Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI

SARAH AULIA RACHIM


AK.1.10.069

S1 Keperawatan
STIKes.BHAKTI KENCANA BANDUNG

Askep Anak dengan Atresia Ani


Pengertian Atresia Ani
Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara kongenital
(Dorland, 1998).
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi
anus, rektum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran
anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).

Atresia Ani
Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau
makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau
tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga
clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau
buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau
terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi
pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya
dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka
hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan
normalnya

Suatu perineum tanpa apertura anal diuraikan sebagai inperforata. Ladd dan Gross (1966)
membagi anus inperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2. Membran anus menetap
3. Anus inperforata dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacam-macam
jarak dari peritoneum
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum yang buntu
Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula, pada bayi wanita yang sering ditemukan
fisula rektovaginal (bayi buang air besar lewat vagina) dan jarang rektoperineal, tidak
pernah rektobrinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan
berakhir dikandung kemih atau uretra serta jarang rektoperineal
Etiologi Atresia Ani
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum
bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan.
.
Patofisiologi Atresia Ani
Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :
1) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit
karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik
2) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur
3) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan
pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan
4) Berkaitan dengan sindrom down
5) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan

Terdapat tiga macam letak

Tinggi (supralevator) rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis)


dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak
upralevator biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital
Intermediate rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya
Rendah rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan
ujung rectum paling jauh 1 cm.
Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum
Pada laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius

Gambaran Klinik Atresia Ani


Pada sebagian besar anomati ini neonatus ditemukan dengan obstruksi usus. Tanda
berikut merupakan indikasi beberapa abnormalitas:
1.

Tidak adanya apertura anal

2.

Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal

3.

Muntah dengan abdomen yang kembung

4.

Kesukaran defekasi, misalnya dikeluarkannya feses mirip seperti stenosis

Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan
colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm
ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika
terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal
dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48
jam setelah lahir berupa perut kembung, muntah berwarna hijau.
Pemeriksaan Penunjang Atresia Ani
1. X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
2. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius, misalnya suatu
sistouretrogram mikturasi akan memperlihatkan hubungan rektourinarius dan
kelainan urinarius
3. Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat mekonium
Penatalaksanaan Atresia Ani
Medik:
1.

Eksisi membran anal

2.
Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah umur 3 bulan
dilakukan koreksi sekaligus
Keperawatan :
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan
tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu
tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi
tahapan ke 2, selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga
kebersihan untuk mencegah infeksi. Serta memperhatikan kesehatan bayi.
Diagnosa Keperawatan Atresia Ani
1.

Gangguan eliminasi BAK b.d Dysuria

2.

Gangguan rasa nyaman b.d vistel rektovaginal, Dysuria

3.

Resti infeksi b.d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran kemih

4.

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia

5.

Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma jaringan post operasi

6.

Resti infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi

7.
Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak
terkontrol
Path Ways

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Atresia Ani


1.

Gangguan eliminasi BAK b.d vistel rektovaginal, dysuria

Tujuan :
Tidak terjadi perubahan pola eliminasi BAK setelah dilakukan tindakan keperawatan
dengan kriteria evaluasi: Pasien dapat BAK dengan normal, tidak ada perubahan pada
jumlah urine.
Intervensi :

2.

Kaji pola eliminasi BAK pasien


Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
Selidiki keluhan kandung kemih penuh
Awasi/observasi hasil laboratorium
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d vistel rektovaginal, dysuria

Tujuan :
Pasien merasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan
KH:

Nyeri berkurang

Pasien merasa tenang

Intervensi :

3.

kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien


Ajarkan teknik relaksasi distraksi
Berikan posisi yang nyaman pada pasien
Jelaskan penyebab nyeri dan awasi perubahan kejadian
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia

Tujuan :
Tidak terjadi kekurangan nutrisi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam dengan KH :

Pasien tidak mengalami penurunan berat badan


Turgor pasien baik
Pasien tidak mual, muntah
Nafsu makan bertambah

Intervensi :

4.

Kaji KU pasien
Timbang berat badan pasien
Catat frekuensi mual, muntah pasien
Catat masukan nutrisi pasien
Beri motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi
Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pengaturan menu
Nyeri b.d trauma jaringan post operasi (Kolostomi)

Tujuan :
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 24 jam pertama dengan
KH:

Nyeri berkurang
Pasien merasa tenang
Tidak ada perubahan tanda vital

Intervensi :

Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien


Berikan penjelasan pada pasien tentang nyeri yang terjadi

Berikan tindakan kenyamanan, yakinkan pada pasien bahwa perubahan posisi


tidak menciderai stoma
Ajarkan teknik relaksasi, distraksi
Bantu melakukan latihan rentang gerak
Awasi adanya kekakuan otot abdominal
Kolaborasi pemberian analgetik

5.
Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak
terkontrol
Tujuan :
Tidak terjadi kerusakan integritas kulit setalah dilakukan tindakan keperawatan 24 jam
pertama dengan KH:

Mempertahankan integritas kulit


Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit
Mengindentifisikasi faktor resiko individu

Intervensi :

Lihat stoma/area kulit peristomal pada setiap penggantian kantong


Ukur stoma secara periodik misalnya tiap perubahan kantong
Berikan perlindungan kulit yang efektif
Kosongkan irigasi dan kebersihan dengan rutin
Awasi adanya rasa gatal disekitar stoma
Kolaborasi dengan ahli terapi.