Anda di halaman 1dari 47

REFERAT

REFRAKSI

DISUSUN OLEH
KELLY KHESYA
030.10.150
PEMBIMBING
Dr. HERU MAHENDRATA, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

KATA PENGANTAR
0|P a g e

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas setiap pimpinan dan
pemeliharaanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini sebagai salah satu
pembelajaran dalam kepaniteraan klinik bagian Mata. Dalam penyusunan laporan ini,
penulis sangat menyadari keterbatasannya dan tanpa rekan-rekan sekalian, referat ini
tidak akan terselesaikan. Penulis sangat bersyukur untuk pembimbing yang sudah
membantu menyelesaikan referat ini, karena itu pada kesempatan kali ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Heru, SpM selaku pembimbing presentasi kasus saya.
2. Rekan-rekan kepaniteraan klinik mata RSUD Budhi Asih-Jakarta, atas bantuan
dan dukungannya.
Penulis menyadari bahwa masih sangat banyak hal yang kurang dalam referat ini,
untuk itu penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya. Penulis tetap
berharap referat ini dapat berguna bagi masyarakat maupun bagi ilmu pengetahuan di
bidang kedokteran. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
memperoleh hasil yang lebih baik di dalam penyempurnaan referat ini. Semoga
bermanfaat.

Jakarta, 27 Maret 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

Kelainan refraksi atau ametropia merupakan kelainan pembiasan sinar pada mata
sehingga sinar tidak difokuskan pada retina atau bintik kuning, tetapi dapat di depan atau
di belakang bintik kuning dan mungkin tidak terletak pada satu titik yang fokus. Kelainan
refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia dan astigmatisma.1 Hampir setiap
saat kita menjumpai kasus kelainan refraksi di lingkungan kita dan angka ini secara
teoritis meningkat terus tiap tahunnya. Peningkatan angka kejadian kelainan refraksi ini
dipicu oleh deteksi dini kelainan refraksi seiring berkembangnya teknologi kedokteran
sehingga kasus yang dulu tidak terdeteksi dapat ditemukan, makin canggihnya teknologi
visual yang merangsang penggunaan indera penglihatan terus menerus dan gaya hidup
masyarakat yang menuntut penggunaan penglihatan secara terus menerus. Ada pula
faktor-faktor medis yang dapat mempengaruhi kemampuan penglihatan seperti penyakitpenyakit sistemik, trauma yang menyebabkan lepasnya lensa mata dari penggantungnya
atau laserasi kornea dan kelainan-kelainan kongenital.
Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa
upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajad
kesehatan optimal. Kesehatan indera penglihatan merupakan saraf penting untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat, dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, produktif, maju,
mandiri dan sejahtera lahir dan batin.
WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, di mana
sepertiganya berasal dari Asia Tenggara. Diperkirakan 12 orang menjadi buta tiap menit
di dunia, dan 4 diantaranya berasal dari Asia tenggara., sedangkan di indonesia di
perkirakan setiap 1 menit orang menjadi buta. Hasil survey Kesehatan Indera Penglihatan
dan Pendengaran tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Penyebab utama
adalah katarak (0,79%), glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan penyakit lain
yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%). 2
Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran yang dilakukan oleh
Depkes di 8 Propinsi (Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat) berturut-turut pada

tahun anggaran 1993/1994, 1994/1995, 1995/1996, 1996/1997, ditemukan kelainan


refraksi sebesar 22,1% dan menempati urutan pertama dalam 10 penyakit mata terbesar di
Indonesia. Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dengan prevalensi sebesar
22,1% menjadi masalah serius, 10% dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun)
menderita kelainan refraksi. Sampai saat ini pemakaian kacamata koreksi masih rendah
yaitu 12,5% dari prevalensi. Jika keadaan ini tidak ditangani secara sungguh, maka akan
berpengaruh pada perkembangan kecerdasan anak dan proses pembelajarannya yang juga
akan mempengaruhi mutu, kreativitas dan produktivitas angkatan kerja (15-55 tahun),
yang diperkirakan berjumlah 95 juta orang (BPS, tahun 2000). Pada gilirannya akan
mengganggu laju pembangunan ekonomi nasional yang kini dititikberatkan pada
pengembangan da penguatan usaha kecil menengah untuk mengentaskan golongan
ekonomi lemah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ANATOMI MEDIA REFRAKSI

Mata memiliki seperangkat komponen optik yang mampu membiaskan sinar yang
melaluinya. Komponen optik tersebut adalah sistem lensa, terdiri atas kornea, Aqueous
humour pada anterior chamber, lensa, dan vitreous humour pada posterior chamber.
Pembiasan sistem lensa bersifat konvergen menuju ke retina. Konvergensi pembiasan
sistem lensa menjamin tajam pengihatan (visus) normal manusia. Hasil pembiasan sinar
pada mata ditentukan oleh media refraksi yang terdiri atas kornea, aquous humour, lensa,
badan kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh
media refraksi dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda
setelah melalui media refraksi dibiaskan tepat didaerah makula lutea. Mata yang normal
disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di
retinanya pada keadaan mata yang tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat
jauh.
A. KORNEA3
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding dengan
kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan kedalam sklera pada limbus,
lekukan melingkar pada sambungan ini disebut sulcus scleralis. Kornea dewasa rata-rata
mempunyai tebal 550 m

di pusatnya, diameter horizontalnya sekitar 11,75

mm

dan vertikalnya 10,6 mm.


Saraf sensoris yang mempersarafi kornea yaitu saraf siliar longus, saraf nasosiliar,
saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid yang masuk ke dalam stroma kornea
menembus membran Bowman dan melepaskan selubung Schwannya. Kornea terdiri dari
beberapa lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan yaitu epitel, membran
bowman, stroma, membran descement dan endotel.

Lapisan-lapisan kornea adalah sebagai berikut :


a Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat

mitosis sel dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin
maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di
sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula ikluden; ikatan
ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal
menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan
mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan
b Membran Bowman
Membran Bowman merupakan lapisan jernih aseluler yang merupakan bagian stroma
yang berubah, terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini
tidak mempunyai daya regenerasi.
c Stroma
Stroma kornea menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Terdiri atas jaringan lamela
serat kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang
teratur sedang di bagian perifer serat kolagen yang bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Lamela terletak di
dalam suatu zat dasar proteoglikan terhidrasi bersama dengan keratosit yang
menghasilkan kolagen dan zat dasar. Keratosit merupakan sel stroma kornea yan
merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk
bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
d Membran Descement
Merupakan suatu membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastik dan
berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.
e Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal besar 20-40m. endotelendotel pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. Berperan
dalam mempertahankan deturgesensi stroma korrnea. Reparasi endotel terjadi hanya
dalam wujud pembesaran dan pergeseran sel-sel, dengan sedikit pembelahan sel.
Kegagalan fungsi endotel akan mengakibatkan edema kornea.
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui oleh berkas
cahaya saat menuju retina. sifat tembus cahay kornea disebabkan oleh strukturnya yang
uniform, avaskular, dan deturgesens. Deturgesens, atau keadaan dehidrasi relatif jaringan
kornea dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar

epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam hal mekanisme dehidrasi,
dan kerusakan pada endotel jauh lebih serius dibandingkan epitel. Kerusakan endotel
akan mengakibatkan edema kornea dan kehilangan sifat transparannya, yang cenderung
bertahan lama karena terbatasnya potensi regenerasi endotel.
B. AQUEOUS HUMOUR
Sudut bilik mata depan terletak pada pertautan antara kornea perifer dan pangkal iris.
Ciri-ciri anatomis utama sudut ini adalah garis Schwalbe, anyaman trabekula dan taji
sklera. Sudut biliki mata depan atau camera oculi anterior bagian anteriornya berbatasan
dengan kornea, dan bagian posteriornya berbatasan dengan iris. Bagian central camera
oculi anterior memiliki kedalaman sekitar 2,5 mm. Camera oculi anterior berisi cairan
aqueus 0.25ml. Aqueous humour mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa,
keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini
akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humour dibentuk dengan
kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan
koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan
akhirnya masuk ke darah.
C. LENSA
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, transparan, dan
berbentuk biconveks. Lensa tergantung pada zonula zinii di belakang iris, zonula
menghubungkannya dengan corpus ciliare. Di sebelah anterior lensa terdapat aqueous
humour, disebelah posteriornya, vitreous. Kapsul lensa adalah membran semipermeabel
yang akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk. Di sebelah depan terdapat selapis
epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Nukleus dan korteks
terbentuk dari lamelae konsentris yang panjang. Masing-masing serat lamelar
mengandung sebuah inti gepeng. Lensa ditahan oleh zonula zinii yang tersusun atas
banyak fibril yang berasal dari permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator
lensa. Tidak ada saraf, serat nyeri atau pembuluh darah pada lensa.
Diameter dari lensa 9-10mm, dengan ketebalan yang bervariasi antara 3,5 5mm,
dan mempunyai berat sekitar 135 255mg. Lensa mempunyai dua permukaan
permukaan posteriornya(radius curvaturanya 10mm) lebih conveks dibandingkan dengan
6

permukaan anteriornya (radius curvaturanya 6mm). Kedua permukaan ini kemudian


bertemu di equator. Lensa memiliki indeks refraktif 1.39 dengan kekuatan 15 16
dioptri. Kekuatan akomodasi lensa berbeda beda berdasarkan usianya.
D. VITREOUS HUMOUR
Vitreous humour merupakan suatu struktur yang lembek, transparan dan berbentuk
seperti jeli, yang mengisi 4/5 bagian posterior cavum bola mata, dan memiliki volume
4ml. vitreous bersifat hidrofilik dan memiliki fungsi optic. Selain itu vitreous berfungsi
untuk menyalurkan nutrisi kedalam lensa dan retina.Struktur vitreous yang normal terdiri
dari serat kolagen dan diselingi oleh lapisan lapisan asam hialuronat.
B. FISIOLOGI PENGLIHATAN5
Mata mempunyai sistem lensa, sistem apertura yang dapat berubah-ubah (pupil), dan
retina yang dapat disamakan dengan film. Sistem lensa mata terdiri atas empat perbatasan
refraksi, yaitu: perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara; perbatasan antara
permukaan posterior kornea dan humor aquosus; perbatasan antara humor aquosus dan
permukaan anterior lensa mata; dan perbatasan antara permukaan posterior lensa dan
humor vitreous. Indeks internal udara adalah 1; kornea 1,38; humor aquous 1,33; lensa
kristalina (rata-rata) 1,40; dan humor vitreous 1,34.
MEKANISME PENGLIHATAN
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil
dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang
konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada
iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator
yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut
dikenal juga sebagai myoepithelial cells (Saladin, 2006). Jika sistem saraf simpatis
teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya
dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas
cahaya berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek
7

yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata,
pembentukan bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata (Saladin,
2006). Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour (n=1.33),
dan lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa
hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada
benda yang dekat dan jauh. Sistem lensa mata membentuk bayangan di retina. Bayangan
yang terbentuk di retina terbalik dari benda aslinya. Namun demikian, persepsi otak
terhadap benda tetap dalam keadaan tegak, tidak terbalik seperti bayangan yang terjadi di
retina, karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan
normal.
Pembentukan bayangan di retina memerlukan empat proses. Pertama, pembiasan
sinar/ cahaya. Hal ini berlaku apabila cahaya melalui perantaraan yang berbeda
kepadatannya dengan kepadatan udara, yaitu kornea, humour aquous, lensa, dan humour
vitreous. Kedua, akomodasi lensa, yaitu proses lensa menjadi cembung atau cekung,
tergantung pada objek yang dilihat itu dekat atau jauh. Ketiga, konstriksi pupil, yaitu
pengecilan garis pusat pupil agar cahaya tepat di retina sehingga penglihatan tidak kabur.
Pupil juga mengecil apabila cahaya yang terlalu terang memasukinya atau melewatinya.
Hal ini penting untuk melindungi mata dari paparan cahaya yang tiba-tiba atau terlalu
terang. Keempat, pemfokusan, yaitu pergerakan kedua bola mata sedemikian rupa
sehingga kedua bola mata terfokus ke arah objek yang sedang dilihat.
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan
dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya
pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan
membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau melihat benda yang
dekat. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau
adanya perubahan panjang (lebih panjang, lebih pendek) bola mata maka sinar normal
tidak dapat terfokus pada makula.
Kemampuan akomodasi lensa membuat cahaya tidak berhingga akan terfokus
pada retina, demikian pula bila benda jauh didekatkan, maka benda pada jarak yang
berbeda-beda akan terfokus pada retina atau makula lutea. Akibat akomodasi, daya
pembiasan bertambah kuat. Kekuatan akomodasi akan meningkat sesuai dengan

kebutuhan, semakin dekat benda makin kuat mata harus berakomodasi (mencembung).
Akomodasi terjadi akibat kotraksi otot siliar. Kekuatan akomodasi diatur oleh refleks
akomodasi. Refleks akomodasi akan meningkat bila mata melihat kabur dan pada waktu
konvergensi atau melihat dekat.
Pada saat seseorang melihat suatu objek pada jarak dekat, maka terjadi trias
akomodasi yaitu: (i) kontraksi dari otot siliaris yang berguna agar zonula Zinii
mengendor, lensa dapat mencembung, sehingga cahaya yang datang dapat difokuskan ke
retina; (ii) konstriksi dari otot rektus internus, sehingga timbul konvergensi dan mata
tertuju pada benda itu, (iii) konstriksi otot konstriksi pupil dan timbullah miosis, supaya
cahaya yang masuk tak berlebih, dan terlihat dengan jelas.
AKOMODASI
Akomodasi adalah kesanggupan mata untuk memperbesar daya pembiasannya.
Akomodasi dipengaruhi oleh serat-serat sirkuler mm.siliaris. Fungsi serat-serat sirkuler
adalah mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula yang berorigo di lembah-lembah di
antara prosesus siliaris. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa, sehingga lensa
dapat mempunyai berbagai focus baik untuk objek dekat maupun yang berjarak jauh
dalam lapangan pandang. Ada beberapa teori mengenai mekanisme akomodasi, antara
lain:
a. Teori Helmholtz. Jika mm.siliaris berkontraksi maka iris dan korpus siliaris
digerakkan ke depan bawah, sehingga zonulla Zinnii menjadi kendor, lensa
menjadi cembung.
b. Teori Schoen. Terjadi akibat mm.siliaris pada bola karet yang dipegang dengan kedua
tangan dengan jari akan mengakibatkan pencembungan bola di bagian tengah.
c. Teori dari Tichering. Jika mm.siliaris berkontraksi maka iris dan korpus siliaris
digerakkan ke belakang atas/luar, sehingga zonulla Zinnii menjadi tegang, bagian perifer
lensa juga menjadi tegang, sedangkan bagian tengahnya didorong ke sentral dan menjadi
cembung.

Gambar akomodasi lensa


Punctum remotum (R) adalah titik terjauh yang dapat dilihat dengan nyata tanpa
akomodasi. Pada emetrop letak R adalah tak terhingga. Punctum proksimum (P) adalah
titik terdekat yang dapat dilihat dengan akomodasi maksimal. Daerah akomodasi adalah
daerah di antara titik R dan titik P. Lebar akomodasi (A) adalah tenaga yang dibutuhkan
untuk melihat daerah akomodasi. Lebar akomodasi dinyatakan dengan dioptri, besarnya
sama dengan kekuatan lensa konfeks yang harus diletakkan di depan mata yang
menggantikan akomodasi untuk punctum proksimum.
A = 1/P1/R
Kekuatan akomodasi makin berkurang dengan bertambahnya umur dan punctum
proksimumnya (P) semakin menjauh. Hal ini disebabkan oleh karena berkurangnya
elastisitas dari lensa dan berkurangnya kekuatan otot siliarnya.

REFRAKSI6
OPTIK dan REFRAKSI
Interpretasi informasi penglihatan yang tepat bergantung pada kemampuan mata
memfokuskan berkas cahaya yang datang ke retina, untuk memahami proses ini
diperlukan penguasaan terhadap konsep optik geometrik yang mendefinisikan efek berkas

10

cahaya sewaktu melewati berbagai permukaan dan benda berbeda.


A. Kecepatan, frekuensi, dan panjang gelombang cahaya
Kecepatan, frekuensi dan panjang gelombang cahaya saling berhubungan sesuai
lambang berikut :
frekuensi=

kecepatan
panjang gelombang

Di media optis yang bereda, kecepatan dan panjang gelombang cahaya berubah, tetapi
frekuensinya tetap. Warna bergantung pada frekuensi sehingga warna dari seberkas
cahaya tidak diubah sewaktu melewati media optis kecuali oleh fluoresensi atau
nontransmittance yang selektif. Dalam hampa udara, kecepatan frekuensi cahaya sama
yakni 299.729,46 kilometer per detik (186.282,40 statute mile per second).
B. Indeks Refraksi
Jika kecepatan suatu berkas cahaya berubah akibat perubahan medium optis, akan
terjadi pula pembiasan/refraksi berkas cahaya tersebut. Efek suatu bahan optis terhadap
kecepatan cahaya dinyatakan oleh indeks refraksinya (indeks bias), n. Semakin tinggi
indeks, semakin lambat kecepatan, dan semakin besar efek pembiasannya. Dalam hampa
udara, n memiliki nilai 1,00000. Indeks refraksi absolut suatu bahan adalah rasio
kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara terhadap kecepatan cahaya dalam bahan.
Indeks refraksi relatif dihitung dengan mengacu kepada kecepatan cahaya di udara.
Indeks refraksi absolut udara bervariasi, tergantung pada suhu, tekanan dan kelembaban
udara serta frekuensi cahaya, tetapi nilainya adalah sekitar 1,00032. Pada optik, n
dianggap sebagai indeks relatif terhadap udara, kecuali dinyatakan sebagai absolut.
C. Koefisien Termal Indeks Refraksi
Indeks refraksi berubah sesuai suhu mediumnya, nilainya lebih tinggi bila mediumnya
lebih dingin. Labilitas n terhadap suhu berbeda-beda untuk bahan yang berlainan.
Perubahan dalam n per derajad celcius untuk bahan-bahan berikut (semua dikalikan 10 7)
adalah sebagai berikut : kaca 1; fluorit 10; plastik 140; air; aqueous humour dan vitreous
185. Hal ini membuat plastik kurang memuaskan sebagai perangkat optis yang tepat.

11

D. Dispersi Cahaya
Dalam hampa udara, kecepatan semua frekuensi cahaya adalah sama, oleh karena itu,
indeks refraksi juga sama untuk semua warna (1,0000). Pada semua bahan, n berbeda
untuk tiap warna atau frekuensi, lebih besar pada ujung biru dan lebih kecil pada ujung
merah spektrum.
E. Transmittance Cahaya
Pada frekuensi yang berbeda, bahan optis memiliki transmittance atau transparansi
yang berlainan. Sebagian bahan yang transparan, misal kaca, hampir opak bagi cahaya
ultraviolet. Kaca merah hampir opak bagi frekuensi hijau. Medium optis harus dipilih
sesuai dengan panjang gelombang cahaya spesifik yang akan dikenakan kepadanya.
F. Hukum refleksi dan refraksi
Hukum refleksi (pemantulan) dan refraksi (pembiasan) diformulasikan pada tahun
1621 oleh ahli astronomi dan matematika Willebord Snell. Hukum ini bersama dengan
prinsip Fermat, membentuk dasar optik geometri terapan :
1. Berkas cahaya yang datang, dipantulkan, dan dibiaskan semua terletak pada bidang
yang dikenal sebagai bidang datang, yang normal (tegak lurus) terhadap permukaan.
2. Sudut datang sama dengan sudut refleksi tetapi memiliki tanda yang berlawanan :
I = -I.
3. Hasil kali indeks refraksi medium berkas cahaya datang dan sinus sudut datang
berkas cahaya yang datang sama dengan hasil kali besaran-besaran yang sama pada
berkas cahaya biasan. Berkas cahaya yang dibiaskan dinyatakan oleh :
n sin I = n sin I (huktum Snell).
4. Berkas cahaya yang berjalan dari satu titik ke titik lainnya mengikuti lintasan yang
memerlukan waktu paling singkat untuk dijalani (prinsip Fermat). Panjang lintasan
optis adalah indeks refraksi dikali panjang lintasan sebenarnya.
G. Sudut kritis dan refleksi total
Bila berkas cahaya datang terletak pada medium yang kurang padat maka akan
dibiaskan menuju normal ke dalam medium yang lebih padat. Sebaliknya bila berkas
cahaya datang terletak di medium yang lebih padat, maka akan dibiaskan menjauhi
normal. Pada situasi ini bila sudut datang makin diperbesar, sudut kritis akan dicapai
sewaktu cahaya dipantulkan secara tiba-tiba, total dan sempurna (refleksi internal

12

total) dan sinus berkas cahaya datang di medium yang lebih padat mencapai nilai
n/n. Ini adalah salah satu metode yang digunakan untuk menentukan indeks
refraksi. Refraksi total mengikuti hukum refleksi biasa I = -I. Hal ini memungkinkan
terjadinya refleksi sempurna tanpa pelapisan dan digunakan secara luas dalam prisma
dan serat optik. Sistem lensa mata yang positif menyebabkan terkumpulnya sinar
hasil pembiasan pada retina. Posisi bintik kuning retina sendiri terletak pada garis
median dari sistem lensa mata. Bila sinar datang sejajar sumbu utama akan dibelokan
melalui jari-jari lensa, sedangkan bila sinar datang melalui pusat kelengkungan lensa
akan diteruskan dan bila sinar datang dari arah selain itu akan dibelokan sejajar
sumbu utama.
Konvergensi tepat pada retina hanya diperoleh bila benda yang dilihat berada 6
meter atau lebih jauhnya dari mata. Bila jarak benda kurang dari 6 meter, maka
konvergensi berkurang dan bayangan yang terbentuk tidak tepat pada retina. Jarak 6
meter adalah jari-jari kelengkungan lensa mata, sehingga benda harus berada di
ruang 3 agar bayangan yang terbentuk tepat pada retina. Semakin jauh jarak benda,
semakin jelas bayangan yang terbentuk.
C. PEMERIKSAAN VISUS
Visus atau visual acuity (VA) merupakan salah satu ukuran dari ambang penglihatan.
Kata acuity berasal dari bahasa Latin yaitu acuitas yang berarti ketajaman. Maka VA
berkenaan dengan ketajaman atau kejelasan penglihatan seseorang. VA menggambarkan
kemampuan seseorang untuk melihat dan mengidentifikasi suatu objek serta untuk
melihat fungsi penglihatan seseorang.
Pemeriksaan Visus Dasar
Pemeriksaan

visus

merupakan

pemeriksaan

untuk

melihat

ketajaman

penglihatan.Cara memeriksa visus ada beberapa tahap. Menggunakan 'chart' yaitu


membaca 'chart' dari jarak yang ditentukan, yaitu 6 meter. Digunakan jarak sepanjang itu
karena pada jarak tersebut mata normal akan relaksasi dan tidak berakomodasi. Kartu
yang digunakan ada beberapa macam :7
a. Snellen chart yaitu kartu bertuliskan beberapa huruf dengan ukuran yang berbeda
13

untuk pasien yang bisa membaca.


b. E chart yaitu kartu yang bertuliskan huruf E, tetapi arah kakinya berbeda-beda.
c. Cincin Landolt => Kartu dengan tulisan berbentuk huruf 'c', tapi dengan arah cincin
yang berbeda-beda.

Gambar

contoh

Snellen Chart
Cara memeriksa :

Kartu diletakkan pada jarak 6 meter dari pasien. Bila


berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6. Satuan
selain meter ada kaki = 20/20.

Pencahayaan harus cukup

Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata


kiri harus ditutup dan pasien diminta membaca kartu.

Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :


-

Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 6/6, maka tidak perlu
membaca pada baris berikutnya, karena visus normal

Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus normal,
cek pada 1 baris tersebut

Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak pada baris
tersebut dengan false 1.

Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada baris tersebut dengan
false 2.

Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf yang ada, berarti

14

visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak dapat dibaca.
-

Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat pada baris di
atasnya.

Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole (alat untuk
memfokuskan titik pada penglihatan pasien)

Bila visus tetap berkurang, berarti bukan kelainan refraksi

Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya, berarti merupakan kelainan
refraksi

Bila visus sudah mencapai 6/6 setelah dikoreksi, maka lakukan Duke elder test
yaitu test yang bertujuan untuk menghindari over koreksi atau kelebihan ukuran
- di tambah +0.25 secara bersamaan , jika ditambah tambah buram berarti ukuran
sudah cukup

Cara pemeriksaan yang sama berlaku untuk E chart dan cincin Landolt.
-

Bila tidak bisa membaca kartu, maka dilakukan penghitungan jari. Penghitungan
jari di mulai pada jarak tepat di depan Snellen Chart, yaitu 6 m. Bila pasien dapat
menghitung jari pada jarak 6 m, maka visusnya 6/60.

Bila tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 m, maka maju 1 m dan lakukan
penghitungan jari. Bila pasien dapat membaca, visusnya 5/60.

Bila tidak dapat menghitung jari 5 m, di majukan jadi 4 m, 3 m, sampai 1 m di


depan pasien.

Bila tidak bisa menghitung jari pada jarak 1 m, maka dilakukan pemeriksaan
penglihatan dengan lambaian tangan.

Lambaian tangan dilakukan tepat 1 m di depan pasien. Dapat berupa lambaian ke


kiri dan kanan, atau atas bawah. Bila pasien dapat menyebutkan adanya lambaian,
berarti visusnya 1/300, dengan proyeksi benar apabila pasien dapat menyebutkan
arah lambaian, atau proyeksi salah apabila pasien tidak dapat menyebutkan arah
lambaian.

Bila tidak bisa melihat lambaian tangan, maka dilakukan penyinaran, dapat
menggunakan 'pen light'

Bila dapat melihat sinar, berarti visusnya 1/~. Tentukan arah proyeksi.

Bila pasien dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang,berarti visusnya

15

1/~ dengan proyeksi benar.


-

Proyeksi sinar ini di cek dari 4 arah. Hal tersebut untuk mengetahui apakah
tangkapan retina masih bagus pada 4 sisinya, temporal, nasal, superior, dan
inferior.

Bila tak dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang, berarti visusnya
1/~ dengan proyeksi salah.

Bila tidak dapat melihat cahaya, maka dikatakan visusnya = 0 (no light perception)
D. KELAINAN REFRAKSI
Emetropia (mata tanpa kelainan refraksi) dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan
refraksi mata, dimana sinar sejajar yang dari jarak tak terhingga difokuskan tepat pada
retina tanpa akomodasi. Ametropia (mata dengan kelainan refraksi) dapat didefinisikan
sebagai suatu keadaan refraksi mata, dimana sinar sejajar dari jarak tak terhingga
difokuskan didepan atau dibelakang retina, pada satu atau dua meridian. Ametropia dapat
ditemukan dalam bentuk kelainan presbiopia, miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun
dekat), dan astigmatisme.
1.

Presbiopia8

Definisi
Hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan pada
semua orang. Dengan bertambahnya usia maka semakin kurang kemampuan mata untuk
melihat dekat. Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras, sehingga elastisitasnya
berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya berkurang
sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinnii yang sempurna.
Presbiopi dikenal sebagai kondisi visual orang diatas usia 40 tahun, dimana insiden
tertinggi pada usia 42-44 tahun. Beberapa hal yang merupakan faktor resiko presbiopi
antara lain : usia (biasanya >40 tahun), hiperopia yang tidak terkoreksi, pekerjaan yang
membutuhkan penggunaan penglihatan jarak dekat, trauma atau penyakit mata
(kerusakan lensa, zonula atau otot siliar), penyakit sistemik (diabetes melitus,
kardiovaskular, insufisiensi vaskular, miastenia gravis), obat-obatan (alkohol, diuretik,
hidrochlorothiazide, antidepresan), atau kurang nutrisi.
16

Etiologi
Penurunan kekuatan akomodasi dari lensa seiring meningkatnya usia akibat dari
perubahan degeneratif lensa (penurunan elastisitas kapsul lensa atau peningkatan ukuran
dan sklerosis progresif dari substansi lensa) dan penurunan kekuatan m.siliaris seiring
dengan peningkatan usia.
Patofisiologi
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata
karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul
sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi lebih
keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung. Dengan demikian
kemampuan melihat dekat makin berkurang.
Klasifikasi
a.

Presbiopi Insipien
Merupakan tahap paling awal di mana penderita menunjukkan gejala membaca cetak

kecil membutuhkan usaha ekstra. Dari anamnesa didapati pasien memerlukan kaca mata
untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila dilakukan tes, dan pasien biasanya
akan menolak preskripsi kaca mata baca.
b.

Presbiopi Fungsional
Amplitudo akomodasi yang semakin menurun dan akan didapatkan kelainan ketika

diperiksa.
c.

Presbiopi Absolut
Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional, dimana proses akomodasi

sudah tidak terjadi sama sekali.


d.

Presbiopi Prematur
Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan biasanya berhubungan dengan

lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan.


e.

Presbiopi Nokturnal
Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap disebabkan oleh

peningkatan diameter pupil.


Tanda dan gejala

17

Ketidakmampuan membaca huruf kecil atau membedakan benda kecil yang terletak
berdekatan pada usia sekitar 44-46 tahun. Hal ini semakin buruk pada cahaya
temaram dan biasanya lebih nyata pada pagi hari atau saat subjek lelah. Gejala

meningkat sampai usia 55 tahun, menjadi stabil, tetapi menetap.


Membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca karena tulisan tampak kabur pada

jarak baca yang biasa


Sukar mengerjakan pekerjaan dengan melihat dekat, terutama di malam hari
Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca

Penatalaksanaan
Presbiopi dikoreksi dengan menggunakan lensa plus untuk mengatasi daya fokus
otomatis lensa yang hilang. Pada pasien presbiopia ini diperlukan kacamata baca atau
adisi untuk membaca dekat yang berkekuatan tertentu, biasanya :
Usia (tahun)
40
45
50
55
60

Kekuatan Lensa Positif yang dibutuhkan


+1.00 D
+1.50 D
+2.00 D
+2.50 D
+3.00 D

Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi + 3,0 dioptri adalah lensa positif terkuat
yang dapat diberikan pada seseorang. Pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi
bila membaca pada jarak 33 cm, karena benda yang dibaca terletak pada titik api lensa +
3,0 dioptri sehingga sinar yang keluar akan sejajar. Kekuatan lensa kacamata baca sering
disesuaikan dengan kebutuhannya. Seperti seorang ahli music yang membutuhkan jarak
dekat 50 cm untuk membaca not-not sehingga dia membutuhkan kacamata dengan
kekuatan lensa yang lebih kecil.
Selain kaca mata untuk kelainan presbiopia saja, ada beberapa jenis lensa lain yang
digunakan untuk mengkoreksi berbagai kelainan refraksi yang ada bersamaan dengan
presbiopia. Ini termasuk:
a. Koreksi optik dengan lensa
single vision lense
Merupakan pilihan yang tepat bagi beberapa pasien dengan presbiopia. Indikasi
untuk perawatan ini adalah pasien dengan emmetropia, pasien dengan ametropia

18

tingkat rendah (yang tidak memerlukan koreksi jarak), pasien dengan miopi yag

tidak terkoreksi.
Bifokal
Untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bisa yang mempunyai garis
horizontal atau yang progresif. Dalam desain yang khas, sebagian besar wilayah
lensa berisi lensa koreksi jarak jauh sedangkan koreksi penglihatan jarak dekat

terbatas pada segmen yang lebih kecil di bagian bawah lensa.


Trifokal
Untuk mengkoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh pada orang dengan presbiopi
absolut atau yang masih berkembang.

b. Koreksi dengan lensa kontak

Kontak Bifokal untuk mengkoreksi penglihatan jauh dan dekat. Bagian bawah adalah

untuk membaca. Sulit dipasang dan kurang memuaskan hasil koreksinya


Kontak Monovision. Penggunakan lensa kontak monovision pada setiap mata atau,
bila tidak ada koreksi jarak jauh yang diperlukan, lensa hanya digunakan pada satu
mata. Untuk melihat jauh di mata dominan, dan lensa kontak untuk melihat dekat
pada mata non-dominan. Mata yang dominan umumnya adalah mata yang digunakan
untuk fokus pada kamera untuk mengambil foto.

2.

Hipermetropia11

Definisi

19

Hipermetropia (hiperopia) atau long-sightedness adalah suatu keadaan mata dimana

sinar sejajar dari jarak tak terhingga difokuskan di belakang retina tanpa akomodasi. Oleh
karena itu, orang tersebut akan melihat gambaran yang buram.
Gambar Hipermetropia
Etiologi
Hipermetropia dapat berbentuk aksial, kurvatura, indeks, posisional, atau oleh karena
tidak adanya lensa.
1.

Axial hypermetropia merupakan bentuk hipermetropia yang paling sering


ditemukan. Pada kondisi ini, kekuaran refraksi mata normal, namun terdapat
pemendekan axis dari bola mata. Tiap pemendekan sebanyak 1mm dari
diameter anteroposterior menyebabkan perubahan 3 dioptri.

2.

Curvatural hypermetropia merupakan kondisi dimana kornea, lensa, atau


keduanya lebih datar daripada normal, sehingga terjadi penurunan refraksi.
Sekitar 1mm peningkatan radius kurvatura menyebabkan perubahan 6 dioptri.

3.

Index hypermetropia terjadi disebabkan menurunnya indeks refraksi dari lensa


pada usia tua. Dapat pula terjadi pada diabetes yang sedang dalam terapi.

4.

Positional Hypermetropia akibat dari lensa yang diletakan pada bagian


posterior

5.

Absence of crystalline lens dapat merupakan kongenital atau dengan


dilakukannya operasi pengangkatan lensa atau dislokasi posterior sehingga

20

orang tersebut menjadi afakia (terjadi hipermetropia yang tinggi)


Klasifikasi
Terdapat tiga bentuk klasifikasi hipermetropia secara klinis :
1. Hipermetropia simpel
Merupakan bentuk yang paling sering. Hal ini disebabkan oleh variasi biologis normal
dari pertumbuhan bola mata. Hal ini termasuk hipermetropia aksial dan refraktif.
2. Hipermetropia patologis
Disebabkan oleh kongenital ataupun didapat, diluar dari variasi biologis normal
pertumbuhan bola mata, akibat dari maldevelopment, trauma dan penyakit. Hal ini
termasuk:
-

hipermetropia indeks (akibat sklerosis korteks lensa)

hipermetropia posisional (akibat subluksasi posterior dari lensa)

afakia (kongenital ataupun akibat operasi)

hipermetropia konsekutif (akibat over-koreksi dari miopia)


3. Hipermetropia fungsional

Hal ini merupakan akibat dari paralisisnya kemampuan akomodasi seperti pada paralisa
n.3 dan oftalmoplegia internal
Klasifikasi hipermetropia berdasarkan derajat beratnya :
1. Hipermetropia ringan, kesalahan refraksi +2.00 D atau kurang
2. Hipermetropia sedang, kesalahan refraksi antara +2.25 D hingga +5.00 D
3. Hipermetropia berat, kesalahan refraksi +5.25 D atau lebih tinggi
Klasifikasi hipermetropia berdasarkan akomodasi mata
1. Hipermetropia Laten
a. Sebagian dari keseluruhan dari kelainan refraksi mata hipermetropia yang
dikoreksi secara lengkap oleh proses akomodasi mata
b. Hanya bisa dideteksi dengan menggunakan sikloplegia
c. Lebih muda seseorang yang hipermetropia, lebih laten hiperopia yang
dimilikinya

21

2. Hipermetropia Manifes
a. Hipermetropia yang dideteksi lewat pemeriksaan refraksi rutin tanpa
menggunakan sikloplegia
b. Bisa diukur derajatnya berdasarkan jumlah dioptri lensa positif yang
digunakan dalam pemeriksaan subjektif
c. Terdiri dari dua komponen :
i.

Hipermetropia fakultatif, yang bisa diukur dan dikoreksi dengan


menggunakan lensa positif, tapi bisa juga dikoreksi oleh proses akomodasi pasien tanpa
menggunakan lensa. Semua hipermetropia laten adalah hipermetropia fakultatif..Akan
tetapi, pasien dengan hipermetropia laten akan menolak pemakaian lensa positif karena
akan mengaburkan penglihatannya. Pasien dengan hipermetropia fakultatif bisa melihat
dengan jelas tanpa lensa positif tapi juga bisa melihat dengan jelas dengan menggunakan
lensa positif

ii.

Hipermetropia absolut, merupakan residual dari hipermetropia manifes,

yang tidak dapat dikoreksi dengan akomodasi.


Tanda dan Gejala Klinis
Gejala pasien dengan hipermetropia dapat bervariasi tergantung dari usia dan derajat
beratnya kelainan refraksi. Dapat dikelompokan sebagai berikut:
1. Asimtomatik. Biasanya pasien usia muda dengan kelainan refraksi yang kecil dapat
mengkoreksi dengan kemampuan akomodasinya tanpa menimbulkan gejala
2. Gejala astenopia. Hipermetropia dapat terkoreksi secara penuh, namun karena terjadi
akomodasi terus menerus, pasien akan mengalami keluhan astenopia. Keluhannya
adalah mata lelah, nyeri kepala frontal atau fronto-temporal, mata berair, dan
fotofobia ringan. Gejala ini biasanya terjadi saat jam kerja dan meningkat saat
malam.
3. Gejala astenopia dengan penurunan penglihatan. Bila kelainan hipermetropia cukup
berat, mata tidak dapat mengkoreksi hanya dengan kemampuan akomodasi.
Sehingga pasien mengeluh gejala astenopia dan penglihatan buram.
4. Penurunan penglihatan saja. Bila kelainan hipermetropia sangat berat, pasien
biasanya tidak melakukan akomodasi (terutama orang dewasa) sehingga terjadi

22

penurunan penglihatan dekat dan jauh.


Gejala obyektif:
1. Ukuran bola mata yang lebih kecil secara keseluruhan
2. Juling atau esotropia akibat akomodasi terus menerus yang diikuti konvergensi
3. Karena akomodasi yang terus menerus, akan terjadi hipertrofi dari otototot
akomodasi di corpus ciliare.
4. Pupil terlihat lebih kecil karena akomodasi
5. Pemeriksaan fundus didapatkan papil yang kecil dan terlihat lebih banyak
vaskulardengan batas tidak tegas atau mungkin menyerupai papilitis (namun tidak
ada edema papil, sehingga disebut pseudopapillitis). Retina mungkin terlihat
bercahaya akibat refleksi cahaya yang lebih besar (shot silk appearance).
Penatalaksanaan
1. pada anak di bawah 10 tahun koreksi tidak dilakukan terutama tidak munculnya
gejala-gejala dan penglihatan normal pada setiap mata.
2. pada remaja dan berlanjut hingga waktu presbiopia, hipermetropia dikoreksi dengan
lensa positif yang terkuat. Bisa memakai kaca mata atau lensa kontak. Lensa kontak
dapat disarankan dengan hipermetropia unilateral (Anisometropia). Lensa kontak
dapat diresepkan setelah hipermetrop stabil, apabila tidak, harus mengganti lensa
kontak berkali-kali.
3. jumlah total hipermetropia diperoleh dengan pemeriksaan refraksi dengan
sikloplegik.
4. secara bertahap tingkatkan koreksi lensa sferis dengan interval 6 bulan sampai pasien
menjadi hipermetropia manifes
3. Pembedahan refraktif juga bisa dilakukan untuk membaiki hipermetropia dengan
membentuk semula kurvatura kornea. Metode pembedahan refraktif termasuk
a. Laser-assisted in-situ keratomileusis (LASIK)
Efektif dalam mengkoreksi hipermetropi hingga + 4D
b. Photorefractive keratectomy (PRK)
Dengan menggunakan laser excimer. Namun proses efek regresi dan
penyembuhan epitel yang lama merupakan masalah utama.

23

c. Conductive keratoplasty (CK)


Merupakan prosedur noninsisional dan nonablasi dimana kornea di pertajam
dengan mengerutkan kolagen dengan energi radiofrekuensi. Teknik ini efektif
untuk mengkoreksi hipermetropi hingga +3 D
Komplikasi
1. Hordeolum, blefaritis, atau kalazion berulang akibat sering mengucek mata untuk
menghilangkan kelelahan mata
2. Strabismus dapat terjadi pada anak (biasanya usia 2-3 tahun) karena akomodasi
secara terus menerus.
3. Ambliopia dapat terjadi pada beberapa kasus. Hal ini dapat terjadi anisometropik
(unilateral hipermetropia), strabismik (pada anak dengan akomodasi berlebihan),
atau ametropik (pada anak dengan hipermetropia berat tidak terkoreksi)
4. Glaukoma sekunder sudut tertutup. Pada mata hipermetropia, terdapat COA yang
relatif lebih sempit. Akibat dari pembesaran ukuran lensa seiring usia, mata tersebut
menjadi rentan terhadap serangan akut glaukoma. Hal ini perlu diingat pada pasien
hipermetropia usia tua.
3.

MIOPIA13

Definisi
Kata miopia diambil dari bahasa Yunani muopia yang berarti menutup mata.
Miopia merupakan suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang
berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina, pada kondisi
mata yang tidak berakomodasi. Pada miopia, titik fokus sistem optik media penglihatan
terletak di depan makula lutea. Hal ini dapat disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu
kuat, miopia refraktif atau bola mata terlalu panjang. Kelainan ini menyebabkan
penglihatan buram untuk jarak jauh, popular dengan istilah nearsightness.
Kata miopia sendiri sebenarnya baru dikenal pada sekitar abad ke 2, yang mana
terbentuk dari dua kata meyn yang berarti menutup, dan ops yang berarti mata. Ini
memang menyiratkan salah satu ciri ciri penderita myopia yang suka menyipitkan
matanya ketika melihat sesuatu yang baginya tampak kurang jelas, karena dengan cara ini
akan terbentuk debth of focus di dalam bola mata sehingga titik fokus yang tadinya

24

berada di depan retina, akan bergeser ke belakang mendekati retina

Gambar Proses Penglihatan Normal dan Miopia


Etiologi
1. Axial

myopia.

Merupakan

anteriorposterior

akibat

dari

peningkatan

panjang

diameter

bola mata. Merupakan bentuk yang paling sering dijumpai.

2. Curvatural myopia. Terjadi akibat peningkatan lengkung kornea, lensa, atau


eduanya.
3. Positional myopia. Akibat dari penempatan lensa di bagian anterior.
4. Index myopia. Akibat dari peningkatan indeks refraksi lensa terkait dengan
sklerosis

nukleus.

5. Myopia due to excessive accommodation. Terjadi pada pasien dengan spasme


akomodasi.
Klasifikasi
a. Berdasarkan Manifestasi Klinis

Simple : Status refraksi mata dengan miopia sederhana tergantung pada daya optik
kornea dan lensa kristal, dan panjang aksial. Mata dengan miopi simple
merupakan mata normal yang terlalu panjang untuk kekuatan optiknya atau
memiliki kekuatan optik yang terlalu kuat untuk panjang aksisnya. Bentuk miopi
ini adalah yang paling umum, biasanya kurang dari 6 Dioptri atau kurang dari 4-5
D. Ketika derajad miopi pada kedua mata tidak sama, hal ini disebut anisomiopia.
Jika salah satu mata emetrop sementara yang lainnya miopi, ini disebut simple

25

miopi anisometropia. Anisometropia menjadi signifikan bila perbedaannya

mencapai 1 D atau lebih.


Miopia Nokturnal : terjadi pada kondisi pencahayaan redu akibat dari peningkatan

respon akomodasi.
Pseudomiopia : akibat dari peningkatan kekuatan refraksi mata akibat dari
overstimulasi pada mekanisme akomodasi mata atau terjadinya spasme siliar.
Dinamakan pseudo karena pasien hanya mengalami miopi jika respon akomodaasi

tidak tepat.
Miopia degeneratif : derajad miopia berkaitan dengan perubahan degeneratif pada
segmen posterior mata. Perubahan degeneratif dapat menyebabkan penurunan

koreksi mata terbaik atau perubahan lapang pandang.


Miopia terinduksi : merupakan hasil dari eksposur agen farmako, perubahan
tingkat gula darah, sklerosis nukleus lensa kristalin. Miopi jenis ini reversible.

b. Berdasarkan penyebab myopia.


Miopia refraktif : Miopia yang terjadi akibat bertambahnya indeks bias media
penglihatan, seperti pada katarak.
Miopia aksial : Miopia yang terjadi akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan
kelengkungan kornea dan lensa yang normal.
c. Menurut perjalanan penyakitnya, miopia di bagi atas :

Miopia stasioner
Miopia progresif

bertambah panjangnya bola mata.


Miopia maligna
: Keadaan yang lebih berat dari miopia progresif, yang

: Miopia yang menetap setelah dewasa.


: Miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat

dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan.


d. Berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk mengkoreksinya.

Miopia ringan : Lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri


Miopia sedang : Lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
Miopia berat : lensa koreksinya > 6,00 Dioptri. Penderita miopia kategori ini
rawan terhadap bahaya pengelupasan retina dan glaukoma sudut terbuka.

e. Berdasarkan umur :

26

Juvenile-Onset Myopia (JOM) : JOM didefinisikan sebagai miopia dengan onset


antara 7-16 tahun yang disebabkan terutama oleh karena pertumbuhan sumbu
aksial dari bola mata yang fisiologis. Esophoria, astigmatisma, prematuritas,
riwayat keluarga dan kerja berlebihan yang menggunakan penglihatan dekat
merupakan faktor-faktor risiko yang dilaporkan oleh berbagai penelitian. Pada
wanita, peningkatan prevalensi miopia terbesar terjadi pada usia 9-10 tahun,
sementara pada laki-laki terjadi pada usia 11-12 tahun. Semakin dini onset dari
miopia, semakin besar progresi dari miopianya. Miopia yang mulai terjadi pada
usia 16 tahun biasanya lebih ringan dan lebih jarang ditemukan. Progresi dari
miopia biasanya berhenti pada usia remaja ( pada usia 16 tahun, pada usia 15
tahun)
Adult-Onset Myopia (AOM) : AOM dimulai pada usia 20 tahun.
a. Youth-onset myopia miopia yang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun
b. Early adult onset myopia miopia yang terjadi pada usia 20 sampai 40 tahun
c. Late adult onset myopiamyopia yang terjadi setelah usia 40 tahun
Kerja mata yang berlebihan pada penglihatan dekat merupakan faktor risiko dari
perkembangan miopia.
f. Klasifikasi secara klinik :
1. Miopia kongenital
Myopia kongenital biasanya ada sejak lahir, namun biasanya baru didiagnosis pada
usia 2-3 tahun. Kebanyakan kelainan refraksi yang terjadi unilateral dan jarang bilateral.
Anak dapat sering memicingkan mata untuk melihat lebih jelas titik jauh. Myopia
kongenital kadang berkaitan dengan anomali kongenital lainnya seperti katarak,
microthalmos, aniridia, megalokornea, dan pemisahan retina kongenital. Koreksi dini
miopia kongenital disarankan.
2. Miopia simplek
Miopia simplek adalah jenis yang paling sering terjadi. Jenis ini dianggap sebagai
kelainan fisiologis tanpa berkaitan dengan penyakit mata lain. Prevalensinya meningkat
dari 2% pada usia 5 tahun menjadi 14% pada usia 15 tahun. Karena peningkatan terjadi

27

pada usia sekolah, yaitu usia 8 sampai 12 tahun, hal ini disebut juga school myopia.
Etiologi
Miopia ini merupakan variasi biologis normal pertumbuhan mata yang dapat atau tidak
berkaitan dengan genetik. Beberapa faktor yang berkaitan dengan miopia simpel yaitu :
Miopia simplek tipe aksial hanya merupakan variasi fisiologis panjang bola mata
atau dapat berkaitan dengan pertumbuhan neurologis dini saat usia anak.
Miopia simplek tipe kurvatura dianggap akibat kurang berkembangnya bola mata
Peran diet saat usia anak telah dilaporkan tanpa ada hasil konklusif.
Peran genetik. Genetik berperan pada variasi biologis perkembangan mata, dimana
prevalensi miopia lebih banyak pada anak dengan kedua orang tua miopia (20%)
daripada anak dengan 1 orang tua miopia (10%) dan anak tanpa orang tua miopia
(5%).
Teori pekerjaan jarak dekat berlebihan. Namun teori ini tidak membuktikan adanya
hubungan miopia dengan pekerjaan jarak dekat, menonton televisi dan tidak
melakukan pemakaian kacamata.
Gejala subjektif
penurunan visus untuk jarak jauh adalah keluhan utama miopia
Gejala astenopia dapat terjadi pada pasien dengan miopia ringan
Sering memicingkan mata mungkin dikeluhkan oleh orang tua pasien dengan anak
miopia.
Gejala objektif
Bola mata yang sedikit menonjol
Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar.
Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai
cresen myopia (myopiaic crescent) yang ringan di sekitar papil saraf optik
Kelainan refraksi: miopia simplek biasa terjadi antara usia 5 -10 tahun dan akan terus
naik sampai usia 18 - 20 tahun. Miopia simplek kelainan refraksinya biasanya tidak
melebihi 6-8 D.
Diagnosis

28

Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan retinoskopi


3. Miopia patologik
Miopia patologi/ degeneratif/ progresif, seusai dengan namanya, adalah kelainan
progresif yang cepat dimulai dari usia 5-10 tahun dan menghasilkan miopia yang berat
pada dewasa muda dan biasanya berkaitan dengan perubahan degeneratif pada mata.
Etiologi
Belum ada hipotesis yang dapat menjelaskan etiopatologis dari miopia patologis secara
memuaskan. Namun, diketahui bahwa hal ini berhubungan dengan genetik dan proses
pertumbuhan secara general.
Peran herediter
Telah dikonfirmasi bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada
etiologinya, dimana miopia progresif: (i) familial, (ii) lebih sering pada ras tertentu
seperti Cina, Jepang, Arab, Yahudi, dan jarang pada Negroid, Nubian, dan Sudan.
Telah disimpulkan bahwa pertumbuhan retina terkait dengan herediter sangat
berpengaruh terhadap perkembangan miopia. Sklera karena distensibilitasnya
mengikuti pertumbuhan retina, namun koroid mengalami degenerasi karena
peregangan, yang akhirnya menyebabkan degenerasi retina.
Peran proses pertumbuhan secara general
Walaupun tidak berpengaruh banyak, namun hal ini tidak dapat di lupakan dalam
progres miopia. Pemanjangan segmen posterior dari bola mata dimulai hanya saat
periode pertumbuhan aktif. Oleh karena itu, faktor defisiensi nutrisi, penyakit
penyerta, gangguan endokrin yang mempengaruhi proses pertumbuhan general juga
mempengaruhi progres dari miopia.
Gejala klinis
Gejala subjektif :
1. Defek pada visus. Terdapat penurunan fungsi penglihatan karena biasanya
kelainannya berat. Pada tahap lanjut, penurunan visus tidak dapat terkoreksi karena
terdapat perubahan degeneratif.
2. Muscae volitantes yaitu terlihat bintik hitam berterbangan di depan mata yang
disebabkan degenerasi vitreus.

29

3. Night blindness dapat dikeluhkan yang disebabkan kelainan miopia yang sangat
berat dengan perubahan degeneratif signifikan.
Gejala objektif:
1. Mata yang menonjol. Mata yang mengalami pemanjangan adalah bagian
posterior.

Bagian anterior bola mata biasanya normal.

2. Kornea terlihat besat


3. COA dalam
4. Pupil terlihat sedikit membesar dan reaksi terhadap cahaya lambat
5. Pemeriksaan funduskopi:
Badan kaca: dapat ditemukan kekeruhan berupa perdarahan atau degenerasi yang
terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca.
Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas
hubungannya dengan keadaan miopia.
Papil saraf optik: terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil terlihat lebih
pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen miopia dapat ke seluruh
lingkaran papil, sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi
dan pigmentasi yang tidak teratur.
Makula: berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan
perdarahan subretina pada daerah makula.
Retina bagian perifer: berupa degenerasi sel retina bagian perifer.
Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina.
Akibat penipisan retina ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut
sebagai fundus tigroid.
Gejala Klinis
Sebagian kasus-kasus miopia dapat diketahui dengan adanya kelainan pada jarak
pandang.Pada tingkat ringan, kelainan baru dapat diketahui bila penderita telah diperiksa.
Akibat sinar dari suatu objek jauh difokuskan di depan retina, maka penderita miopia
hanya dapat melihat jelas pada waktu melihat dekat, sedangkan penglihatan kabur
bila melihat objek jauh.
Keluhan astenopia, seperti sakit kepala yang dengan sedikit koreksi dari miopianya
dapat disembuhkan.

30

Kecendrungan penderita untuk menyipitkan mata waktu melihat jauh untuk


mendapatkan efek pinhole agar dapat melihat dengan lebih jelas.
Penderita miopia biasanya suka membaca, sebab mudah melakukannya tanpa usaha
akomodasi
Diagnosis
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan cara refraksi subjektif dan objektif,
setelah diperiksa adanya visus yang kurang dari normal tanpa kelainan organik. Cara
subyektif ini penderita aktif menyatakan kabur terangnya saat di periksa.Pemeriksaan
dilakukan guna mengetahui derajat lensa negatif yang diperlukan untuk memperbaiki
tajam penglihatan sehingga menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan terbaik. Alat
yang digunakan adalah kartu Snellen, bingkai percobaan dan sebuah set lensa coba.
Tehnik pemeriksaan :
1. Penderita duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter (minimal 5 meter),
jika kurang dari 5 meter akan terjadi akomodasi.
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan/trial frame dan satu mata ditutup dengan
occlude, didahului dengan mata kanan.
3. Penderita di suruh membaca kartu Snellen mulai huruf terbesar dan diteruskan
sampai huruf terkecil yang masih dapat terbaca.
4. Lensa sferis negatif terkecil dipasang pada tempatnya dan bila tajam penglihatan
menjadi lebih baik ditambahkan kekuatannya perlahan-lahan hingga dapat terbaca
huruf pada baris terbawah.
5. Sampai terbaca basis 6/6.
6. Jika ditambah lensa sferis masih tidak bisa, kemungkinan pasien mempunyai
astigmatisma. Dilakukan Fogging Test.
7. Mata yang lain dikerjakan dengan cara yang sama.
Cara Obyektif
Cara ini untuk anomali refraksi tanpa harus menanyakan bagaimana tambah atau
kurangnya kejelasan yang di periksa, dengan menggunakan alat-alat tertentu yaitu
retinoskop. Cara objektif ini dinilai keadaan refraksi mata dengan cara mengamati
gerakan bayangan cahaya dalam pupil yang dipantulkan kembali oleh retina. Pada saat
pemeriksaan retinoskop tanpa sikloplegik (untuk melumpuhkan akomodasi), pasien harus

31

menatap jauh.Mata kiri diperiksa dengan mata kiri, mata kanan dengan mata kanan dan
jangan terlalu jauh arahnya dengan poros visual mata.Jarak pemeriksaan biasanya
meter dan dipakai sinar yang sejajar atau sedikit divergen berkas cahayanya. Bila sinar
yang terpantul dari mata dan tampak di pupil bergerak searah dengan gerakan retinoskop,
tambahkan lensa plus. Terus tambah sampai tampak hampir diam atau hampir terbalik
arahnya. Keadaan ini dikatakan point of reversal (POR), sebaliknya bila terbalik
tambahkan lensa minus sampai diam. Nilai refraksi sama dengan nilai POR dikurangi
dengan ekivalen dioptri untuk jarak tersebut, misalnya untuk jarak meter dikurangi 2
dioptri.
Cara pemeriksaan subyektif dan obyektif biasanya dilakukan pada setiap pasien.
Cara ini sering dilakukan pada anak kecil dan pada orang yang tidak kooperatif, cukup
dengan pemeriksaan objektif.Untuk yang tidak terbiasa, pemeriksaan subjektif saja pada
umumnya bisa dilakukan.
Tatalaksana
Penatalaksanaan miopia adalah dengan mengusahakan sinar yang masuk mata
difokuskan tepat di retina. Penatalaksanaan miopia dapat dilakukan dengan cara :
Cara optik
1.

Kacamata (Lensa Konkaf)


Koreksi miopia dengan kacamata, dapat dilakukan dengan menggunakan lensa

konkaf (cekung/negatif) karena berkas cahaya yang melewati suatu lensa cekung akan
menyebar. Bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu tinggi atau bila
bola mata terlalu panjang seperti pada miopia, keadaan ini dapat dinetralisir dengan
meletakkan lensa sferis

konkaf di depan mata. Lensa cekung yang akan

mendivergensikan berkas cahaya sebelum masuk ke mata, dengan demikian fokus


bayangan dapat dimundurkan ke arah retina.
2.

Lensa kontak
Lensa kontak dari kaca atau plastik diletakkan dipermukaan depan kornea. Lensa ini

tetap ditempatnya karena adanya lapisan tipis air mata yang mengisi ruang antara lensa
kontak dan permukaan depan mata. Sifat khusus dari lensa kontak adalah menghilangkan
hampir semua pembiasan yang terjadi dipermukaan anterior kornea, penyebabnya adalah
air mata mempunyai indeks bias yang hampir sama dengan kornea sehingga permukaan

32

anterior kornea tidak lagi berperan penting sebagai dari susunan optik mata. Sehingga
permukaan anterior lensa kontaklah yang berperan penting.
Cara operasi
Ada beberapa cara, yaitu :
1. Insisi Radikal
Untuk membuat insisi radial yang dalam pada pinggir kornea dan ditinggalkan 4 mm
sebagai zona optik.Pada penyembuhan insisi ini terjadi pendataran dari permukaan
kornea sentral sehingga menurunkan kekuatan refraksi. Prosedur ini sangat bagus untuk
miopi derajat ringan dan sedang.
Kelemahannya:
Kornea menjadi lemah, bisa terjadi ruptur bola mata jika terjadi trauma setelah RK,
terutama bagi penderita yang berisiko terjadi trauma tumpul, seperti atlet, tentara. Bisa
terjadi astigmat irreguler karena penyembuhan luka yang tidak sempurna,namun jarang
terjadi. Pasien Post RK juga dapat merasa silau saat malam hari.
2. Laser photorefractive keratektomy (PRK)
Pada teknik ini zona optik sentral pada stroma kornea anterior difotoablasi dengan
menggunakan laser excimer (193 nm sinar UV) yang bisa menyebabkan sentral kornea
menjadi flat. Sama seperti RK, PRK bagus untuk miopi -2 sampai -6 dioptri.
Kelemahan PRK:
-

Penyembuhan postoperatif yang lambat

Keterlambatan

penyembuhan

epitel

menyebabkan

keterlambatan

pulihnya

penglihatan dan pasien merasa nyeri dan tidak nyaman selama beberapa minggu.
-

Dapat terjadi sisa kornea yang keruh yang mengganggu penglihatan

PRK lebih mahal dibanding RK

3.

Laser in-situ Keratomileusis (LASIK)


Pada teknik ini, pertama sebuah flap setebal 130-160 mikron dari kornea anterior

diangkat. Setelah Flap diangkat, jaringan midstroma secara langsung diablasi dengan

33

tembakan sinar excimer laser , akhirnya kornea menjadi flat. Sekarang teknik ini
digunakan pada kelainan miopi yang lebih dari - 12 dioptri.
Kriteria pasien untuk LASIK

Umur lebih dari 20 tahun.


Memiliki refraksi yang stabil,minimal 1 tahun.

Motivasi pasien

Tidak ada kelainan kornea dan ketebalan kornea yang tipis merupakan
kontraindikasi absolut LASIK

Keuntungan LASIK
-

Minimimal atau tidak ada rasa nyeri post operatif

Kembalinya penglihatan lebih cepat dibanding PRK.

Tidak ada resiko perforasi saat operassi dan ruptur bola mata karena trauma

Tidak ada gejala sisa kabur karena penyembuhan epitel.

Baik untuk koreksi miopi yang lebih dari -12 dioptri.

Kekurangan LASIK
-

LASIK jauh lebih mahal

Membutuhkan skill operasi para ahli mata.

Dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan flap, seperti flap putus saat
operasi, dislokasi flap postoperatif, astigmat irreguler.

4. Ekstraksi lensa jernih (Fucala's operation)


Dianjurkan untuk miopi -16 sampai -18D, terutama pada kasus unilateral. Baru-baru
ini, ekstraksi lensa yang jernih dengan implantasi IOL dengan kekuatan yang sesuai
direkomendasikan untuk mopia lebih dari 12 D.
5. Phakic Intraocular Lens
Atau implantasi intraocular contact lens (ICL) juga dipertimbangkan untuk koreksi
miopia lebih dari 12 D. Pada teknik ini, IOL khusus diimplantasi di COA atau di COP di
anterior dari lensa asli.
6.

Orthokeratology
Metode reversibel nonbedah dengan memakai lensa kontak rigid gas permeabel saat

malam. Metode ini dapat dipertimbangkan untuk koreksi miopia hingga -5D dan dapat
34

digunakan untuk pasien usia kurang dari 18 tahun.


Komplikasi
a.

Ablasio retina
Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0D (- 4,75)D sekitar 1/6662.

Sedangkan pada (- 5) D (-9,75) D resiko meningkat menjadi 1/1335. Lebih dari (-10) D
resiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor resiko pada miopia rendah
tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.
b.

Vitreal Liquefaction dan Detachment


Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2%

serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun
proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan dengan
hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat bayanganbayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan vitreus
sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko untuk
terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreusdetachment pada miopia
tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat memanjangnya bola mata.
c.

Miopic makulopaty
Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler

pada mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapang pandang berkurang.Dapat
juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan kurangnya lapangan
pandang.Miopia

vaskular

koroid/degenerasi

makular

miopik

juga

merupakan

konsekuensi dari degenerasi makular normal, dan ini disebabkan oleh pembuluh darah
yang abnormal yang tumbuh di bawah sentral retina.
d.

Glaukoma
Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang

4,2%, dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stres
akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada
trabekula.
e.

Skotoma
Komplikasi timbul pada miopia derajat tinggi. Jika terjadi bercak atrofi retina maka

akan timbul skotoma (sering timbul jika daerah makula terkena dan daerah penglihatan

35

sentral menghilang). Vitreus yang telah mengalami degenerasi dan mencair berkumpul di
muscae volicantes sehingga menimbulkan bayangan lebar diretina sangat menggangu
pasien dan menimbulkan kegelisahan. Bayangan tersebut cenderung berkembang secara
perlahan dan selama itu pasien tidak pernah menggunakan indera penglihatannya dengan
nyaman sampai akhirnya tidak ada fungsi penglihatan yang tersisa atau sampai terjadi lesi
makula berat atau ablasio retina.
4

ASTIGMATISME

Definisi14
Terminologi astigmatisme berasal dari Bahasa Yunani yang bermaksud tanpa satu
titik. Astigmatisma adalah keadaan dimana sinar yang masuk ke dalam mata tidak
dipusatkan pada satu titik akan tetapi tersebar atau menjadi sebuah garis (Ilyas, 1989).
Pada keadaan ini terdapat variasi pada kurvatur kornea atau lensa pada meridian yang
berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya tidak difokuskan pada satu titik.Astigmat
merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea
makin tinggi astigmat mata tersebut. Dan umumnya setiap orang memiliki astigmat yang
ringan.
Etiologi
Bentuk kornea yang oval seperti telur, dapat juga diturunkan atau terjadi sejak lahir,
jaringan parut pada kornea seteh pembedahan (Ilyas, 2006), ketidakteraturan lengkung
kornea, dan perubahan pada lensa (Nelson, 2000)
Astigmatisma dapat disebabkan oleh kelainan pada kurvatur, aksis, atau indeks
refraksi. Astigmatisma kurvatur pada derajat yang tinggi, merupakan yang tersering pada
kornea. anomali ini bersifat kongenital, dan penilaian oftalmometrik menunujukkan.
Kebanyakan kelainan yang terjadi dimana sumbu vertical lebih besar dari sumbu
horizontal (sekitar 0,25 D). Ini dikenal dengan astigmatisme direk dan diterima sebagai
keadaan yang fisiologis. Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat
atau sferis tipe astigmatisma ini di dapatkan pada 68 % anak-anak pada usia 4 tahun dan
95% pada usia 7 tahun.
Klasifikasi
Astigmatisma dapat dikalsifikasikan berdasarkan orientasi dan posisi relatif dari 2
36

garis focus (mata yang menderita astigmatisma memiliki 2 garis focus), yakni sebagai
berikut:
a. Simple Myopic Astigmatism, yakni jika satu garis fokus berada di depan retina dan
yang lainnya berada di retina.
b. Coumpoud Myopic Astigmatism, yakni jika kedua garis fokus berada di depan
retina.
c. Simple Hyperopic Astigmatism, jika satu garis fokus berada di belakang retina dan
yang lainnya berada di retina.
d. Coumpound Hyperopic Astigmatism, jika kedua garis fokus berada di belakang
retina.
e. Mixed Astigmatism, yakni jika satu garis fokus berada di depan retina dan yang
lainnya berada di belakang retina.
Berdasarkan meridian/ aksisnya, astigmatisma dapat dibedakan menjadi dua, yakni
astigmatisma reguler dan ireguler :
a. Astigmatisma Reguler
Yakni apabila meridian utama pada astigmatisma memiliki orientasi yang konstan
pada setiap titik yang melewati pupil, dan jika jumlah astigmatisma selalu sama pada
setiap titik. Astigmatisma reguler dapat dikoreksi dengan kacamata lensa silindris.
Astigmatisma ini dapat dibedakan menjadi 4:15
1) Astigmatisma with-the-rule, yaitu tipe yang lebih sering ditemukan pada anak-anak,
dimana meridian vertikal adalah yang tercuram/ memiliki daya bias/ kelengkungan
yang lebih besar, dan sebuah koreksi lensa silinder plus dipakai pada/ mendekati
meridian 90.
2) Astigmatisma against-the-rule, yaitu tipe yang lebih sering ditemukan pada orang
dewasa, dimana meridian horizontal adalah yang tercuram/ memiliki daya bias/
kelengkungan yang lebih besar daripada meridian vertikal, dan sebuah koreksi
silinder plus dipakai pada/ mendekati meridian 180
3) Astigmatisma oblik, yakni jika dua meridian utamanya tidak terletak pada/
mendekati 90 atau 180, namun terletak lebih mendekati 45 dan 135
4) Astigmatisma bioblik, yakni jika dua meridian utama tidak terletak pada sudut yang

37

sama satu sama lain, misalnya salah satu pada 30 dan satunya lagi 100.

b. Astigmatisma Ireguler
Terjadi apabila orientasi meridian utama atau jumlah astigmatisma berubah dari titik
ke titik saat melewati pupil. Meskipun meridian utamanya terpisah 90 pada setiap titik,
kadang-kadang pada pemeriksaan retinoskopi atau keratometri, secara keseluruhan,
meridian utama pada kornea ini tidak tegak lurus satu sama lain. Sebenarnya setiap mata
normal memiliki setidaknya sedikit astigmatisma ireguler, dan peralatan seperti
topografer kornea dan wavefront aberrometer

dapat digunakan untuk mendeteksi

keadaan ini secara klinis.


Patofisiologi
a.

Astigmatisma Reguler
Pada astigmatisma reguler, setiap meridian membiaskan cahaya secara teratur dan

equally, akan tetapi pembiasan meridian yang satu berbeda dengan meridian yang lain.
Satu meridian membiaskan cahaya berlebihan dan yang lainnya kurang. Dua jenis
meridian ini disebut dengan meridian utama, keduanya saling tegak lurus.
Pada kebanyakan kasus, satu meridian utama terletak secara vertikal dan satunya lagi
terletak horizontal, namun bisa terjadi oblik, namun sudutnya masih saling tegak lurus/
90 satu sama lain.
Meridian vetikal, dalam banyak kasus, membiaskan cahaya lebih kuat daripada yang
horizontal, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh tekanan palpebra ke kornea.Tipe
astigmatisma ini disebut with-the-rule dan lebih sering pada anak-anak.Sementara itu,
apabila meridian horizontal membiaskan cahaya lebih kuat, ini disebut dengan
astigmatisma against-the-rule dan lebih sering pada orang dewasa. Perbedaan refraksi
antara kedua meridian utama ini menggambarkan besarnya astigmatisma dan
direpresentasikan dalam dioptri (D).
Ketika perbedaannya tidak lebih dari sampai dioptri, maka disebut dengan
astigmatisma fisiologis dan biasanya tidak perlu dikoreksi, karena masih bisa
dikompensasi dan tidak menimbulkan keluhan subjektif pada seseorang. Namun jika
lebih dari D, ia dapat mengganggu penglihatan dan menimbulkan gejala subjektif.
38

Akan tetapi, astigmatisma tipe reguler ini jarang yang melebihi 6-7 D.
Berdasarkan teori fisika, berbeda dengan lensa sferis, permukaan lensa silindris tidak
memiliki kelengkungan dan kekuatan refraksi yang sama di semua meridian.
Kelengkungan lensa silindris berbeda-beda dari yang kecil hingga yang besar, dengan
nilai yang ekstrim berada di meridian 90.Oleh sebab itu, kekuatan refraksinya berbedabeda dari satu meridian ke meridian lainnya, dan permukaan lensa silindris tidak
memiliki satu titik fokus, namun ada dua garis fokus yang terbentuk. Bentuk umum dari
permukaan astigmatisma adalah sferosilinder, atau torus, yang mirip dengan bentuk bola
football Amerika, dengan kata lain dapat dikatakan sebagai gabungan lensa sferis dan
lensa silindris. Bentuk geometris yang rumit dari seberkas cahaya yang berasal dari satu
sumber titik dan dibiaskan oleh lensa sferosilinder ini disebut dengan istilah conoid of
Sturm.
Conoid of Sturm memiliki dua garis fokus yang sejajar satu sama lain pada meridianmeridian utama pada lensa sferosilinder. Semua berkas cahaya akan melewati setiap
garis-garis fokus ini. Perpotongan melintang conoid of Sturm pada titik-titik yang berbeda
sejauh panjangnya, sebagian besar berbentuk elips, termasuk bagian luar dari dua garis
fokus ini.Pada setiap dioptriknya, dua garis fokus ini memiliki potongan sirkuler.
Potongan sirkuler dari berkas sinar ini disebut circle of least confusion, dan
merepresentasikan fokus terbaik dari lensa sferosilinder, yakni posisi dimana semua sinar
akan terfokus jika lensa memiliki kekuatan sferis yang sama dengan kekuatan sferis ratarata pada semua meridian lensa sferosilinder. Rata-rata kekuatan sferis lensa sferosilinder
merepresentasikan ekuivalen sferis dari lensa, dan dapat dihitung dengan rumus:16
Ekuivalen sferis = sferis + silinder / 2
b.

Astigmatisma Irreguler
Astigmatisma ireguler muncul ketika pembiasan cahaya tidak teratur dan unequal

pada meridian-meridian yang sama pada mata. Biasanya merupakan konsekuensi dari
perubahan patologis terutama pada kornea (makula sentral kornea, ulkus, pannus,
keratokonus, dan lain-lain) atau lensa (katarak, opasifikasi kapsul posterior, subluksasi
lensa, dan lain-lain).
Ketajaman visus pada mata dengan astigmatisma ireguler mengalami penurunan dan
kadang-kadang muncul diplopia monokuler atau poliopia.Semua mata memiliki

39

setidaknya sejumlah kecil astigmatisma ireguler, tapi terminologi astigmatisma ireguler


dalam hal ini digunakan secara klinis hanya untuk iregularitas yang lebih kuat.
Astigmatisma ireguler merupakan astigmatisma yang tidak memiliki 2 meridian yang
saling tegak lurus. Astigmatisma ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada
meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler. Astigmatisma ireguler
terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi atau akibat kelainan pembiasan pada
meridian lensa yang berbeda
Manifestasi Klinis
Pada umunya, seseorang yang menderita astigmatismus tinggi menyebabkan gejalagejala
sebagai berikut :
a)

Memiringkan kepala atau disebut dengan titling his head, pada umunya keluhan ini
sering terjadi pada penderita astigmatismus oblique yang tinggi.

b)

Memutarkan kepala agar dapat melihat benda dengan jelas.

c)

Menyipitkan mata seperti halnya penderita myopia, hal ini dilakukan untuk mendapatkan
efek pinhole atau stenopaic slite. Penderita astigmatismus juga menyipitkan mata pada
saat bekerja dekat seperti membaca.

d)

Pada saat membaca, penderita astigmatismus ini memegang bacaan mendekati mata,
seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk memperbesar bayangan,
meskipun bayangan di retina tampak buram, sedang pada penderita astigmatismus
rendah, biasa ditandai dengan gejala gejala sebagai berikut :
- Sakit kepala pada bagian frontal.
- Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya penderita
akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucek- ucek mata.
Diagnosis
1.

Pemeriksaan pin hole


Uji lubang kecil ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya tajam

penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan, atau
kelainan retina lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin hole
berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila
ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat kekeruhan media
penglihatan atau pun retina yang menggangu penglihatan

40

2.

Uji refraksi

Subjektif: Optotipe dari Snellen & Trial lens

Bila

setelah

pemeriksaan

tersebut

diatas

tetap

tidak

tercapai

tajam

penglihatanmaksimal mungkin pasien mempunyai kelainan refraksi astigmat.Pada


keadaan ini lakukan uji pengaburan (fogging technique).

Objektif

Autorefraktometer

Yaitu

menentukan

myopia

atau

besarnya

kelainan

refraksi

dengan

menggunakankomputer. Penderita duduk di depan autorefractor, cahaya dihasilkan


oleh alat dan respon mata terhadap cahaya diukur. Alat ini mengukur berapa besar
kelainan refraksi yang harus dikoreksi dan pengukurannya hanya memerlukan waktu
beberapa detik.
-

Keratometri

Adalah pemeriksaan mata yang bertujuan untuk mengukur radius kelengkungan


kornea. Keratometer dipakai klinis secara luas dan sangat berharga namun
mempunyai keterbatasan.
3.

Uji pengaburan
Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya
dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada
kartu Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta
melihat kisikisi juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas
terlihat.Bila garis juring pada 90 yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan
sumbu lensa silinder, atau lensa silinder ditempatkan dengansumbu 180. Perlahanlahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan sampai garis juring kisi - kisi
astigmat vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan juring horizontal atau semua
juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan yang ditambahkan.
Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan- lahan ditaruh lensa
negatif sampai pasien melihat jelas.

4.

Keratoskop
Keratoskopatau Placido disk digunakan untuk pemeriksaan astigmatisme. Pemeriksa

41

memerhatikan imej ring pada kornea pasien. Pada astigmatisme regular, ring
tersebut berbentuk oval. Pada astigmatisme irregular, imej tersebut tidak terbentuk
sempurna.
5.

Retinoskopi
Melihat refleks merah pada mata ketika retinoskop digerakan secara vertikal dan

horizontal.
Penatalaksanaan
1. Kacamata Silinder
Pada astigmatism againts the rule, koreksi dengan silender negatif dilakukan dengan
sumbu tegak lurus (90o +/- 20o) atau dengan selinder positif dengan sumbu horizontal
(180o +/- 20o). Sedangkan pada astigmatism with the rule diperlukan koreksi silinder
negatif dengan sumbu horizontal (180o +/- 20o) atau bila dikoreksi dengan silinder
positif sumbu vertikal (90o +/- 20o).
Pada koreksi astigmatisma dengan hasil keratometri digunakan hukum Jawal :
A.

Berikan kacamata koreksi astigmatisma pada astigmatism with the rule dengan
selinder minus 180 derajat, dengan astigmatisma hasil keratometri yang

B.

ditemukan ditambahkan dengan nilainya dan dikurangi dengan 0,5 D.


Berikan kacamata koreksi astigmatisma pada astigmatism againts the rule dengan
selinder minus 90 derajat, dengan astigmatisma hasil keratometri yang ditemukan
ditambahkan dengan nilainya dan ditambah dengan 0,5 D.

2.

Lensa Kontak
Pada penderita astigmatisma diberikan lensa rigid, yang dapat menetralisasi
astigmatisma yang terjadi di permukaan kornea.

3.

Pembedahan
Untuk mengoreksi astigmatisma yang berat, dapat digunakan pisau khusus atau
dengan laser untuk mengoreksi kornea yang irreguler atau anormal. Ada bebrapa
prosedur pembedahan yang dapat dilakukan, diantaranya :
a. Photorefractive Keratectomy (PRK), laser dipergunakan unutk membentuk
kurvatur kornea, dilakukan dengan membuang jaringan dari lapisan dangkal
dan bagian dalam kornea

42

b. Laser in Situ Keratomileusis (lasik),laser digunakan untuk merubah kurvatur


kornea dengan membuat flap (potongan laser) pada kedua sisi kornea.
LASIK dilakukan dengan memotong bagian dari permukaan kornea luar
melipatnya kembali untuk mengekspos jaringan dalam. Maka laser
digunakan untuk membuang sejumlah jaringan yang dibutuhkan dan flap
jaringan luar ditempatkan kembali pada posisinya posisi untuk proses
penyembuhan.
c. Radial keratotomy, insisi kecil dibuat secara dalam dikornea.

43

BAB III
KESIMPULAN
Intepretasi informasi penglihatan yang tepat tergantung pada kemampuan mata untuk
memfokuskan cahaya yang datang ke retina. Mata memiliki seperangkat komponen optik
yang mampu membiaskan sinar yang melaluinya. Komponen optik tersebut adalah sistem
lensa, terdiri atas kornea, Aqueous humour pada anterior chamber, lensa, dan vitreous
humour pada posterior chamber. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media
refraksi dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah
melalui media refraksi dibiaskan tepat didaerah makula lutea.
Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina, dimana
terjadi ketidakseimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau
di belakang retina dan/ atau tidak terletak pada satu titik fokus. Dikenal istilah emetropia
yang berarti tidak adanya kelainan refraksi dan ametropia yang berarti adanya kelainan
refraksi seperti miopia, hipermetropia,astigmat, dan presbiopia.
Mata bukanlah organ yang diciptakan tanpa tujuan,satu tubuh dicipta dengan sistem
yang saling terkait jika mata bermasalah, maka satu tubuh akan suffering . Kelainan
refraksi merupakan kelainan yang dapat dikoreksi, namun terkadang menjadi masalah
yang terabaikan bagi sebagian orang. Mengingat komplikasi morbiditas yang dapat
ditimbulkan, pencegahan dan deteksi dini dari kelainan refraksi amatlah penting ditengah
peralatan diagnostik yang sudah memadai dan pendidikan masyarakat yang sudah lebih
baik.

44

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas H, Sidarta. Kelainan refraksi dan koreksi penglihatan. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2004.
2. Keputusan menteri kesehatan RI nomor 1473/menkes/SK/x/2005 tentang Rencana
Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk
mencapai Vision 2020.
3. Vaughan, Asbury. Optik dan Refraksi dalam Oftalmologi Umum. Ed. 17. Jakarta:
EGC. 2009. Hal 8, 125.
4. Vaughan, Asbury. Optik dan Refraksi dalam Oftalmologi Umum. Ed. 17. Jakarta:
EGC. 2009. Hal 12.
5. Sherwood l. Human Physiology from Cells to System. Ed. 7. Canada :
Brooks/Cole. 2010. Page 198-9.
6. Vaughan, Asbury. Optik dan Refraksi dalam Oftalmologi Umum. Ed. 17. Jakarta:
EGC. 2009. Hal 382-4.
7. Khurana A.K. comprehensive ophthalmology. Fourth edition. India : New age
international. 2007. P.3-1, 89-92, 167-169, 243 245, 249.
8. Mancil GL. Optometric clinical practice guideline care of patient with Presbiopia.
America optometric Association. Reviewed 2010. P. 1-36
9. Patorgis CJ. Presbyopia. In: Amos JF, ed. Diagnosis and management in vision
care. Boston: Butterworths, 1987:203-38.
10. Kleinstein RN. Epidemiology of presbyopia. In: Stark L, Obrecht G, eds.
Presbyopia: recent research and reviews from the third international symposium.
New York: Professional Press Books, 1987:12-8.
11. David AH. Optometric clinical practice guideline care of patient with
Hypermetropia. America optometric Association. Reviewed 2008. P. 1-27
12. Waring GO, Rodrigues MM, Laibson PR. Anterior chamber cleavage syndrome.
A stepladder classification. Surv Ophthalmol 1975; 20:3-27 Thompson HS,
Newsome DA, Lowenfield IE. The fixed dilated pupil. Sudden iridoplegia or
mydriatic drops? A simple diagnostic test. Arch Ophthalmol 1971; 86:21-7.12
13. Amos JF. Optometric clinical practice guideline care of patient with Myopia.
America optometric Association. Reviewed 2008. P. 1-39.
14. Sidarta I. Kelainan Refraksi dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Jakarta. 2007. Hal. 81
15. Sidarta I. Kelainan Refraksi dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Jakarta. 2007. Hal. 82

45

16. Olujic, SM, 2012. Etiology and Clinical Presentation of Astigmatism. Dalam:
Advances in Ophtalmology; edited by Rumelt S. PP: 167 190. Available at:
www.intechopen.com/download/pdf/29985. Accessed: March 26th 2015.

46