Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN TUMOR PARU


A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PARU
Pernapasan adalah proses inpirasi udara kedalam paru-paru dan ekspirasi udara
dari paru-paru ke lingkungan luar tubuh. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma
telah dapat rangsangan dari nervus pernikus lalu mengkerut datar. Saat ekspirasi otot
akan kendor lagi dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali maka
udara didorong keluar. Jadi proses respirasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan
antara rongga pleura dan paru-paru.

a. Saluran Pernapasan
Saluran pernapasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut : rongga
hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru-paru (bronkiolus,
alveolus).
1. Rongga Hidung
Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam lubang hidung. Saluran
saluran ini bermuara kedalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum
hidung. Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan
pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinkdan selaput lendir.
Semua sinus yang mempunyai lubang masuk kedalam rongga hidung.
Rongga hidung berfungsi sebagai berikut :
a. Bekerja sebagai saluran udara pernafasan.
b. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu
hidung.
c. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa

d. Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama- sama udara pernafasan


oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir atau hidung.
Pada bagian belakang rongga hidung terdapat ruangan yang disebut
nasoparing. Rongga hidung dan nasoparing berhubungtan dengan :
1) Sinus

paranasalis,

yaitu

rongga-rongga

pada

tulang

cranial.

Berhubungan dengan rongga hidung melalui ostium (lubang).terdapat


beberapa sinus paranasalis, sinus maksilaris dan sinus ethmoidalis yang
dekat dengan permukaan dan sinussphenoidalis dan sinus ethmoidalis
yang terletak lebih dalam.
2) Duktus nasolacrimalis, yang menyalurkan air mata kedalam hidung.
3) Tuba eustachius, yang berhubungan dengan ruang telinga bagian
tengah.
2. Faring
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai
persambungannya dengan esophagus pada ketinggian tulang rawan krikoid.
Bila terjadi radang disebut pharyngitis. Fering terbagi menjadi 3 bagian yaiti
nasofaring, orofaring, dan laringofaring.
1) Nasofaring
Adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka kearah rongga
nasal ,melalui dua naris internal yaitu:
a. Dua tuba eustachius (auditorik) yang menghubungkan nasofaring
dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan
udara pada kedua sisis kendang telinga.
b. Amandel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang
terletak didekat naris internal. Pembesaran pada adenoid dapat
menghambat aliran darah.
2) Orofaring
Dipisahkan dari nasoparing oleh palatum lunak muscular, suatu
perpanjangan palatum keras tulang.
a. Uvula adalah prosesus kerucut kecil ytang menjulur kebawah dari
bagian tengtah tepi bawah palatum lunak.
b. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi orofaring posterior.
3) Laringofaring
Mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang merupakan
gerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya.
3. Laring

Laring berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan nafas
terhadap masuknya makanan dan cairan. Laring dapat tersumbat antara lain oleh
benda asing (gumpalan makanan), infeksi dan tumor :
a) Epiglotis, merupakan katup tulang rawan untuk menutup laring sewaktu orang
menelan. Bila waktu makan kita berbicara (epiglotis terbuka), makanan bisa
masuk ke laring dan terbatuk-batuk. Pada saat bernapas epiglottis terbuka tapi
pada saat menelan epiglotis menutup laring. Jika masuk ke laring maka akan
batuk dan dibantu bulu-bulu getar silia untuk menyaring debu, kotorankotoran.
b) Jika bernapas melalui mulut udar5a yang masuk ke paru-paru tak dapat
disaring,dilembabkan atau dihangatkan yang menimbulkan gangguan tubuh
dan sel-sel bersilia akan rusak adanya gas beracun dan dehidrasi.
c) Pita suara, terdapat dua pita suara yang dapat ditegangkan dan dikendurkan,
sehingga lebar sela-sela antara pita-pita tersebut berubah-ubah sewaktu
bernapas

dan berbicara. Selama pernafasan pita suara sedikit terpisah

sehingga udara dapat keluar masuk.


4. Trakea
Trakea merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin
kartilago yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang terbentuk seperti C. trakea
dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri atas epitilium bersilia dan sel cangkir.
5. Percabangan bronkus
Bronkus merupakan percabangan trakea. Setiap bronkus primer bercabang 9
sampai 12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter yang
semakin kecil. Struktur mendasar dari paru-paru adalah percabangan bronchial yang
selanjutnya secara berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus terminalis,
bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut
pernafasan ekstrapulmonar dan sampai memasuki paru-paru disebut intrapulmonar.
6. Paru-paru (bronkiolus, alveolus)
Paru-paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan
tulang-tulang iga dan letaknya di sisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok
padat yang berada di belakang tulang dada. Paru-paru menutupi jantung, arteri dan
vena besar, esophagus dan trakea. Paru-paru berbentuk seperti spons dan berisi udara
dengan pembagian ruang sebagai berikut : Paru kanan, memiliki tiga lobus dan paru
kiri dua lobus.
c. FISIOLOGI PERNAFASAN

1. Homeostasis : sistem pernafasan berperan bagi homeostasis dengan memperoleh O2


dari dan mengeluarkan CO2 ke lingkungan eksternal. Sistem ini membantu mengatur
PH lingkungan internal dengan menyesuaikan tingkat pengeluaran CO2 pembentuk
asam.
2. Sel : sel-sel memerlukan pasokan konstan O2 yang digunakan untuk menunjang reaksi
kimiawi penghasil energi, yang menghasilkan CO 2 yang harus dikeluarkan secara
terus menerus. Selain itu, CO2 menghasilkan asam karbonat yang harus selalu dikelola
oleh tubuh agar PH di lingkungan internal dapat dipertahankan. Sel dapat bertahan
hidup hanya dalam rentang PH yang sempit.
a) RESPIRASI
Respirasi (pernafasan) melibatkan keseluruhan proses yang menyebabkan
pergerakan pasif O2 dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta
pergerakan pasif CO2 selanjutnya yang merupakan produk sisa metabolisme dari
jaringan ke atmosfer. Sistem pernafasan ikut berperan dalam homeostasis dengan
mempertukarkan O2 dan CO2 antara atmosfer dan darah. Darah mengangkut O2 dan
CO2 antara sistem pernapasan dan jaringan.
Respirasi Internal atau seluler mengacu kepada proses metabolisme intrasel
yang berlangsung di dalam mitokondria, yang menggunakan O 2 dan menghasilkan
CO2 selama penyerapan energi dari molekul nutrien.
Kuosien pernafasan (respiratory quotient, R.Q), yaitu perbandingan (rasio)
CO2 yang dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi, bervariasi bergantung pada jenis
makanan yang dikonsumsi.
Respirasi eksternal mengacu kepada keseluruhan rangkaian kejadian yang
terlibat dalam pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh.
Pernapasan eksternal meliputi empat langkah :
1. Udara secara bergantian bergerak masuk-keluar paru. Sehingga dapat terjadi
pertukaran antara atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantung udara (alveolus)
paru. Pertukaran ini dilaksanakan oleh kerja mekanis pernapasan, atau ventilasi.
Kecepatan ventilasi diatur sedemikian rupa, sehingga aliran udara antara atmosfer
dan alveolus disesuaikan dengan kebutuhan metabolik tubuh untuk menyerap O 2
dan mengeluarkan CO2.
2. Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara udara di alveolus dan darah di dalam
kapiler pulmonalis (pulmonalis mengacu kepada paru) melalui proses difusi.
3. Oksigen dan CO2 diangkut oleh darah antara paru dan jaringan.

4. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi antara jaringan dan darah melalui proses difusi
melintasi kapiler sistemik (jaringan).
b) MEKANIKA PERNAFASAN
Hubungan timbal-balik antara tekanan atmosfer, tekanan intra-alveolus, dan
tekanan intrapleura penting dalam mekanika pernapasan. Udara cenderung bergerak
dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, yaitu menuruni gradien
tekanan. Udara mengalir masuk dan keluar paru selama proses bernapas dengan
mengikuti penurunan gradien tekanan yang berubah berselang-selang antara alveolus
dan atmosfer akibat aktivitas siklik otot-otot pernapasan.
Terdapat 3 tekanan berbeda yang penting pada ventilasi :
1. Tekanan Atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat
udara di atmosfer terhadap benda-benda di permukaan bumi. Di ketinggian
permukaan laut, tekanan ini sama dengan 760 mmHg. Tekanan atmosfer
berkurang seiring dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut karena
kolom udara di atas permukaan bumi menurun. Dapat terjadi fluktuasi minor
tekanan atmosfer akibat perubahan kondisi-kondisi cuaca (yaitu pada saat tekanan
barometrik meningkat atau menurun).
2. Tekanan intra-alveolus, yang juga dikenal sebagai tekanan intrapulmonalis,
adalah tekanan di dalam alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer
melalui saluran pernapasan, udara dengan cepat mengalir mengikuti penurunan
gradien tekanan setiap kali terjadi perbedaan antara tekanan intra-alveolus dan
tekanan atmosfer; udara terus mengalir sampai tekanan keduanya seimbang
(ekuilibrium).
3. Tekanan intrapleura adalah tekanan di dalam kantung pleura. Tekanan ini juga
dikenal sebagai tekanan intratoraks, yaitu tekanan yang terjadi di luar paru di
dalam rongga toraks.
c) Aksi otot-otot pernafasan

HASIL KONTRAKSI

OTOT

OTOT

WAKTU STIMULASI
UNTUK
BERKONTRAKSI

Otot-otot pernapasan normal


Diafragma

bergerak turun, meningkatkan

Setiap inspirasi; otot primer

dimensi vertikal rongga toraks


Otot-otot antariga eksternal

inspirasi

Mengangkat iga ke arah depan Setiap inspirasi ; berperan


dan

ke

arah

luar

; komplementer

memperbesar rongga toraks terhadap


dalam

dimensi

aksi

sekunder
primer

depan-ke- diafragma

belakang dan sisi-ke-sisi


Otot-otot pernapasan abnormal
Otot-otot leher ( skalenus, Mengangkat sternum dan dua Hanya pada saat inspirasi
sternokleidomastoideus )

iga

pertama,

memperbesar paksa

bagian atas rongga toraks


Otot-otot abdomen

otot

inspirasi

tambahan

Meningkatkan tekanan intra- Hanya pada saat ekspirasi


abdomen, yang menimbulkan aktif (paksa)
gaya keatas pada diafragma
untuk

mengurangi

dimensi

vertikal rongga toraks


Otot-otot antariga internal

Mendatarkan toraks dengan Hanya

sewaktu

ekspirasi

menarik iga-iga kebawah dan aktif (paksa)


kedalam, menurunkan ukuran
depan- belakang dan samping
rongga toraks

d. Volume Paru dan kapasitas paru berikut ini (kapasitas paru adalah jumlah dari dua
atau lebih volume paru) dapat ditentukan :
1. Tidal volume (TV). volume udara yang masuk atau keluar paru selama satu kali
bernafas. Nilai rata-rata pada keadaan istirahat = 500 ml.
2. Volume Cadangan Inspirasi ( inspiratory reserve volume, VCI ). Volume tambahan
yang dapat secara maksimal dihirup melebihi tidal volume istirahat. VCI dihasilkan
oleh kontraksi maksimum difragma, otot antariga eksternal, dan otot inspirasi
tambahan. Nilai rata-ratanya = 3000 ml.
3. Kapasitas Inspirasi (KI). Volume maksimum udara yang dapat dihirup pada akhir
ekspirasi normal tenang (KI = VCI + TV). nilai rata-ratanya = 3500 ml.

4. Volume cadangan ekspirasi (ekspiratory reserve volume, VCE). Volume tambahan


udara yang dapat secara aktif dikeluarkan oleh kontraksi maksimum melebihi udara
yang dikeluarkan secara pasif pada akhir tidal volume biasa. Nilai rata-ratanya = 1000
ml.
5. Volume Residual (VR). Volume minimum udara yang tersisa di paru bahkan setelah
ekspirasi maksimum. Nilai rata-ratanya sama dengan 1200 ml. volume residual tidak
dapat diukur secara langsung dengan spirometer karena volume udara ini tidak keluar
masuk paru. Namun, volume ini dapat diukur secara tidak langsung melalui tekhniktekhnik dilusi-gas berupa penghirupan (inspirasi) gas-pelacak (tracer gas) yang tidak
berbahaya dalam jumlah tertentu, misalnya helium.
6. Kapasitas Residual fungsional (KRF). Volume udara di paru pada akhir ekspirasi
pasif normal (KRF = VCE + VR). Nilai rata-ratanya = 2200 ml.
7. Kapasitas Vital (KV). Volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan selama satu
kali bernapas setelah inspirasi maksimum. Subyek mula-mula melakukan inspirasi
maksimum, kemudian melakukan ekspirasi maksimum (KV = VCI + TV + VCE). KV
mencerminkan perubahan volume maksimum yang dapat terjadi didalam paru.
Volume ini jarang dipakai karena kontraksi otot maksimum yang terlibat
menimbulkan kelelahan, tetapi bermanfaat untuk menilai kapasitas fungsional paru.
Nilai rata-ratanya = 4500 ml.
8. Kapasitas Paru Total (KPT). Volume udara maksimum yang dapat ditampung oleh
paru (KPT = KV + VR ). Nilai rata-ratanya 5700 ml.
9. Volume Ekspirasi Paksa dalam 1 detik (forced ekspiratory volume FEV1 ). Volume
udara yang dapat di ekspirasi selam detik pertama ekspirasi pada penentuan KV.
Biasanya FEV1 adalah sekitar 80%, yaitu dalam keadaan normal 80% udara yang
dapat dipaksa keluar dari paru yang mengembang maksimum dapat dikeluarkan dalam
1 detik pertama. Pengukuran ini memberikan indikasi laju aliran udara maksimum
yang dapat terjadi di paru.
B. KONSEP TUMOR PARU
1. DEFINISI
a. Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang
abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya
didalam rongga dada. Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat,
sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor
mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk
simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan
sehat).

b. Kj
2. KLASIFIKASI
Klasifikasi menurut WHO untuk untuk Neoplasma Pleura dan Paru paru
(Mansjoer, 2007) :
a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk
metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas
mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus, dan menonjol
kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter
dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding
dada dan mediastinum.
b. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).
Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.Tumor ini
timbul dari sel sel Kulchitsky, komponen normal dari epitel bronkus.
Terbentuk dari sel sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma
sedikit. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian
c.

pula dengan penyebaran hematogen ke organ organ distal.


Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat
mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus
dan kadang kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru
paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh
darah dan limfe pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan

gejala gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.


d. Karsinoma sel besar.
Merupakan sel sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk
dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam macam. Sel sel
ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru paru perifer, tumbuh cepat
dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat tempat yang jauh.
e. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.
f. Lain lain.
1) Tumor karsinoid (adenoma bronkus).
2) Tumor kelenjar bronchial.
3) Tumor papilaris dari epitel permukaan.
4) Tumor campuran dan Karsinosarkoma
5) Sarkoma
6) Tak terklasifikasi.
7) Mesotelioma.
8) Melanoma.

3. KLASIFIKASI PENTAHAPAN KLINIK ( CLINICAL STAGING )


Klasifikasi berdasarkan TNM : tumor, nodul dan metastase. Berikut ini tabel
Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru: American Joint Committee on Cancer
(Mansjoer, 2007).
Gambarn TNM
Tumor primer (T)

Defenisi

T0

Tidak terbukti adanya tumor primer

Tx

Kanker yang tersembunyi terlihat pada


sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat
pada radiogram atau bronkoskopi

TIS

Karsinoma in situ

T1

Tumor dengan diameter 3 cm dikelilingi


paru paru atau pleura viseralis yang normal.

T2

Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam


setiap ukuran dimana sudah menyerang
pleura

viseralis

atau

mengakibatkan

atelektasis yang meluas ke hilus; harus


berjarak 2 cm distal dari karina.

T3

Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan


langsung pada dinding dada, diafragma,
pleura mediastinalis, atau pericardium tanpa
mengenai jantung, pembuluh darah besar,
trakea, esofagus, atau korpus vertebra; atau
dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak
melibat karina.
Tumor dalam setiap ukuran yang sudah

T4

menyerang

mediastinum

atau

mengenai

jantung, pembuluh darah besar, trakea,


esofagus, koepua vertebra, atau karina; atau
adanya efusi pleura yang maligna.

Kelenjar limfe regional (N)


N0

Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar


limfe regional.

N1

Metastasis

pada

peribronkial

dan/

atau

kelenjar kelenjar hilus ipsilateral.


N2

Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau


kelenjar limfe subkarina.

N3

Metastasis pada mediastinal atau kelenjar


kelenjar limfe hilus kontralateral; kelenjar
kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular
ipsilateral atau kontralateral.

Metastasis jauh (M)


M0

Tidak diketahui adanya metastasis jauh

M1

Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu


(seperti otak).

Kelompok stadium
Karsinoma tersembunyi

TxN0M0

Sputum mengandung sel sel ganas tetapi


tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer

Stadium 0

TISN0M0

atau metastasis.

Stadium I

T1N0M0

Karsinoma in situ.

T2N0M0

Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa


adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe

Stadium II

Stadium IIIa

T1N1M0

regional atau tempat yang jauh.

T2N1M0

Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan


terdapat

bukti

adanya

metastasis

T3N0M0

kelenjar

limfe

peribronkial

T3N0M0

ipsilateral.

atau

pada
hilus

Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau


Stadium IIIb

Setiap T

N3M0

tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe


peribronkial atau hilus ipsilateral; tidak ada

T4 setiap
NM0

metastasis jauh.
Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar
limfe hilus tau mediastinal kontralateral, atau
pada

kelenjar

limfe

skalenus

atau

supraklavikular; atau setiap tumor yang


termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa
Stadium IV

Setiap T,

setiap N,M1

metastasis kelenjar limfe regional; tidak ada


metastasis jauh.
Setiap tumor dengan metastsis jauh.

4. ETIOLOGI
Seperti neoplasma pada umumnya, etiologi yang pasti dari tumor paru masih
belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan
bahan

karsiogenik

merupakan

faktor

utama,

tanpa

mengesampingkan

kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga ataupun suku bangsa atau


ras serta status imunologis (Smeltzer, 2001). Ada beberapa faktor yang berperan
dalam peningkatan insiden tumor paru, antara lain:
a. Merokok.
Rokok tidaka diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan
statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua
puluh batang sehari) dengan kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok
seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada
perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah
meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok
dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan
dalam tar dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, yang
dapat menimbulkan tumor.
b. Iradiasi.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg
dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat
kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon.
Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.

c. Kanker paru akibat kerja.


Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel
(pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite
(paru paru hematite) dan orang orang yang bekerja dengan asbestos dan
dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.
d. Polusi udara.
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi
dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya
karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota (Thomson,
1997).
e. Genetik.
Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru,
yakni :
1) Proton oncogen.
2) Tumor suppressor gene.
3) Gene encoding enzyme.
f. Diet
Dari beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap
betakarotene, selenium, dan vit. A menyebabkan tingginya risiko terkena
kanker paru (Suyono, 2001)
5. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu (Mansjoer, 2007).
a. Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan
Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai
sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai
titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon
terhadap infeksi sekunder.
b. Napas pendek-pendek dan suara parau
c. Batuk berdarah dan berdahak/Hemoptisis
Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang
mengalami ulserasi.
d. Nyeri pada dada, ketika batuk dan menarik napas yang dalam
e. Hilang nafsu makan dan berat badan

6. PATOFISIOLOGI
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor
lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko
terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang

bersifat intiation yang merangasang permulaan terjadinya perubahan sel.


Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memicu
timbulnya penyakit tumor.
Initiati agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang
berkemampuan bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen
genetik (DNA). Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai
dengan berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini
berlangsung lama mingguan sampai tahunan. Kanker paru bervariasi sesuai tipe
sel daerah asal dan kecepatan pertumbuhan. Empat tipe sel primer pada kanker
paru adalah karsinoma epidermoid (sel skuamosa), karsinoma sel kecil (sel oat),
karsinoma sel besar (tak terdeferensiasi) dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan
karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di jalan napas utama bronkial. Karsinoma
sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas utama bronkial. Karsinoma sel besar
dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang bronkus perifer dan alveoli.
Karsuinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh sangat cepat sehigga
mempunyai progrosis buruk. Sedangkan pada sel skuamosa dan adenokar. Paru
merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga
dada atau toraksinoma prognosis baik karena pertumbuhan sel ini lambat.
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh
metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi
pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang
letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini
menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di
bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat

berupa batuk, hemoptysis,

dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi.


Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya
metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur
struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak,
tulang rangka (Sylvia & Price, 2006).

Pathway

7. KOMPLIKASI
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hematorak
Pneumotorak
Empiema
Endokarditis
Abses paru
Atelektasis

8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Radiologi.
1) Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya
kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat
menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi
tulang rusuk atau vertebra.
2) Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
b. Laboratorium.
1) Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2) Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan
ventilasi.
3) Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada
kanker paru).
c. Histopatologi.
1)

Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi
lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2) Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan
ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
3) Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan
cara torakoskopi.
4) Mediastinosopi.
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang
terlibat.
5) Torakotomi.

Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam


macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan
sel tumor.
c. Pencitraan.
1) CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
2) MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
9. PENATALAKSANAAN
a. Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk
mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak
mungkin fungsi paru paru yang tidak terkena kanker.
1) Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks
khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
2) Pneumonektomi pengangkatan paru).
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa
diangkat.
3) Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb
atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
4) Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
5) Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit
peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan
paru paru berbentuk baji (potongan es).
6) Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan bahan fibrin dari pleura viscelaris)
b. Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan
bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi,
seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/
bronkus.
c. Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk
menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas
serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.

C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
1) Keadaan Umum: lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
2) Tanda-tanda Vital
3) Riwayat penyakit sebelumnya
D. Penyakit paru kronis sebelumnya yang telah mengakibatkan pembentukan jaringan
parut dan fibrosis pada jaringan paru.
4) Anamnesa dan observasi
a) Aktivitas/ istirahat.
E. Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,
F.
dispnea karena aktivitas.
G. Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).
b) Sirkulasi.
H. Gejala : JVD (obstruksi vana kava).
I.
Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).
J.
Takikardi/ disritmia.
K.
Jari tabuh.
c) Integritas ego.
L. Gejala : Perasaan takut, takut dilakukan pembedahan.
M.
Menolak kondisi yang berat/ potensi keganasan.
N. Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang ulang.
d) Eliminasi.
O. Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).
P. Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor
epidermoid)
e) Makanan/ cairan.
Q. Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan
makanan, kesulitan menelan, haus/ peningkatan masukan cairan.
R. Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)
S. Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/
periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
T. Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
f) Nyeri/ kenyamanan.
U. Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada
tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.
V. Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)
W. Nyeri abdomen hilang timbul.
g) Pernafasan.
X. Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau
Y. produksi sputum, nafas pendek
Z. Pekerja yang terpajan polutan, debu industri
AA.
Serak, paralysis pita suara.
AB.
Riwayat merokok: Perokok berat dan kronis
AC.
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja
AD.
Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)
AE.
Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara),
krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi).

AF.Hemoptisis.
h) Keamanan.
AG.
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)
AH.
Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil)
i) Seksualitas.
AI. Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel
AJ. besar)
AK.
Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel
kecil)
j) Penyuluhan.
AL.
Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis
AM.
Kegagalan untuk membaik.
AN.
(Doenges, 2000).
AO.
5) Pemeriksaan Fisik
a) Sistem pernafasan
Sesak nafas, nyeri dada
Batuk produktif tak efektif
Suara nafas: mengi pada inspirasi
Serak, paralysis pita suara.
b) Sistem kardiovaskuler
tachycardia, disritmia
menunjukkan efusi (gesekan pericardial)
c) Sistem gastrointestinal
Anoreksia, disfagia, penurunan intake makanan, berat badan menurun.
d) Sistem urinarius
Peningkatan frekuensi/jumlah urine.
e) Sistem neurologis
Perasaan takut/takut hasil pembedahan
Kegelisahan
6) Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
AP.
A. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
(penumpukan secret berlebihan) ditandai dengan pasien mengeluh sesak, batuk
berdahak namun tidak dapat dikeluarkan, peningkatan frekuensi napas (RR>
20x/menit), terdapat penumpukan secret pada jalan napas, terdapat suara napas
tmbahan (ronchi).
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli ditandai
dengan pernafasan abnormal, pH darah arteri abnormal, warna kulit abnormal (pucat),
sianosis, nafas cuping hidung, takikardia.

3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan


pasien mengeluh sesak napas, RR >20x/menit, terdapat penggunaan otot bantu
pernapasan, napas cuping hidung, takikardi.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi (tumor paru), ditandai dengan
pasien mengeluh nyeri, pasien mengeluh nyeri dengan skala 1-10, pasien tampak
gelisah, pasien tampak meringis kesakitan, TD meningkat (>120/80 mmHg), nadi
meningkat (>100x/mnt), pasien tampak memegangi bagian yang nyeri.
5. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme ditandai dengan suhu
abnormal (>37,50C), kulit kemerahan, kulit teraba hangat, frekuensi napas > 30
kali/menit, frekuensi nadi meningkat (>100x/menit).
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
adekuatnya asupan akibat iritasi gastrointestinal ditandai dengan pasien mengeluh
mual muntah, penurunan BB >20%, kadar albumin serum < 3,4 g/dl, terjadi
penurunan intake makanan, nafsu makan menurun, kelemahan.
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai O2 ke jaringan, ditandai
dengan terjadi kelelahan, kelemahan, peningkatan nadi dan tekanan darah saat
beraktivitas.
8. Ansietas berhubungan dengan
9. PK: ANEMIA
10. PK: INFEKSI
AQ.
AR.
B. INTERVENSI
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan
napas (penumpukan secret berlebihan) ditandai dengan pasien mengeluh sesak,
batuk berdahak namun tidak dapat dikeluarkan, peningkatan frekuensi napas
(RR> 20x/menit), terdapat penumpukan secret pada jalan napas, terdapat suara
napas tmbahan (ronchi).
AU.

AS. Tujuan
Setelah
diberikan AX.

asuhan keperawatan selama

AT.Intervensi
NIC Label >> Airway management

1. Auskultasi bunyi napas tambahan, seperti ronchi,

xjam diharapkan bersihan

wheezing.

jalan nafas pasien kembali

AY.

efektif, dengan kriteria hasil:

terdapat penumpukan sekret atau sekret berlebihan di

AV.

jalan napas.

NOC

Label

>>

Respiratory status: airway


patency

Rasional: adanya bunyi ronchi menandakan

2. Berikan posisi yang nyaman untuk mengurangi dispnea.


AZ.

Rasional: posisi memaksimalkan ekspansi

Frekuensi

pernapasan

paru dan menurunkan upaya pernapasan. Ventilasi

dalam batas normal (16-

maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan

20 kali/menit)

gerakan sekret ke jalan napas besar untuk dikeluarkan.

Pasien

mampu

mengeluarkan

sputum

3. Ajarkan dan anjurkan pasien untuk melakukan teknik


batuk efektif.

secara efektif
-

Tidak

ada

BA.
akumulasi

sputum
-

teknik

batuk

efektif

dapat

membantu membersihkan jalan napas pasien dari sekret.


4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan

Irama

Rasional:

pernapasan

(terutama air hangat) melalui oral.

normal

BB.

Kedalaman pernapasan

cairan dan membantu mengencerkan sekret sehingga

normal

mudah dikeluarkan.

AW.

Rasional:

mengoptimalkan

keseimbangan

5. Kolaborasi pemberian bronkodilator.


BC.

Rasional: bronkodilator dapat mendilatasi

bronkus dan mengencerkan sekret sehingga sekret yang


menumpuk di area tersebut lebih mudah dikeluarkan.
6. Kolaborasi pemberian oksigen.
BD.

Rasional: meringankan kerja paru untuk

memnuhi kebutuhan oksigen serta mengoptimalkan


kebutuhan oksigen dalam tubuh.
BE.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli
ditandai dengan pernafasan abnormal, pH darah arteri abnormal, warna kulit
abnormal (pucat), sianosis, nafas cuping hidung, takikardia.
BH.

BF.
Tujuan
Setelah
diberikan BL.

asuhan keperawatan selama ...


x

jam

diharapkan

BG.
Intervensi
NIC Label >> Acid Base Management

1. Monitor kadar pH darah melalui hasil AGD


BM.

Rasional:

untuk

penyakit,

dengan kriteria hasil:


BI.
NOC
Label

mengevaluasi keefektifan terapi yang telah diberikan

Respiratory status
-

RR

dalam

normal (30-50x/mnt)
-

Kedalaman

terapi

atau

2. Monitor tanda-tanda gagal napas


BN.

batas

menetukan

proses

pertukaran gas pasien adekuat


>>

memudahkan

Mengevaluasi

Rasional:

dapat

memberikan

penanganan yang tepat dan cepat pada pasien


3. Pertahankan bersihan jalan napas

tindakan

pernapasan normal

BO.

Tidak

intake oksigen dari luar tubuh ke dalam tubuh

tampak

penggunaan otot bantu

4. Sarankan waktu istirahat yang adekuat

pernapasan
-

BP.

Tidak tampak retraksi

Rasional: bersihan jalan napas mempengaruhi

Rasional: untuk mengurangi kerja pernapasan

5. Monitor status neurologis

dinding dad

BQ.

Tidak ada sianosis

bingung,

Tidak ada dispnea

hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral.

Tidak ada kelemahan

Tidak ada akumulasi

kunjungan

sputum

BR.

BJ. NOC

Label

Respiratory
Gas Exchange
-

dan

6. Kontrak

>>
status:

Rasional:

Gelisah,
somnolen

dengan

pengunjung

mudah

terangsang,

dapat

menunjukkan

untuk

membatasi

Rasional: agar pasien dapat beristirahat secara

adekuat untuk mebantu mengurangi kerja pernapasan.


BS.

NIC Label >> Airway Management

7. Monitor status pernapasan dan status oksigenasi pasien

PaO2 normal (80-100

BT.

mmHg)

tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan

PaCO2 normal (35-45

status kesehatan umum.

mmHg)

Rasional: Manifestasi distress pernafasan

8. Berikan posisi semifowler pada pasien

PH normal (7,35-7,45)

BU.

SatO2

memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat.

normal (95-

Rasional: Posisi kepala yang lebih tinggi

100%)

Tindakan

Tidak ada sianosis

meningkatkan pengeluaran secret untuk memperbaiki

Tidak ada penurunan

ventilasi.

kesadaran
BK.

ini

meningkatkan

inspirasi

maksimal,

9. Lakukan fisioterapi dada


BV.

Rasional: Memudahkan pengenceran dan

pembuangan secret.
10. Menghilangkan sekret dengan suction, jika diperlukan
BW.

Rasional:

Merangsang

batuk

atau

pembersihan jalan nafas secara mekanik pada pasien


yang tidak mampu melakukan karena batuk tak efektif.
11. Atur intake cairan
BX.

Rasional: Cairan dalam jumlah yang adekuat

mampu membantu pengenceran sekret sehingga lebih


mudah dikeluarkan.

12. Auskultasi bunyi napas dan adanya suara napas


tambahan (ronchi, wheezing, krekels, dll)
BY.

Rasional:

adanya

area

redup

yang

menandakan adanya penurunan atau hilangnya ventilasi


akibat penumpukkan eksudat.
13. Kolaborasi pemberian nebulizer, jika diperlukan
BZ.

Rasional:

nebulizer

dapat

membantu

meningkatkan kelembaban udara pernapasan sehingga


membantu mengencerkan sekret sehingga dapat lebih
mudah dikeluarkan
14. Kolaborasi pemberian oksigen, jika diperlukan
CA.

Rasional:

Tujuan

terapi

oksigen

adalah

mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen


diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman
tepat dalam toleransi pasien.
CB.

NIC Label >> Oxigen Therapy

15. Jaga kebersihan mulut, hidung, dan trakea, jika


diperlukan
CC.

Rasional: bersihan jalan napas yang adekuat

dapat memaksimalkan intake oksigen yang dapat diserap


oleh tubuh.
16. Monitor volume aliran oksigen dan jenis canul yang
digunakan
CD.

Rasional:

volume

aliran

oksigen

harus

diberikan sesuai indikasi untuk pasien anak (1-5


liter/menit).
17. Monitor keefektifan terapi oksigen yang telah diberikan
CE.

Rasional: untuk membantu menentukan terapi

berikutnya
18. Monitor tanda-tanda keracunan oksigen dan atelektasis
CF.

Rasional: oksigen yang berlebihan dalam

tubuh sangat berbahaya karena oksigen dapat mengikat


air dan dapat menyebabkan dehidrasi.
19. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan lain mengenai

penggunaan oksigen tambahan selama aktifitas dan/atau


tidur
CG.

Rasional:

membantu

pasien

memenuhi

kebutuhan oksigen saat istirahat.


CH.

NIC Label >> Respiratory Monitoring

20. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas


pasien
CI.

Rasional: Kecepatan biasanya meningkat.

Dipsnea dan terjadi peningkatan kerja nafas. Pernafasan


dangkal. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan
dengan atelektasis dan atau nyeri dada pleuritik.
21. Catat pergerakkan dinding dada, lihat kesimetrisan
dinding dada, penggunaan otot-otot bantu pernapasan,
dan retraksi otot supraklavikular dan intercostal
CJ.

Rasional: penggunaan otot bantu pernapasan

mengindikasikan adanya disstress pernapasan.


22. Monitor pola napas pasien (takipnea, hiperventilasi,
pernapasan Kussmaul, Cheyne-Stokes)
CK.

Rasional: Adanya takipnea, hiperventilasi,

pernapasan Kussmaul, Cheyne-Stokes mengindikasikan


perburukkan kondisi pasien
23. Perkusi dada anterior dan posterior dari apeks sampai
basis bilateral
CL.

Rasional: Suara perkusi pekak menunjukkan

area paru yang terdapat eksudat


24. Monitor hasil foto thoraks
CM.

Rasional: pada pneumonia biasanya tampak

konsolidasi dan infiltrat pada lobus paru.


CN.
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi (tumor paru), ditandai
dengan pasien mengeluh nyeri, pasien mengeluh nyeri dengan skala 1-10, pasien
tampak gelisah, pasien tampak meringis kesakitan, TD meningkat (>120/80
mmHg), nadi meningkat (>100x/mnt), pasien tampak memegangi bagian yang
nyeri.

CO. Tujuan
Setelah
diberikan

CQ.

CU.

CP.Intervensi
NIC Label>>Pain management

asuhan

keperawatan

selama..x

jam

meliputi lokasi, karasteristik, onset/durasi, frekuensi,

diharapkan

nyeri

dapat

kualitas, intensitas nyeri, serta faktor-faktor yang dapat

berkurang,

dengan

kriteria

hasil:
CR.
-

NOC Label>>

Pain level:
Pasien tidak melaporkan
adanya nyeri (skala 5 =

none)
Pasien

tidak

merintih

ataupun menangis (skala


-

5 = none)
Pasien
menunjukkan
wajah

berguna

untuk

mengidentifikasi nyeri yang dialami pasien meliputi


lokasi,

karasteristik,

durasi,

frekuensi,

kualitas,

intensitas nyeri serta faktor-faktor yang dapat memicu


nyeri pasien sehinggga dapat menentukan intervensi
yang tepat.
b. Observasi tanda-tanda non verbal atau isyarat dari
ketidaknyamanan.
CW.
Rasional: dengan mengetahui rasa tidak

ekspresi

mengetahui tingkat dan perkembangan nyeri pasien.


c. Gunakan strategi komunikasi terapeutik dalam mengkaji

terhadap

nyeri

(skala 5 = none)
Pasien tidak tampak

RR dalam batas normal

pengalaman nyeri dan menyampaikan penerimaan


terhadap respon pasien terhadap nyeri.
CX.
Rasional:
membantu
pasien
menginterpretasikan nyerinya.
d. Kaji tanda-tanda vital pasien.
CY.
Rasional: peningakatan

tekanan

dalam

darah,

(16-20 x/mnt) (skala 5 =

respirasi rate, dan denyut nadi umumnya menandakan

normal)
Nadi dalam batas normal

adanya peningkatan nyeri yang dirasakan.


e. Kontrol faktor lingkungan yang dapat menyebabkan

(60-100x/mnt) (skala 5

ketidaknyamanan, seperti suhu ruangan, pencahayaan,

= normal)
Tekanan darah dalam

kebisingan.
CZ.
Rasional:

batas

menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan

normal

mmHg)

(skala

(120/80
5

normal)
CS.NOC Label >> Pain
-

pengkajian

nyaman pasien secara non verbal maka dapat membantu

5 = none)

memicu nyeri.
CV.
Rasional:

tidak

berkeringat dingin (skala


-

a. Lakukan pengkajian yang komprehensif terhadap nyeri,

control
Pasien dapat mengontrol
nyerinya

dengan

membantu

ketidaknyamanan pasien.
f. Ajarkan prinsip-prinsip

memodifikasi

manajemen

nyeri

dan

non

farmakologi, (mis: teknik terapi musik, distraksi, guided


imagery, masase dll).
DA.
Rasional: membantu mengurangi nyeri yang
dirasakan

pasien,

serta

membantu

pasien

untuk

menggunakan

teknik

manajemen nyeri non

mengontrol nyerinya.
g. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi.
DB.

farmakologis (skala 5 =

membantu

mengurangi

nyeri yang dirasakan pasien.

consistently
DC.

demonstrated)
Pasien

Rasional:

dapat

menggunakan analgesik
sesuai indikasi (skala 5
=

consistently

demonstrated)
Pasien melaporkan nyeri

terkontrol (skala 5 =
consistently
demonstrated)
CT.
DD.
4. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme ditandai dengan
suhu abnormal (>37,50C), kulit kemerahan, kulit teraba hangat, frekuensi napas
> 30 kali/menit, frekuensi nadi meningkat (>100x/menit).
DG.

DE. Tujuan
Setelah
diberikan DJ.

asuhan

keperawatan

selama...x...jam
hipertermi

diharapkan

teratasi,

dengan

kriteria hasil :
DH.

NOC
Suhu

Label>>
tubuh

pasien

DK.

Rasional: mengetahui intervensi yang sesuai

2. Pantau warna dan temperatur kulit pasien.


Rasional: perubahan temperatur dan warna

kulit dapat menunjukkan derajat keparahan dari


hipertermi.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake cairan

36,5-37,5 0C

setiap sebelum dan setelah medikasi.

DL.

dalam batas normal,


-

1. Pantau tanda-tanda vital pasien terutama suhu tubuh

dan efektifitas intervensi yang diberikan.

Thermoregulation
-

DF.Intervensi
NIC Label >> Fever treatment

HR teraba dan dalam

melalui oral.

batas

DM.

normal,

60-

Rasional: Pasien dengan hipertermi akan

100x/menit

memproduksi keringat yang berlebih yang dapat

Tidak terjadi dehidrasi

mengakibatkan tubuh kehilangan cairan yang banyak,

(asupan cairan pasien

sehingga dengan memberikan minum peroral dapat

terpenuhi,

yaitu

1200-1500 ml/hari)
-

Tidak

terjadi

perubahan warna kulit

menggantikan cairan yang hilang serta menurunkan


suhu tubuh.
4. Anjurkan keluarga untuk memberikan water tepid
sponge pada pasien.
DN.

DI.

Rasional: water tepid sponge dapat membantu

menurunkan suhu tubuh dengan cara memvasodilatasi


pembuluh darah dan pori-pori kulit.
5. Kolaborasi pemberian cairan melalui intravena.
DO.

Rasional: pemberian cairan melalui intravena

dapat membantu mengganti kehilangan cairan tubuh


yang banyak melalui keringat selama hipertermi.
6. Kolaborasi pemberian antipiretik.
DP.

Rasional:

pemberian

antipiretik

dapat

menurunkan suhu tubuh.


DQ.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak adekuatnya asupan akibat iritasi gastrointestinal ditandai dengan pasien
mengeluh mual muntah, penurunan BB >20%, kadar albumin serum < 3,4 g/dl,
terjadi penurunan intake makanan, nafsu makan menurun, kelemahan.
DR. Tujuan
DS.
Intervensi
Setelah
diberikan DV. NIC Label >> Terapi nutrisi:
a. Kaji status nutrisi pasien
asuhan keperawatan x
DW.
Rasional:
pengkajian
penting
untuk
jam diharapkan pemenuhan
mengetahui status nutrisi pasien dapat menentukan
nutrisi
adekuat,
dengan
intervensi yang tepat.
kriteria hasil:
b. Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung
a. Status nutrisi:
kebutuhan kalori harian.
- Masukan nutrisi adekuat
DX.
Rasional: dengan mengetahui masukan
(skala 5 = No deviation
makanan atau cairan dapat mengetahui apakah
from normal range)
kebutuhan kalori harian sudah terpenuhi atau belum.
- Masukan makanan dalam
c. Tentukan jenis makanan yang cocok dengan tetap
batas normal (skala 5 =
mempertimbangkan aspek agama dan budaya pasien.
No deviation from normal
DY.
Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
DT.

range)
b. Status nutrisi : masukan
-

nutrisi:
Masukan kalori dalam

dengan tetap memperhatikan aspek agama dan budaya


pasien sehingga pasien bersedia mengikuti diet yang
ditentukan.
d. Anjurkan untuk menggunakan suplemen nutrisi sesuai

batas normal (skala 5=


-

Totally adequate)
Nutrisi dalam makanan
cukup mengandung
protein, lemak,
karbohidrat, serat,
vitamin, mineral, ion,
kalsium, sodium (skala 5=

indikasi.
DZ.
Rasional: dapat membantu meningkatkan
status nutrisi selain dari diet yang ditentukan..
e. Jaga kebersihan mulut, ajarkan oral higiene pada
pasien/keluarga.
EA.
Rasional: menjaga kebersihan mulut dapat
meningkatkan nafsu makan.
f. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk

Totally adequate)
c. Status nutrisi : hitung

memenuhi kebutuhan nutrisi.


EB.
Rasional: untuk menentukan jumlah kalori

biokimia
Serum albumin dalam

dan jenis nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan pasien.


EC. NIC Label >> Penanganan berat badan:
a. Timbang berat badan pasien secara teratur.
ED.
Rasional: dengan memantau berat badan

batas normal (3,4-4,8


gr/dl) (skala 5= No
deviation from normal
range)
DU.

pasien dengan teratur dapat mengetahui kenaikan


ataupun penurunan status gizi.
b. Diskusikan dengan keluarga pasien hal-hal yang
menyebabkan penurunan berat badan.
EE.
Rasional: membantu memilih alternative
pemenuhan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan
penyebab penurunan berat badan.
c. Pantau konsumsi kalori harian.
EF.
Rasional: membantu mengetahui masukan
kalori harian pasien disesuaikan dengan kebutuhan
kalori sesuai usia.
d. Pantau hasil laboratorium, seperti kadar serum albumin,
dan elektrolit.
EG.
Rasional: kadar albumin dan elektrolit yang
normal menunjukkan status nutrisi baik. Sajikan
makanan dengan menarik.
e. Tentukan makanan kesukaan, rasa, dan temperatur
makanan.
EH.
Rasional: meningkatkan nafsu makan dengan
intake dan kualitas yang maksimal.
f. Anjurkan penggunaan suplemen

penambah

nafsu

makan.
EI.Rasional: dapat membantu meningkatkan nafsu
makan pasien sehingga dapat meningkatkan masukan
nutrisi.

EJ.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai O 2 ke jaringan,
ditandai dengan terjadi kelelahan, kelemahan, peningkatan nadi dan tekanan
darah saat beraktivitas.
EK. Tujuan
Setelah
diberikan ET.

EM.
asuhan

EL.
Intervensi
NIC Label >> Activity theraphy

keperawatan

1. Bantu pasien dalam memilih aktivitas yang sesuai

diharapkan

dengan kemampuan fisik, psikologi, dan sosial yang

selama...xjam

pasien mampu mentoleransi

dimiliki.

aktivitas,

EU.

dengan

kriteria

hasil:
NOC

Label

>>

EV.

rentang normal (>90%)

membantu pasien untuk dapat menyelesaikan aktivitas

Tidak terjadi perubahan

tersebut dengan baik.

fokus

terhadap

satu

aktivitas

3. Bantu pasien dalam sebuah jadwal untuk membuat


periode aktivitas dari yang jarang dilakukan sampai

sambil

yang rutin dilakukan.

melakukan

EW.

NOC

Label

Rasional: menjadwalkan aktivitas membantu

pasien meningkatkan kemampuan beraktivitas.

>>

4. Instuksikan pasien dan keluarga dalam membuat aturan

Fatigue level
Tidak terjadi penurunan

aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam

motivasi beraktivitas

menyeimbangkan fungsi kesehatan.

Tidak mengalami sakit

EX.

kepala saat beraktivitas

fungsi kesehatan pasien sehubungan dengan aktivitas

EP.

EQ. mandi,
makan

Rasional: untuk membantu menyeimbangkan

yang berkaitan.

NOC Label >> Self

5. Anjurkan pasien untuk beristirahat dan bantu dalam

care status

aktivitas yang ringan sesuai kebutuhan.

Pasien mampu

EY.

berpakaian,
dan

Rasional:

membantu

pasien

dalam

menggunakan oksigen secara efektif dalam beraktivitas.

toileting

secara mandiri

EZ.

NIC Label >> Energy management

6. Kaji keterbatasan fisik pasien.

ER.
ES.

Rasional:

Pasien mampu berbicara

EO.

dengan

Saturasi oksigen dalam

aktivitas fisik

sesuai

bisa dilakukan.

dalam warna kulit


-

yang

2. Bantu pasien untuk fokus terhadap satu aktivitas yang

Activity tolerance

aktivitas

kemampuan dapat lebih mudah dilakukan oleh pasien.

EN.
-

Rasional:

NOC Label >> Vital

FA.

Rasional: untuk mengetahui seberapa besar

Sign

keterbatasan pasien dalam beraktivitas.

Suhu tubuh 36,5-37,50C

Respiratory rate 16-20 x

FB.

per menit

intervensi yang tepat.

Tekanan darah 120/80

7. Kaji penyebab kelemahan.


Rasional: untuk memudahkan mengetahui

8. Berikan intake makanan yang adekuat.

mmHg

FC.

Rasional:

intake

makanan

yang

Nadi 60-100 x per menit

memberikan energi yang cukup bagi pasien.

cukup

9. Awasi adanya perubahan TTV dan saturasi oksigen.


FD.

Rasional:

penurunan

TTV

dan

saturasi

oksigen dapat menunjukkan penurunan kemampuan


beraktivitas.
FE.

NIC Label >> Self care assistance

10. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan perawatan


diri.
FF.

Rasional: mengetahui batasan aktivitas yang

dapat dilakukan pasien.


11. Kaji kebutuhan pasien dalam perawatan diri seperti:
kebutuhan kebersihan diri, pakaian, makanan, dan
kebutuhan toileting.
FG.

Rasional: mengetahui kebutuhan perawatan

diri yang dapat dan tidak dapat pasien lakukan sendiri.


12. Ajarkan pada keluarga agar membantu pasien bila
pasien memang benar-benar tidak mampu melakukan
aktivitas secara mandiri.
FH.
FI.

Rasional: membantu kemandirian diri pasien.

NIC Label >> Monitoring vital sign

13. Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status respirasi.


FJ.Rasional:

penurunan

TTV

dapat

menunjukkan

penurunan kemampuan pasien dalam beraktivitas.


14. Monitor vital sign sebelum, selama, dan sesudah
beraktivitas.
FK.

Rasional:

mengetahui

aktivitas

dilakukan apakah berat atau tidak terhadap pasien.


FL.

yang

7. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan ditandai


dengan pasien tampak gelisah dan khawatir terhadap kondisi kesehatannya.
FM. Tujuan
FN.
Intervensi
Setelah
dilakukan FR. NIC Label>> Anxiety Reduction
a. Observasi adanya tanda tanda cemas/ansietas baik
asuhan keperawatan selama
secara verbal maupun nonverbal.
1x 30 menit, diharapkan
FS.
Rasional : pengungkapan kecemasan secara
kecemasan klien terhadap
langsung tentang kecemasan dari klien, dapat
penyakit
klien
dapat
menandakan level cemas klien.
berkurang dengan kriteria b. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang dapat
FO.

hasil :
FP.
Anxiety Level
Mengatakan

menstimulus kecemasan.
FT.
Rasional : agar pasien dapat mengatasi dan
secara

verbal tentang tidak ada

menanggulangi kecemasan pasien.


c. Jelaskan segala sesuatu mengenai penyakit yang klien

kecemasan (5 = none)
Mengatakan
secara

derita.
FU.

verbal tentang tidak ada

penyakit klien dapat meningkatkan pengertian klien

ketakutan (5 = none)
Tidak ada kepanikan (5 =

tentang

none)
FQ. Anxiety Self Control
Mampu
mengurangi
penyebab cemas (5 =
Consistently

Tujuan
Setelah

dalam.
FV.

keperawatan

selama

komplikasi

yang terjadi, dengan


-

TTV

3
dalam

Intervensi

Mandiri:
Pantau tanda dan gejala anemia yg terjadi.
GD.
Rasional: memantau gejala anemia klien
penting dilakukan agar tidak terjadi komplikasi yang

anemia

kriteria hasil:

mengurangi

yang terjadi secara berlebihan.

1x 15 menit, perawat
meminimalkan

dapat

Rasional : dapat memberi efek ketenangan

FZ.
asuhan

sehingga

pada klien.
e. Kolaborasi pemberian medikasi berupa obat penenang.
FW.
Rasional : untuk menurunkan ansietas klien

GC.

diberikan

dapat

penyakitnya,

kecemasan klien.
d. Ajarkan klien teknik relaxasi, seperti menarik nafas

demonstrated)
Mengontrol respon cemas
FX.
8. PK: ANEMIA
FY.
GA.

Rasional : menambah wawasan klien tentang

lebih lanjut.
Pantau tanda-tanda vital klien.
GE.
Rasional:
perubahan

tanda

menunujukkan perubahan pada kondisi klien.


Anjurkan klien mengkonsumsi makanan
mengandung banyak zat besi dan vit B12.

vital
yang

batas normal (TD: 120/80

GF.

mmHg,

mengandung vitamin B12 dan asam volat dapat

nadi:

60-100

x/menit, suhu: 36-37,5C,


-

RR: 16-20 x/menit).


Konjungtiva

berwarna merah muda.


Hb klien dalam
batas

normal

(12-16

g/dL).
-

Mukosa

bibir

berwarna merah muda.


Klien
tidak
mengalami

lemas

Rasional:

konsumsi

makanan

yang

menstimulasi pemebntukan Hemoglobin.


Minimalkan prosedur yg bisa menyebabkan perdarahan.
GG.
Rasional: prosedur yang menyebabkan
perdarahan dapat memperparah kondisi klien yang

mengalami anemia.
GH.
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian tranfusi darah sesuai indikasi.
GI.
Rasional: transfusi darah diperlukan jika
kondisi anemia klien buruk untuk menambah jumlah
darah dalam tubuh

dan

lesu.
GB.
GJ.
GK.
9. PK: INFEKSI
GN.

GL. Tujuan
Setelah
dilakukan

asuhan keperawatan selama


xjam,

diharapkan

komplikasi

infeksi

akibat

pneumonia

tidak

terjadi,

NOC Label >>

Infection severity
Sputum purulen tidak

ada
Suhu

tubuh

pasien

dalam batas normal


-

(36,5-37,50C
WBC dalam

batas
3

normal 4-11 x 10 /uL


GP.

intervensi secara cepat dan tepat jika infeksi terjadi.


2. Pantau hasil laboratorium terutama WBC.
GS.
Rasional: dapat sebagai indikator ada
tidaknya infeksi dan menentukan sensitivitas pada obat

dengan kriteria hasil:


GO.

GM.
Intervensi
GQ.
NIC Label >> Infection protection
1. Pantau tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
GR.
Rasional: membantu dalam memberikan

tertentu.
3. Pertahankan teknik aseptik selama perawatan.
GT.
Rasional: teknik aseptik selama perawatan
dapat meminimalkan komplikasi dari infeksi.
4. Batasi jumlah pengunjung yang masuk ke ruang
perawatan pasien dan jauhi area perawatan pasien dari
tanaman maupun bunga segar.
GU.
Rasional: pembatasan jumlah pengunjung
perlu dilakukan agar pasien dapat beristirahat. Tanaman
dan bunga segar dapat membawa bakteri maupun virus
sehingga perlu dijauhkan dari pasien yang sangat rentan
terhadap infeksi.
5. Kolaborasi pemberian

antibiotik

sesuai

dengan

sensitivitas bakteri.
GV.
Rasional:

Antibiotik

dapat

membantu

membunuh mikroorganisme penyebab infeksi.


GW.
GX.

GY.

DAFTAR PUSTAKA

GZ.
HA.

Doengoes, E Marilynn dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

HB.

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Volume I . Bandung: Yayasan


Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran.

HC.

Mansjoer, Arief. Dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta: EGC

HD.

Sylvia & Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

HE.
HF.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Dochterman, Joanne M., Gloria N. Bulecheck. 2004. Nursing Interventions


Classifications (NIC) Fourth Edition. Missouri: Mosby Elsevier.

HG. Moorhed, Sue, Marion Jhonson, Meridean L. Mass, dan Elizabeth Swanson. 2008.
Nursing Outcomes Classifications (NOC) Fourth Edition. Missouri: Mosby Elsevier.
HH. NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20122014. Jakarta: EGC.
HI. Smeltzer, C. Suzanne. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8
Volume 3. Jakarta: EGC.
HJ. Wilson, Susan and Thompson, June (1990), Respiratory Disorders, Mosby Year Book,
Toronto.
HK.
HL.