Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah gizi balita masih merupakan masalah yang belum kunjung usai. Dari delapan
tujuan Millenium Development Goals tahun 2015, terdapat dua tujuan yang terkait gizi pada
anak usia balita, yaitu child underweight yang merupakan salah satu sasaran penanggulangan
kemiskinan dan kelaparan juga menurunkan angka kematian anak.1,2 Pada laporan tahun 2011,
WHO menunjukkan adanya perbaikan pada angka kematian anak di bawah usia 5 tahun
dimana terjadi penurunan dari 12,4 juta kematian pada tahun 1990 menjadi 8,1 juta pada
tahun 2009 (34.7%) dan 6,9 juta kematian pada 2011 (14.8%). Sayangnya status kurang gizi
yang memiliki persentase 28% pada tahun 1990 mengalami penurunan yang cukup lamban
dengan masih adanya hampir 23% anak mengalami kurang gizi pada tahun 2009 dan 17%
pada tahun 2011. Mengutip WHO pada Global Health Observatory masalah kurang gizi pada
anak, malnutrisi pada anak, termasuk di dalamnya perkembangan gizi yang kurang baik dan
kekurangan mikronutrien, merupakan penyebab utama 35% kematian balita. Nutrisi perlu
mendapat menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional tiap-tiap negara jika MDG
ingin dicapai.
Global Health Observatory WHO 2010 menyatakan ada 103 juta anak di bawah usia 5
tahun di negara berkembang dengan status gizi kurang. Dari angka tersebut, 17% berada di
kawasan Asia Tenggara.3 Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) merumuskan bahwa
kemiskinan, kurang pendidikan serta kurangnya ketrampilan merupakan pokok masalah dari
gizi kurang.4 Meskipun Indonesia telah menunjukkan penurunan kemiskinan secara tetap,
tetapi masalah gizi pada anak-anak hanya menunjukkan sedikit perbaikan. 5 Dari tahun 2007
sampai 2011, proporsi penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 16,6 12,5 persen, tetapi masalah gizi tidak menunjukkan penurunan secara signifikan.1
Masalah gizi yang dihadapi Indonesia antara lain kurang vitamin A, anemia gizi besi,
kurang energi protein, gangguan akibat kekurangan yodium, dan adanya double burden of
disease dimana gizi buruk dan overweight maupun obesitas bersaing satu sama lain.7 Di
Indonesia telah dilakukan upaya pembangunan di bidang gizi melalui upaya Pembinaan Gizi
Masyarakat yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) tahun 2010 2014, di mana sasaran pembinaan gizi yang telah ditetapkan adalah
menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi <15% pada tahun 2014. Hasil yang telah coba
dicapai seperti yang tercatat pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 adalah
1

prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang pada balita dari 18,4% tahun 2007 menjadi
17,9% tahun 2010. Penurunan terjadi pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4% pada tahun
2007 menjadi 4,9% tahun 2010. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program
perbaikan gizi pada RPJM tahun 2014 sebesar 15% dan target MDG untuk Indonesia pada
tahun 2015 sebesar 15,5% untuk kurang gizi dan 3,6% untuk gizi buruk, maka secara nasional
target tersebut memang belum tercapai namun diyakini akan tercapai.1
Untuk mencapai sasaran RPJMN tahun 2014 tersebut, dalam Rencana Aksi
Pembinaan Gizi telah ditetapkan indikator keluaran, beberapa diantaranya: (1) 85% balita
ditimbang berat badannya; (2) 100% balita gizi buruk mendapat perawatan; (3) 85% balita 659 bulan mendapat kapsul vitamin A; juga (4) 80% bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI
Eksklusif.8
Di DKI Jakarta sendiri terdapat 1.147 jumlah kasus balita gizi buruk dari 42.702 kasus
yang dilaporkan tahun 2012 (2,69%). Hal ini menyebabkan DKI Jakarta menempati urutan
ke-8 dengan jumlah kasus tertinggi dimiliki Jawa Timur dengan 10.848 kasus (25,40%).
Cakupan balita yang ditimbang DKI Jakarta tidak memenuhi target 85% pada tahun 2012
dengan cakupan 53,3% dan menempati posisi ke-4 terendah dengan cakupan terendah
dimiliki Papua.8,9,10 Hal ini menunjukkan bahwa DKI Jakarta masih memiliki banyak hal yang
harus dikejar dan dievaluasi lebih lanjut.
Data yang didapat dari enam wilayah Kota/Kabupaten Provinsi DKI Jakarta tahun
2009 menunjukkan dari 342.288 balita yang ditimbang, 2 persen diantaranya berada di bawah
garis merah (BGM). Wilayah dengan balita BGM terbanyak ada di wilayah Jakarta Barat
yaitu sebesar 2.966 balita (43.2%) diikuti oleh Jakarta Timur dan Jakarta Utara masingmasing sebesar 1.705 (24.1%) dan 1.223 balita(17.8%).11
Berdasarkan data yang telah dijabarkan, dapat dikatakan bahwa bila hal ini terus
dibiarkan maka cakupan usaha perbaikan gizi akan sulit untuk mencapai target nasional 2014.
Dengan menjalankan usaha perbaikan gizi secara bertahap dan berkesinambungan sesuai
dengan pentahapan dan prioritas pembangunan nasional, maka sasaran jangka panjang
masalah gizi tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat serta terwujudnya
kesejahteraan bangsa diharapkan dapat tercapai.

1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian program
gizi bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Pejagalan,

Kelurahan Penjaringan 1, Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan Pluit pada


bulan November 2013 Desember 2013.
1.2.2

Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran pelaksanaan dan pencapaian program gizi bayi
dan balita pada puskesmas-puskesmas di wilayah Kelurahan Pejagalan,
Kelurahan Penjaringan 1, Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan
Pluit selama bulan November 2013- Desember 2013.
2. Menilai masukan, proses, keluaran dan dampak, umpan balik dan
lingkungan dari program gizi bayi dan balita pada puskesmaspuskesmas di wilayah Kelurahan Pejagalan, Kelurahan Penjaringan 1,
Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan Pluit selama bulan November
2013- Desember 2013.
3. Mengetahui kendala dalam pelaksanaan program gizi bayi dan balita
pada

puskesmas-puskesmas

di

wilayah

Kelurahan

Pejagalan,

Kelurahan Penjaringan 1, Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan


Pluit selama bulan November 2013- Desember 2013.
4. Mencari dan mengusulkan alternatif solusi untuk masalah yang
dihadapi dalam pelaksanaan program gizi bayi dan balita pada
puskesmas-puskesmas di wilayah Kelurahan Pejagalan, Kelurahan
Penjaringan 1, Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan Pluit selama
bulan November 2013- Desember 2013.
1.3

Tujuan Evaluasi Kinerja Perbaikan Gizi pada Balita


1. Menilai keluaran, proses dan masukan dari program usaha perbaikan gizi pada
balita
2. Menemukan adanya hambatan atau masalah yang ada dari program usaha
perbaikan gizi pada balita
3. Menemukan prioritas masalah mana yang harus lebih diutamakan sehingga dapat
diketahui masalah mana yang perlu ditangani lebih dulu
4. Menemukan penyebab atau akar dari masalah agar dapat diketahui penyelesaian
masalah tersebut
5. Menemukan solusi dan saran yang mampu laksana untuk penyelesaian masalah
dari program usaha perbaikan gizi pada balita
6. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program usaha perbaikan gizi
pada balita di masa mendatang

1.4

Kegiatan Program Upaya Perbaikan Gizi


3

Kegiatan program upaya perbaikan gizi pada balita di Puskesmas Kelurahan


Pejagalan, Kelurahan Penjaringan 1, Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan Pluit
meliputi:
1. Pemantauan pertumbuhan balita dengan melakukan penimbangan berat badan dan
menilai balita yang baik, gagal, ataupun perbaikan dalam pertumbuhan, serta balita
yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) yang dilakukan di Posyandu oleh kader
setempat
2. Pemberian suplemen gizi, yaitu kapsul vitamin A di bulan Februari dan Agustus,
dilakukan di Posyandu oleh kader setempat
3. Intervensi gizi, yaitu pemberian MP-ASI atau PMT pada balita yang BGM atau
KEP serta perawatan pada balita gizi buruk, dilakukan oleh petugas kesehatan di
Puskesmas
4. Penyuluhan gizi seimbang termasuk penyuluhan ASI eksklusif pada bayi
5. Pelacakan kasus gizi buruk yang dilakukan oleh petugas kesehatan
Adapun alur kinerja puskesmas di Kelurahan Pejagalan, Kelurahan Penjaringan 1,
Kelurahan Penjaringan 2, dan Kelurahan Pluit dalam program gizi bayi dan balita
adalah sebagai berikut :

Alur Program Perbaikan Gizi di Puskesmas

BAB II
KERANGKA EVALUASI
2.1. Kerangka Teori

LINGKUNGAN

MASUKAN

PROSES

KELUARAN

DAMPAK

UMPAN BALIK

Keterangan:
1. Masukan
Tenaga: 2 orang petugas pendaftaran, bidan, dokter puskesmas, dan kader posyandu
Tenaga
PKL Pejagalan
PKL Penjaringan 1
PKL Penjaringan 2
PKL Pluit

Petugas
Pendaftaran
2
2
2
2

Bidan
2
10
1
1

Dokter

Kader

Puskesmas
1
1
1
1

Posyandu
157
95
96
73

Dana: dana APBD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Sarana:
a.Medis
- Timbangan bayi

o PKL Pejagalan, Pluit, Penjaringan 2


: 1 buah
o PKL Penjaringan I
: 2 buah
- Timbangan dewasa
o PKL Pejagalan, Pluit, Penjaringan 2
: 1 buah
o PKL Penjaringan I
: 3 buah
- Alat pengukur tinggi badan kayu
: setiap puskesmas memiliki 1 buah
- Meteran untuk mengukur tinggi badan (posisi berdiri) : setiap puskesmas
memiliki 1 buah

* Timbangan bayi dan alat pengukur tinggi badan pada PKL Pejagalan,
Penjaringan 2, dan Pluit diletakkan di poli KIA, sehingga bayi dan balita yang
datang ke BPU/MTBS tidak diukur berat badan dan tinggi badannya.
- Vitamin A
: kapsul merah dan biru
- PMT-P dan MP-ASI
Setiap Puskesmas mempunyai PMT-P dan MP-ASI, tetapi dalam bentuk
yang berbeda. Untuk MP-ASI di seluruh PKL bentuknya sama yaitu biskuit
MP-ASI yang didapat dari PKC. Di PKL Pejagalan dan Pluit, MP-ASI
diberikan untuk usia 6 bulan-59 bulan. Di PKL Penjaringan 1, MP-ASI
diberikan untuk usia kurang dari 1 tahun. Di PKL Penjaringan 2, MP-ASI
diberikan untuk usia kurang dari 1 tahun
Sementara itu, bentuk PMT-P berbeda di masing-masing puskesmas. Di
PKL Pejagalan dan Pluit, PMT-P diberikan kepada balita di atas usia 1 tahun
berupa gabungan antara biskuit MP-ASI dan susu formula. Di

PKL

Penjaringan I, pemberian PMT-P berupa susu formula hanya untuk balita di atas
1 tahun. Di PKL Penjaringan 2, PMT-P juga diberikan untuk balita di atas 1
tahun
b.Non medis
- Gedung
- Ruang tunggu dan ruang pemeriksaan
- Poster gizi, vitamin A, kegiatan posyandu, dan ASI eksklusif

- Kartu Menuju Sehat (KMS)


- Kartu administrasi, status pasien
- Formulir laporan bulanan Posyandu
- Formulir rujukan
Metode
a. Medis

Buku pedoman yang berisi tentang:


- Metode penimbangan berat badan & pengisian KMS
- Metode penilaian status gizi
- Metode pemberian vitamin A: 2 kali dalam setahun (Februari dan Agustus)
- Metode pemberian MP-ASI dan PMT
- Metode penyuluhan ASI eksklusif
- Metode perawatan bayi & balita dengan gizi buruk
b.Non medis

Buku pedoman mengenai:


7

o Metode rujukan bagi bayi & balita


o Metode pencatatan dan pelaporan
o Metode pembinaan Posyandu dan kader

Penyuluhan kelompok kepada kaum ibu

Pembinaan kader Posyandu

2. Proses:
Perencanaan
Rencana kerja yang telah disusun oleh Puskesmas Kecamatan Penjaringan yang
disosialisasikan dalam rapat koordinasi program gizi tingkat kecamatan.
Pengorganisasian
Struktur organisasi serta pembagian tugas yang jelas dan tertulis.
Pelaksanaan
Indikator

PKL
Pejagalan

Penimbangan berat badan dan


penilaian status gizi bayi &
balita saat datang ke
Puskesmas
Penimbangan berat badan dan
penilaian status gizi bayi &
balita saat datang ke posyandu

Ada,
Hanya pada
bayi dan
balita yang
datang ke
poli KIA
Ada, TB
diukur
hanya pada
anak dalam
pengawasan
stunting

PKL

PKL

Penjaringan

Penjaringan

PKL Pluit

2
Ada,
Hanya pada
bayi dan
balita yang
datang ke
poli KIA
Ada, TB
diukur
hanya pada
anak dalam
pengawasan
stunting

Ada,
Hanya pada
bayi dan
balita yang
datang ke
poli KIA
Ada, TB
diukur
hanya pada
anak dalam
pengawasan
stunting

Ada

Ada

Pelaksanaan Posyandu setiap


bulan di wilayah kerja setiap

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Puskesmas
Memberikan penyuluhan gizi
dan pemberian ASI eksklusif
Mengadakan penataran kader
dan penyegaran kader
Memberikan vitamin A 2 kali
dalam setahun (Februari dan
Agustus), kapsul biru untuk
8

usia 6-11 bulan dan kapsul


merah untuk usia 12-59 bulan
Konsultasi gizi pada balita
BGM
Memberikan makanan
pendamping ASI (MP-ASI)
untuk bayi usia 6-24 bulan
bagi keluarga miskin (Gakin)
Perawatan bayi & balita gizi
buruk
Memberikan makanan
tambahan untuk bayi & balita

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada

gizi kurang dan buruk


Pencatatan dan pelaporan
PKL

PKL

Penjaringan

Penjaringan

Ada

Ada

Ada

Ada

Tidak Ada

Tidak Ada

Ada

Tidak Ada

Tidak Ada

Ada

Ada

Ada

Tidak Ada

Ada

Ada

Ada

PKL

Indikator

Pejagalan

PKL Pluit

Pemantauan balita :
Buku registrasi bayi dan balita,
buku registrasi MTBS, LB1
Posyandu, Kohort Balita,
formulir laporan Gibur, rekap
data dasar gizi, data balita
BGM dan konfirmasi status
gizi
Program ASI Eksklusif :
Kohort bayi yang menerima
ASI eksklusif
Program MP-ASI :
Data perkembangan status gizi
bayi dan balita yang mendapat
MP-ASI,

formulir

tanda

terima, register pendistribusian


MP-ASI
Program PMT-P :
Tanda terima PMT-P dari
9

Puskesmas Kelurahan ke
sasaran, data perkembangan
status gizi balita yang
mendapat PMT-P
Pemberian vitamin A :
Daftar nama balita yang
mendapat vitamin A, register

Tidak Ada

Tidak Ada

Ada

Tidak Ada

balita yang mendapat vitamin


A dalam setahun

Pengawasan
Pengawasan pada setiap Puskesmas Kelurahan dipantau oleh masing-masing
Kepala Puskesmas, dan masing-masing penanggung jawab program gizi bayi dan
balita akan mengumpulkan laporan kepada Bagian Program Gizi di Puskesmas
Kecamatan. Selanjutnya terdapat monitoring dan supervisi sudin secara berkala
yaitu setiap 3 bulan.

3. Keluaran:
Indikator pencapaian program gizi nasional yaitu sebagai berikut:

Persentase Bayi & Balita Bawah Garis Merah (BGM)


Cakupan Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan
Cakupan Pemberian Vitamin A
Cakupan Pemberian MP-ASI untuk Bayi & Balita BGM Gakin
Cakupan Balita yang Mendapat ASI Eksklusif

Indikator kinerja dan target kegiatan pembinaan gizi di Puskesmas Kecamatan


Penjaringan tahun 2013 adalah sebagai berikut

Persentase balita gizi buruk mendapatkan perawatan 100%

Persentase balita 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A 85%

Persentase bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif 80%

4. Lingkungan:
Fisik: lokasi, transportasi, dan kerja sama antar fasilitas kesehatan
Non Fisik: tingkat pendidikan, kebiasaan dan budaya, serta status ekonomi
5. Umpan Balik:
10

Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan dan laporan dari masyarakat atau
instansi lain
6. Dampak:
Penurunan angka balita Bawah Garis Merah (BGM)
2.2. Kerangka Pikir
Mencari data mengenai indikator upaya perbaikan gizi bayi & balita (keluaran) di
Puskesmas Kecamatan Penjaringan.
Membandingkan data tersebut di atas dengan target indikator untuk menemukan
masalah.
Mencari data mengenai masukan, proses, umpan balik, dan lingkungan mengenai
upaya perbaikan gizi bayi & balita di Puskesmas Kecamatan Penjaringan.
Membandingkan data tersebut di atas dengan standar pelayanan kesehatan di DKI
Jakarta untuk menemukan penyebab masalah.
Menentukan prioritas masalah dengan sistem skoring serta menentukan masalah
utama yang akan dibahas
Menentukan penyebab masalah utama yang mengakibatkan tidak terpenuhinya target
keluaran/dampak.
Memberikan saran yang mampu dilaksanakan sesuai potensi Puskesmas.

11

12

BAB III
ANALISA SITUASI
3.1.

Data Umum

3.1.1. Data Geografis & Demografis


Kecamatan Penjaringan terdiri dari Kelurahan Pejagalan, Kelurahan Pluit, Kelurahan
Penjaringan, Kelurahan Kapuk Muara, dan Kelurahan Kamal Muara. Evaluasi program
perbaikan gizi ini dilakukan di 4 Puskesmas Kelurahan di wilayah Kecamatan Penjaringan,
yaitu di Puskesmas Pejagalan, Puskesmas Penjaringan 1, Puskesmas Penjaringan 2 dan
Puskesmas Pluit.
Tabel 3.1. Jumlah Penduduk dan Penduduk Miskin di Wilayah Kelurahan Pejagalan,
Penjaringan dan Pluit pada bulan Desember 2013
Kelurahan

Jumlah

Jumlah

penduduk

penduduk

Pejagalan
Penjaringan

(orang)
89.644
108.647

miskin
9.860

Pluit

49.217

10.208

2.954

Tabel 3.2. Data Geografis & Demografis Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Pejagalan,
Penjaringan 1, Penjaringan 2, Pluit
Puskesmas

Luas Wilayah

Kelurahan

Kerja (ha)

Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

Jumlah

323,18
326,53

RW
18
8

RT
226
122

68,9
771,19

9
21

118
242

Jumlah penduduk

Jumlah

(orang)

KK

89644
61.006

23.675

47.641
49.217

13.011
14.388

26.933

Tabel 3.3. Jumlah Penduduk Usia Bayi dan Balita pada bulan Desember 2013 di Wilayah
Kerja Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2 dan Pluit pada bulan
Desember 2013
13

Penduduk

PKL

Sasaran

PKL

PKL PJ 1

PKL PJ 2

325

285

129

83

822

503

455

175

105

1.238

811

600

338

165

1.914

bulan 29 hari

1.460

694

631

353

3.138

Total

3.099

2.034

1.273

706

7.112

Pejagalan

Program
Bayi 0 - 5 bulan 29
hari
Bayi 6 bulan - 11
bulan 29 hari
Balita 12 bulan - 23
bulan 29 hari

Pluit

Total

Balita 24 bulan - 59

3.1.2. Akses Transportasi ke Puskesmas


Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit memiliki
lokasi yang mudah dijangkau baik dengan berjalan kaki maupun dengan menggunakan
transportasi umum seperti bajaj, angkutan kota, becak, motor, sepeda, serta mobil.

3.1.3. Data Fasilitas Kesehatan


Tabel 3.4 Data Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Penjaringan Tahun 2013
No.

1.

Fasilitas

Kel

Kesehatan

Kel

Kel

Pejagalan Penjaringan

Rumah
sakit

Pluit

Jumlah

2.

Puskesmas

3.

Posyandu

25

28

60

28

32

64

245

TOTAL

3.2.

Data Khusus

3.2.1.

Posyandu dan Kader

Tabel 3.5. Jumlah Posyandu dan Kader yang aktif di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode
Januari 2013 Desember 2013
PKL Pejagalan

PKL

PKL

Penjaringan I

Penjaringan II

PKL Pluit
14

Posyandu

25

19

12

Kader aktif

157

95

89

73

Menurut data di atas, jumlah posyandu paling banyak terdapat di wilayah kerja PKL
Pejagalan (25 Posyandu) dengan jumlah kader aktif sebanyak 157 orang. Sedangkan jumlah
posyandu paling sedikit terdapat di wilayah kerja PKL Pluit (7 Posyandu) dengan jumlah
kader aktif 73 orang.
3.2.2. SKDN
SKDN merupakan kumpulan data yang diperlukan untuk mengevaluasi program gizi
bayi dan balita pada Puskesmas. Dimana S, K, D, dan N mewakili data-data sebagai berikut :
S : jumlah semua balita berusia 0-59 bln 29 hari yang ada di wilayah kerja
Puskesmas.
K : jumlah semua bayi yang terdaftar dan telah mendapat KMS (Kartu Menuju Sehat)
di wilayah kerja Puskesmas.
D : jumlah balita berusia 0-59 bln 29 hari yang ditimbang di Posyandu dan Puskesmas
di wilayah kerja Puskesmas.
N : jumlah balita yang ditimbang dan berat badannya naik di Posyandu dan
Puskesmas wilayah kerja Puskesmas.
Data SKDN tersebut nantinya akan diolah untuk mendapatkan informasi berupa :
-

Cakupan program gizi bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas tersebut (K/S %)

Partisipasi masyarakat yaitu berupa persentase jumlah balita yang ditimbang di


Posyandu maupun Puskesmas dibanding jumlah balita yang ada di wilayah kerja
Puskesmas (D/S %).

Tingkat kelangsungan penimbangan di wilayah kerja Puskesmas, dimana akan dilihat


persentase balita yang ditimbang dan memiliki KMS (D/K%).

Persentase balita yang mengalami peningkatan berat badan saat penimbangan (N/D%).

Hasil pencapaian program, yaitu persentase bayi yang mengalami peningkatan berat
badan (N/S%).

A. SKDN Puskesmas Kelurahan Pejagalan


Tabel 3.6. Data SKDN Puskesmas Kelurahan Pejagalan periode Januari 2013-Desember 2013
15

Bulan

Januari

3158

2795

1942

570

Februari

3099

2795

1963

592

Maret

3333

2795

1914

551

April

2896

2795

1683

848

Mei

2744

2438

1296

689

Juni

2512

2438

1727

846

Juli

2797

2438

1543

601

Agustus

2365

1869

1288

508

September

2157

1760

1495

729

Oktober

1962

1612

1251

662

November

1779

1348

1089

539

Desember

1592

1166

1166

499

Sumber Data : Data Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013

Tabel 3.7. Cakupan Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita
di Puskesmas Kelurahan Pejagalan periode Januari 2013-Desember 2013

16

B.

Bulan

K/S %

D/S%

D/K%

N/D%

N/S%

Januari

88,51

61,49

69,48

29,35

18,05

Februari

90,19

63,34

70,23

30,16

19,10

Maret

83,86

57,43

68,48

28,79

16,53

April

96,51

58,11

60,21

50,39

29,28

Mei

88,85

47,23

53,16

53,16

25,11

Juni

97,05

68,75

70,84

48,99

33,68

Juli

87,16

55,17

63,29

38,95

21,49

Agustus

79,03

54,46

68,91

39,44

21,48

September

81,59

69,31

84,94

48,76

33,80

Oktober

82,16

63,76

77,61

52,92

33,74

November

75,77

61,21

80,79

49,49

30,30

Desember

73,24

73,24

100,00

42,80

31,34

Rata-Rata

85,33

61,13

72,33

42,77

26,16

Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1


Tabel 3.8. Data SKDN Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
periode Januari 2013-Desember 2013
Bulan

Januari

2034

1021

541

373

Februari

2145

1947

1423

980

Maret

2213

2040

1731

1289

April

2564

2214

1742

2193

Mei

3046

2181

1593

1199

Juni

3061

2541

2347

1761

Juli

1876

890

618

392

Agustus

1948

913

2304

1755

September

2343

1558

896

333

Oktober

1985

1731

856

534

November

2123

1314

717

449

Desember

3125

1485

1027

499
17

Sumber Data : Data Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember 2013
Tabel 3.9. Cakupan Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita
di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1 periode Januari 2013-Desember 2013
C.

Bulan

K/S %

D/S%

D/K%

N/D%

N/S%

Januari

50,20

26,60

52,99

68,95

18,34

Februari

90,77

66,34

73,09

68,87

45,69

Maret

92,18

78,22

84,85

74,47

58,25

April

86,35

67,94

78,68

125,89

85,53

Mei

71,60

52,30

73,04

75,27

39,36

Juni

83,01

76,67

92,37

75,03

57,53

Juli

47,44

32,94

69,44

63,43

20,90

Agustus

46,87

118,28

252,35

76,17

90,09

September

66,50

38,24

57,51

37,17

14,21

Oktober

87,20

43,12

49,45

62,38

26,90

November

61,89

33,77

54,57

62,62

21,15

Desember

47,52

32,86

69,16

48,59

15,97

Rata-Rata

69,29

55,61

83,96

69,90

41,16

Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2


Tabel 3.10. Data SKDN Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
periode Januari 2013-Desember 2013
Bulan

Januari

1.273

1.030

776

392

Februari

1.406

1.288

1.269

710

Maret

1443

1235

1101

709

April

1424

1322

1266

731

Mei

1417

1325

1296

689

Juni

1306

1208

1107

717

Juli

2162

1387

1420

1239

Agustus

1424

1008

795

401

September

703

549

392

264
18

Oktober

792

696

638

482

November

740

727

710

501

Desember

747

740

740

628

Sumber Data : Data Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember 2013

Tabel 3.11. Cakupan Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita
di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2 periode Januari 2013-Desember 2013
D.

Bulan
K/S %
Januari
80.91%
Februari
91.60%
Maret
85.58%
April
92.83%
Mei
93.50%
Juni
92.49%
Juli
64.15%
Agustus
70.78%
September
78.09%
Oktober
87.87%
November
98.24%
Desember
99.06%
Rata-Rata
86.25%
Puskesmas Kelurahan Pluit

D/S%
60.95%
90.25%
76.29%
88.90%
91.46%
84.76%
65.67%
55.82%
55.76%
80.55%
95.94%
99.06%
78.78%

D/K%
75.33%
98.52%
89.14%
95.76%
97.81%
84.76%
98.82%
78.86%
71.49%
91.66%
97.66%
100%
89.98%

N/D%
50.51%
55.94%
64.39%
57.74%
53.85%
64.76%
87.25%
50.44%
67.34%
75.54%
70.56%
84.86%
65.26%

N/S%
30.79%
50.49%
49.13%
51.33%
49.25%
54.90%
57.30%
28.16%
37.55%
60.85%
67.70%
84.06%
51.79%

S
K
D
N

Tabel 3.12. Data SKDN Puskesmas Kelurahan Pluit periode Januari 2013-Desember 2013
Bulan

Januari

660

653

547

245

Februari

839

810

662

313

Maret

769

708

614

355

April

768

709

711

353

Mei

706

706

568

336

Juni

706

658

548

337

Juli

706

623

550

345

Agustus

706

612

540

309

September

706

569

386

295

Oktober

706

620

520

259

November

706

706

415

258
19

Desember

706

700

420

267

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013

Tabel 3.13. Cakupan Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita
di Puskesmas Kelurahan Pluit periode Januari 2013-Desember 2013
E.

Bulan
K/S %
D/S%
D/K%
N/D%
N/S%
Januari
98,94
82,88
83,77
44,79
37,12
Februari
96,54
78,90
81,73
47,28
37,31
Maret
92,07
79,84
86,72
57,82
46,16
April
92,32
92,58
100,28
49,65
45,96
Mei
100,00
80,45
80,45
59,15
47,59
Juni
93,20
77,62
83,28
61,50
47,73
Juli
88,24
77,90
88,28
62,73
48,87
Agustus
86,69
76,49
88,24
57,22
43,77
September
80,59
54,67
67,84
76,42
41,78
Oktober
87,82
73,65
83,87
49,81
36,69
November
100,00
58,78
58,78
62,17
36,54
Desember
99,15
59,49
60,00
63,57
37,82
Rata-Rata
92,96
74,44
80,27
57,68
42,28
Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita Puskesmas Kecamatan Penjaringan

C
ak
up
an

Tabel 3.14. Rata-Rata dalam 1 tahun Cakupan Pelayanan Upaya Perbaikan Gizi Bayi & Balita
di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari 2013-Desember 2013
Puskesmas
Kelurahan

Rata-Rata periode Januari 2013 Desember 2013


K/S %
D/S%
D/K%
N/D%
N/S%

Pejagalan

85,33

61,13

72,33

42,77

26,16

Penjaringan 1

69,29

55,61

83,96

69,90

41,16

Penjaringan 2
86,25
78,78
89,98
65,26
51,79
Pluit
92,96
74,44
80,27
57,68
42,28
Dari tabel di atas, didapatkan bahwa rata-rata cakupan program (K/S%) paling tinggi dicapai
oleh PKL Pluit (92,96%) dan paling rendah adalah PKL Penjaringan 1 (69,29%). Rata-rata
partisipasi masyarakat pada kegiatan penimbangan balita (D/S%) paling tinggi dicapai oleh
PKL Penjaringan 2 (78,78%) dan paling rendah adalah PKL Penjaringan 1 (55,61%). Ratarata tingkat kelangsungan penimbangan (D/K%) tertinggi dicapai oleh PKL Penjaringan 2
(89,98%) sedangkan yang terendah adalah PKL Pejagalan (72,33%). Puskesmas yang
memiliki rata-rata persentase peningkatan berat badan balita saat penimbangan tertinggi
adalah PKL Penjaringan 1 (69%), yang terendah adalah PKL Pejagalan (42,77%). Puskesmas
yang memiliki rata-rata persentase pencapaian program tertinggi adalah PKL Penjaringan 2
(51,79%) sedangkan yang terendah adalah PKL Pejagalan (26,16%).
20

3.2.3. Bayi dan Balita di Bawah Garis Merah (BGM)


A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Tabel 3.15. Jumlah Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kelurahan Pejagalan
periode Januari 2013-Desember 2013
Jumlah Semua Balita

Persentase

Yang Ditimbang

(%)

Bulan

BGM

Januari

21

1942

1,08

Februari

34

1963

1,73

Maret

39

1914

2,04

April

25

1683

1,49

Mei

28

1296

2,16

Juni

26

1727

1,51

Juli

27

1543

1,75

Agustus

22

1288

1,71

September

21

1495

1,40

Oktober

18

1251

1,44

November

20

1089

1,84

Desember

15

1166

1,29

Rata-Rata

1,62

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013

B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1


Tabel 3.16. Jumlah Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
periode januari 2013-Desember 2013
Jumlah Semua Balita

Persentase

Yang Ditimbang

(%)

541

0,18

Februari

21

1423

1,48

Maret

1731

0,35

April

17

1742

0,98

Bulan

BGM

Januari

21

Mei

24

1593

1,51

Juni

2347

0,26

Juli

618

0,00

Agustus

2304

0,04

September

896

0,45

Oktober

856

0,70

November

11

717

1,53

Desember

24

1027

2,34

Rata-Rata

0,82

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember 2013

C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2


Tabel 3.17. Jumlah Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
periode januari 2013-Desember 2013
Bulan

BGM

Jumlah Semua Balita

Persentase

Yang Ditimbang

(%)

Januari

55

776

7,08

Februari

34

1296

2,62

Maret

11

1235

0,89

April

1322

0,52

Mei

14

1325

1,05

Juni

1208

0,24

Juli

1387

0,21

Agustus

1008

0,79

September

549

0,72

Oktober

696

0,86

November

17

727

2,33

Desember

740

0,27

Rata-Rata

1,46

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember 2013

D. Puskesmas Kelurahan Pluit


22

Tabel 3.18. Jumlah Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode Januari 2013-Desember 2013
Bulan

BGM

Jumlah Semua Balita

Persentase

Yang Ditimbang

(%)

Januari

28

547

5,11

Februari

26

662

3,93

Maret

26

614

4,23

April

21

711

2,95

Mei

19

568

3,35

Juni

17

548

3,10

Juli

23

550

4,18

Agustus

17

540

3,14

September

386

0,51

Oktober

520

1,35

November

15

415

3,61

Desember

15

420

3,57

Rata-Rata

3,25

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013

E. Persentase Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kecamatan Penjaringan


Tabel 3.19. Rata-rata per bulan persentase Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kecamatan
Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013

Puskesmas

Rata-Rata per bulan persentase Bayi dan Balita BGM

Kelurahan
Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

(%)
1,62
0,82
1,46
3,25

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa PKL Pluit (3,25%) merupakan PKL di wilayah
Kecamatan Penjaringan yang memiliki rata-rata persentase bayi dan balita BGM pada periode Januari
2013 Desember 2013. Rata-rata persentase terendah diperoleh oleh PKL Penjaringan 1 (0,82%).

3.2.4. Pemberian Vitamin A


23

A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan


Tabel 3.20. Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kelurahan Pejagalan
periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Bayi 6-

Bayi

11 bulan

Mendapat

Cakupan
(%)

Kapsul Biru

Balita 12-

Balita

59 Bulan

Mendapat
Kapsul Merah

Cakupan
(%)

Februari

489

125

25,56

2210

1073

48,55

Agustus

512

253

49,41

2619

1121

42,80

Rata-Rata

37,49

45,68

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013

B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1


Tabel 3.21. Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Bayi 611 bulan

Bayi

Cakupan

Mendapat

Balita 12-

Kapsul Biru

(%)

59 Bulan

Balita

Cakupan

Mendapat
Kapsul Merah

(%)

Februari

740

257

34,73

1849

1357

73,39

Agustus

427

252

59,02

1521

1370

90,07

Rata-Rata

46,87

81,73

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember
2013
C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
Tabel 3.22. Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Bayi 6-

Bayi

11 bulan

Mendapat

Cakupan
(%)

Balita 12-

Balita

59 Bulan

Mendapat

Cakupan
(%)
24

Kapsul Biru

Kapsul Merah

Februari

351

128

36,46

1015

886

87,29

Agustus

404

238

58,91

1347

1098

81,51

Rata-Rata

47,68

84,40

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember
2013
D. Puskesmas Kelurahan Pluit
Tabel 3.23. Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kelurahan Pluit
periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Bayi 6-

Bayi

11 bulan

Mendapat
Kapsul Biru

Cakupan
(%)

Balita 12-

Balita

59 Bulan

Mendapat
Kapsul Merah

Cakupan
(%)

Februari

118

160

73,75

634

630

99,36

Agustus

105

100

95,23

518

432

83,39

Rata-Rata

84,49

91,38

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
E. Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari
2013 Desember 2013
Tabel 3.24. Rata-Rata per bulan Cakupan Pemberian Vitamin A di Puskesmas Kecamatan
Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Puskesmas Kelurahan
Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

Cakupan Kapsul Biru


37,49
46,87
47,68
84,49

Cakupan Kapsul Merah


45,68
81,73
84,40
91,38

Pemberian vitamin A yaitu kapsul biru untuk bayi usia 6-11 bulan dan balita usia 1259 bulan dilakukan tiap 6 bulan sekali yaitu bulan Februari dan Agustus. Berdasarkan tabel
diatas diketahui bahwa cakupan pemberian kapsul biru tertinggi adalah PKL Pluit (84,49%)
dan terendah adalah PKL Pejagalan (37,49%). Cakupan pemberian kapsul merah tertinggi
adalah PKL Pluit (91,38%) dan terendah adalah PKL Pejagalan (45,68%).

25

3.2.5. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)


A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Tabel 3.25. Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Balita BGM

Balita mendapat MP-ASI

Cakupan
21
21
100
34
34
100
39
39
100
25
25
100
28
28
100
26
26
100
27
27
100
22
22
100
21
21
100
18
18
100
20
20
100
15
15
100
Rata-Rata
100
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013
B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
Tabel 3.26. Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
Periode Januari 2013 Desember 2103
Bulan

Balita BGM

Balita mendapat MP-ASI

Cakupan

Januari

100

Februari

21

21

100

Maret

100

April

17

17

100

Mei

24

24

100

Juni

100

Juli

100

Agustus

100

September

100

Oktober

100

November

11

11

100

Desember

24

24

100

Rata-Rata

100
26

Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember
2013
C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
Tabel 3.27. Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
Periode Januari 2013 Desember 2103
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Balita BGM
Balita mendapat MP-ASI Cakupan
55
55
100
34
34
100
11
11
100
7
7
100
14
14
100
3
3
100
3
3
100
8
8
100
4
4
100
6
6
100
17
17
100
2
2
100
Rata-Rata
100
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember
2013
D. Puskesmas Kelurahan Pluit
Tabel 3.28. Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kelurahan Pluit
Periode Januari 2013 Desember 2103
Bulan

Balita BGM

Balita mendapat MP- Cakupan


ASI

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

28
28
100
26
26
100
26
26
100
21
21
100
19
19
100
17
17
100
23
23
100
17
17
100
2
2
100
7
7
100
15
15
100
15
15
100
Rata-Rata
100
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013

27

E. Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari


2013 Desember 2013
Tabel 3.29. Rata-Rata per bulan Cakupan Pemberian MP-ASI di Puskesmas Kecamatan
Penjaringan
periode Januari 2013 Desember 2013
Puskesmas

Rata-Rata per bulan cakupan pemberian MP-ASI (%)

Kelurahan
Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

100
100
100
100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa PKL Pejagalan, Penjaringan 1,


Penjaringan 2, dan Pluit mampu mencapai rata-rata 100% pada cakupan pemberian MP-ASI.
3.2.6. ASI Eksklusif
A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Tabel 3.30. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi yang


Mendapat ASI
Eksklusif

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

Total
32
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013
B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
28

Tabel 3.31. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1


Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi yang


Mendapat ASI

Eksklusif
Januari
Februari
2
Maret
1
April
3
Mei
1
Juni
5
Juli
2
Agustus
16
September
4
Oktober
15
November
16
Desember
Total
65
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember
2013
C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
Tabel 3.32. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi yang


Mendapat ASI

Eksklusif
Januari
70
Februari
37
Maret
48
April
63
Mei
39
Juni
42
Juli
71
Agustus
59
September
58
Oktober
33
November
75
Desember
42
Total
637
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember
2013
D. Puskesmas Kelurahan Pluit
29

Tabel 3.33. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kelurahan Pluit


Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi yang


Mendapat ASI

Eksklusif
Januari
Februari
Maret
April
30
Mei
18
Juni
27
Juli
21
Agustus
26
September
33
Oktober
10
November
7
Desember
9
Total
181
Sumber Data : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
E. Jumlah bayi usia 5 bulan yang mendapat ASI Eksklusif di Puskesmas Kecamatan
Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Tabel 3.34. Rata-Rata per bulan Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Puskesmas

Jumlah bayi usia 5 bulan yang mendapat ASI Eksklusif

Kelurahan
Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

32
65
637
181

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa PKL Penjaringan 2 memiliki jumlah bayi
berusia 5 bulan yang memperoleh ASI Eksklusif tertinggi (637 bayi) di wilayah kecamatan
Penjaringan pada periode Januari 2103 Desember 2013, sedangkan PKL dengan jumlah
bayi usia 5 bulan yang memperoleh ASI Eksklusif terendah adalah PKL Pejagalan (32 bayi).
3.2.7. Status Gizi Bayi dan Balita BGM
A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan
Tabel 3.35. Jumlah Bayi & Balita BGM Dengan Status Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Di
Puskesmas Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013
30

Bulan

Jumlah Bayi dan


Balita BGM yang
dikonfirmasi

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Rata-Rata

21
34
39
25
28
26
27
22
21
18
20
15
24,67

Status Gizi (BB/U)


Gizi Buruk

Gizi Kurang

19
30
29
16
23
21
17
19
15
12
14
11
18,83

2
4
10
9
5
5
10
3
6
6
6
4
5,83

Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013

B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1


Tabel 3.36. Jumlah Bayi & Balita BGM Dengan Status Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Di
Puskesmas Kelurahan Penjaringan Periode Januari 2013 Desember 2013
Jumlah Bayi dan
Bulan

Status Gizi (BB/U)

Balita BGM yang


dikonfirmasi

Gizi Buruk

Gizi Kurang

Januari

Februari

17

Maret

April

17

12

Mei

23

11

12

Juni

13

Juli

Agustus

September

11

Oktober

10

November

10

Desember

24

24
31

Rata-Rata
11,67
4,25
7,41
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember 2013

C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2


Tabel 3.37. Jumlah Bayi & Balita BGM Dengan Status Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Di
Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi dan


Balita BGM yang
dikonfirmasi

Status Gizi (BB/U)


Gizi Buruk

Gizi Kurang

Januari
11
5
6
Februari
9
7
2
Maret
11
10
1
April
7
4
3
Mei
Juni
3
3
Juli
3
2
1
Agustus
September
6
2
4
Oktober
November
Desember
Rata-Rata
4.16
2.5
1.67
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember 2013
D. Puskesmas Kelurahan Pluit
Tabel 3.38. Jumlah Bayi & Balita BGM Dengan Status Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Di
Puskesmas Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah Bayi dan


Balita BGM yang
dikonfirmasi

Januari
Februari
Maret
April

28
26
26
21

Status Gizi (BB/U)


Gizi Buruk

Gizi Kurang

2
1
1
2

26
25
25
19
32

Mei
19
2
17
Juni
17
0
17
Juli
23
0
23
Agustus
17
0
17
September
2
2
0
Oktober
7
0
7
November
15
0
15
Desember
15
0
15
Rata-Rata
16,62
0,83
17,17
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
E. Rata-Rata Status Gizi Bayi dan Balita BGM di Puskesmas Kecamatan Penjaringan
periode Januari 2013 Desember 2013
Tabel 3.39. Rata-Rata per bulan Status Gizi Bayi dan Balita BGM
di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Puskesmas

Rata-Rata per

Kelurahan

Bulan Jumlah
Bayi dan Balita

Status Gizi (BB/U)


Gizi Buruk

Gizi Kurang

BGM yang
dikonfirmasi
Pejagalan

24

19

Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

12
4
17

4
2
1

8
2
16

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa pada periode Januari 2013 Desember
2013 PKL Pejagalan mengkonfirmasi paling banyak bayi dan balita yang memiliki status gizi
BGM (24 bayi dan balita) dan diantaranya 19 bayi dan balita gizi buruk dan 5 bayi dan
balitagizi kurang. Sedangkan yang paling sedikit adalah PKL Penjaringan 2 (4 bayi dan balita)
dengan 2 bayi dan balita berstatus gizi buruk dan 2 bayi dan balita gizi kurang.

3.2.8. Bayi dan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan


A. Puskesmas Kelurahan Pejagalan
33

Tabel 3.40. Jumlah Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan di Puskesmas
Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah balita

Jumlah balita gizi buruk

Cakupan

Januari
Februari

gizi buruk
2
4

yang mendapat perawatan


2
4

100

Maret

10

10

100

April

100

Mei

100

Juni

100

Juli

10

10

100

Agustus

100

September

100

Oktober

100

November

100

Desember

100

Rata-Rata

5,83

5,83

100

(%)
100

Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Pejagalan Periode Januari 2013 Desember 2013
B. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1
Tabel 3.41. Jumlah Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan di Puskesmas
Kelurahan Penjaringan Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah balita

Jumlah balita gizi buruk

Cakupan

gizi buruk
-

yang mendapat perawatan


-

(%)

Januari
Februari

100

Maret

100

April

100

Mei

11

11

100

Juni

100

Juli

100

Agustus

100

September

100

34

Oktober

100

November

100

Desember

Rata-Rata
4,25
4,25
100
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 1 Periode Januari 2013 Desember 2013
C. Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2
Tabel 3.42. Jumlah Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan di Puskesmas
Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan

Jumlah balita

Jumlah balita gizi buruk

Cakupan

gizi buruk

yang mendapat perawatan

(%)
100
100
100
100
100
100
100
-

11
11
Januari
9
9
Februari
11
11
Maret
7
7
April
Mei
3
3
Juni
3
3
Juli
Agustus
6
6
September
Oktober
November
Desember
Rata-Rata
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Penjaringan 2 Periode Januari

100
2013 Desember 2013

D. Puskesmas Kelurahan Pluit


Tabel 3.43. Jumlah Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan di Puskesmas
Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November

Jumlah balita

Jumlah balita gizi buruk

Cakupan

gizi buruk

yang mendapat perawatan

(%)

2
1
1
2
2
0
0
0
2
0
0

2
1
1
2
2
0
0
0
2
0
0

100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
35

Desember
0
0
100
Rata-Rata
0,83
0,83
100
Sumber : Data LB3 Gizi Kelurahan Pluit Periode Januari 2013 Desember 2013
E. Rata-Rata Cakupan Bayi & Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan di
Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Tabel 3.44. Rata-Rata per bulan Cakupan Bayi dan Balita BGM
di Puskesmas Kecamatan Penjaringan periode Januari 2013 Desember 2013
Puskesmas

Rata-Rata per bulan cakupan Bayi dan Balita gizi

Kelurahan
Pejagalan
Penjaringan 1
Penjaringan 2
Pluit

buruk yang mendapat perawatan (%)


100
100
100
100

Berdasarkan data di atas didapatkan bahwa semua PKL di kawasan kecamatan


Penjaringan (PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit) mampu memberikan
perawatan ke semua bayi dan balita yang memiliki status gizi buruk.

3.3.

Metode Pengambilan Data


Pengambilan data berupa data program gizi selama 12 bulan, sejak bulan Januari 2013 hingga

bulan Desember 2013. Data yang diambil yaitu laporan gizi Puskesmas periode Januari 2013
Desember 2013 dari Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Puskesmas Kelurahan Penjaringan 1,
Puskesmas Kelurahan Penjaringan 2, dan Puskesmas Kelurahan Pluit.

36

BAB IV
PERUMUSAN MASALAH
4.1. Perhitungan Indikator
Indikator yang digunakan sebagai acuan dalam memantau kinerja upaya perbaikan
gizi balita di Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit serta
permasalahan yang ada dijabarkan sebagai berikut pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1. Perhitungan Keluaran Dibandingkan Dengan Indikator Target


Program Upaya Perbaikan Gizi di Puskesmas Kecamatan Penjaringan
No
.
1.

Rata-rata per Bulan Hasil yang


didapat

Item yang dinilai

Pejagalan

SKDN
-

Cakupan program gizi bayi


dan balita di wilayah kerja
Puskesmas tersebut (K/S
%)

Partisipasi
yaitu

masyarakat

berupa

jumlah
ditimbang

persentase

balita
di

yang
Posyandu

Penjaringan 1: K/S = 69,29%


Penjaringan 2 : K/S = 86,25%
Pluit

: K/S = 92,96%

Pejagalan

: D/S = 61,13%

Penjaringan 1: D/S = 55,61%


Penjaringan 2 : D/S = 78,78%
Pluit

: D/S = 74,44%

Pejagalan

: D/K = 72,33%

Penjaringan 1 : D/K = 83,96%

Puskesmas Penjaringan 2 : D/K = 89,98%


dibanding jumlah balita Pluit
: D/K = 80,27%
yang ada di wilayah kerja Pejagalan
: N/D = 42,77%
-

Tingkat

Masalah
(+/-)

: K/S = 85,33%

maupun

Puskesmas (D/S %).

Indikator
Target

80%

+
+

70%

60%

80%

Penjaringan 1 : N/D = 69,90%

kelangsungan Penjaringan 2 : N/D = 65,26%

penimbangan di wilayah Pluit

: N/D = 57,68%

+
37

kerja Puskesmas, dimana Pejagalan

25%

persentase Penjaringan 1 : N/S = 41,16%

balita yang ditimbang dan Penjaringan 2 : N/S = 51,79%


Pluit
: N/S = 42,28%
memiliki KMS (D/K%).

akan

: N/S = 26,16%

dilihat

Persentase
mengalami
berat

balita

yang

peningkatan
badan

saat

penimbangan (N/D%).
-

Hasil pencapaian program,


yaitu persentase bayi yang
mengalami

peningkatan

berat badan (N/S%).


2

Persentase Balita Bawah Garis


Merah (BGM)

Pejagalan

: 1,62%

Penjaringan 1 : 0,82%
Penjaringan 2 : 1,46%
Pluit

Cakupan Vitamin A pada bulan


Februari 2013 dan Agustus
2013

< 5%

: 3,25%

KAPSUL BIRU
Pejagalan

83%

: 37,49%

Penjaringan 1 : 46,87%

Penjaringan 2 : 47,68%

Pluit

: 84,49%

KAPSUL MERAH
Pejagalan

Cakupan pemberian MP-ASI


pada balita BGM

: 45,68%

Penjaringan 1 : 81,73%

Penjaringan 2 : 84,40%

Pluit

: 91,38%

Pejagalan

: 100%

Penjaringan 1 : 100%
Penjaringan 2 : 100%
Pluit

: 100%

100%

38

Bayi yang mendapat ASI


Ekslusif

Pejagalan

: 4,98%

75%

100%

Penjaringan 1 : 7,49%
Penjaringan 2 : 26,82
Pluit

: 12,7%

Cakupan balita gizi buruk yang Pejagalan


: 100%
mendapat perawatan
Penjaringan 1 : 100%
Penjaringan 2 : 100%
Pluit

4.2.

: 100%

Perumusan Masalah
Masalah didapatkan dengan cara membandingkan keluaran dengan target. Target
dan standar pelayanan sesuai dengan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
828/MENKES/SK/IX/2008. Berikut adalah beberapa program perbaikan gizi balita yang
belum mencapai target di Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2,
dan Pluit yang merupakan puskesmas kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan
Penjaringan :
A. Cakupan program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL Penjaringan 1 (69,29
%).
B. Partisipasi masyarakat dalam program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL
Pejagalan (61,13%) dan PKL Penjaringan 1 (55,61%). Dimana PKL Penjaringan 1
memiliki angka pencapaian yang lebih rendah.
C. Peningkatan berat badan bayi dan balita saat penimbangan di PKL Pejagalan
(42,77%), Penjaringan 1 (69,9%), Penjaringan 2 (65,26%), dan Pluit (57,68%).
39

Dimana PKL Pejagalan memiliki angka pencapaian terendah dibandingkan dengan


PKL yang lain di wilayah Kecamatan Penjaringan.
D. Cakupan pemberian vitamin A berupa kapsul biru di PKL Pejagalan (37,49%),
Penjaringan 1 (46,87%), Penjaringan 2 (47,68%) dan Pluit (84,49%) dimana PKL
Pejagalan memiliki cakupan pemberian kapsul biru terendah dibandingkan PKL lain
di wilayah Kecamatan Penjaringan. Cakupan pemberian vitamin A berupa kapsul
merah di PKL Pejagalan (45,68%), Penjaringan 1 (81,73%) dan PKL Penjaringan 2
(82,4%) dimana PKL Pejagalan memiliki cakupan pemberian kapsul merah terendah
dibandingkan PKL lain di wilayah Kecamatan Penjaringan.
Dengan kata lain tidak tercapainya target cakupan pemberian vitamin A sebanyak
2x/tahun pada bayi dan balita berusia 6-59 bulan di PKL Pejagalan, Penjaringan 1,
Penjaringan 2, dan Pluit yaitu kurang dari 83%, dimana PKL Pejagalan memiliki
keluaran yang paling rendah (40,41%).
E. Tidak tercapainya cakupan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pada bayi dan
balita berusia > 6 bulan di PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit
yaitu kurang dari 75% dimana PKL Pejagalan memiliki keluaran paling rendah yaitu
4,98%.

40

BAB V
PEMBAHASAN & PENYELESAIAN MASALAH
5.1. Skoring Masalah
Parameter yang dipakai dalam menentukan skoring masalah adalah:
1. Besarnya kesenjangan antara pencapaian dan target.
Rumus yang digunakan:

G=E-O

G = Gap (kesenjangan)
E = Expected (target yang ingin dicapai)
O = Outcome (data yang didapat dari lapangan)

Skor:

5 = 80 100 %
4 = 60 79, 9%
3 = 40 59,9 %
2 = 20 39,9 %
1 = 0 19,9 %

2. Berat ringannya masalah terkait dengan akibat yang ditimbulkan.


Skor :

5 = Berat sekali
4 = Ragu-ragu antara 3-5
3 = Sedang
2 = Ragu-ragu antara 1-2
1 = Ringan

3. Apakah dapat ditanggulangi dengan sumber daya yang ada.


Skor :

5 = Dapat ditanggulangi
4 = Ragu-ragu antara 3-5
3 = Kurang dapat ditanggulangi
41

2 = Ragu-ragu antara 1-2


1 = Tidak dapat ditanggulangi
4. Keuntungan sosial dapat diperoleh, apakah menarik masyarakat.
Skor :

5 = Keuntungan sosial tinggi


4 = Ragu-ragu antara 3-5
3 = Keuntungan sosial sedang
2 = Ragu-ragu antara 1-2
1 = Keuntungan sosial rendah

Masalah yang dialami oleh PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit
dalam program perbaikan gizi bayi dan balita adalah :
a. Cakupan program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL Penjaringan 1 (69,29 %).
b. Partisipasi masyarakat dalam program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL
Pejagalan (61,13%) dan PKL Penjaringan 1 (55,61%). Dimana PKL Penjaringan 1
memiliki angka pencapaian yang lebih rendah.
c. Peningkatan berat badan bayi dan balita saat penimbangan di PKL Pejagalan
(42,77%), Penjaringan 1 (69,9%), Penjaringan 2 (65,26%), dan Pluit (57,68%).
Dimana PKL Pejagalan memiliki angka pencapaian terendah dibandingkan dengan
PKL yang lain di wilayah Kecamatan Penjaringan.
d. Tidak tercapainya target cakupan pemberian vitamin A sebanyak 2x/tahun pada bayi
dan balita berusia 6-59 bulan di PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan
Pluit yaitu kurang dari 83%, dimana PKL Pejagalan memiliki keluaran yang paling
rendah (40,41%).
e. Tidak tercapainya cakupan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pada bayi dan
balita berusia > 6 bulan di PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit
yaitu kurang dari 75% dimana PKL Pejagalan memiliki keluaran paling rendah yaitu
4,98%.

1. Besarnya masalah dilihat dari kesenjangan antara pencapaian dan target

G=E-O

42

A. Gap Cakupan program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL Penjaringan 1 :
80% - 69,29% = 10,71% maka diberi skor 1
B. Gap peresentase partisipasi masyarakat dalam program gizi bayi dan balita di PKL
Penjaringan 1 :
70% - 55,61% = 14,39% maka diberi skor 1
C. Gap persentase peningkatan berat badan bayi dan balita saat penimbangan di PKL
Pejagalan :
80% - 42,77% = 37,23 % maka diberi skor 2
D. Gap pada persentase Cakupan Pemberian Vitamin A sebanyak 2x/tahun pada bayi dan
balita berusia 6-59 bulan :
83 % - 40,41% = 42,59 % maka diberi skor 3
E. Gap pada persentase cakupan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan (A5) pada bayi
dan balita berusia 0-5 bulan :
75 % - 4,98% = 70,02 % maka diberi skor 4
2.

Berat ringannya masalah terkait dengan akibat yang ditimbulkan


A. Tidak tercapainya cakupan program gizi yang dinilai dari cakupan K/S merupakan
salah satu masalah yang terjadi di Kecamatan Penjaringan khususnya Puskesmas
Kelurahan Penjaringan 1. Bila dilihat dari keberhasilan program, hal ini merupakan
masalah yang cukup berat, dimana dikatakan bahwa program gizi yang telah
dicanangkan oleh pemerintah dianggap tidak mencapai masyarakat. Namun hal ini
bukanlah hal yang cukup bermakna dalam menilai keberhasilan program tersebut
mengatasi masalah gizi di Indonesia. Belum tentu anak yang tidak memperoleh KMS
gizi nya tidak terkontrol oleh fasilitas kesehatan. Tanpa KMS, asalkan bayi dan balita
tersebut tetap dibawa ke fasilitas kesehatan dan dipantau pertumbuhan dan
perkembangannya, maka bayi dan balita tersebut tetap terhindar dari masalah gizi.
Oleh karena KMS hanya merupakan sarana dan tidak terlalu berpengaruh pada
keadaan gizi bayi dan balita, maka masalah ini diberikan skor 2.
B. Sebuah pelayanan gizi masyarakat tidak lepas dari partisipasi masyarakat yang
merupakan sasaran dari program. Cakupan D/S yang rendah akan menyebabkan
cakupan pelayanan lainnya yang diberikan di Posyandu juga menjadi rendah seperti
cakupan vitamin A, cakupan imunisasi, cakupan pemberian ASI eksklusif dan akan
meningkatkan prevalensi gizi kurang disebabkan keterlambatan pendeteksian status
43

gizi anak akibat tidak dibawa untuk diperiksa di Posyandu.2 Oleh karena banyak
terkait dengan aspek pelayanan lainnya yang mempengaruhi status kesehatan seorang
anak, masalah ini diberikan skor 5.
C. Perubahan berat badan merupakan indikator yang sangat sensitif untuk memantau
pertumbuhan anak. Bila kenaikan berat badan anak lebih rendah dari yang seharusnya,
pertumbuhan anak terganggu dan anak berisiko akan mengalami kekurangan gizi.
Oleh karena itu kenaikan berat badan harus dipantau secara berkesinambungan dan
seorang anak yang tidak mengalami kenaikan dua kali berturut-turut tiap kali
penimbangan di Posyandu harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk ditangani lebih
lanjut.9 Masalah ini diberikan skor 4.
D. Tidak tercapainya target cakupan pemberian vitamin A 2x/tahun pada bayi dan balita
usia 6-59 bulan dapat berdampak buruk bagi kesehatan bayi dan balita. Bayi dan balita
yang mengalami kekurangan vitamin A dapat menderita penyakit mata (dari
xerophtalmia hingga kebutaan). Dari hasil penelitian di berbagai negara menunjukan
bahwa pemberian suplementasi vitamin A sebanyak 2 kali/tahun pada bayi dan balita
usia 6-59 bulan dapat mencegah kekurangan vitamin A dan kebutaan (buta senja) serta
meningkatkan sistem kekebaan tubuh sehingga mengurangi angka kesakitan dan
kematian. Vitamin A dapat mencegah timbulnya komplikasi pada penyakit yang sering
terjadi pada balita seperti campak dan diare. Namun sebenarnya vitamin A bisa
didapatkan dari berbagai makanan seperti kuning telur, mentega, dan wortel. skor 3
E. Tidak tercapainya cakupan pemberian ASI Eksklusif dapat mempengaruhi tumbuh
kembang anak. Pemberian ASI eksklusif (6 bulan pertama kehidupan) terbukti dapat
meningkatkan imunitas bayi serta mencukupi kebutuhan gizinya. Bayi yang tidak
diberi ASI eksklusif akan lebih mudah mengalami gizi kurang atau gizi buruk karena
kandungan nutrisi pada makanan pengganti ASI yang diberikan ke bayi belum tentu
sebaik ASI. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ASI mampu mengurangi infeksi,
penyakit pernapasan dan diare pada bayi. ASI juga bermanfaat bagi ibu menyusui
karena ditemukan peningkatan hormon oksitosin yang dapat mengurangi risiko
perdarahan pada ibu setelah melahirkan. Semakin tinggi persentase pemberian ASI
eksklusif di suatu wilayah maka makin tinggi pula status kesehatan dan gizi bayi dan
balita di wilayah tersebut. skor 5
3.

Sumber daya yang tersedia


44

A. Dalam pencapaian cakupan program, salah satu sumber daya yang diperlukan adalah
ketersediaan KMS dan fasiitas kesehatan yang membagikan KMS. Seringkali KMS di
fasilitas kesehatan seperti Posyandu dan Puskesmas Kelurahan habis dan belum
didistribusikan dari pusat. Hal ini akan menyebabkan bayi dan balita yang seharusnya
memperoleh KMS tidak memperoleh. Pengadaan KMS terutama pada aspek distribusi
seharunya bisa diperbaiki sehingga KMS dapat menjangkau bayi dan balita yang
membutuhkan. Hal ini membuat masalah ini diberikan skor 3.
B. Partisipasi masyarakat tidak lepas dari usaha dari petugas kesehatan untuk
meningkatkan motivasi dan pengertian mereka mengenai pentingnya memeriksakan
anak ke Posyandu. Selain usaha untuk promosi kesehatan yang dapat ditingkatkan,
dibutuhkan juga bahan penyuluhan yang baik dan pengetahuan tenaga kesehatan serta
kader dalam pemantauan pertumbuhan serta konseling sehingga orang tua yang datang
merasa puas dengan penjelasan yang diberikan serta menambah pengetahuan mereka.
Keberadaan kader sebagai perpanjangan tangan Puskesmas dalam melakukan
pelayanannya di Posyandu dianggap mempermudah dalam usaha mendekatkan diri ke
masyarakat sehingga masalah ini diberikan skor 5
C. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa peningkatan berat badan merupakan
indikator yang sensitif untuk memantau pertumbuhan anak, berarti juga indikator ini
cukup banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti penyakit yang sedang
mewabah sehingga dapat menurunkan berat badan anak. 10 Oleh karena faktor seperti
ini kurang dapat ditanggulangi oleh Puskesmas, hanya bisa diantisipasi, maka masalah
ini diberikan skor 3.
D. Cakupan pemberian vitamin A sangat bergantung pada jumlah ketersediaan kapsul
vitamin A, tenaga kesehatan maupun kader yang memberikan vitamin A. Apabila
sumber daya tersebut sudah memadai, maka hal lain yang dapat ditingkatkan dalam
usaha peningkatan cakupan pemberian vitamin A adalah dengan memberikan promosi
kepada masyarakat mengenai manfaat vitamin A, dampak yang ditimbulkan apabila
tidak diberikan, dan jadwal pemberiannya ke keluarga bayi dan balita tersebut. Hal ini
dapat dilakukan oleh kader, petugas Puskesmas maupun tokoh masyarakat yang
lain.skor 4
E. Petugas Puskesmas dapat memberikan penyuluhan mengenai manfaat dan pentingnya
ASI, memberikan solusi pada para ibu yang tidak dapat memberikan ASI karena
terhalang faktor pekerjaan serta menjelaskan kekeliruan mitos mengenai ASI yang
beredar di masyarakat. Penyuluhan dapat dilakukan secara langsung oleh tenaga
Puskesmas atau juga melalui kader. Penguatan fungsi kader dilakukan dengan
45

memberikan pelatihan sehingga kader dapat membantu ibu-ibu di lingkungannya yang


memiliki masalah berhubungan dengan ASI. skor 4

4.

Keuntungan sosial yang diperoleh


A. Dengan mendapatkan KMS, seharusnya ibu-ibu akan lebih terpacu untuk membawa
anaknya ke Posyandu untuk ditimbang dan dicek status gizi nya. Selain itu dengan
KMS ini, para ibu bisa memantau status gizi bayi dan balitanya dengan mudah dan
benar. Manfaat yang bisa diperoleh dengan KMS ini membuat masalah ini diberi skor
5.
B. Melalui kunjungan ibu ke Posyandu untuk memeriksakan anaknya setiap bulan, ibu
menjadi tahu akan kondisi anaknya serta tanda-tanda gizi kurang atau buruk yang
mungkin dialami oleh anak sehingga dapat segera diintervensi. Selain itu ibu juga
mendapatkan penyuluhan mengenai bermacam-macam informasi mengenai gizi yang
dapat menambah pengetahuan sehingga ibu dapat memberikan perawatan serta
pemberian makan kepada anak secara tepat. Dan ibu juga dapat bertanya kepada kader
maupun petugas kesehatan yang ada di Posyandu bila mengalami kesulitan, dengan
begitu melalui partisipasi kehadirannya, ibu dapat merasakan keuntungan langsung
dari kunjungan ke Posyandu. Masalah ini diberi skor 5.
C. Dengan kenaikan berat badan anak yang sesuai dengan perkembangan umurnya, hal
tersebut berarti seorang anak mengalami kecukupan gizi dan pertumbuhan yang sehat.
Kecukupan gizi akan menyebabkan anak menjadi tidak mudah terserang penyakit,
dengan begitu akan meningkatkan kualitas hidupnya serta menjadikan anak sebagai
sumber daya yang potensial untuk membangun bangsa. Maka masalah ini diberikan
skor 4.
D. Manfaat pemberian vitamin A bagi bayi dan balita adalah mencegah terjadinya
penyakit mata seperti xeroftalmia maupun buta senja dan meningkatkan kekebalan
tubuh terhadap berbagai penyakit. Dapat dikatakan bahwa pemberian vitamin A sangat
penting dan pemberiannya secara gratis dapat meningkatkan minat dan partisipasi
masyarakat dalam program ini. skor 3
E. Pemberian ASI sangatlah bermanfaat bagi bayi dan ibunya. Bagi bayi, dengan
pemberian ASI eksklusif dapat meningkatkan imunitas tubuh terhadap penyakit. ASI
46

bagi bayi umur 0-6 bulan sudah mencukupi kebutuhan makanannya sehingga ibu tidak
perlu menyisihkan uang untuk makanan bayi selama 6 bulan pertama. Kandungan di
dalam ASI lebih mudah diabsorbsi oleh organ pencernaan. Selain itu, pelaksanaan
Inisiasi Menyusui Dini dapat mengurangi pendarahan bagi ibu nifas serta menjadi alat
KB alami bagi ibu. Proses menyusui juga menumbuhkan hubungan erat ibu dan bayi
serta perasaan cinta kasih. skor 5
Tabel 5.1. Prioritas Masalah
No

Parameter

Masalah

A B C D E
1 Besarnya masalah
1 1 2 3 4
2 Berat ringannya masalah ~ akibat 2 5 4 3 5
3 Sumber daya yang tersedia
3 5 3 4 4
4 Keuntungan sosial yang diperoleh 5 5 4 3 5
Jumlah
11 16 13 13 18
Prioritas
IV II III III I
5.2. Penyebab masalah
Masalah
Cakupan Bayi yang

Penyebab Masalah
Penggunaan media promosi

mendapat ASI Eksklusif

untuk mempromosikan ASI

Puskesmas sudah lama

kurang dari 75% yaitu

Eksklusif masih kurang

PKL Pejagalan (4,98%)

efektif

dan tidak menarik lagi


Tidak tersedia leaflet yang

Poster ASI Eksklusif di

PKL Penjaringan 1 (7,49%)

dapat dibagikan ke ibu

PKL Penjaringan 2 (26,82%)

hamil dan baru

PKL Pluit (19,3%)

melahirkan
Kader belum mendapat

Kader belum dapat

memimpin KP-Ibu secara

pelatihan mengenai ASI

mandiri

Eksklusif dan KP-Ibu

47

5.3.

Pohon Masalah

Cakupan ASI Eksklusif masih


rendah (<75%)

Penggunaan media promosi


untuk mempromosikan ASI
Eksklusif masih kurang efektif

Poster ASI Eksklusif di


Puskesmas sudah lama dan
tidak menarik lagi

Tidak tersedia leaflet yang


dapat dibagikan ke ibu hamil
dan baru melahirkan

Menyediakan media promosi


berupa poster dan leaflet untuk
memberi informasi mengenai ASI
Eksklusif

Kader belum dapat


memimpin KP-Ibu secara
mandiri

Kader belum mendapat


pelatihan mengenai ASI
Eksklusif dan KP-Ibu

Memberi pelatihan kepada


kader agar dapat membina
KP-Ibu

48

5.4.

Penyelesaian Masalah
a. Menyediakan media promosi berupa poster dan leaflet untuk memberi informasi
mengenai ASI Eksklusif
Pelaksana (Who)

Penanggung jawab program gizi Puskesmas

Waktu (When)

Tiga bulan sekali

Tempat (Where)

Ruang tunggu balai KIA, BPU, lorong-lorong Puskesmas

Materi (What)

Informasi

Sasaran (Who)

penyimpanan ASI
Primer: ibu hamil dan ibu menyusui

Tujuan (Why)

Sekunder: kader, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas


- Mempermudah pengadaan media promosi (poster dan
-

mengenai

keunggulan

ASI

eksklusif

atau

leaflet)
Meningkatkan pengetahuan masyarakat RW setempat
mengenai ASI eksklusif

Cara ( How )

Menempel/memajang poster/brosur di tempat


pemasangan yang strategis

Saat jam pelayanan akan dimulai, leaflet yang ada


dapat dibagikan kepada ibu-ibu yang sedang menunggu

Penyebaran pamflet mengenai ASI eksklusif ke rumah

b. Memberi pelatihan kepada kader agar dapat membina KP-Ibu


Pelaksana

Kepala puskesmas, Koordinator program gizi, Koordinator program KIA

(Who)
Waktu

1 bulan sekali

(When)
Tempat

PKL Pejagalan, PKL Penjaringan 1, PKL Penjaringan 2, PKL Pluit

(Where)
Materi

Definisi dan manfaat bagi ibu dan bayi mengenai ASI eksklusif, cara

(What)

memberikan ASI, masalah-masalah yang ditemui dalam memberikan ASI dan


cara penyelesaiannya, cara memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif

Sasaran

Seluruh kader posyandu di wilayah kerja PKL

(Who)
49

Tujuan

Untuk meningkatkan pengetahuan kader mengenai pentingnya ASI Eksklusif

(Why)

dan cara memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif

Cara (How)

Penyuluhan yang dilanjutkan dengan tanya jawab

50

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.

Kesimpulan
Dari evaluasi kinerja Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2,

dan Pluit mengenai program gizi pada bayi dan balita periode Januari 2013 Desember 2013,
masih terdapat beberapa masalah dalam program gizi pada bayi dan balita yang belum
terselesaikan. Masalah-masalah tersebut meliputi:
Cakupan program gizi bayi dan balita di wilayah kerja PKL Penjaringan 1

(69,29 %).
Partisipasi masyarakat dalam program gizi bayi dan balita di wilayah kerja
PKL Pejagalan (61,13%) dan PKL Penjaringan 1 (55,61%). Dimana PKL

Penjaringan 1 memiliki angka pencapaian yang lebih rendah.


Peningkatan berat badan bayi dan balita saat penimbangan di PKL Pejagalan
(42,77%), Penjaringan 1 (69,9%), Penjaringan 2 (65,26%), dan Pluit (57,68%).
Dimana PKL Pejagalan memiliki angka pencapaian terendah dibandingkan

dengan PKL yang lain di wilayah Kecamatan Penjaringan.


Cakupan pemberian vitamin A berupa kapsul biru di PKL Pejagalan (37,49%),
Penjaringan 1 (46,87%), Penjaringan 2 (47,68%) dan Pluit (84,49%) dimana
PKL Pejagalan

memiliki

cakupan

pemberian

kapsul

biru

terendah

dibandingkan PKL lain di wilayah Kecamatan Penjaringan. Cakupan


pemberian vitamin A berupa kapsul merah di PKL Pejagalan (45,68%),
Penjaringan 1 (81,73%) dan PKL Penjaringan 2 (82,4%) dimana PKL
Pejagalan memiliki cakupan pemberian kapsul merah terendah dibandingkan
PKL lain di wilayah Kecamatan Penjaringan.
Dengan kata lain tidak tercapainya target cakupan pemberian vitamin A
sebanyak 2x/tahun pada bayi dan balita berusia 6-59 bulan di PKL Pejagalan,
Penjaringan 1, Penjaringan 2, dan Pluit yaitu kurang dari 83%, dimana PKL
Pejagalan memiliki keluaran yang paling rendah (40,41%).

Tidak tercapainya cakupan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pada bayi
dan balita berusia > 6 bulan di PKL Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2,
dan Pluit yaitu kurang dari 75% dimana PKL Pejagalan memiliki keluaran
paling rendah yaitu 4,98%.

Dari data-data yang telah dikumpulkan, serta mempertimbangkan besarnya masalah,


akibat yang ditimbulkan, sumber daya, dan keuntungan sosial, maka ditetapkan satu masalah
yang menjadi prioritas utama, yaitu cakupan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan yang
51

tidak mencapai target di Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2 dan


Pluit.
Setelah ditinjau dari variabel masukan, proses, dampak, serta lingkungan yang terkait,
maka diketahui masalah tersebut dikarenakan promosi ASI Eksklusif belum dilakukan secara
maksimal, terbatasnya pelayanan Puskesmas yang mendorong pemberian ASI Eksklusif, serta
partisipasi kader dan masyarakat yang masih kurang terhadap program ASI Eksklusif.
6.2.

Saran
Untuk mengatasi masalah mengenai cakupan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan

yang tidak mencapai target di Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2


dan Pluit, maka diperlukan beberapa penyelesaian yang harus dilaksanakan. Pertama, untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya ASI Eksklusif, maka diperlukan
media promosi berupa poster dan leaflet untuk memberi informasi mengenai ASI Eksklusif.
Kedua, untuk meningkatkan pengetahuan kader mengenai pentingnya ASI Eksklusif dan cara
memotivasi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif, maka diperlukan penyuluhan kepada kader
Posyandu mengenai ASI Eksklusif.
Beberapa alternatif penyelesaian masalah yang telah dikemukakan di atas, diharapkan
dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kinerja program gizi bayi dan balita di
Puskesmas Kelurahan Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2 dan Pluit, sehingga dapat
menurunkan angka kesakitan akibat gizi buruk dan mencegah terjadinya kematian akibat gizi
buruk serta meningkatkan pelayanan kesehatan puskesmas secara menyeluruh.
Demikian evaluasi Program Gizi pada Bayi dan Balita di Puskesmas Kelurahan
Pejagalan, Penjaringan 1, Penjaringan 2 dan Pluit. Semoga evaluasi program ini dapat
menjadi masukan yang bermanfaat untuk kelanjutan Program Gizi pada Bayi dan Balita yang
sedang berjalan dan di masa yang akan datang.

52

DAFTAR PUSTAKA

1. United Nations. The Millenium Development Goals Report. 2011.


2. Bappenas. Indonesia: Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan
Milenium. Jakarta. 2004.
3. Global Health Observatory Data Repository. Child Malnutrition, Child Aged <5
Underweight. 2010. http://apps.who.int/ghodata/?vid=110 [6 Februari 2014].
4. Persagi. Visi dan Misi Gizi dalam Mencapai Indonesia Sehat Tahun 2010. 1999.
Jakarta: EGC.
5. United Nations Summit. End Poverty Millennium Development Goals 2015. 2010.
http://www.un.org/millenniumgoals/pdf/MDG_FS_1_EN.pdf. [6 Februari 2014].
6. UNICEF

Indonesia.

Ringkasan

Kajian

Gizi

Ibu

dan

Anak.

2012..

www.unicef.org/indonesia/id/A6_-_B_Ringkasan_Kajian_Gizi.pdf. [6 Februari 2014]


7. Pedoman Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
2007;40
8. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Petunjuk Pelaksanaan
Surveilans Gizi. Jakarta. 2012
9. Bappenas. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium di Indonesia. Jakarta.
2010
10. Bappenas. Rencana Aksi Nasional Pangan & Gizi 2011 2015. Jakarta. 2011
11. Profil Kesehatan DKI Jakarta 2009.

53