Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TETAP

KIMIA TERAPAN
ANALISIS AIR(PENENTUAN COD)

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1
ADHI PRAYOGATAMA

061440411693

ADI AGUSTIANSYAH

061440411694

AGUNG ADITYA

061440411695

AKHMAD HAFIZ ADYTIA

061440411696

APRIANSYAH

061440411697

CHERLY MEIGITA

061440411698

DELI KUSUMA WARDANI

061440411699

ENDAH DHITA PRATIWI

061440411700

INSTRUKTUR : Lety Trisnaliani, S.T.,M.T


Jurusan Teknik Kimia
Program Studi Teknik Energi (SI)
Politeknik Negeri Sriwijaya
Tahun Ajaran 2014

ANALISIS AIR (PENENTUAN COD)

1. TUJUAN PERCOBAAN
Mampu menetapkan COD pada air buangan.

2. PERINCIAN KERJA
Standardisasi FAS
Menetapkan COD air buangan

3. DASAR TEORI
Chemical oxygen demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah
oksigen (mg.O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1
liter sampel air, di mana pengoksidasi K2CrO7 digunakan sebagai sumber oksigen
(oxygen agent).
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang
secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
Analisis COD berbeda dengan analisis BOD namun perbandingan antara angka
COD dengan angka BOD dapat ditetapkan.
Jenis Air

BOD/COD

Air buangan domestic(penduduk)

0,40 -0,60

Air buangan domestic setelah pengendapan


primer

0,60

Air buangan domestic setelah pengolahan


secara biologis

0,20

Air sungai

0,10

Tabel 5. Perbandingan Rata-rata Angka BOD/COD beberapa jenis air.

Sebagian besar zat organis melalui tes COD ini dioksidasi oleh larutan K2CrO7
dalam keadaan asam yang mendidih:
E

CaHbOc + Cr2O72- + H+

CO2 + H2O + Cr3+


AgSO4
Warna kuning
warna hijau
Selama reaksi yang berlangsung +2 jam ini, uap direfluk dengan alat kondensor, agar
zat organis volatile tidak lenyap keluar.
Perak sulfat AgSO4 ditambahkan sebagai kalisator untuk mempercepat reaksi.
Sedang merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan gangguan klorida yang pada
umumnya ada di dalam air buangan.
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organis habis teroksidasi maka zat
pengoksidasi K2CrO7 masih harus tersisa sesudah direfluk K2CrO7 yang tersisa di dalam
larutan tersebut digunakan untuk menentukan beberapa oksigen yang telah terpakai.
Sisa K2CrO7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium sulfat (FAS),
dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut:
6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+

6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O


Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu di saat warna
hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2CrO7 awal, karena diharapkan
blanko tidak mengandung zat organis yang dapat dioksidasi oleh K2CrO7.
COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) adalah
banyaknya kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menguraikan senyawa organik
secara kimia. Bahan organik yang diuraikan adalah semua bahan organik, baik yang
biodegradable dan non biodegradable. Pada COD hampir semua zat teroksidasi
sedangkan BOD hanya bahan yang biodegradable saja. COD baik untuk tes terhadap
limbah industri, yang mengandung racun karena toksik tidak mengganggu pengukuran.
(Shinta Indah, 2009)
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat zat organik yang
secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Analisa COD berbeda dengan analisa BOD
namun perbandingan antara angka COD dan BOD dapat ditetapkan. (Metoda Penelitian
Air, 1984)
Prinsip penetapan COD didasarkan pada kebanyakan senyawa organik yang
dapat dioksidasi menjadi CO2 dan H2O dengan oksidator kuat pada kondisi asam.
Oksidator kuat yang biasa digunakan adalah Kalium Dikromat (K2Cr2O7). Kalium
Dikromat dalam keadaan asam mengalami reduksi menjadi Cr3+, reaksinya :
Cr2O72- + 14 H+ + 6 2Cr3+ + 7H2O = 1,33 volt
Sifat larutan dikromat sangat stabil, tidak bereaksi dengan (inert terhadap) Cl-,
dengan kemurnian yang tinggi, mudah diperoleh dan murah. Kalium Dikromat dapat
mengoksidasi senyawa bahan organik bila berlangsung dalam suasana asam dan suhu
tinggi. (asrizalwahdanwilsa.blogspot.com)

Pada penentuan COD yang dilakukan adalah :


- Menggunakan oksidator kuat : K2Cr2O7
- Dalam suasana asam : ditambahkan H2SO4
- Suhu tinggi : dipanaskan sampai suhu 200oC
- Menggunakan katalis Ag2SO4
- K2Cr2O7 yang ditambahkan harus melebihi kebutuhan untuk mengoksidasi bahan
organik dan memastikan semua bahan organik telah teroksidasi.
- Kelebihan oksidator tersebut dititrasi kembali untuk mengetahui volume oksidator
yang sesungguhnya terpakai dengan FAS (Ferro Alumunium Sulfat). Kemudian
digunakan indikator Ferroin, titik akhir titrasi adalah saat warna berubah dari biru hijau
ke coklat kemerahan. (Shinta Indah, 2009)
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi maka zat
pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks. Sisa K2Cr2O7 ditentukan
melalui titrasi FAS, reaksi yang berlangsung adalah :
6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+ 6 Fe3+ + 2Cr3+ + 7 H2O
Theoretical Oxygen Demand (ThOD) atau kebutuhan oksigen teoretis adalah
kebutuhan oksigen untuk mengoksidasikan zat organik dalam air yang dihitung secara
teoretis. ThOD dapat menghitung jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
ammonia yang terdapat pada badan air atau air buangan. Jumlah oksigen tersebut
dihitung bila komposisi zat organik terlarut telah diketahui. (Metoda Penelitian Air,
1984)
Gangguan, keuntungan, dan kekurangan tes COD adalah :
Gangguan Kadar klorida dalam sampel yang mencapai 2000 mg/l dapat
mengganggu bekerjanya katalisator Ag2SO4, dan pada keadaan tertentu turut
teroksidasi oleh dikromat, reaksinya adalah :
6Cl- + Cr2O72- + 14H+ 3Cl2 + 2Cr3+ + 7H2O
Gangguan ini dihilangkan dengan penambahan merkuri sulfat pada sampel, sebelum
penambahan reagen lainnya.
Keuntungan
1. Analisa COD hanya memakan waktu kurang lebih 3 jam, sedangkan analisa BOD5
memerlukan 5 hari.

2. Untuk menganalisa COD antara 50 800 mg/l tidak dibutuhkan pengenceran sampel,
sedangkan pada umumnya analisa BOD selalu membutuhkan pengenceran.
3. Kelebihan dan ketepatan tes COD adalah 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari tes BOD.
4. Gangguan dari zat yang bersifat racun terhadap mikroorganisme pada tes BOD, tidak
menjadi soal pada tes COD.
Kekurangan
Tes COD hanya merupakan suatu analisis yang menggunakan suatu reaksi oksidasi
kimia yang menentukan/menirukan oksidasi biologis (yang sebenarnya terjadi di alam),
sehingga merupakan suatu pendekatan saja. Karena hal tersebut di atas maka tes COD
tidak dapat membedakan antara zat zat yang sebenarnya tidak teroksidasi (inert) dan
zat yang teroksidasi secara biologis. (Metoda Penelitian Air, 1984

4.ALAT YANG DIGUNAKAN


Peralatan refluk (erlenmeyer 250 ml, penangas, pendingin tegak)
Buret 50 ml
Erlenmeyer 250 ml
Pipet ukur 10 ml, 25 ml
Labu takar
Spatula
Bola karet
Bola winkler 500 ml coklat
Labu ukur 100 ml, 1000 ml
Beker gelas 200 ml

5.BAHAN YANG DIGUNAKAN


K2Cr2O7
AgSO4
H2SO4 pekat

FAS, Fe (NH4)(SO4)2.6H2O
Indikator ferroin
HgSO4 kristal
Asam sulfamat

6.KESELAMATAN KERJA
Gunakan peralatan keselamatan kerja seperti masker dan sarung tangan dalam
menangani larutan asam sulfat pekat.

7.LANGKAH KERJA
7.1 Pembuatan reagen
a.Larutan standarK2Cr2O7 0,250 N
Gunakan labu ukur 500 ml untuk melarutkan 6,125 g K2Cr2O7 p.a. telah dikeringkan
dalam oven=150oC selama 2 jam dan di dinginkan dalam desikator untuk
menghilangkan kelembaban, tambahkan air suling sampai 50 ml (BM=294,216,
BE=49,036)
b.Larutan standar FAS 0,1 N
Menggunakan labu takar 250 ml untuk melarutkan 9,75 gr Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O
didalam 125 ml air suling. Tambahkan 5 ml asam sulfat pekat, akibatnya larutan
menjadi hangat. Dinginkanlah larutan misalnya dengan merendam labu takar di dalam
air yang mengalir. Tambahkan aquadest sampai 1 liter larutan ini harus distandardisasi
dengan larutan dikromat, larutan FAS ini tidak stabil karena dapat dioksidasi oleh
oksigen dari luar.
7.2Standardisasi larutan FAS
Mengencerkan 10 ml larutan standar K2Cr2O4 dengan air suling sampai 100 ml
dalam beker gelas.
Menambahkan 30 ml H2SO4 pekat
Mendinginkan, kemudian menambahkan indikator ferroin 2-3 tetes
Mentitrasi dengan FAS sampai warna larutan berubah dari hijau kebiru-biruan
menjadi orange kemerah-merahan.

7.3Penetapan COD
Memipet sebanyak 25 ml sampel air kedalam erlenmeyer 500 ml yang berisi 5-6 batu
didih
Menambahkan 400 g HgSO4
Menambahkan 10 ml K2Cr2O7 0,25 N
Menambahkan 35 ml asam sulfat pekat (yang telah dicampur AgSO4)
Memanaskan selama 2 jam sampai mendidih dengan alat refluk
Mendinginkan, menambahkan aquadest 50 ml
Menambahkan 3 tetes indikator ferroin
Mentitrasi dengan FAS, mencatat volume titran
Melakukan titrasi blanko, air sampel diganti dengan aquadest

8.DATA PENGAMATAN
8.1 Standarisasi FAS
No

Volume Fas (ml)

30,5 ml

29,5 ml

29,4 ml

Volume rata-rata

29,8 ml

8.2 Penentuan COD


Titrasi Blanko
No

Volume (ml)

6 ml

4,5 ml

Volume rata-rata

5,25 ml

No

Volume (ml)

9,5 ml

10 ml

Volume rata-rata

9,75 ml

Titrasi Sampel

9.PERHITUNGAN

9.1 Standarisasi FAS


Gr K2CrO7

Vfas x N fas

BE K2CrO7
6,125 x 10 ml x 1000 mg

= 29,8 ml x N fas

500 ml
49,036 mg/mek
122,5 mg

=29,8 ml x N fas

49,036 mg/mek
2,4981 mek

= N fas

29,8 ml
N fas = 0,0838 mek/ml
%kesalahan = T-P

X 100

T
= 0,1-0,0838 x 100
0,1
= 16,2 %

9.2 Penentuan COD


COD = (a-b)ml x Nfas x O/2 x 1000 (mg/l)
25 ml
COD = (9,75-5,25)ml x 0,0838 mek/ml 16/2 x 1000 (mg/l)
25 ml
COD = 4,5 ml x 0,0838 mek/ml x 8 x 1000 (mg/l)
25 ml
COD = 3016,8 mg
25 ml
COD = 120,672 mg dalam 1 liter sampel air
= 0,120672 gr dalam 1 liter sampel air

10.ANALISIS PERCOBAAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di dapat bahwa volume FAS yang
di butuhkan adalah sebanyak 29,8 ml, dan warna yang di hasilkan adalah orange
kemerah-merahan. Sedangkan pada penentuan COD di butuhkan 9,75 ml untuk air
limbah dan 5,25 ml untuk air aquadest. pemanasan yang dilakukan menggunakan batu
didih.
pada saat menstandarisasikan dan menitrasi dengan larutan FAS dari larutan
yang berwarna hijau kebiru-biruan menjadi orange kemerahan, membutuhkan larutan
FAS hingga volume 29,8,7 ml. Pada saat penetapan COD , warna awal larutan sampel
dan blanko hingga berubah menjadi hijau tua dan coklat kemerahan. Pada sampel
mengandung zat-zat organis, sedangkan pada blanko perubahan yang terjadi berwarna
coklat kemerahan , setelah ditambahkan indicator ferroin , air sampel berwarna hijau
pekat dan blanko menjadi warna kuning keeemasan , ketika dititrasi dengan larutan FAS
volume sampel adalah 9,75 ml dan blanko 5,25 ml.

11.KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah di lakukan didapatkan bahwa:
Normalitas FAS adalah 0,0838 N
persen kesalahan = 16,2%
Nilai COD yang didapat adalah 120,672 mg/l
Semakin besar COD maka semakin sedikit kandungan oksigen dan sebaliknya.
Semakin tinggi kandungan oksigen maka semakin baik kualitas air tersebut.

PERTANYAAN
1.Apakah perbedaan antara COD dan BOD?
2.Pada penetapan COD terjadi reaksi antara FAS sebagai titran dengan K2Cr2O7
sebagai analit. Termasuk titrasi apakah COD ?
Jawab
1.COD adalah jumlah oksigen yang di butuhkan (mg.O2) yang di butuhkan untuk
mengoksidasi zat-zat organis yang ada didalam 1 liter sampel air. Diman pengoksidasi
K2Cr2O7 dgunakan sebagai sumber oksigen.
BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk melakukan pengoksidasian secara
mikrobiologis atau secara ilmiah.
2.Penetapan COD termasuk titrasi lansung (redoks)
6Fe2+ + Cr2O7-2 + 14 H+ 6Fe3+ + 2Cr3+7H2O

DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet.penuntun praktikum kimia Terapan. politeknik negeri
sriwijaya.2014:Palembang.
www.google.com//Penentuan COD diakses tanggal 09 Desember 2014
www.google.com//Analisis COD diakses tanggal 08 Desember 2014

GAMBAR ALAT

Refluks

erlenmeyer

desikator

Botol Aquadest

kaca arloji

Labu ukur

Pipet tetes

Pipet ukur

Spatula

Pengaduk

Corong kaca

Gelas kimia

Bola karet

Buret

Anda mungkin juga menyukai