Anda di halaman 1dari 9

A.

Pengertian dan Dasar Hukum Kepailitan


Kepailitan merupakan suatu sitaan umum, atas seluruh harta
kekayaan dari orang yang berutang, untuk dijual di muka umum,
guna pembayaran hutang-hutangnya kepada semua kreditor, dan
dibayar menurut perbandingan jumlah piutang masing-masing.
Dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris
istilah pailit dapat ditemukan. Dalam bahasa Perancis, istilah faillite
artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran.
Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar utangnya
disebut dengan Le Faille. Di dalam bahasa Belanda dipergunakan
istilah faillit yang mempunyai arti ganda yaitu sebagai kata benda
dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris digunakan istilah to
fail dan kata di dalam bahasa Latin digunakan istilah failire.
Keadaan dimana seorang debitor tidak mampu melunasi hutanghutangnya pada saat hutang tersebut jatuh tempo. Pernyataan
pailit tidak boleh diputuskan begitu saja, melainkan harus
dinyatakan oleh pengadilan, baik atas permohonan sendiri maupun
atas permintaan seseorang atau pihak ketiga.
Menurut Rachmadi Usman kepailitan adalah:
Namun demikian, umumnya orang sering menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan pailit atau bangkrut adalah suatu sitaan umum
atas seluruh harta debitor agar dicapainya perdamaian antara
debitor dan para kreditor atau agar harta tersebut dapat dibagi-bagi
secara adil diantara para kreditor.10
Munir Fuady menyamakan istilah kepailitan dengan bangkrut
manakala perusahaan (atau orang pribadi) tersebut tidak sanggup
atau tidak mau membayar hutang-hutangnya. Oleh karena itu,

daripada pihak kreditor ramai-ramai mengeroyok debitor dan saling


berebutan harta debitor tersebut, hukum memandang perlu
mengaturnya sehingga hutang-hutang debitor dapat dibayar secara
tertib dan adil. Dengan demikian, yang dimaksud dengan kepailitan
adalah suatu sitaan umum yang dijatuhkan oleh pengadilan
khusus, dengan permohonan khusus, atas seluruh aset debitor
(badan hukum atau orang pribadi) yang mempunyai lebih dari 1
(satu) hutang/kreditor dimana debitor dalam keadaan berhenti
membayar hutang-hutangnya, sehingga debitor segera membayar
hutang-hutangnya tersebut.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 tahun 2004
tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
menyatakan sebagai berikut: kepailitan adalah sita umum atas
semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan
Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
Alasan-alasan permohonan kasasi atas putusan pernyataan
kepailitan tidak jauh berbeda dengan alasan-alasan permohonan
kasasi atas putusan
Pasal 24 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasan
Kehakiman berbunyi: Terhadap putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, pihak-pihak yang bersangkutan
dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung,
apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam
undang-undang.
perkara perdata sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UndangUndang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung jo.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung,


jo Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah
Agung, jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman, yaitu karena: 1. Tidak berwenang atau
melampaui batas wewenang. 2. Salah menerapkan atau melanggar
hukum yang berlaku. 3. Lalai memenuhi syarat-syarat yang
diwajibkan oleh peraturan perundang- undangan yang mengancam
kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. Tata
cara pengajuan permohonan kasasi perkara kepailitan diatur lebih
lanjut dalam Pasal 11, dan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004. Permohonan kasasi diajukan dalam waktu paling
lambat 8 hari terhitung sejak tanggal putusan yang dimohonkan
kasasi ditetapkan, dengan mendaftarkan kepada Panitera
Pengadilan Niaga yang telah menetapkan putusan atas permohonan
pernyataan pailit. Panitera mendaftarkan permohonan kasasi pada
tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan. Pemohon diberi
tanda terima tertulis yang ditandatangani panitera dengan tanggal
yang sama dengan tanggal pene-rimaan pendaftaran. Pada tanggal
permohonan kasasi didaftarkan, pemohon kasasi wajib
menyampaikan memori kasasi kepada panitera dan salinan
permohonan kasasi berikut salinan memori kasasi kepada pihak
terkasasi. Kepailitan membawa akibat hukum bagi diri yang
dinyatakan pailit menjadi tidak memiliki kewenangan untuk
melakukan tindakan pengurusan dan pemilikan terhadap aset yang
dimilikinya. Konsep dasar kepailitan sebenarnya bertitik tolak dari
ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata. Pasal itu menyatakan bahwa
semua barang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak
milik debitor, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di

kemudian hari menjadi jaminan bagi perikatan-perikatan


perorangan debitor itu.12
Actio Pauliana dalam kamus hukum diartikan sebagai gugatan
pembatalan, gugatan kreditor, gugatan dari pihak kreditor yang
ditujukan terhadap (perbuatan) debitor karena perbuatan itu
dianggap curang dan sangat merugikan kreditor.
Arti dari kutipan tersebut adalah sekalipun tidak diperjanjikan
dengan tegas-tegas, seorang debitor bertanggung jawab terhadap
segala hartanya dengan barang-barang yang dimilikinya baik yang
bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun
yang baru akan ada di kemudian hari. Yang banyak tidak disadari
oleh orang ialah bahwa yang tidak dikatakan oleh pasal ini ialah
seorang debitor tidak dapat dituntut pertanggung jawabannya jika
ia tidak memiliki barang apapun. Pasal 222 ayat (2) UndangUndang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan mengatakan:
Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan bahwa ia tidak akan
dapat melanjutkan membayar hutang-hutangnya yang sudah jatuh
waktu dan dapat ditagih dapat memohon penundaan kewajiban
pembayaran hutang, dengan maksud pada umumnya untuk
mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran seluruh atau sebagian utang kepada kreditor
konkuren.
Dari ketentuan pasal di atas dapat dipahami bahwa pada
kenyataannya bahwa undang-undang memberikan kesempatan
kepada debitor untuk melakukan penundaan pembayaran dengan
melakukan perdamaian kepada para kreditornya. Sehubungan
dengan uraian di atas maka upaya hukum lainnya dalam kepailitan
juga dikenal dengan istilah actio pauliana.

Kepailitan No. 37 Tahun 2004 yaitu : (1) untuk kepentingan harta


pailit dapat dimintakan pembatalan atas segala perbuatan hukum
debitor yang telah dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan
kreditor, yang dilakukan sebelum pernyataan pailit ditetapkan. (2)
Pembatalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dilakukan apabila dapat dibuktikan bahwa pada saat perbuatan
hukum tersebut dilakukan debitor dan pihak dengan siapa
perbuatan hukum itu dilakukan mengetahui atau sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan mengakibatkan
kerugian bagi kreditor. (3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) adalah perbuatan hukum debitor yang
wajib dilakukannya berdasarkan perjanjian dan atau karena undangundang.
Dalam Undang-Undang Kepailitan tidak ada batasan waktu saat
dilakukan perbuatan hukum oleh debitor sehingga dapat dibatalkan
melalui upaya actio pauliana tersebut. Karena itu hukum yang
mengaturnya hanyalah hukum yang umum mengenai daluarsa
suatu gugatan. Dalam hal ini, gugatan terhadap actio pauliana
dapat dilakukan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh debitor
yang belum melebihi jangka waktu 1 tahun.
B. Syarat-Syarat Untuk Dinyatakan Pailit
Agar seorang debitor dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan,
dalam hal ini Pengadilan Niaga, maka berbagai persyaratan juridis
harus dipenuhi ketentuan dalam Bab II Pasal 2 sampai dengan Pasal
20 UU No. 37 Tahun 2004 yaitu:
a. Permohonan dari debitor (perorangan).

1) Surat permohonan bermaterai dari pengacara yang


ditujukan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat.
2) Izin/kartu pengacara yang dilegalisir pada Kepaniteraan
Pengadilan Niaga setempat.
3) Surat kuasa khusus.
4) Surat tanda bukti diri (KTP) suami/isteri yang masih
berlaku.
5) Persetujuan suami/isteri yang dilegalisir.
6) Daftar asset dan tanggung jawab.
7) Neraca pembukuan terakhir (dalam hal perorangan
memiliki perusahaan).
b. Permohonan dari debitor (Perseroan Terbatas).
1) Surat permohonan bermaterai dari pengacara yang
ditujukan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat.
2) Izin/kartu pengacara yang dilegalisir pada Kepaniteraan
Pengadilan Niaga setempat.
3) Surat kuasa khusus.
4) Akta pendaftaran perusahaan (tanda daftar perusahaan)
yang dilegalisir (dicap) oleh Kantor Perdagangan paling
lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan.
5) Putusan sah rapat umum pemegang saham (RUPS)
terakhir.
6) Neraca keuangan terakhir.

7) Nama serta alamat semua kreditor dan debitor.


8) Anggaran Dasar/Anggaran rumah tangga.
c. Permohonan dari debitor (Yayasan/Asosiasi).
1) Surat permohonan bermaterai dari pengacara yang
ditujukan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat.
2) Izin/kartu pengacara yang dilegalisir pada Kepaniteraan
Pengadilan Niaga setempat.
3) Surat kuasa khusus.
4) Akta pendaftaran yayasan/asosiasi yang dilegalisir (dicap)
oleh Kantor Perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu
sebelum permohonan didaftarkan.
5) Putusan Dewan Pengurus yang memutuskan untuk
mengajukan pernyataan pailit.
6) Neraca keuangan terakhir.
7) Nama serta alamat semua kreditor dan debitor.

d. Permohonan dari debitor (Kejaksaan/Bank


Indonesia/Bapepam).
1) Surat permohonan bermaterai dari pengacara yang
ditujukan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat.
2) Surat tugas/surat kuasa.

3) Izin/kartu pengacara yang dilegalisir pada Kepaniteraan


Pengadilan Niaga setempat.
4) Surat kuasa khusus.
5) Akta pendaftaran perusahaan/bank/perusahaan efek yang
dilegalisir (dicap) oleh Kantor Perdagangan paling lambat 1
(satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan.
6) Surat perjanjian utang.
7) Perincian utang yang telah jatuh tempo/tidak dibayar.
8) Neraca keuangan terakhir.
9) Daftar asset dan tanggung jawab.
10) Nama serta alamat semua kreditor dan debitor.
e. Permohonan dari kreditor (Kejaksaan/Bank
Indonesia/Bapepam).
1) Surat permohonan bermaterai dari pengacara yang
ditujukan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat.
2) Izin/kartu pengacara yang dilegalisir pada Kepaniteraan
Pengadilan Niaga setempat.
3) Surat kuasa khusus.
4) Akta pendaftaran perusahaan/yayasan/asosiasi yang
dilegalisir (dicap) oleh Kantor Perdagangan paling lambat 1
(satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan.
5) Surat perjanjian utang.
6) Perincian utang yang tidak dibayar.

7) Nama serta alamat masing-masing debitor


8) Tanda kenal diri debitor.
9) Nama serta alamat mitra usaha.
10) Terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris
oleh penterjemah resmi (jika menyangkut unsur asing).14
Dari bunyi Pasal 11 ayat (1) perihal kasasi, Pasal 14 ayat (1)
perihal peninjauan kembali, dan Pasal 295 ayat (1) perihal
peninjauan kembali Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terdapat
dua kemungkinan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh para
pihak yang tidak puas terhadap putusan pernyataan kepailitan,
yaitu upaya hukum kasasi atau peninjauan kembali. Pasal 11 ayat
(1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menjelaskan: Upaya
hukum yang dapat diajukan terhadap putusan atas permohonan
pernyataan pailit adalah kasasi ke Mahkamah Agung. Pasal 14
ayat (1) berbunyi: terhadap putusan atas permohonan pernyataan
pailit yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat
diajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Pasal 295 ayat
(1) berbunyi terhadap putusan hakim yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan peninjauan
kembali kepada Mahkamah Agung, kecuali ditentukan lain dalam
undang- undang ini.