Anda di halaman 1dari 12

A.

PRE EKLAMSIA
1. Definisi
Preeklamsia

adalah

sindrom

spesifik

kehamilan

berupa

berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel.


Proteinuria adalah tanda penting preeklamsia, proteinuria didefinisikan
sebagai terdapatnya 300 mg atau lebih protein dalam urine per jam 24 jam
atau 30 mg/dl (+1 pada dipstik) secara menetap pada sampel urine.
Preeklamsia secara klinis mulai tampak hanya menjelang hanya menjelang
akhir suatu proses patofisiologi yang mungkin sudah dimulai 3-4 bulan
sebelum timbulnya hipertensi.
Eklamsia adalah penyakit akut dengan kejang dan koma pada
wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria.
Eklampsia adalah pre eklampsia yang mengalami komplikasi kejang tonik
klonik yang bersifat umum. Koma yang fatal tanpa disertai kejang pada
penderita pre eklampsia juga disebut eklampsia.
2. Kriteria preeklamsia
a. Kriteria minimum
1)

TD 140/90 mmHg

2)

Proteinuria 300 mg/24 jam atau +1 pada dipstik


b. Kriteria diagnosis PEB

1)

TD sistolik > 160-180 ; diastolik > 110 mmHg

2)

Proteinuria > 5 g/ 24 jam

3)

Oligouria (<500 ml/24 jam)

4)

Gangguan cerebral atau visual

5)

Edema pulmonum

6)

Nyeri epigastrik atau kwadran atas kanan

7)

Gangguan fungsi hati tanpa sebab yang jelas

8)

Trombositopenia

9)

PJT/Restriksi pertumbuhan/Oligohidramnion

10)

Kreatinin serum meningkat

3. Pembagian eklampsia
Berdasarkan jenisnya eklampsia dapat dibagi menjadi :
a.Pre eklampsia ringan ditandai :
1) Tekanan darah sistol 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan intrerval 6
jam pemeriksaan.
2) Tekanan darah diastol 90 atau kenaikan 15 mmHg.
3) BB naik lebih dari 1 kg/minggu.
4) Proteinuri 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1 2 pada setiap
urine kateter atau midstearh.
b. Pre eklampsia berat ditandai :
1) Tensi 160/110 mmHg atau lebih.
2) Oliguri, urine , 400 cc/24 jam.
3) Proteinuri > dari 3 gr/l.
4) Keluhan subyektif : nyeri epigastrium, nyeri kepala, gangguan
penglihatan, gangguan kesadaran, oedema paru dan sianosis.
4. Etiologi
Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui walaupun diyakini
bahwa preeklampsia berhubungan erat dengan plasenta. Hipotesis yang
penting pada patogenesis preeklampsia adalah terdapatnya senyawa yang
dihasilkan jaringan uteroplasenta yang masuk kedalam sistem sirkulasi ibu
dan menyebabkan kerusakan endotel. Perubahan endotel yang terjadi
dianngap sebagai penyebab utama timbulnya gejala preeklampsia seperti
hipertensi, proteinuria, dan aktivasi sistem hemostasis.
Teori yang digunakan oleh ilmuwan belum dapat menjawab beberapa
(etiologi dan gejala yang sering dialami oleh ibu hamil dengan eklampsia)
sebagai berikut:
a. Frekuensi bertambah banyak pada primigravida, kehamilan ganda,
hidramion, dan mola hidatidosa.
b. Sebab bertambanya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan
c. Sebab jarang terjadinya preeklampsi pada kehamilan-kehamilan
berikutnya.

d. Sebab timbulnya hipertensi, oedema, dan proteinuri.


Dari semua gejala tersebut, gejala awal yang muncul adalah
hipertensi, dimana untuk menegakkan diagnosa tersebut adalah yaitu
kenaikan tekanan sistole paling tidak naik hingga 30 mmHg atau lebih
dibandingkan dengan tekanan darah sebelumnya. Kenaikan diastolik 15
mmHg atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Untuk memastikan diagnosa
tersebut harus dilakukan pemeriksaan tekanan darah minimal dua kali
dengan jarak waktu 6 jam pada saat istirahat.
Oedema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan
dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dengan kenaikan BB
yang berlebihan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Bila
kenaikan BB lebih dari 1 kg setiap minggunya selama beberapa kali
,maka perlu adanya kewaspadaan akan timbulnya preeklampsi.
Proteinuri berarti konsentrasi protein dalam urin > 0,3 gr/liter urin
24 jam atau pemeriksaan kuantitatif menunjukkan + 1 atau + 2

atau 1

gr/liter atau lebih dalam urine midstream yang diambil minimal 2 kali
dengan jarak waktu 6 jam . Proteinuri timbul lebih lambat dari dua gejala
sebelumnya, sehingga perlu kewaspadaan jika muncul gejala tersebut.
5. Komplikasi
Komplikasi tergantung dari derajat preeklamsia atau eklamsia klien,
yaitu meliputi:
a. Atonia uteri
b. Syndrome HELLP (Hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet
count)
c. Abalasia retina
d. Trombositopenia
e. KID
f. Gagal ginjal
g. Perdarahan otak
h. Edema paru

i. Gagal jantung
j. Syok
k. Kematian
6. Pengelolaan kehamilan
Pada umumnya PEB pada kehamilan < 28 minggu dan > 35 minggu
dilahirkan, sedangkan kehamilan antara 28-35 minggu masih kontroversi
antara ekspektatif yaitu menunda persalinan sambil diberikan pematangan
paru versus tindakan aktif untuk melahirkan tanpa emmandang usia
kehamilan.
Indikasi melahirkan janin selama periode ekspektatif pada pasien
PEB antara lain:
a. Indikasi janin
1)

Usia kehamilan > 35 minggu


2) Usia kehamilan < 35 minggu dengan paru janin yang sudah matang
atau selesai pemberian steroid
3) TBA < 5 th presentil
4) Adanya oligohidramnion berat
5) Tes kesejahteraan janin yang abnormal
6) Ketuban pecah
b. Indikasi ibu

1)

Persalinan preterm atau perdarahan pervaginam

2)

Eklamsia atau encepalopati

3)

Edema paru atau gagal ginjal

4)

Oliguria menetap setelah diterapi

5)

Trombositopenia menetap

6)

Nyeri epigastrium berat atau keluhan serebral

7)

Keinginan ibu
8) Hipertensi berat yang tidak responsif dengan pemberian terapi
yang maksimal

7. Patofisiologi
Pada preeklampsi terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan
terjadi

peningkatan

hematokrit,

dimana

perubahan

preeklampsi yaitu mengalami spasme pembuluh darah

pokok

pada

perlu adanya

kompensasi hipertensi ( suatu usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan


perifir agar oksigenasi jaringan tercukupi). Dengan adanya

spasme

pembuluh darah menyebabkan perubahan perubahan ke organ ntara


lain :
a. Otak .
Mengalami resistensi pembuluh darah ke otak meningkat akan terjadi
oedema yang menyebabkan kelainan cerebal bisa menimbulkan
pusing dan CVA ,serta kelainan visus pada mata.
b. Ginjal.
Terjadi spasme arteriole glomerulus yang menyebabkan aliran darah
ke ginjal berkurang maka terjadi filtrasi glomerolus negatif , dimana
filtrasi natirum lewat glomelurus mengalami penurunan

sampai

dengan 50 % ari normal yang mengakibatkan retensi garam dan air ,


sehingga terjadi oliguri dan oedema.
c. URI
Dimana aliran darah plasenta menurun yang menyebabkan gangguan
plasenta maka akan terjadi IUGR, oksigenisasi berkurang sehingga
akan terjadi gangguan pertumbuhan janin, gawat janin , serta
kematian janin dalam kandungan.
d. Rahim
Tonus otot

rahim peka rangsang terjadi peningkatan

yang akan

menyebabkan partus prematur.

e. Paru
Dekompensi cordis akan menyebabkan oedema paru

sehingga

oksigenasi terganggu dan sianosis maka akan terjadi gangguan pola

nafas. Juga mengalami aspirasi paru atau abses paru yang bisa
menyebabkan kematian .
f. Hepar
Penurunan perfusi ke hati dapat mengakibatkan oedema hati , dan
perdarahan subskapular sehingga sering

menyebabkan nyeri

epigastrium, serta ikterus.


8. Prognosis
Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya, maka prognosa
kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa dipengaruhi oleh paritas,
usia dan keadaan saat masuk rumah sakit. Gejala-gejala yang
memberatkan prognosa dikemukakan oleh Eden adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Koma yang lama


Nadi diatas 120 per menit
Suhu diatas 39C.
Tensi diatas 200 mmHg
Lebih dari sepuluh serangan

9. Pemeriksaan
Pritchard (1955) memulai standardisasi rejimen terapi eklampsia di
Parkland Hospital dan rejimen ini sampai sekarang masih digunakan.
Pada tahun 1984 Pritchard dkk melaporkan hasil penelitiannya dengan
rejimen terapi eklampsia pada 245 kasus eklampsia. Prinsip prinsip
dasar pengelolaan eklampsia adalah sebagai berikut :
a. Terapi suportif untuk stabilisasi pada penderita
b. Selalu diingat mengatasi masalah masalah Airway, Breathing, Circulation
c. Kontrol kejang dengan pemberian loading dose MgSO4 intravena, selanjutnya
dapat diikuti dengan pemberian MgSO4 per infus atau MgSO4 intramuskuler
secara loading dose didikuti MgSO4 intramuskuler secara periodik.

d. Pemberian obat antihipertensi secara intermiten intra vena atau oral untuk
menurunkan tekanan darah, saat tekanan darah diastolik dianggap berbahaya.
Batasan yang digunakan para ahli berbeda beda, ada yang mengatakan 100
mmHg, 105 mmHg dan beberapa ahli mengatakan 110 mmHg.
e. Koreksi hipoksemia dan asidosis
f. Hindari penggunaan diuretik dan batasi pemberian cairan intra vena kecuali pada
kasus kehilangan cairan yang berat seperti muntah ataupun diare yang berlebihan.
Hindari penggunaan cairan hiperosmotik.
g. Terminasi kehamilan

B. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
a.

Identitas
:
Umur

Klien

dewasa

dan

bayi

cenderung

mengalami

dibandingkan remaja/dewasa muda


b.

Riwayat Masuk
Klien biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau
batuk-batuk disertai dengan demam tinggi/tidak. Kesadaran kadang sudah
menurun dan dapat terjadi dengan tiba-tiba pada trauma. Berbagai etiologi
yang mendasar dengan masing-masik tanda klinik mungkin menyertai
klien

c.

Riwayat

Penyakit

Dahulu
Predileksi penyakit sistemik atau berdampak sistemik seperti sepsis,
pancreatitis,
Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan serta penyakit
ginjal mungkin ditemui pada klien

d.

Pengkajian Primer
1) Airway
Kebersihan jalan nafas, evaluasi adanya sputum, oksigen, kemampuan
batuk.
2) Breathing
Frekunsi nafas, pengembangan paru-paru, suara nafas, kedalaman
nafas, irama nafas, kembang kempis paru-paru, penggunaan otot-otot
bantu pernapasan.
3) Circulation
Riwayat penyakit jantung, tekanan darah, nadi, irama jantung, bunyi
jantung, warna kulit, kapiler refill, sianosis.

e.

Pengkajian Sekunder
1) Sistem Integumen
Subyektif : Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi
sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan
2) Sistem Pulmonal
Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif :

Pernafasan

cuping

hidung,

hiperventilasi,

batuk

(produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu


pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju
pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru.
3) Sistem Cardiovaskuler
Subyektif : sakit kepala
Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi,
kualitas darah menurun, Denyut jantung tidak teratur, suara jantung
tambahan
4) Sistem Neurosensori
Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi
5) Sistem Musculoskeletal

Subyektif : lemah, cepat lelah


Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan
penggunaan otot aksesoris pernafasan
6) Sistem genitourinaria
Subyektif : Obyektif : produksi urine menurun/normal
7) Sistem digestif
Subyektif : mual, kadang muntah
Obyektif : konsistensi feses normal/diare
Studi Laboratorik :
Hb

: menurun/normal

Analisa Gas Darah

: acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah,


kadar karbon darah meningkat/normal

Elektrolit

: Natrium/kalsium menurun/normal

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Kep

Tujuan dan criteria

Intervensi

1. Kelebihan

Hasil
Setelah dilakukan

Fuid/Electrolyte

asuhan selama 3x24

(2080)

volume
cairan

b.d jam Kelebihan

Management

Pertahankan catatan

gangguan

volume cairan teratasi

intake dan output yang

mekanisme

dengan kriteria:

regulasi

akurat
Kaji lokasi dan luas

edema
Monitor masukan

bersih, tidak ada

makanan / cairan
Monitor status nutrisi
Berikan diuretik sesuai

dyspneu/ortopneu
Terbebas dari

advis
Kolaborasi pemberian

Terbebas dari
edema, efusi,

anaskara
Bunyi nafas

kelelahan,

obat

kecemasan atau
-

bingung
Balance cairan

Monitor berat badan


Monitor elektrolit
Monitor tanda dan gejala
dari odema

0
Risiko infeksi

Setelah

dilakukan Infection Control (6540) :

(00004) b.d

perawatan

Pertahanan

2x24 jam diharapkan

tubuh primer

tidak terjadi infeksi

jahitan.
Motivasi klien untuk menjaga

tidak adekuat:

dengan kriteria hasil:

kebersihan luka

selama

trauma jaringan a. Luka jahitan klien


dalam

keadaan

bersih dan kering.


b. Tidak ada tandatanda infeksi pada

Jaga kebersihan di sekitar luka

Infection Protection (6550) :

Monitor adanya tanda-tanda

infeksi pada luka jahitan.


Monitor hasil pemeriksaan

luka klien.

laboratorium
adanya

c. Tidak

ada

kemerahan

pada

luka klien dan di

darah,

pantau

peningkatan

kadar

leukosit.
Kolaborasi

pemberikan

antibiotic.

sekitar luka klien.


d. Tidak ada pus atau Nutrition Management (1100) :
cairan yang keluar
dari jahitan.
e. Tidak ada edema
pada luka jahitan.
f. Tanda vital dalam
rentang normal
TD sistolik 60-120
mmHg
diastolik

dan
60-100

mmHg.
Suhu 35,5-37,5 oC.

Motivasi

ibu

untuk

mengkonsumsi makanan yang


menggandung tinggi protein
untuk

mempercepat

penyembuhan luka.

Nadi

60-100

x/menit.
RR 18-24 x/menit.
g. Klien

tidak

mengalami
peningkatan

suhu

tubuh.
h. Leukosit

dalam

batas normal (3,6


11,0).

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M E. 2000. Rencana Askep Pedoman Untuk Perencanaan Dan


Pendokmentasian Perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Carpenito L. J. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Tukur, Jamilu. The use of magnesium sulphate for the treatment of severe preeclampsia and eclampsia. Annals of African Medicine. Vol. 8, No. 2, th 2009.
Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo