Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks

(pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada


partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk
perkembangan normal, pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi
dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. 1
Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara
adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan
tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang
seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah akibat penjarangan molekul
tersebut. Pendengaran seperti halnya indra somatik lain merupakan indra
mekanoreseptor. Hal ini karena telinga memberikan respon terhadap getaran
mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. 1
Telinga pada manusia terdiri atas tiga daerah yaitu telinga luar, telinga
tengah dan telinga dalam. Telinga luar pada dasarnya merupakan corong
pengumpul suara yang terdiri atas pinna dan saluran pendengaran luar. Telinga
tengah adalah bagian yang menyalurkan suara dari telinga luar ke telinga dalam
dan telinga dalam yang mengubah suara menjadi rangsangan saraf. 1
Adanya cairan di telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa
adanya tanda-tanda infeksi disebut dengan otitis media efusi. Kejadian otitis
media dengan efusi sering terjadi pada anak-anak. dengan prevalensi usia 2-5
tahun. Selain itu, otitis media efusi memiliki rekurensi yang tinggi sekitar 50%
dalam 2 tahun. Sehingga diperlukan tatalaksana yang komprehensif untuk
mengobati otitis media efusi.2
1.2 Batasan Masalah
Makalah ini akan membahas mengenai anatomi dan fisiologi telinga,
definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor predisposisi, patofisiologi, klasifikasi,
1

diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis pada otitis


media efusi.
1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman
mengenai anatomi dan fisiologi telinga, definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor
predisposisi,

patofisiologi,

klasifikasi,

diagnosis,

diagnosis

banding,

penatalaksanaan, komplikasi, prognosis pada otitis media efusi.


1.4 Metode Penulisan
Metode yang dipakai dalam penulisan makalah ini berupa tinjauan
kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur dan makalah ilmiah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan fisiologi telinga1
Anatomi Telinga Tengah
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah
lateral dan kapsul otik di sebelah medial telinga tengah. Membrana timpani
terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga.
Membran ini berukuran sekitar 1 cm dengan selaput tipis yang normalnya
berwarna kelabu mutiara dan translusen. Telinga tengah adalah rongga berisi
udara yang merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah), dihubungkan
dengan tuba eustachii ke nasofaring dan berhubungan dengan beberapa sel berisi
udara di bagian mastoid tulang temporal.
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus
stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen
yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding
medial telinga tengah) yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam.
Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantarkan
telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat
ditutupi oleh membran sangat tipis dan dataran kaki stapes ditahan oleh struktur
tipis atau struktur berbentuk cincin. Anulus jendela bulat maupun jendela oval
mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami
kebocoran ke telinga tengah dan kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.
Tuba eustachii memiliki lebar sekitar 1 mm dan panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun
dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva
atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan
menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.

Gambar 1. Telinga Tengah1


Fisiologi Pendengaran1
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea.
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui
daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran
timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan
diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga cairan
perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana
Reissner yang mendorong cairan endolimfe sehingga akan menimbulkan gerak
relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan
rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel
rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik
dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial
aksi pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius lalu dilanjutkan
ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus
temporalis.

2.2. Definisi otitis media efusi3


Otitis media efusi atau otitis media serosa atau otitis media non supuratif
adalah keadaan terdapatnya sekret yang non purulen di telinga tengah, sedangkan
membran timpani utuh. Adanya cairan di telinga tengah dengan membran timpani
utuh tanpa adanya tanda-tanda infeksi disebut dengan otitis media efusi.
2.3. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, infeksi telinga tengah adalah masalah medis yang
paling umum pada bayi dan anak-anak usia prasekolah, merupakan diagnosis
utama yang paling sering pada anak-anak usia 5 tahun yang diperiksa dokter.
Pedoman klinis mendokumentasikan bahwa survei skrining anak-anak yang sehat
antara bayi dan usia 5 tahun menunjukkan prevalensi 15-40% menderita otitis
media efusi. Selain itu, di antara anak-anak yang diperiksa secara berkala selama
1 tahun, 50-60% dari peserta penitipan anak dan 25% dari anak usia sekolah yang
ditemukan memiliki otitis media efusi selama jangka waktu pemeriksaan dengan
kejadian puncak selama musim dingin. Antara 84-93% dari semua anak
pengalaman minimal 1 episode otitis media akut. Selain itu, sekitar 80% anak
telah memiliki episode dari otitis media efusi (OME) pada usia kurang dari 10
tahun. Pada waktu tertentu, 5% dari anak usia 2-4 tahun memiliki gangguan
pendengaran akibat otitis media efusi yang berlangsung 3 bulan atau lebih.
Prevalensi otitis media dengan efusi tertinggi pada mereka yang berusia 2 tahun
atau lebih muda, dan menurun pada anak-anak yang lebih tua dari 6 tahun.2
2.4. Etiologi dan faktor predisposisi2
Infeksi telinga tengah paling sering disebabkan oleh virus yang sama yang
menyebabkan common cold. Infeksi akut juga bisa disebabkan oleh bakteri yang
kadang-kadang biasanya berada di mulut dan hidung. Bakteri yang mempengaruhi
bayi baru lahir termasuk Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Bakteri
yang mempengaruhi balita dan anak-anak termasuk Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Infeksi pada awalnya
disebabkan oleh virus yang juga dapat menyebabkan infeksi bakteri.

Secara umum, penyebab otitis media efusi adalah :


1. Infeksi virus pada saluran nafas atas.
2. Tekanan negatif juga dapat terjadi pada telinga tengah yang sehat karena
peningkatan yang tiba-tiba dari tekanan udara (barotrauma).
3. Tumor yang menutupi muara tuba eustachius.
4. Defisiensi pembukaan aktif tuba oleh otot tensor veli palatini.
5. Adenoiditis, dll.
faktor predisposisi
Faktor lingkungan, usia, gangguan pada pembuluh darah, telah dikaitkan
dengan otitis media dengan efusi.
faktor-faktor lingkungan
Faktor lingkungan telah ditunjukkan dalam berbagai studi epidemiologi
sangat terkait dengan peningkatan prevalensi otitis media dengan efusi.
Faktor-faktor ini termasuk botol makan, memiliki saudara dengan otitis
media, memiliki alergi terhadap entitas lingkungan umum, memiliki status
sosial ekonomi rendah, tinggal di sebuah rumah di mana ada orang merokok,
dan memiliki riwayat orangtua otitis media dengan efusi.
Umur
Usia merupakan faktor predisposisi dalam pengembangan otitis media
dengan efusi. Pada bayi, tuba eustachius memiliki orientasi hampir
horizontal (relatif terhadap tanah) dan memiliki sudut 45 (seperti pada
orang dewasa) setelah beberapa tahun. Selain itu, ukuran dan bentuk tabung
eustachius saat lahir, tidak seperti pada orang dewasa, tidak menguntungkan
untuk ventilasi telinga tengah.
Beberapa studi anak-anak di Denmark mengungkapkan bahwa pada waktu
anak-anak berusia 1 tahun, tympanogram tipe B (datar) atau tipe C
(bertekanan negatif) dalam 24% dari telinga mereka. Peningkatan terjadi
pada musim semi dan musim panas, sedangkan memburuk di musim dingin.
Jenis tympanogram B memuncak pada anak usia 2-4 tahun, dan, seperti
yang diharapkan dengan prevalensi otitis media dengan efusi, penurunan
pada anak yang lebih tua dari 6 tahun.
6

Pada orang dewasa, otitis media unilateral dengan efusi sangat penting.
Entitas ini harus dipertimbangkan sebagai adanya massa nasofaring.

gangguan tuba Eustachius


Gangguan dalam pembukaan normal tuba eustachius juga dikaitkan
dengan peningkatan prevalensi otitis media dengan efusi. Ini biasanya
terjadi pada pasien yang memiliki langit-langit tidak sempurna dan pada
anak-anak dengan sindrom Down dan gangguan lain yang mempengaruhi
langit-langit. Selain itu, pembersihan mukosiliar menurun dan viskositas
lebih tinggi dari lendir pada cystic fibrosis telah dihipotesiskan untuk
menjelaskan prevalensi yang lebih tinggi dari otitis media dengan efusi
pada pasien dengan kondisi ini.

2.5. Patofisiologi
Tuba eustachius memiliki tiga fungsi yaitu untuk ventilasi, drainase sekret,
dan proteksi. Ventilasi berfungsi untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga
tengah selalu sama dengan tekanan udara luar. Pada keadaan normal, tuba
eustachius memiliki fungsi untuk mengalirkan mukus yang disekresi oleh mukosa
telinga tengah, yang digerakkan oleh transport mukosiliaris ke dalam nasofaring.
Untuk fungsi proteksi, tuba eustachius akan menutup jika ada sekret yang berasal
dari nasofaring sehingga sekret tersebut tidak dapat masuk ke dalam rongga
telinga tengah1. Pada keadaan normal tuba eustachius berada dalam keadaan
tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan masuk ke dalam telinga
tengah atau pada saat mengunyah, menelan, dan menguap. Tuba yang membuka
dibantu oleh otot tensor veli palatini apabila perbedaan tekanan berada antara 20
40 mmHg.3

Gambar 2. Patofisiologi Gangguan Tuba Eustachius4


Otitis media efusi merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh
gangguan fungsi tuba, yang didasari oleh dua gangguan fungsional yaitu sebagai
berikut.4,5
1. Gangguan ventilasi telinga tengah
Infeksi virus pada saluran nafas atas dapat menyebabkan terjadinya
stenosis lumen tuba saat edema mukosa yang inflamasi. Udara dalam
kavum timpani diabsorpsi secara mikrosirkulasi ke mukosa telinga tengah
sehingga menyebabkan terjadinya tekanan negatif pada telinga tengah.
Infeksi virus dan bakteri dapat menyebabkan peningkatan produksi dan
viskositas dari sekresi yang berasal dari telinga tengah.
Tekanan negatif juga dapat terjadi pada telinga tengah yang sehat karena
peningkatan yang tiba-tiba dari tekanan udara (barotrauma), misalnya pada
pesawat yang mendarat. Mukosa dari tuba eustachius kolaps dan tekanan
negatif tersebut dapat menyebabkan edema mukosa.
Terjadinya obstruksi ekstrinsik pada tuba, misalnya pada tumor.
8

Defisiensi pembukaan aktif tuba oleh otot tensor veli palatini. Terjadinya
malformasi dari rahang dan palatum dapat mengganggu bahkan
menghentikan otot pembuka tuba, yang menyebabkan inflamasi kronik
pada telinga tengah.
2. Infeksi dan inflamasi
Adenoiditis : pada bayi dan anak-anak, paparan mikroorganisme dapat
menginflamasi mukosa jaringan cincin Waldeyer sehingga menyebabkan
inflamasi. Tonsil adenoid yang membesar dapat menutupi muara tuba
eustachius sehingga menimbulkan tekanan negatif di telinga tengah yang
menyebabkan otitis media.
Infeksi pada mukosa telinga tengah : infeksi yang terjadi pada saluran
nafas atas dapat berpindah ke atas dan berjalan melalui tuba eustachius ke
dalam telinga tengah (infeksi tubogenik).
Inflamasi non-infeksius : inflamasi toksik atau alergik pada saluran nafas
atas dapat menyebabkan adenoiditis dan obstruksi hidung. Cairan refluks
dapat berkontribusi juga ada inflamasi. Mekanisme ini penting pada bayi
dan anak-anak yang memiliki tuba eustachius yang lebih pendek yang
menawarkan sedikit proteksi.
2.6. Klasifikasi
Otitis media efusi diklasifikasi berdasarkan jenis sekretnya yaitu sebagai
berikut.3
1. Otitis media serosa
Otitis media serosa terjadi akibat transudat atau plasma yang mengalir dari
pembuluh darah kapiler ke telinga tengah yang terjadi akibat perbedaan
tekanan hidrostatik.
2. Otitis media mukoid
Otitis media mukoid timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista
yang terdapat dalam mukosa telinga tengah, tuba eustachius, dan rongga
mastoid.
Klasifikasi otitis media serosa berdasarkan onset terjadinya penyakit yaitu
sebagai berikut.3
1. Otitis media serosa akut
Angka kejadian otitis media serosa akut lebih sering terjadi pada dewasa.
Otitis media serosa akut terjadi akibat terbentuknya sekret di telinga
9

tengah secara tiba-tiba yang disebabkan gangguan fungsi tuba yang


disebabkan antara lain:
- Sumbatan tuba yang menyebabkan terbentuknya cairan di telinga
-

tengah karena tersumbatnya tuba secara tiba-tiba


Terjadinya infeksi virus pada saluran nafas atas sehingga menyebabkan

terbentuknya cairan
Reaksi alergi menyebabkan terbentuknya cairan pada saluran nafas

atas.
- Idiopatik
2. Otitis media serosa kronis (glue ear)
Sekret pada otitis media serosa kronis terbentuk secara bertahap tanpa rasa
nyeri dan lebih sering terjadi pada anak-anak. Sekret tersebut kental seperti
lem sehingga disebut sebagai glue ear.
2.7.

Diagnosis
Otitis media efusi dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis, hasil

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.


1.

Anamnesis
Beberapa gejala otitis media efusi berdasarkan keluhan pasien yaitu
berkurang sampai hilangnya pendengaran, rasa penuh atau tersumbat di
telinga. Gejala otitis media efusi yang terjadi pada anak biasanya jarang
dikeluhkan, tetapi patut dicurigai jika pada anak tersebut terdapat
keterlambatan bicara2,3. Pada otitis media serosa akut juga terjadi
diplacusis binauralis yaitu suara sendiri terdengar lebih nyaring pada
telinga yang sakit. Pasien mengeluhkan terdapat cairan yang terasa
bergerak di dalam telinga saat posisi kepala berubah. Dapat terjadi nyeri
telinga pada barotraumas, tetapi jika penyebabnya virus atau bakteri
biasanya pasien tidak merasakan nyeri. Pada beberapa pasien terdapat
vertigo dan tinnitus.3

2.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu otoskopi dan tes penala. Pada
pemeriksaan otoskopi dapat terlihat membran timpani yang kelabu atau
menguning yang telah kekurangan pergerakan. Jika membran timpani
translusen, maka dapat terlihat air-fluid level atau gelembung udara kecil
pada telinga tengah.
10

Gambar 3. Gambaran membran timpani dengan : a. air-fluid level, b.


bubble appearance4
Pada otitis media efusi yang sudah lama, membran timpani yang terlihat
pada otoskopi masih utuh tetapi suram, berwarna kuning kemerahan atau
keabu-abuan.

Gambar 4.

Gambaran membran

timpani

pada otitis media

efusi

kronis4

Pada tes penala dapat ditemukan tuli konduktif pada pasien dengan otitis
media efusi, dengan tes Rinne negatif, tes Weber lateralisasi ke telinga
yang sakit, dan tes Schwabach memanjang pada telinga yang sakit.
3.

Pemeriksaan penunjang5
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu
sebagai berikut.
Timpanometri : dengan mengukur kompliens dari mekanisme
transformer telinga tengah, timpanometri menyediakan pemeriksaan
objektif

untuk

status

telinga

tengah.

Timpanometri

akan

memperlihatkan sebuah puncak (misalnya pada kompliens maksimal)


ketika tekanan di kanalis akustik eksternal sama dengan di telinga

11

tengah. Dengan membedakan tekanan di telinga luar, apabila terdapat


efusi maka kompliensnya tidak akan bervariasi dengan perubahan
tekanan telinga luar atau bisa terbentuk flat timpanogram (tipe B). Jika
tekanan telinga tengah sama atau mendekati tekanan atmosfer,
terbentuk timpanogram normal (tipe A). Jika tekanannya negative
maka akan terbentuk puncak kompliens yang berada dibawah -99daPa
(tipe C).

Gambar 5. Timpanogram

Audiometri : pasien dengan otitis media efusi biasanya memiliki tuli


konduktif yang moderate. Audiometri menyediakan pemeriksaan
keparahan kehilangan pendengaran dan meskipun begitu sangat
penting pada monitoring progress dari kondisinya dan menyediakan
informasi

yang

berguna

pada

pengambilan

keputusan

untuk

manajemen terapi.
2.8. Diagnosis Banding
Otitis media akut stadium oklusi tuba eustachius. Perbedaan otitis media
akut dan otitis media efusi dapat dinilai berdasarkan adanya episode akut (kurang
dari 48 jam) onset gejala inflamasi seperti nyeri telinga, gelisah, demam, adanya
sekret yang sering terjadi pada otitis media akut.5
2.9. Penatalaksanaan
Pengobatan otitis media efusi tergantung kepada penyebab yang mendasari
penyakit tersebut.
12

1. Otitis media serosa akut


Pengobatan dapat secara medikamentosa dan pembedahan. Pada pengobatan
medical diberikan obat vasokonstriktor lokal (tetes hidung), antihistamin, perasat
Valsava , bila tidak ada tanda-tanda infeksi saluran nafas atas.3
Setelah satu atau dua minggu, bila gejala-gejala masih menetap, dilakukan
miringotomi dan bila masih belum sembuh maka dapat dilakukan miringotomi
serta pemasangan pipa ventilasi (Grommet). Grommet atau ventilation tube
merupakan tube kecil yang terbuat dari plastik yang diinsersikan melalui sebuah
lubang kecil pada membran timpani. Grommet akan membantu drainase cairan
yang terkumpul pada telinga tengah dan ventilasi pada telinga tengah.2

Gambar 6. Pemasangan pipa Grommet6


2. Otitis media serosa kronik (glue ear)
Pengobatan yang harus dilakukan adalah mengeluarkan sekret dengan
miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi (Grommet). Pada kasus yang masih
baru pemberian dekongestan tetes hidung serta kombinasi anti histamin dan
dekongestan per oral seringkali bisa berhasil. Sebagian ahli menganjurkan
pengobatan medikamentosa selama 3 bulan, bila tidak berhasil baru dilakukan
tindakan operasi.
Di samping itu harus pula dinilai serta diobati faktor-faktor penyebab seperti
alergi, pembesaran adenoid atau tonsil, dan infeksi hidung dan sinus.3
2.10. Komplikasi5
Terdapat dua komplikasi akibat otitis media efusi yaitu :

13

1.Gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran yang bersifat


sementara. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan bahasa dan prilaku
jika dialami oleh anak-anak.
2.

Kerusakan

kronis

pada

anatomi

membran

timpani

seperti

timpanosklerosis. Hal ini tergantung pada berapa lama seseorang


menderita otitis media efusi dan tekanan negatif pada telinga tengah.
Komplikasi pada otitis media efusi tergantung pada jenis efusinya seperti
efusi seosa atau purulent dengan tekananan telinga tengah yang negatif dan efusi
mukoid kronis dengan tekanan telinga tengah negatif serta adanya perubahan
anatomis pada membrane timpani. Adanya efusi yang mukoid dapat membuat
membrane timpani mengalami retraksi, atelektasis, adhesi membran timpani pada
tulang-tulang pendengaran, sehingga perlu evalusia dalam 4-6 minggu.5
2.11. Prognosis5
Anak-anak dengan otitis media efusi memiliki prognosis yang baik untuk
mencapai tahap resolusi sekitar 60% dalam 1 bulan dan 75% setelah 3 bulan.
Namun otitis media efusi memiliki 30-40% kemungkinan rekurensi kembali
setelah diobservasi beberapa tahun menurut sebuah penelitian.
BAB III
PENUTUP
Otitis media efusi atau otitis media serosa atau otitis media non supuratif
adalah keadaan terdapatnya sekret yang non purulen di telinga tengah, sedangkan
membran timpani utuh. Di Amerika Serikat, infeksi telinga tengah adalah masalah
medis yang paling umum pada bayi dan anak-anak usia prasekolah, merupakan
diagnosis utama yang paling sering pada anak-anak usia 5 tahun yang diperiksa
dokter. Pedoman klinis mendokumentasikan bahwa survei skrining anak-anak
yang sehat antara bayi dan usia 5 tahun menunjukkan prevalensi 15-40%
menderita otitis media efusi. Infeksi telinga tengah paling sering disebabkan oleh
virus yang sama yang menyebabkan common cold. Infeksi akut juga bisa
14

disebabkan oleh bakteri yang kadang-kadang biasanya berada di mulut dan


hidung.
Secara umum, penyebab otitis media efusi adalah infeksi virus pada saluran
nafas atas, tekanan negatif juga dapat terjadi pada telinga tengah yang sehat
karena peningkatan yang tiba-tiba dari tekanan udara (barotrauma),tumor yang
menutupi muara tuba eustachius, defisiensi pembukaan aktif tuba oleh otot tensor
veli palatini, adenoiditis, dll. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
otitis media efusi adalah faktor lingkungan, usia, gangguan pada pembuluh darah,
telah dikaitkan dengan otitis media dengan efusi. Otitis media efusi terbagi atas
otitis media serosa akut dan kronis. Otitis media efusi dapat didiagnosis
berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pengobatan otitis media efusi tergantung kepada penyebab yang mendasari
penyakit tersebut berupa medikamentosa dan pembedahan. Anak-anak dengan
otitis media efusi memiliki prognosis yang baik untuk mencapai tahap resolusi
sekitar 60% dalam 1 bulan dan 75% setelah 3 bulan. Namun otitis media efusi
memiliki 30-40% kemungkinan rekurensi kembali setelah diobservasi beberapa
tahun menurut sebuah penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. 2006.
Singapore. Elsevier Inc.

2.

Dhooge I, Desloovere C, Boudewyns A, Kempen MV, Dachy JP.


Management of Otitis Media with Effusion in Children. Journal B-Ent
Guidelines:2005;3:15.Diunduh

dari

www.

ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16363264. pada 10 Oktober 2014.


3.

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. 2007.

4.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI.


Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology: A step-by-step
Learning Guide. 2006. New York: Thieme.
15

5.

Lalwani AK. Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology, Head and


Neck Surgery. Second edition. 2008. New York: McGraw Hill.

6.

Onerci TM. Diagnosis in Otorhinolaryngology. 2009. Berlin Heidelberg:


Springer.

16