Anda di halaman 1dari 10

PETROGRAFI BATUAN BEKU

FRAGMENTAL (PIROKLASTIK)
Januari 26, 2014 by rachmadirwansyah Meninggalkan komentar
2.1. Pengertian
Batuan piroklastik adalah jenis batuan yang dihasilkan oleh proses lisenifikasi bahan-bahan
lepas yang dilemparkan dari pusat volkanis selama erupsi yang bersifat eksplosif. Bahanbahan jatuhan kemudian mengalami litifikasi baik sebelum ditransport maupun rewarking
oleh air atau es.
Batuan Piroklastik merupakan batuan gunungapi bertekstur klastika sebagai hasil letusan
gunungapi dan langsung dari magma pijar. Piroklastik merupakan fragmen yang dibentuk
dalam letusan volkanik, dan secara khusus menunjuk pada klastika yang dihasilkan dari
magmatisme letusan. Dalam mempelajari batuan piroklastik kita tidak dapat lepas dari
mempelajari bagaimana mekanisme pembentukan dan karakteristik endapan piroklastik.
Batuan piroklastik berdasarkan mekanisme pembentukannya dapat dibedakan menjadi tiga
macam yaitu jatuhan piroklastik, aliran piroklastik dan seruakan (surge) piroklastik.
Jatuhan piroklastik merupakan onggokan piroklastik yang diendapkan melalui media udara,
dan terbentuk setelah material hasil letusan dikeluarkan dari kawah, menghasilkan suatu
kolom erupsi. Aliran piroklastik merupakan aliran panas berkonsentrasi tinggi, menyusuri
permukaan,
mudah
bergerak,
berupa
gas
dan
partikel
terdispersi yang dihasilkan oleh erupsi volkanik. Seruakan piroklastik adalah piroklastik
yang mekanisme transportasinya secara dihembuskan, disemburkan atau menyeruak secara
lateral yang mengangkut piroklas sepanjang permukaan sebagai kelanjutan dari sistem
turbulen, mengandung partikel rendah dan merupakan dispersi gas dengan bahan padat.
Jatuhan, aliran dan seruakan piroklastik ini jika terjadi pada lingkungan yang berbeda
contohnya lingkungan subaerial dan subaqueus akan mempunyai mekanisme berbeda dan
memberikan karakteristik endapan tersendiri.
Batuan piroklastik sangat berbeda teksturnya dengan batuan beku, apabila batuan beku
adalah hasil pembekuan langsung dari magma atau lava, jadi dari fase cair ke fase padat
dengan hasil akhir terdiri dari kumpulan kristal, gelas ataupun campuran dari keduaduanya. Sedangkan batuan piroklastik terdiri dari himpunan material lepas-lepas (dan
mungkin menyatu kembali) dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh aktifitas gunung api,
yang berupa material padat berbagai ukuran (dari halus sampai sangat kasar, bahkan dapat
mencapai ukuran bongkah). Oleh karena itu klasifikasinya didasarkan atas ukuran butir
maupun jenis butirannya.pengamatan petrografi dari batuan piroklastik ini sangat terbatas,
oleh karena itu sangat di anjurkan, untuk mempelajari dengan baik dari kelompok batuan
piroklastik ini harus dilakukan pengamatan di lapangan, karena keterbatasan yang dimiliki
bila hanya dilakukan pengamatan mikroskopi saja. ( Yuwono, 2002)

Tipe 1
Batuan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik jatuh ke darat yang
kemudian kering akibat pengaruh medium udara, kemudian mengalami litifikasi
membentuk batuan fragmental.Jadi jatuhan piroklastik ini belum mengalami
pengangkutan.

Tipe 2
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik terangkut ke dalam tempat
pengendapannya yaitu di daratan yang kering dengan media gas yang dihasilkan dari
magma sendiri yang merupakan aliran abu yang merupakan onggokan aliran litifikasi
dan membentuk batuan fragmental.

Tipe 3
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat erupsi yang jatuh ada suatu tubuh
perairan (baik darat maupun laut) yang tenang arusnya sangat kecil, onggokan aliran
litifikasi dan membentuk batuan fragmental.

Tipe 4
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat erupsi yang jatuh pada suatu tubuh
perairan yang arusnya aktif (bergerak). Sebelum mengalami litifikasi mengalami
rewarking dan dapat bercampur dengan batuan lain yang dihasilkan akan mempunyai
struktur sediment basa.

Tipe 5
Bahan piroklastik yang telah jatuh sebelum mengalami pelapukan kemudian diangkut
dan diendapkan ditempat lain dengan media air. Hasilnya batuan sedimen dengan asalusulnya adalah bahan-bahan piroklastik,dengan struktur sediment biasa.

Tipe 6
Bahan piroklastik yang telah jatuh sudah mengalami proses-proses litifikasi, kemudian
diendapkan kembali ke tempat yang lain. Batuan yang dihasilkan adalah batuan
sediment dengan propenan piroklastik.

2.2. Tekstur Batuan Piroklastik


Klasifikasi tekstur pada batuan piroklastik tidak jauh berbeda dengan tekstur batuan beku
plutonik. Yang khas pada batuan piroklastik adalah bentuk pada batuan yang runcing
yang tajam, yang biasa dikenal sebagai glass hard atau gelas runcing tajam serta adanya
batu apung (pumica).

2.3. Struktur Batuan Piroklastik


Seperti halnya struktur batuan beku plutonik , pada batuan piroklastik juga dijumpai
struktur seperti skoriaan, vesikuler, serta amygdaloidal.
2.4. Jenis Endapan Piroklastik Tak Terkonsolidasi
1. Lapili
Lapili berasal bahasa latin lapillus, yang berarti nama untuk hasil erupsi eksplosif gunung api
yang berukuruan 2mm 64mm. Selain dari fragmen batuan , kadang-kadang terdiri dari mineral
mineral augti, olivine, plagioklas.
1. Debu Gunung Api
Debu gunung api adalah merupakan batuan piroklastik yang berukuran 2mm- 1/256mm yang
dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi eksplosif. Namun ada juga debu gunung
berapi yang terjadi karena proses penggesekan pada waktu erupsi gunung api. Debu gunung api
masih dalam keadaan belum terkonsolidasi,
1. Bom Gunung Api
Bom adalah merupakan gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari
64mm. Beberapa bomb mempunyai ukuran yang sangat besar. Sebagai contoh bomb yang
berdiameter 5 meter dengan berat 200kg dengan hembusan setinggi 600 meter selama erupsi.
Misalnya, di gunung api Asama, Jepang pada tahun 1935.
1. Block Gunung Api
Block Gunung Api merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari
fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm. Blockblock ini selalu menyudut bentuknya atau equidimensional.
2.5. Tipe Endapan Piroklastik

Endapan Aliran ( Pyroclastic Flow)

Endapan piroklastik aliran yaitu merupakan jenis material hasil langsung dari pusat erupsi,
kemudian teronggokan di suatu tempat. Hal ini meliputi hot avalanche, glowing avalanche, lava
collapse ,hot ashes avalanche.
Aliran umumnya berlangsung pada suhu tinggi antara 500-650C dan temperaturnya
cenderung menurun selama pengalirannya. Penyebaran pada bentuk endapan sangat
dipengaruhi oleh morfologi, sebab sifat-sifat endapan tersebut adalah menutup dan
mengisi cekungan. Bagian bawah menampakkan morfologi asal dan bagian atasnya
datar.

Endapan Surge (Pyroclastic Surge)

Endapan piroklsatik surge merupakan suatu awan campuran dari bahan padat dan gas (uap air)
yang mempunyai rapat massa rendah dan bergerak dengan kecepatan tinggi secara trubulensi di
atas permukaan. Pada umumnya endapan piroklastik surge ini mempunyai pemilahan yang baik,
berbutir halus dan berlapis baik. Endapan ini mempunyai strutur pengendapan primer seperti
laminasi dan perlapisan bergelombang hingga planar. Yang paling khas dari endapan ini adalah
mempunyai struktur silang siur, melensa dan bersudaut kecil . Endapan surge umumnya kaya
akan keratan batuan kristal.

Endapan Jatuhan (Pyroclastic Fall)

Endapan piroklastik jatuhan yaitu merupakan onggokan piroklastik yang diendapkan melalui
udara . Endapan ini umumnya akan berlapis baik, dan pada lapisannya akan memperlihatkan
struktur butiran bersusun. Endapan ini meliputi aglomerat, breksi, piroklastik, tuff dan lapili.
2.6. Klasifikasi Dan Penamaan Batuan Piroklastik
Beragam klasifikasi piroklastik telah diusulkan oleh para ahli, yang masing-masing
mempunyai dasar klasifikasi sendiri-sendiri. Namun secara umum dapat disimpulkan
bahwa mereka sepakat memberi nama piroklastik , dari mulai yang paling halus hingga
yang sangat kasar, berkisar dari abu hingga bom. Meskipun dasar penamaan adalah ukuran
butir , tetapi tetap saja tidak ada keseragaman dalam ukuran besar butirnya. Salah satu
contoh klasifikasi penamaan batuan piroklastik adalah menurut Tunner & Gilbert, 1954.
Klasifikasi Menurut H. William F.J Tunner Dan C.M Gilbert (1954)
William F.J Turner Dan C.M Giblert (1954) berdasarkan ukuran butir, membagi piroklastik
menjadi bom dan bongkahan apabila ukurannya lebih besar dari 32mm;lapili (4-32mm) dan
abu (<4mm) . Bom merupakan bahan lepas yang padat saat dikeluarkan sudah berupa
bahan padat akan membentuk endapan breksi gunung api.
Tabel 2.1 Klasifikasi Menurut H. William F.J Tunner Dan C.M Gilbert (1954)
Size

> 23

UNCONSOLIDATED

CONSILDATED

Bomb

Angglomerat

Block

Volcanic Breciass

Block and ashes

Tuff Breceiass

Lapili

Lapili

Cinder (vecikuler)

Cindey lapili tuft

Coarse Ash

Coarse Tuft

4- 32

-4

<

Asg or volcanic dust

Tuft

Tabel 2.2 Klasifikasi batuan piroklastik berdasrkan ukurannya (Schmid, 1981)


Endapan piroklastik
Ukuran

Piroklas
Tefra (tak terkonsolidasi)

Batuanpiroklastik (terkonsolidasi)

Lapisan bom / blok


> 64 mm

Bom, blok

Aglomerat, breksi piroklastik


Tefra bom atau blok

Lapisan lapili atau


2 64 mm

Lapili

Batulapili (lapillistone)
Tefra lapili

1/16 2 mm Abu/debu kasar Abu kasar

Tuf kasar

< 1/16 mm

tuf halus

Abu/debu halus Abu/debu halus

Berdasarkan terbentuknya, fragmen piroklast dapat dibagi menjadi:


Juvenile pyroclasts : hasil langsung akibat letusan, membeku dipermukaan (fragmen
gelas, kristal pirojenik)
Cognate pyroclasts : fragmen batuan hasil erupsi terdahulu (dari gunungapi yang sama)
Accidental pyroclasts : fragmen batuan berasal dari basement (komposisi berbeda)

Fragmen:
1. Gelas/ Amorf
2. Litik
3. Kristalin
Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan komposisi kimia, mineral dan teksturnya.
Namun, yang paling umum digunakan adalah klasifikasi berdasarkan komposisi mineral dan
tekstur.
Material penyusun batuan piroklastik disebut piroklast, dimana material ini dibedakan
berdasarkan ukurannya menjadi :

Bomb diameter >64mm, bentuk retak-retak seperti kerak roti menunjukkan


pendinginan cepat.

Block diameter >64mm, bentuk angular hingga subangular, menunjukkan terbentuknya


setelah dalam bentuk solid.

Lapilli diameter 64mm hingga 2mm, terdapat dalam segala macam bentuk.

Ash diameter < 2 mm, dapat dibedakan lagi menjadi coarse ash(2mm -1/16mm) dan
fine ash (< 1/16mm).

Batuan piroklasitk tersusun atas akumulasi piroklas yang telah mengalami konsolidasi, batuan ini
diklasifikasikan berdasarkan ukuran piroklas penyusunnya. Klasifikasi batuan piroklastik non
genetik berdasarkan ukuran dan bentuk piroklas penyusunnya adalah:

Aglomerat tersusun atas piroklast ukuran > 64mm dengan bentuk membundar.

Breksi Piroklastik tersusun atas rata-rata ukuran piroklast > 64 mm, namun bentuknya
angular.

Lapili Tuff tersusun atas rata-rata ukuran piroklast 2 64 mm.

Tuff atau ash tuff tersusun atas ukuran piroklast < 2mm.
2.7 Mekanisme Endapaan Piroklastik
Tekstur dan struktur batuan piroklastik sangat bervariasi dan kompleks, dibandingkan
komposisi tephra yang relatif lebih sederhana. Struktur dan tekstur ini dihasilkan oleh
mekanisme pengendapan yang langsung akibat aktifitas letusan gunungapi. Secara umum,
dikenal tiga kelompok mekanisme pengendapan batuan piroklastik yang menghasilkan tiga

jenis endapan yang berbeda. Ketiganya dapat dibedakan oleh kenampakan dan asosiasi
struktur atau teksturnya. Ketiga jenis endapan tersebut yaitu pyroclatic fall deposit,
pyroclatic flow deposit dan pyroclastic surge deposit. (Yuwono, 2002).
2.8 ALTERASI DAN WELDING (PENGELASAN)
Batuan piroklastik rawan terhadap alterasi hidrotermal, terutama apabila pada saat
diendapkan masih bersuhu tinggi, terlebih bila bersentuhan dengan air (laut). Alterasi intensif
juga terjadi pada zona di dekat pusat erupsi. Alterasi pada tufa dan lapili berkomposisi basa
akan diawali dengan proses devitrifikasi yaitu alterasi yang dialami gelas menjadi agregat
sangat halus dari material kriptokristalin berwarna keruh, yang lalu digantikan agregat klorit
berwarna kehijauan, tetapi akibat oksidasi akan berubah warna menjadi kecoklatan. Feldspar
akan berubah menjadi kalsit, mineral lempung dan serisit, sedangkan mineral mafik berubah
menjadi serpentin dan klorit. Apabila tufa dan lapili diendapkan dalam suhu tinggi (misalnya
endapan awan panas), kemungkinan akan mengalami proses pengelasan sehingga
membentuk welded tuff atau welded lapilistone yang sangat padat dan sangat mirip dengan
batuan beku aliran lava, baik kenampakan lapangan maupun dibawah mikroskop. (Yuwono,
2002).
2.9 KLASIFIKASI BATUAN PIROKLASTIK
Penamaan batuan piroklastik menurut Schmid (1981) berdasar ukuran butir piroklas secara
deskriptif dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.3. Klasifikasi granulometri dengan piroklas berbutir seragam

Endapan piroklastik
Ukuran butir
(mm)

64

Piroklas
Material lepas
(tephra)

Material memadat (batuan


piroklastik)

Blok,
bom

Tefra blok, tefra bom

Breksi piroklastik, aglomerat

Lapili

Tefra lapili

Batulapili

Abu kasar

Tefra lapili

Tufa kasar

Abu halus

Tefra halus

Tufa halus

2
1/16

Apabila batuan piroklastik terdiri dari campuran berbagai ukuran piroklas, klasifikasi dengan
diagram segitiga (Fischer, 1966) dengan anggota akhir blok atau bom, lapili dan abu yang
disajikan pada gambar 1.1.

Gambar 2.1. Penamaan batuan piroklastik berbutir tidak seragam

Batuan piroklastik berbutir halus, baik tufa kasar maupun tufa halus dapat dibedakan
berdasarkan jenis piroklasnya yang dominan. Dengan menggunakan diagram segitiga yang
anggota akhirnya gelas (vitrik), kristal dan batuan (lithik), dikenal nama-nama tufa gelas, tufa
lithik/ tufa sela, tufa kristal, tufa gelas-kristal dan sebagainya.

Gambar 2.2. Klasifikasi ash dan tufa menurut jenis piroklas


(Schmid, 1981)

3.10 FASIES GUNUNG API


Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dapat dibagi menjadi daerah
puncak, lereng, kaki, dan dataran di sekelilingnya. Pemahaman ini kemudian dikembangkan
oleh Williams dan McBirney (1979) untuk membagi sebuah kerucut gunung api komposit
menjadi 3 zone, yakni Central Zone, Proximal Zone, dan Distal Zone. Central Zone
disetarakan dengan daerah puncak kerucut gunung api, Proximal Zone sebanding dengan
daerah lereng gunung api, dan Distal Zone sama dengan daerah kaki serta dataran di
sekeliling gunung api. Namun dalam uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone
dengan facies, sehingga menjadi Central Facies, Proximal Facies, dan Distal Facies.
beserta komposisi batuan penyusunnya (Bogie & Mackenzie,

Gambar 2.3. Pembagian fasies gunung api menjadi fasies sentral, fasies proksimal, fasies medial, dan fasies
distal

Pembagian fasies gunung api tersebut dikembangkan oleh Vessel dan Davies (1981) serta
Bogie dan Mackenzie (1998) menjadi empat kelompok, Fasies gunung api dan aplikasinya
(S. Bronto) 61 yaitu Central/Vent Facies, Proximal Facies, Medial Facies, dan Distal Facies.
Fasies sentral terletak di bagian puncak atau pusat erupsi, fasies proksimal pada lereng atas
dan fasies medial di lereng bawah. Fasies distal terletak di kaki dan dataran di sekeliling
gunung api, di antaranya dataran di latar depan gunung api.

Gambar 2.4 Pembagian fasies gunung api pada gunung api aktif masa kini

Sesuai dengan batasan fasies gunung api, yakni sejumlah ciri litologi (fisika dan kimia)
batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu, maka masing-masing fasies gunung api tersebut
dapat diidentifi kasi berdasarkan data:
1. inderaja dan geomorfologi,
2. stratigra batuan gunung api,
3. vulkanologi sik,
4. struktur geologi, serta
5. petrologi-geokimi