Anda di halaman 1dari 13

Artikel

Lempeng Tektonik
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Eksperimen Fisika Dasar I
Dosen: Ika Mustika Sari, M.PFis.

Disusun oleh:
Elza Anisa Suwandi
NIM 1305749

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

TEORI TEKTONIK LEMPENG


Teori Tektonik Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah sbh teori dalam
bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti
pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga
menggantikan Teori Continental Drift yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama
abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.
Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas
terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat.
Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir
seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama
karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian
mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu
yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.
Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi,
terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempenglempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang
lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan),
ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung,
dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas
lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a. [1]
Prinsip-prinsip Utama
Bagian luar interior bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer berdasarkan perbedaan
mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Litosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan
astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya
melalui
proses konduksi,
sedangkan
astenosfer
juga
memindahkan
panas
melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat
berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer
sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi
bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan,
dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempeng adalah bahwa litosfer terpisah
menjadi lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda. Lempeng ini bergerak menumpang di
atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan
lempeng biasanya bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti
di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti
di Lempeng Nazca.[16][17] Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas
mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material
kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima",
gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua yang sering
disebut "sial", gabungan dari silikon dan aluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi

ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak
samudera hanya 5-10 km.
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di
mana aktivitas geologis umumnya terjadi sepertigempa bumi dan pembentukan kenampakan
topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi
yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of
Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng
terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian
dasar Samudera Atlantik dan Hindia. Perbedaan antara kerak benua dan samudera ialah
berdasarkan kepadatan material pembentuknya. Kerak samudera lebih padat daripada kerak
benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya silikon.
Kerak samudera lebih padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan
lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih
bersifat mafik ketimbang felsik.[18] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah
permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke
atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.
Jenis-jenis Batas Lempeng
Tiga jenis batas lempeng (plate boundary).
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif
terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang
berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan

mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform
(transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang
berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan
dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas diCalifornia.
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua

lempeng bergerak menjauh satu sama lain.Mid-oceanic ridge dan zona retakan
(rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen
3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua

lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona


subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua
(continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut
yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang
terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan
air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan
pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat
diPegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island
arc).
Kekuatan Penggerak Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan
karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelesapan panas dari mantel telah didapati sebagai

sumber asli dari energi yang menggerakkan tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui
sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer
samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat
pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera
pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi
kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan
penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya
memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga
menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan
astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona
subduksi [19] Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan
lempeng, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti
lempeng Amerika Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami
subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan
diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi. Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi
(tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral
di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan),
mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal
dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi
mantel dari gaya apung (buoyancy forces) [20] Bagaimana konveksi mantel berhubungan
secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang
dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus
dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gayayang
utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.
Gaya Gesek
Basal drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga
pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di
palung samudera. Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi
geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke
dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi
lempengan, atas dan bawah
Gravitasi
Runtuhan gravitasi: Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic
ridge. Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang
merupakan sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini
tenggelam ke dalam mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit
inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. :Dalam teks-teks geologi pada
pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai sebuah doronga. Namun, sebenarnya
sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat
berbeda-beda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan pemekaran hanyalah fitur
yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan litosfer sebelum ia turun ke bawah
lempeng yang bersebelahan menghasilkan kenampakan yang bisa mempengaruhi topografi.
Lalu, mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik bisa juga mengubah
topografi dasar samudera.
Slab-pull (tarikan lempengan)

Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan
padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21]Ada bukti yang cukup banyak bahwa
konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di midoceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik
Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti
ban berjalan. Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah
cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab
pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang
lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi
lempeng sepertiLempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi
juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan
penggerak utama untuk pergerakan lempeng dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi
bahan riset yang sedang berlangsung
Gaya dari luar
Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological
Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat
bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan
pasang bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur di bawah
bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan permuikaan bumi kembali ke
barat. Beberapa juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil ini mungkin juga
menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik, yaitu karena
ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang
di bumi.[22] Pemikiran ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya
dikemukakan oleh bapak dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang
fisikawan Harold Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang
diperlukan akan dengan cepat membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama.
Banyak lempeng juga bergerak ke utara dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat
dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di
Samudera Pasifik yang mengarah ke timur. Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel
bawah, ada sedikit komponen yang mengarah ke barat pada pergerakan semua lempeng
Signifikansi relatif masing-masing mekanisme
Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan
arah dan magnitudo gerakan.
Vektor yang sebenarnya pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi
semua gaya yang bekerja pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap
proses ambil bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan
sifat setiap lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses
tersebut secara aktif menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah
dengan melihat laju di mana setiap lempeng bergerak dan mempertimbangkan bukti yang ada
untuk setiap kekuatan penggerak dari lempeng ini sejauh mungkin. Salah satu hubungan
terpenting yang ditemukan adalah bahwa lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang
tersubduksi bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng
Pasifik dikelilingi zona subduksi (Ring of Fire) sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada
lempeng di Atlantik yang lengket pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng
tersubduksi. Maka, gaya yang berhubungkan dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab
pull dan slab suction) adalah kekuatan penggerak yang menentukan pergerakan lempeng
kecuali untuk lempeng yang tidak disubduksikan. Walau bagaimanapun juga, kekuatan

penggerak pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan dan riset para
ilmuwan
LEMPENG TEKTONIK
(TECTONIC PLATE)
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan
tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini
terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik
muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai
peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang
bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun kerak
samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earth's mantle). Kerak
benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan
material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan pada kerak benua. Demikian
pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen
pada kerak benua (felsik).
Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan
tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir
seperti cairan (fluid).
Litosfer terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan satu
dengan lainnya. Berikut adalah nama-nama lempeng tektonik yang ada di bumi, dan
lokasinya
bisa
dilihat
pada
Peta
Tektonik.

Pergerakan Lempeng (Plate Movement)


Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang satu dengan
lainnya (plate boundaries) terbagi dalam 3 jenis, yaitu divergen, konvergen, dan transform.
Selain itu ada jenis lain yang cukup kompleks namun jarang, yaitu pertemuan simpang
tiga(triple junction) dimana tiga lempeng kerak bertemu.
1. Batas Divergen
Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break apart).
Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah,
membentuk batas divergen.
Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor
spreading). Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan

terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua lempeng
yang saling menjauh tersebut.
Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic Ridge) adalah salah satu contoh divergensi
yang paling terkenal, membujur dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik,
membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan Benua Amerika.
2. Batas Konvergen
Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) ke arah kerak bumi, yang
mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip beneath
another).
Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau
lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction zones). Di zona
tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges)
dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
3. Batas Transform
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each other),
yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai
maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahanbentuk (transform fault).
Batas transform umumnya berada di dasar laut, namun ada juga yang berada di daratan,
salah satunya adalah Sesar San Andreas (San Andreas Fault) di California, USA. Sesar ini
merupakan pertemuan antara Lempeng Amerika Utara yang bergerak ke arah tenggara,
dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat laut.
Sumber: The Dynamic Earth, USGS
Batas Konvergen
Batas konvergen ada 3 macam, yaitu 1) antara lempeng benua dengan lempeng samudra, 2)
antara dua lempeng samudra, dan 3) antara dua lempeng benua.
Konvergen lempeng benuasamudra (OceanicContinental)

Ketika suatu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, lempeng ini
masuk ke lapisan astenosfer yang suhunya lebih tinggi, kemudian meleleh. Pada
lapisan litosfer tepat di atasnya, terbentuklah deretan gunung berapi (volcanic
mountain range). Sementara di dasar laut tepat di bagian terjadi penunjaman,
terbentuklah parit samudra (oceanic trench).

Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah salah satu pegunungan yang


terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng
Nazka dan Lempeng Amerika Selatan.
Konvergen lempeng samudrasamudra (OceanicOceanic)

Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng samudra lainnya,


menyebabkan terbentuknya parit di dasar laut, dan deretan gunung berapi yang pararel
terhadap parit tersebut, juga di dasar laut. Puncak sebagian gunung berapi ini ada
yang timbul sampai ke permukaan, membentuk gugusan pulau vulkanik (volcanic
island chain).
Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh pulau vulkanik dari proses ini.
Pulau ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika
Utara.
Konvergen lempeng benuabenua (ContinentalContinental)

Salah satu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua lainnya. Karena
keduanya adalah lempeng benua, materialnya tidak terlalu padat dan tidak cukup berat
untuk tenggelam masuk ke astenosfer dan meleleh. Wilayah di bagian yang
bertumbukan mengeras dan menebal, membentuk deretan pegunungan non
vulkanik (mountain range).
Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet adalah salah satu contoh pegunungan yang
terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara
Lempeng India dan Lempeng Eurasia.

LEMPENG TEKTONIK
(TECTONIC PLATE)
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi terbentuk dari suatu
lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain.
Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori
Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil
menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya
gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun kerak
samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earth's mantle). Kerak
benua, kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel ini disebut litosfer. Di bawah litosfer
terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan
astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid).
Arthur Holmes dan Harry H. Hess (1960) mengutarakan bahwa
pergerakan lempeng adalah akibat arus konveksi yang terjadi pada
lapisan astenosfer di bawah litosfer. Ketika suatu benda dipanaskan
maka densitas (massa jenis)-nya akan berkurang karena volume benda
tersebut bertambah sementara massa benda tidak berubah. Pada saat
kerapatan benda lebih kecil dari kerapatan fluida maka benda tersebut
mendapat gaya ke atas sehingga naik ke permukaan, kemudian menjadi
dingin dan tenggelam kembali. Begitu seterusnya sehingga terbentuk suatu arus. Dalam kasus
ini, lapisan litosfer merupakan benda sementara lapisan astenosfer merupakan fluida.

PERGERAKAN BENUA: PERSPEKTIF SAINS & QURAN


Pergerakan Benua Menurut Perspektif Sains.
Dahulukala orang-orang beranggapan bumi adalah sesuatu yang rigid atau kaku sementara
benua-benua berada pada kedudukannya yang tetap tidak berpindah-pindah. Belakangan
setelah orang-orang dapat melakukan pemetaan pantai ternyata terdapat kesesuaian morfologi
dari pantai-pantai yang dipisahkan oleh Samudera. Hal ini menjadi titik tolak dari konsepkonsep yang menerangkan bahwa benua-benua tidak tetap akan tetapi selalu
bergerak. Kecepatan pergerakan benua bervariasi antara 1 10 cm/tahun, tergantung
lokasinya.
Kalkulasi
kecepatan
pergerakan
lempeng http://sps.unavco.org/crustal_motion/dxdt/model/
Berdasarkan kecepatan pergerakan ini maka diperkirakan pada sekitar 200 250 juta tahun
lalu semua benua menyatu dan disebut pangea.

Tahun 1857 dua orang ahli kebumian Owen dan Snider mengemukakan bahwa terpisahnya
benua disebabkan oleh adanya bencana luar biasa (katastrofik) dalam sejarah bumi. Tahun
1912 Alfred Wegener memperkenalkan konsep apungan benua atau continental drift yang
mengemukakan bahwa benua-benua bergerak secara lambat melalui dasar samudera. Akan
tetapi teori ini tidak bisa menerangkan adanya dua sabuk gunung api di bumi.
Konsep paling mutakhir yang dianut oleh para ilmuwan sekarang yaitu Teori Tektonik
Lempeng. Teori ini lahir pada pertengahan tahun enampuluhan. Teori ini terutama didukung
oleh adanya Pemekaran Tengah Samudera (Sea Floor Spreading) dan bermula di Pematang
Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge : MOR) yang diajukan oleh Hess (1962). Teori
Tektonik Lempeng adalah penyempurnaan dari teori yang diajukan oleh Alfred Wegener
tahun 1912. Teori tektonik lempeng ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa
geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang
bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra
Kerakbumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang
mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian
yang lebih kecil yang disebut lempeng kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri
dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber
kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng. Gerakan ini terjadi
secara
terus-menerus
sejak
bumi
ini
tercipta
hingga
sekarang.

Lempeng dan pergerakannya


Menurut teori ini kerakbumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat
dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau
bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut.

Ada dua jenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan
sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan
asam dan lebih tebal dari kerak samudera.

Kedalaman akar (root) lempeng benua dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang
diturunkan dari hukum Pascal & hukum Archimedes sbb:
Kedalaman Lempeng Benua = (1 X h)/( 2 - 1)
1
=
Densitas
Lempeng
Benua
2
=
Densitas
Lempeng
Samudra
=
h = Ketinggian puncak benua dari permukaan laut (meter atau km).

=2.8
3.3

gram/cc
gram/cc

Contoh; misal ketinggian suatu benua adalah 2 km di atas permukaan laut, maka benua itu
tertanam atau terpasak ke dalam lempeng samudra sedalam : (2.8 gram/cc X 2 km)/(3.3
2.8) gram/cc = 11.2 km
Jenis Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng kerakbumi ada 3 macam yaitu pergerakan yang saling mendekati
(convergen), saling menjauh (divergen) dan saling berpapasan/bergeseran (transform).

Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari
lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung
yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur
penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai
cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara lempeng
Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di selatan Pulau Jawa
dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan berbagai cekungan seperti
Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan Cekungan Jawa Utara.

Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan


kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur
magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah Samudera di
Lautan Pasific dan Benua Afrika. Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar
mendatar yang besar seperti misalnya sesar (patahan) Semangko di Sumatera atau sesar Besar
San Andreas di Amerika.