Anda di halaman 1dari 2

Mutiana Muspita Jeli / 20070310190

Sembilan Prinsip kedokteran Keluarga

1. Pelayanan komprehensif dengan pendekatan holistik


Artinya kita memandang pasien tidak hanya dari sisi biologis saja tetapi juga dari sisi sosial
dan psikologisnya. Oleh sebab itu, seorang dokter keluarga memandang pasiennya secara
keseluruhan, dalam konteks memperhatikan keseluruhan kebutuhan mereka.
2. Pelayanan yang kontinu
Adalah pelayanan kesehatan dimana satu dokter bertemu pasiennya dalam keadaan sakit
maupun keadaan sehat, dan mengikuti perjalanan penyakit dari pasiennya hingga ia sembuh.
Dengan pelayanan yang berkesinambungan akan terbentuk hubungan yang didasari
kepercayaan terhadap dokternya, dan perjalanan waktu akan membentuk kepercayaan ini.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan ( preventif )
Prinsip pencegahan memiliki multi aspek, termasuk mencegah penyakit menjadi lebih berat,
mencegah orang lain tertular, pengenalan faktor resiko dari penyakit, dan promosi kesehatan
(gaya hidup sehat). Pencegahan juga termasuk mengantisipasi masalah-masalah yang
mungkin mempunyai efek terhadap kesehatan emosional pasien dan keluarganya.
a. Melayani KIA, KB, vaksinasi.
b. Mendiagnosis dan mengobati penyakit sedini mungkin.
c. Mengkonsultasikan atau merujuk pasien pada waktunya.
d. Mencegah kecacatan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
Dokter keluarga itu seperti orkestrator pelayanan kesehatan bagi pasiennya, yang
mengkoordinasi-kan semua pelayanan kesehatan yg dibutuhkan pasien seperti para dokter
spesialis, dan pelayanan kesehatan lain diluar praktek dokter keluarga. Dokter keluarga
bertanggung jawab dan menjadi guide bagi pasiennya.
Kerjasama profesional dengan semua pengandil agar dicapai pelayanan kesehatan yang
bermutu dan mencapai kesembuhan optimal.
Memanfaatkan potensi pasien dan keluarganya seoptimal mungkin untuk penyembuhan.
Sebagai contoh: melatih anggota keluarga untuk mengukur dan memantau suhu tubuh
pasien atau bahkan tekanan darah dan kadar gula darahnya. Hasil itu selanjutnya
dilaporkan secara berkala kepada dokter yang bersangkutan.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya
Seorang dokter keluarga memandang pasiennya sebagai bagian dari keluarganya dan
memahami pengaruh penyakit terhadap keluarga dan pengaruh keluarga terhadap penyakit.
Dokter keluarga juga mengenali keluarga yang berfungsi baik dan keluarga yang disfungsi.
Titik awal (entry point) pelayanan Dokter Keluarga adalah individu seorang pasien.
Unit terkecil yang dilayaninya adalah individu pasien itu sendiri sebagai bagian
integral dari keluarganya.
Seluruh anggota keluarga dapat menjadi pasien seorang Dokter Keluarga akan tetapi
tetap dimungkinkan sebuah keluarga mempunyai lebih dari satu dokter keluarga.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan tempat
tinggalnya
Pekerjaan, budaya, dan lingkungan adalah aspek-aspek dalam komunitas (masyarakat) yang

dapat mempengaruhi penatalaksanaan seorang pasien. Berbagai pihak dalam masyarakat


dapat digunakan oleh dokter keluarga dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yg
optimal.
Selalu mempertimbangkan pengaruh keluarga, komunitas, masyarakat dan
lingkungannya yang dapat mempengaruhi penyembuhan penyakitnya.
Memanfaatkan keluarga, komunitas, masyarakat dan lingkungannya untuk membantu
penyembuhan penyakitnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum
Mempertimbangkan etika dalam setiap tindak medis yang dilakukan pada pasien.
Meminta ijin pada pasien untuk memberitakan penyakitnya kepada keluarganya atau
pihak lain.
Menyadari bahwa setiap kelalaian dalam tindakannya dapat menjadi masalah hukum.
8. Pelayanan yang sadar biaya
Mempertimbangkan segi cost-effectiveness dalam merancang tindakan medis untuk
pasiennya.
Mampu mengelola dan mengembangkan secara efisien dengan neraca positif sebuah
klinik Dokter Keluarga dengan tetap menjaga mutu pelayanan kesehatan
Mampu bernegosiasi dengan pelayanan kesehatan yang lain (Rumah Sakit, Apotik, Optik
dan lain-lain) secara berimbang sehingga tercapai kerjasama yang menguntungkan semua
pihak khususnya pasien.
Mampu bernegosiasi dengan perusahaan asuransi kesehatan secara serasi dan selaras
sehingga tercapai kerjasama yang menguntungkan semua pihak khususnya pasien.
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan
Rekam meds yang lengkap dan akurat yang dapat dibaca orang lain yang berkepentingan.
Menyediakan SOP untuk setiap layanan medis.
Belajar sepanjang hanyat dan memanfaatkan EBM (Evidence Based Medicine) serta
menggunakannya sebagai alat untuk merancang tindakan medis dan bukan sebagai
pembuat keputusan.
Menyadari keterbatasan kemampuan dan kewenangan.
Menyelenggarakan pertemuan ilmiah rutin membahas berbagai kasus sambil mengaudit
penatalaksanaannya.