Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Nyeri kepala merupakan keluhan utama yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari
hari dan salah satunya dapat disebabkan oleh karena gangguan pada cabang saraf no 5 yaitu
Nervus Trigeminus. Gangguan tersebut dikenal dengan penyakit Neuralgia Trigeminal atau dikenal
dengan istilah lain Tic Douloureux yang berupa adanya keluhan serangan nyeri hebat diwajah
salah satu sisi yang berulang dan dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai menit. Narasi
pertama yang dicatat adalah oleh seorang doker dari Jerman Johanes Laurentius Bausch pada
tahun 1671 yang mengalami nyeri disisi kanan wajahnya sehingga dia tidak bisa berbicara dan
makan dan akhirnya mengalami malnutrisi. Kemudian istilah Tic Douloureux digunakan oleh
seorang dokter dari Perancis Nicolaus Andre pada tahun 1756.1

Trigeminal Neuralgia merupakan suatu keluhan serangan nyeri wajah satu sisi
yang berulang. Disebut Trigeminal neuralgia, karena nyeri di wajah ini terjadi pada satu
atau lebih saraf dari tiga cabang saraf Trigeminal. Saraf yang cukup besar ini terletak di
otak dan membawa sensasi dari wajah ke otak. Rasa nyeri disebabkan oleh terganggunya
fungsi saraf Trigeminal sesuai dengan daerah distribusi persarafan salah satu cabang saraf
Trigeminal yang diakibatkan oleh berbagai penyebab. Serangan neuralgia Trigeminal
dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai dua menit. Beberapa orang merasakan
sakit ringan, kadang terasa seperti ditusuk. Sementara yang lain merasakan nyeri yang
cukup kerap, berat, seperti nyeri saat kena setrum listrik.2,3
Trigeminal Neuralgia merupakan penyakit yang relatif jarang, tetapi sangat
mengganggu kenyamanan hidup penderita, namun sebenarnya pemberian obat untuk
mengatasi Trigeminal neuralgia biasanya cukup efektif. Obat ini akan memblokade sinyal
nyeri yang dikirim ke otak, sehingga nyeri berkurang, hanya saja banyak orang yang tidak
mengetahui dan menyalahartikan Neuralgia Trigeminal sebagai nyeri yang ditimbulkan
karena kelainan pada gigi, sehingga pengobatan yang dilakukan tidaklah tuntas.4

BAB II
PEMBHASAN

2.1 Definisi
Neuralgia trigeminal disebut juga tic douloureux, adalah suatu kondisi nyeri kronis
yang mengenai saraf kranial ke-5 atau trigeminal yaitu salah satu saraf yang paling banyak
didistribusikan di kepala. Neuralgia trigeminal merupakan nyeri neuropatik (rasa sakit
yang terkait dengan cedera saraf atau lesi saraf).5
Dalam Konsensus Nasional II kelompok studi nyeri kepala Perdossi, neuralgia
trigeminal dideskripsikan sebagai suatu serangan nyeri wajah dengan gejala khas berupa
nyeri unilateral, tiba tiba, seperti tersengat aliran listrik atau terbakar berlangsung
singkat, jelas terbatas pada satu atau lebih distribusi cabang nervus trigeminus. Nyeri
umumnya dicetuskan oleh stimulus ringan dan timbul respon neuralgia trigeminal. Pada
umumnya terjadi remisi dalam jangka waktu yang bervariasi.
Trigeminal neuralgia menurut IASP ( International Association for the study of
Pain ) ialah nyeri di wajah yang timbulnya mendadak, biasanya unilateral. Nyerinya
singkat dan berat seperti ditusuk disalah satu atau lebih cabang nervus trigeminus.
Sementara menurut International Headache Society trigeminal neuralgia nyeri adalah nyeri
wajah yang menyakitkan, nyeri singkat seperti tersengat listrik pada satu atau lebih cabang
nervus trigeminus. Nyeri biasanya muncul akibat stimulus ringat seperti mencuci muka,
bercukur, gosok gigi, berbicara.6
2.2 Epidemiologi
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa 60% penderita neuralgia adalah wanita.
Insidensi kejadian untuk wanita sekitar 5,9 per 100.000 wanita; untuk pria sekitar 3,4
kasus per 100.000 pria. Kejadian juga berhubungan dengan usia, dimana neuralgia banyak
diderita pada usia antara 50 sampai 70 tahun, walaupun kadang kadang ditemukan pada
usia muda terutama jenis atipikal atau sekunder. Berdasarkan laporan yang ada, usia paling
muda yaitu 12 bulan terkena neuralgia trigeminal dan pada anak lain terjadi pada usia 3
sampai 11 tahun. Faktor ras dan etnik tampaknya tidak terpengaruh terhadap kejadian
Neuralgia Trigeminal. Angka prevalensi maupun insidensi untuk Indonesia belum pernah
dilaporkan . Bila insidensi dianggap sama dengan Negara lain maka terdapat 8000
2

penderita baru pertahun. Akan tetapi mengingat harapan hidup orang Indonesia makin
tinggi maka diperkirakan prevalensi penderita Neuralgia Trigeminal akan meningkat.4,7
2.3 Anatomi Fisiologis Nervus Trigeminus
Saraf trigeminal atau saraf kranial ke 5 memberi persarafan pada kulit wajah,
konjungtiva dan kornea, mukosa dari hidung, sinus-sinus dan bagian dari rongga mulut,
juga sebagian besar dari duramater. Saraf ini keluar dari bagian lateral pons berupa akar
saraf motoris dan saraf sensoris.

Akar saraf yang lebih kecil, yang disebut juga portio minor nervi trigemini,
merupakan akar saraf motoris. Berasal dari nukleus motoris dari saraf trigeminal dibatang
otak terdiri dari serabut-serabut motoris, terutama mensarafi otot-otot pengunyah. Akarakar saraf sensoris ini akan melalui ganglion trigeminal (ganglion gasseri) dan dari sini
keluar tiga cabang saraf tepi yaitu cabang optalmikus, cabang maksilaris dan cabang
mandibularis.8
1. Nervus Opthalmicus bersifat sensoris murni. Berjalan ke depan pada dinding lateral
sinus cavernosus dalam fossa crania media dan bercabang tiga; n. lacrimalis, frontalis,
dan nasociliaris, yang masuk ke orbita melalui fissure orbitalis superior. Saraf ini
disebarkan ke kornea mata, kulit dahi dan kepala, kelopak mata, mukosa sinus
paranasales, dan cavum nasi.
2. Nervus maxillaries bersifat sensoris murni. Meninggalkan cranium melalui foramen
rotumdum dan kemudian disebarkan ke kulit muka di atas maxilla, gigi rahang atas,
mukosa hidung, sinus maxillaries dan palatum.

3. Nervus mandibularis bersifat motoris dan sensoris. Radiks sensoris meninggalkan


ganglion trigeminal dan berjalan keluar cranium melalui foramen ovale. Radiks
motoris n.trigeminus juga keluar dari cranium melalui foramen yang sama dan
bergabung dengan akar sensoris membentuk truncus n.mandibularis. Serabut sensoris
n.mandibularis mensarafi kulit pipi dan kulit atas mandibula dan sisi kepala. Juga
mensarafi articulation temporomandibularis dan gigi rahang bawah, mukosa pipi,
dasar mulut, dan bagian depan lidah. Serabut motoris n.mandibularis mensarafi otototot pengunyah.

2.4 Etiologi
Ada banyak pendapat yang berbeda tentang etiologi dari trigeminal neuralgia,
namun beberapa dari mereka masih kontroversial karena kurangnya bukti objektif. Saat
ini ada tiga etiologi yang paling populer. Teori pertama berdasarkan pada penyakit yang
berhubungan, kedua adalah trauma langsung pada saraf dan teori ketiga merambat asal
polyetiologic penyakit.9
Penyakit yang berhubungan seperti gangguan dari vaskularisasi, multipel
sklerosism diabetes melitus, rematoid, dan lain-lain. Pada trauma langsung pada saraf
dibagi menjadi dua bagian yaitu trauma pada bagian perifer dan sentral. Teori yang ketiga
yaitu polyetiologic, faktor yang mungkin dapat berpengaruh dan menimbulkan
demielinisasi dan disatrofi.9

2.5 Patofisiologi
Hingga saat ini patogenesis trigeminal neuralgia masih kompleks, tidak jelas dan
masih menjadi topik perdebatan di dunia medis. Banyak teori dan hipotesis yang saat ini
menjelaskan mekanisme patofisiologis sentral maupun perifer. Pada awalnya trigeminal
neuralgia dideskripsikan sebagai penyakit fungsional karena tidak ada bukti kelainan
organik (morfologi) pada nervus trigeminus. Sekitar 40 tahun yang lalu, Kerr mengamati
spesiment rhizotomi pasien secara histologi dan menemukan perubahan dari nervus
trigeminus secara morfologi yang mirim dengan neuritis intersitial, demielinisasi serat
saraf, dan sklerosis perineural dan endoneural. Untuk beberapa tahun teori yang dapat
diterima dari gangguan mekanisme perifer yaitu teori hubungan pendek yang diajukan
oleh Dott pada tahun 1956. Menurut teori ini, serangan trigeminal dimulai dari
interkoneksi akson demielinisasi, aktivitas peningkatan impuls ektopik yang spontan.
Kemudian ada data yang diterbitkan tidak hanya perubahan morfologi nervus di perifer
tetapi juga terjadi perubahan di struktur sentral dari nervus trigeminus. Teori mekanisme
sentral menyatakan, trigeminal neuralgia dimulai dari thalamus, nukleus nervus
trigeminus, batang otak, atau cedera pada korteks serebri. Meskipun belum ada teori yang
dapat menjelaskan gejala dan perjalanan klinis penyakit.9
Serangan trigeminal neuralgia seperti reflek multineuronal, yang melibatkan
beberapa struktur: trigeminal dan sistem nervus facial, pembentukan retikularis, nukleus
diensepalon, dan korteks pada otak. Beberapa peneliti mengindikasikan bahwa stimulus
psikologis aferen dari reseptor nervus trigeminal dan menginduksi fokus eksitasi
paroksimal pada struktur sentral sehingga terjadi impuls eferen ke perifer.9
5

Distrofi nervus merupakan kemunduran saraf secara progresif dan akan berakhir
pada cabang perifer dari nervus trigeminus. Berdasarkan perjalanan penyakit, progresifitas
distropi tidak hanya pada cabang perifer nervus trigeminus tapi juga terjadi pada bagian
nervus intrakranial. Hal ini telah ditunjukkan bahwa reaksi alergi imun dari cabang nervus
trigeminus dengan cepat terjadi degranulasi sel mast. Agen-agen seperti histamin,
serotonin, heparin, bradikinin, dan yang lain bermigrasi menuju ruang intraseluler selama
sel mas berdegranulasi. Degranulasi sel mast dengan segera membangkitkan reaksi
hiperergic. Reaksi ini dimulai ketika imunoglobulin, terutama IgE memperbaiki reseptor
spesifik dari sel mast. Sel yang memproduksi IgE berada pada jaringan limpoid, telinga,
hidung, rongga mulut, dan membran saluran pernafasan bagian atas. Pada penyakit ini,
konsentrasi dari IgE meningkat pada inflamasi pada telinga, mulut, dan tenggorokakn
sebanyak 3 kali dan pada polip hidung meningkat 5-6 kali. Oleh karena itu jumlah antibodi
IgE meningkat ketika individu mengalami inflamasi pada daerah tersebut. Histamin
meningkat secara signifikan pada periode trigeminal akut. Histamin adalah suatu regulator
aktif aktivitas struktur saraf fungsional termasuk mediasi reaksi nyeri. Telah terbukti
bahwa nervus trigeminus adalah kemoreseptor trigger zone histamin. Hal ini mungkin
menjelaskan mengapa histamin yang dilepaskan selama reaksi imun lokal akan segera
terakumulasi pada saraf trigeminal. Bundel neurovaskular pada saraf trigeminus
terlokalisasi di osseus kanal. Oleh karena itu, edema saraf perifer ditimbulkan oleh
peradangan sering menyebabkan manifestasi "tunnel syndrome". Ini berarti bahwa kanal
osseus akan menjadi sempit sehingga menekan saraf yang dapat menyebabkan trigeminal
neuralgia.9
Karlov mengusulkan "teori patogenesis sentral" sejak hubungan sistem saraf
trigeminus dengan struktur sentral mampu mengerahkan aksi penghambatan pada formasi
segmental dan suprasegmental. Tindakan ini mampu menghambat pembentukan iritasi
fokus stabil tipe paroksismal terletak di SSP. Teori patogenesis sentral dikonfirmasi lebih
lanjut oleh Smith dan McDonald. Mereka membuktikan bahwa demielinasi bisa menjadi
sumber impuls ektopik yang membangkitkan gangguan fungsional dan nyeri pada
pembentukan fokus dominan dalam segmental batang otak dan di pusat-pusat otak
suprasegmental. Dengan demikian, distrofi di TNS merangsang mekanisme patogenesis
pusat neuralgia. Tidak diragukan lagi, harus ada kondisi yang sesuai dalam tubuh untuk
mekanisme patogenetik. 9
2.6 Klasifikasi
6

IHS (International Headache Society) membedakan Neuralgia Trigeminal menjadi


NT klasik dan NT simptomatik. Termasuk NT klasik adalah semua kasus yang etiologinya
belum diketahui (idiopatik). Sedangkan NT simptomatik dapat diakibatkan karena tumor,
multipel sklerosis atau kelainan di basis kranii. Perbedaan neuralgia trigeminus idiopatik
dan simptomatik.7
Trigminal Neuralgia Idiopatik:
1

Nyeri bersifat paroksimal dan terasa diwilayah sensorik cabang maksilaris, sensorik
cabang maksilaris dan atau mandibularis.

Timbulnya serangan bisa berlangsung 30 menit yang berikutnya menyusul antara


beberapa detik sampai menit.

Nyeri merupakan gejala tunggal dan utama.

Penderita berusia lebih dari 45 tahun , wanita lebih sering terkena dibanding lakilaki.

Trigeminal Neuralgia Simptomatik:


1

Nyeri berlangsung terus menerus dan terasa dikawasan cabang optalmikus atau
nervus infra orbitalis.

Nyeri timbul terus menerus dengan puncak nyeri lalu hilang timbul kembali.

Disamping nyeri terdapat juga anethesia/hipestesia atau kelumpuhan saraf kranial,


berupa gangguan autonom ( Horner syndrom ).

Tidak memperlihatkan kecendrungan pada wanita atau pria dan tidak terbatas pada
golongan usia.

2.7 Manifestasi Klinis


Trigeminal neuralgia memberikan gejala dan tanda sebagai berikut :8,10,11
1

Rasa nyeri berupa nyeri neuropatik, yaitu nyeri berat paroksimal, tajam, seperti
menikam, tertembak, tersengat listrik, terkena petir, atau terbakar yang berlangsung
singkat beberapa detik sampai beberapa menit tetapi kurang dari dua menit, tiba-tiba
dan berulang. Diantara serangan biasanya ada interval bebas nyeri, atau hanya ada

rasa tumpul ringan.


Lokasi nyeri umumnya terbatas di daerah dermatom nervus trigeminus dan
unilateral. Tersering nyeri didaerah distribusi nervus mandibularis (V2) 19,1% dan
nervus maksilaris (V3) 14,1% atau kombinasi keduanya 35,9% sehingga paling

sering rasa nyeri pada setengah wajah bawah. Jarang sekali hanya terbatas pada
nervus optalmikus (V1) 3,3%. Sebagian pasien nyeri terasa diseluruh cabang nervus
trigeminus (15,5%) atau kombinasi nervus maksilaris dan optalmikus (11,5%).
Jarang ditemukan kombinasi nyeri pada daerah distribusi nervus optalmikus dan
3

mandibularis (0,6%).
Trigeminal neuralgia dapat dicetuskan oleh stimulus non-noksius seperti perabaan
ringan, getaran, atau stimulus mengunyah. Nyeri pada trigeminal neuralgia dapat
mengalami remisi dalam satu tahun atau lebih. Pada periode aktif neuralgia,
karakteristik terjadi peningkatan frekuensi dan beratnya serangan nyeri secara

progresif sesuai dengan berjalannya waktu.


Sekitar 18% penderita dengan trigeminal neuralgia, pada awalnya nyeri atipikal
yang makin lama menjadi tipikal, disebut preneuralgia trigeminal. Nyeri terasa
tumpul, terus-menerus pada salah satu rahang yang berlangsung beberapa hari
sampai beberapa tahun. Stimulus termal dapat menimbulkan nyeri berdenyut
sehingga sering dianggap sebagai nyeri dental.

2.8 Diagnosis
Pada anamnesa yang perlu diperhatikan adalah lokalisasi nyeri, kapan dimulainya
nyeri, menentukan interval bebas nyeri, menentukan lamanya, efek samping, dosis, dan
respons terhadap pengobatan, menanyakan riwayat penyakit lain seperti ada penyakit
herpes atau tidak. Pada pemeriksaan fisik neurologi dapat ditemukan sewaktu terjadi
serangan, penderita tampak menderita sedangkan diluar serangan tampak normal. Reflek
kornea dan test sensibilitas untuk menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus
bilateral. Membuka mulut dan deviasi dagu untuk menilai fungsi otot masseter (otot
pengunyah) dan fungsi otot pterygoideus. Trigeminal neuralgia seyogyanya dapat
dibedakan dengan nyeri wajah yang lainnya. Pemeriksaan kesehatan dan riwayat gejalanya
harus dilakukan bersama-sama pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan masalah
yang serius. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa yang akurat, pemeriksaan klinis
dan uji klinis untuk mengetahui secara pasti stimulus pencetus dan lokasi nyeri saat
pemeriksaan.12
Kriteria diagnosis trigeminal neuralgia menurut International Headache Society
adalah sebagai berikut:12
A. Serangan serangan paroxysmal pada wajah, nyeri di frontal yang berlangsung
beberapa detik tidak sampai 2 menit.
B. Nyeri setidaknya bercirikan 4 sifat berikut:
8

1. Menyebar sepanjang satu atau lebih cabang N trigeminus, tersering pada cabang
mandibularis atau maksilaris.
2. Onset dan terminasinya terjadi tiba-tiba , kuat, tajam , superficial, serasa menikam
atau membakar.
3. Intensitas nyeri hebat , biasanya unilateral, lebih sering disisi kanan.
4. Nyeri dapat timbul spontan atau dipicu oleh aktifitas sehari seperti makan,
mencukur, bercakap cakap, mambasuh wajah atau menggosok gigi, area picu
dapat ipsilateral atau kontralateral.
5. Diantara serangan , tidak ada gejala sama sekali.
C. Tidak ada kelainan neurologis.
D. Serangan bersifat stereotipik.
E. Tersingkirnya kasus-kasus nyeri wajah lainnya melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan khusus bila diperlukan.
Pemeriksaan penunjang lebih bertujuan untuk membedakan trigeminal neuralgia yang
idiopatik atau simptomatik. CT Scan kepala untuk melihat keberadaan tumor. Sklerosis
multiple dapat terlihat dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). MRI ini sering
digunakan sebelum tindakan pembedahan untuk melihat kelainan pembuluh darah.
Diagnosa trigeminal neuralgia dibuat dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan dan
gambaran rasa sakitnya. Sementara tidak ada pemeriksaan diagnostik yang dapat
mempertegas adanya kelainan ini. Teknologi CT Scan dan MRI sering digunakan untuk
melihat adanya tumor atau abnormalitas lain yang menyebabkan sakit tersebut.
Pemeriksaan MRTA (high-definition MRI angiography) pada nervus trigeminal dan brain
stem dapat menunjukkan daerah nervus yang tertekan oleh vena atau arteri.13
2.9 Diagnosis Banding
Neuralgia trigeminal harus dibedakan dari tipe nyeri lainnya yang muncul pada
wajah dan kepala.14
Nyeri neuralgia postherpetikum dapat menyerupai neuralgia trigeminal, tetapi
adanya eskar bekas erupsi vesikel dapat mengarahkan kepada neuralgia postherpetikum.
Neuralgia postherpetikum pada wajah biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh
nervus trigeminus cabang pertama.14
Sindrom Costen yang bermanifestasi sebagai nyeri menjalar ke rahang bawah dan
pelipis saat mengunya) dapat menyerupai neuralgia trigeminal tetapi hanya dipicu oleh

proses mengunyah; biasanya disebabkan oleh artrosis temporomandibular dan maloklusi


gigi.14
Nyeri psikogenik daerah wajah sering menyebabkan kesulitan diagnosis. Sindrom
yang disebut neuralgia fasial atipik ini (nyeri wajah atipikal) sering ditemukan pada wanita
muda atau setengah baya. Nyeri bersifat tumpul dan menetap, sering kali unilateral pada
rahang atas (walaupun dapat menyebar ke bagian lain kepala dan leher) dan biasanya
dihubungkan dengan manifestasi ansietas kronik dan depresi. Tanda-tanda fisis tidak
ditemukan dan pemberian analgetika tidak mempan. Perbaikan biasanya diperoleh dengan
penggunaan antidepresan dan obat penenang oleh karena itu, penentuan diagnosis harus
sebaik mungkin.14
Neuralgia migrainosa (nyeri kepala sebelah) dapat menyebabkan nyeri paroksismal
berat pada daerah persarafan trigeminal tetapi dapat dibedakan berdasarkan periode,
ketiadaan faktor pencetus dan durasi tiap nyeri paroksismal yang lebih lama.14
Tabel 6.1 Diagnosis Banding Neuralgia Trigeminal
Diagnosis
Banding

Faktor yang
Meringankan/
Memperburuk

Persebaran

Karakteristik Klinis

Neuralgia
Trigemina
l

Daerah
persarafan
cabang II dan
III nervus
trigeminus,
unilateral

Titik-titik
rangsang
sentuh,
mengunyah,
senyum,
bicara, dan
menguap

Neuralgia
Fasial
Atipik

Unilateral
atau bilateral,
pipi atau
angulus
nasolabialis,
hidung bagian
dalam
Unilateral
Biasanya
pada daerah
persebaran
cabang
oftalmikus
nervus V
Unilateral,

Laki- laki/ perempuan = 1:3,


Lebih dari 50 tahun,
Paroksismal (10-30 detik),
nyeri bersifat menusuk-nusuk
atau sensasi terbakar, persisten
selama berminggu-minggu atau
lebih,
Ada titik-titik pemicu,
Tidak ada paralisis motorik
maupun sensorik.
Lebih banyak ditemukan pada
wanita usia 30-50 tahun
Nyeri hebat berkelanjutan
umumnya pada daerah maksila

Riwayat herpes
Nyeri seperti sensasi terbakar,
berdenyut-denyut
Parastesia, kehilangan sensasi
sensorik keringat
Sikatriks pada kulit

Sentuhan,
pergerakan

Nyeri berat berdenyut-denyut

Mengunyah,

Neuralgia
Post
herpetiku
m

Sindrom

Tidak ada

10

Costen

Migren

dibelakang
atau di depan
telinga,
pelipis, wajah
Orbitofrontal,
rahang atas,
angulus
nasolabial

diperberat oleh proses


mengunyah,
Nyeri tekan sendi temporomandibula.
Nyeri kepala sebelah

tekanan sendi
temporomandi
bular
Alkohol pada
beberapa kasus

2.10 Tatalaksana
Seperti diketahui terapi dari trigeminal neuralgia ada 2 macam yaitu terapi
medikamentosa dan terapi pembedahan. Telah disepakati bahwa penanganan lini pertama
untuk trigeminal neulalgia adalah terapi medikamentosa. Tindakan bedah hanya
dipertimbangkan apabila terapi medikamentosa mengalami kegagalan
a. Terapi Farmakologi
Peneliti-peneliti dalam bidang nyeri neuropatik telah mengembangkan beberapa
pedoman terapi farmakologik. Dalam guidline EFNS ( European Federation of
Neurological

Society ) disarankan terapai neuralgia trigeminal dengan carbamazepin

( 200-1200 mg sehari ) dan oxcarbamazepin ( 600-1800mg sehari ) sebagai terapi lini


pertama. Sedangkan terapai lini kedua adalah baclofen dan lamotrigin. Neuralgia
trigeminal sering mengalami remisi sehingga pasien dinasehatkan untuk mengatur dosis
obat sesuai dengan frekwensi serangannya. Dalam pedoman AAN-EFNS ( American
Academy of Neurology- European Federation of Neurological Society ) telah disimpulkan
bahwa: carbamazepin efektif dalam pengendalian nyeri , oxcarbazepin juga efektif,
baclofen dan lamotrigin mungkin juga efektif. Studi open label telah melaporkan manfaat
terapi obat-obatan anti epilepsi yang lain seperti clonazepam, gabapentin, phenytoin dan
valproat.3
Karbamazepine merupakan pengobatan lini pertama dengan dosis pemberian 2001200 mg/hari dan oxcarbamazepin dengan dosis pemberian 600-1800 mg/hari sesuai
dengan pedoman pengobatan. Tingkat keberhasilan dari karbamazepin jauh lebih kuat
dibandingkan oxcarbamazepin, namun oxcarbamazepin memiliki profil keamanan yang
lebih baik. Sementera pengobatan lini kedua dapat diberikan lamotrgine dengan dosis 400
mg/ hari, baclofenac 40 80 mg/hari, dan pimizoid 4 12 mg/hari.3

11

Selain itu ada juga pilihan pengobatan alternative, yaitu dengan memberikan obat
antiepilepsi yang telah dipelajari dalam kontrol kecil dan studi terbuka yang disarankan
untuk

menggunakan

fenitoin,

clonazepam,

gabapentin,

pregabalin,

topiramate,

levetiracetam, dan valproat.3


Management terapi pada trigeminal neuralgia

Karbamazepine
Karbamazepine bekerja dengan cara

menghambat aktivitas neuronal pada kanal

natrium, sehingga dapat mengurangi rangsangan neuron. Karbamazepine memperlihatkan


efek analgesik yang selektif misalnya pada tabes dorsalis dan neuropati lainnya yang sukar
diatasi dengan analgesik biasa. Sebagian besar penderita trigeminal neuralgia mengalami
penurunan sakit yang berarti dengan menggunakan obat ini. Karena potensi untuk
menimbulkan efek samping sangat luas, khususnya gangguan darah seperti leukopeni,
anemia aplastik dan agranulositosis maka pasien yang akan diterapi dengan obat ini
dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan nilai basal dari darah dan melakukan
pemeriksaan ulang selama pengobatan.3,14
Pemberian karbamazepine dihentikan jika jumlah leukosit abnormal (rendah). Jika
efek samping yang timbul parah, dosis karbamazepine perhari dapat dikurangi 1-3 perhari,
sebelum mencoba menambah dosis perharinya lagi. Karbamazepine diberikan dengan

12

dosis berkisar 200-1200 mg, dimana hampir 70% memperlihatkan perbaikan. Dosis
dimulai dengan dosis minimal 1-2 pil perhari, secara bertahap dapat ditambah hingga rasa
sakit hilang atau mulai timbul efek samping. Selama periode remisi dosis dapat dikurangi
secara bertahap. Karbamazepine dapat dikombinasi dengan fenitoin atau baklofen bila
nyeri membandel, atau diubah ke oxykarbazepine.3
Efek samping yang timbul dalam dosis yang besar yaitu drowsiness, mental confusion,
dizziness, nystagmus, ataxia, diplopia, nausea dan anorexia. Terdapat juga reaksi serius
yang tidak berhubungan dengan dosis yaitu allergic skin rash, gangguan darah seperti
leukopenia atau agranulocytosis, atau aplastic anemia, keracunan hati, congestive heart
failure, halusinasi dan gangguan fungsi seksual.3,14
Oxykarbamazepin
Oxykarbamazepine merupakan ketoderivat karbamazepine dimana mempunyai efek
samping lebih rendah dibanding dengan karbamazepine dan dapat meredakan nyeri
dengan baik. Pada umumnya dosis dimulai dengan 2 x 300 mg yang secara bertahap
ditingkatkan untuk mengontrol rasa sakitnya. Dosis maksimumnya 2400-3000 mg perhari.
Efek samping yang paling sering adalah nausea, mual, dizziness, fatique dan tremor. Efek
samping yang jarang timbul yaitu rash, infeksi saluran pernafasan, pandangan ganda dan
perubahan elektrolit darah. Seperti obat anti-seizure lainnya, penambahan dan
pengurangan obat harus secara bertahap.3
Lamotrigine
Lamotrigin berefek pada saluran natrium, menstabilkan membran saraf dan
menghambat pelepasan rangsangan neurotransmiter. Dosis awal 25 mg/hari secara
perlahan meningkat sampai dosis 200 - 400 mg/hari dibagi dua dosis. Efek samping dapat
berupa pusing, mual, penglihatan kabur dan ataksia. Sekitar 7- 10% pasien dapat terjadi
ruam pada kulit selama terapi 4 - 8 minggu. Dapat juga terjadi kelainan berupa deskuamasi
atau terkait gejala parah demam atau limfadenopati indikasi Stevens - Johnson sindrom
yang membutuhkan penghentian segera.3
Phenitoin
Phenitoin berefek anti konvulsi tanpa menyebabkan depresi umum SSP. Sifat anti
konvulsi obat ini berdasarkan pada penghambatan penjalaran rangsang dari fokus
kebagian lain di otak. Penggunaan phenitoin harus hati-hati dalam mengkombinasikan
13

dengan karbamazepine karena dapat menurunkan dan kadang-kadang menaikkan kadar


phenitoin dalam plasma, sebaiknya diikuti dengan pengukuran kadar obat dalam
plasma.8,15
Phenitoin dapat mengobati lebih dari setengah penderita trigeminal neuralgia dengan
dosis 300-600mg dibagi dalam 3 dosis perhari. Efek samping yang ditimbulkannya adalah
nystagmus, dysarthria, ophthalmoplegia dan juga mengantuk serta kebingungan. Efek
lainnya adalah hiperplasia gingiva dan hypertrichosis.3
Baklofen
Baklofen tidaklah seefektif karbamazepine atau phenytoin, tetapi dapat dikombinasi
dengan obat-obat tersebut. Obat ini berguna pada pasien yang baru terdiagnosa dengan
rasa nyeri relatif ringan dan tidak dapat mentoleransi karbamazepine.. Dosis untuk
menghilangkan rasa sakit secara komplit 40-80 mg perhari. Baklofen memiliki durasi yang
pendek sehingga penderita trigeminal neuralgia yang berat membutuhkan dosis setiap 2-4
jam.3
Efek samping yang paling sering timbul karena pemakaian baklofen adalah
mengantuk, pusing, nausea dan kelemahan kaki. Baklofen tidak boleh dihentikan secara
tiba-tiba setelah pemakaian lama karena dapat terjadi halusinasi atau serangan jantung.3
Gabapentin
Dosis yang dianjurkan 1200-3600 mg/hari. Obat ini hampir sama efektifnya dengan
karbamazepine tetapi efek sampingnya lebih sedikit. Dosis awal biasanya 3x300 mg/hari
dan ditambah hingga dosis maksimal. Reaksi merugikan paling sering adalah somnolen,
ataksia, fatique dan nystagmus. Seperti semua obat, penghentian secara cepat harus
dihindari.3
b. Terapi Pembedahan
Terapi farmakologik umumnya efektif akan tetapi ada juga pasien yang tidak bereaksi
atau timbul efek samping yang tidak diinginkan maka diperlukan terapi pembedahan.3
Beberapa situasi yang mengindikasikan untuk dilakukannya terapi pembedahan yaitu:
(1) Ketika pengobatan farmakologik tidak menghasilkan penyembuhan yang berarti, (2)
Ketika pasien tidak dapat mentolerir pengobatan dan gejala semakin memburuk, (3)
Adanya gambaran kelainan pembuluh darah pada MRI.2

14

Tindakan operatif yang dapat dilakukan adalah prosedur ganglion gasseri, terapi
gamma knife dan dekompresi mikrovaskuler. Pada prosedur perifer dilakukan blok pada
nervus trigeminus bagian distal ganglion gasseri yaitu dengan suntikan streptomisin,
lidokain, alkohol . Prosedur pada ganglion gasseri ialah rhizotomi melalui foramen ovale
dengan radiofrekuensi termoregulasi, suntikan gliserol atau kompresi dengan balon ke
dalam kavum Meckel. Terapi gamma knife merupakan terapi radiasi yang difokuskan pada
radiks nervus trigeminus di fossa posterior. Dekompresi mikrovaskuler adalah kraniotomi
sampai nervus trigeminus difossa posterior dengan tujuan memisahkan pembuluh darah
yang menekan nervus trigeminus.3
2.11

Prognosis
Setelah serangan awal, trigeminal neuralgia dapat muncul kembali selama berbulan-

bulan atau bahkan bertahun-tahun berikutnya. Setelah itu serangan bisa menjadi lebih
sering, lebih mudah dipicu, dan mungkin memerlukan pengobatan jangka panjang.
Meskipun neuralgia trigeminal tidak terkait dengan hidup singkat, morbiditas yang terkait
dengan nyeri wajah kronis dan berulang dapat dipertimbangkan jika kondisi tidak cukup
terkontrol. Kondisi ini dapat berkembang menjadi sindrom nyeri kronis, dan pasien
dapatmenderita depresi dan kehilangan fungsi sehari-hari. Pasien dapat memilih untuk
membatasi kegiatan yang memicu rasa sakit, seperti mengunyah, sehingga pasien mungkin
kehilangan berat badan dalam keadaan ekstrim.1

BAB III
KESIMPULN

Neuralgia Trigeminal adalah suatu keadaan nyeri yang sangat hebat dengan
ditandai serangan nyeri yang mendadak dan terus menerus seperti menusuk atau seperti
tersengat aliran listrik yang berlangsung singkat dan berakhir dalam beberapa detik sampai
beberapa menit. Neuralgia trigeminal kebanyakan bersifat unilateral dan mengenai daerah
yang disarafi nervus trigeminus. Ada dua macam etiologi yang pertama adalah idiopatik
15

atau disebut Neuralgia Trigeminal primer dan yang kedua adalah simptomatik yang
disebut Neuralgia Trigeminal sekunder sedangkan patofisiologi sampai sekarang masih
belum jelas dan sejauh ini belum ada pemeriksaan spesifik baik secara klinis maupun
laboratorium untuk mendiagnosa Neuralgia Trigeminal. Pada saat sekarang pengobatan
utama adalah pemberian

dengan cara farmakologik dan bila tidak berhasil dapat

dipertimbangkan dengan cara pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA
1

Rabinovich A, Fang Y, Scrivani S, Diagnosis and Management of Trigeminal Neuralgia,

Columbia Dental Review, 2000 ; 5: 4-7.


Gupta SK, Gupta A, Mahajin A, et al. Clinical insights in Trigeminal Neuralgia. JK

Science 2005; 7 (3): 181-184.


Mark Obermann. Treatment optionts in trigeminal neuralgia. Therapeutics Advances in
Neurological Disorders 2010; 3(2): 107-115.

Meraj NS, Siddiqui S, Ranashinghe JS, et al. Pain management: trigeminal neuralgia.
Hospital Physician 2003; 3: 64-70.

16

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2013. Trigeminal Neuralgia Fact
Sheet.http://www.ninds.nih.gov/disorders/trigeminal_neuralgia/detail_trigeminal_neuralgi

a.htm. Diakses tanggal 22 Maret 2014 pukul 20:11


Nurmikko TJ and Eldridge PR. Trigeminal neuralgia-pathophysiology, diagnosis, and

current treatment. Brithish Journal of Anaesthesia 2001; 87 (1): 117-132.


Mardjono M, Sidharta P, Saraf Otak kelima atau Nervus Trigeminus dalam: Neurologi

Klinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 2008: hal 149 158.


Kauffman AM and Patel M. Your complete guide to trigeminal neuralgia. [online] CCND
Winnipeg

2001.

[cited

2012

June

1];

Available

from

URL:

http://www.umanitoba.ca/cranial_nerves/trigeminal_neuralgia/manuscript/
Gintautas S, Joudzybalys G, Wang HL. Aetiology and pathogenesis of trigeminal

neuralgia: a comprehensive review. J Oral Maxillofac 2012; 3(4): 1-7


10 Rabinovich A, Fang Y, Scrivani S. Diagnosis and Management of Trigeminal Neuralgia.
Columbia Dental Review 2000; 5: 4-7.
11 Passos JH et al. Trigeminal Neuralgia. [online] Journal of Dentistry & Oral Medicine
2001. [cited 2013 June 1]; Available from: URL: http://www.epub.org.br.
12 Kleef MV, Genderen WE, Narouze S. Evidence based medicine trigeminal neuralgia.
World Institute of Pain 2009; 9(4): 252-259.
13 Sharav Y. Orofacial Pain : Dental Vascular & Neuropathic, In: Pain-An Updated Review.
Seattle: IASP Press. 2002.
14 Manish KS. Trigeminal neuralgia. [online] Medscape 2013. [cited 2013 June 1]; Available
from URL: http://emedicine.medscape.com/article/1145144-overview
15 Bryce DD. Trigeminal Neuralgia. [online] Facial Neuralgia Rerources 2006 [cited 2013
June 1]; Availabe from: URL: http://www.Facial Neuralgia, org/conditins/tn.html.

17