Anda di halaman 1dari 36

TUGAS TUTORIAL KELOMPOK

SKENARIO B BLOK 24

DISUSUN OLEH :
Kelompok B1
Widya Sistha Yuliasmi
Dhiya Silfi Ramadini
Alzena Dwi Saltike
Avyandara Janurizka
Rafenia Nayani
Michael Sintong Halomoan P
Nia Fitriyanti
M Fakhri Altyan
Inthn Atika
Ivan Alexander Liando

04121401003
04121401008
04121401009
04121401013
04121401024
04121401077
04121401079
04121401082
04121401085
04121401088

Tutor:
dr. Nova Kurniati, SpPD

PENDIDIKAN DOKTER UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan atas kehadirat Tuhan YME karena


rahmat dan anugerah-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas tutorial kelompok
dengan topik Skenario B Blok XXIV. Adapun tujuan pembuatan tugas ini adalah
untuk melengkapi persyaratan dalam pembelajaran di Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan tugas ini sehingga tugas ini dapat terselesaikan tepat waktu dan
tepat sasaran sesuai dengan harapan.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan
laporan ini. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Akhirnya kami berharap kepada teman
teman dan para pembaca semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Palembang, 1 April 2015


Penyusun

Kelompok 1

Data Tutorial
Tutor

: dr. Nova Kurniati, SpPD

Moderator

: Michael Sintong Halomoan P

Sekretaris

: Rafenia Nayani

Hari, Tanggal

: Senin, 30 Maret 2015 dan Rabu, 1 April 2015

Peraturan

: 1. Alat komunikasi di non-aktifkan


2. Semua anggota tutorial harus aktif mengeluarkan pendapat
3. Dilarang makan dan minum

Skenario
Bram, laki-laki , usia 8 bulan, dibawa ke RSMH karena belum tengkuranp. Bram
baru bisa memiringkan-miringkan badannya pada usia 6 bulan. Sampai saat inibelum
bisa makan bubur, sehingga masih diberi susu formula. Bram juga belum bisa makan
biskuit sendiri. Bram belum bisa mengoceh dan meraih benda.
Bram adalah anak kelima dari ibu usia 36 tahun. Lahir spontan dengan bidan pada
kehamilan 37 minggu dengan berat badan waktu lahir 2.400 gram. Selama hamil ibu
tidak ada keluhan dan periksa kehamilan ke bidan 3 kali. Segera setelah lahir bayi
tidak menangis, skor APGAR 1 menit 3, dan menit kelima 5. Dirawat di RS selama
10 hari karena susah bernafas.
Pemeriksaan fisik :

Berat badan 6,2 kg, panjang bdan 68 cm, lingkaran kepala 38 cm.
Tidak ada gambaran dismorfik. Anak sadar, kontak mata baik, mau melihat
tapi tidak mau tersenyum kepada pemeriksa. Menoleh ketika dipanggil

namanya dengan keras. Tidak terdapat gerakan yang tidak terkontrol.


Pada posisi ditengkurapkan dapat mengangkat dan menahan kepala beberapa
detik. Refleks Moro dan refleks menggenggam masih ditemukan. Kekuatan
kedua lengan dan tungkai 3, lengan dan tungkai kaku dan susah untuk
ditekuk, refleks tendon meningkat, refleks Babinsky (+). Tidak ada kelainan
anatomi pada kedua tungkai dan kaki.

Template
1. How to Diagnose
Cerebral Palsy
Anamnesis :

a. Menanyakan riwayat antenatal care dan riwayat post natal ?


b. Mendapatkan keluhan yang dialami yaitu adanya

keterlambatan

perkembangan motorik (Belum bisa tengkurap, dan riwayat keterlambatan


perkembangan lain)
c. Menanyakan adanya faktor resiko (Terhadap Ibu, Masa kehamilan dan
Riwayat Kelahiran)
Pemeriksaan Fisik :
a. Melakukan Pemeriksaan Fisik secara lengkap (PB,BB,O Kepala)
b. Menemukan adanya defisit neurologi, refleks primitif masih ada, kelemahan
keempat anggota gerak dan tanda-tanda spastik
2. Differential Diagnosis
=
CP tipe spastic Sindrom

Jenis kelamin

CP tipe

CP tipe ataxic

down

diskinetic

Laki-laki

Laki-

Laki-laki

58,3%>

laki/wanita

58,3%>perempu 53,8%>perempu

perempuan

an

DMD(duscent
muscle distropy

Laki-laki
an

Motorik kasar

Terlembat dan

Terlambat/nor Terlambat dan

Terlambatdan

Normal/sedikit

(duduk dan

statis

mal

statis

terlambat

statis

merangkak)

padaawal umur,
selanjutnya
mengalami
kemunduran
progresif

Motorik kasar

Terlembat dan

Terlambat/nor Terlambat dan

Terlambatdan

Normal/sedikit

(duduk dan

statis

mal

statis

terlambat

statis

merangkak)

padaawal umur,
selanjutnya
mengalami
kemunduran
progresif

Usia kehamilan

75%
aterm/preterm

Aterm

75%

75%

aterm/preterm

aterm/preterm

aterm

Motorik kasar

Terlembat dan

Terlambat/nor Terlambat dan

Terlambatdan

Normal/sedikit

(duduk dan

statis

mal

statis

terlambat

statis

merangkak)

padaawal umur,
selanjutnya
mengalami
kemunduran
progresif

APGAR

Asfiksia berat

-/+

Asfiksia berat

Motorik

terlambat

Normal/+ klo Terlambat

Asfiksia berat

-/+

terlambat

Normal/sedikit

halus(belum

ada kelainan

terlambat

bisa makan

kongengital

padaawal umur,

nasi)

lain

selanjutnya
mengalami
kemunduran
progresif

Bicara bahasa

pertumbuhan

Gambaran

Resiko

terganggu

Bisaa terjadi

bertambah pada

karena otot

quadriplegi

orofaring terkena

Terganggu karna -/+

Terganggu

gangguan otot

karena gangguan

pencernaan (otot

otot

orofaring),susah

pencernaan(otot

menelan

orofaring)

normal

Terganggu

normal

-/+

-/+

Refleks primitif +

-/+

-/+

dismorfik
Gerakan yang
tidak terkontrol
(choreoathetosis

(moro,

menggenggam,
tendon
meningkat)
Kekuatan kedua menurun

Normal/menur Menurun

lengan dan

un

menurun

Menurun

tungkai
Lengan dan
tungkai kaku
dan susah untuk

+ rigiditas

-/+

-/+

+ rigiditas

-/+

-/+

rigiditas

ditekuk
Kedua tungkai
saling menyilang
pada posisi
vertical

3. WD
=
Keterlambatan perkembangan motorik, sosialisasi/kemandirian dan bahasa
(Global Development Delayed) ec Cerebral Palsy quadriplegia tipe spastik +
Mikrosefali
4. Epidemiologi
= Insidensi dari cerebral palsy sebanyak 2 kasus per 1000 kelahiran hidup, dimana 5
dari 1000 anak memperlihatkan defisit motorik yang sesuai dengan cerebral palsy.
Lima puluh persen kasus termasuk ringan dan 10% termasuk kasus berat. Yang
dimaksud ringan adalah penderita dapat mengurus dirinya sendiri dan yang tergolong
berat adalah penderita yang membutuhkan pelayanan khusus. Dua puluh lima persen
memiliki intelegensia (IQ) rata-rata normal sementara 30% kasus menunjukan IQ
dibawah 70. Tiga puluh lima persen disertai kejang dan 50% menunjukan gangguan
bicara. Laki-laki lebih banyak dari perempuan (1,4 : 1,0), dengan rata-rata 70 % ada
pada tipe spastik, 15% tipe atetotik, 5% ataksia, dan sisanya campuran (Utomo, AHP.
2013).
Berdasarkan penelusuran rekam medis di Poliklinik Rawat Jalan Neurologi SMF
Kesehatan Anak RSF dalam kurun waktu 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2010,
didapatkan 191 pasien palsi serebral spastic. Rerata usia saat diagnosis palsi serebral
spastik ditegakkan 27,8 bulan dengan rentang usia 7-60 bulan. Didapatkan subjek

laki-laki dan perempuan dengan perbandingan 1:1,1. Berdasarkan riwayat kelahiran


didapatkan kelahiran spontan pada 160 subjek (83,8%), usia gestasi cukup bulan
pada 151 subjek (79,1%) dan berat lahir normal didapatkan pada 147 subjek (77%).
(Alinda Rubiati Wibowo & Deddy Ria Saputra. 2012)
5. Etiologi
= Penyebab cerebral palsy dapat dibagi dalam tiga periode yaitu :
1.

Pranatal :

a.

Malformasi kongenital.

Infeksi dalam kandungan yang dapat menyebabkan kelainan janin (misalnya;


rubela, toksoplamosis, sifihis, sitomegalovirus, atau infeksi virus lainnya).
b.

Radiasi sinar X.

c.

Toksemia gravidarum.

d.

Asfiksia dalam kandungan (misalnya: solusio plasenta, plasenta previa,

anoksi maternal, atau tali pusat yang abnormal).


e.

Keracunan kehamilan dapat menimbulkan serebral palsy.

f.

Gangguan pertumbuhan otak.

2.

Natal :

a.

Anoksia/hipoksia.

Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah cidera otak.


Keadaan inilah yang

menyebabkan terjadinya anoksia. Hal demikian

terdapat pada keadaan presentasi bayi

abnormal, disproporsi sefalopelvik,

partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan alat
tertentu dan lahir dengan seksio sesar.
b.

Perdarahan otak.

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar


membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak,
mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah sehingga terjadi anoksia.
Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid dan menyebabkan penyumbatan
CSS sehingga mangakibatkan hidrosefalus. Perdarahan di ruang subdural dapat
menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastis.
c.

Trauma lahir, misalnya perdarahan subdural

d.

Prematuritas.

Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita pendarahan otak lebih


banyak dibandingkan dengan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah,
enzim, factor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.
e.

Ikterus

Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang
kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal.
f.

Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat
pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi serebral.
3.

Postnatal :

a.

Trauma kapitis.

b.

Infeksi misalnya : meningitis bakterial, abses serebri, tromboplebitis,

ensefalomielitis.
c.

Kern icterus.

Menurut skenario, penyebab Bram mengalami cerebral palsy dari riwayat


natal, yaitu hipoksia.
6. Patofisiologi
=

Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu

induksi dorsal yang terjadi pada minggu ke 3-4 masa gestasi dan induksi ventral,
berlangsung pada minggu ke 5 6 masa gestasi. Setiap gangguan pada masa ini bisa
mengakibatkan terjadinya kelainan kongenital seperti kranioskisis totalis, anensefali,
hidrosefalus dan lain sebagainya.
Fase selanjutnya terjadi proliferasi neuron, yang terjadi pada masa gestasi bulan ke 2
4. Gangguan pada fase ini bisa mengakibatkan mikrosefali, makrosefali.
Stadium selanjutnya yaitu stadium migrasi yang terjadi pada masa gestasi bulan 3 5.
Migrasi terjadi melalui dua cara yaitu secara radial, sd berdiferensiasi dan daerah
periventnikuler dan subventrikuler ke lapisan sebelah dalam koerteks serebri;
sedangkan migrasi secara tangensial sd berdiferensiasi dan zone germinal menuju ke
permukaan korteks serebri. Gangguan pada masa ini bisa mengakibatkan kelainan
kongenital seperti polimikrogiri, agenesis korpus kalosum.
8

Stadium organisasi terjadi pada masa gestasi bulan ke 6 sampai beberapa tahun
pascanatal. Gangguan pada stadium ini akan mengakibatkan translokasi genetik,
gangguan metabolisme. Stadium mielinisasi terjadi pada saat lahir sampai beberapa
tahun pasca natal. Pada stadium ini terjadi proliferasi sd neuron, dan pembentukan
selubung mialin.
Kelainan neuropatologik yang terjadi tergantung pada berat dan ringannya kerusakan
Jadi kelainan neuropatologik yang terjadi sangat kompleks dan difus yang bisa
mengenai korteks motorik traktus piramidalis daerah paraventnkuler ganglia basalis,
batang otak dan serebelum.
Anoksia serebri sering merupakan komplikasi perdarahan intraventrikuler dan
subependim Asfiksia perinatal sering berkombinasi dengan iskemi yang bisa
menyebabkan nekrosis.
Kerniktrus secara klinis memberikan gambaran kuning pada seluruh tubuh dan akan
menempati ganglia basalis, hipokampus, sel-sel nukleus batang otak; bisa
menyebabkan cerebral palsy tipe atetoid, gangguan pendengaran dan mental
retardasi. Infeksi otak dapat mengakiba tkan perlengketan meningen, sehingga terjadi
obstruksi ruangan subaraknoid dan timbul hidrosefalus. Perdarahan dalam otak bisa
meninggalkan rongga yang berhubungan dengan ventrikel. rauma lahir akan
menimbulkan kompresi serebral atau perobekan sekunder. Trauma lahir ini
menimbulkan gejala yang ireversibel. Lesi ireversibel lainnya akibat trauma adalah
terjadi sikatriks pada sel-sel hipokampus yaitu pada kornu ammonis, yang akan bisa
mengakibatkan bangkitan epilepsi
7. Faktor Resiko
= Faktor-faktor resiko yang menyebabkan kemungkinan terjadinya CP semakin
besar antara lain adalah :
1.

Letak sungsang.

2.

Proses persalinan sulit

Masalah vaskuler atau respirasi bayi selama persalinan merupakan tanda awal
yang menunjukkan adanya masalah kerusakan otak atau otak bayi tidak

berkembang secara normal. Komplikasi tersebut dapat menyebabkan kerusakan


otak permanen.
3.

Apgar score rendah.

Apgar score yang rendah hingga 10 20 menit setelah kelahiran.


4.

BBLR dan prematuritas.

Resiko CP lebih tinggi diantara bayi dengan berat lahir rendah dengan berat di
bawah 2,5 kg.
5.

Kehamilan ganda

Resiko cerebral palsy akan semakin meningkat ketika sejumlah bayi membagi
uterus ibu.
6.

Malformasi SSP.

Sebagian besar bayi-bayi yang lahir dengan CP memperlihatkan malformasi SSP


yang nyata, misalnya lingkar kepala abnormal (mikrosefali). Hal tersebut
menunjukkan bahwa masalah telah terjadi pada saat perkembangan SSP sejak
dalam kandungan.
7.

Perdarahaan maternal atau proteinuria berat pada saat masa akhir kehamilan.

8.

Perdarahan vaginal selama bulan ke 9 hingga 10 kehamilan dan peningkatan

jumlah protein dalam urine berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya CP


pada bayi.
9.

Hipertiroidism maternal, mental retardasi dan kejang.

10. Kejang pada bayi baru lahir.


8. Tata Laksana
=

Penderita Cerebral palsy mempunyai banyak kelainan sesuai dengan lesi yang

terjadi di otak, bersama-sama dengan gangguan motorik. Dengan kondisi tersebut


penanganan penderita CP memerlukan kerjasama yang baik dan merupakan satu
tim yang terdiri atas dokter anak, neurolog, psikiater, dokter mata, dokter THT,
ahli ortopedi, fisioterapis, okupasional terapis, dokter gigi dan ahli gizi. (Hendy
dan Soetjiningsih, 2013)
Tujuan utama terapi adalah meminimalisasi kecacatan dan meningkatkan
kemampuan untuk beraktifitas mandiri, fungsi sosial dan intelektual. Tujuan
pengobatan bukan membuat anak menjadi seperti anak normal lainnya, tetapi

10

mengembangkan sisa kemampuan yang ada pada anak tersebut seooptimal


mungkin, sehingga diharapkan anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa
bantuan atau dengan sedikit bantuan. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
Dalam menangani penderita CP, harus memperhatikan berbagai aspek dan
diperlukan kerjasama multidisiplin seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah
ortopedi, bedah saraf, psikologi, rehabilitasi medis, ahli wicara, pekerja social,
guru sekolah luar biasa. Disamping itu juga harus disertakan peranan orang tua
dan masyarakat. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
Prinsip manajemen :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Komunikasi-Informasi-Edukasi
Terapi nutrisi
Stimulasi
Fisioterapi
Farmakologi
Operatif (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)

1. Aspek medis
a. Aspek medis umum:
1. Gizi: gizi yang baik perlu bagi setiap anak, khususnya bagi penderita ini.
Karena sering terdapat kelainan pada gigi, kesulitan menelan, sukar untuk
menyatakan keinginan untuk makan. Pencatatan rutin perkembangan BB anak
perlu dilaksanakan. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
Nutrisi diberikan per oral dalam bentuk yang tidak perlu diproses mekanik.
Untuk rentang usia 1-3 tahun, Kebutuhan energy 100 kkal/kgBB/hari,
kebutuhan protein 2 gr/hari. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
2. Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakan, seperti imunisasi,
perawatan kesehatan, dan lain-lain. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
3. Konstipasi sering terjadi pada anak CP. Dekubitus terjadi pada anak-anak
yang tidak sering berpindah-pindah posisi. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
b. Terapi dengan obat-obatan
Sesuai kebutuhan anak (tergantung gejala), seperti obat-obatan untuk
relaksasi otot (untuk spastisitas bisa diberikan baclofen dan diazepam; bila
gejala berupa rigiditas bisa diberikan levodopa; Botolinum toxin (Botox)
intramuskuler bisa mengurangi spastisitas untuk 3-6 bulan. Hal ini akan
meningkatkan

luas

gerak

sendi

(ROM),

menurunkan

deformitas,

meningkatkan respon terhadap fisioterapi dan okupasional terapi dan

11

mengurangi tindakan operasi untuk spastisitas.), anti kejang, athetosis,


ataksia, psikotropik, dan lain-lain. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)

Baclofen ( golongan skeletal muscle relaxant) cara kerjanya: analog


GABA yang menginhibisi influks Ca ke terminal presinaptik dan mensupresi
neurotransmitter eksitasi.
Dosisnya: 10-15 mg/hari PO dinaikkan 5 mg/hari. Tidak > 60 mg/hari (Hendy
dan Soetjiningsih, 2013)
Diazepam (golongan Benzodiazepine) untuk memicu relaksasi otot
Dosisnya 0,8-0,12 mg/kg PO (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)

Botox cara kerjanya: memblok asetilkolin di neuromuskular junction 12


U/kg, max 400U, masing-masing otot kecil menerima 1-2 U/kg dan otot besar
4-6 U/kg, injeksi (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)

c. Terapi melalui pembedahan ortopedi


Banyak hal yang dapat dibantu dengan tindakan ortopedi, misalnya
tendon yang memendek akibat kekakuan/spastisitas otot, rasa sakit yang
terlalu mengganggu dan lain-lain yang dengan fisioterapi tidak berhasil.
Tujuan dari tindakan bedah adalah untuk stabilitas, melemahkan otot yang
terlalu kuat atau untuk transfer dari fungsi. Pada beberapa kasus, untuk
membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat
kekakuan

otot,

mungkin

perlu

dilakukan

pembedahan.

Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan


untuk mengendalikan refluks gastroesofageal. (Hendy dan Soetjiningsih,
2013)
d. Terapi rehabilitasi meliputi:
1. Fisioterapi
a. Teknik tradisional : latihan luas gerak sendi, stretching, latihan penguatan
dan peningkatan daya tahan otot, latihan duduk, latihan berdiri, latihan
pindah, latihan jalan. Contohnya adalah teknik dari Deaver. (Hendy dan
Soetjiningsih, 2013)
b. Motor function training dengan menggunakan system khusus, yang
umumnya dikelompokkan sebagai neuromuscular facilitation exercise.
Dimana digunakan pengetahuan neurofisiologi dan neuropatologi dari refleks

12

didalam latihan, untuk mencapai suatu postur dan gerak yang dikehendaki.
Secara umum konsep latihan ini berdasarkan prinsip bahwa dengan beberapa
bentuk stimulasi akan ditimbulkan reaksi otot yang dikehendaki, yang
kemudian bila ini dilakukan berulang-ulang akan berintegrasi ke dalam pola
gerak motorik yang bersangkutan. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
Contohnya adalah teknik dari Phelps, Fay-Doman, Bobath, Brunnstrom,
Kabat-Knott-Vos. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
2. Okupasional terapi
Terutama untuk latihan melakukan aktivitas sehari-hari, evaluasi penggunaan
alat-alat bantu, latihan keterampilan tangan dan aktivitas bimanual. Latihan
bimanual ini dimaksudkan agar menghasilkan pola dominan pada salah satu
sisi hemisfer otak. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
3. Ortotik
Dengan penggunaan bracing, bertujuan untuk mengurangi beban aksial,
stabilisasi serta untuk pencegahan dan koreksi deformitas. (Hendy dan
Soetjiningsih, 2013)
4. Terapi wicara
Gangguan bicara disini dapat berupa disfonia, disritmia, disartria, disfasia,
dan bentuk campuran. Bertujuan untuk mengembangkan anak dapat
berbahasa secara pasif dan aktif. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
5. Nightsplinting
Mengambil keuntungan dari tonus yang menurun yang terjadi selama tidur
untuk menambah regangan otot antagonis yang lemah. (Hendy dan
Soetjiningsih, 2013)
6. Pemakaian alat bantu
Berupa kruk ketiak, rollator, walker dan kursi roda manual/listrik. (Hendy dan
Soetjiningsih, 2013)
7. Edukasi dan motivasi keluarga
8. Melakukan tes pendengaran

II. Aspek non medis


a. Pendidikan
Mengingat selain kecacatan motorik, juga sering disertai kecacatan mental,
maka pada umumnya pendidikannya memerlukan pendidikan khusus (SLB D).
(Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
b. Pekerjaan

13

Tujuan yang ideal dari suatu usaha rehabilitasi adalah agar penderita dapat
bekerja secara produktif, sehingga dapat berpenghasilan untuk membiayai
hidupnya. Mengingat kecacatannya, sering kali tujuan tersebut sulit dicapai.
Tetapi meskipun dari segi ekonomis tidak menguntungkan, pemberian
kesempatan kerja tetap diperlukan, agar dapat menimbulkan harga diri bagi
penderita yang bersangkutan. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
c. Problem social
Bila terdapat masalah social, diperlukan pekerja social untuk membantu
menyelesaikannya. (Hendy dan Soetjiningsih, 2013)
d. Lain-lain
Hal-hal lain seperti rekreasi, olahraga, kesenian dan aktifitas-aktifitas
kemasyarakatan perlu juga dilaksanakan oleh penderita ini. (Hendy dan
Soetjiningsih, 2013)
9. Pemeriksaan Penunjang
= Pemeriksaan Penunjang :
PEMERIKSAAN NEURORADIOLOGIK
Pemeriksaan khusus neuroradiologik untuk mencari kemungkinan penyebab CP
perlu dikerjakan, salah satu pemeriksaan adalah CT scan kepala, yang merupakan
pemeriksaan imaging untuk mengetahui struktur jaringan otak. CT scan dapat
menjabarkan area otak yang kurang berkembang, kista abnormal, atau kelainan
lainnya. Dengan informasi dari CT Scan, dokter dapat menentukan prognosis
penderita CP. MRI kepala, merupakan tehnik imaging yang canggih,
menghasilkan gambar yang lebih baik dalam hal struktur atau area abnormal
dengan lokasi dekat dengan tulang disbanding dengan CT scan kepala. Dikatakan
bahwa neuroimaging direkomendasikan dalam evaluasi anak CP jika etiologi
tidak dapat ditemukan.
Pemeriksaan ketiga yang dapat menggambarkan masalah dalam jaringan otak
adalah USG kepala. USG dapat digunakan pada bayi sebelum tulang kepala
mengeras dan UUB tertutup. Walaupun hasilnya kurang akurat dibanding CT dan
MRI, tehnik tersebut dapat mendeteksi kista dan struktur otak, lebih murah dan
tidak membutuhkan periode lama pemeriksaannya.
PEMERIKSAAN LAIN
14

Pada akhirnya, klinisi mungkin akan mempertimbangkan kondisi lain yang


berhubungan dengan CP, termasuk kejang, gangguan mental, dan visus atau
masalah

pendengaran

untuk

menentukan

pemeriksaan

penunjang

yang

dibutuhkan. Jika dokter menduga adanya penyakit kejang, EEG harus dilakukan
(Level A, Class I-II evidence). EEG akan membantu dokter untuk melihat
aktivitas elektrik otak dimana akan menunjukkan penyakit kejang. Pemeriksaan
intelegensi harus dikerjakan untuk menentukan derajat gangguan mental.
Kadangkala intelegensi anak sulit ditentukan dengan sebenarnya karena
keterbatasan pergerakan, sensasi atau bicara, sehingga anak CP mengalami
kesulitan melakukan tes dengan baik.
Jika diduga ada masalah visus, dokter harus merujuk ke optalmologis untuk
dilakukan pemeriksaan; jika terdapat gangguan pendengaran, dapat dirujuk ke
otologist (Level A, Class I-II evidence)
Identifikasi kelainan penyerta sangat penting sehingga diagnosis dini akan lebih
mudah ditegakkan. Banyak kondisi diatas dapat diperbaiki dengan terapi spesifik,
sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup penderita CP.
Diagnosis Gizi kurang dan microsefali ditegakkan berdasarkan BB,PB, dan
lingkaran kepala.

10. Komplikasi
=

Pulmonal: disfungsi oromotor, bronchopulmonary dysplais

GI: reflux, dysphagia


Retardasi mental
Hearing loss
Scoliosis dan kifosis
Dislokasi sendi panggul
Malnutrisi dan gagal tumbuh
Osteoporosis

15

11. Pencegahan dan Edukasi


=

Beberapa penyebab CP dapat dicegah atau diterapi, sehingga kejadian CP pun

bisa dicegah. Adapun penyebab CP yang dapat dicegah atau diterapi antara lain:
1. Pencegahan terhadap cedera kepala dengan cara menggunakan alat pengaman
pada saat duduk di kendaraan dan helm pelindung kepala saat bersepeda, dan
eliminasi kekerasan fisik pada anak. Sebagai tambahan, pengamatan optimal selama
mandi dan bermain.
2. Penanganan ikterus neonatorum yang cepat dan tepat pada bayi baru lahir dengan
fototerapi,

atau

jika

tidak

mencukupi

dapat

dilakukan

transfusi

tukar.

Inkompatibilitas faktor rhesus mudah diidentifikasi dengan pemeriksaan darah rutin


ibu dan bapak. Inkompatibilitas tersebut tidak selalu menimbulkan masalah pada
kehamilan pertama, karena secara umum tubuh ibu hamil tersebut belum
memproduksi antibodi yang tidak diinginkan hingga saat persalinan. Pada sebagian
besar kasus-kasus, serum khusus yang diberikan setelah kelahiran dapat mencegah
produksi antibodi tersebut. Pada kasus yang jarang, misalnya jika pada ibu hamil
antibodi tersebut berkembang selama kehamilan pertama atau produksi antibody
tidak dicegah, maka perlu pengamatan secara cermat perkembangan bayi dan jika
perlu dilakukan transfusi ke bayi selama dalam kandungan atau melakukan transfuse
tukar setelah lahir.
3. Rubella, atau campak jerman, dapat dicegah dengan memberikan imunisasi
sebelum hamil.
Sebagai tambahan, sangat baik jika kita berpedoman untuk menghasilkan kehamilan
yang baik dengan cara asuhan pranatal yang teratur dan nutrisi optimal dan
melakukan eliminasi merokok, konsumsi alkohol dan penyalah-gunaan obat.
Walaupun semua usaha terbaik yang sudah dilakukan oleh orang tua dan dokter,
tetapi masih ada anak yang terlahir dengan CP, hal tersebut karena sebagian besar
kasus CP tidak diketahui sebabnya.

12. Prognosis :
=
Dubia tergantung tatalaksana yang diberikan

16

13. KDU
=2
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter misalnya pemeriksaan lab atau xray. Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu
menindaklanjuti setelahnya
V. Learning Issue
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi
sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak
bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang
sesuai dengan usianya.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti
bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat
diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan,
perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ
yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara,
emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia
yang utuh.
2. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak.
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri
tersebut adalah sebagai berikut:

1) Perkembangan menimbulkan perubahan.


Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan
disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada
seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
17

2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan


selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia
melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa
berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika
pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri
anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis
karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.
3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang
berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi
organ dan perkembangan pada masing-masing anak.
4) Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian,
terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak
sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah
kepandaiannya.
5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap,
yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke
arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal).
b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu
berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan
gerak halus (pola proksimodistal).
6) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan
berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak
terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat
gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya.
Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling
berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

18

1.

Perkembangan

merupakan

hasil

proses

kematangan

dan

belajar.

Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai


dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang
berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan
menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.
2.

Pola perkembangan dapat diramalkan.


Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian
perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari
tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang Anak.


Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang
merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1.

Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Ras/etnik atau bangsa.

Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor
herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

Keluarga.
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau
kurus.

Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama
kehidupan dan masa remaja.

Jenis kelamin.

19

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki.
Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

Genetik.
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan
menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh
kembang anak seperti kerdil.

Kelainan kromosom.

Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada


sindroma Downs dan sindroma Turners.

2.

Faktor luar (eksternal).

1.

Faktor Prenatal
a.

Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi
pertumbuhan janin.
b.

Mekanis

Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot.
c. Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan
kongenital seperti palatoskisis.
d.

Endokrin

Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperplasia adrenal.


e.

Radiasi

Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti
mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan
kongential mata, kelainan jantung.

20

f.

Infeksi

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella,
Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak,
bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung kongenital.
g.

Kelainan imunologi

Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu
sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui
plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang akan
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h. Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan
pertumbuhan terganggu.
i. Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil
dan lain-lain.
2.

Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan
kerusakan jaringan otak.

3.

Faktor Pascasalin
Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
Penyakit kronis/ kelainan kongenital
Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan
jasmani.

21

Lingkungan fisis dan kimia.


Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi
sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang
baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,
Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.
4. Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh
orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di
dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
5. Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak
mengalami hambatan pertumbuhan.
6. Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan
yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.
7. Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh
kembang anak.
Stimulasi
Perkembangan

memerlukan

rangsangan/stimulasi

khususnya

dalam

keluarga,

misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota
keluarga lain terhadap kegiatan anak.
Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian
halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan
terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

4. Aspek-aspek Perkembangan yang Dipantau.

22

1).

Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan


otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2).

Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh


tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya.
3).

Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan

untuk

memberikan

respons

terhadap

suara,

berbicara,

berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.


4).

Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai


bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya, dan sebagainya.
5. Periode Tumbuh Kembang Anak.
Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan
berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa.Tumbuh kembang
anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka
periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut:
1. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).
Masa ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu :
o
o

Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.


Masa embrio, sejak

umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu.

Ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi
diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam tubuh.
o

Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan.

Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu:

23

Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke-2

kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan
jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi.

Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan

berlangsung

pesat

disertai

perkembangan

fungsi-fungsi.

Terjadi

transfer

Imunoglobin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi aasam lemak
esensial seri Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega 6 (Arachidonic Acid)
pada otak dan retina.
Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama
kehamilan. Pada periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh
lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok,
minuman beralkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, faktor
psikologis seperti kekerasan terhadap ibu hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk
bagi pertumbuhan janin dan kehamilan. Pada setiap ibu hamil, dianjurkan untuk
selalu

memperhatikan

gerakan

janin

setelah

kehamilan

bulan.

Agar janin dalam kandungan tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, maka
selama

masa

intra

uterin,

seorang

ibu

diharapkan:

o Menjaga kesehatannya dengan baik.


o Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan.
o Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya.
o Memeriksa kesehatannya secara teratur ke sarana kesehatan.
o Memberi stimulasi dini terhadap janin.
o Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan keluarganya.
o Menghindari stres baik fisik maupun psikis.
o Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi kehamilannya.
2. Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan.
3. Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu :

24

Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari.


Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ.
Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
o Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari.
o Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang
menjadi anak sehat adalah:

Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana

kesehatan yang memadai.


Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan
terlambat pergi ke sarana kesehatan bila dirasakan sudah saatnya

untuk melahirkan.
Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat

menenangkan perasaan ibu.


Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan penuh
rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu jiwa ibu

dan bayi yang dilahirkannya.


Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap
diperhatikan oleh karena berhubungan dengan masalah pemberian

ASI.
o Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan
berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi
sistem saraf.
Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai
unit pertama yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai
orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang terbaik
untuk anak.
Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan bayi,
mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan kepada
makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi sesuai
jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai.

25

Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak
terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak
sangat besar.
4. Masa

anak

dibawah

lima

tahun

(anak

balita,

umur

12-59

bulan).

Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan
dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan
dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya.
Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan serabut
serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak
yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antar sel syaraf ini
akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar
berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.
Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas,
kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan
landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa
ini, sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi
apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia
dikemudian hari.
5. Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan).
Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi perkembangan dengan
aktivitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir.
Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangannya.
Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka lingkungan di luar rumah mulai
diperkenalkan. Anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan
banyak keluarga yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah

26

dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman kota, atau ke tempattempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk anak.
Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan suasana bermain yang bersahabat
untuk anak (child friendly environment). Semakin banyak taman kota atau taman bermain
dibangun untuk anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistim reseptor
penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar
dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara
bermain.
Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan
anaknya, agar dapat dilakukan intervensi dini bila anak mengalami kelainan atau gangguan.
6. Tahapan Perkembangan Anak Menurut Umur
Umur 0-3 bulan
o

Mengangkat kepala setinggi 45 0 .

o
o
o
o
o
o
o

Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.


Melihat dan menatap wajah anda.
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
Suka tertawa keras.
Bereaksi terkejut terhadap suara keras.
Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak

Umur 3-6 bulan


o
o

Berbalik dari telungkup ke telentang.


Mengangkat kepala setinggi 90o.

Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.

Menggenggam pensil.

o
o
o
o
o
o

Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.


Memegang tangannya sendiri.
Berusaha memperluas pandangan.
Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik.
Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Umur 6-9 bulan


o
o
o

Duduk (sikap tripoid sendiri).


Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.

27

o
o
o
o
o
o
o
o

Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya.


Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan.
Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatatata.
Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
Bermain tepuk tangan/ciluk ba.
Bergembira dengan melempar benda.
Makan kue sendiri.

Umur 9-12 bulan


o
o

Mengangkat badannya ke posisi berdiri.


Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.

Dapat berjalan dengan dituntun.

o
o
o
o
o
o
o
o
o

Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan.


Mengenggam erat pensil.
Memasukkan benda ke mulut.
Mengulang menirukan bunyi yang didengar.
Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja.
Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
Senang diajak bermain CILUK BA
Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.

Umur 12-18 bulan


o
o
o
o
o
o
o

Berdiri sendiri tanpa berpegangan.


Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali.
Berjalan mundur 5 langkah.
Memanggil ayah dengan kata papa, memanggil ibu dengan kata mama.
Menumpuk 2 kubus.
Memasukkan kubus di kotak.
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan

suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu


o
Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.
Umur 18-24 bulan
o
o
o
o
o
o
o

Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik.


Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
Bertepuk tangan, melambai-lambai.
Menumpuk 4 buah kubus.
Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
Menggelindingkan bola kearah sasaran.
Menyebut 3 6 kata yang mempunyai arti.

o
o

Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.


Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri.

Umur 24-36 bulan


o
o

Jalan naik tangga sendiri.


Dapat bermain dan menendang bola kecil.

28

o
o
o
o
o

Mencoret-coret pensil pada kertas.


Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata.
Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.
Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih.
Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika

diminta.
o
Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah.
o
Melepas pakaiannya sendiri.
Umur 36-48 bulan
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Berdiri 1 kaki 2 detik


Melompat kedua kaki diangkat
Mengayuh sepeda roda tiga.
Menggambar garis lurus
Menumpuk 8 buah kubus.
Mengenal 2-4 warna.
Menyebut nama, umur, tempat.
Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan.
Mendengarkan cerita.
Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
Mengenakan sepatu sendiri.

Mengenakan celana panjang, kemeja, baju

Umur 48-60 bulan


o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Berdiri 1 kaki 6 detik.


Melompat-lompat 1 kaki.
Menari.
Menggambar tanda silang.
Menggambar lingkaran.
Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
Mengancing baju atau pakaian boneka.
Menyebut nama lengkap tanpa dibantu
Senang menyebut kata-kata baru.
Senang bertanya tentang sesuatu
Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
Bicaranya mudah dimengerti
Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya
Menyebut angka, menghitung jari
Menyebut nama-nama hari
Berpakaian sendiri tanpa dibantu.
Menggosok gigi tanpa dibantu.
Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.

Umur 60-72 bulan


o
o

Berjalan lurus.
Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik.

29

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap


Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
Menggambar segi empat.
Mengerti arti lawan kata
Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih
Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya.
Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10
Mengenal warna-warni
Mengungkapkan simpati
Mengikuti aturan permainan
Berpakaian sendiri tanpa dibantu

7. Beberapa Gangguan Tumbuh-Kembang Yang Sering Ditemukan.


1. Gangguan bicara dan bahasa.
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena
kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem
lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan
lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan
bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.
2. Cerebral palsy.
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, yang
disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada
susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
3. Sindrom Down
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya dan
mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom
21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa
faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis
atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik
dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.
4. Perawakan Pendek

30

Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi mengenai tinggi
badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang
berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena varisasi normal,
gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan
endokrin.
5. Gangguan Autisme.
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul
sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek
perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang
mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan
pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
6. Retardasi Mental.
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ < 70)
yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi
terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.
7. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan
perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.

B. Cerebral Palsy
Definisi
Cerebral palsy adalah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan
kelompok penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan
manifestasi klinis yang tampak pada beberapa tahun pertama kehidupan dan
secara umum tidak akan bertambah memburuk pada usia selanjutnya. Pada
penyakit ini terjadi kerusakan pada sel-sel motorik yang sedang tumbuh atau
belum selesai tumbuh dan akan mengganggu kemampuan otak untuk mengontrol
pergerakan dan postur secara adekuat.
Etiologi
31

a.

Pranatal :
1) Infeksi intrauterine : TORCH dan sifilis
2) Radiasi
3) Asfiksia intrauterine (abrupsio plasenta, plasenta previa, anoksia
maternal, kelainan umbilicus, perdarahan plasenta, ibu hipertensi, dll.)
4) Toksemia gravidarum.
5) DIC karena kematian prenatal pada salah satu bayi kembar

b. Natal :
1) Anoksial hipoksia
2)

Perdarahan otak/ intra cranial

3) Trauma lahir.
4) Prematuritas.
5) Postmaturitas
6) Hiperbilirubinemia
7) Bayi kembar
c.

Postnatal :
1) Trauma kapitis.
2) Infeksi misalnya : meningitis bakterial, abses serebri, tromboplebitis,
ensefalomielitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan
3) Racun : logam berat, CO
4) Kern icterus.

Faktor resiko
10 kali lebih sering ditemukan pada bayi premature
Very low birth weight < 1500g
Kehamilan letak sungsang
Kehamilan kembar
Kepala kecil(mikrosefali)
Hipertensi dalam kehamilan
Kejang segera setelah lahir
Epidemiologi

32

Angka kejadian 1-5/1000 anak. Lebih banyak laki-laki. Sering terdapat pada
anak pertama. Angka kejadian lebih tinggi pada bayi BBLR dan gemeli.
Cerebral Palsy dapat terjadi selama kehamilan (75 %), selama persalinan (5 %)
atau setelah lahir (15 %) sampai sekitar usia tiga tahun.
Klasifikasi
Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan berdasarkan gambaran klinis yang nampak
yaitu berdasarkan pergerakan:
Tipe Spastik (65%)
Pada tipe ini gambaran khas yang dapat ditemukan adalah paralisis spastik atau
dengan paralisis pada pergerakan volunter dan peningkatan tonus otot
(hipertoni, spastisitas, peningkatan refleks tendo dan klonus). Gangguan
pergerakan volunter disebabkan kesulitan dalam mengkoordinasi gerakan otot.
Bila anak menggapai atau mengangkat sesuatu, terjadi kontraksi otot secara
bersamaan sehingga pada pergerakan terjadi retriksi dan membutuhkan tenaga
yang banyak.
Paralisis akan mengenai sejumlah otot-otot, tetapi derajat paralisis berbedabeda, sehingga didapat ketidakseimbangan dalam tarikan otot dan akan
menghasilkan suatu deformitas tertentu, sehingga pada spastik Cerebral Palsy
deformitas akan berupa: fleksi, aduksi, dan internal rotasi. Gambaran khas
spastic gait berupa kekakuan dan kejang-kejang yang mengenai anggota gerak
yang terjadi di luar kontrol karena adanya deformitas posisi dan tampak nyata
pada saat penderita berjalan ataupun berlari. Paralisis spastik yang mengenai
otot bicara menyebabkan kesulitan pengucapan kata secara jelas. Paralisis
spastik pada otot menelan menyebabkan hipersekresi saliva yang berlebihan
sehingga air liur tampak menetes.
Tergantung dari luasnya lesi pada korteks serebral dapat terjadi spastik
paralisis, yang dapat di bagi menjadi :
Monoplegia :
Mengenai salah satu anggota gerak.
Hemiplegia
Mengenai anggota gerak atas dan bawah pada salah satu sisi.
Diplegia
Mengenai anggota gerak bawah.
Quadriplegia/tetraplegia
Mengenai seluruh anggota gerak.
33

Pasien dengan tipe spastik biasanya mengalami kerusakan pada korteks motorik
ataupun traktus piramidalis.
Tipe Atetoid (20%)
Gambaran khas atetosis adalah gerakan involunter yang tidak terkontrol pada
otot muka dan seluruh anggota gerak. Gerakan otot atetotik menyebabkan
perputaran, gerakan menggeliat pada anggota gerak dan muka sehingga
penderita tampak menyeringai dan bila mengenai otot yang digunakan untuk
berbicara maka akan timbul kesulitan berkomunikasi untuk menyampaikan
keinginan ataupun kebutuhannya.
Tipe atetosis pada pergerakan tangan dan lengan nampak sebagai getaran yang
bersifat regular atau spasme yang tiba-tiba. Terkadang pergerakan tidak
mempunyai tujuan, ataupun ketika ingin melalukan sesuatu maka anggota
badannya akan bergerak terlalu cepat dan terlalu jauh. Keseimbangannya juga
sangat buruk sehingga ia juga akan mudah terjatuh. Pada tipe ini kerusakan
terjadi pada sistem motorik ekstrapiramidal atau hingga ke ganglia basalis.

Tipe Ataksia (5 %)
Gambaran khas berupa ataksia serebral karena adanya gangguan koordinasi
otot dan hilangnya keseimbangan. Cara berjalan pada anak bersifat tidak stabil
dan

sering

terjatuh

walaupun

telah

menggunakan

tangan

untuk

mempertahankan keseimbangan. Pada lesi sereberal primer terjadi spastisitas


dan atetosis tanpa disertai gangguan intelegensi. Anak yang menderita tipe
ataksia mengalami kesulitan ketika mulai duduk atau berdiri. Lesi biasanya
mengenai serebelum, sehingga intelegensia tidak terganggu.

34

Berdasarkan derajat kemampuan fungsional.


1) Ringan:
Penderita masih bisa melakukan pekerjaanlaktifitas sehari- hari sehingga sama sekali
tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.
2) Sedang:
Aktifitas sangat terbatas. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus
atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau
berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus
diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah
masyarakat dengan baik.
3) Berat:
Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat
hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang
diberikan sangat Sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam
rumah perawatan khusus. Rumah perawatan khusus ini hanya untuk penderita
dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan sosialemosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

35

1. Betz, L & Linda S, 2002, Buku saku peditrik, Alih bahasa monica ester edisi
8. jakarta; EGC
2. Hassan, Rusepno. 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Infomedika
3. Staf pengajar IKA.1998. Buku Kuliah I Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:
Infomedika
4. Latief, abdul dkk. 2007. Ilmu kesehatan anak. Jakarta : bagian ilmu kesahatan
anak fakultas kedokteran universitas Indonesia
5. Kliegman RM, Stanton BF, St. Geme III JW, Schor NF, Behrman RE. Nelson
textbook of pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier; 2011.
6. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, oleh F.J
Mnks, AMP Knoers, dan Siti Rahayu Haditomo, Gadjah Mada University
Press, 2001.
7. UNICEF & WHO. 2004. Low birthweight country, regional and global
estimation; WHO. 2003.
8. Technical consultation towards the development of a strategy for promoting
optimal fetal development; ACC/SCN. 2000.
9. Low Birthweight: Report of a Meeting in Dhaka, Bangladesh on 14-17 June
1999; Rao, B.T. et al. 2007. Dietary intake in third trimester of pregnancy and
prevalence of LBW

36