Anda di halaman 1dari 20

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Pendahuluan

Manusia yang menjadi sebab akibat diciptakannya bumi ini, juga sekaligus
sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya merupakan salah satu
pembuktian dan penghormatan terhadap manusia. Begitu juga dengan penciptaan
alam jagat raya yang begitu menakjubkan dengan keseimbangan dan keteraturan
yang tak pernah terjangkau oleh akal manusia untuk memikirkannya, sehingga
jika manusia berusaha untuk meniliti lebih mendalam lagi tentang wujud alam
semesta dengan menggunakan semua disiplin ilmu-ilmu yang ada sebagai
kendaraannya, maka tidak lain yang ditemukannya kecuali tujuan khusus dari
setiap hasil ciptaannya, yang diperuntukkan kepada kehidupan manusia untuk
mengelolanya dengan baik,1 tujuan itu tidak lain yaitu ibadah kepada Allah SWT.
Seperti yang tertera dalam al-quran surat Ibrahim: 32-34.
Tentunya untuk melakukan hal itu (baca: ibadah kepada-Nya), manusia
tidak hanya dibekali dengan tubuh dan alam jagat raya semata melainkan hal yang
lebih tinggi dari itu, yaitu akal. Menurut ibnu miskawaih, akal merupakan
penciptaan tertinggi dan yang terendah adalah materi (baca: bumi). Menurutnya
didalam diri manusia terdapat jiwa berfikir yang hakikatnya adalah akal yang
berasal dari pancaran Tuhan.2 Setelah dibekali dengan fasilitas alam jagad raya
yang begitu mewah dan indah, juga kecanggihan pancaindera yang dimiliki oleh
manusia, kemudian disempurnakan dengan diberikannya akal untuk berfikir
sekaligus yang membedakan antara manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang
lain, membuat manusia bisa menjadi creater dari kreatifitas yang dihasilkan oleh
pemikirannya yang dilakukan oleh akal. Akan tetapi akal pun tidaklah cukup jika
tidak memiliki pengetahuan, maka manusia butuh akan ilmu pengetahuan untuk
membuatnya mengetahui segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini secara
ilmiah. Tapi manusia juga bisa menjadi penghancur atau perusak dimuka bumi ini
meskipun telah memiliki ilmu pengetahuan. Untuk itu, maka manusia butuh akan
pengetahuan agama, tentang iman, tentang tujuan hidup dan hakikat penciptaan
1. Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta, diambil dari www.pakdenono.com, tgl 8 mei 2008,
pukul 05.02 AM.
2. Hamdani Jamil, Filsafat Akhlak Ibn Miskawaih Dalam Perspektif Historis, (T.tp: T.pn, 2007), h.
10.

alam semesta beserta isinya.3 Hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah swt alquran surat Huud: 7. Dalam ayat ini memberikan pemahaman penuh kepada
manusia akan tujuan hidup yang sebenarnya.
Untuk tujuan itupun Allah swt. Telah merancangnya secara lengkap dalam
kitabnya dan seorang kekasih pilihan-Nya Nabi Muhammad saw. Sebagai
petunjuk bagi manusia yang menggunakan akalnya dengan benar. Dalam al-Quran
dan sunnah Nabi Muhammad (baca: Hadist) telah tercatat secara lengkap tentang
segala petunjuk untuk kehidupan manusia. Karena manusia butuh akan al-Quran
dan Sunnah Nabi, maka manusia butuh untuh belajar dan mencari ilmu itu sendiri,
dalam al-Quran-pun perintah pertama yang diturunkannya adalah membaca,
bahkan Allah telah memberitahukan kepada manusia akan suatu pengajaran dan
pembelajaran untuk pertama kali, yang hal ini tertera dalam Quran surat Al-alaq:
1-5.
Begitu pula dengan sejarah kehidupan manusia dan pembentukan
masyarakat dimulai dari keluarga Adam dan Hawa, dalam keluarga tersebut telah
dimulai proses kependidikan umat manusia meskipun dalam ruang lingkup yang
sangat kecil.4 Sejak manusia berusaha untuk mempertahankan hidup dan
menghendaki kemajuan dalam kehidupannya, sejak itulah gagasan untuk
melakukan peningkatan sumberadaya manusia lewat pendidikan dimulai.
Ketika melihat lagi ke sejarah masa lampau, maka kita akan menyadari
bahwa manusia sangat membutuhkan pendidikan sebagai kendaraan dalam
kehidupannya. Hal ini bisa dilihat dari cara para orangtua ulama-ulama besar
islam dalam menyiapkan pendidikan bagi anak-anaknya, seperti Imam As Suyuthi
(991 H),seorang ulama besar yang memiliki lebih dari 600 karya. Menguasai
berbagai macam disiplin keilmuan dalam Islam, hafal lebih dari 200 ribu hadits.
waktu berumur 21tahun sudah menghasilkan karya. Salah satu karya yang amat
populer bagi masyarakat muslim Indonesia adalah Tafsir al Jalalain. Kehebatan
beliau tidak lepas dari pendidikan dan jerih payah ayahnya dalam mempersiapkan
pendidikannya. Ayahnya telah mempersiapkan sebuah perpustakaan yang lengkap
dengan berbagai macam kitab, sebelum As Suyuthi lahir, sehingga ulama
Syafiiyah ini dijuluki sebagai Ibnu Al Kutub (anak buku), karena beliau terlahir
di sela-sela tumpukan buku.5 Begitu juga dengan Ibnu Al Jauzi (510 H), seorang
ulama ternama dalam madzhab Hambali juga banyak mendapatkan warisan dari
3. Harun yahya, Hakikat Kehidupan, diambil dari www.pakdenono.com, tgl 8 mei 2008, pukul
05.02 AM.
4. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), h. 1.
5. Belajar mendidik anak ala ulama.

sang ayah, guna menopang pendidikannya. Hal ini terungkap dalam bukunya yang
berjudul laftah al-kabid fi nasihati al-walad, Ketahuilah wahai anakku, bahwa
ayahku adalah seorang yang kaya, dan telah meninggalkan ribuan harta. Ketika
aku baligh, ia memberiku 20 dinar dan 2 rumah. Lalu aku mengambi dinar untuk
kubelanjakan buku, lalu aku jual rumah dan aku gunakan uangnya unyuk mencari
ilmu, hingga harta itu habis tidak tersisa.6
Yahya bin Main (233 H) juga tidak kalah hebatnya, guru Imam Bukhari
ini mendapatkan warisan dari ayahnya sebesar 1 juta dirham dan 50 ribu dinar.
Semua itu dihabiskan Yahya untuk mencari hadits, sehingga sandalpun ia tidak
memilikinya. Dari harta itu, Yahya memiliki 114 rak yang penuh buku. 7 Dan
masih banyak lagi ulama-ulama islam lainnya yang hebat dan ahli dalm berbagai
disiplin ilmu yang semuanya tidak terlepas dari peran orangtua mereka dalam
mendidiknya.8 Islam pun telah menyiapkan itu dengan sempurna lewat al-Quran
dan Hadist yang diwariskan kepada manusia sebagai pedoman hidup didunia dan
akhirat nanti.
Untuk itu pula, para ulama muslim telah merancang pendidikan dan
mendesain metode pendidikan dalam islam yang berlandaskan dari kedua
pedoman tersebut (baca: al-Quran dan Hadist). Seperti yang dikatakan oleh imam
as-Syafii bahwa ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan 6 perkara, yaitu
kepintaran, ada kemauan, kesungguhan, ada bekal ada bimbingan ustadz dan lama
waktunya. 9
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan diatas sedikit kurangnya dapat
mengambil kesimpulan bahwa jelaslah pendidikan diusia dini sangat lah penting,
terlebih lagi jika kita kaitkan dengan keadaan sekarang, perkembangan teknologi
yang semakin hari semakin menggila, juga arus budaya yang setiap hari semakin
mengikis kebudayaan ketimuran kita. Intinya, sebagai orang tua baik itu dimasa
klasik pra renaisen ataupun di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini,
haruslah menyiapkan segala sesuatu nya untuk masa depan anak-anaknya,
terutama pendidikan islam. Untuk itu perlunya menelaah kembali, pendidikan
anak usia dini dalam islam.
B.

Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan dalam Islam

6. Lihat Imam ad-Dzahabi, Tadzkirah Huffadz 4/1347, dalam biografi Ibnu al-Jauzi.
7. Lihat dalam Al-Atsqalani, Tahdzib At Tahdzib, 11/282.
8. Mendidik anak ala ulama almanar.
9. Lihat Imam As-Syafii, Ihya Ulumuddin.

Jika kita berbicara tentang pendidikan islam baik itu dari segi definisi
ataupun tujuan dan lain sebagainya, tentulah kita dapat langsung
mendefinisikannya sendiri, pendidikan islam berarti pendidikan yang bercorakan
islam, berasaskan dan berlandaskan ajaran islam. Meskipun dalam sebuah karya
ilmiah kita dituntut untuk mendifinisikannya secara jelas menurut teori keilmuan.
Tapi jika kita ditanya tentang apakah pendidikan dalam islam? Maka tentu kita
tidak tidak bisa menjawab dengan se-enaknya saja, melainkan harus merujuk
kepada kitab-kitab ataupun buku-buku islam yang membahas hal tersebut. Dalam
bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Ahmad Tfsir
berusaha menjelaskan tentang makna pendidikan dalam islam. Dia menjelaskan
bahwa dalam konferensi internasional tentang pendidikan islam yang pertama
(1977), ternyata belum juga berhasil menyusun definisi pendidikan yang
disepakati mereka.10 Hal itu dikarenakan banyaknya jenis kegiatan yang dapat
disebut sebagai kegiatan pendidikan, juga luasnya aspek yang dibina oleh
pendidikan. Menurut Ahmad Tafsir, kegiatan pendidikan dalam garis besarnya
dapat dibagi tiga: 1). Kegiatan pendidikan oleh diri sendiri, 2). Kegiatan
pendidikan oleh lingkungan, 3). Kegiatan pendidikan oleh orang lain untuk orang
tertentu. Adapun binaan atau sasaran pendidikan dalam garis besarnya terbagi tiga
pula yaitu: 1). Daerah jasmani, 2). Daerah akal, 3). Daerah hati. Begitu juga
dengan tempat pendidikan juga ada tiga, yaitu: 1). Di dalam rumah tangga, 2).
Dimasyarakat, 3). Disekolah.11
Jika menelaah tentang definisi pendidikan menurut para pakar seperti
lodge yang mengatakan bahwa pendidikan itu menyangkut semua pengalaman, 12
yang ber maksudkan bahwa kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah
kehidupan. Ada juga Ahmad D. Marimba yang menyatakan bahwa pendidikan
adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.13
Dengan banyaknya rumusan-rumusan yang berkenaan dengan definisi
pendidikan, maka kita bisa mengambil kesimpulan dengan sendirinya dengan
mengikuti acuan yang telah dipaparkan atau yang telah diumuskan oleh para ahli
10. Lihat Naquib al-Attas (1979: 157) dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif
Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), cet. II, h. 26.
11. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008), cet. II, h. 26.
12. Rupert C. Lodge, Philosophy of Education, (New York: Harer & Brothers, 1974), h. 23.
13. Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Maarif, 1989), h.
19.

pendidikan. Sebelumnya sudah dipaparkan diatas bahwa masih sulitnya


menemukan definisi yang pas untuk pendidikan itu sendiri akhirnya dalam
konferensi (Konferensi International Pendidikan Islam Pertama Yang Diadakan Di
Jeddah Tahun 1977) itu pula, para peserta konferensi hanya membuat kesimpulan
dalam Rekomendasi bahwa pengertian pendidikan menurut islam ialah
keseluruhan pengertian yang terkandung di dalam istilah talim, tarbiyah, dan
tadib.14
dalam hal inipun, para pakar pendidikan masih berbeda pendapat untuk
mendefinisikan pendidikan menurut islam. Diantaranya: menurut al-Attas dalam
bukunya konsep pendidikan dalam islam (terjemahan) istilah tadib adalah istilah
yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, yang
merupakan masdar kata kerja addaba yang berarti pendidikan, addaba juga bisa
diturunkan menjadi addabun yang berarti pengenalan dan pengakuan tentang
hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai
dengan beberapa tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat
seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan
kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.
Sementara istilah tarbiyah menurutnya terlalu luas karena pendidikan dalam
istilah ini mencakupi juga pendidikan untuk hewan.15
Ada juga pendapat lain, menurut Imam al-Baidlawi didalam tafsirnya, arti
asal al-rabb adalah al-tarbiyah, yaitu menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit
sehingga sempurna, lalu Asfahani juga sependapat dengan al-Baidlawi.16
Penulis sependapat dengan Ahmad Tafsir dalam hal pendefinisian tentang
pendidikan dalam islam, yaitu bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi
Muslim semaksimal mungkin.17 Juga bisa dimaksudkan bahwa pendidikan islam
adalah suatu system pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi
seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.18
2. Hakikat Pendidikan Islam

14. Lihat Nquib Al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, (Jeddah: King Abdul Aziz
University, 1979), h. 157, dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), cet. II, h. 28.
15. Lihat Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, terjemahan Haidar Bagir, (Bandung:
Mizan, 1984), h. 52, 60, 63. Dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 29.
16. Lihat Al-Nahlawi, 1989: 31-32.
17. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 32.
18. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, h. 8.

Untuk mengetahui hakikat pendidikan islam, terlebih dahulu kita harus


mengetahui makna ilmu itu sendiri. Menurut Ahmad Tafsir isi ilmu itu terbagi
menjadi 3, yaitu: 1. Teori, 2. Penjelasan tentang teori itu sendiri, 3. Data yang
mendukung penjelasan itu. Jadi kesimpulannya sians (ilmu) ialah pengetahuan
yang logis dan mempunyai bukti empiris.
Menurutnya pula, ilmu pendidikan islam adalah ilmu pendidikan yang
berdasarkan islam, yaitu nama agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw.
Yang didalamnya terdapat dua pedoman yaitu al-Quran dan Hadist, yang mana
didalamnya terdapat seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia. Lalu ajaran
itu dirumuskan bedasarkan al-Quran dan Hadist serta akal. Jadi ilmu pendidikan
islam yaitu, ilmu pendidikan yang berdasarkan al-Quran, Hadist dan Akal. Namun
penggunaan landasan ini haruslah berurutan, pertama-tama harus mendahulukan
al-Quran, jika dalam al-Quran tidak terdapat jawaban atau kurang jelas, baru
menggunkan Hadist, dan jika tidak ditemukan didalam hadist barulah menggukan
akal.19
Hakikat pendidikan islam juga bisa diorientasikan sebagai proses
membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak didik agar
menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan islam.20
Jadi jelaslah hakikat pendidikan islam yaitu, pendidikan yang islami, yang
berlandas dan berdasarkan al-Quran, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis
pada setiap tingkatannya, baik filosofis, konsep, teoritis maupun praktis, dan
Hadist. Dalam hal ini, islami mengandung makna yang universal seperti, adil,
benar, insani, bersih, disiplin, tepat waktu, egaliter, terbuka, dinamis, dan
seterusnya.21 Intinya pendidikan islam adalah usaha orang dewasa muslim yang
bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta
perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran islam kea rah
titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. 22 Yang kemudian melahirkan
manusia yang berpotensi dinamis, yang kesemua itu terletak pada keimanan atau
keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak (moralitas) dan pengalamnnya.23

19. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 12.


20. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, h. 11.
21. Sanusi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan: dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Logos, 2003), h.
29.
22. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, h. 22.
23. Lihat Moh. Fadhil al Djamaly, Nahwa Tarbiyatin Muminatin, h. 85, dalam H.M. Arifin, Ilmu
Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, h. 22.

3). Implikasi Al-Quran Terhadap Pendidikan


Oleh karena pendidikan islam berpedomankan akan Al-Quran sebagai asas
utama dalam penerapan nilai-nilai pendidikan, maka perlu dijelaskan implikasinya
terhadap pendidikan. Sebagaimana yang telah diketahui oleh semua umat Muslim,
bahwasanya islam merupakan agama yang rahmatan lilalamin seperti yang tertera
dalam A-Quran yang artinya: dan tidaklah Kami utus Kau (wahai Muhammad)
kecuali untuk menyebarkan kasih sayang bagi alam semesta ini. Ayat ini
mengandung pengertian tentang hakikatnya misi islam tersebut, yang
menunjukkan implikasi-implikasi kependidikan yang bergaya imperative,
motivatif, dan persuasive.
Ada beberapa prinsip yang mendasari pandangan tersebut, yaitu:
1. Nilai-nilai yang mendasari dan menjiwai tingkah laku manusia
muslim, baru dapat terserap bilamana ditumbuhkembangkan melalui
proses pendidikan yang baik.
2. Tujuan hidup manusia muslim untuk memperoleh kebahagiaan
didunia dan akhirat baru benar-benar disadari dan dihayati bilamana
dibina melalui proses pendidikan yang berkesinambungan.
3. Posisi dan fungsi manusia sebagai hamba Allah, baru dapat dipahami
dan dihayati bilamana ditanamkan kesadaran tentang perlunya sikap
orientasi berhubungan dengan Tuhan, masyarakat, dan alam,
sekitarnya, serta dengan dirinya sendiri. Pola hubungan tersebut bisa
dikembangkan secara lebih baik bilamana dibimbing atau diarahkan
melalui proses pendidikan.
4. Kelengkapan-kelengkapan dasar yang diberikan dalam diri manusia
berupa fitrah dan mawahib satu sama lai berbeda intensitas dan
eksistensi perkembangannya. Kelengakapan tersebut tidak mungkin
dapat berkembang dengan baik jika tidak didukung melalui proses
pendidikan yang baik.
5. Secara universal, membudayakan manusia melalui agama tanpa
melalui proses kependidikan, akan sulit direalisasikan, karena
pendidikan adalah sarana pembudayaan manusia melalui nilainilainya.inilah esensi dari implikasi misi islam yang menitik
beratkan pada proses kependidikan manusia dalam rangka
konservasi dan transformasi serta internalisasi nilai-nilai dalam
kehidupan seperti yang dikehendaki oleh ajaran islam, agar mereka
tetap berada dalam islam sampai meninggal dunia.24
24. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan

Tujuan Pendidikan Islam


Pendidikan merupakan produk khas kebudayaan manusia, yang mana
pendidikan dilakukan agar manusia bisa mempertahankan dan melanjutkan hidup.
Oleh karenanya tujuan pendidikan harus sejalan dengan tujuan hidup manusia itu
sendiri. Tujuan pendidikan berupa sifat-sifat yang harus ada pada manusia
terdidik, seperti cakap, terampil, jujur, dan seterusnya. 25 Beberapa pakar
pendidikan dan ulama-ulama islam terdahulu dan kontemporer mendefinisikan
tujuan pendidikan islam itu sendiri secara beragam, akan tetapi dengan inti tujuan
yang sama seperti yang dikatakan para pakar dibidang ini dalam world conference
on muslim education bahwa, tujuan terakhir pendidikan islam adalah perwujudan
penyerahanmutlak kepada Allah swt. baik pada tingkat individu, masyarakat,
maupun kemanusiaan pada umumnya.26
Untuk lebih memahaminya secara mendalam berikut beberapa pendapat
tentang tujuan pendidikan islam menurut beberapa ulama-ulama islam, sebagai
perbandingan bagi manusia yang hidup diakhir zaman ini sekaligus agar dapat
merefleksikannya kembali dalam kehidupan manusia itu sendiri sehingga tidak
melenceng dari tujuan hidup yang sebenarnya. Diantaranya menurut:
1. Naquib Al-Attas, bahwa tujuan pendidikan yang penting harus diambil
dari pandangan hidup (philosophy of life). Jika pandangan hidup itu islam
maka tujuannya adalah untuk membentuk manusia sempurna (insan kamil)
menurut islam.27
2. Muhammad Athiyah Al-Abrasy juga merumuskan tujuan pendidikan islam
secara lebih rinci lagi. Yaitu, tujuan pendidikan islam adalah untuk
membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia-akhirat,
persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan semangat ilmiah, dan
menyiapkan profesionalisme subjek didik.28
3. Abdu ar-Rahman an-Nahlawi berpendapat bahwa, tujuan pendidikan islam
adalah mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku serta
perasaan mereka berdasarkan islam yang dalam proses akhirnya bertujuan
C.

Interdisipliner, h. 32.
25. Sanusi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 12.
26. Lihat First World Conference On Muslim Education, (Inter Islamic Univercity Cooperation of
Indonesia, t.t.), dalam Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif
di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, (Yogyakarka: LKiS Printing Cemerlang, 2009), h. 27.
27. Naquib Al-Attas, Aims and Onjectives of Islamic Education, (Jeddah: King Abdul Aziz
Univercity, 1979), h. 14.
28. Muhammad Athiyah Al-Abrasy, At-tarbiyah Al-islamiyah wa Falasifatuha, (Kairo: Isa al-Bab
al-Halabi, 1975), h. 22-25.

untuk merealisasikan ketaatan dan penghambaan kepada Allah di dalam


kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat.29
4. Umar Muhammad at-Taumi as-Syaibani mengemukakan bahwa tujuan
tertinggi dari pendidikan islam adalah persiapan kehidupan dunia dan
akhirat.30
Dari beberapa ungkapan dari para ahli pendidikan tentang tujuan
pendidikan, kesemuanya menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan jika kita telaah lagi dari
beberapa definsi yang telah diungkapkan diatas, maka dapatlah kita simpulkan
bahwa tujuan pendidikan islam yang sesungguhnya yaitu menghendaki
pembentukkan kepribadian muslim yang sempurna. 31 Pribadi yang demikian
adalah pribadi yang menggambarkan terwujudnya keseluruhan esensi manusia
secara kodrati, yaitu sebagai makhluk individual, makhluk social, makhluk
bermoral, dan makhluk yang ber-Tuhan.32
D. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Islam
1. Pendidikan Anak dalam Islam

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh dan


berkembang dengan sempurna, baik dari segi jasmani, rohani, dan akhlaknya, agar
menjadi manusia yang sempurna atau minimal menjadi manusia yang bermanfaat
dalam kehidupannya. Tentulah untuk menjadi manusia yang demikian tidak bisa
langsung jadi sempurna tanpa melalui proses yang panjang. Hal demikian juga
dilakukan oleh para orang tua ulama-ulama besar islam klasik seperti yang telah
dipaparkan diatas.
Mengingat juga bahwa manusia terlahir kedunia ini ibarat kayu ataupun
kertas yang bersih tanpa noda apa-pun, sehingga dia siap untuk dipahat ataupun
diukir dengan pahatan dan ukiran apapun dari orang tuanya yang pasti akan
membekas selama hidupnya. Imam Al-ghazali berpendapat bahwa anak dilahirkan
dengan fitrah yang seimbang dan sehat, kedua orantuanyalah yang memberikan
agama kepadanya. Demikian pula sifat-sifat jelek atau baik itu berpengaruh dari
29. Abd ar-Rahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, (Bandung: Diponegoro,
1992), h. 162.
30. Umar Muhammad at-Taomi as-Syaibani, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Tripoli: asySyirkah al-Ammah li an-Nasyr wa at-Tauzi al-lian, t.t.), h. 292.
31. Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Depag, 1983), h. 27.
32. Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Depag, 1983), h. 27.

10

lingkungan dia hidup.33 Begitu pula islam telah menyerukan kepada setiap
orangtua agar mendidik dan memelihara anak-anaknya karena ia merupakan
amanah dan tanggung jawab yang dibebankan kepada kedua orangtua, maka
jelaslah suatu hari akan dimintai pertanggung jawabannya. Hal ini tertera jelas
didalam al-Quran surat at-tahrim: 6, implikasi dari ayat tersebut adalah supaya
orang tuanya berkewajiban memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, oleh
karenanya manusia mempunyai sifat mencintai terhadap anak-anaknya hal ini juga
tertera dalam QS. Al-kahfi: 46. Hal ini lah yang akan membuat para orang tua
merasa ringan menjalankan kewajibannya dalam mendidik anaknya karena telah
timbul rasa cinta dan sayang terhadap anak-anaknya.
Dalam Hadist pun, Nabi Muhammad telah mencontohkan kepada para
orang tua agar menyayangi dan mendidik anak-anaknya. Dalam hadist-Nya Nabi
bersabda; seorang badui dating kepada Nabi saw. dan bertanya kepada-Nya,
apakah Engkau menciumi putra-putri Engkau? Kami tidak pernah menciumi
anak-anak kami, Nabi berkata: apakah kamu tidak takut bila Allah mencabut
kasih sayang dari hatimu? (al-Bukhari).
Dari uraian ayat al-Quran dan Hadist diatas jelaslah bahwa dalam islam
mendidika anak sejak usia dini sangat lah penting, bahkan hampir semua pakar
ilmu pendidikan ataupun berbagai disiplin ilmu-ilmu islam lainnya mengatakan
bahwa pendidikan anak dilakukan jauh sebelum anak itu lahir. Seperti pernyataan
dari Ahmad Tafsir bahwa anak yang lahir akibat perzinahan sulit dididik, anak
hasil zina dilihat dari segi pendidikan mempunyai permasalahan, karena didalam
diri anak itu tertanam suatu perasaan hina, rendah benci kepada orang tuannya,
meskipun itu bukan kesalahan anaknya. Hal inilah yang mempengaruhi
perkembangan dan pertumbuhannya, baik dari segi jasmani juga rohaninya
(kejiwaan).34
Kemudian dalam memilih pasangan, hal ini dibuktikan dengan adanya
Hadist yang mengisyaratkan untuk memilih pasangan (calon suami atau istri)
yang baik. Baik dari segi silsilah keturunan, rupawan, pintar, karena hartanya dan
baik agamanya. Kemudian menggembirakan orang yang melahirkan anak, hal itu
dimaksudkan untuk menguatkan ikatan persaudaraan diantara sesama Muslim, alQuran pun menyebutkan bahwa para malaikat menyampaikan kabar gembira
kepada Nabi Ibrahim tatkala istrinya akan melahirkan, hal ini tertera dalam surat

33. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), cet. IV, h. 10.
34. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 164.

11

Huud: 69-71, juga dalam surat Ali Imran: 39, Allah menggembirakan Nabi
Zakaria karena anaknya akan lahir.
Begitu juga saat masa kehamilan, menurut Ashley Montagu dalam
bukunya Human Heredity, bahwa gangguan emosi pada ibu hamil dapat
mempengaruhi perkembangan jiwa kandungannya.35 Dan masih banyak hal yang
memnunjukkan bahwa islam mewajibkan kepada para orang tua untuk mendidik
anaknya se-dini mungkin dengan tujuan dan cara islam juga, agar melahirkan
anak-anak yang berkualitas secara jasmani, rohani, psikologis dan keimanan
sehingga tidak melupakan tujuan hidup yang sebenarnya sebagai manusia.
2. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam.

a). Usia Emas dalam Perkembangan Anak


Ada ungkapan menarik dari Hadist Nabi saw. yang ada kaitannya dengan
pendidikan usia dini, yaitu: carilah ilmu dari ayunan sampai liang lahat.36
Hadist ini merupakan statement Nabi Muhammad tentang pendidikan seumur
hidup atau yang sekarang disebut sebagai long life education.
Dalam islam dikenal beberapa tahap kehidupan manusia sejak lahir
sampai mati. Sebutan tahap-tahap tersebut berdasarkan dari terma-terma yang
dipakai dalam al-Quran, seperti:
1). Tahap atau fase penyusuan (radlaah), artinya fase anak menyusui atau
fase anak memerlukan air susu, terutama air susu ibu (ASI), dan fase ini
berlangsung dari usia 0-2 tahun dari kelahiran anak. Islam sangat
memeperhatikan fase ini, termasuk pemberian ASI yang cukup pada anak di
fase ini. Ketika anak menerima ASI, dia merasakan adanya kehangatan kasih
sayang dan kedamaian psikologis dari ibunya, yang sangat dibutuhkan oleh
anak pada awal pertumbuhan dan perkembangannya.
2). Tahap atau fase kanak-kanak (thufulah), yang sekarang dikenal anak
usia dini. Dalam fase thufulah ini anak sudah mengalami pertumbuhan dan
perkembangannya, baik secara fisik, kognitif, emosional, bahasa, social dan
afektifnya. Para pakar pendidikan, sosiologi, psikologi, dan agama,
memandang fase ini merupakan fase yang kritis bagi pendidikan anak,
darinya apabila dalam fase ini tidak dilakukan upaya pendidikan yang baik
dan benar pada anak, maka anak itu akan tumbuh dan berkembang secara
salah dan bisa menyimpang.37
35. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, h. 37.
36. Musthafa bin Abdullah Al-Qasthani, Kasyfu a-Dhunun, (Beirut: Dar al-Kutub al-ilmiah,
1992), h. 51.
37. Hamdani Rajih, Mengakrabkan Anak dengan Tuhan, terjemahan Abdul Wahid Hasan dari :

12

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa usia dini merupakan masa


peka yang sangat penting bagi pendidikan anak. Selain anak pada masa itu
sedang mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat
baik fisik maupun mental, juga perkembangan moral (termasuk kepribadian,
karakter, dan akhlak), social, intelektual, emosional dan bahasa juga
berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu fase ini dinamakan sebagai
golden age (usia emas). Begitu pentingnya usia dini ini, sampai ada teori
yang menyatakan, bahwa pada usia 4 tahun, 50% kecerdasan telah tercapai,
dan 80% kecerdasan tercapai pada usia 8 tahun.38
Imam Ghozali pun dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengingatkan
tentang pentingnya pendidikan usia dini, sebagai berikut: Anak itu
merupakan amanat bagi kedua orangtuanya, dan hatinya yang bersih
merupakan permata mahal, yang masih polos dan belum tersentuh goresan
dan lukisan apapun, masih dapat menerima pahatan apa saja, dan siap
mengikuti pengaruh apa-pun yang disuguhkan kepadanya. Jika anak itu
dibiasakan pada hal-hal yang baik dan diajarinya, maka ia akan tumbuh dan
berkembang diatas kebaikan tersebut, dan ia akan bahagia didunia dan
akhirat. Orangtuanya, gurunya dan pengasuhnya akan bersama-sama
memperoleh pengasuhnya akan bersama-sama memperoleh pahalanya. Dan
seterusnya.39
Begitu juga Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya juga mengatakan:
bahwa pendidikan pada usia dini itu hasilnya lebih meresap, dan menjadi
pondasi perkembangan selanjutnya, karena apa yang tertanam dalam hati
anak pada usia dini itu menjadi landasan bagi semua bakat, kemampuan dan
karakter anak selanjutnya.40
Dikalangan para pemikir dan ulama islam kalsik seperti Ibnu Sina, Ibnu
Miskawaih, Al-Farabi, Al-Qabisi, Al-Ghozali, Ibnu Jamaah, Ibnu Sakhnun,
Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya, hamper semuanya sepakat mengenai
pentingnya pendidikan anak usia dini seta tanggung jawab orangtua dlam
masalah tersebut.41
b). Hakikat dan Urgensi Keluarga
Kaifa Nadu al-Athfal, (Yogyakarta: DIVA Press, 2002), h. 36.
38. Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Hikayat Publising,
2005), h. 2, 6.
39. Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 69-70.
40. Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (Kairo Mesir: al-Maktabah at-Tijariyah al_kubra, t.th.), h. 537.
41. M. Tholhah Hasan, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga, h. 75.

13

Keluarga merupakan sebuah kekerabatan yang sangat mendasar di


masyarakat, atau sering diartikan juga sebagai ibu, bapak, dengan anakanaknya, yang disebut keluarga inti atau keluarga elementer. Ada juga yang
mengartikan bahwa keluarga merupakan satuan social terkecil yang dimiliki
manusia dalam kehidupannya sebagai makhluk social.42
Dalam undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
disebutkan, bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang
terdiri dari suami isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan
anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus keatas atau kebawah
samapai dengan derajat ketiga.43
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya
mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang
dan penanaman nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun social budaya yang
diberikannya merupakan factor kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi
pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga merupakan
institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insane, terutama kebutuhan bagi
pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia, untuk itu
jelas lah bahwa keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi
kebutuhan tersebut.44
Dalam islam ada konsep tentang keluarga sakinah. Keluarga Sakinah
dipandang sebagai keluarga yang ideal bagi para penganut agama islam. Ada
beberapa cirri dari keluarga sakinah tersebut:
1). Keluarga sakinah terbentuk melalui pernikahan yang sah menurut
agama islam (menurut syarat rukun dan tata cara pernikahan), dan menjadi
lebih sempurna lagi jika sah menurut pemerintah dan tercatat dilembaga
kepemerintahan yang berwenang.
2). Pernikahan tersebut didasari rasa cinta dan kasih sayang dari kedua
pihak suami-isteri (tidak atas dasar paksaan atau kemauan satu pihak saja).
3). Hubungan komunikasi dan kerja sama yang baik (muasyarah bil
maruf).
4). Berlangsungnya proses pendidikan dan pembelajaran terhadap anakanak dalam keluarga, sehingga anak-anak itu tumbuh menjadi anak-anak
yang sesuai dengan tujuan islam.
42. M. Tholhah Hasan, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga, (Jakarta: Mitra Abadi Press,
2009), h. V.
43. UU no. 23 tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak, Bab 1 fasal 1, ayat: 2, (Jakarta: Indonesia
Legal Center Publishing, 2004).
44. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h. 37.

14

5). Adanya pula hidup yang terkendali, tidak berlebihan dalam


pembelanjaan rumah tangga, dan juga tidak kikir untuk kebutuhan keluarga.
6). Tersedianya fasilitas dasar untuk suatu kehidupan yang wajar, seperti
rumah yang memadai.
7). Di dalam keluarga tersebut berlangsung suasana yang relegius, terasa
adanya citra hidup yang agamis.45
Untuk mengkaji lebih jauh tentang fungsi keluarga ini dapat
dikemukakan kedalam dua aspek, pertama dari aspek Psikososiologis
keluarga berfungsi sebagai:
1). Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya.
2). Sumber pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun psikis.
3). Sumber kasih sayang dan penerimaan.
4). Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk menjadi anggota
masyarakat yang baik.
5). Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara social
dianggap tepat.
6). Pembentuk anak dalam memecah kan masalah yang dihapainya dalam
rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan.
7). Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan
social yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri.
8). Stimulator bagi pengembangan kemapuan anak untuk mencapai
prestasi, baik disekolah maupun dimasyarakat.
9). Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi.
10). Sumber persahabatan atau teman bermain bagi anak sampai cukup
usia untuk mendapatkan teman diluar rumah, atau apabila persahabatan diluar
rumah tidak memungkinkan.46
Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat
diklasifikasikan ke dalam beberapa hal berikut:
1). Fungsi biologis
Keluarga dipandang sebagai pranata social yang memberikan legalitas,
kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi
kebutuhan dasar biologisnya..
2). Fungsi ekonomis

45. M Tholhah Hasan, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga, h. 15-16.
46. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h. 38-39.

15

Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menahkahkan


anggota keluarganya (isteri dan anak), hal ini juga tertera dalam QS. AlBaqarah: 223.
3). Fungsi pendidikan (edukatif)
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.
Keluarga berfungsi sebagai transmitter budaya atau mediator social budaya
bagi anak.47
4). Fungsi sosialisasi
Keluarga merupakan buatan atau penyemaian bagi masyarakat masa depan,
dan lingkungan keluarga merupakan factor penentu yang sangat
mempengaruhi kualitas generasi yang akan dating. Keluarga berfungsi
sebagai miniature masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peranperan hidup dalam masyarakat.
5). Fungsi perlindungan (protektif)
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari
gangguan dan ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidaknyamanan
(fisik-psikologis) para anggotanya.
6). Fungsi rekreatif
Untuk melaksanakan fungsi ini, kelurga harus diciptakan sebagai lingkungan
yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan, dan penuh semangat
bagi anggotanya.
7). Fungsi agama (religious)
Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai agama kepada anak agar
mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Dalam QS. At-Tahrim: 6,
manusia diperintahkan untuk menjaga keluarganya dari api neraka. Ayat ini
menunjukkak bahwa orang tua wajib mengajarkan atau memberikan
pendidikan tentang agama dan pedoman hidup agar anak-anaknya tidak
terjerumus kedalam neraka atau kecelakaan.
Mengingat pentingnya peranan agama dalam pengembangan mental yang
sehat, maka sepatutnyalah dalam keluarga diciptakan situasi kehidupan
agamis. Pengokohan penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga merupakan
landasan fundamental bagi perkembangan kondisi atau tatanan masyarakat
yang damai dan sejahtera.48
C). Faktor-faktor Keluraga yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
47. Hurlock Elizabeth, Child Development, (New York: Mc Graw Hill Book Company, Inc, 1956).
48. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h. 41-42.

16

1). Keberfungsian keluarga, yaitu:


a). saling memperhatikan dan mencintai,
b). bersikap terbuka dan dan jujur,
c). orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya dan
menghargai pendapatnya.
d). ada sharing masalah atau pendapat diantara anggota keluraga,
e). mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya,
f). saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi,
g). orangtua melindungi (mengayomi) anak,
h). komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik,
i). keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilainilai budaya, dan
j). mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
2). Pola Hubungan orangtua-anak (sikap atau perlakuan orangtua terhadap
anak), terdapat berbagai macam pola perlakuan orangtua terhadap anakanaknya, yaitu:
a). overprotective (terlalu melindungi),
b). permissiveness (pembolehan),
c). rejection (penolakan),
d). acceptance (penerimaan),
e). domination (dominasi),
f). submission (penyerahan),
g). punitivieness/ overdisipline (terlalu disiplin).49
3). Kelas social dan status ekonomi
Maccoby dan mcloyd telah membandingkan orangtua kelas menengah dan
atas dengan kelas bawah atau pekerja, hasilnya menunjukkan bahwa
orangtua kelas bawah atau pekerja cenderung:
a). sangat menekankan kepatuhan dan respek terhadap otoritas,
b). lebih restriktif (keras) dan otoriter,
c). kurang memberikan alasan kepada anak,
d). kurang bersikap hangat dan member kasih sayang kepada anak.50

D). Sebab-sebab Kenakalan Pada Anak-anak


49. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h. 50-52.
50. Sigelman Carol K. & Shaffer David R., Life Span Human Development, (California: Brooks,
1995), h. 53.

17

a). kemiskinan yang menerpa keluarga,


b). disharmoni antara bapak dan ibu,
c). perceraian dan kemiskinan sebagai akibatnya,
d). kesenggangan yang menyita masa anak dan remaja,
e). pergaulan negative dengan teman yang jahat.
f). buruknya perlakuan orangutan terhadap anak.
g). film-film sadis dan porno,
h). tersebarnya pengengguran didalam masyarakat,
i). keteledoran kedua orangtua terhadap pendidikan anak,
j). bencana keyatiman.51
E). Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Anak
1). Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis
melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam dalam rangka
membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang
menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun social.52
Hurlock mengemukakan peranan sekolah, bahwa sekolah merupakan factor
penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik dalam cara berpikir, bersikap
maupun cara berperilaku.53
2). Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan social remaja (siswa)
mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya.
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam
pengalamannya bergaul dengan teman sebya adalah:
a). social cognition: kemapuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan,
motif, tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuannya untuk memahami
orang lain akan mampu menjalin hubungan social yang lebih baik dengan sebaya.
b). konformitas: motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilainilai, kebiasaan, kegemaran (hobi), atau budaya teman sebayanya.54
Dengan demikian jelaslah, bahwa ditinjau dari berbagai disiplin ilmu
manapun para pakar dan ahli-ahli ilmu dimasing-masing bidangnya tidak
51. Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h.
109-148.
52. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h. 54.
53. Hurlock Elizabeth, Child Development, h. 322.
54. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, h.

18

membantah bahwa pendidikan anak diusia dini sangatlah penting. Begitu juga
dengan halnya Islam, yang lebih memperhatikan pendidikan anak manusia jauh
sebelum anak itu sendiri lahir. Ibarat rumah, yang tidak dibangun diatas pondasi
yang kokoh pasti tidak akan bertahan lama dari setiap terpaan angin ataupun
bencana lainnya, atau bahkan dengan sendirinya dia bisa roboh.

Daftar Pustaka
Al-Quran Al-Karim
Al-Abrasy, Muhammad Athiyah, At-tarbiyah Al-islamiyah wa Falasifatuha,
Kairo: Isa al-Bab al-Halabi, 1975.
Al-Attas, Naquib (1979: 157) dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
______ Aims and Onjectives of Islamic Education, Jeddah: King Abdul Aziz
Univercity, 1979.
______ Konsep Pendidikan dalam Islam, terjemahan Haidar Bagir, (Bandung:
Mizan, 1984), h. 52, 60, 63. Dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam.
______ Aims and Objectives of Islamic Education, (Jeddah: King Abdul Aziz
University, 1979), h. 157, dalam Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008).

19

Al-Ghazali, Abu Hamid, Ihya Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.


Al-Qasthani, Musthafa bin Abdullah, Kasyfu a-Dhunun, Beirut: Dar al-Kutub
al-ilmiah, 1992.
An-Nahlawi, Abd ar-Rahman, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam, Bandung:
Diponegoro, 1992.
Arifin, H.M., Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003.
as-Syaibani, Umar Muhammad at-Taomi, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah,
Tripoli: asy-Syirkah al-Ammah li an-Nasyr wa at-Tauzi al-lian, t.t.
Carol K., Sigelman & David R., Shaffer, Life Span Human Development,
California: Brooks, 1995.
Daradjat, Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Depag, 1983.
Elizabeth, Hurlock, Child Development, New York: Mc Graw Hill Book
Company, Inc, 1956.
First World Conference On Muslim Education, (Inter Islamic Univercity
Cooperation of Indonesia, t.t.), dalam Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan
Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan
Masyarakat, Yogyakarka: LKiS Printing Cemerlang, 2009.
Hasan, M. Tholhah, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga, Jakarta: Mitra
Abadi Press, 2009.
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Kairo Mesir: al-Maktabah at-Tijariyah al_kubra, t.th.
Jamil, Hamdani , Filsafat Akhlak Ibn Miskawaih Dalam Perspektif Historis, T.tp:
T.pn, 2007.
Lodge, Rupert C., Philosophy of Education, New York: Harer & Brothers, 1974.
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al-Maarif,
1989.
Rajih, Hamdani, Mengakrabkan Anak dengan Tuhan, terjemahan Abdul Wahid
Hasan dari : Kaifa Nadu al-Athfal, Yogyakarta: DIVA Press, 2002.
Suyanto, Slamet, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat
Publising, 2005.
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008.

20

Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Anak dalam Islam, Jakarta: Pustaka Amani,
1995.
UU No. 23 tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak, Bab 1 fasal 1, ayat: 2,
Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2004.
Uwes, Sanusi, Visi dan Pondasi Pendidikan: dalam Perspektif Islam, Jakarta:
Logos, 2003.
Yahya, Harun, Hakikat Kehidupan, diambil dari www.pakdenono.com, tgl 8 mei
2008, pukul 05.02 AM.
Yahya, Harun, Penciptaan Alam Semesta, diambil dari www.pakdenono.com, tgl
8 mei 2008, pukul 05.02 AM.
Yusuf LN, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2004.
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Depag, 1983.