Anda di halaman 1dari 33

Liberalisme

Melengkapi artikel Liberalisme di Belanda dan Adat Istiadat, ada beberapa istilah yang
perlu dikenal lebih jauh terutama Liberalisme. Liberalisme berkaitan dengan kata Libertas (bhs.
latin) yang artinya kebebasan, dan Liberalisme mencakup banyak aliran yang berbeda artinya di
bidang politik, ekonomi dan keagamaan, yang berpangkal tolak pada kebebasan orangperorangan terhadap kekuasaan apapun (A. Heuken SJ: Ensiklopedi Gereja).Liberalisme dapat
dimengerti sebagai (1) tradisi politik (2) filsafat politik dan (3) teori filsafat umum, mencakup
teori nilai, konsepsi mengenai orang dan teori moral sama halnya dengan filsafat politik. ... Di
Perancis, liberalisme lebih dekat dikaitkan dengan sekularisme dan demokrasi (Stanford
Encyclopedia of Philosophy, 2003).
Ensiklopedi Nasional Indonesia menyebut liberalisme sebagai aliran pikiran yang
mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat
mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin. Heuken lebih lanjut menyebut
liberalisme dasarnya adalah pandangan Zaman-Pencerahan, bahwa manusia tidak hanya berhak
mengusahakan masyarakat yang bebas dari kekuasaan negara, yang kurang mengindahkan hakhak azasi manusia, melainkan juga membebaskan diri dari kuasa rohani yang tidak mendapat
mandat dari umat. Kuasa "dari atas" ditolak.
Mirip dengan liberalisme, Libertinisme juga berkaitan dengan Libertas. Dalam Alkitab ada
disebut orang libertini yang berarti orang Yahudi yang telah bebas dari penjara Romawi dan
memiliki sinagoga sendiri di Yerusalem (Kis.6:9), tetapi dalam pengertian umum, libertin adalah
orang yang membebaskan diri dari kekangan, terutama norma sosial dan agama, dan moral
(Wikipedia).
Libertin mulai muncul di abad-17, mengisyaratkan sikap yang skeptik dan pemikir
bebas/free-thinkers (Encyclopaedia Britannica, 2006). Dari beberapa perilaku libertin kita dapat
melihat ciri-ciri libertinisme atau faham yang dianut orang libertin. Seorang tokohnya, Theophile
de Viau diusir dua kali dari kota Paris karena pandangannya yang atheistik dan hidup berfoyafoya, dalam sajak yang ditulisnya di The Satirical Parnassus ia tidak menghiraukan nilai moral
dan seksual, dan dalam banyak sajaknya sama halnya dengan sesama libertin Marc Antoine de
Gerard Saint Amant, mereka menentang ajaran agama dan konvensi moral masyarakat. Libertin
menyiapkan jalan bagi abad berikutnya yang menularkan roh kritik yang dilandaskan pada
logika(Encyclopedia Encarta, 2006).
Dari pengertian demikian, tepat seperti yang dikatakan oleh Verkuyl bahwa manusia
berada di antara libertinisme dan farisiisme (lihat artikel Adat Istiadat). Disatu pihak ia ditarik

kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, dipihak lain ia ditarik kecenderungan


ketertutupan dengan moralitas kakunya.
Liberalisme, sekalipun bisa diartikan macam-macam dalam berbagai bidang yang berbeda,
memiliki pengertian sendiri dalam teologi. Liberalisme teologi adalah salah satu pemikiran
agama yang menekankan penyelidikan agama yang berlandaskan norma diluar otoritas tradisi
gereja. Liberalisme adalah keinginan untuk dibebaskan dari paksaan kontrol dari luar dan secara
konsekwen bersangkutan dengan motivasi dari dalam diri manusia.
Dalam Encyclopaedia Britannica, liberalisme dapat dibagi dalam tiga masa, yaitu: masa
pertama dari abad-17 sampai pertengahan abad-18; masa kedua dari pertengahan abad-18 sampai
akhir abad-19; dan masa ketiga dari pertengahan abad-19 sampai abad-20.
Masa Pertama, liberalisme teologi biasa dikaitkan dengan filsuf dan matematikawan Rene
Descartes. Masa ini juga disebut sebagai masa Rasionalisme dan Pencerahan. Descartes
menekankan cara berfikir yang berpengaruh sampai abad-19 dan meletakkan dasar perkiraan
kesadaran modern, yaitu: (1) keyakinan akan pikiran manusia, (2) mengutamakan manusia
sebagai pribadi, (3) imanensi Tuhan, dan (4) keyakinan bahwa sifat alami manusia bisa dan
selalu diperbaiki.
Masa Kedua, liberalisme teologi dikenal sebagai masa Romantisme yang diawali dengan
disadarinya keunikan individu dan konsekwensinya mengenai pentingnya pengalaman individu
sebagai sumber khusus mengenai arti yang tidak terbatas, ini memberi nilai lebih pada
kepribadian dan kreativitas individu melebihi semua nilai lain. Jean-Jacques Rousseau dan
Immanuel Kant adalah arsitek dibelakang liberalisme romantis ini.
Dalam teologi, Friedrich Schliermacher, dapat disebut sebagai bapak teologi protestan
modern.Schleiermacher mengerti agama sebagai perasaan "yang intuisif" kebergantungan kepada
yang kekal, atau Tuhan, yang dipercayainya sebagai pengalaman universal dari kemanusiaan. Ini
menekankan pengalaman beragama daripada dogma agama. Teolog liberal berusaha untuk
mendamaikan agama dengan ilmu pengetahuan dan masyarakat modern, dan mereka mengacu
pada tehnik kritik historis atas Alkitab dalam usaha untuk membedakan Yesus Sejarah dan
ajarannya dari dari apa yang mereka anggap sebagai mitologi dan dihasilkan oleh dogma.
Bila semula liberalisme teologi masih memberi tempat pada yang supranatural, lamakelamaan perkembangan liberalisme mengarah pada penekanan Yesus sebagai sekedar manusia
biasa. Albrecht Ritchl menolak aspek supranatural dari hidup Yesus dan menafsirkan mujizat
Yesus dalam kerangka ajaran idealisme Hegel, dan menjadikan etika sebagai jantung agama.
Pengikut Ritchl Adolf von Harnack menyebut Yesus adalah tokoh manusia yang memiliki damai
dan kerendahan hati yang dapat menguatkan dan membawa damai pada orang lain.
Kedudukannya sebagai pengajar di Berlin sempat dipersoalkan oleh gereja Jerman karena

pandangannya yang liberal mengenai mujizat Alkitab termasuk soal sifat sejarah kebangkitan
Yesus.
Masa ketiga, perkembangan liberalisme sekalipun sempat direm sejenak oleh Karl Barth
dengan Neo-Orthodoxinya, makin menjauhkan agama dari aspek transendennya. Teologi Liberal
masa ketiga ini juga sering disebut sebagai Modernisme dan menghadirkan pandangan yang
ujung-ujungnya menafikan hal-hal yang supranatural & mujizat dan yang kekal (aeternum)
termasuk Tuhan.
Pada masa ketiga ini berkembang studi Yesus Sejarah yang menafikan sifat supra-natural
Yesus. F.C. Baur memperkenalkan pendekatan yang anti-theistic dan yang supranatural dalam
hubungan dengan sejarah kekristenan. D.F. Strauss (Life of Jesus) menolak sama sekali dasar
sejarah elemen supranatural dalam Injil. J.E. Renan (Life of Jesus) juga senada dengan Strauss
dan lebih jauh menyebut Yesus terobsesi semangat revolusi, penganiayaan dan mati syahid.
Albert Schweitzer (The Quest of the Historical Jesus) disatu sisi menyalahkan Strauss dan Renan
karena mengabaikan aspek eschatologis tentang kerajaan Allah dan akhir zaman, tetapi disisi lain
ia meneruskan pandangan mereka karena Yesus ditampilkan sebagai politikus agama yang
pemarah yang membuat kesalahan besar dalam cara hidupnya.Arthur Drews (The Christ Myth)
bahkan lebih jauh memperlakukan seluruh Injil sebagai cerita fiksi. Faham Yesus Sejarah ini
diteruskan oleh Jesus Seminar sejak 1985.
Kecenderungan menafikan yang supranatural disebut juga sebagai Sekularisme. Menurut
Johanes Verkuyl (Gereja dan Aliran Modern), Saeculum adalah pandangan serta sikap hidup
yang menanggalkan yang waktuwi itu dari yang abadi, yang menanggalkan yang profan dari
yang sakral. ... Sedang Sekularisme ialah aliran dalam kultur, dalam mana seluruh perhatian
dituntut untuk dunia ini dan untuk zaman ini dengan mengucilkan Allah serta Kerajaan-Nya.
Encyclopedia Wikipedia menyebut Sekularitas adalah keberadaan yang bebas dari kwalitas
keagamaan dan spiritualitas, dan Sekularisme yang terkait masa Pencerahan menegaskan tentang
kebebasan agama dan bebas dari agama, dalam negara yang netral dalam hal menyangkut
kepercayaan, dan tidak memberikan hak khusus atau subsidi kepada agama. Britannica menyebut
Sekularisme sebagai gerakan dalam masyarakat yang ditujukan untuk menjauhkan diri dari yang
diluar dunia dan kembali ke bumi.
Dalam hubungan dengan Liberalisme, Arend Theodoor van Leeuwen (Christianity in
World History) menyebut Liberalisme adalah produk yang disekularisasikan dari peradaban
Kristen. Dari ketiga istilah Liberalisme, Libertinisme dan Sekularisme, kita menjumpai nafas
yang sama yang mendasari, yaitu membebaskan diri dari yang Aeternum dan hanya berurusan
dengan yang Saeculum. Semangat sekularisme sudah terlihat dalam pemikiran Friedrich
Nietzsche yang dikenal sebagai pelopor "Teologi Kematian Tuhan" (Death of God Theology). Ia
bertitik tolak menafikan Tuhan yaitu pada "Tuhan yang tidak ada," karena itu "Manusia harus
menentukan jalan hidupnya sendiri."

Dalam Rudolf Bultman kita melihat skeptikisme rasional dibentuk oleh existensialisme
berusaha mendikotomikan Yesus Sejarah dari Yesus Iman dan menolak konsep "the three deckers
universe" (bumi - surga -neraka)yang disebutnya mitos. Seluruh etos dan pemikiran Perjanjian
Baru adalah mitos. Hal-hal yang bersifat transendental dipandang sebagai mitologi dan harus
dimengerti secara existensial yang subyektip. Tugas manusia adalah mendemitologisasikan
ajaran PB itu. Paul Tillich mengemukakan bahwa Injil harus ditelanjangi dari sifat nonexistensialnya dan terbuka bagi istilah-istilah yang bermakna bagi manusia modern. Baginya,
Tuhan adalah The Ground of all Being.
Teolog sekular selanjutnya lebih radikal menafikan yang supranatural. Dietrich
Bonhoeffer dalam tulisan awalnya cukup konservatif dan kristosentris, namun pandangannya
berubah radikal ketika ia dipenjara karena konspirasi membunuh Hitler. Dalam Letters from
Prison ia menekankan kekristenan tanpa agama dan bahwa dunia sudah dewasa (world come of
age) dan kekristenan telah kehilangan sifat keagamaannya. Manusia sudah dewasa sehingga
tidak lagi perlu bergantung kepada yang disebut Allah. Lebih jauh John A.T. Robinson (Honest
to God) mulai dengan keyakinan bahwa gagasan Allah "di atas sana" telah kuno, tidak bermakna
lagi dan salah. Manusia dewasa harus meninggalkan konsep "proyeksi figur ayah ke angkasa"
yang dipercaya itu.
Pada tahun 1960-an konsep Nietzche mengenai "Kematian Allah" bangkit kembali di
kalangan beberapa teolog radikal. Paul van Buren (The Secular Meaning of the Gospel)
mengungkapkan gagasan radikalnya, dan dari judul bukunya kita dapat mengetahui kemana arah
radikalisme Gabriel Vahanian (The Death of God: The Culture of Our Post-Christian Era).
Harvey Cox (The Secular City) menyinggung tema yang sama. Di kalangan Roma Katolik,
Robert Adolfs (The Grave of God) sampai menerima kutukan dari masyarakat disekitarnya. Yang
lebih radikal lagi kita temukan dalam tulisan Thomas J.J. Altizer (The Gospel of Christian
Atheism).
Kelihatannya ada gejala menarik untuk diamati sebagai Masa Ke-empat yang bisa
ditambahkan dalam tiga pembagian yang disebut Britannica, yaitu pada masa tahun 1960-an
dibalik gencarnya Liberalisme Radikal yang bukan saja menafikan Allah tetapi menganggap
Allah telah mati dan sudah dikubur, dunia mengalami kekosongan batin/rohani yang luar biasa
yang dikenal dengan Era Posmo (Postmodernism) dimana ketika Modernisme tidak lagi
memadai terjadi pencarian manusia kembali akan nilai-nilai transendental yang mereka cari
dalam agama-agama mistik Timur (New Age). Di kalangan teolog Liberal ada juga usaha untuk
kembali membuka diri kepada hal-hal yang dulu dinafikan, hanya sayangnya mereka tidak
kembali kepada supranaturalisme Alkitab tetapi lari kepada mistikisme/gnostikisme yang dahulu
dikritik oleh Bultman sebagai yang harus didemitologisasikan.
Bila semula Liberalisme mempunyai andil memperbaiki beberapa kekeliruan
Konservativisme ekstrim, ia tidak memberi jalan keluar yang lebih baik, malah nafas kebebasan

itu berangsur-angsur membawa manusia kepada peninggian diri dan akhirnya makin menafikan
yang kekal dan Tuhan dalam bentuk Liberalisme yang makin ekstrim.
Sumber: Herlianto,Liberalisme, http://artikel.sabda.org/node/714, 00.20 AM

Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme


Liberalisme telah masuk ke dalam semua kelompok masyarakat manusia. Tidak terkecuali
kaum muslimin. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam pun
demikian. Pengaruh liberalisme telah merasuk ke dalam semua lini kehidupan banyak
masyarakat kaum muslimin di negeri ini.
Selain faktor internal kaum muslimin yang lemah dari sisi komitmen mereka terhadap
agamanya, terutama persoalan yang berkaitan dengan akidah, tersebarnya aliran pemikiran
liberalisme tidak lepas dari peran Barat yang sangat giat menyebarkannya melalui kekuatan
politik, ekonomi dan teknologi informasi yang mereka miliki. Dan disinyalir, kaum muslimin
adalah sasaran utama dari invansi pemikiran ini. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh
Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul Clash Of Civilization (Benturan
Peradaban), setelah jatuhnya aliran Komunisme, maka tantangan Barat selanjutnya adalah Islam.
Menurutnya, bahaya Islam lebih berat dari peradaban-peradaban yang lain seperti Cina, Jepang
dan negeri-negeri Asia Utara yang lain.
Selain itu, keyakinan Barat terhadap konsep liberal di antaranya juga diinspirasi oleh tesis
Francis Fukuyama dalam The End Of History (Akhir Sejarah) yang menyebutkan bahwa
demokrasi liberal adalah titik akhir dari evolusi sosial budaya dan bentuk pemerintahan manusia.
Sebagai umat Islam, tentu kita tidak ingin peradaban Islam yang di bangun diatas akidah
dan nilai-nilai agama Allah ini dirusak oleh orang-orang kafir dengan pemikiran-pemikiran luar
itu. Islam adalah agama yang sempurna dengan ajaran yang bersumber dari wahyu Allah,
Pencipta yang Mahamengetahui segala kebutuhan makhluk-makhluk-Nya. Karenanya Islam
tidak membutuhkan isme-isme dan ideologi dari luar. Allah berfirman:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maidah [5]:
3)

Sejarah Liberalisme

Sejarah kemunculan liberalisme terbentang dari sejak abad ke-15, saat Eropa memulai era
kebangkitan (Renaissance) mereka sampai sekitar abad ke-18 masehi, setelah sebelumnya dari
sejak abad ke-5, orang-orang Eropa hidup dalam era kegelapan (Dark Ages).
Dr. Abdurrahim Shamyil mengatakan, Liberalisme secara teori politik, ekonomi dan
sosial tidak terbentuk dalam satu waktu dan oleh satu tokoh pemikir, akan tetapi ia dibentuk oleh
sejumlah pemikir. Liberalisme bukan pemikiran John Luke (w 1704), bukan pemikiran Rousseau
(1778), atau pemikiran John Stuart Mill (w 1873), akan tetapi setiap dari mereka memberikan
konstribusi yang sangat berarti untuk ideologi liberalisme.

Sejarah liberalisme dimulai sebagai reaksi atas hegemoni kaum feodal pada abad
pertengahan di Eropa. Sebagaimana diketahui, Kristen adalah agama yang telah mengalami
perubahan dan penyimpangan ajaran. Pada tahun 325 M, Imperium Romawi mulai memeluk
agama Kristen yang telah mengalami perubahan tersebut, yaitu setelah agama Kristen merubah
keyakinan tauhid menjadi trinitas dan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.
Pada saat yang sama, sistem politik yang dianut oleh penguasa untuk memerintah
rakyatnya ketika itu adalah feodalisme; sistem otoriter yang zalim, menekan dan memasung
kebebasan masyarakat. Sistem feodal berada pada puncaknya di abad ke-9 Masehi ditandai
dengan munculnya kerajaan-kerajaan dan hilangnya pemerintahan pusat. Kaum feodal terbagi
menjadi tiga unsur ketika itu; (1) intitusi gereja, (2) kaum bangsawan dan (3) para raja.
Semuanya memperlakukan rakyat yang bermata pencaharian sebagai petani dengan otoriter,
zalim dan sewenang-wenang.
Kehidupan beragama dibawah institusi gereja juga sarat dengan penyimpangan.
Tersebarnya peribadatan yang tidak memiliki landasan dalam kitab suci dan merebaknya surat
pengampunan dosa adalah diantaranya. Paus Roma, ketika mereka membutuhkan dana untuk
membiayai aktifitas Gereja, mereka menerbitkan surat pengampunan dosa dan menghimbau
masyarakat untuk membelinya dengan iming-iming masuk surga. Pendapat-pendapat tokoh
agama pun bersifat absolut dan tidak boleh digugat. Alquran juga menyebutkan di antara
penyimpangan mereka:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya
disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At Taubah [9]: 31)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim
Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan
mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. At Taubah [9]: 34)
Penyimpangan keyakinan, ditambah dengan sistem politik otoriter inilah faktor utama
yang kemudian melahirkan pemikiran liberal. Saat masyarakat tertekan dan hidup dalam
kezaliman, muncullah reaksi yang bertujuan kepada kebebasan hidup. Hal yang telah menjadi
sunnatullah.
Kesadaran masyarakat Eropa yang ingin bebas dari segala bentuk tekanan itu
mengharuskan mereka untuk melakukan tranformasi pemikiran. Diantara proses transformasi
pemikiran ini adalah reformasi agama. Pada akhir abad ke-15, muncul seorang tokoh Gereja asal
Jerman bernama Martin Luther (w 1546), kemudian diikuti oleh John Calvin (w 1564), lalu John
Nouks (w 1572). Mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja Katolik yang kemudian mereka
beri nama Protestan.
Gerakan reformasi agama yang dilakukan oleh Luther ini memiliki pengaruh besar dalam
sejarah liberalisme selanjutnya. Rumusan pemikiran Luther dapat disimpulkan menjadi beberapa
poin berikut:
1.
Otoritas agama satu-satunya adalah teks-teks Bible dan bukan pendapat tokohtokoh agama.
2.
almasih.
3.

Pengingkaran terhadap sistem kepausan gereja yang berposisi sebagai khalifah

Menegasikan keyakinan pengampunan atau tidak diampuni (dari institusi geraja).

4.
Ajakan kepada liberalisasi pemikiran, keluar dari tirani tokoh agama dan
monopoli mereka dalam memahami kitab suci, klaim rahasia suci serta pengabaian peran akal
atas nama agama.
Gerakan ini disebut sebagai gerakan liberal karena ia bersandar kepada kebebasan berfikir
dan rasionalisme dalam menafsirkan teks-teks agama.
Perlawanan terhadap gereja dan feodalisme terus berlanjut di Eropa. Runtuhnya
feodalisme menutup abad pertengahan dan abad selanjutnya disebut dengan abad pencerahan
(Enlightment). Beberapa tokoh pemikiran muncul. Di Perancis, Jean Jacues Rousseau (w 1778)
dan Voltaire (w 1778) adalah diantara pemikir yang perannya sangat berpengaruh. Karya-karya
mereka berdua menjadi inspirasi gerakan politik Revolusi Perancis pada tahun 1789, puncak dari
perlawanan terhadap hegemoni feodal.

Namun, gerakan yang tadinya sebagai reformasi agama, pada perkembangan selanjutnya
perlawanan terhadap gereja mengarah kepada atheisme. Para pemikir dan filusuf Perancis ratarata adalah para atheis yang tidak mengakui keberadaan agama. Sejarah panjang agama Kristen
dari sejak penyimpangan dan perubahan ajaran hingga perang agama yang meletus akibat
reformasi Luther memunculkan kejenuhan yang berakibat hilangnya kepercayaan masyarakat
terhadap agama. Kebebasan rasional (akal) secara mutlak akhirnya menjadi ciri utama dari
gerakan ini.
Dr. Abdulaziz al Tharify mengatakan, Pengagungan terhadap akal semakin nampak pada
waktu-waktu revolusi. Mereka mengangkatnya dan mempertuhankannya. Sebagian mereka
bahkan mengatakan bahwa ini adalah penyembahan terhadap akal. Para tokoh revolusi mengajak
orang-orang untuk meninggalkan agama, terkhusus agama katolik, mereka memutuskan
hubungan Perancis dengan Vatikan. Dan pada tanggal 24 November 1793 M, mereka menutup
gereja-gereja di Paris, merubah sekitar 2400 fungsi gereja menjadi markaz-markaz rasionalisme
dan untuk pertama kalinya digagas soal kebebasan kaum wanita.
Intinya, titik tolak liberalisme berangkat dari perlawanan terhadap penguasa absolut raja
dan institusi gereja yang mengekang kebebasan masyarakat.
Pengertian Liberalisme
Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah derivasi dari kata
liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa Perancis) yang berarti bebas. Adapun
secara terminologi, para peneliti mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang
cukup sulit untuk didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya
dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan orientasi yang
berbeda-beda.
Dalam al Mawsah al Arabiyyah al lamiyyah dikatakan, Liberalisme termasuk
terminologi yang samar, karena makna dan penegasannya senantiasa berubah-ubah dalam bentuk
yang berbeda dalam sepanjang sejarahnya.
Namun demikian, liberalisme memiliki esensi yang disepakati oleh seluruh pemikir liberal
pada setiap zaman, dengan perbedaan-perbedaan trend pemikiran dan penerapannya, sebagai
cara untuk melakukan reformasi dan menciptakan produktifitas. Esensi ini adalah, bahwa
liberalisme meyakini kebebasan sebagai prinsip dan orientasi, motivasi dan tujuan, pokok dan
hasil dalam kehidupan manusia. Ia adalah satu-satunya sistem pemikiran yang hanya
menghendaki untuk mensifati kegiatan manusia yang bebas, menjelaskan dan mengomentarinya.
Dr. Sulaiman al Khurasyi mengatakan, Liberalisme adalah aliran pemikiran yang
berorientasi kepada kebebasan individu, berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan

setiap orang, meyakini bahwa tugas pokok negara adalah melindungi kebebasan warganya
seperti kebebasan berfikir dan berekspresi, kepemilikan swasta dan yang lainnya. Aliran
pemikiran ini membatasi peran penguasa dan menjauhkan pemerintah dari kegiatan pasar. Aliran
ini juga dibangun diatas prinsip sekuler yang mengagungkan kemanusiaan dan berpandangan
bahwa manusia dapat dengan sendirinya mengetahui segala kebutuhan hidupnya.
Dalam Acodemik American Ensiclopedia dikatakan, Sistem liberal yang baru (yang
termanifestasi dalam pemikiran abad pencerahan) memposisikan manusia sebagai tuhan dalam
segala hal. Ia memandang bahwa manusia dengan seluruh akalnya mampu memahami segala
sesuatu. Mereka dapat mengembangkan diri dan masyarakatnya melalui kegiatan rasional dan
bebas.
Karakteristik Liberalisme
Walaupun liberalisme bukan terdiri dari satu trend pemikiran, namun kita dapat mengenali
aliran ini dengan karakteristik khusus. Karakter paling kuat yang ada dalam aliran ini adalah:

Kebebasan Individu

Setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan siapa pun, termasuk negara.
Fungsi negara adalah melindungi dan menjamin kebebasan tersebut dari siapapun yang mencoba
untuk merusaknya. Oleh karena itu, liberalisme sangat mementingkan kebebasan dengan semua
jenisnya. Kekebasan berkreasi, berpendapat, menyampaikan gagasan, berbuat dan bertindak,
bahkan kebebasan berkeyakinan adalah tema yang mereka ingin wujudkan dalam kehidupan ini.
Kebebasan dalam pandangan mereka tidak berbatas, selama tidak merugikan dan
bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Kaidah kebebasan mereka berbunyi, Kebebasan
Anda berakhir pada permulaan kebebasaan orang lain.

Rasionalisme

Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai segala


kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah akal atau rasio. Karakter ini
sangat kentara dalam pemikiran liberal. Rasionalisme diantaranya nampak pada:
Pertama, keyakinan bahwa hak setiap orang bersandar kepada hukum alam. Sementara
hukum alam tidak dapat diketahui kecuali dengan akal melalui media indera/materi atau
eksperimen. Dari sini kita mengenal aliran filsafat materialisme (aliran filsafat yang mengukur
setiap kebenaran melalui materi) dan empirisme (aliran filsafat yang menguji setiap kebenaran
melalui eksperimen).

Kedua, negara harus bersikap netral terhadap semua agama. Karena tidak ada kebenaran
yang bersifat yakin atau absolut, yang ada adalah kebenaran yang bersifat relatif. Ini yang
dikenal dengan relatifisme kebenaran.
Ketiga, perundang-undangan yang mengatur kebebasan ini semata-mata hasil dari
pemikiran manusia, bukan syariat agama.

Perspektif Islam
Dari latar belakang sejarah liberalisme yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menilai
bahwa liberalisme jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Sejarah kemunculannya
yang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial-politik dan problem teologi Kristen ketika itu dapat
kita jadikan alasan bahwa Islam tidak perlu, dan tidak akan perlu menerima liberalisme. Karena
sepanjang sejarahnya, Islam tidak pernah mengalami problem sebagaimana yang dialami oleh
agama Kristen. Oleh karena itu, tidak ada alasan mendasar bagi Islam untuk menerima konsep
liberalisme dengan semua bentuknya.
Apalagi jika ditilik dari konsep pokoknya, pemikiran liberalisme sangat bertentangan
dengan ajaran Islam. Kebebasan mutlak ala liberalisme adalah kebebasan yang mencederai
akidah Islam, ajaran paling pokok dalam agama ini. Liberalisme mengajarkan kebebasan
menuruti semua keinginan manusia, sementara Islam mengajarkan untuk menahannya agar tidak
keluar dari ketundukan kepada Allah. Hakikat kebebasan dalam ajaran Islam adalah, bahwa
Islam membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, kepada penghambaan
kepada Rabb makhluk.
Begitu pun dengan otoritas akal sebagai sumber nilai dan kebenaran dalam ajaran
liberalisme. Sumber kebenaran dalam Islam adalah wahyu, bukan akal manusia yang terbatas
dalam mengetahui kebenaran. Dengan demikian, menerima liberalisme berarti menolak Islam,
dan tunduk kepada Islam berkonsekwensi menanggalkan faham liberal.
Wallhu alam wa shallallhu ala nabiyyin Muhammad
Sumber:
Muslim.or.id,
Menulusuri
Akal
Pemikiran
Liberalisme,
http://muslim.or.id/bahasan-utama-2/menelusuri-akar-pemikiran-liberalisme.html, 00.25
AM

Liberalisme Agama & Budaya; Strategi Penjajah


Hancurkan Islam, Merusak Bangsa
Kaum liberalis terus berupaya menghancurkan umat dan merusak bangsa ini. Dalam
kerangka hukum, diajukanlah RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG). Sebagaimana
pernah dibahas dalam buletin ini, RUU KKG mengandung muatan yang bertentangan dengan
syariat Islam, menyuarakan kebebasan perilaku dan ekspresi seksual, dan bisa merusak tatanan
institusi keluarga dan masyarakat.
Ditengah proses itu yang terus berjalan, seruan liberalisme digaungkan kaum liberalis
dengan mengundang Irshad Manji, tokoh liberalis penyeru homoseksual dan lesbian. Terangterangan ia mengaku seorang lesbian dan memperjuangkan kaum gay. Ia juga menghujat dan
melecehkan ajaran Islam.
Serangan liberalisme budaya dan agama itu juga makin deras dialirkan melalui dunia
hiburan dengan rencana konser penyanyi kontroversial Lady Gaga. Artis ini bukan saja terkenal
karena penampilannya yang vulgar, tapi juga karena lagu-lagunya yang cabul dan mengajak
pendengarnya melakukan penyimpangan seksual seperti homoseksual.
Liberalisme Budaya & Agama Strategi Penjajah
Seruan penegakkan syariat dan khilafah makin bergema di negeri ini. Sambutan berbagai
kalangan umat pun makin menguat. Hal itu tidak disukai oleh penjajah karena akan mengancam
hegemoninya. Hal itu juga tidak disukai oleh orang-orang liberal. Sebab akan mengancam
kepentingan mereka. Untuk menghambat kebangkitan Islam itu di tengah umat, maka mereka
pun menjalankan strategi liberalisasai agama dan budaya di negeri ini dan tentu saja menjadikan
umat Isam sebagai sasarannya.
Strategi liberalisasi untuk mengacak-acak dan menghancurkan umat Islam dilakukan
melalui setidaknya tiga cara. Pertama, adalah membangun kerangka hukum yang liberal.
Diantara upaya ini adalah diajukannya RUU KKG yang sedang dibahas di DPR RI. Dalam RUU
tersebut terkandung muatan yang bertentangan dengan syariat Islam dan berpotensi merusak
tatanan sosial serta keluarga muslim. Muatan RUU KKG itu akan merusak syariah Islam
khususnya diantaranya yang terkait kewajiban menutup aurat, pernikahan, peran wanita sebagai
isteri dan ibu, kepemimpinan laki-laki, peran pencari nafkah, dsb. Perbedaan peran dan

tanggungjawab laki-laki dan perempuan menurut syariah akan dihilangkan dan harus disetarakan
dengan dalih keadilan dan kesetaraan jender. Selain itu, RUU tersebut juga menyerukan
kebebasan tiap orang (khususnya perempuan) untuk berperilaku dan mengekspesikan diri secara
seksual. RUU ini ingin memformat umat untuk menerima persamaan jender dan peran jender
yang bisa dipertukarkan. Pada akhirnya ini adalah bagian dari pendahuluan agar umat menerima
ekspresi transjender.
Kedua, kaum liberalis juga terus berusaha membongkar pemikiran Islam dan sebaliknya
menyerukan ide liberalisme. Disinilah konteks kedatangan Irshad Manji ke negeri ini. Manji
berani menyatakan bahwa di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat setan yang lalu diubah oleh
Rasulullah. Banyak yang tidak tahu bahwa para filsof Muslim selama ratusan tahun telah
berbicara mengenai ayat-ayat setan, di mana Nabi menerima ayat-ayat Quran yang kemudian
beliau sadari lebih memuja para berhala ketimbang Tuhan. Nabi lalu menghapus ayat-ayat
tersebut beliau mengedit Quran. (http://islamlib.com/id/artikel/irshad-manji-saya-seorangpluralis-bukan-relativis)
Ucapan Manji itu jelas merupakan kelancangan yang kiranya hanya dilakukan oleh kaum
kafir. Ucapan itu hanyalah cermin ketidakpercayaan kepada al-Quran yang merupakan wahyu
dari Allah SWT yang Allah jamin bebas dari campur tangan siapapun termasuk Rasulullah saw.




Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami
potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat
menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Al Quran itu benarbenar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya kami benar-benar
mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya). (QS. al-Haqqah [69]:
44-49)
Disamping itu, kedatangan Manji itu adalah untuk menyerukan kebebasan seksual dan
jender. Kedatangannya itu adalah bagian dari pengkondisian agar ada pengakuan dan penerimaan
terhadap perilaku transjender. KH Hasyim Muzadi mengatakan, Umat Islam dan seluruh umat
beragama di Indonesia harus mewaspadai karena gerakan tersebut merupakan conditioning
(pengkondisian) untuk merintis pengesahan undang-undang perkawinan sejenis, laki-laki kawin
dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan (republika.co.id, 7/5).
Ketiga, agenda liberalisme di tanah air juga dilakukan melalui penyebaran budaya dan
gaya hidup liberal. Gaya hidup hedonis yang mengusung kebebasan seksual ditunjukkan oleh
Irshad Manji dan juga pesohor Lady Gaga.

Manji terang-terangan menyatakan dirinya sebagai seorang lesbian. Ia pun membela kaum
gay. Ia berilusi bahwa kaum gay juga ciptaan Allah, dan ciptaan Allah itu sempurna. Maka jika
ada yang menghujat kaum gay sama saja mengatakan bahwa Allah telah melakukan kesalahan
dalam proses penciptaan. Ia pun menampik realitas azab Allah terhada kaum nabi Luth as adalah
karena perbuatan homoseksual mereka, karena menurutnya bisa jadi azab itu disebabkan faktor
lain seperti tindak kekerasan seksual.
Pernyataan ini jelas permainan logika yang dangkal dan mengingkari al-Quran. Allah
SWT sendiri menyatakan bahwa azab yang Allah timpakan kepada kaum nabi Luth as.
disebabkan perbuatan keji mereka melakukan tindakan homoseksual (QS al-Araf [7]: 80-81).
Gaya hidup liberal juga yang disebarkan melalui konser penyanyi Lady Gaga bulan depan.
Melalui lirik lagu, video klip dan asesoris yang dikenakan, penyanyi asal Amerika ini
menyatakan dukungannya terhadap penyimpangan seksual, termasuk penggunaan kekerasan
dalam hubungan intim.
Karena itulah pemerintah Korea Selatan melarang remajanya untuk menonton konser
Lady Gaga. Kelompok-kelompok Kristen Korea Selatan juga menentang kehadiran penyanyi
tersebut. Namun ironisnya, di negeri muslim ini penguasa dan politisinya yang muslim justru
tidak melarangnya. Bahkan fatwa yang mengharamkan konser Lady Gaga justru dicibir.
Sekretaris Fraksi PKB DPR Hanif Dhakiri menyatakan kalau fatwa itu berlebihan. Ia berdalih
pelarangan itu akan merugikan penyelenggara. Lagi pula, Indonesia bukan negara Islam, jadi
ukuran kepantasan umumnya pasti berbeda dengan negara Islam, kata Hanif (seruu.com, 21/3).
Agenda-agenda liberalisme agama dan budaya itu harus diwaspadai. Sebab agenda
liberalisme itu tidak lain ditujukan untuk menghancurkan Islam dan merusak umat. Ketika kaum
Muslimin tidak lagi terikat dengan agamanya, budaya dan perilakunya liberal dan gaya hidupnya
hedonis maka penjajahan yang ada di tengah umat ini tidak akan bisa dilenyapkan. Disinilah
sebenarnya semua agenda liberalisasi agama dan budaya itu merupakan bagian dari strategi
penjajah untuk melanggengkan penjajahannya.
Sikap Islami
Ajaran liberalisme jelas bertentangan dengan Islam dikarenakan semua amal perbuatan
seorang muslim itu wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah SWT. Aneh, bila ada orang
yang mengaku muslim, mengakui Allah sebagai Rabbnya tapi tidak mau taat kepadaNya. Sama
saja ia mengatakan, Ya Allah, Engkau memang Tuhanku yang menciptakanku, tapi jangan cobacoba Engkau atur hidupku di dunia. Hidupku adalah hakku, bukan hakMu mengatur diriku!.
Hal itu bertentangan dengan makna syahadat. Konsekuensi dari keimanan adalah taat pada
Allah dan RasulNya. Bahkan Allah SWT berfirman:



Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.(QS. an-Nisa [4]: 65).
Disamping itu, Allah telah menetapkan hukum-hukumNya keseluruhannya adalah demi
kebaikan umat manusia, bukan untuk menyesengsarakan. Allah SWT berfirman:

Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (QS. Thaha
[20]: 2).
Allah juga menegaskan bahwa Syariah Islam diturunkan tidak lain agar menjadi rahmat
bagi umat manusia. Maka rahmat itu tidak akan terwujud dengan mengikuti ide-de liberalisme
yang saat ini gencar diserukan kepada kaum muslimin. Rahmat itu hanya bisa terwujud dengan
mengambil Islam dan menerapkannya secara riil di tengah kehidupan.
Wahai kaum muslimin!
Ide-ide liberalisme hanya akan menyengsarakan umat manusia. Sebaliknya hanya Islam
yang memberikan kebaikan bagi umat manusia. Untuk mewujudkan kebaikan itu tidak ada jalan
lain kecuali dengan menerapkan syariah Islam secara total dalam bingkai al-Khilafah arRasyidah ala minhaj an-nubuwwah. Inilah yang saat ini harus kita perjuangkan dengan penuh
kesungguhan sebagai bukti keimanan kita dan bentuk tanggungjawab dan belas kasih kita kepada
seluruh umat manusia. Wallh alam bi ash-shawb.
Sumber: HizbutTahrirIndonesia, Liberalisme Agama & Budaya; Strategi
Penjajah
Hancurkan
Islam,
Merusak
Bangsa,
http://hizbuttahrir.or.id/2012/05/10/liberalisme-agama-strategi-penjajah-hancurkan-islammerusak-bangsa/, 00.40 AM

Monyet, Ikan dan Liberal Sekularisme


Alkisah, seekor monyet dan seekor ikan menjalin persahabatan. Pada suatu hari, badan si
ikan gemetaran terbaring lemah, di tepi sungai karena sakit. Si monyet sebagai sahabat sedih
melihatnya dan mengangkat si ikan ke atas pohon, memeluknya erat dengan maksud untuk
menghangatkan tubuh si ikan.
Tidak berapa lama kemudian si ikan pun mati karena kehabisan nafas.
Secara umum, kehidupan manusia di dunia ini sedang sakit.
Peperangan, kesenjangan ekonomi dan sosial begitu nyata dimana-mana. Munculllah
sebagian manusia yang prihatin dengan keadaan ini. Mereka mengambil kesimpulan instan yang
berlandaskan atau didominasi oleh prasangka bahwa agama adalah salah satu faktor utama
penyebab permasalahan ini.
Melahirkan pemikiran bahwa agama harus dipisahkan dari institusi pengendali komunitas.
Menganggap bahwa agama adalah candu, racun bagi kemanusiaan.
Manusia-manusia penganut liberalisme sangat menyukai konsep pemisahan ini, yang
diberi nama sekularisme. Konsep yang sangat sesuai sekali dengan keinginan mereka. Maka
lahirlah penganut-penganut liberal sekularisme.
Penganut liberal yang mengutamakan hasrat-hasrat pribadi, diantaranya yang sangat
menonjol adalah kebebasan seksual. Menganggap bahwa kekuatan dan kekuasaan adalah
faktor yang paling menentukan manusia bisa bertahan hidup secara ekonomi, sosial, budaya dan
politik, persis seperti hukum rimba, serta menafikan konsep pencegahan.
Liberalisme adalah konsep keyakinan yang sangat disukai oleh manusia-manusia yang
mengutamakan hasrat pribadinya.
Liberal sekularis menganggap bahwa keyakinan mereka adalah obat bagi kehidupan
manusia yang sedang sakit. Namun, dalam kenyataannya pemikiran liberal sekuleris membuat
penyakit kehidupan manusia semakin parah. Manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Yang dilakukan oleh liberal sekularis terhadap kehidupan manusia yang sedang sakit,
persis seperti yang dilakukan oleh si monyet terhadap si ikan yang sakit.
Sumber : Rahmad Agus Koto, Monyet,Ikan, dan Liberal Sekularisme,
http://filsafat.kompasiana.com/2013/12/16/monyet-ikan-dan-sekulerisme-619040.html, 00.45
AM

LIBERALISME
Liberalisme berasal dari kata bahasa Spanyol liberales, yang artinya nama partai politik.
Liberales sebagai partai politik mulai berkembang di Spayol pada awal abad ke-20 dalam rangka
memperjuangkan pemerintah yang berdasarkan konstitusi. Pengertian liberalisme adalah suatu
paham yang mengutamakan kemerdekaan individu yang merupakan pokok utama paham ini.
Liberalisme melahirkan konsep pentingnya kebebasan hidup dalam berpikir, bertindak, dan
berkarya. Dalam paham liberalisme, Negara harus tetap menjamin kebebasan individu, dan
untuk itu manusia secara bersama-sama mengatur negara. Dalam paham ini, kebebasan individu
merupakan dasar dari demokrasi.
Perkembangan liberalisme sangat dipengaruhi oleh Revolusi Amerika (1776) yang
melahirkan Declaration of Independence (pernyataan kemerdekaan) yang isinya menyebutkan
bahwa tidak ada kekuasaan adil tanpa persetujuan rakyat. Liberalisme di Eropa semakin meluas
setelah revolusi Prancis (1789). Liberalisme berkembang sangat pesat di kota-kota besar Eropa.
Para pendukung utamanya adalah kaum Borjuis dan kaum terpelajar kota. Basis pendukungnya
tidak hanya berasal dari satu daerah atau satu bangsa tetapi sangat luas di berbagai kota besar
Eropa, sehingga aliran liberalisme tidak memiliki ikatan kuat. Unsur fanatisme kekeluargaan atau
adat istiadat daerah melebur dalam kelompok. Kehidupan kota yang bebas dan keras mendorong
mereka untuk memikirkan keperluan sendiri dan bersaing secara ketat satu dengan lainnya.
Secara universal, paham liberalisme berkembang sangat menonjol dalam bidang politik,
ekonomi, agama, dan pers. Dalam bidang politik, paham liberal berpengaruh terhadap
perkembangan paham demokrasi dan nasionalisme. Masyarakat yang terdiri dari individuindividu mempunyai hak untuk menentukan segala kepentingan masyarakat. Hak menentukan ini
diwujudkan dalam sistem demokrasi liberal dan akhirnya melahirkan parlemen sebagai lembaga
pemerintah rakyat. Untuk memilih para anggota parlemen diadakan pemilu. Dalam pemilu setiap
orang memberikan satu suara. Dalam pemilu terjadi persaingan kekuasaan politik. Dengan
menjadi anggota parlemen seorang anggota mempunyai pengaruh dalam menetapkan undangundang atau jatuh bangunnya sebuah kabinet yang sedang memerintah.
Sumber: http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-liberalisme-apa-itu.html#_,
00.48AM

IDE
SESAT
LIBERALISME

SEKULARISME,

PLURALISME

DAN

Sekularisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang
menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan atau negara harus berdiri terpisah dari agama.
Jadi Sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama itu hanya
urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk
urusan kehidupan, maka agama tidak boleh ikut campur.
Pluralisme dalam ilmu sosial, adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa
kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain.
Pluralisme juga menunjukkan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran universalnya
masing-masing.
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik
yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara
umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan
berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari
pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas,
ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu
sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan
individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya
kapitalisme. Secara umum liberalisme menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi
akal manusia.
MUI sudah pernah memfatwakan keharaman sekularisme, pluralisme dan liberalisme pada
Munas ke VII tahun 2005 , karena ini merupakan ide sesat dan merusak umat Islam.
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:
1.
Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama
adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk
agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang
lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup
dan berdampingan di surga.

2.
Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu
terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
3.
Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Quran & Sunnah) dengan
menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai
dengan akal pikiran semata.
4.
Sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk
mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya
dengan berdasarkan kesepakatan sosial.
Allah SWT berfirman :
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan terima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imran
[3]: 85)
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran [3]: 19)
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. al-Kafirun [109] : 6).
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Azhab [33:36).
Islam memerintahkan setiap muslim untuk berpegang teguh kepada hukum syara. Al
Qur'an memerintahkan agar manusia berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah SWT dan
hukum-hukum Allah SWT di akhir jaman adalah risalah yang dibawa Rasulullah Saw, yaitu Al
Qur'an dan Sunnah (Al Maidah: 48-49)

Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme yang diusung oleh kalangan yang
mengatasnamakan Islam, sesungguhnya adalah bentuk fitnah yang besar terhadap Islam.
Rasulullah Saw telah menegaskan:
1.
Imam Muslim (w. 262 H) dalam Kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda
Rasulullah saw :
Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi
maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan

tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka. (HR
Muslim).
2.
Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-Muslim, antara lain
Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, Al-Najasyi Raja Abesenia yang
beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, dimana Nabi mengajak mereka untuk
masuk Islam. (riwayat Ibn Sad dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih
al-Bukhari).
3.
Nabi saw melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas
non-Muslim seperti Komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di
Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Aththab adalah tokoh
Yahudi Bani Quradzah (Sayyid Bani Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian sikap kita terhadap ketiga ide sesat ini adalah sebagai berikut:
1.
Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada
bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
2.
Agama.

Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme

3.
Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti
haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk
agama lain.
4.
Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas
agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam
bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain
sepanjang tidak saling merugikan.
Sumber : Sally Setianingsih, Ide Sesat Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme,
https://www.facebook.com/notes/angga-febrian-al-farisyi/ide-sesat-sekularisme-pluralisme-danliberalisme/523009091046328, 00.50 AM

Bahaya Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme


Wacana Pluralisme dan temen-temennya ini tak pernah habis menghantui dan merusak
kaum Muslim. Walaupun MUI telah mengeluarkan fatwa haramnya paham sekularisme,
liberalisme dan pluralisme pada tahun 2005, tetap saja pluralisme melenggang kangkung
diusung media.
Walhasil, umat Islam pun menjadi bingung, semua yang pro dan kontra dengan sepilis
(sekulerisme-pluralisme-liberalisme) ini semua mengatasnamakan Islam, mana yang harus
dipercaya, yang mana yang harus diikuti menjadi samar. Banyak diantara kaum muslim akhirnya
yang memilih untuk tidak perduli. Oleh karena itu tulisan ini bertujuan untuk meletakkan sebuah
pemahaman yang benar tentang faham Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme.
Secularism
means:
in philosophy, the belief that life can be best lived by applying ethics, and the universe best
understood, by processes of reasoning, without reference to a god or gods or other supernatural
concepts.
in society, any of a range of situations where a society less automatically assumes religious
beliefs to be either widely shared or a basis for conflict in various forms, than in recent
generations
of
the
same
society.
in government, a policy of avoiding entanglement between government and religion (ranging
from reducing ties to a state church to promoting secularism in society), of non-discrimination
among religions (providing they dont deny primacy of civil laws), and of guaranteeing human
rights of all citizens, regardless of the creed (and, if conflicting with certain religious rules, by
imposing
priority
of
the
universal
human
rights).
Secularism can also mean the practice of working to promote any of those three forms of
secularism.
Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Secularism Secara filosofi, pandangan yang
menganggap bahwa kehidupan dapat dijalani paling baik dengan menggunakan etika, dan
pengertian paling baik dari alam semesta, melalui proses argumentatif, tanpa merujuk kepada
tuhan atau (banyak) tuhan atau konsep supernatural.

Pada masyarakat, semua dari kisaran situasi dimana suatu masyarakat lebih sedikit yang
secara otomatis mengasumsikan kepercayaan agama sebagai andil besar atau dasar daripada
masalah dalam berbagai bentuk daripada generasi belakangan di masyarakat yang sama.
Pada pemerintahan, kebijaksanaan yang menghindari keterkaitan antara pemerintahan dan
agama (berkisar dari mengurangi keterikatan pada negara-gereja sampai mempromosikan
sekularisme pada masyarakat), non-diskriminasi pada agama (memaksa mereka untuk tidak
mengingkari keutamaan dari hukum sipil), dan menjamin HAM semua warganegara (dan, bila
bermasalah dengan aturan agama tertentu, dengan memprioritaskan hukum hak asasi universal)
Sekularisme juga bisa berarti mempraktekan atau berusaha untuk mempromosikan/menyebarkan
salah satu dari tiga bentuk sekularisme diatas.
Liberalism is a political current embracing several historical and present-day ideologies
that claim defense of individual liberty and private property as the purpose of government. It
typically favors the right to dissent from orthodox tenets or established authorities in political or
religious matters. In this respect, it is sometimes held in contrast to conservatism. Since
liberalism also focuses on the ability of individuals to structure their own society, it is almost
always opposed to totalitarianism and collectivist ideologies, particularly communism.
Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Liberalism
Liberalisme adalah gerakan politik mencakup pandangan kuno dan modern yang
menjamin kebebasan individual dan kepemilikan privat sebagai tujuan dari pemerintahan.
Cirinya melindungi hak untuk bertentangan dari dalil/pengajaran agama atau menetapkan
kewenangan dalam masalah politik atau agama. Dalam pembahasan ini, liberalisme terkadang
kontras dengan konservatisme. Karena liberalisme memfokuskan kepada kemampuan individual
dalam membentuk struktur masyarakat, maka hampir selalu bertentangan dengan totaliterisme
dan ideologi kolektif (sosialis), khususnya komunisme

In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show


sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without
conflict or assimilation
Pluralism also implies the right of individuals to determine universal truths for
themselves.
Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Pluralism
Pada ilmu sosial, pluralisme adalah kerangka aktivitas interaksi dimana suatu kelompok
menunjukkan rasa hormat yang baik dan toleransi satu samalain, mereka saling mengakui dan
berinteraksi
tanpa
konflik
atau
asimilasi.

Pluralisme juga bahwa individu-individu mempunyai hak untuk memutuskan kebenaran


universal untuk mereka.

Dari pemaparan diatas telah sangat jelas sekali bahwa sesungguhnya sekularisme adalah
cara memandang kehidupan tanpa agama (outside the religion), dalam definisi modern juga bisa
dikatakan memisahkan agama dari kehidupan publik (negara). Awal munculnya pandangan ini
adalah ketika terjadi konflik antara agama katolik dan para cendekiawan di eropa yang
berlangsung pada abad pencerahan (enlightment ages) sekitar abad 16 sampai abad 17, yang
sebelumnya dilalui oleh abad gelap (dark ages) yaitu sekitar abad ke 5 sampai dengan abad ke
15. Penyebutan abad gelap ini adalah karena begitu tak teraturnya masyarakat eropa pasca
runtuhnya kekaisaran romawi (roman empire) pada tahun 410.
Keruntuhan romawi ini mengakibatkan banyak sekali tuan-tuan tanah (landlords) yang
mempunyai wilayah memisahkan diri menjadi suatu masyarakat tertentu, yaitu masyarakat
feodal dengan feodalisme sebagai pandangan hidupnya. Disini strata masyarakat biasanya
terbagi 6 yaitu bangsawan (landlords), ksatria (knights), rahib (clerics), prajurit (troops)
cendekiawan (scholars) dan rakyat (people). Abad gelap ini juga sering disebut abad agama (age
of faith) dikarenakan katolik yang dilegalkan menjadi agama negara pada tahun 391 sebelum
romawi runtuh.Dikatakan abad agama juga karena besarnya peranan rohaniwan dalam negara,
termasuk melegalisir para tuan tanah untuk mengeksploitasi rakyatnya, dan anggapan tuan tanah
adalah wakil dari tuhan adalah umum dalam masa ini. Gereja membentuk doktrin untuk terus
melanggengkan hubungan antara penguasa-rohaniwan ini, misalnya St. Augustine seorang uskup
di kota Hippo (sekarang Annaba, Algeria) dalam bukunya City of God (413-426) menyatakan
bahwa seharusnya umat kristiani tidak perlu peduli dengan kejadian di duia tetapi fokus kepada
penyelamatan (salvation) dan hidup setelah mati di dalam kota surgawi (Rosenwain, 2005).
Doktrin-doktrin semacamnya juga diberlakukan pada sains, misalnya teori geosentris yang
dikemukakan oleh gereja yang ditentang oleh Nicolaus Copernicus dengan teori heliosentrisnya
akhirnya berujung pada dianiayanya cendekiawan ini, begitu pula yang terjadi pada Galileo
Galilei dengan teori bumi bulatnya. Dalam kemasyarakatan doktrin gereja berhak menentukan
ajaran mana yang sesat (heretics) dan ajaran mana yang baik menurut mereka sendiri sehingga
kejadian ini menimbulkan banyak sekali protes bagi rakyat sipil dan para cendekiawan. Keadaan
ini terus berlanjut hingga abad ke 16.
Pada abad ke 17 dan 18 terjadi abad pencerahan (enlightment age) yang diawali oleh
banyaknya pemikir dan cendekiawan yang melihat bahwa alasan terjadinya abad gelap adalah
karena campur tangannya agama (katolik) dalam urusan negara, karena mereka memandang
justru kemunduran yang sangat besar terjadi pada masa pemerintahan agama ini. Para kaum

protestan pun menulis bahwa periode abad gelap adalah periode katolik yang terkorupsi sehingga
tidaklah murni lagi. Puncaknya terjadi pada masa renaissance (kelahiran kembali) dimana para
pemikiran para cendekiawan dan rakyat biasa melawan kepada tuan tanah dan rahib, karena
dinilai selama abad gelap agama dengan hak suci mereka (divine rights) telah menjadi sesuatu
yang melegitimasi eksploitasi terhadap mereka oleh tuan tanah, dan menuntut agar agama tidak
lagi dihubungkan dengan negara (sekular). Disinilah sekularisme lahir.
Setelah itu, para pemikir kemudian mengganti nilai-nilai serta standar-standar yang ada
pada masyarakat agar jangan sampai mengambil kembali agama untuk diterapkan dalam
masyarakat. Ide-ide derivat sekularisme inilah yang akhirnya mengejewantah dalam pemikiran
yang lain yaitu liberalisme, pluralisme, kapitalisme dan akhirnya demokrasi.
Sama seperti Liberalisme, pemikiran ini pun dibangun atas dasar pemisahan agama dari
negara. Para pemikir seperti John Locke (1632-1704)dan Baron de Montesquieu menyerukan
hak dasar manusia yaitu life, liberty and property sebagai suatu yang sangat diperlukan dalam
menciptakan suatu pemerintahan dan hidup yang stabil, sehingga tidak terjadi lagi eksploitasi
manusia oleh manusia yang lain, raja bukanlah figur suci yang mempunyai hak yang lebih di
mata hukum dan lain-lain, serta dan pemikir seperti Voltaire dan Immanuel Kant yang sangat
vokal terhadap pengekangan kebebasan atas nama tuhan oleh agama. Inilah yang akhirnya
mendasari demokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat, dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat. Mereka memilih sendiri pemerintahan mereka, membuat sendiri hukum
untuk mereka taati sendiri. Kedua pandangan ini (liberalisme dan demokrasi) oleh Adam Smith
dan David Ricardo dituangkan dalam bentuk kebebasan ekonomi dimana keuntungan terbesar
akan diperoleh apabila setiap individu dijamin haknya secara penuh oleh pemerintah untuk
memiliki sesuatu, tanpa atau dengan campur tangan yang seminimal mungkin dari pemerintah
yang saat ini kita kenal dengan sistem ekonomi kapitalisme. Didalam sistem pergaulan nilai-nilai
ini akhirnya menyamar menjadi budaya individualisme serta hedonisme. Di dalam sistem politik
berubah menjadi opportunisme dan didalam pendidikan menjadi materialisme. Intinya adalah
bahwa setiap orang dilahirkan bebas (liberty) dan hanya ia yang berhak menentukan jalan
hidupnya tanpa campur tangan atau dipengaruhi orang lain.
Dalam hal kehidupan beragama, pluralisme atau sinkretisme adalah turunan dari
sekularisme, dimana pandangan ini menyatakan pluralitas (beragamnya) manusia, pendapat atau
agama adalah suatu fakta yang tidak dapat ditawar-tawar lagi sehingga agar tidak menimbulkan
konflik dan masalah di dalam kehidupan bermasyarakat, maka tidak boleh ada manipulasi nilainilai kebenaran oleh suatu kelompok, agama atau individu manapun. Kebenaran itu relatif dari
mana kita memandang. Dengan kata lain semua agama adalah sama.
Walhasil, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya kemunculan sekularisme ini sendiri
adalah dikarenakan oleh pemikir dan cendekiawan serta rakyat jelata yang dikecewakan oleh
sistem pemerintahan agama (katolik), dan pemikiran derivatnya yaitu liberalisme dan pluralisme,

termasuk kapitalisme dan demokrasi adalah produk yang sengaja disiapkan untuk menjadi
tameng agar masyarakat eropa tidak lagi terjerumus pada trauma masa lalu, bersatunya negara
dan agama.
Berbeda dengan Islam, sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan islam justru tercapai
ketika Islam tidak hanya diposisikan sebagai agama ritual tetapi juga sebagai aturan hidup yang
mengatur seluruh aspek dalam kehidupan. Menarik bila mengutip pernyataan Michael H. Hart,
dalam kata pengantar bukunya yang berjudul 100 Tokoh paling Berpengaruh di Dunia, bahwa
dia menempatkan Muhammad Rasulullah saw. menjadi tokoh nomor satu adalah karena
Muhammad mempunyai kekuasaan spritual dan politis yang tidak dipisahkan satu sama lain.
Sejarah tidak bisa berbohong bahwa abad keemasan umat muslim (Islamic golden age) pada saat
kekhilafahan abbasiyyah dan awal kekhilafahan utsmaniyyah (750 M 1500 M) telah
menyatukan lebih dari 1/3 dunia, kekuasaan membentang dari sebagian eropa
(andalusia/spanyol) hingga dataran balkan yang kekuatan laut maupun daratnya ditakuti di dunia.
Juga tertulis dengan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia karya besar pemikir dan saintis
muslim seperti al-Khawarizmi dengan teori matematikanya, al-Kindi dengan pemikirannya, Ibnu
Sina dengan ilmu kedokteran dan kesusasteraannya yang telah menulis Asas Pengobatan
(Canons of Medicine) serta ilmu optik, Ibnu Khaldun dengan sejarahnya dan Ibnu Rusyd dengan
fikihnya. Pada pendidikan pun tak kalah hebatnya Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah
riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru
yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masingmasing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 5 juta rupiah dengan kurs sekarang).
Atau pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dimana tidaka ada warga negara yang miskin
sehingga zakat bagi orang miskin tidak dibagikan.
Semua gambaran tersebut adalah fakta yang terjadi ketika Islam dan kehidupan tidak
dipisahkan. Ini karena Islam adalah sebuah sistem hidup, sebuah ideologi yang tidak bisa
diterapkan secara sebagian. Ia juga tidak bisa dicangkokkan dengan ideologi lain semacam
sekularisme dan sosialisme, dikarenakan Islam adalah metode hidup yang khas. Dan untuk
menerapkan Islam yang kaaffah maka sesungguhnya diperlukan suatu institusi yang harus ada
untuk menjamin terlaksananya semua aturan-aturan Islam, institusi inipun haruslah khas yang
terpancar dari Islam, tidak yang lain, yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah.
Oleh karena itu, sebagai seorang yang berusaha untuk melaksanakan semua aturan yang
telah dibebankan oleh Allah SWT kepada kita, hendaknya kita tidak mengambil pandanganpandangan yang tidak berasal dari Islam maupun memperjuangkannya, apalagi pandangan itu
telah terbukti mudharatnya bagi kehidupan kita, agar kita dapat mempertanggungjawabkan
perbuatan kita di akhirat nanti

Barangsiapa mencari agama (diin) selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi(TQS aliImran [3]: 85)
Aturan-aturan Islam dalam masalah publik (negara) sejatinya justru harus dikembalikan
lagi kepada umat muslim, semua muslim di dunia ini harus faham bahwa sesunggunya akar
permasalahan yang menyebabkan bangkitnya barat dan terpuruknya Islam adalah satu: sekular
(memisahkan agama dari negara).
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maaidah [5]: 50)
Akhirul kalam, kita harus benar-benar waspada terhadap pemikiran orang-orang yang
bertujuan ingin menjauhkan kita dari Islam, sunnah rasul-Nya dan aturan-aturan (syariat-Nya),
meskipun terkadang penganut sekularisme ini kelihatan berdalil ataupun rasional, namun
akhirnya kita diajak untuk mengikuti kepada nilai-nilai kufur. Semoga Allah SWT melindungi
kita dari hal-hal yang seperti itu.
Sumber : Felix Siaw, Bahaya Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme,
http://felixsiauw.com/home/bahaya-sekulerisme-pluralisme-dan-liberalisme/,
05.55AM

Sejarah Paham / Ideologi Liberalisme, Pengertian, Contoh, Tokoh


Artikel dan Makalah tentang Sejarah Paham / Ideologi Liberalisme, Pengertian, Contoh,
Tokoh - Liberal berasal dari kata liberty, yang berarti kebebasan. Kebebasan dalam arti
kemerdekaan pribadi, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan kebebasan dalam menentukan
sikap. Liberalisme adalah suatu aliran pemikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai
bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya
sebebas mungkin. Istilah ini baru digunakan pada abad ke-19 dan berasal dari kaum pemberontak
Spanyol yang menamakan dirinya liberalisme, kendatipun liberalisme sebetulnya telah
berkembang pada masa sebelumnya. (Baca juga : Perkembangan Ideologi Baru dan Pengaruhnya
Terhadap Kesadaran dan Pergerakan Nasionalisme di Indonesia)

Liberalisme telah dimulai sejak era Renaissance, yang memperjuangkan kebebasan


manusia dari dominasi gereja atau agama, politik dan ekonomi. Kebebasan dalam bidang politik
melahirkan konsep tentang negara yang demokratis. Dalam bidang ekonomi, liberalisme
menentang campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dalam usaha, sebisa mungkin peranan
swasta diutamakan.

Berdasarkan pada keyakinan bahwa semua sumber kemajuan terletak dalam


perkembangan pribadi manusia yang bebas. Aliran ini memperjuangkan kedaulatan rakyat dan
kebebasan individu terhadap berbagai bentuk kekuasaan mutlak. Langkah pertama
perjuangannya telah dilakukan oleh gerakan reformasi. Dalam abad ke-17 dan 18 timbul
perlawanan terhadap absolutisme dan perjuangan menuju kebebasan jiwa dan bernegara. Tokoh
liberalisme antara lain John Locke, Voltaire, Montequieu, J.J. Rousseau. Sementara itu tokoh-

tokoh liberalisme dalam bidang ekonomi adalah Adam Smith, David Ricardo, dan Robert
Malthus.

Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham
liberalisme, yaitu:

(a) John Locke. Menurut pendapatnya, negara terbentuk dari perjanjiann sosial antara
individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa.
(b) Montesquieu. Dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan kekuasaan dalam
pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tujuannya agar terdapat pengawasan antar
lembaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.

Pemerintahan Inggris telah menerapkan paham liberalisme, yaitu dalam Magna Charta
tahun 1215, tentang penjaminan hak individu oleh hukum. Dalam peristiwa Revolusi Prancis
tahun 1789, berhasil menjatuhkan monarki absolut dan digantikan dengan mendirikan negara
liberal berdasarkan Konstitusi.

Liberalisme memperjuangkan pelbagai kebebasan yang hendaknya dijamin dalam undangundang dasar, di antaranya kebebasan agama, kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan
menyatakan pendapat. Kebebasan yang diperjuangkan itu hanya terjamin dalam negara hukum
yang mengindahkan Trias Politika.

Bentuk negara yang diidamkan adalah demokrasi parlemen dengan persamaan hak bagi
seluruh rakyat di depan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Cita-cita
liberalisme telah mencetuskan Revolusi Industri di Inggris (1688), Revolusi Amerika (1776), dan
Revolusi Prancis (1789).
Sumber: Sejarah Paham / Ideologi Liberalisme, Pengertian, Contoh, Tokoh ,
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/sejarah-paham-ideologi-liberalisme-pengertiancontoh-tokoh.html, 00.55 AM

Timbulnya Paham Liberalisme


Liberalisme adalah suatu paham yang mengutamakan kebebasan individu sebagai nilai
politik tertinggi. Paham liberalisme ini timbul sebagai reaksi terhadap penindasan kaum
bangsawan dan kaum agama kepada golongan pertengahan dan petani pada masa kerajaan
absolut.
Pencetus paham liberalisme dalam bidang ekonomi adalah Adam Smith. Adam smith lahir
di kota Kirkcaldy, Scotlandia pada tahun 1723. Waktu remaja ia belajar di Universitas Oxford,
dan dari tahun 1751 hingga tahun 1764 ia menjadi mahaguru di Universitas Glasgow.
Karya Adam Smith yang merupakan gagasan pokok liberalisme akonomi adalah An
Inquiry into the Nature of the wealth of Nations terbit pada tahun 1776. Judul singkatnya The
Wealth of Nations. Di dalamnya terkadung ide pasar bebas yang bergerak menurut mekanisme
pasar. Misalnya, jika persediaan barang yang disenangi kurang, maka harga akan naik dan
mendatangkan keuntungan bagi siapa saja yang memproduksinya.
Liberalisme ekonomi yang dipelopori Adam Smith menuntut ekonomi bebas. Inti
pendapat Adam Smith lazim dirumuskan dengan Laissez Faire, Laissez Passer, sering masih
diteruskan dengan Le monde va de lui meme (produksi bebas, perdagangan bebas, hukum
kodrat akan menyelenggarakan harmonis dunia). Secara umum, istilah ini dapat dipahami
sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah
dalam perekonomian.
J.J. Rousseau dapat dipandang sebagai tokoh liberalisme politik. Dalam bukunya Du
Contract Social, ia mengatakan manusia adalah makhluk merdeka sejak dilahirkan. Menurut
Rousseau, negara dibentuk atas kehendak rakyat melalui kontrak sosial. Setelah menerima

mandat dari rakyat, penguasa mengembalikan hak-hak rakyat dalam bentuk hak warga negara
(civil rights). Sebagai implikasi dari negara yang terbentuk oleh Perjanjian Masyarakat harus
menjamin kebebasan dan persamaan.
Sumber : Timbulnya Paham Liberalisme, http://www.tuanguru.com/2012/08/timbulnyapaham-liberalisme.html, 00.55 AM

Pemahaman Antara Komunisme dan Liberalisme


Liberalisme dan komunisme adalah dua paham besar yang di dunia sekarang ini atau lebih
tepatnya 20 tahun yang lalu saat masih gencarnya perang dingin. Masing-masing dari paham
tersebut dianut oleh negara superpower yang paham pertama dianut oleh raksasa Amerika
Serikat, dan yang kedua oleh Uni Sovyet (yang sekarang sudah runtuh). Antara dua paham
tersebut memiliki ketertolak belakangan yang sangat nyata. Untuk paham liberal, menekankan
pada kebebasan individu. Jadi individu diberi kebebasan yang sebesar-besarnya untuk melakukan
apa yang diinginkan. Tanpa ada campur tangan dari negara atau tuhan sekali pun. Sedangkan
paham komunisme, menekankan pada penyamarataan derajat. Jadi semua individu dianggap
sama oleh negara dan oleh karena itu, pendistribusian materi dan segala aspek dalam kehidupan
diatur oleh negara. Negara berkuasa atas segalanya untuk rakyatnya. Hak-hak individu tidak
diakui sama sekali oleh negara karena negara menganggap semua materi yang ada di
kawasannya adalah milik negara. Idiologi komunis ini lahir dari paham sosialisme yang ada
sebelumnya yang tokoh-tokoh pencetusnya antara lain Karl Marx dan Frederich engel. Sosialis
berpandangan bahwa perekonomian yang menentukannya adalah kekuataan buruh atau kaum
proletar. Jadi bukan para kapitalis atau pemilik modal seperti paham liberal. Sehingga para buruh
bukanlah objek yang hanya dijadikan alat dan diperas tenaganya, tapi menjadi salah satu subjek
yang dapat menentukan berjalannya roda perekonomian dan politik. Paham komunis intinya
sama dengan sosialis, tapi dalam penerapannya yang berbeda. Untuk komunis menghendaki
perubahan dari masyarakat kapitalis menjadi penyamarataan derajat harus dengan cara yang
radikal revolusioner. Sehingga secara singkat dapat terbentuk masyarakat yang tidak lagi
mengenal stratifikasi social. Semua sama rata dalam satu tingkat. Lalu untuk sosialis, paham ini
tidak menghendaki perubahaan yang radikal. Tapi paham ini menginginkan perubahan yang

secara damai misalnya dengan pemogokan buruh. Karena dengan mogok, pasti produksi dari
suatu pabrik akan terhenti dan kerugian yang amat besar akan dialami oleh kapitalis atau pemilik
modal. Pada masa perang dingin, kedua negara superpower berlomba untuk menyebarkan
idiologinya. Perang ini disebut perang dingin atau cold war karena perang yang dilakukan tidak
dilakukan secara terbuka atau perang fisik seperti perang dunia I dan II, tapi dilakukan dengan
perlombaan menyebarkan idiologi ke negara lain dan menunjukan bahwa idiologi mereka
masing-masing lebih baik dari pada yang lain. Idiologi liberal ini tersebar di negara-negara
seperti Amerika Serikat, negara-negara eropa barat, dan untuk di asia adalah Jepang. Jepang ini
merupakan negara kalah perang yang seharusnya tidak mendapatkan dana dari Marshal Plann
atau dana bantuan dari amerika serikat untuk negara-negara sekutunya yang mengalami
kerusakan, tapi hal ini dilakukan oleh Amerika Serikat untuk membendung paham komunis yang
ada di negara tetangganya yaitu Republik Rakyat Cina (RRC) dan Korea Utara. Sedangkan untuk
paham komunis, paham ini tersebar di negara-negara Eropa Timur, Uni Sovyet, RRC, Korea
Utara, dan Vietnam Utara. RRC merupakan negara satelit bagi Uni sovyet yang paling besar, tapi
akhirnya mereka sendiri berkonflik karena ada perbedaan penerapan paham komunis yang
mendasar antara keduanya. Jika Uni Sovyet menekankan pahamnya pada komunis yang ditopang
oleh kaum buruh (seperti asli pada paham sosialis). Karena sebagian besar rakyat Uni Sovyet
adalah buruh akibat industrialisasi dan modernisasi yang dilakukannya sejak zaman Peter yang
agung. Sedangkan RRC mendasarkan paham komunisnya pada kaum petani. Karena sebagian
besar rakyatnya adalah petani yang masih banyak terdapat luas lahan pertanian di sana. Jadi Uni
Sovyet menuduh bahwa RRC telah menyimpang dari paham komunis yang sebenarnya. Negara
komunis adalah istilah yang digunakan oleh ilmuwan politik untuk mendeskripsikan bentuk
pemerintahan, di mana negara tersebut berada dibawah sistem satu partai dan mendeklarasikan
kesetiaan kepada Marxisme-Leninisme, Maoisme. Negara komunis yang masih ada hingga kini
adalah Republik Rakyat Tiongkok (sejak 1949), Kuba, Korea Utara, Laos dan Vietnam.
Komunisme Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi
lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka
itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh. Istilah komunisme sering
dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai
komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula
disebut Marxisme-Leninisme. Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran
Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun
pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai
membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa
berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi tumpul
dan tidak lagi diminati. Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme
sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua
adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata.
Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga
disebut anti liberalisme. Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya,
dengan prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan

nyata. Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di
Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi
dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham
komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Liberalisme Liberalisme
adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman
bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan
suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham
liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme
menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha
pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan,
dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme
lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme. Dalam masyarakat modern, liberalisme
akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama
mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan Oxford Manifesto dari Liberal International:
Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati
tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan
sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang
diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan
pandangan-pandangan
kaum
minoritas
Sumber :Edri Risanti, Pemahaman Antara Komunisme dan Liberalisme,
http://edririsanti.blogspot.com/2012/10/komunisme-dan-liberalisme.html, 00.55 AM

PAHAM LIBERALISME
Liberal berasal dari kata liberty, yang berarti kebebasan. dalam arti kemerdekaan
pribadi, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan kebebasan dalam menentukan sikap.
Liberalisme adalah suatu aliran pemikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang
atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas
mungkin. Istilah ini baru digunakan pada abad ke-19 dan berasal dari kaum pemberontak
Spanyol yang menamakan dirinya liberalisme, kendatipun liberalism sebetulnya telah
berkembang pada masa sebelumnya.

Liberalisme telah dimulai sejak era Renaissance, yang memperjuangkan kebebasan


manusia dari dominasi gereja atau agama, politik dan ekonomi. Kebebasan dalam bidang politik
melahirkan konsep tentang negara yang demokratis. Dalam bidang ekonomi, liberalisme
menentang campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dalam usaha, sebisa mungkin peranan
swasta diutamakan.
Berdasarkan pada keyakinan bahwa semua sumber kemajuan terletak dalam
perkembangan pribadi manusia yang bebas. Aliran ini memperjuangkan kedaulatan rakyat dan
kebebasan individu terhadap berbagai bentuk kekuasaan mutlak. Langkah pertama
perjuangannya telah dilakukan oleh gerakan reformasi. Dalam abad ke-17 dan 18 timbul
perlawanan terhadap absolutisme dan perjuangan menuju kebebasan jiwa dan bernegara. Tokoh
liberalisme antara lain John Locke, Voltaire, Montequieu, J.J. Rousseau. Sementara itu tokoh-

tokoh liberalisme dalam bidang ekonomi adalah Adam Smith, David Ricardo, dan Robert
Malthus.
Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham
liberalisme, yaitu:
(a) John Locke. Menurut pendapatnya, negara terbentuk dari perjanjiann sosial antara
individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa.
(b) Montesquieu. Dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan kekuasaan dalam
pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tujuannya agar terdapat pengawasan antar
lembaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.
Pemerintahan Inggris telah menerapkan paham liberalisme, yaitu dalam Magna Charta
tahun 1215, tentang penjaminan hak individu oleh hukum. Dalam peristiwa Revolusi Prancis
tahun 1789, berhasil menjatuhkan monarki absolut dan digantikan dengan mendirikan negara
liberal berdasarkan Konstitusi.
Liberalisme memperjuangkan pelbagai kebebasan yang hendaknya dijamin dalam undangundang dasar, di antaranya kebebasan agama, kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan
menyatakan pendapat. Kebebasan yang diperjuangkan itu hanya terjamin dalam negara hukum
yang mengindahkan Trias Politika.
Bentuk negara yang diidamkan adalah demokrasi parlemen dengan persamaan hak bagi
seluruh rakyat di depan hukum dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Cita-cita
liberalisme telah mencetuskan Revolusi Industri di Inggris (1688), Revolusi Amerika (1776), dan
Revolusi Prancis (1789).
Sumber : Triyono Suwito dan Wawan Darmawan, Paham
http://ssbelajar.blogspot.com/2012/06/paham-liberalisme.html, 00.55 AM

Liberalisme,