi seperti molekul adhesi
antar sel-1 oleh mediator pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor- mengarah ke
peningkatan adheren dan aktivasi neutrofil-endotel. Wallace mendalilkan bahwa
pengaruh NSAID terhadap neutrofil adheren mungkin berkontribusi terhadap
patogenesis kerusakan mukosa lambung melalui dua mekanisme utama: (i) oklusi
microvessels lambung oleh microthrombi menyebabkan aliran darah lambung berkurang
dan kerusakan seliskemik, (ii) meningkatkan pembebasan dari radikal bebas yang
berasal-oksigen. Oksigen radikal bebas bereaksi dengan poli asam lemak tak jenuh dari
mukosa menyebabkan peroksidasi lipid dan kerusakan jaringan. NSAID tidak
hanya merusak perut, tetapi dapat mempengaruhi saluran pencernaan seluruh dan
dapat menyebabkan berbagai komplikasi ekstraintestinal parah seperti kerusakan ginjal
sampai gagal ginjalakut pada pasien yang memiliki faktor risiko, retensi
natrium dan cairan, hipertensiarterial, dan, kemudian, gagal jantung.5,8
V. GEJALA KLINIS
Gastropati NSAID ditandai dengan inbalance antara gambaran endoskopi dan keluhan
klinis. Misalnya pada pasien dengan berbagai gejala, seperti ketidaknyamanan dan nyeri
epigastrium, dispepsia, kurang sering muntah memiliki lesi minimal pada s t u d i

endoskopi. Sementara pasien dengan keluhan tidak ada ataupun


r i n g a n G I memiliki lesi erosi mukosa parah dan ulcerating. Perkembangan penyakit
berbahaya tersebut dapat menyebabkan pasien dengan komplikasi mematikan.2
30-40% dari pasien yang menggunakan NSAID secara jangka panjang (> 6minggu),
memiliki keluhan dispepsia yang tidak dalam korelasi dengan hasil studiendoskopi.
Hampir 40% dari pasien dengan tidak ada keluhan GI telah luka parah mengungkapkan
pada studi endoskopi, dan 50% dari pasien dengan keluhan GI memiliki integritas
mukosa normal.2
Gastropati NSAID dapat diungkapkan dengan tidak hanya dispepsia tetapi juga
dengan gejala sakit, juga mungkin memiliki onset tersembunyi dengan penyebab
mematikan seperti ucler perforasi dan perdarahan.7
VI.

DIAGNOSIS
Spektrum klinis Gastropati NSAID meliputi suatu keadaan klinis yang bervariasi
sangat luas, mulai yang paling ringan berupa keluhan gastrointestinal discontrol . Secara
endoskopi akan dijumpai kongesti mukosa, erosi-erosi kecil kadang-kadang
disertai perdarahan kecil-kecil. Lesi seperti ini dapat sembuh sendiri.
Kemampuan mukosa mengatasi lesi-lesi ringan akibat rangsangan kemis sering
disebut adaptasi mukosa. Lesi yang lebih berat dapat berupa erosi dan tukak
multipel, perdarahan luas dan perforasi saluran cerna.3
Untuk mengevaluasi gangguan mukosa dapat menggunakan Modified Lanza
Skor (MLS) kriteria. Sistem grading ini menurut MLS adalah sebagai berikut:1
- Grade 0: tidak ada erosi atau perdarahan
- Grade 1: erosi dan perdarahan di satu wilayah atau jumlah lesi 2
- Grade 2: erosi dan perdarahan di satu daerah atau ada 3-5 lesi
- Grade 3: erosi dan perdarahan di dua daerah atau ada 6-10 lesi
- Grade 4: erosi dan perdarahan> 3 daerah atau lebih dalam lambung
- Grade 5: sudah ada tukak lambung
Secara

histopatologis

tidak

khas.

Dapat

dijumpai

regenerasi

epitelial,

hiperplasiafoveolar, edema lamina propia dan ekspansi serabut otot polos ke arah
mukosa. Ekspansi dianggap abnormal bila sudah mencapai kira-kira sepertiga
bagianatas. Namun, tanpa informasi yang jelas tentang konsumsi NSAID gambaran
histopatologis seperti ini sering disebut sebagai gastropati reaktif.3
Feces dapat diambil setiap hari sampai laporan laboratorium adalah negatif terhadap
darah samar.7 Pemeriksaan sekretori lambung merupakan nilai yang menentukan
dalammendiagnosis aklorhidria (tidak terdapat asam hdroklorida dalam getah lambung)
dansindrom zollinger-ellison. Nyeri yang hilang dengan makanan atau antasida, dan
tidak adanya nyeri yang timbul juga mengidentifikasikan adanya ulkus.7 Selain itu,

adanya H. Pylory dapat ditentukan dengan biopsy dan histology melalui kultur, meskipun
hal ini merupakan tes laboratorium khusus serta tes serologis terhadap antibody pada
antigen H. Pylori.7
VII.

DIAGNOSIS BANDING
Dengan tanda-tanda perdarahan

pada

sistem

gastrointestinal

bagian

atas

maupundispepsia, Gastropati NSAID dapat didiagnosis banding dengan:9


1. Varises esofagus
2. Karsinoma lambung
3. Zollinger-Ellison Syndrome
4. Ulkus duodenum
VIII.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien gastropati NSAID, terdiri dari non-mediamentosadan
medikamentosa. Pada terapi non-medikametosa, yakni berupa istirahat, diet dan jika
memungkinkan, penghentian penggunaan NSAID. Secara umum, pasien dapatdianjurkan
pengobatan rawat jalan, bila kurang berhasil atau ada komplikasi barudianjurkan rawat
inap di rumah sakit.7
Pada pasien dengan disertai tukak, dapat diberikan diet lambung yang bertujuan untuk
memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung,
mencegah dan menetralkan asam lambung yang berlebihan serta mengusahakan keadaan
gizi sebaik mungkin. Adapun syarat diet lambung yakni:9
1.
Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan.
2.
Energi dan protein cukup, sesuai dengan kemampuan pasien untuk menerima
3.
Rendah lemak, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total

yang

ditingkatkansecara bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.


Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
5.
Cairan cukup, terutama bila ada muntah
6. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis,
4.

mekanis, maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perseorangan)


7. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa; umumnya tidak dianjurkan minum
susu terlalu banyak.
8. Makan secara perlahan
Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48jamuntuk
memberikan istirahat [ada lambung.Evaluasi sangat penting karena sebagian besar
gastropati NSAID ringan dapatsembuh sendiri walaupun NSAID tetap diteruskan.
Antagonis reseptor H2 (ARH2) atauPPI dapat mengatasi rasa sakit dengan baik. Pasien
yang dapat menghentikan NSAID,obat-obat tukak seperti golongan sitoproteksi, ARH2
dan PPI dapat diberikan denganhasil yang baik. Sedangkan pasien yang tidak mungkin

menghentikan NSAID dengan berbagai pertimbangan sebaiknya menggunakan PPI.


Mereka yang mempunyai faktor risiko untuk mendapat komplikasi berat, sebaiknya
dberikan terapi pencegahanmengunakan PPI atau analog prostaglandin.3
Tiga strategi saat ini diikuti secara rutin klinis untuk mencegah kerusakan yang
disebabkan gastropati NSAID: (i) coprescription agen gastroprotektif, (ii) penggunaan
inhibitor selektif COX-2, dan (iii) pemberantasan H. pylori.
Gastroprotektif 4,5

Misoprostol
Misoprostol adalah analog prostaglandin yang digunakan untuk menggantikan
secara lokal pembentukan prostaglandin yang dihambat oleh NSAID. Menurut
analisis-meta dilakukan oleh Koch, misoprostol mencegah kerusakan GI: ulserasi
lambung ditemukan dikurangi secara signifikan dalam kedua penggunaan NSAID,
kronis dan akut, sedangkan ulserasi duodenum berkurang secara signifikan
hanyadalam pengobatan kronis. Dalam studi-co aplikasi mukosa misoprostol 200
mgempat kali sehari terbukti mengurangi tingkat keseluruhan komplikasi
NSAIDsekitar 40%. Namun, penggunaan misoprostol dosis tinggi dibatasi karena
efek samping

terhadap

GI.

Selain

itu,

penggunaan

misoprostol

tidak

berhubungandengan pengurangan gejala dispepsia.


Sukralfat / antasida
Selain mengurangi paparan asam pada epitel yang rusak dengan membentuk
gel pelindung (sucralfate) atau dengan netralisasi asam lambung (antasida),
keduaregimen telah ditunjukkan untuk mendorong berbagai mekanisme
gastroprotektif.Sukralfat dapat menghambat hidrolisis protein mukosa oleh pepsin.
Sukralfat masihdapat digunakan pada pencegahan tukak akibar stress, meskipun
kurang efektif. Karena diaktivasi oleh asam, maka sukralfat digunakan pada
kondisi lambungkosong. Efek samping yang paling banyak terjadi yaitu
konstipasi.Antasida diberikan untuk menetralkan asam lambung dengan
mempertahankan PHcukup tinggi sehingga pepsin tidak diaktifkan, sehingga
mukosa terlindungi dannyeri mereda. Preparat antasida yang paling banyak
digunakan adalah campurandari alumunium hidroksida dengan magnesium

hidroksida. Efek samping yangsering terjadi adalah konstipasi dan diare.


H2-reseptor antagonis
H2 reseptor antagonis (H2RA) merupakan standar pengobatan
sampai pengembangan

PPI.

Mereka

adalah

obat

pertama

yang

ulkus
efektif

untuk menyembuhkan esofagitis refluks serta tukak lambung. Namun, dalam


pencegahan Gastropati NSAID, H2RA pada dosis standar tidak hanya kurang
efektif tetapi juga dapat meningkatkan risiko ulkus pendarahan. Menggandakan
dosis standar (famotidin 40 mg dua kali sehari) secara signifikan menurunkan

kejadian 6 bulan ulkus lambung.


Proton-pump inhibitor
Supressi asam oleh PPI lebih efektif dibandingkan dengan H2RA dan
sekarangterapi standar untuk pengobatan baik tukak lambung dan refluks gastroesofageal- penyakit (GERD). Jika diberikan dalam dosis yang cukup, produksi
asam hariandapat dikurangi hingga lebih dari 95%. Sekresi asam akan kembali
normal setelah molekul pompa yang baru dimasukkan ke dalam membran lumen.
Omeprazol juga secara selektif menghambat karbonat anhidrase mukosa lambung
yang kemungkinan turut berkontribusi terhadap sifat supresi asamnya. Proton
Pump Inhibitor yang lain diantaranya lanzoprazol, esomeprazol, rabeprazol dan
Pantoprazol. Kelemahan dari PPI mungkin bahwa mereka tidak mungkin
untuk melindungi terhadap cedera mukosa di bagian distal lebih dari usus
(misalnya dicolonopathy NSAID). Namun, dalam ringkasan, PPI menyajikan
comedication pilihan untuk mencegah NSAID-induced gastropathy.
Tindakan operasi saat ini frekuensinya menurun akibat keberhasilan terapi

IX.

medikamentosa. Indikasi operasi terbagi 3 yaitu7:


Elektip (tukakak refrakter/gagal pengobatan)
Darurat ( komplikasi : perdarahan massif, perforasi, senosis polorik)
Tukak gaster dengan sangkutan keganasan.
KOMPLIKASI4,11,12
Pada gastropati NSAID, dapat terjadi ulkus, yang memiliki beberapa komplikasi
yakni:
1. Hemoragi-gastrointestinal atas, gastritis dan hemoragi akibat ulkus peptikum
adalah dua penyebab paling umum perdarahan saluran GI.
2. Perforasi, merupakan erosi ulkus melalui mukosa lambung yang
menembus kedalam rongga peritoneal tanpa disertai tanda.
3. Penetrasi atau Obstruksi, penetrasi adalah erosi ulkus melalui serosa
lambung kedalam struktur sekitarnya seperti pankreas, saluran bilieratau
omentum hepatik.
4. Obstruksi pilorik terjadi bila area distal pada sfingter pilorik menjadi
jaringan parut dan mengeras karena spasme atau edema atau karena jaringan
parut yang terbentuk bila ulkus sembuh atau rusak.

Selain terjadinya gangguan di saluran gastrointestinal, penggunanaan NSAID


yang berlebihan, dapat menyebabkan berbagai efek samping lain, baik di ginjal, pada
kulit, maupun sistem syaraf.
Prostaglandin

E2

(PGE2)

dan

I2

(PGI2)

yang

dibentuk

dalam

glomerulusmempunyai pengaruh terutama pada aliran darah dan tingkat filtrasi


glomerulus. PGI1yang diproduksi pada arteriol ginjal juga mengatur aliran darah
ginjal. Penghambatan biosintesis prostaglandin di ginjal, terutama PGE2, oleh
NSAID menyebabkan penurunan aliran darah ginjal. Pada orang normal, dengan
hidrasi yang cukup dan ginjalyang normal, gangguan ini tidak banyak mempengaruhi
fungsi ginjal karena PGE2 danPGI2 tidak memegang peranan penting dalam
pengendalian fungsi ginjal. Tetapi pada penderita hipovolemia, sirosis hepatis
yang disertai asites, dan penderita gagal jantung, PGE2 dan PGI2 menjadi penting
untuk mempertahankan fungsi ginjal. Sehingga bila NSAID diberikan, akan
terjadi penurunan kecepatan filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal bahkan
dapat pula terjadi gagal ginjal. Penghambatan enzim siklooksigenase dapat
menyebabkan terjadinya hiperkalemia. Hal ini sering sekali terjadi pada penderita
diabetes mellitus, insufisiensi ginjal, dan penderita yang menggunakan blocker danACE-inhibitor atau diuretika yang menjaga kalium (potassium
sparing). Selain itu, penggunaan NSAID dapat menimbulkan reaksi
idiosinkrasi yang disertai proteinuria yang masif dan nefritis interstitial yang
akut.
Efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit dengan akibat perpanjangan
waktu perdarahan. Ketika perdarahan, trombosit yang beredar dalam
sirkulasi darah mengalami adhesi dan agregasi. Trombosit ini kemudian
menyumbat dengan endotelyang rusak dengan cepat sehingga perdarahan terhenti.
Agregasi trombosit disebabkan oleh adanya tromboksan A2 (TXA2). TXA2, sama
seperti prostaglandin, disintesis dariasam arachidonat dengan bantuan enzim
siklooksigenase. NSAID bekerja menghambat enzim siklooksigenase. Aspirin
mengasetilasi Cox I (serin 529) dan Cox II (serin 512)sehingga sintesis
prostaglandin dan TXA2 terhambat. Dengan terhambatnya TXA2,maka proses
trombogenesis terganggu, dan akibatnya agregasi trombosit tidak terjadi. Jadi, efek
antikoagulan trombosit yang memanjang pada penggunaan aspirin atau NSAID
lainnya disebabkan oleh adanya asetilasi siklooksigenase trombosit yangirreversibel

(oleh aspirin) maupun reversibel (oleh NSAID lainnya). Proses ini menetapselama
trombosit masih terpapar NSAID dalam konsentrasi yang cukup tinggi.
Dengan

menggunakan

meta

analisis,

dapat

diketahui

bahwa

NSAID

dapatmeningkatkan tekanan darah rata-rata (mean arterial pressure) sebanyak kurang


lebih 5mmHg. NSAID paling kuat mengantagonis efek antihipertensi -blocker dan
ACE-inhibitor, sedangkan terhadap efek antihipertensi vasodilator atau diuretik
efeknya paling lemah. NSAID yang paling kuat menimbulkan efek meningkatkan
tekanan darah ialah piroksikam.
NSAID juga dapat menyebabkan reaksi kulit seperti erupsi morbiliform
yangringan, reaksi-reaksi obat yang menetap, reaksi-reaksi fotosensitifitas, erupsierupsivesikobulosa, serum sickness, dan eritroderma exofoliatif. Hampir semua
NSAID dapatmenyebabkan urtikaria terutama pada pasien yang sensitif dengan
aspirin. Menurutstudi oleh Akademi Dermatologi di Amerika pada tahun 1984,
NSAID yang palingsedikit menimbulkan gangguan kulit adalah piroksikam,
zomepirac, sulindak, natriummeklofenamat, dan benaxoprofen.Pada sistem syaraf
pusat, NSAID dapat menyebabkan gangguan seperti, depresi,konvulsi, nyeri kepala,
rasa lelah, halusinasi, reaksi depersonalisasi, kejang, dansinkope. Pada penderita usia
lanjut yang menggunakan naproksen atau ibuprofen telahdilaporkan mengalami
disfungsi kognitif, kehilangan personalitas, pelupa, depresi,insomnia, iritasi, rasa
ringan kepala, hingga paranoid. Pada beberapa orang dapatterjadi reaksi
hipersensitifitas berupa rinitis vasomotor, oedem angioneurotik, urtikarialuas, asma
bronkiale, hipotensi hingga syok.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suyata,

Bustami

E,

Bardiman

S,

Bakry

F. A comparison

of

efficacy

betweenrebamipide and omeprazole in the treatment of nsaids gastropathy.


TheIndonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive EndoscopyVol.
5, No. 3, December 2004; p.89-94.
2. Tugushi M. Nonsteroidal anti inflamatory drug (NSAID) associatedgastropathies
[online].

World

Medicine

[cited

Availablefrom:http://www.worldmedicine.ge/?
Lang=2&level1=5&event=publication&id=393.

January

28

2011].

3. Hirlan. Gastritis. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, SetiatiS


(editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Ed.4 Jilid.I. Jakarta: PusatPenerbitan Ilmu
Penyakit Dalam FKUI. 2006. p.335-7.4.
4. Scheiman JM. Nonsteroidal antiinflamatory drug (NSAID)-induced gastropathy.In:
Kim, Karen (editor). Acute gastrointestinal bleeding; diagnosis andtreatment. New
Jersey: Humana Press Inc. 2004. p.75-935.
5. Becker JC, Domschke W, Pohie T. Current approaches to prevent NSAID-induced
gastropathy COX selectivity and beyond. Br J Clin Pharmacol 58 :6.2004; p.587
600
6. Lindseth GN. Gangguan lambung dan duodenum. In: Price SA, Wilson LM(editors).
Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit Ed.6 Vol.1.Jakarta: Penerbit ECG.
2002. p.417-35.7.
7. Tarigan P. Tukak Gaster. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,Setiati
S (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Ed.4 Jilid.I. Jakarta: Pusat Penerbitan
Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006. p.338-48.
8. Anonim. Kerusakan lambung akibat NSAID. Otuska Indonesia [online]. 2008[cited
January

28

2011].

Available

content=article_detail&id=144&lang=id
9. Shrestha S, Lau D. Gastric Ulcers:
Emedicine[online].

2009

[cited

from:http://www.otsuka.co.id/?
differential

January

28

diagnose
2011].

&

workup.
Available

from: http://emedicine.medscape.com/article/175765-overview
10. Almatsier S (editor). Diet penyakit lambung. In: Penuntun diet edisi baru.Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. 2007. p.108-16.
11. Tjay TH, Rahardja K. Analgetika antiradang dan obat-obat rema. In: Obatobat penting; khasiat, penggunaan, dan efek-efek sampingnya. Jakarta:
Elex MediaKomputindo. 2007. p.321-47.15
12. Anonim. Obat anti inflamasi nonsteroid part 1. FKUNSRI [online]. 2008
[citedjanuary28 2011]. Available from:http://fkunsri.wordpress.com/2008/02/09/obatanti-inflamasi-nonsteroid-part-116