Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)


DI RUANG HEMODIALISA RSUP Dr KARIADI SEMARANG

Oleh :
Reta Novi Ardianti
1208028

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
TAHUN 2012

LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)


DI RUANG HEMODIALISA RSUP Dr KARIADI SEMARANG
A. PENGERTIAN
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang
progresif dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah.
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain
dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure
(CRF), namun pada terminologi akhir CKD bertujuan untuk membatasi
kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade,
dengan harapan klien datang merasa masih dalam stage stage awal yaitu 1
dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat (stage) menggunakan
terminology CCT (clearance creatinin test) dengan rumus stage 1 sampai
stage 5. sedangkan CRF (cronic renal failure) hanya 3 stage. Secara umum
ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal
stage bila menggunakan istilah CRF.
B. ETIOLOGI
Tiga kategori utama kondisi penyebab gagal ginjal akut adalah :
1. Kondisi Pre Renal (hipoperfusi ginjal)
Kondisi pra renal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal
dan turunnya laju filtrasi glumerulus. Kondisi klinis yang umum yang
menyebabkan terjadinya hipoperfusi renal adalah :
Penipisan volume
Hemoragi
Kehilangan cairan melalui ginjal (diuretik, osmotik)

Kehilangan cairan melalui saluran GI (muntah, diare, selang

nasogastrik)
Gangguan efisiensi jantung
Infark miokard
Gagal jantung kongestif
Disritmia
Syok kardiogenik
Vasodilatasi
Sepsis
Anafilaksis
Medikasi antihipertensif atau medikasi lain yang menyebabkan

vasodilatasi
2. Kondisi Intra Renal (kerusakan aktual jaringan ginjal)
Penyebab intra renal gagal ginjal akut adalah kerusakan glumerulus atau
tubulus ginjal yang dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini :
Cedera akibat terbakar dan benturan
Reaksi transfusi yang parah
Agen nefrotoksik
Antibiotik aminoglikosida
Agen kontras radiopaque
Logam berat (timah, merkuri)
Obat NSAID
Bahan kimia dan pelarut (arsenik, etilen glikol, karbon tetraklorida)
Pielonefritis akut
glumerulonefritis
3. Kondisi Post Renal (obstruksi aliran urin)
Kondisi pasca renal yang menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat
dari obstruksi di bagian distal ginjal. Obstruksi ini dapat disebabkan oleh
kondisi-kondisi sebagai berikut :
Batu traktus urinarius
Tumor
BPH
Striktur
Bekuan darah
C. PATOFISIOLOGI
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus
dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).

Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang


meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR /
daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai
dari nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih
besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai
poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah
banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya
gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas
kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada
tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai
15 ml/menit atau lebih rendah itu. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk
sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik
setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
D. KLASIFIKASI
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
1. Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin
serum normal dan penderita asimptomatik.
2. Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75 % jaringan telah
rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum
meningkat.
3. Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.
K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari
tingkat penurunan LFG :
1. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria
persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
2. Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG
antara 60-89 mL/menit/1,73 m2
3. Stadium 3 : kelainan ginjal
mL/menit/1,73m2
4. Stadium 4 : kelainan
29mL/menit/1,73m2

ginjal

dengan
dengan

LFG
LFG

antara
antara

30-59
15-

5. Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau


gagal ginjal terminal.
Untuk menilai GFR (Glomelular Filtration Rate) / CCT ( Clearance
Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus :
Clearance creatinin ( ml/ menit ) :
= ( 140-umur ) x berat badan ( kg )X 1

(laki-laki)

72 x creatini serum
= ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) X 0.85

(perempuan)

72 x creatini serum
E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain :
hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin angiotensin - aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat
cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iritasi pada lapisan perikardial oleh
toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang,
perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi
perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan
irama jantung dan edema.
b. Gannguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara
krekels.
c. Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan
metabolisme

protein

fomitus

dalam

usus,

yang

berhubungan

perdarahan

pada

dengan
saluran

gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.


d. Gangguan musculoskeletal
Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan),
burning feet syndrom (rasa kesemutan dan terbakar, terutama
ditelapak kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot otot
ekstremitas).
e. Gangguan Integumen

Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat


penimbunan urokrom, gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan
rapuh.
f. Gangguan endokrin
Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin
D.
g. Gangguan seksual
Libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan
aminore.
h. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan
natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia,
hipokalsemia.
i. System hematologi
Anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritropoetin,
sehingga rangsangan eritopoesis pada sum sum tulang berkurang,
hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana
uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan
trombositopeni.

infeksi

vaskuler

reaksi antigen
antibody

zat toksik

obstruksi saluran kemih

tertimbun
pe cairana

terosklerosis

hemokonsentrasi suplai darah ke ginjal

molekul ginjal

hidroureter

batu besar dan kasar

kerja nefron

hidronefrosis

menekan syaraf perifer


nyeri pinggang

GFR

Sekresi protein terganggu

retensi Na

Sindrom uremia
ggn. Keseimbangan
Asam-basa

Pruritis

prod. asam

total CES naik


urokrom tertimbun
di kulit

Intoleran
aktivitas

sekresi eritropoitis turun


produksi Hb turun

tek. Kapiler naik

oksihemoglobin turun

Vol.interstisiil

Suplai O2 ke jaringan turun

perubabahan warna kulit


edema

Ggn.
Integritas
kulit

As. Lambung

Ggn.
Perfusi
jaringan

preload
Nausea, vomitus

iritasi lambung
Beban jantung
Infeksi

perdarahan

Gastritis

hematemesis, melena

hipertrofi ventrikel kiri


payah jantung kiri

Mual, muntah

COP
Aliran darah ginjal

Resiko
kekurangan
nutrisi

Potensial
anemia

hematuria
anemia

Nye
ri

GGK

Perpospaternia

iritasi/cedera
jaringan

RAA
Retensi Na&H2O naik

Suplai O2 jar.

soplai O2 otak

tek. Vena pulmonalis

metab. Anaerob

syncope

kapiler paru naik

timb. As. laktat


Fatigue, nyeri sendi

Kelebihan
vol. cairan

Bendungan atrium kiri

Intoleran
aktivitas

edema paru
Ggn.
Perfusi
jaringan

Ggn.
Pertukaran
gas

F.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin timbul akibat gagal ginjal kronis antara lain :
1. Hiperkalemia
2. Perikarditis
3. Hipertensi
4. Anemia
5. Penyakit tulang

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Didalam memberikan pelayanan keperawatan maka perlu pemeriksaan
penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain:
1. Pemeriksaan lab.darah
a. Hematologi
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit
b. RFT ( renal fungsi test )
ureum dan kreatinin
c. LFT (liver fungsi test )
d. Elektrolit
Klorida, kalium, kalsium
e. koagulasi studi
PTT, PTTK
f. BGA
2. Urine
a. urine rutin
b. urine khusus : benda keton, analisa kristal batu
3.
Pemeriksaan kardiovaskuler
a. ECG
b. ECO
4.
Radidiagnostik
a. USG abdominal
b. CT scan abdominal
c. BNO/IVP, FPA
d. Renogram
e. RPG ( retio pielografi)
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu:
1. Konservatif
Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin
Observasi balance cairan
Observasi adanya odema
Batasi cairan yang masuk
2. Dialysis
Peritoneal dialysis

Biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency. Sedangkan


dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut
-

adalah CAPD (Continues Ambulatori Peritonial Dialysis)


Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan
menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui
daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :
AV fistule : menggabungkan vena dan arteri
Double lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke

jantung)
3. Operasi
Pengambilan batu
transplantasi ginjal

I.

PENCEGAHAN
Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah
dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan
kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat
peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan tahunan
termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis.
Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang
menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan
kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status
kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan). (Barbara
C Long, 2001)

J.

PENATALAKSANAAN DIIT
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan
homeostasis selama mungkin.
1. Intervensi diit.
Protein dibatasi karena urea, asam urat dan asam organik merupakan hasil
pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika
terdapat gangguan pada klirens renal. Protein yang dikonsumsi harus
bernilai biologis (produk susu, telur, daging) di mana makanan tersebut

dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel.


Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. Kalori untuk
mencegah kelemahan dari karbohidrat dan lemak. Pemberian vitamin juga
penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air
melalui darah sewaktu dialisa.
2. Hipertensi
ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule.
Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan, diit
rendah natrium, diuretik, digitalis atau dobitamine dan dialisis. Asidosis
metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu
penanganan, namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin
diperlukan untuk mengoreksi asidosis.
3. Anemia
Pada CKD ditangani dengan epogen (erytropoitin manusia rekombinan).
Anemia pada pasaien (Hmt < 30%) muncul tanpa gejala spesifik seperti
malaise, keletihan umum dan penurunan toleransi aktivitas. Abnormalitas
neurologi dapat terjadi seperti kedutan, sakit kepala, dellirium atau
aktivitas kejang. Pasien dilindungi dari kejang.
Pada prinsipnya penatalaksanaan Terdiri dari tiga tahap :
1. Penatalaksanaan konservatif : Pengaturan diet protein, kalium, natrium,
cairan
2. Terapi

simptomatik

Suplemen

alkali,

transfusi,

local&sistemik, anti hipertensi


3. Terapi pengganti : HD, CAPD, transplantasi
K. PENGKAJIAN
1. Aktifitas dan Istirahat
Kelelahan, kelemahan, malaise, gangguan tidur
Kelemahan otot dan tonus, penurunan ROM
2. Sirkulasi
Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada
Peningkatan JVP, tachycardia, hipotensi orthostatic, friction rub
3. Integritas Ego
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada kekuatan

obat-obat

Menolak, cemas, takut, marah


4. Eliminasi
Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuri, perubahan warna urin, urin pekat
warna merah/coklat, berawan, diare, konstipasi, abdomen kembung
5. Makanan/Cairan
Peningkatan BB karena edema, penurunan BB karena malnutrisi,
anoreksia, mual, muntah, asites
Penurunan otot, penurunan lemak subkutan
6. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot, kejang, kebas, kesemutan
7. Gangguan status mental, penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan
berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran,
koma
8. Nyeri/Kenyamanan
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki
Distraksi, gelisah
9. Pernafasan
Pernafasan Kussmaul (cepat dan dangkal), Paroksismal Nokturnal
Dyspnea (+)
Batuk produkrif dengan frotty sputum bila terjadi edema pulmonal
10. Keamanan
Kulit gatal, infeksi berulang, pruritus, demam (sepsis dan dehidrasi),
petekie, ekimosis, fraktur tulang, deposit fosfat kalsieum pada kulit, ROM
terbatas
11. Seksualitas
Penurunan libido, amenore, infertilitas
12. Interaksi Sosial
Tidak mampu bekerja, tidak mampu menjalankan peran seperti biasanya
L. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Intoleransi aktivitas b.d keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialysis.
2. Pola nafas tidak efektif b.d edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis,
perikarditis
3. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluan urin, retensi cairan dan
natrium.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
makanan yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).

5. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b.d kurangnya


informasi kesehatan.
6. Risiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh primer, tindakan invasive
7. PK: Insuf Renal
8. PK : Anemia
9. Sindrom defisit self care b.d kelemahan, penyakitnya.
M. RENCANA KEPERAWATAN
No
Diagnosa
Tujuan/KH
Intervensi
1 Intoleransi aktivitasSetelah
dilakukanNIC: Toleransi aktivitas
B.d
askep ... jam Klien dapat

Tentukan penyebab intoleransi


ketidakseimbangan menoleransi aktivitas &aktivitas & tentukan apakah
suplai & kebutuhanmelakukan ADL dgn baik penyebab dari fisik, psikis/motivasi
O2
Kriteria Hasil:
Kaji kesesuaian aktivitas&istirahat
Berpartisipasi dalamklien sehari-hari
aktivitas fisik dgn TD,
aktivitas secara bertahap, biarkan
HR, RR yang sesuai
klien berpartisipasi dapat perubahan

Warna
kulitposisi, berpindah&perawatan diri
normal,hangat&kering Pastikan klien mengubah posisi

Memverbalisasikansecara bertahap. Monitor gejala


pentingnya
aktivitasintoleransi aktivitas
secara bertahap
Ketika membantu klien berdiri,

Mengekspresikanobservasi gejala intoleransi spt


pengertian
pentingnyamual, pucat, pusing, gangguan
keseimbangan latihan &kesadaran&tanda vital
istirahat
Lakukan latihan ROM jika klien
toleransi aktivitas
tidak dapat menoleransi aktivitas
2 Pola nafas tidakSetelah
dilakukanMonitor Pernafasan:
efektif
b.daskep ..... jam pola nafas
Monitor irama, kedalaman dan
hiperventilasi,
klien
menunjukkanfrekuensi pernafasan.
penurunan
energi,ventilasi yg adekuat dg Perhatikan pergerakan dada.
kelemahan
kriteria :
Auskultasi bunyi nafas
Tidak ada dispnea

Monitor
peningkatan
Kedalaman nafas normal ketdkmampuan
istirahat,
Tidak ada retraksi dada /kecemasan dan seseg nafas.
penggunaan otot bantuan
pernafasan
Pengelolaan Jalan Nafas
Atur posisi tidur klien untuk
maximalkan ventilasi
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Monitor status pernafasan dan

oksigenasi sesuai kebutuhan


Auskultasi bunyi nafas
Bersihhkan skret jika ada dengan
batuk efektif / suction jika perlu.
Kelebihan
volumeSetelah
dilakukanFluit manajemen:
cairan
b.d.askep ..... jam pasien
Monitor status hidrasi (kelembaban
mekanisme
mengalami
membran mukosa, nadi adekuat)
pengaturan melemah keseimbangan cairan dan
Monitor tnada vital
elektrolit.

Monitor
adanya
indikasi
Kriteria hasil:
overload/retraksi
Bebas dari edema
Kaji daerah edema jika ada
anasarka, efusi
Suara paru bersih
Fluit monitoring:
Tanda vital dalam batas
Monitor intake/output cairan
normal
Monitor serum albumin dan protein
total
Monitor RR, HR
Monitor turgor kulit dan adanya
kehausan
Monitor warna, kualitas dan BJ
urine

4 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan askepManajemen Nutrisi


nutrisi kurang dari..
jam
klien
kaji pola makan klien
kebutuhan tubuh
menunjukan
status
Kaji adanya alergi makanan.
nutrisi
adekuat
Kaji makanan yang disukai oleh
dibuktikan dengan BBklien.
stabil tidak terjadi mal
Kolaborasi dg ahli gizi untuk
nutrisi, tingkat energi
penyediaan nutrisi terpilih sesuai
adekuat, masukan nutrisi
dengan kebutuhan klien.
adekuat

Anjurkan
klien
untuk
meningkatkan asupan nutrisinya.
Yakinkan diet yang dikonsumsi
mengandung cukup serat untuk
mencegah konstipasi.

Berikan
informasi
tentang
kebutuhan nutrisi dan pentingnya
bagi tubuh klien
Monitor Nutrisi

Monitor BB setiap hari jika


memungkinkan.
Monitor respon klien terhadap

situasi yang mengharuskan klien


makan.
Monitor lingkungan selama makan.
jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak bersamaan dengan
waktu klien makan.
Monitor adanya mual muntah.
Monitor adanya gangguan dalam
proses mastikasi/input makanan
misalnya perdarahan, bengkak dsb.
Monitor intake nutrisi dan kalori.

Kurang pengetahuanSetelah dilakukan askep Pendidikan : proses penyakit


tentang penyakit dan jam Pengetahuan klien
Kaji pengetahuan klien tentang
pengobatannya b.d./ keluarga meningkat dg penyakitnya
kurangnya
sumberKH:
Jelaskan tentang proses penyakit
informasi
Pasien mampu:
(tanda dan gejala), identifikasi
Menjelaskan kembalikemungkinan penyebab.
penjelasan
yang
Jelaskan kondisi klien
diberikan

Jelaskan
tentang
program
Mengenal kebutuhanpengobatan
dan
alternatif
perawatan
danpengobantan
pengobatan tanpa cemas Diskusikan perubahan gaya hidup

Klien
/
keluargayang mungkin digunakan untuk
kooperatif saat dilakukanmencegah komplikasi
tindakan
Diskusikan tentang terapi dan
pilihannya
Eksplorasi kemungkinan sumber
yang bisa digunakan/ mendukung

instruksikan kapan harus ke


pelayanan
Tanyakan kembali pengetahuan
klien tentang penyakit, prosedur
perawatan dan pengobatan
Resiko infeksi b/dSetelah
dilakukanKontrol infeksi
tindakan
invasive,askep ... jam risiko
Ajarkan tehnik mencuci tangan
penurunan daya tahaninfeksi terkontrol dg KH:
Ajarkan tanda-tanda infeksi
tubuh primer
Bebas dari tanda-tanda
laporkan dokter segera bila ada
infeksi
tanda infeksi
Angka leukosit normal Batasi pengunjung
Ps mengatakan tahu Cuci tangan sebelum dan sesudah
tentang tanda-tanda dan merawat ps
gejala infeksi
Tingkatkan masukan gizi yang

PK: Insuf Renal

PK: Anemia

cukup
Anjurkan istirahat cukup

Pastikan penanganan aseptic


daerah IV
Berikan PEN-KES tentang risk
infeksi
proteksi infeksi:
monitor tanda dan gejala infeksi
Pantau hasil laboratorium
Amati faktor-faktor yang bisa
meningkatkan infeksi
monitor VS
Setelah dilakukan
Pantau tanda dan gejala insuf renal
askep ... jam Perawat
( peningkatan TD, urine <30
akan menangani atau
cc/jam, peningkatan BJ urine,
mengurangi komplikasi peningkatan natrium urine, BUN
dari insuf renal
Creat, kalium, pospat dan amonia,
edema).
Timbang BB jika memungkinkan
Catat balance cairan
Sesuaikan pemasukan cairan setiap
hari = cairan yang keluar + 300
500 ml/hr

Berikan
dorongan
untuk
pembatasan masukan cairan yang
ketat : 800-1000 cc/24 jam. Atau
haluaran urin / 24 jam + 500cc
Kolaborasi dengan ahli gizi dalam
pemberian diet, rendah natrium (24g/hr)
pantau tanda dan gejala asidosis
metabolik ( pernafasan dangkal
cepat, sakit kepala, mual muntah,
Ph rendah, letargi)
Kolaborasi dengan timkes lain
dalam therapinya

Pantau perdarahan, anemia,


hipoalbuminemia
Kolaborasi untuk hemodialisis
Setelah
dilakukan
Monitor tanda-tanda anemia
askep .... jam perawat

Anjurkan untuk meningkatkan


akan
dapatasupan nutrisi klien yg bergizi
meminimalkan terjadinya

Kolaborasi untuk pemeberian


komplikasi anemia :

terapi initravena dan tranfusi darah


Hb >/= 10 gr/dl.

Konjungtiva tdk anemis Kolaborasi kontrol Hb, HMT,


Retic, status Fe
Kulit tidak pucat
Observasi keadaan umum klien
Akral hangat
Sindrom defisit selfSetelah dilakukan askepBantuan perawatan diri
care b/d kelemahan . jam klien mampu

Monitor kemampuan pasien


Perawatan diri
terhadap perawatan diri
Self care :Activity Daly
Monitor kebutuhan akan personal
Living (ADL) denganhygiene, berpakaian, toileting dan
kriteria :
makan
Pasien dapat melakukan

Beri bantuan sampai klien


aktivitas
sehari-harimempunyai
kemapuan
untuk
(makan,
berpakaian,merawat diri
kebersihan,
toileting,
Bantu klien dalam memenuhi
ambulasi)
kebutuhannya.
Kebersihan diri pasien
Anjurkan klien untuk melakukan
terpenuhi
aktivitas
sehari-hari
sesuai
kemampuannya
Pertahankan aktivitas perawatan
diri secara rutin
Evaluasi kemampuan klien dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berikan reinforcement atas usaha
yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman


Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta
: EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II.
Jakarta.: Balai Penerbit FKUI