Anda di halaman 1dari 13

LEARNING TASK

LEUKEMIA, THALASEMIA, DERMATITIS ALERGIKA, RHINITIS ALERGIKA


TANGGAL 30 MARET 2015
KASUS 1 : LEUKEMIA
Tugas:
1. Buatlah pathway leukemia!
2. Apa saja yang perlu dikaji dan apa kemungkinan data yang didapatkan, meliputi:
a. Pengkajian pola Gordon
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan penunjang
3. Diagnosa keperawatan apa yang mungkin muncul pada pasien dengan leukemia?
4. Bagaimana rencana asuhan keperawatan pasien dengan leukemia?
5. Discharge planning apa yang perlu diberikan kepada pasien dengan leukemia?
6. Carilah 2 buah evidence based terkait dengan leukemia!

1.

Patofisiologi Leukemia

Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol
sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada
sumsum tulang yang lebih dari normal. Leukimia dapat disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya faktor genetik, sinar radioaktif, virus, dan zat kimia. Pada faktor genetik
yakni sindrom down, dimana terjadi Kelainan pada kromosom 21 yang dapat
menyebabkan terjadinya mutasi genetik kromosom yang akan mengakibatkan leukemia
akut. Paparan sinar radioaktif dapat menyebabkan terjadinya mutasi yang akan
mengakibatkan perubahan yang terjadi (DNA atau RNA) sehingga dapat merubah fungsi
seluler pada sel. Virus yang dapat menyebabkan leukemia yaitu enzyme reserve
transcriptase ditemukan dalam darah penderita leukemia, juga ditemukan HTLV (virus
leukemia T manusia) dan retrovirus jenis cRN dan merupakan jenis khusus
leukemia/limfoma sel T, zat kimia seperti benzene, arsen, pestisida, kloramfenikol, dan
fenilbutazon dapat meningkatkan risiko terjadinya leukemia karena mengandung bahan
karsinogenik. Dari penyebab-penyebab ini akan menyebabkan terjadinya mutasi
(perubahan genetik) pada satu atau banyak sel pada sumsum tulang yang akan
mengakibatkan terjadinya perubahan fungsi sel darah putih dimana akan terjadi
peningkatan sel darah putih melebihi batas normal, hal ini juga akan mengakibatkan
tertekannya sel normal pada sumsum tulang, sel-sel tidak berfungsi seperti seharusnya
sel darah putih yang sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol
sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada
sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal
dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal,
merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel
darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi
untuk menyuplai oksigen pada jaringan. Pada leukemia penderita akan merasa lelah dan
lemah karena pada leukemia sel darah putih abnormal dapat memakan selnya sendiri
yang akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuhhal ini juga disertai dengan
penurunan nafsu makan yang berdampak pada peurunan berat badan, juga dapat terjadi
anemia, pembesaran pada limpa dan akan tersa sakit jika disentuh, nyeri di tulang,
trombositopenia (penurunurunan jumlah trombosit pada tubuh) yang mengakibatkan
mudahnya terjadi perdarahan , demam, dan pembengkakan kelenjar limfe, jika
pembengkakan ini terjadi di dada maka dapat mengakibatkan sulit bernapas dan batuk.
(Pathway Terlampir)
2.

Hal-hal yang perlu dikaji dan apa kemungkinan data yang didapatkan :
a. Pengkajian Pola Gordon
Pemeliharaan dan Persepsi Terhadap Kesehatan
Kaji persepsi pasien tentang berat ringannya sakit, persepsi tentang tingkat
kesembuhan, pendapat pasien tentang keadaan kesehatan saat ini dan bagaimana
pasien mengatasi keluhan yang ditimbulkan dari Leukima

Hasil:

Pada pasien yang mengalami Leukemia dapat berhubungan dengan

kebiasaan buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kebersihan diri

dan ditemukan riwayat terpapar bahan-bahan kimia.


Nutrisi dan Metabolik
Kaji pola kebiasaan makan, makanan yang disukai dan tidak disukai, adakah
suplemen makanan yang dikonsumsi, jumlah makan yang masuk, adakah nyeri
telan, fluktuasi BB 6 Bulan terakhir naik atau turun, diet khusus.
Hasil : Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi penurunan nafsu makan,
anorexia, muntah, perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan

menelan, serta pharingitis.


Pola Eliminasi
Kaji kebiasaan BAB (Frekuensi, kesulitan, ada / tidak ada darah, penggunaan obat
pencahar). Kebiasaan BAK (frekuensi, bau, warna, kesulitan BAK : disuria,
nokturia, inkontenensia)
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia mengalami diare, penegangan pada
perianal, nyeri abdomen, dan ditemukan darah segar dan feces berwarna hitam,

darah dalam urin, serta penurunan output pada urin.


Pola Aktivitas dan Latihan
Kaji rutinitas mandi, kebersihan sehari-hari,

aktivitas

sehari-hari,

kemampuan perawatan diri.


Hasil : Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi kelelahan, malaise,
kelemahan : ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya, keluhan nyeri
pada sendi atau tulang. Tanda seperti Kelelahan otot, Peningkatan kebutuhan

tidur, dan somnolen.


Pola Tidur dan Istirahat
Kaji bagaimana pola istirahat dan tidur klien selama sakit dan bandingkan dengan
pola tidur klien sebelum sakit, apakah terjadi perubahan atau tidak. Kaji kepuasan
klien terhadap istirahat dan tidur klien tersebut.
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi penurunan aktifitas dan
lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah

mengalami kelelahan dan akibat nyeri


Pola Kognitif dan Perseptual
Kaji apakah pasien dengan Leukemia mengalami gannguan berpikir atau tidak
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi penurunan kesadaran
(somnolence), iritabilits otot
Pola Persepsi Diri / Konsep Diri
Kaji persepsi pasien mengenai dirinya, gambaran diri, identitas diri apakah ada
perbedaan sebelum dan sesudah pasien mengalami Leukemia

Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi gangguan citra tubuh dan
harga diri rendah akibat dari pengobatan leukemia seperti kemoterapi yang

mengakibatkan kerontokan rambut


Pola Seksual dan Reproduksi
Kaji masalah menstruasi, papsmear terakhir, perawatan payu dara setiap
bulan,apakah ada kesukaran dalam berhubungan seksual, apakah penyakit
sekarang menggagu fungsi seksual.
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia Perubahan terjadi libido, perubahan

aliran menstruasi, Impoten.


Pola Peran dan Hubungan
Kaji peran pasien dalam keluarga dan masyarakat, apakah klien punya teman
dekat, siapa yang paling seling diberitahu jika keluhan muncul, kemudian setelah
sakit apakah perannya ada yang menggantikan atau tidak. Kaji apakah pasien
merasa malu karena penyakit yang dideritanya.
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi tidak dapat melakukan
aktivitas seperti kehilangan masa bermain dan berkumpul bersama teman-teman

serta belajar pada anak-anak, kurang bersosialisasi, dan melakukan pekerjaan


Pola Manajemen Koping Stres
Kaji tingkat stress pasien, kecemasan, dan cara mengatasi masalah tersebut apakah
menagrah pada koping adaptif atau maladaptif. Kaji juga apakah pasien optimis
untuk sembuh atau tidak
Hasil : Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi depresi, withdrawal, cemas,
takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan peerubahan suasana hati, dan

bingung.
Pola Keyakinan-Nilai
Kaji hubungan pasien dengan Tuhan, dalam keadaan sakit apakah klien
mengalami hambatan dalam ibadah atau tidak, apakah pasien merasa Tuhan akan
memberikan yang terbaik atau malah menyalahkan.
Hasil: Pada pasien yang mengalami Leukemia terjadi mengalami kelemahan

umum dan ketidakberdayaan melakukan ibadah.


b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Head to Toe :
Kepala dan Leher
- Rongga mulut :apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri).
Penyebab yang paling sering adalah stafilokokus,streptokokus, dan bakteri gram
negative usus serta berbagai spesies jamur, pertumbuhan gigi apakah sudah
lengkap ada atau tidaknya karies gigi. Pada penderita Leukimia ditemukan
hipertrofi gusi yang mudah berdarah.
- Mata :perdarahan retina, kadang-kadang ada gangguan penglihatan yang
disebabkan adanya perdarahan fundus oculi

Konjungtiva : anemis atau tidak. Terjadi gangguan penglihatan akibat infiltrasi ke


SSP
Sclera : kemerahan, ikterik.
Telinga : ketulian
Leher : distensi vena jugularis Perdarahan otak Leukemia system saraf pusat:
nyeri kepala, muntah (gejala tekanan tinggi intrakranial), perubahan dalam status
mental, kelumpuhan saraf otak, terutama saraf VI dan VII, kelainan neurologic
fokal.

Pemeriksaan Dada dan Thorax


- Inspeksi : bentuk thorax, kesimetrisan, adanya retraksi dada, penggunaan otot
bantu pernapasan
- Palpasi : Palpasi denyut apex (Ictus Cordis), nyeri tekan tulang dada tulang dada.
- Perkusi : Perkusi bertujuan untuk menentukan batas jantung dan batas paru.
- Auskultasi : suara nafas, adakah ada suara napas, bunyi jantung I, II, dan III jika
ada.
Pemeriksaan Abdomen
-

Inspeksi : bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran pada kelenjar limfe, ginjal,
terdapat bayangan vena,
- Palpasi : nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa
Pemeriksaan fisik untuk jenis LLA yaitu ditemukan splenomegali (86%),
hepatomegali, limfadenopati
- Perkusi : adanya asites atau tidak
- Auskultasi : peristaltik usus, palpasi nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan
limpa.
Pemeriksaan Genetalia
Pembesaran pada testis hematuria, kadang-kadang priapismus
Pemeriksaan integumen
- Kulit : Perdarahan kulit (pruritus, pucat, sianosis, ikterik, eritema, petekie,
ekimosis, ruam) , nodul subkutan, infiltrat, lesi yg tidak sembuh, luka bernanah,
diaforesis (gejala hipermetabolisme), peningkatan suhu tubuh.
- Kuku : rapuh, bentuk sendok / kuku tabuh, sianosis perifer. g.
Pemeriksaan Ekstremitas
Adakah sianosis, kaji kekuatan otot, apakah adanya nyeri tulang dan sendi (karena
infiltrasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemia)
Pemeriksaan fisik untuk jenis LLA yaitu ditemukan splenomegali (86%),
hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan perdarahan
retina. Pada penderita LMA ditemukan hipertrofi gusi yang mudah berdarah.
Kadang-kadang ada gangguan penglihatan yang disebabkan adanya perdarahan
fundus oculi. Pada penderita leukemia jenis LLK ditemukan hepatosplenomegali dan

limfadenopati. Anemia, gejala-gejala hipermetabolisme (penurunan berat badan,


berkeringat) menunjukkan penyakitnya sudah berlanjut. Pada LGK/LMK hampir
selalu ditemukan splenomegali, yaitu pada 90% kasus. Selain itu Juga didapatkan
nyeri tekan pada tulang dada dan hepatomegali. Kadang-kadang terdapat purpura,
perdarahan retina, panas, pembesaran kelenjar getah bening dan kadang-kadang
priapismus.
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan :
Pemeriksaan darah tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan kadangkadang leukopenia (25%). Pada penderita LMA ditemukan penurunan eritrosit
dan trombosit. Pada penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari
50.000/mm3, sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan leukositosis lebih

dari 50.000/mm3.
Pemeriksaan sumsum tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan
keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia
(blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang
tanpa sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam
sumsum tulang. Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh
limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95%
pasien LLK disebabkan oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan pada penderita
LGK/LMK ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah
megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari

30.000/mm3.
Biopsi Limpa
Pemeriksaan ini memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal
dari jaringan limpa yang terdesak seperti limfosit normal, RES, granulosit dan

pulp cell.
Pemeriksaan Sitogenik
Pemeriksaan kromosom merupakan pemeriksaan yang sangat diperlukan dalam
diagnosis leukemia karena kelainan kromosom dapat dihubungkan dengan

3.

prognosis seperti pada klasifikasi dari leukemia.


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan leukemia
a. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (leukemia) ditandai dengan
meringis dan melaporkan nyeri secara verbal
b. Resiko perdarahan b.d trombositopenia dan trauma

c. Keletihan b.d dengan status penyakit ditandai dengan lesu, peningakatan kebutuhan
istirahat dan mengatakan perasaan lelah
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis d.d
mengeluh makan dan kurang minat pada makanan
e. Resiko infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh primer yang tidak
4.
5.

adekuat.
Asuhan Keperawatan
(Terlampir)
Discharge Planning
Perawatan di rumah :
mendukung klien tetap beraktifitas
memonitor reaksi klien setelah beraktivitas
berikan makanan tinggi asam folat (kacang-kacangan, sayuran berwarna hijau,
daging), vitamin c
ijinkan penderita untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan.
perbaikan gizi saat selera makan penderita meningkat
Tindakan saat terjadi kekambuhan, pada umumnya serangan yang timbul adalah pusing,
pucat, dan sesak nafas, hal-hal yang perlu di perhatikan :
segera ambil posisi nyaman dengan tinggikan kepala di tempat tidur
hindari kerumunan orang
sirkulasi udara cukup
Intervensi keperawatan penderita leukemia anak di rumah pada prinsipnya sama dengan
penatalaksanaan perawatan akut :
Aspek kesehatan fisik dan mengatasi manifestasi klinis (physical well-being and
symptoms)
A. Memantau respons anak terhadap pengobatan kemoterapi.
a. Diare
Berikan cairan per oral. Lakukan perawatan kulit pada bokong dan daerah
perineum. Pantau efektivitas obat anti diare. Hindari makanan dan buahbuahan tinggi-selulose. Beri makan sedikit tapi sering jika mungkin beri
b.

makanan yang disukai anak. Kurangi atau jangan berikan daging.


Anoreksia
Observasi adanya tanda-tanda kekurangan cairan (dehidrasi). Beri makan
sedikit tapi sering yang berupa makanan lunak kaya zat gizi dan kalori.
Dianjurkan makan makanan yang disukai atau dapat diterima walaupun tidak

lapar. Hindari minum sebelum makan. Tekankan pada anak bahwa makan
c.

d.

e.

adalah bagian penting dalam program pengobatan.


Mulut kering
Makanan atau minuman diberikan dengan suhu dingin. Bentuk makanan cair.
Kunyah permen karet atau hard candy.
Mual dan muntah
Beri makanan kering. Hindari makanan yang berbau merangsang. Hindari
makanan lemak tinggi. Makan dan minum perlahan-lahan. Hindari makanan
atau minuman terlalu manis. Batasi cairan pada saat makan. Tidak tiduran
setelah makan.
Retensi cairan
Pantau asupan dan keluaran cairan. Timbang berat badan harian. Bila ada
anak sesak nafas (gawat pernapasan) segera dibawa ke rumah sakit. Ubah

f.

posisi tidur anak sesering mungkin.


Hiperuremia
Pantau asupan dan keluaran. Anjurkan anak untuk banyak minum. Lakukan

g.

perawatan kulit anak agar rasa gatal berkurang.


Demam dan menggigil
Catat frekuensi gejala. Berikan rasa nyaman dengan memberinya selimut dan

h.

mandi hangat-hangat kuku (tepid sponge).


Sariawan (stomatitis dan ulkus mulut)
Berikan rasa nyaman dengan sering berkumur, memakai cairan pencuci

i.

mulut, dan permen yang keras.


Rambut rontok (alopesia)
Persiapkan anak dan keluarga untuk menghadapi kerontokan rambut.
Yakinkan hati anak dan keluarga bahwa kerontokan rambut tersebut hanya
sementara. Siapkan anak dan keluarga tentang tumbuhnya rambut baru yang
berbeda warna dan tekstur dari rambutnya semula. Gunakan syal, topi, atau
wig sebelum rambut mulai rontok sebagai usaha untuk mengalihkan
perhatian. Sering keramas untuk mencegah cradle cap. Cegah penggunaan
bahan kimia rambut, seperti larutan pengkriting rambut yang permanen,
ketika rambut tumbuh kembali. Bantu anak memilih pakaian yang dapat

meningkatkan aspek positif penampilan anak.


B. Mencegah infeksi sekunder serta memantau adanya tanda dan gejala infeksi
a. Waspadai bahwa demam dan batuk adalah tanda yang terpenting dari infeksi.
Lebih banyak pasien yang meninggal karena infeksi daripada karena
b.

penyakitnya.
Buatkan kamar protektif yang semi steril mendekati ruangan isolasi di
rumah sakit.

c.

Minta anak memakai masker bila keluar rumah atau bersama orang lain
terutama bila sedang menderita neutropenik berat (leukosit kurang dari

d.

1000/mm3).
Cuci tangan dengan alkohol 80%. Gunakan semprotan alkohol untuk cuci

e.

tangan sebelum dan sesudah memegang anak.


Kurangi kontak dengan orang lain. Pada saat agranulositosis (jumlah total

f.

neutrofil)
Perawatan gigi dan mulut harus dikerjakan setiap hari. Setiap habis makan
dan terutama kalau mau tidur harus dilakukan sikat gigi (dengan sikat gigi

g.

yang harus), kumur betadin dan kumur antijamur.


Setiap hari diwajibkan memeriksa kulit secara menyeluruh dari ujung
rambut kepala sampai ujung kaki. Daerah kemaluan juga harus diperhatikan,
daerah tersebut sering terabaikan dan justru di daerah itu pula sering muncul

infeksi kulit.
h. Makanan hygienis.
i. Jaga kebersihan diri anak termasuk kuku yang bersih.
C. Pantau adanya tanda dan gejala komplikasi
a. Somnolens radiasi: Dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi kraniospinal,
anak menunjukkan keletihan berat dan anoreksia selama kira-kira 1 sampai 3
minggu. Orang tua sering kali merasa khawatir tentang terjadinya kambuhan
b.

pada saat ini dan perlu untuk diyakinkan.


Gejala SSP: Sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, muntah. Gejala-

c.

gejala tersebut dapat mengindikasikan keterlibatan SSP dalam leukemia.


Gejala pernapasan: Batuk dan sesak nafas. Gejala tersebut mengindikasikan

adanya pneumosistitis atau infeksi pernapasan lainnya.


D. Mencegah cedera yang dapat menyebabkan perdarahan
a. Pantau adanya tanda dan gejala perdarahan.
b. Periksa adanya memar dan kemerahan pada kulit.
c. Periksa adanya mimisan dan gusi berdarah.
d. Jaga agar kuku tetap pendek.
e. Hindari penumpuan beban pada alat gerak yang sakit
f. Hindari kecelakaan dan cedera. Pastikan lingkungan ruangan termasuk
barang-barang yang ada di ruangan agar benar-benar aman dan tidak berisiko
mencederai anak.
g. Anjurkan aktivitas bermain yang tenang.
E. Pemberian nutrisi
a. Tujuan diit
Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta
daya terima anak. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara
berlebihan. Mengurangi rasa mual, muntah, dan diare. Mengupayakan

perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan
b.

keluarganya.
Syarat-syarat diet di rumah
Energi tinggi, yaitu 36 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 32 kkal/kg BB untuk
perempuan. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi kurang, maka
kebutuhan energi menjadi 40 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 36 kkal/kg BB
untuk perempuan. Protein tinggi, yaitu 1-1,5 g/kg BB. Lemak sedang, yaitu
15-20% dari kebutuhan energi total. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari
kebutuhan energi total. Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A, B
kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen. Bila

c.

imunitas menurun (leukosit)


Jenis makanan atau diet yang diberikan hendaknya memperhatikan nafsu
makan, perubahan indra kecap, rasa cepat kenyang, mual, penurunan berat

d.

badan, dan akibat pengobatan.


Hindari makanan atau minuman yang merangsang batuk, misalnya makanan

e.

berminyak, makanan asam, pewarna makanan, MSG.


Sesuai dengan keadaan pasien, makanan dapat diberikan dalam bentuk
makanan padat, makanan cair, atau kombinasi. Untuk makanan padat dapat

f.

berbentuk makanan biasa, makanan lunak, atau makanan lumat.


Apabila terdapat kesulitan mengunyah atau menelan. Minum dengan
menggunakan sedotan. Makanan atau minuman diberikan dengan suhu
kamar atau dingin. Bentuk makanan disaring atau cair. Hindari makanan

terlalu asam atau asin.


F. Mengatasi nyeri dengan teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik.
Beberapa teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik yang dikelompokkan
menurut umur penderita leukemia, adalah :
a. Toddler (anak di bawah umur tiga tahun)
Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada toddler, antara lain:
mainan, buku cerita bergambar, musik, pernafasan terkontrol meniup air
b.

sabun, dan stimulasi kutan: usapan, pemijatan.


Anak usia prasekolah (3-4 tahun) Teknik

penatalaksanaan

nyeri

nonfarmakologik pada anak usia prasekolah, antara lain: mainan, buku cerita
bergambar, mencari gambar tersamar, mendengarkan musik atau dongeng
melalui headset, menonton video, imajinasi emotif-menggunakan super-hero
favorit anak untuk melawan nyeri, pernafasan terkontrol, stimulasi kutan,
c.

dan latihan perilaku menjadi akrab dengan prosedur melalui bermain.


Anak usia sekolah (5-12 tahun)

Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada anak usia sekolah,


antara lain: imajiner, mendengarkan musik atau dongeng melalui headset,
menonton video, bermain play-station atau video-games, pernafasan

6.

terkontrol, stimulasi kutan, dan latihan perilaku.


G. Mencegah dan mengatasi mukositis
a. Hindari sikat gigi yang berbulu keras.
b. Hindari makanan keras yang harus dikunyah berlebihan
c. Hindari makanan yang asam dan pedas.
d. Hindari makanan yang masih panas
Evidence based terkait dengan leukemia
A. Analisis Jurnal Leukimia 1
Cytotoxic and Anti-Tumour Promoting Activities of Carbazole Alkaloids from Malayan
Murraya koenigii (L.) Spreng
Sitotoksik Dan Aktifitas Pemicu Anti Tumor Carbazole Alkaloid Dari Malayan,
Murraya koenigii (L.) Spreng
Murraya koenigii (L.) (Rutaceae)adalah ramuan asli medis penting yang berasal dari
india. Batang kulit kayu, daun dan akar Murraya koenigii dipilih untuk penyelidikan
fitokimia.Delapan alkaloid karbazol diisolasi dan diidentifikasi menggunakan metode
spektroskopik seperti ID, 2D, NMR, IR, UV dan MS.. Ekstrak minyak mentah
senyawa terisolasi dari akar tanaman ini disaring untuk aktifitas sitotoksik dan aktifitas
pemicu antitumor. Semua ekstrak kasar akar termasuk senyawa terisolasi, mahanimbine,
mahanine, dan murraya Folin- A menunjukan aktivitas sitotoksik yang signifikan
terhadap garis sel CEM-SS (Leukimia limfoblastik T) dengan IC%) 3 mg/mL.
Girinimbine menghambat aktivasi EBV pada pengkajian aktifitas pemicu antikanker.
P: Population
Pada penelitian ini tidak menggunakan populasi manusia tetapi menggunakan garis sel
CEM-SS (leukemia T-lymphoblastic) diperoleh dari National Institutes Kanker,
Frederick,
Maryland, Amerika Serikat. Sel-sel dikultur dan dipelihara dalam medium pertumbuhan.
I: Intervention
Kulit kering (1,1 kg) dari Murraya koenigii yang digiling menjadi bubuk dan diekstraksi
terus direndam selama tiga hari dengan eter petroluem, kloroform dan metanol. Setiap
ekstraksi diulang tiga kali. kemudian ekstrak dikeringkan pada rotavapor. Setelah
penghapusan pelarut, minyak mentah dari petroleum eter (42,2 g), kloroform (40,5 g)
dan metanol (40,0 g) diperoleh. Setelah penguapan pelarut, 15,0 g petroluem yang
Minyak mentah eter dipisahkan dengan kromatografi kolom silika gel (gradien pelarut
sistem; Petroluem eter, CHCl3 dan MeOH) menghasilkan lima senyawa yang dikenal:

mahanimbine (1, 60,1 mg), girinimbine (2, 70,2 mg), murrayacine (3, 4,5 mg),
murrayazoline (4, 6,3 mg) dan murrayanine (5, 9,9 mg).
C: Compare
Dalam penelitian ini tidak ada yang menjadi perbandingan dalam melakukan percobaan
O: Outcome
Semua ekstrak kasar akar termasuk senyawa terisolasi, mahanimbine, mahanine, dan
murraya Folin- A menunjukan aktivitas sitotoksik yang signifikan terhadap garis sel
CEM-SS (Leukimia limfoblastik T) dengan IC%) 3 mg/mL. Girinimbine menghambat
aktivasi EBV pada pengkajian aktifitas pemicu antikanker.
T: Time
Setelah 48 jam, kelangsungan hidup sel diperiksa menggunakan pewarna biru tripan,
kemudian sel-sel dipindahkan ke dalam tabung eppendorf dan berputar ke bawah pada
1000 rpm selama 10 menit Supernatan yang pelet sel 1 mL PBS ditambahkan ke dalam
sel mencuci dan diulang dua kali, kemudian kembali berputar ke bawah pada 1000 rpm
selama 10 menit.
B. Analisis jurnal leukimia 2
Outcomes after Induction Failure in Childhood
Acute Lymphoblastic Leukemia
Hasil setelah kegagalan induksi pada anak-anak leukemia limfoblastik akut
Kegagalan terapi remisi-induksi adalah peristiwa langka tapi sangat merugikan pada
anak-anak dan remaja dengan leukemia limfoblastik akut (ALL).
P: Population
1041 dari 44.017 pasien (2,4%) 0-18 tahun dengan yang baru didiagnosis leukemia
limfoblastik akut (LLA) yang dirawat dengan total 14 kelompok belajar kooperatif.
I: Intervention
Kami mengidentifikasi kegagalan induksi, yang didefinisikan oleh kegigihan ledakan
leukemia dalam darah, sumsum tulang, atau situs extramedullary setelah 4 sampai 6
minggu terapi remisi-induksi, di 1041 dari 44.017 pasien (2,4%) 0-18 tahun dengan
yang baru didiagnosis yang dirawat dengan total 14 kelompok belajar kooperatif
antara tahun 1985 dan 2000. Kami menganalisis hubungan antara karakteristik
penyakit, pengobatan diberikan, dan hasil pada pasien ini.
C: Compare
Yang enjadi perbndingan pada penelitian ini yakni anak dengan leukemia
limfoblastik akut sel T dan leukemia limfoblastik akut sel B
O: Outcome
Pediatric ALL dengan kegagalan induksi sangat heterogen. Pasien yang memiliki
leukemia T-cell tampaknya memiliki hasil yang lebih baik dengan transplantasi sel
induk alogenik dibandingkan dengan kemoterapi, sedangkan pasien yang memiliki

prekursor leukemia sel-B tanpa fitur yang merugikan lainnya tampaknya memiliki
hasil yang lebih baik dengan kemoterapi.
T: Time
Pada penelitian ini dilakukan dengan tindak lanjut periode median selama 8,3 tahun.