Anda di halaman 1dari 17

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN KREATIVITAS ANAK USIA0-2 TAHUN

Posted by: rini raihan on: September 20, 2011


In: AUD | makalah | paud
2 Comments
PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN KREATIVITAS
ANAK USIA0-2 TAHUN
MAKALAH
Di susun untuk memenuhi mata kuliah
Kemampuan Kognitif dan Kreativitas Anak Usia Dini
Yang dibina oleh Ibu Lilik Bintartik, M.Pd
Binti Sulistyorini
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
Sepsember 2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah
Kemampuan Kognitif dan Kreativitas Anak AUD yang berjudul
perkembangan kognitif dan kreativitas Anak usia 0-2 tahun dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan
penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi
kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis
sampaikan terima kasih.
Blitar, Januari 2011
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul.. i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah1
B. Rumusan Masalah.1
C. Tujuan Penulisan2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th..3
B. Perkembangan kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th5
C. Upaya-upaya mengoptimalkan Perkembangan kognitif dan krativitas anak
usia 0-2 th10
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
.13
B.
Saran..13
DAFTAR RUJUKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan
kognitif individu karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari
pekerjaan otak. Secara sederhana, kemampuan kognitif dapat dipahami
sebagai kemampuan anak untuk berfikir lebih kompleks serta kemampuan
melakukan penalaran dan pemecahan masalah dengan perkembangannya
kemampuan kognitif ini akan memudahkan anak menguasai kemampuan
umumyang lebih luas, sehingga anak mampu menjalankan fungsinya dengan
wajar dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungan sehari-hari.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru
yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih
tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tapi pasti,
melalui suatu tahap ke tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju,
mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Dari beberapa pengertian dapat di pahami bahwa kognitif atau pemikiran
adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua
aktivitas mental yang berhubungan dengan presepsi,pikiran,ingatan dan
pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh
pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan atau
memperhatikan, mengamati,membayangkan,memperkirakan, menilai, dan
memikirkan lingkungannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, masalah-masalah yang dapat
dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?

2. Bagaimana perkembangan kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?


3. Upaya-upaya apa saja yang dilakukan orang tua untuk mengoptimalkan
kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan pengertian dari kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?
2. Menjelaskan perkembangan kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?
3. Memaparkan upaya-upaya apa saja yang harusnya dilakukan orang tua
untuk mengoptimalkan kognitif dan kreativitas anak usia 0-2 th?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kreativitas Dan Kognitif Anak Usia 0-2 Tahun
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan
sudut pandang masing-masing. Barron (1982: 253) mendefinisikan bahwa
kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Guilford (1970: 236) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada
kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif. Guilford mengemukakan
dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir
konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan
pandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara
berpikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari berbagai
alternative jawaban terhadap suatu persoalan.
Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas sebagai berikut.
Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan,
dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu
gagasan. Utami Munandar (1992: 51) menekankan bahwa kreativitas
sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan
lingkungannya.
Rogers (Utami Munandar, 1992: 51) mendefinisikan kreativitas sebagai
proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasil-hasil baru itu
muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu
lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya. Demikian juga Drevdahl
(Hurlock, 1978: 325) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk
memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud
kreativitas imajenatif atau sintesis yang mingkin melibatkan pembentukan
pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan

dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.


Berdasarkan berbagai definisi kreativitas itu, Rodhes (Torrance, 1981)
mengelompokkan definisi-definisa kreativitas ke dalam empat kategori, yaitu
product, person, procces, dan press.
Product menekankan kreativitas dari hasil karya kreatif, baik yang sama sekali
baru maupun kombinasi karya-karya lama yang menghasilkan sesuatu yang
baru. Person memandang kreativitas dari segi ciri-ciri individu yang menandai
kepribadian orang kreatif atau yang berhubungan dengan kreativitas. Procces
menekankan bagaimana proses kreatif itu berlangsung sejak dari mulai
tumbuh sampai dengan berwujudnya perilaku kreatif. Adapun press
menekankan pada pentingnya faktor-faktor yang mendukung timbulnya
kreativitas pada individu.
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh
individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu
yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada
sebelumnya, menjadi sesuatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi
dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan, dan mencari
alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir divergen.
Sedangkan Kognitif merupakan salah satu aspek terpenting dari
perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan
perkembangan kognitif yaitu pengetahuan bagaiman individu mempelajari dan
memikirkan lingkungannya. Kognisi adalah istilah umum yang mencakup
mode pemahaman imajinasi penilaian dan penalaran. Kognisi sendiri
dipertentangakan dengan konasi (kemauan) dan afeksi (perasaan).
Perkembangan kognitif menurut piaget dianataranya adalah yang pertama
pembelajarana yang aktif, merasa ingin tahu dan berusaha mencari informasi
untuk dipahami. Yang kedua anak belajar dari pengalaman dan dari apayang

dia telah lakukan . yang ketiga anak menyesuaikan diri dengan lingkungannya
melalui proses asimilasi dan akomiodasi. Yang keeempat proses ekullibrasi
menunjukan peningkatan ke bentuk prmikiran yang kompleks. Konsep ini di
sebut keseimbangan maksutnya adalah seseorang mampu menggunakan
asimilasi dan akomodasi secara seimbang.
B. Perkembangan Kognitif Dan Kreativitas Anak Usia 0-2 Th
Kreativitas merupakan suatu konsep yang dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang, sudut pandang tersebut akan mempengaruhi arti kreativitas.
Beberapa definisi kreativitas dirumuskan berdasarkan sudut pandang yang
ditetukan pada kepribadian sementara pandangan lain mendefinisikan
kreativitas dari sudut pandang yang berkaitan dengan produk yang dihasilkan.
Selanjutnya beberapa definisi lainnya lagi di dasarkan pada kontrol yang
dilakukan manusia terhadap tekanan-tekanan yang dialaminya seperti
tekanan terhadap akan terjadinya suatu kemunduran akan regresi.
1. Kreativitas Sebagai Aspek Kepribadian.
Pandangan ini mendefinisikan kreativitas sebagai salah satu aspek
kepribadian yang berkaitan dengan aktualisasi diri menurut pandangan
tersebut setiap individu sejak dilahirkan telah memiliki potensi untuk menjadi
kreatif.
Perkembangan potensi kreativitas ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi
lingkungan di sekitar individu tersebut. Apabila lingkungan yang mengelilingi
individu memberi kesempatan baginya untuk mewujudkan potensinya yang
telah dimilkikinya sejak lahir maka potensi ini akan terwujud dalam berbagai
kegiatan, misalnya, melukis, musik dan karya-karya lainnya.
2. Kreativitas adalah Kemampuan Mental.
Tokoh teori Psikometrik seperti J.P. Gulford dan E.Paul Torrance
menekankan kemampuan mental dalam mengolah informasi yang menjadi

dasar bagi terjadinya proses kreatif. Cara kerja kedua ahli tersebut mengikuti
cara kerja yang dipakai dalam pendekatan psikometrik yaitu penentuan
kekreatifan seseorang atau ketidak kreatifan seseorang berdasar hasil tes
kreativitas yang dijalaninya.
3. Kreativitas Sebagai Hasil Proses Kerja Belahan Otak.
Teori belahan otak (Theory of Hemispheric Specialization) merupakan teori
yang berangkat dari hasil kajian tentang fungsi-fungsi belahan otak
(Hemisfer), baik belahan otak bagian kiri maupun belahan otak sebelah
kanan, yang berfungsi secara khusus dalam memproses informasi-informasi
yang diterima oleh otak tersebut (Mc Collum and Glynn, 1979). Belahan otak
bagian kiri berfungsi untuk memproses informasi-informasi yang berkaitan
dengan verbal dan menghendaki proses berpikir secara analitis, abstrak, logis
dan operasi (kegiatan/ prosedur) yang mengandung urutan serta mengatur
kegiatan tubuh dibagian kanan. Belahan otak bagian kanan berfungsi
memproses informasi-informasi yang bersifat nonverbal dan menghendaki
penggunaan proses berpikir secara holistik, intuitif, dan imajinatif serta
mengontrol kegiatan tubuh bagian kiri. Hasil kerja belahan bagian kanan
diantaranya adalah kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru
misalnya musik dengan warna baru atau karya tulis dengan aliran baru.
Pada hakekatnya kedua belahan otak ini dalam memproses informaiinformasi yang diterima oleh otak saling bekerjasama karena kedua belahan
otak ini berhubungan melalui syaraf-syaraf yang terdapat dalam corpuss
callosum. Perbedaan fungsi otak sebelah kiri dan kanan adalah cara-cara
yang digunakan dalam mengolah dan menyelesaikan tugas-tugas yang
harusdilakukan oleh kedua fungsi otak tersebut.
Bertitik tolak dari fungsi khusus dari belahan otak tersebut maka seseorang
yang kreatif menggunakan kegiatan otak dibagian kanan secara lebih

dominan dari belahan otak bagian kiri. Sebaliknya individu yang berpikir
secara logis dan rasional menggunakan fungsi otak bagian kiri secara lebih
dominan apabila dibandingkan dengan belahan otak bagian kanan.
Aspek-aspek yang mempengaruhi kreativitas antara lain:
1. Kemampuan berpikir yang dapat mengembangkan kreativitas adalah
kemampuan berpikir secara Divergen, yaitu kemampuan untuk memikirkan
berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.
2. Aspek Intuisi dan Imajinasi yaitu, kreativitas yang berkaitan dengan
aktivitas belahan otak kanan. Oleh sebab itu intuisi dan imajinasi merupakan
aspek lain yang mempengaruhi munculnya kreativitas.
3. Aspek Penginderaan adalah kreativitas yang dipengaruhi oleh aspek
kemampuan melakukan penginderaan yaitu kemampuan menggunakan
panca indera secara peka. Kepekaan dalam penginderaan ini menyebabkan
seseorang dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dipikirkan
orang lain.
4. Aspek Kecerdasan Emosi adalah aspek yang berkaitan dengan keuletan,
kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ketidakpastian dan berbagai
masalah yang berkaitan dengan kreativitas.
Kreativitas adalah suatu proses yang terjadi dalam tiga tahap :
1. Tahap pertama, yaitu persiapan yaitu pengumpulan informasi-informasi
yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipecahkan.
2. Tahap kedua, yaitu penyelidikan dan temuan, yang terdiri dari 3 fase yaitu:
Fase pematangan informasi-informasi yang telah terkumpul, kegiatan ini
berkaitan dengan usaha memahami katerkaitan satu informasi dengan
informasi lainnya dalam rangka pemecahan masalah.
Fase iluminasi yaitu penemuan cara-cara yang perlu dilakukan untuk
pemecahan masalah.

Fase Verifikasi yaitu kegiatan yang berkaitan dengan usaha untuk


mengevaluasi apakah langkah-langkah yang akan digunakan pemecahan
masalah akan memberikan hasil yang sesuai.
3. Tahap ketiga, yaitu pelibatan diri terhadap berbagai tantangan secara nyata
yang mendorong munculnya kreativitas. Kreativitas ini diwujudkan kedalam
bentuk karya nyata atau prakarsa.
Perkembangan Kognitif anak 0-2 th dilakukan dalam bentuk bermain sambil
belajar dan belajar seraya bermain.
1. Teori Kognitif.
a. Menurut Piaget, anak mengalami tahap perkembangan kognitif sampai
akhirnya proses berpikir anak menyamai proses berpikir orang dewasa. Ini
dalah proses yang terperinci mengenai perkembangan Intelektual anak.
Bahwa saat bermain, seorang anak tidak belajar sesuatu yang baru, tetapi
mereka mempraktekkan dan mengonsolidasi keterampilan yang baru
diperoleh. Contoh: pada saat bermain peran yang dilakukan seorang anak
bersama teman-temannya, terjadi beberapa informasi simbolik seperti purapura menggunakan batu sebagai telur. Dari permainan, anak tidak belajar
keterampilan baru, tetapi dia belajar mempraktekkan keterampilan yang telah
dipelajari sebelumnya.
Perkembangan bermain juga berhubungan dengan perkembangan
kecerdasan seseorang. Seorang anak yang mempunyai taraf kecerdasan
dibawah rata-rata, kegiatan bermainnya juga mengalami keterbelakangan
dibandingkan anak lain seusianya.
b. Vygotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia yang meyakini
bahwa bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kognitif
seorang anak. Menurutnya, anak kecil tidak mampu berpikir abstrak karena
bagi mereka anak tidak dapat berpikir tentang kuda tanpa melihat kuda yang

sebenarnya, karena meaning (makna) dan objek berbaur menjadi satu. Jika
anakanak kemudian bisa bermain kuda-kudaan dengan menggunakan
pelepah pisang, maka pelepah pisang sebagai pengganti ojek kuda dapat
memisahkan makna pelepah pisang sebagai kuda dan objek kuda yang
sesungguhnya.
c. Bruner memberikan penekanan pada fungsi bermain sebagai saran untuk
mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas. Dalam bermain, yang lebih
penting bagi anak adalah makna bermain dan bukan hasil akhirnya. Saat
bermain, seorang anak tidak memikirkan sasaran yang akan dicapai sehingga
dia mampu mencoba untuk memadukan berbagai perilaku baru. Dalam
keadaan tertekan, tidak mungkin hal itu dilakukan. Sekali anak memcoba
memadukan perilaku yang baru,dia akan menggunakan pengalaman tersebut
untuk memecahkan masalah yang dijumpai dalam kehidupan sebenarnya.
d. Smith percaya bahwa transformasi simbolik yang muncul dalam kegiatan
dalam kegiatan bermain khayal, misalnya: pura-pura menggunakan batu
sebagai telur, memudahkan transformasi simbolik kognisi anak sehingga
dapat meningkatkan fleksibilitasmental mereka. Smith juga berteori bahwa
bermain merupakan adptive variability, bahwa variabilitas bermain memegang
faktor kunci dalam perkembangan manusia. Hasil penelitian dalam bidang
neurologi menunjukkan bahwa potensi adaptif ini terbentuk dalam
perkembangan otak manusia yang berlangsung pada usia dini dapat
membantu aktualisasi potensi otak karena menyimpan lebih banyak
veriabilitas yang secara potensial sudah ada di dalam otak.
e. Menurut Singer, bermain memberikan suatu cara bagi anak untuk
memajukan kecepatan masuknya perangsangan, baik dari dunia luar maupun
dari dalam, yaitu aktivitas otak yang secara konstan memainkan kembali dan
merekam pengalaman-pengalaman. Laju stimulasi dari luar dandari dalam

semakin optimal, jika keadaan emosi menyenangkan dan itu diperoleh saat
anak sedang bermain.
Bermain membuat anak tidak bengong karena terlalu banyak stimulasi atau
bosan karena kurangnya stimulus.
Perkembangan bermain yang mencerminkan tingkat perkembangan kognitif
anak pada AUD, pendapat ini dikemukakan oleh Jean Piaget. Sensory Motor
Play ( 3-4 bulan hingga 1-2 tahun). Sebelum anak usia Dini berusia 3-4
bulan, gerakan atau kegiatan anak belum dapat dikategorikan sebagai
bermain namun merupakan cikal bakal kegiatan bermain pada tahap
perkembangan selanjutnya. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari
kenikmatan yang diperolehny, dan hanya hal-hal yang sebelumnya pernah
dilakukan.
Pada usia 3-4 bulan, kegiatan anak lebih terkoordinasi. Seorang anak akan
belajar dari pengalamannyadan hal itu akan diulangnya berkali-kali karena
menimbulkan rasa senang. Pada usia 7-11 bulan kegiatan anak bukan lagi
berupa pengulangan, namun sudah disertai dengan variasi. Sedang pada
usia 18 bulan anak memvariasikan tindakannya terhadap berbagai alat
permainan.
C. Upaya-upaya dilakukan untuk mengoptimalkan kognitif dan kreativitas
anak usia 0-2 th
Anak usia 0-2 th cenderung masih banyak dirumah, jadi pembelajaran yang
utama adalah bimbingan dari kedua orang tua. Pembelajaran ini dapat
dilakukan dengan beberapa prinsip pendekatan diantaranya adalah prinsip
Bermain Sambil Belajar dan Belajar Seraya Bermain.
Vitamin dan mineral untuk meningkatkan kecerdasan adversity pada anak,
gizi merupakan salah satu aspek yang sangat dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini. Pemenuhan gizi yang cukup pada anak di usia-

usia awal (0-8 tahun) dapat mempengaruhi perkembangan mental, termasuk


kecerdasan anak. Salah satu kecerdasan yang dapat dipengaruhi adalah
kecerdasan adversity (adversity intelligence). Kecerdasan adversity
merupakan sebuah bentuk kecerdasan yang memberikan ketahanan
terhadap stres (daya resiliensi) tinggi, kemampuan merespon stres (coping
mechanism) yang baik serta membangkitkan kemauan dan kemampuan
untuk mencapai puncak prestasi.
Selain itu upaya meningkatkan perkembangan kognitif dan krativitas dengan
cara mengantisipasinya sejak sebelum lahir, antara lain yaitu:
1. Mendengarkan Musik, musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang
memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk
merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Cukup 30
menit sehari dengan jenis musik klasik (terutama karya Mozart).
2. Peningkatan nutrisi waktu hamil, nutrisi Ibu merupakan sumber tunggal
asupan nutrisi bagi janin, sehingga asupan gizi seimbang sangat penting bagi
pertumbuhan prenatal.
3. Menghindari obat-obatan, obat-obatan penyakit dan bahaya lingkungan
teratogen merupakan istilah untuk penyebab terjadinya perkembangan
abnormal prenatal.
4. Memberi stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan
suatu pengetahuan ataupun keterampilan baru dapat meningkatan
kecerdasan anak, stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi
berwujud janin. Hartono Gunardi, mengatakan, sel otak pada bayi dibentuk
semenjak 6 bulan masa kehamilan. Karena itu, proses stimulasi sudah bisa
dan harus dilakukan semenjak usia janin 23 minggu. Dalam masa kehamilan,
proses stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti rangsang suara
(adanya efek Mozart), gerakan perabaan, bicara, menyanyi, dan bercerita.

5. Meningkatkan konsumsi DHA-ARA, (Soepardi Soedibyo) mengatakan akan


pentingnya zat asam dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (ARA)
pada bayi. Karena zat DHA-ARA sangat diperlukan dalam proses
perkembangan kecerdasan bayi, baik ketika masih didalam kandungan
maupun setelah lahir. Kematangan sistem imun pada bayi yang diberikan ASI
juga lebih baik daripada formula biasa. Sebab, kandungan DHA-ARA terdapat
pada ASI, bukan pada susu sapi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari makalah yang telah kami paparkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
Kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai
adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau
kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu
karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk
menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui
cara-cara berpikir divergen.
Kognitif merupakan salah satu aspek terpenting dari perkembangan peserta
didik yang berkaitan dengan pengetahuan perkembangan kognitif yaitu
pengetahuan bagaiman individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Aspek-aspek yang mempengaruhi kreativitas antara lain: kemampuan
berpikir, aspek intuisi dan imajinasi, aspek penginderaan, aspek kecerdasan
emosi.
3 proses tahapan kreativitas yaitu: tahap persiapan, tahap penyelidikan dan
temuan, tahap pelibatan diri terhadap berbagai tantangan secara nyata yang
mendorong munculnya kreativitas
Upaya meningkatkan perkembangan kognitif dan krativitas dengan cara
mengantisipasinya sejak sebelum lahir, antara lain yaitu: mendengarkan
musik, peningkatan nutrisi waktu hamil, menghindari obat-obatan, memberi
stimulasi, meningkatkan konsumsi DHA-ARA
B. SARAN
Dari kesimpulan diatas maka kami selaku penulis dapat member beberapa
saran, yakni:


Anak usia 0-2 th menghabiskan waktunya lebih banyak dengan orang tua
maka yang berperan membimbing dan meningkatkan kecerdasan kognitif dan
kreativitasnya, jadi orang tua harus memberikan perhatian dan
doronganpenuh kepada anak.
Orang tua sebaiknya berhati-hati dalam masa kehamilan, sebaiknya banyak
mengonsumsi makanan yang mengandung ARA-DHA agar perkembangan
kecerdasan anak optimal dan menghindari makanan yang mengandung
banyak pengawet dan alcohol agar pertumbuhan janin tidak terganggu.
DAFTAR RUJUKAN
http://anisharamadhan.blogspot.com/2011/05/hubungan-kreativitas-danperkembangan.html
http://babyorchestra.wordpress.com/tag/prenatal-music-for-fetus/
Related