Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lengkuas merah (Alpina purpurata K. Schum) adalah salah satu jenis
rempah-rempah yang telah banyak dimanfaatkan sebagai produk fitofarmaka
atau produk yang memanfaatkan sumber daya nabati sebagai sumber bahan obatobatan. Selain berkhasiat sebagai antijamur, lengkuas merah juga dapat
mengobati penyakit gangguan perut, demam, pembengkakan limfa, radang
telinga, bronchitis, rematik, dan sebagai obat kuat (aprodisiak) (Rini Budiarti,
2006).
Lengkuas merah merupakan tanaman obat yang telah dibuktikan melalui
berbagai penelitian memiliki daya antijamur dibandingkan jenis lengkuas putih.
Bentuk sediaan yang diuji cukup bervariasi, mulai dari perasan, infus, ekstrak
etanol, maupun minyak atsirinya. Khasiat lengkuas sebagai bahan antijamur
disebabkan oleh kandungan zat kimianya, seperti basonin, eugenol, galangan,
galangol, dan kandungan senyawa kimia 1-asetoksi kavikol asetat dalam minyak
atsirinya (Rini Budiarti, 2006).
Lengkuas (Alpinia galanga L.) merupakan anggota familia Zingiberaceae.
Rimpang lengkuas mudah diperoleh di Indonesia dan manjur sebagai obat gosok
untuk penyakit jamur kulit (panu) sebelum obat-obatan modern berkembang
seperti sekarang. Rimpang lengkuas juga digunakan sebagai salah satu bumbu
masak selama bertahun-tahun dan tidak pernah menimbulkan masalah. Manfaat
rimpang lengkuas telah dipelajari oleh para ilmuwan sejak dulu. Rimpang
lengkuas memiliki berbagai khasiat di antaranya sebagai antijamur dan
antibakteri. Penelitian Yuharmen dkk. (2002) menunjukkan adanya aktifitas
penghambatan pertumbuhan mikrobia oleh minyak atsiri dan fraksi metanol
rimpang lengkuas pada beberapa spesies bakteri dan jamur. Penelitian Sundari

dan Winarno (2000) menunjukkan bahwa infus ekstrak etanol rimpang lengkuas
yang berisi minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan beberapa spesies
jamur patogen, yaitu: Tricophyton, Mycrosporum gypseum, dan Epidermo
floccasum.
Berdasarkan latar belakang di atas, praktikan melakukan suatu pemeriksaan
Uji Sensitifitas Jamur Terhadap Ekstrak Tumbuhan untuk Obat Kulit. Sampel
yang digunakan adalah ekstrak lengkuas merah dan jamur Rhizopus sp.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitifitas jamur terhadap ekstrak
lengkuas merah terhadap jamur Rhizopus sp.

B. TUJUAN
Untuk mengetahui sensitifitas jamur terhadap ekstrak tumbuhan yang dapat
dijadikan obat kulit.

C. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kepekaan/sensitifitas ekstrak tumbuhan (laos merah) terhadap
jamur Rhizopus sp?
D. MANFAAT
Dapat diketahui bagaimana kepekaan/sensitifitas jamur Rhizopus sp
terhadap ekstrak tumbuhan yang dapat dijadikan obat kulit (laos merah).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Lengkuas Merah
Lengkuas merupakan tanaman herba beru,ur panjang yang banyak
dimanfaatkan sebagai bumbu dan obat-obatan dan tergolong ke dalam
simplisia rimpang. Klasifikasi tanaman lengkuas adalah sebagai berikut
(Sinaga, 2000)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobioma
Superdivisi : Spermathophyta
Divisi :
Magnoliophyta
Klas
: Liliopsida
Subklas
: Zingiberidae
Ordo
: Zingiberales
Keluarga
: Zingiberaceae
Genus :
Alpina Roxb.
Spesies
: Alpinia purpurata K. Schum
Berdasarkan warna rimpang, dikenal dua kultuvar lengkuas, yaitu
lengkuas berimpang putih dan berimpang merah. Lengkuas berimpang putih
mempunyai batang semu setinggi 3 m, diameter batang 2,5 cm, dan diameter
rimpang 3 4 cm. Sedangkan lengkuas berimpang merah memiliki batang
semu berukuran tinggi 1 1,5 m, diameter batang 1 cm, dan diameter ripang 2
cm (Wardana et al., 2002).
Rumpun dan bentuk lengkuas merah lebih kecil daripada lengkuas
putih. Lengkuas merah juga memiliki serat yang lebih kasar dibandingkan
lengkuas putih. Tanaman lengkuas berimpang putih sering dimanfaatkan
dalam bidang pangan, sedangkan lengkuas berimpang merah lebih sering
digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional (Sinaga, 2000).
Tanaman lengkuas memiliki batang yang sebagian besar dapat mencapai
ketinggian sekitar 1 3,5 meter. Biasanya tumbuh dalam rumpun yang rapat,
memiliki batang tegak yang tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang bersatu
membentuk batang semu dan berwarna hijau agak keputih-putihan. Batang
muda keluar sebagi tunas dari pangkal batnag tua. Daunnya tunggal, berwarna
hijau, bertangkai pendek, dan tersusun berseling. Daun disebelah bawah dan

atas biasanya lebih kecil daripada yang di tengah. Bentuk daun lanset
memanjang, ujung runcing, pangkal tumpul, dengan tepi daun rata, dan
pertulangan daun menyirip. Panjang daun sekitar 20 60 cm, dan lebarnya 4
15 cm. Buah dari tanaman lengkuas seperti buah buni, berbentuk bulat,
keras. Sewaktu masih muda berwarna hijau-kuning, setelah tua berubah
menjadi hitam kecoklatan dengan diameter lebih kurang 1 cm. bijinya kecilkecil, berbentuk lonjong, dan berwarna hitam. Rimpang lengkuas bentuknya
besar dan tebal, berdaging, berbentuk silindris dengan diameter sekitar 2-4 cm
dan bercabang-cabang. Bagian luarnya berwarna coklat agak kemerahan atau
kuning kehijauan pucat mempunyai sisik-sisik berwarna putih. Daging
rimpang yang sudah tua memilki serat yang kasar. Rasanya tajam, pedas,
menggigit, dan berbau harum karena kandungan minyak atsirinya. Untuk
mendapatkan rimpang yang masih berserat halus, panen harus dilakukan
sebelum tanaman berumur lebih kurang 3 bulan (Sinaga, 2000).
Rimpang lengkuas mengandung karbohidrat, lemak, sedikit protein,
mineral (K, P, Na), komponen minyak atsiri, dan berbagai komponen lain
yang susunannya belum diketahui. Rimpang lengkuas segar mengandung air
sebesar 75%, dalam bentuk kering mengandung 22,4% karbohidrat, 3,07%
protein dan sekitar 0,07% senyawa kamferid (Rini Budiarti, 2006)
Kandungan minyak atsiri lengkuas yang berwarna kuning kehijauan
dalam rimpang lengkuas 1 % dengan komponen utamanya metil-sinamat
48%, sineol 20-30%, 1% kamfer, dan sisanya d-pinen, galangin, dan eugenol
penyebab rasa pedas pada lengkuas. Selain itu, lengkuas juga mengandung
resin yang disebut galangol, amilum, kuersetin, kadinen, sesquiterpen,
heksahidrokadalen hidrat, Kristal kuning yang disebut kamferid, dan beberapa
senyawa flavonoid, seperti flavonol (Sinaga, 2000). Komponen flavonol yang
banyak tersebar pada tanaman misalnya lengkuas adalah galangin, kaemferol,
kuersetin, dan mirisetin (Rusmarilin, 2003).

Komponen bioaktif pada rempah-rempah, khususnya pada golongan


Zingiberaceae yang terbanyak adalah dari jenis terpenoid dan flavonoid.
Komponen lainnya yang terdapat pada golongan Alpinia adalah alpinetin.
Alpinetin merupakan jenis flavanon yang dikenal sebagai senyawa fungistatik
dan fungisida. Bentuk senyawa bioaktif lainnya adalah dari golongan
terpenoid. Golongan ini merupakan kelompok utama pada tanaman sebagai
penyusun minyak atsiri (Sinaga, 2000).
Menurut Shelef (1983), komponen antimikroba dalam rempah-rempah
adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik umumnya terdapat dalam minyak
atsiri. Fenol merupakan monoterpen yang pada umunya digunakan sebagai
bahan antiseptic. Sedangkan beberapa senyawa terpen lainnya yang memiliki
struktur sikloheksana degan gugus hidroksil serta penambahan gugus lainnya
juga memiliki kemampuan yang sama dengan dalam menghambat kapang,
khamir, dan bakteri (Rini Budiarti, 2006).
Komponen bioaktif yang menyebabkan aroma pedas menyengat pada
lengkuas telah dinuktikan dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis
jamur. Komponen tersebut adalah linalool, geranyl acetate, dan 1,8-cincole
yang dapat menghambat water molds, seperti jenis Carassius auratus dan
Xiphoporus maculates (Chukanhom et al., 2005). Selain itu, Chami et al.
(2004), meyatakan bahwa eugenol dapat menghambat jamur Candida
albicans secara efektif.
Dalam farmakologi Cina dan dunia pengobatan tradisional disebutkan
bahwa lengkuas merah memiliki sifat antijamur dan antikembung. Efek
farmakologi ini umumnya diperoleh dari rimpang yang mengandung basonin,
eugenol, galangan, dan galangol. Basonin dikenal dapat menimbulkan efek
merangsang semangat, eugenol dapat memiliki sifat anti jamur terhadap jenis
Candida albicans, antikejang, analgetik, anestetik, dan penekan pengendali
gerak. Galangan dapat meredakan rasa lelah, antimutagebik, penghambat

enzim siklo-oksigenase dan lipoksogenase, sementara galangal dapat


merangsang semangat dan menghangatkan tubuh (Anon, 2003).
Khasiat antijamur ekstrak lengkuas merah telah banyak dibuktikan
secara ilmiah. Parutan rimpang lengkuas merah telah banyak digunakan sejak
zaman dahulu sebagai obat bagi beberapa penyakit kulit, seperti panu, kurap,
eksim, jerawat, koreng, bisul, dan sebagainya (Anon, 2000).
Hasil penelitian Hezmela (2006) menyatakan bahwa ekstrak lengkuas
merah dapat menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit kulit, yaitu
jamur jenis Trichophyton mentagrophytes dan Microssporum canis. Ekstrak
lengkuas merah yang diaplikasikan dalam salep dapat menghambat
Trichophyton mentagropytes sebesar 34,67 0,22 mm dan Microsporum
canis sebesar 39,33 0,22 mm. Selain itu, menurut Sundari dan Winarno
(2002), beberapa bentuk sediaan ekstrak lengkuas merah dapat menghambat
pertumbuhan 5 (lima) jenis jamur, yaitu : Trichophyton rubrum, Trichophyton
ajelloi, Trichophyton mentagrophytes, Microsporum gypseum, dan Epidermo
floccosum.
B. Tinjauan Rhizopus sp
Rhizopus sp adalah genus jamur benang yang termasuk filum zygomycota
ordo mucorales. Rhizopus sp mempunyai ciri khas yaitu memiliki hifa yang
membentuk rhizoid untuk menempel ke subtract. Ciri lainnya adalah memiliki hifa
coenositik, sehingga tidak bersepta atau bersekat. Miselium dari Rhizopus sp yang
juga disebut stolon menyebar di atas subtratnya karena dari hifa vegetative.
Rhizopus sp berproduksi secara aseksual dengan memproduksi banyak sporangifor
yang bertangkai. Sporangifor ini biasanya dipisahkan dari hifa lainya oleh sebuah
dinding seperti septa. Salah satu contohnya spesiesnya adalah Rhizopus stolonifer
yang biasanya tumbuh pada roti basi (Postlethwait dan Hopson, 2006
http://monruw.wordprees.com).
Klasifikasi
Kingdom
: Fungi

Divisio

Zygomycota

Class
: Zygomycetes
Ordo
: Mucorales
Familia
: Mucoraceae
Genus
: Rhizopus
Spesies
: Rhizopus sp
(Robert, 2005).
Ciri Morfologi dan Struktur Tubuh
1. Terdiri dari benang-benang hifa yang bercabang dan berjalinan
membentuk miselium.
2. Hifa tak bersekat (bersifat senositik).
3. Septa atau sekat antar hifa hanya ditemukan pada saat sel reproduksi
terbentuk.
4. Dinding selnya tersusun dari kitin.
5. Rhizopus sp mempunyai tiga tipe hifa,
a) Stolon : hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat
(misalnya roti).
b) Rhizoid : hifa yang menembus substrat dan berfungsi sebagai
jangkar untuk menyerap makanan.
c) Sporangiopor : hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat
dan memiliki sporangia globuler (berbentuk bulat) diujungnya.
6. Koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu
7. Stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning
kecoklatan.
8. Sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah keudara, baik
tunggal atau dalam kelompok (hingga 5 sporangiofora).
9. Rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama
dengan sporangiofora.
10. Sporangia berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak.
11. Kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar.
12. Spora bulat, oval atau berbentuk elips atau silinder (Robert, 2005).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. METODE
Metode yang dipakai dalam praktikum ini adalah B. PRINSIP
Dengan isolasi jamur pada media SGA dan kemudian diberi disk yang
diberi atau diolesi dengan ekstrak tumbuhan, maka dapat diketahui kepekaan atau
sensitifitas jamur (radikal atau iradikal) terhadap ekstrak tumbuhan tersebut.
C. ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Ekstrak tumbuhan yang diuji (Laos Merah)
2. Biakan murni (Rhizopus sp)
3. Media SGA (Saboroud Glukosa Agar)
4. Kapas lidi/swab steril
5. Kertas disk steril
6. Pinset steril
7. Plate
8. Beaker glass
9. Erlenmeyer 100 ml
10. PZ (NaCl 0,85%) atau garam fisiologis
11. Aquadest
D. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Biakan Murni
a. Disiapkan 50 ml PZ steril dalam Erlenmeyer 100 ml.
b. Ditambahkan koloni jamur murni dari biakan.
c. Diaduk atau dicampur.
2. Pembuatan Larutan Ekstrak Laos Merah
a. Dibersihkan laos merah, lalu dihaluskan kemudian ditambahkan
aquadest 200 ml dan diaduk sampai rata.
b. Direbus laos merah sampai mendidih, lalu disaring sampai bersih.
c. Dimasukkan air saringan ke dalam botol steril sebagai larutan induk.
d. Lalu dilakukan pengenceran 10% dan 50%.
3. Pembuatan Pengenceran Ekstrak 10% dan 50%
a. Pengenceran 10%
V 1 x N1 = V 2 x N2

V 1 x 100 =10 x 10

10
x 10
100

1 ml (Ekstrak Laos Merah)


9 ml PZ
Cara pembuatan :
1) Dipipet ekstrak laos merah sebanyak 1 ml.

2) Dimasukkan ekstrak tersebut dalam erlenmeyer 100 ml yang telah


diisi dengan PZ sebanyak 9 ml sebelumnya.
3) Dicampur sampai homogen.
b. Pengenceran 50%
V 1 x N1 = V 2 x N2
=

V 1 x 100 =10 x 50

10
x 50
100

= 5 ml (Ekstrak Laos Merah)


= 5 ml PZ
Cara pembuatan :
1) Dipipet ekstrak laos merah sebanyak 5 ml.
2) Dimasukkan ekstrak tersebut dalam erlenmeyer 100 ml yang
telah diisi dengan PZ sebanyak 5 ml sebelumnya.
3) Dicampur sampai homogen.
4. Inokulasi Suspensi Jamur
a. Diinokulasikan secara merata suspense jamur tersebut pada permukaan
lempeng agar dengan menggunakan swab steril.
b. Diinkubasi pada suhu kamar kira-kira 10 menit.
c. Dimasukkan kertas disk steril ke dalam larutan ekstrak laos merah
pengenceran 10% dan 50% yang akan diuji.
d. Kemudian kertas disk tersebut diletakkan pada lempeng agar yang sudah
diinokulasikan.
e. Diinkubasi selama 5 7 hari pada suhu kamar.
f. Diamati dan diukur diameter radikal dan iradikal dari obat tersebut.
g. Diberi kesimpulan dari hasil pengamatan.