Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Informasi dibutuhkan dalam kehidupan manusia dari waktu ke waktu. Informasi tersebut
digunakan untuk berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bentuk maupun
cara mendapatkan informasi terjadi sangat cepat dengan adanya penyediaan informasi yang
merupakan gabungan antara data dan suara secara cepat tanpa batasan ruang dan waktu.
Informasi dapat diperoleh oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja, dengan menggunakan
kecanggihan teknologi informasi. Gambar berikut menjelaskan terjadinya ledakan informasi
yang terjadi saat ini
Kebutuhan informasi juga menyebabkan perubahan bentuk organisasi dalam hidup
bermasyarakat, bagaimana masyarakat melaksanakan kegiatannya dan bagaimana mereka
berkomunikasi satu sama lainnya. Di era global saat ini bentuk organisasi dan cara kerja
masyarakat bisa terjadi secara maya dengan menggunakan fasilitas internet untuk
berkomunikasi. Transaksi bisnis bisa dilaksanakan dimana saja menggunakan teknologi
informasi komunikasi, penggunaan komputer dan fasilitas internet tanpa perlu bertatap muka
antar pelaku bisnis. Bahkan pengobatan pasien dan asistensi saat pelaksanaan operasi pada
pasien dapat dilaksanankan dari jarak jauh melalui fasilitas telemedicine1.
Demikian juga dengan informasi, ilmu pengetahuan tacit dan eksplisit di berbagai
wilayah/negara dapat diakses dengan cepat, tepat dan mudah dengan berkembangnya
perpustakaan digital. Kebutuhan informasi menyebabkan perubahan bentuk organisasi dalam
hidup bermasyarakat, bagaimana masyarakat melaksanakan kegiatannya dan bagaimana mereka
berkomunikasi satu sama lainnya. Di era global saat ini bentuk organisasi dan cara kerja
masyarakat bisa terjadi secara maya dengan menggunakan fasilitas internet untuk
berkomunikasi. Pelayanan perpustakaan digital meliputi akses yang terintegrasi kepada sumbersumber informasi online pengambilan informasi secara online akses secara elektronik ke
database bibliometrik akses-akses elektronik pada jurnal dan buku secara full-text dan lain
sebagainya.

1 Pemanfaatan Alih Media untuk Pengembangan Perpustakaan Digital. Available at :


www.pnri.go.id/MajalahOnlineAdd.aspx?id=129. Diakses pada 10 November 2014
pukul 20.17 WIB
1

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah :
-

Bagaimana keberadaan HKI pada era internet ?


Bagaimana keberadaan HKI pada era digital ?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah :
-

Mengetahui keberadaan HKI pada era internet


Mengetahui keberadaan HKI pada era digital
Manfaat dalam penyusunan makalah ini adalah :

Memenuhi salah satu tugas mata kuliah HKI Lanjutan


Melatih mahasiswa untuk lebih aktif dalam pencarian materi HKI lanjutan
Menambah wawasan tentang HKI lanjutan dalam era internet dan era digital

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian HKI


Kekayaan Intelektual atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual
adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR) atau
Geistiges Eigentum, dalam bahasa Jermannya. Istilah atau terminologi Hak Kekayaan Intelektual
(HKI) digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1790. Adalah Fichte yang pada tahun 1793
mengatakan tentang hak milik dari si pencipta ada pada bukunya. Yang dimaksud dengan hak
milik disini bukan buku sebagai benda, tetapi buku dalam pengertian isinya Istilah HKI terdiri
dari tiga kata kunci, yaitu Hak, Kekayaan, dan Intelektual. Kekayaan merupakan abstraksi yang
dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual.2
Adapun kekayaan intelektual merupakan kekayaan atas segala hasil produksi kecerdasan
daya pikir seperti teknologi, pengetahuan, seni, sastra, gubahan lagu, karya tulis, karikatur, dan
lain-lain yang berguna untuk manusia. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya yang
timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Sistem HKI merupakan hak privat
(private rights). Seseorang bebas untuk mengajukan permohonan atau mendaftarkan karya
intelektualnya atau tidak. Hak eklusif yang diberikan Negara kepada individu pelaku HKI
(inventor, pencipta, pendesain dan sebagainya) tiada lain dimaksudkan sebagai penghargaan atas
hasil karya (kreativitas) nya dan agar orang lain terangsang untuk dapat lebih lanjut
mengembangkannya lagi, sehingga dengan sistem HKI tersebut kepentingan masyarakat
ditentukan melalui mekanisme pasar.
Disamping itu sistem HKI menunjang diadakannya sistem dokumentasi yang baik atas segala
bentuk kreativitas manusia sehingga kemungkinan dihasilkannya teknologi atau karya lainnya
yang sama dapat dihindari atau dicegah. Dengan dukungan dokumentasi yang baik tersebut,
diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan maksimal untuk keperluan hidupnya
atau mengembangkannya lebih lanjut untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi lagi.

Teori Hak Kekayaan Intelektual : Teori Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sangat dipengaruhi
oleh pemikiran John Locke tentang hak milik. Dalam bukunya, Locke mengatakan bahwa hak
milik dari seorang manusia terhadap benda yang dihasilkannya itu sudah ada sejak manusia
lahir. Benda dalam pengertian disini tidak hanya benda yang berwujud tetapi juga benda yang
abstrak, yang disebut dengan hak milik atas benda yang tidak berwujud yang merupakan hasil
2 Kekayaan Intelektual. Available
at :
dari intelektualitas manusia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekayaan_intelektual . Diakses pada 10 November 2014
pukul 20.14 WIB
3

2.2 Sejarah Perkembangan HKI di Indonesia

Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia telah ada


sejak tahun 1840. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan undang-undang pertama
mengenai perlindungan HKI pada tahun 1844. Selanjutnya, Pemerintah Belanda
mengundangkan UU Merek tahun 1885, Undang-undang Paten tahun 1910, dan UU Hak
Cipta tahun 1912. Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies
telah menjadi angota Paris Convention for the Protection of Industrial Property sejak
tahun 1888, anggota Madrid Convention dari tahun 1893 sampai dengan 1936, dan
anggota Berne Convention for the Protection of Literaty and Artistic Works sejak tahun
1914. Pada zaman pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 sampai dengan 1945, semua
peraturan perundang-undangan di bidang HKI tersebut tetap berlaku. Pada tanggal 17
Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sebagaimana
ditetapkan dalam ketentuan peralihan UUD 1945, seluruh peraturan perundang-undangan
peninggalan Kolonial Belanda tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan UUD
1945. UU Hak Cipta dan UU Merek tetap berlaku, namun tidak demikian halnya dengan
UU Paten yang dianggap bertentangan dengan pemerintah Indonesia. Sebagaimana
ditetapkan dalam UU Paten peninggalan Belanda, permohonan Paten dapat diajukan di
Kantor Paten yang berada di Batavia (sekarang Jakarta), namun pemeriksaan atas
permohonan Paten tersebut harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda

Pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang merupakan


perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang Paten, yaitu Pengumuman
Menteri Kehakiman no. J.S 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan sementara
permintaan Paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.G 1/2/17
yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.

Pada tanggal 11 Oktober 1961 Pemerintah RI mengundangkan UU No.21 tahun 1961


tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan untuk mengganti UU Merek Kolonial
Belanda. UU No 21 Tahun 1961 mulai berlaku tanggal 11 November 1961. Penetapan
UU Merek ini untuk melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan/bajakan.

10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris Paris Convention for the Protection
of Industrial Property (Stockholm Revision 1967) berdasarkan keputusan Presiden No.
24 tahun 1979. Partisipasi Indonesia dalam Konvensi Paris saat itu belum penuh karena
Indonesia membuat pengecualian (reservasi) terhadap sejumlah ketentuan, yaitu Pasal 1
sampai dengan 12 dan Pasal 28 ayat 1.
4

Pada tanggal 12 April 1982 Pemerintah mengesahkan UU No.6 tahun 1982 tentang Hak
Cipta untuk menggantikan UU Hak Cipta peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak
Cipta tahun 1982 dimaksudkan untuk mendorong dan melindungi penciptaan,
penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu, seni, dan sastra serta
mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa.

Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era moderen sistem HKI di tanah air. Pada
tanggal 23 Juli 1986 Presiden RI membentuk sebuah tim khusus di bidang HKI melalui
keputusan No.34/1986 (Tim ini dikenal dengan tim Keppres 34) Tugas utama Tim
Keppres adalah mencakup penyusunan kebijakan nasional di bidang HKI, perancangan
peraturan perundang-undangan di bidang HKI dan sosialisasi sistem HKI di kalangan
intansi pemerintah terkait, aparat penegak hukum dan masyarakat luas.

19 September 1987 Pemerintah RI mengesahkan UU No.7 Tahun 1987 sebagai


perubahan atas UU No. 12 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.

Tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 ditetapkan pembentukan


Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DJHCPM) untuk mengambil alih fungsi
dan tugas Direktorat paten dan Hak Cipta yang merupakan salah satu unit eselon II di
lingkungan Direktorat Jenderal Hukum dan Perundang-Undangan, Departemen
Kehakiman.

Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU tentang Paten
yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 Tahun 1989 oleh Presiden RI pada tanggal
1 November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku tanggal 1 Agustus 1991.

28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merek,


yang mulai berlaku 1 April 1993. UU ini menggantikan UU Merek tahun 1961.

Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah RI menandatangani Final Act Embodying the
Result of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPS).

Tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang


HKI, yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6 tahun 1982, UU Paten 1989 dan UU Merek
1992.

Akhir tahun 2000, disahkan tiga UU baru dibidang HKI yaitu : (1) UU No. 30 tahun 2000
tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU No. 32
tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

Untuk menyelaraskan dengan Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects


of Intellectual Property Rights) pemerintah Indonesia mengesahkan UU No 14 Tahun
2001 tentang Paten, UU No 15 tahun 2001 tentang Merek, Kedua UU ini menggantikan
UU yang lama di bidang terkait. Pada pertengahan tahun 2002, disahkan UU No.19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif
satu tahun sejak di undangkannya.

Pada tahun 2000 pula disahkan UU No 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman dan mulai berlaku efektif sejak tahun 2004.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 HKI pada Era Internet


Perubahan pesat teknologi ke arah kemajuan globalisasi berdampak ke hamper semua
aspek kehidupan masyarakat. Apabila pemanfaatan teknologi tidak diatur dengan baik, maka ada
kecenderungan pemanfaatan teknologi tersebut menjadi tidak terkendali yang berakibat pada
pelanggaran hukum. Era globalisasi saat ini menjadi sangat tergantung pada kemajuan teknologi
yang dapat menciptakan efisiensi dengan jangkauan wilayah yang luas tanpa dihalangi oleh
batas-batas negara. Salah satu wujud teknologi yang berhasil menjawab kebutuhan tersebut
adalah teknologi internet. Dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa jaringan yang
dapat menjangkau ke seluruh pelosok dunia, internet berhasil merambah seluruh bidang aktifitas
manusia. Hal tersebut menempatkan internet sebagai media informasi yang mampu memenuhi
tuntutan masyarakat global. Meluasnya pemakaian internet di segala aspek kehidupan manusia
ternyata membawa konsekuensi tersendiri. Perdana Menteri Perancis Franois Fillon
mengungkapkan bahwa era globalisasi bukan hanya sekadar era yang terkait dengan pasar bebas
dan kebebasan untuk memperkaya negara masing-masing, melainkan era globalisasi adalah era
ketika hak asasi manusia dan demokrasi dijunjung tinggi.
3.1.1 Perkembangan
Perkembangan era digitalisai hanya membutuhkan waktu tiga dekade. Media informasi
menjadi ranah pertama yang terambah oleh gelombang revolusi teknologi, diantaranya dengan
dunia penerbitan buku, yang dewasa ini disibukkan dengan mengkonversi buku-bukunya ke
dalam format digital: e-book, enhanced book, interactive book dan lain-lain. Media informasi
memang selalu menjadi gerbang yang mengantarakan sebuah zaman dari suatu era menuju era
lainnya. Media informasi merupakan salah satu alat provokasi paling ampuh dan efektif guna
mengubah pola pikir seseorang atau bahkan publik secara kolektif.
Tanda yang signifikan dalam era digital saat ini adalah perkembangan yang sangat cepat
pada sektor ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan era digital di Indonesia utamanya
dimana bangsa Indonesia harus berusaha menyetarakan atau mengikuti perkembangan zaman
akan perkembangan teknologi dunia, karena perkembangan teknologi dan informasi sangatlah
pesat. Bangsa Indonesia harus meningkatkan kreatifitasnya dalam dunia teknologi agar dapat
mengikuti perkembangan zaman yang sekarang ini dalam kondisi yang serba mutakhir.
7

Kehadiran interconnection networking (internet) tahun 1969 di Amerika Serikat diawali oleh
Departemen Pertahanan AS selaku media komunikasi antar sesama pejabat pertahanan dan
presiden.39 Sampai saat ini manfaat internet tidak dapat diragukan lagi. Bahkan dari populasi
konsumen pemakainya setiap tahun bertambah jumlahnya. Sebuah statistik pengguna internet di
dunia pada 31 Desember 2011 menyatakan bahwa Asia menempati peringkat tertinggi dunia
pengguna internet dengan persentasi 44,8%.
3.1.2 Pengaruh
Keberadaan internet di tengah kehidupan masyrakat menciptakan suatu kemudahan
dalam melakukan berbagai aktifitas, tetapi kemudahan tersebut tidak boleh diartikan bebas tanpa
batas. Kemudahan yang ditawarkan internet tidak boleh disalah artikan apalagi disalahgunakan.
Kemudahan yang diberikan internet jugatidak boleh bersifat destruktif dan melanggar kaidahkaidah hukum.53 Kejujuran dan tanggung jawab harus tetap jadi prioritas dalam pemanfaatan
internet. Ketika teknologi konversi data muncul, banyak karya cipta konvensional yang telah
diubah ke dalam media digital. Dalam kaitan dengan konversi bentuk digital ini, banyak
pekerjaan dan produk karya cipta dapat dengan mudah diakses oleh kebanyakan orang-orang
dengan bantuan dari komputer, perangkat lunak dan jaringan internet. Dengan berkembangnya
era digital saat ini para penghasil karya cipta memiliki pilihan teknologi yang dapat membantu
dalam berkarya dan berkreasi dengan lebih mudah, maksimal, dan sempurna.
Para pencipta dan atau pemegang Hak Cipta juga memiliki pilihan teknologi untuk lebih
mendekatkan diri pada masyarakat luas. Misalnya, seorang penulis ingin karya tulisannya
dipublikasi kepada masyarakat luas tanpa harus pergi atau mencari ke toko buku. Penulis
tersebut dapat mempublikasikannya di website atau blog pribadinya. Digitalisasi juga telah
membuat proses menyalin, mempublikasikan dan mendistribusikan salinan digital menjadi
sangat mudah. Kemajuan teknologi digital memberikan dampak positif berupa tersedianya media
untuk karya cipta yang pada akhirnya menghasilkan kualitas tampilan karya cipta yang baik dan
modern. Namun, dampak negatifnya terjadi penyalahgunaan teknologi digital itu oleh pihakpihak tertentu dengan melakukan praktek-praktek yang bertentangan dengan hukum.
Pelanggaran HKI menjadi mudah karena kemajuan teknologi digital, walaupun akibatnya
HKI di sektor teknologi pun menjadi korban pertama pelanggaran tersebut.Dengan
menggunakan media digital, pelanggaran-pelanggaran HKI semakin mudah. Teknologi digital
mampu meggandakan dan mencetak ditambah dengan kemampuan internet dalam menyajikan
informasi menyebabkan praktik penggandaan menjadi semakin mudah pula dilakukan Pengaruh
kemajuan teknologi digital yang tidak sehat akan berdampak jauh lebih berbahaya dibandingkan
dengan keunggulan dan kemanfaatannya, terutama dikalangan netter pemula. Mereka sangat
mudah melihat dan menerima informasi dari berbagai belahan dunia tanpa harus mengeluarkan
biaya yang banyak. Dan untuk menghindari hal itu, maka masyarakat harus dapat melihat dan
8

membedakan isu-isu mana yang bermanfaat untuk diadopsi demi untuk kemajuan dan
kemaslahatan manusia secara keseluruhan.
Media kaset audio digital menghasilkan cara yang baru untuk membuat dan
mendistribusikan salinan rekaman suara, termasuk musik yang dilindungi Hak Cipta. Metode
baru diciptakan untuk mengumpulkan dan berbagi pendapatan royalti, dan untuk perlindungan
terhadap salinan bajakan. Hukum baru diciptakan untuk menutupi pembajakan digital, copy
protection, dan informasi terkait dengan salinan penulis, tanggal, pemilik, persyaratan lisensi,
dan lainnya. Penyebaran yang cepat dari internet, terutama protokol www di awal 1990-an,
membuat hampir semua orang dengan komputer menjadi penerbit potensial. Di sisi lain setiap
web browser otomatis men-download salinan "halaman web", sebagai bagian dari operasi normal
untuk menampilkan informasi penulis telah diterbitkan, di bawah lisensi tersirat yang baru untuk
membuat salinan, setidaknya untuk pribadi digunakan. Dengan semakin mudah diakses banyak
orang semakin banyak pula orang yang mengalterasi, duplikasi, menggandakan, dan distribusi.
Maka semakin lemah perlindungan hukum terhadap pencipta.
Potensi pelanggaran atas moral rights & economic rights pencipta dan atau pemegang
hak cipta semakin besar ketika tulisan yang diakses tanpa mencantumkan nama, menggunakan
karya tidak sesuai peruntukannya. Semakin canggihnya teknologi digital masa kini membuat
perubahan besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju
telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah dimudahkan dalam mengakses suatu
informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas dari teknologi digital dengan
bebas dan terkendali. Tetapi di sayangkan semakin berkembangnya teknologi justru semakin
banyaknya kejahatan yang terdeteksi. Maka dari itu segala sesuatunya harus memiliki
perlindungan Hak Cipta dan mengontrol setiap netter yang mengakses karya cipta digital.
Karena setiap teknologi yang baru akan selalu mempengaruhi hukum Hak Cipta.
Di internet, seseorang dapat membuat yang tidak terbatas jumlah salinan, hampir
seketika, tanpa degradasi jelas dalam kualitas. Dan salinan ini dapat ditularkan ke lokasi di
seluruh dunia dalam hitungan menit. Dalam industri musik misalnya munculnya berbasis internet
layanan file swapping seperti situs Napster dan lainnya telah memungkinkan eksploitasi skala
besar musik dan rekaman tanpa otorisasi dari pemilik Hak Cipta. Eksploitasi yang semakin
diperparah dengan komersialisasi luas simultan pembakar Compact Disc (burning) dan MP3
player portable, disesuaikan dengan format file yang paling umum digunakan. Perlindungan hak
merupakan isu utama dalam membahas kekayaan intelektual. Di bawah perjanjian yang ada dan
peraturan nasional, para pemilik Hak Cipta dan terkait diberikan sejumlah hak yang berbeda
untuk mengontrol dan untuk tiap karya intelektualnya dibayar untuk penggunaan karyanya.
Perkembangancteknologi digital, yang memungkinkan transmisi bekerja melalui jaringan, telah
mengangkat pertanyaan tentang bagaimana hak-hak ini berlaku di lingkungan baru. Secara
khusus, ketika salinan dibuat sebagai karya melintasi jaringan adalah reproduksi yang tepat
terlibat dengan copy. Hak paling dasar yang diberikan Hak Cipta dan hak terkait adalah hak
reproduksi, yang di bawah Konvensi Bern mencakup reproduksi "dalam cara atau bentuk".
9

Hak ini merupakan inti dari aktifitas virtual, karena setiap transmisi dari suatu karya atau
objek mengandaikan hak terkait dengan upload yang bekerja atau benda lainnya ke dalam
memori komputer atau perangkat digital lainnya. Selain itu, ketika karya atau benda yang dikirim
melalui jaringan, beberapa salinan yang dibuat dalam memori computer jaringan di berbagai
tempat. Oleh karena itu perlu untuk menentukan bagaimana hak reproduksi berlaku untuk
salinan tersebut. Berdasarkan ketentuan yang ada di UUHC, siapa saja yang akan memanfaatkan
suatu ciptaan orang lain harus mendapatkan izin dari pencipta atau pemilik karya intelektual
tersebut. Penjelasan tersebut juga dikuatkan dalam Pasal 49 UUHC yang menyebutkan bahwa
Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa
persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan suara dan/atau gambar
pertunjukaannya. Menurut UUHC tersebut segala aktifitas yang berkaitan dengan penggunaan,
perbanyakan, dan penyebaran informasi di dalam jaringan komputer (internet) itu diperbolehkan,
selama ada izindan lisensi yang jelas dari pencipta atau pemilik aslinya sesuai yang tercantum
dalam Pasal 1 ayat (1) :
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan
atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.
Salah satu cara yang ditempuh untuk menghindari pelanggaran tersebut adalah diperlukan
adanya suatu tatanan sosial atau penerapan kaedah etis dalam pengelolaan koleksi digital yang
dikenal dengan kaidah penggandaan (copy norms).
3.2 HKI pada Era Digital
Konsep dasar perpustakaan digital muncul pertama kali pada bulan Juli 1945 oleh
Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses
terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan, untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat
catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang
termekanisasi. Selama dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi
perpustakaan terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi teknologi
yang ada belum cukup menunjang. Baru pada awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah
diautomasi melalui perangkat komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat
biaya investasi yang tinggi. Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang
dengan sistem automasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain
pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan
koleksi, kontrol keuangan,manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna. Dalam
periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya
semakin berkembang dengan cepat. Tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan
National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan
10

penelusuran teks secara elektronik, dan teknologilainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak
tertentu.
3.2.1 Tujuan Digital
Istilah Digital Library lebih banyak dipakai untuk pengertian Perpustakaan digital,
disamping istilah lainnya yang mempunyai pengertian sama antara lain: Digital Library,
Electronic Library,Virtual Library, Cyber Library, dan atau yang sedikit berbeda yaitu Hybrid
Library. Pengertian Perpustakaan digital adalah: merupakan suatu organisasi yang menyediakan
sumber informasi termasuk penyiapan staff yang ahli dalam menyeleksi, menstruktur,
mengakses, menginterpretasi, menyebarkan, menyimpan berbagai hasil kerja berupa digital dan
menyajikannya secara ekonomis untuk keperluan masyarakat. (Don Waters - Direktur Digital
Library Federation, Amerika.(1998).
Tujuan membangun sebuah perpustakaan digital dengan semua kelebihannya,
diantaranya adalah:
1)
Mudah dan cepat dalam mencari informasi yang dibutuhkan dan diinginkan,
sehingga lebih menghemat waktu dan lebih efektif dalam memperoleh pengetahuan;
2)
Koleksi yang disimpan dalam bentuk digital/elektronik dapat dirawat jauh lebih
lama dibanding sistem penyimpanan non digital yang banyak dipengaruhi faktor
alam, berdampak pada biaya pengadaan koleksi yang dapat diminimumkan;
3)
Perpustakaan digital tidak memerlukan banyak perangkat, seperti: video player,
DVD/VCD player, tape recorder, microfilm reader, dll, dikarenakan hampir seluruh
media koleksi telah dikonversi dalam bentuk digital yang dapat diakses oleh
komputer perpustakaan;
4)
Dengan koleksi digital, perpustakaan lebih mudah dalam sharing data atau
informasi kepada pengguna atau mitra kerja lainnya.
3.2.2 Masalah Digital
Membangun perpustakaan digital tidak bermasalah selama koleksi yang diterima dan
dikumpulkan dalam bentuk file digital, tetapi menjadi bermasalah apabila perpustakaan menerim
koleksi dalam bentuk tercetak dan dalam jumlah yang banyak, karena akan membutuhkan waktu
dan tenaga juga biaya untuk proses digitalisasinya (digitalisai dokumen). Masalah lain dalam
perpustakaan digital yaitu teknik arsitektur yang mendasari sebuah system perpustakaan digital.
Perpustakaan akan membutuhkan arsitektur untuk meningkatkan dan memperbarui teknik
artistektur saat ini untuk menyesuaikan bahan digital.

11

Arsitektur akan memuat komponen seperti:


(a) Jaringan lokal berkecepatan tinggi dan koneksi ke internet cepat,
(b) Hubungan basis data yang mendukung variasi format digital,
(c) Fulltext search engine untuk mengindeks dan menyediakan akses ke sumber informasi,
(d) Variasi server, seperti Web server dan FTP server,
(e) Fungsi manajemen dokumen elektronik yang akan membantu dalam seluruh manajemen
dari sumber digital.
Masalah hak cipta (HAKI/ Hak Atas Kekayaan Intelektual) dalam Perpustakaan digital,
sering menjadi perdebatan dan dipermasalahkan, tetapi pada dasarnya hak cipta dalam
perpustakaan digital dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
(1) Hak cipta pada dokumen yang didigitalkan. Yang termasuk didalamnya adalah: merubah
dokumen ke digital dokumen, memasukkan digital dokumen ke database, dan merubah
digital dokumen ke hypertext dokumen.
(2) Hak cipta dokumen di communication network. Didalam hukum hak cipta masalah
transfer dokumen lewat komputer network belum didefinisikan dengan jelas. Hal yang
perlu disempurnakan adalah tentang: hak meyebarkan, hak meminjamkan, hak
memperbanyak, hak menyalurkan baik kepada masyarakat umum atau pribadi, semuanya
dengan media jaringan komputer termasuk didalamnya internet, dan sebagainya.
Masalah lain pada perpustakaan digital yaitu penarikan biaya. Hal ini menjadi masalah
terutama untuk Perpustakaan Digital yang dikelola oleh swasta yang menarik biaya untuk setiap
dokumen yang diakses dan tidak ada standar biaya. Beberapa penelitian pada bidang ini banyak
mengarah ke pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen ataupun upaya mewujudkan
electronic money. Penarikan biaya pada perpustakaan digital di institusi pemerintahanpun
seringkali mengalami masalah karena hampir semua operasional perpustakaan digital institusi
pemerintah sudah dibiayai oleh keuangan rakyat dalam hal ini pemerintah, baik itu melalui
APBD, ataupun APBN.

BAB IV PENUTUP
12

4.1 Kesimpulan

Eksploitasi yang semakin diperparah dengan komersialisasi luas simultan pembakar


Compact Disc (burning) dan MP3 player portable, disesuaikan dengan format file yang
paling umum digunakan.

Apabila pemanfaatan teknologi tidak diatur dengan baik, maka ada kecenderungan
pemanfaatan teknologi tersebut menjadi tidak terkendali yang berakibat pada pelanggaran
hukum.

Masalah hak cipta (HAKI/ Hak Atas Kekayaan Intelektual) dalam Perpustakaan digital,
sering menjadi perdebatan dan dipermasalahkan, tetapi pada dasarnya hak cipta dalam
perpustakaan digital dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu Hak cipta pada dokumen
yang didigitalkan dan Hak cipta dokumen di communication network.

4.2 Saran
Perkembangan era internet dan era digital yang samkin meningkat tidak dapat membatasi
kemampuan seseorang untuk menciptakan kreasi-kreasi yang baru. Ciptaan dapat berkembang
selaras dengan perkembangan era internet dan era digital, hanya saja akan menjadi lebih baik
jika dibarengi dengan tumbuhnya pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen ataupun
upaya mewujudkan electronic money.

13

DAFTAR PUSTAKA

Usman, Rachmadi.2006. Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual : Perlindungan dan


Dimensi Hukumnya di Indonesia.Jakarta : Alumni.
_________.2010.Hukum Hak Kekayaan Intelektual.Jakarta : Sinar Grafika.
Sugiharto.2013. Suatu Wacana Mengembangkan Perpustakaan Masa Depan di Indonesia.
Avaliable at : https:// openlibrary.org/ works/OL15898944W/ Penegakan_ hukum_
di_bidang_hak_kekayaan_intelektual. Diakses pada 10 November 2014 pukul 20.46
WIB

14