Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia memiliki panca indra untuk membantu merasakan lingkungan sekitarnya
dengan cara melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba. Indra pendengaran
merupakan indra yang memiliki hubungan erat dalam arsitektur yaitu pada hubungan akustik
ruang karena pendengaran juga dapat menjadi salah satu factor pendukung agar penghuni atau
pengguna bangunan merasa nyaman dan tenang berada di dalam gedung tersebut. Prinsip dalam
akustik ruang adalah mengarahkan dan memperkuat bunyi yang dapat berguna serta menjauhkan
dan menghilangkan bunyi yang tidak berguna atau dapat menganggu indra pendengaran. Untuk
memanjakan indra pendengaran dan menciptakan kenyamanan bagi penghuni maka harus
memperhatikan prinsip utama pada akustik ruang. Setiap gedung memiliki karakter akustik
ruangnya masing-masing tergantung dari lokasi pembangunan gedung tersebut karena kebisingan
lokasi di desa dan di kota sangat berbeda jauh, slain lokasi juga dilihat dari fungsi bangunan
tersebut contohnya seperti gedung bioskop, gedung rapat, gedung sekolah, villa, rumah pribadi,
dan banyak fungsi gedung lainnya pasti memiliki karaker akustik yang berbeda selain itu
perbedaan civitas dan kegiatan yang berlangsung dalam gedung juga dapat berpengaruh.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian akustik dan noise dalam arsitektur?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi akustik dan noise?
3. Bagaimana cara merancang menurut prinsip akustik dan noise?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari akustik dan noise dalam arsitektur
2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi akustik dan noise
3. Mengetahui cara merancang menurut prinsip akustik dan noise

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 NOISE (KEBISINGAN)

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki, mengacaukan, mengganggu atau
berbahaya bagi kegiatan sehari-hari. Setiap suara yang mengganggu pendengar dapat
dikatagorikan sebagai kebisingan, bahkan suara musik dan suara orang yang berbicara dapat
disebut kebisingan jika suara tersebut tidak dikehendaki oleh pendengar. Badan kesehatan dunia
(WHO) melaporkan, tahun 1988 terdapat 8-12% penduduk dunia menderita dampak kebisingan
dalam berbagai bentuk. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat. Tidak diragukan lagi,
kebisingan dapat mempengaruhi kesehatan terutama kesehatan pendengaran, baik yang sifatnya
sementara ataupun permanen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh intensitas dan lamanya
pendengaran. Kebisingan sering kali mengganggu aktivitas, apalagi jika kebisingan itu bernada
tinggi. Pengaruh kebisingan terputus-putus atau datang secara tiba-tiba dan tak terduga, sangat
terasa. Lebih-lebih bila sumber kebisingan itu tidak diketahui.
Kebisingan merupakan hal yang sering diabaikan oleh manusia, namun belum banyak yang
menyadari adanya kebisingan dapat berpegaruh terhadap kesehatan manusia padahal kebisingan
masuk dalam salah satu pencemaran udara. Di kota-kota besar, penanganan akan kebisingan
sangatlah kecil padahal efek dari kebisingan tersebut sangatlah mengganggu. Kebisingan bisa
mempengaruhi kesehatan manusia seperti menyebabkan hipertensi, mengganggu tidur dan bisa
menghambat kemampuan kognitif pada anak-anak. Bahkan yang paling parah bisa menyebabkan
ganguan pada memori atau gangguan kejiwaaan. Masalah ini suadah tersebar hampir di seluruh
dunia salah satu contoh India. Di India masalah ini sudah menyebar luas. Beberapa studi
melaporkan tingkat kebisingan di kota metropolitan sudah melebihi batas standar yang
mengakibatkan para penduduk menjadi tuli dan studi yang dilakukan oleh Sigh dan Mahajan di
Kalkuta dan Dehli menemukan tingkat kebisingan di kota itu mencapai 95dB padahal ambang
batas hanya 45dB.
Kebisingan dengan frekuensi > 70 dB = menimbulkan kegugupan, kurang enak badan
kelelahan pendengaran, pencernaan dan aliran darah. Frekuensi > 85 dB menyebabkan
kemunduran kondisi umum kesehatan seseorang dan bila berlangsung lama, kehilangan
pendengaran sementara ataupun permanen dapat terjadi. Frekuensi > 150 dB dapat menyebabkan
sensasi dering yang disebut Tinnitus dan dapat merusak pendengaran secara permanen.

Mereka yang tinggal di dekat jalan yang sibuk tidak bisa mendengar satu sama lain dan
dengan demikian tidak dapat menghubungi untuk propagasi (Deutche Presse-Agentur, 2003).
Kita bisa memvisualisasikan bahwa kebisingan dapat mengganggu komunikasi, mengganggu
tidur dan mengurangi efisiensi individu. Mayoritas responden sampel terkena terjadinya laporan
polusi suara dari jengkel dan gangguan pendengaran. Sebanyak 35% melaporkan tuli dan hampir
sebanyak itu juga melaporkan gangguan mental.
Berikut adalah tabel Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48/MenLH/11/1997
mengenai tingkat kebisingan :
Tabel 1 : Peruntukan kawasan dengan tingkat kebisingan.

Sumber : https://alifis.wordpress.com/2009/06/11/metode-pengukuran-kebisingan/
Faktor diinginkan tau tidaknya suatu suara tergantung pada volume suara, frekuensi,
kontinuitas, waktu terjadinya, isi informasi dan juga aspek aspek subjektif seperti asal suara,
keadaan jiwa dan tempramen penerimanya.

A. Kebisingan lingkungan
Kebisingan lingkungan merupakan suara yang tidak diinginkan dan menggangu segala
sesuatu yang ada pada suatu lingkungan di sekitar daerah yang didiami. Kebisingan tersebut
dapat terjadi karena suatu sumber tunggal maupun beberapa sumber, misalnya suara kebisingan
lalu lintas, industri, pasar, dan lain sebagainya.
Berdasarkan sifat-sifatnya, kebisingan dapat dikelompokan menjadi beberapa jenis (Sumamur,
2009), yaitu :
a. Kebisingan kontinyu, dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide band
noise). Bising inirelatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik
berturutturut.Contohnya kebisingan yang berasal dari mesin-mesin, kipas angin, dan
lain-lain.
b. Kebisingan Kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit (steady state, narrow
band noise). Bising ini juga relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi
tertentu saja(pada frekuensi 500, 1000, dan 4000 hz). Contohnya kebisingan yang
berasal dari gergaji sirkuler, katup gas, dan lain-lain.
c. Kebisingan terputus-putus (Intermittent ). Bising ini tidak terjadi secara terus
menerus, melainkan ada periode relatif tenang. Contohnya kebisingan yang berasal
dari lalu lintas, suara pesawat terbang, dan lain-lain.
d. Kebisingan impulsive (impact or impulsive noise). Bising jenis ini memiliki
perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya
mengejutkan pendengarnya. Contohnya tembakan, suara ledakan mercon, meriam.
e. Kebisingan impulsive berulang. Bising ini terjadi dalam waktu yang sangat cepat,
mengejutkan dan berlangsung berulang kali. Contohnya mesin tempa di perusahaan.

B. Sumber kebisingan lingkungan


a) Lalu lintas kendaraan bermotor
1. Kebisingan kendaraan penumpang
2. Kebisingan truk/ bus
3. Kebisingan sepeda motor
b) Kebisingan dari kegiatan industry
1. Kebisingan yang ditimbulkan oleh aktivitas mesin.

2. Vibrasi Kebisingan yang dittimbulkan oleh akibat getaran yang ditimbulkan akibat
gesekan, benturan, atau ketidakseimbangan gerakan bagian mesin. Terjadi pada roda
gigi, roda gila, batang torsi, piston, fan, bearing, dan lain-lain.
3. Pergerakan udara, gas dan cairan. Kebisingan ini ditimbulkan akibat pergerakan
udara, gas, dan cairan dalamkegiatan proses kerja industri misalnya pada pipa
penyalur cairan gas,outlet pipa, gas buang, jet. Flare boom, dan lain-lain.
c) Kebisingan dari kegiatan perumahan.
d) Kebisingan dari kegiatan konstruksi.
1. Kebisingan dari pemakaian alat berat.
2. Pemakaian alat potong listrik.
C. Aspek fisik suara dalam kebisingan
1. Gelombang bunyi
Gelombang bunyi dihasilkan oleh getaran suatu sumber bunyi. Frekuensi adalag
banyaknya gelombang bunyi yang terjadi dalam 1 detik. Interval frekuensi yang
dapat didengar oleh manusia adalah 20 20000 Hz.
2. Tingkat tekanan suara dan skala decibel (dBA)
Desibel (Lambang Internasional = dB) adalah satuan untuk mengukur intensitas
suara. Satu desibel ekuvalen dengan sepersepuluh Bel. Huruf "B" pada dB ditulis
dengan huruf besar karena merupakan bagian dari nama penemunya, yaitu
Bell.Propagasi dam intensitas bunyi
3. Pengaruh atmosfer pada propagasi bising
a) Pengaruh angin dan turbulensi
b) Gradasi temperature permukaan tanah
c) Gradasi angin
d) Kriteria kebisingan
D. Pengukuran kebisingan
Ada tiga cara atau metode yang digunakan dalam pengukuran akibat kebisingan
dilingkungan kerja.
1. Pengukuran dengan titik sampling
Pengukuran ini dilakukan bila kebisingan diduga melebihi batas hanya pada satu atau
beberapa lokasi saja. Pengukuran ini juga dapat dilakukan untuk dapat mengevaluasi
kebisingan yang disebabkan oleh suatu peralatan sederhana misalnya
kompresor/generator. Jarak pengukuran dari sumber harus dicantumkan misalnya 3
meter dari ketinggian 1 meter. Selain itu juga harus diperhatikan arah mikrofon alat
ukur yang digunakan.
Contoh penggunaan :

Posisikan sound level meter pada kedudukan yang merepresentasikan tingkat

intensitas kebisingan pada tempat tersebut.


Aktifkan pengukur dengan saklar geser pada kedudukan Lo atau Hi. Untuk
Lo, intensity berada pada skala 40-80dB, sedangkan Hi berada pada skala 80-

120 dB.
Pencatatan pada satu kedudukan akan terkait dengan pembacaan skala

minimum dan skala maksimum.


Titik kedudukan dapat diambil sebanyak yang diperlukan.
Waktu pengukuran adalah 10 menit dalam 1 jam. Untuk pencuplikan data
adalah setiap 5 detik dengan ketinggian microphone 1,2 meter dari muka
tanah.

Gambar 1. Pola tingkat kebisingan


dibeberapa kawasan.
Sumber :
https://alifis.wordpress.com/2009/06/
11/metode-pengukuran-kebisingan/

Gambar 2. Diagram hasil pengambilan sampel di 3 titik yang berbeda.


Sumber : https://alifis.wordpress.com/2009/06/11/metode-pengukuran-kebisingan/
2. Pengukuran dengan peta kontur
Pengukuran dengan membuat peta kontur sangat bermanfaat dalam mengukur
kebisingan, karena peta tersebut dapat menetukan gambar tentang kondisi kebisingan
dalam cakupan area. Pengukuran ini dilakukan dengan membuat gambar isoplet pada
kertas berskala yang sesuai dengan pengukurannya yang dibuat. Biasanya dibuat
kode pewarnaan untuk menggambar keadaan kebisingan dengan intensitas dibawah
85 dBA warna orange untuk tingkat kebisingan diatas 90dBA, warna kuning untuk
kebisingan dengan intensitas antara 85-90 dBA.
Contoh pengaplikasian :
Pada peta kontur kebisingan dalam sebuah pabrik, ada beberapa daerah yang
memiliki warna berbeda tergantung dengan tingkat kebisingan yang dihasilkan. Dari
peta kontur dapat dilihat bahwa hampir di seluruh titik di dalam bangunan pabrik
memiliki tingkat kebisingan di atas 66 dBA. Kebisingan terkonsentrasi di daerah
barat pabrik (utility area) hingga 77 dBA dan bahkan 82 dBA pada radius tertentu
dari alat. Sedangkan di bagian process area (di bagian timur pabrik), kebisingan
berkisar antara 72-77 dBA dan 82 dBA di titik-titik tertentu di dekat alat. Kebisingan
pada tingkat yang rendah terjadi di sekitar flare stack yaitu sekitar 56-72 dBA di
dalam radius flare stack. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kompleks pabrik

tersebut secara umum memenuhi standar keamanan operasi untuk tenaga manusia
yang bekerja selama maksimum 8 jam sehari.

Gambar 4. Peta kontur kebisingan dalam sebuah pabrik yang ditentukan dari warna
yang dihasilkan.
Sumber : http://majarimagazine.com/2007/12/pengendalian-kebisingan-dalampabrik-kimia/
3. Pengukuran dengan grid
Untuk mengukur dengan grid adalah dengan membuat contoh data kebisingan
pada lokasi yang diinginkan. Titik-titik sampling harus dibuat dengan jarak interfal
yang sama diseluruh lokasi. Jadi dalam pengukuran lokasi dibagi menjadi beberapa
kotak yang berukuran dan jarak yang sama, misalnya: 10 x 10 M. kotak tersebut
ditandai dengan batis dan kolom untuk memudahkan identitas. Ada beberapa macam
peralatan pengukuran kebisingan, antara lain sound survey meter, sound level meter,
octave band analyzer, narrow band analyzer, dan lain-lain. Untuk permasalahan
bising kebanyakan sound level meter dan octave band analyzer sudah cukup banyak
a.

memberikan informasi.
Sound Level Meter (SLM)
SLM adalah instrumen dasar yang digunakan dalam pengukuran kebisingan. SLM
terdiri atas mikropon dan sebuah sirkuit elektronik termasuk attenuator,3 jaringan
perespon frekuensi, skala indikator dan amplifier. Tiga jaringan tersebut
distandarisasi sesuai standar SLM. Tujuannya adalah untuk memberikan pendekatan

yang terbaik dalam pengukuran tingkat kebisingan total. Respon manusia terhadap
suara bermacam-macam sesuai dengan frekuensi dan intensitasnya. Telinga kurang
sensitif terhadap frekuensi lemah maupun tinggi pada intensitas yang rendah. Pada
tingkat kebisingan yang tinggi, ada perbedaan respon manusia terhadap berbagai
frekuensi. Tiga pembobotan tersebut berfungsi untuk mengkompensasi perbedaan
respon manusia.

Gambar 5. Sound Level Meter digital, alat pengukur kebisingan.


Sumber : www.tradeindia.com
b. Octave Band Analyzer (OBA)
Bunyi yang diukur bersifat komplek, terdiri atas tone yang berbeda-beda, oktaf yang
berbeda-beda, maka nilai yang dihasilkan di SLM tetap berupa nilai tunggal. Hal ini
tentu saja tidak representatif. Untuk kondisi pengukuran yang rumit berdasarkan
frekuensi, maka alat yang digunakan adalah OBA. Pengukuran dapat dilakukan
dalam satu oktaf dengan satu OBA. Untuk pengukuran lebih dari satu oktaf, dapat
digunakan OBA dengan tipe lain. Oktaf standar yang ada adalah 37,5 75, 75-150,
300-600,600-1200, 1200-2400, 2400-4800, dan 4800-9600 Hz.

Gambar 6. Octave Band Analyze, mengukur kebisingan menggunakan diagram tingkat


kebisingan/
Sumber : www.faberacoustical.com
Rumus penghitungan level ekivalen kebisingan:
Leq= 10 Log n(fi. 10 Li/10 )
L eq
Fi

= tingkat tekanan suara ekivalen


= Fraksi dari waktu paparan

Li

= tingkat tekanan suara

Nilai batas amabang kebisingan adalah 85 dB yang ditanggap aman untuk sebagaian
besar tenega kerja bila bekerja 8 jam/hari atau 40 jam/minggu. Nilai ambang batas untuk
kebisingan ditempat kerja adalah intensitas tertinggi dan merupakan rata-rata yang masih dapat
diterima tenega kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu teus
menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggunya. Berikut ini table waktu
maksimum untuk bekerja.
Tabel 2 : Waktu maksimum untuk bekerja adalah sebagai
TINGKAT

No

KEBISINGAN (dBA)

PEMAPARAN HARIAN

1.

85

8 Jam

2.

88

4 Jam

3.

91

2 Jam

4.

94

1 Jam

5.

97

30 menit

6.

100

15 menit

Setelah pengukuran kebisingan dilakukan, maka perlu dianalisis apakah kebisingan


tersebut dapat diterima oleh telinga. Berikut ini standar atau kriteria kebisingan yang ditetapkan
oleh berbagai pihak berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.718/Men/Kes/Per/XI/1987, tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan.
Tabel 3: Pembagian Zona Bising Oleh Menteri Kesehatan
Tingkat Kebisingan (dB A)
NO

Zona

Maksimum yang

Maksimum yang

dianjurkan

diperbolehkan

35

45

45

55

50

60

60

70

Zona A : tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan


Zona B : diperuntukan perumahan, tempat pendidikan, rekreasi, dan sejenisnya,
Zona C : diperuntukan untuk perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dan sejenisnya
Zona D : industri, pabrik, stasiun kereta api, terminal bis, dan sejenisnya.
E. Gangguan Akibat Kebisingan
a) Efek jangka pendek
Terjadinya reflex ototo ototo berupa kontraksi otot, reflex pernafasan,
meningkatnya tekanan darah, dll pecahnya gendang telinga dan paru paru juga
dapat terjadi.
b) Efek jangka panjnag
Efek jangka panjnag akibat hormonal yaitu terjadinya hemeostatis, tubuh kehilangan
keseimbangan simpatis dan arasimpatis sehingga mempengaruhi saraf otonom serta
aktifitas kelenjar hormone adrenal yang menyebabkan hipertensi, disritmia jantung,
dll

2.2 AKUSTIK

Menurut bangsa Yunani bahasa akustik berarti akouein yang berarti pendengaran.
Sehingga dapat dikatakan Akustik adalah ilmu terapan yang dimaksukan untuk memanjakan
indra pendengaran pada suatu ruang tertutup teutama yang relatif besar. Pada abad ke 1
arsitek bangsa Romawi yang bernama Marcus Pollio sudah mulai melakukan pengamatan
cermat tentang gema dan interferensi ( getaran getaran suara asli dan getaran pantulan yang
saling menghilankan ) dari suatu ruangan. Tetapi akustik mulai dibangun sebagai suatu ilmu
pada tahun 1856 oleh Joseph Henry, kemudian pada tahun 1900 di kembangkan seluruhnya
oleh Wallace Sabine. Seiring dengan berjalannya waktu hingga sekarang rancangan akustik
masih diabaikan kecuali pada ruangan tertentu seperti ruang konser, studio rekanam, ruang
teater, ruang bioskop, dan lain-lain. Seharusnya pada ruang manapun harus mempunyai
rancangan akustik.
Akustik ruang menurut Wikipedia adalah bentuk dan bahan dalam suatu ruangan yang terkait
dengan perubahan bunyi atau suara yang terjadi. Sehingga bisa didefinisikan akustik ruang adalah
menata suatu ruangan agar tidak terjadi gangguan suara. Akustik ruang sangat mempengaruh dalam
reproduksi suara. Terdapat dua hal yang mendasar yang dikaitkan pada akustik ruang, yaitu:
perubahan suara karena pemantulan dan gangguan suara ketembusan suara dari ruang lain.
Terdapat 3 variabel yang perlu diperhatikan untuk menanggulangi masalah kebisingan di
dalam tapak, antara lain :
1. Sumber Bunyi
Sumber bunyi, baik yang diinginkan maupun tidak diinginkan harus dapat dilindungi
untuk mencegah timbulnya kebisingan. Namun cara perlindungan sumbe bunyi kurang
layak secara ekonomi dibandingkan dengan pengendalian kebisingan melalui penataan
tapak.
2. Medium Penghantar Transmisi Suara
Merupakan variabel penting dalam mereduksi suara. Adanya lembah atau cekungan yang
letaknya tersebar pada permukaan tapak akab lebih rentan kebisingan karena jurang
tersebut dapat meneruskan gelombang suara. Kondisi topografi dapat menimbulkan
masalah jika tapak dilalui oleh jalan raya atau rel kereta api. Analisa iklim dan topografi
sangat dibutuhkan untuk memperkirakan pengaruhnya pada tranmisi suara.
3. Penerima atau Pendengar Suara
Orang-orang yang terbiasa dengan keadaan lingkungan yang tenang kurang dapat
menerima kebisingan dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di kota besar yang
telah terbiasa dengan adanya kebisingan. Melindungi kebisingan dapat dicapai dengan

menggunakan suara-suara yang menyenangkan untuk didengar, seperti suara-suara yang


teratur frekuensinya.

A. BAHAN DAN KONTRUKSI PENYERAPAN BUNYI


Bahan-bahan dan kontruksi penyerap bunyi yang digunakan dalam rancangan akustik suatu
bangunan atau yang dipakai sebagai pengendali bunyi dalam ruangan bising diklasifikasikan
menjadi 3 yaitu bahan berpori-pori, penyerap panel, dan resonator rongga. Tiap bahan akustik
dikombinasikan menjadi rancangan lapisan akustik yang dipasang pada dinding ruang atau
digantung di udara sebagai penyerap ruang. Cara pemasangannya mempunyai pengaruh yang
besar pada penyerapan bunyi kebanyakan bahan.

Elemen

Bahan

Elemenbawah(Lantai)

Marmer,Karpet

Elemensamping(Dinding)

Plesterbatubata,glaswool,yumen

Elemenatas(langitlangit)

Beton,glaswool,Yumen

BAHAN BERPORI
Karakteristik dasar bahan berpori adalah suatu jaringam selular dengan poripori yang saling berhubungan. Energi bunyi datang diubah menjadi energi panas
dalam pori-pori ini. Bagian bunyi datang diubah menjadi panas diserap sedangkan
sisanya, yang telah berkurang energinya, dipantulkan oleh permukaan bahan.
Contoh bahan berpori antara lain papan serat (fiber board), plesteran lembut (soft
plaster), mineral wools, dan selimut isolasi.

Gambar 8. Fiberboard merupakan bahan peredam akustik berpori.

Sumber : www.panel.com
a. Unit akustik siap pakai
Jenis dari unit akustik siapa pakai antara lain, ubin selulosa dan serat mineral yang
berlubang maupun tidak berlubang, bercelah, atau bertekstur, panel penyisip, dan lembaran
logam berlubang dengan bantalan penyerap. Mereka dapat dipasang dengan berbagai macam
cara sesuai dengan petunjuk pabrik, misalnya disemen, dipaku, atau dipasang pada langit-langit.

Gambar 9. Kondisi tepi ubin akustik yang umum diperdagangkan


Sumber : Buku Akustik Lingkungan, hal:35
Keuntungan penggunaan unit akustik siap jadi :
1. Mempunyai penerapan yang dapat diandalkan dan dijamin oleh pabrik.
2. Pemasangan dan perawatan relatif mudah dan murah.
3. Pengaplikasian yang beragam tanpa mempengaruhi fungsi.
4. Penggunaan pada sistem langit-langit dapat disatukan secara fungsional dan secara
visual dengan persyaratan penerangan, pemanasan atau pengkondisian udara.
Masalah-masalah yang ditimbulkan :
1. Pengurangan tingkat estetika dikarenakan sambungan antar ubin.
2. Tingkat kerusakanyang ditinggi dikarekan struktur yang lembut.
3. Pencampuran komponen lain seperti cat, dapat merusak fungsi.

Gambar 10 . Serat mineral akustik ubin untuk plafon keramik


Sumber : http://id.aliexpress.com/item/Mineral-Fiber-AcousticTile/1653637469.html

b. Plesteran Akustik dan Bahan yang Disemprotkan


Lapisan akustik ini digunakan terutama untuk tujuan reduksi bising dan terkadang
digunakan untuk bentuk bangunan yang sulit untuk menggunakan bahan akustik lain seperti
auditorium dengan bentuk melengkung. Lapisan akustik ini dipakai dalam bentuk semiplastik,
dengan pistol penyemprot atau dengan melapisi menggunakan tangan atau diplester.
Efisiensi akustik dari lapisan ini paling baik pada frekuensi tinggi, tergantung pada
kondisi pekerjaan seperti ketebalan dan komposisi campuran plesteran, jumlah perekat, keadaan
lapisan dasar pada saat digunakan, dan cara lapisan digunakan. Agar memperoleh hasil
maksimal, pemasangan harus didukung oleh pekerja yang mengerti cara pemasangan yang benar
dan sesuai dengan petunjuk dari produk. Kegunaan lapisan ini dapat rusak bila pencampuran
komponen-komponen lain seperti cat yang tidak sesuai dengan produk.
c. Selimut (Isolasi) Akustik
Selimut dipasangkan pada sistem kerangka kayu atau logam yang digunakan untuk tujuan
tujuan akustik dengan ketebalan bervariasi antara 1 dan 5 inci (25 dan 125mm). penyerapan
akustik bertambah tebal terutama pada frekuensi frekuensi rendah. Selimut akustik dibuat dari
serat serat karang (rock wool), serat serat gelas (glass wool), serat serat kayu, lakan (felt),
rambut dan sebagainya. Selimut akustik tidak menmpilkan permukaan etestik yang memuaskan,
maka selimut biasanya ditutupi dengan papan berlubang, wood slats, fly screening, dan dari jenis
yang sesuai.

Gambar 11. Serat serat gelas (glass wool)


Sumber: http://indonesian.rock-wool-insulation.com/

Gambar 12. Serat karang (rock wool)


sumber: http://indonesian.rock-wool-insulation.com/

Gambar 13. Serat serat kayu


Sumber : http://indonesian.alibaba.com/product-gs-img/hotsell-semen-seratkayu-panel-akustik60002906733.html
d. Karpet dan Kain

Karpet selain digunakan sebagai penutup lantai, juga digunakan sebagai bahan
akustik karena kemampuannya mereduksi dan bahkan meniadakan bising benturan dari atas
atau dari permukaan seperti suara seretan kaki, bunyi langkah kaki, pemindahan perabot
rumah dan sebagainya. Karpet juga dapat diterapkan sebagai bahan pelapis dinding, untuk
memberikan peredaman suara yang lebih optimal. Makin tebal dan berat karpet maka makin
besar pula daya serap dan kemampuannya dalam mereduksi bising. Hal hal berikut
ditemukan dari percobaan yang dilakukan atas nama Carpet and Rug Institute.
Pemberian karpet pada lantai menunjang penyerapan bunyi sebagai berikut :
1. Jenis serat, praktis tidak mempunyai pengaruh pada penyerapan bunyi.
2. Pada kondi yang sama tumpukan potongan (cut piles) memberikan penyerapan yang
lebih banyak dibandingkan dengan tumpukan lembaran (loop piles).
3. Dengan bertambahnya tinggi dan berat tumpukan, dalam tumpukan potongan kain,
penyerapan bunyi akan bertambah.
4. Dalam tumpukan lembaran kain, bila tumpukan bertambah tinggi, sedang rapat massa
tetap, penyerapan bunyi bertambah; bila berat tumpukan bertambah, sedang tinggi
tumpukan konstan, penyerapan bunyi bertambah hanya sampai suatu tingkat tertentu.
5. Makin kedap lapisan penunjang(backing), makin tinggi penyerapan bunyi.
6. Bantalan bulu, rami bulu (hair - jute) dan karet busa menghasilkan penyerapan bunyi
yang lebih tinggi disbanding bantalan rami buli yang dilapisi karpet, karet spon dan
busa urethane yang kurang kedap.

Pemberian karpet pada Dinding menunjang penyerapan bunyi sebagai berikut :


1. Karpet yang dipasang pada dinding dinding berbulu lebih baik daripada karpet yang
direkat / delem langsung pada dinding.
2. Karpet dengan papan mineral, rock wool, Styrofoam, atau tectum boards yang
digunakan sebagai pengisi antara lapisan menghasilkan penyerapan yang lebih tinggi
dari pada tanpa pengisi.
Karpet pada dinding dinding harus tahan api seperti yang disyaratakan oleh peraturan
bangunan local. Pemberian karpet pan lantai dan dinding menciptakan suasana tenang. Kain
kain fenestrasi dan bahan gorden juga menunjang penyerapan bunyi. Makin berat kain maka

semakin banyak penyerapan bunyi. Makin lebar ruang udara antar gorden dan dinding
belakangnya penyerapan frekuensi rendah makin bertambah.

Gambar 14. Bahan akustik dari Karpet


Sumber: http://www.acoustics.com/product

PENYERAP PANEL (SELAPUT)


Penyerap panel merupakan bahan kedap yang dipasang pada lapisan penunjang

yang padat (solid baking) tetapi terpisah oleh suatu rongga.

Gambar 15. Panel Penyerap (Panel Absorber) siap pakai yang bertekstur
Sumber: http://www.acoustics.com/product
Bahan ini berfungsi sebagai penyerap panel dan akan bergetar bila tertumbuk
oleh gelombang bunyi. Getaran lentur dari panel akan menyerap sejumlah energi bunyi yang
datang dan mengubahnya menjadi energi panas. Cara pemasangan sesuai dengan di semen pada

permukaan yang padat, dipaku, dibor pada kerangka kayu atau dipasang pada sistem langit-langit
gantung.

Gambar 16. Penerapan Panel Penyerap pada plafond dan dinding


Sumber: http://www.acoustics.com/product
Kelebihan dari bahan ini adalah kemudahannya untuk disusun sesuai desain yang
diinginkan karena tersedia dalam ukuran-ukuran yang bervariasi, mudah dalam pemasangannya
serta ekonomis dan merupakan penyerap bunyi yang efisien karena menyebabkan karakteristik
dengung yang merata pada seluruh jangkauan frekuensi (tinggi maupun rendah karena berfungis
untuk mengimbangi penyerapan suara yang agak berlebihan oleh bahan penyerap berpori dan isi
ruang. Jenis bahan yang termasuk penyerap panel antara lain: panel kayu, hardboard, gypsum
board dan panel kayu yang digantung di langit-langit, plesteran berbulu, plastic board tegar,
jendela kaca, pintu, lantai kayu dan panggung, dan pelat pelat logam (radiator).

RESENATOR RONGGA (HELMHOLTS)

Resonator rongga terdiri dari sejumlah udara tertutup yang dibatasi oleh dinding
dinding tegar dan dihubungkan oleh lubang/celah sempit ke ruang sekitarnya, dimana gelombang
bunyi merambat. Resenator rongga dapat dapat digunakan sebagai:
1. Unit individual

Resonator rongga individual dibuat dari tabung tanah liat kosong dengan ukuran berbeda.
Penyerapannya yang efektif tersebar antara 100 dan 400 Hz. Pada permukaan balok yang terlihat
dapat dicat dengan pengaruh pada penyerapan. Keuntungan dari resenator rongga individual,
yaitu: daya tahan yang tinggi, bisa digunakan pada ruang olah raga, kolam renang, jalur jalur
bowling, proyek industri, ruang alat alat mekanis, terminal kendaraan, dan jalan raya yang
padat. Penggunaan bahan bahan pada penyerapan bunyi ini menggunakan bahan yang bersifat
lembut.

Gambar 16. Balok beton yang disusun berderet.


Sumber: Akustik Lingkungan, hal:47
2. Resonator panel berlubang
Resenator panel berlubang mempunyai jumlah leher yang banyak yang membentuk
lubang lubang panel sehingga berfungsi sebagai derean resenator rongga. Lubang biasanya
berbentuk lingkaran (kadang kadang celah pipih).

Gambar 17. Resenator panel berlubang yang digunakan pada saat merancang.
Sumber: Akustik Lingkungan, hal:42

Gambar 18. Bungkus baja akustik dapat diperoleh dengan ukuran yang berbeda-beda.
Sumber: Akustik Lingkungan, hal:42

3. Resonator Celah
Resonator celah mempunyai keuntungan dengan merancang suatu lapisan
permukaan atau layar perlindungan yang dekoratif, dengan elemen elemen yang
penampangnya relatif kecil dan dengan jarak antara yang cukup untuk memungkinkan
gelombang bunyi menembus antara elemen elemen layar ke bagian belakang yang berpori.
Layar pelindung terdiri dari sistem kayu, logam atau rusuk plastik tegar, balok atau bata rongga.
Kelebihan resenator celah pada rancangan akustik adalah banyaknya pilihan yang disediakan

untuk rancangan individual. Contoh contoh penyerapan resonator celah, yaitu: menggunakan
bahan bata berongga, balok beton berongga khusus, rusuk kayu dan baja.

Gambar 19.
Deretan rusuk kayu yang bergantian,
dipasang pada rongga rongga
penyerap resonator celah.
Sumber: Akustik Lingkungan, hal:43

Gambar 20. Balok beton berongga

Sumber: Akustik Lingkungan, hal:47

B. PEMILIHAN BAHAN PENYERAPAN BUNYI


Lapisan lapisan permukaan harus dipilih yang menghasilkan karakteristik penyerapan
yang merata (tidak perlu tinggi) pada jangkauan frekuensi audio. Jika secara akustik pemantulan
berulang yang merusakn (gema, pemantulan, di sudut sudut yang terlampau berkepanjangan)
harus dihilangkan atau diabaikan, maka permukaan permukaan pemantul yang berbahaya harus
dilapisi dengan bahan akustik yang bersifat sangat menyerap.
Berikut perincian pemilihan penyerapan bunyi:
1. Koefesien penyerapan bunyi pada frekuensi frekuensi wakil jangkauan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

frekuensi audio.
Penampilan (ukuran, tepi, sambungan, warna, jarimgan).
Daya tahan terhadap kebakaran dan hambatan terhadap penyebaran api.
Biaya instalsi.
Kemudahan instalasi.
Keawetan (daya tahan terhadap tumbukan, luka luka mekanis dan goresan).
Pemantulan cahaya.
Perawatan, pembersihan, pengaruh dekorasi kembali pada penyerapan bunyi dan

biaya perawatan.
9. Kondisi pekerjaan (temperatur, kelembapan selama instalasi dan kesiapan lapisan
penunjang dibelakangnya).
10. Kesatuan elemen elemen ruang (pintu, jendela, lampu lampu penerangan, kisi
kisi, radiator) dengan lapisan lapisan akustik.
11. Ketebalan dan berat.
12. Tahanan terhadap uap lembab dan kondensasi bila ruang digunakan.
13. Kemungkinan adanya langit langit gantung atau ruang ruang diisi lapisan
pengisi.
14. Nilai insulasi termis.
15. Daya tarik terhadap jamur, kutu (vermin), dan kutu busuk (dry not).
16. Kemungkinan penggantinya ( kadang kadang suatu kebutuhan sementara untuk
memungkinkan pengaturan slimut isolasi).
17. Kebutuhan serantak akan insulasi bunyi yang cukup (dalam hal hal langit langit
gantung dan dinding dinding luar).

C. RANCANGAN ARSITEKTUR

Dalam rancangan akustik bangunan-bangunan rumah tinggal, ruang-ruang


dikelompokan menjadi kelompok ruang tenang dan kelompok ruang bising. Kelompok ruang
tenang dari bangunan adalah ruang-ruang yang jauh dari tingkat kebisingan yang tinggi seperti
kamar tidur dan ruang belajar. Kelompok ruang bising adalah ruang-ruang tidak memerlukan
tingkat kebisingan yang rendah atau tidak terpengaruh pada tingkat kebisingan.
Berikut adalah beberapa ketentuan umum yang harus diperhatikan :
1. Bagian-bagian tenang dan bising harus dikelompokan dan dipisahkan satu terhadap yang
lain secara horizontal dan vertikal lewat tembok atau lantai yang cukup mengimulsi bunyi
atau oleh ruang-ruang yang terlampau rentan terhadap bising seperti jalan masuk,
serambi, tangga dan lemari.
2. Bila bangunan berdampingan, maka kontruksi tembok atau lantai yang memisahkan unit
bangunan harus menyediakan insulasi bunyi yang lebih banyak.
3. Ruang tidur harus diletakkan di daerah yang tenang, jauh dari jalan raya, ruang-ruang
mekanikal, dan ruang elevator.
4. Kamar mandi harus dipisahkan denagn efisien secara akustik dari ruang keluarga dan
tidak boleh dirancang diatas ruang tidur maupun ruang keluarga, baik di bangunan yang
sama maupun berbeda. Alat-alat kamar mandi tidak boleh dipasang sepanjang tembok
yang memisahkan ruang keluarga dan kamar mandi.
5. Pintu-pintu yang menuju ruang tidur dan kamar mandi harus mempunyai isolasi suara
yang cukup. Mereka harus mempunyai panel dengan inti padat seluruhnya.
6. Tangga tidak boleh berdampingan dengan ruang tidur. Pijakan suatu tangga harus ditutup
dengan bahan lunak untuk menghindari kebisingan langkah kaki.
7. Barisan balkan yang tidak terputus sepanjang dinding luar bangunan harus dihindari.
Teras harus diundur ke dalam bangunan pada jarak yang cukup satu terhadap yang lain.
8. Denah bangunan bertingkat yang selang seling secara vertikal harus dihindari karena
bising dari sumber tungal dapat menembus beberapa unit tempat tinggal pada waktu yang
sama. Juga, tembok yang sama antara beberapa unit tempat tinggal selang-seling secara
vertikal mentransmisi bising langkah kaki lebih mudah ke dalam unit berdampingan
daripada lantai saja.
9. Jendela harus diatur supaya suara pembicaraan dari satu bangunan ke bangunan lain
menjadi minimum.

Jika suatu rancangan tidak memperhatikan persyaratan di atas tetapi tetap menginginkan
bangunan yang tahan bunyi, harus menggunakan dinding dan lantai penginsulasi bunyi yang
sangat mahal. Jika rumah dengan emper terbukadi belakang dan rumah dengan halaman yang
saling menyediakan derajat privasi akustik yang lebih tinggi daripada rumah keluarga tunggal
yang terpisah (Single family detached house).

Gambar 21. Bangunan dengan tembok di sekelilingnya menyediakan tingkat privasi akustik
yang lebih tinggi.
Sumber : Buku Akustik Lingkungan hal:166

RANCANGAN STRUKTURAL
Pengendalian kebisingan kebanyakan bergantung pada kontruksi bangunan itu sendiri.
Pengendalian ini terletak pada dinding dan lantai yang tergantung pada tebal struktur,
sehingga kapasitas daya tahan ataupun kekuatan bahan tidak boleh dianggap sebagai kriteria
satu-satunya dalam menentukan ukuran bangunan. Misalnya, suatu balok lantai beton
pratekan setebal 50-100mm memenuhi persyaratan bangunan tapi tidak cukup sebagai

pemisah horizontal antar ruangan terutama bila tidak ada langit-langit gantung ditambahkan
pada konstruksi lantai.
Konstruksi lantai ringan sepenuhnya aman bagi beban hidup dan mati, tetapi peralatan
yang menghasilkan getaran yang dipasang pada lanti menambah kemungkinan resonasi
antara peralatan dan balok lantai ringan yang menunjangnya. Resonansi semacam itu
menyebabkan transmisi bising dan getaran yang ditambah lewat lantai, walaupun kenyataan
bahwa teknisi mekanik menetapkan bantalan tahan getaran di bawah perlatan mekanik. Di
samping itu, bila peralatan ditempatkan di pusat rentang (span), dan bukan dekat kolom
penyangga atau tembok, probabilitas resonansi makin bertambah.
Tembok pemisah antar rumah yang bersebelahan harus terdiri dari dua lapisan terpisah
dan dibangun dari dasar bangunan sampai atap untuk menghindari transmisi bising dari
langkah kaki dari satu unit ke unit lain yang berdampingan. Penggunaan selimur isolasi
inorganik dalam celah vertikal paling sedikit lebar 25mm