Anda di halaman 1dari 17

DIABETES MELITUS (DM)

DIABETES MELITUS (DM)


A. Defenisi
Diabetes melitus (DM) merupakan kelainan metabolik dengan etiologi multifaktorial. Penyakit
ini ditandai oleh hiperglikemia kronis dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein serta lemak.
Patofisiologi DM berpusat pada gangguan sekresi insulin dan/atau gangguan kerja insulin. Penyandang
DM akan ditemukan dengan berbagai gejala seperti poliuria (banyak berkemih), polidipsia (banyak
minum) dan polifagia (banyak makan) dengan penurunan berat badan.
B.

Epidemiologi
Di antara penyakit degeneratif, diabetes adalah salah satu di antara penyakit tidak menular yang
akan meningkatkan jumlahnya di masa yang akan datang. Diabetes sudah merupakan salah satu
ancaman utama bagi kesehatan uma manusia pada abad 21. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun
2000 jumlah pengidap diabetes >20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun
kemudian, pada tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang.

Tingkat prevalensi diabetes melitus adalah tinggi. Di duga terdapat sekitar 16 juta kasus diabetes di
Amerika Serikat dan setiap tahunnya didiagnosis 600.000 kasus baru.
Diabetes merupakan penyebab kemetian ke-3 di Amerika Serikat dan merupakan penyebab utama
kebutaan pada orang dewasa akibat retinopati diabetik. Pada usia yang sama, penderita diabetes
paling sedikit 2,5x lebih sering terkena serangan jantung dibandingkan dengan mereka yang tidak
menderita diabetes.
75% penderita diabetes akhirnya meninggal karena penyakit vaskuler. Serangan jantung. Gagal
ginjal, stroke dan gangren adalah komplikasi yang paling utama. Selain itu, kematian fetus
intrauterin pada ibu-ibu yang menderita tidak terkontrol juga meningkta.
Dampak ekonomi pada diabetes jelas terlihat berakibat pada biaya pengobatan dan hilangnya
pendapatan, selain konsekuensi finansial karena banyaknya komplikasi seperti kebutaan dan
penyakit vaskular.
Prevalensi DM di Indonesia mencapai jumlah 8.426.000 (tahun 2000) yang diproyeksikan mencapai
21.257.000 pada tahun 2030. Artinya, terjadi kenaikan tiga kali lipat dalam 30 tahun.

C. Etiopatogenesis

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa etiologi diabetes melitus bermacam-macam.
Meskipun berbagai lesi dengan jenis yang berbeda akhirnya akan mengarah pada insufesiensi insulin,
tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas penderita DM.
Diabetes melitus tipe 1 adalah penyakit autoimun yang ditentukan secara genetik dengan
gejala-gejala yang pada akhirnya menuju proses bertahap perusakan imunologik sel-sel yang
memproduksi insulin. Individu yang peka secara genetik tampaknya memberikan respons terhadap
kejadian-kejadian pemicu yang diduga berupa infeksi virus, dengan memproduksi autoantibodi terhadap
sel-sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin yang dirangsan oleh glukosa.
Manifestasi klinis diabetes melitus terjadi jika lebih dari 90% sel-sel beta rusak. Bukti untuk determinan
genetik diabetes tipe 1 adalah adanya kaitan dengan tipe-tipe histokompabilitas (human leukocyte
antigen [HLA]) spesifik. Tipe dari gen histokompabilitas yang berkaitan dengan diabetes tipe 1 (DW3
dan DW4) adalah yang memberi kode pada protein-protein yang berperan penting dalam monositlimposit. Protein-protein ini mengatur respon sel T yang merupakan bagian normal dari respon imun.
Jika terjadi kelainan, fungsi limposit T yang terganggu akan berperan penting dalam patogenesis
perusakan sel-sel pulau langerhans.
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau Diabetes melitus Tergantung Insulin
(DMTI) disebabkan oleh destruksi sel pulau Langerhans akibat proses autoimun.
Ini adalah penyakit yang jarang terjadi, terutama mengenai penduduk Eropa utara yang berkulit
putih (25/10.000 populasi), di mana gejala timbul pada usia <30 tahun, dan terjadi defisiensi insulin
absolut setelah sel pangkreas dihancurkan oleh proses autoimun pada orang-orang yang memiliki
predisposisi secara genetis.
Infiltrasi pulau pangkreas oleh makrofag yang teraktivasi, limposit T sitotoksik dan supresor, dan
limposit B menimbulkan insulitis dekstruktif yang sangat selektif terhadap populasi sel . Sekitar 7090% sel hancur sebelum timbul gejala klinis. DM tipe 1 merupakan gangguan poligenik sebesar 30%.
Terdapat kaitan dengan HLA halotife DR3 dan DR4 di dalam kompleks histokompatibilitas mayor pada
kromosom 6, walaupun alel ini dapat merupakan marker untuk lokus lain yang berperan dalam antigen
HLA klas II yang terlibat dalam inisiasi respon imun. Faktor lingkungan juga dapat berperan penting
sebagai etiologi diabetes tipe 1 : peran virus dan diet sedang diteliti.
Diabetes tipe 1 diperkirakan terjadi akibat destruksi otoimun sel-sel beta pulau langerhans.
Individu yang memiliki kecendrungan genetik penyakit ini tampaknya menerima faktor pemicu dari
lingkungan yang menginisiasi proses otoimun. Sebagai contoh faktor pencetus yang mungkin antara lain
infeksi virus seperti gondongan (mumps), rubela, atau sitomegalovirus (CMV) kronis. Pajana terhadap
obat atau toksin juga disuga dapat memicu serangan otoimun ini. Karena proses penyakit diabetes tipe 1
terjadi dalam beberapa tahun, sering kali tidak ada faktor pencetus yang pasti.
Pada saat diagnosis diabetes tipe 1 ditegakkan, ditemukan antibodi terhadap sel-sel pulau
langerhans pada sebagian besar pasien. Mengapa individu membentuk antibodi terhadap sel-sel pulau
langerhans sebagai respon terhadap faktor pencetus tidak diketahui. Salah satu mekanisme yang
kemungkinan adalah bahwa terdapat agens lingkungan yang secara genetis mengubah sel-sel pangkreas
sehingga menstimulus pembentukan autoantibodi. Kemungkinan lain bahwa para individu yang

mengidap diabetes tipe 1 memiliki kesamaan antigen antara sel-sel beta pangkreas mereka dan
mikroorganisme atau obat tertentu. Sewaktu berespons terhadap virus atau obat, sistem imun mungkin
gagal mengenali bahwa sel pangkreas adalah "diri, mereka sendiri.

Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling sering terjadi, mencakup 85%
pasien diabetes. Keadaan ini ditandai oleh resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif. Mekanisme
resistensi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum jelas. Walaupun terdapat sejumlah abnormalitas
genetik dari reseptor insulin yang ditemukan, namun pada beberapa kasus yang berhubungan sindrom
resistensi insulin yang jelas, hal ini jarang terjadi dan tidak menjelaskan hiperinsulinemia yang terjadi
pada sebagaian besar pasien dengan diabetes tipe 2. Konsekuensi hiperensulinemia yang berkepanjangan
adalah terjadinya defisiensi insulin.9

DM tipe 2 merupakan bentuk DM yang paling sering ditemukan dan ditandai dengan gangguan
pada sekresi serta kerja insulin. Kedua defek ini terdapat pada DM klinis. Penyebab yang jumlahnya
banyak dan bervariasi untuk terjadinya kelainan ini telah teridentifikasi. DM tipe 2 juga memiliki
perubahan multifaktorial. Mayoritas pasien DM tidak bergantung pada insulin dan kebanyakan dari
mereka menderita diabetes pada usia dewasa. Pada Dm 2 sering terdapat retensi insulin dengan
insulinopia relatif yang kadang-kadang pada saat-saat stres memerlukan insulin.
Penyakit ini sering ditemukan (prevalensi saat ini adalah 2% di Inggris dan 6,6% di AS, dan
meningkat dengan pesat akibat faktor gaya hidup/diet) pada usia menengah dan manula, diakibatkan
terutama oleh resistensi terhadap kerja insulin di jaringan perifer. Walaupun pada tahap lanjut defisiensi
insulin dapat terjadi, namun tidak ditemukan dafisiensi absolut insulin. Penyakit ini juga dipengaruhi
faktor genetik. Pada kembar identik tingkat kesamaannya adalah 90%, namun tidak ada kaitannya
dengan antigen leukosit manusia (human leukocyte antigen [HLA]).
Pada pasien-pasien dengan diabetes melitus tipe 2, penyakitnya mempunyai pola familial yang
kuat. Indeks untuk diabetes tipe 2 pada kembar monozigot hampir 100%. Resiko berkembangnya
diabetes tipe 2 pada saudara kandung mendekati 40% dan 33% untuk anak cucunya. Transmisi genetik
adalah paling kuat dan contoh terbaik terdapat dalam diabetes awitan dewasa muda (MODY), yaitu
subtipe penyakit diabetes yang diturunkan dengan pola autosomal dominan. Jika orang tua menderita
diabetes tipe 2, rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah 1:1, dan sekitar 90% pasti membawa
(carrier) diabetes tipe 2.
Untuk kebanyakan individu, diabetes melitu tipe 2 tampaknya berkaitan dengan kegemukan.
Selain itu, kecendrungan pengaruh genetik, yang menentukan individu kemungkinan mengidap penyakit
ini, cukup kuat. Diperkirakan bahwa terdapat sifat genetik yang belum teridentifikasi yang menyebabkan
pangkreas mengeluarkan insulin yang berbeda, atau menyebabkan reseptor insulin atau perantara kedua
tidak dapat berespons secara adekuat terhadap insulin. Terdapat kemungkinan lain bahwa kaitan rangkai
genetik antara yang dihubungkan dengan kegemukan dan rangsangan berkepanjangan reseptor-reseptor
insulin. Rangsangan berkepanjangan terhadap reseptor-reseptor tersebut dapat menyebabkan penurunan
jumlah reseptor insulin yang terdapat di sel tubuh. Penurunan ini disebut downregulation.
Penelitian lain menduga bahwa defisit hormon leptin, akibat kekurangan gen penghasil leptin
atau tidak berfungsi, mungkin bertanggungjawab untuk diabetes melitus tipe 2 pada beberapa individu.
Tanpa gen leptin, yang sering disebut gen obesitas pada hewan, mungkin termasuk manusia, gagal
berespons terhadap tanda kenyang, dan itulah mengapa menjadi gemuk dan menyebabkan insensitivitas
insulin. Meskipun obesitas merupaka resiko utama untuk diabetes melitus tipe 2, ada beberapa individu
yang menderita diabetes tipe 2 di usia muda dan individu yang kurus atau dengan berat badan yang
normal. Salah satu contoh tipe penyakit ini adalah MODY (maturity-onset diabetes of the young), suatu
kondisi yang dihubungkan dengan defek genetik pada sel beta pangkreas yang tidak mampu
menghasilkan insulin. Pada keadaan seperti ini dan beberapa kondisi lainnya, berkaitan erat dengan
rangkai genetik suatu sifat yang diwariskan.

D. Klasifikasi
Beberapa klasifikasi diabetes melitus telah diperkenalkan, berdasarkan metode presentase
klinis, umur awitan, dan riwayat penyakit. Kotak 63-1 menjelaskan klasifikasi yang diperkenalkan
oleh American Diabetes Association (ADA) berdasarkan pengetahuan mengenai patogenesis sindrom
diabetes dan gangguan toleransi glukosa. Klasifikasi ini telah disahkan oleh World Health
Organization (WHO) dan telah dipakai di seluruh dunia.
Empat klasifikasi klinis gangguan toleransi glukosa :
(1) diabetes melitus tipe 1 dan 2,
(2) diabetes gestasional (diabetes kehamilan),
(3) tipe khusus lain. Dua kategori lain dari dari toleransi glukosa abnormal adalah gangguan toleransi
glukosa dan gangguan glukosa puasa.
1. Diabetes tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 adalah penyakit hiperglikemia akibat ketiadaan absolut insulin. Sebelumnya, tipe
diabetes ini disebut sebagai diabetes melitus dependen insulin (IDDM), karena individu pengidap
penyakit ini harus mendapat insulin pengganti. Diabetes tipe 1 biasanya dijumpai pada individu yang
tidak gemuk berusia kurang dari 30 tahun, dengan perbandingan laki-laki sedikit lebih banyak dari pada
wanita. Karena insidensi diabetes tipe 1 memuncak pada usia remaja dini, pada masa dahulu bentuk ini
disebut sebagai diabetes juvenilis. Akan tetapi, diabetes tipe 1 dapat timbul pada semua kelompok usia.
Insidensi diabetes tipe 1 sebanyak 30.000 kasus baru setiap tahunnya dan dapt dibagi dalam dua
sub tipe: (a) autoimun, akibat disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel beta; dan (b) idiopatik, tanpa
bukti adanya autoimun dan tidak diketahui sumbernya. Subtipe ini lebih sering timbul pada etnik
keturunan Afrika-Amerika dan Asia.
Pengidap diabetes tipe 1 memperlihatkan kadar glukosa normal sebelum yang terkendali awitan
penyakit muncul. Pada masa dahulu, diabetes tipe 1 dianggap penyakit yang terjadi tiba-tiba dengan
sedikit tanda peringatan. Akan tetapi, saat ini, diabetes tipe 1 adalah penyakit yang biasanya berkembang
secara perlahan selama beberapa tahun, dengan adanya autoantibodi terhadap sel-sel beta destruksi yang
terjadi secara terus-menerus pada diagnosis lanjut. Pada saat diagnosis tipe 1 ditegakkan, biasanya
pangkreas tidak atau sedikit mengeluarkan insulin, dan lebih dari 80% sel beta pangkres telah
dihancurkan. Kadar glukosa darah meningkat karena tanpa insulin glukosa tidak dapat masuk ke sel.
Pada saat yang sama, hati mulai melakukan glukoneogenesis (sintesis glukosa baru) menggunakan
subtrat yang ter sedia seperti sam amino, asam lemak dan glikogen. Subtrat-subtrat ini mempunyai
konsentrasi yang tinggi dalam sirkukalsi karena efek katabolik glukagon tidak dilawan oleh insulin. Hal
ini yang menyebabkan sel-sel mengalami kelaparan walaupun kadar glukosa darah sangat tinggi. Hanya
sel otak dan sel darah merah yang tidak kekurangan glukosa karena keduanya tidak memerlukan insulin
untuk memasukkan glukosa.

2. Diabetes tipe 2
Hiperglikemia yang disebabkan insensitivitas seluler terhadap insulin disebut diabetes melitus tipe
2. Selain itu, terjadi defek sekresi insulin ketidakmampuan pangkreas untuk menghasilkan insulin yang
cukup untuk mempertahankan glukosa plasma yang normal. Meskipun kadar insulin mungkin sedikit
menurun atau berada dalam rentang normal, jumlah insulin tetap rendah sehingga kadar glukosa plasma
meningkat. Karena insulin tetap dihasilkan sel-sel beta pangkreas, diabetes melitus tipe 2 yang
sebelumnya disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin atau NIDDM (noninsulin dependent
diabetes melitus), sebenarnya kurang tepat karena banyak individu yang mengidap diabetes tipe 2 dapat
ditangani dengan insulin. Pada diabetes melitus tipe 2, lebih banyak banyak wanita yang mengidap
penyakit ini dibandingkan pria. Predisposisi genetik yang kuat dan faktor lingkungan yang nyata dapat
menyebabkan diabetes melitus tipe 2.
Diabetes tipe 2 dulu dikenal sebagai tipe dewasa atau tipe onset maturitas dan tipe nondependen
insulin. Insidens diabetes tipe 2 sebesar 650.000 kasus baru setiap tahunnya. Obesitas sering dikaitkan
dengan penyakit ini.
3. Diabetes gestasional
Diabetes gestasional (GDM) dikenali pertama kali selama kehamilan dan memengaruhi 4% dari
semua kehamilan. Faktor resiko terjadinya GDM adalah usia tua, etnik, obesitas, multiparitas, riwayat
keluarga, dan riwayat diabetes gestasional terdahulu. Karena terjadi peningkatan sekresi berbagai
hormon yang mempunyai efek metabolik terhadap toleransi glukosa, maka kehamilan adalah suatu
diabetogenik. Pasien-pasien yang mempunyai predisposisi diabetes secara genetik mungkin akan
memperlihatkan toleransi inglukosa atau manifestasi klinis diabetes pada kehamilan.
DM gestasional merupakan intoleransi karbohidrat yang mengakibatkan hiperglikemia dengan
keparahan yang beragam dan onset atau deteksi pertama kali pada saat hamil. Defenisi ini berlaku tanpa
memandang apakah hormon insulin digunakan atau tidak dalam penanganannya ataukah keadaan
tersebut tetap bertahan setelah kehamilan berakhir. Intoleransi glukosa dapat mendahului kehamilan
tetapi keadaan ini tidak diketahui sebelumnya.
Meskipun diabetes tipe ini sering membaik setelah persalinan, sekitar 50% wanita pengidap ini
tidak akan kembali ke status nondiabetes setelah kehamilan berakhir. Bahkan, jika membaik setelah
persalinan, resiko untuk mengalami diabetes tipe 2 setelah sekitar 5 tahun II pada waktu mendatang
lebih besar daripada normal.
4. Tipe khusus lain
Tipe khusus lain adalah (a) kelainan genetik dalam sel beta seperti yang dikenali pada MODY.
Diabetes subtipe ini memiliki prevalensi familial yang tinggi dan bermanifestasi sebelum usia 14 tahun.
Pasien seringkali obesitas dan resisten tehadap insulin. Kelainan genetik telah dikenali dengan baik
dalam empat bentuk mutasi dan bentuk fenotif yang berbeda (MODY 1, MODY 2, MODY 3, MODY 4);
(b) kelainan genetik pada kerja insulin, menyebabkan sindrom resistensi insulin berat dan akantosis
negrikans; (c) penyakit pada eksokrin pangkreas menyebabkan pangkreatitis kronik; (d) penyakit
endokrin seperti sindrom Cushing dan akromegali; (e) obat-obatan yang bersifat terhadap sel-sel beta;
dan (f) infeksi.

E.

Gambaran Klinik dan Patofisiologi


Kejadian DM diawali dengan kekurangan insulin sebagai penyebab utama. Di sisi lain
timbulnya DM bisa berasal dengan kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh adanya
resistensi insulin (insuline resistance). Keadaan ini ditandai dengan ketidakrentanan/ketidakmampuan
organ menggunakan insulin, sihingga insulin tidak bisa berfungsi optimal dalam mengatur metabolisme
glukosa. Akibatnya, kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia).
Gejala awal berhubungan dengan efek langsung dari kada gula darah yang tinggi.
Jika kadar gula darah lebih dari 160-180 mg/dL maka glukosa akan sampai ke air kemih.
Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah
besar glukosa yang hilang.
Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan maka penderita sering
berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibat poliuri maka penderita merasa haus yang
berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).
Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Hal
ini menyebabkan penderita sering merasa lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Manifestasi klinis diabetes melitus dikaitkan dengan konsekuensi metabolik defisiensi insulin.
Pasien-pasien dengan defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa
yang normal, atau toleransi glukosa setelah makan karbohidrat.
Jika hiperglikemianya berat dan melebihi ambang ginjal untuk zat ini, maka timbul glikosuria.
Glikosuria ini akan mengakibatkan diuretik osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine
(poliuria) dan timbul rasa haus (polidipsia).
Karena glukosa hilang bersama urine, maka pasien mengalami kalori negatif dan berat badan
kurang. Rasa lapar yang semakin besar (polifagi) mungkin akan timbul sebagai akibat kehilangan
kalori.
Pasien mengeluh lelah dan mengantuk.
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual, dan berkurangnya ketahanan selama
olahraga.
Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.
Pada hiperglikemia yang lebih berat, pasien tersebut mungkin menderita polidipsia, poliuria, lemah
dan somnolen. Biasanya mereka tidak mengalami ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi
insulin secara absolut namun hanya relatif. Sejumlah insulin tetap disekresi dan masih cukup untuk
menghambat ketoasidosis.
Kalau hiperglikemia berat dan pasien tidak berespons terhadap terapi diet, atau terhadap obat-obatan
hipoglikemik oral, mungkin diperlukan terapi insulin untuk menormalkan kadar glukosanya. Pasien
ini biasanya memperlihatkan kehilangan sensitivitas periver terhadap insulin. Kadar insulin sendiri
pada pasien mungkin berkurang, normal atau malah tinggi, tetapi tetap tidak memadai untuk
mempertahankan kadar glukosa darah normal. Penderita juga resistensi terhadap insulin eksogen.

Pada penderita diabetes tipe I


Gejalanya bisa timbul secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat kedala suatu keadaan yang
disebut dengan ketoasidosis diabetikum.
Kadar gula di dalam darah tinggi, tapi karena sebgaian besar sel tidak dapat menggunakan gula
tanpa insulin maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain.
Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia yang beracun
yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosi). Gejala awal dari ketoasidosis
diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah, dan nyeri
perut (terutama pada anak-anak).
Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal kalau tidak
mendapat pengobatan segera. Terapi insulin biasanya diperlukan untuk mengontrol
metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap insulin.
Pernapasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman
darah.
Bau napas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum
bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam beberapa jam setelah gejala muncul. Bahkan,
setelah menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika
mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi,
kecelakaan atau penyakit yang serius. Karena kekurangan insulin yang berat maka sebelum
mengalami pengobatan penderita DM tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan.
Pada pasien diabetes tipe 1 sering memperlihatkan awitan gejala yang eksplosif dengan
polidipsia, poliuria, turunnya berat badan, polifagia, lemah, somnolen yang terjadi selama
beberapa hari atau beberapa minggu.
Dalam keadaan yang normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang
disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino dan substansi lain),
namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turut
menimbulkan hiperglikemia. Di samping itu akan terjadi pemecahan lemak yang meningkatkan produksi
bahan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak.

Penderita diabetes tipe II


Bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun.
Jika kekurangan insulin semakin parah maka timbullah gejala berupa sering berkemih dan
sering merasa haus.
Jarang terjadi ketoasidosis.
Pasien dengan diabetes tipe 2 mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apapun, dan
diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan melakukan tes
toleransi glukosa.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat
stres, misalnya infeksi atau obat-obatan) maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang

bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang, dan suatu keadaan yang disebut koma
hiperglikemik-hiperosmolar nonketotik.
Pada sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu :
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus
pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin pada reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian
reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulinpada diabetes tipe II disertai dengan
penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus
pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya
glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita
teloransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar
glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika
sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe II.
Meskipun terhjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes tipe II, namun
masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi
badan keton yang menyertainya, karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II.
Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya
yang dinamakan sindrom hiperglikemih hiperosmoler nonketotik (HHNK).
Individu pengidap diabetes tipe 2 sering memperlihatkan satu atau lebih gejala non-spesifik,
antara lain :
Peningkatan angka infeksi akibat peningkatan kadar glukosa di sekitar mukus, gangguan fungsi
imun, dan penurunan aliran darah.
Gangguan penglihatan yang berhubungan dengan keseimbangan air atau, pada kasus yang lebih
berat, kerusakan retina.
Paretesia, atau abnormalitas sensasi.
Kandidiasis vagina (infeksi ragi), akibat peningkatan kadar glukosa di sekitar vagina dan urine, serta
gannguan fungsi imun. Kandidiasi dapat menyebabkan rasa gatal di vagina. Infeksi vagina
merupakan kondisi yang sering dijumpai pada wanita yang sebelumnya tidak diduga menderita
diabetes.
Pelisutan otot dapat terjadi karena protein otot digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh.

F. Pemeriksaan Fisik

Pada penderita diabetes tipe I dilakukan pengkajian untuk memeriksa tanda-tanda ketoasidosis
diabetik, yang mencakup pernapasan kussmaul, hipotensi ortostatik, dan latergi. Pasien ditanya tentang
gejala ketoasidosis diabetik, seperti mual, muntah dan nyeri abdomen. Hasil-hasil laboratorium dipantau
untuk mengenali tanda-tanda asidosis metabolik, seperti penurunan nilai pH serta kadar bikarbonat dan
untuk mendeteksi tanda-tanda gangguan keseimbangan elektrolit.
Pemeriksaan fisik selama episode hipoglikemik menunjukkan :
Respon autonomik
Respon neuroglikopenik
Berkeringat
Sakit kepala
Palpitasi
Pening
Tremor
Kacau mental
Gugup
Peka rangsang
Pucat
Kesulitan berkonsentrasi
Lapar
Kerusakan penilaian
Kelemahan dan kejang
Koma pada kasus berat

Pasien diabetes tipe II dikaji untuk melihat adanya tanda-tanda sindrom HHNK, mencakup
hipotensi, gangguan sensori, dan penurunan turgor kulit. Nilai laboratorium dipantau untuk melihat
adanya tanda hiperosmolaritas dan ketidakseimbangan elektrolit.
Pasien dikaji untuk menemukan faktor-faktor fisik yang dapat mengganggu kemampuannya
dalam mempelajari melakukan keterampilan perawatan mandiri, seperti :
Gangguan penglihatan (pasien diminta untuk membaca angka atau tulisan pada spuit insulin,
lembaran menu, suratkabar, atau bahan pelajaran)
Gangguan koordinasi motorik (pasien diobservasi pada saat makan atau mengerjakan pekerjaan lain
atau pada saat menggunakan spuit atau lanset untuk menusuk jari tangannya)
Gangguan neurologis (misalnya, akibat stroke) (dari riwayat penyakit yang tercantum pada bagan:
pasien dikaji untuk menemukan gejala afasia atau penurunan kemampuan dalam mengikuti perintah
sederhana).
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi DM. Yaitu
kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM, riwayat
kehamilan dengan berat badan lahir bayi >4kg, riwaya DM pada kehamilan, dan dislipidemia.
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu, kadar gula darah
puasa (Tabel 53.1), kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk
kelompok resiko tinggi yang hasil penyaringannya negatif, perlu pemeriksaan penyaring ulang tiap
tahun. Pasien berusia 45 tahun tanpa faktor resiko, pemeriksaan penyaring dilakukan setiap 3 tahun.
Tabel 53.1 kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan
penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah sewaktu
Plasma vena
<110
110-199
>200
Darah kapiler
<90
90-199
>200
Kadar glukosa darah puasa
Plasma vena
<110
110-125
>126
Darah kapiler
<90
90-109
>110

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Cara pemeriksaan TTGO, adalah :


Tiga hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa.
Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak.
Pasien puasa semalam selama 10-12 jam.
Periksa glukosa darah puasa.
Berikan glukosa 75 g yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam waktu 5 menit.
Periksa glukosa darah 1 jam sesudah beban glukosa.

7. Selama pemeriksaan, pasien diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.7


Pemeriksaan hemoglobin glikosilasi
Hemoglobin glikosilasi merupakan pemeriksaan darah yang mencerminkan kadar glukosa
darah rata-rata selama periode waktu 2 hingga 3 bulan. Ketika terjadi kenaikan kadar glukosa darah,
molekul glukosa akan menempel pada hemoglobin dalam sel darah merah.
Ada berbagai tes yang mengukur hal yang sama tetapi memiliki nama yang berbeda, termasuk
hemoglobin A1C dan hemoglobin A1. Nilai normal antara pemeriksaan yang satu dengan yang lainnya,
serta keadaan laboratorium yang satu dan lainnya, memilikmi sedikit perbedaan dan biasanya berkisar
dari 4% hingga 8%.
Pemeriksaan urin untuk glukosa
Pada saat ini, pemeriksaan glukosa urin hanya terbatas pada pasien yang tidak bersedia atau
tidak mampu untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah. Prosedur yang umum dilakukan meliputi
aplikasi urin pada strip atau tablet pereaksi dan mencocokkan warna pada strip dengan peta warna.
Pemeriksaan urin untuk keton
Senyawa-senyawa keton (atau badan keton) dalam urin merupakan sinyal yang
memberitahukan bahwa pengendalian kadar glukosa darah pada diabetes tipe I sedang mengalami
kemunduran. Apabila insulin dengan jumlah yang efektif mulai berkurang, tubuh akan mulai memecah
simpana lemaknya untuk menghasilkan energi. Badan keton merupakan produk-sampingan proses
pemecahan lemak ini, dan senyawa-senyawa keton tersebut bertumpuk dalam darah serta urin.

H. Diagnosis
Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya (polidipsi, polifagi, poliuri) dan
hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Untuk mengukur kadar gula
darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil
setelah makan. Pada usia di atas 65 tahun, paling baik sebelum mebelum dilakukan pemeriksaan adalah
berpuasa terlebih dahulu karena jika pemeriksaan dilakukan setelah makan, pada usia lanjut memiliki
peningkatan gula darah yang lebih tinggi. Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes
toleransi glukosa. Tes dilakukan dalam keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil. Penderita
berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita
meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah
diambil lagi untuk diperiksa.2
Keluhan atau gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl
atau glukosa darah puasa 126 mg/dl suda cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Bila hasil
pemeriksaan glukosa darah meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk memastikan DM. Untuk
diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperlukan glukosa darah 2 jam setelah beban
glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi
diagnosis DM pada hari yang lain atau TTGO yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada

keadaan khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti ketoasidosis, berat badan
yang menurun cepat dan lain-lain.
Ibu hamil yang memenuhi kriteria WHO untuk DM atau TGT diklasifikasikan sebagai penderita
DM gestasional. Skining untuk DM gestasional tidak diperlukan pada wanita yang berusia kurang dari
25 tahun dan mempunyai resiko yang rendah. Toleransi glukosa harus diklasifikasi ulang dengan TTGO
75 gram pada 6 minggu atau lebih sesudah melahirkan. The American Diabetes Association (ADA)
merekomendasikan skining dengan mengukur kadar glukosa plasma 1 jam sesudah pemberian oral 50
gram glukosa pada usia kehamilan antara 24 dan 28 minggu. Jika glukosa tersebut paling sedikit 7,8
mmol/l (140 mg/dl), pemeriksaan TTGO selama 3 jam penuh harus dilaksanakan. Setiap dua dari empat
nilai glukosa plasma selama tes yang memenuhi atau melebihi nilai-nilai yang terlihat dibawah ini
menunjukkan diagnosis DM gestasional :
Waktu
mg/dl
mmol/l
1 rasa
95
5,3
1 jam setelah makan
180
10,0
2 jam setelah makan
155
8,6
3 jam setelah makan
140
7,8
Kadar hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) merupakan indeks status glikemik selama 2-3 bulan
yang lampau. Pemeriksaan ini dianjurkan sebagai alat untuk memantau pengendalian glukosa darah.

I.

Terapi
Penatalaksaan diabetes melitus didasarkan pada (1) rencana diet, (2) latihan fisik dan
pengaturan aktivitas fisik, (3) agen-agen hipoglikemik oral, (4) terapi insulin, (5) pengawasan glukosa di
rumah, dan (6) pengetahuan tentang diabetes dan perawatan diri. Diabetes adalah penyakit kronik, dan
pasien perlu menguasai pengobatan dan belajar bagaimana menyesuaikan agar tercapai kontrol
metabolik yang optimal. Pasien dengan diabetes tipe 1 adalah defisiensi insulin dan selalu membutuhka
terapi insulin. Pada pasien diabetes tipe 2 terdapat resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif dan
dapat ditangani tanpa insulin.1
Dalam jangka pendek penatalaksaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala DM.
Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan
dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid, dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan
tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan
kegiatan mandiri. Umur 60 tahun keadaan, sasaran glukosa darah lebih tinggi dari pada biasa(puasa
<150 mg/dl dan sesudah makan <200 mg/dl).7
Tujuan utama dari pengobatan diabetes dalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam
kondisi normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Akan tetapi,

semakin mendekati dalam batas yang normal maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara
ataupun jangka panjang adalah semakin berkurang.
Terapi Sulih Insulin
Pada diabetes tipe I, pangkreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan
insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan
dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per oral (ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot
hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan
baik karena proses penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.
Insulin disuntikkan di bawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha, atau dinding perut.
Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.
Terapi Gizi Medis
Terapi gizi medis merupaka salah satu terapi non farmakologi yang sangat direkomendasikan
bagi penyandang (diabetisi). Terapi gizi medis ini pada prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola
makan yang didasarkan pada status gizi diabetisi dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan
individual.
Obat-obatan
Obat hipoglikemik oral (OHO) diperlukan dalam pengobatan DM tipe 2 jika intervensi gaya
hidup dengan diet dan latihan fisik tidak cukup untuk mengendalikan hipeglikemia. OHO terutama
terdiri atas dua tipe, yaitu prevarat insulinotrropik dan insulin sensitizer.
Golongan sulfonilurea sering kali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada
penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid,
tolbutamid, dan klopropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan
insulin oleh pangkreas dan meningkatkan efektifitasnya. Obat lainnya, yaitu metformin, tidak
mempengaruhi pelepasan insulin, tetapi meningkatkan respons tubuh terhadap insulin sendiri. Akabors
bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa dalam usus.
Latihan Fisik
Pengelolaan diabetes melitus (DM) yang meliputi 4 pilar, aktivitas fisik merupakan salah satu dari
keempat pilar tersebut. Aktivitas minimal otot skeletal lebih dari sekedar yang diperlukan untuk ventilasi
basal paru, dibutuhkan oleh semua orang termasuk diabetes sebagai kegiatan sehari-hari, seperti
misalnya : bangun tidur, memasak, berpakaian, mencuci, makan bahkan tersenyum. Berangkat kerja,
bekerja, berbicara, berfikir, tertawa, merencanakan kegiatan esok, kemuadian tidur. Semua kegiatan tadi
tanpa disadari oleh diabetisi, telah sekaligus menjalankan pengelolaan terhadap DM sehari-hari.
J.

Komplikasi
Komplikasi-komplikasi diabetes melitus dapat dibagi menjadi dua kategori mayor: (1)
komplikasi metabolik, dan (2) komplikasi-komplikasi vaskular jangka panjang
Komplikasi Metabolik Akut
Komplikasi metabolik diabetes disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi
glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang paling serius pada diabetes tipe 1 adalah ketoasodosis

diabetik (DKA). Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemia dan glukosuria
berat, penurunan lipogenesis, peningkatan lipolisis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai
pembentukan benda keton (asetoasetat, hidroksibutirat, dan aseton). Peningkatan keton dalam plasma
mengakibatkan ketosis. Peningkatan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen dan asisosis
metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil
akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Pasien dapat menjadi hipotensi dan mengalami syok.
Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak, pasien akan mengalami koma dan meninggal.1
Individu dengan ketoasidosi diabetik sering mengalami mual dan nyeri abdomen. Dapat terjadi
muntah, yang memperparah dehidrasi ekstrasel dan intrasel. Kadar kalium total tubuh turun akibat
poliuria dan muntah berkepanjangan dan muntah-muntah.3
Kompliksai Kronik Jangka Panjang
Komplikasi vaskular jangka panjang dari diabetes melibatkan pembuluh-pembuluh kecilmikroangiopati-dan pembuluh-pembuluh sedang dan besar-makroangiopati.Mikroangiopati lesi spesifik
diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina(retinopati diabetik), glumerulus ginjal (nefropati
diabetik) dan saraf-saraf perifer(neuropati diabetik), otot-otot serta kulit. Dipandang dari sudut
histokimia, lesi-lesi ini ditandai dengan peningkatan penimbunan glikoprotein. Selain itu, karena
senyawa kimia dari membran dasar dapat berasal dari glukosa, maka hiperglikemia menyebabkan
bertambahnya kecepatan pembentukan sel-sel membran dasar. Penggunaan glukosa dari sel-sel ini tidak
membutuhkan insulin. Bukti histologik mikroangiopati sudah tampak nyata pada penderita IGT. Namun,
manifestasi klinis penyakit vaskuler, retinopati atau nefropati biasanya baru timbul 15 sampai 20 tahun
sesudah awitan diabetes.1
Penyakit mata (retinopati)
Retinopati terjadi akibat penebalan membran basal kapiler, yang menyebabkan pembuluh darah
mudah bocor (pendarahan dan eksudat padat), pembuluh darah tertutup (iskemia retina dan pembuluh
darah baru) dan edema makula.
Nefropati
Lesi awalnya adalah hiperfiltrasi glomerulus (peningkatan laju filtrasi glomerulus) yang
menyebabkan penebalan difus pada membran basal glomerulus, bermanifestasi sebagai
mikroalbuminuria (albumin dalam urin 30-300 mg/hari), merupakan tanda yang sangat akurat terhadap
kerusakan vaskular secara umum dan menjadi prediktor kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Albumin persisten (albumin urin > 300 mg/hari) awalnya disertai dengan GFR yang normal, namun
setelah terjadi protenuria berlebih (protein dalam urin > 0,5 g/24 jam), GFR menurun secara progresif
dan terjadi gagal ginjal.
Neuropati

Keadaan ini terjadi melalui beberapa mekanisme, termasuk kerusakan pada pembuluh darah
kecil yang memberi nutrisi pada saraf perifer, dan metabolisme gula yang abnormal.8
K. Prognosis
Sekitar 60 % pasien DMTI yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang normal.
Sisanya dapat mengalami kebutaan, gagal ginjal kronik, dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat.7
Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang
secara progresif. Seorang obesitas yang menderita diabetes meiltus tipe II tidak akan memerlukan
pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolahraga secara teratur. Namun, pada
kebanyakan penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olahraga yang teratur.2
DM merupakan penyakit kronis yang memerlukan modifikasi gaya hidup dan pengobatan
selama seumur hidup. Meskipun tidak mudah dilaksanakan para pasien DM, keberadaan bentuk-bentuk
terapi DM yang baru dengan penurunan komplikasi telah memberikan harapan bahwa mereka dapat
menjalani kehidupan yang normal dan sehat.