Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Salah satu kelainan kulit yang dapat
menyebabkan terganggunya fungsi kulit adalah eritroderma.1
Dahulu, eritroderma dibagi menjadi eritroderma primer dan sekunder; primer
adalah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), dan sekunder adalah yang
disebabkan oleh penyakit kulit lain atau penyakit sistemik. Pendapat sekarang, semua
eritroderma ada penyebabnya, jadi eritroderma selalu sekunder.2
Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya kemerahan atau
eritema yang bersifat generalisata yang mencakup 90% permukaan tubuh yang
berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Bila eritemanya antara 5090% dinamakan pre-eritroderma. Dermatitis eksfoliativa dianggap sinonim dengan
eritroderma1. Bagaimanapun, kedua istilah ini adalah berbeda, karena pada gambaran
klinik dapat menghasilkan penyakit yang berbeda. Pada banyak kasus, eritroderma
umumnya disebabkan kelainan kulit yang ada sebelumnya (misalnya psoriasis atau
dermatitis atopik), cutaneous T-cell lymphoma (CTCL) atau reaksi obat. Identifikasi
penyakit yang menyertai menggambarkan satu dari sekian banyak kelainan kulit.1
Dalam tulisan ini akan dibahas lebih jauh mengenai Eritroderma. Terdiri dari
definisi, anatomi dan fisiologi kulit, epidemiologi, etiologi, pathogenesis, diagnosis,
tatalaksana, dan prognosis eritroderma. Dengan penulisan referat ini diharapkan
pemahaman mengenai eritroderma menjadi lebih baik sehingga prognosis menjadi lebih
baik.

1 | Eritroderma

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi, histologi dan fisiologi kulit


Anatomi Kulit
Kulit merupakan bagian tubuh yang paling utama yang perlu diperhatikan dalam
tata kecantikan kulit. Pemahaman tentang anatomi dan fisiologi kulit akan membantu
mempermudah perawatan kulit untuk mendapatkan kulit wajah yang segar, lembab,
halus, lentur dan bersih. Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh
bagian tubuh, membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. Luas kulit
pada manusia rata-rata + 2 meter persegi dengan berat 10 kg jika ditimbang dengan
lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak atau beratnya sekitar 16 % dari berat badan
seseorang. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam
gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah
mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus
(keratinisasi dan pelepasan sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan
suhu tubuh, produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk
melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari.3
Kulit merupakan suatu kelenjar holokrin yang cukup besar dan seperti jaringan
tubuh lainnya, kulit juga bernafas (respirasi), menyerap oksigen dan mengeluarkan
karbondioksida. Kulit menyerap oksigen yang diambil lebih banyak dari aliran darah,
begitu pula dalam pengeluaran karbondioksida yang lebih banyak dikeluarkan melalui
aliran darah. Kecepatan penyerapan oksigen ke dalam kulit dan pengeluaran
karbondioksida dari kulit tergantung pada banyak faktor di dalam maupun di luar kulit,
seperti temperatur udara atau suhu, komposisi gas di sekitar kulit, kelembaban udara,
kecepatan aliran darah ke kulit, tekanan gas di dalam darah kulit, penyakit-penyakit kulit,
usia, keadaan vitamin dan hormon di kulit, perubahan dalam metabolisme sel kulit dan
pemakaian bahan kimia pada kulit.3

2 | Eritroderma

Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu : kulit ari (epidermis), sebagai lapisan
yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan jaringan penyambung di
bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau subkutis) Sebagai gambaran, penampang
melintang struktur lapisan kulit tersebut dapat dilihat pada gambar berikut (gambar 1):

Gambar 1 : Penampang kulit


1

Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan kulit
yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti,
dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum lusidum terdapat
langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan
protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak
lebih jelas di telapak tangan dan kaki. Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis selsel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir
kasar ini terdiri atas keratohialin.4
Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang
besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena
3 | Eritroderma

banyak mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat
ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel stratum spinosun terdapat
jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin.
Pelekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut
nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel
stratum spinosum mengandung banyak glikogen.4
Stratum germinativum terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun vertical
pada perbatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan ini
merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mrngalami mitosis dan
berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang berbentuk
kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan
lain oleh jembatang antar sel, dan sel pembentuk melanin atau clear cell yang merupakan
sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir
pigmen (melanosomes).4

Gambar 2. Gambaran histologis lapisan epidermis 5


2

Lapisan Epidermis

4 | Eritroderma

Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah lapisan dermis yang jauh
lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2
bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut
saraf dan pembuluh darah, dan pars retikulare yaitu bagian bawahnya yang menonjol kea
rah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen,
elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan
kondroitin sulfat, di bagian ini terdapat pula fibroblast, membentuk ikatan yang
mengandung hidrksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dengan
bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen
muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang
serta lebih elastis.4

Gambar 3. Gambaran histologis lapisan dermis 5


3

Lapisan Hipodermis
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe,
saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari pembuluhpembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi
sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman
5 | Eritroderma

jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan
paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan
ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak,
lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta makin kehilangan kontur.4

Gambar 4. Gambaran histologis lapisan hipodermis 5


Fisiologi kulit
Kulit memiliki banyak fungsi yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh.
Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi,
persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan
vitamin D, dan keratinisasi.4
1

Fungsi proteksi
Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut:

a Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin
merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan
kulit.
b Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi; selain itu juga
mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit.
c Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta
mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum
ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6,5
yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
6 | Eritroderma

d Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel
melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi
materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila
terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan.
e Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang pertama adalah sel
Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang
bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans.4
2 Fungsi absorpsi
Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti
vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas
kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil
bagian pada fungsi respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti
aseton, CCl4, dan merkuri. Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti
kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat
peradangan. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi,
kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui
celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui selsel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar.4
3 Fungsi ekskresi
Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya,
yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:
a Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan
melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika
muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum
dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan
campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolit. Sebum berfungsi
menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi, dan memproteksi keratin.4
b Kelenjar keringat
Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar
dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam

7 | Eritroderma

ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif
jumlahnya lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga
merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul
organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.4
4 Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap
rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap
dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis, badan taktil
Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel
Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan
Paccini di epidermis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah
yang erotic.4
5 Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)
Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua
cara yaitu pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada
saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta
memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari
tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit
keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi
pengeluaran panas oleh tubuh.4
6 Fungsi pembentukan pigmen
Warna pada kulit dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pigmentasi epidermis dan
sirkulasi kapiler yang ada di lapisan dermis. Pigmentasi epidermis dipengaruhi oleh dua
pigmen, yaitu karoten dan melanin:
a Karoten merupakan pigmen merah-jingga yang berakumulasi di epidermis. Paling banyak
terdapat di stratum korneum pada orang berkulit terang, juga di jaringan lemak pada lapisan
dermis dan subkutis. Perubahan warna yang diakibatkan oleh karoten paling terlihat pada orang
berkulit pucat, sedangkan pada orang berkulit gelap sulit terlihat. Karoten dapat dikonversi
menjadi vitamin A yang diperlukan untuk pemeliharaan epitel dan sintesis fotoreseptor di mata.6
b Melanin merupakan pigmen kuning-coklat, atau hitam yang diproduksi oleh melanosit.
Melanosit sendiri berada di antara sel-sel basal dan memiliki juluran ke sel-sel di atasnya.

8 | Eritroderma

Perbandingan jumlah melanosit dan sel basal bervariasi, mulai dari 1:20 sampai 1:4. Badan
Golgi melanosit membentuk melanin dari tyrosin dengan bantuan Cu dan oksigen, lalu
mengemasnya menjadi vesikel-vesikel melanosom. Melanosom ini akan dihantarkan melalui
juluran melanosit dan mewarnai sel-sel keratin di atasnya sampai didegradasi oleh lisosom.6
Jumlah melanosit baik pada orang kulit hitam maupun kulit putih adalah sama,
yang berbeda adalah aktivitas dan produksi pigmennya (melanosit). Pada orang kulit
pucat transfer melanosom hanya sebatas stratum spinosum, sedangkan pada orang
berkulit gelap melanosom dapat dihantarkan hingga ke stratum granulosum.6
Sirkulasi darah yang ada di dalam pembuluh kapiler pada dermis juga berperan
dalam menentukan warna kulit. Hemoglobin yang fungsinya untuk mengangkut oksigen
adalah bersifat pigmen. Ketika berikatan dengan oksigen, hemoglobin akan berwarna
merah terang sehingga memberikan pewarnaan merah pada pembuluh kapiler. Ketika
pembuluh-pembuluh tersebut mengalami dilatasi, maka warna merah pada kulit akan
semakin jelas. Contohnya jika saat suhu tubuh sedang tinggi, maka pembuluh darah akan
melebar untuk melepaskan panas dan pada saat yang sama akan menimbulkan citra
merah pada kulit tersebut. Sebaliknya ketika suplai darah berkurang (misalnya pada gagal
jantung) maka kulit akan berubah relatif pucat akibat penyempitan pembuluh kapiler.6
7 Fungsi pembentukan vitamin D
Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi
kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi
prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah
hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal
ke dalam pembuluh darah. Tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri, namun belum
memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D sistemik
masih tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena
adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.4
8 Fungsi keratinisasi
Keratinisasi merupakan suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel
yang membelah. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel
basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas
sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti
9 | Eritroderma

menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang
sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang
baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu seterusnya.
Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0.1
mm. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus, seperti pada abrasi atau terbakar, maka selsel basal akan membelah lebih cepat. Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi
oleh hormon epidermal growth factor (EPF).7
Pada eritroderma terjadi kelainan kulit yaitu ditandai adanya eritema pada hampir
seluruh tubuhnya akibat dari pelebaran pembuluh darah yang meneybabkan aliran darah
ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah.

2.2 Definisi
Eritroderma berasal dari bahasa yunani, yaitu erythro- (red = merah) + derma,
dermatos (skin = kulit), merupakan kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema di
seluruh tubuh atau hampir seluruh tubuh, dan biasanya disertai skuama. Pada beberapa
kasus skuama tidak selalu ditemukan, misalnya pada eritroderma yang disebabkan oleh
alergi obat secara sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama. Eritroderma ialah
kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema universalis (90%-100%). 1,8
eritroderma adalah gambaran kelainan inflamasi pada kulit berupa eritema pada lebih dari
90% permukaan tubuh.9
Nama lain penyakit ini adalah dermatitis eksfoliativa generalisata, meskipun
sebenarnya mempunyai pengertian yang agak berbeda. Kata eksfoliasi berdasarkan
pengelupasan skuama yang terjadi, walaupun kadang-kadang tidak begitu terlihat, dan
kata dermatitis digunakan berdasarkan terdapatnya reaksi eksematus. Eritroderma dapat
timbul sebagai perluasan dari penyakitkulit yang telah ada sebelumnya (psoriasis,
dermatitis atopic, dan dermatitis spongiotik lainnya), reaksi hipersensitivitas obat
(antiepilepsi, antihipertensi, antibiotika, Calcium Chanel Blocker, dan bahan topical),
penyakit sistemik termasuk keganasan, serta idiopatik (20%).10
2.3 Epidemiologi

10 | E r i t r o d e r m a

Insidens eritroderma sangat bervariasi, menurut penelitian dari 0,9-70 dari


100.000 populasi. Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita namun paling sering
pada pria dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40 tahun,
meskipun eritroderma dapat terjadi pada semua usia. Insiden eritroderma makin
bertambah. Penyebab utamanya adalah psoriasis. Hal tersebut seiring dengan
meningkatnya insidens psoriasis.1,2
Penyakit kulit yang sedang diderita memegang peranan penting lebih dari
setengah kasus dari eritroderma. Identifikasi psoriasis mendasari penyakit kulit lebih dari
seperempat kasus. Didapatkan laporan bahwa terdapat 87 dari 160 kasus adalah psoriasis
berat.1
Abraham et al. menyatakan bahwa dari 101 kasus eritroderma didapatkan 75%
adalah pria dengan usia rata-rata 50 tahun, dengan durasi penyakit adalah 5 tahun. Anakanak bisa menderita eritroderma diakibatkan alergi terhadap obat. Alergi terhadap obat
bisa karena pengobatan yang dilakukan sendiri ataupun penggunaan obat secara
tradisional.2

Tabel 1. Prevalensi kejadian eriteoderma pada dewasa.11


Sumber Champion RH ed. Rooks, textbook of dermatology, 5th ed
2.4 Etiologi
11 | E r i t r o d e r m a

Eritroderma dapat disebabkan oleh akibat alergi obat secara sistemik, perluasan
penyakit kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan.2 Penyakit kulit yang dapat
menimbulkan eritroderma diantaranya adalah psoriasis 23%, dermatitis spongiotik 20%,
alergi obat 15%, CTCL atau sindrom sezary 5%.12
Secara morfologis gambaran eritroderma menyerupai beberapa kelainan kulit dan
penyakit sistemik, begitu pula akibat alergi obat-obatan tertentu2 (Tabel 2).
1. Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik
Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat yang dapat
menyebabkan eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin,
barbiturat. Insiden ini dapat lebih tinggi karena kebiasaan masyarakat orang sering
melakukan pengobatan sendiri dan pengobatan secara tradisional.2 Waktu mulainya obat
ke dalam tubuh hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera sampai 2 minggu.
Gambaran klinisnya adalah eritema universal. Bila ada obat yang masuk lebih dari satu
yang masuk ke dalam tubuh diduga sebagai penyebabnya ialah obat yang paling sering
menyebabkan alergi.2
2. Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit
Eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang paling banyak
ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat pengobatan
psoriasis yang terlalu kuat.2
Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang juga
dikenal sebagai penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia penderita
berkisar 4-20 minggu. Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu
dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan eritroderma adalah
pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken planus.2,11
3. Eritroderma akibat penyakit sistemik
Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal dapat memberi
kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk
akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari penyebabnya, yang
berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan laboratorium dan sinar X
toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat dalam dan infeksi fokal. Ada
12 | E r i t r o d e r m a

kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat infeksi
bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu diobati.2
Tabel 2. Proses yang Berkaitan dengan Timbulnya Eritroderma
Penyakit Kulit

Penyakit

Obat-obatan

Sistemik
Dermatitis atopik

Mikosis fungoides

Sulfonamid

Dermatitis kontak

Penyakit Hodgkin

Antimalaria

Dermatofitosis

Limfoma

Penisilin

Penyakit Leiner

Leukemia akut dan

Sefalosporin

Liken planus
Mikosis fungoides
Pemfigus foliaceus
Pitiriasis rubra
Psoriasis
Sindrom Reiter

kronis

Arsen

Multipel mieloma
Karsinoma paru
Karsinoma rektum
Karsinoma

tuba

falopii
Dermatitis

Dermatitis

papuloskuamosa

seboroik

pada AIDS

Dermatitis statis

Merkuri
Barbiturat
Aspirin
Kodein
Difenilhidantoin
Yodium
Isoniazid
Kuinidin
Kaptopril

Sumber: Fitzpatrick et all. Fitzpatricks dermatology in general medicine.


2.5 Patofisiologi
Dalam mempelajari patogenis dari eritroderma membutuhkan pengetahuan
biologi normal dari epidermis. Seperti pada jaringan lainnya, epidermis melakukan
13 | E r i t r o d e r m a

regenerasi secara rutin yang terjadi pada membrana basalis, dan sel-sel ini berubah
menjadi struktur keratin yang utuh melalui proses selama 10-12 hari. Pada umumnya, selsel ini membutuhkan tambahan sekitar 12-14 hari lagi di stratum korneum sebelum sel ini
dilepaskan.1
Berdasarkan penelitian, jumlah skuama yang hilang pada manusia normal antara
500-1000 mg/hari. Pengelupasan keratin paling banyak terjadi pada telapak tangan, kulit
kepala, dan dahi (kurang lebih 2-3,5 gr/m2 per 24 jam) dan paling sedikit pada dada,
lengan bawah dan tungkai bawah (0,1 gr/m2 per 24 jam). Karena Tubuh mengkatabolisme
50-60 gr protein per hari, pengelupasan kulit yang fisiologis ini berperan penting dalam
metabolisme protein secara keseluruhan.1
Pada eritroderma terjadi peningkatan laju pengelupasan epidermis. Meskipun
beberapa peneliti memperkirakan sekitar 100 gr epidermis hilang setiap harinya, tetapi
pada beberapa literatur menyatakan bahwa hanya 20-30 gr yang hilang. Pada skuama
penderita eritroderma ditemukan peningkatan jumlah asam nukleat dan hasil
metabolismenya, penurunan jumlah asam amino, dan peningkatan jumlah protein bebas.1
Reaksi tubuh terhadap suatu agen dalam tubuh (baik itu obat-obatan, perluasan
penyakit kulit dan penyakit sistemik) adalah berupa pelebaran pembuluh darah kapiler
(eritema) yang generalisata. Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang
menyebabkan aliran darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah.
Akibatnya pasien merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi
gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan
cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat,
kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas
menyebabkan hipermetabolisme kompensatoar dan peningkatan laju metabolisme basal.
Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju metabolisme basal.1,4
Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih sehari
sehingga menyebabkan kehilangan protein Hipoproteinemia dengan berkurangnya
albumin dan peningkatan relatif globulin terutama gammaglobulin merupakan kelainan

14 | E r i t r o d e r m a

yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh pergesaran cairan ke
ruang ekstravaskuler.4
Eritroderma akut dan kronis dapat menganggu mitosis rambut dan kuku berupa
kerontokan rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada
eritroderma yang telah berlangsung berbulan bulan dapat terjadi perburukan keadaan
umum yang progresif. 11
2.6 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis eritroderma beraneka ragam dan bervariasi tiap individu.
Kelainan yang paling pertama muncul adalah eritema, yang disebabkan oleh pelebaran
pembuluh darah, yang umumnya terjadi pada area genetalia, ekstremitas, atau kepala.
Eritema ini akan meluas sehingga dalam beberapa hari atau minggu seluruh permukaan
kulit akan terkena, yang akan menunjukan gambaran yang disebut red man syndrome.1
Skuama muncul setelah eritema, biasanya setelah 2-6 hari. Skuama adalah lapisan
stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama berkonsistensi mulai dari halus sampai
kasar. Ukuran skuama bervariasi; pada proses akut akan berukuran besar, sedangkan
pada proses kronis akan berukuran kecil. Warna skuama juga bervariasi, dari putih hingga
kekuningan. Deskuamasi yang difus dimulai dari daerah lipatan, kemudian menyeluruh.
Dapat juga mengenai membran mukosa, terutama yang disebabkan oleh obat. Bila kulit
kepala sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat lepas. Pada
eritroderma, skuama tidak selalu terdapat, misalnya eritroderma karena alergi obat
sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, skuama kemudian timbul pada stadium
penyembuhan timbul.1,13

15 | E r i t r o d e r m a

Gambar 5. Eritema disertai Skuama.


Sumber: Wolf, Klaus.2012.Fitzpatrick.Colot Atlas Dermatology, Allergic Contact
Dermatitis ed 8. Harvard Medical School : New York
Kulit kepala dapat terlibat, yang akan meluas ke folikel rambut dan matriks kuku.
Kurang lebih 25% dari pasien mengalami alopesia, dan pada banyak kasus, kuku akan
mengalami kerapuhan sebelum lepas seluruhnya. Telapak tangan dan kaki biasanya ikut
terlibat, namun jarang mengenai membran mukosa. Sering terjadi pula bercak hiper dan
hipopigmentasi. Pada eritroderma kronis, eritema tidak begitu jelas karena bercampur
dengan hiperpigmentasi.1,11
Epidermis berukuran tipis pada awal proses penyakit dan akan terlihat dan terasa
tebal pada stadium lanjut. Kulit akan terasa kering dengan krusta berwarna kekuningan
yang disebabkan serum yang mengering dan kemungkinan karena infeksi sekunder. Pada
beberapa kasus, manifestasi klinis yang muncul pada eritroderma yang akut menyerupai
nekrolisis epidermal toksik, walaupun secara patofisiologi sangat berbeda.1
Pada eritroderma karena penyakit kulit, penyakit sistemik dan obat-obatan, sering
dijumpai kelainan-kelainan yang mendasarinya, yang membantu dalam menegakan
diagnosis. Sering ditemukan plak psioriasis yang masih tersisa; papul atau lesi oral
likenplanus; gambaran pulau yang khas dari pitiriasis rubra; dan lesi papular dari drug
16 | E r i t r o d e r m a

eruption.1 Gejala dari penyakit yang mendasari ini sering sulit ditemukan dan harus
diperiksa dengan cermat.2
Pasien mengeluh kedinginan. Pengendalian regulasi suhu tubuh menjadi hilang,
sehingga sebagai kompensasi terhadap kehilangan panas tubuh, sekujur tubuh pasien
menggigil untuk dapat menimbulkan panas metabolik. Eritroderma akibat alergi obat
secara sistemik diperlukan anamnesis yang teliti untuk mencari obat penyebabnya.
Umumnya alergi timbul akut dalam waktu 10 hari. Pada mulanya kulit hanya eritem saja,
setelah penyembuhan barulah timbul skuama.2,11 Pada eritroderma akibat alergi obat,
dapat disertai edema pada wajah dan leher.

Gambar 6. Blepharitis, epiphora, dan ectropion pada Eritroderma yang disebabkan


dermatitis Atopi.
Sumber: Wolf, Klaus.2012.Fitzpatrick.Colot Atlas Dermatology, Allergic Contact
Dermatitis ed 8. Harvard Medical School : New York

17 | E r i t r o d e r m a

Gambar 7. Eritroderma pada pasien psoriasis. Terdapat eritema universal dan penebalan
kulit. Pasien juga mengeluhkan malaise.
Sumber: Wolf, Klaus.2012.Fitzpatrick.Colot Atlas Dermatology, Allergic Contact
Dermatitis ed 8. Harvard Medical School : New York
Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit seringkali pada psoriasis dan
dermatitis seboroik bayi. Psoriasis dapat menjadi eritroderma karena dua hal yaitu:
karena penyakitnya sendiri atau karena pengobatan yang terlalu kuat. Psoriasis yang
menjadi eritroderma tanda khasnya akan menghilang. Pada eritroderma et causa
psoriasis, merupakan eritroderma yang disebabkan oleh penyakit psoriasis atau
pengobatan yaitu kortikosteroid sistemik, steroid topikal, komplikasi fototerapi, stress
emosional yang berat, penyakit terdahulu misalnya infeksi.2,11,14
2.7 Diagnosis
Diagnosis agak sulit ditegakkan, harus melihat dari tanda dan gejala yang sudah
ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan di psoriasis dan kuning-kemerahan di
pilaris rubra pityriasis; perubahan kuku khas psoriasis; likenifikasi, erosi, dan ekskoriasi
di dermatitis atopik dan eksema menyebar, relatif hiperkeratosis tanpa skuama, dan
pityriasis rubra; ditandai bercak kulit dalam eritroderma. Dengan beberapa biopsi
biasanya dapat menegakkan diagnosis.1,11,15

mencari tanda dari etiologi


dari riwayat dan
pemeriksaan fisik

18 | E r i t r o d e r m a

+
terlihat multiple pada biopsy
+
punch; diulangi biopsy 3-6
bulan untuk menentukan
diagnosis pasti

dilakukan pemeriksaan
tambahan : biopsy untuk
immunofluorescence, CBC,
CD4: ratio CD8, CXR, biopsy
kelenjar limfa

+
diagnosis pasti
dan pengobatan
-yang tepat

pikirkan DD
lain

Diagram 1. Diagnosis pasien yang dicurigai (CBC = pemeriksaan sel darah, CXR = xray thoraks)
Sumber: Champion RH ed. Rooks, textbook of dermatology, 5th ed
2.8 Diagnosis Banding
Ada beberapa diagnosis banding pada eritorderma :
1. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis yang terjadi di lapisan epidermis
dan dermis, sering berhubungan dengan riwayat atopik pada keluarga asma bronchial,
rhinitis alergi, konjungtivitis. Atopik terjadi diantara 15-25% populasi, berkembang dari
satu menjadi banyak kelainan dan memproduksi sirkulasi antibodi IgE yang tinggi, lebih
banyak karena alergi inhalasi. Dermatitis atopik adalah penyakit kulit yang mungkin
terjadi pada usia berapapun, tetapi biasanya timbul sebelum usia 5 tahun. Biasanya, ada
tiga tahap: balita, anak-anak dan dewasa.16
19 | E r i t r o d e r m a

Dermatitis atopik merupakan salah satu penyebab eritroderma pada orang dewasa
dimana didapatkan gambaran klinisnya terdapat lesi pra-existing, pruritus yang parah,
likenifikasi dan prurigo nodularis, sedangkan pada gambaran histologi terdapat akantosis
ringan, spongiosis variabel, dermal eosinofil dan parakeratosis.2,16
2. Psoriasis
Eritroderma psoriasis dapat disebabkan oleh karena pengobatan topikal yang
terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Ketika psoriasis menjadi
eritroderma biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat
menghilang dimana plak-plak psoriasis menyatu, eritema dan skuama tebal universal.
Psoriasis mungkin menjadi eritroderma dalam proses yang berlangsung lambat dan tidak
dapat dihambat atau sangat cepat. Faktor genetik berperan. Bila orang tuanya tidak
menderita psoriasis resiko mendapat psoriasis 12%, sedangkan jika salah seseorang orang
tuanya menderita psoriasis resikonya mencapai 34 39%.11,15
Psoriasis ditandai dengan adanya bercak-bercak, eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz,
dan Kobner.2
3. Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang kronis ditandai dengan plak
eritema yang sering terdapat pada daerah tubuh yang banyak mengandung kelenjar
sebasea seperti kulit kepala, alis, lipatan nasolabial, belakang telinga, cuping hidung,
ketiak, dada, antara skapula. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua umur, dan
meningkat pada usia 40 tahun. Biasanya lebih berat apabila terjadi pada laki-laki daripada
wanita dan lebih sering pada orang-orang yang banyak memakan lemak dan minum
alkohol. 11,13
Biasanya kulit penderita tampak berminyak, dengan kuman Pityrosporum ovale
yang hidup komensal di kulit berkembang lebih subur. Pada kepala tampak eritema dan
skuama halus sampai kasar (ketombe). Kulit tampak berminyak dan menghasilkan
skuama putih yang berminyak pula. Penderita akan mengeluh rasa gatal yang hebat. 2 DS
dapat diakibatkan oleh ploriferasi epidermis yang meningkat seperti pada psoriasis. Hal
ini dapat menerangkan mengapa terapi dengan sitostatik dapat memperbaikinya. Pada

20 | E r i t r o d e r m a

orang yang telah mempunyai faktor predisposisi, timbulnya DS dapat disebabkan oleh
faktor kelelahan sterss emosional infeksi, atau defisiensi imun.13

Tabel 3. Differential Diagnosis Eritroderma.


Sumber: Wolf, Klaus.2012.Fitzpatrick.Colot Atlas Dermatology, Allergic Contact
Dermatitis ed 8. Harvard Medical School : New York

2.9 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin, didapatkan penurunan hemoglobin,
peningkatan eosinofil, dan peningkatan leukosit (pada infeksi sekunder). Kadar
imunoglobulin dapat meningkat, khususnya IgE. Albumin serum menurun dan gamma
globulin meningkat relatif. Didapatkan pula ketidakseimbangan elektrolit karena
dehidrasi.1
Pasien dengan eritrodetma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda dari
ketidakseimbangan nitrogen: edema, hipoalbuminemia, dan hilangnya masa otot.
Beberapa penelitian menunjukan terdapat perubahan keseimbangan nitrogen dan
potasium ketika laju pembentukan skuama mencapai 17 gr/m2 per 24 jam.
2.10

Histopatologi
Pada kebanyakan pasien dengan eritroderma histopatologi dapat membantu

mengidentifikasi penyebab eritroderma pada sampai dengan 50% kasus, biopsi kulit
dapat menunjukkan

gambaran yang

bervariasi, tergantung berat dan durasi proses


21 | E r i t r o d e r m a

inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis menonjol, terjadi edema. Pada
stadium kronis, akantosis dan perpanjangan rete ridge lebih dominan.namun demikian
pemeriksaan histopatologi tidak terlalu spesifik.11,17
Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi semakin pleomorfik, dan
mungkin akhirnya memperoleh fitur diagnostik spesifik, seperti bandlike limfoid infiltrat
di dermis-epidermis, dengan sel cerebriform mononuklear

atipikal dan Pautrier's

microabscesses. Pasien dengan sindrom Sezary sering menunjukkan beberapa fitur dari
dermatitis kronis, dan eritroderma jinak mungkin kadang-kadang menunjukkan beberapa
gambaran tidak jelas pada limfoma.11
Pemeriksaan immunofenotipe infiltrat limfoid juga mungkin sulit menyelesaikan
permasalahan karena pemeriksaan ini umumnya memperlihatkan gambaran sel T matang
pada eritroderma jinak maupun ganas. Pada psoriasis papilomatosis dan gambaran
clubbing lapisan papiler dapat terlihat, dan pada pemfigus foliaseus, akantosis superficial
juga ditemukan. Pada eritroderma ikhtisioform dan ptiriasis rubra pilaris, biopsi diulang
dari tempat-tempat yang dipilih dengan cermat dapat memperlihatkan gambaran
khasnya.11

Gambar 8. Histopatological examination18


Sumber: Sofyan,Asrawati,et al. 2013. Erythroderma Cause Drug Allergies. Department
of Dermatovenereology Medical Faculty of Hasanuddin University Wahidin
Sudirohusodo Hospital Makassar

22 | E r i t r o d e r m a

2.11

Penatalaksanaan
Terapi yang optimal untuk eritroderma tergantung pada penegakan penyebab

penyakit.11 Pada eritroderma karena alergi obat, penghentian dari obat-obat yang
menyebabkan alergi atau berpotensi menyebabkan alergi memberikan hasil yang baik.
Pada eritroderma karena penyakit kulit, penyakit yang mendasari harus diatasi.
Pemberian salep ter pada psoriasis sebaiknya secara hati-hati karena mampu mencetuskan
eksaserbasi eritroderma.2
Karena terdapat peningkatan kehilangan cairan transepidermal, dehidrasi sering
ditemukan sebagai komplikasi. Input dan output cairan harus dipantau secara hatihati.Pemberian kortikosteroid topikal efektif dalam mengatasi inflamasi pada kulit.
Pemberian antihistamin ditujukan untuk mengatasi pruritus.11
Pada eritroderma idiopatik, pemberian steroid diindikasikan apabila pengunaan
terapi konservatis tidak menunjukan perbaikan. Pada eritroderma golongan I yang
disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednison 4 x 10 mg 2. Pada golongan II
akibat perluasan penyakit diberikan kortikosteroid prednison 4x10 mg - 4x15 mg. Jika
tidak tampak perbaikan dalam beberapa hari dosis dapat dinaikkan. Penyembuhan terjadi
secara cepat, umumnya dalam beberapa hari-minggu. Pemberian kortikosteroid harus
dipantau secara ketat dalam hal efek samping, terutama pada pasien usia lanjut. 2
Perhatikan kemungkinan terjadinya masalah medis sekunder (misal: dehidrasi, gagal
jantung, dan infeksi).

23 | E r i t r o d e r m a

Tabel 4. Manajemen Terapi Eritroderma. Sumber: Wolf, Klaus.2012.Fitzpatrick.Colot


Atlas Dermatology, Allergic Contact Dermatitis ed 8. Harvard Medical School : New
York

2.12

Komplikasi
Banyak sistem organ selain epidermis dan dermis juga terlibat pada eritroderma.

Limpadenopati terjadi pada 60% dari sebagian besar kasus. Hepatomegali ditemukan
pada 20% kasus (Abrahams et al.). spenomegali ditemukan pada 3% kasus (kesemuanya
mengalami limpoma) baik pada stadium awal dan pada hampir 20% stadium akhir.

24 | E r i t r o d e r m a

Rusaknya barier kulit pada eritroderma menyebabkan peningkatan extrarenal


water lost (karena penguapan air berlebihan melalui barrier kulit yang rusak).
Peningkatan extrarenal water lost ini menyebabkan kehilangan panas tubuh yang
menyebabkan hipotermia dan kehilangan cairan yang menyebabkan dehidrasi. 1,11 Respon
tubuh terhadap dehidrasi dengan meningkatkan cardiac output, yang bila terus berlanjut
akan menyebabkan gagal jantung, dengan manifestasi klinis seperti takikardia, sesak, dan
edema. Oleh karena itu evaluasi terhadap balans cairan sangatlah penting pada pasien
eritroderma.1
Pasien dengan eritroderma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda dari
ketidakseimbangan nitrogen: edema, hipoalbuminemia, dan hilangnya masa otot. Pada
eritroderma kronik dapat mengakibatkan kakeksia, alopesia, palmoplantar keratoderma,
kelainan pada kuku and ektropion.11

2.13

Prognosis
Prognosis eritroderma tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya.

Prognosis pada kasus alergi obat adalah baik setelah obat dihentikan. Penyembuhan
golongan ini adalah yang tercepat dibandingkan dengan golongan lain. Prognosis kasus
akibat gangguan sistemik seperti limfoma akan tergantung pada keberhasilan pengobatan
penyakitnya itu sendiri. Kasus idiopatik adalah kasus yang sulit diramalkan, dapat
bertahan dalam waktu yang lama, dan seringkali disertai dengan keadaan umum yang
lemah.
Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan dengan
kortikosteroid hanya mengurangi gejalanya, dan pasien akan mengalami ketergantungan
kortikosteroid.

25 | E r i t r o d e r m a

BAB III
KESIMPULAN

Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan eritema di seluruh atau
hampir seluruh tubuh dan biasanya disertai skuama. Kelainan ini lebih banyak didapatkan
pada pria, terutama pada usia rata-rata 40-60 tahun. Penyebab tersering eritroderma
adalah akibat perluasan penyakit kulit sebelumnya, reaksi obat, alergi obat, dan akibat
penyakit sistemik termasuk keganasan.
Gambaran klinik eritroderma berupa eritema dan skuama yang bersifat
generalisata. Penatalaksanaan eritroderma yaitu dengan pemberian kortikosteroid dan
pengobatan topikal dengan pemberian emolien serta pemberian cairan dan perawatan di
ruangan yang hangat.
Prognosis eritroderma yang disebabkan obat-obatan relatif lebih baik, sedangkan
eritroderma yang disebabkan oleh penyakit idiopatik, dermatitis dapat berlangsung
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan cenderung untuk kambuh.

26 | E r i t r o d e r m a

DAFTAR PUSTAKA

[1] Margaret J, Bernstein ML, Rothe MJ. Exfoliative dermatitis. In: Wolff K, Goldsmith LA,
Katz SI, editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8 th ed. New Yo rk:
Mc. Graw Hill Medical; 2012. P. 225 - 32.
[2] Djuanda, Adhi, dkk. 2012. Eritroderma : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Bagian Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI. Jakarta.197- 200
[3] Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
[4] Wasitaatmadja, Syarif. 2010. Anatomi Kulit dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin edisi ke enam.Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
[5] Eroschenko, Victor. P. 2003. Atlas Histologi di Fiore. Jakarta: EGC.
[6] Martini, Ric. 2006. Fundamentals of Anatomy and Physiology. USA: Pearson Company.
[7] Tortora, G. 2006. Principles of Anatomy and Physiology. USA: John Wiley & Sons Inc.
[8] Daili, Emmy S. Sjamsoe, dkk. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia, Sebuah
Panduan Bergambar. Jakarta: PT Medical Multimedia Indonesia.
27 | E r i t r o d e r m a

[9] Sigurdsson V, Steegmans PHA, van Vloten WA. The incidence of erythroderma: a survey
among all dermatologists in the Netherlands. J Am Acad Dermatol 2001; 45: 6758.
[10] Gibson LE and Perry HO. 1992. Papulosquamous eruption and exfoliative dermatitis.
Dermatology. 3rd ed. Philadelpia : WB Saunders Co. pp. 607-646
[11] Champion RH ed. Eczema, Lichenification, pririgo and Erythroderma. In : champion RH
eds. Rooks, textbook of dermatology, 5th ed. Washington; Blackwell Scientific
Publications. 2008. p; 17.48
[12] Siregar R.S. Dermatosis eritroskuamosa. Saripati penyakit kulit. 2nd ed. Jakarta : EGC.
2005. p; 94-106, 236-238
[13] Utama HW, Kurniawan D. Erupsi alergi obat. Tesis. Palembang: Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya. 2007. p; 11.
[14] Schon MP, Boehncke WH. Psoriasis NEJM. 2005; 352:1899-912
[15] Imtikhananik. Dermatitis Eksfoliativa. Cermin Dunia Kedokteran. 1992; 74: 16-18.
[16] Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Bagian
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI. p; 138.
[17] James, William D. (William Daniel). 2011. Andrews Diseases of the skin : clinical
dermatology 11th ed. p. 211-12
[18] Sofyan,Asrawati,et al. 2013. Erythroderma Cause Drug Allergies. Department of
Dermatovenereology Medical Faculty of Hasanuddin University Wahidin Sudirohusodo
Hospital Makassar.

28 | E r i t r o d e r m a