Anda di halaman 1dari 24

Matematika Terapan

Logika Matematika

Disusun oleh:
Winarsih (06019103013)
Trie Utari (06019103017)
Novitasari (06019103023)
Emylia Damayanti (06019103025)
Untung Prayogi (06019103026)
Dosen Pengasuh:
Hj. Siti Hawa, M. Pd
Ainul Bahri Pospos, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2012
LOGIKA MATEMATIKA
A. Pengertian

Ada pernyataan menarik yang dikemukakan mantan Presiden AS Thomas


Jefferson sebagaimana dikutip Copi (1978) berikut ini: "In a republican nation,
whose citizens are to be led by reason and persuasion and not by force, the art of
reasoning becomes of first importance" (p. vii). Pernyataan itu menunjukkan
pentingnya logika, penalaran dan argumentasi dipelajari dan dikembangkan di
suatu negara sehingga setiap warga negara akan dapat dipimpin dengan daya nalar
(otak) dan bukannya dengan kekuatan (otot) saja. Karenanya, seperti yang
dinyatakan mantan Presiden AS tadi, seni bernalar merupakan hal yang sangat
penting. Di samping itu, Copi (1978) juga mengutip pendapat Juliana Geran Pilon
yang senada dengan yang diucapkan mantan Presiden AS tadi: "Civilized life
depends upon the success of reason in social intercourse, the prevalence of logic
over

violence

in

interpersonal

conflict"

(p.

vii).

Dua pernyataan di atas telah menunjukkan pentingnya penalaran (reasoning)


dalam percaturan politik dan pemerintahan di suatu negara. Tidak hanya di bidang
ketatanegaraan maupun hukum saja kemampuan bernalar itu menjadi penting. Di
saat mempelajari matematika maupun ilmu-ilmu lainnya penalaran itu menjadi
sangat penting dan menentukan. Secara etimologis, logika berasal dari kata
Yunani 'logos' yang berarti kata, ucapan, pikiran secara utuh, atau bisa juga berarti
ilmu pengetahuan (Kusumah, 1986). Dalam arti luas, logika adalah suatu cabang
ilmu yang mengkaji penurunan- penurunan kesimpulan yang sahih (valid, correct)
dan yang tidak sahih (tidak valid, incorrect). Proses berpikir yang terjadi di saat
menurunkan atau menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang diketahui
benar atau dianggap benar itu sering juga disebut dengan penalaran (reasoning).
Apakah kalian pernah mendengar mengenai Aristoteles? Siapakah dia?
Aristoteles adalah filosof besar pada abad 4 SM. Aristotelas dilahirkan di Stragia
384 SM. Untuk menyelesaikan pendidikannya Aristoteles pergi ke Athena dan
menetap di sana selama 20 tahun sebagai murid Plato. Sepeninggal Plato ia
mendirikan sekolah di Assus. Salah satu karya Aristoteles adalah logika yang
banyak berisi: pengertian, keputusan, pembuktian silogisme, dan lain-lain. Inti
ajaran Aristoteles mengenai logika adalah Syllogismus, yaitu keputusan kedua
yang tersusun sedemikian hingga melahirkan keputusan yang ketiga. Logika yang

dikemukakan oleh Aristoteles dikenal sebagai logika tradisional, yang menjadi


toggak pemikiran logika.
Perkembangan selanjutnya terjadi pada abad ke-18 Masehi, G.W. Leibniz,
seorang ahli matematika berkebangsaan Jerman, pertama kali mempelajari logika
simbolik. Ahli matematika lainnya yang berjasa dalam pengembangan logika
simbolik adalah George Boole, Leonard Euler, John Venn, dan Bertrand Russel.
Melalui logika kita dapat mengetahui kita dapat mengetahui kebenaran
suatu pernyataan dari suatu kalimat dan mengetahui apakah pernyataan pertama
sama maknanya dengan pernyataan kedua.
Misalkan, apakah pernyataan Jika sekarang adalah hari Minggu maka
sekolah libur. Sama artinya dengan Jika sekolah libur maka sekarang adalah
hari Minggu.? Untuk menjawab pertanyyan ini tentu kita perlu mengetahui
aturan-aturan dalam logika. Contoh lain misalkan ada dua pernyataan. Jika anak
pandai maka ia berprestasi di kelas. Jika ia berprestasi di kelas maka ia disayangi
guru-gurunya. Lalu apakah dari dua pernyataan ini kita dapat menyimpulkan jika
ia anak pandai maka ia disayangi guru-gurunya?
Banyak hal yang perlu kita ketahui mengenai logika. Dengan logika kita juga
dapat mengetahui apakah suatu pernyataan bernilai benar atau salah.
I. Mendiskripsikan Pernyataan dan bukan Pernyataan (Kalimat Terbuka).
1. Pernyataan
a. Pengertian Pernyataan .
Untuk memahami pengertian tentang pernyataan simaklah beberapa kalimat
Pada contoh berikut.
Contoh 1 :
a) 3 adalah bilangan ganjil , (kalimat ini adalah benar)
b) Nilai

yang memenuhi

3 x+1=7

adalah

benar)
c) 5 kurang dari 3 , (kalimat ini adalah salah)

2 , ( kalimat ini adalah

d) 8+6 20>10 , ( kalimat ini adalah salah)


Kalimat-kalimat pada Contoh

tersebut hanya benar saja atau salah

saja ,akan tetapi tidak sekaligus benar dan salah pada saat yang sama.
Kalimat-kalimat seperti itu disebut pernyataan . Dengan demikian kita dapat
mengatakan :
Pernyataan adalah kalimat yang hanya benar saja atau salah saja, akan
tetapi tidak sekaligus benar dan salah.
Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa setiap pernyataan adalah
suatu

kalimat. Akan tetapi, suatu kalimat belum tentu suatu pernyataan .

Perhatikan kalimat-kalimat pada contoh berikut.


Contoh 2 :
a)
b)
c)
d)

Cowok itu cakep sekali !


Dilarang merokok !
Berapa jumlah siswa SMK Harapan ?
Jangan melecehkan sesame teman.
Kalimat-kalimat pada contoh 2 tidak menerangkan sesuatu (bukankan

kalimat deklaratif), sehingga kalimat-kalimat itu bukan merupakan pernyataan.


Kalimat-kalimat yang dapat digolongkan sebagai pernyataan adalah kalimatkalimat yang menerangkan sesuatu ( disebut : kalimat deklaratif ). Meskipun
demikian tidak semua kalimat deklaratif merupakan pernyataan. Untuk itu
perhatikan kalimat-kalimat deklaratif pada contoh berikut ini.
Contoh 3 :
a) Gaun itu indah
b) Hindun Gadis yang lucu
c) Bronis kukus itu enak.
Kalimat-kalimat pada contoh 3 dapat bernilai benar saja atau bernilai salah
saja, tetapi bersifat relative atau tergantung pada keadaan. Jadi, kalimat-kalimat
seperti itu tidak dapat disebut sebagai pernyataan .
b. Lambang dan nilai kebenaran suatu pernyataan
Dalam matematika , pernyataan-pernyataan dengan huruf kecil,seperti a, b,
p,dan q.Perhatikan contoh berikut !

Contoh 4

1) Pernyataan

adalah bilangan prima dapat dilambangkan dengan huruf

p ,
jadi

p:7

adalah bilangan prima.

2) Pernyataan Ibu kota Jawa Timur adalah Surabaya dapat dilambangkan


dengan huruf q , jadi q : Ibu kota Jawa Timur adalah Surabaya.
Untuk menunjukkan bahwa sebuah pernyataan itu benar atau salah dapat
dilakukan dengan dua cara berikut.
Dasar Empiris, Yaitu menunjukkan benar atau salahnya sebuah pernyataan
berdasarkan fakta yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh 5 :
a) Tugu monas terletak di wilayah Jakarta Pusat
( merupakan pernyataan yang benar )
b) Matahari terbit dari barat.
( merupakan pernyataan yang salah )
Dasar tak Empiris, Yaitu menunjukkan benar salahnya sebuah pernyataan melalui
bukti-bukti atau perhitungan-perhitungan dalam matematika.
Contoh 6:
a) Dalam sebuah segitiga jumlah sudut dalamnya sama dengan

180 . (merupakan pernyataan yang benar)


b) Akar-akar persamaan kuadrat

X 2 X 4=0 adalah bilangan real

(merupakan pernyataan yang salah )


Selanjutnya terhadap yang benar dikatakan mempunyai nilai kebenaran
B (Benar), sedangkan terhadap pernyataan yang salah dikatakan mempunyai nilai
kebenaran S (Salah).
2. Kalimat Terbuka.

Kalimat terbuka adalah kalimat yang masih mengandung variabel,


sehinggabelum dapat ditentukan nilai kebenarannya (benar atau salah). Kalimat
terbuka tersebut dapat diubah menjadi bentuk pernyataan, jika variabelnyadiganti
dengan suatu konstanta.
Contoh :
a) Kalimat terbuka :

x+ 5=9

Jika variabelnya diganti dengan 4

maka 4 +5=9 (pernyataan benar)

b) Jika variabelnya diganti dengan 7 maka 7+5=12 (Pernyataan salah)

II. Mendeskripsikan, Ingkaran, Konjungsi, Disjungsi, Implikasi, Biimplikasi


Dan Ingkaranya.
1. Pernyataan Majemuk.
Apabila suatu pernyataan terdiri lebih dari satu pernyataan maka diantara
satu pernyataan dengan pernyataan lainnya dibutuhkan suatu kata penghubung
sehingga diperoleh suatu pernyataan majemuk.
Untuk Logika matematika ada 5 macam penghubung pernyataan yaitu
ingkaran (negasi) (tidak), konjungsi (dan), disjungsi (atau),implikasi(jika
maka) dan biimplikasi (jika dan hanya jika).
Operasi Logika

Penghubung

Lambang
atau

Ingkaran

Tidak, non

Konjungsi

Dan

Disjungsi

Atau

Implikasi

Jika.maka.

Biimplikasi

Jika dan hanya jika

Ingkaran, konjungsi, disjungsi, implikasi dan biimplikasi disebut operasi


dalam
logika.Simbol-simbol dari operasi dalam logika diberikan dalam tabel berikut.
2. Ingkaran atau Negasi atau penyangkalan.

Operasi ini merupakan operasi monar (operasi yang dikenakan pada


satu pernyataan) yang dilambangkan dengan


p

adalah

. Ingkaran dari pernyataan

yang dibaca tidak benar bahwa

p .

Jadi operasi

ingkaran opersi yang menyangkal /mengingkari atau menidakkan suatu


pernyataan.
Contoh 1:
1)
p

: Sidoarjo adalah kota di Jawa Timur ( benar)

: Tidak benar bahwa Sidoarjo adalah kota di Jawa Timur (salah)


Atau Sidoarjo bukan kota di Jawa Timur.
2)

p: 2+5=9

(salah)

p : Tidak benar bahwa 2+5=9

(benar)

Nilai kebenaran dapat dituliskan dalam bentuk tabel yang dinamakan tabel
kebenaran seperti berikut.
P
B
S

P
S
B

3. Operasi Konjungsi
Operasi konjungsi merupakan operasi biner (operasi yang dikenakan pada dua
pernyataan) yang dilambangkan dengan tanda

Dengan operasi ini

pernyataan dihubungkan dengan kata dan .


Jika

p dan q

dua pernyataan , maka

keduanya bernilai benar, sebaliknya


p atau q

p q

bernilai benar jika p dan q

p q bernilai salah jika salah satu dari

bernilai salah atau keduanya salah.

Contoh :
1) p = Guru hadir
q = Murid tidak bersuka ria
p q= Guru hadir dan murid tidak bersuka ria
2) p = Pagi ini udaranya segar
q = Matahari bersinar terang
p q=

Pagi ini udaranya segar dan matahari bersinar terang.

Tabel nilai kebenaran dari operasi konjungsi.


p

p q

B
S
S

S
B
S

S
S
S

4. Operasi Disjungsi
Operasi disjungsi juga merupakan operasi binary yang dilambangkan
dengan tanda .

Operasi ini menggabungkan dua pernyataan menjadi satu

dengan kata hubungan atau .


p dan q

Jika
p dan q

dua pernyataan maka

p q

keduanya bernilai benar atau salah salah satu dari


p q

benar, sebaliknya

p q

p atau q

bernilai salah jika keduanya bernilai salah.

Contoh :
1)

bernilai benar jika

= Saya rajin belajar

= Saya lulus UAN

= Saya rajin belajar atau saya lulus UAN.

bernilai

2)

= 7 adalah bilangan ganjil

p q

= 7 adalah bilangan prima

= 7 adalah bilangan ganjil atau 7 adalah bilangan ganjil

Tabel nilai kebenaran Disjungsi


p

pq

B
B
S
S

B
S
B
S

B
B
B
S

5. Operasi Implikasi.
Operasi implikasi (kondisional) adalah operasi penggabungan dua
pernyataan yang menggunakan kata hubung jika . Maka . Yang
dilambangkan
p q

. Implikasi dari pernyataan

dan dibaca jika

p maka

dapat dibaca hanya jika q atau


q

Tabel nilai kebenaran operasi implikasi


p q

B
B
S
S

B
S
B
S

B
S
B
B

p q ,

ditulis

p q

juga
atau

disebut

disebut koklusi / konequen / akibat.

qsalah,dalam kemungkinan lainnya p q benar.

p adalah syarat cukup bagi q

Jika p dan q dua buah pernyataan maka

dan

q . Pernyataan bersyarat

adalah syarat perlu bagi p . Dalam pernyataan

hipotesa / anteseden / seba q

p q

salah jika p benar dan

Contoh :
1 p=2 adalah bilangan genap

(B)

q=2+3 adalah 5 (B)

p q=

jika

2 adalah bilangan genap maka

2+3

adalah

2 p=3+4

adalah 7 (B)
q=7 adalah bilangan genap

p q=

jika 3+4

(S)

adalah 7 maka 7 adalah bilangan genap

Catatan:
p q

1) Dalam pernyataan

tidak memerlukan syarat adanya hubungan sebab

akibat antara p dan q .


2) Benar atau tidaknya suatu implikasi hanya bergantung proporsi tersebut.
6. Operasi Biimplikasi ( Bikondisional).
Biimplikasi yaitu pernyataan majemuk yang menggunakan kata hubung
jika dan hanya jika .. dinotasikan

Biimplikasi dari pernyataan p dan q ditulis


hanya jika q.
Pernyataan

pq

dapat juga dibaca :

1)

p equivalent q

2)

p adalah syarat perlu dan cukup bagi q

pq

dibaca

p jika dan

Jika p dan q dua buah pernyatan maka

p q

benar bila kedua

pernyataan tersebut mempunyai nilai kebenaran yang sama, sebaliknya

pq

salah bila salah satu salah , atau salah satu benar .


Tabel nilai kebenaran operasi Biimplikasi.
p

pq

B
B
S
S

B
S
B
S

B
S
S
B

Contoh :
1) p = 2x 3 = 6(B)
9 = 6 adalah bilangan genap (B)
pq

2) 2)

2 3=6 jika dan hanya jika 6 adalah bilangan genap (B)

p = 2x 3 = 6(B)

9 = 6 adalah bilangan prima(S)


pq

2 3=6

jika dan hanya jika 6 adalah bilangan prima (S)

7. Menentukan Nilai Kebenaran Pernyataan Majemuk.


Dari pernyataan-pernyataan tunggal
menggunakan operasi-operasi pernyataan
disjungsi (

p,
negasi

q,

r,

. . . dan dengan

), konjungsi (

),

), implikasi ( ) dan biimplikasi ( ) dapat disusun suatu

pernyataan majemuk yang lebih rumit.


Contoh :
1)

( p q)

2)

[ p ( p q)]

[( p q) r ]

3)

Nilai kebenaran pernyataan majemuk seperti itu dapat ditentukan dengan


menggunakan

pertolongan tabel kebenaran dasar untuk negasi, konjungsi,

disjungsi , implikasi dan biimplikasi yang telah dibahas di depan.Untuk


memahami cara-cara menentukan nilai kebenaran pernyataanmajemuk yang lebih
rumit ,perhatikan contoh berikut .
( p q).

Contoh 1: Tentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk


Jawab :
p

( p q)

( p q).

B
B
S
S

B
S
B
S

S
B
S
B

B
B
S
B

S
S
B
S

Contoh 2: Tentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk

( p q ) r

Jawab :
p

B
B
B
B
S
S
S
S

S
S
S
S
B
B
B
B

B
B
S
S
B
B
S
S

B
S
B
S
B
S
B
S
( p q) r

Jadi nilai kebenaran pernyataan majemuk

( p q)
S
S
S
S
B
B
S
S

( p q)r
B
B
B
B
B
S
B
B

Jika sebuah pernyataan majemuk terdiri dari n buah pernyataan pernyataan


tunggal yang berlainan maka banyaknya baris pada tabel kebenaran yang memuat
nilai kebenaran adalah n 2

B. Mendeskripsikan Invers, Konvers Dan Kontraposisi

p q

Dari suatu pernyataan bersyarat

yang diketahui dapat dibuat

pernyataan lain sebagai berikut :


q p

1)

p q

disebut pernyataan Konvers dari

2)

p q

disebut pernyataan Invers dari

3)

q p

disebut pernyataan Kontraposisi dari

p q
p q

Untuk semua kemungkinan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan


komponen p dan q, hubungan nilai kebenaran konvers, invers, dan kontraposisi
dengan implikasi semula, dapat ditunjukkan dengan memakai tabel kebenaran .
Tabel hubungan nilai kebenaran q p , p q , q p dengan
p

B
B
S
B
S
S
S
B
B
S
S
B
Dari tabel diatas ternyata :

Implikasi
p q

Konvers
q p

S
B
S
B

B
S
B
B

B
B
S
B

p q

Invers Kontraposisi
p q
q p
B
B
S
B

B
S
B
B

1) Suatu implikasi yang salah konversnya benar, tetapi implikasinya yang benar
maka salah pada konversnya .
2) Implikasi Ekivalen dengan kontra posisinya

( p q) ( q p)
(q p) ( p q)

3) Konvers suatu implikasi ekuivalen dengan inversnya

Catatan : Dua pernyataan majemuk disebut ekivalen jika kedua pernyataan itu
mempunyai nilai kebenaran yang sama.
Contoh 1) :
p q

( implikasi)

q p

(konvers)

p q
q p

( invers)

: Jika
: Jika
: Jika

(kontraposisi) : Jika

= 25 maka

x=5

X2

= 25

x=5 maka
2

25 maka

x 5 maka

x5
X2

25

Contoh 2) :

I.

p q

( implikasi)

q p

(konvers)

: Jika lampu mati maka saya tidak belajar

: Jika saya tidak belajar maka lampu mati

p q

( invers)

q p

(kontraposisi) : Jika saya belajar maka lampu tidak mati

: Jika lampu tidak mati maka saya belajar

Negasi Pernyataan Majemuk


Untuk menentukan negasi dari pernyataan majemuk dapat digunakan sifatsifat negasi pernyataan majemuk pada tabel berikut ini:
Operasi
Konjungsi

Lambang
p q

Negasi
p q

Disjungsi

p q

p q

Implikasi

p q

p q

Biimplikasi

pq

p q atau p q

II. Kalimat Berkuantor


Untuk membicarakan kalimat berkuantor, kita kembali pada kalimat
terbuka yaitu kalimat yang tidak mempunyai nilai kebenaran .
Contoh :
1) 5x 1 = 9
2
2) X +5 X + 0
Kalimat-kalimat terbuka diatas dapat diubah menjadi kalimat tertutup
dengan mengganti

variabelnya dengan suatu konstanta. Suatu kalimat terbuka

dengan variable dilambangkan dengan

p( x), q(x ), f ( x ), . .. .

Kuantor yaitu suatu ucapan yang jika dibubuhkan pada sebuah kalimat
terbuka dengan variable dapat mengubahnya menjadi tertutup.
Ada macam kuantor yaitu :

1) Kuantor Umum ( Universal Quantifeer )


Dilambangkan
Lambang

di baca : untuk setiap x atau untuk semua x

2) Kuantor Khusus ( Existensial Quantifeer )


Dilambangkan

Lambang y di baca : ada


Catatan : Negasi dari

y yang berarti paling sedikit ada satu y.

adalah

begitu juga sebaliknya

C. Menerapkan Modus ponens, modus tollens dan prinsip silogisme Dalam


Menarik Kesimpulan
Dasar-dasar logika matematika yang telah kita pelajari pada subbab
terdahulu akan diterapkan lebih lanjut dalam proses penarikan kesimpulan . Suatu
proses penarikan kesimpulan terdiri atas beberapa pernyataanyang dikeahui
(disebut premis), Kemudian dengan memakai prinsip logika dapat diturunkan
suatu pernyataan baru yang ditarik dari premis-premis semula (disebut
kesimpulan / konklusi). Penarikan seperti itu disebut argumentasi. Kalau
konjungsi dari premis-premis berimplikasi konklusi maka argumentasi itu
dikatakan berlaku atau
sah.Sebaliknya, kalau konjungsi dari premis-premis tidak berimplikasi konklusi
maka argumentasi itu dikatakan tidak sah. Jadi suatu argumentasi dikatakan sah
kalau premispremisnya benar maka konklusinya juga benar. Dalam subbab ini kita
akan mempelajari beberapa cara penarikan kesimpulan, diantaranya adalah Modus
Ponens, Modus Tollens, dan Silogisme
I.

Modus Ponens
Jika

p q

benar dan

p benar maka q

Skema argumen dapat ditulis sebagai berikut :


p q

. . . . . . premis 1

benar.

. . . . . . premis 2

. . . . . kesimpulan / konklusi

Dalam bentuk implikasi, argumentasi tersebut dapat dituliskan sebagai


[( p q) p] q

. Argumentasi ini dikatakan sah kalau pernyataan implikasi

[( p q) p] q merupakan tautologi. Tautologi adalah sebuah pernyataan

majemuk yang selalu benar untuk semua kemungkinan nilai kebenaran dari
pernyataan-pernyataan komponennya.

Tabel nilai kebenaran dari

[( p q) p] q

p q

( p q) p

B
B
S
S

B
S
B
S

B
S
B
S

B
S
S
S

Dari tabel pada kolom (5) tampak bahwa

[( p q) p] p

B
B
B
B
[( p q) p] q

merupakan

tautologi,jadi argumen tersebut sah.


Contoh : 1) Jika harga minyak goreng naik maka harga makanan jadi mahal.
Harga minyak goreng naik
Harga makanan mahal

2) Jika sebuah bilangan mempunyai faktor 6 maka bilangan itu


mempunyai faktor 2 atau 3
18 mempunyai faktor 6

18 mempunyai faktor 2 atau 3

II.

Modus Tollens
p q

Jika

benar dan

benar maka p benar

Skema argumen dapat ditulis sebagai berikut:


p q

. . . . . premis 1

. . . . . premis 2

. . . . . . kesimpulan / konlusi

Dalam

bentuk

implikasi,

modus

tollens

dapat

dituliskan

sebagai

[( p q) q] p ,sah atau tidaknya modus tollens dapat diuji dengan tabel


kebenaran sebagai berikut
Tabel nilai kebenaran
p
B
B
S
S

q
B
S
B
S

p
S
S
B
B

[( p q) q] p

p q

B
S
B
B
Dari tabel pada kolom 7

( p q) q

S
B
S
B

S
S
S
B
tampak bahwa

[( p q) q] p
B
B
B
B
[( p q) q] p merupakan

tautologi. Jadi modus tollens merupakan argumentasi yang sah .


Contoh :
1) Jika hari Senin maka Mila les Bahasa Inggris
Mila tidak les Bahasa Inggris
Bukan hari Senin

X2

2) Jika

= 25 maka x = 5 atau x = -5

x 5 dan x 5

III.

X2

25

Silogisma
p q

Dari premis-premis

dan

q r

dapat ditarik konklusi

p r

Penarikan kesimpulan seperti ini disebut kaidah silogisma . Skema argumnya


dapat dinyatakan sebagai berikut :
p q

.....

premis 1

qr

.....

premis 2

p r

Dalam

...

kesimpulan / konklusi

bentuk

implikasi,

silogisme

dapat

dituliskan

sebagai

[( p q) ( q r )] ( p r ) sah atau tidaknya silogisme dapat diuji dengan

tabel kebenaran sebagai berikut :

Tabel nilai kebenaran


p

B
B
B
B
S
S
S
S

B
B
S
S
B
B
S
S

B
S
B
S
B
S
B
S

[( p q) (q r )] ( p r ).

p q q r

p r

B
B
S
S
B
B
B
B

B
S
B
S
B
B
B
B

B
S
B
B
B
S
B
B

( p q)(q r )

B
S
S
S
B
S
B
B

p
[( p q)(q r )]
B
B
B
B
B
B
B
B

Dari tabel pada kolom (8) tampak bahwa

[( p q) ( q r )] ( p r )

merupakan tautologi. Jadi silogisme merupakan argumentasi yang sah.


Contoh :
1) Jika Bogor hujan maka sungai Ciliwung meluap
Jika sungai Ciliwung meluap maka Jakarta banjir
Jadi Jika Bogor hujan maka Jakarta banjir

log 8 3 2 = maka 3 bilangan ganjil

2) Jika
Jika

3 bilangan ganjil maka

Jika

log 8 3 2 = maka

2 83=
2 83=

3) Periksalah sah atau tidaknya argumentasi berikut ini !


Jika hutan gundul maka terjadi banjir
Hutan tidak gundul
Jadi tidak terjadi banjir

Jawab :
p= Hutan gundul

Misal

q= terjadi banjir

Argumen pada soal dapat disusun sebagai berikut


p

q
Untuk menguji sah atau tidaknya argument diatas yaitu dengan menguji
dengan tabel kebenaran impliksi

[( p q) p ] q

Tabel nilai kebenaran


p

B
B
S
S

B
S
B
S

S
S
B
B

[( p q) p ] q
p q

B
S
B
B
Dari tabel,pada kolom (7)

( p q) p

S
B
S
B

S
S
B
B
tampak bahwa

[( p q) p ] q

B
B
S
B
[( p q) p ] q

bukan

merupakan tautology. Jadi argumentasi diatas tidak sah .


CONTOH SOAL
1. Tentukan ingkaran dari setiap pernyataan berikut :
a) q: 7 adalah bilangan prima

b) s: 3 adalah faktor dari 13

Jawab :
a) Ingkaran dari q: 7 dalah bilangan prima
~ q : Tidak benar 7 adalah bilangan prima, atau
~ q : 7 bukan bilangan prima
b) Ingkaran dari s: 3 adalah faktor dari 13
~ s : Tidak benar 3 adalah faktor dari 13, atau
~ s : 3 bukan faktor dari 13
Hubungan kebenaran antara ingkaran sebuah pernyataan dengan pernyataan
semula dapat ditentukan sebagai berikut.
(i) Jika p adalah pernyataan yang bernilai benar, maka ~p bernilai salah.
(ii) Jika p adalah pernyataan yang bernilai salah, maka ~p bernilai benar.
Ungkapan tersebut dapat disajikan dengan menggunakan tabel yang
disebut sebagai tabel kebenaran. Perhatikan tabel berikut ini.
P
B

~p
S

Dengan menggunakan lambang nilai kebenaran. Tabel dapat ditulis


sebagai berikut, jika

(p) = B, maka

(~p) = S dan jika

( p)

= S, maka

( p) = B

2. Tentukan nilai kebenaran dari setiap disjungsi berikut ini.


a) 3 x 5 atau 15 dalah bilangan ganjil.
b) 3 x 5 atau 15 dalah bilangan genap.
c) 3 x 5 = 8 atau 8 adalah bilanagan genap.
d) 3 x 5 = 8 atau 8 adalah bilanagan ganjil.
Jawab :
a)

3x5=
15

atau

benar.

B
b)

3x5=
benar. 15

3x5=
benar. 8

atau

3x5=
8

salah.

15 adalah bilangan
ganjil

, disjungsi ini bernilai

B
atau

S
d)

, disjungsi ini bernilai

B
c)

15 adalah bilangan
ganjil

, disjungsi ini bernilai

8 adalah bilangan
genap

B
atau

8 adalah bilangan
genap

, disjungsi ini bernilai

3. Tentukan nilai kebenaran dari setiap konjungsi berikut ini.


a) 4 + 2 = 6 dab ibukota Jawa Timur adalah Surabaya.
b) -4 adalah bilangan bulat dan 4 adalah bilangan prima.

Jawab :
4+2=
6

a)

dan

Ibukota Jawa Timur adalah


Surabaya

merupakan konjungsi yang benar.

- 4 adalah bilangan
bulat

b)

4 adalah bilangan
prima

dan

merupakan konjungsi yang salah.


Konjungsi pada Contoh 6a), jelas bahwa pernyataan 4 + 2= 6 dengan
pernyataan ibukota Jawa Timur adalah Surabaya tidak memiliki hubungan arti.
Dengan demikian, konjungsi itu tidak mempunyai arti. Dalam logika matematika
yang dipentingkan bukan arti dari sebuah pernyataan, tetapi nilai kebenarannya.
Dalam bahasa sehari-hari, kata perangkai dan dapat diganti dengan kata
perangkai tetapi atau walaupun atau meskipun.
4. Tentukan nilai kebenaran dari setiap implikasi berikut ini.
a) Jika 3 + 2 = 5, maka 5 adalah bilangan prima.
b) Jika 9 adalah bilangan genap, maka Surabaya ibukota Jawa Timur.
c) Jika Semarang ibukota Jawa Tengah, maka Medan ibukota Sumatera Barat.
d) Jika log 3 + log 5 = log 8, maka 103 + 105 = 108.
Jawab :
a) Jika

3+2=
5

, maka

5 adalah bilangan
prima

Implikasi ini bernilai benar, karena alasan benar dan kesimpulan benar.

b) Jika

9 adalah bilangan
genap

, maka

Surabaya ibukota Jawa


Timur

Implikasi ini bernilai benar, karena alasan salah dan kesimpulan benar.

c) Jika

Semarang ibukota Jawa


Tengah
B

, maka

Medan ibukota Sumatera


SBarat

Implikasi ini bernilai salah, karena alasan benar dan kesimpulan salah.

d) Jika

log 3 + log 5 =
log 8

, maka

103 + 105 = 108


S

Implikasi ini bernilai benar, karena alasan salah dan kesimpulan salah.

DAFTAR PUSTAKA

GRIMALDI, R.P., Discrete and Combinatorial Mathematics - An Applied


Introduction, 2nd Edition, Addison Wesley Publishing Company, Massachusetts,
1989.

JOHNSONBAUGH, R., Matematika Diskrit, Edisi ke 4, Jilid I dan II,

PT.

Prenhallindo,Jakarta, 1998.
ROSEN, K.H., Discrete Mathematics and Its Application, 5th Edition,
McGraw.Hill Book Company, New York, 2003.
TREMBLAY, J.P. AND MANOHAR,R., Discrete Mathematical Structures with
Apllications to Computer Science, McGraw-Hill Book Company, New York,
1988.
Budhayanti, Clara Ika Sari, dkk. 2008. Bahan Ajar Cetak Pemecahan Masalah
Matematika. Dikti Depdiknas: Jakarta.
Simangunsong, Wilson. 1991. Matematika Dasar. Jakarta: Erlangga.
Negoro, ST dan B. Harahap. 1988. Ensiklopedia Matematika. Jakarta. Ghapia
Indonesia.
Wirodikromo, Sartono. 2006. Matematika SMU Kelas X. Erlangga: Jakarta.