Anda di halaman 1dari 11

PEMILIHAN SUMBER PEMBIAYAAN

Disusun Oleh:
1. Ukha Arif Fadhila
2. Widowati Dian P
3. Vito Nugraha

PPAk
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
PEMILIHAN SUMBER PEMBIAYAAN

Pembiayaan merupakan salah satu fungsi perusahaan yang penting bagi keberhasilan
usaha suatu perusahaan. Fungsi ini penting karena fungsi inilah yang melakukan usaha untuk
mendapatkan dana untuk usahanya. . Dana bisa diperoleh baik melalui pembiayaan dari dalam
perusahaan (internal financing) maupun pembiayaan dari luar perusahaan (external
financing). Sumber pembiayaan modal internal adalah pemanfaatan laba yang ditahan
(retained earnings) sedangkan sumber pembiayaan eksternal diperoleh perusahaan dengan
melakukan pinjaman kepada pihak lain atau menjual sahamnya kepada masyarakat (go public)
di pasar modal.
Keputusan pendanaan adalah keputusan yang dihadapi oleh menajemen keuangan
perusahaan menyangkut bentuk dan komposisi pendanaan yang akan digunakan untuk
memperoleh dana guna memenuhi kebutuhan perusahaan (Iriansyah dan Dana)
1. Dampak dari menahan laba (pendanaan internal)
Laba ditahan diperoleh dari hasil kegiatan operasi perusahaan dan sebagai sisa dokasi
dana yang tidak dibagikan sebagai dividen. Tujuan dari adanya penumpukan dana
cadangan adalah untuk investasi dalam pengembangan perusahaan dan meningkatkan
kinerja operasi (Purnamasari, 2009)
Investasi laba (earnings reinvestment) atau laba ditahan mengacu pada penahanan
laba dalam perusahaan untuk digunakan dalam bisnis perusahaan; yang disebut pula
pendanaan internal (internal financing). Reinvestasi laba sering diukur dengan rasio
penahanan. Rasio laba ditahan (earnings retention ratio) mencerminkan proporsi laba
ditahan, yang didefinisikan sebagai satu dikurangi dividend payout ratio
Besarnya laba ditahan/cadangan dipengaruhi oleh besarnya laba yang diperoleh
selama periode tertentu, dividend policy dan plowing back policy yang dijalankan oleh
perusahaan. Meskipun jumlah laba yang diperoleh selama periode tertentu besar, tetapi
oleh karena perusahaan mengambil kebijakan bahwa sebagian besar dari laba tersebut
dibagikan sebagai deviden, maka bagian laba yang ditahan akan kecil jumlahnya, dan
sebaliknya laba ditahan akan cenderung besar kalau perusahaan mengambil kebijakan
penanaman kembali dalam perusahaan yang besar.
2. Dampak dari pendanaan melalui modal (equity financing) dan distribusi laba
(distributing divedend)

Modal atau ekuitas secara akuntansi diartikan sebagai hak residual pemiIik setelah
semua aset dikurangi semua kewajiban (definisi dari sudut pandang pemilik) atau
merupakan "hutang" perusahaan kepada pemiIik (sudut pandang perusahaan). Komponen
pembentuk ekuitas yaitu investasi dari pemiIik yang berbentuk setoran modal atau kepe
milikan saham dan dana yang tidak dibagikan atau laba ditahan.
Berdasarkan PPh pasal 23 Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang
saham atau pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang
diperoleh anggota koperasi. Untuk tujuan pajak, pengertian dividen dijelaskan pada Pasal
4 (1) (g) UU PPh 1984 memasukkan enam elemen dalam pengertian dividen, yaitu
a. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
b. Penerimaan atau perolehan dari pembelian kembali sebagian atau seluruh saham yang
disetor
c. Pembayaran kembali sebagian atau seluruh penyetoran modal, sepanjang terdapat laba
dari tahun-tahun lampau. Kecuali dalam pengecilan modal statute
d. Pembayaran kepada atau penerbitan tanda-tanda laba
e. Laba yang dibagikan kepada pemegang obligasi yang berpartisipasi dalam laba
f. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi persero yang dibebankan sebagai
biaya perusahaan
Teori Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen (dividen policy) adalah rencana tindakan yang harus diikuti
dalam membuat keputusan dividen. Kebijakan deviden didefinisikan sebagai kebijakan
yang terkait dengan pembayaran dividen oleh perusahaan, berupa penentuan besarnya
pembayaran dan besarnya laba yang ditahan untuk kepentingan perusahaan.
Ada berbagai pendapat ahli atau teori tentang kebijakan dividen sebagai berikut :
a. Teori Dividen Tidak Relevan dari Modigliani dan Miller.
Menurut Modigliani dan Miller (MM), nilai suatu

perusahaan tidak

ditentukan oleh besar kecilnya presentase laba yang dibayarkan kepada pemegang
saham dalam bentuk uang tunai atau DPR (Dividen Payout Ratio), tapi ditentukan oleh
laba bersih sebelum pajak atau EBIT (Earning Before Interest and Tax) dan kelas
resiko perusahaan. Jadi menurut MM, dividen adalah tidak relevan.
Pernyataan ini didasarkan pada beberapa asumsi penting yang lemah
seperti : (1) Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional,
(2Tidak ada biaya emisi saham baru jika perusahaan menerbitkan saham baru,
dan (3) Tidak ada pajak. Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah.

Sedangkan kenyataannya : (1) Pasar modal yang sempurna sulit ditemui, (2)
Biaya emisi saham baru pasti ada, (3) Pajak pasti ada, dan (4) Kebijakan
investasi perusahaan tidak mungkin tidak berubah.
b. Teori Dividen yang Relevan (The Bird in the Hand) dari Gordon dan
Lintner
Teori ini menyatakan bahwa biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika
presentase laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai
atau DPR (Dividen Payout Ratio) rendah karenainvestor lebih suka memandang
keuntungan keuntungan dividen dari pada Perolehan modal (Capital Gains).
Investor memandang keuntungan dividen (dividend yeld) lebih pasti dari pada
keuntungan capital gains
Laba ditahan adalah keuntungan dari dividen (dividen yield) ditambah
keuntungan dari capital gains (capital gains yield ). Modigliani dan Miller
menganggap bahwa argumen Gordon dan Lintner ini merupakan suatu .
Menurut MM, pada akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen
yang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki
risiko yang hampir sama.
c. Teori Signaling Hypothesis.
MM berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas biasanya
merupakan suatu tanda kepada para investor bahwa manajemen perusahaan
meramalkan suatu

penghasilan

yang

baik

dividen

masa

mendatang.

Sebaliknya, suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen yang dibawah


kenaikan normal

(biasanya ) diyakini investor sebagai suatu tanda bahwa

perusahaan menghadapi masa sulit dividen waktu mendatang. Seperti teori


dividen yang lain, teori ini juga sulit dibuktikan secara empiris. .

Faktor faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen.


Faktor-faktor berikut inilah yang biasanya harus dianalisis oleh perusahaan ketika
membuat keputusan kebijakan dividen :
1)

Aturan-aturan Hukum.
Berbagai aturan hukum penting untuk membuat batasan hukum yang
memungkinkan kebijakan dividen akhir perusahaan dapat berjalan.

a.

Aturan Penurunan Nilai Modal.


Banyak negara bagian di AS yang melarang pembayaran dividen jika
dividen ini akan menurunkan nilai modal.

Beberapa negara bagian

mendefinisikan modal sebagai total nilai nominal saham biasa. Perusahaan


tidak dapat membayar dividen tunai dengan total lebih dari total nominal
saham biasa tanpa menurunkan nilai modalnya.
Sedangkan beberapa negara lainnya mendefinisikan modal tidak
hanya meliputi nilai nominal saham biasa, tetapi juga tambahan modal
disetor.

Dengan aturan negara semacam ini, dividen dapat dibayar

maksimum sebesar jumlah laba tahan, yaitu dari kas dengan membebankan
pengurangan ini ke akun laba ditahan.
b.

Aturan Insolvensi.
Insolvensi didefinisikan secara hukum sebagai kewajiban total
perusahaan yang melebihi aktivanya. Juga berarti ketidakmampuan
perusahaan untuk membayar para kreditornya ketika kewajibannya jatuh
tempo.

c.

Aturan Penahanan Laba yang berlebihan.


Meskipun penahanan (laba) yang berlebihan tidak memiliki definisi
yang jelas, biasanya dianggap berarti penahanan dalam jumlah yang jauh
melebihi kebutuhan investasi perusahaan untuk saat ini dan masa depan.
IRC (internal Revenue Code) melarang ini dengan tujuan untuk mencegah
perusahaan menahan laba demi menghindari pajak.

Jika IRC dapat

membuktikan adanya penahanan laba tanpa alasan yang jelas, maka


perusahaan dapat dikenakan tarif pajak penalti atas akumulasi laba tersebut.
2)

Kebutuhan Pendanaan Perusahaan.


Begitu batasan hukum untuk kebijakan dividen perusahaan telah ditentukan,
langkah berikutnya melibatkan penilaian kebutuhan pendanaan perusahaan.
Dalam hal ini, anggaran kas, laporan sumber dan penggunaan dana yang
diproyeksikan, serta perkiraan laporan arus kas akan digunakan. Intinya adalah
menentukan arus kas dan posisi kas perusahaan yang akan terjadi di tengah
ketiadaan perubahan kebijakan dividen.

3)

Likuiditas.
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak
keputusan dividen. Karena dividen menunjukkan arus kas keluar, semakin besar

posisi kas dan keseluruhan likuiditas perusahaan, maka semakin

besar

kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Perusahaan yang sedang


bertumbuh dan menguntungkan mungkin saja tidak likuid karena dananya
digunakan untuk aktiva tetap dan modal kerja permanen.
4)

Kemampuan untuk Meminjam.


Selain posisi yang likuid, jika perusahaan memiliki kemampuan untuk
meminjam dalam jangka waktu yang relatif singkat, maka dapat dikatakan
perusahaan tersebut fleksibel secara keuangan. Kemampuan untuk meminjam ini
bisa dalam bentuk batas kredit atau perjanjian kredit bergulir dari suatu bank, atau
hanya berupa kesediaan informal dari suatu lembaga keuangan untuk memberikan
kredit. Semakin besar kemampuan perusahaan untuk meminjam, maka akan
semakin besar fleksibilitasnya untuk meminjam, dan semakin besar pula
kemampuannya untuk membayar dividen tunai.

Dengan adanya akses yang

mudah ke dana utang, pihak manajemen tidak perlu terlalu khawatir dengan
pengaruh dividen tunai terhadap likuiditasnya.
5)

Batasan-batasan dalam Kontrak Utang.


Syarat perjanjian utang (covenant) sebagai pelindung dalam kesepakatan
obligasi atau perjanjian pinjaman sering kali meliputi batasan untuk pembayaran
dividen.

Batasan tersebut ditentukan oleh pihak pemberi pinjaman untuk

menjaga kemampuan perusahaan membayar utang. Biasanya syarat perjanjian


utang dinyatakan sebagai presentase maksimum laba ditahan kumulatif (yang
diinvestasikan kembali) dalam perusahaan.
Ketika larangan semacam ini diberlakukan, maka secara alami akan
mempengaruhi kebijakan

dividen perusahaan. Kadangkala pihak manajemen

perusahaan menyambut baik larangan dividen yang dibebankan oleh pemberi


pinjaman, karena pihak manajemen tidak perlu lagi menjustifikasi penahanan laba
kepada para pemegang sahamnya. Perusahaan hanya perlu menunjukkan batasan
tersebut.
6)

Pengendalian.
Jika suatu perusahaan membayar dividen dalam jumlah yang cukup besar,
maka perusahaan perlu mengumpulkan modal di kemudian hari melalui penjualan
saham agar dapat membiayai berbagai peluang investasi yang menguntungkan.
Berdasarkan situasi semacam ini, pihak yang memiliki kendali atas perusahaan

dapat terdilusi jika pemegang saham mayoritas tidak dapat memesan saham
tambahan. Para pemegang saham ini mungkin lebih menginginkan pembayaran
dividen dalam jumlah rendah melakukan pendanaan investasi melalui laba
ditahan.
Tipe tipe Kebijakan Dividen.
a.

Kebijakan dividen dengan presentase tetap pembayaran dividen tunai


(constant payout ratio divident policy) Rasio pembayaran dividen adalah
presentase dari setiap rupiah yang dihasilkan dibagikan kepada pemilik dalam
bentuk tunai, dihitung dengan membagi dividen kas per saham dengan laba per
saham. Jumlah pembayaran dividen dengan presentase tetap dari EPS akan
mempengaruhi posisi harga saham di pasar.

Pada saat laba menurun,

pembayaran dividen juga menurun, dan hal ini akan menyebabkan harga saham
menurun.
b.

Kebijakan dividen biasa atau stabil (reguler dividen policy) adalah


kebijakan dividen yang didasarkan atas pembayaran dividen dengan rupiah yang
tetap dalam satu periode. Seringkali kebijakan ini digunakan dengan memakai
target rasio pembayaran dividen, dimana perusahaan mencoba membayar dividen
dalam persentase tertentu seperti dividen yang dinyatakan dalam rupiah serta
disesuaikan

terhadap

target

pembayaran

yang

membuktikan

terjadinya

peningkatan hasil.
c.

Kebijakan dividen rendah plus ekstra (low regular an extra dividend


policy). Menurut kebijakan ini perusahaan membayar dividen tunai secara rutin
setiap periode dalam jumlah yang tetap dan rendah, jika laba perusahaan periode
yang bersangkutan sangat baik maka jumlah pembayaran tetap tersebut akan
ditambah pembayaran dividen ekstra. Dengan jumlah pembayaran reguler atau
biasa yang tetap ini menjamin kepastian bagi pemilik saham dan karena
jumlahnya rendah, hal ini juga akan menentramkan perusahaan. Bila ada laba
yang sangat bagus perusahaan akan membayarkan ekstra dividen bagi pemegang
saham. Pembayaran ekstra ini akan disambut baik oleh pasar dan akan menaikkan
harga saham.

d.

Kebijakan dividen yang fleksibel. Perusahaan menetapkan besarnya dividen


payout ratio setiap tahun disesuaikan dengan posisi finansial dan kebijakan
finansial.

e.

Kebijakan dividen residu. Kebijakan ini untuk menahan laba untuk


membelanjai kesempatan-kesempatan investasi yang memenuhi persyaratan.
Dividen ini untuk menahan laba guna membelanjai kesempatan-kesempatan
investasi yang memenuhi persyaratan. Dividen baru dibayarkan, jika ada sisa laba
setelah semua kesempatan investasi yang memenuhi persyaratan dibelanjai.

Rasio DPR digunakan sebagai proksi modal, karena rasio ini memperbandingkan
jumlah dividen yalg dibayarkan per lembar saham terhadap earning per share (EPS)
perusahaan, oleh Chen dan Steiner (1999) dalam Almilia dan SiIvy (2006) dirumuskan
sebagai berikut:
DPR = Dividen per lembar saham
EAT per lembar saham (EPS)
dimana:
Dividen per Iembar saham = dividen yang dibayarkan oIeh perusahaan
EAT per lembar saham = besarnya laba setelah pajak per saham
Semakin tinggi rasio ini akan menguntungkan para investor karena dividen yang
dibagikan relatif makin besar pula (dari laba bersih biasanya laba seteIah pajak), dan ini
berarti perusahaan mengalokasikan keuntungannya saat itu untuk para pemegang
sahamnya, walaupun memperlemah internal financial Iaba ditahan diperkecil. SebaIiknya
rasio yang semakin keciI akan merugikan para pemegang saham tetapi internal financial
perusahaan akan semakin kuat (Gitosudarmo dan Basri, 2000, dalal1 artikel IDS dan
pendanaan, 2003).
Rasio DPR dipengaruhi oIeh beberapa faktor, yaitu:
1. Kebutuhan dana untuk melunasi hutang, semakin besar dana untuk meIunasi hutang
(obligasi, hipotik) daIam tahun tersebut yang diambilkan dari kas maka akan menurunkan
DPR dan sebaIiknya.
2. Tingkat ekspansi yang direncanakan, semakin tinggi tingkat ekspansi yang
direncanakan oIeh perusahaan berakibat mengurangi DPR karena Iaba yang diperoleh
diprioritaskan untuk penambahan aktiva.

3. Pajak penghasilan, apabila para pemegang saham adalah ekonomi lemah yang bebas
pajak maka DPR lebih tinggi dibandingkan pemegang saham pada ekonomi kuat yang
kena pajak.
3. Dampak dari pendanaan melalui utang (debt financing) terutama oleh pemegang
sahamnya
Hutang mempakan salah satu bentuk pendanaan yang dipilih oleh pemsahaan untuk
mendanai kegiatan operasionalnya. Para pemilik pemsahaan (pemegang saham)
cenderung menghin dari hutang yang ekstrim baik hutang jangka pendek maupun jangka
panjang, karena akan menurunkan nilai perusahaan. Jika dipaksakan, memungkinkan
munculnya biaya kebangkrutan yang terdiri dari legal fee dan distress price (aset
perusalaan yang dihargai murah sewaktu dinyatakan bangkrut).
Apabila pendanaan didanai melalui hutang, maka peningkatan nilai peusahaan terjadi
akibat efek tax deductible, yaitu perusahaan yang memiliki hutang akan membayar bunga
pinjaman yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak, yang dapat memberikan
manfaat bagi pemegang saham. (Wijaya et al, 2010)
Brigham dan Houston (2011) menyatakan bahwa utang mempunyai keunggulan
berupa pembayaran bunga dapat digunakan untuk mengurangi pajak sehingga biaya pajak
yang harus dibayar menjadi lebih rendah. Keadaan inilah yang telah mendorong adanya
penggunaan utang yang semakin besar di dalam struktur modal perusahaan.
Hubungan Pajak Penghasilan dengan Keputusan Pendanaan
1. Pajak Penghasilan dengan Hutang
Keputusan pendanaan menjadi re1evan dalam keadaan ada pajak (Modigliani dan
Miller, 1958, dalam Husnan dan Pudjiastuti, 2004). Hal ini dikarenakan bunga yang dibayar
oleh perusahaan merupakan pengurang pajak penghasilan (tax deductibility of interest
payment). Dengan memasukkan unsur pajak, kebanyakan pakar keuangan setuju bahwa
hutang memiliki dampak positif atas penilaian total perusahaan (Horne dan Wlchowicz,
2007). Hutang digunakan untuk pendanaan maupun investasi seperti pembelian aktiva tetap
yang memiliki tax shield atau perlindungan pajak, karena depresiasi aktiva tetap yang
merupakan dana non cash dapat digunakan llntuk mengurangi beban pajak yang ditanggung
perusahaan.

Sedangkan, pembayaran bunga hutang merupakan biaya pengurang pajak


perusahaan yang berhutang. Berbeda d~ngan dividen yang merupakan non deductible
expense, akibatnya, j umlah total dana yang tersedia untuk membayar para pemilik hutang
dan pemegang saham akan lebih besar jika hutang digunakan, sehingga bunga hutang juga
disebut perlindungan pajak. Semakin besar jumlah hutang semakin besar pula keuntungan
perlindungan pajak dan semakin besar nilai perusahaan, jika semua hal lain dianggap tetap.
Namun, jika penghasilan kena pajak jumlahnya kecil atau negatif, keuntungan perlindungan
pajak dari hutang akan berkurang atau bahkan tidak ada. Selain itu, jika perusahaan
bangkrut dan dilikuidasi, penghematan pajak di masa depan yang berhubungan dengan
hutang akan hilang. Hal ini membuat keuntungan perlindungan pajak atas hutang, menjadi
tidak pasti.
2. Pajak Penghasilan dengan Modal
Penerbitan saham mengisyaratkan adanya pengembalian yang diharapkan oleh
pemodal. Terkait dengan unsur pajak dalam dividen, Miller dan Scholes (1978) dalam Fama
dan French (1997), beranggapan bahwa kebijakan atas pembayaran dividen yang tinggi
akan mermdahkan harga saham karena dividen dikenakan pajak yang tinggi daripada
keuntungan modal (Brennan 1970 dalam Fama dan French 1997).Dengan menjual saham
untuk merealisir keuntungan modal, pemodal membayar biaya transaksi tertentu dan
(seharusnya) membayar pajak. Tetapi dengan menerima dividen (tidak perlu membayar
biaya transaksi), pemodal justru hanya membayar pajak. Hal ini dapat menyebabkan pajak
atas keuntungan modal lebih kecil dari dividen (Husnan dan Pudjiastuti, 2004).
DAFTAR PUSTAKA

https://sites.google.com/a/gasy.web.id/evaluasi/refferensi/jurnal/pengaruh-laba-bersih-danarus-kas-operasi-terhadap-kebijakan-dividen-pada-perusahaan-manufaktur-yang-go-publik
http://www.slideshare.net/azizasw/presentasi-pendanaan-bab16-kel09-azizasw
http://www.slideshare.net/abeyow/pendanaan-ii
http://www.slideshare.net/abeyow/pendanaan
http://indraputrabintan.blogspot.com/2012/04/kebijakan-dividen.html#.VRegPiw1jIU

http://iamluckyone.blogspot.com/2011/05/kebijakan-dividen.html
http://ekonomi.kabo.biz/2011/05/kebijakan-dividen.html
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CDgQFjAD&url=http
%3A%2F%2Fdownload.portalgaruda.org%2Farticle.php%3Farticle%3D189491%26val
%3D6467%26title%3D%25C3%25A2%25E2%2582%25AC%25C5%2593PENGARUH
%2520DEBT%2520FINANCING%2520DAN%2520EQUITY%2520FINANCING
%2520TERHADAP%2520%2520PROFIT%2520EXPENSE%2520RATIO
%2520PERBANKAN%2520SYARIAH%2520%25C3%25A2%25E2%2582%25AC
%25C5%2593%2520%2520%2528Studi%2520pada%2520Bank%2520Muamalat
%2520Indonesia%2520dan%2520Bank%2520Syariah%2520Mandiri
%2529&ei=R6QXVaCyK4KwuAT9p4HIDg&usg=AFQjCNFlD96UVUQUlFzdLlRbZTVe4QDYQ&bvm=bv.89381419,d.c2E
http://www.pajak.go.id/sites/default/files/Buku%20PPh%20Upload.pdf
Akuntansi Pajak\By Prof. Dr. Gunadi, M.Sc., Akt.
https://books.google.co.id/books?
id=b4rgSr6Be2sC&pg=PA133&lpg=PA133&dq=uu+distribusi+laba&source=bl&ots=VsOeN1Nyo&sig=C9JQgl1Zt5txVgwnFB08FI3cmw&hl=en&sa=X&ei=M9MUVdTdOMS9ugT4woLYDg&ved=0
CEUQ6AEwBQ#v=onepage&q=uu%20distribusi%20laba&f=true
Brigham, Eugene F. dan Houston, Joel f. 2011. Manajemen Keuangan. Edisi Sebelas. Jakarta:
Salemba Empat.
Iriansyah, Salman H. dan Dana, I Made. Pengaruh Profitabilitas, Pajak, dan Pertumbuhan
Perusahaan terhadap keputusan pendanaan pada Perusahaan industri rokok yang terdaftar di
Bursa efek indonesia periode 2007-2010. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Bali,
Indonesia
Kartika, Andi. 2009. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Struktur modal pada Perusahaan
Manufaktur yang Go Public di BEI. Jurnal Dinamika Keuangan dan Perbankan Vol.1 No.2
Hal 105-122.
Purnamasari, Yenny. 2009. Pajak Penghasilan dan Keputusan Pendanaan (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia). Jurnal Akuntansi Kontemporer Vol. 1 No. 1
Hal 33-46.
Wijaya, Lihan R.P., Bandi, dan Wibawa, Anas. 2010. Pengaruh Keputusan Investasi,
Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan. Simposium
Nasional Akuntansi XIII.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan (PPh)
http://ekonomister.blogspot.com/2010/10/keputusan-pendanaan.html

Anda mungkin juga menyukai