Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRESENTASI PERKULIAHAN:

Inkompatibilitas

ABO

A A Gede Agung Adistaya

(H1A011001)

Abrista Septikasari

(H1A011003)

Agus Gowinda Amijaya

(H1A011005)

Amy Shientiarizki

(H1A011007)

Najmina Amaliya

(H1A010031)

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


2014

DEFINISI
Inkompatibilitas ABO adalah kondisi medis dimana golongan darah antara ibu dan bayi berbeda
sewaktu masa kehamilan. Terdapat 4 jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O. Golongan
darah ditentukan melalui tipe molekul (antigen) pada permukaan sel darah merah. Sebagai
contoh, individu dengan golongan darah A memiliki antigen A, dan golongan darah B memilki
antigen B, golongan darah AB memiliki baik antigen A dan B sedangkan golongan darah O tidak
memiliki antigen. Golongan darah yang berbeda menghasilkan antibodi yang berbeda-beda.
Ketika golongan darah yang berbeda tercampur, suatu respon kekebalan tubuh terjadi dan
antibodi terbentuk untuk menyerang antigen asing di dalam darah. Inkompatibilitas ABO
seringkali terjdai pada ibu dengan golongan darah O dan bayi dengan golongan darah baik A atau
B. Ibu dengan golongan darah O menghasilkan antibodi anti-A dan anti-B yang cukup kecil
untuk memasuki sirkulasi tubuh bayi, menghancurkan sel darah merah janin.

EPIDEMIOLOGI
20% - 25% kehamilan terjadi inkompabilitas ABO,diamana serum ibu mengandung anti-A atau
anti-B. Inkompabilitas ABO nantinya akan menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi yang
baru lahir yang terdapat lebih dari 60% dari seluruh kasus. Penyakit ini sering tidak parah jika
dibandingkan dengan akibat Rh, ditandai anemia neonatus sedang dan hiperbilirubinemia
neonatus ringan sampai sedang.
ETIOLOGI
Penyakit inkompabilitas ABO ini disebabkan oleh adanya antigen eritrosit janin yang tidak
dimiliki oleh ibunya sendiri. Hal ini nantinya dapat menyebabkan timbul reaksi imun berupa
pembentukan antibodi oleh sistem imun ibunya yang nantinya dapat merusak eritrosit dari
janinnya. Gambaran klinis penyakit hemolitik pada bayi baru lahir berasal dari inkompabilitas
ABO sering ditemukan pada keadaan dimana ibu mempunyai tipe darah O, karena tipe darah
grup masing-masing menghasilkan anti A dan anti B yang termasuk kelas IgG yang dapat
melewati plasenta untuk berikatan dengan eritrosit janin.

PATOFISIOLOGI
Penyakit inkompabilitas ABO terjadi ketika sistem imun ibu menghasilkan antibodi yang
melawan sel darah merah janin yang dikandungnya. Pada saat ibu hamil, eritrosit janin dalam
beberapa insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu yang dinamakan fetomaternal
microtransfusion. Bila ibu tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada eritrosit janin, maka
ibu akan distimulasi untuk membentuk imun antibodi. Imun antibodi tipe IgG tersebut dapat
melewati plasenta dan kemudian masuk ke dalam peredaran darah janin sehingga sel-sel eritrosit
janin akan diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya terjadi aglutinasi dan
hemolisis, yang kemudian akan menyebabkan anemia. Hal ini akan dikompensasi oleh tubuh
bayi dengan cara memproduksi dan melepaskan sel-sel darah merah yang imatur yang berinti
banyak, atau yang disebut dengan eritroblas secara berlebihan.
Produksi eritroblas yang berlebihan dapat menyebabkan pembesaran hati dan limpa yang
selanjutnya dapat menyebabkan rusaknya hepar dan ruptur limpa. Produksi eritroblas ini
melibatkan berbagai komponen sel-sel darah, seperti platelet dan faktor penting lainnya untuk
pembekuan darah. Pada saat berkurangnya factor pembekuan dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan yang banyak dan dapat memperberat komplikasi. Lebih dari 400 antigen terdapat
pada permukaan eritrosit, tetapi secara klinis hanya sedikit yang penting sebagai penyebab
penyakit hemolitik. Kurangnya antigen eritrosit dalam tubuh berpotensi menghasilkan antibodi
jika terpapar dengan antigen tersebut. Antibodi tersebut berbahaya terhadap diri sendiri pada saat
transfusi atau berbahaya bagi janin.
Hemolisis yang berat biasanya terjadi oleh adanya sensitisasi maternal sebelumnya,
misalnya karena abortus, ruptur kehamilan di luar kandungan, amniosentesis, transfusi darah
Rhesus positif atau pada kehamilan kedua dan berikutnya. Penghancuran sel-sel darah merah
dapat melepaskan pigmen darah merah, yang mana bahan tersebut dikenal dengan bilirubin.
Bilirubin secara normal dibentuk dari sel-sel darah merah yang telah mati, tetapi tubuh dapat
mengatasi kekurangan kadar bilirubin dalam sirkulasi darah pada suatu waktu. Eritroblastosis
fetalis

menyebabkan

terjadinya

penumpukan

bilirubin

yang

dapat

menyebabkan

hiperbilirubinemia, yang nantinya menyebabkan jaundice pada bayi, yang seterusnya dapat
berkembang menjadi kernikterus.

DIAGNOSIS
Dalam penegakan diagnosis diperlukan langkah-langkah seperti melakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Dalam melakukan anamnesis, dapat ditanyakan mengenai riwayat sebagai berikut :

Transfusidarahsebelumnya
Golongandarahkedua orang tuaterutamaibudananaknya
Padakehamilansebelumnyapernahterjadiabortusspontan
Pernahmengalami trauma semasakehamilan
Didapatkanperdarahanpada vagina
Dalam pemeriksaan fisik dapat dilakukan pemeriksaan tanda vital dan primary survey

pada pernafasan dan kardiovaskuler. Dapat pula dilihat penampakan jaundice pada kulitnya dan
anemia pada konjungtivanya. Bisa juga dilakukan palpasi pada abdomennya untuk menemukan
hepatosplenomegali.
Dalam pemeriksaan penunjang dapat dilakukan uji laboratorium dengan sampel darah
dan urin. Untuk pemeriksaan darah biasanya didapatkan kadar bilirubin yang tinggi, selain itu
dalam hitung darah lengkap biasanya didapatkan kerusakan pada sel darah merah (anemia).
Untuk pemeriksaan urin dapat diperiksa apakah ditemukan hemoglobin atau tidak.
Selain uji laboratorium diatas dapat dilakukan uji isoimunisasi dengan mendeteksi
antibody pada serum ibu. Uji ini biasanya menggunakan metode tes Coombs tak langsung. Tes
ini bergantung kepada padak emampuan anti IgG (Coombs) serum untuk mengaglutinasi eritrosit
yang dilapisi dengan IgG. Untuk melakukan tes ini, serum darah pasien dicampur dengan
eritrosit yang diketahui mengandung mengandung antigen eritrosit tertentu, diinkubasi, lalu
eritrosit dicuci. Suatu substansi lalu ditambahkan untuk menurunkan potensi listrik dari
membrane eritrosit, yang penting untuk membantu terjadinya aglutinasi eritrosit. Serum Coombs
ditambahkan dan jika immunoglobulin ibu ada dalame ritrosit, maka aglutinasi akan terjadi. Jika
tes positif, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan antigen spesifik.

TATALAKSANA

Ikterus hemolitik paling sering disebabkan oleh inkompatibilitas faktor Rhesus atau
golongan darah ABO antara bayi dan ibu atau adanya defisiensi G6PD pada bayi. Tata laksana
untuk keadaan ini berlaku untuk semua ikterus hemolitik, apapun penyebabnya.

Bila nilai bilirubin serum memenuhi kriteria untuk dilakukannya terapi sinar, lakukan
terapi sinar .

Bila rujukan untuk dilakukan transfusi tukar memungkinkan:


o Bila bilirubin serum mendekati nilai dibutuhkannya transfusi tukar, kadar
hemoglobin < 13 g/dL (hematokrit < 40%) dan tes Coombs positif, segera rujuk bayi.
o Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa dan tidak memungkinkan untuk dilakukan
tes Coombs, segera rujuk bayi bila ikterus telah terlihat sejak hari 1 dan hemoglobin
< 13 g/dL (hematokrit < 40%).
o Bila bayi dirujuk untuk transfusi tukar:

Persiapkan transfer

Segera kirim bayi ke rumah sakit tersier atau senter dengan fasilitas transfusi
tukar

Kirim contoh darah ibu dan bayi

Jelaskan kepada ibu tentang penyebab bayi menjadi kuning, mengapa perlu
dirujuk dan terapi apa yang akan diterima bayi.

Nasihati ibu:
o Bila penyebab ikterus adalah inkompatibilitas Rhesus, pastikan ibu mendapatkan
informasi yang cukup mengenai hal ini karena berhubungan dengan kehamilan
berikutnya.
o Bila bayi memiliki defisiensi G6PD, informasikan kepada ibu untuk menghindari
zat-zat tertentu untuk mencegah terjadinya hemolisis pada bayi (contoh: obat
antimalaria, obat-obatan golongan sulfa, aspirin, kamfer/mothballs, favabeans).

Bila hemoglobin < 10 g/dL (hematokrit < 30%), berikan transfusi darah.

Bila ikterus menetap selama 2 minggu atau lebih pada bayi cukup bulan atau 3 minggu
lebih lama pada bayi kecil (berat lahir < 2,5 kg atau lahir sebelum kehamilan 37 minggu),
terapi sebagai ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice).

Follow up setelah kepulangan, periksa kadar hemoglobin setiap minggu selama 4


minggu. Bila hemoglobin < 8 g/dL (hematokrit < 24%), berikan transfusi darah.

Terapi Sinar
Mekanisme kerja
Bilirubin tidak larut dalam air. Cara kerja terapi sinar adalah dengan mengubah bilirubin menjadi
bentuk yang larut dalam air untuk dieksresikan melalui empedu atau urin. Ketika bilirubin
mengabsorbsi cahaya, terjadi reaksi fotokimia yaitu isomerisasi. Juga terdapat konversi
ireversibel menjadi isomer kimia lainnya bernama lumirubin yang dengan cepat dibersihkan dari
plasma melalui empedu. Lumirubin adalah produk terbanyak degradasi bilirubin akibat terapi
sinar pada manusia. Sejumlah kecil bilirubin plasma tak terkonyugasi diubah oleh cahaya
menjadi dipyrole yang diekskresikan lewat urin. Foto isomer bilirubin lebih polar dibandingkan
bentuk asalnya dan secara langsung bisa dieksreksikan melalui empedu. Hanya produk foto
oksidan saja yang bisa diekskresikan lewat urin.
Terapi Sinar Konvensional

Menggunakan panjang gelombang 425-475 nm. Intensitas cahaya yang biasa digunakan adalah
6-12 watt/cm2 per nm. Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm di atas bayi. Jumlah bola lampu
yang digunakan berkisar antara 6-8 buah, terdiri dari biru (F20T12), cahaya biru khusus
(F20T12/BB) atau daylight fluorescent tubes. Cahaya biru khusus memiliki kerugian karena
dapat membuat bayi terlihat biru, walaupun pada bayi yang sehat, hal ini secara umum tidak
mengkhawatirkan. Untuk mengurangi efek ini, digunakan 4 tabung cahaya biru khusus pada
bagian tengah unit terapi sinar standar dan dua tabung daylight fluorescent pada setiap bagian
samping unit.
Teknik terapi sinar :
1.

Persiapan Unit Terapi sinar

Hangatkan ruangan tempat unit terapi sinar ditempatkan, bila perlu, sehingga suhu di
bawah lampu antara 38C sampai 30C.

Nyalakan mesin dan pastikan semua tabung fluoresens berfungsi dengan baik.

Ganti tabung/lampu fluoresens yang telah rusak atau berkelip-kelip (flickering):


o Catat tanggal penggantian tabung dan lama penggunaan tabung tersebut.
o Ganti tabung setelah 2000 jam penggunaan atau setelah 3 bulan, walaupun tabung
masih bisa berfungsi.

Gunakan linen putih pada basinet atau inkubator, dan tempatkan tirai putih di sekitar
daerah unit terapi sinar ditempatkan untuk memantulkan cahaya sebanyak mungkin
kepada bayi.

2.

Pemberian Terapi Sinar

Tempatkan bayi di bawah sinar terapi sinar.


o Bila berat bayi 2 kg atau lebih, tempatkan bayi dalam keadaan telanjang pada basinet.
Tempatkan bayi yang lebih kecil dalam inkubator.
o Letakkan bayi sesuai petunjuk pemakaian alat dari pabrik.

Tutupi mata bayi dengan penutup mata, pastikan lubang hidung bayi tidak ikut tertutup.
Jangan tempelkan penutup mata dengan menggunakan selotip.

Balikkan bayi setiap 3 jam

Pastikan bayi diberi makan:


o Motivasi ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI ad libitum, paling kurang setiap 3
jam:

Selama menyusui, pindahkan bayi dari unit terapi sinar dan lepaskan penutup mata

Pemberian suplemen atau mengganti ASI dengan makanan atau cairan lain (contoh:
pengganti ASI, air, air gula, dll) tidak ada gunanya.

o Bila bayi menerima cairan per IV atau ASI yang telah dipompa (ASI perah),
tingkatkan volume cairan atau ASI sebanyak 10% volume total per hari (tabel 3)
selama bayi masih diterapi sinar .
o Bila bayi menerima cairan per IV atau makanan melalui NGT, jangan pindahkan bayi
dari sinar terapi sinar.

Perhatikan: selama menjalani terapi sinar, konsistensi tinja bayi bisa menjadi lebih
lembek dan berwarna kuning. Keadaan ini tidak membutuhkan terapi khusus.

Teruskan terapi dan tes lain yang telah ditetapkan:


o Pindahkan bayi dari unit terapi sinar hanya untuk melakukan prosedur yang tidak bisa
dilakukan di dalam unit terapi sinar.
o Bila bayi sedang menerima oksigen, matikan sinar terapi sinar sebentar untuk
mengetahui apakah bayi mengalami sianosis sentral (lidah dan bibir biru).

Ukur suhu bayi dan suhu udara di bawah sinar terapi sinar setiap 3 jam. Bila suhu bayi
lebih dari 37,5C, sesuaikan suhu ruangan atau untuk sementara pindahkan bayi dari unit
terapi sinar sampai suhu bayi antara 36,5C - 37,5C.

Ukur kadar bilirubin serum setiap 24 jam, kecuali kasus-kasus khusus:


o Hentikan terapi sinar bila kadar serum bilirubin < 13mg/dL
o Bila kadar bilirubin serum mendekati jumlah indikasi transfusi tukar, persiapkan
kepindahan bayi dan secepat mungkin kirim bayi ke rumah sakit tersier atau senter
untuk transfusi tukar. Sertakan contoh darah ibu dan bayi.

Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa, hentikan terapi sinar setelah 3 hari.

Setelah terapi sinar dihentikan:


o Observasi bayi selama 24 jam dan ulangi pemeriksaan bilirubin serum bila
memungkinkan, atau perkirakan keparahan ikterus menggunakan metode klinis.

o Bila ikterus kembali ditemukan atau bilirubin serum berada di atas nilai untuk
memulai terapi sinar , ulangi terapi sinar seperti yang telah dilakukan. Ulangi langkah
ini pada setiap penghentian terapi sinar sampai bilirubin serum dari hasil pemeriksaan
atau perkiraan melalui metode klinis berada di bawah nilai untuk memulai terapi sinar.

Bila terapi sinar sudah tidak diperlukan lagi, bayi bisa makan dengan baik dan tidak ada
masalah lain selama perawatan, pulangkan bayi.

Ajarkan ibu untuk menilai ikterus dan beri nasihat untuk membawa kembali bayi bila
bayi bertambah kuning.

Transfusi Tukar
Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan dengan
pengembalian darah dari donor dalam jumlah yang sama yang dilakukan berulang-ulang sampai
sebagian besar darah penderita tertukar.
Pada hiperbilirubinemia, tindakan ini bertujuan mencegah terjadinya ensefalopati bilirubin
dengan cara mengeluarkan bilirubin indirek dari sirkulasi. Pada bayi dengan isoimunisasi,
transfusi tukar memiliki manfaat tambahan, karena membantu mengeluarkan antibodi maternal
dari sirkulasi bayi. Sehingga mencegah hemolisis lebih lanjut dan memperbaiki anemia.
Darah Donor untuk Transfusi Tukar
1. Darah yang digunakan golongan O.
2. Gunakan darah baru (usia < 7 hari), whole blood. Kerjasama dengan dokter kandungan dan
Bank Darah adalah penting untuk persiapan kelahiran bayi yang membutuhkan tranfusi
tukar.
3. Pada penyakit hemolitik rhesus, jika darah disiapkan sebelum persalinan, harus golongan O
dengan rhesus (-), crossmatched terhadap ibu. Bila darah disiapkan setelah kelahiran,
dilakukan juga crossmatched terhadap bayi.
4. Pada inkomptabilitas ABO, darah donor harus golongan O, rhesus (-) atau rhesus yang sama
dengan ibu dan bayinya. Crossmatched terhadap ibu dan bayi yang mempunyai titer rendah
antibodi anti A dan anti B. Biasanya menggunakan eritrosit golongan O dengan plasma AB,
untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi anti A dan anti B yang muncul.

5. Pada penyakit hemolitik isoimun yang lain, darah donor tidak boleh berisi antigen
tersensitisasi dan harus di crossmatched terhadap ibu.
6. Pada hiperbilirubinemia yang nonimun, darah donor ditiping dan crossmatched terhadap
plasma dan eritrosit pasien/bayi.
7. Tranfusi tukar biasanya memakai 2 kali volume darah (2 volume exchange) sekitar 160
mL/kgBB, sehingga diperoleh darah baru sekitar 87%.

PROGNOSIS
Inkomtabilitas ABO bias menjadi sangat berbahaya bahkan bias menyebabkan kematian. Tetapi
dengan penatalaksanaan yang tepat, kemungkinan untuk sembuh sangatlah mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F.G., Maldo Hald, Gant, N. F. Obstetri Williams vol 1 (penerjemah : Joko Suyono
dan Andi Hartono), edisi ke-21, EGC, Jakarta, 2005
Sindu, E. Hemolytic disease of the newborn. Jakarta: Direktorat Laboratorium Kesehatan Dirjen.
Pelayanan Medik Depkes dan Kessos RI; 2005.