Anda di halaman 1dari 8

Dari http://blog.nuklir.org/?

p=2666
Akselerator Partikel untuk Radioterapi
738 hari ago by Admin 0

Oleh : Mukhlis Akhadi

Penggunaan radiasi dalam bidang


kedokteran terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Dalam bidang kedokteran,
pemanfaatan teknik nuklir ini meliputi tindakan-tindakan radiodiagnosa, radioterapi, dan kedokteran
nuklir. Ketiga jenis kegiatan tersebut umumnya menggunakan sumber radiasi yang spesifikasi fisiknya
berbeda-beda. Penggunaan radiasi pengion untuk keperluan diagnosa dalam bidang kedokteran
disebut radiodiagnosa, yaitu suatu metode untuk mengetahui ada tidaknya kelainan dalam tubuh
dengan menggunakan radiasi pengion, terutama sinar-X.
Untuk tujuan medik, tubuh manusia yang pada prinsipnya dapat dibedakan baik secara anatomi
maupun fisiologi, pada mulanya merupakan objek yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata.
Namun, dengan ditemukannnya sinar-X, tubuh manusia ternyata dapat diubah menjadi objek yang
transparan. Sinar-X mampu membedakan kerapatan dari berbagai jaringan dalam tubuh manusia yang
dilewatinya. Dengan penemuan sinar-X ini, informasi mengenai tubuh manusia menjadi mudah
diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah. Masyarakat mulai percaya pada kemampuan sinar-X
ketika Roentgen mempertontonkan gambar foto telapak tangan dan jari-jari istrinya yang memakai
cincin yang dibuat menggunakan sinar-X.
Selain untuk keperluan radiodiagnosa, radiasi pengion jenis foton (sinar-_ dan sinar-X) dalam
perkembangan berikutnya juga dimanfaatkan untuk radioterapi. Kedua jenis radiasi tersebut
mempunyai daya tembus yang tinggi terhadap organ tubuh dengan kemampuan tembusnya
ditentukan oleh besar energi yang dimilikinya. Selain menggunakan radiasi foton, sejak beberapa
dasawarsa lalu juga telah dirintis pemanfaatan berbagai jenis partikel nuklir untuk radioterapi. Kini,
ada berbagai jenis radiasi pengion untuk keperluan radioterapi yang dibangkitkan menggunakan
akselerator (alat pemercepat) partikel.
Akselerator adalah alat yang dipakai untuk mempercepat gerak partikel bermuatan seperti elektron,
proton, inti-inti ringan, dan inti atom lainnya. Mempercepat gerak partikel bertujuan agar partikel
tersebut bergerak sangat cepat sehingga memiliki energi kinetik yang sangat tinggi. Untuk
mempercepat partikel ini diperlukan medan listrik ataupun medan magnet. Dilihat dari jenis gerakan

partikel, ada dua jenis akselerator, yaitu akselerator dengan gerak partikelnya lurus (lebih dikenal
dengan sebutan akselerator linier) dan gerak partikelnya melingkar (akselerator magnetik).
Akselerator partikel pertama kali dikembangkan oleh dua orang fisikawan Inggris, J.D. Cockcroft dan
E.T.S. Walton, di Laboratorium Cavendish, Universitas Cambridge pada 1929. Atas jasanya ini, mereka
dianugerahi hadiah Nobel bidang fisika pada 1951. Pada mulanya, akselerator partikel dipakai untuk
penelitian fisika energi tinggi dengan cara menabrakkan partikel berkecepatan sangat tinggi ke target
tertentu. Namun, ada beberapa jenis akselerator partikel yang dirancang untuk memproduksi radiasi
berenergi tinggi untuk keperluan radioterapi.
Tabung sinar-X merupakan contoh paling sederhana tentang jenis akselerator partikel tunggal. Dalam
tabung ini, elektron yang dipancarkan oleh filamen panas dipercepat melalui tabung hampa menuju
target tungsten atau wolfram (W) yang diberi beda potensial positif tinggi terhadap sumber elektron.
Sinar-X terpancar ketika elektron berkecepatan tinggi tersebut berhenti dalam target. Tabung sinar-X
dioperasikan dalam beda tegangan hingga kira-kira 2 x 106 V. Hal itu berarti elektron dipercepat di
dalam tabung hingga memiliki energi kinetik sebesar 2 x 106 eV, dan sinar-X yang dihasilkannya
memiliki energi maksimum 2 x 106 eV atau 2 MeV.
Tabung Betatron dan Sinkrotron Elektron
Untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, para ilmuwan telah membangun mesin
pembangkit sinar-X yang sangat kuat. Salah satu di antaranya adalah mesin pembangkit yang diberi
nama betatron. Mesin ini pada prinsipnya adalah suatu tabung sinar-X berukuran sangat besar.
Betatron pertama kali diperkenalkan pada 1941 oleh Donald William Kerst dari Universitas Illinois,
Amerika Serikat. Penamaan betatron mengacu pada salah satu jenis sinar radioaktif, yaitu sinar-,
yang merupakan aliran elektron berkecepatan tinggi.
Betatron terdiri atas tabung kaca hampa udara berbentuk cincin raksasa yang diletakkan di antara dua
kutub magnet yang sangat kuat. Penyuntik berupa filamen panas yang berperan sebagai pemancar
elektron dipasang untuk menginjeksikan aliran elektron ke dalam tabung pada sudut tertentu. Setelah
elektron disuntikkan ke dalam tabung, ada dua gaya yang akan bekerja pada eletron tersebut. Gaya
yang pertama membuat elektron bergerak mengikuti lengkungan tabung. Di dalam medan magnet,
partikel akan bergerak melingkar. Gaya yang kedua berperan mempercepat gerak elektron hingga
kecepatannya semakin tinggi. Melalui gaya kedua ini, elektron memperoleh energi kinetik yang sangat
besar.
Dalam waktu sangat singkat, elektron akan bergerak melingkar di dalam tabung beberapa ribu kali.
Apabila energi kinetik elektron telah mencapai nilai tertentu, elektron dibelokkan dari jalur
lengkungnya sehingga dapat menabrak target secara langsung yang berada di tepi ruangan. Dari
proses tabrakan ini dipancarkan sinar-X berenergi sangat tinggi. Sebagian besar betatron
menghasilkan elektron berenergi kira-kira 20 MeV.
Betatron memiliki kelemahan karena mesin itu memerlukan magnet berukuran sangat besar guna
mendapatkan perubahan fluks yang diperlukan untuk mempercepat elektron. Untuk mengatasi
kelemahan ini, diperkenalkan jenis akselerator elektron lainnya yang menggunakan magnet berbentuk
cincin yang diberi nama sinkrotron elektron. Alat ini berfungsi sebagai pemercepat elektron yang
mampu menghasilkan elektron dengan energi kinetik lebih besar dibandingkan betatron. Elektron
dengan energi antara 50100 kV dipancarkan dari filamen untuk selanjutnya dipercepat di dalam alat.

Pada saat akhir proses percepatan, elektron ditabrakkan menuju sasaran sehingga dihasilkan sinar-X
dengan energi dan intensitas tinggi.
Akselerator Linier

Akseletaror linier (Linear Accelerator,


LINAC) pertama kali diperkenalkan oleh R. Wideroe di Swiss pada 1929, namun unjuk kerjanya saat itu
kurang memuaskan. LINAC mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan akselerator
magnetik. Kelebihan LINAC adalah alat ini memerlukan magnet dengan ukuran yang jauh lebih kecil
dibandingkan pada akselerator magnetik untuk menghasilkan partikel dengan energi kinetik yang
sama.
Ukuran alat dan biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan LINAC kira-kira proporsional dengan
energi akhir partikel yang dipercepat. Sedang pada akselerator magnetik, tenaga yang diperlukan
akan lebih tinggi untuk menghasilkan energi akhir partikel yang sama besarnya. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan partikel berenergi sangat tinggi, LINAC akan lebih ekonomis dibandingkan akselerator
magnetik. Di samping itu, penyuntikan partikel yang akan dipercepat dalam akselerator magnetik
sangat sulit dilakukan, sedang pada LINAC partikel dalam bentuk berkas terkolimasi secara otomatis
terpancar ke dalam tabung akselerator.
LINAC dapat dipakai untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV. Betatron praktis tidak
mungkin mencapai energi setinggi itu karena memerlukan magnet berukuran sangat besar. LINAC
semula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan positif seperti proton. Namun, setelah melalui
berbagai modifikasi, mesin ini dapat pula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan negatif
seperti elektron. Dalam hal ini, elektron yang dipercepat mampu bergerak dengan kecepatan
mendekati kecepatan cahaya (elektron dengan energi 2 MeV bergerak dengan kecepatan 0,98 c,
dengan c adalah kecepatan cahaya). Jika elektron berenegi tinggi itu ditabrakkan pada target dari
logam berat maka dari pesawat LINAC ini akan dipancarkan sinar-X berenergi tinggi.
Radioterapi dapat juga dilakukan menggunakan elektron berenergi tinggi. Elektron yang dipercepat
dalam LINAC dapat langsung dimanfaatkan untuk radioterapi tanpa harus ditabrakkan terlebih dahulu
dengan target logam berat. Jadi, LINAC dapat juga berperan sebagai sumber radiasi partikel berupa
elektron cepat yang dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor.
Akselerator Proton

Radioterapi dengan foton mengandalkan kemampuan foton dalam menghancurkan sel kanker. Jika
foton ditembakkan pada suatu sasaran, elektron-elektron dalam atom sasaran itu akan menyerap
energi foton sehingga elektron memiliki energi yang cukup untuk melepaskan diri dari ikatan inti atom.
Proses lepasnya elektron ini disebut ionisasi. Elektron-elektron inilah yang berperan besar dalam
proses penghancuran sel kanker. Dalam perjalanannya di dalam organ, elektron akan mengionisasi
molekul DNA dalam sel, sehingga sel-sel kanker mengalami kerusakan yang akhirnya mati.
Proton memberikan banyak harapan pada para ahli radiologi untuk pengobatan kanker dengan
ketepatan tinggi. Sejak 1946, fisikawan Robert Wilson dari Harvard telah menyadari kemungkinan
pemanfaatan proton untuk tujuan pengobatan. Wilson mengamati bahwa berkas proton dengan energi
tertentu bergerak menempuh garis lurus dengan panjang jejak relatif sama. Hal ini berarti jika berkas
proton ditembakkan ke organ tubuh, volume organ yang teradiasi proton itu adalah seluas berkas
proton dikalikan panjang jejaknya di dalam tubuh.
Wilson juga mengamati bahwa berkas proton akan kehilangan sebagian besar energinya pada akhir
lintasannya. Oleh sebab itu, berkas proton akan memberikan sebagian besar dosis radiasinya pada
organ tubuh di akhir lintasannya. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk mengkonsentrasikan sebagian
besar dosis radiasi proton pada suatu daerah di mana kanker bersarang. Dengan teknik ini, sel-sel di
permukaan tubuh yang dilalui berkas proton tidak banyak mengalami kerusakan. Jadi, proton akan
jauh lebih efektif dibandingan dengan sinar-_ jika dipakai untuk radioterapi kanker yang bersarang di
kedalaman jauh di bawah permukaan tubuh.
Sifat menguntungkan lainnya yang dimiliki proton adalah bahwa panjang jejaknya di dalam tubuh
sangat ditentukan oleh besar energi yang dimilikinya. Semakin besar energi proton, akan semakin
panjang lintasannya. Sifat ini sangat menguntungkan karena pemberian dosis radiasi pada kanker
yang bersarang di kedalaman tubuh dapat diatur melalui pengaturan energi proton yang akan
ditembakkan ke sasaran itu. Dengan pengaturan energi yang tepat, berkas proton mampu mencapai
tempat dimana kanker bersarang dan akan menyerahkan sebagan besar energinya ke sasaran yang
dituju. Dengan teknik ini, sel-sel normal yang dilalui berkas proton yang berada di antara permukaan
tubuh dan tempat kanker bersarang tidak akan banyak mengalami kerusakan.
Proton merupakan partikel nuklir bermuatan positif sehingga dapat dipercepat di dalam akselerator.
Mempercepat gerak proton ini bertujuan untuk mendapatkan proton dengan energi sesuai dengan
yang diinginkan. Karena dapat dipercepat, maka energi proton dapat diatur sedemikian rupa
disesuaikan dengan kedalaman organ di mana kanker bersarang.
Keuntungan yang paling utama dan tidak dimiliki oleh teknik radioterapi kanker lainnya adalah bahwa
berkas proton dapat diarahan secara tepat menuju sasaran. Karena proton bermuatan listrik maka
berkas itu dapat diarahkan dengan medan magnet dari luar. Itulah sebabnya, proton dapat dipakai
untuk radioterapi kanker yang bersarang dalam organ tubuh yang sangat sensitif seperti mata dan
otak. Karena gerakan proton dapat diarahkan maka proton tidak akan mengalami banyak hamburan
ketika bertabrakan dengan inti atom sel-sel dalam tubuh. Dengan demikian, para dokter dapat
memberikan dosis proton kepada pasien dalam jumlah besar tanpa ada rasa takut akan timbulnya efek
samping terhadap sel-sel normal di sekelilingnya. Dalam radioterapi dengan proton ini, dosis radiasi
yang diberikan kepada pasien bisa tiga kali lebih besar dibandingkan jika radioterapi dilakukan dengan
sinar-_.

Teknik radioterapi dengan proton telah diuji coba penggunaannya di berbagai negara maju. Fermi Lab
telah mengupayakan pembuatan alat pemercepat partikel ukuran kecil dengan panjang melintang
kurang dari 6 m. Setelah diuji coba, mesin tersebut kemudian dipindahkan ke Pusat Medis Universitas
Loma Linda di bagian selatan California. Alat ini merupakan pemercepat partikel pertama di dunia
yang dipakai untuk radioterapi kanker dengan proton. Proyek di Loma Linda akhirnya membangkitkan
kesadaran para pakar radioterapi di seluruh dunia bahwa berkas proton dapat dimanfaatkan secara
efektif untuk radioterapi kanker dengan ketepatan tinggi, bahkan untuk kanker yang bersarang di
tempat sangat sensitif yang tidak bisa dijangkau dengan teknik pengobatan lainnya. Beberapa pusat
riset fisika nuklir seperti Harvard (AS), Uppsala (Swedia), dan Louvain-La-Neuva (Belgia) telah
melengkapi akseleratornya dengan berkas proton untuk radioterapi kanker.
Pelaksanaan radioterapi kanker dengan proton telah diuji coba di beberapa negara. Inggris, sejak 1989
telah mengoperasikan akselerator proton di Douglas Cyclotron Centre. Pasien penderita kanker mata
ocular melanoma mengalami pengobatan di tempat ini. Di Harvard juga telah berhasil dilakukan
pengobatan pasien chordoma, sejenis kanker yang merusak batang otak. Jepang juga memiliki fasilitas
radioterapi dengan proton di Universitas Tsukuba dan berhasil mengobati pasien kanker dengan baik.
Generator Netron
Penelitian radioterapi dengan netron mulai dilakukan sejak 1950 di Hammersmith Hospital di London.
Sejak 1970, setelah diperoleh cukup data tentang efek netron terhadap berbagai jaringan tubuh,
pemanfaatan netron untuk radioterapi mulai dilakukan. Perbedaan utama antara radioterapi dengan
netron dan sinar-X terletak pada cara interaksi berkas radiasi tersebut dengan sel-sel kanker. Di sinilah
netron memiliki kelebihan dibanding sinar-X.
Netron berinteraksi secara langsung dengan inti atom H. Bahan-bahan yang banyak mengandung H
akan lebih banyak menyerap energi netron dibanding bahan lainnya. Jaringan lunak tubuh manusia
sebagian besar terdiri atas air yang tentu saja banyak mengandung atom H, sedang jaringan keras
seperti tulang tidak banyak mengandung H. Berdasarkan perbedaan kadar kandungan H ini, maka
netron dapat menghancurkan sel kanker yang bersarang dalam jaringan lunak tanpa memberi efek
pada jaringan keras. Sedang sinar-X akan lebih banyak terserap oleh jaringan keras, sehingga efeknya
pun akan lebih banyak menimpa jaringan tersebut.
Dalam siklus hidupnya, ada saat di mana sel kanker berada dalam masa istirahat. Dalam fase ini, sel
kanker relatif tahan terhadap radiasi dan ada kemungkinannya tidak akan mati oleh penyinaran
dengan sinar-X. Sebagai akibatnya, dapat tumbuh lagi kanker pasca penyinaran. Netron mempunyai
kelebihan dibandingkan sinar-X untuk radioterapi kanker yang perkembangannya lambat, di mana
sebagian besar sel kanker berada pada fasa istirahat. Kerusakan besar pada sel kanker akibat
penyerapan energi netron tidak memungkinkan sel kanker itu hidup lagi.
Dalam beberapa kasus penyakit kanker, ada suatu sel yang dinamakan sel hipoksit, yaitu sel yang
dapat hidup dan berkembang biak meskipun kekurangan suplai oksigen. Sinar-X ternyata kurang
efektif untuk membunuh sel kanker semacam ini dibanding dengan kemampuannya dalam membunuh
sel yang banyak mendapatkan suplai oksigen. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar-X pada sel
kanker sangat ditentukan oleh keberadaan unsur oksigen di tempat itu. Netron, karena sebagian besar
energinya diserap oleh atom H, dapat membunuh sel hipoksit dengan kemampuan dua kali lipat
dibandingkan sinar-X.

Masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan netron untuk radioterapi ini adalah diperlukannya mesin
pembangkit netron bernama Cyclotron dalam ukuran besar untuk memproduksi netron berenergi
tinggi. Netron dengan energi rendah (7,5 MeV) hanya bisa dipakai untuk terapi kanker di dekat
permukaan tubuh. Sedang untuk menghancurkan sel kanker di kedalaman tubuh diperlukan netron
berenergi kinetik tinggi, yaitu sekitar 30 MeV. Sayangnya, netron merupakan partikel yang tidak
bermuatan listrik sehingga tidak bisa dipercepat untuk memperbesar energinya di dalam akselerator.
Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan netron untuk radioterapi, kini telah berhasil dikembangkan
mesin Cyclotron baru yang mampu memproduksi netron berenergi tinggi. Cyclotron di Catterbredge
mampu mempercepat proton hingga berenergi 65,5 MeV. Proton itu selanjutnya ditabrakkan ke
sasaran yang dibuat dari unsur Be untuk memproduksi neutron dengan energi antara 3040 MeV.
Netron berenergi tinggi ini mampu mencapai tumor yang bersarang di kedalaman tubuh.
EULIMA dan HIMAC
Pemanfaatan radiasi jenis foton untuk terapi ternyata menemui beberapa kendala, sehingga hanya
kanker pada bagian-bagian tubuh tertentu yang dapat diobati dengan baik menggunakan radiasi
foton. Salah satu kendala utamanya adalah bahwa berkas foton yang ditembakkan ke dalam tubuh
akan kehilangan sebagian besar energinya pada awal lintasannya. Jika posisi kanker yang akan diobati
berada jauh di kedalaman tubuh, akan banyak sel norma di permukaan maupun di dalam tubuh yang
mengalami kerusakan karena dilewati oleh berkas foton tersebut.
Untuk mengatasi kendala yang ditemui dalam radioterapi dengan foton, suatu tim internasional yang
terdiri dari para ahli radioterapi, radiologi, dan fisika nuklir dari negara-negara Eropa Barat seperti
Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Netherlands, dan Inggris telah melakukan studi untuk proyek
akselerator medis menggunakan berkas ion berupa inti ringan. Proyek ini dinamakan EULIMA
(European Light Ion Medical Accelerator).
Berkas ion inti ringan adalah suatu inti atom bermuatan positif yang kehilangan semua elektronnya
sehingga ion itu hanya berisi proton dan netron (nukleon) yang terikat menjadi satu. Termasuk dalam
inti ringan di sini adalah inti atom helium (He), carbon (C), dan oksigen (O). Meskipun inti-inti tersebut
lebih berat dibandingkan proton, para ahli fisika nuklir cenderung mengatakannya sebagai inti ringan
karena massanya relatif jauh lebih ringan dibandingkan dengan inti berat seperti uranium. Berkas ion
ini memiliki tiga keuntungan sekaligus jika dipakai untuk radioterapi kanker, yaitu:
1.

Berkas ion mengandung neutron yang sebagian besar energinya diserap oleh hidrogen di
dalam jaringan lunak tubuh manusia, sehingga dapat secara efektif menghancurkan sel kanker
dibandingkan sinar-X dan proton.

2.

Berkas mengandung proton yang bermuatan listrik sehingga dapat dipercepat di dalam
akselerator untuk mencapai energi tertentu dan dapat diarahkan ke sasaran secara tepat dengan
medan magnet dari luar tubuh pasien.

3.

Karena tersusun atas proton dan netron, massa berkas ion lebih tinggi dibandingkan partikel
tunggal seperti proton atau neutron saja, sehingga tidak mengalami banyak hamburan dalam
menuju sasaran. Dengan demikian, berkas ion dapat ditembakkan dan diarahkan ke sasaran
dengan ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan proton.

Joseph Castro bersama timnya di Lawrence Berkeley Laboratory, California, merupakan perintis dalam
penggunaan ion untuk radioterapi di awal 1980-an. Mereka telah melakukan pengobatan pasien tumor
di kepala dan leher dengan berkas ion inti atom helium He, C, dan O. Hasil kerja Castro dan kawan-

kawannya itu menunjukkan bahwa ion berat dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor yang secara
normal sangat sulit ditangani.
National Institute of Radiobiological Science (NIRS), Jepang, telah membangun akselerator untuk
keperluan medik berkekuatan besar yang mampu mempercepat ion-ion berat seperti silikon (Si), argon
(Ar), dan neon (Ne). Fasilitas medik dengan ion berat ini dibangun di Chiba dan diberi nama HIMAC
(Heavy Ion Medical Accelerator in Chiba) yang mulai dioperasikan sejak 1994 lalu. HIMAC memiliki
keakuratan yang sangat tinggi dalam menembakkan radiasi ke sasaran, sehingga para dokter dapat
memberikan dosis radiasi yang tinggi pada pasien kanker tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti
terhadap sel-sel normal di sekeliling sasaran. Di samping itu, pelaksanaan penyinarannya juga dapat
dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Pasien kanker menjalani penyinaran dalam waktu kurang
dari satu menit.
Penutup
Hadirnya akselerator yang dapat dipakai dalam kegiatan medis untuk radioterapi membawa kabar baik
bagi para penderita kanker yang hingga kini masih sulit diobati secara konvensional. Fasilitas
radioterapi dengan akselerator ini merupakan sarana yang sangat bermanfaat untuk mempelajari
metode interaksi antara partikel nuklir seperti proton, netron, maupun berkas inti dengan sel kanker.
Penemuan-pemenuam baru dalam penelitian ini diharapkan dapat membantu mengatasi masalah
kesehatan umat manusia, mengingat kematian tahunan akibat kanker meningkat dari waktu ke waktu.
Data di Jepang, misalnya, menunjukkan bahwa kematian akibat kanker menempati rangking tertinggi
sejak 1979. Jumlah kematian akibat kanker itu mencapai 223.604 kasus pada 1991, sedang jumlah
pasien kanker baru diperkirakan mencapai 500.000 orang pada 2000.
Pihak pengelola rumah sakit beserta seluruh jajaran paramedisnya pun perlu membuka diri guna
menambah wawasan untuk mengikuti perkembangan teknologi radioterapi di dunia internasional.
Perlu diketahui pula bahwa kegiatan radioterapi yang melibatkan peralatan-peralatan canggih dan
rumit seperti akselerator partikel tadi melibatkan cukup banyak tenaga ahli yang terdidik dari berbagai
disiplin ilmu. Di samping itu, peralatan untuk penelitian dalam rangka pemanfaatan partikel nuklir
untuk radioterapi merupakan fasilitas yang canggih dan sangat mahal. Oleh sebab itu, perlu dirintis
adanya jembatan kerjasama antar beberapa instansi terkait yang melibatkan berbagai disiplin ilmu
dalam rangka mengakomodasikan berbagai fasilitas dan sumber daya manusia yang ada untuk
mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan pemanfaatan partikel nuklir dalam radioterapi. Hal
ini perlu ditempuh agar kita tidak tertinggal terlalu jauh oleh negara-negara maju dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan kerjasama antar instansi ini pula akan diperoleh
hasil penelitian yang bernilai tambah. Lembaga-lembaga penelitian juga dapat menerapkan hasil-hasil
penelitiannya untuk kepentingan masyarakat luas.
Daftar Pustaka
1.

Merrick, H., Sinar-X, Ilmu Pengetahuan Populer, Vol. 10, Grolier International Inc./P.T. Widyadara
(1997) hal. 144-151.

2.

Livingstone, M.S., Penghancur Atom, Ilmu Pengetahuan Populer, Vol. 10, Grolier International
Inc./P.T. Widyadara (1997) hal. 158-167.

3.

Sutton, C., Neutron Attack Cancer, New Scientist (September 1985) pp. 40-43.

4.

Aminjoyo, S., Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Kinerja Industri Melalui


Pendayagunaan Akselerator, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah P3TM-BATAN, Yogyakarta
(14-15 Juli 1999), hal. xiv xxv.

5.
6.

Sutton, C., Subatomic Surgery Takes on the Tumours, New Scientist (August 1988) pp. 50-54.
Taylor, J.R. and ZAFIRATOS, C.D., Modern Physics For Scientist and Engineers, Prentice Hall,
Engelwood Cliffs, New Yersey 07632 (1991).

7.

Anonim, Persistent Quest, Research Activity 1997, JAERI, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0011, Japan
(1997), pp. 49.

8.

Krane, K.S., Fisika Modern (Cetakan I, terjemahan oleh Hans J. Wospakrik & Sofia Niksolihin),
Penerbit Universitas Indonesia, Salemba 4, Jakarta 10430 (1992).

9.

Anonim, New Cancer Treatment System with Heavy Particles, Science and Technology in Japan,
Vol. 12 (47), Tokyo, Japan (July/September 1993), pp. 36-39.

10.

Razzak, M.T. dan SUBKI, M.I., Aplikasi dan Perkembangan Teknologi Akselerator untuk Industri,
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah P3TM-BATAN, Yogyakarta (8-10 Juli 1997), hal. xiv
xxxii.

11.

Anonim, State of Progress of Comprehensive 10 Year Strategy for Cancer Control, Science and
Technology in Japan, Vol. 12 (47), Tokyo, Japan (July/September 1993), pp. 40-41.

12.

Jihui, Q., Tisue, T. and Volkoff, A., Atom for Peace, Targeting Technical Cooperation for Results,
IAEA Bulletin, Vol. 42(1), Vienna, Austria (March 2000), pp. 2-7.

13.

Groth, S., Lasting Benefits, Nuclear Application in Health Care, IAEA Bulletin, Vol. 42 (1),
Vienna, Austria (March 2000), pp. 33-40.

14.

IAEA, The Annual Report for 1999 International Atomic Energy Agency, Vienna, Austria (2000),
pp. 44-49.