Anda di halaman 1dari 19

IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI VERTEBRATA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Muflih Fuadi
: B1J013006
: VII
:6
: Atina Istiqomah Hadi

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri


taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke
dalam suatu takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran
yang bersifat deduktif. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri
taksonomi dalam jumlah sedikit akan membawa spesimen ke
dalam

satu

urutan

kunci

identifikasi,

sedangkan

klasifikasi

berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri.


Klasifikasi adalah penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang
didasarkan atas kesamaan dan hubungan antar hewan (Mayr,
1969).
Identifikasi makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan
identitas suatu makhluk hidup. Identifikasi dapat dilakukan dengan
berbagai

cara.

Cara

yang

paling

populer

yakni

dengan

membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui


dengan gambar didalam buku atau dengan awetan hewn sudah
diketahui identitasnya (Tyo, 2008). Cara yang paling cepat adalah
dengan mengamati langsung di lapangan bersama seorang ahli
yang

benar-benar

mengetahui

tentang

berbagai

hewan.

Perlengkapan yang sering digunakan dalam melakukan identifikasi


adalah buku kunci (kunci dikotomis atau kunci determinasi).
Memahami buku kunci seseorang harus memahami sifat dan
keragaman bentuk serta ukuran hewan yang diidentifikasi (Tyo,
2008).
Determinasi yaitu membandingkan suatu hewan dengan satu
hewan lain yang sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau
dipersamakan). Karena di dunia ini tidak ada dua benda yang
identik atau persis sama, maka istilah determinasi dianggap lebih
tepat daripada istilah identifikasi. Kunci determinasi adalah kunci
yang dipergunakan untuk menentukan filum, kelas, ordo, famili,
genus,

atau

spesies.

Dasar

yang

digunakan

dalam

kunci

determinasi

adalah

identifikasi

dari

makhluk

hidup

dengan

menggunakan kunci dikotomi (Tyo, 2008).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Identifikasi dan Klasifikasi Hewan
vetebrata adalah mempelajari konsep dan melakukan identifikasi
serta

determinasi

hewan

vertebrata

menggunakan kunci determinasi hewan.

lalu

membuat

serta

II. TINJAUAN PUSTAKA


Klasifikasi

merupakan

proses

untuk

mengenali

dan

mengelompokkan organisme hidup. Klasifikasi merupakan bagian


dari bidang ilmu sistematik. Tujuan klasifikasi ialah mengatur
kedudukan dari berbagai organisme di alam. Jika diketahui ciri-ciri
suatu

mikroorganisme,

sehingga

terlihat

maka

dapat

persamaan

dan

dilakukan
juga

perbandingan

perbedaan

dengan

organisme lainnya. Hal ini dapat disamakan dengan membuat tabel


periodik bagi unsur kimia sehingga terlihat keterkaitan antara
unsur

kimia

tersebut

(Istihaq,

2009).

Klasifikasi

vertebarata

merupakan proses penggolongan hewan hewan yang termasuk


dalam sub filum vertebrata. Vertebrata secara definitif merupakan
hewan yang memiliki kolumna vertebrae. Tubuh vertebrata adalah
simetris bilateral dengan sistem alat tubuh yang beruas ruas.
Vertebrata mempunyai endoskeleton (ragka dalam) dengan ruas
tulang belakang sebagai kerangka penguat tubuh. Pada kerangka
melekat otot-otot kerangka. Kulit vertebrata berlapis-lapis, yang
terdiri atas epidermis (bagian kulit yang paling luar) dan dermis
(kulit bagian dalam). Vertebrata terdiri atas dua super kelas, yaitu
Pisces dan Tetrapoda. Pisces dibagi menjadi tiga kelas yaitu
Agnatha

(Cyclostomata),

Chrondrichthyes,

dan

Osteichthyes.

Tetrapoda dibagi menjadi empat kelas yaitu Amphibia, Reptilia,


Aves, dan Mamalia. Berikut merupakan ciri umum dari vertebrata :
a. Memperlihatkan sephalisasi yang sangat maju.
b. Memiliki koluna vertebrae
c. Memilki aktivitas yang tinggi
Sedangkan secara khusus vertebrata memiliki ciri sebagai berikut :
a. Kulitnya terdiri dari beberapa lapis, yaitu epidermis, dermis
dan hipodermis

b. Memiliki endodermis
c. Memiliki otot gerak yang melekat pada skeleton
d. Alat alat visceral terletak pada coelom.
e. Memiliki area ventilasi tersendiri yang terpisah dari sistem
sirkulasi.
f. Sistem

peredaran

darahnya

terdidri

dari

jantung

dan

pembuluh darah.
g. Sistem ekskresi terdiri dari sepasang ginjal.
h. Memiliki

kelenjar

endokrin

yang

mengendalikan

fungsi

fisiologis tubuh.
i. Susunan syaraf pusatnta terdiri dari otak dan sum sum tulang
belakang.
j. Sistem alat reproduksinya terdiri secara berpasangan.
Praktikum kali ini menggunakan beberapa hewan uji yang berasal
dari super kelas pisces. Ikan ikan yang di gunakan pada praktikum
kali ini adalah Hemibragus planiceps, Dasyiatis sp., Oreochromis
niloticus, clarias gariepinus, Cyprinus carpio, Puntius orphoides,
Barbonymus gonionotus. Berikut adalah deskripsi dan klasifikasi
ikan ikan yang di gunakan dalam praktikum :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Sub kelas

: Toleostei

Ordo

: Siluriformes

Family

: Bagridae

Genus

: Hemibagrus

Spesies

: Hemibagrus planiceps

Ikan baung merupakan ikan air tawar yang berkumis (catfish).


Menurut Kuncoro, 2009 ikan baung berukuran 15 cm hingga 75 cm.

jenis ikan Baung ada 7, yaitu tagih dengan panjang 65 cm berat 6


kg, lundu dengan panjang 40 cm dan berat 4 cm, keting dengan
panjang 20 cm, jatisa dengan panjang 33 cm, senggaringin dengan
panjang 33 cm dan bawal dengan berat dapat mencapai 30 kg.
Umumnya tubuh baung memanjang, agak pipih dan licin serta tidak
bersisik. Di bagian sirip dadanya terdapat tulang tajam dan
bersengat yang berfungsi seperti patil. Ciri khasnya adalah sungut
rahang atas yang sangat panjang sampai mencapai sirip dubur,
baung juga memiliki sirip ekor dari pinggiran tegak dan ujung ekor
bagian atas memanjang menyerupai sungut , bagian atas kepala
dan badan berwarna cokelat kehitaman, bagian tengah sisi badan
warna cokelat kehitaman juga dan memutih hingga bawah. Sirip
lemah disebut adiposefin yang panjang hampir sama dengan
panjang sirip dubur proporsi ukuran panjang tubuhnya lima kali
tinggi 3-3,5 panjang kepalanya.
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub- Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Ikan Mas (Cyprinus carpio) mempunyai karakter morfologi antara lain
bentuk tubuh memanjang, mulut terletak di tengah, sirip ekor bercagak, tipe sisik
lingkaran (cycloid), gurat sisiknya melintang dari tutup insang sampai ke ujung
belakang pangkal ekor. Umumnya ikan mas terdapat pada danau, kolam dan sungai,
variasi pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh respon adaptasi terhadap lingkungan
(Saylar, 2014).
Ikan pari (rays) termasuk ke dalam sub kelas elasmobrancii
(ikan bertulang rawan). Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu
sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti
cambuk. Ikan ini diperkirakan memiliki lebih dari 300 spesies dan

bersifat kosmopolitan di laut (Saylar, 2014). Distribusi geografis


ikan pari sangat luas. Ikan pari ditemukan di perairan tropis,
subtropis (beriklim sedang), dan perairan antartika yang dingin.
Berikut klasifikasi ikan pari Dasyatis sp.
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Chondrichthyes

Subkelas

: Elasmobranchii

Ordo

: Myliobatiformes

Famili

: Dasyatidae

Genus

: Dasyatis

Beberapa spesies dari genus Dasyatis

antara lain: D. americana,

D. imbricatus, D kuhlii, D. lata, D. longa, D. margarita, D. bennetti,


D. brevicaudatus, D. sabina, D. centroura, D. chrysonota, D.
marmorata, D. pastinaca, D. margarita, D. margaritella, D. rudis, D.
thetidis.
Ikan yang relatif lebih datar dibandingkan hiu ini, mempunyai
bentuk tubuh gepeng melebar (depressed). Sepasang sirip dada
(pectoral fins) yang melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan
kepalanya, membuat tampak atas dan tampak bawah ikan ini
terlihat bundar atau oval. Lebar ukuran tubuh ini umumnya
dijadikan sebagai acuan untuk melihat pola pertumbuhan dan
ukuran saat kematangan gonad. Ikan pari umumnya mempunyai
ekor yang sangat berkembang, berukuran panjang dan menyerupai
cemeti. Selanjutnya adalah klasifikasi dan deskripsi dari ikan lele
dumbo.
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus Burchell

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) memiliki morfologi


yang mirip dengan lele lokal (Clarias batrachus). Ikan lele dumbo
(Clarias gariepinus) mempunyai ciri morfologi bentuk kepala pipih, tubuh
memanjang tidak bersisik serta dilapisi lendir, memiliki organ patil pada sirip dada
yang terbentuk dari salah satu jari-jari siripnya yang mengeras dan terdapat pola
warna pada sirip dada (Bhagawati, 2013) Selanjutnya adalah ciri morfologis
dari lele dumbo Sungut berada di sekitar mulut berjumlah delapan
buah atau 4 pasang terdiri dari sungut nasal dua buah, sungut
mandibular luar dua buah, mandibular dalam dua buah, serta
sungut maxilar dua buah. Ikan lele mengenal mangsanya dengan
alat penciuman, lele dumbo juga dapat mengenal dan menemukan
makanan dengan cara rabaan (tentakel) dengan menggerakgerakan salah satu sungutnya terutama mandibular (Ishtiaq,2010).
Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip
pasangan (ganda) dan sirip tunggal. Sirip yang berpasangan adalah
sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sedangkan yang
tunggal adalah sirip punggung (dorsal), ekor (caudal) serta sirip
dubur (anal). Sirip dada ikan lele dumbo dilengkapi dengan patil
atau taji tidak beracun. Patil lele dumbo lebih pendek dan tumpul
bila dibandingkan dengan lele lokal.
Awalnya ikan nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica
ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di
dalam mulut induknya. Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan
Oreochromis ini memang berbeda dengan kelompok tilapia. Secara
umum, bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan sisik
berukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan bagian tepinya
berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah
badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah daripada
letak garis memanjang di atas sirip dada. Sirip punggung, sirip
perut dan sirip dubur mempunyai jari-jari lemah tetapi keras dan
tajam.
Menurut Radiopoetro (1988), secara taksonomis, ikan nila
diklasifikasikan ke dalam :

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus

Mata nila tampak menonjol agak besar dengan bagian tepi


berwarna hijau kebiru-biruan. Letak mulut terminal posisi sirip perut
terhadap sirip dada thorocis, dan garis rusuk (linea lateralis) yang
terputus menjadi dua bagian, letaknya memanjang di atas sirip
dada.
Ikan yang bertubuh sedang, panjang total hingga 250 mm.
Gurat sisi antara 31-34 buah. 5-5 sisik di antara awal sirip dorsal
dengan gurat sisi. Batang ekor dikelilingi 16 sisik. Jari-jari keras
(duri) yang terakhir pada sirip dorsal bergerigi 30, halus. Sirip ekor
dengan tepi atas dan bawah berwarna hitam; bintik hitam pada
batang ekor. Ikan muda dengan beberapa deret bintik gelap
sepanjang barisan sisiknya. Tinggi tubuh 2 hingga hampir 3 kali
berbanding panjang standar (tanpa sirip ekor). Panjang kepala 3,2
4 kali berbanding panjang standar. Mata 4-6 kali lebih pendek
daripada panjang kepala. Rumus sirip dorsal IV (jari-jari keras).8
(jari-jari lunak); sirip dubur III.5; sirip dada I.14-16; dan sirip perut
I.8. Sirip perut lebih pendek daripada sirip dada, tidak mencapai
anus. Berikut merupakan klasifikasi dari ikan brek
Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Actinopterygii

Ordo:

Cypriniformes

Famili:

Cyprinidae

Genus:

Puntius

Spesies:

P. orphoides

Ikan tawes (Barbonymus gonionotus Bleeker, 1850) adalah ikan


sungai yang biasa dimakan orang di daerah Asia Tenggara daratan

maupun kepulauan. Ikan tawes tergolong ikan yang digemari


sebagai konsumsi ikan goreng.
Kulit ikan berlendir terlindungi oleh sisik sikloid yang berwarna abu
tua di sebelah atas dekat sirip punggung dan abu muda disebelah
bawah dekat sirip dada. Kulit tersebut memiliki tekstur halus dan
tipis seperti selaput, berwarna abu-abu tua yang menyerupai warna
sisiknya.
Ikan tawes memiliki lubang hidung eksternal dan internal yang
salurannya terhubung.
Memiliki rahang yang terdiri dari 1 tulang rahang atas dan 1 tulang
rahang bawah yang bertulang sejati. Ujung mulut (rostum) halus
karena tidak terdapat gigi.
Memiliki sepasang tutup insang (operculum)di bagian kiri dan
kanan yang masing-masing terdiri dari 4 keping yaitu 1 keping
tutup insang dekat mata, 3 keping tutup insang bawah.
Memiliki Insang yang terdiri dari daun insang dan lengkung insang
yang terdiri dari 4 pasang filamen insang yang sama tinggi, sisir
insang, septum yang lebih pendek dari filamennya, 1 buah
pembuluh eferen, 1 buah pembuluh aferen dan lengkung insang.
Memiliki sirip yang terdiri dari sirip punggung dengan satu berjari
keras dan 8 jari sirip lainnya berjari lemah, sirip ekor berjari lemah,
sirip dada berpasangan yang berlobus pada pangkal, berjari lemah
berjumlah 12 jari, sirip perut berpasangan tanpa lobus, berjari
lemah berjumlah 8 jari dan sirip anal bertulang lemah berjumlah 7
jari.
Ikan

tawes

memiliki

buah

berhubunganan berasal dari usus.

gelembung

renang

yang

III.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara dua adalah


bak preparat, pinset, kamera, alat tulis dan laporan sementara.
Bahan-bahan yang digunakan adalah beberapa spesimen
ikan yaitu Hemibragus planiceps, Dasyiatis sp., Oreochromis
niloticus, clarias gariepinus, Cyprinus carpio, Puntius orphoides,
Barbonymus gonionotus.
B. Metode
Cara kerja praktikum

identifikasi dan klasifikasi hewan

avertebrata adalah sebagai berikut :


Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Preparat dan semua alat disiapkan.
2. Preparat diamati, diidentifikasi, dan determinasi.
3. Preparat kemudian dikelompokkan dan diklasifikasikan denga nmembuat
fenogram dan kunci identifikasi.
4. Laporan sementara dibuat.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Fenogram hasil identifikasi vertebrata

Kunci Identifikasi Hewan Averebrata


1 a. Bertulang rawan... .................................................
(Dasyatis sp.)
b. Bertulang sejati .. .................................................(2)
2 a. Ikan memiliki sisik ........................................................(3)
b. Ikan tidak memiliki sisik .............................................. (4)
3 a. Memiliki sisik stenoid ...................................................
(Orechromis niloticus.)
b. Memiliki sisik cycloid ..................................................(5)
4 a. Memiliki sirip adiposa ..................................................
(Hemibragus planiceps)
b. Tidak memiliki sirip adiposa.................................(Clarias
gariepinus)
5 a. Bertubuh pipih... ...................................................(6)
b. Bertubuh menyilinder ...................................................
(Cyprinus carpio)
6 a. Sirip abdomen orange ...................................................
(Puntius orphoides)
b. Sirip abdomen tidak orange......... .................................
(Barbonymus gonionotus.)

B. Pembahasan
Berdasarkan praktikum identifikasi dan klasifikasi vertebratai,
dilakukan
sediaan

proses

identifikasi

preparat

basah

yang

dan

determinasi

terdiri

dari

menggunakan

sembilan

spesies

avertebrata yaitu , spesies tersebut dibedakan menjadi in group


dan

out group

berdasarkan karakter yang ada.

Out

group

merupakan kelompok dengan jumlah karakter yang mirip/sama


dengan kebanyakan mayoritas sedikit dan biasanya tidak dikaji
terlalu dalam dan morfologinya terlihat jelas berbeda, sedangkan in
group adalah kelompok yang di dalamnya terdapat banyak
kesamaan karakter sehingga memiliki karakter bertingkat dan
biasanya dikaji secara dalam. Prosedur identifikasi dimulai dengan
memisahkan ingroup dan outgroup berdasarkan sifat-sifat atau
karakter morfologi yang dimiliki oleh tujuh preparat. Setelah
dipisahkan Dasyatis sp masuk dalam outgroup karena spesies ini
meiliki

perbedaan

mendasar

pada

jenis

endoskeleton

yang

dimilikinya spesies sisanya masuk kedalam satu buah klad ingroup


yang besar. Langkah idetifikasi yang pertama dilakukan dalam
identifikasi ingroup selanjutnya adalah karakter keberadaan sisik.
dibedakan berdasarkan adanya sisik dan tidak bersisik. Untuk
spesies yang bersisik di bedakan menjadi sisik stenoid dan cycloid.
Spesies yang memiliki sisik stenoid adalah Oreochromis niloticus,
sedangkan yang bersisik cycloid terbagi lagi menjadi bentuk tubuh
pipih dan menyilinder. Spesies yang memilki sisik cycloid bertubuh
menyilinder adalah Cyprinus carpio. Sedangkan spesies yang
memipunyai sisik cycloid bertubuh pipih terbagi menjadi yang
memiliki sirip abdomen warna orange yaitu Puntius orphoides,
sedangkan yang tidak berwarna orange adalah Barbonymus
gonionotus. Untuk spesies yang tidak memiliki sisk terbagi menjadi
spesies yang memiliki sirip adiposa yaitu Hemibragus planicep,
sedangkan yang tidak memiliki sirip adiposa adalah Clarias
gariepinus. Berdasarkan hasil praktikum ikan pari (Dasyatis sp.), memiliki ciriciri yaitu bentuk badannya pipih, memiliki ekor, matanya di atas, memiliki sirip

pectoral, sirip anal, memiliki rima oris, memiliki sting organ, dan bertulang rawan.
Dewasa tumbuh sampai maksimal 260 cm panjang total dan memiliki ekor dengan
sirip ekor berkembang dengan baik (Escorcia,2015). Ikan nila (Oreochromis
niloticus) memiliki bentuk pipih, sirip caudalnya tidak bercagak, tipe sisik ctenoid,
sirip dorsal sampai batang ekor dan termasuk osteichthyes. Ikan Mas (Cyprinus
carpio) mempunyai ciri bentuk tubuh gilik, sirip caudalnya bercagak, tipe sisiknya
cycloid , sirip dorsal sampai batang ekor dan termasuk osteichthyes. Ikan brek
(Puntius orphoides) memiliki bentuk tubuh pipih, sirip caudalnya bercagak, tipe
sisiknya cycloid , sirip dorsal sampai batang ekor dan termasuk osteichthyes serta
memiliki warna sirip orange.
Ikan tawes (Barbonymus gonionotus) mempunyai ciri-ciri memiliki bentuk
tubuh pipih, sirip caudalnya bercagak, tipe sisiknya cycloid , sirip dorsal sampai
batang ekor dan termasuk osteichthyes. Ikan baceman (Hemibagrus nemurus)
memiliki bentuk tubuh gilik, sirip caudalnya bercagak, tidak memiliki sisik, memiliki
palpebra superior dan inferior, memiliki patil, memiliki sirip adiposa dan termasuk
osteichthyes. Ikan lele dumbo ((Clarias gariepinus) memiliki memiliki bentuk tubuh
gilik, sirip caudalnya bercagak, tidak memiliki sisik, memiliki palpebra superior dan
inferior, memiliki patil dan termasuk osteichthyes.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :


1. Identifikasi dan klasifikasi pada vertebrata dengan membandingkan karakter
yang ada pada hewan yang diamati. Karakter yang dibandingkan yaitu hewan
bertulang rawan atau sejati, bentuk tubuh, sisik, tipe sisik, sirip adiposa dan
warna sirip.
2. Ikan pari termasuk ikan bertulang rawan dan ikan yang bertulang sejati yaitu
ikan mas, ikan nila, ikan tawes, ikan brek, ikan lele dumbo dan ikan baceman
B. Saran
Praktikum identifikasi dan determinasi hewan seharusnya
praktikan lebih memperhatikan asisten karena dalam praktikum ini
dibutuhkan ketelitian.

DAFTAR REFERENSI
Bhagawati, D., Abulias MN., A Amurwanto.2013. Fauna Ikan Suliriformes dari
Sungai Serayu, Banjaran, dan Tajum di Kabupaten Banyumas. Jurnal MIPA
36 (2): 112-122.
Ishtiaq, M, Ch., He, Q., Feng, S., Wang, Yi., Xiao, P.G., Cheng, Yiyu
And Ahmed, Habib. 2010. Determination Of Taxonomic Status
Of Chinese Species Of The Genus Clematis By Using High
Performance Liquid ChromatographyMass Spectrometry
(Hplc-Ms) Technique. Pak. J. Bot.,2(2): 691-702, 2010.
Mayr, Ernest. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. Tata McGrawHill Publishing Company, New Delhi..
Radiopoetro, 1988. Zoology. Erlangga, Jakarta.
Saylar, Omer, Semra Benzer. 2014. Age ang Growth Characteristic of Carp
(Cyprinus carpio L., 1758) in Mogan Lake, Ankara, Turkey. Pakistan J. Zool.,
pp. 1447-1453.
Tyo R Karmana.
Erlangga. Jakarta

2008.

Determinasi

dan

Kunci

Determinasi.