Anda di halaman 1dari 13

ASKEP ITP

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Trombositopenia adalah suatu kekurangan trombosit, yang merupakan dari
pembekuan darah pada orang normal jumlah trombosit didalam sirkulasi berkisar antara
150.00-450.00/ul, rata rata berumur 7-10 hari kira kira 1/3 dari jumlah trombosit didalam
sirkulasi darah mengalami penghancuran didalam limpa oleh karena itu untuk
mempertahankan jumlah trombosit supaya tetap normal di produksi150.000-450000 sel
trombosit perhari. Jika jumlah trombosit kurang dari30.000/mL, bisa terjadi perdarahan
abnormal meskipun biasanyagangguan baru timbul jika jumlah trombosit mencapai
kurang dari10.000/mL. (Sudoyo, dkk ,2006). Trombositopenia dapat bersifat
kongenital atau di dapat, dan terjadi akibat penurunan reproduksi trombosit, seperti
pada anemiaaplastik, mielofibrosis, terapi radiasi atau leukimia,
peningkatanpenghancuran trombosit, seperti pada infeksi tertentu ; toksisitas obat,
ataukoagulasi intravaskuler, diseminasi (DIC); distribusi abnormal atausekuestrasi pada
limpa ; atau trombositopenia dilusional setelah hemoragiatau tranfusi sel darah merah.
(Sandara, 2003).
Trombosit dapat juga dihancurkan oleh produksi anti bodi yangdiinduksi oleh obat
seperti yang ditemukan pada quidinin dan emas. Atauoleh autoantibodi(anti bodi yang
bekerja melawan jaringannya sendiri). Antibodi-antibodi ini ditemukan pada penyakit
seperti lupus eritematosus,leukimia limfositik kronis, limfoma tertentu, dan purpura
trombositopenik idiopatik (ITP).
ITP terutama ditemukan pada perempuan muda, bermanifestasisebagai
trombositopenia yang mengancam jiwa dengan jumlah trombosit yang sering
kurang dari 10.000/mm3. antibodi Ig G yang ditemukan padamembran trombosit dan
meningkatnya pembuangan dan penghancuran trombosit oleh sistem makrofag.
(Sylvia & Wilson, 2006).
Trombositopenia berat dapat mengakibatkan kmatian akibatkehilangan
darah atau perdarahan dalam organ-organ vital. Insiden untuk ITP adalah 50-100 juta kasus
baru setiap tahun. Dengan anak melingkupiseparuh daripada bilangan tersebut. Kejadian
atau insiden immuneTrombositopenia Purpura diperkirakan 5 kasus per 100.000 anak-ana
dan2 kasus per 100.000 orang dewasa. Tetapi data tersebut dari populasi atauperkumpulan
berbasis pendidikan yang sangat luas. Kebanyakan kesusutan immune
trombositopenia purpura (ITP) yang pada umumnya terjadi pada anak anak
kurang perhatian medis. Immunetrombositopenia purpura (ITP) dilaporkan 9,5
per 100.000 orang di mirland.(Emedicine, 2008).
2. Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran secara nyata dalam melaksanakan asuhan
keperawatan klien gangguan hematology dan Idiopatic Trombositopenia Purpura
Tujuan Khusus
Untuk memperoleh gambaran nyata mengenai :
Pengkajian klien dengan gangguan hematology dan ITP

Diagnosa yang mungkin timbul pada klien gangguan hematology dan ITP
Intervensi yang akan dilaksanakan pada klien gannguan hematology danITP
Pelaksaan tindakankeperawatan pada klien gangguan hematology danITP
Evaluasi keperawatan klien gangguan hematology dan ITP
Manfaat

Sebagai bahan pembelajaran untuk penderita gangguan hematology dan ITP agar lebih
menjaga kesehatannya

Sebagai tambahan membuat asuhan keperawatan

Sebagai sumber informasi bagi para pembaca

BAB 2
TINJAUAN TEORI
1. KONSEP TEORI
A. DEFINISI
Trombositopenia adalah suatu kekurangan trombosit, yang m e r u p a k a n b a g i a n d a r i
pembekuan darah.
ITP adalah suatu keadaan perdarahan berupa petekie atau ekimosis di kulit / selaput lendir dan
berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang tidak diketahui.
(ITP pada anak tersering terjadi pada umur 2 8 tahun), lebih sering terjadi pada wanita
(Kapita selekta kedokteran jilid 2)
ITP adalah syndrome yang di dalamnya terdapat ppenurunan jumlah trombosit yang
bersirkulasi dalam keadaan sum-sum normal
ITP adalah salah satu gangguan perdarahan didapat yang paling umum terjadi.(Perawatan
Pediatri Edisi 3)
B. ANATOMI FISIOLOGI

ANATOMI DAN KOMPONEN DARAH

KOMPONEN SEL.
1. Sel darah merah (eritrosit).
Merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel lainnya, dalam keadaan
normal mencapai hampir separuh dari volume darah.
Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah
membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh.
Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa
karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali
ke paru-paru.
2. Sel darah putih (leukosit.
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap
660 sel darah merah.
Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerja sama untuk membangun
mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibodi.
- Neutrofil, juga disebut granulosit karena berisi enzim yang mengandung granulgranul, jumlahnya paling banyak.
Neutrofil membantu melindungi tubuh melawan infeksi bakteri dan jamur dan
mencerna benda asing sisa-sisa peradangan.
Ada 2 jenis neutrofil, yaitu neutrofil berbentuk pita (imatur, belum matang) dan
neutrofil bersegmen (matur, matang).
- Limfosit memiliki 2 jenis utama, yaitu limfosit T (memberikan perlindungan
terhadap infeksi virus dan bisa menemukan dan merusak beberapa sel kanker) dan
limfosit B (membentuk sel-sel yang menghasilkan antibodi atau sel plasma).
- Monosit mencerna sel-sel yang mati atau yang rusak dan memberikan perlawanan
imunologis terhadap berbagai organisme penyebab infeksi.
- Eosinofil membunuh parasit, merusak sel-sel kanker dan berperan dalam respon

alergi.
- Basofil juga berperan dalam respon alergi.
3. Platelet (trombosit).
Merupakan paritikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel
darah merah atau sel darah putih.
Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan darah untuk menghentikan perdarahan,
trombosit berkumpul dapa daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktivan.
Setelah mengalami pengaktivan, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal
untuk membentuk sumbatan yang membantu menutup pembuluh darah dan menghentikan
perdarahan.
Pada saat yang sama, trombosit melepaskan bahan yang membantu mempermudah
pembekuan.
Sel darah merah cenderung untuk mengalir dengan lancar dalam pembuluh darah, tetapi tidak
demikian halnya dengan sel darah putih. Banyak sel darah putih yang menempel pada
dinding pembuluh darah atau bahkan menembus dinding untuk masuk ke jaringan yang lain.
Jika sel darah putih sampai ke daerah yang mengalami infeksi atau masalah lainnya, mereka
melepaskan bahan-bahan yang akan lebih banyak menarik sel darah putih. Fungsi sel darah
putih adalah seperti tentara, menyebar di seluruh tubuh, tetapi siap untuk dikumpulkan dan
melawan berbagai organisme yang masuk ke dalam tubuh.

Di dalam sumsum tulang, semua sel darah berasal dari satu jenis sel yang disebut sel stem.
Jika sebuah sel stem membelah, yang pertama kali terbentuk adalah sel darah merah yang

belum matang (imatur), sel darah putih atau sel yang membentuk trombosit (megakariosit).
Kemudian jika sel imatur membelah, akan menjadi matang dan pada akhirnya menjadi sel
darah merah, sel darah putih atau trombosit.
Fungsi
Mencegah ke bocoran darah spontan pada pembuluh darah kecil,membant proses pembekuan
darah
C. ETIOLOGI
a.
Penyebab dari ITP tidak diketahui secara pasti, mekanisme yang terjadi melalui
pembentukan antibody yang menyerang sel trombosit, sehinngga sel trombosit mati. (Imran,
2008). Penyakit ini diduga melibatkan reaksi autoimun, diman tubuh menghasilkan antibodi
yang meyerang trombositnya sendiri. Dalam kondisi normal, anti bodi adalah respon tubuh
yang sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk kedalam tubuh. Tetapi untuk pendrita ITP,
antibodinya bahkan menyeran sel-sel darah tubuhnya sendiri. (Family Doctor, 2006)
Meskipun pembentukan trombosit sumsum tulang meningkat,persediaan trombosit
yang ada tetap tidak dapat memenuhi kebutuhantubuh. Pada sebagian besar kasus, diduga
bahwa ITP disebabkan oleh system immune dalam tubuh. Secara normal system immune
membuat antibody untuk melawan benda asing yang masuk kedalam tubuh. Pada penderita
ITP, system immune melawan platelet dalam tubuh sendiri. Alasan system immune
menyerang platelet dalam tubuh masih belum diketahui. (Anainformation center, 2008).
b.
ITP kemungkinan juga disebabkan oleh hepersplenisme, infeksi virus, intoksikasi
makanan atau obat atau bahan kimia, pengaruh fisis (radiasi,panas), kekurangan factor
prmatangan (misalnya: malnutrisi), koagulasi intravaskuler diseminata (KID), autoimn,.
Berdasarkan kanetiologi, ITP dibagi menjadi 2 yaitu primer (idiopatik) dan sekunder.
Berdasarkan awitan penyakit dibedakan tipe akut bila kejadiannya kurang atau sama dengan
6 bulan (umumnya terjadi pada anak-anak) dan kronik bila lebih dari 6 bulan (umumnya
terjadi pada orang dewasa).
c.
ITP juga terjadi pada pengidap HIV. Sedangkan obat-obatan seperti heparin, minuman
keras, quinidine, sulfonamides juga bleh menyebabkan trombositopenia. Biasanya tandatanda penyakit dan factor-faktor yang berikatan dengan penyakit ini adalah seperti berikut :
parpura, pendarahan haid darah yang banyak dan tempo lama, pendarahan dalam lubang
hidung, pendarahan radang gigi, immunisasi virus yang terkini, dan penyakit virus yang
terkini.
d.
Jenis ITP
a. Akut.
Awalnya dijumpai trombositopenia pada anak.
Jumlah trombosit kembali normal dalam 6 bulan setelah diagnosis (remisi spontan).
Tidak dijumpai kekambuhan berikutnya.
b. Kronik
Trombositopenia berlangsung lebih dari 6 bulan setelah diagnosis.
Awitan tersembunyi dan berbahaya.
Jumlah trombosit tetap di bawah normal selama penyakit.
Bentuk ini terutama pada orang dewasa.
c. Kambuhan
Mula-mula terjadi trombositopenia.
Relaps berulang.
Jumlah trombosit kembali normal diantara waktu kambuh.

D. GEJALA KLINIS
Awitan biasanya akut dengan gambaran sebagai berikut:
a. Masa prodormal, keletihan, demam dan nyeri abdomen.
b. Secara spontan timbul petekie dan ekimosis pada kulit.
c. Epistaksis.
d. Perdarahan mukosa mulut.
e. Menoragia.
f. Memar.

E. PATOFISIOLOGI
virus
pembuluh darah
limfe,sumsum

humural antiplatelet

PAIgG
tulang,hati

factor/platelet associ

PAIgG dan antigen membentuk

ate IgG (PAIgG)

kompleks antigen-antibodi
melekat pada trombosit

destruksi trombosit
jumlah trombosit
jika terjadi trauma
perdarahan
fungsi organ

dibawah kulit
anemia

inflamasi organ

ekimosis,ptekie,memar

gangguan
integritas
kulit

resti injuri

resti infeksi

edem

nyeri

demam

gangguan peningkatan
suhu tubuh

F. PENATALAKSANAAN
a. ITP Akut
Ringan: observasi tanpa pengobatan sembuh spontan.
Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan jumlah trombosit belum naik, maka berikan
kortikosteroid.
Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid, maka berikan immunoglobulin per IV.
Bila keadaan gawat, maka berikan transfuse suspensi trombosit.
b. ITP Menahun
Kortikosteroid diberikan selama 5 bulan.
Missal: prednisone 2 5 mg/kgBB/hari peroral. Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid
berikan immunoglobulin (IV).
Imunosupressan: 6 merkaptopurin 2,5 5 mg/kgBB/hari peroral.
- Azatioprin 2 4 mg/kgBB/hari per oral.
- Siklofosfamid 2 mg/kgBB/hari per oral.
Splenektomi.
- Indikasi:
Resisten terhadap pemberian kortikosteroid dan imunosupresif selama 2 3 bulan.
Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian kortikosteroid saja dengan
gambaran klinis sedang sampai berat.
Penderita yang menunjukkan respon terhadap kortikosteroid namun perlu dosis tinggi untuk
mempertahankan klinis yang baik tanpa perdarahan.
- Kontra indikasi:
Anak usia sebelum 2 tahun: fungsi limpa terhadap infeksi belum dapat diambil alih oleh alat
tubuh yang lain (hati, kelenjar getah bening dan thymus)
2. KONSEP DASAR ASKEP
A. PENGKAJIAN
a. Asimtomatik sampai jumlah trombosit menurun di bawah 20.000.
b. Tanda-tanda perdarahan.
Petekie terjadi spontan.
Ekimosis terjadi pada daerah trauma minor.
Perdarahan dari mukosa gusi, hidung, saluran pernafasan.
Menoragie.
Hematuria.
Perdarahan gastrointestinal.

c. Perdarahan berlebih setelah prosedur bedah.


d. Aktivitas / istirahat.
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum.
- toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat.
- kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
e. Sirkulasi.
Gejala : riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat.
- palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.
f. Integritas ego.
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan: penolakan transfuse darah.
Tanda : DEPRESI.

g. Eliminasi.
Gejala : Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare, konstipasi.
Tanda : distensi abdomen.
h. Makanan / cairan.
Gejala : penurunan masukan diet.
- mual dan muntah.
Tanda : turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
i. Neurosensori.
Gejala : sakit kepala, pusing.
- kelemahan, penurunan penglihatan.
Tanda : epistaksis.
- mental: tak mampu berespons (lambat dan dangkal).
j. Nyeri / kenyamanan.
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
Tanda : takipnea, dispnea.
k. Pernafasan.
Gejala : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, dispnea.
l. Keamanan
Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse darah sebelumnya.
Tanda : petekie, ekimosis.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa
oksigen darah.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
e. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi informasi.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
Tujuan:
Menghilangkan mual dan muntah
Kriteria hasil:
Menunjukkan berat badan stabil
Intervensi keperawatan:
Berikan nutrisi yang adekuat secara kualitas maupun kuantitas.
Rasional : mencukupi kebutuhan kalori setiap hari.
Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan yang sesuai dengan kalori.
Pantau pemasukan makanan dan timbang berat badan setiap hari.
Rasional : anoreksia dan kelemahan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan
malnutrisi yang serius.
Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
Rasional : sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi pasien.
Libatkan keluarga pasien dalam perencanaan makan sesuai dengan indikasi.
Rasional : meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk
memahami kebutuhan nutrisi pasien.
b. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
Tujuan:
Tekanan darah normal.
Pangisian kapiler baik.
Kriteria hasil:
Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
Intervensi keperawatan:
Awasi TTV, kaji pengisian kapiler.

Rasional : memberikan informasi tentang derajat/ keadekuatan perfusi jaringan dan


membantu menentukan kebutuhan intervensi.
Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.
Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan
seluler.
Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangasang.
Rasional : dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia.
Awasi upaya parnafasan, auskultasi bunyi nafas.
Rasional : dispne karena regangan jantung lama / peningkatan kompensasi curah jantung.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa
oksigen darah.
Tujuan:
Mengurangi distress pernafasan.
Kriteria hasil:
Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
Intervensi keperawatan:
Kaji / awasi frekuensi pernafasan, kedalaman dan irama.
Rasional : perubahan (seperti takipnea, dispnea, penggunaan otot aksesoris) dapat
menindikasikan berlanjutnya keterlibatan / pengaruh pernafasan yang membutuhkan upaya
intervensi.
Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman.
Rasional : memaksimalkan ekspansi paru, menurunkan kerja pernafasan dan menurunkan
resiko aspirasi.
Beri posisi dan Bantu ubah posisi secara periodic.
Rasional : meningkatkan areasi semua segmen paru dan mobilisasikan sekresi.
Bantu dengan teknik nafas dalam.
Rasional : membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan:
Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas.
Kriteria hasil:
Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi keperawatan:
Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas normal, catat laporan kelemahan,
keletihan.
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
Awasi TD, nadi, pernafasan.
Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk emmbawa jumlah
oksigen ke jaringan.
Berikan lingkungan tenang.
Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh.

Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.


Rasional : hipotensi postural / hipoksin serebral menyebabkan pusing, berdenyut dan
peningkatan resiko cedera.
e. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi informasi.
Tujuan:
Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan.
Kriteria hasil:
Menyatakan pemahaman proses penyakit.
Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan.
Intervensi keperawatan:
Berikan informasi tntang ITP. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan
beratnya ITP.
Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga keluarga / pasien dapat membuat pilihan
yang tepat.
Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic.
Rasional : ketidak tahuan meningkatkan stress.
Jelaskan bahwa darah yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium tidak akan memperburuk
ITP.
Rasional : merupakan kekwatiran yang tidak diungkapkan yang dapat memperkuat ansietas
pasien / keluarga.
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. Memberikan seka pada klien
2. Mendemonstrasikan pola hidup bersih yang benar seperti mandi 3 x sehari
3. Mengajarkan klien dalam melakukan aktifitas
4. Untuk relaksasi mengajarkan klien untuk menarik secara dalam dan
mengeluarkansecara perlahan dari mulut
5. Memberikan salep dan balutan steril
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Menunjukkan berat badan stabil
Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.
Menyatakan pemahaman proses penyakit.
Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan

BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan

Trombositopenia menggambarkan individu yag mengalami ataupada resiko tinggi


untuk mengalami insufisiensi trombosit sirkulasi.Penurunan ini dapat disebabkan
oleh produksi trombosit yang menurun, d i s t r i b u s i t r o m b o s i t y a n g b e r u b a h ,
p e n g r u s a k a n t r o m b o s i t , a t a u d i l u s i vaskuler.G e j a l a d a n t a n d a p a d a p a s i e n
y a n g m e n d e r i t a p e n y a k i t I T P adalah Hidung mengeluarkan darah atau pendarahan
pada gusi Ada darahpada urin dan feses Beberapa macam pendarahan yang sukar
dihentikandapat menjadi tanda ITP. Termasuk menstruasi yang berkepanjangan
padawanita. Pendarahan pada otak jarang terjadi, dan gejala pendarahan pada otak
dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Jumlah platelet yangrendah akan
menyebabkan nyeri, fatigue (kelelahan), sulit berkonsentrasi,atau gejala yang lain.
Tindakan keperawatan yang utama adalah dengan mencegah atau mengatasi
perdarahan yang terjadi.
2. Saran
a . Perawat harus membantau setiap perkembangan yang terjadi pada pasien yang
menderita ITP.
b . Perawat harus bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain, seperti tenaga
kesehatan yang bekerja di laboratorium yaitu untuk memerikasa jumlah trombosit pasien.
c . Perawat harus menerapkap komunikasi asertif terapeutik guna
menurunkan tingkat kecemasan pasien

DAFTAR PUSTAKA
D o r l a n d , W.A N e w m a , 2 0 0 6 , Kamus Kedokteran Dorland. E d i s i
Jakarta.
Guyton, 2003, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, EGC: Jakarta
Behrman. 2006. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. Jakarta : EGC
Betz, Cecily L. 2003. Buku Saku Keperawatan Pediatri edisi 3. Jakarta : EGC
Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta

2 9 , EGC :

Ngastiyah. 2003. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC


Robbins dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta: EGC
Santosa, Budi. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika