Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bidang industri farmasi, perkembangan tekhnologi farmasi sangat berperan
aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini banyak ditunjukan dengan
banyaknya sediaan obat-obatan yang disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat,
kondisi pasien dan penigkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek samping obat tanpa
harus mengurangi atau mengganggu dari efek farmakologis zat aktif obat.
Sekarang ini banyak bentuk sediaan obat yang kita jumpai dipasaran antara lain:
Dalam bentuk sediaan padat: Pil, Tablet, Kapsul. Supposutoria. Dalam bentuk sediaan
setengah padat: Krim, Salep. Dalam bentuk cair: Sirup, Eliksir, Suspensi, Emulsi dan lainlain. Salep merupakan salah satu contoh sediaan semisolid yang ditujukan untuk pemakaian
topikal kulit atau selaput lender salep tidak boleh berbau tengik kecuali dinyatakan lain, kadar
bahan obat dalam salep mengandung obat keras narkotika adalah 10% (FI. IV).

1.2 Tujuan
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa mampu melakukan kajian preformulasi,
membuat formulasi, produk jadi, dan kajian evaluasi sediaan salep.
1.3 Manfaat
Mahasiswa mampu melakukan kajian preformulasi, membuat formulasi, produk jadi,
dan kajian evaluasi sediaan salep.

Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Salep dan cream adalah sediaan yang berbentuk setengah padat, terutama untuk
pemakaian lokal. Sediaan setengah padat ini diformulasikan dengan konsistensi sedemikian
rupa, sehingga diperoleh produk yang halus dan lembek yang mudah dioleskan pada permukaan
kulit. Bagian kulit yang paling berpengaruh untuk absorpsi obat adalah : bagian epidermis,
kelenjar rambut, kelenjar keringat serta kelenjar minyak.
Epidermis adalah lapisan kulit paling luar di mana salep/cream tersebut dioleskan. Tebal
epidermis tersebut berlain-lainan tergantung dari letak kulit, sehingga sangat berpengaruh pada
daya penyerapan obat. Bagian epidermis ini dilapisi oleh suatu lapisan film yang terdiri dari
lemak-lemak, yang mempunyai pH sekitar 4,5-6,5 dengan akibat diperoleh absorpsi yang
berbeda pula. Telah terbukti bahwa absorpsi obat ke dalam kulit selain melalui lapisan
epidermis tadi, juga melalui saluran-saluran di dalam kulit, seperti kelenjar rambut dan kelenjar
keringat.
Faktor-faktor yang memegang peranan di dalam proses absorpsi melalui kulit antara
1.
2.
3.
4.
5.

lain adalah:
Koefisien partisi dari pada obat.
Kelembaban dan suhu kulit.
Jenis penyakit yang terdapat pada kulit.
Konsentrasi bahan berkhasiat.
Dasar salep/cream yang dipakai.
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai
obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lender (Anonim, 1979).
Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok: dasar salep
senyawa hidrokarbon, dasar saleop serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar
salep yang dapat larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tersebut (Anonim, 1995)

Page

Macam-macam dasar salep antara lain :


1. Dasar salep hidrokarbon,
Dasar salep ini yaitu terdiri antara lain vaselin putih, Vaselin kuning, Paravin
encer, Paravin padat, Jelene, Minyak tumbuh-tumbuhan, Campuran Vaselin dengan malam
putih, malam kuning.
Dasar salep hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair mungkin dapat
dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar bercampur. Dasar
hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar salep tersebut bertahan pada kulit
untuk waktu yang lama dan tidak memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci.
Kerjanya sebagai bahan penutup saja. Tidak mengering atau tidak ada perubahan dengan
berjalannya waktu (Ansel, 1989).
2. Dasar salep serap
Dasar salep ini dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar
yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (Paraffin hidrofilik
dan Lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat
bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (Lanolin) (Ansel, 1989).
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih
tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit atau dilap basah, sehingga lebih
dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif
dengan menggunakan dasar salep ini. Keuntungan lain adalah dapat diencerkan dengan air
dan mudah menyerap air pada kelainan dermatologik (Ansel, 1989).
4. Dasar salep larut dalam air
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air.
Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicuci dengan air dasar salep ini banyak
memiliki keuntungan (Ansel, 1989).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang diinginkan, sifat
bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, serta stabilitas dan ketahanan sediaan
jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk
mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang dapat terhidrolisis, lebih
stabil dalam dasar salep hidrokarbondaripada dasar salep yang mengandung air meskipun
obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mengandung air (Anief, 2003).
B. Metode Pembuatan Salep
1. Metode Pelelehan

Page

Zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk fasa
yang homogen
2. Metode Triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan salah
satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis
3. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil
Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut dalam air yang tersedia, maka
obatnya dilarutkan dulu dalam air dan dicampur dengan basis salep yang dapat menyerap air,
4. Salep yang dibuat dengan peleburan
a. Dalam cawan porselen
b. salep yang mengandung air tidak ikut dilelehkan tetapi diambil bagian lemaknya (air
ditambahkan terakhir)
c. Bila bahan-bahan dari salep mengandung kotoran, maka masa salep yang meleleh perlu
dikolir (disaring dengan kasa)dilebihkan 10-20%
Basis salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok :
1. basis hidrokarbon,
2. basis absorpsi (basis serap),
3. basis yang dapat dicuci dengan air, dan
4. basis larut dalam air.
Basis salep yang lain seperti basis lemak dan minyak lemak serta basis silikon. Setiap salep
obat menggunakan salah satu basis salep tersebut
Basis hidrokarbon
1. sifat inert
2.

umumnya merupakan senyawa turunan minyak bumi (Petrolatum) yang memiliki bentuk
fisik semisolid dan dapat juga dimodifikasi dengan wax atau senyawa turunan minyak bumi
yang cair (Liquid Petrolatum)

3. Basis ini digolongkan sebagai basis berminyak bersama dengan basis salep yang terbuat dari
minyak nabati atau hewani
Sifat minyak yang dominan pada basis hidrokarbon menyebabkan basis ini sulit
tercuci oleh air dan tidak terabsorbsi oleh kulit. Sifat minyak yang hampir anhidrat juga
menguntungkan karena memberikan kestabilan optimum pada beberapa zat aktif seperti
antibiotik.
Basis ini juga hanya menyerap atau mengabsorbsi sedikit air dari formulasi serta
menghambat hilangnya kandungan air dari sel-sel kulit dengan membentuk lapisan film yang
waterproff.

Page

Basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada kulit. Sifat-sifat tersebut sangat
menguntungkan karena mampu mempertahankan kelembaban kulit sehingga basis ini juga
memiliki sifat moisturizer dan emollient.
Selain mempertahankan kadar air, basis ini juga mampu meningkatkan hidrasi pada
kulit (horny layer) dan hal ini dapat meningkatkan absorbsi dari zat aktif secara perkutan. Hal
ini terbukti dengan mengukur peningkatan efek vasokonstriksi pada pemberian steroid secara
topikal dengan basis hidrokarbon.
Kerugian Basis Hidrokarbon
1. Sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan noda pada pakaian serta sulit tercuci oleh air
sehingga sulit dibersihkan dari permukaan kulit.
2. Hal ini menyebabkan penerimaan pasien yang rendah terhadap basis hidrokarbon jika
dibandingkan dengan basis yang menggunakan emulsi seperti krim dan lotion.
Beberapa contoh kandungan basis hidrokarbon
1. Soft Paraffin
Basis diperoleh melalui pemurnian hidrokarbon semisolid dari minyak bumi. Jenis sof
paraffin yaitu :
berwarna kuning digunakan untuk zat aktif yang berwarna
berwarna putih (melalui proses pemutihan) digunakan untuk zat aktif yang tidak berwarna,
berwarna putih, atau berwarna pucat.
Proses pemutihan menyebabkan sebagian pasien sensitif terhadap soft paraffin yang berwarna
putih
2. Hard Paraffin
Merupakan campuran bahan-bahan hidrokar-bon solid yang diperoleh dari minyak bumi.
Sifat fisiknya tidak berwarna s/d berwarna putih, tidak berbau, memiliki tekstur berminyak
seperti wax, dan memiliki struktur kristalin.
Hard paraffin biasanya digunakan untuk memadatkan basis salep.
3. Liquid Paraffin
Merupakan campuran hidrokarbon cair dari minyak bumi. Umumnya transparan dan tidak
berbau. Mudah mengalami oksidasi sehingga dalam penyimpanannya ditambahkan
antioksidan seperti Butil hidroksi toluene (BHT), digunakan untuk menghaluskan basis salep
dan mengurangi viskositas sediaan krim. Jika dicampur dengan 5% low density polietilen,
lalu dipanaskan dan dilakukan pendinginan secara cepat, akan menghasilkan massa gel yang
mampu mempertahankan konsistensinya dalam rentang suhu yang cukup luas (-15 oC hingga
60oC).
Sifatnya stabil pada perubahan suhu, kompatibel terhadap banyak zat aktif, mudah
digunakan, mudah disebar, melekat pada kulit, tidak terasa berminyak dan mudah
dibersihkan.
Page

C. Pertimbangan Pemilihan Bahan :


Pemilihan basis salep disesuaikan dengan sifat zat aktif dan tujuan penggunaan. Sifat :
1.
2.
3.
4.

Basis hidrokarbon bersifat kompatibel dengan banyak zat aktif karena inert,
Sedikit atau tidak mengandung air,
Tidak mengabsorbsi air dari lingkungannya.
Kandungan airnya yang sangat sedikit dapat mencegah hidrolisis zat aktif seperti beberapa

antibiotik.
5. Kemampuan menyerap air yang rendah menyebabkan basis ini dapat digunakan pada eksudat
6.

(luka terbuka).
Meskipun demikian, basis ini tetap meningkatkan hidrasi kulit sehingga meningkatkan
absorbsi zat aktif secara perkutan.
Oleh karena itu, basis hidrokarbon merupakan basis dari salep dasar dan jika tidak
disebutkan apa-apa maka basis hidrokarbon yang digunakan sebagai salep dasar adalah
vaselin putih.
Dasar salep Hidrokarbon ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, bebas air,
dimana preparat berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja. Bila
lebih, akan susah bercampur. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut/penutup. Dasar salep ini digunakan sebagai
emolien dan sifatnya sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu
lama. Contoh : vaselin kuning dan putih, salep kuning dan putih, paraffin dan minyak
mineral. Vaselin kuning boleh digunakan untuk mata, sedangkan yang putih tidak boleh
karena masih mengandung H2SO4.

1. Vaselin Kuning/Flavum
Vaselin kuning adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah padat
yang diperoleh dari minyak bumi. Dapat mengandung zat penstabil yang sesuai. Pemerian :
massa seperti lemak, kekuningan hingga amber lemah; berfluoresensi sangat lemah walaupun
setelah melebur, dalam lapisan tipis transparan, tidak atau hampir tidak berbau dan berasa.
Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzena, dalam karbon disulfida, dalam
kloroform dan dalam minyak terpentin; larutdalam eter, dalam heksana, dan umumnya dalam
minyak lemak dan minyak atsiri; praktis tidak larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan
dalam etanol mutlak dingin.
2. Vaselin Putih/Album

Page

Vaselin putih adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon setengah padat
yang diperoleh dari minyak bumi dan keseluruhan atau hampir keseluruhan dihilangkan
warnanya. Dapat mengandung zat penstabil yang sesuai. Pemerian : putih atau kekuningan
pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 0
derajat C. Kelarutan : tidak larut dalam air; mudah larut dalam benzena, dalam karbon
disulfida, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar minyak lemak
dan minyak atsiri, sukar larut dalam etanol dingin dan etanol panas dan dalam etanol mutlak
dingin.
3. Parafin
Parafin adalah campuran hidrokarbon padat yang dimurnikan, yang diperoleh dari
minyak tanah. Pemerian : hablur tembus cahaya atau agak buram, tidak berwarna atau putih,
tidak berbau, tidak berasa, agak berminyak. Kelarutan : tidak larut dalam air dan dalam
etanol, mudah larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak menguap, dalam hampir
semua jenis minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak.
4. Salep Kuning
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin dan 950 g vaselin kuning. Lilin kuning adalah lilin
yang dimurnikan yang dihasilkan dari sarang tawon (Apis mellifera). Lelehkan lilin kuning
dalam steam bath, tambahkan vaselin kuning, hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan
pemanasan dan aduk campuran sampai mengental.

5. Salep putih
Tiap 1000 g mengandung 50 g lilin putih dan 950 g vaselin putih. Lilin putih adalah
lilin lebah murni yang diputihkan. Lelehkan lilin putih dalam steam bath, tambahkan vaselin
putih, hangatkan hingga menjadi cair. Hentikan pemanasan dan aduk campuran sampai
mengental.
6. Minyak mineral
Minyak mineral adalah campuran hidrokarbon cair yang diperoleh dari minyak tanah.
Berguna untuk menggerus bahan yang tidak larut pada preparat salep dengan dasar berlemak.
Dapat mengandung bahan penstabil yang sesuai.

Page

BAB III
LEMBAR KERJA PRAKTIKUM
3.1 Kajian Preformulasi
Zat aktif : Tetrasiklin Hidroklorida
a) Pemerian

: serbuk hablur, kuning tidak berbau agak higroskopis, stabil

diudara, tetapi pada pemaparan terhadap cahaya matahari yang kuat dalam
udara lembab menjadi gelap.

Page

b) Kelarutan

: larut dalam air, dalam larutan alkil hidroksida dan dalam

larutan karbonat, sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam kloroform
dan eter.
c) Titik Lebur

d) pKa/pKb

e) pH Larutan

f) Stabilitas

g) Inkompabilitas

h) Polimorfisme :

Zat Tambahan

: paraffin liquid

a) Pemerian

: cairan kental, transparan, tidak berflouroresensi, tidak

berwarna, hampir tidak mempunyai rasa


b) Kelarutan

: tidak larut dalam air dan dalam etanol, mudah larut dalam

kloroform, dalam eter, dalam minyak menguap, dalam hampir semua jenis
minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak
c) Titik Lebur

d) pKa/pKb

e) pH Larutan

f) Stabilitas

g) Inkompabilitas

h) Polimorfisme :

Page

Zat tambahan : Vaselin Album


a) Pemerian

: putih atau kekuningan pucat, massa berminyak transparan

dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 0oC.


b) Kelarutan

: tidak larut dalam air; mudah larut dalam benzena, dalam

karbon disulfida, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan dalam sebagian
besar minyak lemak dan minyak atsiri, sukar larut dalam etanol dingin dan
etanol panas dan dalam etanol mutlak dingin.
c) Titik Lebur

d) pKa/pKb

e) pH Larutan

f) Stabilitas

g) Inkompabilitas

h) Polimorfisme :

3.2 Formula
a) Formula Standar

b) Formula Usulan
Tiap 10 gram mengandung

Tetrasiklin

300 mg

Paraffin Liquid

5%

Vaselin Album95%
Page

Ac. Boric

0,05%

3.3 Alat dan Bahan


Alat

: Mortir, stemper, cawan porselin, kaca arloji, pot salep 10 g

Bahan

: tetrasiklin, paraffin liquid, vaselin album, ac. Boric

3.4 Cara Kerja


Tahap Pengerjaan
Menyiapkan alat dan bahan

Pelaksana
Adi, aimi, anggraeni

Timbang semua bahan

Anisa, ana, adit, adi dan Ai Rudiyat

Melebur paraffin dan vaselin

Ai Rudiyat, Anisa Nurjanah

Menggerus

ac.

Boric,

dan Anggraeni

tetrasiklin
Mencampurkan

leburan

dan Anggraeni, ai Rudiyat

hasil gerusan

Page

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN
4.1 Evaluasi Sediaan Salep
. Uji sifat fisik salep terdiri dari:
a. Viskositas
Viskositas menyatakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi akan
semakin besar tegangan. (Martin dkk, 1993).
b. Daya melekat
Untuk mengetahui lamanya salep melekat pada kulit.
c. Daya menyebar
Untuk mengetahui kelunakan massa salep pada waktu dioleskan pada kulit yang diobati.
d. Daya proteksi
Untuk mengetahui kekuatan salep melindungi kulit dari pengaruh luar pada waktu
pengobatan.
2. Kecepatan pelepasan obat
Untuk mengetahui pelepasan obat pada kulit dengan membran selofan (Voigt, 1984).
Metode pelepasan obat dari basis dapat dilakukan dengan
1. Metode in-vitro
Metode in-vitro terdiri dari:
a. Metode pelepasan tanpa batas membran
b. Metode difusi dengan kontrol membran, yang terdiri dari:
1) Membran kulit tiruan
2) Membran kulit alami
3) Sel difusi
4) Kondisi sel difusi tiruan secara in-vitro (Barry, 1983)

Page

Uji pelarutan in-vitro mengukur laju dan jumlah pelarutan obat dalam suatu
media dengan adanya satu atau lebih bahan tambahan yang terkandung dalam produk
obat. Sifat medium pelarutan juga akan mempengaruhi uji pelarutan. Kelarutan
maupun jumlah obat dalam bentuk sediaan harus dipertimbangkan. Dalam melakukan
uji in-vitro ini perlu diperhatikan beberapa faktor, yaitu
a. Ukuran dan bentuk wadah yang mempengaruhi laju dan tingkat pelarutan.
b. Jumlah pengadukan dan sifat pengadukan. Kenaikan pengadukan dari media pelarut
akan menurunkan tebal stagnant layer mengakibatkan kelarutan obat lebih cepat (Shargel
dan Yu, 2005). Pengadukan terlalu lemah ada resiko cuplikan dalam medium tidak
homogen dan pengadukan terlalu kuat menyebabkan turbulensi (Aiache,1982).
c. Suhu.
Dalam medium percobaan suhu harus dikendalikan pada keadaan yang konstan yaitu
dilakukan pada suhu 37OC sesuai dengan suhu tubuh manusia. Adanya kenaikan suhu
selain dapat meningkatkan gradien konsentrasi juga akan meningkatkan energi kinetik
molekul dan meningkatkan tetapan difusi sehingga akan menaikkan kecepatan disolusi
(Shargel dan Yu, 2005).
d. Medium pelarutan
Sifat medium pelarutan akan mempengaruhi uji pelarutan obat. Medium disolusi
hendaknya tidak jenuh dengan obat. Medium yang baik merupakan persoalan tersendiri
dalam penelitian. Dalam uji, biasanya digunakan suatu media yang lebih besar daripada
jumlah pelarut yang diperlukan untuk melarutkan obat secara sempurna (Shargel dan Yu,
2005).
2.
a.
b.
c.
d.
e.

Metode in-vivo
Penelitian respon fisiologis dan farmakologi pada hewan uji.
Sifat fisika kulit
Metode histologi
Analisis pada cairan badan atau jaringan
Kehilangan permukaan (Barry, 1983).

Page

4.2 Data Hasil Pengamatan


Jenis Uji
Daya Lekat
Daya Sebar
Homogenitas
Proteksi Warna

Hasil Pengamatan
17
1= 5,3 cm 2= 5,5 cm
Tidak Homogen
15 (noda merah belum ada)
30 (mulai ada noda merah)
45 (mulai ada noda merah)
60 (terdapat noda merah)
180 (noda merah semakin
jelas terlihat)
300 ( noda merah jelas
terlihat)

Page

BAB V
PEMBAHASAN
Hasil salep ini telah di evaluasi setelah 1 minggu penyimpanan. Evaluasi yang
dilakukan meliputi uji organoleptik, uji daya sebar, uji daya lekat, uji homogenitas, dan uji
proteksi warna.
1) Uji Organoleptik
Pada hari pembuatan warna salep kuning, karena pengaruh warna dari
tetrasiklin yang berupa serbuk/ hablur kuning. Tetapi, ketika waktu
penyimpanan selama 1 minggu terjadi perubahan warna pada formula menjadi
warna orange. Hal ini dimungkinkan pengaruh dari penambahan ac. Borik
yang ditambahkan sebagai antimikroba, namun membuat perubahan warna.
Penambahan ac. Borik ini memicu ketidakstabilan pada formula, sehingga
perlu diuji coba lagi dengan antimikroba yang tidak inkompabilitas dengan zat
aktifnya.

2) Uji Homogenitas
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui distribusi partikel atau granul hasil dari
uji salep yang dilakukan hasilnya homogen. Hal ini mengartikan bahwa
partikel dari salep tersebut telah terdistribusi dengan baik atau merata. Dapat
dilihat saat sampel salep di oleskan secara merata pada obyek glass,
persebaran butiran-butiran merata.

3) Uji Daya Lekat


Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui lamanya salep melekat pada kulit.
Setelah penyimpanan selama 1 minggu, formula salep ini di uji daya lekatnya
dengan ini didapat lama melekatnya formula selama 17. Semakin lama
melekatnya salep, berarti formula salep yang telah dibuat bagus.

Page

4) Uji Daya Sebar


Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui kelunakan massa salep pada waktu
dioleskan pada kulit yang diobati. Dari uji yang telah dilakukan didapat
diameter salepnya 5,3 cm (pada waktu pengujian pertama), 5,5 cm (pada
waktu pengujian kedua). Lebarnya diameter pada formula ini dipengaruhi oleh
kelunakkan salep, karena salep ini kurang lunak maka diameter yang
dihasilkan kurang maksimal.
5) Uji Proteksi Warna
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan salep melindungi kulit dari
pengaruh luar pada waktu pengobatan. Noda merah yang terbentuknya lama
menunjukkan bahwa salep dapat melindungi kulit.

Page

BAB VI
KESIMPULAN
Formulasi salep ini di evaluasi setelah 1 minggu penyimpanan. Evaluasi ini meliputi
uji organoleptik (warna dan bau) pada hari pembuatan warna salep kuning dari tetrasiklin,
tetapi setelah 1 minggu terjadi perubahan warna yang signifikan menjadi orange. Selain uji
organoleptik di uji pula daya sebarnya, daya lekat dan daya proteksinya.

Page

DAFTAR PUSTAKA
Farmakope Indonesia IV
Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed
Anief, M. 1990. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Page