Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

HITUNG JENIS LEUKOSIT

Oleh:
Choirunizar Awaludin Dyan Fahmi
Fredy Satrio Nugroho

Penguji:
dr. H. Taufiqur Rahman, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
LAMONGAN
2014

HITUNG JENIS LEKOSIT

Hitung jenis lekosit (HJL) atau differential cell count merupakan bagian dari tes darah
lengkap (full blood count), terdiri dari lima macam lekosit, yaitu : netrofil, limfosit, monosit,
eosinofil dan basofil. Hitung jenis lekosit dinyatakan dalam persen atau /mmk (jumlah absolut).
Hasil hitung jenis lekosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses
penyakit.
1. Basofil
- Peningkatan jumlah basofil (disebut basofilia) dapat dijumpai pada proses inflamasi,
-

leukemia, tahap penyembuhan infeksi atau inflamasi, anemia hemolitik didapat.


Penurunan jumlah dapat dijumpai pada stress, reaksi hipersensitivitas, kehamilan,
hipertiroidisme.

2. Eosinofil
- Peningkatan jumlah eosinofil (disebur eosinofilia) dapat dijumpai pada alergi, pernyakit
parasitic, kanker (tulang, ovarium, testis, otak), feblitis, tromboflebitis, asma, emfisema,
-

penyakit ginjal (gagal ginjal, sindrom nefrotik).


Penurunan jumlah eosinofil dapat dijumpai pada stress, luka bakar, syok, hiperfungsi
adrenokortikal.

3. Netofil
Sel ini yang paling banyak terdapat dalam sirkulasi sel darah putih dan lebih cepat
merespons adanya infeksi dan cedera jaringan daripada jenis sel darah putih lainnya. Selama
infeksi akut, netrofil berada paling depan di garis pertahanan tubuh. Netrofil yang beredar di
darah tepi terbanyak adalah segmen, yaitu netrofil yang matur. Batang atau stab adalah netrofil
imatur yang dapat bermultiplikasi dengan cepat selama infeksi akut.
- Peningkatan jumlah netrofil (disebut netrofilia) dijumpai pada infeksi akut (lokal dan
sistemik), radang atau inflamasi (reumatoid arthritis, gout, pneumonia), kerusakan jaringan
(infark miokard akut, luka bakar, cedera tabrakan, pembedahan), penyakit Hodgkin, leukemia
mielositik, hemolytic disease of newborn (HDN), kolesistitis akut, apendisitis, pancreatitis
akut, pengaruh obat (epinefrin, digitalis, heparin, sulfonamide, litium, kortison, ACTH)

Penurunan jumlah netrofil (disebut netropenia) dijumpai pada penyakit virus, leukemia
(limfositik dan monositik), agranolositosis, anemia defisiensi besi (ADB), anemia aplastik,
pengaruh obat (antibiotic, agen imunosupresif).

4. Limfosit
Limfosit berperan penting dalam respons imun sebagai limfosit T dan limfosit B.
- Peningkatan jumlah limfosit dijumpai pada leukemia limfositik, infeksi virus (mononucleosis
infeksiosa, hepatitis, parotitis, rubella, pneumonia virus, myeloma multiple, hipofungsi
-

adrenokortikal.
Penurunan jumlah limfosit dijumpai pada kanker, leukemia, hiperfungsi adrenokortikal,
agranulositosis, anemia aplastik, sklerosis multiple, gagal ginjal, sindrom nefrotik, SLE.

5. Monosit
Monosit adalah baris pertahanan kedua terhadap infeksi bakteri dan benda asing. Sel ini
lebih kuat daripada netrofil dan dapat mengonsumsi partikel debris yang lebih besar. Monosit
berespons lambat selama fase infeksi akut dan proses inflamasi, dan terus berfungsi selama fase
kronis dari fagosit.
- Peningkatan jumlah monosit (disebut monositosis) dapat dijumpai pada : penyakit virus
(mononucleosis infeksiosa, parotitis, herpes zoster), penyakit parasitic (demam bintik Rocky
Mountain, toksoplasmosis, bruselosis), leukemia monositik, kanker, anemia (sel sabit,
-

hemolitik), SLE, arthritis rheumatoid, colitis ulseratif.


Penurunan jumlah monosit dapat dijumpai pada leukemia limfositik, anemia aplastik.

Nilai normal hitung jenis


- Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3)
- Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3)
- Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3)
- Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)
- Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3)
- Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)
Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi
di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.
- Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan
monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left
biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat
menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka
bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to
the right. Infeksi yang disertai shift to the right biasanya merupakan infeksi virus. Kondisi
noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin,
dan aspirin.