Anda di halaman 1dari 20

PERSPEKTIF HUKUM PRA PERADILAN DAN PENINJAUAN KEMBALI

PERWUJUDAN KEPASTIAN HUKUM DALAM WAKTU


SINGKAT SERTA ANALISA KASUS
Oleh Timur Abimanyu, SH.MH

Fenomena yang terjadi dinegara tercinta ini yaitu sengketa politik


antara institusi-institusi Pemerintah, yang mungkin kurangnya koordinasi
atau terdaptnya unsur kepentingan pribadi/politis yang memungkinkan
terjadinya benturan atau saling bersinggungan sesama institusi penegak
hukum di Indonesia. Seperti pada kasus perseteruan
antara Institusi
Kepolisian dan Komisi Pemberantasa Korupsi yang terlihat masing-masing
ingin adu kekuatan dengan bertameng undang-undang/undang anti Korupsi,
KUH Pidana, KHUA Pidana dan lainnya yang merupakan perangkat keadilan.
Persoalan hukum yang terjadi sampai adanya perkara pra peradilan yang menarik perhatian
rakyat Indonesia, salah satunya permohonan praperadilan Komjen Pol Budi
Gunawan atas penetapan tersangka yang dilakukan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dikabulkan sebagian oleh Hakim Sarpin
Rizaldi, yang salah satu amarnya, Menyatakan tidak sah segala keputusan
atau penetapan lebih lanjut yang dikeluarkan oleh Termohon yang berkaitan
dengan penetapan Tersangka oleh Termohon.
Permasalahannya adalah Bagaimana caranya untuk melaksanakan
eksekusi amar putusan praperadilan tersebut ? dan Sampai sejauh manakah
implementasi putusan Pra Peradilan dalam ranah kepastian Hukum
tersebut ? dan Bagaimanakah upaya hukum KPK yang melimpahkan Kasus
Komjen Pol Budi Gunawan ke pada pihak kejaksaan untuk melakukan
penuntutan tersebut ? dan Apakah Putusan Pra Peradilan dapat diupaya
hukum Banding, Kasasi maupunPeninjauan Kembali ? inilah yang menjadi
angan abu-abu di benak penulis adanya kesimpang siuran prodak hukum
yang terkesan tidak adanya kepastian hukum dan terjadinya penyimpangan
terhadap Hak Asasi Manusia. Perlu kita ketahui bahwa rumusan amar itu
dapat diartikan bahwa jika sudah tidak ada lagi upaya hukum terhadap
putusan dimaksud, maka segala keputusan yang akan ditempuh oleh KPK
terkait dengan status tersangka Budi Gunawan, termasuk dalam rangka
menyelesaikan perkara tersebut (dalam pengertian bukan menghentikan

penyidikan, sebab KPK tidak diberi wewenang oleh UU untuk menerbitkan


penghentian penyidikan).
Dasar Hukum Pra Peradilan adalah pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP
yaitu Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) dan selain dari pada itu, ada pasal lain yang masih berhubungan dengan pra
peradilan tetapi diatur dalam pasal tersendiri yaitu mengenai tuntutan ganti kerugian dan
rehabilitasi sebagaimana di atur dalam pasal 95 dan 97 KUHAP, Keputusan Menkeh RI No.
M.01.PW.07.03 tahun 1983 tentang Pra Peradilan disebutkan dapat pula dilakukan atas tindakan
kesalahan penyitaan yang tidak termasuk alat bukti.dst, Pasal 20 Algemene
Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie (ABAB masih berlaku
sepanjang belum dicabut secara tegas oleh UU berdasarkan Aturan Peralihan
UUD 1945--), yang menyatakan: Hakim harus mengadili berdasarkan
Undang-Undang, Sebagaimana diketahui bahwa sistem peradilan pidana di
Indonesia mengenal 5 (lima) institusi sub sistem peradilan pidana sebagai
Panca Wangsa penegak hukum, yaitu Lembaga Kepolisian (UU No. 2 Tahun
2002), Kejaksaan (UU No. 16 Tahun 2004), Peradilan (UU No. 49 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua atas UU No. 2 Tahun 1986), Lembaga
Pemasyarakatan (UU No. 12 Tahun 1995) dan Advokat (UU No. 18 Tahun
2003), dan Undang Undang Nomor. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman (UU Kehakiman), untuk menemukan hukum atau menafsirkan
lebih dari yang sudah diatur dalam Pasal 77 KUHAP, karena kewenangan
untuk menafsirkan ataupun menemukan hukum berdasarkan UU Kehakiman
juga dibatasi, yaitu hanya dapat dipergunakan di saat hukum yang mengatur
tidak ada atau hukum yang mengatur tidak jelas. Dalam hal ini, mengenai
praperadilan, hukum yang mengatur sudah jelas, yaitu Pasal 77 KUHAP dan
aturan yang mengatur tersebut juga sudah jelas, yaitu limitatif.
Perlu kita ketahui dan ingat-ingat kembali bahwa dalam persoalan Pra
Peradilan secara spesifik diatur dalam pasal 77, 81 KUHAP, dimana dalam
Pra Peradilan berlaku azas tidak dapat dibanding. (ps. 83 ayat 1 KUHAP),
karena putusan praperadilan merupakan putusan akhir, dan disepakari
oleh kedua belah pihak dalam perkara Pra Peradilan tersebut, sesuai dengan
azas tata cara pemeriksaan Pra Peradilan yang dilakukan dengan acara
cepat dan dengan bertujuan untuk mewujudkan putusan dan kepastian
hukum dalam waktu yang relatif singkat. Dan terdapat putusan praperadilan
yang dapat dimintakan putusan akhir ke Pengadilan tinggi yakni menyangkut
putusan praperadilan yang menetapkan sah tidaknya penghentian
penyidikan atau penuntutan atas permintaan penyidik atau penuntut umum
(pasal 83 ayat 2 KUHAP). Sedangkan untuk upaya hukum lainnya seperti
Kasasi, terdapat dua pendapat yaitu apabila 1. tidak dapat, karena apa
yang diperiksa dan diputus bukan suatu materi pidana, 2) tidak dapat

karena setiap pemeriksaan dan putusan yang dijatuhkan badan peradilan


dengan sendirinya termasuk tindakan judisial.
Begitu pula berdasarkan Keputusan Menteri kehakiman No.
M/14/PW.07.03. Tahun 1983 adalah :
- Terhadap putusan Pra Peradilan tidak dimungkinkan kasasi, karena azas
peradilan yang cepat tidak terpenuhi jika kasasi dimungkinkan.
- Pasal 244 KUHAP tidak membuka kemungkinan untuk kasasi.
Akan tetapi terjadinya kesimpang siuran penerapan hukum didalam
melaksanakan upaya hukum yang oleh undang-undang telah diadakan
pembatasan secara jelas, oleh Mahkamah Agung pada kasus Pra Peradilan
yang diajukan oleh Hendra Raharja dan kasus Buyat (PT. Newmont), dimana
Mahkamah Agung menerima permohonan kasasi yang diajukan oleh Mabes
POLRI dan begitu pula
pada kasus Komjen Budi Gunawan, dimana
Mahkamah Agung membuka pintu bagi KPK untuk mengajukan Permohonan
Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung ( yang jelas-jelas oleh Pasal 244
KUHAP dan mungkin saya sa;ah menafsirkannya).
Definisi Pra Peradilan seperti dalam hukum acara pidana dapat dipahami seperti yang
terdapat dalama pasal 1 butir 10 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang
menyatakan bahwa Pra Peradilan adalah wewenang pengadilan untuk memeriksa dan memutus
terhadap :
1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan, atas permintaan tersangka atau
keluarganya atau permintaan yang berkepentingan demi tegaknya hukum dan keadilan.
2. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan yang
berkepntingan demi tegaknya hukum dan keadilan dan.
3. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan yang
berkepntingan demi tegaknya hukum dan keadilan. (pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP dan
pasal 95 dan 97 KUHAP).
Dengan berlandasarkan Dasar Hukum tersebut diatas dan dengan memahami
filosofi dari pidana dan pemidanaan, dapat kita pahami bahwa hukum pidana
akan selalu bersentuhan dengan kekuasaan (Negara) melawan warga
Negara (kepentingan orang-perorangan/ kelompok/ golongan). Dimana akan
selalu ada dan akan terjadi, bahwa kekuasaan yang besar pada penegak
hukum yang dapat dipergunakan secara subjektif, dan kelemahan yang
teramat besar bagi orang yang berhadapan dengan hukum yang tergantung
pada kekuasaan subjektif penegak hukum. Kewenangan kekuasaan yang
besar yang melekat pada penegak hukum yang dapat dipergunakan secara
subjektif tersebut, berdasarkan hukum positif yang berlaku saat ini, yang
mengatur mengenai aturan penegakan hukum pidana materiil, yaitu KUHAP,
yang tidak memiliki daya control yang cukup memadai untuk mengontrol
kekuasaan tersebut, dan harus kita pahami bahwa Power tends to corrupt,

and absolute power corrupts absolutely(Kekuasaan cenderung korupsi, dan


Kekuasan mutlak cenderung korupsi.
Atas dasar problematika hukum tersebut diatas, sudah seharusnya
pembuat undang-undang, yaitu legislatif dan eksekutif, harus segera
mengesahkan RUU KUHAP yang baru, mengingat permasalahanpermasalahan hukum yang timbul dikemudian hari akibat dari kesewenangwenangan penggunaan kekuasaan, seperti pada kasus Komjen. Pol. Budi
Gunawan sebagaimana permohonannya di dalam praperadilan di atas, telah
diatur mekanisme hukum acaranya secara lebih detail, sehingga perdebatanperdebatan yang penuh dengan berbagai macam interpretasi dapat
dihindarkan dan kepastian hukum akan lebih terjamin yang akan berdampak
pula kepada kepercayaan warga Negara terhadap penegak hukum di
Indonesia. Negara Indonesia sebagai Negara hukum dengan sistem hukum
positivisme, maka setiap warga Negara wajib menghormati hukum dengan
pemahaman rasa keadilan. Apabila pada kenyataannya terdapat aturan
hukum yang dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman, maka
sudah seharusnya hukum itulah yang harus diperbaiki melalui mekanisme
hukum yang diperuntukkan sesuai dengan kepentingan hukum dan
permasalahan hukum yang terjadi dan untuk menjadikan hukum tersebut
menjadi panglima tertinggi didalam penegakan hukum.
Dengan demikian bahwa putusan Pra Peradilan pada dasarnya tidak dapat
dimintakan banding, kecuali atas putusan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan.
Dimana dalam Pasal 83 ayat (1) berbunyi Terhadap putusan pra peradilan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 tidak dapat di mintakan banding, sedangkan
pasal 83 ayat (2) berbunyi : terhadap putusan yang menetapkan sahnya penghentian
penyidikan atau penuntutan tidak dapat diajukan permintaan banding dan terhadap putusan
yang menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan
permintaan banding. Pengadilan Tinggi (PT) yang memeriksa dan memutus permintaan banding
tentang tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, bertindak sebagai pengadilan
yang memeriksa dan memutus dalam tingkat akhir. Jelasnya dalam ketentuan pasal 83 ayat (1)
tidak dimaksudkan untuk membatasi keinginan para pihak mencari keadilan tetapi justru
dimaksudkan untuk mewujudkan acara cepat dan mewujudkan kepastian hukum dalam waktu
yang relatif singkat, sebagaimana dasar pra peradilan, sebab dalam pasal 83 ayat (2) proses
banding ke PT pun merupakan upaya terakhir dan final serta tidak dikenal upaya kasasi pra
peradilan ke Mahkamah Agung (MA).
Tujuan Pra Peradilan1 adalah untuk membangun saling kontrol antara kepolisian,
kejaksaan dan tersangka melalui kuasa hukumnya. Tidak usah suatu proses pra peradilan di
tanggapi dengan kecurigaan bahwa antara lembaga hukum akan saling menjatuhkan. Dalam
suatu negara hukum, saling kontrol adalah suatu hal lumrah untuk menghindari kesewenangwenangan penerapan upaya paksa (penangkapan dan penahanan) atau penghentian penyidikan
dan penuntutan (SP 3 dan SKPPP) secara tidak beralasan apalagi diam-diam. Upaya kontrol itu
perlu sebagai peningkatan kinerja di lembaga penegak hukum, serta untuk membangun kembali
citra penegak hukum yang saat ini telah terpuruk. Oleh sebab itu semua proses pra peradilan
1.http://nasional.kompas.com/read/2015/02/18/15000041/Sesat.Pikir.Putusan.Praper
adilan.

harus dapat diterima dengan lapang dada, begitu pula dengan putusan yang di hasilkan pra
peradilan. Kepolisian, kejaksaan, hakim dan advokat harus mampu bekerja sama menampilkan
hukum yang pasti, jelas dan memadai. Kepastian hukum akan membuat keadaan negara
harmonis dan pencari keadilan merasa terlindungi.
Upaya dalam menganalisis kasus pra peradilan Komjen Budi Gunawan, 2 penulis
berupaya untuk mengasumsikan putusan pra peradilan untuk menjawab permasalahan yang
terjadi. Menanggapi permasalahan tersebut diatas, yaitu dimana putusan pra peradilan tersebut
mengabulkan sebagaian permohonan praperadilan dengan pertimbangan
bahwa surat perintah penyidikan (Sprindik) yang menetapkan Komjen Pol
Budi Gunawan oleh KPK tidak sah dan tak berdasarkan hukum dan
Penyidikan a-quo tidak memiliki kekuatan hukum tetap dan sebagainnya lagi
di tolak. 3 Jika memang putusan pra peradilan tersebut pertimbangannya
demikian, maka sudah sepantasnyalah si tersangka tersebut harus
direhabilitasi nama baiknya, mengingat jabatannya yang sangat vital dan
jenjang kariernya selama bertahun-tahun.
Jika nama baiknya tidak direhabilitasi, maka dianggap telah
mengeyampingkan ketentuan undang-undang Hak Azasi manusia dalam hal
hak memperoleh Keadilan pada Pasal 17 yang menyatakan Setiap orang,
tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan
permohonan, pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata,
maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan
tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan
yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan
yang adil dan benar. Dalam hal Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah
dalam Pasal 71 menyatakan bahwa Pemerintah wajib dan bertanggung
jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi
manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang2. http://www.komnasham.go.id/instrumen-ham-nasional/uu-no-39-tahun-1999tentang-ham.
3 .Undang Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asas
Manusia Pasal 1 ayat 3 yang menyatakan Diskriminasi adalah setiap pembatasan,
pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada
pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan,
status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang
berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan
atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik
individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya,
dan aspek kehidupan lainnya. Dan ayat 6 menyatakan Pelanggaran hak asasi
manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat
negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan
hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan
tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian
hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang
diterima oleh negara Republik Indonesia.
Memang dalam kasus pra peradilan Komjen Budi Gunawan adalah
dimana putusan tersebut tak memiliki kekuatan eksekusi mengikat, akan
tetapi perlu diketahui dan ditegaskan bahwa putusan pra peradilan tersebut
harus dipatuh oleh kedua belah pihak, mengingat bahwa hakim dapat
bertindak sebagai prodak hukum apabila
didalam memeriksa,
mempertimbangkan dan memutus perkara tidak terdapat perundangundangan yang mengatur atau terdapat kekosongan hukum. Dalam Pasal 1
ayat 10 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
menyatakan bahwa Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa
dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini, tentang :
a. sah atau
tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya
atau pihak lain atas kuasa tersangka, b. sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan, dan c. permintaan
ganti kerugian atau rehabilitasi4 oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya
yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.
Dalam Pasal 77 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 dengan tegas
menyatakan bahwa Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini tentang : a. sah atau tidaknya penangkapan,
penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan dan b. ganti kerugian dan
atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan
atau penuntutan. Dimana dalam Pasal 77 ayat b adalah sebagai pasal solusi apabila pemohon
pra peradilan dikabulkan maka si pemohon pra peradilan harus mendapatkan hak-haknya yaitu
berupa ganti rugia dan rehabilitasi agar hak-haknya yang diatur oleh undang-undang Hak Asasi
Manusia terpenuh serta menghilangkan unsur dikriminasi terhadap manusia didalam
melaksanakan unsur berbangsa dan bernegara. Dalam Pasal 82 Undang Undang Nomor 8
Tahun 1981 ayat (4) menyatakan bahwa Ganti kerugian dapat diminta, yang
meliputi hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 dan Pasal 95. Penjelasan
Pasal 955 mengenai ganti rugi dan rehabilitasi, dimana Tersangka/terdakwa
4.Rehabilitasi diatur dalam Pasal 97 yaitu dalam (1) Seorang berhak memperoleh rehabilitasi
apabila oleh pengadilan diputus bebas atau diputus lepas dari segala tuntutan hukum yang
putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap, 2) Rehabilitasi tersebut diberikan dan
dicantumkan sekaligus dalam putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
(3) Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas penangkapan atau penahanan tanpa alasan
yang berdasarkan undang-undang atau kekeliruan mengenai orang atau hukum yang
diterapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (1) yang perkaranya tidak diajukan
ke pengadilan negeri diputus oleh hakim praperadilan yang dimaksud dalam Pasal 77.

5.Ganti Kerugian dalam Pasal 95 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 menyatakan


bahwa (1) Tersangka, terdakwa atau terpidana berhak menuntut ganti kerugian
karena ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa
alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai
orangnya atau hukum yang diterapkan, (2) Tuntutan ganti kerugian oleh tersangka
atau ahli warisnya atas penangkapan atau penahanan serta tindakan lain tanpa
alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orang

atau
terpidana
berhak
menuntut
ganti
kerugian
karena
ditangkap/ditahan/dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa
alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai
orangnya atau hukum yang diterapkan dan harus mendapatkan putusan
pengadilan berupa penetapan (diataur dalam Pasal 96 ayat 1 dan ayat 2
Kitab Undang-Undang HukumAcara Pidana) begitu juga terhadap rebilitasi
harus diajukan ke pengadilan negeri tersebut. Seharusnya dalam kasus pra
peradilan yang telah dikabulkan, tersangka/pemohon pra peradilan
mengajukan gugata ganti rugi dan rehabilitasi namanya dan agar
mendapatkan kepastian hukum atas permohonan pra peradilan tersebut.
Atas dasar alasan tersebut, 6 sudah seharusnya Kepala Negara
melantik Budi Gunawan menjadi kapolri., hal ini juga mengingat DPR telah
menyetujuinya dan terlepas apakah Budi Gunawan nantinya akan dituntut
kembali, hal tersebut dapat dipertimbangkan dalam waktu yang lain, yang
penting melaksanakan pelatikkan terlebih dahulu untuk menghindari
kekosongan hukum. Perlu kita ketahui pula bahwa terhadap kasus Budi
Gunawan atas kasus dugaan gratifikasi tersebut bahwa Putusan praperadilan
Budi Gunawan itu bersifat final dan mengikat, kedua belah pihak (antara
Budi Gunawan Vs KPK). Dan terhitung putusan praperadilan dibacakan,
kliennya saat ini sudah tidak lagi menyandang status tersangka. Dia juga
meminta agar KPK segera menghentikan proses hukum yang ada terkait
nama Budi Gunawan. Jika didalam Undang-Undang KPK tidak mengatur
tentang pencabutan (SP3), maka untuk menjaga agar tidak terjadi
kekosongan hukum, KPK harus merujuk kepada Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana Pasal 109 ayat (2) dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002
tentang Keplosian Republik Indonesia.7
atau hukum yang diterapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang
perkaranya tidak diajukan ke pengadilan negeri, diputus di sidang praperadilan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, (3) Tuntutan ganti kerugian sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diajukan oleh tersangka, terdakwa, terpidana atau ahli
warisnya kepada pengadilan yang berwenang mengadili perkara yang
bersangkutan, (4) Untuk memeriksa dan memutus perkara tuntutan ganti kerugian
tersebut pada ayat (1) ketua pengadilan sejauh mungkin menunjuk hakim yang
sama yang telah mengadili perkara pidana yang bersangkutan, dan (5) Pemeriksaan
terhadap ganti kerugian sebagaimana tersebut pada ayat (4) mengikuti acara
praperadilan
6.http://www.koran-sindo.com/read/965363/149/jokowi-harus-lantik-budi-gunawan1424147796
7.Pasal 109 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP):Dalam
hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa
tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum,
maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau
keluarganya.

Implementasi putusan Pra Peradilan dalam ranah kepastian Hukum,


merupakan sebagai jawaban yang pada hakikatnya pengujian penetapan
tersangka melalui praperadilan dilakukan agar ada tafsir yang jelas atau
batasan yang pasti mengenai keabsahan penetapan tersangka, sehingga
pelanggaran terhadap hak asasi manusia atas nama penegakan hukum tidak
terjadi terus-menerus. Oleh karena itu, hukum untuk mengatur manusia agar
hak-haknya terlindungi, harkat dan martabatnya dijunjung tinggi karena
hukum itu bukan untuk merendahkan harkat dan martabat manusia.8
Dalama upaya hukum terhadap sikap melimpahkan berkas perkara Komjen Pol
Budi Gunawan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)9 ke Kejaksaan Agung (Kejagung),
dimana perlu diteliti bahwa surat Perintah Penyidikan Nomor. 03/01/01/2015 tanggal 12 Januari
2015, atas nama Budi Gunawan tidak sah dan tidak berdasar atas hukum. Dimana "Putusan
praperadilan menyatakan BG bukan subjek hukum yang bisa ditangani KPK sesuai Pasal 11 UU
No 30 Tahun 2002 tentang KPK.10 Jika kita merujuk kepada referensi yang telah diuraikan diatas,
seharusnya KPK sebagai lembaga penegakan hukum dimana sesuai dengan tugas dan fungsinya
adalah sama dengan Keplisian dan Kejaksaan, sudah seharusnya mematuhi keputusan Pra
Peradilan tersebut, karena putusan Pra Peradilan adalah Final dan mengingat. Jika KPK sebagai
lembaga penegak hukum tidak mematuhi rambu-rambu yang terdapat di dalam Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP), maka akan kacaulah sistim Hukum di Indonesia. Jika
kita meragukan Putusan Pra Peradilan tersebut, biarkan saja Institusi atau lembaga Komisi
Yudisial dan Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung dengan sebuah Fatwanya untuk
menilai apakah putusan Pra Peradilan tersebut sah atau tidak.
Dalam kaitannya putusan Pra Peradilan dapat diajukan upaya hukum
lain (Banding, Kassi, PK), perlu kita ketahui pula bahwa didalam hukum acara
pidana yang berlaku di Indonesia dikenal adanya upaya hukum biasa dan
upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa terdiri dari banding dan kasasi
diatur dalam Bab XVII KUHAP, sedangkan upaya hukum luar biasa yaitu
kasasi demi kepentingan hukum dan peninjauan kembali diatur dalam Bab
XVIII KUHAP.11 Terhadap putusan praperadilan dapat atau tidaknya diajukan
upaya hukum dijelaskan dalam Pasal 83 KUHAP, yang isinya:12
8.http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/8456/Makna-Putusan-PraperadilanBudi-Gunawan/2015/ 02/18.
9. http://www.aktual.co/hukum/limpahkan-kasus-bg-ke-kejagung-johan-ini-langkahhukum-yang-kita-ambil.
10.Undang-Undang Nomor 30 Tahun Pasal 11 huruf a yang menyatakan bahwa Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan
Korupsi berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana
korupsi yang a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain
yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakuk an oleh aparat penegak
hukum atau penyelenggara negara

1) Terhadap putusan praperadilan dalam hal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 79, 80 dan 81 KUHAP tidak dapat dimintakan banding.
2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) adalah putusan praperadilan yang
menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan yang
untuk itu dapat dimintakan putusan akhir ke Pengadilan Tinggi dalam
daerah hukum yang bersangkutan.
Melihat perumusan Pasal 83 KUHAP, nampaklah bahwa pada
prinsipnya putusan praperadilan tidak dapat dimintakan upaya-upaya
hukum, baik upaya hukum biasa ataupun upya hukum luar biasa. 13 Namun,
prinsip tersebut tidaklah mutlak karena penyidik atau penuntut umum dapat
melakukan upaya hukum banding atas putusan praperadilan yang
menyatakan suatu penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan
tidak sah, dan putusan banding ini merupakan putusan akhir.
Menurut Pedoman Pelaksanaan KUHAP, dalam hal permintaan
putusan akhir sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) KUHAP,
maka surat permintaan tersebut setelah diterima/dicatat dalam Register
Kepaniteraan kemudian dikirim ke Pengadilan Tinggi dengan memperlakukan
ketentuan-ketentuan pada acara permohonan banding, baik mengenai
tenggang waktu serta tata cara lainnya. Meskipun Pedoman Pelaksanaan
KUHAP menyebutkan demikian, dalam Lampiran Keputusan Menteri
Kehakiman Republik Indonesia No.M.14-PW.07.03 Tahun 1983 Tentang
Tambahan Pedoman Pelaksanaan KUHAP, tanggal 10 Desember 1983
menegaskan kembali tentang waktu acara praperadilan dalam tingkat
pemeriksaan banding. Dalam poin 12 lampiran tersebut ditentukan bahwa
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana, Bab XVII : Upaya HukumBiasa, Pasal 232,(1) Sebelum sidang dimulai,
panitera, penuntut umum, penasihat hukum dan pengunjung yang sudah ada, duduk
ditempatnya masing-masing dalam ruang sidang, (2) Pada saat hakim memasuki dan
meninggalkan ruang sidang semua yang hadir berdiri untuk menghormat, (3) Selama sidang
berlangsung setiap orang yang keluar masuk ruang sidang diwajibkan memberi hormat.
Dab Pasal 233: (1) Permintaan banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 dapat
diajukan ke pengadilan tinggi oleh terdakwa atau yang khusus dikuasakan untuk itu atau
penuntut umum, (2) Hanya permintaan banding sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
boleh diterima oleh panitera pengadilan negeri dalam waktu tujuh hari sesudah putusan
dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 196 ayat (2), (3) Tentang permintaan itu oleh panitera
dibuat sebuah surat keterangan yang ditandatangani olehnya dan juga oleh pemohon serta
tembusannya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan, (4) Dalam hal pemohon tidak
dapat rnenghadap, hal ini harus dicatat oleh panitera dengan disertai alasannya dan catatan
harus dilampirkan dalam berkas perkara serta juga ditulis dalam daftar perkara pidana. (5)
Dalam hal pengadilan negeri menerima permintaan banding, baik yang diajukan oleh
penuntut umum atau terdakwa maupun yang di ajukan oleh penuntut umum dan terdakwa
sekaligus, maka panitera wajib memberitahukan permintaan dari pihak yang satu kepada
pihak yang lain.

12. https://bungbens.wordpress.com/2010/04/22/upaya-hukum-terhadap-putusanpraperadilan.

dalam hal banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) KUHAP,
penyidik atau penuntut umum harus mengajukan banding ke pengadilan
tinggi dalam waktu tujuh hari setelah putusan praperadilan. Pengadilan
tinggi dalam waktu tiga hari setelah menerima berkas perkara dari
pengadilan negeri, harus sudah menetapkan hari sidang, dan dalam waktu
tujuh hari terhitung tanggal sidang yang ditetapkan itu, harus sudah
memberikan putusannya. Antara penetapan hari sidang dan tanggal sidang
tidak boleh lebih dari tiga hari.
Selanjutnya, terhadap putusan praperadilan tidak dapat dimintakan
kasasi. KUHAP sama sekali tidak mengatur tentang hal ini, akan tetapi dalam
Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.
M.14.PW.07.03 Tahun 1983, poin 23, dengan judul Putusan Praperadilan
Dalam Hubungannya Dengan Kasasi dijelaskan bahwa untuk putusan
praperadilan tidak dapat dimintakan kasasi. Alasan tidak dibenarkannya
putusan praperadilan dibanding atau kasasi, adalah adanya keharusan
penyelesaian secara cepat dari perkara-perkara praperadilan, yang jika hal
tersebut (upaya hukum) dimungkinkan, maka perkara praperadilan akan
berlarut-larut dan tidak akan diselesasikan secara cepat. Alasan lainnya
karena wewenang pengadilan negeri yang dilakukan dalam praperadilan
hanya dimaksudkan sebagai wewenang pengawasan horisontal dari
pengadilan negeri atas upaya paksa yang dilakukan penyidik atau penuntut
umum.
Timbul pertanyaan apakah terhadap putusan praperadilan itu dapat
diajukan upaya hukum luar biasa? Mengenai upaya hukum luar biasa dalam
praperadilan, KUHAP tidak mengatur secara tegas, karenanya diserahkan
kepada praktek peradilan melalui yurisprudensi untuk mengaturnya, dalam
hal ini hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan
rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat agar dapat mengisi kekosongan
13.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana, BAB XVIII : UPAYA HUKUM LUAR BIASA, Peninjauan Kembali Putusan
Pengadilan yang telah Mempunyai Kekuatan Hukum Tetap, Dalam Pasal 263 menyatakan (1)
Terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali
putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat
mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. (2) Permintaan
peninjauan kembali dilakukan atas dasar: a. apabila terdapat keadaan baru yang
menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang
masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala
tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara
itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan; b. apabila dalam pelbagai putusan
terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai
dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan
satu dengan yang lain; c. apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhiIafan
hakim atau suatu kekeliruan yang nyata. (3) Atas dasar alasan yang sama sebagaimana
tersebut pada ayat (2) terhadap suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu
suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh
suatu pemidanaan. Pasal 264(1) Permintaan peninjauan kembali oleh pemohon
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 ayat (1) diajukan kepada panitera pengadilan yang
telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama dengan menyebutkan secara jelas
alasannya. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 ayat (2) berlaku juga bagi
permintaan peninjauan kembalidst.

hukum dengan melakukan penemuan hukum yang tetap terikat kepada


undang-undang yang berlaku. Dalam praktek, upaya hukum peninjauan
kembali terhadap praperadilan pernah dikabulkan, dalam Putusan Mahkamah
Agung No. 4/PK/Pid/2000 tanggal 28 November 2001. Permohonan ini
diajukan oleh Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera (IKBLA) Arief Rachman
Hakim Eksponen 66 Samarinda yang diwakili oleh H. Iskandar Hutualy,
selaku ketua.
Dalam kaitannya dengan asas peradilan pidana yang sederhana,
cepat, biaya ringan, maka pemeriksaan praperadilan yang belum masuk
pada materi kasus, terlihat inkonsisten dengan asas itu. Harapan ke depan,
masalah pemeriksaan praperadilan sebaiknya hanya sampai di tingkat
Pengadilan Negeri saja, agar tidak berlarut-larut. Meskipun Pasal 82 ayat (1)
huruf d KUHAP menyatakan bahwa jika suatu perkara suatu perkara mulai
diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai
permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan
praperadilan tersebut gugur, namun sudah selayaknya Mahkamah Agung
mengeluarkan peraturan tentang upaya hukum luar biasa terhadap putusan
agar terdapat aturan yang lebih tegas (karena suatu perkara untuk
dilimpahkan ke pengadilan, waktunya sangat bervariasi, bisa cepat, bisa
sangat lama)
Mahkamah Agung, pada tanggal 31 Desember 2014 mengeluarkan
Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) R.I Nomor 7 Tahun 2014 tentang
Pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali Dalam Perkara Pidana, dimana
SEMA ini, dalam poin nomor 3, mempertegas kembali aturan mengenai
pengajuan permohonan peninjauan kembali (PK) dalam perkara pidana yang
hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali. Menurut poin nomor 4, PK dapat
dilakukan lebih dari 1 (satu) kali hanya dengan alasan apabila terhadap
suatu objek yang sama, terdapat 2 (dua) putusan PK yang bertentangan,
sesuai dengan SEMA R.I Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pengajuan
Permohonan Peninjauan Kembali.14 Pada dasar SEMA ini sebagai tanggapan
atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 34/PUU-XI/2013 tanggal 6
Maret 2014, yang menyatakan ketentuan pasal 268 ayat (3) KUHAP (yang
mengatur tentang PK hanya dapat dilakukan 1 kali) bertentangan dengan
UUD NRI 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, sehingga
dengan putusan MK ini, PK dalam perkara pidana dapat dilakukan lebih dari 1
(satu) kali, tanpa batasan.
Dalam pertimbangan poin nomor 1 dan 2 SEMA 7/2014 dinyatakan
bahwa MK hanya menghapus ketentuan PK dalam pasal 268 (3) KUHAP, dan
tidak menghapus ketentuan PK di dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun
2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-undang Nomor 14 Tahun
1985 jo. Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004 jo. Undang-undang Nomor 3
Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung. Terkait pendapat MA ini, Ketua MK
14. https://www.selasar.com/politik/sema-ri-nomor-7-tahun-2014

Hamdan Zoelva menyatakan bahwa MK memang tidak membatalkan


ketentuan PK yang berada pada UU MA dan UU Kekuasaan Kehakiman.
Sebab kedua norma tersebut terlalu umum. Adapun yang dimohonkan waktu
itu adalah untuk perkara pidana. Tujuan dari dikeluarkan SEMA ini adalah
untuk memberikan kepastian hukum. Selain itu, lambatnya eksekusi
terhadap gembong narkoba juga menjadi salah satu hal yang melatar
belakangi terbitnya SEMA tersebut. Hal senada juga diutarakan oleh hakim
ad-hoc tindak pidana korupsi pada tingkat kasasi, Prof. Dr. Krisna Harahap.
"Kalau boleh dua kali, tiga kali dan seterusnya, kapan dapat dilaksanakan
eksekusi ?". Menanggapi pendapat tersebut diatas, Ketua Mahkamah
Konstitui (Hamdan Zoelva) menyatakan bahwa adanya ketentuan PK berkalikali seharusnya tidak menjadi polemik untuk mempertanyakan di mana letak
kepastian hukumnya. Menurutnya, siapa pun yang pernah belajar
hukum harusnya mengetahui vonis pada tingkat kasasi telah
memberikan kepastian hukum. Karena itu, seharusnya eksekusi bisa
dilaksanakan.
Dari uraian tersebut di atas, maka yang menjadi pertanyaan adalah: apakah
SEMA dapat mengenyampingkan ketentuan yang ada dalam putusan
Mahkamah Konstitusi ? dan apakah benar upaya hukum Peninjauan Kembali
dapat menunda eksekusi putusan pidana, termasuk eksekusi putusan pidana
mati ?
Menurut analisa penulis terhadap pertanyaan tersebut diatas, dimana
harus berpedoman kepada Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dimana dalam Pasal 8 ayat
(1) dan (2), yang menyatakan bahwa peraturan yang salah satunya
dikeluarkan oleh Mahkamah Agung diakui keberadaannya dan memiliki
hukum mengikat selama diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
Apabila kita melihat kepada pasal 79 UU 14/1985 jo. UU 5/2004 jo. UU
3/2009 tentang Mahkamah Agung, maka disebutkan bahwa : Mahkamah
Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi
kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal
yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini dan
penjelasannya berbunyi : Apabila dalam jalannya peradilan terdapat
kekurangan atau kekosongan hukum dalam suatu hal, Mahkamah
Agung berwenang membuat peraturan sebagai pelengkap untuk
mengisi kekurangan atau kekosongan tadi. Dengan Undang-undang
ini Mahkamah Agung berwenang menentukan pengaturan tentang
cara penyelesaian suatu soal yang belum atau tidak diatur dalam
Undang-undang ini.

Dalam hal ini peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung


dibedakan dengan peraturan yang disusun oleh pembentuk Undang-undang.
Penyelenggaraan peradilan yang dimaksudkan Undang-undang ini hanya
merupakan bagian dari hukum acara secara keseluruhan. Dengan demikian
Mahkamah Agung tidak akan mencampuri dan melampaui pengaturan
tentang hak dan kewajiban warga negara pada umumnya dan tidak pula
mengatur sifat, kekuatan, alat pembuktian serta penilaiannya atau- pun
pembagian beban pembuktian.
Timbul permasalahan yang timbul dari aturan ini adalah tidak
dijelaskannya bentuk peraturan yang dapat dikeluarkan oleh Mahkamah
Agung, sehingga pada akhirnya ditafsirkan bahwa kewenangan Mahkamah
Agung menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung adalah mengacu kepada
pasal ini, sehingga pada akhirnya SEMA dapat disebut sebagai peraturan
perundang-undangan. Dan ada pertanyaan lagi yaitu Apakah putusan
Mahkamah Konstitusi adalah peraturan perundang-undangan juga sehingga
muncul pendapat bahwa SEMA sebagai aturan yang lebih rendah tidak dapat
mengesampingkan putusan Mahkamah Konstitusi sebagai aturan yang lebih
tinggi ?
Harus dipahami dan dianalisa secara mendalam, bahwa putusan
Mahkamah Konstitusi
pada dasarnya bukanlah peraturan perundangundangan, akan tetapi sifat dari putusan Mahkamah Konstitusi adalah
mengubah undang-undang, yang mana peraturan perundang-undangan
berdasarkan Pasal 7 ayat (1) angka 3 Undang undang Nomor 12 Tahun 2011.
Dengan demikian apabila ada putusan Mahkamah Konstitusi
yang
membatalkan suatu pasal, atau kata, atau frasa, dalam satu undang-undang,
atau satu undang-undang tersebut dibatalkan, maka dengan sendirinya
putusan Mahkamah Konstitusi tersebut mengubah undang-undang tersebut.
Hubungan antara undang-undang dan SEMA sebenarnya tidak dijelaskan
hierarki nya, karena Undang undang Nomor 12 Tahun 2011, hanya
memasukkan UUD Negara Republik Indonesia 1945, Tap MPR, UndangUndang/Perppu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan
Pemerintah Daerah Provinsi, dan Peraturan Pemerintah Kabupaten/Kota
dalam hierarki nya, sedangkan SEMA dan peraturan lainnya seperti yang
diterbitkan BI, BPK, dan lain sebagainya, disebut diakui keberadaannya dan
mengikat dengan syarat seperti yang telah dijelaskan di atas, tanpa
dijelaskan hierarkinya. Akan tetapi di dalam praktek ketatanegaraan SEMA
dan peraturan-peraturan lainnya tersebut secara hierarki diletakkan dibawah
UUD NRI 1945, Tap MPR, Undang-Undang/Perppu, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden, Peraturan Pemerintah Daerah Provinsi, dan Peraturan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sehingga, berdasarkan hal-hal ini dapat

dikatakan bahwa aturan dalam putusan MK, secara sifat, lebih tinggi dari
SEMA yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung.
Dalam hal upaya Hukum Luar Biasa/Peninjauan Kembali, yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Dimana dalam
KUHAP (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981), ketentuan mengenai hal ini
telah diatur secara jelas dan gamblang dalam Pasal 268 ayat (1) KUHAP,
dimana dinyatakan bahwa Permintaan peninjauan kembali atas suatu
putusan tidak menangguhkan maupun menghentikan pelaksanaan
dari putusan tersebut. Dari pengaturan tersebut, sudah dapat menjawab
pertanyaan bahwa tidak benar pengajuan Peninjauan Kembali dapat
menunda eksekusi putusan pidana. Sehingga, pendapat yang menyatakan
bahwa Peninjauan Kembali berulang dapat menimbulkan ketidak pastian
hukum adalah salah, karena seperti ketentuan di atas, PK sendiri tidak
menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan yang dijatuhkan,
sehingga hal tersebut adalah suatu bentuk kepastian hukum sendiri. Mari
kita melihat kepada sifatnya serta aturan dalam Pasal 263 ayat (1) KUHAP,
bahwa Peninjauan Kembali hanya bisa diajukan terhadap putusan yang
berkekuatan hukum tetap dalam arti, dengan proses Peninjauan Kembali
yang setelah proses upaya hukum kasasi, maka putusan kasasi adalah
putusan yang dapat dikatakan sebagai putusan berkekuatan hukum
tetap, dalam hal ada upaya hukum.
Aturan ini tidak memberikan pengecualian dalam hal pemidanaan
tertentu,
maka pidana mati yang termasuk dalam salah satu bentuk
pemidanaan, yang diatur dalam Pasal 10 KUHP, eksekusi atau
pelaksanaannya tidaklah dapat ditunda dengan adanya pengajuan
Peninjauan Kembali. Selain itu pula, dalam Pasal 268 ayat (2) KUHAP
dinyatakan apabila setelah Peninjauan Kembali diajukan (sebelum putusan),
pemohon Peninjauan Kembali
meninggal dunia, ahli waris dapat
menentukan apakah Peninjauan Kembali yang diajukan akan dilanjutkan atau
tidak. Selain itu, Pasal 263 ayat (1) KUHAP juga telah menjelaskan bahwa
ahli waris dapat mengajukan Peninjauan Kembali. Sehingga, berdasarkan
hal-hal ini, pendapat yang mendasari terbitnya SEMA ini yang mendasarkan
kepada lambatnya eksekusi pidana mati beberapa gembong narkoba adalah
tidak tepat.
Seharusnya pengaturan Peninjauan Kembali dalam perkara
pidana,kita harus menguraikan dahulu dari permohonan yang diajukan
pemohon dalam perkara nomor 34/PUU-IX/2013, yang sebenarnya, pemohon
hanya meminta Mahkamah Konstitusi yang menyatakan Pasal 268 ayat
(3) KUHAP bertentangan dengan UUD NRI 1945, dan jika kita maknai adalah
tidak dikecualikan terhadap alasan ditemukannya bukti baru

(novum)
berdasarkan
pemanfaatan
ilmu
pengetahuan
dan
tekhnologi, atau dengan kata lain, meminta Mahkamah Konstitusi
melakukan konstitusi dengan
bersyarat. (menurut analisa penulis).
Dengan demikian bahwa pada intinya, pemohon hanya meminta Peninjauan
Kemblai diperbolehkan lebih dari 1 kali dengan syarat jika ditemukan
keadaan baru (novum) yang selama persidangan belum dimanfaatkan atau
belum ditemukan, yaitu yang diatur dalam Pasal 263 ayat (2) huruf a KUH
Acara Pidana.
Mari kita menganalisa secara mendalam bahwa apabila seseorang
telah divonis bersalah, dan ternyata ada perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi, yang diduga kuat dapat dijadikan dasar untuk menjadikan
vonis atas dirinya berubah menjadi tidak bersalah, karena tidak ada lagi
upaya hukum luar biasa yang bisa diajukan, karena Peninjauan Kembali
hanya bisa diajukan 1 kali dan apa upaya yang dapat ditempuh oleh
terpidana mati dan/atau ahli warisnya ? yang ternyata dan sebenarnya
terpidana mati tidak bersalah..apakah ini sudah dapat dikatakan sebagai
penyanderaan terhadap nyawa manusia dan pelanggaran Hak Asasi Manusia
yang dilakukan oleh penegak hukum.inilah yang harus kita hindari.agar
tidak terjadi kesalahan yang berulang-ulang.seperti kasus sengkon dan
karta.????? (lihat arsip dimedia cetak)
Jelaslah bahwa alasan yang timbul dari penolakan Peninjauan Kembali
berulang kali, banyak dihubungkan dengan eksekusi hukuman mati, dimana
ada anggapan bahwa Peninjauan Kembali berulang kali akan menimbulkan
ketidakpastian hukum atas terpidana, sehingga kejaksaan sebagai eksekutor
putusan akan selalu menunda eksekusi hukuman mati, sampai ada putusan
yang tidak diajukan upaya hukum lagi.Jaksa/Eksekutor merasa ragu untuk
mengeksekusi terpidana karena apabila nantinya sudah ada putusan
Peninjauan Kembali yang tetap menjatuhkan pidana mati kepada terpidana,
yang mana seharusnya dapat langsung dieksekusi, lalu terpidana dieksekusi,
lalu diajukan Peninjauan Kembali lagi oleh ahli warisnya, dan ternyata
terpidana tidak bersalah, maka bagaimana mengembalikan keadaan si
terpidana yang sudah dieksekusi karena merehabilitasi/mengembalikan
nyawa terpidana yang sudah mati adalah hal yang tidak mungkin, masalah
inilah yang perlu dipikirkan oleh institusi penegak hukum di Indonesia.
Dengan konstruksi terdakwa dinyatakan bersalah, apakah dengan
Peninjauan Kembali yang dilakukan hanya 1 kali menutup kemungkinan
bahwa terpidana ternyata tidak bersalah ? apakah ada peluang bagi
terdakwa untuk dinyatakan bahwa terpidana
tidak bersalah, apabila
ditemukan
novum
yang
menyatakan
bahwa
terdakwa
tidak
bersalah.Kemudian bagaimana dengan Peninjauan Kembali yang dibatasi
hanya dapat diajukan 1 kali dan bagaimana keluarga terdakwa mendapatkan

keadilan hukum atas terpidana hukuman mati yang mungkin telah


dieksekusi, dan ternyata tidak bersalah ? Apakah dapat memberikan
keadilan hukum atas kepastian hukum yang telah diterima oleh terpidana
hukuman mati yang telah dieksekusi tersebut?
Demikianlah uraian penulis dan sesuai judul diatas untuk menambah
wawasan bagi para pembaca dan mungkin cara menganalisa penulis salah
atau tidak sama persepsinya yang melihat dari kacamata hukum yang saling
berbeda.
Kesimpulan :
-Terhadap putusan Pra Peradilan dapat diajukan upaya hukum lain dengan
melihat Bab XVII KUHAP, sedangkan upaya hukum luar biasa yaitu kasasi
demi kepentingan hukum dan rumusan pada Pasal 83 KUHAP, putusan
praperadilan yang menyatakan suatu penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan tidak sah, dan putusan banding ini merupakan
putusan akhir. Aturan yang terdapat pada keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia No. M.14.PW.07.03 Tahun 1983, poin 23 adalah suatu
aturan hukum yang mengingat.\
- Terhadap upaya hukum luar biasa dalam praperadilan, KUHAP tidak
mengatur secara tegas, karenanya diserahkan kepada praktek peradilan
melalui yurisprudensi untuk mengaturnya, agar dapat mengisi kekosongan
hukum dengan melakukan penemuan hukum yang tetap terikat kepada
undang-undang yang berlaku.
- Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) R.I Nomor 7 Tahun
2014 tentang Pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali Dalam Perkara
Pidana, dimana SEMA ini, dalam poin nomor 3, mempertegas kembali
aturan mengenai pengajuan permohonan peninjauan kembali (PK) dalam
perkara pidana yang hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali. Menurut poin
nomor 4, PK dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali hanya dengan alasan
apabila terhadap suatu objek yang sama, terdapat 2 (dua) putusan PK
yang bertentangan, sesuai dengan SEMA R.I Nomor 10 Tahun 2009
tentang Pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali.
- Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 34/PUU-XI/2013 tanggal 6 Maret
2014, yang menyatakan ketentuan pasal 268 ayat (3) KUHAP (yang
mengatur tentang PK hanya dapat dilakukan 1 kali) bertentangan dengan
UUD NRI 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, sehingga
dengan putusan Mahkamah Konstitusi ini, Peninjauan Kembali dalam
perkara pidana dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali.

- Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan. Dimana dalam Pasal 8 ayat (1) dan (2), yang
menyatakan bahwa peraturan yang salah satunya dikeluarkan oleh
Mahkamah Agung diakui keberadaannya dan memiliki hukum mengikat
selama diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
- Putusan Mahkamah Konstitusi adalah mengubah undang-undang, yang
mana peraturan perundang-undangan berdasarkan Pasal 7 ayat (1) angka
3 Undang undang Nomor 12 Tahun 2011. Dengan demikian apabila ada
putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan suatu pasal, atau kata,
atau frasa, dalam satu undang-undang, atau satu undang-undang tersebut
dibatalkan, maka dengan sendirinya putusan Mahkamah Konstitusi
tersebut mengubah undang-undang tersebut.
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, mengatur secara jelas dalam Pasal
268 ayat (1) KUHAP, dimana dinyatakan bahwa Permintaan peninjauan
kembali atas suatu putusan tidak menangguhkan maupun menghentikan
pelaksanaan dari putusan tersebut dan dalam Pasal 263 ayat (1) KUHAP,
bahwa Peninjauan Kembali hanya bisa diajukan terhadap putusan yang
berkekuatan hukum tetap dalam arti, dengan proses Peninjauan Kembali
yang setelah proses upaya hukum kasasi, maka putusan kasasi adalah
putusan yang dapat dikatakan sebagai putusan berkekuatan hukum tetap,
dalam hal ada upaya hukum.
- Penolakan Peninjauan Kembali berulang kali, banyak dihubungkan dengan
eksekusi hukuman mati, terdapat anggapan bahwa Peninjauan Kembali
berulang kali akan menimbulkan ketidakpastian hukum atas terpidana,
sehingga kejaksaan sebagai eksekutor putusan akan selalu menunda
eksekusi hukuman mati, sampai ada putusan yang tidak diajukan upaya
hukum lagi. Jaksa/Eksekutor merasa ragu untuk mengeksekusi terpidana
karena apabila nantinya sudah ada putusan Peninjauan Kembali yang
tetap menjatuhkan pidana mati kepada terpidana.
- Konstruksi terdakwa dinyatakan bersalah, apabila Peninjauan Kembali
hanya 1 kali adalah menutup kemungkinan bagi terpidana dan ternyata
terdakwa tidak bersalah, dan bagaimana untuk mempertahankan
hidupnya/nyawa terdakwa, apabila terdakwa untuk dinyatakan tidak
bersalah, serta apabila ditemukan novum (masalah inilah yang menjadi
masalah krusial yang perlu dibahas oleh para pakar hukum pidana,
mengingat terpidana sudah mati.!!!)

Saran :
- Sebaiknya, khususnya pada perkara Pra Peradilan yang telah diputus dan dinyatakan
mengabulkan permohonan gugatan Pra Peradilan, maka kedua belah pihak harus
mnghormatinya, sepanjang putusan pra peradilan dalam pertimbangannya obyektif dan
bijaksana serta berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Mengingat putusan
pra peradilan untuk mewujudkan acara cepat dan mewujudkan kepastian hukum dalam
waktu yang relatif singkat, karena dalam pasal 83 ayat (2) proses banding ke PT pun
merupakan upaya terakhir dan final serta tidak dikenal upaya kasasi pra peradilan ke
Mahkamah Agung (MA) dan perlunya diatur secara dalam RUU KUHAP terhadap pra
peradilan ini, agar tidak terjadi kesimpang siuran dan kepastian hukum di dalam beracara di
pengadilan.
- Dalam upaya penerapan hukum terhadap putusan pra peradilan yang sudah berkuatan
hukum, karena merupakan putusan dengan acara cepat dan terakhir maka menurut Pasal 71
KUHAP
yang menyatakan bahwa bahwa Pemerintah berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk menghormati, melindungi, menegakkan, dan
memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang yang
berlaku untuk.Karena dalam Pasal 1 ayat 10 Undang Undang Nomor 8
Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa Praperadilan
adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur
dalam undang-undang ini, tentang : a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau
penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka, b.
sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi
tegaknya hukum dan keadilan, dan c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh
tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke
pengadilan. Dan dalam Pasal 97 yaitu dalam (1) Seorang berhak memperoleh
rehabilitasi apabila oleh pengadilan diputus bebas atau diputus lepas dari
segala tuntutan hukum yang putusannya telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, 2) Rehabilitasi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus
dalam putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), (3)
Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas penangkapan atau penahanan
tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau kekeliruan mengenai
orang atau hukum yang diterapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
95 ayat (1) yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan negeri diputus
oleh hakim praperadilan yang dimaksud dalam Pasal 77. Hal ini untuk
menjamin rasa keadilan dan kepastian hukum bagi para pencari
keadilan.
- Sebaiknya unsu r yudikatif dan eksekutif bersama-sama dengan
pemerintah merevisi RUU KUHAP terutama pada pasal 77 KUHAP
dengan penambahan ayat yang mengatur ketentuan tersangka dan batas
waktu untuk dijadikan sebagai tersangka agar tercapainya kepastian
hukum dan rasa keadilan..
- Begitupula, sebaiknya terhadap penetapan tersangka yang dilakukan
institusi para penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK ) hanya
diperuntukan terhadap perkara atau kasus korupsi yang dilakukan pada
tahun-tahun saat ini atau minimal dua tahun dibelakangnya, bukannya

terhadap tindak pidana korupsi yang sudah lama yang dilakukan oleh
tersangka. Hal ini untuk menghindari unsur-unsur Politis yang akan
memutar balikkan fakta dengan kekuatan penyalah gunaan wewenang
dengan jabatan yang dimiliki.
-

DAFTAR PUSTAKA
Afifah, Nurul, Ratna, Praperadilan dan Ruang Lingkupnya, Jakarta: Akademika
Pressindo, Cetakan Pertama, 1986.
Atmasasmita, Romli, Sistem Peradilan Pidana Kontemporer, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, 2010.
Andi Saputra, Lambatnya Eksekusi Gembong Narkoba Jadi Salah Satu
Alasan
Dikeluarkannya
SEMA,http://news.detik.com/read/2015/01/02/093852/2792201/10/la
mbatnya-eksekusi-gembong-narkoba-jadi-salah-satu-alasankeluarnya-sema?nd771104bcj, diakses pada Selasa, 6 Januari 2015,
pukul 12.00 WIB.
Andi Saputra, Eksekusi Mati Gembong Narkoba Lambat, Prof Krisna : SEMA
Itu
Jalan
Keluar,http://news.detik.com/read/2015/01/04/094953/2793412/10/e
ksekusi-mati-gembong-narkoba-lambat-prof-krisna-sema-itu-jalankeluar?n991104466, diakses pada Selasa, 6 Januari 2015, pukul 12.30
WIB.

Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang


Hukum Acara Pidana, Jakarta, 1982.
Eliandi, Tito, Blogspot.com, Tentang Praperadilan dalam Hukum Indonesia,
Diakses pada 12 Januari 2012.
--------- Hamzah, Andi, Pengantar Hukum Acara Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983,
--------- Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,2008.
Kusuma, Mahmud, Menyelamai Semangat Hukum Progresif (Terapi Paradigmatik Bagi
Lemahnya Hukum Indonesia), Antonylib, Yogyakarta, 2009.
Keputusan Menteri Kehakiman, Nomor M. 01.PW.07.03. Tahun 1982 , Tentang
Pedoman Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
---------- Loqman, Loebby, Pra-Peradilan di Indonesia, Ghalia Indonesia,Jakarta, 1987.
Loube, John Z, Kitab Hukum Acara Pidana, Surabaya: CV Sindoro
1982.Loeqman, Lobby, Praperadilan di Indonesia, Jakarta: Ghalia
Indonesia, Cetakan Ke-3, 1990.
Marpaung, Leden, Proses Penanganan Perkara Pidana (Penyelidikan dan
Penyidikan),Jakarta: Sinar Grafika, Bagian Pertama, Edisi Kedua, 2011.
Munajat, Makhrus, Fikih Jinayah ( Hukum Pidana Islam ), Yogyakarta:
Pesantren Nawesea, 2010.
M Karjadi,R Soesilo,KUHAP dan Penjelasan dan PP No. 23 Tahun 1983 tentang
Kepolisian Republik Negara Indonesia, Bogor: Politeia.
Negara Indonesia, http://www.hukumacaraperdata.com, di akses 17 Januari
2012, Tentang Perbedaan Prinsip Antara
Gugatan dengan
Permohonan.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun Tahun 1983 Tentang Kepolisian
Republik Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 27 Tahun 1983 Tentang
Rumah Tahanan Negara.
Poernomo, Bambang, Asas asas hukum Pidana, Jakarta: Ghalia Indonesia
1985.
Pedoman Pelaksanaan KUHAP, Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia, Nomor: M. 14-PW.07.03 Tahun 1983 Tentang
Tambahan Pedoman Pelaksanaan KUHAP.
---------- R Soesilo, Kitab Hukum Pidana , Bogor: Poilitea 1995.
Singgih Amin , Drs. W. Moojiman, Kamus Kantong Indonesia Belanda
Indonesia, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1992.
S.Tanusubroto, Peranan Praperadilan Dalam Hukum Acara Pidana, Bandung:
Alumni, 1982 Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 1961 Tentang
Kepolisian Republik Indonesia.