Anda di halaman 1dari 8

Risalah HUKUM Fakultas Hukum Unmul, Juni 2007, Hal.

36 43
ISSN 021-969X

Vol. 3, No. 1

Sistem Peradilan Anak di Indonesia dalam Perspektif Hak Asasi Manusia


(Indonesian Children Court System in Human Right Perspective)
HARIS RETNO SUSMIYATI dan HARIYANTI
Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
Jl. Ki Hajar Dewantara Kampus Gunung Kelua Telp. (0541) 7095092 Samarinda 75123
Email : fhunmul@yahoo.com

ABSTRACT
Positive law which arranging about justice of child acumulated in UU Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak and of UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Indonesia
not ratified international instrument of human right yet relate to jurisdiction of child completely.
This matter cause child system of judicature going into effect in Indonesia not fully yet protected
child rights. Some problem which emerge in child system of judicature in Indonesia among others
usage of less protecting naughty child term of children right because generating stigma to child
demarcation of child age able to be punished is inappropriate of United Nations recommendation,
rule of familiarity and closed inspection do not guarantee freshment and protecting of children
right; there no case definition able to be processed by case and law which need and perpetrator do
not need be under arrest; and also penalization to child more orienting to the crime is not cure
action to victim and perpetrator. Therefore need special steps which conducted by government as
does trying Restorative Justise as one of the effort overcome the problem of child.
Key words: anak (child), peradilan anak (court of child), hak asasi manusia (human rights); konvensi hak
anak (convention on the rights of the child/crc), keadilan pemulihan (restorative justice)

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan aset bangsa yang
sangat penting. Perlakuan yang tidak tepat
terhadap anak akan sangat mempengaruhi
masa depan anak, sedangkan kualitas anakanak akan menentukan masa depan suatu
bangsa. Oleh karena itu sangatlah disadari
bahwa keberadaan anak dalam kehidupan
berbangsa menempati posisi yang sangat
penting. Dipundak merekalah kelak masa
depan negri ini ditentukan. Kondisi disekitar
anak jika tidak mendukung perkembangannya
secara baik maka dapat dibayangkan negara
dan bangsa akan mengalami kerugian yang
sangat besar.
Tahun
1990
Indonesia
telah
meratifikasi
Konvensi
Hak
Anak.
Konsekuensinya,
pemerintah
Indonesia
berkewajiban untuk semaksimal mungkin
berupaya memenuhi hak-hak anak di
Indonesia. Konvensi Hak Anak adalah salah
satu instrumen internasional di bidang hak
asasi manusia yang secara khusus mengatur

segala sesuatu tentang hak anak. Konvensi ini


disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20
November 1989 lewat Resolusi 44/25 dan
sesuai ketentuan pasal 49 (1), resolusi tersebut
mulai berlaku tanggal 2 September 1990.
Anak dalam masa pertumbuhan
seringkali dihadapkan pada situasi khusus,
salah satunya anak harus berhadapan dengan
hukum, karena tindakannya yang telah
melanggar ketentuan yang berlaku dalam
masyarakat. Anak-anak yang melakukan
pelanggaran aturan atau kepatutan dalam
masyarakat inilah yang sering dikatakan
sebagai anak nakal. Namun yang terjadi akhirakhir ini kenakalan anak semakin menjurus
kepada tindakan pidana. Bahkan cenderung
semakin meningkat tindakan pidana yang
dilakukan oleh anak-anak dibawah umur.
Kecenderungan perkembangan kasus
anak yang terlibat persoalan hukum di
Provinsi Kalimantan Timur juga mengalami
peningkatan, di beberapa wilayah terjadi
kasus-kasus bahkan dilakukan oleh anak di
bawah umur. Terungkapnya beberapa kasus

Vol. 3, No. 1

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

dimasyarakat merupakan fenomena gunung es,


artinya faktanya kasus anak yang terlibat
persoalan hukum lebih banyak jumlahnya
daripada yang terungkap di masyarakat.
Berdasarkan data Balai Pembimbing
Kemasyarakatan (Bapas) Kelas II Samarinda
diketahui telah menangani 1.057 kasus anak
yang melakukan tindak pidana. Data tersebut
meliputi wilayah 6 (enam) Kabupaten yaitu
Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat,
Berau, Malinau dan Bulungan serta 2 Kota
yaitu Samarinda dan Bontang. Angka yang
cukup fantastis,. Berdasarkan data tersebut,
tindak pidana yang dilakukan anak terbanyak
adalah pencurian sebanyak 425 kasus,
selanjutnya
penganiayaan
121
kasus,
pengeroyokan 119 kasus, sajam 71 kasus,
pencabulan 52 kasus, psikotropika/narkoba 50
kasus dll, secara lengkap dapat dilihat tabel 1.
Tabel 1 : Data Kasus Anak yang ditangani Bapas
Samarinda
Jumlah
Kasus
1
Pencurian
425
2
Sajam
71
3
Penganiayaan
121
4
Laka Lanta
47
5
Pengeroyokan
119
6
Menyetrum Ikan
2
7
Pemerasan
31
8
Asusila
43
9
Psikotropika/Narkoba
50
10
Perjudian
6
11
Kehutanan
3
12
Perampokan
3
13
Pencabulan
52
14
Pembakaran
8
15
Penadah
3
16
Perzinahan
4
17
Kejahatan susila
10
18
Kejahatan di muka umum
1
19
Pengrusakan
1
20
Pembunuhan
12
21
Tantib
1
22
Pengancaman
8
23
Perkelahian
29
24
Penipuan
4
25
Penebang Pohon
1
26
Melarikan anak orang
1
27
Penggelapan
1
TOTAL
1. 057
Sumber : Bapas Samarinda dalam Tribun, 15 Maret 2007
No

Data Kasus

37

Menghadapi kasus anak yang terlibat


persoalan hukum, tentu penyelesaian dan
perlakuannya harus berbeda dengan prosedur
orang dewasa. Dalam prosesnya harus
dilakukan secara cermat, agar anak tetap
mendapatkan perlindungan secara maksimal.
Adanya kesadaran
tersebut mendorong
dikeluarkannya Undang-undang Nomor 3
Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (UU
Nomor 3 Tahun 1997). Diberlakukannya
ketentuan ini merupakan tonggak penting
dalam perkembangan hukum anak di
Indonesia.
UU Nomor 3 Tahun 1997 mengandung
makna bahwa kasus-kasus anak yang terlibat
persoalan hukum harus ada penanganan secara
khusus dalam proses persidangannya, yaitu
melalui peradilan anak. Prinsip yang harus
dipegang bahwa proses hukum terhadap anak
harus mengedepankan perlindungan bagi hak
anak.
B. Perumusan Masalah
Hak anak merupakan bagian integral
dalam Hak Asasi Manusia. Sehingga menjadi
keharusan bagi seluruh negara di dunia untuk
memberikan perlindungan terhadap hak anak
sebagaimana terhadap Hak Asasi Manusia.
Fenomena yang terjadi banyak anak-anak yang
terlibat dalam kasus hukum sebagai pelaku
tindak pidana, terhadap kondisi tersebut
diperlukan perlu perlakuan
khusus.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dirasa
penting untuk mengkaji:
1. Bagaimana payung hukum peradilan anak
yang ada di Indonesia (UU Nomor 3
Tahun 1997) dalam perspektif Hak Asasi
Manusia ?
2. Persoalan-persoalan apa yang muncul
dalam sistem peradilan anak ?
3. Bagaimana upaya mengatasi persoalan
yang muncul dalam sistem peradilan
anak?
PEMBAHASAN
A. Peradilan Anak dalam Perspektif Hak
Asasi Manusia
Peradilan Anak sudah seharusnya tetap
mengedepankan perlindungan hak-hak anak.

38

HARIS RETNO SUSMIYATI dan HARIYANTI

Instrumen Internasional yang mengatur


tentang Peradilan anak :
1. Konvensi
tentang
Hak-hak
anak
/Convention on the Rights of the Child
(CRC),
2. Peraturan Standar minimum Perserikatan
Bangsa-bangsa
untuk
Administrasi
Peradilan Anak/ United Nation Standard
Minimum Rules for Administration of
Juvenile Deliquency (Beijing rules);
3. Pedoman Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk Pencegahan Pelanggaran Hukum
Anak / United Nation Guidelines for The
Prevention of Juvenile Deliquency
(Riyadh Guidelines);
4. Peraturan Perserikatan bangsa-bangsa
bagi perlindungan anak yang dicabut
kebebasan mereka United Nation Standar
Rules for The Protection of Juvenile
Desprived of Their Liberty (UNRPJ);
5. Peraturan Standar Minimum bagi
Tindakan non-Penahanan United Nation
Standard Minimum Rules for Non
Custodial Measures / (Tokyo-rules).
Kelima Instrumen Internasional diatas
yang telah diratifikasi oleh pemerintah
Indonesia hanya satu yaitu Konvensi tentang
Hak-hak anak /Convention on the Rights of the
Child (CRC), Sedangkan keempat intrumen
yang lain belum dilakukan ratifikasi. Sehingga
ketentuan yang belum diratifikasi
tidak
mempunyai sifat mengikat secara hukum,
hanya menjadi sebatas seruan moral saja.
Ketentuan hukum positif yang sejalan
dengan upaya penegakan hak asasi manusia
dalam hal ini hak-hak anak terangkum dalam
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak (UU Nomor 23
Tahun 2002) dan Undang-undang Nomor 3
Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (UU
Nomor 3 Tahun 1997). Berdasarkan pasal 1
ayat (2) UU Nomor 23 Tahun 2002,
perlindungan anak dalam adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak
dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang dan berpartisipasi, secara optimal
sesuai
dengan
harkat
dan
martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi.

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

Pasal 1 ayat (12) UU Nomor 23 Tahun


2002, hak anak adalah bagian dari hak asasi
manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan
dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat,
pemerintah dan negara. Anak yang berhadapan
dengan hukum menurut ketentuan pasal 1 ayat
(15) dan Pasal 59, menjadi kewajiban
pemerintah dan lembaga negara lainnya untuk
memberikan perlindungan khusus.
Menurut pasal 16 ayat (1) UU Nomor
23 Tahun 2002, khusus hak anak yang
berhadapan dengan hukum, adalah : Setiap
anak berhak memperoleh perlindungan dari
sasaran penganiayaan, penyiksaan atau
penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.
Pada ayat 3 pasal tersebut dinyatakan bahwa
penangkapan, penahanan atau tindakan pidana
penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai
dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat
dilakukan sebagai upaya terakhir.
Pasal 17 ayat (1) menyatakan setiap
anak yang dirampas kebebasannya berhak
untuk :
a. Mendapatkan perlakuan secara manusiawi
dan penempatannya dipisahkan dari orang
dewasa;
b. Memperoleh bantuan hukum atau bantuan
lainnya secara efektif dalam setiap
tahapan upaya hukum yang berlaku;
c. Membela diri dan memperoleh keadilan
di depan pengadilan anak yang obyektif
dan tidak memihak dalam sidang tertutup
untuk umum.
Selain itu dalam pasal 17 ayat (2)
diatur bahwa setiap anak yang menjadi korban
atau pelaku kekerasan seksual atau yang
berhadapan
dengan
hukum
berhak
dirahasiakan. Pasal 18 kembali menegaskan
bahwa setiap anak yang menjadi korban atau
pelaku tindak pidana berhak mendapatkan
bantuan hukum dan bantuan lainnya.
Ketentuan jaminan hak anak dalam
sistem peradilan anak terdapat dalam pasal 37
Konvesi Hak Anak (Convention on the Rights
of the Child/CRC), yaitu :
1. Penyiksaan dan penganiayaan terhadap
anak dilarang;
2. Pidana mati dan pidana badan juga tidak
diperbolehkan;

Vol. 3, No. 1

3.

Dilarang mencabut kebebasan anak


dengan melawan hukum dan semenamena;
4. Anak-anak yang dicabut kebebasannya
harus diperlakukan secara manusiawi
dengan
menghormati
harkat
kemanusiaannya dan dengan cara yang
mempertimbangkan kebutuhan khusus
pribadi menurut usia mereka;
5. Tahanan anak dipisahkan dengan tahanan
dewasa;
6. Tahanan anak berhak untuk memelihara
hubungan dengan keluarga mereka,
diberikan akses ke bantuan hukum dengan
segera, dan untuk menentang keabsahan
penahanan mereka di depan pengadilan
atau otoritas lainnya.
Menurut ketentuan Perlindungan anak
yang diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002
(Pasal 16 butir c), penahanan dan pemenjaraan
terhadap anak yang berkonflik dengan hukum
harus menjadi upaya yang paling akhir dan
kalaupun terpaksa dilakukan harus untuk masa
yang singkat.
UU Nomor 3 Tahun 1997 dibuat ketika
UU perlindungan anak belum ada. Sehingga
beberapa muatan hukum yang terngkum dalam
UU Nomor 3 Tahun 1997 belum sepenuhnya
melindungi hak-hak anak, diantaranya tentang
batas umur anak yang dapat diproses di
pengadilan anak serta batasan kasus yang
dapat diproses menurut UU Nomor 3 Tahun
1997.
Kelemahan yang lain dalam sistem
peradilan anak adalah belum diratifikasinya
konvensi yang berkaitan dengan peradilan
anak. Sehingga secara keseluruhan sistem
peradilan anak Indonesia belum sepenuhnya
mengacu kepada instrumen HAM. Harus
dibedakan antara pengadilan anak dan
peradilan anak. Peradilan anak adalah sistem
peradilan anak yang terintegrasi mulai dari
kepolisian, kejaksaan, pengadilan, bantuan
hukum dan pelayanan lainnya, hingga
pemasyarakatan. Tetapi pengadilan anak
adalah proses yang lebih terfokus pada
jalannya sidang anak atau pada tahap
pengadilan. Indonesia hanya memiliki aturan
mngenai pengadilan anak saja belum
menyeluruh. Oleh karena itu perlu dilakukan

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

39

revisi terhadap UU Nomor 3 Tahun 1997


dalam perspektif hak asasi manusia.
B. Persoalan dalam Sistem Peradilan Anak
di Indonesia
UU Nomor 3 Tahun 1997 mengatur
beberapa ketentuan yang membedakannya
dengan sidang pidana untuk orang dewasa.
Namun jika ditelaah dalam perkembangannya
sistem peradilan anak yang diterapkan
memunculkan beberapa persoalan diantaranya:
1. Pengertian Anak dan Anak Nakal
Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun
2002, pengertian anak dalam pasal 1 ayat (1)
adalah seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan. Ketentuan ini sesuai
dengan Konvensi Hak Anak (Convention on
the Rights of the Child/CRC), yang telah
diratifikasi Indonesia melalui Keputusan
Presiden No. 36 Tahun 1990 Tentang
Ratifikasi Konvensi Hak Anak. Pasal 1
Ketentuan Konvensi Hak anak Anak berarti
setiap manusia dibawah usia 18 tahun kecuali,
berdasarkan hukum yang berlaku terhadap
anak, usia dewasa telah dicapai sebelumnya.
Jika ditelaah dalam hukum kita
terdapat pluralisme kriteria tentang anak,
namun anak yang dapat diajukan sebagai
pelaku tindak pidana adalah yang dirumuskan
dalam Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun
1997, yaitu orang yang dalam perkara anak
nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun
tetapi belum mencapai umur 18 (delapan
belas) tahun dan belum kawin.
Jadi berdasarkan ketentuan UU Nomor
3 Tahun 1997, maka anak yang dapat diproses
hukum dibatasi dengan umur 8 (delapan)
tahun sampai berumur 18 (delapan Belas)
tahun. Sedangkan syarat kedua si anak belum
pernah kawin. Maksudnya tidak sedang terikat
dalam perkawinan ataupun pernah kawin dan
kemudian cerai. Apabila si anak sedang terikat
dalam perkawinan atau perkawinannya putus
karena perceraian, maka si anak dianggap
sudah dewasa walaupun umurnya belum genap
18 tahun. (Darwan Prinst : 2003).
Anak Nakal menurut pasal 1 ayat (2)
UU Nomor 3 Tahun 1997 adalah anak yang

40

HARIS RETNO SUSMIYATI dan HARIYANTI

melakukan tindak pidana atau anak yang


melakukan perbuatan yang dinyatakan
terlarang bagi anak, baik menurut peraturan
perundang-undangan
maupun
menurut
peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku
dalam masyarakat yang bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan ini maka istilah
kejahatan anak tidak dikenal dalam sistem
peradilan anak di Indonesia. Hal ini
dimaksudkan untuk memberi perlindungan
terhadap hak-hak anak.
Pemakaian istilah anak nakal dalam
UU Nomor 3 Tahun 1997, ternyata
menimbulkan berbagai protes dan ketidak
setujuan, karena dianggap tidak sejalan dengan
Konvensi Hak Anak dan ketentuan UU Nomor
23 Tahun 2002. Pemakaian istilah anak nakal
akan memunculkan stigma terhadap anak yang
akan
berpengaruh
kepada
kondisi
kejiwaannya. Sehingga istilah yang dipakai
sesuai dengan semangat perlindungan hak
anak adalah anak yang berkonflik dengan
hukum.
2. Pembatasan Umur
Batas usia pemidanaan anak menurut
ketentuan Pasal 4 UU Nomor 3 Tahun 1997
adalah:
(1) Batas umur anak nakal yang dapat
diajukan ke sidang anak adalah sekurangkurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum
mencapai umur 18 (delapan belas) tahun
dan belum kawin.
(2) Dalam hal anak melakukan tindak pidana
pada batas umur sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan diajukan ke sidang
pengadilan,
setelah
anak
yang
bersangkutan melampaui batas umur
tersebut tetapi belum mencapai umur 21
tahun, tetap diajukan ke sidang anak.
Apabila pelaku kejahatan adalah anak
dibawah batas usia minimum yang ditentukan
maka anak tidak dapat diajukan di pengadilan
anak melainkan menurut ketentuan Pasal 5 UU
Nomor 3 Tahun 1997 adalah :
(1) Dalam hal anak belum mencapai umur 8
(delapan) tahun melakukan atau diduga
melakukan tindak pidana, maka terhadap
anak
tersebut
dapat
dilakukan
pemeriksaan oleh penyidik.

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

(2) Apabila menurut hasil pemeriksaan


penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
masih dapat dibina orang tua, wali, atau
orang
tua
asuhnya,
penyidik
menyerahkan kembali anak tersebut
kepada orang tua, wali, atau orang tua
asuhnya;
(3) Apabila menurut hasil pemeriksaan,
penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tidak dapat dibina lagi oleh orang tua,
wali, atau orang tua asuhnya, penyidik
menyerahkan anak tersebut kepada
Departemen Sosial setelah mendengar
pertimbangan
dari
pembimbing
kemasyarakatan.
Persidangan terhadap Muhammad
Azwar alias Raju usia 8 (delapan) tahun, yang
sudah diputus Pengadilan Negeri Stabat
Sumatera Utara, mengingatkan bahwa
pengaturan Pasal 4 UU Nomor 3 tahun 1997
soal batas usia anak yang dapat dipidana
kurang tepat.
Batas usia anak yang dapat dipidana
menurut pasal 4 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun
1997 adalah minimum 8 tahun sedangkan
sesuai Rekomendasi Perserikatan Bangsabangsa (PBB) adalah minimum 12 tahun.
Berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat (1)
UU Nomor 3 Tahun 2002, maka anak berusia
16 (enam belas) tahun yang melakukan tindak
pidana dan pernah kawin akan kehilangan
haknya sebagai anak.
3. Proses Hukum Harus Ditangani Pejabat
Khusus ( Pasal 1 ayat 5, 6 dan 7)
Menurut ketentuan UU No 3 tahun
1997 yang dimaksud dengan pejabat khusus
adalah:
a. Ditingkat penyidikan oleh penyidik anak;
b. Ditingkat penuntutan dan penuntut umum
anak;
c. Dipengadilan oleh hakim anak, hakim
banding anak dan kasasi anak.
Ketersediaan pejabat khusus diseluruh
wilayah Indonesia masih patut dipertanyakan.
Perintah UU sudah sangat jelas namun
sumberdaya aparat penegak hukum seringkali
sangat kurang.

Vol. 3, No. 1

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

4. Acara Pemeriksaan Tertutup (Pasal 8


ayat 1)
Acara
pemeriksaan
di
sidang
pengadilan anak dilakukan secara tertutup. Ini
demi kepentingan si anak sendiri. Akan tetapi
putusan harus diucapkan dalam sidang yang
terbuka untuk umum. Dalam kasus Raju
pemeriksaan dilakukan secara terbuka hal ini
merupakan tekanan psikologis yang berat bagi
anak seusia Raju.
5. Suasana Pemeriksaan Kekeluargaan
(Pasal 42 ayat 1)
Pemeriksaan perkara di pengadilan anak
dilakukan dalam suasana kekeluargaan, oleh
karena itu hakim, penuntut umum dan pembela

41

hukum tidak mengenakan toga. Meskipun


petugas tidak memakai seragam tetap saja
suasana sidang layaknya orang dewasa akan
merupakan tekanan bagi anak, oleh karena itu
seharusnya yang dijadikan ukuran adalah
suasana yang nyaman bagi perkembangan
kejiwaan anak.
6. Tidak Ada Batasan Kasus yang Dapat
Diproses Hukum dan Dilakukan
Penahanan
Masa penahanan terhadap anak
menurut ketentuan UU No 3 Tahun 1997 Pasal
44 sampai dengan 49 lebih singkat dibanding
penahanan menurut KUHAP.

Tabel 2 : Perbandingan Penahanan Bagi Anak dan Orang Dewasa

Instansi
Kepolisian
Kejaksaan
Pengadilan Negeri
Pengadilan Tinggi
Mahkamah Agung
Total

Tingkatan
Proses
Penyidikan
Penuntutan
Persidangan
Banding
Kasasi

Penahanan terhadap anak berdasarkan


pasal 44 (6) dilaksanakan di tempat khusus
untuk anak di lingkungan Rumah Tahanan
Negara, Cabang Rumah Tahanan Negara atau
di tempat tertentu.
Penerapan penahanan anak harus
berorientasi perlindungan terhadap hak-hak
anak, lagi-lagi kasus Raju hanya gara-gara
berkelahi dengan teman sebaya Raju ditahan
dan dicampur dengan tahanan dewasa. Kasus
ini mencerminkan tidak jelasnya batasan
kasus-kasus yang dapat diproses melalui
pengadilan anak dan tidak. Selain itu tidak ada
batasan kasus yang perlu pelaku dalam hal ini
anak ditahan dan tidak.
Meskipun penahanan terhadap anak
lebih ringan dibandingkan orang dewasa,
harus ada ketentuan tentang batasan kasus
yang perlu ditahan dan yang tidak. Kasus di
Majalengka mengajarkan kepada kita, seorang
anak usia 14 tahun yang ditahan di Polsek

Penahanan
Orang Dewasa
(KUHAP)
60 hari
50 hari
90 hari
90 hari
110 hari
400 hari

Penahanan anak
(UU No 3 tahun
1997)
30 hari
25 hari
30 hari
30 hari
30 hari
145 hari

dengan tuduhan mencuri rokok, tewas gantung


diri pada hari pertama ia masuk sel tahanan.
(Pikiran Rakyat, 26/1/2003)
7. Hukuman Bagi Anak Lebih Berorientasi
Pemidanaan Bukan Pemulihan
Hukuman yang dijatuhkan terhadap
anak nakal, menurut pasal 22 32 lebih
ringan dari ketentuan yang diatur dalam
KUHP. Hukuman maksimal untuk anak nakal
adalah 10 (sepuluh) tahun.
Penangkapan,
penahanan
dan
pemenjaraan anak seharusnya menjadi pilihan
terakhir dari aparat penegak hukum terkait,
sebagaimana diamanatkan UU Pengadilan
anak Pasal 22, 23 dan 24. Vonis hakim
seharusnya lebih mengedepankan menjatuhkan
tindakan seperti yang termuat dalam pasal 25
dibandingkan pemidanaan yang dimuat dalam
pasal 23.

42

HARIS RETNO SUSMIYATI dan HARIYANTI

Kasus di Bandung (Pikiran Rakyat


6/11/2001) seorang anak yang lumpuh karena
polio (15 tahun), anak tersebut tidak dapat
berjalan dan hanya dapat bergerak dengan cara
menggeser pantat dengan kedua tangan. Bocah
tersebut bekerja berjualan boneka dan topi di
tepi jalan, sekitar maret 2001 jualannya
ditambah dengan ganja oleh ayahnya, kata
ayahnya hasil dari jualan ganja akan dipakai
untuk biaya operasi bagi anak tersebut. Ketika
tertangkap oleh Pengadilan Negeri Bandung
divonis 2 tahun penjara, karena terbukti
menguasai narkotika golongan I. Sungguh
putusan yang aneh.
Menurut Komisi Perlindungan Anak,
tindakan hukuman terhadap anak seharusnya
tidak hanya melihat aspek keadilan, namun
keputusan peradilan lebih mengedepankan
perlindungan terhadap anak.
C. Restorative Justice Sebagai Alternatif
Penanganan Anak yang Berkonflik
Dengan Hukum
Proses peradilan terhadap anak tidak
pernah berdampak baik pada anak karena akan
menimbulkan trauma, stigmatisasi dan resiko
mengalami kekerasan dan eksploitasi. Oleh
karena itu bagi anak diversi atau pengalihan
dari sistem peradilan formal kepada
mekanisme penanganan berbasis keluarga dan
masyarkat adalah langkah yang terbaik.
UNICEF sebuah lembaga dibawah
PBB
sedang
mengembangkan
konsep
Restorative Justice (Keadilan Pemulihan)
sebagai alternatif penanganan anak yang
berkonflik dengan hukum. Konsep ini telah
muncul sejak 20 tahun lalu. Kelompok Kerja
Peradilan anak PBB mendefinisikan Restoratif
justice sebagai suatu proses semua pihak yang
berhubungan dengan tindak pidana tertentu
untuk
duduk
bersama-sama
untuk
memecahkan masalah dan memikirkan
bagaimana mengatasi akibat dimasa yang akan
datang. Proses restorative justice pada
dasarnya
dilakukan
melalui
diskresi
(kebijaksanaan) dan diversi, yaitu pengalihan
dari proses pengadilan pidana keluar proses
formal untuk diselesaikan secara musyawarah
pemulihan. Mediator dalam musyawarah dapat
diambil dari tokoh masyarakat yang terpercaya

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

dan bila kejadiannya disekolah dapat


dilakukan oleh Kepala Sekolah atau Guru.
(Working Group Restorative Justice LPA
http://groups.
Jabar-UNICEF
:
yahoo.com/group/majelismuda ).
Syarat utama dari penyelesaian melalui
musyawarah pemulihan adalah adanya
pengakuan dari pelaku serta adanya
persetujuan dari pelaku dan keluarga korban,
untuk
menyelesaikan
perkara
melalui
musyawarah pemulihan. Musyawarah tidak
boleh didasarkan atas paksaan. Apabila pihakpihak tidak menghendaki penyelesaian melalui
musyawarah
pemulihan,
maka
proses
peradilan harus berjalan. (Working Group
Restorative Justice LPA Jabar-UNICEF :
http://groups. yahoo.com/group/majelismuda ).
Penerapan
restorative
justice
diharapkan
akan
berdampak
(Melani:
http://groups.
yahoo.com/group/majelismuda/):
1. Berkurangnya jumlah anak-anak yang
ditangkap, ditahan, dan divonis penjara;
2. Menghapuskan
stigma
/cap
dan
mengembalikan anak menjadi manusia
normal sehingga diharapkan dapat berguna
kelak.
3. Pelaku pidana anak dapat menyadari
kesalahannya sehingga tidak mengulangi
perbuatannya;
4. Mengurangi beban kerja polisi, jaksa,
rutan, pengadilan dan lapas;
5. Menghemat keuangan negara;
6. Tidak menimbulkan dendam karena
pelaku telah dimaafkan oleh korban;
7. Korban dapat cepat mendapat ganti
kerugian;
8. Memberdayakan orang tua dan masyarkat
dalam mengatasi kenakalan anak;
9. Pengintegrasian kembali anak kedalam
masyarakat.
Restorative Justice/keadilan pemulihan
melalui musyawarah. Pemulihan merupakan
alternatif dalam mengatasi masalah anak-anak
yang berkonflik dengan hukum. Dalam konsep
hukum Indonesia upaya musyawarah bukan
hal baru, Hukum Adat Indonesia tidak
membedakan perkara pidana dan perdata,
semua perkara dapat diselesaikan secara

Vol. 3, No. 1

Risalah Hukum Fakultas Hukum Unmul

musyawarah dengan tujuan mendapatkan


keseimbangan atau pemulihan keadaan.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Indonesia belum meratifikasi instrumen
internasional
hak
asasi
manusia
berkaitan dengan peradilan anak secara
lengkap. Hal ini menyebabkan sistem
peradilan anak yang berlaku di Indoensia
belum sepenuhnya melindungi hak-hak
anak.
2. Beberapa persoalan yang muncul dalam
sistem peradilan anak di Indoensia
diantaranya pemakaian istilah anak
nakal yang kurang melindungi hak anak
karena menimbulkan stigma bagi anak;
pembatasan umur anak yang dapat
dipidana tidak sesuai rekomendasi PBB,
Ketentuan
pemeriksaan
secara
kekeluargaan
dan
tertutup
tidak
menjamin
kenyamanan
dan
terlindunginya hak anak; tidak ada
batasan kasus yang dapat diproses
hukum dan kasus yang perlu dan tidak
perlu pelaku ditahan; serta hukuman
bagi anak lebih berorientasi pemidanaan
bukan tindakan pemulihan terhadap
pelaku dan korban.
3. Restorative
Justice
/
Keadilan
Pemulihan di Indonesia diartikan
sebagai
musyawarah
pemulihan
merupakan salah satu alternatif dalam
mengatasi
persoalan
anak
yang
berkonflik dengan hukum.
B. Saran
1. Pemerintah Indonesia harus segera
meratifikasi instrumen HAM berkaitan
dengan peradilan anak;
2. Perlu dilakukan revisi terhadap Undangundang Nomor 3 tahun 1997 tentang

43

Pengadilan Anak agar sejalan dengan


prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia;
3. Perlu uji coba pelaksanaan Restorative
justice sebagai salah satu alternatif
mengatasi masalah anak yang berkonflik
dengan hukum.
DAFTAR PUSTAKA
A. Literatur
Abdussalam, 2007, Hukum Perlindungan Anak, Restu
Agung, Bandung.
Rover C. de, 2000, To Serve To Protect-Acuan Universal
Penegakan HAM, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Salam Moch. Faisal, 2005, Hukum Acara Peradilan Anak
Di Indonesia, Mandar Maju, Bandung.
Gautama Candra, 2000, Konvensi Hak Anak-Panduan
Bagi Jurnalis, LSPP, Jakarta.
Kasim Ifdhal, 2001, Hal Sipil dan Politik, ELSAM,
Jakarta.
Prinst Darwan, 2003, Hukum Anak Indonesia, PT Citra
Aditya Bakti, Bandung.
B. Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Hak-hak Anak
Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan
Anak
Konvensi tentang Hak-hak anak /Convention on the Rights
of the Child (CRC),
Peraturan Standar minimum Perserikatan Bangsa-bangsa
untuk Administrasi Peradilan Anak/ United Nation
Standard Minimum Rules for Administration of
Juvenile Deliquency (Beijing rules);
Pedoman Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pencegahan
Pelanggaran hukum Anak / United Nation
Guidelines for The Prevention of Juvenile
Deliquency (Riyadh Guidelines);
Peraturan Perserikatan bangsa-bangsa bagi perlindungan
anak yang dicabut kebebasan mereka United
Nation Standar Rules for The Protection of
Juvenile Desprived of Their Liberty (UNRPJ);
Peraturan Standar Minimum bagi Tindakan nonPenahanan United Nation Standard Minimum
Rules for Non Custodial Measures / (Tokyo-rules).
C. Lain-lain :
http://groups. yahoo.com/group/majelismuda
Pikiran Rakyat 6/11/2001
Pikiran Rakyat, 26/1/2003
Tribun, 15 Maret 2007