Anda di halaman 1dari 102

MAKALAH

UNDANG-UNDANG PERTAMBANGAN

Disusun Oleh
DANIEL BAGINDA OLOAN SITORUS
DBD 113 158

UNIVERSITAS PALANGKARAYA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah sesuai
dengan pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki. Dan saya berterima
kasih ke pada Bapak Yustinus Hendra Wiryanto, S.Si., MT.,M.Sc selaku Dosen
mata kuliah Undang-Undang Tambang dan Perburuhan yang telah memberikan
tugas
makalah
ini
kepada
saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai undang-undang yang digunakan
dalam dunia pertambangan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang di harapkan.
Untuk itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
adanya
kritik
yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya tugas makalah yang telah saya susun ini dapat berguna
bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami
memohon
kritik
dan
saran
yang
membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Palangkaraya, 5 Maret 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pertambangan adalah salah satu komoditi yang sangat menguntungkan untuk
negara. Banyak devisa yang dihasilkan dari pertambangan. Karena menggiurkannya
keuntungan dalam dunia pertambangan, dibutuhkan sesuatu untuk mengatur jalannya
produksi pertambangan. Banyak perusahaan yang hanya mau untungnya sendiri tanpa
mau memikirkan kewajibannya bagi negara. Banyak penyimpangan disanasini.Karena banyaknya masalah yang melanda dibutuhkan payung hukum yang kuat
untuk mengatur jalannya usaha pertambangan.
Negara mengatur
setiap kegiatan

pertambangan

di

Indonesia.

Orang/perusahaan yang berkecimpung dalam dunia pertambangan wajib untuk


mengetahui isi dan pelaksanaanya. Bagi mahasiswa Teknik Pertambangan ini juga
sangat penting, karena nantinya kita juga akan masuk ke dunia pertambangan. Kita
dituntut untuk mengatahui aturan dari hukum yang berlaku. Negara menuangkannya
ke dalam undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri, dll. Saya
berharap dengan dibuatnya makalah ini dapat menambah wawasan dari pembaca agar
lebih mengetahui tentang hukum yang berlaku di pertambangan.

PEMBAHASAN

UNDANG-UNDANG NO.11 TAHUN 1967


TENTANG
KETENTUAN-KETENTUAN POKOK PERTAMBANGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PD. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang :
a. bahwa guna mempercepat terlaksananya pembanguna ekonomi Nasional dalam menuju
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila
maka perlulah dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan membina segenap
kekuatan ekonomi potensiil dibidang pertambangan menjadi kekuatan ekonomi riil.
b. bahwa berhubung dengan itu, dengan tetap berpegang pada Undang-undang Dasar 1945,
dipandang perlu untuk mencabut Undang-undang No. 37 Prp tahun 1960 tentang
Pertambangan (Lembaran Negara tahun 1960 No. 119) serta menggantinya dengan
Undang-undang Pokok Pertambangan yang baru yang lebih sesuai dengan kenyataan
yang ada dalam rangka memperkembangkan usaha-usaha pertambangan Indonesia
dimasa sekarang dan dikemudian hari;
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 ;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XXI/MPRS/1966 ;
3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XXIII/MPRS/1966 ;
4. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XXXIII/MPRS/1967 ;
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 163 tahun 1966 ;
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 171 tahun 1967;
DENGAN PERSETUJUAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG.
MEMUTUSKAN :
I. Mencabut Undang-undang No. 37 Prp 1960 tentang Pertambangan (Lembaran Negara
tahun
1960 No. 119).
II. Menetapkan : undang-undang tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Penguasaan bahan galian
Segala bahan galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia yang
merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan yang Maha Esa, adalah kekayaan
Nasional bangsa Indonesia dan oleh karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh Negara untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pasal 2
Istilah-istilah
a. bahan galian : unsur-unsur kimia mineral-mineral, bijih-bijih dan segala macam batuan
termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam;
b. hak tanah : hak atas sebidang tanah pada permukaan bumi menurut hukum Indonesia ;
c. penyelidikan umum: penyelidikan secara geologi umum atau geofisika, didaratan,
perairan dan dari udara, segala sesuatu dengan maksud untuk membuat peta geologi
umum atau untuk menetapkan tanda-tanda adanya bahan galian pada umumnya;
d. eksplorasi: segala penyelidikan geologi pertambangan untuk menetapkan lebih
teliti/seksama adanya dan sifat letakan bahan galian;
e. eksploitasi: usaha pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan
memanfaatkannya;

f. pengolahan dan pemurnian: pengerjaan untuk mempertinggi mutu bahan galian serta
untuk memanfaatkan dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada bahan galian itu;
g. pengangkuatan: segala usaha pemindahan bahan galian dan hasil pengolahan dan
pemurnian bahan galian dari daerah eksplorasi atau tempat pengolahan/pemurnian ;
h. penjualan: segala usaha penjualan bahan galian dan hasil pengolahan/pemurnian bahan
galian;
i. kuasa pertambangan: wewenang yang diberikan kepada badan/perseorangan untuk
melaksanakan usaha pertambangan;
j. Menteri: Menteri yang lapangan tugasnya meliputi urusan pertambangan;
k. wilayah hukum pertambangan Indonesia: seluruh kepulauan Indonesia, tanah dibawah
perairan Indonesia dan paparan benua (continental shelf) kepulauan Indonesia;
l. Perusahaan Negara:
a. Perusahaan Negara seperti yang dimaksud dalam Undang-undang tentang
Perusahaan Negara yang berlaku;
b. Badan Hukum yang seluruh modalnya berasal dari Negara;
m. Perusahaan Daerah: Perusahaan seperti yang dimaksud dalam Undang-undang tentang
Perusahaan Daerah yang berlaku;
n. Pertambangan Rakyat: yang dimaksud dengan Pertambangan Rakyat adalah suatu
usaha pertambangan bahan-bahan galian dari semua golongan a, b, dan c seperti yang
dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan
atau secara gotong-royong dengan alat-alat sederhana untuk pencaharian sendiri.
BAB II.
PENGGOLONGAN PELAKSANAAN
PENGUASAAN BAHAN GALIAN
Pasal 3
(1) Bahan-bahan galian dibagi atas tiga golongan :a. golongan bahan galian strategis;b.
golongan
bahan galian vital. c. golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan a atau b.
(2) Penunjukan sesuatu bahan galian ke dalam sesuatu golongan tersebut pada ayat (1) pasal
ini
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 4.
(1) Pelaksanaan Penguasaan Negara dan pengaturan usaha pertambangan bahan galian
tersebut
dalam pasal 3 ayat (1) huruf a dan b dilakukan oleh Menteri;
(2) Pelaksanaan Penguasaan Negara dan pengaturan usaha pertambangan bahan galian
tersebut
dalam pasal 3 ayat (1) huruf c dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I tempat
terdapatnya bahan galian itu;
(3) Dengan memperhatikan kepentingan pembangunan Daerah khususnya dan Negara
umumnya Menteri dapat menyerahkan pengaturan usaha pertambangan bahan galian
tertentu dari antara bahan-bahan galian tersebut dalam pasal 3 ayat (1) huruf b kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I tempat terdapatnya bahan galian itu.
BAB III
BENTUK DAN ORGANISASI PERUSAHAAN
PERTAMBANGAN

Pasal 5.
Usaha pertambangan dapat dilaksanakan oleh :
a. Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri;
b. Perusahaan Negara;
c. Perusahaan Daerah;
d. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara dan Daerah;
e. Koperasi;
f. Badan atau perseorangan swasta yang memenuhi syarat-syarat yang dimaksud dalam pasal
12
ayat (1);
g. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara dan/atau Daerah dengan Koperasi
dan/atau Badan/Perseorangan Swasta yang memenuhi syarat-syarat yang dimaksud dalam
pasal 12 ayat (1);
h. Pertambangan Rakyat;
Pasal 6.
Usaha pertambangan bahan galian tersebut dalam pasal 3 ayat (1) huruf a dilakukan oleh :
a. Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri.
b. Perusahaan Negara;
Pasal 7.
Bahan galian tersebut dalam pasal 3 ayat (1) huruf a, dapat pula diusahakan oleh pihak swasta
yang memenuhi syarat-syarat sebagai dimaksud dalam pasal 12 ayat (1), apabila menurut
pendapat Menteri berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari segi ekonomi dan
perkembangan
pertambangan, lebih menguntungkan bagi Negara apabila diusahakan oleh pihak swasta.
Pasal 8.
Apabila jumlah endapan bahan galian tersebut dalam pasal 3 ayat(1) huruf a sedemikian
kecilnya
sehingga menurut pendapat Menteri akan lebih menguntungkan jika diusahakan secara
sederhana
atau kecil-kecilan, maka endapan bahan galian itu dapat diusahakan secara Pertambangan
Rakyat
sebagai dimaksud dalam pasal 11.
Pasal 9
(1) Usaha pertambangan bahan galian tersebut dalam pasal 3 ayat (1) huruf b dilaksanakan
oleh:
a. Negara atau Daerah;
b. Badan atau Perseorangan Swasta yang memenuhi syarat-syarat yang dimaksud dalam
pasal 12 ayat (1).
(2) Usaha pertambangan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini dapat dilaksanakan
oleh:3
a. Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri;
b. Perusahaan Negara;
c. Perusahaan Daerah;
d. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara/Perusahaan di satu pihak dengan
Daerah Tingkat I dan/atau Daerah Tingkat II atau Perusahaan Daerah di pihak lain.
e. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara/Perusahaan Negara dan atau
Perseorangan Swasta di pihak lain.
(3) Perusahaan yang dimaksud dalam ayat (2) huruf e pasal ini harus berbentuk Badan
Hukum

dengan ketentuan bahwa Badan dan/atau Perseorangan Swasta yang ikut dalam perusahaan
itu harus memenuhi syarat-syarat yang dimaksud dalam pasal 12 ayat (1).
Pasal 10.
(1) Menteri dapat menunjukan pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh
Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa
pertambangan.
(2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat
(1)
pasal ini Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada
pedomanpedoman,
petunjuk-petunjuk, dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri.
(3) Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2) pasal ini mulai berlaku sesudah disahkan oleh
Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila menyangkut
eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang ditentukan dalam pasal
13 Undang-undang ini dan/atau yang perjanjian karyanya berbentuk penanaman modal asing.
Pasal 11.
Pertambangan Rakyat
(1) Pertambangan Rakyat bertujuan memberikan kesempatan kepada rakyat setempat dalam
mengusahakan bahan galian untuk turut serta membangun Negara dibidang pertambangan
dengan bimbingan Pemerintah.
(2) Pertambangan Rakyat hanya dapat dilakukan oleh Rakyat setempat yang memegang
Kuasa
Pertambangan (Izin) Pertambangan Rakyat.
(3) Ketentuan-ketentuan mengenai Pertambangan Rakyat dan cara serta syarat-syarat untuk
memperoleh Kuasa Pertambangan (Izin) Pertambangan Rakyat diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Pasal 12.
(1) Kuasa Pertambangan untuk pelaksanaan usaha pertambangan bahan-bahan galian yang
tersebut dalam pasal 3 ayat (1) huruf b dapat diberikan kepada:
a. Badan Hukum Koperasi;
b. Badan Hukum Swasta yang didirikan sesuai dengan peraturan-peraturan Republik
Indonesia bertempat kedudukan di Indonesia dan bertujuan berusaha dalam lapangan
pertambangan dan pengurusnya mempunyai kewarganegaraan Indonesia dan bertempat
tingal di Indonesia.c. Perseorangan yang berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat
tinggal di Indonesia.
(2) Khusus untuk usaha eksploitasi sebelum diberikan kuasa pertambangan kepada pihak
termaksud dalam ayat (1) pasal ini haruslah didengar lebih dahulu pendapat dari suatu Dewan
Pertambangan, yang pembentukan dan penentuan susunannya akan diatur oleh Pemerintah.
Pasal 13.
Dengan Undang-undang ditentukan bahan-bahan galian yang harus diusahakan semata-mata
oleh
Negara dan cara melaksanakan usaha tersebut.

BAB IV.
USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 14.
Usaha pertambangan bahan-bahan galian dapat meliputi :
a. penyelidikan umum;
b. eksplorasi;
c. eksploitasi;
d. pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan;
f. penjualan;
BAB V.
KUASA PERTAMBANGAN
Pasal 15.
(1) Usaha pertambangan termaksud dalam pasal 14 hanya dapat dilakukan oleh perusahaan
atau
perseorangan yang tersebut dalam pasal 6, 7, 8, dan 9 apabila kepadanya telah diberikan
kuasa
pertambangan.
(2) Ketentuan-ketentuan tentang isi, wewenang, luas wilayah dan syarat-syarat kuasa
pertambangan serta kemungkinan pemberian jasa penemuan bahan galian baik langsung oleh
Pemerintah maupun dalam rangka pemebrian kuasa pertambangan, diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
(3) Kuasa Pertambangan diberikan dengan Keputusan Menteri. Dalam Keputusan Menteri itu
dapat diberikan ketentuan-ketentuan khususnya disamping apa yang telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah yang termaksud dalam ayat (2) pasal ini.
(4) Kuasa pertambangan dapat dipindahkan kepada perusahaan atau perseorangan lain
bilamana
memenuhi ketentuan-ketentuan dalam pasal 5, 6, 7, 8, 9 dan 12 dengan persetujuan Menteri.
Pasal 16.
(1) Dalam melakukan pekerjaan usaha pertambangan berdasarkan suatu kuasa pertambangan,
maka Pertambangan Rakyat yang telah ada tidak boleh diganggu, kecuali bilamana Menteri
menetapkan lain demi kepentingan Negara.
(2) Pekerjaan usaha pertambangan berdasarkan suatu kuasa pertambangan tidak boleh
dilakukan
diwilayah yang tertutup untuk kepentingan umum dan pada lapangan sekitar
lapanganlapangan
dan bangunan-bangunan pertahanan.
(3) Wilayah pekerjaan usaha pertambangan berdasarkan suatu kuasa pertambangan tidak
meliputi :
a. tempat-tempat kuburan, tempat-tempat yang dianggap suci, pekerjaan-pekerjaan umum,
misalnya jalan-jalan umum, jalan-jalan, jalan kereta api, saluran air listrik, gas dan
sebagainya.
b. tempat-tempat pekerjaan usaha pertambangan lain.
c. bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau pabrik-pabrik beserta tanah-tanah
pekarangan sekitarnya, kecuali dengan izin yang berkepentingan.
(4) Dalam hal dianggap sangat perlu untuk kepentingan pekerjaan usaha pertambangan
berdasarkan suatu kuasa pertambangan, pemindahan sebagaimana termaksud dalam ayat (3)

pasal ini dapat dilakukan atas beban pemegang kuasa pertambangan dan setelah diperoleh
izin dari yang berwajib.
BAB VI.
CARA DAN SYARAT-SYARAT BAGAIMANA MEMPEROLEH
KUASA PERTAMBANGAN.
Pasal 17.
(1) Permintaan untuk memperoleh kuasa pertambangan diajukan kepada Menteri.
(2) Dengan Keputusan Menteri diatur cara mengajukan permintaan yang dimaksud dalam
ayat (1)
pasal ini begitu pula syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peminat, apabila belum
ditentukan dalam Peraturan Pemerintah termaksud dalam pasal 15 ayat (2).
Pasal 18.
Permintaan kuasa pertambangan hanya dipertimbangkan oleh Menteri setelah peminta
membuktikan kesanggupan dan kemampuannya terhadap usaha pertambangan yang akan
dijalankan.
Pasal 19.
Dengan mengajukan permintaan kuasa pertambangan, maka peminta dengan sendirinya
menyatakan telah memilih domisili pada Pengadilan Negeri yang berkedudukan di dalam
Daerah
Tingkat I yang bersangkutan.
BAB VII.
BERAKHIRNYA KUASA PERTAMBANGAN
Pasal 20.
Kuasa pertambangan berakhir :
a. karena dikembalikan;
b. karena dibatalkan;
c. karena habis waktunya.
Pasal 21.
(1) Pemegang kuasa pertambangan dapat menyerahkan kembali kuasa perta mbangannya
dengan
pernyataan tertulis kepada Menteri.
(2) Pernyataan tertulis yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini disertai dengan alasan-alasan
yang
cukup apa sebabnya pernyataan ini disampaikan.
(3) Pengembalian kuasa pertambangan dinyatakan sah setelah disetujui oleh Menteri.
Pasal 22.
(1) Kuasa Pertambangan dapat dibatalkan dengan keputusan Menteri :
a. apabila pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan
dalam Peraturan Pemerintah yang dimaksud dalam pasal 15 ayat (2) atau yang ditentukan
dalam Keputusan Menteri yang tersebut dalam pasal 15 ayat (3).
b. jikalau pemegang kuasa pertambangan ingkar menjalankan perintah-perintah dan
petunjukpetunjuk
yang diberikan oleh pihak yang berwajib untuk kepentingan Negara.
(2) Kuasa pertambangan dapat dibatalkan dengan Keputusan Menteri untuk kepentingan
Negara.
Pasal 23.
Apabila waktu yang ditentukan dalam suatu kuasa pertambangan telah berakhir, sedangkan

untuk kuasa pertambangan tersebut tidak diberikan perpanjangan maka kuasa pertambangan
tersebut berakhir menurut hukum.
Pasal 24.
(1) Jika kuasa pertambangan berakhir karena hal-hal termaksud dalam pasal 21, 22 ayat (1)
dan
pasal 23 maka :
a. segala beban yang diberatkan kepada kuasa pertambangan batal menurut hukum;
b. wilayah kuasa pertambangan kembali kepada kekuasaan Negara;
c. segala sesuatu yang diperlukan untuk mengamanan bangunan-bangunan tambang dan
selanjutnya pengambilan bahan-bahan galian menjadi hak Negara tanpa penggantian
kerugian kepada pemegang kuasa pertambangan;
d. perusahaan atau perseorangan yang memegang kuasa pertambangan itu harus
menyerahkan semua klise dan bahan-bahan peta, gambar-gambar ukuran tanah dan
sebagainya yang bersangkutan dengan usaha pertambangan kepada Menteri dengan tidak
menerima ganti kerugian.
(2) Menyimpang dari bunyi ayat (1) pasal ini, maka bilamana kuasa pertambangan dibatalkan
untuk kepentingan Negara, maka kepadanya diberi ganti kerugian yang wajar.
(3) Menteri menetapkan waktu dalam mana pemegang kuasa pertambangan terakhir diberi
kesempatan untuk mengangkat segala sesuatu yang menjadi hak miliknya. Segala sesuatu
yang belum diangkat dalam waktu tersebut menjdi milik Negara.
BAB VIII.
HUBUNGAN KUASA PERTAMBANGAN
DENGAN HAK-HAK TANAH
Pasal 25.
(1) Pemegang kuasa pertambangan diwajibkan mengganti kerugian akibat dari usahanya pada
segala sesuatu yang berada di atas tanah kepada yang berhak atas tanah di dalam lingkungan
daerah kuasa pertambangan maupun di luarnya, dengan tidak memandang apakah perbuatan
itu dilakukan dengan atau tidak dengan sengaja, maupun yang dapat atau tidak dapat
diketahui terlebih dahulu.
(2) Kerugian yang disebabkan oleh usaha-usaha dari dua pemegang kuasa pertambangan atau
lebih, dibebankan kepada mereka bersama.
Pasal 26.
Apabila telah didapat izin kuasa pertambangan atas sesuatu daerah atau wilayah menurut
hukum
yang berlaku, maka kepada mereka yang berhak atas tanah diwajibkan memperbolehkan
pekerjaan pemegang kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan atas dasar mufakat
kepadanya:
a. sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau
salinannya yang sah diberitahukan tentang maksud dan tempat pekerjaan-pekerjaan itu akan
dilakukan ;
b. diberi ganti kerugian atau jaminan ganti kerugian itu terlebih dahulu.
Pasal 27.
(1) Apabila telah ada hak tanah atas sebidang tanah yang bersangkutan dengan wilayah kuasa
pertambangan, maka kepada yang berhak diberi ganti rugi yang jumlahnya ditentukan
bersama antara pemegang kuasa pertambangan yang mempunyai hak atas tanah tersebut atas
dasar musyawarah dan mufakat, untuk penggantian sekali atau selama hak itu tidak dapat
diperguanakan.

(2) Jika yang bersangkutan tidak dapat mencapai kata mufakat tentang ganti rugi
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada Menteri.
(3) Jika yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri tentang ganti rugi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini, maka penentuannya diserahkan kepada
Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi daerah/wilayah yang bersangkutan.
(4) Ganti rugi yang dimaksud pada ayat (1), (2), dan (3) pasal ini beserta segala biaya yang
berhubungan dengan itu dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan yang
bersangkutan.
(5) Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah yang diatasnya tidak
terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat
diberi hak tanah kecuali dengan persetujuan Menteri.
BAB IX.
PUNGUTAN-PUNGUTAN NEGARA
Pasal 28.
(1) Pemegang kuasa pertambangan membayar kepada Negara iuran tetap, iuran eksplorasi
dan/atau eksploitasi dan/atau pembayaran-pembayaran lain yang berhubungan dengan kuasa
pertambangan yang bersangkutan.
(2) Pungutan-pungutan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini diatur lebih
lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
(3) Kepada Daerah Tingkat I dan II diberikan bagian dari pungutan-pungutan Negara tersebut
,
yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB X.
PENGAWASAN PERTAMBANGAN
Pasal 29.
(1) Tata Usaha, pengawasan pekerjaan usaha pertambangan dan pengawasan hasil
pertambangan
dipusatkan kepada Menteri dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
(2) Pengawasan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini terutama meliputi keselamatan kerja,
pengawasan produksi dan kegiatan lainnya dalam pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum.
Pasal 30.
Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan,
pemegang
kuasa pertambangan yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa,
sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat
sekitarnya.
BAB XI.
KETENTUAN-KETENTUAN PIDANA
Pasal 31.
(1) Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya limaratus ribu rupiah, barang siapa yang tidak mempunyai kuasa
pertambangan melakukan usaha pertambangan seperti dimaksud dalam pasal 14 dan 15.
(2) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya limapuluh ribu rupiah, sebelum memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap

yang berhak atas tanah menurut Undang-undang ini.


Pasal 32.
(1) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya limapuluh ribu rupiah, barang siapa yang tidak berhak atas tanah
merintangi atau mengganggu usaha pertambangan yang sah.
(2) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah, barang siapa yang berhak atas tanah merintangi atau
mengganggu usaha pertambangan yang sah, setelah pemegang kuasa pertambangan
memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang tercantum dalam pasal 26 dan 27 Undang-undang
ini.
Pasal 33.
Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah.
a. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak memenuhi atau tidak melaksanakan syaratsyarat
yang berlaku menurut Undang-undang ini dan/atau Undang-undang termaksud dalam
keputusan Menteri yang diberikan berdasarkan Undang-undang ini dan/atau Undang-undang
yang termaksud dalam pasal 13.
b. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak melakukan perintah-perintah dan/atau
petunjukpetunjuk
yang berwajib berdasarkan Undang-undang ini.
Pasal 34
(1) Jikalau pemegang kuasa pertambangan atau wakilnya adalah suatu perseroan, maka
hukuman
termaksud pasal 31, 32 dan 33 dijatuhkan kepada para anggota pengurus.
(2) Tindak pidana yang dimaksud dalam pasal 31 ayat (1) adalah kejahatan dan
perbuatanperbuatan
lainnya adalah pelanggaran.
BAB XII.
KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP
Pasal 35.
(1) Semua hak pertambangan dan kuasa pertambangan perusahaan Negara, perusahaan
swasta,
badan lain atau perseorangan yang diperbolehkan berdasarkan peraturan yang ada sebelum
saat berlakunya Undang-undang ini, tetap dapat dijalankan sampai sejauh masa berlakunya,
kecuali ada penetapan lain menurut Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan berdasarkan
kepada Undang-undang ini.
Pasal 36.
(1) Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan
cara
pengusahaan pertambangan oleh perusahaan Negara, perusahaan swasta, badan lain atau
perseorangan yang tersebut dalam pasal 35 ayat (1) diatas serta peraturan
perundangundangan
lainnya yang masih berlaku selama belum ada ketentuan-ketentuan pengganti
berdasarkan Undang-undang ini.
(2) Semua peraturan perundang-undangan yang bersumber kepada Undang-undang No. 37
Prp
tahun 1960 yang masih berlaku pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, tetap berlaku

sepanjang tidak dicabut, dirobah atau ditambah berdasarkan Undang-undang ini.


Pasal 37.
Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan dan disebut UNDANG-UNDANG
POKOK PERTAMBANGAN.
Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini
dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 2-12-1967
PEJABAT PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
S O E HAR T O
JENDRAL T.N.I
Diundangkan di : Jakarta
Pada tanggal : 2-12-1967
Sekretaris Kabinet Ampera
ttd.
Sudharmono S.H
Brig. Jen. T.N.I

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR KEP.110/MEN/1997 TAHUN 1997
TENTANG
PELAKSANAAN PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING
PENDATANG PADA SEKTOR
PERTAMBANGAN DAN ENERGI SUB SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK DAN
GAS BUMI
MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
a. bahwa dalam rangka lebih meningkatkan kegiatan sektor pertambangan dan energi sub
sektor
pertambangan minyak dan gas bumi pada era globalisasi, perlu diberikan kesempatan kerja
yang lebih luas kepada tenaga kerja Indonesia pada sektor tersebut;
b. bahwa pengaturan pembatasan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang pada sektor
pertambangan dan energi sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang diatur dalam
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep-377/MEN/1991 sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan dan kebutuhan, sehingga perlu disempurnakan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas dan sesuai Keputusan Presiden Nomor 75
Tahun 1995,dianggap perlu untuk mengatur Pelaksanaan Penggunaan Tenaga Kerja Warga
Negara Asing Pendatang pada Sektor Pertambangan dan Energi Sub Sektor Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi dalam suatu Keputusan Menteri Tenaga Kerja.

Mengingat:
1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Kerja Asing (Lembaran
Negara Tahun 1958 Nomor 8);
2. Undang-undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
(Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2070);
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara
Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2818) jo. Undang-undang Nomor
11 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-undang Nomor 1 Tahun, 1967
tentang Penanaman Modal Asing
(Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2943);
4. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri
(Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2853) jo.
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Penambahan Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun
1970 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2944);
5. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai
Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2912);
6. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi Negara (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2971);
7. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Tahun
1992 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3474);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan
Yang Didirikan Dalam Rangka, Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1994
Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3552);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1994 tentang Visa, Ijin Masuk dan Ijin
Keimigrasian (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3563);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1994 tentang Syarat-syarat dan Pedoman
Kerjasama Kontrak Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor
64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3571);
11. Keputusan Presiden Nomor 96/M Tahun 1993 tanggal 25 Maret 1993 tentang
Pembentukan Kabinet Pembangunan VI;
12. Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1995 tanggal 9 Nopember 1995, tentang
Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang;
13. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.01/MEN/1997 tentang Dana Pengembangan
Keahlian dan Keterampilan (Skill Development Fund) Tenaga Kerja Indonesia.

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG PELAKSANAAN


PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG PADA
SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI SUB SEKTOR PERTAMBANGAN
MINYAK DAN GAS BUMI
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:
a.
Perusahaan adalah Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha pada sektor
pertambangan dan energi sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdiri atas:
1. Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamben);
2. Perusahaan nasional, asing maupun joint venture yang melaksanakan kerjasama
dengan Pertamina dalam pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi serta
panas bumi;
3. PT. Perusahaan Gas Negara (Persero);
4. Perusahaan Jasa Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Asing yang
mendapat ijin usaha dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi;
5. Perusahaan Jasa Penunjang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi yang mengadakan
investasi baik berdasarkan Undang-undang Penanaman Modal Asing dan atau
Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri atau tidak, yang terdaftar pada
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi;
6. Kantor Perwakilan Perusahaan Asing yang persetujuan pembukaan perkantorannya
diberikan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
b. Kelompok Jabatan, adalah kelompok jabatan dalam kegiatan sektor pertambangan dan
energi sub sektorpertambangan minyak dan gas bumi yang perinciannya sebagaimana
tercantum dalam LAMPIRAN
Keputusan ini;
c. Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang yang selanjutnya disingkat TKWNAP,
adalah tenaga kerja asing pemegang visa kerja yang akan dipekerjakan di wilayah Republik
Indonesia;
d. Tenaga Kerja Indonesia, adalah tenaga kerja Warga Negara Indonesia;
e. Rencana Penggunaan Tenaga Kerja yang selanjutnya disingkat RPTK, adalah rencana
penggunaan TKWNAP yang meliputi jabatan, jumlah, jangka waktu, kewarganegaraan dan
nama pendamping TKWNAP;
f. Ijin Mempekerjakan TKWNAP yang selanjutnya disingkat IMTA, adalah ijin tertulis yang
diberikan kepada pengguna TKWNAP oleh Menteri Tenaga Kerja atau pejabat yang ditunjuk
untuk mempekerjakan TKWNAP di Indonesia dengan menerima upah atau tidak selama
waktu tertentu dan pada jabatan tertentu;
g. Ijin Kerja TKWNAP yang selanjutnya disingkat IKTA, adalah ijin tertulis yang diberikan
kepada TKWNAP
oleh Menteri Tenaga Kerja atau pejabat yang ditunjuk.
Pasal 2
Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha wajib mengutamakan penggunaan Tenaga
Kerja Indonesia.
Pasal 3
Dalam hal diperlukan penggunaan TKWNAP, Perusahaan wajib mengajukan permohonan
pengesahan RPTK,
IMTA, IKTA, yang didasarkan pada Kelompok Jabatan, Nama Jabatan dan Jangka Waktu
Penggunaan
TKWNAP sebagaimana tercantum dalam LAMPIRAN Keputusan ini.

BAB II
KETENTUAN PENGGUNAAN TKWNAP DAN PEMBINAAN TENAGA KERJA
INDONESIA
Pasal 4
(1)
Perusahaan yang menggunakan TKWNAP wajib menyusun rencana dan
melaksanakan program penggantian TKWNAP kepada Tenaga Kerja Indonesia.
(2)
Rencana dan pelaksanaan program penggantian TKWNAP sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib dilaksanakan sesuai jangka waktu penggunaan jabatan sebagaimana
tercantum dalam LAMPIRAN
keputusan ini.
Pasal 5
(1)
Dalam melaksanakan program penggantian TKWNAP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) Perusahaan wajib menunjuk TKI sebagai tenaga kerja pendamping.
(2)
Ketentuan penunjukan Tenaga Kerja Indonesia sebagai tenaga kerja pendamping
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi jabatan pemimpin dan wakil dari
Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a angka 6.
Pasal 6
(1)
Perusahaan yang mempekerjakan TKWNAP wajib membayar Dana Pengembangan
Keahlian dan Keterampilan (DPKK) Tenaga Kerja Indonesia.
(2)
Tatacara pembayaran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai ketentuan
yang berlaku.
Pasal 7
(1)
Pembayaran DPKK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dibebankan kepada
Perusahaan yang bersangkutan.
(2)
Bagi Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a angka 2 dibebankan
pada Kantor Pusat Perusahaan yang bersangkutan.
Pasal 8
(1) Dalam hal Tenaga Kerja Indonesia belum siap untuk menggantikan TKWNAP
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2), Perusahaan wajib menyampaikan alasan tertulis kepada Menteri
Tenaga Kerja atau pejabat yang ditunjuk.
(2)
Menteri atau Pejabat yang ditunjuk dapat mempertimbangkan alasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) setelah memperhatikan pendapat dan saran Menteri Pertambangan
dan Energi Cq. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 9
(1)
Untuk mempercepat penggantian TKWNAP kepada Tenaga Kerja Indonesia,
Perusahaan wajib melaksanakan pembinaan dan pengembangan Tenaga Kerja Indonesia,
dengan cara:
a. menunjuk Tenaga Kerja Indonesia sebagai pendamping TKWNAP;
b. melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kerja Indonesia secara terus menerus dan
berkesinambungan, sesuai persyaratan jabatan yang diperlukan dalam rangka penggantian
TKWNAP;
c. kegiatan lain yang berkaitan dengan proses alih teknologi dari TKWNAP kepada Tenaga
Kerja
Indonesia.
(2)
Pembinaan dan pengembangan Tenaga Kerja Indonesia pada Perusahaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a angka 1 dan 2, wajib dikonsultasikan kepada

Diretur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan
Tenaga Kerja.
(3)
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan serta Pembinaan dan Pengembangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c, dilaksanakan oleh Perusahaan baik secara
sendiri maupun menggunakan jasa pihak ketiga.
(4) Biaya penyelenggaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi tanggung jawab
Perusahaan dan tidak dapat dibebankan ulang kepada Tenaga Kerja Indonesia.
BAB III
PELAKSANAAN PENGESAHAN RPTK
Pasal 10
Perusahaan yang akan menggunakan TKWNAP, wajib terlebih dahulu mengajukan
permohonan pengesahan
RPTK kepada Menteri Tenaga Kerja atau Pejabat yang ditunjuk.
Pasal 11
Permohonan Pengesahan RPTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 wajib dilengkapi
hasil konsultasi teknis
dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 12
Konsultasi Tenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 diberikan setelah Perusahaan
menyampaikan
kelengkapan persyaratan serta keterangan yang diperlukan.
Pasal 13
(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tidak berlaku bagi Perusahaan yang
menggunakan
TKWNAP untuk pekerjaan yang bersifat darurat dan mendesak yang jangka waktunya tidak
lebih dari 60
(enam puluh) hari, berdasarkan hasil konsultasi teknis dari Direktorat Jenderal Minyak dan
Gas Bumi.
(2) Apabila jangka waktu pekerjaan melebihi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Perusahaan wajib
mengajukan permohonan RPTK sesuai ketentuan Pasal 10.
Pasal 14
Bagi Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a angka 1 dan 2, permohonan
pengesahan
RPTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 diajukan oleh Pertamina.
BAB IV
PELAKSANAAN PEMBERIAN IMTA DAN IKTA
Pasal 15
RPTK yang telah disahkan, digunakan sebagai dasar pengajuan dan permohonan IMTA dan
IKTA oleh
Perusahaan kepada Menteri Tenaga Kerja atau Pejabat yang ditunjuk.
Pasal 16
Permohonan IMTA dan IKTA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dapat diajukan oleh
Perusahaan
berdasarkan hasil konsultasi teknis dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 17

Permohonan IKTA untuk pekerjaan yang bersifat darurat dan mendesak, yang jangka
waktunya tidak lebih dari
60 (enam puluh) hari dapat diajukan oleh Perusahaan setelah mendapatkan hasil konsultasi
teknis terlebih
dahulu dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
BAB V
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 18
(1) Perusahaan wajib menyampaikan laporan penggunaan TKWNAP dan program
penggantiannya kepada
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan
Tenaga Kerja,
secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.
(2) Perusahaan wajib menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal Minyak dan Gas
Bumi dan Direktorat
Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja mengenai rencana pembinaan dan
pengembangan
Tenaga Kerja Indonesia, secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali.
Pasal 19
Dalam hal Perusahaan mengajukan permohonan penggunaan TKWNAP untuk jabatan yang
belum tercantum
dalam LAMPIRAN keputusan ini, maka penggunaan TKWNAP berdasarkan persetujuan
Direktorat Jenderal
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 20
Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Direktur Jenderal Minyak dan
Gas Bumi
melaksanakan pembinaan dan pengembangan Tenaga Kerja Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9.
Pasal 21
Petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ini ditetapkan lebih lanjut secara bersama oleh
Direktorat Jenderal
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan Direktur
Jenderal Imigrasi.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 22
Dengan ditetapkannya Keputusan ini, Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP377/MEN/1991 tentang
Pelaksanaan Pembatasan Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang Pada
Sektor
Pertambangan dan Energi SUB Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dinyatakan tidak
berlaku lagi.
Pasal 23
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 19 Juni 1997
www.hukumonline.com
MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
DRS. ABDUL LATIEF

MENTERI ENERGI DAN SUMBER CAVA MINERAL


REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


REPUBLIK INDONESIA
NOM OR : 24 TAHUN 2012
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI ENERGI
DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG
PENYELENGGARAAN USAHA JASA PERTAMBANGAN MINERAL DAN
BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTER! ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. Bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pemberian Izin Usaha Jasa
Pertambangan dan Surat Keterangan Terdaftar, perlu menyempurnakan pengaturan
mengenai aspek-aspek penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan batubara
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Mengingat Daya
Mineral Nomor 28 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral
dan Batubara;
b. bahwa dalam rangka perigembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat, optimalisasi
dan konservasi sumber daya mineral jenis timah aluvial dan memberikan
kesempatan bekerja kepada pelaku usaha jasa pertambangan lokal dan masyarakat sekitar
tambang,perlu mengatur mekanisme pemberian pekerjaan olehPemegang IUP atau IUPK
yang berbentuk BUMN atau BUMD kepada pelaku usaha jasa pertambangan lokal dan
masyarakat sekitar tambang melalui program kemitraan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan PeraturanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 Tahun 2009
tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral dan Batubara;
Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usah"a Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817);
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4279);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan LembaranNegara Republik Indonesia
Nomor 4437) sebagaimana telah dua kali diu bah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4724);
5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomer 4756);
6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Keeil, dan Menengah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4866);

7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomer 4, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4959);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5110);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5111) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5282);
Menetapkan
11. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5142);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 85, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5172);
13. Keputusan Presiden Nomor 59/P Tahun 2011 tanggal 18 Oktober 2011;
14. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral dan Batubara (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 341);
15. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 552);
16. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2012 tentang
Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian
Mineral (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 165) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun
2012 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 534);
MEMUTUSKAN:
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR
28 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA
JASA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 28
Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral dan Batubara
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 341), diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan angka 17, angka 19, angka 21, dan angka 23


Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1
1. Jasa Pertambangan adalah jasa penunjang yangberkaitan dengan kegiatan usaha
pertambangan.
2. Usaha Jasa Pertambangan adalah usaha jasa yang kegiatannya berkaitan dengan tahapan
dan/atau bagian kegiatan usaha pertambangan.
3. Usaha Jasa Pertambangan Non Inti adalah usaha jasa selain Usaha Jasa Pertambangan yang
memberikan pelayanan jasa dalam mendukung kegiatan usaha pertambangan.
4. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta pascatambang.
5. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi
geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
6. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan Usaha Pertambangan untuk memperoleh informasi
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya
terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan
lingkungan hidup.
7. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan Usaha Pertambangan untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis
dan teknis Usaha Pertambangan, termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan serta
perencanaan pascatambang.
8. Konstruksi Pertambangan adalah kegiatan Usaha Pertambangan untuk melakukan
pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
9. Penambangan adalah bagian kegiatan Usaha Pertambangan untuk memproduksi mineral
dan/ atau batubara dan mineral ikutannya.
10. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan Usaha Pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.
11. Pengangkutan adalah kegiatan U saha Pertambangan untuk memindahkan mineral
dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat Pengolahan dan
Pemurnian sampai tempat penyerahan. 12. Pascatambang adalah kegiatan terencana,
sistematis dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan Usaha Pertambangan
untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh
wilayah penambangan.
13. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan Usaha Pertambangan untuk
menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat
berfungsi kem bali sesuai peruntukannya.
14. Lingkungan Pertambangan adalah lindungan lingkungan pertambangan yang merupakan
instrumen untuk memproteksi lingkungan hidup yang terkena dampak kegiatan Usaha
Pertambangan pada wilayah sesuai dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan.
15. Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah instrumen yang memproteksi pekerja,
perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja,
dan bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan
kerj a (zero accident).
16.Izin Usaha Jasa Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUJP, adalah izin yang diberikan
kepada Pelaku Usaha Jasa Pertambangan untuk melakukan kegiatan Usaha Jasa
Pertambangan.

17. Surat Keterangan Terdaftar, yang selanjutnya disebut SKT, adalah surat keterangan tanda
terdaftar yang diberikan kepada Perusahaan Usaha Jasa Pertambangan Non Inti yang
melakukan kegiatan secara terus-menerus di lokasi tambang.
18. Klasifikasi adalah penggolongan bidang U saha J asa Pertambangan berdasarkan kategori
konsultan, perencana, pelaksana dan pengujian peralatan.
19. Kualifikasi adalah penggolongan U saha Jasa Pertambangan berdasarkan tingkat
kemampuan keuangan perusahaan.
20. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
21. Perusahaan Jasa Pertambangan Lokal adalah perusahaan jasa yang berbadan hukum
Indonesia atau bukan berbadan hukum, yang didirikan di kabupaten/ kota atau provinsi, yang
seluruh modalnya berasal dari dalam negeri dan se bagian besar berasal dari
kabupaten/kota atau provinsi setempat, serta beroperasi dalam wilayah kabupaten/kota atau
provinsi yang bersangkutan.
22. Perusahaan Jasa Pertambangan Nasional adalah perusahaan yang didirikan dan berbadan
hukum Indonesia yang seluruh modalnya berasal dari dalam negeri dan beroperasi di wilayah
Repu blik Indonesia atau di luar wilayah Republik Indonesia.
23. Perusahaan Jasa Pertambangan Lain adalah perusahaan jasa yang didirikan di Indonesia
atau berbadan hukum Indonesia yang sebagian modalnya dimiliki oleh pihak asing sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
24.lzin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan.
25.lzin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut IUPK, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
26. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.
27. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bidang tugas dan tanggung jawabnya
meliputi kegiatan pertambangan mineral dan batubara.
2. Ketentuan ayat (3) dan ayat (4) Pasal 4 diubah serta ditambahkan 1 (satu) ayat, yakni ayat
(5), sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal4
(1) Pengusahaan Jasa Pertambangan dikelompokkan atas:
a. Usaha Jasa Pertambangan; dan
b. Usaha Jasa Pertambangan Non Inti.
(2) Jenis Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. konsultasi, perencanaan, pelaksanaan dan pengujian peralatan di bidang:
1. Penyelidikan Umum;
2. Eksplorasi;
3. Studi kelayakan;
4. Konstruksi Pertambangan;
5. Pengangkutan;
6. Lingkungan Pertambangan;
7. Pascatambang dan Reklamasi; dan/atau
8. Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
b. konsultasi, perencanaan, dan pengujian peralatan di bidang:

1. penambangan; atau
2. pengolahan dan pemurnian.
(3) Bidang Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas
subbidangsubbidang sebagaimana tereantum dalam Lampiran I A yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(4) Bidang Usaha Jasa Pertambangan Non Inti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
adalah sebagaimana tereantum dalam Lampiran I B yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.
(5) Perubahan atas bidang dan subbidang-subbidang Usaha Jasa Pertambangan dan bidang
Usaha Jasa Pertambangan Non Inti sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4)
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
3. Ketentuan ayat (4) Pasal 5 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasa15
(1) Pemegang IUP atau IUPK dalam melakukan kegiatan usahanya dapat menggunakan Jasa
Pertambangan setelah rene ana kerja kegiatannya mendapat persetujuan dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menggunakan
Perusahaan Jasa Pertambangan Lokal dan/atau Perusahaan Jasa Pertambangan Nasional.
(3) Dalam hal tidak terdapat Perusahaan Jasa Pertambangan Lokal dan/atau Perusahaan Jasa
Pertambangan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemegang IUP atau IUPK
dapat menggunakan Perusahaan Jasa Pertambangan Lain.
(4) Pemegang IUP atau IUPK dapat menggunakan Perusahaan Jasa Pertambangan Lain
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), apabila setelah melakukan pengumuman ke media
massa lokal dan/atau nasional, tidak ada Perusahaan Jasa Pertambangan
Lokal dan/ atau Perusahaan Jasa Pertambangan Nasional yang memenuhi klasifikasi dan
kualifikasi yang dibutuhkan Pemegang IUP atau IUPK.
(5) Dalam hal Perusahaan Jasa Pertambangan Lain mendapatkan pekerjaan di bidang Jasa
Pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Perusahaan Jasa Pertambangan Lain
harus memberikan sebagian pekerjaan yang didapatkannya kepada Perusahaan
Jasa Pertambangan Lokal sebagai subkontraktor sesuai dengan kompetensinya.
(6) Pemegang IUP atau IUPK dalam menggunakan Perusahaan Jasa Pertambangan Lain
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib menerapkan asas kepatutan, transparan dan
kewajaran.
4. Ketentuan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Pasal 10 diubah serta ditambahkan 3 (tiga) ayat,
yakni ayat (4), ayat (5), dan ayat (6), sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 10
(1) Pemegang IUP atau IUPK Operasi Produksi wajib melaksanakan sendiri kegiatan
Penambangan.
(2) Pemegang IUP atau IUPK Operasi Produksi dapat menyerahkan kegiatan Penambangan
kepada perusahaan Usaha Jasa Pertambangan terbatas pada kegiatan pengupasan lapisan
(stripping) batuan/tanah penutup.
(3) Pengupasan lapisan (stripping) batuan/tanah penutup sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) terdiri atas kegiatan penggalian, pemuatan, dan pemindahan lapisan (stripping)
batuan/tanah penutup dengan atau tanpa didahului peledakan.
(4) Dalam rangka pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat, optimalisasi
pemanfaatan, dan konservasi sumber daya mineral jenis timah aluvial, pemegang IUP atau
IUPK yang berbentuk BUMN atau BUMD dalam pelaksanaan kegiatan penggalian

endapan timah aluvial, dapat menyerahkan pekerjaannya kepada Perusahaan Jasa


Pertambangan Lokal dan/ atau masyarakat sekitar tambang melalui program kemitraan,
setelah mendapatkan persetujuan Menteri.
(5) Pemegang IUP atau IUPK dengan metode tambang bawah tanah, dalam pembuatan akses
tunnel/shaft menuju vein ore/ seam coal, penyaliran, dan peranginan, dapat menyerahkan
pekerjaannya kepada perusahaan Usaha Jasa Pertambangan Bidang Konstruksi Pertambangan
Subbidang Penerowongan (Tunneling).
(6) Pemegang IUP atau IUPK dapat menggunakan peralatan milik perusahaan pemegang
SKT melalui mekanisme penyewaan alat berat.
5. Ketentuan ayat (2) Pasal 13 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 13
( 1) Klasifikasi U saha J asa Pertam bangan terdiri atas:
a. konsultan;
b. perencana;
c. pelaksana; dan
d. penguji peralatan,
pada bidang jasa pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4.
(2) Klasifikasi Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dalam
pelaksanaan kegiatannya disesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal 10 ayat (2), ayat (3), ayat
(4), dan ayat (5).
6. Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) Pasal 14 diubah serta ditambahkan 2 (dua) ayat, yakni ayat
(3) dan ayat (4), sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 14
(1) Kualifikasi Usaha Jasa Pertambangan terdiri atas:
a. kecil;
b. menengah; dan
e. besar.
(2) Kualifikasi untuk Klasifikasi konsultan, pereneana, pelaksana, dan penguji peralatan
untuk bidang Penyelidikan Umum, Eksplorasi, Studi Kelayakan, Lingkungan Pertambangan,
Paseatambang dan Reklamasi, dan Keselamatan dan Kesehatan Kerjaserta Kualifikasi untuk
Klasifikasi konsultan, pereneana, dan penguji perala tan bidang Konstruksi Pertambangan,
Penambangan, Pen gangkutan , serta Pengolahan dan Pemurnian serta pelaksana kegiatan
penggalian timah aluvial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) ditentukan sebagai
berikut:
a. Kualifikasi keeil apabila memiliki kekayaan bersih Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah);
b. Kualifikasi menengah apabila memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah); dan
c. Kualifikasi besar apabila memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
(3) Kualifikasi untuk Klasifikasi pelaksana Konstruksi Pertambangan dan Pengangkutan
sebagaimanadimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a angka 4 dan angka 5 serta pengupasan
lapisan (stripping) batuan/tanah penutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dan
ayat (3) ditentukan sebagai berikut:
a. Kualifikasi keeil apabila memiliki kekayaan bersih Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah) sampai dengan Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah);
b. Kualifikasi menengah apabila memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 20.000.000.000,00

(dua puluh miliar rupiah) sampai dengan Rp 100.000.000.000,00 (seratus milyar rupiah);
Dan
c. Kualifikasi besar apabila memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 100.000.000.000,00
(seratus miliar rupiah).
(4) Persyaratan jumlah kepemilikan kekayaan bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dan ayat (3) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
7. Ketentuan ayat (3) dan (4) Pasal 15 diubah, sehingga
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 15
(1) Pelaku Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat melakukan
kegiatannya setelah mendapatkan IUJP dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
(2) IUJP diberikan oleh Menteri kepada pelaku Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal ayat (2) huruf b dan huruf c, dan ayat (4) untuk melakukan kegiatan
Usaha Jasa Pertambangan di seluruh wilayah Indonesia.
(3) IUJP diberikan oleh gubernur kepada pelaku Usaha Jasa Pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a dan ayat (3) untuk melakukan kegiatan Usaha Jasa
Pertambangan dalam wilayah provinsi yang bersangkutan.
(4) IUJP diberikan oleh bupati/walikota kepada pelaku Usaha Jasa Pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a dan ayat (3) untuk melakukan kegiatan
Usaha Jasa Pertambangan dalam wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan.
8. Ketentuan ayat (1) dan ayat (4) Pasal 17 diubah serta ditambahkan 1 (satu) ayat, yakni ayat
(6), sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 17
(1) IUJP atau SKT diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan atas permohonan yang
bersangkutan dapat diperpanjang.
(2) Permohonan perpanjangan IUJP atau SKT harus diajukan dalam jangka waktu paling
lambat 1 (satu) bulan sebelum IUJP atau SKT berakhir.
(3) IUJP atau SKT yang telah diberikan kepada pelaku usaha jasa pertambangan dilarang
dipindahtangankan kepada pihak lain.
(4) IUJP atau SKT diberikan berdasarkan permohonan:
a. baru;
b. perpanjangan; dan/atau
c. perubahan.
(5) Permohonan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c diajukan apabila
terjadi perubahan:
a. klasifikasi; dan/ atau
b. kualifikasL
(6) Permohonan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diajukan paling cepat 6
(enam) bulan sejak di terbitkannya IUJP atau SKT.
9. Ketentuan Pasal 18 diubah, sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 18
Permohonan IUJP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) diajukan secara tertulis
kepada Menteri,gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan
format dan persyaratan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II A, Lampiran II B,
Lampiran II C, dan Lampiran II D yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.

10. Ketentuan Pasal 19 diubah, sehingga Pasal 19 berbunyi


sebagai berikut:
Pasal 19
Permohonan SKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) diajukan secara tertulis
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan
format dan persyaratan sebagaimana tercantum dalam Lampiran III A, Lampiran III B,
Lampiran III C, dan Lampiran III D yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri inL
11. Diantara Pasal 22 dan Pasal 23 disisipkan 1 (satu) Pasal, yakni Pasa122 A, yang berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 22 A
(1) IUJP yang akan menggunakan tenaga kerja asing, maka rencana penggunaannya harus
mendapat izin dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau pejabat yang ditunjuk.
(2) Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terlebih dahulu harus
mendapatkan persetujuan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
12. Ketentuan huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, dan huruf i Pasal 23 diubah, sehingga
berbunyi sebagai berikut:
Pasal23
Pemegang IUJP atau SKT dalam melaksanakan kegiatan usahanya wajib:
a. mengutamakan produk dalam negeri;
b. mengutamakan subkontraktor lokal sesuai
kompetensinya;
c. mengutamakan tenaga kerja lokal;
d. melakukan kegiatan sesuai dengan jenis dan bidang
usahanya;
e. menyampaikan setiap dokumen kontrak jasa pertambangan dengan pemegang IUP atau
IUPK kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
f. melakukan upaya pengelolaan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
g. mengoptimalkan pembelanjaan lokal baik barang maupun jasa pertambangan yang
diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan usaha jasanya;
h. melaksanakan ketentuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan;
i. melaksanakan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat meliputi
peningkatan pendidikan dan pelatihan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi lokal; dan
J. menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan kepada pemberi IUJP atau SKT.
13. Ketentuan ayat (3) dan ayat (4) Pasal 24 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal24
(1) Kewajiban penyusunan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf j berupa
laporan elaksanaan kegiatan:
a. triwulan; dan
b. tahunan.
(2) Laporan triwulan dan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. investasi;
b. nilai kontrak;

c. realisasi kontrak;
d. pemberi kontrak;
e. tenaga kerj a;
f. peralatan (masterlist);
g. penerimaan negara;
h. penerimaan daerah;
1. pembelanjaan lokal, nasional danl atau impor; dan
J. pengembangan masyarakat (community
development) .
(3) Bentuk dan tata cara laporan triwulan dan tahunan IUJP disusun berdasarkan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV A dan Lampiran IV B yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(4) Bentuk dan tata cara laporan triwulan dan tahunan SKT disusun berdasarkan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
14. Ketentuan ayat (1) huruf b Pasal 31 diubah serta ditambahkan 1 (satu) huruf, yakni huruf
e, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasa1 31
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
memberikan sanksi administratif kepada pemegang IUJP atau SKT yang melakukan
pelanggaran sebagai berikut:
a. melaksanakan kegiatan tidak sesuai dengan IUJP atau SKT; atau
b. tidak menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan triwulan danl atau tahunan dalam
jangka waktupaling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah akhir periode selama 3 (tiga) kali
berturut-turut;
c. tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 sampai dengan
Pasal 26;
d. memberikan data yang tidak benar atau memalsukan dokumen; atau
e. memindahtangankan IUJP atau SKTnya kepada pihak lain.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan atas sebagian
atau seluruh bidangjasa pertambangan; atau
c. pencabutan IUJP atau SKT.
Pasal II
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 9 Oktober 2012
Ditetapkan di Jakarta
padatanggal8 Oktober 2012
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.
JEROWACIK
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 989

KEPUTUSAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP. 51/MEN/IV/2004
TENTANG
ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a.bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 79 ayat (4) Undang-undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perlu diatur mengenai perusahaan
tertentu yang wajib melaksanakan istirahat panjang ;
b.bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri ;
Mengingat :
1.Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya

Undang-undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari


Republik Indonesia untuk Indonesia (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1951 Nomor 4) ;
2.Undang-undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor
Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1981 Nomor 3201) ;
3.Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
( Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2003 Nomor 39, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279) ;
4.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001
tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong.
Memperhatikan :
1.Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional
tanggal 23 Maret 2004 ;
2.Kesepakatan Rapat Pleno Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit
Nasional tanggal 23 Maret 2004 ;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA TENTANG ISTIRAHAT PANJANG PADA
PERUSAHAAN TERTENTU.
Pasal 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Istirahat panjang adalah istirahat yang diberikan kepada pekerja/buruh setelah masa kerja
6 (enam) tahun secara terus menerus pada perusahaan yang sama.
2. Perusahaan yang sama adalah perusahaan yang berada dalam satu badan hukum.
3. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Pasal 2
Perusahaan yang wajib melaksanakan istirahat panjang adalah perusahaan yang selama ini
telah melaksanakan istirahat panjang sebelum ditetapkannya Keputusan Menteri ini.
Pasal 3
(1) Pekerja/buruh yang melaksanakan hak istirahat panjang pada tahun ketujuh dan
kedelapan, tidak berhak atas istirahat tahunan pada tahun tersebut;
(2) Selama menjalankan hak istirahat panjang pekerja/buruh berhak atas upah penuh dan
pada pelaksanaan istirahat tahun kedelapan pekerja/buruh diberikan kompensasi hak
istirahat tahunan sebesar setengah bulan gaji.
(3) Gaji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdiri dari upah pokok ditambah tunjangan
tetap.
Pasal 4
(1) Pengusaha wajib memberitahukan secara tertulis kepada pekerja/buruh tentang saat
timbulnya hak istirahat panjang selambat-lambatnya 30 ( tiga puluh) hari sebelum hak
istirahat panjang timbul.
(2) Hak istirahat panjang gugur apabila dalam waktu 6 (enam) bulan sejak hak atas istirahat
panjang tersebut timbul pekerja/buruh tidak mempergunakan haknya.
(3) Hak istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak gugur apabila
pekerja/buruh tidak dapat mempergunakan haknya.
Pasal 5

(1) Perusahaan dapat menunda pelaksanaan istirahat panjang untuk paling lama 6 (enam)
bulan terhitung sejak timbulnya hak atas istirahat panjang dengan memperhatikan
kepentingan pekerja/buruh dan atau perusahaan.
(2) Penundaan pelaksanaan istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus
diatur dalam perjanjian kerja bersama.
Pasal 6
Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi pekerja/buruh belum mempergunakan
hak istirahat panjangnya dan hak tersebut belum gugur atau pengusaha menunda pelaksanaan
istirahat panjang tersebut, maka pekerja/buruh berhak atas suatu pembayaran upah dan
kompensansi hak istirahat panjang yang seharusnya diterima.
Pasal 7
(1) Dalam hal perusahaan telah memberikan hak istirahat panjang lebih baik dari ketentuan
yang diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan
ketentuan dalam Keputusan Menteri ini, maka perusahaan tidak boleh mengurangi hal
tersebut.
(2) Dalam hal perusahaan telah memberikan hak istirahat panjang kepada pekerja/buruh
tetapi lebih rendah dari ketentuan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri ini, maka perusahaan wajib menyesuaikan
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut.
Pasal 8
Pelaksanaan istirahat panjang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau
perjanjian kerja bersama.
Pasal 9
Menteri dapat menetapkan perubahan perusahaan yang wajib memberikan istirahat panjang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 sesuai dengan perkembangan ketenagakerjaan.
Pasal 10
Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Di tetapkan di Jakarta
pada tanggal 8 April 2004
MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
JACOB NUWA WEA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang:
a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha
Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena
itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata
bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat
secara berkeadilan;
b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan kegiatan
usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai
peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan
ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan;
c. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional maupun internasional, UndangUndang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah
tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang
pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi
mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan
berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf
c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Mengingat:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 dan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
Dengan Persetujuan Bersama:
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
2. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan
kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik
dalam bentuk lepas atau padu.
3. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari
sisa tumbuh-tumbuhan.
4. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau

batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
5. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam
bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
6. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang.
7. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan.
8. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan
9. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP
Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi.
10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk melaksanakan
usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan
investasi terbatas.
11. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah izin
untuk
melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
12. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.
13. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan
IUPK
Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah izin usaha
pertambangan khusus.
14. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi
geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
15. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber
daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan
hidup.
16. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi
secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan
teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta
perencanaan pascatambang.
17. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi,
penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta
sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan
18. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan seluruh
fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
19. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral
dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
20. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.
21. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral dan/atau
batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengolahan dan pemurnian sampai tempat
penyerahan.

22. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan
mineral
atau batubara.
23. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
24. Jasa Pertambangan adalah jasa penunjang yang berkaitan dengan kegiatan usaha
pertambangan.
25. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
26. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk
menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat
berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
27. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan
terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi
lokal di seluruh wilayah penambangan.
28. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat,
baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya.
29. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki
potensi
mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang
merupakan bagian dari tata ruang nasional.
30. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian dan WP
yang
telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
31. Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WIUP, adalah wilayah yang
diberikan kepada pemegang IUP.
32. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian dari WP
tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
33. Wilayah Pencadangan Negara, yang selanjutnya disebut WPN, adalah bagian dari WP
yang
dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
34. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah bagian
dari
WPN yang dapat diusahakan.
35. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK, yang selanjutnya disebut
WIUPK,
adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK.
36. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
37. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Pertambangan mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan:
a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan;
b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
c. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;
d. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan, tujuan
pengelolaan
mineral dan batubara adalah:
a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan secara
berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;
b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan hidup;
c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai sumber
energi untuk kebutuhan dalam negeri;
d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing
di tingkat nasional, regional, dan internasional;
e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta menciptakan
lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat; dan
f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan mineral
dan batubara.
BAB III
PENGUASAAN MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 4
(1) Mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan
kekayaan
nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
(2) Penguasaan mineral dan batubara oleh negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
Pasal 5
(1) Untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia dapat menetapkan kebijakan pengutamaan mineral dan/atau
batubara untuk kepentingan dalam negeri.
(2) Kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan
pengendalian produksi dan ekspor.
(3) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah
mempunyai kewenangan untuk menetapkan jumlah produksi tiap-tiap komoditas per tahun
setiap provinsi.
(4) Pemerintah daerah wajib mematuhi ketentuan jumlah yang ditetapkan oleh Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengutamaan mineral dan/atau batubara untuk
kepentingan
dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pengendalian produksi dan ekspor
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB IV
KEWENANGAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 6
(1) Kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara
lain, adalah:
a. penetapan kebijakan nasional;
b. pembuatan peraturan perundang-undangan;
c. penetapan standar nasional, pedoman, dan kriteria;
d. penetapan sistem perizinan pertambangan mineral dan batubara nasional;
e. penetapan WP yang dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;
f. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan
usaha pertambangan yang berada pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut
lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
g. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan
usaha pertambangan yang lokasi penambangannya berada pada lintas wilayah
provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
h. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan
usaha pertambangan operasi produksi yang berdampak lingkungan langsung lintas
provinsi dan/atau dalam wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
i. pemberian IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi;
j. pengevaluasian IUP Operasi Produksi, yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah,
yang telah menimbulkan kerusakan lingkungan serta yang tidak menerapkan kaidah
pertambangan yang baik;
k. penetapan kebijakan produksi, pemasaran, pemanfaatan, dan konservasi;
l. penetapan kebijakan kerja sama, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat;
m. perumusan dan penetapan penerimaan negara bukan pajak dari hasil usaha
pertambangan mineral dan batubara;
n. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah;
o. pembinaan dan pengawasan penyusunan peraturan daerah di bidang pertambangan;
p. penginventarisasian, penyelidikan, dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sebagai bahan penyusunan
WUP dan WPN;
q. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan batubara,
serta informasi pertambangan pada tingkat nasional;
r. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang;
s. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional;
t. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan; dan
u. peningkatan kemampuan aparatur Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
(1) Kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara,
antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil
sampai dengan 12 (dua belas) mil;

c. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha


pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas wilayah
kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
d. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/kota dan/atau wilayah
laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
e. penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai dengan
kewenangannya;
f. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan batubara,
serta informasi pertambangan pada daerah/wilayah provinsi;
g. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada daerah/wilayah provinsi;
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan di
provinsi;
i. pengembangan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
j. pengoordinasian perizinan dan pengawasan penggunaan bahan peledak di wilayah
tambang sesuai dengan kewenangannya;
k. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian serta
eksplorasi kepada Menteri dan bupati/walikota;
l. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada
Menteri dan bupati/walikota;
m. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
n. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
(1) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut
sampai dengan 4 (empat) mil;
c. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan
pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil;
d. penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian, serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara;
e. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi mineral dan batubara, serta informasi
pertambangan pada wilayah kabupaten /kota;
f. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada wilayah kabupaten/kota;
g. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha
pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha
pertambangan secara optimal;
i. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian, serta
eksplorasi dan eksploitasi kepada Menteri dan gubernur;
j. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada
Menteri dan gubernur;

k. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan


l. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah kabupaten/kota dalam
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB V
WILAYAH PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 9
(1) WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan kegiatan
pertambangan.
(2) WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah setelah
berkoordinasi
dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.
Pasal 10
Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:
a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b. secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait,
masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya,
serta berwawasan lingkungan; dan
c. dengan memperhatikan aspirasi daerah.
Pasal 11
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan penyelidikan dan penelitian
pertambangan
dalam rangka penyiapan WP.
Pasal 12
Ketentuan lebih lanjut mengenai batas, luas, dan mekanisme penetapan WP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 13
WP terdiri atas:
a. WUP;
b. WPR; dan
c. WPN.
Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan
Pasal 14
(1) Penetapan WUP dilakukan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah
daerah dan disampaikan secara tertulis kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pemerintah daerah
yang
bersangkutan berdasarkan data dan informasi yang dimiliki Pemerintah dan pemerintah
daerah.
Pasal 15
Pemerintah dapat melimpahkan sebagian kewenangannya dalam penetapan WUP
sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) kepada pemerintah provinsi sesuai dengan ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
Pasal 16
Satu WUP terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP yang berada pada lintas wilayah provinsi,
lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.
Pasal 17
Luas dan batas WIUP mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah berkoordinasi
dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh Pemerintah.
Pasal 18
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUP dalam 1 (satu) WUP adalah sebagai
berikut:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan batas dan luas WIUP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 diatur dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat
Pasal 20
Kegiatan pertambangan rakyat dilaksanakan dalam suatu WPR.
Pasal 21
WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ditetapkan oleh bupati/walikota setelah
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.
Pasal 22
Kriteria untuk menetapkan WPR adalah sebagai berikut:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di antara tepi dan
tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua
puluh lima) meter;
c. endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d. luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan
sekurangkurangnya
15 (lima belas) tahun.
Pasal 23
Dalam menetapkan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, bupati/walikota
berkewajiban
melakukan pengumuman mengenai rencana WPR kepada masyarakat secara terbuka.
Pasal 24
Wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan tetapi belum ditetapkan
sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR.
Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, prosedur, dan penetapan WPR sebagaimana
dimaksud

dalam Pasal 21 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan pemerintah.


Pasal 26
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan mekanisme penetapan WPR, sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 22 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota.
Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara
Pasal 27
(1) Untuk kepentingan strategis nasional, Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia dan dengan memperhatikan aspirasi daerah menetapkan WPN
sebagai daerah yang dicadangkan untuk komoditas tertentu dan daerah konservasi dalam
rangka menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan.
(2) WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat
diusahakan sebagian luas wilayahnya dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia.
(3) WPN yang ditetapkan untuk konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan
batasan waktu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(4) Wilayah yang akan diusahakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) berubah
statusnya menjadi WUPK.
Pasal 28
Perubahan status WPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
menjadi WUPK dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:
a. pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;
b. sumber devisa negara;
c. kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;
d. berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;
e. daya dukung lingkungan; dan/atau
f. penggunaan teknologi tinggi dan modal investasi yang besar.
Pasal 29
(1) WUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4) yang akan diusahakan ditetapkan
oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
(2) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan di WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
dilakukan dalam bentuk IUPK.
Pasal 30
Satu WUPK terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUPK yang berada pada lintas wilayah
provinsi,
lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.
Pasal 31
Luas dan batas WIUPK mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah
berkoordinasi
dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria dan informasi yang dimiliki oleh Pemerintah.
Pasal 32
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUPK dalam 1 (satu) WUPK adalah
sebagai
berikut:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;

c. daya dukung lindungan lingkungan;


d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.
Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan luas dan batas WIUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 dan Pasal 32 diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB VI
USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 34
(1) Usaha pertambangan dikelompokkan atas:
a. pertambangan mineral; dan
b. pertambangan batubara.
(2) Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
a. pertambangan mineral radioaktif;
b. pertambangan mineral logam;
c. pertambangan mineral bukan logam; dan
d. pertambangan batuan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu komoditas tambang ke dalam suatu
golongan pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan
peraturan pemerintah.
Pasal 35
Usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilaksanakan dalam bentuk:
a. IUP;
b. IPR; dan
c. IUPK.
BAB VII
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 36
(1) IUP terdiri atas dua tahap:
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi dan pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian
atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 37
IUP diberikan oleh:
a. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b. gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan
c. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 38
IUP diberikan kepada:
a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.
Pasal 39
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a wajib memuat
ketentuan sekurang-kurangnya:
a. nama perusahaan;
b. lokasi dan luas wilayah;
c. rencana umum tata ruang;
d. jaminan kesungguhan;
e. modal investasi;
f. perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g. hak dan kewajiban pemegang IUP;
h. jangka waktu berlakunya tahap kegiatan;
i. jenis usaha yang diberikan;
j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
k. perpajakan;
l. penyelesaian perselisihan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n. amdal.
(2) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b wajib
memuat ketentuan sekurang-kurangnya:
a. nama perusahaan;
b. luas wilayah;
c. lokasi penambangan;
d. lokasi pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan dan penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu berlakunya IUP;
h. jangka waktu tahap kegiatan;
i. penyelesaian masalah pertanahan;
j. lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pascatambang;
k. dana jaminan reklamasi dan pascatambang;
l. perpanjangan IUP;
m. hak dan kewajiban pemegang IUP;
n. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
o. perpajakan;
p. penerimaan negara bukan pajak yang terdiri atas iuran tetap dan iuran produksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselamatan dan kesehatan kerja;
s. konservasi mineral atau batubara;
t. pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi dalam negeri;
u. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan data mineral atau batubara; dan

x. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau


batubara.
Pasal 40
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral
atau batubara.
(2) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di
dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(3) Pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur, dan
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat
untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(5) Pemegang IUP yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak
dimanfaatkan pihak lain.
(6) IUP untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat diberikan
kepada pihak lain oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 41
IUP tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUP.
Bagian Kedua
IUP Eksplorasi
Pasal 42
(1) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 8 (delapan) tahun.
(2) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan paling lama
dalam
jangka waktu 3 (tiga) tahun dan mineral bukan logam jenis tertentu dapat diberikan dalam
jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.
(3) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu paling
lama
3 (tiga) tahun.
(4) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling
lama 7 (tujuh) tahun.
Pasal 43
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUP Eksplorasi
yang
mendapatkan mineral atau batubara yang tergali wajib melaporkan kepada pemberi IUP.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi yang ingin menjual mineral atau batubara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan pengangkutan
dan penjualan.
Pasal 44
Izin sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) diberikan oleh Menteri,
gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 45
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dikenai iuran
produksi.
Bagian Ketiga

IUP Operasi Produksi


Pasal 46
(1) Setiap pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi
sebagai
kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
(2) IUP Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan
atas hasil pelelangan WIUP mineral logam atau batubara yang telah mempunyai data hasil
kajian studi kelayakan.
Pasal 47
(1) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing
10 (sepuluh) tahun.
(2) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan dalam
jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali
masingmasing
5 (lima) tahun.
(3) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam jenis tertentu dapat
diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2
(dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.
(4) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 5 (lima)
tahun.
(5) IUP Operasi Produksi untuk Pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10
(sepuluh) tahun.
Pasal 48
IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a. bupati/walikota apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta
pelabuhan berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b. gubernur apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan
berada di dalam wilayah kabupaten/kota yang berbeda setelah mendapatkan rekomendasi
dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. Menteri apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan
berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda setelah mendapatkan rekomendasi dari
gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Pasal 49
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 dan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 diatur
dengan
peraturan pemerintah.
Bagian Keempat
Pertambangan Mineral
Paragraf 1
Pertambangan Mineral Radioaktif
Pasal 50
WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 2

Pertambangan Mineral Logam


Pasal 51
WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara
lelang.
Pasal 52
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000
(lima
ribu) hektare dan paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral logam dapat diberikan IUP
kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan
pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 53
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling banyak
25.000
(dua puluh lima ribu) hektare.
Paragraf 3
Pertambangan Mineral Bukan Logam
Pasal 54
WIUP mineral bukan logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
dengan
cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37.
Pasal 55
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit
500
(lima ratus) hektare dan paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dapat diberikan
IUP
kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan, pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 56
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling
banyak
5.000 (lima ribu) hektare.
Paragraf 4
Pertambangan Batuan
Pasal 57
WIUP batuan diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara
permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37.
Pasal 58
(1) Pemegang IUP Eksplorasi batuan diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5 (lima) hektare
dan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batuan dapat diberikan IUP kepada
pihak
lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan
pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 59
Pemegang IUP Operasi Produksi batuan diberi WIUP dengan luas paling banyak 1.000
(seribu)
hektare.
Bagian Kelima
Pertambangan Batubara
Pasal 60
WIUP batubara diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara
lelang.
Pasal 61
(1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000 (lima
ribu)
hektare dan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP kepada
pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan
pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 62
Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling banyak 15.000
(lima
belas ribu) hektare.
Pasal 63
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal
51, Pasal 54, Pasal 57, dan Pasal 60 diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB VIII
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 64
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban
mengumumkan
rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 serta
memberikan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
36
kepada masyarakat secara terbuka.
Pasal 65
(1) Badan usaha, koperasi, dan perseorangan sebagaimana dimaksud dalam. Pasal 51, Pasal
54, Pasal 57, dan Pasal 60 yang melakukan usaha pertambangan wajib memenuhi
persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, dan persyaratan
finansial.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan
lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan pemerintah.
BAB IX
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT
Pasal 66
Kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikelompokkan
sebagai
berikut:
a. pertambangan mineral logam;

b. pertambangan mineral bukan logam;


c. pertambangan batuan; dan/atau
d. pertambangan batubara.
Pasal 67
(1) Bupati/walikota memberikan IPR terutama kepada penduduk setempat, baik perseorangan
maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
(2) Bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan pelaksanaan pemberian IPR
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kepada camat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(3) Untuk memperoleh IPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon wajib
menyampaikan surat permohonan kepada bupati/walikota.
Pasal 68
(1) Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat diberikan kepada:
a. perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare;
b. kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare; dan/atau
c. koperasi paling banyak 10 (sepuluh) hektare.
(2) IPR diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.
Pasal 69
Pemegang IPR berhak:
a. mendapat pembinaan dan pengawasan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja,
lingkungan, teknis pertambangan, dan manajemen dari Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah; dan
b. mendapat bantuan modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 70
Pemegang IPR wajib:
a. melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah IPR diterbitkan;
b. mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja
pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan memenuhi standar yang berlaku;
c. mengelola lingkungan hidup bersama pemerintah daerah;
d. membayar iuran tetap dan iuran produksi; dan
e. menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan rakyat secara berkala
kepada pemberi IPR.
Pasal 71
(1) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70, pemegang IPR dalam
melakukan
kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 wajib menaati
ketentuan persyaratan teknis pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 72
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IPR diatur dengan peraturan daerah
kabupaten/kota.
Pasal 73
(1) Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pembinaan di bidang pengusahaan, teknologi
pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam usaha meningkatkan kemampuan
usaha pertambangan rakyat.
(2) Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis pada usaha
pertambangan rakyat yang meliputi:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;

b. pengelolaan lingkungan hidup; dan


c. pascatambang.
(3) Untuk melaksanakan pengamanan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
pemerintah
kabupaten/kota wajib mengangkat pejabat fungsional inspektur tambang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pemerintah kabupaten/kota wajib mencatat hasil produksi dan seluruh kegiatan usaha
pertambangan rakyat yang berada dalam wilayahnya dan melaporkannya secara berkala
kepada Menteri dan gubernur setempat.
BAB X
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 74
(1) IUPK diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral logam
atau batubara dalam 1 (satu) WIUPK.
(3) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di
dalam WIUPK yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(4) Pemegang IUPK yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud
pada
ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUPK baru kepada Menteri.
(5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat
untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(6) Pemegang IUPK yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak
dimanfaatkan pihak lain.
(7) IUPK untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat
diberikan
kepada pihak lain oleh Menteri.
Pasal 75
(1) Pemberian IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) dilakukan berdasarkan
pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada badan usaha yang
berbadan hukum Indonesia, baik berupa badan usaha milik negara, badan usaha milik
daerah, maupun badan usaha swasta.
(3) Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) mendapat prioritas dalam mendapatkan IUPK.
(4) Badan usaha swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk mendapatkan IUPK
dilaksanakan dengan cara lelang WIUPK.
Pasal 76
(1) IUPK terdiri atas dua tahap:
a. IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan;
b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi dan pemegang IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh IUPK sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 77

(1) Setiap pemegang IUPK Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUPK Operasi Produksi
sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
(2) IUPK Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha yang berbadan hukum
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3) dan ayat (4) yang telah
mempunyai data hasil kajian studi kelayakan.
Pasal 78
IUPK Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf a sekurang-kurangnya
wajib memuat:
a. nama perusahaan; b. luas dan lokasi wilayah;
c. rencana umum tata ruang;
d. jaminan kesungguhan;
e. modal investasi;
f. perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g. hak dan kewajiban pemegang IUPK;
h. jangka waktu tahap kegiatan;
i. jenis usaha yang diberikan;
j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan;
k. perpajakan;
l. penyelesaian perselisihan masalah pertanahan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n. amdal.
Pasal 79
IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b
sekurangkurangnya
wajib memuat:
a. nama perusahaan;
b. luas wilayah;
c. lokasi penambangan;
d. lokasi pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan dan penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu tahap kegiatan;
h. penyelesaian masalah pertanahan;
i. lingkungan hidup, termasuk reklamasi dan pascatambang;
j. dana jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang;
k. jangka waktu berlakunya IUPK;
l. perpanjangan IUPK;
m. hak dan kewajiban;
n. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan;
o. perpajakan;
p. iuran tetap dan iuran produksi serta bagian pendapatan negara/daerah, yang terdiri atas
bagi hasil dan keuntungan bersih sejak berproduksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselamatan dan kesehatan kerja;
s. konservasi mineral atau batubara;
t. pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri;
u. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan data mineral atau batubara;

x. penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau


batubara; dan
y. divestasi saham.
Pasal 80
IUPK tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUPK.
Pasal 81
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUPK Eksplorasi
yang mendapatkan mineral logam atau batubara yang tergali wajib melaporkan kepada
Menteri.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi yang ingin menjual mineral logam atau batubara
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan pengangkutan
dan penjualan.
(3) Izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri.
Pasal 82
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 dikenai iuran
produksi.
Pasal 83
Persyaratan luas wilayah dan jangka waktu sesuai dengan kelompok usaha pertambangan
yang
berlaku bagi pemegang IUPK meliputi:
a. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan mineral logam
diberikan
dengan luas paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
b. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan mineral logam
diberikan dengan luas paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
c. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan batubara diberikan
dengan luas paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
d. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan batubara
diberikan dengan luas paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.
e. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan mineral logam dapat diberikan paling lama 8
(delapan) tahun.
f. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan batubara dapat diberikan paling lama 7
(tujuh)
tahun.
g. jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara dapat diberikan paling
lama 20 (dua puluh ) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh)
tahun.
Pasal 84
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUPK sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal 74 ayat (2) dan ayat (3), dan Pasal 75 ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XI
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 85
Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 serta memberikan IUPK Eksplorasi dan IUPK
Operasi
Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 kepada masyarakat secara terbuka.
Pasal 86

(1) Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) yang melakukan kegiatan
dalam WIUPK wajib memenuhi persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan
lingkungan dan persyaratan finansial.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan
lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan pemerintah.
BAB XII
DATA PERTAMBANGAN
Pasal 87
Untuk menunjang penyiapan WP dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
pertambangan, Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya dapat menugasi
lembaga
riset negara dan/atau daerah untuk melakukan penyelidikan dan penelitian tentang
pertambangan.
Pasal 88
(1) Data yang diperoleh dan kegiatan usaha pertambangan merupakan data milik Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(2) Data usaha pertambangan yang dimiliki pemerintah daerah wajib disampaikan kepada
Pemerintah untuk pengelolaan data pertambangan tingkat nasional.
(3) Pengelolaan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah
dan/ atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 89
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan penyelidikan dan penelitian
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 87 dan pengelolaan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 diatur
dengan peraturan pemerintah.
BAB XIII
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 90
Pemegang IUP dan IUPK dapat melakukan sebagian atau seluruh tahapan usaha
pertambangan,
baik kegiatan eksplorasi maupun kegiatan operasi produksi.
Pasal 91
Pemegang IUP dan IUPK dapat memanfaatkan prasarana dan sarana umum untuk keperluan
pertambangan setelah memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 92
Pemegang IUP dan IUPK berhak memiliki mineral, termasuk mineral ikutannya, atau
batubara
yang telah diproduksi apabila telah memenuhi iuran eksplorasi atau iuran produksi, kecuali
mineral
ikutan radioaktif.
Pasal 93
(1) Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya kepada pihak
lain.
(2) Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia hanya dapat
dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu.
(3) Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat

dilakukan dengan syarat : a. harus memberi tahu kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya; dan
b. sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 94
Pemegang IUP dan IUPK dijamin haknya untuk melakukan usaha pertambangan sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 95
Pemegang IUP dan IUPK wajib:
a. menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik;
b. mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia;
c. meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara;
d. melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat; dan
e. mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan.
Pasal 96
Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik, pemegang IUP dan IUPK wajib
melaksanakan:
a. ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
b. keselamatan operasi pertambangan;
c. pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan reklamasi dan
pascatambang;
d. upaya konservasi sumber daya mineral dan batubara;
e. pengelolaan sisa tambang dari suatu kegiatan usaha pertambangan dalam bentuk padat,
cair, atau gas sampai memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke media
lingkungan.
Pasal 97
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan
sesuai
dengan karakteristik suatu daerah.
Pasal 98
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung sumber daya air
yang
bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 99
(1) Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana
pascatambang pada saat mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi.
(2) Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pascatambang dilakukan sesuai dengan peruntukan
lahan pascatambang.
(3) Peruntukan lahan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan dalam
perjanjian penggunaan tanah antara pemegang IUP atau IUPK dan pemegang hak atas
tanah.
Pasal 100
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan
pascatambang.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan
pihak ketiga untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan dana jaminan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1).


(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan apabila pemegang IUP atau
IUPK tidak melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan rencana yang telah
disetujui.
Pasal 101
Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 99 serta dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 100 diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 102
Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau
batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan
mineral dan batubara.
Pasal 103
(1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian
hasil penambangan di dalam negeri.
(2) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengolah dan
memurnikan hasil penambangan dari pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan nilai tambah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 102 serta pengolahan dan pemurnian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan peraturan pemerintah.
Pasal 104
(1) Untuk pengolahan dan pemurnian, pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi
Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dapat melakukan kerja sama dengan
badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang telah mendapatkan. IUP atau IUPK.
(2) IUP yang didapat badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah IUP Operasi
Produksi Khusus untuk pengolahan dan pemurnian yang dikeluarkan oleh Menteri,
gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melakukan
pengolahan dan pemurnian dari hasil penambangan yang tidak memiliki IUP, IPR, atau
IUPK.
Pasal 105
(1) Badan usaha yang tidak bergerak pada usaha pertambangan yang bermaksud menjual
mineral dan/atau batubara yang tergali wajib terlebih dahulu memiliki IUP Operasi Produksi
untuk penjualan.
(2) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan untuk 1 (satu) kali
penjualan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Mineral atau batubara yang tergali dan akan dijual sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai iuran produksi.
(4) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan. ayat (2) wajib menyampaikan
laporan hasil penjualan mineral dan/atau batubara yang tergali kepada Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 106
Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat, barang,
dan
jasa dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 107
Dalam melakukan kegiatan operasi produksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK wajib
mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.
Pasal 108
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat
(2) Penyusunan program dan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan
kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 110
Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh dan hasil
eksplorasi dan
operasi produksi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 111
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib memberikan laporan tertulis secara berkala atas rencana
kerja dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, jenis, waktu, dan tata cara penyampaian laporan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 112
(1) Setelah 5 (lima) tahun berproduksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK yang
sahamnya
dimiliki oleh asing wajib melakukan divestasi saham pada Pemerintah, pemerintah daerah,
badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan usaha swasta nasional.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XIV
PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN
IZIN USAHA
PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 113
(1) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan dapat diberikan kepada pemegang
IUP dan IUPK apabila terjadi:
a. keadaan kahar;
b. keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan;
c. apabila kondisi daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat menanggung
beban kegiatan operasi produksi sumber daya mineral dan/atau batubara yang dilakukan di
wilayahnya.
(2) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak mengurangi masa berlaku IUP atau IUPK.
(3) Permohonan penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan oleh
inspektur tambang atau dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
mengeluarkan

keputusan tertulis diterima atau ditolak disertai alasannya atas permohonan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak menerima permohonan
tersebut.
Pasal 114
(1) Jangka waktu penghentian sementara karena keadaan kahar dan/atau keadaan yang
menghalangi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) diberikan paling lama 1
(satu) tahun dan dapat diperpanjang paling banyak 1 (satu) kali untuk 1 (satu) tahun.
(2) Apabila dalam kurun waktu sebelum habis masa penghentian sementara berakhir
pemegang IUP dan IUPK sudah siap melakukan kegiatan operasinya, kegiatan dimaksud
wajib dilaporkan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mencabut
keputusan penghentian sementara setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).
Pasal 115
(1) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena keadaan
kahar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf a, kewajiban pemegang IUP
dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah daerah tidak berlaku.
(2) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena keadaan
yang menghalangi kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113
ayat (1) huruf b, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah
daerah tetap berlaku.
(3) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena kondisi
daya dukung lingkungan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf c,
kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah daerah tetap
berlaku.
Pasal 116
Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113, Pasal 114, dan Pasal 115 diatur dengan peraturan
pemerintah
BAB XV
BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA
PERTAMBANGAN
KHUSUS
Pasal 117
IUP dan IUPK berakhir karena:
a. dikembalikan;
b. dicabut; atau
c. habis masa berlakunya.
Pasal 118
(1) Pemegang IUP atau IUPK dapat menyerahkan kembali IUP atau IUPK-nya dengan
pernyataan tertulis kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dan disertai dengan alasan yang jelas.
(2) Pengembalian IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah
setelah
disetujui oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dan
setelah memenuhi kewajibannya.
Pasal 119
IUP atau IUPK dapat dicabut oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan

kewenangannya apabila:
a. pemegang IUP atau IUPK tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam IUP atau
IUPK
serta peraturan perundang-undangan;
b. pemegang IUP atau IUPK melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
UndangUndang ini; atau
c. pemegang IUP atau IUPK dinyatakan pailit.
Pasal 120
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam IUP dan IUPK telah habis dan tidak diajukan
permohonan peningkatan atau perpanjangan tahap kegiatan atau pengajuan permohonan
tetapi
tidak memenuhi persyaratan, IUP dan IUPK tersebut berakhir.
Pasal 121
(1) Pemegang IUP atau IUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir karena alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, dan Pasal 120 wajib
memenuhi dan menyelesaikan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(2) Kewajiban pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap telah
dipenuhi setelah mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
Pasal 122
(1) IUP atau IUPK yang telah dikembalikan, dicabut, atau habis masa berlakunya
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 121 dikembalikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) WIUP atau WIUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1) ditawarkan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan melalui mekanisme
sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 123
Apabila IUP atau IUPK berakhir, pemegang IUP atau IUPK wajib menyerahkan seluruh data
yang
diperoleh dari hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
BAB XVI
USAHA JASA PERTAMBANGAN
Pasal 124
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib menggunakan perusahaan jasa pertambangan lokal
dan/atau nasional.
(2) Dalam hal tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), pemegang IUP atau IUPK dapat menggunakan perusahaan jasa pertambangan lain
yang berbadan hukum Indonesia.
(3) Jenis usaha jasa pertambangan meliputi:
a. konsultasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penyelidikan umum;
2) eksplorasi;
3) studi kelayakan;

4) konstruksi pertambangan;
5) pengangkutan;
6) lingkungan pertambangan;
7) pascatambang dan reklamasi; dan/atau
8) keselamatan dan kesehatan kerja.
b. konsultasi, perencanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penambangan; atau
2) pengolahan dan pemurnian.
Pasal 125
(1) Dalam hal pemegang IUP atau IUPK menggunakan jasa pertambangan, tanggung jawab
kegiatan usaha pertambangan tetap dibebankan kepada pemegang IUP atau IUPK.
(2) Pelaksana usaha jasa pertambangan dapat berupa badan usaha, koperasi, atau
perseorangan sesuai dengan klasifikasi dan kualifikasi yang telah ditetapkan oleh Menteri.
(3) Pelaku usaha jasa pertambangan wajib mengutamakan kontraktor dan tenaga kerja lokal.
Pasal 126
(1) Pemegang IUP atau IUPK dilarang melibatkan anak perusahaan dan/atau afiliasinya
dalam
bidang usaha jasa pertambangan di wilayah usaha pertambangan yang diusahakannya,
kecuali dengan izin Menteri.
(2) Pemberian izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila:
a. tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sejenis di wilayah tersebut; atau
b. tidak ada perusahaan jasa pertambangan yang berminat/ mampu.
Pasal 127
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan usaha jasa pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 124, Pasal 125, dan Pasal 126 diatur dengan peraturan menteri.
BAB XVII
PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH
Pasal 128
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan pendapatan daerah.
(2) Pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas penerimaan pajak dan
penerimaan negara bukan pajak.
(3) Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan
b. bea masuk dan cukai.
(4) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. iuran tetap;
b. iuran eksplorasi;
c. iuran produksi; dan
d. kompensasi data informasi.
(5) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pajak daerah;
b. retribusi daerah; dan
c. pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 129
(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dan batubara
wajib
membayar sebesar 4% (empat persen) kepada Pemerintah dan 6% (enam persen) kepada
pemerintah daerah dari keuntungan bersih sejak berproduksi.

(2) Bagian pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:
a. pemerintah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu persen);
b. pemerintah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar 2,5% (dua koma lima
persen); dan
c. pemerintah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama mendapat bagian
sebesar 2,5% (dua koma lima persen).
Pasal 130
(1) Pemegang IUP atau IUPK tidak dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal
128 ayat (4) huruf c dan pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 128 ayat (5) atas tanah/batuan yang ikut tergali pada saat penambangan.
(2) Pemegang IUP atau IUPK dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128
ayat (4) huruf c atas pemanfaatan tanah/batuan yang ikut tergali pada saat penambangan.
Pasal 131
Besarnya pajak dan penerimaan negara bukan pajak yang dipungut dan pemegang IUP, IPR,
atau
IUPK ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 132
(1) Besaran tarif iuran produksi ditetapkan berdasarkan tingkat pengusahaan, produksi, dan
harga komoditas tambang.
(2) Besaran tarif iuran produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 133
(1) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (4)
merupakan pendapatan negara dan daerah yang pembagiannya ditetapkan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penerimaan negara bukan pajak yang merupakan bagian daerah dibayar langsung ke kas
daerah setiap 3 (tiga) bulan setelah disetor ke kas negara.
BAB XVIII
PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 134
(1) Hak atas WIUP, WPR, atau WIUPK tidak meliputi hak atas tanah permukaan bumi.
(2) Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang dilarang untuk
melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan.
perundangundangan.
(3) Kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan
setelah mendapat izin dan instansi Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 135
Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan kegiatannya
setelah
mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah.
Pasal 136
(1) Pemegang IUP atau IUPK sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib
menyelesaikan hak atas tanah dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Penyelesaian hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara
bertahap sesuai dengan kebutuhan atas tanah oleh pemegang IUP atau IUPK.
Pasal 137

Pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 dan Pasal 136 yang telah
melaksanakan penyelesaian terhadap bidang-bidang tanah dapat diberikan hak atas tanah
sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 138
Hak atas IUP, IPR, atau IUPK bukan merupakan pemilikan hak atas tanah.
BAB XIX
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu
Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 139
(1) Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan;
b. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. pendidikan dan pelatihan; dan
d. perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan
penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan batubara.
(3) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan terhadap
penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
(4) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya bertanggung
jawab
melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh
pemegang IUP, IPR, atau IUPK
Pasal 140
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota,
(3) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh
pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 141
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140, antara lain, berupa:
a. teknis pertambangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d. pengolahan data mineral dan batubara;
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri;

j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;


k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum;
n. pengelolaan IUP atau IUPK; dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf e, huruf f, huruf g, huruf
h,
dan huruf i dilakukan oleh inspektur tambang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Dalam hal pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota belum
mempunyai inspektur tambang, Menteri menugaskan inspektur tambang yang sudah
diangkat untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).
Pasal 142
(1) Gubernur dan bupati/walikota wajib melaporkan pelaksanaan usaha pertambangan di
wilayahnya masing-masing sekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan kepada
Menteri.
(2) Pemerintah dapat memberi teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam pelaksanaan
kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dan ketentuan
peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal 143
(1) Bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha pertambangan
rakyat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan pertambangan rakyat diatur
dengan peraturan daerah kabupaten/ kota.
Pasal 144
Ketentuan lebih lanjut mengenai standar dan prosedur pembinaan serta pengawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139, Pasal 140, Pasal 141, Pasal 142 dan Pasal 143 diatur
dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Perlindungan Masyarakat
Pasal 145
(1) Masyarakat yang terkena dampak negatif langsung dan kegiatan usaha pertambangan
berhak:
a. memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam pengusahaan kegiatan
pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pengusahaan
pertambangan yang menyalahi ketentuan.
(2) Ketentuan mengenai perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XX
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Bagian Kesatu
Penelitian dan Pengembangan
Pasal 146
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau memfasilitasi
pelaksanaan penelitian dan pengembangan mineral dan batubara.
Bagian Kedua
Pendidikan dan Pelatihan
Pasal 147
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau memfasilitasi
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di bidang pengusahaan mineral dan batubara.
Pasal 148
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah,
swasta, dan masyarakat.
BAB XXI
PENYIDIKAN
Pasal 149
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil
yang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan diberi wewenang khusus
sebagai penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak
pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
c. memanggil dan/atau mendatangkan secara paksa orang untuk didengar dan diperiksa
sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana kegiatan usaha
pertambangan;
d. menggeledah tempat dan/atau sarana yang diduga digunakan untuk melakukan
tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
e. melakukan pemeriksaan sarana dan prasarana kegiatan usaha pertambangan dan
menghentikan penggunaan peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan tindak
pidana;
f. menyegel dan/atau menyita alat kegiatan usaha pertambangan yang digunakan untuk
melakukan tindak pidana sebagai alat bukti;
g. mendatangkan dan/atau meminta bantuan tenaga ahli yang diperlukan dalam
hubungannya dengan pemeriksaan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha
pertambangan; dan/atau
h. menghentikan penyidikan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha
pertambangan.
Pasal 150
(1) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 dapat menangkap
pelaku tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan.
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan
dimulai
penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya kepada pejabat polisi negara Republik

Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


(3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menghentikan
penyidikannya dalam hal tidak terdapat cukup bukti dan/atau peristiwanya bukan merupakan
tindak pidana.
(4) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XXII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 151
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berhak
memberikan
sanksi administratif kepada pemegang IUP, IPR atau IUPK atas pelanggaran ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3), Pasal 40 ayat (5), Pasal 41, Pasal 43,
Pasal 70, Pasal 71 ayat (1), Pasal 74 ayat (4), Pasal 74 ayat (6), Pasal 81 ayat (1), Pasal 93
ayat (3), Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97, Pasal 98, Pasal 99, Pasal 100, Pasal 102, Pasal 103,
Pasal 105 ayat (3), Pasal 105 ayat (4), Pasal 107, Pasal 108 ayat (1), Pasal 110, Pasal 111
ayat (1), Pasal 112 ayat (1), Pasal 114 ayat (2), Pasal 115 ayat (2), Pasal 125 ayat (3),
Pasal 126 ayat (1), Pasal 128 ayat (1), Pasal 129 ayat (1), atau Pasal 130 ayat (2).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan eksplorasi atau operasi
produksi; dan/atau
c. pencabutan IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 152
Dalam hal pemerintah daerah tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal
151 dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1)
huruf j, Menteri dapat menghentikan sementara dan/atau mencabut IUP atau IPR sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 153
Dalam hal pemerintah daerah berkeberatan terhadap penghentian sementara dan/atau
pencabutan IUP dan IPR oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152, pemerintah
daerah dapat mengajukan keberatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 154
Setiap sengketa yang muncul dalam pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK diselesaikan melalui
pengadilan dan arbitrase dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 155
Segala akibat hukum yang timbul karena penghentian sementara dan/atau pencabutan IUP,
IPR
atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2) huruf b dan huruf c diselesaikan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 156
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 151 dan Pasal 152 diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 157

Pemerintah daerah yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat
(4) dikenai sanksi administratif berupa penarikan sementara kewenangan atas hak
pengelolaan
usaha pertambangan mineral dan batubara.
BAB XXIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 158
Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau
ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 159
Pemegang IUP, IPR atau IUPK yang dengan sengaja menyampaikan laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), Pasal 70 huruf e, Pasal 81 ayat (1), Pasal 105 ayat (4),
Pasal
110, atau Pasal 111 ayat (1) dengan tidak benar atau menyampaikan keterangan palsu
dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 160
(1) Setiap orang yang melakukan eksplorasi tanpa memiliki IUP atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 atau Pasal 74 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tetapi melakukan kegiatan operasi produksi
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 161
Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang
menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan,
penjualan
mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat
(1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 162
Setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan dari pemegang
IUP atau IUPK yang telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136
ayat
(2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 163
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan oleh suatu
badan
hukum, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat
dijatuhkan terhadap badan hukum tersebut berupa pidana denda dengan pemberatan
ditambah 1/3 (satu per tiga) kali dari ketentuan maksimum pidana denda yang dijatuhkan.

(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.
Pasal 164
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158, Pasal 159, Pasal 160, Pasal 161,
dan
Pasal 162 kepada pelaku tindak pidana dapat dikenai pidana tambahan berupa:
a. perampasan barang yang digunakan dalam melakukan tindak pidana;
b. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; dan/atau
c. kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak pidana.
Pasal 165
Setiap orang yang mengeluarkan IUP, IPR atau IUPK yang bertentangan dengan UndangUndang
ini dan menyalahgunakan kewenangannya diberi sanksi pidana paling lama 2 (dua) tahun
penjara
dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
BAB XXIV
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 166
Setiap masalah yang timbul terhadap pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK yang berkaitan
dengan
dampak lingkungan diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 167
WP dikelola oleh Menteri dalam suatu sistem informasi WP yang terintegrasi secara nasional
untuk
melakukan penyeragaman mengenai sistem koordinat dan peta dasar dalam penerbitan WUP,
WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK.
Pasal 168
Untuk meningkatkan investasi di bidang pertambangan, Pemerintah dapat memberikan
keringanan
dan fasilitas perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kecuali
ditentukan lain dalam IUP atau IUPK.
BAB XXV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 169
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah ada
sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu
berakhirnya kontrak/perjanjian.
b. Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara sebagaimana dimaksud pada huruf a disesuaikan selambatlambatnya
1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan kecuali mengenai
penerimaan negara.
c. Pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada huruf b adalah
upaya peningkatan penerimaan negara.
Pasal 170
Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi
wajib

melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-lambatnya
5
(lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 171
(1) Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang telah melakukan tahapan kegiatan
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, atau operasi produksi paling lambat 1 (satu) tahun
sejak berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh
wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian
untuk mendapatkan persetujuan pemerintah.
(2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, luas wilayah
pertambangan yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan dengan Undang-Undang ini.
Pasal 172
Permohonan kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
telah
diajukan kepada Menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berlakunya Undang-Undang
ini dan
sudah mendapatkan surat persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan pendahuluan tetap
dihormati dan dapat diproses perizinannya tanpa melalui lelang berdasarkan Undang-Undang
ini.
BAB XXVI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 173
(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2831)
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
(2) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua Peraturan Perundang-undangan yang
merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2831) dinyatakan
masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UndangUndang.
Pasal 174
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan dalam waktu 1 (satu) tahun
sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 175
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta,
Pada Tanggal 12 Januari 2009

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta,
Pada Tanggal 12 Januari 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 4

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 4 TAHUN 2009

TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
I. UMUM
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa bumi, dan air, dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Mengingat mineral dan batubara sebagai kekayaan
alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan,
pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien, transparan, berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar memperoleh manfaat sebesar-besar bagi
kemakmuran rakyat secara berkelanjutan.
Guna memenuhi ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, telah
diterbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan. Undang-undang tersebut selama lebih kurang empat dasawarsa sejak
diberlakukannya telah dapat memberikan sumbangan yang penting bagi pembangunan
nasional.
Dalam perkembangan lebih lanjut, undang-undang tersebut yang materi muatannya bersifat
sentralistik sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi sekarang dan tantangan di
masa depan. Di samping itu, pembangunan pertambangan harus menyesuaikan diri dengan
perubahan lingkungan strategis, baik bersifat nasional maupun internasional. Tantangan
utama yang dihadapi oleh pertambangan mineral dan batubara adalah pengaruh globalisasi
yang mendorong demokratisasi, otonomi daerah, hak asasi manusia, lingkungan hidup,
perkembangan teknologi dan informasi, hak atas kekayaan intelektual serta tuntutan
peningkatan peran swasta dan masyarakat.
Untuk menghadapi tantangan lingkungan strategis dan menjawab sejumlah permasalahan
tersebut, perlu disusun peraturan perundang-undangan baru di bidang pertambangan
mineral dan batubara yang dapat memberikan landasan hukum bagi langkah-langkah
pembaruan dan penataan kembali kegiatan pengelolaan dan pengusahaan pertambangan
mineral dan batubara.
Undang-Undang ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1. Mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai oleh negara
dan pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha.
2. Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang
berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat
untuk melakukan pengusahaan mineral dan batubara berdasarkan izin, yang sejalan
dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
3. Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan prinsip eksternalitas,
akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan Pemerintah dan pemerintah daerah.
4. Usaha pertambangan harus memberi manfaat ekonomi dan sosial yang sebesarbesar
bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
5. Usaha pertambangan harus dapat mempercepat pengembangan wilayah dan
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/pengusaha kecil dan menengah serta
mendorong tumbuhnya industri penunjang pertambangan.
6. Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha
pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup,
transparansi, dan partisipasi masyarakat.
II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas
yang
secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya dalam
keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan kesejahteraan
masa kini dan masa mendatang.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Standar nasional di bidang pertambangan mineral dan batubara adalah spesifikasi
teknis atau sesuatu yang dibakukan.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l

Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf s
an neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional
adalah neraca yang menggambarkan jumlah sumber daya, cadangan, dan produksi
mineral dan batubara secara nasional.
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.:
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Kewenangan yang dilimpahkan adalah kewenangan dalam menetapkan WUP untuk mineral
bukan
logam dan batuan dalam satu kabupaten/kota atau lintas kabupaten/kota.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum.
Penentuan batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.
Pasal 18

Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Penetapan WPR didasarkan pada perencanaan dengan melakukan sinkronisasi data dan
informasi melalui sistem informasi WP.
Pasal 22
Huruf a
Yang dimaksud dengan tepi dan tepi sungai adalah daerah akumulasi pengayaan
mineral
sekunder (pay streak) dalam suatu meander sungai.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Pasal 23
Pengumuman rencana WPR dilakukan di kantor desa/kelurahan dan kantor/instansi terkait;
dilengkapi dengan peta situasi yang menggambarkan lokasi, luas, dan batas serta daftar
koordinat;
dan dilengkapi daftar pemegang hak atas tanah yang berada dalam WPR.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Penetapan WPN untuk kepentingan nasional dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional, ketahanan energi dan industri strategis nasional, serta meningkatkan
daya saing nasional dalam menghadapi tantangan global.
Yang dimaksud dengan komoditas tertentu antara lain tembaga, timah, emas, besi, nikel,
dan bauksit serta batubara.
Konservasi yang dimaksud juga mencakup upaya pengelolaan mineral dan/ atau batubara
yang keberadaannya terbatas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan sebagian luas wilayahnya adalah untuk menentukan persentase
besaran luas wilayah yang akan diusahakan.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan batasan waktu adalah WPN yang ditetapkan untuk konservasi dapat
diusahakan setelah melewati jangka waktu tertentu.

Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan koordinasi adalah mengakomodasi semua kepentingan daerah yang
terkait dengan WUPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum.
Penentuan batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.:
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
an pertambangan mineral radioaktif adalah pertambangan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang
ketenaganukliran.
Huruf b
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Huruf a
Badan usaha dalam ketentuan ini meliputi badan usaha milik negara dan badan usaha
milik
daerah.

Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 39
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Jaminan kesungguhan dalam ketentuan ini termasuk biaya pengelolaan lingkungan
akibat kegiatan eksplorasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Ayat (1)
Jangka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi 3
(tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun; serta studi
kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun.
Ayat (2)
Jangka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun, eksplorasi 1 (satu)

tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.


Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain batu gamping
untuk industri semen, intan, dan batu mulia.
Jangka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi 3 (tiga)
tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu)
tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun.
Ayat (3)
Jangka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun, eksplorasi 1 (satu)
tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.
Ayat (4)
Jangka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi 2 (dua)
tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun; serta studi
kelayakan 2 (dua) tahun.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi data milik
Pemerintah dan pemerintah daerah.
Pasal 47
Ayat (1)
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu untuk
konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain batu gamping
untuk industri semen, intan dan batu mulia.
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu untuk
konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu untuk
konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51

Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.


Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara vertikal
maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.
Pasal 55
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara vertikal
maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara vertikal
maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara vertikal
maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Cukup jelas.
Pasal 67
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini disertai dengan meterai
cukup dan dilampiri rekomendasi dari kepala desa/lurah/kepala adat mengenai kebenaran
riwayat pemohon untuk memperoleh prioritas dalam mendapatkan IPR.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup meliputi pencegahan dan penanggulangan
pencemaran serta pemulihan fungsi lingkungan hidup, termasuk reklamasi lahan bekas
tambang.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Laporan disampaikan setiap 4 (empat) bulan.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan memperhatikan kepentingan daerah adalah dalam rangka
pemberdayaan daerah.
Ayat (2)
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)

Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Cukup jelas.
Pasal 77
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi data milik
Pemerintah dan pemerintah daerah.
Pasal 78
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Jaminan kesungguhan termasuk di dalamnya biaya pengelolaan lingkungan akibat kegiatan
eksplorasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Pasal 79
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b

Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf s
Cukup jelas.
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Huruf v
Cukup jelas.
Huruf w
Cukup jelas.
Huruf x
Cukup jelas.
Huruf y
Pencantuman divestasi saham hanya berlaku apabila sahamnya dimiliki oleh asing sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 80

Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Jangka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi 3
(tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun; serta studi
kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun
Huruf f
Jangka waktu (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi 2 (dua)
tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun; serta studi
kelayakan 2 (dua) tahun.
Huruf g
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu untuk
konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Cukup jelas.
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Cukup jelas.
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Cukup jelas.
Pasal 93
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud eksplorasi tahapan tertentu dalam ketentuan ini yaitu telah ditemukan 2
(dua) wilayah prospek dalam kegiatan eksplorasi.

Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 94
Cukup jelas.
Pasal 95
Cukup jelas.
Pasal 96
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan sisa tambang meliputi antara lain tailing dan limbah batubara.
Pasal 97
Cukup jelas.
Pasal 98
Ketentuan ini dimaksudkan mengingat usaha pertambangan pada sumber air dapat
mengakibatkan perubahan morfologi sumber air, baik pada kawasan hulu maupun hilir.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Cukup jelas.
Pasal 101
Ketentuan mengenai dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang berisi, antara
lain,
besaran, tata cara penyetoran dan pencairan, serta pelaporan penggunaan dana jaminan.
Pasal 102
Nilai tambah dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan produk akhir dari usaha
pertambangan atau pemanfaatan terhadap mineral ikutan.
Pasal 103
Ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dimaksudkan,
antara lain, untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang dari produk, tersedianya
bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan penerimaan negara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 104
Cukup jelas.
Pasal 105
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan terlebih dahulu memiliki IUP Operasi Produksi untuk penjualan
dalam ketentuan ini adalah pengurusan izin pengangkutan dan penjualan atas mineral
dan/atau batubara yang tergali.

Ayat (2)
Izin diberikan setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi atas mineral
dan/atau batubara yang tergali oleh instansi teknis terkait.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 106
Pemanfaatan tenaga kerja setempat tetap mempertimbangkan kompetensi tenaga kerja dan
keahlian tenaga kerja yang tersedia.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan
nasional
agar lebih mampu bersaing.
Pasal 107
Cukup jelas.
Pasal 108
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar operasi
pertambangan.
Pasal 109
Cukup jelas.
Pasal 110
Cukup jelas.
Pasal 111
Cukup jelas.
Pasal 112
Cukup jelas.
Pasal 113
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud keadaan kahar (force majeur) dalam ayat ini, antara lain, perang,
kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran, dan
bencana alam di luar kemampuan manusia.
Huruf b
Yang dimaksud keadaan yang menghalangi dalam ayat ini, antara lain, blokade,
pemogokan, dan perselisihan perburuhan di luar kesalahan pemegang IUP atau IUPK
dan peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah yang
menghambat kegiatan usaha pertambangan yang sedang berjalan.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Permohonan menjelaskan kondisi keadaan kahar dan/atau keadaan yang menghalangi
sehingga mengakibatkan penghentian sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan.
Ayat (4)
Permohonan masyarakat memuat keadaan kondisi daya dukung lingkungan wilayah yang

dikaitkan dengan aktivitas kegiatan penambangan.


Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 114
Cukup jelas.
Pasal 115
Cukup jelas.
Pasal 116
Cukup jelas.
Pasal 117
Cukup jelas.
Pasal 118
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan alasan yang jelas dalam ketentuan ini antara lain tidak
ditemukannya prospek secara teknis, ekonomis, atau lingkungan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 119
Cukup jelas.
Pasal 120
Yang dimaksud dengan peningkatan adalah peningkatan dari tahap eksplorasi ke tahap
operasi
produksi.
Pasal 121
Cukup jelas.
Pasal 122
Cukup jelas.
Pasal 123
Cukup jelas.
Pasal 124
Ayat (1)
Perusahaan nasional dapat mendirikan perusahaan cabang di daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 125
Cukup jelas.
Pasal 126
Cukup jelas.
Pasal 127
Cukup jelas.
Pasal 128
Cukup jelas.
Pasal 129
Cukup jelas.
Pasal 130
Cukup jelas.

Pasal 131
Cukup jelas.
Pasal 132
Cukup jelas.
Pasal 133
Cukup jelas.
Pasal 134
Cukup jelas.
Pasal 135
Persetujuan dari pemegang hak atas tanah dimaksudkan untuk menyelesaikan lahan-lahan
yang
terganggu oleh kegiatan eksplorasi seperti pengeboran, parit uji, dan pengambilan contoh.
Pasal 136
Cukup jelas.
Pasal 137
Cukup jelas.
Pasal 138
Cukup jelas.
Pasal 139
Cukup jelas.
Pasal 140
Cukup jelas.
Pasal 141
Cukup jelas.
Pasal 142
Cukup jelas.
Pasal 143
Cukup jelas.
Pasal 144
Cukup jelas.
Pasal 145
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah mereka yang terkena dampak negatif langsung
dari kegiatan usaha pertambangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 146
Cukup jelas.
Pasal 147
Cukup jelas.
Pasal 148
Cukup jelas.
Pasal 149
Cukup jelas.
Pasal 150
Cukup jelas.
Pasal 151
Cukup jelas.
Pasal 152

Cukup jelas.
Pasal 153
Cukup jelas.
Pasal 154
Cukup jelas.
Pasal 155
Cukup jelas.
Pasal 156
Cukup jelas.
Pasal 157
Cukup jelas.
Pasal 158
Cukup jelas.
Pasal 159
Cukup jelas.
Pasal 160
Cukup jelas.
Pasal 161
Cukup jelas.
Pasal 162
Cukup jelas.
Pasal 163
Cukup jelas.
Pasal 164
Cukup jelas.
Pasal 165
Yang dimaksud dengan setiap orang adalah pejabat yang menerbitkan IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 166
Cukup jelas.
Pasal 167
Cukup jelas.
Pasal 168
Cukup jelas.
Pasal 169
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Semua pasal yang terkandung dalam kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara harus disesuaikan dengan Undang-Undang.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 170
Cukup jelas.
Pasal 171
Cukup jelas.
Pasal 172
Cukup jelas.
Pasal 173

Cukup jelas.
Pasal 174
Cukup jelas.
Pasal 175
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4959

1.1 Permasalahan

Menurut saya dalam pengimplementasian Undang-Undang No.4 Tahun 2009 di


Kalimantan tengah masih ada permasalahan,ada 2 contoh yang kami angkatseperti :
A) PenerbitanIzin Tambang di KotimDidugaIlegal
TribunKalteng - Rabu, 8 Juni 2011 | 09:22 WIB .
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kota waringinTimur, Kalimantan
Tengah Jhon Krislie menduga penerbitan belasan izintambang didaerah tersebut ile
gal."Hingga saat ini Kota waringinTimur tidak memiliki lahan pencadangan untuk
areal pertambangan, namun anehnya pemerintah daerah telah mengeluarkan izin baru
untuk pertambangan," kata Ketua DPRD Kota Waringin Timur, Jhon Krislie, di
Sampit, Selasa.Penerbitan 12 izin baru pertambangan di Kota waringin Timur telah
melanggar undang-undang Mineral danBatubara (Minerba) Nomor 4 Tahun
2009.Untuk menerbitkan perizinan pertambangan harus mengacu pada undangundang MinerbaNomor 4 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia
(RI) Nomor 22 Tahun 2010 tentang wilayah pertambangan dan PP RI Nomor 23
Tahun

2010

tentang

pelaksanaan

kegiatan

usaha

pertambangan

mineral

danbatubara.Undang-undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 adalah sebagai pengganti


undang-undang

Nomor

11

Tahun

1967

tentang

Ketentuan

pokok

pertambangan.Dalamundang-undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 itu dengan jelas


disebutkan bahwa penerbitan izin baru pertambangan harusmelalui pelelangan secara
terbuka.
Menurut Krislie, penerbitan izin baru pertambangan di Kota waringin Timur sudah
jelas bertentangan dengan undang-undang dan tidak procedural karena petunjuk
teknis (Juknis) untuk pelaksanaan pelelangan juga belum ada.Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalteng belum disahkan dan KotawaringinTimur juga
belum

memiliki wilayah pertambangan (WP) jadi pemerintah daerah tidak

dibenarkan mengeluarkan izin pertambangan."Kami akan menelusuri masalah


penerbitan perizinan yang dilakukan pemerintah daerah tersebut danapabila benar
telah dikeluarkan maka kami akan merekomendasikan untuk dicabut izin tersebut,"
katanya.
Dirinya juga mengecam Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben)
Kabupaten KotawaringinTimur Fajrurrahman yang menyatakan, DPRD tidak perlu
mengetahui terlalu jauh proses penerbitan izin pertambangan karena hal itu Iuas

adalah masalah teknis dan yang penting penerbitan izin itu sudah procedural dan tidak
bertentangan dengan undang-undang."Kami wajib mengetahui semua permasalahan
di daerah ini dan sesuai fungsi DPRD adalah melakukan pengawasan termasuk
masalah penerbitan perizinan pertambangan di KotawaringinTimur," katanya.
Ia juga meminta kepada Kepala Distamben KotawaringinTimur Fajrurrahman untuk
mempelajarii kembali tentang undang-undang otonomi daerah karena di dalam
undang-undang itu dengan jelas disebutkan kebijakan otonomi daerah ditentukan oleh
eksekutif dan legislatif. Sementara mantan Bupati KotawaringinTimur periode 20052010 Wahyudi Kaspul Anwar mengatakan, pada masa pemerintahannya dirinya tidak
pernah merekomendasikan atau menerbitkan izin barupertambangan."Padawaktuitu
kami hanya memberikan rekomendasi kepada perusahaan yang mengajukan
permohonan untuk terlebih dahulu melakukan penelitian di lapangan dan tidak lebih
dari itu dan kalau pun sekarang timbul ada izin itu kebijakan pemerintah yang baru,"
ungkapnya.
B) Perusahaan tambang di Kalteng yang merugikan Negara
PALANGKA RAYA, Pemerintah provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng)
bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) di Kalteng diminta segera menyikapi temuan
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang menyebutkan adanya perusahaan tambang di
Kalteng yang merugikan negara. Langkah pemerintah diperlukan agar kerugian Negara
yang ditimbulkan tidak semakin besar.Selainitu, juga untuk kepentingan masyarakat di
Kalteng secara keseluruhan.Pemerintah harus bertindak cepat, jangan lemparsan
alemparsini terhadap kasusitu.Perusahaan yang disebutkan BPK telah merugikan negara,
khususnya masyarakat kalteng.Permasalahan ini jangan dibiarkan berlarut-larut,
kalautemuan BPK sudah jelas dan terbukti, pemerintah di Kalteng harus secepatnya
bertindak, kata anggotaKomisi B DPRD Kalteng Kamarudin Hadi, Senin (4/3).
Seperti diketahui, BPK melaporkan ada 26 perusahaan pertambangan yang tidak
mengikuti aturan yang berlaku sehingga menimbulkan potensi kerugian Negara sebanyak
Rp 90,6 miliardan US$38 ribu. Sejumlah inisial perusahaan yang dilaporkan diantaranya,
PT KBI, FPI, CKA, GST, dan ZI yang disebut beroperasi di Kalteng.Kamarudin
mendesak Pemprov dan Pemkab saling berkoordinasi menindaklanjuti temuan BPK
tersebut.Sinergitas sangat diperlukan mengingat yang dirugikan bukan hanya sebatas

negara, Pemprov, atau Pemkab, melainkan masyarakat Kalteng.Saling lempar tanggung


jawab dan menyalahkan bukan solusi atas masalah itu, bahkan, justru membuat masalah
itu sulit untuk diselesaikan.Jangan maen lempar saja atau saling tuding, tetapi cepat
selesaikan permasalahannya.Kalau pemerintah saling menyalahkan dan tidak mampu
menyelesaikan masalahitu, kita bias bertanya-tanya, adaapasebenarnya? tegasnya.
Menurut Kamarudin, perusahaan di Kaltengkerap kali mengabaikan aturan yang
disampaikan pemerintah. Hal itu terjadi akibat tidak adanya ketegasan dari pemerintah
sendiri.Karena itu saya harap pemerintah secepatnya bertindak untuk mengusut kasus
tersebut .Menurut saya, babat dan sikat saja semua perusahaan tambang atau perkebunan
yang merugikan negara, apalagi yang tidak memiliki izin dan yang tidak procedural,
katanya.
Sebelumnya, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang menyesalkan temuan BPK
terkait adanya perusahaan tambang di Kalteng yang dipolisikan karena diduga merugikan
negara.Teras menegaskan, kepatuhan perusahaan terhadap aturan perundangan yang
berlaku seharusnya menjadi tanggung jawab bupati/walikota.Kepala daerah diwajibkan
melakukan pengawasan secara rutin terhad apinvestasi di wilayahnya.
Seharusnya itu jadi tanggung jawab bupati/walikota, gubernur tidak bias setiap hari
mengecek di lapangan, daerahlah yang harusnya mengawasi, kata Teras saat
memberikan

sambutan

pada

acara

ramahtamah

dengan

investor

perkebunan,

pertambangan, danpemegang HPH, Rabu (27/2) malam.


Terasmenegaskan, yang mengetahui persis masalah investasi di lapangan adalah
bupati/walikota.Meski demikian, dia mengaku hamper setiap bulan mengirim surat untuk
mengingatkan bupati/walikota agar lebih teliti dalam memberikan perizinan dan
melakukan pengawasan terhadap izin yang sudah berjalan. Makanya kemarin saya buat
surat

moratorium

(perizinan)

di

delapan

kabupaten,

saya

maunya

bupati

bertanggungjawab, tegasnya. (rm-57)

1.2 Solusi
a) Permasalahan Pertama, solusi untuk menyelesaikannya :
DPRD Kota Waringin Timur harus cepat menyelidiki dan memastikan kasus
penerbitan Izin Tambang yang diduga dilakukan oleh Bupati Kota Waringin Timur,

agar tidak merugikan masyarakat dan Negara dan tidak menguntungkan golongan
tertentu.
b) Permasalahan Kedua, solusi untuk menyelesaikannya :
Pemerintah Daerah/Provinsi ataupun Kabupaten harus secepatnya melakukan
tindakan atau penyelidikan terhadap 26 Perusahaan Pertambangan agar membayar
iuran yang telah ditetapkan dalam Perundang-undangan agar Negara dan Masyarakat
Kalimantan Tengah (secarakhususnya) tidak dirugikan seperti yang telah terjadi
selama beberapa tahun ini.

Contoh kasus :

Pelanggaran HAM oleh Freeport di


Papua
1. Kasus yang berkembang
Aktivitas pertambangan PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) di
Papua yang dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berlangsung
selama 42 tahun. Selama ini, kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di
Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi
perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal
bagi negara, Papua, dan masyarakat lokal di sekitar wilayah
pertambangan.
Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari
tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Para petinggi
Freeport terus mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang
besarnya mencapai 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk
Timika, Papua. Keuntungan Freeport tak serta merta melahirkan
kesejahteraan bagi warga sekitar. Kondisi wilayah Timika bagai api dalam
sekam, tidak ada kondisi stabil yang menjamin masa depan penduduk
Papua.
Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara
pemerintah Indonesia dengan Freeport pada 1967, menjadi landasan bagi
perusahaan ini mulai melakukan aktivitas pertambangan. Tak hanya itu,
KK ini juga menjadi dasar penyusunan UU Pertambangan Nomor 11/1967,
yang disahkan pada Desember 1967 atau delapan bulan berselang
setelah penandatanganan KK.
Pada Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di
Ertsberg, kawasan yang selesai ditambang pada tahun 1980-an dan
menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988, Freeport mulai
mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung
saat ini. Dari eksploitasi kedua wilayah ini, sekitar 7,3 juta ton tembaga
dan 724, 7 juta ton emas telah mereka keruk. Pada bulan Juli 2005, lubang
tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada daerah
seluas 499 ha dengan kedalaman 800m. Diperkirakan terdapat 18 juta ton
cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga
rencana penutupan tambang pada 2041.
Aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini telah
menimbulkan berbagai masalah, terutama dalam hal penerimaan negara
yang tidak optimal, peran negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang
yang sangat minim dan dampak lingkungan yang sangat signifikan,

berupa rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg.


Kerusakan lingkungan telah mengubah bentang alam seluas 166 km
persegi di daerah aliran sungai Ajkwa.

2. Isu hukum
Untuk mempersempit ruang lingkup pembahasan, maka penulis hanya
membatasi dan mengangkat isu hukum mengenai :
1. Bagaimana penindakan hukumya atas pelanggaran-pelanggaran
Hak Asasi Manusia yang terkait penambangan PT Freport di Papua
ditinjau berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang
Hak Asasi Manusia?
2. Bagaimana penegakan kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh
PT Freport atas penambangan Tembaga dan Emas Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
lingkungan Hidup?

3. Fakta hukum
Dimulai dengan digusurnya ruang penghidupan
suku-suku di
penggunungan tengah papua. Tanah-tanah adat tujuh suku, diantaranya
suku Amungme dan nduga dirampas awal masuknya PT FI dan
dihancurkan saat operasi tambang berlangsung. Limbah tailing PT FI telah
menimbun 110 km2 wilayah estuary tercemar, sedangkan 20-40 km
bentang sungai Ajkwa beracun, 133 km2 lahan subur terkubur dan
sehingga mengakibatkan banjir, kehancuran hutan, daerah kering menjadi
rawa, dan membuat para ibu tak bisa lagi mencari siput di sekitar sungai
yang merupakan sumber protein bagi keluarga, serta gangguan
kesehatan juga terjadi akibat masuknya orang luar ke papua.Kematian ibu
hamil dan balita akibat kurang gizi.
Dengan digusurnya ruang penghidupan suku papua kepada
perusahaan PT Freport yang mengakibatkan masyarakat papua
mengalami banyak kerugiaan hingga mengakibatkan dampak yang
begitu besar selain itu juga banyak kerugian tentang tercemarnya
wilayah esturi yang mengakibatkan masyarakat di sekitarnya terhambat
aktifitasnya serta sungai ajkwa beracun yang mengakibatkan masyarakat
papua tidak dapat minum maka apabila kita melihat perbuatan
Perusahaan PT Freport ini maka pemerintah yang ada pada daerah papua
atau pemerintah yang ada di luar daerah seharusnya lebih cepat dan

tegas untuk melihat dan memperhatikan permasalahan ini serta dengan


cepat menyelesaikan permasalahan ini, karena perbuatan yang telah
dilakukan oleh Perusahaan PT Freport sudah sangat melanggar
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

4. Konsep hukum tentang pertambangan


Dengan kita melihat kasus yang ada diatas terdapat beberapa undang
undang yang terkait didalamnya yaitu :

Undang undang No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan


Batubara,Bab II Asas Dan Tujuan Pasal 2 Pertambangan mineral
dan/atau batubara dikelola berasaskan :
a. Manfaat, keadilan, dan keseimbangan
b. Keberpihakan kepada kepentingan bangsa
c. Partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas
d. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. dan Pasal 3 Dalam
rangka
mendukung
pembangunan
nasional
yang
berkesinambungan

Tujuan pengelolaan mineral dan batubara adalah:


a. Menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan
usaha pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan
berdaya saing.
b. Menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
c. Menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku
dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri.
d. Mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional
agar lebih mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan
internasional.
e. Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara,
serta menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar
kesejahteraan rakyat.
f. Menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara.

Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 3 Perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup bertujuan:
a. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
b. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia.
c. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan
kelestarian ekosistem.
d. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; e. mencapai
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup.
e. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi
masa depan.
f. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan
hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia.
g. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara
bijaksana.
h. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
i. Mengantisipasi isu lingkungan global.

Undang Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 4
Hak. untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi,
pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak,
hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun dan oleh siapapun.

Undang Undang No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan pasal Pasal 3


Penyelenggaraan
kehutanan
bertujuan
untuk
sebesar-besar
kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan.
a. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan
sebaran yang proporsional.
b. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi
konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai
manfaat lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi, yang
seimbang dan lestari.
c. Meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai.
d. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas
dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan,
dan berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan
ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat
perubahan eksternal.

e. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.


dan Pasal 11 (1) Perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk
memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya
tujuan penyelenggaraan kehutanan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3. (2) Perencanaan kehutanan dilaksanakan secara
transparan, bertanggung-gugat, partisipatif, terpadu, serta
memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah.

1. E.

Analisis Hukum
1. Bagaimana
penindakan
hukumya
atas
pelanggaranpelanggaran Hak Asasi Manusia yang terkait penambangan PT
Freport di Papua ditinjau berdasarkan Undang-undang Nomor
39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia?

Setelah tujuh tahun beroperasi, timbul konflik sosial dan ekonomi


antara Freeport dan masyarakat adat di sekitar wilayah pertambangan.
Tahun 1974, suku Amungme yang berdiam di sekitar tambang menuntut
Freeport membayar ganti rugi kepada mereka terkait pembabatan hutan
perburuan suku itu. Hal ini diatur dalam UU No.5 Tahun 1960 Tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria Pasal 3 Dengan mengingat
ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan
hak-hak yang serupa itu dari masyarakatmasyarakat hukum adat,
sepanjang menurut kenyataannya. masih ada, harus sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang
berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan
dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.
Freeport menyanggupi tuntutan itu, yang dituangkan dalam January
Agreement 1974. Hal ini lah yang menjadi dasar membuat banyak
pertikaian antara masyarakat sekitar dengan pihak dari PT Freport,
masyarakat dengan aparat keamanan, bahkan masyarakat dan
pemerintah. Pertikaian yang sebenarnya tidak harus terjadi apabila semua
pihak yang berkepentingan terkait penambangan PT Freport di papua
dapat lebih mengenyampingkan kepentingan pribadi dari pada
kepentingan umum sekiranya kasus ini tidak akan melebar hingga sampai
pada ranah perdata, unsur pelanggaran pidana dan pelanggaran HAM.
Kasus keperdataan terjadi akibat dari wanprestasi yang dilakukan oleh
pihak dari PT Freport. Tahun 1974, suku Amungme yang berdiam di
sekitar tambang menuntut Freeport membayar ganti rugi kepada mereka

terkait pembabatan hutan perburuan suku itu. Freeport menyanggupi


tuntutan itu, yang dituangkan dalam January Agreement 1974.
Laatahzaan. Wanprestasi yang dilakukan oleh pihak dari PT. Freport
telah melanggar perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, yang
tertuang pada KUHPdt pasal 1320 Supaya terjadi persetujuan yang sah,
perlu di penuhi empat syarat :
a.
b.
c.
d.

Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya.


Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
Suatu pokok persoalan tertentu.
Suatu sebab yang tidak terlarang. Sudah jelas sekiranya
unsur yang tertuang pada pasal 1320 KUHPdt telah
dilanggarnya dengan hasil kesepakatan tidak dijalankan oleh
pihak PT Freport sehingga menyebabkan polemik yang
semakin
berkepanjangan.
Selain
pelanggaran
secara
keperdataan, akibat yang di berikan atas aktifitas PT Freport
juga menyebabkan terjadinya pembunuhan yang dimana
pembunuhnya tidak dapat di deteksi keberadaannya dan hal
ini lah yang menjadikan pelanggaran hak asasi manusia
karena telah menghilangkan nyawa orang lain. Sebagaimana
telah kita ketahui bahwa menghilangkan nyawa orang lain
sama saja telah melanggar hak seseorang untuk hidup. Hal ini
tertuang pada Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang
Hak Asasi Manusia Pasal 4 Hak. untuk hidup, hak untuk tidak
disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui
sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak
untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apapun dan oleh siapapun. Sedangkan dalam
Undang-undang yang mengatur tentang tidak boleh
menghilangkan nyawa orang lain, terkecuali yang telah diatur
sebelumnya terdapat pada KUHP pasal 359 Barang siapa
karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain
meninggal, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.

Kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi terkait PT Freport


antara lain :
1. Pada bulan Februari 1978 terjadi penembakan terhadap seorang
polisi Indonesia. Insiden ini disebabkan tak dipenuhinya seluruh janji
Freeport yang tertuang dalam January Agreement. Hingga 1978 itu,
Freeport tak memenuhi seluruh janji yang ada dalam perjanjian
tersebut.

2. Pada 31 Agustus 2002, terjadi penyerangan terhadap sejumlah


karyawan pertambangan Freeport di Timika, Tembagapura, di jalur
Mil 62-63. Insden ini menewaskan dua warga Amerika yaitu Tid
Bargon dan Ricky Saipar dan seorang warga Indonesia bernama S.S
Bambang Riwanto.
3. Tercatat sebanyak 13 orang pelaku penembakan, tiga di antara
pelaku tersebut merupakan anggota Komando Pasukan Khusus
(Kopassus), yaitu Kapten Markus, Letnan Satu Wawan Suwandi, dan
Prajurit Satu Jufri Uswanas.
Hampir seluruh kasus pelanggaran HAM terkait tambang Freeport tidak
jelas penyelesaiannya. Para pelaku kejahatan HAM ini umumnya tidak
ditemukan atau mendapat perlindungan sehingga lolos dari jerat hukum.
Keadilan bagi korban pelanggaran HAM kasus-kasus Freeport tampaknya
memang suatu hal yang absurd. Maraknya kasus pelanggaran HAM yang
terjadi PT Freport menjadikan sesuatu yang sangat tidak manusiawi,
dalam Undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia
telah menjelaskan seseorang untuk dapat bertahan hidup sesuai
kebutuhannya masing-masing sebagaimana dalam pasal Pasal 9 (1)
Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan
meningkatkan taraf kehidupannya. (2) Setiap orang berhak hidup
tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. (3) Setiap
orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Ironis sekali
pelanggaran HAM yang sangat telak berada di depan mata, namun
penyelesaiannya masih kurang padahal kita ketahui bersama bagaimana
saudara-saudara kita yang berada di sekitar arela tambang mengenai
perekonomian dan taraf hidupnya. Sudah saatnya dibutuhkan peran aktif
dan saling mendukung antara alat hokum Negara yaitu dari pihak
kepolisian dan jaksa beserta masyarakat dalam menanggulangi kasus
yang terjadi di PT Freport bahkan kasus yang akan ada.

1. Bagaimana penegakan kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh


PT Freport atas penambangan Tembaga dan Emas Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
lingkungan terkait?

Freeport telah membuang


Beracun Berbahaya) melalui
pesisir laut Arafura. Tailing
melampaui baku mutu total

tailing dengan
Sungai Ajkwa.
yang dibuang
suspend solid

kategori limbah B3 (Bahan


Limbah ini telah mencapai
Freeport ke Sungai Ajkwa
(TSS) yang diperbolehkan

menurut hukum Indonesia. Limbah tailing Freeport juga telah mencemari


perairan di muara sungai Ajkwa dan mengontaminasi sejumlah besar jenis
mahluk hidup serta mengancam perairan dengan air asam tambang
berjumlah besar.
Dari hasil audit lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, terungkap
bahwa bahwa tailing yang dibuang Freeport merupakan bahan yang
mampu menghasilkan cairan asam berbahaya bagi kehidupan aquatik.
Pencemaran air yang dilakukan oleh PT Freport telah melanggar Undangundang nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air Pasal 4 Sumber
daya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang
diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Pasal 5 Negara
menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok
minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih,
dan produktif. Bahkan sejumlah spesies aquatik sensitif di sungai Ajkwa
telah punah akibat tailing Freeport. Menurut perhitungan Greenomics
Indonesia, biaya yang dibutuhkan untuk memulihkan lingkungan yang
rusak adalah Rp 67 trilyun. Freeport mengklaim, sepanjang 1992-2005
Pemerintah Pusat mendapatkan keuntungan langsung US$ 3,8 miliar atau
kurang lebih Rp 36 trilyun. Namun juga dihitung dari perkiraan biaya
lingkungan yang harus dikeluarkan, Indonesia dirugikan sekitar Rp 31
trilyun. Beberapa media dan lembaga swadaya masyarakat (LSM)
mengungkapkan
bahwa
aktivitas
pertambangan
Freeport
telah
menimbulkan kerusakan lingkungan yang kian parah. Secara alamiah
manusia mempunyai misi mempertahankan keberadaannya di muka bumi
dalam kondisi lingkungan yang seoptimal mungkin. Johan S. Masjhur. Hal
ini telah melanggar UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal . Pasal 3 Perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup bertujuan: a. melindungi wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup; b. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan
manusia; c. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan
kelestarian ekosistem; d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; e.
mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup; f.
menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa
depan; g. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan
hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia; h. mengendalikan
pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; i. mewujudkan
pembangunan berkelanjutan; dan j. mengantisipasi isu lingkungan
global.
Beberapa kerusakan lingkungan yang diungkap oleh media dan LSM
adalah, Freeport telah mematikan 23.000 ha hutan di wilayah
pengendapan tailing. Merubah bentang alam karena erosi maupun

sedimentasi Meluapnya sungai karena pendangkalan akibat endapan


tailing. Dengan beragam kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari
aktivitas pertambangan Freeport, mestinya pemerintah melakukan
langkah pengamanan sesuai dengan peraturan undang-undang yang
berlaku, khususnya pelanggaran terhadap UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan perundangundangan mengharuskan adanya upaya pencegahan bagi kerusakan
lingkungan lebih lanjut dan penindakan, jadi seharusnya pemerintah
menghentikan aktivitas penambangan Freeport, kemudian melakukan
upaya perbaikan lingkungan dan apabila memungkinkan pemerintah
dapat menindak secara tegas sehingga masyarakat sekitar dapat hidup
tenang, dan nyam. Pemerintah dapat mengehentikan kontrak karya
pertambangan karena kerusakan lingkungan yang terjadi di Timika. Proses
penambangan dapat dihentikan sementara sampai kerusakan lingkungan
dapat diperbaiki dan perbaikan kerusan lingkungan menjadi tanggung
jawab Freeport. Sebagaimana aktifitas tambang yang dilakukan sehingga
banyak merugikan warga sekitar, dimana hal ini telah diatur dalam UU No.
32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 102 Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa
izin sebagaimanadimaksud dalam Pasal 59 ayat (4) dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Pasal 103
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan
pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Pasal 104
Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media
lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Pasal 105 Setiap
orang yang memasukkan limbah ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf
c dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak
Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah). Pasal 106 Setiap orang
yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf d
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas

miliar rupiah). Pasal 107 Setiap orang yang memasukkan B3 yang


dilarang menurut peraturan perundangundangan ke dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp5.000.000.000,00
(lima
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar).
Aktivitas pertambangan Freeport dinilai telah melanggar UU No. 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana yang tertuang dalam . Pasal
3 Penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan: a.
menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran
yang proporsional; b. mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi
fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai
manfaat lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan
lestari; c. meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai; d.
meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan
keberdayaan
masyarakat
secara
partisipatif,
berkeadilan,
dan
berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial
dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal; dan
e. menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan. dan
Pasal 11 (1) Perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk memberikan
pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan
kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. (2) Perencanaan
kehutanan
dilaksanakan
secara
transparan,
bertanggung-gugat,
partisipatif, terpadu, serta memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah.
Pasal 6 (1) Hutan mempunyai tiga fungsi, yaitu: a. fungsi konservasi, b.
fungsi lindung, dan c. fungsi produksi. (2) Pemerintah menetapkan hutan
berdasarkan fungsi pokok sebagai berikut: a. hutan konservasi, b. hutan
lindung, dan c. hutan produksi. Dan Pasal 7 Hutan konservasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a terdiri dari : a.
kawasan hutan suaka alam, b. kawasan hutan pelestarian alam, dan c.
taman buru. Yang artinya mengamanatkan aktivitas penambangan tidak
dibolehkan di kawasan hutan lindung. Penggunaan kawasan hutan untuk
kepentingan pertambangan harus dilakukan melalui pemberian izin
pinjam pakai oleh menteri dengan mempertimbangkan batasan luas dan
jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan. Pada kawasan hutan
lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan
terbuka. Pemberian izin pinjam pakai sebagaimana dimaksud adalah yang
berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis
dilakukan oleh Menteri atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Didalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup menjelaskan mengenai penegakan siapa yang member


izin dengan diberikan sanksi hal ini tertera pada Pasal 111 (1) Pejabat
pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa
dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin
usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dipidana denganpidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). Pasal 112 Setiap pejabat
berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan pengawasan terhadap
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap peraturan
perundang-undangan dan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 71 dan Pasal 72, yang mengakibatkan terjadinya pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan yang mengakibatkan hilangnya nyawa
manusia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal
113 Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan,
menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan
keterangan yang tidak benar yang diperlukan dalam kaitannya dengan
pengawasan dan penegakan hukum yang berkaitan dengan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69
ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 114 Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak
melaksanakan paksaan pemerintah dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah). Pasal 115 Setiap orang yang dengan sengaja
mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan pelaksanaan tugas
pejabat pengawas lingkungan hidup dan/atau pejabat penyidik pegawai
negeri sipil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pasal 116 (1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh,
untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana
dijatuhkan kepada: a. badan usaha; dan/atau b. orang yang memberi
perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang
bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut. (2)
Apabila tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau
berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja badan
usaha,sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah atau pemimpin
dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana

tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama-sama. Pasal 117 Jika


tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf b,
ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan denda
diperberat dengan sepertiga.
Freeport telah mengakibatkan kerusakan alam dan mengubah bentang
alam serta mengakibatkan degradasi hutan yang seharusnya ditindak
tegas pemerintah. Hal ini karena mengancam kelestarian lingkungan dan
melanggar prinsip pembangunan berwawasan lingkungan yang
diamanatkan UUD 1945 pasal 33 ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

1. F.

Kesimpulan
1. Polemik yang berkepanjangan anatar PT Freport dengan
masyarakat papua dalam hal ini adalah daerah sekitar areal
pertambangan tembaga dan emas hal ini tidak hanya
mengenai kerusakan lingkungan namun terdapat satu hal
yang juga sangat riskan apabila hal ini tidak diperhatikan oleh
pemerintah saerah setempat dan pemerintah pusat yaitu
HAM. Tidak hanya Lingkungan yang telah diatur dalam UU No.
23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
kemudian di perbaharui dengan di keluarkannya UU No. 32
Tahun
2009
Tentang
Perlindungan
dan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup, HAM pun dinegara indonesiam di atur
dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM. Sehingga terkait
kasus yang terjadi di Papua antara PT Freport dengan
masyarakat pemerintah dapat menindak lebih tegas, karena
adanya bukti-bukti terkait pelanggaran HAM. Jika sudah
demikian untuk mengurangi bahkan membuat pelaku
pelanggar HAM menjadi jera sudah saatnya penindakan dan
penegakannya dapat dilakukan secara tegas dengan tetap
memperhatikan
kemanfaatan,keadilan
dan
kepastian
hukumya.
2. Kerusakan lingkungan yang begitu parah di daerah papua
tempat penambangan tembaga dan emas oleh PT Frepot
membuat warga sekitar menjadi kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Ironisnya kejadian ini telah terjadi
sebelum UU tentang pertambangan di sahkan yang artinya
juga terdapat lebih mengutamakan kepentingan pribadi

daripada kepentingan umum. Sehingga ketika UU telah


disahkan maka pemerintah tidak dapat untuk menindak lanjuti
PT Frepot atas penambangannya di papua di karenakan
pemerintah telah mendapat sogokan atas peranannya
dengan tetap mengijinkan untuk beraktifitas. Kerusakan
lingkungan yang tercemar adalah air karena Tailing yang
dibuang Freeport ke Sungai Ajkwa melampaui baku mutu total
suspend solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum
Indonesia. Limbah tailing Freeport juga telah mencemari
perairan di muara sungai Ajkwa dan mengontaminasi
sejumlah besar jenis mahluk hidup serta mengancam perairan
dengan air asam tambang berjumlah besar. Limbah ini juga
telah mencapai pesisir laut Arafura. Tidak ada akibat tanpa
sebab, artinya tanpa pemerintah mengelurkan ijin tidak
mungkin kasus ini sampai beredar luas di tengah masyarakat
dan pada khususnya menjadikan warga papua menjadi
kesulitan dalam pemenuhan hidupnya. Namun sebagaimana
yang telah di amanatkan dalam UU No. 32 Tahun 2009
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
bahwa siapapun yang membuang tailing dengan kategori
limbah B3 dan terkait izin pun juga diatur dalam Undangundang ini. Dimana apabila terdapat pelanggaran atas 2
kategori tersebut maka akan di jatuhi sanksi denda dan
pidana sesuai kadar perbuatan yang di lakukan dan akibatnya.

Saran
Saya tidak hanya menganalisa tapi saya mencoba untuk memberikan
solusi yang tepat. Berikut solusinya :
1. Sebagai masyarakat kita dituntut untuk tahu akan hukum, Jika kita
tau, hal ini dapat membuat kita dapat mengetahui mana perbuatan,
pembicaraan ataupun sikap yang bertentangan dengan perundangundangan yang berlaku.
2. Pemerintah terkait jika ingin mengeluarkan sebuah izin tentang
aktifitas
penambangan
diharapkan
tidak
mementingkan
kepentingan pribadi akan tetapi lebih mementingkan kepentingan
umum.
3. Dalam penegakan hukum baik pelanggaran HAM maupun
penegakan kasus yang terdapat pada lingkungan diperlukan peran

aktif masyarakat dalam hal pemeberian informasi ataupun dalam


hal apapun asalkan tidak bertentangan dengan perundangundangan yang berlaku jadi tidak hanya dari pihah pemerintah yang
diwakilkan oleh alat-alat Negara yaitu polisi dan jaksa.