Anda di halaman 1dari 8

http://catatankecil-indri.blogspot.com/2014/02/bpk-dengan-bpkp-bedanya-apa-sih.

html
Sabtu, 15 Februari 2014

BPK DENGAN BPKP BEDANYA APA SIH ?DANYA APA SIH ?

Diposkan oleh rumah bunda di 15.33

Orang sering bertanya: "apa sih bedanya BPK dan BPKP ?". Jawaban yang biasa diberikan
adalah BPKP adalah internal audit sedangkan BPK adalah eksternal audit. Ketika politik
menjadi primadona, dengan usaha kerasnya akhirnya muncul UU 15 tahun 2006 tentang
BPK, dimana dalam pasal 2 menyebutkan bahwa BPK merupakan satu lembaga negara yang
bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Undang undang inipun tidak mengatur hubungan dengan internal audit, maka lalu timbul
persepsi dimana kewenangan BPKP ?
Apakah benar BPKP tidak punya lagi kewenangan untuk melakukan audit atas pengelolaan
keuangan negara ? lalu bagaimana BPKP melakukan tugasnya yaitu "Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan ?"
ok... kita mulai ya......
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) merupakan dua badan yang serupa tapi tak sama. Dua lembaga negara ini sama-sama
mempunyai fungsi pengawasan, tetapi BPK melakukan pengawasan Ekstern sedangkan
BPKP melakukan pengawasan Intern. Jika secara semantik sudah jelas tampak perbedaan
antara pemeriksaan dan pengawasan, tidak demikian halnya dalam praktik. Meski dalam
UU hanya ada satu badan yang diberi wewenang melaksanakan pemeriksaan pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara, pada kenyataannya ada lagi beberapa badan lain yang
melaksanakan pemeriksaan meski wewenangnya adalah pengawasan.
BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), sesuai dengan namanya, adalah satu-satunya
badan yang diberi wewenang melaksanakan pemeriksaan. Namun demikian, BPKP

(Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), misalnya, meski sesuai namanya


wewenangnya jelas pengawasan, sepak-terjangnya nyaris sama dengan BPK.
Yuk kita dalami lagi perbedaannya....
A. BPKP (BADAN PENGAWAS KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN)
Banyaknya lembaga negara yang didirikan tanpa memandang efektifitas dan efisiensi,
menjadikan beberapa lembaga negara mempunyai wewenang yang hampir sama bahkan sama
sekali tidak ada perbedaan. Kesimpangsiuran wewenang tersebut saat ini terjadi pada dua
lembaga Pemeriksaan. Lembaga pertama adalah BPK yang dibentuk berdasarkan UU
no 15 tahun 2006, dan selanjutnya BPKP yang dibentuk berdasarkan Keppres no 103
tahun 2001 mengenai Lembaga Negara Non Departemen.
Berdasarkan Keputusan Presiden No 103 tahun 2001, menjelaskan mengenai
pembentukan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang didalamnya diuraikan hal-hal
yang menjadi fungsi, tugas, wewenang dan pertanggungjawaban lembaga tersebut.
Dalam Keppres No. 103 tahun 2001 pasal 1, menjelaskan bahwa Lembaga Pemerintah
Non Departemen yang selanjutnya disebut LPND adalah lembaga pemerintah pusat yang
dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. LPND merupakan
lembaga yang bekerja berdasarkan permintaan dari presiden dan wajib melaporkan hasil
kerjanya kepada presiden berdasarkan ketentuan peraturan perundang-udangan yang berlaku.
Kemudian dalam pasal 3 Perpres No. 11 Tahun 2005, yang termasuk LPND
diantaranya adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang
juga disandingkan dengan BAPPENAS, BPS, BIN dsb.
Berdasarkan pasal tersebut, jelas bahwa posisi BPKP merupakan LPND yang
bertugas atas permintaan Presiden dan bertanggungjawab kepada Presiden. Namun
yang menjadi catatan disini adalah tugas yang diusulkan oleh pihak BPKP atau yang diminta
oleh Presiden harus sesuai dengan aturan yang mendasarinya. Jelas bahwa yang
dititikberatkan sebagai tugas BPKP adalah mencakup pengawasan baik pengawasan
keuangan pelaksanaan pemerintahan dan pengawasan kinerja pelaksanaan pemerintahan atau
disebut pengawasan intern.
Berdasarkan PP No. 60 Tahun 2008, BPKP merupakan Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan berwenang
melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan
tertentu yang meliputi: kegiatan yang bersifat lintas sektoral; kegiatan kebendaharaan
umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara; dan kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
Kemudian Fungsi pemeriksaan, sesuai dengan UU No 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No 15 Tahun
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.

BPKP melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan


pembangunan yang berupa Audit, Konsultasi, Asistensi, Evaluasi, Pemberantasan KKN serta
Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Hasil pengawasan keuangan dan pembangunan dilaporkan kepada Presiden selaku


kepala pemerintahan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan-kebijakan
dalam menjalankan pemerintahan dan memenuhi kewajiban akuntabilitasnya. Hasil
pengawasan BPKP juga diperlukan oleh para penyelenggara pemerintahan lainnya termasuk
pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam pencapaian dan peningkatan kinerja instansi
yang dipimpinnya.

Lengkapnya adalah bahwa BPKP melaksanakan tugas Pemerintahan di bidang


pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas, BPKP
menyelenggarakan fungsi :
1. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
2. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
3. koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP;
4. pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan
keuangan dan pembangunan;
5. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan
umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan,
hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga
Dalam menyelenggarakan fungsi tersebut, BPKP mempunyai kewenangan :
1. penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;
2. perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;
3. penetapan sistem informasi di bidangnya;
4. pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi
pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi di bidangnya;
5. penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga
profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidangnya;
6. kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku seperti memasuki semua kantor, bengkel, gudang, bangunan, tempat-tempat
penimbunan, dan sebagainya; meneliti semua catatan, data elektronik, dokumen, buku
perhitungan, surat-surat bukti, notulen rapat panitia dan sejenisnya, hasil survei
laporan-laporan pengelolaan, dan surat-surat lainnya yang diperlukan dalam
pengawasan; pengawasan kas, surat-surat berharga, gudang persediaan dan lain-lain;
meminta keterangan tentang tindak lanjut hasil pengawasan, baik hasil pengawasan
BPKP sendiri maupun hasil pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan, dan lembaga
pengawasan lainnya.
Kegiatan yang dilakukan oleh BPKP antara lain :
1. Pembinaan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah pada instansi pemerintah baik
Kementerian/LPNK maupun Pemerintah Daerah serta lembaga lainnya

2. Audit atas berbagai kegiatan unit kerja di lingkungan Departemen/LPND maupun


Pemerintah Daerah
3. Policy Evaluation
4. Fraud Control Plan
5. Optimalisasi penerimaan negara
6. Asistensi penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah
7. Asistensi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
8. Asistensi penerapan Good Corporate Governance
9. Risk Management Based Audit
10. Audit Investigatif atas kasus berindikasi korupsi
11. Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor dari Inspektorat Daerah maupun Inspektorat
Jenderal
12. Review Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
B. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK)
Dasar Hukum terhadap BPK pun tertulis dalam UUD 1945 Bab VIII A Pasal 23 E, F,
dan G. Serta UU RI No. 15 Tahun 2006 Ttg Badan Pemeriksa Keuangan sebagai pengganti
UU RI No. 5 Tahun 1973 Ttg Badan Pemeriksa Keuangan. UU RI No. 15 Tahun 2004 Ttg
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. UU RI No. 1 Tahun 2004
Ttg Perbendaharaan Negara. Dan UU RI No. 17 Tahun 2003 Ttg Keuangan Negara.
Pada masa sekarang BPK telah mendapat dukungan konstitusional dari MPR RI dalam
Sidang Tahunan Tahun 2002 yang memperkuat kedudukan BPK RI sebagai lembaga
pemeriksa eksternal di bidang Keuangan Negara, yaitu dengan dikeluarkannya TAP MPR
No.VI/MPR/2002 yang antara lain menegaskan kembali kedudukan BPK sebagai satusatunya lembaga pemeriksa eksternal keuangan negara dan peranannya lebih dimantapkan
sebagai lembaga yang independen dan profesional. Guna memantapkan tugasnya, ketentuan
yang mengatur BPK RI dalam UUD 1945 telah diamandemen. Sebelum amandemen, BPK RI
hanya diatur dalam satu ayat (pasal 23 ayat 5) kemudian dalam Perubahan Ketiga UUD 1945
dikembangkan menjadi satu bab tersendiri (Bab VIII A) dengan tiga pasal (23E, 23F, dan
23G)," ungkapnya lagi.
Dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 pasal 1, yang dimaksud dengan Badan Pemeriksa
Keuangan, yang selanjutnya disingkat BPK, adalah lembaga negara yang bertugas untuk
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan pasal 6, BPK
memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan
oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan
Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau
badan lain yang mengelola keuangan negara. Kemudian, berdasarkan Pasal 7 UU No. 15
Tahun 2006 tersebut dan Pasal 23E Ayat 2 BAB VIIIA UUD 1945, BPK menyerahkan hasil
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara kepada DPR, DPD, dan
DPRD sesuai dengan kewenangannya. Dengan demikian, jelas bahwa fungsi pemeriksaan

terhadap entitas/lembaga-lembaga Negara ada pada tugas dan kewenangan BPK. Salah
satunya adalah fungsi pemeriksaan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Anggota BPK dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah, dan diresmikan oleh Presiden.
Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD (sesuai
dengan kewenangannya). BPK mempunyai 9 orang anggota, dengan susunan 1 orang Ketua
merangkap anggota, 1 orang Wakil Ketua merangkap anggota, serta 7 orang anggota.
Anggota BPK memegang jabatan selama 5 tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali
untuk satu kali masa jabatan.
Dalam melaksanakan tugasnya, BPK melakukan pemeriksaan terhadap seluruh lembaga yang
dalam kesehariannya menggunakan dana APBN dan APBD. Lembaga mulai dari pemerintah
pusat, daerah, dan seluruh lembaga negara lainnya seperti KPU, KPI, KPAID, dan lainnya
bisa diaudit oleh BPK. BPK RI mempunyai kewenangan untuk melakukan tiga jenis:
1. pertama, pemeriksaan keuangan. "Dalam pemeriksaan ini BPK bisa memberikan
opini tentang tingkat kewajaran yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah.
2. Kedua, pemeriksaan kinerja. Pemeriksaan dilakukan atas aspek ekonomi dan efisiensi
serta pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan
manajemen. Laporan hasil pemeriksaan kinerja memuat temuan, simpulan dan
rekomendasi.
3. Ketiga, pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Pemeriksaan di sini dilakukan untuk tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan
pemeriksaan kinerja. Termasuk dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu ini adalah
pemeriksaan atas hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dan pemeriksaan investigatif.
Laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu memuat kesimpulan.
Dalam memberikan penilaian, BPK dapat memberikan empat jenis opini, yaitu Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP/unqualified opinion), Wajar Dengan Pengecualian (WDP/Qualified
opinion), Tidak Memberikan Pendapat (TMT/Disclaimer opinion) dan Tidak Wajar
(TW/Adverse opinion).
1. Opini WTP diberikan jika sistem pengendalian internal memadai dan tidak ada salah
saji. Secara keseluruhan laporan keuangan telah menyajikan secara wajar.
2. Opini WDP diberikan jika sistem pengendalian internal memadai, namun terdapat
salah saji yang material pada beberapa pos laporan keuangan.
3. Opini TMP diberikan apabila terdapat suatu nilai yang secara material tidak dapat
diyakini auditor karena ada pembatasan lingkup pemeriksaan oleh manajemen
sehingga auditor tidak cukup bukti dan atau sistem pengendalian intern yang sangat
lemah. Dalam kondisi demikian auditor tidak dapat menilai kewajaran laporan
keuangan.
4. Adapun opini TW diberikan jika system pengendalian internal tidak memadai dan
terdapat salah saji pada banyak pos laporan keuangan yang material. Dengan

demikian secara keseluruhan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar sesuai
dengan SAP.
Keempat jenis opini yang diberikan oleh BPK tersebut dasar pertimbangan utamanya adalah
kewajaran penyajian pos-pos laporan keuangan. Kewajaran di sini bukan berarti kebenaran
atas suatu transaksi. Opini atas laporan keuangan tidak mendasarkan kepada apakah pada
entitas tertentu terdapat korupsi atau tidak.
B. Perbedaan mendasar antara BPK dan BPKP
Bukan rahasia lagi bahwa meskipun menurut ketentuan UUD 45, Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) merupakan satu-satunya badan pemeriksa pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara, masih terdapat beberapa badan lain yang melaksanakan pekerjaan yang
sama dengan BPK biarpun mereka seharusnya melakukan tugas-tugas pengawasan, seperti
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Sepintas lalu kerancuan antara tugas
pemeriksaan dan pengawasan tampak sekadar kerancuan istilah, tapi sesungguhnya
sifatnya jauh lebih mendasar, seperti kerancuan manajerial, bahkan kerancuan hukum.
Jangankan ketentuan UUD 1945, kamus pun sebenarnya cukup tegas membedakan
pemeriksaan dengan pengawasan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
terbitan 2005, misalnya, terdapat dua pengertian dalam istilah pengawasan. Pertama,
pengertian penilikan dan penjagaan atas suatu kegiatan. Kedua, pengertian penilikan dan
pengarahan kebijakan suatu badan. Dua pengertian itu tampak jelas sama-sama menyangkut
tujuan meningkatkan mutu manajerial organisasi; yang pertama member penekanan pada
kegiatan sehari-hari suatu badan; yang kedua pada keputusan-keputusan suatu badan.
Istilah pemeriksaan dalam kamus tersebut mengandung tiga pengertian. Pertama
proses, cara, perbuatan memeriksa. Kedua, hasil (pendapatan) memeriksa; periksaan.
Ketiga, penyelidikan; pengusutan (perkara dsb.). tiga pengertian ini jelas tampak bebas dari
tujuan mencapai mutu manajerial suatu organisasi, walaupun dampaknya bisa sampai disana.
Dirumuskan lain, pengawasan bersifat internal, jadi terbatas dalam suatu badan atau
organisasi, sedang pemeriksaan bersifat eksternal, Jadi ditujukan kepada badan atau
organisasi di luarnya.
Jika secara semantik sudah jelas tampak perbedaan antara pemeriksaan dan
pengawasan, tidak demikian halnya dalam praktik. Meski dalam UU hanya ada satu badan
yang diberi wewenang melaksanakan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara, pada kenyataannya ada lagi beberapa badan lain yang melaksanakan
pemeriksaan meski wewenangnya adalah pengawasan. BPK (Badan Pemeriksa
Keuangan), sesuai dengan namanya, adalah satu-satunya badan yang diberi wewenang
melaksanakan pemeriksaan . Namun demikian, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan), misalnya, meski sesuai namanya wewenangnya jelas pengawasan, sepakterjangnya nyaris sama dengan BPK.
Sehubungan dengan kedudukan dan fungsi BPK, dikatakan oleh Pakar Hukum
Asshiddiqie, bahwa dalam UUD 1945 yang asli, kedudukan BPK dirumuskan secara sangat
sumir dalam Pasal 23, Ayat (5). Oleh karena itu, bersamaan dengan penghapusan lembaga
DPA dari ketentuan UUD 1945, ketentuan baru mengenai BPK ini ditempatkan dalam Bab
tersendiri, yaitu Bab VIII A tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Isinya juga dilengkapi

sehingga menjadi tiga pasal dan tujuh ayat,. Disamping itu, mitra kerja BPK yang semula
hanya DPR di tingkat pusat dikembangkan juga ke daerah-daerah sehinga laporan hasil
pemeriksaan BPK itu tidak saja harus disampaikan kepada DPR. Tetapi juga kepada DPRD,
baik di tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten/kota. Mengapa demikian? Karena objek
pemeriksaan BPK itu tidak hanya terbatas pada pelaksanaan atau realisasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetapi juga Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD).
Selain itu, juga terdapat perkembangan baru yang menyangkut kedudukan dan fungsi
BPK. Sebelumnya, organisasi BPK hanya memiliki kantor perwakilan di beberapa provinsi
saja karena kedudukan kelembagaannya memang hanya terkait dengan fungsi pengawasan
oleh DPR RI terhadap kinerja pemerintahan di tingkat pusat saja. BPK tidak mempunyai
hubungan dengan DPRD, dan pengertian keuangan negara yang menjadi objek pemeriksaan
hanya terbatas pada pengertian APBN saja. Karena pelaksanaan APBN itu terdapat juga di
daerah-daerah maka diperlukan ada kantor perwakilan BPK di daerah-daerah tertentu.
Oleh karena itu, dibandingkan dengan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) yang dibentuk pemerintah orde baru, struktur organisasi BPK jauh lebih kecil. BPKP
mempunyai struktur organisasi yang menjangkau ke seluruh daerah provinsi dan
kabupaten/kota di seluruh Indonesia. BPKP itu disatu segi merupakan lembaga internal
auditor atas kegiatan pemerintahan dan pembangunan, tetapi terhadap instansi pemerintahan
yang diperiksa, sekaligus merupakan lembaga eksternal auditor. Untuk menghadapi dualisme
pemeriksaan oleh BPK dan BPKP itulah maka Pasal 23E, Ayat (1) menegaskan bahwa untuk
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, diadakan satu badan
pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. Di sini tegas dikatakan hanya satu badan yang
bebas dan mandiri. Oleh karena itu, BPKP dengan sendirinya harus dilikuidasi dan fungsinya
digantikan oleh BPK yang menurut ketentuan Pasal23G, Ayat (1)berkedudukan di Ibu
kota negara dan perwakilan di setiap provinsi. (Asshiddiqie, 2004: 154-155).2
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai Badan
Pengawas boleh saja melakukan pengawasan, tetapi yang melakukan pemeriksaan
hanya ada satu saja, yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dengan demikian
diharapkan, BPKP dapat dilebur dan menjadi bagian dari BPK yang baru. Peleburan itu,
disamping untuk memperkuat BPK juga memungkinkan BPK yang baru menjalankan
tugasnya sampai di tingkat kabupaten dan kota. Menurut Ketua BPK, Bagaimana
pelaksanaannya tentu kita akan mengikuti perkembangan dan itu diatur dalam UU karena
kalau kita sekarang merencanakan untuk berada juga di tingkat II, itu saya tidak bisa
membayangkan bagaimana besar anggaran untuk orangnya, untuk gedungnya, dan
sebagainya. Kita lebih baik praktis saja. Pemikiran saya adalah juga menjawab yang lain, di
tingkat pemerintah, aparat pemeriksa keuangan hanya satu, yang lain dihapus. Dengan
demikian, maka hanya dua intern dan ekstern. Dan dengan demikian, maka tiba-tiba
keperluan akan pemeriksa intern akan menciut dan sebagian dari aparat BPKP di daerah bisa
diambil alih oleh BPK sebagai perwakilannya melayani kepentingan yang baru, yaitu
memberdayakan DPRD baik di tingkat I maupun tingkat II untuk pertanggungjawaban
keuangan daerahtindak lanjutnya itu berupa bekerja sama dengan polisi dan kejaksaan.
C. KESIMPULAN

1. Dalam Pasal 3 Perpres No. 11 Tahun 2005, tertulis bahwa posisi BPKP merupakan
LPND yang bertugas atas permintaan Presiden dan bertanggungjawab kepada
Presiden. Berdasarkan PP No. 60 Tahun 2008,BPKP merupakan Aparat Pengawasan
Intern Pemerintah (APIP) yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan
berwenang melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas
kegiatan tertentu yang meliputi: kegiatan yang bersifat lintas sektoral; kegiatan
kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan selaku
Bendahara Umum Negara; kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
2. Berdasarkan pasal 6 UU No. 15 Tahun 2006, BPK memiliki tugas memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha
Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau
badan lain yang mengelola keuangan negara.
3. BPK dengan bergulirnya waktu harus menjadi satu-satunya badan audit eksternal,
yang menyerap BPKP. Dibandingkan dengan Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan (BPKP), struktur organisasi BPK jauh lebih kecil. BPKP mempunyai
struktur organisasi yang menjangkau ke seluruh daerah provinsi dan kabupaten/kota
di seluruh Indonesia. Pasal 23E, Ayat (1) menegaskan bahwa untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, diadakan satu badan pemeriksa
keuangan yang bebas dan mandiri yaitu, BPK. Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) sebagai Badan Pengawas boleh saja melakukan pengawasan,
tetapi yang melakukan pemeriksaan hanya ada satu saja, yaitu Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK).
Sumber : (Thank u yaaaa)
Blog Narto (http://nartocalonlegislator.blogspot.com)
Blog Aswir Junior (http://aswirjunior.blogspot.com)
Haluan Kepri