Anda di halaman 1dari 37

A.

Pengertian
Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan,peregangan berlebihan,atau stress
yang berlebihan.
Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplit dengan perdarahan ke dalam jaringan.
(Smeltzer Suzame, KMB Brunner dan Suddarth)
Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulotendinous
(otot atau tendon).
Strain akut pada struktur muskulotendious terjadi pada persambungan antara otot dan tendon.
Tipe cedera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya.
Beberapa kali cedera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam melangkahi penuh.
B. Etiologi
Pada strain akut :
Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak
Pada strain kronis :
Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang berlebihan/tekanan berulangulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon).
C. Patofiologi
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak langsung
(overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot yang
berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot
pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang
baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera memar dan membengkak.
PATOFLOW
D. Klasifikasi Strain
Derajat I/Mild Strain (Ringan)
Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit muskulotendinous
yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada otot/ligament.
Gejala yang timbul :
Nyeri lokal
Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot
Tanda-tandanya :
Adanya spasme otot ringan
Bengkak
Gangguan kekuatan otot
Fungsi yang sangat ringan
Komplikasi
Strain dapat berulang
Tendonitis
Perioritis
Perubahan patologi

Adanya inflasi ringan dan mengganggu jaringan otot dan tendon namun tanda perdarahan yang
besar.
Terapi
Biasanya sembuh dengan cepat dan pemberian istirahat,kompresi dan elevasi,terapi latihan
yang dapat membantu mengembalikan kekuatan otot.
Derajat II/Medorate Strain (Ringan)
Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang berlebihan.
Gejala yang timbul
Nyeri local
Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot
Spasme otot sedang
Bengkak
Tenderness
Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang
Komplikasi sama seperti pada derajat I :
Strain dapat berulang
Tendonitis
Perioritis
Terapi :
Impobilisasi pada daerah cidera
Istirahat
Kompresi
Elevasi
Perubahan patologi :
Adanya robekan serabut otot
Derajat III/Strain Severe (Berat)
Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat. Berupa robekan penuh pada otot
dan ligament yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.
Gejala :
Nyeri yang berat
Adanya stabilitas
Spasme
Kuat
Bengkak
Tenderness
Gangguan fungsi otot
Komplikasi ;
Distabilitas yang sama
Perubahan patologi :

Adanya robekan/tendon dengan terpisahnya otot dengan tendon.


Terapi :
Imobilisasi dengan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.
E. Manifestasi klinis
Nyeri mendadak
Edema
Spasme otot
Haematoma
F. Komplikasi
Strain yang berulang
Tendonitis
G. Penatalaksanaan
Istirahat
Akan mencegah cidera tambah dan mempercepat penyembuhan
Meninggikan bagian yang sakit,tujuannya peninggian akan mengontrol pembengkakan.
Pemberian kompres dingin
Kompres dingin basah atau kering diberikan secara intermioten 20-48 jam pertama yang akan
mengurangi perdarahan edema dan ketidaknyamanan.
H. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Kajian nyeri
Apa yang dilakukan pasien sebelum dirasakan nyeri?
Apakah nyeri terlokalisasi?
Bagaimana pasien menjelaskan nyeri?
Apakah nyeri menjalar?
Inpeksi umumnya untuk mengetahui perkembangan edema,memantau luka dikulit.
Palpasi sendi untuk mengetahui sensitifitas dan perkembangan jaringan lunak yang banyak
teraba keras
Observasi tingkat keterbatasan mobilitas sendi yang terserang
b. Diagnosa Keperawatan
I. Diagnosa I
Nyeri b/d spasme otot
Intervensi
Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring/istirahat
Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena
Dorong pasien mendiskusikan masalah sehubungan dengan cidera
Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif
Berikan alternative tindakan menyamankan seperti pijatan
Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa/tiba-tiba/mendadak

II. Diagnosa II
Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri
Intervensi
Anjurkan untuk istirahat selama masih mengalami nyeri
Anjurkan untuk membatasi aktivitas yang berlebihan,seperti mengangkat beban yang berat
Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
III. Diagnosa III
Kerusakan intregitas jaringan b/d adanya cedera
Intervensi
Awasi adanya edema dan perdarahan pada area yang luka
Berikan perawatan luka
Perhatikan peningkatan atau berlanjutnya nyeri
DAFTAR PUSTAKA
Smelzer,Suzanne.C,2001.buku ajar keperawatan medikal bedah brunner dan suddarth.Ed
8.Jakarta;EGC
Doenges,Marlyn.E.1999.rencana asuhan keperawatan.Ed 3.Jakarta;EGC
http://www.arifsugiri.blogspot.com

BAB II
PEMBAHASAN
1.

2.
a.
b.
c.
3.

Pengertian
Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada jaringan lunak yang
diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung mengenai jaringan, seperti
pukulan, tendangan, atau jatuh (Arif Muttaqin,2008: 69).
Kontusio adalah cedera jaringan lunak, akibat kekerasan tumpul,mis : pukulan, tendangan atau
jatuh (Brunner & Suddart,2001: 2355).
Kontusio adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di
bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler
merembes ke jaringan sekitarnya (Morgan, 1993: 63)
Kontusio adalah suatu injuri yang biasanya diakibatkan adanya benturan terhadap benturan
benda keras atau pukulan. Kontusio terjadi akibat perdarahan di dalam jaringan kulit, tanpa ada
kerusakan kulit. Kontusio yang disebabkan oleh cedera akan sembuh dengan sendirinya tanpa
pengobatan, meskipun demikian luka memar di bagian kepala mungkin dapat menutupi cedera
yang lebih gawat dalam kepala. Kontusio dapat menjadi bagian dari cedera yang luas, misalnya
karena kecelakaan bermotor (Agung Nugroho, 1995: 52).
Etiologi
Benturan benda keras.
Pukulan.
Tendangan/jatuh
Manifestasi Klinis

4.

5.

Perdarahan pada daerah injury (ecchymosis)


karena rupture pembuluh darah kecil, juga
berhubungan dengan fraktur.
Nyeri, bengkak dan perubahan warna.
Hiperkalemia mungkin terjadi pada kerusakan jaringan yang luas dan kehilangan darah yang
banyak (Brunner & Suddart,2001: 2355).
Kompres dingin intermitten kulit berubah menjadi hijau/kuning, sekitar satu minggu kemudian,
begkak yang merata, sakit, nyeri dan pergerakan terbatas.
Kontusio kecil mudah dikenali karena karakteristik warna biru atau ungunya beberapa hari
setelah terjadinya cedera.
Kontusio ini menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit.
Bila terjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut
hematoma.
Nyeri pada kontusio biasanya ringan sampai sedang dan pembengkakan yang menyertai sedang
sampai berat (Hartono Satmoko, 1993:191).
Patofisiologi
Kontusio terjadi akibat perdarahan di dalam jaringan kulit, tanpa ada kerusakan kulit. Kontusio
dapat juga terjadi di mana pembuluh darah lebih rentan rusak dibanding orang lain. Saat
pembuluh darah pecah maka darah akan keluar dari pembuluhnya ke jaringan, kemudian
menggumpal, menjadi Kontusio atau biru. Kontusio memang dapat terjadi jika sedang stres, atau
terlalu lelah. Faktor usia juga bisa membuat darah mudah menggumpal. Semakin tua, fungsi
pembuluh darah ikut menurun (Hartono Satmoko, 1993: 192).
Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalamifagositosis dan didaurulang oleh
makrofaga. Warna biru atau unguyang terdapat pada kontusio merupakan hasil reaksi konversi
dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi menjadi hemosiderin
yang berwarna kecoklatan.
Tubuh harus mempertahankan agar darah tetap berbentuk cairan dan tetap mengalir dalam
sirkulasi darah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi pembuluh darah, jumlah dan kondisi sel
darah trombosit, serta mekanisme pembekuan darah yang harus baik. Pada purpura simplex,
penggumpalan darah atau pendarahan akan terjadi bila fungsi salah satu atau lebih dari ketiga hal
tersebut terganggu (Hartono Satmoko, 1993: 192).
Paralisisneralisis
Sindrom post traumatic (post contusion sindrom)
Epilepsy post trauma
Osteomyelik
Atelectasis
Hiperthermi
Syock

6. Penatalaksanaan
a. Mengurangi/menghilangkan rasa tidak nyaman :
Tinggikan daerah injury

Berikan kompres dingin selama 24 jam pertama (20-30 menit setiap pemberian) untuk
vasokonstriksi, menurunkan edema, dan menurunkan rasa tidak nyaman

Berikan kompres hangat disekitar area injury setelah 24 jam prtama (20-30 menit) 4 kali sehari
untuk melancarkan sirkulasi dan absorpsi
Lakukan pembalutan untuk mengontrol perdarahan dan bengkak
Kaji status neurovaskuler pada daerah extremitas setiap 4 jam bila ada indikasi (Brunner &
Suddart,2001: 2355).
b.

Menurut Agung Nugroho (1995: 53) penatalaksanaan pada cedera kontusio adalah sebagai
berikut:
Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler.
Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan jaringan-jaringan
lunak yang rusak.
Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan berikutnya.
7.

8.
a.

Diagnosa Keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan, ditandai dengan
ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan tendon.
Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyaka npada otot, ligament atau tendon
ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan, edema, nyeri.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan dalam melaksanakan aktivitas
ditandai dengan gerakan yang minim (imobilisasi)
Resiko tinggi trauma berulang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap kondisi,
prognosis dan pengobatan
Cemas berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta
penanganan yang akan didapatkan
Intervensi Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot, ligament atau tendon
ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan, edema, nyeri.
Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang dan terkontrol.
Kriteria Hasil :
Menunjukkan nyeri berkurang atu terkontrol.
Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai kemampuan.
Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam program control nyeri.
Intervensi Keperawatan
Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat factor-faktor yang
mempercepat dant anda-tanda rasa sakit non verbal.
R: Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program.
Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat.
R: Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang cedera.
Tinggikan bagian ekstremitas yang sakit.
R: Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.

b.

R: Membantu untuk menghilangkan ansietas, pasien dapat merasakan kebutuhan untuk


menghilangkan pengalaman kecelakaan
Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuai keperluan.
R:Menurunkan edema / pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
Berikan obat sesuai indikasi narkotik dan analgesik non narkotik.
R: Untuk menurunkan nyeri dan atau spasme otot.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan, ditandai dengan


ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan tendon.
Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan mobilitas fisik.
Kriteria Hasil :
Mempertahankan fungsi posisi.
Mempertahankan atau pun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari kompensasi bagian tubuh.
Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
Intervensi Keperawatan
Kaji tingkat mobilitas yang masih dapat dilakukan klien.
R:Membantu dalam menentukan kebutuhan bantuan mobilitas yang akan diberikan dan
keefektifan program.
Instruksikan klien / bantu dalam rentang gerak klien / aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang
tidak sakit.
R:Meningkatlan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot,
mempertahankan gerak sendi.
Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi atau kloset, menggunakan pegangan
tangga pada bak atau pancuran dan toilet, peggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda
R:Menghindari terjadinya cedera berulang.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi struktur disekitarnya dan struktur pada
bagian yang dilindungi atau disangganya.
Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada jaringan lunak yang
diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung mengenai jaringan, seperti
pukulan, tendangan, atau jatuh.

LAPORAN PENDAHULUAN "SPRAIN"


1.

Definisi
SPRAIN adalah teregangnya atau robeknya ligamen (yaitu jaringan ikat yang

menghubungkan dua atau lebih tulang dalam sebuah sendi). Sprain dapat disebabkan oleh jatuh,
terpelintir, atau tekanan pada tubuh yang menyebabkan tulang pada sendi bergeser sehingga
menyebabkan ligamen teregang atau bahkan robek. Biasanya, sprain terjadi pada keadaan seperti
saat orang terjatuh dengan bertumpu pada tangan. (kapita selekta kedokteran 2000.)
2.

Etiologi

Beberapa faktor sebagai penyebab sprain :


a.

Umur

Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta kekenyalan jaringan.
Misalnya pada umur tiga puluh sampai empat puluh tahun kekuatan otot akan relative menurun.
Elastisitas tendon dan ligamen menurun pada usia tiga puluh tahun.
b.

Terjatuh atau kecelakan

Sprain dapat terjadi apabila terjadi kecelakan atau terjatuh sehingga jaringan ligamen mengalami
sprain.
c.

Pukulan
Sprain dapat terjadi apabila mendapat pukulan pada bagian sendi dan menyebabkan sprain.

d.

Tidak melakukan pemanasan

Pada atlet olahraga sering terjadi sprain karena kurangnya pemanasan. Dengan melakukan
pemanasan otot-otot akan menjadi lebih lentur
3.

Anatomi fisiologi

Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan jaringan elastis penghubung
yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkus tulang dengan tulang yang diikat oleh sendi.
Beberapa tipe ligamen :

a.

Ligamen TipisLigamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral yang
ada di siku dan lutut. Ligamen ini memungkinkan terjadinya pergerakan.

b. Ligamen jaringan elastik kuning.Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang
membungkus danmemperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

4.
a.

Klasifikasi sprain

Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa serabut yang
putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.

b. Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih separuh serabut
ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan, pembengkakan, efusi,
(cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat menggerakkan persendian tersebut.
c. Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah. Persendian yang
bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian, pembekakan, tidak dapat
bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakangerakan yang abnormal.
d. sprain Tingkat IV

Robekan yang parah pada ligamen. Biasanyua ligamennya putus sehingga tulang-tulang yang
dihubungkan olah ligamen akan terpisah.

5.

WOC
Aktivitas sehari-hari
Yang berlebihan

SPRAIN

Inflamasi sel thd cedera

Peradangan

Metabolisme

Vasodilatasi pembuluh darah

kelemasan

Cairan di intrasisial

functiolaesa

otot

Panas (kalor)

otot
MK; peningkatan suhu tubuh

Bengkak (tumor)

fisik
Tertekannya ujung
Saraf perifer

Nyeri(dolor)

MK;nyeri

MK; gg.mobilitas

6.

Manifestasi klinis
Gejala yang dapat dirasakan jika seseorang mengalami sprain adalah nyeri,

inflamasi/peradangan, dan pada beberapa kasus, ketidakmampuan menggerakkan tungkai,


bengkak, memar, tidak stabil, dan hilangnya kemampuan untuk menggerakkan sendi, bengkak di
sekitar persendian tulang yang terkena cedera, termasuk perubahan warna kulit. Terjadi
haemarthrosis atau perdarahan sendi. Nyeri pada persendian tulang, nyeri bila anggota badan
digerakkan atau diberi beban, fungsi persendian terganggu, terjadi kekakuan sendi,
ketidakstabilan persendian tergantung jenis cederanya. Meskipun begitu, gejala dan tanda ini
dapat sangat bervariasi dalam hal beratnya, tergantung seberapa parahnya sprain yang terjadi.
Terkadang orang yang mengalami sprain merasa ada yang robek saat cedera terjadi.
7.

Penanganan Sprain
Prinsip utama penatalaksanaan sprain adalah mengurangi pembengkakan dan nyeri yang

terjadi. Langkah yang paling tepat sebagai penatalaksanaan tahap awal (24-48 jam) adalah
prinsip RICE (rest, ice, compression, elevation), yaitu :
a. Rest (istirahat)
Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban pada tempat yang cedera
selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu seperti crutch (penopang/penyangga tubuh yang
terbuat dari kayu atau besi) untuk mengurangi beban pada tempat yang cedera.
b. Ice (es)
Letakkan es yang sudah dihancurkan kedalam kantung plastik atau semacamnya. Kemudian
letakkan pada tempat yang cedera selama maksimal 2 menit guna menghindari cedera karena
dingin.

c. Compression (penekanan)
Untuk mengurangi terjadinya pembengkakan lebih lanjut, dapat dilakukan penekanan pada
daerah yang cedera. Penekanan dapat dilakukan dengan perban elastik. Balutan dilakukan
dengan arah dari daerah yang paling jauh dari jantung ke arah jantung.
d. Elevation (peninggian)
Balut tekan dan tetap tinggikan. Jika memungkinkan, pertahankan agar daerah yang cedera
berada lebih tinggi daripada jantung. Sebagai contoh jika daerah pergelangan keki yang terkena,
dapat diletakkan bantal atau guling dibawahnya supaya pergelangan kaki lebih tinggi daripada
jantung. Tujuan daripada tindakan ini adalah agar pembengkakan yang terjadi dapat dikurangi.
Bila ragu rawat sebagai patah tulang. Jika nyeri dan bengkak berkurang 48 jam setelah cedera,
gerakkan persendian tulang ke seluruh arah. Hindari tekanan pada daerah cedera sampai nyeri
hilang (biasanya 7 sampai 10 hari untuk cedera ringan dan 3 sampai 5 minggu untuk cedera
berat). Jika dibutuhkan, gunakan tongkat penopang ketika berjalan. Bantu dengan tongkat atau
kruk
- Mulai aktivitas dengan hati-hati secara bertahap. Tetapi jika diperlukan rujuk ke fasilitas
kesehatan. Keadaan-keadaan berikut di bawah ini merupakan indikasi kita untuk membawa diri
kita ke dokter :
Anda menderita rasa sakit yang sangat dan bahkan sendi yang terkena tidak dapat digunakan
untuk menahan beban sedikitpun.
a. Pada sendi yang terkena terlihat adanya memar selain adanya bengkak
b. Sendi yang terkena tidak dapat digerakkan
c. Anda tidak dapat berjalan lebih dari 4 langkah tanpa rasa sakit
d. Sendi anda terasa bergeser saat akan digerakkan
e. Sendi yang terkena terasaa baal
f. Anda ragu apakah cedera yang rasa alami itu serius atau tidak
Dan hindari HARM, yaitu:

H: heat, peberian panas justru akan meningkatkan perdarahan


A: alcohol,akan meningkatkan pembengkakan
R: running, atau exercis/latihane terlalu dini akan memburuk cidera
M: massage, tidak boleh diberikan pada masa akut karena akan merusak jaringan.
8.

Pencegahan Sprain

Sebagai upaya pencegahan, saat melakukan aktivitas olahraga memakai peralatan yang sesuai
seperti sepatu yang sesuai, misalnya sepatu yang bisa melindungi pergelangan kaki selama
aktivitas. Selalu melakukan pemanasan atau stretching sebelum melakukan aktivitas atletik, serta
latihan yang tidak berlebihan. Cedera dapat terjadi pada setiap orang yang melakukan olahraga
dengan jenis yang paling sering adalah strain dan sprain dengan derajat dari yang ringan sampai
berat. Cedera olahraga terutama dapat dicegah dengan pemanasan dan pemakaian perlengkapan
olahraga yang sesuai.
9.
a.

pemeriksaan diagnostik

Riwayat :
Tekanan
Tarikan tanpa peredaan
Daya yang tidak semestinya

b.

Pemeriksaan Fisik :
Tanda-tanda pada kulit, sistem sirkulasi dan muskuloskeletal .

DAFTAR PUSTAKA
Doenges,Marlyn.E.1999.rencana asuhan keperawatan.Ed
www.arifsugiri.blogspot.com
http://dara2001.wordpress.com/2010/01/14/askep-pada-klien-dengan-sprain/

DISLOKASI OLEH :DEDY FIKRIANSYAH AM.Kep


ASUHA KEPERAWATAN DISLOKASI
PENGERTIAN
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis
(tulang lepas dari sendi) (brunner&suddarth).
Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan
yang membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000).
Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di sertai
luksasi sendi yang disebut fraktur dis lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat
hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari
tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan
mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari
tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul
(paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga
terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya
menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
KLASIFIKASI
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Dislokasi congenital :
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2. Dislokasi patologik :
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis
tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.
3. Dislokasi traumatic :
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian
jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma
yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga
merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang
dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
1) Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di
sekitar sendi.
2) Dislokasi Kronik
3) Dislokasi Berulang
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan
trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint
dan patello femoral joint.
Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh
berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan
tarikan.
ETIOLOGI
Dislokasi disebabkan oleh :
1. Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga
yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan
pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara
tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.

3. Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
4. Patologis : terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang
PATOFISIOLOGI
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek
kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput
hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan
luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke
posisi da bawah karakoid).
MANIFESTASI KLINIS
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan menerima
pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot
suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Dengan cara pemeriksaan Sinar X ( pemeriksaan X-Rays ) pada bagian anteroposterior akan
memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid, Kaput
biasanya terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.
KOMPLIKASI
Dini
1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan
mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
3) Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut
1) Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu,
terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara
otomatis membatasi abduksi
2) Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian

depan leher glenoid


3) Kelemahan otot
PENATALAKSANAAN
Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi
berat.
Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.
Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap
dalam posisi stabil.
Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang
berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Identitas dan keluhan utama
Riwayat penyakit lalu
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat masa pertumbuhan
Pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu
tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
4. Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.
INTERVENSI
Dx 1
Kaji skala nyeri
Berikan posisi relaks pada pasien

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi


Kolaborasi pemberian analgesic
Dx 2
Kaji tingkat mobilisasi pasien
Berikan latihan ROM
Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan
Dx. 3
Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya
Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.
Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien
Dx 4
Kaji konsep diri pasien
Kembangkan BHSP dengan pasien
Bantu pasien mengungkapkan masalahnya
Bantu pasien mengatasi masalahnya.

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang
dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan
mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari
tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain
macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya
biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan,secara
anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner & Suddarth)Keluarnya (bercerainya) kepala sendi
dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan

segera.(Arif Mansyur, dkk. 2000)Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat
menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis lokasi.( Buku Ajar Ilmu
Bedah, hal 1138) Berpindahnya ujung tulang patah, karena tonus otot, kontraksi cedera dan
tarikan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
KLASIFIKASI
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut
1. Dislokasi congenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan

2. Dislokasi patologik
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis
tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang
3. Dislokasi traumatic.
Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian
jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma
yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga
merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang
dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi
1. Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di
sekitar sendi
2. Dislokasi Berulang.
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan
trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint
dan patello femoral joint.Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang
disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau
kontraksi otot dan tarikan.

2.2

Etiologi
Dislokasi disebabkan oleh :
1. Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga
yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan
pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara
tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
2.Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi
3.Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
Tidak diketahui
Faktor predisposisi(pengaturan posisi)
akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
Trauma akibat kecelakaan.
Trauma akibat pembedahan ortopedi(ilmu yang mempelajarin tentang tulang
Terjadi infeksi disekitar sendi.

2.3

Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan
,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral
kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan
menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh
membawa kaput ke posisi da bawah karakoid).

Web Of Causation

2.4

Manifestasi Klinis
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan
menerima pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak
terlalu berotot suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.
Nyeri
perubahan kontur sendi
perubahan panjang ekstremitas
kehilangan mobilitas normal
perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
deformitas

kekakuan
2.5

Penatalaksanaan
Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi
berat.
Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.
Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam
posisi stabil.
Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang
berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.

2.6

Komplikasi
Dini
Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan
mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut.
1

Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu,
terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara
otomatis membatasi abduksi

Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau


kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid

2.7

Kelemahan otot

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Dilokasi


A. Pengkajian
1. Dislokasi
Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari disklokasi yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya
penyakit.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah
diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses
penyembuhan.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada penderita Dislokasi pemeriksan fisik yang diutamakan adalah nyeri, deformitas, fungsiolesa
misalnya: bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.
B. Diagnosa Keperawatan
-

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau ketidak
mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah
merah

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit

Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.

C. NCP
NO

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasional

1. -

Gangguan rasaRasa nyeri teratasi Kaji skala nyeri


nyaman

nyeridengan

berhubungan

KH :

dengan

Klien tampak tidak

discontinuitas

meringis lagi.

jaringan

Klien tampak rileks

Mengetahui

intensitas

nyeri.
Berikan posisi relaks
pada pasien
-

Posisi relaksasi pada


pasien dapat mengalihkan

Ajarkan teknik distraksifocus pikiran pasien pada


dan relaksasi
nyeri.
Berikan lingkungan yang
nyaman, dan aktifitas
- Tehnik relaksasi dan
hiburan
distraksi
dapat
Kolaborasi pemberian
mengurangi rasa nyeri.
analgesic
-

Meningkatkan relaksasi
pasien

Analgesic Mengurangi
nyeri

2.

Gangguan Memberikan
mobilitas

fisikkenyamanan dan

berhubungan

melindungi sendi

dengan deformitasselama masa


dan

nyeri

Kaji tingkat mobilisasi pasien

saatpenyembuhan.

mobilisasi

KH :
-

menunjukkan
mobilisasi

pasien

menentukan
Berikan latihan ROM
Anjurkan penggunaan
alat Bantu jika
diperlukan
-

tingkat
dan

intervensi

selanjutnya.

Memberikan

latihan

melaporkan Monitor tonus otot


ROM kepada klien untuk
peningkatan
mobilisasi
Membantu pasien untuk
toleransi aktivitasimobilisasi baik dari
- Alat bantu memperingan

(termasuk aktivitasperawat maupun keluarga mobilisasi pasien


sehari-hari)
-

menunjukkan
penurunan

tanda

Gar mendapatkan data


yang akurat

intolerasi fisiologis,
misalnya
pernapasan,
tekanan

darah

masih

dalam

dariterpenuhi

untuk imobilisasi

dan

rentang normal
3. Perubahan nutrisiKebutuhan nutrisi
kurang

- Dapat membnatu pasien

nadi,

Kaji
termasuk

riwayat
makan

nutrisi, Mengidentifikasi
yangdefisiensi, memudahkan

kebutuhan

tubuh
disukai
intervensi
KH :
b.d
kegagalan
Observasi dan catat Mengawasi masukkan
Menunujukkan
untuk mencerna
masukkan
makanankalori atau kualitas
peningkatan
atau
ketidak
pasien
kekurangan konsumsi
/mempertahankan
mampuan
makanan
berat badan dengan
mencerna
Timbang berat badan Mengawasi penurunan
nilai laboratorium
makanan /absorpsi
setiap hari.
berat badan atau
normal.
nutrient
yang
efektivitas intervensi
- Tidak mengalami
diperlukan untuk
nutrisi
tanda mal nutrisi.
pembentukan sel
Berikan makan sedikit Menurunkan kelemahan,
Menununjukkan
darah merah
dengan frekuensi seringmeningkatkan
perilaku, perubahan
dan atau makan diantarapemasukkan dan
pola hidup untuk
waktu makan
mencegah distensi gaster
meningkatkan dan
Observasi dan catat Gejala GI dapat
atau
kejadian
mual/muntah,menunjukkan efek anemia
mempertahankan
flatus dan dan gejala lain(hipoksia) pada organ.
berat badan yang
yang berhubungan
sesuai.
Berikan dan Bantu
hygiene mulut yang baik ; Meningkatkan nafsu

sebelum

dan

sesudahmakan dan pemasukkan

makan, gunakan sikat gigioral. Menurunkan


halus untuk penyikatanpertumbuhan bakteri,
yang

lembut.

Berikanmeminimalkan

pencuci mulut yang dikemungkinan infeksi.


encerkan bila mukosa oralTeknik perawatan mulut
luka.

khusus mungkin
diperlukan bila jaringan

Kolaborasi pada ahli gizirapuh/luka/perdarahan


untuk rencana diet.

dan nyeri berat.


Membantu dalam rencana

Kolaborasi ; pantau hasildiet untuk memenuhi


pemeriksaan laboraturium kebutuhan individual
Meningkatakan
efektivitas program
Kolaborasi; berikan obatpengobatan, termasuk
sesuai indikasi

sumber diet nutrisi yang


dibutuhkan.
Kebutuhan penggantian
tergantung pada tipe
anemia dan atau adanyan
masukkan oral yang buruk
dan defisiensi yang
diidentifikasi.

4. Ansietas
berhubungan

kecemasan pasien
teratasi dengan

kaji tingakat ansietas

klien

mengetahui
kecemasan

dengan kurangnyaKH :

menentukan

pengetahuan

selanjutnya.

klien tampak rileks

tentang penyakit klien tidak tampak


bertanya tanya

Bantu
mengungkapkan

tingakat

pasien

dan

intervensi

pasien
Mengali pengetahuan dari
rasapasien dan mengurangi

cemas atau takutnya

kecemasan pasien

Kaji pengetahuan Pasien

tentang

prosedur

agar

perawat

yangseberapa

akan dijalaninya.

tingkat

pengetahuan

Berikan informasi yang

tau
pasien

dengan penyakitnya

benar tentang prosedur


Agar pasien mengerti
yang akan dijalani pasien tentang penyakitnya dan
5

Gangguan

bodiPasien bisa

image

mengatasi body

berhubungan

image pasien

dengan deformitas
dan

tidak cemas lagi


Kaji konsep diri pasien Dapat mengetahui pasien
Kembangkan

BHSP
Menjalin saling percaya

dengan pasien

pada pasien

perubahan

bentuk tubuh.

Bantu
mengungkapkan

pasien
Menjadi tempat bertanya

masalahnya

pasien

untuk

mengungkapkan masalah
nya
Bantu pasien mengatasi

masalahnya.

mengetahui
pasien

dan

memecahkannya

masalah
dapat

BAB IV
PENUTUP
1.1

Kesimpulan
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang
dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan
mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari
tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi
pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain
macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya
biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me lindungin beberapa
organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit
pada gerakan dan menye diakan permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi
tulang yang sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar
terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau
dislokasi tulang.
Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehinggaTulang
berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor
penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).

1.2

Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat
berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Brunner, Suddarth, (2001) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3, EGC :
Jakarta
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan,
EGC : Jakarta.
www.goggel.com

Diposkan oleh suku tapanuli di 12.17 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Beranda
Langganan: Entri (Atom)

brits

suhu

Entri Populer

askep DISLOKASI
MAKALAH GANGGUAN SISTEM MUSCULOSKELETAL ASKEP DISLOKASI ...

askep dislokasi
Apple Google Microsoft
Why Apple Inc.'s $10000 Gold Watch Is A Win For Investors
Motley Fool
Tech giant Apple's (NASDAQ: AAPL ) Watch strategy is as good as gold (pun intended), or at
least, that's what it wants to you think. I, and many others, have voiced a somewhat skeptical
perspective on Apple's forthcoming smartwatch. To counter this ...
Related Articles
How Apple's new MacBook gets nearly as much battery life as the MacBook Pro ...
Apple Insider
Another option is to redesign the pixel itself, which is an approach that Apple seems to have
taken with the new MacBook. The company doesn't specify exactly what they've done, but a
small animation on the MacBook landing page shows some components ...
Related Articles
Apple Watch for Sale in Retail Stores by Reservation Only, No Walk-In Sales
Mac Rumors
As the Apple Watch launch approaches, details have been leaking out about how Apple will be
handling sales of their new device. According to leaked Apple documentation, the company will
not be selling the Apple Watch to walk-in customers at launch.
Related Articles
Apple Car Resembles Tesla Vehicle In These Concept Images
ValueWalk
Speculation regarding a possible Apple Inc. (NASDAQ:AAPL) Car has been accelerating, and
to exacerbate this process the website carwow has produced a digital impression of this mooted
vehicle. And considering the well-documented links between Apple ...
Related Articles
powered by

penting kah bagi anda...?????


Mengenai Saya
Arsip Blog

suku tapanuli
simpel, rajin,
Lihat profil lengkapku

2011 (1)
o Maret (1)

askep DISLOKASI

Pengikut