Anda di halaman 1dari 16

ANTIBIOTIKA METABOLISME KARBOHIDRAT

Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Farmakognosi I yang diampu oleh Drs. Mustabadihardja, Apt.

DISUSUN OLEH :
Arnold Amba

(066112063)

Rismayanti

(066112064)

Desta Rissani

(066112065)

Indra Suryadibrata

(066112066)

Dini Damayanti

(066112067)

Syarah Diyah Ayu Budiyono

(066112068)

Dede Mardiyana

(066112069)

Pungky Umi Sadiyah

(066112070)

Putri Siti Sahara

(066112071)

Vina Ramdhiani

(066112072)

Upit Novitasari

(066112073)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT. Tuhan semesta alam
karena atas izin dan kehendak-NYAlah makalah sederhana ini dapat kami
rangkum tepat pada waktunya. Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan
untuk memenuhi mata kuliah Farmakognosi 1. Adapun yang kami bahas dalam
makalah

sederhana

ini

mengenai

ANTIBIOTIKA

METABOLISME

KARBOHIDRAT.
Dalam penulisan makalah ini kami menemukan berbagai hambatan, yang
dikarenakan terbatasnya ilmu pengetahuan mengenai hal yang berkaitan dengan
penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kami berterimakasih kepada dosen
pembimbing kami yakni Bapak Drs. Mustabadihardja, Apt. yang telah
memberikan limpahan ilmu yang berguna bagi kami.
Kami menyadari akan kemampuan kami yang masih amatir dalam
makalah ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kami yakin makalah
ini masih banyak kekurangan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapkan saran dan juga kritik membangun, agar lebih maju untuk masa
yang akan datang.
Harapan kami makalah ini dapat menjadi track record dan menjadi
referensi bagi kami dalam mengarungi masa depan, kami juga berharap makalah
ini dapat berguna bagi orang lain yang membacanya.

Bogor, 20 Oktober 2014


PENYUSUN

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1
Latar Belakang.....................................................................................1
1.2
Rumusan Masalah................................................................................1
1.3
Tujuan..................................................................................................2
1.4
Manfaat................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................2
BAB III PEMBAHASAN................................................................................3

BAB IV PENUTUPAN...................................................................................13
3.1
Kesimpulan.........................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................14
LAMPIRAN...................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Penyakit merupakan salah satu masalah terbesar, yang harus segera
di temukan solusinya. Salah satu faktor

yang dapat menyebabkan

penyakit adalah mikroorganisme, yang mana keberadaanya sangat nyata di


sekitar kita. Salah satu mikroorganisme tersebut adalah bakteri. Berbagai
macam penyakit yang disebabkan oleh bakteri pada umumnya diobati
dengan menggunakan antibiotik. Antibiotik ada yang alami maupun
sintetik.
Untuk dapat mengetahui antibiotik yang sesuai dalam mengobati
penyakit tertentu, maka perlu dipelajari tentang antibiotik itu sendiri secara
rinci. Salah satu ilmu yang mempelajari tentang antibiotik adalah
Farmakognosi yang merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagianbagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang
telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji
toksikologi dan uji biofarmasetika. Pada makalah kali ini akan dibahas
secara rinci tentang antibiotik alami khususnya yang berasal dari derivat
metabolisme karbohidrat.
1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Apakah definisi antibiotik khususnya yang berasal dari derivat
metabolisme karbohidrat?
2. Apa sajakah jenis-jenis antibiotik yang berasal dari derivat metabolisme
karbohidrat ?
3. Bagaimana mekanisme kerja masing-masing antibiotik tersebut?
4. Bagaimanakah spesifikasi masing-masing antibiotik tersebut ?

1.3

Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :

a. Untuk mengetahui definisi antibiotik khususnya yang berasal dari


derivat metabolisme karbohidrat.
b. Untuk mengetahui jenis-jenis antibiotik yang berasal dari derivat
metabolisme karbohidrat.
c. Untuk mengetahui mekanisme kerja masing-masing antibiotik
tersebut.
d. Untuk lebih memahami spesifikasi dari masing-masing antibiotik
tersebut.
1.4

Manfaat
Penulis makalah ini dapat memberikan baik kepada Mahasiswa/i, Dosen
dan Penulis itu sendiri :
1. Bagi Mahasiswa/i, sebagai bahan bacaan yang dapat memperluas
wawasan pengetahuan.
2. Bagi Dosen, sebagai bahan masukkan terhadap materi terkait yang
akan diajarkan didepan kelas.
3. Bagi

Penulis,

mendapatkan

pengetahuan

tentang

ANTIBIOTIKA METABOLISME KARBOHIDRAT .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

materi

Antibiotika berasal dari kata anti dan bios . Antibiotika adalah suatu
senyawa yang berasal dari mikroorganisme hidup yang dapat merusak atau
menghalangi pertumbuhan mikroorganisme lain. Antibiotik bisa berarti zat aktif
yang berasal dari mikroorganisme ataupun sintesis (buatan) yang dapat digunakan
dalam konsentrasi rendah untuk menghambat atau membunuh organisme, baik
bakteri, Mycoplasma maupun protozoa. Secara khusus antibiotik digunakan untuk
pengobatan penyakit infeksi. Antibiotik bekerja dengan cara menekan atau
memutus mata rantai metabolisme dalam tubuh mikroorganisme.
Antibiotik awalnya ditemukan Alexander Fleming pada 1928 dan
dinamakan penicillin G. Awalnya secara tidak sengaja kapang tumbuh di sediaan
bakteri pada cawan petri yang lupa dibersihkan. Di bagian tumbuhnya kapang itu
bakteri tidak ada yang berkembang, kondisi ini menstimulasi Alexander
melakukan penilitian dan dari sanalah ditemukan antibiotik.
Karbohidrat adalah gula. Beberapa gula sederhana, dan lainnya lebih
kompleks. Sucrose (gula meja) dibuat dari dua gula yang lebih sederhana yaitu
glukosa dan fruktosa. Lactose (gula susu) terbuat dari glukosa dan galactose. Baik
sucrose maupun lactose harus dipecahkan ke dalam gula pembentuknya dengan
enzim sebelum badan bisa menyerap dan memakai mereka. Karbohidrat pada roti,
pasta, padi, dan makanan lain yang berisi karbohidrat adalah rangkaian panjang
molekul gula sederhana. Molekul ini yang lebih panjang juga harus dibongkar
oleh tubuh. Jika enzim yang diperlukan untuk mengolah gula tertentu hilang, gula
bisa menumpuk di badan, menyebabkan masalah.

BAB III
PEMBAHASAN

III.1

DEFINISI

Antibiotik yang berasal dari derivat metabolisme karbohidrat biasa


dikenal dengan nama Aminoglikosida. Aminoglikosid merupakan senyawa
yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan
glikosidik pada inti heksosa.
Antibiotika aminoglikosida adalah antibiotika golongan karbohidrat
yang pada umumnya terdiri dari bagian aminosikloheksanol dan terikat secara
glikosidik dengan gula amino lain (Crueger, 1984). Ditinjau dari struktur
molekulnya, aminoglikosida dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu
aminoglikosida berinti streptidin (streptomisin, dihidrostreptomisin, dll) dan
2-deoksistreptamin (kanamisin, neomisin, gentamisin dll).
Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis-jenis fungi streptomyces
micromonospora (Aminoglikosida yang berasal dari streptomises mendapat
tambahan misin). Semua senyawa turunan semi sintesisnya mengandung
dua atau tiga gula-amino didalam molekulnya, yang saling terikat secara
glukosidis. Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan
garam sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut air.
III.2

MEKANISME KERJA AMINOGLIKOSIDA


Semua anggota aminoglikosida diketahui menghambat sintesis protein
bakteri dengan mekanisme yang ditentukan untuk streptomisin. Aktivitas
aminoglikosida dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama perubahan pH,
keadaan aerobik dan anaerobik. Aktivitas aminoglikosida lebih tinggi pada
suasana alkali daripada suasan asam.
Aminoglikosida berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh purin
proteins pada membran luar dari bakteri gram negatif masuk keruang
periplasmik. Sedangkan transport melalui membran dalam sitoplasma
membutuhkan energi. Fase transport yang dependen energi ini bersifat rate
limiting, dapat diblok oleh Ca++ dan Mg++, hiperosmolaritas, penurunan pH
dan anaerobiosis. Hal ini menerangkan penurunan aktivitas aminoglikosida
pada lingkungan anaerobik suatu abses atau urin asam yang bersifat
hiperosmolar. Setelah masuk sel, aminoglikosida terikat pada ribosom 30S
dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosida pada ribosom ini
mempercepat transport aminoglikosid kedalam sel diikuti dengan kerusakan
membran sitoplasma dan disusul dengan kematian sel.

Aminoglikosid menghambat sintesis protein dengan 3 cara:


1. Agen-agen ini mengganggu kompleks awal pembentukan peptide
2. Agen-agen ini menginduksi salah baca mRNA, yang mengakibatkan
penggabungan asam amino yang salah ke dalam peptide, sehingga
menyebabkan suatu keadaan nonfungsi atau toksik protein
3. Agen-agen ini menyebabkan terjadinya pemecahan polisom menjadi
monosom non-fungsional
Aminoglikosida bekerja secara sinergis dengan antibiotic -laktam
karena kerja -laktam pada sintesis dinding sel meningkatkan difusi
aminoglikosida kedalam bakteri. Semua aminoglikosida bersifat bakterisid.
Spektrum kerja aminoglikosida cukup luas dan meliputi terutama
banyak bacilli gram-negatif, antara lain E.coli, H.Influenzae, enterobacter,
salmonella, dan shigella. Obat ini juga aktif terhadap sejumlah kuman Grampositif

yaitu staphyl.

aureus/epidermis.

Streptomisin,

kanamisin,

dan

amikasin aktif terhadap kuman tahan asam mycobacterium (TBC dan lepra).
Amikasin dan toramisin berkhasiat kuat terhadap pseudomonas, sedangkan
gentamisin lebih ringan. Amikasin memiliki spektrum kerja yang paling luas,
sedangkan aktivitas kerja gentamisin dan tobramisin sangat mirip,
aktivitasnya adalah bakterisida.
III.3.

PENGOLONGAN ANTIBIOTIK AMINOGLIKOSIDA


Aminoglikosida berdasarkan aktivitasnya digolongkan dalam kategori
bakterisid cepat. Aminoglikosida dapat dibagi atas dasar rumus kimianya
sebagai berikut :

Streptomisin yang mengandung satu molekul

gula-amino dalam

molekulnya
Kanamisin dengan turunan amikasin, dibekasin, Gentamisin dan
turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua

molekul gula yang dihubungkan oleh sikloheksan


Neomisin, framisetin dan paramomisin dengan tiga gula-amino.

A. Streptomysin
Streptomysin saat ini digunakan untuk pengobatan infeksi yang tidak
lazim, pada umumnya dalam bentuk kombinasi dengan senyawa antimikroba
yang lain. Streptomisin diperoleh dari streptomyces griseus oleh Waksman
(1943) dan digunakan untuk pengobatan tubercolosis. Penggunaan pada terapi

TBC sebagai obat pilihan utama sudah lama terdesak oleh obat lainnya yang
berhubungan dengan toksisitasnya. Efek sampingnya terhadap ginjal dan organ
pendengaran.
Dosis streptomysin adalah 15 mg/kg per hari untuk pasien yang memiliki
bersihan kreatinin di atas 80 ml/menit. Biasanya streptomysin diberikan dalam
dosis 100 mg 1 kali sehari yang menghasilkan konsentrasi puncak dalam serum
kurang lebih 50 hingga 60 g/mL dan konsentrasi terendah kurang dari
1g/mL.

Penyakit yang diobati:


Tularemia
Pasien yang menderita tularemia sangat diuntungkan dengan

pemberian streptomysin karena dapat memperoleh kesembuhan total,


namun tidak tertutup kemungkinan kronisitas dapat terjadi. Pada
pemberian streptomysin 1 sampai 2 g (15-25 mg/kg) per hari (dalam dosis
terbagi) selama 7 sampai 10 hari.
Penyakit pes
Streptomysin merupakan salah satu senyawa yang paling efektif
dalam pengobatan penyakit pes. Dosis yang diberi 1-4 g per hari yang
dibagi dalam 2 atau 4 dosis selama 7-10 hari.

Tuberkulosis
Streptomysin harus diberikan dalam bentuk kombinasi dengan

sedikitnya 1 atau 2 obat lain yang sesuai dengan galur-galur penyebab


tersebut. Dosis untuk pasien yang fungsi ginjalnya normal adalah 15
mg/kg per hari sebagai injeksi IM tunggal selama 2 sampai 3 bulan,
dilanjutkan dengan 2 atau 3 kali seminggu setelahnya.
B. Kanamisin
Penggunaan kanamisin terbatas karena spektrum aktivitasnya yang
terbatas dibandingkan aminoglikosida lainnya dan obat ini termasuk diantara
yang paling toksik. Kanamisin atau (KANTREX) tersedia untuk injeksi dan
penggunaan oral. Dosis parenteral untuk dewasa adalah 15 mg/kg perhari
(terbagi dalam dua hingga empat dosis yang sama dan berjarak)
Kanamisin hampir merupakan obat kuno yang indikasi penggunaannya
sedikit, kanamisin digunakan untuk mengobati tuberculosis dalam kombinasi

dengan obat-obat efektif lainnya. Karena terapi penyakit ini sangat lama dan
melibatkan pemberian dosis obat total yang tinggi disertai resiko ototoksisitas
dan nefrotoksisitas kanamisin digunakan hanya untuk mengobati pasien yang
terinfeksi mikroorganisme yang telah resisten terhadap obat-obat yang lazim
digunakan.
Kanamisin dapat diberikan secara oral sebagai terapi tambahan pada kasus
koma hepatik. Dosis yang biasa digunakan untuk tujuan ini 4 hingga 6 g per
hari untuk 36 hingga 72 jam, dosis pernah diberikan hingga 12 g perhari
(dalam dosis terbagi). Efek terhadap bakteri usus mungkin tidak dapat
dipertahankan bahkan saat dosis kanamisin sebesar itu diberikan.
C. Amikasin
Spektrum aktivitas antimikroba amikasin (AMIKIN) merupakan yang
terluas dikelompok ini dan karena resistensinya yang unik terhadap enzim
penginaktivasi aminoglikosida. antibiotika ini mempunyai peran khusus di
rumah sakit tempat menyebarnya resistensi mikroorganisme terhadap
gentamisin dan tobramysin. Amikasin mirip dengan kanamisin dalam hal
dosis dan sifat farmakokinetiknya. Dosis yang dianjurkan untuk amikasin
adalah 15 mg/kg per hari sebagai dosis tunggal harian atau dibagi menjadi
dua atau tiga bagian yang sama. Masing-masing dosis atau rentang antar dosis
harus diubah untuk pasien gagal ginjal. Obat ini cepat diabsorpsi setelah
injeksi intramuscular dengan konsentrasi puncak dalam plasma kira-kira 20
g/mL setelah injeksi sebanyak 7,5 mg/kg. pemberian infus intravena dalam
dosis yang sama selama periode 30 menit menghasilkan konsentrasi puncak
dalam plasma hampir 40 g/ml pada akhir sesi infus, yang kemudian turun
hingga 20 g/ml 30 menit kemudian. Konsentrasi 12 jam setelah dosis 7,5
mg/kg biasanya antara 5 dan 10 g/ml. dosis satu kali sehari 15 mg/kg
menghasilkan konsentrasi puncak antara 50 dan 60 g/ ml dan konsentrasi
terendah <1g/ml. Amikasin menjadi obat pilihan untuk pengobatan infeksi
basilus gram negatif nesokomial di rumah sakit tempat resistensi terhadap
gentamisin dan tobramysin merupakan persoalan serius. Beberapa rumah
sakit membatasi penggunaannya untuk menghindari galur resisten, walaupun
beberapa pihak menganggap kemungkinan itu sangat kecil. Karena keunikan

resistensinya terhadap enzim penginaktivasi aminoglikosida, amikasin aktif


melawan sebagian besar basilus aerob gram negatif di lingkungan maupun di
rumah sakit. Termasuk diantaranya adalah sebagian besar Pseudomonas
aeruginosa. Amikasin efektif terhadap hampir semua galurenterobacter dan e.
coli yang resisten terhadap gentamisin dan tobramysin.
D. Gentamisin
Gentamisin adalah antiobiotika golongan aminoglikosida yang
mempunyai potensi tinggi dan berspektrum luas terhadap bakteri gram positif
dan gram negatif dengan sifat bakterisid. Gentamisin mempunyai rentang
terapi sempit, bersifat nefrotoksik dan ototoksik serta mempunyai variabilitas
farmakokinetik interindividu cukup lebar, maka pemantauan obat dalam
darah pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal adalah suatu kebutuhan
agar keamanan dan efikasi terapi tercapai. Hal ini juga penting karena profil
dosis dan kadar gentamisin dalam darah sukar diprediksi terutama kadar
puncak dan waktu paruh eliminasi.
Penyakit yang diobati:
Peritonitis
Pasien yang mengalami penyakit ini akibat adanya dialisi peritoneal
dapat memperoleh manfaat dari terapi gentamisin. Karena konsentrasi
antibiotik intraperitonial di bawah optimal dapat terjadi setelah pemberian
IM atau IV pada pasien yang menjalani dialysis, terapi pasien tersebut harus
dilanjutkan dengan menggunakan cairan yang mengandung sejumlah
gentamisin dalam konsetrasi yang sesuai.
Efek samping paling penting dan berat pada pemakaian gentamisin
adalah nefrotoksisitas dan ototoksisitas irreversible. Pemberian intratekal atau
intraventrikular jarang digunakan karena dapat menyebabkan peradangan
lokal serta dapat mengakibatkan radikulitis dan komplikasi lain.
E. Tobramysin
Aktivitas antimikroba dan sifat farmakokinetik tobramysin (NEBSIN)
sangat mirip dengan gentamisin. Tobramysin dapat diberikan secara
intramuscular ataupun intravena. Dosis konsentrasi serum serupa dengan
gentamisin. Toksisitas paling umum terjadi pada konsentrasi minimal yang

melebihi 2 g/ ml pada periode yang diperpanjang. Pengamatan toksisitas ini


biasanya menunjukkan kerusakan fungsi ginjal sehingga memerlukan
pengurangan dosis.
Indikasi penggunaan Tobramysin pada dasarnya identik dengan
gentamisin. Aktivitas tobramysin sangat baik terhadap P. aeroginosa dan
bermanfaat untuk pengobatan bakterimia, osteomelitis dan pneumonia yang
disebabkan oleh Pseudomonas. Biasanya tobramysin digunakan secara
bersamaan dengan antibiotik - laktam antipseudomonas. Berlawanan dengan
gentamisin, tobramysin yang dikombinasi dengan penisilin menunjukkan
aktivitas yang buruk terhadap berbagai galur enterokokus.
Spektrum antimikrobanya mirip dengan gentamisin, tetapi kerja antipseudomonas in vitro-nya lebih kuat. Digunakan pada infeksi pseudomonas
yang resisten untuk gentamisin. Teobromysin, seperti halnya aminoglikosida
lain, menyebabkan nefrotoksisitas dan otoksisitas. Teobromysin mungkin
tidak begitu toksik terhadap sel-sel rambut pada organ ujung koklea dan
organ ujung vestibula serta menyebabkan kerusakan tubulus ginjal yang lebih
sedikit dibandingkan gentamisin.
F.

Neomisin
Neomysin merupakan antibiotik berspektrum luas. Mikroorganisme yang
rentan biasanya dihambat oleh konsentrasi 5 hingga 10 g/ml atau kurang.
Spesies gram negatif yang sangat peka adalah E.coli, Enterobacter erogenes
dan Proteus vulgaris. Mikroorganisme gram positif yang dapat dihambat
meliputi S. aureus dan M. tuberculosis.
Pada saat ini neomysin tersedia dalam berbagai merek krim, salep
dan produk lainnya, dalam sediaan tunggal maupun kombinasi dengan
polimiksin, basitrasin, antibiotik lain dan bermacam-macam kortikosteroid.
Tidak ada bukti bahwa sediaan topikal ini mempersingkat waktu untuk
menyembuhkan luka atau bahwa sediaan yang mengandung steroid lebih
efektif.
Neomysisn telah digunakan secara luas untuk penggunaan topikal
pada berbagai infeksi kulit dan mebran mukus yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang rentan terhadap obat ini. Infeksi ini meliputi infeksi

luka bakar dan dermatosis terinfeksi. Namun pengobatan semacam ini tidak
membasmi bakteri dan lesi.
Pemberian oral neomysin (biasanya dengan kombinasi eritromisin
basa) terutama digunakan untuk persiapan usus untuk operasi.
Reaksi hipersensitivitas terutama ruam kulit terjadi 6% hingga 8%
pasien jika diberikan secara topical. Individu yang peka terhadap obat ini
mungkin mengalami reaksi silang jika terpajan aminoglikosida yang lain.
Efek toksik neomysin yang paling penting adalah kerusakan ginjal dan
ketulian akibat kerusakan saraf pendengaran. Ini sering terjadi jika jumlah
antibiotik yang relatif besar ini digunakan secara parenteral dan merupakan
alasan tidak digunakannya lagi neomysin dengan cara ini. Toksisitas bahkan
pernah muncul pada pasien dengan fungsi ginjal normal dengan penggunaan
topikal atau irigasi luka dengan larutan neomysin 0,5%.
Efek merugikan yang paling penting akibat pemakaian neomysin
adalah malabsorpsi dan superinfeksi usus. Individu yang diobati 4 hingga 6 g
obat ini melalui mulut per hari terkadang mengalami sindrom mirip sariawan
disertai dengan steatorea. Pertumbuhan ragi yang berlebihan diusus juga
dapat terjadi.
G. Netilmisin
Merupakan

aminoglikosida

yang

terbaru

dipasarkan.

Sifat

farmakokinetik dan dosis penggunaan netimisin sama dengan gentamisin dan


tobramysin. Senyawa ini memiliki aktivitas antibakteri yang luas terhadap
bacillus aerob Gram-negatif. Sebagaimana amikasin, netilmisin tidak
dimetabolisme kebanyakan enzim penginaktivasi aminoglikosida, dan aktif
melawan bakteri tertentu yang resisten terhadap gentamisin.
Netilmisin merupakan antibiotik yang bermanfaat untuk pengobatan
infeksi serius akibat enterobacteriaceae yang rentan terhadap bacillus aerob
Gram-negatif lainnya. Netilmisin terbukti efektif melawan patogen-patogen
tertentu yang resisten terhadap gentamisin, kecuali enterokokus.
Seperti aminoglikosida lainnya netilmisin juga dapat menyebabkan
otoksisitas dan nefrtoksisitas.
III.4.

RESISTENSI

Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan


streptomisin secara kronik misalnya pada terapi tuberculosis atau endokartitis
terhadap bakterial sub akut. Sifat resistensi terhadap streptomisin mudah
diperlihatkan dengan melakukan beberapa tahap pembiakan ulang suatu
mikroba dalam medium yang mengandung streptomisin. Resistensi terhadap
streptomisin dapat cepat terjadi, sedangkan aminoglikosida lainnya terjadi
lebih berangsur-angsur.
Telah ditentukan 3 mekanisme prinsip yaitu
1) Mikroorganisme memproduksi suatu enzim transferase atau enzim-enzim
yang menyebabkan inaktivitas aminoglikosid, melalui adenilasi, asetilasi,
atau fosforilasi
2) Menghalangi masuknya aminoglikosida ke dalam sel
3) Protein reseptor sub unit ribosom 30S kemungkinan hilang atau berubah
sebagai akibat dari mutasi
Resistensi aminoglikosida dapat disebabkan menurunnya asupan obat
bila sistem transport tergantung oksigen untuk aminoglikosida tidak ada,
perubahan reseptor ditempat ikatan sub unit ribosom 30S mempunyai afinitas
yang rendah terhadap aminoglikosida.
Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan
streptomisin secara kronik misalnya pada terapi tubercolosis. Sifat resistensi
terhadap streptomisin mudah diperlihatkan dengan melakukan beberapa tahap
pembiakan ulang suatu mikroba dalam medium yang mengandung
streptomisin. Resistensi terhadap streptomisin dapat cepat terjadi.
III.5

EFEK SAMPING
Efek samping oleh aminoglikosida dalam garis besarnya dapat dibagi
dalam tiga kelompok :
Alergi
Secara umum potensi aminoglikosida untuk menyebabkan alergi
rendah. Demam, stomatitis, dan syok anafilaksis, pernah dilaporkan
Reaksi iritasi dan toksik
Reaksi iritasi berupa rasa nyeri terjadi di tempat suntikan diikuti
dengan radang dan dapat disertai pula peningkatan suhu badan setinggi 0,51,5 o C. Reaksi ini sangat terkenal pada suntikan streptomisin IM. Reaksi
toksik terpenting oleh aminoglikosida ialah pada susunan saraf, berupa
gangguan pendengaran dan keseimbangan pada ginjal. Gejala lain pada

susunan saraf ialah gangguan pernapasan akibat efek kurariform pada sistem
neuromuscular, neuritis perifer, serta gangguan visus. Penyesuaian dosis dapat
dilakukan dengan memperpanjang interval pemberian atau mengurangi dosis
keduanya. Monitoring kadar aminoglikosida pada gagal ginjal merupakan
pendekatan yang lebih tepat. Dikemukakan bahwa pengukuran kadar lembah
lebih bersifat prediktif untuk mencegah toksisitas, sedangkan kadar puncak
prediktif untuk efek terapi dan toksisitas.
Perubahan biologik
Efek samping ini bermanifestasi dalam dua bentuk, yaitu gangguan
pada pola mikroflora tubuh dengan gangguan absorpsi di usus. Perubahan pola
mikroflora tubuh memungkinkan terjadinya superinfeksi oleh kuman grampositif, gram-negatif, maupun jamur. Superinfeksi Pseudomonas dapat timbul
akibat penggunaan kanamisin, sedangkan penggunaan gentamisin oral
cenderung menimbulkan kandidiasis. Frekuensi kejadian superinfeksi tidak
diketahui, untuk streptomisin parenteral diperkirakan 4%. Gangguan
absorpsi dapat terjadi akibat pemberian neomisin per oral 3 g atau lebih dalam
sehari. Jenis zat yang dapat dihambat absorpsinya meliputi karbohidrat, lemak,
protein, mineral, dan vitamin. Mekanisme hambatan absorpsi ini antara lain
terjadi akibat gangguan sistem enzim dan nekrosis sel epitel kripta usus.

BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu :


1. Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula
amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa.
2. Antibiotika aminoglikosida adalah antibiotika golongan karbohidrat yang pada
umumnya terdiri dari bagian aminosikloheksanol dan terikat secara glikosidik
dengan gula amino lain (Crueger, 1984).
3. Aminoglikosida dapat dibagi atas dasar rumus kimianya sebagai berikut :
Streptomisin yang mengandung satu molekul gula-amino dalam

molekulnya
Kanamisin dengan turunan amikasin, dibekasin, Gentamisin dan
turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua

molekul gula yang dihubungkan oleh sikloheksan


Neomisin, framisetin dan paramomisin dengan tiga gula-amino.
4. Efek samping oleh aminoglikosida dalam garis besarnya dapat dibagi dalam
tiga kelompok :

Alergi
Reaksi iritasi dan toksik
Perubahan biologik

DAFTAR PUSTAKA
Gan Gunawan, Sulistia (dkk), 2011. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta :
Departemen Farmakologi dan Terapeutik. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Anonim a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen kesehatan
RI.
Anonim b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia