Anda di halaman 1dari 3

HIGROMA KISTIK

DEFINISI
Higroma kistik adalah anomali dari sistem limpatik yang ditandai dengan kista tunggal
maupun multiple pada jaringan lunak. Kebanyakan (sekitar 75 %) higroma kistik terdapat di
daerah leher. Kelainan ini antara lain juga dapat ditemukan di aksila, mediastinum dan region
inguinalis.
Higroma kistik dapat merupakan kelainan kongenital yang dibawa saat lahir ataupun
yang terjadi pada masa neonatus. Higroma kistik pada bayi dapat berlanjut ke keadaan hydrops
(peningkatan jumlah cairan di dalam tubuh) yang kadang-kadang dapat menyebabkan kematian
dan dapat menjadi sangat besar di bandingkan dengan badan bayi/anak.

ETIOLOGI
Anyaman pembuluh limfe yang pertama kali terbentuk di sekitar pembuluh vena
mengalami dilatasi dan bergabung membentuk jala yang di daerah tertentu akan berkembang
menjadi sakus limfatikus. Pada embrio usia 2 bulan, pembentukan sakus primitif telah sempurna.
Bila hubungan saluran ke arah sentral tidak terbentuk maka timbullah penimbunan cairan yang
akhirnya membentuk kista berisi cairan. Hal ini paling sering terjadi di daerah leher (higroma
kistik koli). Kelainan ini dapat meluas ke segala arah seperti ke jaringan sublingualis di mulut.
Higroma kistik dapat terjadi akibat beberapa faktor antara lain:
1. Faktor lingkungan
Dapat disebabkan oleh infeksi karena virus selama masa kehamilan dan penyalahgunaan zat,
obat-obatan dan alkohol. Infeksi pavovirus merupakan yang paling sering terjadi. Ketika
virus menginfeksi ibu, maka virus akan masuk ke dalam tubuh dan menyerang ke plasenta
dan dapat menyebabkan higroma pada janin.
2. Faktor genetik

Mayoritas higroma kistik yang ditemukan pada masa prenatal banyak dihubungkan dengan
Sindrom Turner. Abnormalitas kromosom lain termasuk trisomi 13, 18, 21 dan 47 XXY juga
dihubungkan dengan higroma kistik.

PATOLOGI
Pada mulanya bagian dalam kista dilapisi oleh selapis sel endotel dan berisi cairan jernih
kekuningan yang sesuai dengan cairan limfe. Pada permukaan ditemukan kista besar yang makin
ke dalam menjadi makin kecil seperti buih sabun. Higroma kistik dapat mencapai ukuran yang
besar dan menyusup ke otot leher dan daerah sekitarnya seperti faring, laring, mulut dan lidah.
Yang terakhir dapat menyebabkan makroglosia.

GAMBARAN KLINIK
Keluhan biasanya adalah adanya benjolan di leher yang telah lama atau sejak lahir tanpa
nyeri atau keluhan lain. Benjolan ini berbentuk kistik, berbenjol-benjol dan lunak. Permukaannya
halus, lepas dari kulit dan sedikit melekat pada jaringan dasar. Kebanyakan terletak di regio
trigonum posterior koli. Sebagai tanda khas, pada pemeriksaan transiluminasi positif (tembus
cahaya).
Benjolan ini jarang menimbulkan gejala akut, tetapi suatu saat dapat cepat membesar
karena radang dan menimbulkan gejala gangguan pernafasan akibat pendesakan saluran nafas
seperti trakea, orofaring maupun laring. Bila terjadi perluasan ke arah mulut dapat timbul
gangguan menelan. Perluasan ke aksila dapat menyebabkan penekanan pleksus brakialis dengan
berbagai gejala neurologik.

STAGING
Menurut De Serres, stadium higroma kistik ini dapat dibagi menjadi 5, yaitu:
-

I
II
III
IV
V

: Unilateral infrahyoid (17 % complication rate)


: Unilateral suprahyoid (41 % complication rate)
: Unilateral and both infrahyoid and suprahyoid (67 % complication rate)
: Bilateral suprahyoid (80 % complication rate)
: Bilateral infrahyoid and suprahyoid (100 % complication rate)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

CT Scan leher untuk melihat batas area tumor


MRI dapat dilakukan bila fasilitas meadai dan hasilnya lebih detail dibanding CT Scan
Foto leher untuk melihat deviasi tulang servikal akibat desakan tumor

PENATALAKSANAAN
Eksisi total merupakan pilihan utama. Pembedahan dimaksudkan untuk mengambil
keseluruhan massa kista. Tetapi bila tumor besar dan telah menyusup ke organ penting seperti
trakea, esofagus atau pembuluh darah, ekstirpasi total sulit dikerjakan. Maka penanganannya
cukup dengan pengambilan sebanyak-banyaknya kista. Kemudian pasca bedah dilakukan
infiltrasi bleomisin subkutan untuk mencegah kekambuhan.
Pembedahan sebaiknya dilakukan setelah proide neonatus karena mortalitas akibat
pembedahan pada periode neonatus cukup tinggi.