Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS VEGETASI MENGGUNAKAN METODE TITIK DI

BEDENGAN DESA SELOREJO KECAMATAN DAU KABUPATEN


MALANG

Laporan Praktikum

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Analisis Vegetasi yang Dibimbing


oleh Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si

Oleh:
Kelompok 4
Pramesti Dwi R

120342422488

Rahmah Sari N. R

120342422484

Tiara Dwi Nurmalita

120342400172

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2015

A. Topik
Analisis tumbuhan menggunakan metode titik.
B. Tujuan
1. Mengetahui indeks nilai penting tumbuhan bawah di bedengan.
2. Mengetahui hubungan faktor abiotik dengan indeks nilai penting
tumbuhan bawah di bedengan.
3. Mengetahui indeks similaritas tumbuhan bawah di bedengan.
4. Mengetahui hubungan faktor abiotik dengan indeks similaritas tumbuhan
bawah di bedengan.
5. Mengetahui ordinasi antar stand di bedengan.
6. Mengetahui kadar air tanah di bedengan.
C. Alat dan Bahan
1. Roll meter
2. Point frame
3. Lembar data
4. Soil Termometer
5. Multi Parameter Tester
6. Termo Higrometer
D. Prosedur Kerja
1. Membuat 10 titik yang masing-masing titik berjarak 10 cm pada pipa
paralon (sudah tersedia yaitu pont frame).
2. Memilih contoh komunitas vegetasi yang akan dipakai untuk pengamatan.
3. Menancapkan kawat pada setiap titik dan menebar pipa (point frame)
tersebut secara sistematis.
4. Melakukan analisis vegetasi berdasarkan variable-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi pada tumbuhan yang mengenai setiap kawat
tersebut.
5. Melakukan 15 kali pengamatan, sehingga akan diperoleh 15 seri titik (15
kali peletakan point frame).
6. Mencatat jumlah jenis yang terkena tusukan, kemudian dimasukkan
kedalam lembar data.
7. Melakukan perhitungan untuk mencari fekuensi relatif, dominansi mutlak,
dominansi

realtif

dan

nilai

penting

serta

perhitungan

ordinasi

menggunakan indeks Sorensen.


Besaran yang dapat dihitung:
Jumlah petak contoh yang memuat jenis tumbuhan
1. Frekuensi
=
Jumlah tusukan contoh

2. Dominansi (cover)

Jumlah tusukan yang menyentuh jenis


Jumlah tusukan

3. Frekuensi relatif

4. Dominansi relatif

Frekuensi mutlak jenis


Frekuensi seluruhnya

Dominansi mutlak jenis


Dominansi seluruhnya

5. Nilai penting suatu jenis = frekuensi relatif + dominansi relatif

E. Hasil Pengamatan
Tabel Spesies dan Jumlah Tanaman yang Didapatkan

No.

Spesies
1
2
3
4
5
6
7
8

Equisetum debile Roxb


Panicum repens L.
Mikania micrantha Kunth
Cyperus compactus Retz.
Oxalis barrelieri L.
Paspalum sp
Eleusine indica (L.) Gaertn
Brachiaria
jumlah

Plot
1

3
1

1
1

10

11

12

13

14

15

8
1
1

1
2
10 10 10 10

1
1
1
2
7

1
8
9

2
2

6
7

1
6

Tabel Perhitungan INP


No

Spesies

total F

Fr

Dr

INP

1 Equisetum debile Roxb

83 0.866667

2 Panicum repens L.

3 Mikania micrantha Kunth

2 0.133333

4 Cyperus compactus Retz.

1 0.066667

5 Oxalis barrelieri L.

1 0.066667

6 Paspalum sp

1 0.066667

7 Eleusine indica (L.) Gaertn


8 Brachiaria
Jumlah

Tabel Faktor Abiotik

0.2

10 0.133333
12 0.333333
113 1.866667

0.55333
3
0.02
0.01333
3
0.00666
7
0.00666
7
0.00666
7
0.06666
7
0.08

0.46427
7
0.10714
1
0.07142
7
0.03571
4
0.03571
4
0.03571
4
0.07142
7
0.17856
8

0.73451
3 1.198791
0.02654
9 0.13369
0.01769
9 0.089126
0.00885 0.044563
0.00885 0.044563
0.00885 0.044563
0.08849
6 0.159923
0.10619
5 0.284763
0.753333

Faktor Abiotik
Suhu tanah
Suhu udara
pH
Kelembapan tanah
Kelembapan udara
Intensitas cahaya
Kesuburan

1
28oC
24 oC
7
1
70%
5x1000
To little

2
29,5 oC
28 oC
7
1
62%
6x1000
To little

3
36 oC
28 oC
7
1
64%
5x1000
To little

Tabel Kadar Air Tanah


Plot
1
2
3

Berat Awal (g)


52.1
75.1
52.8

Berat Akhir (g)


37.3
49.7
31.9

Kadar Air (g)


14.8
25.4
20.9

F. Analisis Data
Perhitungan Indeks Similaritas
Membuat Ordinasi dari data vegetasi yang dihasilkan menggunakan metode titik:
1. Perhitungan Indeks Similaritas menggunakan Indeks Sorensen yang dimodifikasi oleh Motyka
IS = 2W/ (A+B)
2. Membentuk matrik nilai koefisien komunitas (CC)
Setiap stand n terdapat CC sebanyak n x (n-1)/2
3. Data indeks similaritas diubah menjadi indeks disimilaritas dengan menggunakan perhitungan 100 - CC

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

3
26.6

4
44.

0
87.5
73.33

12.5
0

7
0

4
0

3
55.55

100

100

100
85.71

6
14.

7
15.

8
11.

9
11.

10
23.

11
11.

12
13.

13
12.

14
13.

15
14.

0
0

3
0
13.

4
0
14.

8
0
11.

8
0
11.

5
0
11.

8
0
11.

3
0
12.

5
0
11.

3
0
12.

3
0
13.

20

3
22.

1
16.

1
16.

1
33.

1
16.

8
18.

3
22.

80

2
22.

25

7
16.

7
16.

20

20

100

100
86.6

100
77.

0
77.

25
30.

7
23.

0
11.

0
11.

7
23.

0
13.

0
12.

0
13.

0
14.

4
84.61

100

7
85.7

0
69.

8
12.

8
12.

3
14.

5
13.

3
14.

3
15.

5
88.23

100

1
88.8

75
83.

75
83.

2
76.

25

25

3
11.

3
10.

3
11.

4
11.

5
88.23

100

9
88.8

3
83.

5
88.

75
87.

10

10

20

1
11.

5
10.

1
11.

8
11.

5
76.47

100

9
88.8

3
66.

100

2
83.

5
87.

90

20

10

1
11.

5
10.

1
11.

8
11.

1
88.23

100

9
88.8

7
83.

100
83.

3
76.

90

80

10

1
11.

5
11.

1
11.

8
11.

100

75

80

90

90

12
13
14
15

86.66

86.

85.

88.

88.

88.

88.

10.

12.

13.

100

87.5
88.2

80
81.

100

7
87.

7
86.

9
89.

9
89.

9
89.

9
88.

0
89.

5
11.

3
12.

87.5
86.66

100

100

5
86.

7
85.

5
88.

5
88.

5
88.

2
88.

5
87.

0
88.

5
13.

7
85.71

100

87.5
86.6

80
77.

100

7
85.

7
84.

9
88.

9
88.

9
88.

9
88.

5
86.

2
87.

0
86.

100

100

4. Indeks similaritas dipindahkan ke grafik menggunakan rumus Beals:


X=

L2 +dA 2dB2
2L

X = Jarak dari sumbu X


dA2= nilai disimilaritas antara stand a dengan stand yang dicari
dB2=nilai disimilaritas antara stand b dengan stand yang dicari
L= nilai disimilaritas antara komunitas a dan komunitas b
Menurut Bray & Curties untuk acuan pertama dapat memilih stand I (dA). Kemudian acuan kedua dapat ditentukan indeks disimilaritas
terbesar terhadap acuan pertama (dA) akan diperoleh dB.

Dengan demikian diperoleh nilai dA dan dB sebagai berikut:


stan
d

2
87.

3
73.

4
55.

5
10

6
85.

7
84.

8
88.

9
88.

10
76.

11
88.

12
86.

13
87.

14
86.

15
85.

dA

0
88.

5
10

3
88.

6
83.

0
83.

7
76.

7
88.

5
89.

7
88.

7
88.

dB

75

90

90

80

Kemudian memilih dua stand yang paling berbeda yaitu acuan pertama (A) dan acuan kedua (B) sebagai titik absis yang mempunyai nilai
ID terbesar sebagai L Lalu diperoleh nilai X sebagai berikut:
2

X1=

(100) +(0) (88,2)


200

X2=

(100)2+(87,5)2(100)2
200

X3=

(100) +(73,3) (88,9)


200

= 37,4

X4=

(100)2+(55,6)2(83,3)2
200

= 30,7

= 11,1

= 38,3

X5=

(100) +(100) (83,3)


200

X6=

(100) +(85,7) (76,5)


200

= 65,3
2

=5

X7=

(100) +(84,6) (75)


200

X8=

(100)2+(88,2)2(0)2
200

X9=

(100) +(88,2) ( 90)


200

= 48,4

X10=

(100)2+(76,5)2(90)2
200

= 38,7

X11=

(100) +(88,2) (80)


200

X12=

(100)2+(86,7)2(88,9)2
200

X13=

(100) +(87,5) (89,5)


200

= 48,2

X14=

(100)2+(86,7)2(88,9)2
200

= 48

X15=

(100) +(85,7) (88,2)


200

= 57,7

= 88,9
2

= 56,9

= 48

= 47,8

Setelah diperoleh X dilanjutkan mencari stand acuan untuk menghitung sumbu Y.


Untuk acuan stand lebih dahulu menghitung e (e2 = A)
e=

d A 2x 2

e1 =

(0)211,12

123

e2 =

(87,5)238,32

= 78,68

e3 =

(73,3)237,4 2

= 63,09

e4 =

(55,6)230,72

= 46,3

e5 =

(100)265,32

= 75,75

e6 =

(85,7)257,7 2

= 63,57

e7 =

(84,6)257,7 2

= 61,92

e8 =

(88,2)288,92

e9 =

(88,2)248,4 2

= 73,76

e10 =

(76,5)238,72

= 65,93

e11 =

(88,2)256,92

= 67,41

e12 =

(86,7)2482

e13 =

(87,5)248,22

e14 =

(86,7)2482

e15 =

(85,7)247,82

123

= 72,13
= 72,99
= 72,13
= 71,14

Setelah diperoleh e1 sampai e15, maka nilai Y dihitung menggunakan:


' 2

Y=

' 2

' 2

( L ) +(d A ) ( d B )
2 L'

Lalu diperoleh Y sebagai berikut:


Y1 =

(100)2+(87,5)20
2 x 100

= 11, 71875 = 11,7

87,5

2
Y2 =
= 61,71875 =61, 7
2
(100) +(100)2

73,33333333

2
Y3 =
=73,11111111 = 73,1
2
2
(100) +(100)

55,5555556

2
Y4 =
=84,56790121 = 84,6
2
2
(100) +(100)

100

2
Y5 =
= 50
(100)2+(100)2

Y6=

(100) +(100) (85,71428571)


2 x 100

= 63,26530613 = 63,3

Y7=

(100)2+(100)2 (84,61538462)2
2 x 100

= 64,20118343 = 64,2

Y8=

(100) +(100) (88,23529412)


2 x 100

= 61,07266436 = 61

Y9=

(100)2+(100)2 (88,23529412)2
2 x 100

= 61,07266436 = 61

Y10=

(100) +(100) (76,47058824)


2 x 100

= 70,76124567 = 70,7

Y11=

(100)2+(100)2 (88,23529412)2
2 x 100

= 61,07266436 = 61

Y12=

(100) +(100) (86,6666667)


2 x 100

= 62,44444442 = 62,4

87,5

2
Y13 =
= 61,71875 =61, 7
2
2
(100) +(100)

Y14=

(100) +(100) (86,6666667)


2 x 100

= 62,44444442 = 62,4

Y15=

(100) +(100) (85,71428571)


2 x 100

= 63,26530613 = 63,3

Dari hasil perhitungan X dan Y posisi geometris setiap stand dapat digambarkan
dengan data sebagai berikut,
Tabel Perhitungan Sumbu X dan Y
Stan
d
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Sumbu x
11.1
38.3
37.4
30.7
65.3
57.5
57.7
88.9
48.4
38.7
56.9
48
48.2
48
47.8

Sumbu y
11.7
61.7
73.1
84.6
50
63.3
64.2
61
61
70.7
61
62.4
61.7
62.4
63.3

Grafik Ordinat
100
84.6
73.1
70.7
64.2
63.3
63.3
62.4
61.7
61.7
61 61
50

80
60
sumbu y

61
stand

40
20

11.7

0
0

20

40

60

80

100

sumbu x

Diagram
ordinasi dengan X dan Y

a.

Analisis Statistik
Dalam analisis data pada metode titik ini selain IS yang dihitung yaitu

Frekuensi, Dominansi (Cover), Frekuensi relatif, Dominansi relatif dan INP


Jumlah petak contoh yang memuat jenis tumbuhan
Jumlah tusukan contoh

1. Frekuensi mutlak =

13
15

Equisetum debile Roxb =

Panicum repens L.

3
15

2
15

= 0,13 Brachiaria =

1
15

Cyperus compactus Retz.=


1
15

1
15

Paspalum sp. =

= 0,067

= 0,2 Eleusine indica (L.) Gaertn =

Mikania micrantha Kunth =

Oxalis barrelieri L.=

= 0,867

5
15

2
15

= 0,33

= 0,06

= 0,067

2. Dominansi mutlak (Cover) =


83
150

Equisetum debile Roxb =

Jumlah tusukan yang menyentuh jenis


Jumlah tusukan

= 0,553

Paspalum sp. =

1
150

0,0067
Panicum repens L.

10
150

= 0,13

3
150

= 0,02

E. indica (L.) Gaertn =

= 0,067

Mikania micrantha Kunth =

Cyperus compactus Retz.=

2
150
1
150

= 0,013 Brachiaria =

= 0,0067

12
150

= 0,08

1
150

Oxalis barrelieri L.=

3. Frekuensi Relatif =

= 0,0067

Frekuensi mutlak jenis


Frekuensi seluruhnya

x 100%

1,3
1,8667

x 100% = 46,43%

Panicum repens L.

0,3
1,8667

x 100% = 10,7%

Mikania micrantha Kunth

0,2
1,8667

x 100% = 7,1%

Cyperus compactus Retz.

0,1
1,8667

x 100% = 3,57%

Oxalis barrelieri L.

0,1
1,8667

x 100% = 3,57%

Paspalum sp.

0,1
1,8667

x 100% = 3,57%

Equisetum debile Roxb

E. indica (L.) Gaertn =

0,2
1,8667

x 100% = 7,1%

Brachiaria

0,5
1,8667

x 100% = 17,86%

4. Dominansi Relatif =

Dominansi mutlak jenis


Dominansi seluruhnya

x 100%

0,553
0,753

x 100%

Panicum repens L.

0,02
0,753

x 100% = 2,65%

Mikania micrantha Kunth

0,013
0,753

x 100% = 1,77%

Equisetum debile Roxb

= 73,5%

Cyperus compactus Retz.

0,0067
0,753

Oxalis barrelieri L.

0,0067
0,753

x 100% = 0,88%

Paspalum sp.

0,0067
0,753

x 100% = 0,88%

E. indica (L.) Gaertn

0,067
0,753

x 100% = 8,85%

Brachiaria

0,08
0,753

x 100% = 10,6%

x 100% =0,88 %

5. Nilai Penting suatu jenis = frekuensi relatif + dominansi relatif


Equisetum debile Roxb

= 46,4+ 73,5 = 119,9

Panicum repens L.

= 10,7+ 2,6

= 13,4

Mikania micrantha Kunth

= 7,1+ 1,77

= 8,9

Cyperus compactus Retz.

= 3,6 + 0, 88 = 4,46

Oxalis barrelieri L.

= 3,6 + 0, 88 = 4,46

Paspalum sp.

= 3,6 + 0, 88 = 4,46

Eleusine indica (L.) Gaertn

= 7,1+ 8,85

Brachiaria

= 17,9+ 10,6 = 28,5

= 15,99

b. Analisis Deskriptif
Dari analisis data statistik diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak yang
tertinggi yaitu Spesies Equisetum debile Roxb dengan nilai 0,8667 dan frekuensi
relatifnya sebesar 46,4%, sedangkan frekuensi terendah yaitu spesies Cyperus
compactus Retz., Oxalis barrelieri L.dan Paspalum sp. dengan nilai 0,0667 dan

frekuensi relatifnya sebesar 3,6%. Nilai dominansi mutlak (cover) yang tertinggi
juga di tempati oleh Spesies Equisetum debile Roxb dengan nilai 0,5533 dan
dominansi relatifnya sebesar 73,5%, begitu juga dengan INP, spesies dengan INP
tertinggi yaitu spesies Equisetum debile Roxb dengan nilai 119,9 dan spesies
dengan INP terendah yaitu Cyperus compactus Retz., Oxalis barrelieri L.dan
Paspalum sp. yang memiliki nilai INP yang sama yaitu 4,46. Perbedaan nilai
dominansi dan frekuensi dapat dikarenakan pengaruh keberadaan dan persebaran
dalam area tersebut serta dipengaruhi faktor abiotik lingkungannya.
Berdasarkan hasil analisis statistik penghitungan titik ordinat untuk
mengetahui kemiripan komponen penyusun stand 1 hingga 15 didapatkan hasil
bahwa stand 3 memiliki komponen tumbuhan penyusun yang mirip dengan stand
10, stand 6 memiliki kemiripan komponen penyusun dengan stand 7 dan 11,
sedangkan stand 9 memiliki kemiripan komposisi tumbuhan penyusun dengan
stand 12, 13, 14 dan 15. Berdasarkan grafik dan hasil penghitungan titik ordinasi,
stand1, 2, 4, 5 dan 8 memiliki komposisi tanaman penyusun yang berbeda jika
dibandingkan dengan stand-stand yang lain.
kadar air di lokasi penelitian digunakan metode gravimetri dengan cara
menimbang tanah sebelum dan setelah pengeringan. Berat tanah sebelum
pengeringan dicatat sebagai berat awal, proses pengeringan dilakukan dengan
menggunakan oven selama 24 jam dan berat setelah pengeringan dicatat sebagai
berat akhir. Kadar air didapatkan dari selisih berat awal dan akhir setelah tanah
dikeringkan. Berdasarkan pengukuran yang sudah dilakukan didapatkan hasil
bahwa pada plot 1 kadar air tanahnya seberat 14,8 gram. Pada plot 2 kadar air
seberat 25,4 gram dan pada plot 3 kadar airnya seberat 20,9 gram.

G. Pembahasan
1.
Hubungan Indeks Nilai Penting Tumbuhan Bawah (Herba) dengan
Faktor Abiotik
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan 8 jenis tumbuhan yaitu
Equisetum debile Roxb, Panicum repens L., Mikania micrantha Kunth, Cyperus
compactus Retz., Oxalis barrelieri L., Paspalum sp, Eleusine indica (L.) Gaertn,

Brachiaria. Tumbuhan yang mendominasi adalah Equisetum debile Roxb, hal itu
dapat dilihat pada Indeks Nilai Penting yaitu 0.06267%. Hal tersebut menandakan
bahwa faktor lingkungan mendukung vegetasi Equisetum debile Roxb untuk
hidup di daerah tersebut.
Banyak spesies pada genus Equisetum yang lebih suka hidup pada tanah
yang lembab berpasir. Ada juga yang hidup pada tanah yang semi-akuatik dan
tanah berlumpur. Equistum biasa hidup pada kisaran pH 7 hingga 8
(Wikipedia.org). Hal tersebut sesuai dengan data di lapangan yang menunjukkan
bahwa pH pada stand-stand yang terdapat Equisetum debile-nya memiliki pH
sebesar 7.
Menurut Setiadi (2005) dominasi setiap spesies berbeda-beda tergantung
pada kemampuan spesies untuk hidup pada suatu tempat terhadap kondisi
lingkungan di tempat tersebut. Oleh karena itu, lingkungan sangat berperan dalam
menyeleksi spesies untuk dapat bertahan pada suatu habitat. Secara ekologi dapat
dikemukakan bahwa nilai penting (NP) yang diperlihatkan oleh setiap spesies
merupakan indikasi bahwa spesies yang bersangkutan dianggap dominan di
tempat tersebut yaitu mempunyai nilai frekuensi, densitas, dan dominansi lebih
tinggi dibandingkan spesies lain.
2.
Hubungan Indeks Similaritas Tumbuhan Bawah dengan Faktor Abiotik
Analisis hasil perhitungan indeks similaritas seluruh stand pengamatan
menunjukkan nilai indeks similaritas dibawah 50%. Menurut Djufri (2003) secara
ekologi stand yang memiliki indeks similaritas yang rendah memberikan indikasi
bahwa komposisi yang menyusun komunitas tersebut berbeda. Semakin kecil nilai
indeks similaritas untuk setiap kombinasi stand pengamatan maka semakin rendah
tingkat similaritasnya (kesamaannya). Hal ini disebabkan adanya variasi kondisi
lingkungan fisik, kimia, maupun interaksi antar spesies di sepanjang gradient
wilayah amatan sehingga spesies yang hidup bervariasi. Akibatnya tingkat
kemiripan vegetasi termasuk dalam kategori rendah. Fenomena ini akan menjadi
berbeda jika kondisi lingkungan relatif homogen. Barbour dalam Setiadi (2005)
mengemukakan bahwa kondisi mikrositus yang relatif homogen akan ditempati
oleh individu dari jenis yang sama karena spesies tersebut secara alami telah
mengembangkan mekanisme adaptasi dan toleransi terhadap habitatnya. Loveless
dalam Setiadi (2005) mengemukakan bahwa faktor lain yang menentukan
kehadiran suatu tumbuhan atau komunitas tumbuhan tidak hanya mencangkup

kondisi fisik dan kimia tetapi juga hewan dan manusia yang mempunyai pengaruh
besar terhadap tumbuhan.
3.
Ordinasi Antar Stand
Ordinasi adalah suatu penyusunan tegakan (stand) ke dalam suatu susunan
unidimensional atau multidemensional (Mueller-Dombois dalam Jsni, 2012).
Dengan demikian, ordinasi merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan data
contoh (sampling) menjadi lebih sederhana, menghemat ruang dan mudah dibaca.
Setiap titik mewakili derajat similaritas dan disimilaritas (Barbour et al. dalam
Jani, 2012). Untuk mengetahui pola vegetasi yang dihubungkan dengan pola
lingkungan lebih cocok dengan menggunakan metode ordinasi, yaitu mencuplik
seluruh tegakan yang mewakili.
Melalui metode ordinasi memungkinkan dapat menunjukkan tegakan
vegetasi dalam bentuk geometrik sedemikian rupa sehingga tegakan komunitas
yang paling serupa berdasarkan komposisi jenis beserta kemelimpahannya akan
mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan tegakan-tegakan lainnya
yang berbeda akan muncul saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk
menghubungkan pola sebaran jenis-jenis dengan perubahan faktor lingkungan
(Mueller-Dombois dalam Jani, 2012). Berdasarkan analisis data ordinasi, dapat
diketahui bahwa tegakan vegetasi yang memiliki titik-titik ordinat yang
berdekatan antara lain adalah stand 3 dengan stand 10, lainnya yaitu stand 6, 7,
dan stand 11. Stand lainnya yang titik ordinatnya berdekatan yaitu 9, 12, 13, 14,
dan 15. Pada stand 6, 7 dan 11 memiliki komposisi jenis tanaman antara lain
Equisetum debile Roxb. dan Brachiaria. Hal tersebut dapat dilihat dari komposisi
jenisnya, antara stand 9, 12, 13, 14, dan 15 terdiri atas komposisi jenis tanaman
yang sama, antara lain ada Equisetum debile Roxb.
Sedangkan titik-titik yang memiliki titik ordinat yang berjauhan adalah
stand 1, 2, 4, 5, dan 8. Hal tersebut menunjukkan bahwa masing-masing stand
tersebut memiliki komposisi jenis stand yang berbeda. Pada stand 1 komposisi
jenis tanamannya terdiri atas Equisetum debile Roxb., Panicum repens, Cyperus
compactus Retz., dan Eleusine indica (L.) Gaertn. Sedangkan Pada Stand 2
komposisi jenisnya terdiri atas Paspalum sp, dan Eleusine indica (L.) Gaertn.
Pada stand 4 komposisi jenisnya terdiri atas Equisetum debile Roxb., dan
Panicum repens. Pada stand 5 komposisi jenis tanamannya terdiri atas Brachiaria

saja. Selain itu pada stand 8 komposisi jenis tanamannya terdiri atas Equisetum
debile Roxb., dan Brachiaria.
4.
Kadar Air Tanah
Air tanah merupakan salah satu sifat fisik yang berpengaruh langsung
terhadap pertumbuhan tanaman dan aspek kehidupan manusia. Penetapan kadar
air tanah dapat dilakukan secara langsung melalui pengukuran perbedaan berat
tanah (disebut metode gravimetri) dan secara tidak langsung melalui pengukuran
sifat lain yang berhubungan erat dengan air tanah (Gardner dalam Hermawan,
2004).
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh data yaitu pada plot 2 yang
mewakili stand 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 memiliki jumlah kadar air yang tinggi sebesar
25.4 gram. Kadar air yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
yang ada di daerah tersebut. Jenis tanaman yang didapatkan pada lima stand
tersebut yaitu Equisetum debile Roxb, Panicum repens L., Mikania micrantha
Kunth, Oxalis barrelieri L., dan Brachiaria. Kelima tanaman tersebut yang paling
banyak ditemukan yaitu Equisetum debile Roxb. Hal tersebut sesuai dengan
informasi yang didapatkan dari Wikipedia bahwa genus Equisetum hidup pada
tanah yang lembab berpasir atau semi-akuatik dan tanah berlumpur.

H. Simpulan
1.
Indeks Nilai Penting terbesar yaitu Equisetum debile Roxb sebesar 0.06267%
menandakan bahwa tanaman ini memiliki kemampuan untuk hidup pada
suatu tempat terhadap kondisi lingkungan di tempat tersebut dan spesies yang
2.

bersangkutan dianggap dominan.


Indeks similaritas seluruh stand pengamatan menunjukkan nilai indeks
similaritas dibawah 50% menunjukkan bahwa setiap kombinasi stand
pengamatan rendah tingkat similaritasnya (kesamaannya) yang disebabkan
adanya variasi kondisi lingkungan fisik, kimia, maupun interaksi antar spesies

3.

di sepanjang gradient wilayah amatan sehingga spesies yang hidup bervariasi.


Equisetum debile Roxb lebih suka hidup pada tanah yang lembab berpasir
atau hidup pada tanah yang semi-akuatik dan tanah berlumpur kisaran pH 7
hingga 8.

4.

Variasi kondisi lingkungan fisik, kimia, maupun interaksi antar spesies di


sepanjang gradient wilayah amatan menyebabkan spesies yang hidup
bervariasi. Akibatnya tingkat kemiripan vegetasi (indeks similaritas) termasuk

5.

dalam kategori rendah.


Tegakan vegetasi yang memiliki titik-titik ordinat yang berdekatan antara lain
adalah stand 3 dengan stand 10, lainnya yaitu stand 6, 7, dan stand 11. Stand
lainnya yang titik ordinatnya berdekatan yaitu 9, 12, 13, 14, dan 15. Pada
stand 6, 7 dan 11 memiliki komposisi jenis tanaman antara lain Equisetum

6.

debile Roxb. dan Brachiaria.


Plot 2 yang mewakili stand 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 memiliki jumlah kadar air
yang tinggi sebesar 25.4 gram. Jenis tanaman yang didapatkan pada lima
stand tersebut yaitu Equisetum debile Roxb, Panicum repens L., Mikania
micrantha Kunth, Oxalis barrelieri L., dan Brachiaria.

Daftar Rujukan
Djufri. 2003. Analisis Vegetasi Spermathophyta di Taman Hutan Raya (Tahura)
Seulawah Aceh Besar. Biodiversitas 4(1): 30-34.
Hermawan, Bandi. 2004. Penetapan Kadar Air Tanah Melalui Pengukuran Sifat
Dielektrik pada Berbagai Tingkat Kepadatan. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian
Indonesia 6 (2): 66-74.
http://en.wikipedia.org/wiki/Equisetum
Jani. 2012. Ordinasi. (Online), (http://staff.unila.ac.id/janter/2012/04/26/ordinas/),
diakses pada 15 Februari 2015.
Setiadi, Dede. 2005. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata
Alam Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Biodiversitas 6 (2): 118-122.
Suhadi. Tanpa Tahun. Petunjuk Praktikum Analisis Vegetasi. Malang: Universitas
Negeri Malang.