Anda di halaman 1dari 30

Darimana radiasi berasal?

Tanpa kita sadari, sebenarnya kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan radiasi. Radiasi
telah menjadi bagian dari lingkungan kita semenjak dunia ini diciptakan, bukan hanya sejak
ditemukan tenaga nuklir setengah abad yang lalu. Terdapat lebih dari 60 radionuklida yang
berdasarkan asalnya dibagi atas 2 kategori:
1. Radionuklida alamiah: radionuklida yang terbentuk secara alami, terbagi
menjadi dua yaitu:
2.
- Primordial: radionuklida ini telah ada sejak bumi diciptakan.
- Kosmogenik: radionuklida ini terbentuk sebagai akibat dari interaksi sinar
kosmik.
3. Radionuklida buatan manusia: radionuklida yang terbentuk karena dibuat
oleh manusia.

Radionuklida terdapat di udara, air, tanah, bahkan di tubuh kita sendiri. Setiap hari kita terkena
radiasi, baik dari udara yang kita hirup, dari makanan yang kita konsumsi maupun dari air yang
kita minum. Tidak ada satupun tempat di bumi ini yang bebas dari radiasi.
Primordial

Radionuklida primordial telah ada sejak alam semesta terbentuk. Pada umumnya, radionuklida
ini mempunyai umur-paro yang panjang. Tabel berikut memperlihatkan beberapa radionuklida
primordial.
Tabel Radionuklida Primordial
Nuklida

Lamban
g

Umur-paro

Keterangan

Uranium
235

235

7,04x108
tahun

0,72% dari uranium alam

Uranium
238

238

4,47x109
tahun

99,2745% dari uranium alam; pada batuan terdapat 0,5


- 4,7 ppm uranium alam

Th

1,41x1010
tahun

Pada batuan terdapat 1,6 - 20 ppm.

Ra

1,60x103
tahun

Terdapat di batu kapur

Thorium
232

232

Radium
226

226

Radon
222

222

Kalium
40

Rn

3,82 hari

Gas mulia

1,28x109
tahun

Terdapat di tanah

40

Kosmogenik

Sumber radiasi kosmik berasal dari luar sistem tata surya kita, dan dapat berupa berbagai macam
radiasi. Radiasi kosmik ini berinteraksi dengan atmosfir bumi dan membentuk nuklida radioaktif
yang sebagian besar mempunyai umur-paro pendek, walaupun ada juga yang mempunyai umurparo panjang. Tabel berikut memperlihatkan beberapa radionuklida kosmogenik.
Tabel Radionuklida Kosmogenik
Nuklid
a

Lambang

Karbon
14

14

Tritium
3

Berilium
7

Umur-paro

Sumber

5.730 tahun

Interaksi

12,3 tahun

Interaksi 6Li(n,a)3H

Be

53,28 hari

Interaksi sinar kosmik dengan unsur N dan O

14

N(n,p)14C

Buatan Manusia

Manusia telah menggunakan bahan radioaktif selama lebih dari 100 tahun. Tabel berikut
memperlihatkan beberapa radionuklida buatan manusia.
Tabel Radionuklida Buatan Manusia
Nuklida
Tritium 3

Lambang
3

Umur-paro

Sumber

12,3 tahun

Dihasilkan dari uji-coba senjata nuklir, reaktor


nuklir, dan fasilitas olah-ulang bahan bakar nuklir.

Iodium 131

131

8,04 hari

Produk fisi yang dihasilkan dari uji-coba senjata


nuklir, reaktor nuklir. 131I sering digunakan untuk
mengobati penyakit yang berkaitan dengan
kelenjar thyroid.

Iodium 129

129

1,57x107

Produk fisi yang dihasilkan dari uji-coba senjata

Cesium 137

tahun

nuklir dan reaktor nuklir.

Cs

30,17 tahun

Produk fisi yang dihasilkan dari uji-coba senjata


nuklir dan reaktor nuklir.

Sr

28,78 tahun

Produk fisi yang dihasilkan dari uji-coba senjata


nuklir dan reaktor nuklir.

Tc

6,03 jam

Produk peluruhan dari


diagnosis kedokteran.

Tc

2,11x105
tahun

Produk peluruhan

Pu

2,41x104
tahun

Dihasilkan akibat

137

Stronsium 90

90

Technesium
99m

99m

Technesium
99

99

Plutonium
239

239

99m

238

99

Mo, digunakan dalam

Tc.

U ditembaki neutron.

Beberapa Fakta Menarik dari Radioaktivitas Alamiah


Tubuh Manusia

Tubuh manusia terdiri atas bahan kimia, beberapa diantaranya merupakan radionuklida yang
berasal dari makanan dan air yang kita konsumsi tiap hari. Tabel berikut memperlihatkan
perkiraan jumlah radionuklida yang terdapat pada tubuh manusia dengan berat 70 kg.
Tabel Radioaktivitas Alamiah yang Terdapat Pada Tubuh Manusia
Nuklida

Massa Nuklida

Asupan Sehari-hari

Uranium

90 g

1.9 g

Thorium

30 g

3 g

Kalium 40

17 mg

0,39 mg

Radium

31 pg

2,3 pg

Karbon 14

95 g

1,8 g

Tritium

0,06 pg

0,003 pg

Polonium

0,2 pg

0,6 g

Bahan Bangunan

Bahan bangunan pada rumah yang kita tempati juga mengandung bahan-bahan radioaktif. Tabel
berikut memperlihatkan beberapa bahan bangunan dan konsentrasi uranium, thorium dan kalium
yang terkandung di dalam bahan bangunan tersebut.
Tabel Konsentrasi Uranium, Thorium dan Kalium dalam Bahan Bangunan
Uranium
(ppm)

Thorium
(ppm)

Kalium
(ppm)

Granit

4,7

Batu pasir
(sandstone)

0,45

1,7

1,4

Semen

3,4

5,1

0,8

Batako kapur
(limestone concrete)

2,3

2,1

0,3

Batako semen
(sandstone concrete)

0,8

2,1

1,3

Papan Partisi (dry


wallboard)

1,0

0,3

Gypsum

13,7

16,1

0,02

Kayu

11,3

Batu bata tanah liat


(clay brick)

8,2

10,8

2,3

Catatan:
Beberapa satuan yang biasa dipakai adalah: ppm - part per million, g - gram, kg kilogram (1000 gram), mg - miligram (10-3 gram), g - mikrogram (10-6 gram), pg pikogram (10-12 gram).

Reaktor Nuklir Alam di Oklo

Pada tahun 1972, di Oklo (salah satu daerah di negara Gabon, Afrika Barat) telah ditemukan
reaktor nuklir alam yang beroperasi sekitar 1,7 milyar tahun lalu.
Reaktor tersebut ditemukan oleh para ahli geologi Perancis ketika mereka meneliti sampel di
tambang uranium Oklo. Pada umumnya, U-235 yang merupakan nuklida bahan bakar reaktor
nuklir memiliki kelimpahan sekitar 0,7202%. Para ahli geologi Perancis tersebut menemukan
bahwa kelimpahan U-235 di Oklo mencapai 0,7171%. Meskipun perbedaannya sangat kecil,
namun para ahli tersebut tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Mereka terkejut ketika menemukan
sampel yang memiliki kelimpahan hanya 0,44%. Perbedaan ini hanya dapat dijelaskan jika U235 tersebut telah dipakai sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir.
Dalam penelitian lebih lanjut telah ditemukan beberapa produk fisi dalam jumlah melimpah di 6
lokasi sekitar. Produk fisi merupakan bahan-bahan radioaktif akibat reaksi pembelahan U-235
yang terjadi di reaktor nuklir. Di lokasi tesebut juga telah ditemukan bahan radioaktif
neodymium, yang kelimpahannya hampir sama dengan yang ditemukan di reaktor nuklir masa
kini. Hal tersebut membuktikan bahwa alam telah dapat membuat reaktor nuklir pada 1,7 milyar
tahun lalu, sesuatu hal yang baru dapat dilakukan oleh manusia pada abad 20.

Daerah Radiasi Alam Tinggi


Beberapa daerah di bumi mempunyai radiasi alam yang lebih tinggi dari rata-rata di permukaan
bumi, misalnya di India dan Brazil. Pada daerah tertentu di negara tersebut, permukaan tanah
tertutupi oleh suatu bahan yang berwarna hitam yang disebut pasir monasit, yang merupakan
turunan dari deposit uranium. Pasir monasit tersebut melingkupi daerah yang relatif luas dengan
populasi penduduk yang cukup besar. Tingkat radiasi pada tinggi setengah meter dari permukaan
tanah bisa lebih dari 20 kali dari radiasi alam daerah lain. Penelitian pada populasi tersebut,
termasuk penduduk yang tinggal pada daerah tersebut selama beberapa generasi, tidak
menemukan suatu kelainan, kecenderungan kanker atau penyakit akibat radiasi lainnya.
Suatu hal menarik dari kenyataan ini adalah bahwa pasir yang mengandung radioaktif tersebut
diyakini mempunyai khasiat menyembuhkan penyakit. Sebagian orang bersedia membayar untuk
berbaring di tanah yang mempunyai tingkat radiasi relatif tinggi atau berendam dalam air yang
mengandung unsur radioaktif selama berhari-hari untuk menyembuhkan penyakitnya. Akan
tetapi tidak ada catatan mengenai adanya orang yang sakit, maupun yang sembuh dari sakit
setelah melakukan hal tersebut.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/13.htm

Bagaimana kita mengetahui adanya radiasi?


Radiasi tidak dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan atau diraba. Indera manusia tidak dapat
mendeteksi radiasi sehingga seseorang tidak dapat mengetahui kapan ia dalam bahaya atau tidak.
Radiasi hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat, yang disebut monitor radiasi. Monitor
radiasi terdiri dari detektor radiasi dan rangkaian elektronik penunjang. Pada umumnya, monitor

radiasi dilengkapi dengan alarm yang akan mengeluarkan bunyi jika ditemukan radiasi. Bunyi
alarm semakin keras apabila tingkat radiasi yang ditemukan semakin tinggi. Monitor radiasi
umumnya digunakan hanya untuk mengetahui ada atau tidaknya radiasi.
Monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur jumlah radiasi atau dosis yang diterima oleh
seseorang disebut dosimeter perorangan dan monitor radiasi yang digunakan untuk mengukur
kecepatan radiasi atau laju dosis di suatu area dikenal dengan survaimeter. Alat-alat tersebut
dapat disamakan dengan indikator jarak dan speedometer pada mobil. Indikator jarak
menunjukkan berapa km atau mil yang telah dijalani oleh mobil, seperti halnya dosimeter
perorangan menunjukkan berapa dosis radiasi yang telah diterima oleh seseorang. Speedometer
menunjukkan pada kita beberapa km atau mil kecepatan mobil perjam, seperti survaimeter
menunjukkan berapa laju dosis radiasi.
Salah satu cara untuk mengukur dosis radiasi pada dosimeter perorangan adalah berdasarkan
pada tingkat kehitaman film jika terkena radiasi. Dengan memproses film dan mengukur tingkat
kehitamannya, dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dapat diperkirakan.
Cara lain untuk mengukur dosis adalah berdasarkan pada jumlah cahaya yang dihasilkan pada
bahan tertentu akibat oleh radiasi setelah dilakukan proses pemanasan. Dosimeter perorangan ini
disebut TLD (Thermo Luminescence Dosimeter). TLD lebih peka dan akurat daripada dosimeter
film dan dapat digunakan kembali setelah dilakukan proses pembacaan dosis.
Berbeda dengan dosimeter perorangan yang memberikan informasi dosis radiasi yang telah
diterima, survaimeter memberikan informasi laju dosis radiasi pada suatu area pada suatu saat.
Hasil perkalian antara laju dosis yang ditunjukkan survaimeter dan lama waktu selama berada di
area merupakan perkiraan jumlah radiasi atau dosis yang diterima bila berada di suatu area
selama waktu tersebut. Dengan survaimeter ini seseorang dapat menjaga diri agar tidak terkena
radiasi yang melebihi batas yang diizinkan.

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/14.htm

Apakah radiasi aman?


Perlu kita sadari, bahwa tidak ada satupun aktivitas manusia yang benar-benar aman dan bebas
dari risiko. Bahkan, ketika duduk santai di kursi sekalipun, kita menghadapi risiko terjungkal
dari kursi. Dalam setiap tindakan yang kita lakukan selalu ada risiko, betapapun kecilnya risiko
tersebut. Kadangkala, tanpa disadari, kita mengabaikan risiko tersebut. Sebagai contoh, ketika
hendak menyeberang jalan sewaktu lalulintas tidak padat, kita hanya menunggu adanya jeda

antar kendaraan untuk menyeberang. Dalam hal ini, tanpa sadar kita mengabaikan risiko
tertabrak oleh kendaraan.
Setiap tindakan yang kita ambil mungkin relatif lebih aman, atau sebaliknya, relatif lebih
berbahaya dari tindakan alternatif lainnya. Sebagai contoh, untuk mendeteksi suatu penyakit
apakah kanker atau bukan, kita dapat menggunakan sinar-X. Penggunaan sinar-X itu sendiri
mengandung risiko, namun jika kanker dibiarkan tak terdeteksi, hal tersebut dapat berakibat
fatal. Dalam hal ini, risiko penggunaan sinar-X untuk mendeteksi kanker jauh lebih kecil
daripada risiko membiarkan kanker tak terdeteksi. Hal ini seringkali disebut sebagai
pertimbangan manfaat-risiko.
Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa radiasi aman, atau sebaliknya, radiasi berbahaya.
Yang bisa kita lakukan adalah mengambil risiko yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya. Tidak ada salahnya kita menggunakan radiasi, jika manfaat
yang akan kita dapat jauh lebih besar daripada risikonya.

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/15.htm

Apakah radiasi bermanfaat?


Radiasi pengion banyak menjanjikan manfaat bagi umat manusia, walaupun demikian kita harus
waspada terhadap risikonya. Sebagai contoh, matahari memancarkan segala jenis radiasi,
termasuk radiasi inframerah (panas), radiasi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet. Radiasiradiasi tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan kita tidak dapat hidup tanpa
radiasi-radiasi tersebut. Namun, kita juga harus menyadari bahwa setiap radiasi alamiah dapat
berakibat buruk. Terlalu banyak inframerah dapat menyebabkan benda terbakar. Terlalu banyak
cahaya tampak dapat menyebabkan kebutaan, dan terlalu banyak ultraviolet dapat
mengakibatkan kanker kulit atau kulit
terbakar.
Masyarakat awam sering mendengar atau
mengalami pemeriksaan kesehatan
menggunakan sinar-X. Sinar-X digunakan
dalam bidang kedokteran untuk
menggambarkan rangka tubuh manusia dan
struktur tubuh bagian dalam, mendeteksi
benda-benda asing dalam tubuh, tulang
patah, serta beberapa penyakit, misalnya tuberkolosis (TBC) dan pembengkakan jantung.

Namun, bila tidak digunakan secara hati-hati, sinar-X dapat meningkatkan risiko kanker dan
bahkan dapat mengakibatkan kematian pasien. Akan tetapi, sifat-sifat radiasi pengion dan cara
untuk meminimalkan jumlah dosis yang diterima dari penyinaran radiasi sinar-X telah dipahami.
Karena itu, tak ada lagi alasan untuk takut terhadap penyinaran sinar-X, sepanjang digunakan
secara tepat. Kita dapat meminimalkan pemakaian yang tidak tepat melalui pendidikan, pelatihan
dan penegakan hukum atau aturan dan ketentuan yang berlaku. Semua radiasi pengion dapat
digunakan secara luas untuk keperluan yang bermanfaat dengan tingkat keamanan yang tinggi.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/1-6.htm

2. Dosis dan Efek Radiasi


Satuan dan Dosis Radiasi

Kita tidak dapat mendeteksi radiasi secara langsung dengan menggunakan panca indera; namun
kita dapat mendeteksinya dengan menggunakan peralatan khusus, yang disebut Detektor
Radiasi, misalnya film fotografi, tabung Geiger-Mller, pencacah sintilasi, bahan
termoluminesensi maupun dioda silikon. Hasil pengukuran detektor radiasi tersebut dapat kita
interpretasikan sebagai energi radiasi yang terserap di seluruh tubuh manusia atau di organ
tertentu, misalnya hati.
Banyaknya energi radiasi pengion yang terserap per satuan massa bahan,
misalnya jaringan tubuh manusia, disebut Dosis Terserap yang dinyatakan
dalam satuan gray, dengan simbol Gy. Untuk nilai yang lebih kecil, biasa
digunakan miligray, mGy, yang sama dengan seperseribu gray. Istilah gray
diambil dari nama fisikawan Inggris, Harold Gray.

Besar dosis terserap yang sama untuk jenis radiasi yang berbeda belum tentu mengakibatkan
efek biologis yang sama, karena setiap jenis radiasi pengion memiliki keunikan masing-masing
dalam berinteraksi dengan jaringan tubuh manusia. Sebagai contoh, dosis terserap 1 Gy yang
berasal dari radiasi alfa lebih berbahaya dibandingkan dengan dosis terserap 1 Gy yang berasal
dari radiasi beta.

Karena adanya perbedaan tersebut, kita memerlukan besaran dosis lain yang
tidak bergantung pada jenis radiasi. Besaran itu disebut Dosis Ekivalen dan
memiliki satuan sievert, dengan simbol Sv. Untuk nilai yang lebih kecil,
biasa digunakan milisievert, mSv, yang sama dengan seperseribu sievert.
Istilah sievert diambil dari nama fisikawan Swedia, Rolf Sievert.

Dosis ekivalen adalah dosis terserap dikalikan dengan Faktor Bobot-Radiasi. Nilai faktor
bobot-radiasi ini berlainan untuk setiap jenis radiasi, bergantung pada kemampuan radiasi
tersebut untuk merusak jaringan tubuh manusia. Faktor bobot-radiasi untuk elektron (radiasi
beta), foton (gamma dan sinar-X) bernilai 1 (satu), sedang untuk radiasi alfa bernilai 20. Ini
berarti radiasi alfa bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh 20 kali lebih parah
dibandingkan dengan radiasi beta, gamma atau sinar-X. Dengan adanya dosis ekivalen ini, maka
kita dapat menyatakan bahwa dosis ekivalen 1 Sv yang berasal dari radiasi alfa akan
mengakibatkan kerusakan yang sama dengan
dosis ekivalen 1 Sv yang berasal dari radiasi
beta.

Selain bergantung pada jenis radiasi, setiap


organ atau jaringan tubuh juga mempunyai
kepekaan masing-masing terhadap radiasi.
Kerusakan akibat radiasi yang diterima
oleh suatu organ, misalnya hati, juga
berbeda dengan organ lain, misalnya paruparu. Karena itu, setiap organ juga
mempunyai Faktor Bobot-Organ.

Untuk memudahkan, biasanya kita hanya memperhatikan berapa dosis radiasi yang mengenai
seluruh tubuh. Besaran dosis radiasi ini disebut Dosis Efektif. Dosis efektif menyatakan
penjumlahan dari dosis ekivalen yang diterima oleh setiap organ utama tubuh dikalikan dengan
faktor bobot-organnya.
Perhitungan dosis efektif
Anggaplah seseorang menerima dosis ekivalen 100 mSv pada paru-paru, 70 mSv
pada hati dan 300 mSv pada tulang. Dosis efektif = (100x0,12) + (70x0,05) +
(300x0,01) = 18,5 mSv. Risiko akibat menerima radiasi pada beberapa organ tubuh
tersebut akan sama dengan risiko jika ia menerima dosis ekivalen 18,5 mSv secara
merata pada seluruh tubuhnya.
Biasanya, dosis efektif seringkali disebut secara singkat sebagai Dosis atau Dosis Radiasi saja.
Dalam satuan lama, sebelum tahun 1970, dosis radiasi dinyatakan dalam rem, dengan 1 Sv sama
dengan 100 rem.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/2-1.htm

Asal Dosis Radiasi dan Persentasenya

Dosis radiasi yang diterima oleh


seseorang dapat berasal dari alam (secara
alamiah) maupun dari radiasi buatan
manusia (misalnya pemakaian sinar-X
dalam bidang kedokteran). Dalam
laporan yang dipublikasikan pada tahun
2000, UNSCEAR (United Nations
Scientific Committee on the Effects of
Atomic Radiation) menyatakan bahwa
secara rata-rata seseorang akan menerima
dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun.
Sekitar 85% dari total dosis yang
diterima seseorang berasal dari alam.
Sekitar 43% dari total dosis yang
diterima seseorang berasal dari
radionuklida radon yang terdapat di
dalam rumah.

Radiasi Kosmik

Radiasi kosmik merupakan radiasi yang berasal dari angkasa luar, umumnya terdiri atas partikel
proton. Proton merupakan partikel bermuatan, sehingga jumlah proton yang memasuki atmosfir
bumi dipengaruhi oleh medan magnet bumi. Karena itu, dosis radiasi yang berasal dari radiasi
kosmik bergantung pada garis lintang; semakin jauh
dari khatulistiwa, semakin besar dosisnya.
Ketika memasuki atmosfir bumi, radiasi kosmik
berinteraksi dengan atom/unsur penyusun atmosfir.
Semakin mendekati bumi, jumlah radiasi kosmik akan
semakin berkurang karena diserap oleh bahan penyusun
atmosfir, sehingga dosisnya juga akan semakin
berkurang. Pada permukaan bumi, secara rata-rata,
dosisnya sekitar 0,4 mSv (40 mrem) per tahun.
Beberapa kota di bumi, misalnya kota Lhasa di
Himalaya, Tibet, berada di lokasi yang cukup tinggi
sehingga penduduknya akan mendapat dosis yang
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang
berada di permukaan bumi. Secara umum, intensitas
radiasi kosmik bertambah dua kali lipat untuk setiap
ketinggian 2 km.

Selain itu, mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang juga akan mendapat dosis
radiasi yang lebih tinggi. Penerbangan pada ketinggian 13 km, ketinggian yang umum untuk
penerbangan komersial, memberikan tambahan dosis 0,005 mSv (0,5 mrem) per jam
penerbangan untuk setiap penumpang.
Kerak bumi (terestrial)

Semua bahan yang terdapat dalam kerak bumi mengandung radionuklida, khususnya uranium
(U), thorium (Th) dan kalium (K). Uranium tersebar di bebatuan dan tanah dalam konsentrasi
yang sangat kecil. U-238 merupakan induk dari beberapa deret peluruhan radionuklida. Setiap
radionuklida akan meluruh menjadi radionuklida lain hingga akhirnya tercapai nuklida stabil Pb206. Salah satu radionuklida yang berada dalam deret peluruhan uranium ini adalah radon-222
(Rn-222) yang dapat berinteraksi dengan udara. Thorium juga tersebar di tanah, dan Th-232
merupakan radionuklida induk dari deret peluruhan lain. Konsentrasi kalium lebih banyak
dibandingkan dengan uranium dan thorium.
Semua radionuklida tersebut memancarkan radiasi gamma. Karena itu, setiap saat kita mendapat
radiasi gamma, baik sewaktu kita berada di dalam maupun di luar rumah. Dosis yang diterima
akan bervariasi sesuai dengan struktur geologi daerah tempat tinggalnya dan dengan bahan
bangunan yang dipakai. Secara rata-rata, kita menerima dosis 0,5 mSv (50 mrem) per tahun dari
radiasi gamma alamiah yang berasal dari bebatuan dan tanah.
Kita mungkin berpikir bahwa dengan masuk ke dalam rumah, kita akan terhindar dari radiasi
terestrial. Kenyataannya, kontribusi radiasi terestrial ini 20% terdapat di luar rumah, 80% berasal
dari bahan bangunan.
Internal

Beberapa radionuklida yang berasal dari deret uranium dan thorium, misalnya Pb-210 dan Po210, terdapat di udara, makanan dan air. Karena itu, kita juga mendapat radiasi secara internal
(dari dalam tubuh). Selain itu, di dalam tubuh juga terdapat radionuklida K-40 dan produk
peluruhan radon. Interaksi radiasi kosmik dengan atmosfir juga akan menghasilkan beberapa
radionuklida, misalnya C-14, yang akan menambah radiasi internal. Dosis efektif rata-rata dari
radiasi internal ini sekitar 0,3 mSv (30 mrem) per tahun. Sekitar separuh dari dosis ini berasal
dari K-40.
Radon

Radiasi yang berasal dari gas radon (Rn-222) merupakan sumber utama radiasi yang kita terima
sehari-hari. Hal ini terjadi karena Rn-222 dapat bergabung dengan udara yang kita hirup.
Kemudian, gas radon yang memancarkan radiasi alfa ini dapat mengiradiasi paru-paru sehingga
akan meningkatkan risiko terkena kanker.

Jika gas radon keluar dari tanah, gas


radon akan terdispersi (tersebar) ke
udara. Karena itu, konsentrasi radon
di lingkungan udara terbuka akan
kecil. Namun, jika gas radon
memasuki ruangan tertutup,
khususnya melalui lantai rumah,
konsentrasinya akan meningkat.
Dosis efektif rata-rata dari gas radon
ini sekitar 1,2 mSv (120 mrem) per
tahun. Karena dosis total rata-rata
(baik berasal dari radiasi alamiah
maupun buatan) sekitar 2,8 mSv (280
mrem) per tahun, maka kontribusi
dari radon ini sekitar 43% dari dosis
total yang kita terima. Karena itu, kita harus mewaspadai dosis radiasi yang berasal dari gas
radon ini. Untuk mengurangi radiasi yang berasal dari gas radon, ruangan gedung harus memiliki
ventilasi yang cukup agar gas radon dapat didispersikan oleh udara.

Kedokteran
Dalam bidang kedokteran, radiasi pengion digunakan untuk diagnosis dan pengobatan (terapi).
Pemakaian sinar-X untuk memeriksa pasien disebut radiologi diagnostik, jika radiasi digunakan
untuk mengobati pasien, prosedurnya disebut radioterapi, sedang pemakaian obat-obatan yang
mengandung bahan radioaktif, baik untuk keperluan diagnosis maupun terapi, disebut kedokteran
nuklir. Dosis efektif rata-rata yang berasal dari bidang kedokteran ini sekitar 0,4 mSv (40 mrem)
per tahun.
Atmosfir (uji-coba bom nuklir)

Jika bom nuklir diuji-coba di atas tanah, ledakan bom tersebut


akan menghamburkan berbagai radionuklida, misalnya H-3 dan
Pu-241, ke atmosfir. Dari atmosfir, radionuklida tersebut
kemudian secara perlahan-lahan turun ke tanah. Sekitar 500 ujicoba bom nuklir dilaksanakan sebelum adanya pembatasan ujicoba bom nuklir pada tahun 1963.

Radionuklida utama yang menjadi


bahaya radiasi pada uji-coba bom
nuklir ini adalah C-14, Sr-90 dan Cs137. Radionuklida tersebut dapat
masuk ke dalam tubuh melalui
makanan dan minuman. Selain itu,
radionuklida tersebut dapat juga
terdapat di permukaan tanah sehingga
akan menambah radiasi yang kita
terima.
Dosis efektif rata-rata akibat
radionuklida hasil uji-coba bom nuklir
ini sekitar 0,005 mSv (0,5 mrem) per tahun. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan
dosis sekitar 0,1 mSv (10 mrem) pada tahun 1963 ketika uji-coba peledakan bom nuklir
mencapai puncaknya.
Kecelakaan PLTN Chernobyl

Pada tanggal 26 April 1986 terjadi kecelakaan di PLTN Chernobyl, Ukraina. Kecelakaan itu
mengakibatkan tersebarnya sejumlah bahan radioaktif ke lingkungan selama 10 hari. Sekitar 31
orang meninggal dunia, termasuk 28 orang petugas pemadam kebakaran. Para petugas pemadam
kebakaran tersebut mendapat dosis radiasi tinggi, antara 3 Sv (300 rem) hingga 16 Sv (1600
rem), yang berasal dari bahan radioaktif yang mengendap di tanah. Selain itu, mereka juga
mengalami kontaminasi pada kulit yang mengakibatkan eritema akut. Sebanyak 209 orang juga
mendapat perawatan di rumah sakit, 106 orang di antaranya didiagnosa menderita sakit akibat
radiasi yang cukup parah. Kendati demikian, semuanya dapat disembuhkan dan diizinkan pulang
setelah menjalani perawatan beberapa minggu atau bulan di rumah sakit.

Radionuklida utama yang menjadi bahaya pada


kecelakaan ini adalah I-131, Cs-134 dan Cs-137.
Dosis yang diterima berasal dari radiasi eksterna
radionuklida yang terdapat di permukaan tanah,
dari terhirupnya I-131 sehingga meningkatkan
dosis radiasi pada thyroid, dan dari radiasi
internal radionuklida yang terdapat pada bahan
makanan.
Ketika UNSCEAR menerbitkan laporan pada
tahun 2000, pada laporan itu masih disebutkan
bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl ini
mengakibatkan dosis efektif rata-rata sekitar
0,002 mSv (0,2 mrem) per tahun.
PLTN

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu sumber daya energi listrik
dunia. Pada setiap tahap daur bahan bakar nuklir, termasuk penambangan, fabrikasi, operasi
reaktor serta olah-ulang bahan bakar, sejumlah kecil radionuklida dilepaskan ke lingkungan
dalam bentuk cair, gas atau padat. Dosis efektif rata-rata yang berasal dari energi nuklir ini
sekitar 0,0002 mSv (0,02 mrem) per tahun.

Lain-lain

Selain mendapat dosis radiasi yang berasal dari latar belakang seperti disebutkan di atas, kita
juga mendapat tambahan dosis radiasi, misalnya bila kita di"roentgen". Tabel berikut
memperlihatkan beberapa sumber paparan yang dapat menambah dosis radiasi.

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/2-2.htm

Efek Radiasi Terhadap Manusia

Jika radiasi mengenai tubuh manusia, ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi: berinteraksi dengan
tubuh manusia, atau hanya melewati saja. Jika berinteraksi, radiasi dapat mengionisasi atau dapat
pula mengeksitasi atom. Setiap terjadi proses ionisasi atau eksitasi, radiasi akan kehilangan
sebagian energinya. Energi radiasi yang hilang akan menyebabkan peningkatan temperatur
(panas) pada bahan (atom) yang berinteraksi dengan radiasi tersebut. Dengan kata lain, semua
energi radiasi yang terserap di jaringan biologis akan muncul sebagai panas melalui peningkatan
vibrasi (getaran) atom dan struktur molekul. Ini merupakan awal dari perubahan kimiawi yang
kemudian dapat mengakibatkan efek biologis yang merugikan.
Satuan dasar dari jaringan biologis adalah sel. Sel mempunyai inti sel yang merupakan pusat
pengontrol sel. Sel terdiri dari 80% air dan 20% senyawa biologis kompleks. Jika radiasi pengion
menembus jaringan, maka dapat mengakibatkan terjadinya ionisasi dan menghasilkan radikal
bebas, misalnya radikal bebas hidroksil (OH), yang terdiri dari atom oksigen dan atom hidrogen.
Secara kimia, radikal bebas sangat reaktif dan dapat mengubah molekul-molekul penting dalam
sel.

DNA (deoxyribonucleic acid) merupakan salah satu molekul yang terdapat di inti sel, berperan
untuk mengontrol struktur dan fungsi sel
serta menggandakan dirinya sendiri.
Setidaknya ada dua cara bagaimana
radiasi dapat mengakibatkan kerusakan
pada sel. Pertama, radiasi dapat
mengionisasi langsung molekul DNA
sehingga terjadi perubahan kimiawi pada
DNA. Kedua, perubahan kimiawi pada
DNA terjadi secara tidak langsung, yaitu
jika DNA berinteraksi dengan radikal
bebas hidroksil. Terjadinya perubahan
kimiawi pada DNA tersebut, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dapat
menyebabkan efek biologis yang
merugikan, misalnya timbulnya kanker maupun kelainan genetik.
Pada dosis rendah, misalnya dosis radiasi latar belakang yang kita terima sehari-hari, sel dapat
memulihkan dirinya sendiri dengan sangat cepat. Pada dosis lebih tinggi (hingga 1 Sv), ada
kemungkinan sel tidak dapat memulihkan dirinya sendiri, sehingga sel akan mengalami
kerusakan permanen atau mati. Sel yang mati relatif tidak berbahaya karena akan diganti dengan
sel baru. Sel yang mengalami kerusakan permanen dapat menghasilkan sel yang abnormal ketika

sel yang rusak tersebut membelah diri. Sel yang abnormal inilah yang akan meningkatkan risiko
tejadinya kanker pada manusia akibat radiasi.
Efek radiasi terhadap tubuh manusia bergantung pada seberapa banyak dosis yang diberikan, dan
bergantung pula pada lajunya; apakah diberikan secara akut (dalam jangka waktu seketika) atau
secara gradual (sedikit demi sedikit).
Sebagai contoh, radiasi gamma dengan dosis 2 Sv (200 rem) yang diberikan pada seluruh tubuh
dalam waktu 30 menit akan menyebabkan pusing dan muntah-muntah pada beberapa persen
manusia yang terkena dosis tersebut, dan kemungkinan satu persen akan meninggal dalam waktu
satu atau dua bulan kemudian. Untuk dosis yang sama tetapi diberikan dalam rentang waktu satu
bulan atau lebih, efek sindroma radiasi akut tersebut tidak terjadi.
Contoh lain, dosis radiasi akut sebesar 3,5 4 Sv (350 400 rem) yang diberikan seluruh tubuh
akan menyebabkan kematian sekitar 50% dari mereka yang mendapat radiasi dalam waktu 30
hari kemudian. Sebaliknya, dosis yang sama yang diberikan secara merata dalam waktu satu
tahun tidak menimbulkan akibat yang sama.
Selain bergantung pada jumlah dan laju dosis, setiap organ tubuh mempunyai kepekaan yang
berlainan terhadap radiasi, sehingga efek yang ditimbulkan radiasi juga akan berbeda.
Sebagai contoh, dosis terserap 5 Gy atau lebih yang diberikan secara sekaligus pada seluruh
tubuh dan tidak langsung mendapat perawatan medis, akan dapat mengakibatkan kematian
karena terjadinya kerusakan sumsum tulang belakang serta saluran pernapasan dan pencernaan.
Jika segera dilakukan perawatan medis, jiwa seseorang yang mendapat dosis terserap 5 Gy
tersebut mungkin dapat diselamatkan. Namun, jika dosis terserapnya mencapai 50 Gy, jiwanya
tidak mungkin diselamatkan lagi, walaupun ia segera mendapatkan perawatan medis.
Jika dosis terserap 5 Gy tersebut diberikan secara sekaligus ke organ tertentu saja (tidak ke
seluruh tubuh), kemungkinan besar tidak akan berakibat fatal. Sebagai contoh, dosis terserap 5
Gy yang diberikan sekaligus ke kulit akan menyebabkan eritema. Contoh lain, dosis yang sama
jika diberikan ke organ reproduksi akan menyebabkan mandul.
Efek radiasi yang langsung terlihat ini disebut Efek Deterministik. Efek ini hanya muncul jika
dosis radiasinya melebihi suatu batas tertentu, disebut Dosis Ambang.
Efek deterministik bisa juga terjadi dalam jangka waktu yang agak lama setelah terkena radiasi,
dan umumnya tidak berakibat fatal. Sebagai contoh, katarak dan kerusakan kulit dapat terjadi
dalam waktu beberapa minggu setelah terkena dosis radiasi 5 Sv atau lebih.
Jika dosisnya rendah, atau diberikan dalam jangka waktu yang lama (tidak sekaligus),
kemungkinan besar sel-sel tubuh akan memperbaiki dirinya sendiri sehingga tubuh tidak

menampakkan tanda-tanda bekas terkena radiasi. Namun demikian, bisa saja sel-sel tubuh
sebenarnya mengalami kerusakan, dan akibat kerusakan tersebut baru muncul dalam jangka
waktu yang sangat lama (mungkin berpuluh-puluh tahun kemudian), dikenal juga sebagai
periode laten. Efek radiasi yang tidak langsung terlihat ini disebut Efek Stokastik.
Efek stokastik ini tidak dapat dipastikan akan terjadi, namun probabilitas terjadinya akan
semakin besar apabila dosisnya juga bertambah besar dan dosisnya diberikan dalam jangka
waktu seketika. Efek stokastik ini mengacu pada penundaan antara saat pemaparan radiasi dan
saat penampakan efek yang terjadi akibat pemaparan tersebut. Kecuali untuk leukimia yang
dapat berkembang dalam waktu 2 tahun, efek pemaparan radiasi tidak memperlihatkan efek
apapun dalam waktu 20 tahun atau lebih.
Salah satu penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah kanker. Penyebab sebenarnya dari
penyakit kanker tetap tidak diketahui. Selain dapat disebabkan oleh radiasi pengion, kanker dapat
pula disebabkan oleh zat-zat lain, disebut zat karsinogen, misalnya asap rokok, asbes dan
ultraviolet. Dalam kurun waktu sebelum periode laten berakhir, korban dapat meninggal karena
penyebab lain. Karena lamanya periode laten ini, seseorang yang masih hidup bertahun-tahun
setelah menerima paparan radiasi ada kemungkinan menerima tambahan zat-zat karsinogen
dalam kurun waktu tersebut. Oleh karena itu, jika suatu saat timbul kanker, maka kanker tersebut
dapat disebabkan oleh zat-zat karsinogen, bukan hanya disebabkan oleh radiasi.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/2-3.htm

Filosofi Proteksi Radiasi


Mengingat radiasi dapat membahayakan kesehatan, maka pemakaian radiasi perlu diawasi, baik
melalui peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pemanfaatan radiasi dan bahan-bahan
radioaktif, maupun adanya badan pengawas yang bertanggungjawab agar peraturan-peraturan
tersebut diikuti. Di Indonesia, badan pengawas tersebut adalah Bapeten (Badan Pengawas
Tenaga Nuklir).
Filosofi proteksi radiasi yang dipakai sekarang ditetapkan oleh Komisi Internasional untuk
Proteksi Radiasi (International Commission on Radiological Protection, ICRP) dalam suatu
pernyataan yang mengatur pembatasan dosis radiasi, yang intinya sebagai berikut:
a. Suatu kegiatan tidak akan dilakukan kecuali mempunyai keuntungan yang
positif dibandingkan dengan risiko, yang dikenal sebagai azas justifikasi,
b. Paparan radiasi diusahakan pada tingkat serendah mungkin yang bisa dicapai
(as low as reasonably achievable, ALARA) dengan mempertimbangkan faktor
ekonomi dan sosial, yang dikenal sebagai azas optimasi,
c. Dosis perorangan tidak boleh melampaui batas yang direkomendasikan oleh
ICRP untuk suatu lingkungan tertentu, yang dikenal sebagai azas limitasi.

Konsep untuk mencapai suatu tingkat serendah mungkin merupakan hal mendasar yang perlu
dikendalikan, tidak hanya untuk radiasi tetapi juga untuk semua hal yang membahayakan
lingkungan. Mengingat bahwa tidak mungkin menghilangkan paparan radiasi secara
keseluruhan, maka paparan radiasi diusahakan pada tingkat yang optimal sesuai dengan
kebutuhan dan manfaat dari sisi kemanusiaan.
Menurut Bapeten, nilai batas dosis dalam satu tahun untuk pekerja radiasi adalah 50 mSv (5
rem), sedang untuk masyarakat umum adalah 5 mSv (500 mrem). Menurut laporan penelitian
UNSCEAR, secara rata-rata setiap orang menerima dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun, berarti
seseorang hanya akan menerima sekitar setengah dari nilai batas dosis untuk masyarakat umum.
Ada dua catatan yang berkaitan dengan nilai batas dosis ini. Pertama, adanya anggapan bahwa
nilai batas ini menyatakan garis yang tegas antara aman dan tidak aman. Hal ini tidak seluruhnya
benar. Nilai batas ini hanya menyatakan batas dosis radiasi yang dapat diterima oleh pekerja atau
masyarakat, sejauh pengetahuan yang ada hingga saat ini. Yang lebih penting dari pemakaian
nilai batas ini adalah diterapkannya prinsip ALARA pada setiap pemanfaatan radiasi. Kedua,
adanya perbedaan nilai batas dosis untuk pekerja radiasi dan masyarakat umum. Nilai batas ini
berbeda karena pekerja radiasi dianggap dapat menerima risiko yang lebih besar (dengan kata
lain, menerima keuntungan yang lebih besar) daripada masyarakat umum, antara lain karena
pekerja radiasi mendapat pengawasan dosis radiasi dan kesehatan secara berkala.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/24.htm

3. Pemanfaatan Radiasi Nuklir dan Radioisotop Dalam


Kehidupan Manusia
Beberapa bahan yang ada di alam, seperti uranium, apabila direaksikan dengan neutron, akan
mengalami reaksi pembelahan dan menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk
memanaskan air hingga menjadi uap. Selanjutnya uap tersebut dapat digunakan untuk memutar
turbin dan menghasilkan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir komersial yang pertama
adalah Reaktor Magnox, yang dibangun pada tahun 1950-an di Inggris.
Sedangkan penggunaan radioisotop secara sengaja untuk suatu tujuan tertentu dilakukan oleh
George du Hevesy pada tahun 1911. Pada saat itu, ia masih berstatus seorang pelajar yang
sedang meneliti bahan radioaktif alam. Karena berasal dari luar kota dan dari keluarga yang
sederhana ia tinggal di suatu asrama yang sekaligus menyajikan makanan pokok sehari-hari.
Pada suatu ketika, ia curiga bahwa makanan yang disajikan dicampur dengan makanan sisa dari
hari sebelumnya, tetapi ia tidak bisa membuktikan kecurigaannya itu. Untuk itu ia menaruh
sejumlah kecil bahan radioaktif kedalam makanan yang sengaja tidak dihabiskannya. Keesokan
harinya ketika makanan yang jenisnya sama disajikan, ia melakukan pemeriksaan makanan

tersebut dengan menggunakan peralatan deteksi radiasi yang sederhana, dan ternyata ia
mendeteksi adanya radioisotop dalam makanan yang dicurigainya. Mulai saat itulah ia
mengembangkan penggunaan bahan radioaktif sebagai suatu perunut (tracer) untuk berbagai
macam keperluan.

Bidang Energi: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir


Perbedaan antara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan Pembangkit Listrik
Berbahan Bakar Fosil

Semua pembangkit tenaga listrik, termasuk PLTN, mempunyai prinsip kerja yang relatif sama.
Bahan bakar (baik yang berupa batu bara, gas ataupun uranium) digunakan untuk memanaskan
air yang akan menjadi uap. Uap memutar turbin dan selanjutnya turbin memutar suatu generator
yang akan menghasilkan listrik.
Perbedaan yang mencolok adalah bahwa PLTN tidak membakar bahan bakar fosil, tetapi
menggunakan bahan bakar dapat belah (bahan fisil). Di dalam reaktor, bahan fisil tersebut
direaksikan dengan neutron sehingga terjadi reaksi berantai yang menghasilkan panas. Panas
yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan uap air bertekanan tinggi, kemudian uap tersebut
digunakan untuk menggerakkan turbin. Dengan digunakannya bahan fisil, berarti tidak
menghasilkan CO2, hujan asam, ataupun gas beracun lainnya seperti jika menggunakan bahan
bakar fosil.
Seberapa amankah PLTN?

Dibandingkan pembangkit listrik lainnya, PLTN mempunyai faktor keselamatan yang lebih
tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh studi banding kecelakaan yang pernah terjadi di semua
pembangkit listrik. Secara statistik, kecelakaan pada PLTN mempunyai persentase yang jauh
lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada pembangkit listrik lain. Hal tersebut disebabkan
karena dalam desain PLTN, salah satu filosofi yang harus dipunyai adalah adanya pertahanan
berlapis (defence in-depth). Dengan kata lain, dalam PLTN terdapat banyak pertahanan berlapis
untuk menjamin keselamatan manusia dan lingkungan. Jika suatu sistem operasi mengalami
kegagalan, maka masih ada sistem cadangan yang akan menggantikannya. Pada umumnya,
sistem cadangan berupa suatu sistem otomatis pasif. Disamping itu, setiap komponen yang
digunakan dalam instalasi PLTN telah didesain agar aman pada saat mengalami kegagalan,
sehingga walaupun komponen tersebut mengalami kegagalan, maka kegagalan tersebut tidak
akan mengakibatkan bahaya bagi manusia dan lingkungannya.
Dari sisi sumber daya manusia, personil yang mengoperasikan PLTN harus memenuhi
persyaratan yang sangat ketat, dan wajib mempunyai sertifikat sebagai operator reaktor yang
dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Untuk mendapatkan sertifikat
tersebut, mereka harus mengikuti dan lulus ujian pelatihan. Sertifikat tersebut berlaku untuk

jangka waktu tertentu dan setelah lewat masa berlakunya maka akan dilakukan pengujian
kembali.
Peranan PLTN dalam Kelistrikan Dunia

Pada Nopember 2005, di seluruh dunia terdapat 441 buah pembangkit listrik tenaga nuklir yang
beroperasi di 31 negara, menghasilkan tenaga listrik sebesar lebih dari 363 trilyun watt. Reaktor
yang dalam tahap pembangunan sebanyak 30 buah dan 24 negara (termasuk 6 negara yang
belum pernah mengoperasikan reaktor nuklir) merencanakan untuk membangun 104 reaktor
nuklir baru. Saat ini energi listrik yang dihasilkan PLTN menyumbang 16% dari seluruh
kelistrikan dunia, yang secara kuantitatif jumlahnya lebih besar dari listrik yang dihasilkan di
seluruh dunia pada tahun 1960.

Negara-negara di Eropa merupakan negara yang paling tinggi persentase ketergantungannya


pada energi nuklir. Perancis, Lithuania dan Slovakia merupakan tiga negara yang memiliki
ketergantungan listrik pada energi nuklir yang tinggi, yaitu masing-masing sebesar 78%, 72%
dan 55%.

Di masa mendatang, pemakaian energi nuklir akan berkembang lebih maju lagi, tidak hanya
sekedar untuk pembangkit listrik saja, tetapi juga untuk keperluan energi selain kelistrikan,
seperti produksi hidrogen, desalinasi air laut, dan pemanas ruangan.

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/31.htm

Bidang Non Energi: Pemanfaatan Radiasi Untuk Kesejahteraan


Manusia
Bidang Pertanian
Efisiensi Pemupukan

Pupuk harganya relatif mahal dan apabila digunakan secara berlebihan akan merusak
lingkungan, sedangkan apabila kurang dari jumlah seharusnya hasilnya tidak efektif. Untuk itu
perlu diteliti jumlah pupuk yang diserap oleh tanaman dan berapa yang dibuang ke lingkungan.
Penelitian ini dilakukan dengan cara memberi label pupuk yang digunakan dengan suatu
isotop, seperti nitrogen-15 atau phosphor-32. Pupuk tersebut kemudian diberikan pada tanaman
dan setelah periode waktu dilakukan pendeteksian radiasi pada tanaman tersebut.
Penelitian Tanaman Varietas Baru

Seperti diketahui, radiasi pengion mempunyai kemampuan untuk merubah sel keturunan suatu
mahluk hidup, termasuk tanaman. Dengan berdasar pada prinsip tersebut, maka para peneliti
dapat menghasilkan jenis tanaman yang berbeda dari tanaman yang telah ada sebelumnya dan
sampai saat ini telah dihasilkan 1800 jenis tanaman baru.
Varietas baru tanaman padi, gandum, bawang, pisang, cabe dan biji-bijian yang dihasilkan
melalui teknik radioisotop mempunyai ketahanan yang lebih tinggi terhadap hama dan lebih
mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang ekstrim.
Pengendalian Hama Serangga

Di seluruh dunia, hilangnya hasil panen akibat serangan hama serangga kurang lebih 25-35%.
Untuk memberantas hama serangga sejak lama para petani menggunakan insektisida kimia.
Akhir-akhir ini insektisida kimia dirasakan menurun keefektifannya, karena munculnya serangga
yang kebal terhadap insekstisida. Selain itu insektisida juga mulai dikurangi penggunaannya
karena insektisida meninggalkan residu yang beracun pada tanaman. Salah satu metode yang
mulai banyak digunakan untuk menggantikan insektisida dalam mengendalikan hama adalah
teknik serangga mandul.
Teknik serangga mandul dilakukan dengan mengiradiasi serangga menggunakan radiasi gamma
untuk memandulkannya. Serangga jantan mandul tersebut kemudian dilepas dalam jumlah besar
pada daerah yang diserang hama. Apabila mereka kawin dengan serangga betina, maka tidak
akan dihasilkan keturunan. Dengan melepaskan serangga jantan mandul secara berulang,
populasi hama serangga akan turun secara menyolok. Teknik ini telah digunakan secara intensif
di banyak negara penghasil pertanian seperti Amerika Selatan, Mexico, Jamaika dan Libya.

Pengawetan Makanan

Kerusakan makanan hasil panen dalam penyimpanan akibat serangga, pertunasan dini atau
busuk, dapat mencapai 25-30%. Kerugian ini terutama diderita oleh negara-negara yang
mempunyai cuaca yang panas dan lembab. Pengawetan makanan banyak digunakan dengan
tujuan untuk menunda pertunasan pada umbi-umbian, membunuh serangga pada biji-bijian,
pengawetan hasil laut dan hasil peternakan, serta rempah-rempah.
Pada teknik pengawetan dengan menggunakan radiasi, makanan dipapari dengan radiasi gamma
berintensitas tinggi yang dapat membunuh organisme berbahaya, tetapi tanpa mempengaruhi
nilai nutrisi makanan tersebut dan tidak meninggalkan residu serta tidak membuat makanan
menjadi radioaktif. Teknik iradiasi juga dapat digunakan untuk sterilisasi kemasan. Di banyak
negara kemasan karton untuk susu disterilkan dengan iradiasi.

Dosis Iradiasi Makanan dan Tujuannya

DOSIS
Dosis rendah (s.d. 1 kGy)

TUJUAN
Menghambat pertunasan

PRODUK
Kentang, bawang, jahe,
rempah-rempah

Membunuh serangga dan

Makanan kering, buah segar,

parasit

padi-padian

Penundaan

Buah segar, sayuran

kematangan/pembusukan
Dosis menengah (1-10 kGy)

Memperpanjang masa

Ikan, strawberry, jamur

penyimpanan
Menunda pembusukan,

Hasil laut dan hasil ternak

membunuh serangga
berbahaya
High dose (10-50 Gy)

Sterilisasi

Hasil peternakan, hasil laut,


makanan siap masak

Dekontaminasi

Rempah-rempah

Bidang Kedokteran

Di bidang kedokteran, radioisotop banyak digunakan sebagai alat diagnosis dan alat terapi
berbagai macam penyakit.
Diagnosa

Radioisotop merupakan bagian yang sangat penting pada proses diagnosis suatu penyakit.
Dengan bantuan peralatan pembentuk citra (imaging devices), dapat dilakukan penelitian proses
biologis yang terjadi dalam tubuh manusia. Dalam penggunaannya untuk diagnosis, suatu dosis
kecil radioisotop yang dicampurkan dalam larutan yang larut dalam cairan tubuh dimasukkan ke
dalam tubuh, kemudian aktivitasnya dalam tubuh dapat dipelajari menggunakan gambar 2
dimensi atau 3 dimensi yang disebut tomografi. Salah satu radioisotop yang sering digunakan
adalah technisium-99m, yang dapat digunakan untuk mempelajari metabolisme jantung, hati,
paru-paru, ginjal, sirkulasi darah dan struktur tulang. Tujuan lain dari penggunaan di bidang
diagnosis adalah untuk analisis biokimia yang disebut radio-immunoassay. Teknik ini dapat
digunakan untuk mengukur konsentrasi hormon, enzim, obat-obatan dan substansi lain dalam
darah.
Terapi

Penggunaan radioisotop di bidang pengobatan yang paling banyak adalah untuk pengobatan
kanker, karena sel kanker sangat sensitif terhadap radiasi. Sumber radiasi yang digunakan dapat
berupa sumber eksternal, berupa sumber gamma seperti Co-60, atau sumber internal, yaitu
berupa sumber gamma atau beta yang kecil seperti Iodine-131 yang biasa digunakan untuk
penyembuhan kanker kelenjar tiroid.
Sterilisasi Peralatan Kedokteran

Dewasa ini banyak peralatan kedokteran yang disterilkan menggunakan radiasi gamma dari Co60. Metode sterilisasi ini lebih ekonomis dan lebih efektif dibandingkan sterilisasi menggunakan
uap panas, karena proses yang digunakan merupakan proses dingin, sehingga dapat digunakan
untuk benda-benda yang sensitif terhadap panas seperti bubuk, obat salep, dan larutan kimia.
Keuntungan lain dari sterilisasi dengan menggunakan radiasi adalah proses sterilisasi dapat
dilakukan setelah benda tersebut dikemas dan masa penyimpanan benda tersebut tidak terbatas
sepanjang kemasannya tidak rusak.
Industri dan Lingkungan
Bidang Hidrologi

Dalam bidang hidrologi, sumber radiasi yang umum digunakan adalah sumber radiasi gamma.
Teknik hidrologi yang menggunakan radioisotop mampu secara akurat melacak dan mengukur
ketersediaan air dari suatu sumber air di bawah tanah. Teknik tersebut memungkinkan untuk
melakukan analisis, pengelolaan dan pelestarian sumber air yang ada dan pencarian sumber air

baru. Teknik ini dapat memberikan informasi mengenai asal, usia dan distribusi, hubungan antara
air tanah, air permukaan dan sistem pengisiannya.
Pemanfaatan lainnya adalah sebagai perunut untuk mencari kebocoran pada bendungan dan
saluran irigasi, mempelajari pergerakan air dan lumpur pada daerah pelabuhan dan bendungan,
laju alir, serta laju pengendapan. Selain radiasi gamma, radiasi neutron banyak juga digunakan
untuk mengukur kelembaban permukaan tanah.
Detektor Asap

Detektor yang menggunakan radioaktif biasanya menggunakan ameresium-241 yang merupakan


pemancar alfa. Pada saat tidak ada asap maka partikel alfa akan mengionisasi udara dan
menyebabkan terjadinya aliran ion antara 2 elektroda. Jika asap di dalam ruangan masuk ke
dalam detektor, maka asap tersebut dapat menyerap radiasi alfa sehingga akan menghentikan
arus yang selanjutnya akan menghidupkan alarm.
Perunut Lingkungan

Radioisotop dapat digunakan sebagai perunut untuk menganalisis pencemar, baik pencemar
udara maupun air. Teknik ini dapat digunakan untuk menganalisis kontaminasi sulfur dioksida di
atmosfir yang dihasilkan dari gas buang hasil pembakaran bahan bakar fosil, endapan lumpur
laut dari limbah industri dan tumpahan minyak.
Perunut Industri

Kemampuan untuk mengukur radioaktvitas dalam jumlah yang sangat kecil telah memungkinkan
pemakaian radioisotop sebagai perunut dengan menambahkan sejumlah kecil radioisotop pada
bahan yang digunakan dalam berbagai proses. Teknik ini memungkinkan untuk mempelajari
pencampuran dan laju alir dari berbagai macam bahan, termasuk cairan, bubuk dan gas. Teknik
perunut juga dapat digunakan untuk mendeteksi tempat terjadinya kebocoran.
Suatu perunut yang dimasukkan ke oli pelumas dapat digunakan untuk menentukan laju keausan
dari suatu mesin. Teknik perunut juga dapat digunakan di berbagai fasilitas untuk mengukur
kinerja peralatan dan meningkatkan efisiensinya.
Alat Pengukur dan Kendali

Peralatan pengukur yang berisi sumber radioaktif secara luas telah digunakan dalam industri
yang memerlukan pengaturan permukaan gas, cairan atau padatan secara akurat. Alat pengukur
ini sangat bermanfaat dalam situasi dimana panas dan tekanan yang ekstrim atau kondisi
lingkungan yang korosif mempersulit pelaksanaan pengukuran.
Pengukur ketebalan yang menggunakan radioisotop digunakan untuk mengukur ketebalan secara
kontinu pada bahan, seperti kertas, plastik, logam, dan gelas, yang dalam proses pengukuran
tersebut tidak diperlukan kontak antara alat pengukur dan bahan yang diukur.

Alat pengukur densitas yang menggunakan radioaktif digunakan pada saat kendali otomatis dari
cairan, bubuk atau padatan sangat diperlukan, misalnya dalam pembuatan sabun detergen dan
rokok.
Penggunaan radioisotop pada alat pengukur mempunyai beberapa kelebihan yaitu pengukuran
dapat dilakukan tanpa kontak fisik antara alat pengukur dan bahan yang akan diukur, perawatan
yang dibutuhkan relatif mudah, serta lebih ekonomis dibandingkan metode lainnya.
Radiografi

Radioisotop yang memancarkan radiasi gamma dan pesawat sinar-X dapat digunakan untuk
melihat bagian dalam dari hasil fabrikasi, seperti hasil pengelasan atau hasil pengecoran, untuk
melihat apakah produk tersebut mempunyai cacat atau tidak, dan memeriksa isi dari suatu
kemasan/bungkusan tertutup, misalnya pemeriksaan bagasi di pelabuhan. Pada teknik ini suatu
sumber radiasi diletakkan pada jarak tertentu dari bahan yang akan diperiksa dan film radiografi
atau layar pendar (fluoresens) diletakkan pada sisi yang berlawanan dari sumber radiasi. Dari
perbedaan tingkat kehitaman pada film radiografi atau layar pendar, dapat dipelajari struktur atau
cacat yang ada pada benda yang diperiksa.
Penentuan Umur Suatu Benda

Teknik penentuan umur suatu benda yang menggunakan radioisotop disebut Carbon Dating.
Prinsip kerja teknik ini adalah membandingkan konsentrasi unsur karbon yang tidak stabil pada
suatu benda dengan benda lainnya. Teknik ini banyak digunakan oleh para ahli geologi,
antropologi dan arkeologi untuk menentukan umur benda yang mereka temukan.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/32.htm