Anda di halaman 1dari 3

Menurut Carlsson (dalam Klaus, 1989) faktor faktor yang mempengaruhi

proses pembentukan dental plak adalah sebagai berikut :


1.

Lingkungan fisik yang meliputi anatomi dan posisi gigi, anatomi


jaringan sekitarnya, struktur permukaan gigi, dimana plak akan jelas
terlihat setelah dilakukan pewarnaan dengan menggunakan disclosing
solution. Pada daerah yang terlindung karena kecembungan permukaan
gigi, gigi yang letaknya salah, permukaan gigi dengan kontur tepi
gusi yang buruk, permukaan email yang cacat dan daerah cemento
enamel junction yang kasar, terlihat jumlah plak yang terbentuk lebih
banyak.

2.

Friksi atau gesekan oleh makanan yang dikunyah pada permukaan gigi
yang tidak terlindung dan pemeliharaan kebersihan mulut dapat
mencegah atau mengurangi penumpukan plak di permukaan gigi.

3.

Pengaruh diet terhadap pembentukan plak ada dua aspek yaitu :


pengaruhnya secara fisik dan pengaruhnya sebagai sumber makanan bagi
bakteri di dalam plak. Keras lunaknya makanan mempengaruhi
pembentukan plak, plak akan terbentuk apabila kita lebih banyak
menkonsumsi makanan lunak. Terutamanya makanan yang
mengandung karbohidrat jenis sukrosa karena akan menghasilkan dektran
dan levan yang memegang peranan penting dalam pembentukan matrik plak.

Proses Pembentukan Plak


Proses pembentukan plak tersebut dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu
pembentukan pelikel, kolonisasi awal pada permukaan gigi serta kolonisasi sekunder
dan pematangan plak. Ketiga proses pembentukan plak ini akan dibahas
Pembentukan Pelikel
Pembentukan pelikel pada dasarnya merupakan proses perlekatan protein dan
glikoprotein saliva pada permukaan gigi. Pelikel tersebut berasal dari saliva dan
cairan sulkular. Pada fase awal permukaan gigi atau restorasi akan dibalut oleh
5,16,18
pelikel glikoprotein.
Pelikel merupakan suatu lapisan organik bebas bakteri
dan terbentuk dalam beberapa menit setelah permukaan gigi yang bersih
berkontak dengan saliva dan pada permukaan gigi berupa material stein yang terang
18
apabila gigi diwarnai dengan bahan pewarna plak.
Pelikel berfungsi

sebagai penghalang protektif yang akan bertindak sebagai pelumas permukaan dan
17
mencegah desikasi (pengeringan) jaringan.
Selain itu, pelikel bekerja seperti
perekat bersisi dua, satu sisi melekat ke permukaan gigi, sedangkan permukaan
lainnya merupakan sisi yang melekatkan bakteri pada permukaan gigi.
Kolonisasi Awal pada Permukaan Gigi
Kolonisasi awal pada pemukaan gigi di permukaan enamel dalam 3-4 jam
didominasi oleh mikroorganisme fakultatif gram positif, seperti Streptokokus
sanguins, Streptokokus mutans, Streptokokus mitis, Streptokokus
7,16-19
salivarius,Actinomyces viscosus dan Actinomyces naeslundii.
Pengkoloni
awal tersebut melekat ke pelikel dengan bantuan adhesion, yaitu : molekul spesifik
yang berada pada permukaan bakteri. Dalam perkembangannya terjadi perubahan
ekologis pada biofilm, yaitu peralihan dari lingkungan awal yang bersifat aerob
dengan spesies bakteri fakultatif gram-positif menjadi lingkungan yang sangat
miskin oksigen dengan adanya spesies bakteri anaerob gram-negatif setelah 24
17,19
jam.
Kolonisasi Sekunder dan Pematangan Plak
Plak akan meningkat jumlahnya setelah kolonisasi awal permukaan gigi
18
melalui dua mekanisme terpisah, yaitu:
a. Multiplikasi dari bakteri yang telah melekat pada permukaan gigi.
b. Multiplikasi serta perlekatan lanjut bakteri yang ada dengan bakteri baru
Dalam tiga hari, pengkoloni sekunder yang tidak turut sebagai pengkoloni awal
ke permukaan gigi yang bersih meningkat, seperti Prevotella intermedia,
Prevotella loesheii, spesies Capnocytophaga, Fusobakterium nucleatum dan
Prophyromonas gingivalis. Bakteri pengkoloni sekunder akan melekat ke bakteri
yang sudah melekat ke pelikel. Interaksi yang menimbulkan perlekatan bakteri
17
pengkoloni sekunder ke bakteri pengkoloni awal dinamakan koagregasi. Fase akhir
pematangan plak pada hari ke-7 ditandai dengan menurunnya jumlah bakteri gram
positif dan meningkatnya bakteri gram negatif

Struktur dan komposisi dental plak


Secara keseluruhan dental plak terdiri dari air dan berbagai macam
mikroorganisme yang bekembang biak dalam suatu matrik interseluler yang
terdiri dari polisakarida ekstra seluler dan protein saliva. Plak 80% terdiri dari air dan
mikroorganisme yang jumlahnya kurang lebih 250 juta per mg berat basah. Pada plak
terdapat pula sel sel epitel lepas, lekosit dan partikel partikel sisa makanan, garam
garam anorganik terutama kalsium, fosfat dan fluor. Komposisi bakteri dari plak pada
permukaan luar terdiri dari bakteri jenis aerobic, sedangkan pada permukaan bagian
dalam terdiri dari bakteri anaerob.Bakteri anaerob cendrung lebih banyak karena
oksigen yang masuk kebagian dalam hanya sedikit sehingga memungkinkan
bakteri anaerob tumbuh dengan subur. Bakteri di dalam plak tidak sama dengan
yang terdapat dalam rongga mulut, lactobacillus yang dulu dikira penyebab
utama karies ternyata hanya sejumlah kecil pada plak dan dalam saliva jumlahnya
lebih banyak. Sedangkan Streptococcus sangat sedikit jumlahnya di dalam saliva dan
banyak pada dental plak. Bakteri bakteri yang berada di dalam plak selain bisa
menghasilkan asam (asidogenik) dari makanan yang mengandung karbohidrat juga
dapat bertahan dan berkembang biak dalam suasana asam (asidurik). Distribusi bakteri
di dalam plak sangat bervariasi, namun pada umumnya bakteri di lapisan
bagian dalam berkumpul membentuk koloni yang lebih padat serta mempunyai
dinding yang lebih tebal, terutamanya dari jenis coccus (Willett, 1991 ;
Gurenlian, 2007 Samaranayake, 2009).
Komposisi matriks interseluler dari dental plak terdiri atas polisakarida ekstraseluler
yang dibentuk oleh jenis bakteri tertentu di dalam plak. Jenis utama bakteri yang
mempunyai kemampuan untuk membentuk polisakarida ekstraseluler adalah beberapa
strain Streptococcus yaitu Streptococcus mutans, Streptococcus bovis, Streptococcus
sanguis dan strain Streptococcus lainnya. Bakteri bakter ini membentuk
polisakarida ekstraseluler dari karbohidrat, terutama sukrosa merupakan substrat
utama bagi pembentukan dekstran yang merupakan polimer glukosa dan levan yang
merupakan polimer fruktosa. Pada permukaan licin dari gigi, koloni dilakukan
terutama oleh jenis jenis bakteri yang mempunyai kemampuan untuk
membentuk dekstran, misalnya Streptococcus mutans. Sedangkan
pada
permukaan
akar
yang
lebih
terlindung
terhadap tekanan
tekanan mekanik, organisma pembentuk levan seperti Odontomyces viscosus akan
berkoloni membentuk plak (Willet, 1991 ; Caranza, 2006
Disamping polisakarida ekstraseluler, matriks dari plak juga mengandung asam
asam amino yang merupakan karakteristik dari glikoprotein saliva, sisa sisa

sel bakteri yang telah mengalami lisis dan beberapa mineral. Dental plak
mengandung kalsium dan fosfat yang lebih tinggi daripada di dalam saliva. Bila diet
banyak mengandung sukrosa atau gula gula maka konsentrasi kalsium dan fosfat akan
turun dengan cepat. Ini disebabkan karena kebutuhan bakteri akan unsur unsur
tersebut meningkat sewaktu metabolisma gula gula.
Hubungan antara Plak dengan Penyakit Karies
Karies gigi merupakan penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan oleh
aktivitas metabolisme mikroorganisme, yang dapat mengakibatkan terjadinya proses
demineralisasi jaringan keras gigi. Karies terjadi bukan disebabkan karena satu
kejadian saja tetapi disebabkan oleh serangkaian proses yang terjadi selama beberapa
kurun waktu. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifaktorial yaitu adanya
beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies. Ada tiga faktor utama
yang memegang peranan yaitu faktor host (tuan rumah), agen (mikroorganisme)
3,4-6,20
substrat (diet) serta ditambah faktor waktu.
Proses terjadinya karies dimulai dari enamel ditutupi oleh endapan pelikel saliva,
kemudian mikroorganisme melekat yang disebut plak, apabila ada substrat
(makanan) berkarbohidrat lengket di plak disebut debris, mikroorganisme meragi
substrat sehingga menyebabkan pH plak turun sampai 5 mengakibatkan
demineralisasi enamel. Bila hal ini berlangsung berulang-ulang dapat terjadi
4,5,20,21
karies.
Hubungan antara Plak dengan Penyakit Periodontal
Plak selain merupakan penyebab utama karies gigi juga dapat menyebabkan
22
terjadinya penyakit periodontal.
Ada dua tipe penyakit periodontal yang
biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis. Gingivitis adalah bentuk
penyakit periodontal yang ringan, biasanya gingiva berwarna merah, membengkak
4
dan mudah berdarah sedangkan periodontitis adalah kerusakan tulang pendukung gigi.
Pembersihan gigi yang kurang baik menyebabkan plak mengumpul makin
banyak dan akan mengiritasi gingiva, dan berlanjut merusak jaringan penyangga yang
lebih dalam. Bila penyakit ini berlangsung terus maka tulang penyangga lamakelamaan menjadi goyang dan sampai pada akhirnya gigi yang terkena penyakit ini
akan tanggal sendiri tanpa pencabutan.