Anda di halaman 1dari 19

SKRINING

I.

Tujuan
I.1 Mampu menentukan golongan senyawa kimia apa saja yang ada
dalam tumbuhan obat
I.2 Mampu menjelaskan tahap tahap proses skrining untuk suatu
golongan senyawa

II.

Prinsip
Berdasarkan reaksi hidrolisis

III.

Reaksi
III.1 Alkaloid
K 2H g I4
C H

O
CH

2 K

+ H g I42-

CH
+ H g I4

O
CH

CH

C H

H g I4

2-

CH

CH

N
C H

K a fe in

O
3

T e r b e n t u k e n d a p a n p u t ih

III.2 Steroid
K B rI4

K
CH

O
CH

+ B rI4-

N
CH

CH

CH
+ B iI 4

CH

B iI 4
O

N
CH

N
3

O
CH

N
CH

O
3

T e rb e n tu k e n d a p a n
c o k la t k e m e r a h a n

III.3 Flavonoid

C 2H 5O H + M g

M g (O H )2 + C 2H 5M g (O H )2 + C H 3C H

O H

O H

O H

+ H Cl

O H
+ C H 3C H

O H + C H 3C H

+ H Cl

O H

T e rb e n tu k n y a w a rn a u n g u

III.4 Polifenol dan tanin

F e C l3

F e 3 + + 3 C lO H

O H
O H

O H
+ F e(O H )3

+ F e3+
O H

O H
O H

O H

O H

O H

IV.

T e r b e n t u k n y a w a r n a h it a m

Teori Dasar
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam seperti
tanaman obat yang sangat melimpah. Seiring perkembangan zaman
yang semakin modern ini, penggunaan tanaman sebagai obat sudah

dikenal luas. Hal ini dapat dilihat dari program pemerintah yaitu back
to nature.
Salah satu pemikiran back to nature adalah penggunaan obat
tradisional baik berupa jamu, obat herbal terstandar (OHT), ataupun
fitofarmaka. Meluasnya penggunaan obat tradisional disebabkan
kepercayaan masyarakat bahwa obat tradisional berbahan alami. Akan
tetapi, selama ini pengetahuan tentang obat tradisional hanya diperoleh
melalu informasi tetapi masih belum dieksplorasi. Untuk itu
diperlukan penelitian tentang penggunaan obat tradisional sehingga
nantinya obat tersebut dapat digunakan secara aman dan efektif dan
dapat mengembangkan industry farmasi khususnya di Indonesia.
Skrining fitokimia merupakan suatu analisa kualitatif kandungan
kimia tumbuhan atau bagian tumbuhan. Skiring dapat dilakukan
dengan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) karena KLT
mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan kromatografi
kertas, yaitu dapat menghasilkan pemisahan lebih sempurna, kepekaan
yang lebih tinggi, dilaksanakan hanya beberapa menit saja, dapat
dipakai pereaksi kolosif, dan dapat dipakai senyawa hidrofob.
Pada penggunaan KLT digunakan fase gerak dan fase diam dimana
fase diam merupakan silica gel. Silica gel ini menghasilkan perbedaan
dalam efek pemisahan yang tergantung pada cara pembuatannya.
Selain itu, fase gerak adalah medium angkut yang terdiri atas satu atau
beberapa pelarut. Fase gerak ini merupakan eluena dan etil asetat
karena bersifat kepolaran dari minyak atsiri dengan perbandingan 93:7
juga menggunakan eluena IPA dan aquadest dengan perbandingan
1/3:1.4.
Selain menggunakan KLT, bisa juga digunakan metode tabung
untuk menentukan senyawa yang ada didalam suatu tanaman. Metode
tabung merupakan metode yang paling sederhana karena tidak
memerlukan alat yang canggih dan masih manual. Sebelum melakukan
uji tabung terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan dengan
menggunakan larutan KOH 5% yang menghasilkan warna intensif.
Selanjutnya melakukan pengujian metode tabung pada beberapa

senyawa, misalnya alkaloid, tanin, saponin, dan lain-lain menggunakan


beberapa pelarut.
Senyawa yang biasanya terdapat didalam tumbuhan, diantaranya
adalah :
1. Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang
terbesar. Pada umumnya alkaloid merupakan senyawa yang
bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen (N),
biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkaloid biasanya tanpa warna dan seringkali bersifat optis aktif,
kebanyakan berbentuk Kristal tetapi hanya sedikit yang berupa
cairan.
Prazat alkaloid yang paling umum adalah asam amino, meskipun
sebenarmya biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara
kimia, alkaloid merupakan suatu golongan heterogen. Banyak alkaloid
bersifat terpenoid, yang lainnya terutama berupa senyawa aromatic
yang mengandung gugus basa sebagai gugus rantai samping. Banyak
sekali alkaloid yang khas pada suatu suku tumbuhan sekerabat. Jadi
nama alkaloid sering kali diturunkan dari sumber tumbuhan
penghasilnya, misalnya alkaloid atropa atau alkaloid tropana.
Sebagian besar alkaloid alami yang bersifat sedikit asam akan
memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent
mayer; reagen wangner; dengan larutan asan tanat; reagen hager; atau
dengan reagen dragendroff. Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri
dari Kristal dari berbagai warna. Cream (mayer), kuning (hager),
coklat kemerah-merahan (wagner dan dragendroff).
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jenis kiranya
bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi
tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut
Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai :
a.

Alkaloid sesungguhnya
Alkaloid sesungguhnya

adalah

racun.

Senyawa

tersebur

menunjukkan aktivitas fisiologi yang luas bersifat basa, hampir

tanpa terkecuali bersifat basa, lazim mengandung nitrogen dalam


cincin heterosiklik dan diturunkan dari asam amino.
Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relative sederhana dimana

b.

nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik.


Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dan asam amino
c.

yang berifat basa.


Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari precursor asam amino dan
bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam kasus ini
yaitu alkaloid steroidal (contohnya konesin dan purin)
2. Fenol
Senyawa asam fenolat ada hubungannya dengan lingnin yang
terikat sebagai ester atau terdapat pada daun didalam fraksi yang tidak
larut dalam etanol atau mungkin terdapat dalam fraksi yang larut
dalam etanol yaitu sebagai glikosida sederhana. Deteksi asam fenolat
dari lignin dalam jaringan (Lignin adalah polimer fenol yang terdapat
dalam dinding sel tumbuhan, yang bersama selulosa) menyebabkan
kekauan dan kekokohan batang tumbuhan. Lignin terutama terdapat
pada tumbuhan berkayu karena sampai 30% bahan organic pepohonan
terdiri atas zat ini. bila dioksidasi dengan nitrobenzene, lignin
menghasilkan

tiga aldehida fenol sederhana yang ada kaitannya

dengan asam fenolat tumbuhan umum.


3. Tanin
Tanin merupakan senyawa polivenol yang berarti termasuk dalam
senyawa fenolik. Menurut batasannya, tanin dapat bereaksi dengan
protein membentuk kepolimer mantap yang tidak larut dalam air.
Dalam industry, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan
yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit yang
siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein.
Secara kimia, terdapat dua jenis utama tanin yang tersebar tidak
merata dalam dunia tumbuhan. Tanin terkondensasi hampir terdapat
didalam paku-pakuan dan gymnospermae serta tersebar luas dalam
angiospermae terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya, tanin

yang terhidrolisiskan penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping


dua.
4. Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa yang larut air dapat diektraksikan
dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah ektrak ini
dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol
oleh karakter itu warnanya berubah bila ditambah basa atau ammonia.
Flavonoid mengandung sistem aromatic yang terkonjugasi sehingga
akan menunjukkan pita serapan yang kuat pada sinar UV dan sinar
Visible atau tampak.
5. Steroid dan Triterpenoid
Terpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari
enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari
hidrokarbon C30 asiklik yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilah
a.
b.
c.
d.

menjadi sekurang-kurangnya empat golongan senyawa, yaitu :


Triterpena sebenarnya
Steroid
Saponin
Glikosida jantung
Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin
siklopentana perhidrofenantrena. Dahulu, sterol terutama dianggap
sebagai senyawa satwa (sebagai hormone kelamin, asam empedu, dan
lain-lain), tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak senyawa
tersebut yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan.
6. Kuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar
seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri dari dua gugus
karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon. Untuk
tujuan identifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok,

a.
b.
c.
d.

yaitu :
Benzokuinon
Naftokuinon
Antrakuinon
Kuinon isoprenoid
Tiga kelompok pertama biasanya terhidroklisasi dan bersifat
senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo dalam bentuk gabungan
dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.

Untuk memastikan adanya suatu pigmen termasuk kuinon atau


bukan, reaksi warna sederhana masih tetap berguna. Reaksi yang khas
ialah reduksi bolak-balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa
warna, kemudian kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara.
7. Saponin
Saponin atau glikosida sapongenin adalah salah satu tipe glikosida
yang tersebar luas dalam tanaman. Tipe saponin terdiri dari
sapongenin yang merupakan molekul aglikon dan sebuah gula.
Saponin merupakan senyawa yang menimbulkan basa jika dikocok
dengan air dan pada konsentrasi rendah sering menyebabkan
hemolisis sel darah merah dan sering digunakan sebagai detergen.
8. Koumarin
Kumarin adalah turunan benzalfa-piron dan ditemukan tersebar
luas dalam tumbuhan aktifitas biologi yang dimiliki oleh senyawa
kumarin adalah anti bakteri dan analgesic.
V.

Alat dan Bahan


V.1 Mortir
V.2 Ammonia
V.3 Kloroform
V.4 Kertas saring
V.5 Tabung reaksi
V.6 HCL 2N
V.7 Pereaksi dragendroff
V.8 Pereaksi mayer
V.9 Air panas
V.10
Simplisia
V.11
Pereaksi besi (III) klorida
V.12
Penangas air
V.13
Gelatin 1 %
V.14
Logam magnesium
V.15
Amil akohol
V.16
Vanillin sulfat
V.17
Eter
V.18
Cawan penguap
V.19
Pereaksi Liberman Burchad
V.20
Kapas
V.21
KOH 1 N

VI.

Prosedur
VI.1
Alkaloid

Sejumlah serbuk simplisia dalam mortir, membasakan dengan


ammonia sebanyak 1 ml, kemudian menambahkan kloroform dan
menggerusnya kuat kuat. Menyaring cairan kloroform,
menempatkan filtrat dalam tabung reaksi kemudian menambahkan
HCL 2N, mencampur dan mengocoknya, lalu membiarkan hingga
terjadi pemisahan. Dalam tabung reaksi terppisah :
Filtrat 1 :
Sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Dragendroff diteteskan ke dalam
filtrat, adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan
atau kekeruhan berwarna hingga coklat.
Filtrat 2 :
Sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Mayer diiteteskan ke dalam
filtrat, adanya aalkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan
atau kekeruhan berwarna putih.
Filtrat 3 : Sebagai blanko atau control negatif
VI.2
Fenolat
Sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan 100 ml air panas,
mendidihkan selama 5 menit kemudian menyaringnya. Filtrat
sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, menambahkan
pereaksi besi (III) klorida, timbul warna hijau biru kehitaman.
VI.3
Tannin
Sejumah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan di
atas tangas air, kemudian menyaringnya. Pada filtrat menambahkan
gelatin 1% akan timbul endapan putih, bila ada tannin.
VI.4
Flavonoid
Sejumlah serbuk simplisia digerus dalam mortir dengan sedikit air,
pindahkan dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit logam
magnesium dan 5 tetes HCL 2N, seluruh campuran dipanaskan
selama 5 10 menit. Setelah meyaring panas panas dan filtrat
dibiarkan dingin, kepada filtrat ditambahkan amil alkohol, lalu
dikocok kuat kuat, reaksi positif dengan terbentuknya warna
merah pada lapisan amil alkohol.
VI.5
Monoterpen dan seskuiterpen
Serbuk simplisia digerus dengan eter, kemudian fase eter diuapkan
dalam cawan penguap hingga kering, pada residu ditetesi pereaksi
larutan vanillin sufat. Terbentuknya warna-warni menunjukkan
adanya senyawa monoterpen dan seskuiterpen.
8

VI.6
Steroid dan triterpenoid
Serbuk simplisia digerus dengan eter, kemudian fase eter diuapkan
dalam cawan penguap hingga kering, pada residu ditetesi pereaksi
Liberman Burcahard. Terbentuknya warna ungu menunjukkan
kandungan triterpenoid sedangkan bila terbentuk warna hijau biru
menunjukkan adanya senyawa steroid
VI.7
Kuinon
Serbuk simplisia ditambahkan dengan air, dididihkan selama 5
menit kemudian disaring dengan kapas. Pada filtrat ditambahkan
larutan KOH 1 N. Terjadinya warna kuning menunjukkan bahwa
dalam bahan uji mengandung senyawa golongan kuinon
VI.8
Saponin
Serbuk simplisia ditambahkan dengan air, dididihkan selama 5
menit kemudian dikocok. Terbentuknya busa yang konsisten
selama 5 10 menit kurang lebih 1 cm, hal tersebut menunjukkan
bahwa bahan uji, mengandung saponin.

VII.

Data Pengamatan
NO

Pengujian

Hasil

Keterangan

Alkaloid

Pereaksi dragendroff :

berwarna coklat keruh


Pereaksi Mayer :
kekeruhan berwarna
putih
Berwarna hijau biru

Fenolat

kehitaman
3

Tannin

Adanya endapan putih

Flavonoid

Lapisan

Monoterpen
dan seskuiterpen
Steroid dan triterpenoid

merah
Residu berwarna warni

Residu berwarna hijau

Kuinon

biru
Larutan

Saponin

kuning
Terdapat busa

berwarna

berwarna

VIII. Pembahasan
Tanaman merupakan bahan alam yang sering digunakan sebagai
sumber bahan obat. Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman
yang berpotensi atau dapat dijadikan sebagai bahan baku obat,
khususnya obat tradisional yang telah digunakan oleh sebagian besar
rakyat Indonesia secara turun-temurun. Keuntungan penggunaan obat
tradisional ini, karena mudahnya diperoleh serta bahan bakunya yang
dapat dikembangkan sendiri Bahan alam memang sangat mudah
digunakan sebagai obat, karena mudah ditemukan disekitar kita.
Namun, tetap saja memiliki cara-cara tertentu dalam pengambilan dan
proses pengolahannya. Skrining fitokimia atau penapisan kimia
merupakan tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia
yang terkandung dalam tumbuhan, karena pada tahap ini kita bisa
mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang
sedang kita uji/teliti.
10

Pada praktikum skrining ini kami akan mengidentifikasikan adanya


kandungan senyawa sekunder dari simplisia daun sirih. Pendekatan
skrining fitokimia meliputi analisis kualiatif kandungan kimia
dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga,
buah, biji), terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif,
yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid, glikosida jantung, kumarin,
saponin (steroid dan triterpenoid), tannin (polifenolat), minyak
atsiri (terpenoid), iridoid, dan sebagainya. Adapun tujuan utama dari
pendekatan skrining fitokimia adalah untuk mensurvei tumbuhan
untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang
berguna untuk pengobatan. Keberadaan metabolit sekunder dapat
diidentifikasi keberadaannya dengan melakukan uji penapisan
menggunakan perlakuan dan pemberian pereaksi-pereaksi tertentu.
Flavonoid memiliki ikatan dengan gugus gula yang menyebabkan
flavonoid bersifat polar. Dilakukan dengan menggunakan reagen atau
pereaksi Willstater, Smith-Matcalfe dan NaOH 10% karena dapat
menghasilkan terjadinya perubahan warna yang menunujukan bahwa
ekstrak tersebut positif mengandung senyawa yang termasuk dalam
golongan flavonoid. Dan pada uji dengan pereaksi NaOH 10% akan
terjadi perubahan warna dari Coklat muda menjadi kuning muda.
flavonoid yang ditambahkan dengan pereaksi Willstater, SmithMatcalfe dan NaOH 10% kan berubah warna, hal ini dikarenakan
flavonoid termasuk dari senyawa fenol. Bila fenol direaksikan dengan
basa akan terbentuk warna yang disebabkan terjadinya sistem
konjugasi dari gugus aromatik.
Flavonoid merupakan senyawa yang larut air, dapat diekstrasi
dengan etanol 34) dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini
dikocok dengan eter minyak bumi. flavonoid berupa senyawa fenil
oleh karakter itu warnanya berubah bila ditambah basa atau
amonia. Pada uji flavonoid, yang pertama dilakukan adalah uji reaksi
warna. Reaksi warna diawali dengan mengekstraksi ekstrak dengan nheksana berkali kali sampai ekstrak n-heksana tidak berwarna. Hal
ini untuk memisahkan senyawa senyawa lain yang mengganggu

11

pengidentifikasian flavonoid. Kemudian residu dilarutkan dalam etanol


yang merupakan pelarut universal yang juga dapat melarutkan
flavonoid. Larutan ini dibagi menjadi, uji bate-smith dan metclaft, uji
wilstater
Penggolongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula
mula didasarkan kepada telah sifat kelarutan dan reaksi warna.
Kemudian diikuti dengan pemeriksaan ekstrak tumbuhan yang telah
dihidrolisis, secara kromatografi satu arah, dan pemeriksaaan ekstrak
etanol secara dua arah.
Pada uji bate-smith dan metclaft larutan III ditambahkan dengan
0,5 mL HCl pekat untuk menghidrolisis dan memutus ikatan
glikosoda. Hidrolisis ini untuk menghidrolisis antosianin

menjadi

aglikon antosianin, yaitu antosianidin. Tetapi tidak ada perubahan


warna yang terjadi. Kemudian larutan tersebut dipanaskan diatas
penangas air untuk mempercepat terjadinya hidrolisis. Setelah itu,
diamati perubahan warna yang terjadi.Dari hasil praktikum ini
didapatkan warna merah. Hal itu menunjukkan bahwa mengandung
leukoantosianin, dimana adanya leukoantosianin ditunjukkan dengan
adanya warna merah terang atau ungu.
Selanjutnya pada uji wilstater, larutan III ditamabah 0,5 mL HCl
pekat dan magnesium. Penambahan ini untuk reaksi reduksi
menjadikan

suatu

flavonol,

flavanon,

flavonon

dan

xanton.

Penambahan asam akan menyebabkan perubahan warna ketika reduksi


berlangsung. Kemudian larutan tersebut diencerkan dengan air suling
dan ditambah dengan butanol sehingga terbentuk 2 lapisan antara
larutan fase butanol yang ada pada bagian bawah. Diamati warna yang
terjadi diantara kedua cairan (pada tiap lapisan). Tetapi tidak terjadi
perubahan warna dan dapat dikatakan bahwa tidak mengandung
flavonol, flavon atau flavonon
Tanin dapat berfungsi sebagai astringent dan memiliki kemampuan
untuk menyamak kulit. Secara kimia, tanin adalah ester yang dapat
dihidrolisis oleh pemanasan dengan larutan asam sampai menghasilkan
senyawa fenol, biasanya merupakan derivate atau turunan dari asam
garlic dan gula. Untuk identifikasi senyawa golongan tanin dapat
12

dilakukan dengan cara reaksi warna. Pada identifikasi senyawa


golongan tanin yang dilakukan adalah dengan mencampurkan ekstrak
sebanyak 0,3 gram dengan 10 ml aquadest panas. Proses ini dilakukan
untuk mempercepat reaksi dengan adanya pemanasan. Kemudian
larutan tersebut diaduk dan dibiarkan sampai suhu kamar. Kemudian
ditambahkan 4 tetes 10% NaCl, kemudian diaduk dan disaring.
Penambahan NaCl bertujuan untuk menghilangkan pengotor dan
protein, sehingga mencegah terjadinya negatif palsu pada uji warna
Untuk mengetahui lebih jelas apakah mengandung tanin maka
dilanjutkan dengan uji gelatin. Larutan yang digunakan kemudian
ditambahkan dengan sedikit larutan gelatin dan 5 ml larutan NaCl
10%.Jika terjadi endapan putih menunjukkan adanya tanin. Hal
tersebut terjadi karena gelatin maupun dengan reagen garam-gelatin
merupakan indikasi adanya tanin. Dasar untuk reaksi ini adalah
terbentuknya endapan antara protein / gelatin dan tanin, dimana reaksi
menjadi lebih sensitif dengan penambahan NaCl untuk meningkatkan
salting out dari kompleks protein-tanin. Tapi pada praktikum yang
telah dilakukan, dengan uji gelatin ini tidak menunjukkan adanya
endapan berwarna putih. Sehingga dapat dinyatakan bahwa ekstrak
mengandung tanin. Fungsi penambahan bahan-bahan pada pengujian
tersebut yaitu untuk menguji ada tidaknya senyawa yang kita uji
tersebut pada sampel. Tiap uji sendiri memiliki ciri yang khusus seperti
saponi berbusa jika positif. Pereaksi mayer, pereaksi wagner, dan
pereaksi dragendorf yaitu reagen yang digunakan untuk identifikasi
awal pada alkaloid. Tanin merupakan senyawa fenolik yang kerjanya
bersifat adstringen (menciutkan selaput usus/ pengelat) yang dapat
mengurangi

kontraksi

usus,

menghambat

diare,

mengurangi

penyerapan, dan melindungi usus dengan cara melapisi permukaan


lumen.
Pada pengujian pada fenolat, ditambahkan air panas sebanyak 100
ml dan dipanaskan selama 5 menit. Pemanasan ini fungsinya untuk
mempercepat reaksi dan juga untuk mempercepat keluarnya suatu

13

senyawa yang berada pada simplisa tersebut karena fenol bersifat polar
oleh karena itu dilarutkan di dalam air.
Untuk pengujian positif fenolat ini, digunakan pereaksi besi (III)
klorida yang positif akan menimbulkan warna hijau biru kehijauan.
Hal ini dikarenakan, adanya cincin alfabenzofiran dan pereaksi ini
dapat memutuskan ikatan rangkap O pada cincin alfabenzofiran
tersebut sehingga menghasilkan reaksi yang positif terhadap fenolat.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa
hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik
yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan nongula (aglikon). Saponin ini terdiri dari dua kelompok : saponin
triterpenoid dan saponin steroid. Saponin banyak digunakan dalam
kehidupan manusia, salah satunya terdapat dalam lemak yang
digunakan untuk bahan pencuci kain (batik) dan sebagai shampo.
Saponin dapat diperoleh dari tembuhan melalui ekstraksi, bahan yang
akan membentuk busa jika dilarutkan dalam larutan yang encer.
Saponin berfungsi sebagai ekspektoran, kemudian emetikum jika
dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Saponin juga merupakan
senyawa kimia yang dapat menyebabkan sel darah merah terganggu
akibat dari kerusakan membran sel, menurunkan kolestrol plasma, dan
dapat menjaga keseimbangan flora usus, serta sebagai antibakteri. Pada
pengujian saponin apabila terbentuk busa (tidak hilang selama 30
detik. Pada saat praktikum adanya kesalahan pada alat yang kotor atau
terkontaminasi maka hasil yang di peroleh tidak akurat . Pada literature
menunjukan adanya saponin pada daun sirih.
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar
seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas 2 gugus karbonil
yang berkonyugasi dengan 2 ikatan rangkap karbon karbon. Warna
pigmen kuinon alam beragam, mulai dari kuning pucat sampai ke
hampir hitam. Walaupun kuinon tersebar secara luas, namun perannya
terhadap warna tumbuhan sangat kecil. Jadi, pigmen ini sering
terdapat dalam kulit, akar, atau jaringan lain, namun warna pigmen
kuinon ini tidak mendominasi. Untuk memastika suatu pigmen

14

termasuk kuinon atau bukan, dapat di lakukan dengan reaksi


warna.reaksi yang khas adalah reduksi bolak balik yang mengubah
kuinon menjadi senyawa berwarna kemudian warna kembali lagi bla
terjadi

oksidasi

oleh

udara.

Reaksi

dapat

digunakan

untuk

menggunakan matrium borohidrida dan oksidasi ulang dapat di


lakukan dengan mengocok larutan itu di udara. U ntuk kebanyakan
kuinon, hasil uji reduksi dalam larutan yang agak basa lebih mencolok
dan oksidasi ulang di udara lebih cepat. Kuinon menunjukan
hasilmpositif pada daun sirih dengan ciri berubah menjadi kuning.
Untuk mengetahui kandungan dari triterpenoid digunakan pereaksi
Liberman Burcahard, H2SO4 pekat dan H2SO4 50%. Digunakan
pereaksi ini karena dapat menghasilkan terjadinya perubahan warna
yang menunjukan bahwa ekstrak tersebut positif mengandung senyawa
baik triterpenoid maupun steroid yang termasuk dalam golongan
triterpen. Uji warna Lieberman- Burchard (LB). Apabila pada
campuran timbul kecoklatan atau violet pada perbatasan dua pelarut
menunjukkan adanya triterpen, sedangkan munculnya warna hijau
kebiruan menunjukkan adanya steroid. Hasil uji warna LiebermannBurchard (LB) terhadap sampel adalah terjadinya perubahan warna
pada sampel yaitu terbentuknya cincin warna coklat muda. Sedangkan
hasil uji warna Liebermann- Burchard (LB) terhadap ekstrak terjadinya
perubahan warna pada sampel yaitu terbentuknya cincin warna coklat
tua.
Monoterpenoid merupakan senyawa essence dan memiliki bau
yang spesifik yang dibangun oleh 2 unit isoppren atau dengan jumlah
atom karbon 10 dan Seskuiterpenoid merupakan senyawa terpenoid
yang dibangun oleh 3 unit isopren yang terdiri dari kerangka asiklik
dan bisiklik dengan kerangka dasar naftalen. Senyawa seskuiterpenoid
ini mempunyai bioaktifitas yang cukup besar, diantaranya adalah anti
feedant, hormon, antimikroba, antibiotik dan toksin serta regulator
pertumbuhan tanaman dan pemanis. Pada uji ini digunakan ester
karena golongan senyawa ini paling larut baik didalam pelarut ini dan
yang paling penting adalah tidak mengandung molekul air.

15

Pada uji ini juga ditambahkan vanillin sulfat yang berfungsi untuk
menghidrolisis kandungan dari air yang terdapat pada simplisia dan
juga untuk memberikan warna warni yang menunjukkan adanya
monoterpen dan sesquiterpen.
Untuk menguji adanya suatu senyawa alkaloid dalam simplisia
daun sirih tersebut pertama-tama simplisia daun sirih di tambahkan
dengan larutan amonia penambahan larutan amonia ini tujuannya
untuk membasakan dan mengendapkan alkaloid yang berbentuk garam
atau alkaloid yang dalam bentuk basa bebas. Penambahan kloroform
untuk uji alkaloid ini tujuannya untuk menarik senyawa alkaloid yang
berada di dalam simplisia tersebut alkaloid bersifat non polar sehingga
alkaloid memiliki kelarutan yang baik dalam kloroform dalam alkohol
juga alkaloid memiliki kelarutan yang baik.
Setelah itu lalu dilakukan penggerusan dengan kuat, fungsi
penggerusan ini untuk menghancurkan dinding sel pada simplisia
tersebut, sehingga metabolit sekunder (alkaloid) mudah keluar dan jga
mudah terindentifikasi. Setelah dilakukannya penggerusan lalu
ditambahkan HCl pekat, HCl pekat ini tujuannya untuk memisahkan
antara asam dan basa dan juga untuk memperoleh filrat yang
diinginkan untuk melakukan uji dragendrof dan juga uji meyer pada
alkaloid.
Pereaksi meyer menghasilkan reaksi positif terhadap alkaloid
dengan terbentuknya endapan yang berwarna putih, pereaksi meyer
bersifat Hg2+ hal ini dikarenakan pereaksi meyer ini berikatan dengan
alkaloid melalui ikatan antara atom N alkaloid dan Hg pada pereaksi
meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang
nonpolar mengendap berwarna putih. Sedangkan, pada pereaksi
dragendrof pereaksi dragendrof ini sebagai reaksi dari hidrolisis untuk
mengidentifikasi adanya alkaloid menghasilkan reaksi positif yang
berwarna coklat kekeruhan.

16

IX.

Kesimpulan
Dapat disimpulkan dri hasil praktikum kali ini, bahwa simplisia
daun sirih positif mengandung alkaloid, fenolat, tannin, flavonoid,
monoterpen dan seskuiterpen, steroid dan triterpenoid, kuinon,
saponin.

X.

Daftar Pustaka
Goeswin, agus. 2007. Teknologi bahan alam. ITB : Bandung
Harbone, J.B. 1989. Metode fitokimia, terjemahan K.radmawinata
dan I. Soediso. ITB :Bandung
Anonym. 1987. Analisis obat tradisional. Depkes RI : Jakarta

17

XI.

Lampiran

(Gambar 11.1 fenolat)

(Gambar 11.2 Flavonoid)

18

(Gambar 11.3 kuinon)

(Gambar 11.4 monoterpen dan seskuiterpen)

Lembar Distribusi Kerja


Amelia Rahayu

: Tujuan, Prinsip, Data Pengamatan, Alat dan Bahan,


Prosedur

Ditta Restiany N.U

: Pembahasn, Kesimpulan

Mira Enmiliana

: Pembahasan, Kesimpulan

Ricki Anditiyara

: Pembahasan, Kesimpulan

Winny Anggraeni

: Pembahasan, Kesimpulan

Yeni Nur Azziliani

: Teori Dasar, Reaksi, Daftar Pustaka

19