Anda di halaman 1dari 20

1; Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Tema fisafat Hegel adalah Ide Mutlak. Oleh karena itu, semua pemikirannya
tidak terlepas dari ide mutlak, baik berkenaan dari sistemnya, proses
dialektiknya, maupun titik awal dan titik akhir kefilsafatannya. Oleh karena itu
pulalah filsafatnya disebut filsafat idealis, suatu filsafat yang menetapkan
wujud yang pertama adalah ide (jiwa).
a. Rasio, ide, dan roh
Hegel sangat mementingkan rasio, tentu saja karena ia seorang idealis. Yang
dimaksud olehnya bukan saja rasio pada manusia perseorangan, tetapi rasio
pada subjek absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa
realitas seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subjek. Dalil Hegel yang
kemudian terkenal berbunyi: Semua yang real bersifat rasional dan semua
yang rasional bersifat real. Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya
realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran (idea, menurut istilah
Hegel) yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan lain, realitas
seluruhnya adalah Roh yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan
mementingkan rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan
intelektual ketika itu yang mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan.
Pusat fisafat Hegel ialah konsep Geist (roh,spirit), suatu istilah yang diilhami
oleh agamanya. Istilah ini agak sulit dipahami. Roh dalam pandangan Hegel
adalah sesuatu yang real, kongkret, kekuatan yang objektif, menjelma dalam
berbagai bentuk sebagai world of spirit (dunia roh), yang menempatkan ke
dalam objek-objek khusus. Di dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi
manusia dan juga esensi sejarah manusia.
Demi alam kembalilah idea atau roh kepada diri sendiri. Dalam fase ini, mulamula roh itu merupakan roh subjektif, kemudian roh objektif, dan akhirnya roh
mutlak.
Sebagai roh subjektif, roh itu mengenal dirinya dan merupakan tiga tingkatan:
antropologi, fenomologi, dan psikologi. Dalam antropologi, kenalah roh itu
akan dirinya dalam penjelmaan pada alam. Dalam fenomenologi, kenalah dia
akan dirinya dalam perbedaannya dengan alam. Adapun pada psikologi, roh
mengenal dirinya dalam kemerdekaan terhadap alam, mula-mula teoritis,
kemudian praktis dan akhirnya merdekalah roh itu.
Maka meningkatlah kepada roh objektif. Roh objektif ini roh mutlak yang
menjelma pada bentuk-bentuk kemasyarakatan manusia, hak dan hukum
kesusilaan dan kebajikan. Dalam hak dan hukum terdapat penjelmaan roh
merdeka itu pada hukum-hukum umum. Di samping itu adalah kesusilaan
yang merupakan kebatinan. Pada sintesis keduanya itu terlahirlah kebajikan.

Sampailah sekarang kepada roh mutlak. Roh mutlak itu ialah idea yang
mengenal dirinya dengan sempurna itu merupakan sintesis dari roh subjektif
dan objektif. Tak ada lagi, pertentangan antara subjek dan objek antara
berpikir dan ada.
Oleh karena roh mutlak ini sebenarnya gerak juga, maka dia menunjukkan
perkembangan juga: seni (tesis), agama (antitesis) dan kemudian filsafat
(sintesis). Seni itu memperlihatkan idea dalam pandangan indera terhadap
dunia, objeknya masih di luar subjek. Adapun agama tidak lagi mempunyai
subjek di luar objek, melainkan di dalamnya. Tetapi segala pengertian dan
gambaran agama itu dianggap ada. Filsafat akhirnya merupakan sintesis dari
seni dan agama merupakan paduan yang lebih tinggi. Di sinilah idea
mengenal dirinya dengan sempurna. Dalam sejarah filsafat ternyata benar
gerak idea itu, yaitu tesis, antitesis, dan akhirnya sintesis. Misalnya:
Parmenides (tesis), Heraklitos (antitesis), dan Plato (sintesis).
b. Dialektika
Untuk menjelaskan filsafatnya, Hegel menggunakan dialektika sebagai
metode. Yang dimaksud oleh Hegel dengan dialektika adalah mendamaikan,
mengompromikan hal-hal yang berlawanan.
Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi
antitesis (fase kedua), dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis). Dalam
sintesis itu, tesis dan antitesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang, dia
masih ada, tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini
berlangsung terus. Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antitesis
baru, dan menghasilkan sintesis baru lagi, dan seterusnya.
Tesis adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen yang
dikemukakan, lalu antitesis adalah pengungkapan gagasan yang
bertentangan. Sedangkan sintetis adalah paduan (campuran) berbagai
pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras.

2; Immanuel Kant
Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Knigsberg dari pasangan Johann
Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina
Kant.Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun
1730-1740, perdangangan di Knigsberg mengalami kemerosotan.Hal ini
memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam
kesulitan.Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant
meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun. Pendidikan dasarnya ditempuh

Kant di Saint Georges Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium


Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.
Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di jerman yang
mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Pada
tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Knigsberg dan
mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam. Untuk meneruskan
pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada
masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan
pertanyaan ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil
terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik.
Gelar profesor didapatkan Kant di Knigsberg pada tahun 1770.
Pemikiran Immanuel Kant
Perkembangan pemikiran kant mengalami empat periode;
1; Periode pertama ialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz Wolf, yaitu
samapi tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik
2; Periode kedua berlangsung antara tahun 1760 1770, yang ditandai
dengan semangat skeptisisme. Periode ini sering disebut periode
empiristik
3; Periode ketiga dimulai dari inaugural dissertation-nya pada tahun 1770.
Periode ini bisa dikenal sebagai tahap kritik.
4; Periode keempat berlangsung antara tahun 1790 sampai tahun 1804.
Pada periode ini Kant megnalihkan perhatiannya pada masalah religi dan
problem-problem sosial. Karya Kant yang terpenting pada periode
keempat adalah Religion within the Limits of Pure Reason (1794) dan
sebuah kumpulan esei berjudulEternal Peace (1795).
Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan
Pencerahan, yaitu suatu masa dimana corak pemikiran yang menekankan
kedalaman unsur rasionalitas berkembang dengan pesatnya. Pada masa itu lahir
berbagai temuan dan paradigma baru dibidang ilmu, dan terutama paradigma
ilmu fisika alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473 1543) di
bidang ilmu astronomi yang membutuhkan paradigma geosentris, mengharuskan
manusia mereinterpretasikan pandangan duniannya, tidak hanya pandangan
dunia ilmu tetapi juga keagamaan.
Selanjutnya ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme, yaitu suatu
paham yang kemudian melahirkan apa yang disebut Natural Religion (Agama
alam) atau agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya
yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan
menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab ia telah memasukkan
hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan

hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada


Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya.
Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta degan kesaksiankesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, mukjizat, dan lain-lain kepada kritik akal
serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari pada
segala ajaran Gereja. Singkatnya, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber
dan patokan kebenaran adalah akal. Kant berusaha mencari prinsip-prinsip yang
ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Inilah yang kemudian
menjadi kekhasan pemikiran filsafat Kant, dan terutama metafisikanya yang
dianggap benar-benar berbeda sama sekali dengan metafisikan pra kant.

Kritik atas Rasio Murni


Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah
bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu
membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu:
a. Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru
pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda
menempati ruang).
b. Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan meja itu bagus di sini
predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena
dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka
ragam meja yang pernah diketahui.
c. Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan
yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang
berbunyi segala kejadian mempunyai sebabnya.
Tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu:
a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)
Unsur apriori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan
unsur apriori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi meruang
dan mewaktu
b. Tingkat Akal Budi (Verstand)
Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan.
Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi,
sehingga menghasilkan putusan-putusan. Pengetahuan akal budi baru dieroleh
ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentukbentuk apriori yang dinamai Kant dengan kategori, yakni ide-ide bawaan yang
mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia..
c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)

Idea ini sifatnya semacam indikasi-indikasi kabur, petunjuk-petunjuk buat


pemikiran (seperti juga kata barat dan timur merupakan petunjuk-petunjuk;
timur an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik
kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat dibawahnya, yakni akal
budi(Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan
kata lain, intelek dengan idea-idea argumentatif.
Kendati Kant menerima ketiga idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa
diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut kant, hanya terjadi
di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal
(dari noumenan = yang dipikirkan, yang tidak tampak, bhs. Yunani), dunia
gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah
pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan benda pada dirinya
sendiri (das Ding an Sich).
Kritik atas Rasio Praktis
Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang
perseorangan (individu), sedangkanimperative (perintah) merupakan azas
kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan.
Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan
bersyarat (hypothetical)atau dapat juga tanpa syarat (categorical). Imperatif
kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan
formal (=solen). Menurut kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang
bersumber paa kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap
kewajiban merupakan sikap hormat (achtung).Sikap inilah penggerak
sesungguhnya perbuatan manusia. Kant, ada akhirnya ingin menunjukkan bahwa
kenyataan adanya kesadaran susila mengandung adanya praanggapan dasar.
Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut postulat rasio praktis, yaitu kebebasan
kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan.
Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang
disebut dengan argumen moral tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan
dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan,
rasio praktis bekerja melahirkan perbuatan susila.
Kritik atas Daya Pertimbangan
Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti
persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep
finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas
bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah
yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat
objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.
3; SREN KIERKEGAARD

Sren Kierkegaard yang lahir pada 5 Mei 1813 dan tutup usia pada 11 November
1855, adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Ia
dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya di Kopenhagen, ibukota Denmark.
Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seseorang yang sangat saleh.
Ia yakin bahwa ia telah dikutuk Tuhan, dan karena itu ia percaya bahwa tak
satupun dari anak-anaknya akan mencapai umur melebihi usia Yesus Kristus,
yaitu 33 tahun. Ia percaya bahwa dosa-dosa pribadinya, seperti misalnya
mengutuki nama Allah pada masa mudanya dan kemungkinan juga menghamili
ibu Kierkegaard di luar nikah, menyebabkan ia layak menerima hukuman ini.
Perkenalan dengan pemahaman tentang dosa pada masa mudanya, dan
hubungannya dari ayah dan anak meletakkan dasar bagi banyak karya
Kierkegaard (khususnya Takut dan Gentar). Ibunda Kierkegaard, Anne
Srensdatter Lund Kierkegaard, tidak secara langsung dirujuk dalam bukubukunya, meskipun ia pun mempengaruhi tulisan-tulisannya di kemudian hari.
Meskipun sifat ayahnya kadang-kadang melankolis dari segi keagamaan,
Kierkegaard mempunyai hubungan yang erat dengan ayahnya. Ia belajar untuk
memanfaatkan ranah imajinasinya melalui serangkaian latihan dan permainan
yang mereka mainkan bersama.
PEMIKIRAN SREN KIERKEGAARD: Sebuah Kritik Atas Formalitas Agama
di Denmark dan Hegelianisme
Jika kita diperhadapkan dengan pertanyaan, mengapa karya Kierkegaard
kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi
eksistensial ? Maka jawabannya adalah karena karya-karya Kierkegaard
membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman,
lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan
individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Masalah yang
diangkat tersebut, tentu saja tidak lepas dari konteks zaman saat itu, sehingga
Kierkegaard harus melancarkan kritiknya terhadap dua hal yang berkecamuk
saat itu, yakni formalitas agama di Denmark dan pemikiran Hegelianisme.
Mengenai hal tersebut, F. Budi Hardiman menjelaskan:
Kritik Kierkegaard atas Hegelianisme bukan sekedar sebuah minat teoritis,
melainkan didasari oleh sebuah keprihatinan praktis terhadap perilaku
keagamaan di Denmark . Zaman itu, Lutheranisme menjadi agama resmi negara
Denmark. Agama itu secara otomatis dianut oleh orang Denmark, dan menjadi
semacam cap saja untuk kehiduoan sosial. Menurut Kierkegaard agama Kristen
sungguh-sungguh menjadi sekular dan duniawi, dan orang yang menyebut
dirinya Kristen tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan Allah. Dalam situasi
seperti ini, agama hanya menjadi persoalan objektif dan lahiriah, hanya
menyangkut perilaku yang dapat dilihat dan tidak menyangkut komitmen subjektif
manusia.
Pada titik inilah, Kierkegaard lalu menunjukkan bahwa biang keladi
kemerosotan penghayatan iman ini tak lain adalah filsafat Hegel. Menurut

Kierkegaard, realita Hegel tidaklah memiliki relasi dengan realita keberadan


manusia.
Kierkegaard adalah seorang yang pada zamannya melancarkan reaksi terhadap
hidup kemasyarakatan. Keadaan masyarakat pada waktu itu tidak menunjukkan
sebuah usaha untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari, serta
mengabaikan perkara-perkara batiniah. Hal ini berbanding terbalik dengan apa
yang menjadi prinsip Kierkegaard, bahwasanya persoalan-persoalan praktis
sehari-hari itulah yang justru menjadi persoalan hidup yang sebenarnya.
Memang pada kenyataannya, sejak Kant hingga Hegel orang hanya
membicarakan persoalan-persoalan besar yang bersifat umum, sedangkan untuk
persoalan khusus dan praktis, pada umumnya orang berpendapat bahwa
pemecahannya dapat diturunkan dari dasar-dasar yang umum itu. Kierkegaard
kemudian menganggap Hegel mengaburkan hidup yang kongret, nmaka tak
heran jika Kierkegaard meremehkan argumentasi abstrak mengenai metafisika
yang spekulatif ala Hegel.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka jelas bahwa bereksietensi berarti berani
mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka barangsiapa tidak berani
mengambil keputusan, ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Itulah
pemikiran Kierkegaard, bahwa ada eksistensi yang sebenarnya dan ada
eksistensi yang tidak sebenarnya. Tiap eksistensi memiliki cirinya khas.
Kierkegaard membedakan adanya tiga bentuk eksistensi, yaitu: bentuk estetis,
bentuk etis dan bentuk religius.
Tahap Estetis
Pada tahap ini, manusia menaruh perhatian besar terhadap segala sesuatu yang
di luar dirinya. Ia hidup di dalam dunia dan di dalam masyarakat, dengan segala
sesuatu yang dimiliki dunia dan masyarakat itu. Ia menikmati segala yang
jasmani dan rohani. Sekalipun demikian batinnya kosong. Senantiasa ia
menghindari tiap keputusan yang menentukan. Sifat hakiki bentuk eksistensi
estatis ialah tidak adanya ukuran-ukuran moral yang umum yang telah
ditetapkan, dan tidak adanya kepercayaan keagamaan yang menentukan. Yang
ada hanya keinginan untuk menikmati seluruh pengalaman emosi dan nafsu.
Tahap Etis
Pada tahap ini, manusia memperhatikan benar-benar kepada batinnya. Ia tidak
hidup dari hal-hal yang kongrit ada. Sikapnya di dalam dunia, senantiasa
diusahakan agar dapat ditentukan dari sudut hidup batiniahnya, menurut
patokan-patokan yang umum.
Tahap Religius
Tahap religius ditandai oleh pengakuan individu akan Allah, dan kesadarannya
sebagai pendosa yang membutuhkan pengampunan Allah. Pada tahap ini
individu membuat komitmen personal dan melakukan apa yang disebutnya
lompatan iman. Lompatan ini bersifat non-rasional dan biasa kita sebut

pertobatan. Tokoh yang memodelkan tahap ini adalah tokoh Kitab Suci,
Abraham, yang mengorbankan putranya yang tunggal karena beriman kepada
Allah. Di sini Abraham betul-betul meninggalkan tahap etis dan melompat ke
tahap religius.

4; Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Jerman 5 Mei 1818. Berasal dari keluarga Yahudi kelas
menengah, Marx kuliah ilmu hukum di universitas Bonn. Setahun kemudian
pindah ke universitas Berlin untuk belajar filsafat. Pada usia 23 tahun ia meraih
gelar doktor filsafat. Gagal menjadi dosen, Marx muda kemudian menjadi
wartawan dan akhirnya lebih banyak menjadi aktivis politik dan penulis.
Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom, sosiolog sekaligus aktivis politik.
Pemikiran Marx dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, pemikir-pemikir sosialis
Perancis seperti St. Simon, Prudhon dan tokoh revolusioner seperti
Blanqui. Selama hidupnya, Marx telah banyak menghasilkan karya, seperti:
Economic and Philosophical Manuscript, The German Ideology, The Class
Strrunggles in France and the Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, The
Communist Manifesto, Das Capital.
Marx mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat; tingkah
laku, perubahan social, konflik dan kelas sosialnya. Karl Marx memunculkan
teori-teori dalam sosiologi, yaitu, konflik dan kelas sosial, perubahan sosial,
alienasi.
Marx menggunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu
teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju
suatu keadaan terwujud keadilan sosial. Perubahan sosial bagi Marx berjalan
dialektis. Pertentangan, kontradiksi antar kelas akhir mencari kesimbangan.
Tahapan sejarah masyarakat bagi Marx adalah sebagai berikut; feodalisme,
kapitalisme dan sosialisme/komunisme.
Alienasi bagi Marx terjadi disaat manusia itu sebagai pekerja itu terasing dan
dikuasai oleh hasil kerjanya, produksinya. Manusia diasingkan dari produk hasil
kerjaannya, terasing dari kegiatan produksi, terasing dari sifat sosialnya, terasing
dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.
Teori Marx tentang kelas social didasarkan pada pemikiran bahwa sejarah
peradaban manusia adalah sejarah pertentangan kelas sosial dalam masyarakat.
Marx biasanya mengartikan kelas digunakan untuk menyatakan sekelompok
orang yang berada dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan kontrol
mereka terhadap alat-alat produksi. Ada dua macam kelas yang dikemukakan
Marx ketika menganalisa kapitalisme; kelas borjuis dan kelas proletar.
Marx merupakan tokoh pengkritik system kapitalis paling awal dan paling sengit.
Sosiologi humanis dan sosiologi kritis banyak mengambil teori alienasi Karl Marx.

Dia menolak kapitalisme karena menyebabkan pengangguran, kosentrasi modal


satu golongan, dan bertambahnya kesengsaraan kaum proletar
Hasil dari teori historis Karl Marx pada masyarakat antara lain :
a; masyarakat feudalisme, dimana faktor-faktor produksi berupa tanah
pertanian dikuasai oleh tuan-tuan tanah.
b; Pada masa kapitalisme hubunganantara kekuatan dan relasi prodksi akan
berlangsung, namunkarena terjadi peningkatan output dan
kegiatanekonomi, sebagaimana feudalisme juga mengandung benih
kehancurannya, maka kapitalismepun akan hancur dan digantikan dengan
masyarakat sosialise.
c; Masa sosialisme dimana relasi produksi mengikuti kapitalisme masih
mengandung sisa-sisa kapitlisme.
d; Pada masa komunisme, manusia tidak didorong untuk bekerja dengan
intensif uang atau materi.
Menurut Karl Marx dalam komoditas dan kelas dapat dibagi menjadi dua kelas,
yaitu:
a; kaum kapitalis (borjuis) yang memiliki alat-alat produksi.
b; Kaum buruh (proletar) yang tidak memiliki alat-alat produksi, ruang kerja,
maupun bahan-bahan produksi.
Teori historis dari Karl Marx mencoba menerapkan nya ke dalam masyarakat,
dengan meneliti antara kekuatan dan relasi produksi. Dimana nantinya akan
terjadi sebuah kontradiksi, yang berakibat perubahan kekuatan produksi dari
penggilingan tangan pada sistem feodal menjadi penggilingan uap pada sistem
kapitalisme. Menurutnya satu-satunya biaya sosial untuk memproduksi barang
adalah buruh.
Analisa karl marx tentang Kapitalisme
karl marx adalah salah satu penentang ekonomi kapitalis memunculkan akibat
social yang tidak diinginkan dan sebagai pertentangan pada kapitalisme menjadi
lebih nyata dari waktu ke waktu. Kritik karl marx ini tertuang pada hukum Karl
Marx tentang kapitalisme, yang berisi tentang :
1. Surplus pengangguran
Pada konsep tentang surplus pengangguran ini, Karl Marx berpendapat
bahwa selalu terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja yang erdampak
pada penekanan tingkat upah sehingga menjadi surplus value dan
keuntungan tetap bernilai positif. Karl Marx melihat ada 2 faktor penyebab
terjadinya surplus tenaga kerja ini. Pertama, yaitu Direct Recruitment yang
terjadi akibat penggantian tenaga kerja manusia oleh mesin-mesin
produksi. Kedua, Indirect Recruitment yang terjadi akibat adanya anggota
baru tenaga kerja yang memasuki pasar tenaga kerja.

2. Penurunan tingkat keuntungan


Menurut Karl Marx ada pengaruh yang kuat para kapitalis untuk
menghimpun modal. Penghimpunan modal ini berarti bahwa aka nada
lebih banya fariabel modal yang digunakan untuk menambah tenaga kerja,
sehingga akan menaikkan upah dan akan mengurangi tingkat
pengangguran. Tingkat surplus value akan mengalami penurunan sebagai
akibat dari naiknya upah, begitu juga tingkat laba juga akan turun. Para
kapitalis akan bereaksi dengan mengganti tenaga kerja manusia dengan
mesin dengan menambah organic composition of capital. Jika tingkat
surplus value dipertahankan untuk tidak berubah maka kenaikan pada
organic composition of capital akan mendorong tingkat keuntungan pada
level yang lebih rendah.
3. Krisis Bisnis
Pada konteks krisis bisnis (depresi), Karl Marx berpendapat bahwa adanya
perubahan orientasi atau tujuan dari proses produksi dari tujuan nilai guna pada
zaman ekonomi barter berubah menjadi tujuan nilai tukar dan keuntungan saat
dibawah kapitalisme, menyebabkan terjadinya fluktuasi ekonomi. Pada ekonomi
barter, produse hanya menghasilkan barang untuk dikonsumsi sendiri atau
ditukar dengan komoditi yang lain, sehingga pada saat ekonomi barter ini tidak
pernah terjadi over produksi.
4. Jatuhnya nilai profit dan krisis bisnis
Dalam model Karl Marxian sebuah ekonomi klasik dengan jelas bergantung pada
kapitalis itu sendiri yang berupaya untuk mengubah jumlah atau nilai profit dan
mengubah ekspetasi profit dalam kaitannya dengan krisis bisnis. Karl Marx
memakai hukumnya itu untuk menjelaskan fluktusi dalam jangka pendek dalam
aktifitas ekonomi. Untuk memperoleh profit yang besar, aliran kapitalis
menambah komposisi modal an ternyata hal itu justru menurunkan profit.
5. Konsentrasi modal
Meskipun model karl marx memberi asumsi mengenai adanya pasar persaingan
sempurna dengan jumlah yang besar untuk perusahan-perusahan kecil dalam
tiap tiap industry, namun karena ketatnya persaingan maka akan mengarah
pada jatuhnya industry-industri kecil sehingga akan mengurangi persaingan.
Untuk mengurangi adanya persaingan salah satunya dengan peusatan modal.
Pemusatan modal ini terjadi melalui sebuah redistribusi pada modal. Karl Marx
menujukan bahwa perusahaan yang besar lebih bias mencapai skala ekonomi
yang lebih baik ketimbang perusahaan yang kecil, hal ini disebabkan karena
perusahaan yang besar itu dapat memproduksi dengan biaya yang rendah.
Persaingan diantara perusahaan yang besar dan yang kecil menghasilkan
pertumbuhan monopoli. Penambahan modal secara lebih jauh dengan
mengembangkan sistem kredit dan kerja sama dalam bentuk organisasi bisnis.
6. Bertambahnya kesengsaraan kaum proletar

kontradiksi kapitalisme menurut marx menyebabkan bertambahnya tingkat


kesengsaraan pada kaum proletar. Bertambahnya kesengsaraan secara absolut
menunjukkan pendapatan dari masyarakat secara global menurun dalam sistem
kapitalis dan juga menunjukan bahwa bagian pendapatan nasional mereka
menjadi turun di kemudian hari.
Hingga pada akhirnya marx berasumsika secara konsisten bahwa hal yang harus
dilakukan untuk menghilangkan kesengsaraan, yakni dengan lebih
memperhatikan pada kualitas hidup mereka.
5; Friedrich Nietzsche
Friedrich Wilhelm Nietzsche lahirkan pada 15 Oktober 1844 di Rcken bei
Ltzen, wilayah Sachsen, terletak di daerah pedesaan tanah pertanian di sebelah
barat daya Leipzig, Jerman. Dinamakan Friedrich Wilhelm karena hari
kelahirannya sama dengan hari kelahiran Friedrich Wilhelm IV, seorang raja
Prusia yang sangat dihormati pada masanya, karenanya, merupakan
kebanggaan bagi Nietzsche kecil karena hari kelahirannya selalu dirayakan
banyak orang. Berasal dari keluarga yang taat kepada Protestan Lutheran,
karena ayahnya, Carl Ludwig beserta kakek-neneknya merupakan biarawan,
kecuali ibunya, Franziska Nietzsche, ia bukan seorang yang dekat dengan
profesi suaminya (biarawati).
Beberapa tahun kemudian, Nietzsche terlibat skandal asmara dengan gadis
bernama Lou Andreas Salom. Dalam surat yang diberikan kepada Lou (2 Juli
1882) nampak jelas bahwa ia amat mencintai Lou :
Hari yang lewat tampak seakan ulang tahunku; engkau kirimi aku
persetujuanmu (datang dan tinggal selama tiga minggu), hadiah terbaik yang
pernah diberikan orang kepadaku (Nietzsche, 1977: 14)
Namun pernikahan impiannya gagal karena tidak disetujui oleh kakak
perempuannya yang mengetahui adanya asmara segitiga antara Nietzsche, Lou
dan Paul Ree. Setelah sadar pernikahannya tidak akan pernah terwujud, ia jatuh
ke jurang keputusasaan yang sampai menjadi depresi. Depresi inilah yang lamakelaman membuatnya gila pada 1889.
Setelah Nietzsche benar-benar menjadi gila, ia dirawat oleh kakak
perempuannya hingga akhirnya Nietzsche meninggal pada 1900 di Weimar.
Kematiannya termasuk yang tragis, karena selain ia meninggal dalam keadaan
gila, ia juga meninggal karena tidak bisa menikahi Lou serta ia juga tidak
mengetahui bahwa ibunya juga telah meninggal.
Adapun karya-karyanya, antara lain :
1; The Birth of Tragedy

2; The Four Meditations


3; Thus Spoke Zarathustra
4; Beyond Good and Evil
5; Toward a Genealogy of Morals
6; The Will to Power (diterbitkan setelah ia meninggal).
Pemikiran NIETZSCHE tentang Tuhan Telah Mati
Pemikirannya tentang Tuhan mati, tertera dalam karyanya yang berjudul
Zarathustra (bukan tokoh agama terkenal di Iran, hanya nama hayalan saja untuk
orang bijaksana). Ia menggambarkan Zarathustra yang telah lama bertapa di
atas gunung kemudian turun dan, ketika melalui seorang yang sedang bertapa di
suatu tempat, berkata : Aneh orang ini belum tahu kalau Tuhan telah mati.
Kemudian di kota, Zarathustra masuk ke dalam pasar dan menuduh orang
banyak telah membunuh Tuhan. Lengkapnya dapat diperhatikan sebagai
berikut :
Si gila. Tidakkah kalian dengar tentang si gila yang menyalakan sebuah lentera
pada jam-jam pagi yang terang benderang; ia lari masuk pasar dan berteriak:
Saya mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan! Si gila terbahak-bahak kegirangan di
tengah-tengah orang banyak yang berdiri. Mereka sudah tidak percaya kepada
Tuhan. Seorang di antara mereka berkata: Apakah ia telah tersesat seperti
seorang bocah? Atau bersembunyikah ia? Takutkah ia kepada kita?
Mengembarakah ia? Atau telah pindah? Demikianlah ocehan mereka sambil
tertawa. Si gila kemudian meloncat ke tengah mereka dan menembus mereka
bersama lenteranya. Dia berteriak: Kemanakah Tuhan larinya? Aku akan
jelaskan kepadamu semua. Kita telah membunuhnya kalian dan aku. Kita semua
adalah pembunuh Bukankah lentera harus dinyalakan ketika pagi? Belumkah
kita dengar para penggali pusara yang sedang menguburkan Tuhan? Tuhan
telah mati. Tuhan tetap mati (God is dead. God remains dead). 4
Ungkapan Nietzsche itu menurut Karel A. Steenbrink, ada yang
menyatakan bahwa Nietzsche hanya mengemukakan bahwa dalam kebudayaan
pada zamannya Tuhan telah mati dalam hati manusia. Saat itu yang dipentingkan
hanyalah materi belaka, apalagi cara berpikirnya didominasi oleh ilmu pasti alam
telah menjauhkan manusia dari kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan.
Kecuali itu, ada yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kritik
Nietzsche kepada agama Kristen, yang umumnya melarang kekayaan, seks dan
seni. Di semua bidang ini, agama memberikan petunjuk yang umumnya bersifat
larangan semata. Agama tidak membina manusia menjadi pribadi yang aktif dan
bertanggungjawab. Dasar kepercayaan adalah kelemahan, sehingga manusia
harus menyerahkan diri kepada Tuhannya dan harus taat kepada petunjuk yang
datang dari luar dirinya. Maka agama Kristen merupakan hambatan bagi
perkembangan pribadi manusia untuk menjadi manusia super dan Uebermensch.

Dari interpretasi karya Nietzsche itu, pada tahun 1960-an, teologi di Eropa
dan Amerika Utara timbul puluhan karangan yang berpangkal dari anggapan
bahwa Tuhan telah mati dan bahwa masih bisa dilanjutkan suatu agama tanpa
Tuhan. Dan ada yang hendak mengarang teologi yang tidak terfokus kepada
Tuhan, tetapi terfokus kepada Yesus. Bagi mereka Tuhan telah mati merupakan
petunjuk penyaliban Yesus dan penderitaan sesama manusia di dunia ini. Dan
juga ada yang hendak mengkritik ide teis tentang Tuhan dan hanya ingin
menyempurnakannya, tetapi dengan menggunakan kata-kata yang keras dan
kontroversial.
Tragedi Nietzsche itu merupakan fenomena intelektual di Barat, dimana
agama gagal dalam memberikan jawaban yang memuaskan terhadap tuntutan
intelektual manusia yang mencari sesuatu di balik yang ada ini. Betul Nietzsche,
bahwa secara simbolik Tuhan telah mati di Barat. Sebab orang sudah tidak
menghiraukan tindakan moral apapun. Yang ada adalah etik yang situasional dan
individual. Tidak ada etik yang bersumber dari wahyu, yang berlaku secara
universal yang menyebabkan orang Barat telah kehilangan kiblat yang
sebenarnya. Jadi, Nietzsche sebenarnya masih merindukan sesuatu yang
bermakna, meskipun ia telah menjadi agnostik, jika tidak ateis.
6; Arthur Schopenhauer
Arthur Scopenhauer lahir di Danzig, sekarang Polandia, pada tahun 1788
sebagai anak seorang pedagang besar. Meskipun orang tuanya kaya, kehidupan
keluarganya tidak bahagia. Ayahnya meninggalnya waktu Arthur masih kecil;
kemungkinan ia membunuh diri. Dari ibunya ia memisahkan diri. Pengalaman
masa muda yang buruk itulah yang menanamkan pesimisme dalam jiwa
Schopenhauer yang akan menjadi ciri khas kepribadiannya. Ia menolak menjadi
pedagang dengan cara belajar sendiri segera mencapai pengetahuan luas dalam
filsafat, fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Pada tahun 1822 ia dinyatakan
mampu mengajar di Universitas Berlin. Ia meninggal dunia pada tahun 1860.
Akar Pemikiran Filosofis
Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Budha dan filsuf
Immanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu amat besar. Hal ini terlihat
dari ruang kerjanya dipasang dengan patung kedua tokoh tersebut.patung itu
berupa tengah badan Kant dan sebuah perunggu Budha. Dalam cara hidupnya,
ia meniru Kantkcuali mengenai bangun pagi[8].
Pengaruh Immanuel Kant terhadap filsafat Schopenhauer terlihat, misalnya, pada
tahun 1813, dia menerbitkan disertasi doktoralnya yang berjudul Uber die
vierfache Wurzel des Satzes vom zureichnden Grunde (tentang akar ganda
empat dari asas tentang alasan yang memadai). Buku ini sangat dipengaruhi

oleh Kant dan Schopenhauer sendiri menganggapnya sebagai pengantar ke


dalam filsafatnya.
Dalam buku itu, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita
alami ini adalah obyek bagi subyek. Artinya, dunia fenomenal itu adalah
presentasi-presentasi (vorstellungen) atau gambaran-gambaran mental kita.
Presentasi-presentasi ini tersusun secara teratur menajdi sebuah sistem
pengetahuan tentang objek, dan sistem itu disebut ilmu pengetahuan. Di sini
implisit diakui adanya das Ding an sich. Agar pengetahuan tentang dunia
fenomenal itu memadai, harus ada asas umum yang mengatur susunan
presentasi itu, dan asas itu disebut prinsip alasan yang memadai. Menurutnya,
ada empat. Pertama, menurutnya, pemikiran kita mengatur objek-objek intuitif
dan empiris menurut kategori kausalitas, dan dia mengatakan bahwa presentasipresentasi tentang objek itu diatur menurut prinsip alasan memadai mengenai
menjadi. Di sini dia mereduksi kategori a priori Kantian menjadi satu, yaitu
kausalitas. Kedua, pikiran kita lalu menghasilkan putusan, tapi kebenaran
putusan itu ditentukan oleh suatu asas lain yang tidak sekedar logika, melainkan
juga memungkinkan sifat sintetis putusan itu,dan ini disebut prinsip alasan yang
memadai mengenai mengetahui. Ketiga, pikiran kita menangkap hakikat objekobjek secara intuitif, yaitu hubungan-hubungan ruang dan waktu. Kebenaran
hubungan-hubungan hakiki ini diatur oleh prinsip alasan memadai mengenai
ada.
Pemikiran Filosofis Arthur Schopenhauer
1; Kehendak Metafisis
Sebagaimana disebutkan di atas, Schopenhauer secara langsung terpengaruh
oleh filsafat pengetahuan Kant. Kant membedakan dua dunia. Yang pertama
adalah dunia yang dikenal oleh kita, dunia fenomenal, yaitu dunia objek-objek
inderawi yang dikonstruksikan oleh subjek yang mengerti melalui peralatan
kognitifnya : persepsi indrawi (dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu)
dan rasio (Verstand, dengan 12 kategorinya). Dunia kedua, yaitu dunia di
belakang fenomen-fenomen itu, adalah Das Ding an Sich (realitas pada dirinya
sendiri), bidang noumenal (dari nous, akal budi dalam bahasa Yunani) yang
hanya kita ketahui bahwa ia ada, tetapi tidak kita ketahui bagaimana ciri-cirinya.
Jadi, yang dapat kita ketahui hanyalah bidang fenomenal, sedangkan bidang
noumenal tertutup bagi kita[14].
Kerangka pengertian Kant itu diambil alih oleh Schopenhauer, tetapi dengan dua
perbedaan besar. Bagi Schopenhauer, bidang noumenal itu bukan sebuah Das
ding an sich, melainkan kehendak. Kehendak adalah realitas transendental,
artinya realitas noumenal, di belakang realitas fenomenal atau empiris yang kita
rasakan. Jadi menurut Schopenhauer, realitas pada hakikatnya berupa
kehendak. Di belakang dunia pengalaman kita, dunia empiris, terdapat kehendak
transendental itu. Yang kita tangkap dalam bidang fenomenal, jadi segala apa
yang menjadi pengalaman kita baik di luar maupun di dalam diri kita, merupakan

gejalanya atau, dalam bahasa Schopenhauer, idea (Vorstellung) kehendak


transendental itu. Dunia adalah kehendak dan bayangan (atau imajinasi);
kehendak adalah realitas noumenal sebagai dasar, bayangan-bayangan adalah
penjabarannya di alam fenomenal[15].
Perbedaan kedua antara Kant dan Schopenhauer ialah bahwa menurut Kant kita
tidak dapat mengetahui Das Ding an Sich, sedangkan Schopenhauer merasa
dapat mengetahuinya. Hati kitalah yang membuka rahasia itu. Dalam hati kita
temukan keinginan, hasrat, kerinduan, harapan, cinta, kebencian, pelarian,
penderitaan, pemikiran, imajinasi; itulah hidup kita dan hidup kita adalah
pengalaman dan pengalaman itu menyatakan diri sebagai kehendak. Tubuh kita
sama saja; kaki adalah objektivasi kehendak untuk berjalan, lambung untuk
mencernakan, pendek kata, tubuh kita adalah obejektivikasi kehendak.yang kita
rasakan pada diri kita itu lalu dialihkan pada seluruh alam semesta; segala gejala
alam semesta pun bukan lain ungkapan atau fenomenisasi sebuah kehendak.
Kehendaklah yang mendasari segala kekuatan dan kejadian yang kita alami
dalam alam semesta. Di belakang realitas fenomenal, realitas pengalaman
empiris kita, terletak sebuah noumenal yang mendasarinya, yang bersifat
kehendak[16]. Jadi, Schopenhauer menemukan bahwa Das Ding an Sich itu
adalah Kehendak[17].
Untuk sampai pada kesimpulan itu, schopenhauer menggunakan intuisi untuk
mengenal kenyataan. Dalam kehidupan sehari-hari kita cenderung memisahkan
gerakan tubuh dan kehendak. Gerakan tubuh itu lahiriyah dan kehendak itu
batiniyah. Secara intuitif kita dapat menyadari bahwa gerakan tubuh dan
kehendak itu satu dan sama. Dalam pandangan Schopenhauer, gerakan tubuh
yang bersifat lahiriyah itu tidak lain daripada kehendak yang diobjektifkan.
Dengan peristilahannya sendiri, gerakan tubuh itu adalah kehendak sebagai
presentasi. Dalam ruang dan waktu atau kenyataan sehari-hari kita
menyaksikan keanekaan. Menurut Schopenhauer semua itu hanya fenomenal,
maya, sedangkan Das Ding an Sich mestilah tunggal. Dengan kata lain, di balik
keanekaan lahiriyah itu ada sebuah kenyataan tunggal yang bersifat numenal.
Itulah kehendak yang bersifat metafisis. Keanekaan itu hanyalah penampakan
dari Kehendak. Jadi, gerakan magnit, tumbuh-tumbuhan, manusia, dll. Adalah
penampakan dari kehendak metafisis yang tunggal[18].
Schopenhauer lebih rinci lagi mencirikan Kehendak itu sebagai Kehendak untuk
hidup (der wille zum leben). Istilah kehendak memberi kesan mengandung
rasionalitas tertentu, tetapi Scopenhauer lebih memahaminya sebagai sesuatu
yang buta, yaitu suatu dorongan untuk hidup, suatu kehendak purba (Urwille).
Kehendak untuk mengejawentahkan diri dalam keanekaan penampakan, dari
naluri hidup hewani yang paling rendah, sampai rasio manusia yang paling luhur.
Naluri rendah dan rasio dalam pandangannya pada dasarnya merupakan
penampakan Kehendak yang sama, yakni kehendak untuk hidup. Di sini
Schopenhauer lalu menganut biologisme dalam pandangannya mengenai
pengetahuan. Rasio manusia memiliki fungsi untuk memuaskan kebutuhan-

kebutuhan fisiknya, sebagaimana tampak dalam industri dan teknologi. Dengan


kata lain, rasio dan pengetahuan adalah pelayan Kehendak, dan dalam arti ini
fungsi rasio sama seperti fungsi cakar pada macan dan sayap pada burung.
Dengan menganggap rasio atau roh sebagai budak Kehendak metafisis ini,
Schopenhauer menolak Hegel yang menyamakan realitas dengan rasio. Yang
sungguh-sungguh nyata bukanlah rasio, melainkan kehendak[19].
Kehendak adalah yang utama, abadi, tak bertempat, yang mengungkapkan
dirinya dalam diri manusia sebagai dorongan, insting. Manusia mengetahui
dirinya sebagai fenomena, bagian dari alam, sebagai badan organik yang
meluas. Kehendak adalah diri yang nyata, badan adalah ekspresi dari kehendak.
Dunia adalah Kehendak dan idea. Kehendak ada di mana-mana, dan
membimbing segalanya. Kehendak untuk hidup adalah asas kehidupan dan
kesadaran. Kehendak mengendalikan pencerapan, memori, imajinasi,
pertimbangan dan penalaran. Kita mencerap, yan kita kehendaki untuk
mencerap. Kehendak disebabkan oleh kekuatan tidak sadar. Merupakan
dorongan yang menguasai intelegensi[20].
2. Pesimisme :
Kehendak untuk ada, kehendak untuk hidup merupakan sebab dari semua
perjuangan, kesedihan dan kejahatan dalam dunia. Perjuangan untuk hidup akan
menimbulkan kejelekan dunia dan kematian harus mengalahkannya. Kehidupan
adalah jahat sebab hal itu mementingkan diri dan hina. Simpati, belas kasiha
merupakan dasar dan patokan moralitas. Untuk menjadi baik, tindakan harus
didorong oleh simpati[21].
Paham pesimisme menampilkan gambaran hidup yang suram. Menurutnya,
kenyataan itu pada dasarnya dan secara keseluruhannya jahat, atau paling
sedikit dikuasai yang jahat. Keadaan dunia, karena pada dasarnya jahat dan
dikuasai oleh yang jahat, makin hari menjadi makin buruk. Tak ada usaha dan
tindakan yang dapat memperbaikinya. Segala usaha tak ada guna. Kekuatan
yang jahat terlalu perkasa. Manusia bukan hanya lemah tetapi juga jahat.
Manusia karena itu tak dapat mampu dan tak dapat memperbaiki diri.
Sebagai paham, pesimisme memiliki unsur positif. Di dunia memang ada
kejahatan. Tetapi, kejahatan tidak dapat dipandag sebagai prinsip kehidupan.
Bila kejahatan menjadi prinsip kehidupan, segala yang ada dalam kehidupan
pasti jahat, padahal kenyataannya tidak segalanya jahat, ada bahkan sebagian
besar baik. Dunia dan dan masyarakat dapat merosot terus, tetapi juga maju dan
berkembang.
Dengan demikian, kelemahan utama pesimisme sebagai paham adalah
memandang kenyataan hidup secara tidak seimbang dan berat sebelah.
Pesimisme tidak melihat kejahatan sebagai pelengkap hidup. Pesimisme tidak
mampu menemukan segi humor dalam hidup ini. Pesimisme juga berat sebelah
karena hanya memandang kenyataan, dunia, manusia dalam satu arah sajaa,

yaitu arah yang negatif, jahat, suram. Orang pesimis akibatnya, hidupnya amat
terbebani; pandangannya gelap; langkah-langkahnya berat. Orang pesimis
kehilangan kecerahan dan kebahagiaan hidup. Hidup semacam ii jelas tidak
sehat dan perlu diseimbangkan[22].
Pesimisme mempunyai kecenderungan memandang segala sesuatu dari segi
yang paling buruk dan segi yang tidak mengandung harapan, penuh perasaan
sedih. Kasihan, muram, murung, putus asa, absurd, sakit, mati; dan yakin bahwa
semua perasaan ini bersifat dasariyah dan merupakan unsur-unsur kehidupan
yang tak terelakkan. Dari segi psikologi, pesimisme merupakan sikap umum yang
mendorong orang melihat sisi buruk dari segala sesuatu. Sedangkan dari segi
metafisik, pesimisme merupakan pandangan yang mengatakan bahwa hakikat
segala sesuatu pada dasarnya adalah kejahatan atau sesuatu yang negatif. Atau
pandangan yang mengatakan bahwa kejahatan dan penderitaan yang melanda
dunia lebih banyak dan mendasar daripada kebaikan[23].
Menurut schopenhauer, kita semestinya tidak bergembira karena kita hidup ;
sebaliknya kita harus meratapi fakta tersebut. Baginya, kehidupan adalah
sesuatu yang seharusnya tidak ada. Jadi, seandainya seorang individu memilih,
dia akan menolak kehidupan, sebab, semua keadaan dalam kehidupan berakhir
sebagai frustasi, tidak bahagia, ilusi, atau menyakitkan. Di samping itu,
kehidupan juga diliputi oleh penderitan, keputusasaan, ketidakpuasan,
ketidakpastian, kekecewaan, ketidakberdayaan, kehilangan harapan dan
kematian. Menurutnya, dunia ini merupakan kemungkinan yang terburuk; tidak
ada yang lebih buruk yang dapat diciptakan atau dibayangkan. Dunia ini
merupakan ungkapan dari kehendak yang buta serta irasional. Segala sesuatu
memiliki kehendak untuk hidup dan konsekuensinya ialah adanya
penderitaan[24]. Ini pula yang menjadi titik tolak pemikiran Schopenhauer. Titik
tolak ini bermula dari situasi di mana manusia menemukan diri. Situasi itu pada
hakikatnya ditandai oleh penderitaan yang tak ada putus-putusnya. Hidup adalah
menderita. Seluruh pesimisme Schopenhauer terungkap dalam gaya
Schopenhauer melukiskan keadaan itu. Sumber penderitaan ialah bahwa kita
tidak pernah merasa tenang, tidak pernah puas. Kita penuh kerinduan, hasrat,
harapan, dan kekhawatiran. Begitu sebuah tujuan tercapai, kita merasa kosong.
Tak ada tujuan yang memuaskan dapat memuaskan kita. Apabila kita sampai kita
merasa bosan, apabila tidak sampai kita kecewa. Kita bergerak antara
penderitaan dan perasaan bosan. Selanjutnya, di kemudan hari, filsafat
pesimisme Schopenhauer ini dipelajari oleh gerakan Romantisme abad 19.

7;

Edmund Husserl

Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar


mengarahkan untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka
teoritis lewat pengalaman-pengalaman yang berbeda dan bukan lewat

koleksi data yang besar untuk suatu teori umum di luar substansi
sesungguhnya.
Metode Fenomenologi Edmund Husserl
Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada
persoalan tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai
filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita
memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni.
Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat
mencapai kebenaran itu. Akan tetapi, Husserl melihat bahwa sesungguhnya
di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak
adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat diandalkan. Bagi
Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang sanggup
membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang
sesungguhnya tanpa memanipulasinya. Ada suatu slogan yang terkenal di
kalangan penganut fenomenologi, yaitu: zu den sachen selbst (terarah
kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan benda itu, sesungguhnya
benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya
sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian, maka lahirlah
metode fenomenologis.
Menurut Husserl prinsip segala prinsip ialah bahwa hanya intuisi
langsung (dengan tidak menggunakan pengantara apapun juga) dapat
dipakai sebagai kriteria terakhir dibidang Filsafat. Hanya apa yang secara
langsung diberikan kepada kita dalam pengalaman dapat dianggap benar
dan dapat dianggap benar sejauh diberikan. Dari situ Husserl
menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya
ialah bahwa hanya kesadaran yang diberikan secara langsung kepada saya
sebagai subjek, seperti akan kita lihat lagi.
Fenomen merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada
selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak
bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas.
Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut
kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki
kesadaran). Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas,
fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri.
Ada beberapa aspek yang penting dalam intensionalitas Husserl, yakni:
1; Lewat intensionalitas terjadi objektivikasi. Artinya bahwa unsur-unsur
dalam arus kesadaran menunjuk kepada suatu objek, terhimpun pada
suatu objek tertentu.
2; Lewat intensionalitas terjadilah identifikasi. Hal ini merupakan akibat
objektivikasi tadi dalam arti bahwa berbagai data yang tampil pada

peristiwa-peristiwa kemudian masih pula dapat dihimpun pada objek


sebagai hasil objektivikasi tadi.
3; Intensionalitas juga saling menghubungkan segi-segi suatu objek dengan
segi-segi yang mendampinginya.
4. Intensionalitas mengadakan pula konstitusi.
Konstitusi merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada
kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat
korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi
adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak
ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya
mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut
realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas
harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses
penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi
kesadaran intensional. Sebagai contoh dari konstitusi: saya melihat suatu
gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari
gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas
dan seterusnya. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua
perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya
Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam
realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti
suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi
umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah
kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi
dalam filsafat Husserl sulalu diartikan sebagai konstitusi genetis. Proses
yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah
merupakan suatu aspek historis.
Benda-benada tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat
dirinya. Apa yang kita temui pada benda-benda itu dalam pemikiran biasa
bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu. Karena
pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat,
maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk
menemukan hakikat pada pemikiran kedua ini adalah intuisi. Dalam usaha
melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan
reduksi, yaitu penundaan segala ilmu pengetahuan yang ada tentang objek
sebelum pengamatan intuitif dilakukan. Reduksi juga dapat diartikan
penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah
epoche yang artinya sebagai penempatan sesuatu di antara dua kurung.
Maksudnya adalah melupakan pengertian-pengertian tentang objek untuk
sementara, dan berusaha melihat objek secara langsung dengan intuisi
tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Agar orang
dapat memahami sebagaimana adanya, ia harus memusatkan perhatian

kepada fenomena tersebut tanpa prasangka dan tanpa memberi teori sama
sekali, akan tetapi tertuju kepada barang / hal itu sendiri, sehingga hakikat
barang itu dapat mengungkapkan dirinya sendiri.
Yang menarik dan sangat penting dari metode fenomenologi Edmund
Husserl ini adalah bahwa setiap orang jangan cepat-cepat mengambil
kesimpulan sebelum mendialogkan masalah yang dihadapi dengan secermatcermatnya. Dalam metode brackketing dengan berbagai reduksi-reduksi yang
Husserl ungkapkan, bukti-bukti nyata belumlah dipandang cukup untuk
menetapkan sebuah eksistensi atau kebenaran. Kebenaran tidak saja
ditetapkan berdasarkan bukti-bukti empiris, tetapi masih diperlukan kepada
berbagai inquiry pengalaman supra-empiris lewat intuisi yang bersifat
apriori.
Husserl
agaknya
telah
mampu
menyetesiskan
sekaligus
mengapresiasikan kedua aliran filsafat yang sangat bertolak belakang, yaitu
idealisme dan naturalisme. Ini dapat dilihat di satu pihak ia menafikan sama
sekali eksistensi objek pengalaman dunia nyata, dan di pihak lain ia juga tidak
menerima bahwa eksistensi kebenaran itu di luar jangkauan akal manusia.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebenaran transedental sebagai
kebenaran tertinggi.
Metode fenomenologi mulai dengan orang yang mengetahui dan
mengalami, yakni orang yang melakukan persepsi. Fenomenologi dijelaskan
sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau susunan pikiran,
justru karena benda adalah objek kesadaran yang langsung dalam bentuknya
yang murni.