Anda di halaman 1dari 11

STRESS PADA GURU

Oleh
Rahayu Apriliaswati
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mengenal stress pada guru serta faktor-faktor
penyebabnya, dampak dan bagamana mengatasinya.

Berbagai penelitian menjadi

rujukan dari pada tulisan ini. Dari hasil penelitian-penelitian tersebut ditemukan
bahwa

penyebab stress terbesar adalah workload (beban kerja berlebihan) dan

dampak stress pada guru berakibat sangat serius terhadap siswa maupun sistem
pendidikan. Pada guru itu sendiri jika stres tidak diatasi, dampak yang paling buruk
adalah menyebabkan gangguan kesehatan fisik seperti sakit jantung, hypertensi,
kerusakan pada memory serta gangguan kesehatan mental seperti pemarah, kurang
percaya diri, bingung, kecewa, cemas, murung, mati perasaan, serta bermasalah dalam
hubungan interpersonal.
Kata Kunci: Stress, Resilience
Pendahuluan
Hidup di dunia moderen yang penuh kecanggihan teknologi ini menuntut
banyak perubahan-perubahan.

Dalam bidang pendidikan telah terjadi perubahan

filosofi, metode/teknik, proses maupun produk/hasil pembelajaran. Misalnya lebih


menekankan pada proses pembelajaran dari pada produk serta lebih mengembangkan
kemandirian siswa (independent learning) dan bukan lagi berpusat pada guru (teacher
centre). Perubahan ini menuntut guru bersikap lebih positif seperti aktif, innovatif,
kreatif serta mempunyai kemampuan affektif yang tinggi seperti

komunikatif,

berempati, peramah, mempunyai emosi yang stabil, menjadi motivator dan fasilitator,
sabar dan sebagainya karena sikap seperti itu akan membawa kepada peningkatan
interaksi sosial guru dan siswa yang lebih harmonis yang akan mendukung
kemandirian siswanya.
Pendidikan saat ini semakin mendesak para guru untuk menjadi guru yang
berprestasi dibidangnya sesuai dengan perubahan dan tuntutan masyarakat. Namun
banyaknya tuntutan ini membuat para guru mengalami stres. Salah satu perubahan
dalam pendidikan saat ini di Indonesia misalnya pencapaian nilai standar Ujian

Nasional (UN) yang setiap tahun terus ditingkatkan oleh pemerintah. Ironisnya, setiap
menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN), perhatian orang tua atau masyarakat
lebih banyak atau lebih terfokus pada siswa, mulai dari persiapan maupun
pelaksanaannya. Berbagai teknik/strategi mempersiapkan UN bagi para siswa banyak
dibicarakan. Bimbingan-bimbingan belajar UN semakin menjamur. Tabligh/zikir
akbar dikumandangkan untuk para siswa yang akan menghadapi UN. Sayangnya
perhatian pada para guru terlupakan. Pada hal para guru juga tidak kalah sibuknya.
Mulai dari mempersiapkan bahan ajar yang praktis untuk siap menjawab UN, atau
untuk di review agar siswa mampu menjawab UN dengan lancar, membuat latihanlatihan

soal agar siswa terlatih dalam mengerjakan UN, hingga meluangkan

waktunya untuk memberikan les tambahan, dsb. Menjelang pelaksanaan UN tersebut


sudah dapat dipastikan tingkat stres para tenaga pendidik itu mengalami peningkatan.
Selain tingkat stres para pendidik karena pekerjaan/kegiatan mereka yang
meningkat menjelang UN, guru juga mempunyai beban psikologis karena mereka
dituntut agar para siswanya harus lulus. Bahkan orang tua, sekolah dan masyarakat
mempunyai asumsi bahwa keberhasilan siswa dalam UN mutlak dipengaruhi oleh
peran guru. Pendapat yang lebih ekstrim lagi dari masyarakat bahwa kegagalan siswa
dalam UN dikarenakan ketidakmampuan guru dalam mengajar. Sesungguhnya,
ketidakberhasilan siswa dalam UN bukan hanya dari faktor guru tapi dipengaruhi oleh
banyak hal misalnya kesehatan siswa pada saat mengerjakan UN, emosi siswa yang
mengakibatkan mereka panik atau tidak teliti, tuntutan orang tua yang membuat siswa
stress, dsb. Menurut berita Tribun pada 18 peb 2009 lebih dari 30% guru di Sulawesi
Selatan mengalami stress. Selain stress dalam menghantarkan para siswa dalam
keberhasilan UN, para guru ini mengalami stress dalam memenuhi tuntutan kewajiban
jam mengajar 24 jam setiap minggu sebagai persyaratan sertifikasi guru. Sekolah
dengan jumlah guru yang melebihi kapasitas akan mengalami stress karena jam
mengajar yang belum mencukupi persyaratan tersebut sedangkan sekolah-sekolah
dengan jumlah guru yang kurang mungkin jumlah jam mengajar tidak bermasalah tapi
akan mengalami stress dalam memenuhi tuntutan masyarakat akan keberhasilan ujian
nasional bagi peserta didiknya.
Di Indonesia kajian tentang stress pada guru belum menjadi perhatian yang
serius, namun dinegara-negara lain seperti di Australia, stress pada guru menjadi
kajian besar yang sangat serius (Sue Howard and Bruce Johnson, 2006) sehingga
pemerintah di Australia harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk dana
2

kajian penelitian Stress pada guru (Kyriacou 2001:28). Hampir 90% guru mengalami
stress di Australia. Mereka mengalami stress disebabkan karena lingkungan kerja
yang unik. Setiap hari mereka dihadapkan dengan kelas yang ribut karena perilaku
para siswa yang buruk, mengoreksi tes/ulangan/ujian/tugas-tugas latihan siswa,
pekerjaan rumah, pekerjaan administrasi, pertemuan dengan orang tua, pertemuan
dengan Departemen Pendidikan, pertemuan dengan sekolah, membuat laporan
penelitian tindakan kelas yang harus dilokakaryakan pada asosiasi guru, pertemuan
dengan para orang tua tentang progress para siswa mereka, dan tuntutan masyarakat
akan prestasi akademik para siswa. Di Malaysia kajian-kajian tentang stress guru
sudah mulai secara aktif terus dilakukan saat ini.
Studi tahun 1980 di Victoria pada 160 guru yang berusia 44-45 tahun 1/3%
diberikan pensiun dini karena sakit mental, 1/10% pensiun karena sakit jantung yang
disebabkan oleh stress (Otto 1986). Sebuah intensif survey tentang beban kerja dan
stress guru yang dilakukan oleh Independent Education Union (1986) menemukan
bahwa guru stress disebabkan karena tekanan beban kerja yang berlebihan (overload),
kesulitan dalam manajemen dan hubungan yang buruk antara siswa dan staff. Dari
studi tersebut dampak stress pada guru adalah marah di rumah (59%), di kelas (55%),
cemas (64%) dan perasaaan tidak mampu (45%), keluhan kesehatan fisik seperti sakit
punggung, lelah, sakit kepala, pegal-pegal, jantung berdebar (18%).
Definisi singkat
Kehidupan manusia amat kompleks yang menyebabkan stress/tekanan. Stress
merupakan bagian dari kehidupan manusia sejak dahulu kala tanpa disadari hanya
berubah wajah seiring dari perubahan masa. Stress dialami oleh semua manusia jika
mereka berada dalam keadaan tidak menyenangkan.
Secara umum, perkataan stress telah digunakan secara meluas dalam beberapa
konteks yang berbeda. Tekanan dan kehidupan saling berkaitan dengan gaya hidup,
pribadi, faktor keluarga, perbedaan budaya, perkembangan teknologi yang mendadak.
Stress merupakan satu penyakit yang sering dikaitkan dengan kesehatan mental dan
yang kerap menyerang masyarakat saat ini.
Dalam konteks guru, stress terjadi karena banyaknya tuntutan atau perubahan
yang harus dilakukan. Lazarus (1976: p.47) proposed that stress occurs when there
are demands on a person which tax or exceed his adjustive resources.This definition

recognises the two components of stress: the pressure imposed. Sedangkan Kyriacou
(2001:28) memberikan definisi stress guru sebagai: the experience by teachers of
unpleasant, negative emotions, such as anger, anxiety, tension, frustration, depression,
resulting from some aspect of their work as a teacher. Menurut Zaba (1963), stress
adalah satu paksaan atau desakan pada guru. Hans Selye (1963) mendefinisikan stress
sebagai tuntutan-tuntutan sehingga melibatkan kadar Wear and tear of the living body .
Menurut Hans Selye, stress merupakan satu komponen kehidupan yang memberikan
kesan positif maupun sebaliknya terhadap guru. Kesan yangpositif disebut sebagai
eutress dan kesan negatif disebut distress. Stresmenjadi positif jika dapat
meningkatkan potensi diri dan produk.

Penyebab stress pada guru


Studi tentang stress pada guru (teacher stress) telah dilakukan (Louden 1987,
Dinham 1993, Punch and Tuetteman 1996, Pithers and Soden 1999, Kyriacou 2001,
Sinclair and Ryan 1987, Dinham 1992). Pada studi mereka ini disimpulkan bahwa
stress muncul jika:

Hubungan buruk siswa dan guru


o

Motivasi siswa dan rasa hormat pada guru rendah

Ada perilaku buruk siswa yang sulit diatasi dan selalu terjadi berulangulang di kelas

Ada kesalah pahaman atau kurang pengertian antara guru dan murid
yang berbeda kemampuan, kelas, etnik, dan latar belakang budaya

Waktu
o

waktu yang kurang untuk persiapan mengajar

tuntutan yang tidak realistis dari administrasi/atasan

keputusan batas waktu (dealine) yang tidak realistis

harus mengerjakan beban kerja yang berlebihan dalam waktu yang


pendek

Konflik
o

Ada konflik antara perubahan filosofi pendidikan dengan pandangan


guru yang selama ini telah diyakininya bertahun-tahun

Kebijakan Diknas yang menuntut innovasi dan perubahan

Aturan baru yang harus diterapkan dan dilaksanakan tanpa adanya


pelatihan
4

Tuntutan kelengkapan administrasi kelas yang harus dikerjakan

Kondisi pekerjaan yang memprihatinkan seperti:


o

Fasilitas dan sarana dan sumber belajar yang kurang

Jumlah siswa yang terlalu besar dalam kelas

Lingkungan sekolah yang mengganggu

Letak sekolah yang terisolasi.

Kepemimpinan sekolah
o

Birokrasi sekolah yang sangat hierarchical dan ketidak adilan dalam


mengambil keputusan

Kepemimpinan yang otoriter

Buruknya hubungan teman sejawat seperti


o

Kurang adanya kepercayaan atau kerjasama diantara teman sejawat.

Adanya persaingan yang tidak sehat

Perasaan ketidak mampuan


o

Guru merasa tidak mampu atau kurang terampil

Guru harus mengajar diluar bidangnya

Tidak adanya reward dari pimpinan akan keberhasilan yang telah


dicapai guru

Tekanan ekstra lainnya


o

Sikap masyarakat yang negative terhadap guru dan sekolah

Kehidupan guru yang tidak stabil dan tidak berkecukupan

Secara umum Briner (Guardian, 2002b) telah berusaha mengklarifikasi apa


yang dia lihat secara langsung tentang kehidupan guru dalam studi kualitatifnya. Dia
menemukan bahwa ada 14 faktor yang berkaitan dengan stress kerja guru yaitu:
Workload, Communication, Home-work balance, Teamworking, Performance
feedback, Role ambiguity, Training and development, Job insecurity, Job design,
Management support, Skill under-utilisation, Effort-reward imbalance, Tools and
equipment, Hours of work. Sedang stress pada guru yang mengajar di laboratorium
seperti workload (kualitas dan kuantitas pekerjaan dan waktu penyelesaian pekerjaan)
dan mengatur/menangani siswa.
Peneliti lainnya (Kyriacou and Sutcliffe, 1977b; Kyriacou, 1980d, 1986;
Dunham, 1984b; Johnstone (1989))menemukan bahwa penyebab utama stress guru

adalah:Pupils failure to work or behave; Poor working conditions, generally in


terms of relations with colleagues; Workload, in terms of overload, underload, or
routine work; Poor school ethos.
Workload merupakan penyebab utama dari penelitian yang dilakukan oleh
(Johnstone, 1993a, Byrne, 1992; Wynne et al, 1991; Dewe 1986) diikuti oleh kondisi
sarana dan prasarana sekolah yang buruk; perilaku buruk siswa yang terjadi berulangulang. Cooper and Kelly (1993) menyimpulkan bahwa tingkat stress guru Sekolah
Dasar (SD) lebih tinggi dari para guru sekolah menengah terutama yang berhubungan
dengan kepuasan mengajar, hubungan dengan teman sejawat serta beban kerja yang
berlebihan.

Dari Tanya jawab dengan para guru bahasa Inggris pada kegiatan

Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Pontianak tahun 2009, sebagian besar
guru mengeluh akan sarana dan prasarana sekolah seperti kurangnya buku teks siswa,
perlakuan ketidak adilan dari kepala sekolah misalnya menunjuk hanya pada guru
tertentu untuk dikirim mengikuti pelatihan, tuntutan keberhasilan UN, persyaratan
administrasi kelas oleh para pengawas, serta persyaratan sertifikasi guru.
Cara-cara menghadapi stress
Menurut Kyriacou (2001), ada dua cara sederhana dalam menghadapi stress bagi guru
yaitu tindakan tidak langsung dan langsung. Tindakan tidak langsung yaitu dengan
mengurangi sumber stress misalnya dengan merokok, berinteraksi dengan banyak
orang, berolah raga rutin, menyalurkan hobbi dan rileks sedangkan tindakan langsung
(Borg and Falzon 1990, Cockburn 1996, Benmansour 1998, Kyriacou 2001) seperti:

Menyelesaikan masalah

Menjaga/mengontrol perasaan

Mencari dukungan dari teman sejawat atau kepala sekolah

Mengatur waktu dan memperioritaskan tugas

Kompeten dalam menyiapkan rencana pembelajaran, pemahaman bahan yang


diajarkan
Menurut Rutter (1990:181) strategi untuk menghadapi stress bagi guru adalah

dengan resilience (ketabahan). Resilience adalah bagaimana kesabaran dalam


merespon masalah hidup yang tidak diharapkan. Banyak studi telah dilakukan tentang
bagaimana orang bisa berjuang hidup atau bertahan terhadap faktor-faktor penyebab
stress (Waters and Sroufe 1983; Garmezy 1985; Rutter 1980; Masten, Best and

Garmezy 1990). Menurut studi mereka ada dua cara juga dalam mengatasi stress yaitu
melalui internal protective seperti ketrampilan individual dan orientasi yaitu
kemampuan

bersosialisasi,

kemampuan

memecahkan

masalah,

kemandirian,

mempunyai tujuan hidup dan masa depan. Sedangkan external protective yaitu
dukungan anggota keluarga, partisipasi dalam masyarakat, prestasi sekolah, serta
teman sejawat yang peduli satu sama lainnya.
Jika stress tidak segera diatasi maka akan menimbulkan penyakit seperti
pusing, sakit punggung, sakit-sakitan, marah-marah, debar jantung, tidak sabar,
depresi, kurang nafsu makan, dan insomnia yang akhirnya akan menjadi sakit jantung,
dan hipertensi, bahkan dapat merusak memori dan ketrampilan kognitif.
Sayang banyak guru yang tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka. Di Australia
50% guru meminta pensiun dini dalam lima tahun pertama menjadi guru.
Sesungguhnya ada banyak teknik sederhana untuk melepaskan stress yang
dapat guru lakukan yang dapat membantu meningkatkan karir dan kesehatan mereka
seperti berikut ini:
1. Olah raga setiap hari dan menjadikan olah raga sebagai kegiatan rutin.
2. Belajar mengatakan tidak. Walaupun sulit bagi guru terutama para guru baru
3. Ikut dalam diskusi forum guru. Ada banyak forum guru di internet dimana mereka
dapat berdiskusi untuk memecahkan permasalahan dan mendapatkan solusi dari para
guru yang lebih berpengalaman atau yang mungkin mempunyai permasalahan yang
hampir sama.
4. Berpikir positif tentang pekerjaan, murid, teman sejawat,
5. Istirahat dan rileks jika menghadapi pekerjaan yang menumpuk.
Banyak guru mempunyai kecenderungan untuk menyelesaikan tugasnya pada
saat deadline sudah dekat sehingga harus dikerjakan sepanjang hari bahkan hingga
larut malam tanpa istirahat yang cukup. Misalnya dalam memeriksa pekerjaan/ujian
siswa. Hal ini hanya akan meningkatkan stress dan menyebabkan kondisi kesehatan
yang tidak sehat. Sebaiknya pekerjaan tersebut dicicil sedikit demi sedikit. Waktu
istirahat harus dipergunakan untuk beristirahat. Misalnya pada jam makan siang untuk
tidak bekerja serta selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi. Sambil makan siang
guru dapat mengadakan obrolan ringan-ringan dengan teman sejawat dan bukan
membahas pekerjaan. Seusai jam sekolah, guru dapat membuat daftar persiapan yang
akan dikerjakan keesokan harinya namun sebelum mengerjakannya luangkan waktu

kurang lebih 10 menit untuk relaks seperti melakukan senam, stretching, atau
visualisasi.
Dampak Stress pada Guru
Stress pada guru berdampak pada pribadi guru, sekolah tempat dia mengajar,
siswa yang diajar. Para peneliti menemukan bahwa dampak stress guru terjadi pada
guru sebagai individu dimana dapat dilihat pada ketidak hadirannya dikelas serta
penyakit yang dialaminya. Berbagai penyakit yang diderita sebagai dampak stress
dialami mulai dari penyakit yang ringan-ringan saja seperti pegal pada punggung,
pusing kepala sehingga guru meminta izin tidak masuk hanya sehari untuk
beristirahat. Sebaliknya stress yang sudah kronis dapat menyebabkan masalah dalam
kesehatan fisik seperti sakit jantung atau hypertensi dan kesehatan mental seperti
depresi.
Tentang kaitan penyakit dan stress ternyata masih diperdebatkan oleh para
peneliti karena guru yang sehat walafiatpun dapat mengalami stress yang tinggi
(Holahan & Moos, 1985) bergantung bagaimana guru menahan stress tersebut untuk
beberapa waktu. Troman (1998) mendiskripsikan bahwa guru yang stress namun tetap
meneruskan pekerjaannya lama-lama akan menjadi kronis yang dampaknya menjadi
sangat parah misalnya terjadi perceraian, atau putusnya hubungan persahabatan.
Dampak stress pada guru kadang-kadang tidak langsung teridentifikasi
layaknya dampak stress kerja pada bidang industri yang dapat langsung diketahui
akibatnya. Misalnya langsung dapat diketahui

ketika pendapatan keuangan atau

produk/hasil menurun. Sedangkan stress pada guru dampaknya pada pengajaran tidak
secara langsung dirasakan akibatnya karena guru tersebut tetap hadir mengajar
walaupun dengan kualitas yang menurun. Setelah sekian lama baru akan diketahui
dampaknya yaitu prestasi siswa menurun bahkan jika siswa mempunyai motivasi
belajar yang tinggi dampaknya sulit diketahui.
Jika stress guru sudah mencapat tingkat yang kronis, guru tersebut akan
membuat banyak kesalahan dalam mengajar serta hilangnya perasaan kemanusiaan
guru seperti rasa kasih sayang, humor, tolong menolong, empati, simpati, ramah
tamah dsb terhadap siswanya (Firth-Cozens, 1992).
Dipandang dari nilai ekonomi, stress pada guru mengakibatkan hilangnya guru
yang professional, tidak effektifnya jam mengajar, atau penambahan biaya guru
pengganti guru stress. Namun, menghitung nilai ekonomi sebagai dampak stress pada
8

guru agak sulit karena biaya tidak hanya berupa nilai finansial tetapi sumbang saran,
ide-ide pada guru yang stress tidak dapat dihitung secara ekonomi. Selain itu gejala
guru stress sulit diketahui apalagi jika guru tersebut mampu mengatasinya sendiri
dengan tindakan tidak langsung maupun langsung seperti telah dijelaskan diatas.

Kesimpulan
Profesi guru memerlukan pengorbanan yang tinggi sehingga perlu diberi
perhatian yang serius. Langkah langkah harus diambil untuk mengurangi stress
guru agar tidak terus meningkat dan akhirnya membawa dampak negatif kepada
siswa. Setiap pihak yang terkait bidang pendidikan guru juga harus memberi
dukungan dan membantu mengurangi beban stress yang dihadapi oleh guru. Banyak
guru masih belum menyadari bahwa mereka juga mengalami stress oleh karena itu
kajian stress pada guru perlu dilakukan agar guru memahami stress yang mungkin
mereka akan alami dan berusaha untuk menguranginya.
Guru senantiasa harus bersifat positif dalam menghadapi perubahanperubahan dalam dunia pendidikan sekarang ini agar dapat terhindar dari stress. Guru
diharapkan aktif dalam mengikuti forum diskusi guru baik melalui pertemuan asosiasi
guru maupun forum guru lewat internet.

Daftar Bacaan
Antonucci, T. (1991) Attachment, social support, and coping with negative life
events in mature adults. In E. Cummings, A. Greene and K. Karraker
(Eds) Life-span developmental psychology: Perspectives on stress and
coping. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates
Bobek, B. (2002) Teacher resiliency: A key to career longevity. Clearing
House, Vol. 75, Issue 4, pp. 202-6
Borg, M.G. and Falzon, J.M. (1990) Coping actions by Maltese primary
school teachers. Educational Research, Vol. 32, pp. 50 - 58
Cockburn, A.D. (1996) Primary teachers' knowledge and acquisition of stress
relieving strategies, British Journal of Educational Psychology, Vol.
66, pp. 399 - 410
DETE (S.A.) (2001) The Occupational Health, Safety, Welfare and Injury
Management Report: June - March 20001, Adelaide, S.A. Govt. Printer
DETE (S.A.) (2000) Making Positive Choices: Psychological Health
Strategies for the Workplace, Adelaide, Curriculum Resources Unit
Dinham, S. (1993) Teachers under stress, Australian Educational
Researcher, 20 (3), pp. 1 - 16
9

Dryden, J, Johnson, B. and Howard, S. (1998) Resiliency: A Comparison of


Construct Definitions Arising from Conversations with 9 - 12 year old
Children and their Teachers. Paper presented at the Annual Meeting of
the American Educational Research Association, San
Diego, 13 17 April
Gordon, K. and Coscarelli, W. (1996) Recognising and fostering resilience.
Performance Improvement, Vol. 35, No. 9, pp. 14-17
Griffith, J., Steptoe, A. and Cropley, M. (1999) An investigation of coping
strategies associated with job stress in teachers, British
Journal
of
Educational Psychology, Vol. 69, pp. 517 - 531
Guglielmi, R.S. and Tatrow, K. (1998) Occupational stress, burnout and health
in teachers: a methodological and theoretical analysis, Review of
Educational Research, 68, pp. 61 - 99
Howard, S. and Johnson, B. (2000a) What makes the difference? Children and
teachers talk about resilient outcomes for students at risk. Educational
Studies, Vol 26 (3), pp 321- 327
Howard, S. and Johnson, B. (2000b) An Investigation of the Role of
Resiliency-Promoting Factors in Preventing Adverse Life Outcomes
During Adolescence. A Report to The Criminology Research Council
of Australia, Adelaide, University of S.A.
Howard, S. and Johnson, B. (1999) Tracking student resilience. Children
Australia, Vol. 24 (3) pp. 14 - 23
Independent Education Union (1996) Education and Stress. Report on the
survey conducted by the Victoria and NSW IEU on workloads and
perceptions of occupational stress among union members employed
in Catholic schools, and Education Offices and in Independent
schools, Melbourne, IEU
Kyriacou, C. (2001) Teacher stress: directions for future research,
Educational Review, Vol. 53 (1), pp. 27 - 35
Louden, L.W. (1987) Teacher Stress: Summary report of the Joint Committee
of Inquiry into Teacher Stress appointed by the
Minister
for
education and Planning in W.A., Perth, W.A. Govt. Printer
McCormick, J. (2000) Psychological distancing and teachers' attribution of
responsibility for occupational stress in a Catholic education system,
Issues in Educational Research, Vol. 10 (1), pp. 55 - 66
Otto, R. (1986) Teachers Under Stress, Melbourne, Hill of Content
Pithers, R.T. and Soden, R. (1998) Scottish and Australian teacher
stress and strain: a comparative study, British Journal of Educational
Psychology, Vol. 68, pp. 269 - 279
Pithers, R.T. and Soden, R. (1999) Person-environment fit and teacher stress.
Educational Research, Vol. 41 (1), pp. 51 -61
Punch, K.F. and Tuetteman, E. (1996) Reducing teacher stress: the effects of
support in the work environment, Research in Education, Vol. 56, pp.
63 - 72
Qualitative Solutions and Research (1995) NUDIST v4. Bundoora, Victoria
Rogers, W. (1996) Managing Teacher Stress, London, Pitman
Rutter, M. (1990) Psychosocial resilience and protective mechanisms. In J.
Rolf, A. Masten, D. Cicchetti, K. Nuechterlein, & S. Weintraub (Eds.)
Risk and Protective Factors in the Development of Psychopathology.
New York: Cambridge University Press

10

Sinclair, K. (1992) Morale, satisfaction and stress in schools. In C. Turney, N.


, K. Laws, K. Sinclair, and D. Smith The School Manager, Sydney,
Allen and Unwin

11