Anda di halaman 1dari 13

PENATALAKSANAAN DIFTERI PADA ANAK

I.

PENGERTIAN
Difteri ialah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman

Corynebacterium diphtherriae. Gejala klinik yang timbul, lokal dan umum


merupakan akibat dari hasil kerja toksin yang diproduksi oleh kuman
difteri.

II.

KLASIFIKASI

2,4,9,10

Secara klinik difteri dapat diklasifikasikan berdasarkan lokalisasi


membran :
1. Difteri respiratorik yaitu :

Difteri hidung.

Difteri tonsil dan faring

Difteri laring / trakea

2. Difteri non respiratorik yaitu :

Difteri bentuk lain (jarang) : difteri kulit, konyungtiva, genital.

Secara praktis penderita yang dirawat di rumah sakit adalah difteri


respiratorik yaitu difteri tonsil, faring dan laring / trakea.

III. DIAGNOSIS

2,4,5,9,10

III.I. Klinik
1.1. Gejala Utama :
Membran khas terutama pada tonsil dan dinding faring dengan
sifat sifat: membran tebal putih kelabu, pinggir hiperemis dan
udem, sukar diangkat dan mudah berdarah.
1.2. Gejala tambahan tergantung lokalisasinya :

Difteri hidung :

73

Sekret serosaguinus dari lubang hidung dan tanda tanda


iritasi pada lubang hidung dan bibir atas.

Difteri tonsil dan faring :


demam sub febril
anoreksia, sakit menelan
pembesaran kelenjar limfe servikal / submandibula

bull neck (adenitis servikal, peri adenitis dan udem jaringan


sekitarnya).

Secara

klinik,

dapat

dikenal

bilamana

pembengkakan tersebut sedemikian, sehingga batas


batas m. sternokleidomastoideus, angulus mandibula dan
medial klavikula tidak jelas lagi.
Difteri laring memberikan gejala gelaja berupa :
batuk menggonggong
suara serak, stridor
tanda tanda obstruksi pernapasan : sesak, retraksi dinding
toraks, sianosis.
Difteri laring mudah didiagnosis secara klinik bila ada difteri
tonsil dan faring. Bilamana tidak ada tanda tanda difteri
tonsil dan maka diagonosis difteri laring harus dibantu dengan
pemeriksaan laringoskopi.
III.2. Bakteriologik
Preparat apusan langsung dan biakan (isolasi kuman difteri) dari
bahan apusan mukosa hidung dan tenggorok (naso faringeal swab).
Dalam penanganan penyakit difteri, gambaran klinik merupakan
pegangan

utama

dalam

menegakkan

diagnosis,

karena

setiap

keterlambatan pengobatan akan menimbulkan resiko pada penderita.


Pemeriksaan

laboratorium

bertujuan

penunjang / konfirmasi diagnosis klinik.

74

sebagai

pemeriksaan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG PENATALAKSANAAN

2,4,5,9,10

IV.1. Tujuan :

untuk konfirmasi diagnosis

untuk menentukan adanya komplikasi

untuk pengamatan lanjut selama perawatan

untuk mempertimbangkan prognosis

IV.2. Jenis Pemeriksaan


IV.2.1.

Pemeriksaan bakteriologis : berupa preparat apusan dan


biakan kuman difteri dari bahan apusan mukosa hidung dan
tenggorokan (nasofaringeal swab).

2.2.

Darah rutin (Hb, leukosit, hitung jenis).

2.3.

Urine lengkap (aspek, protein & sedimen)

2.4.

Enzim CPK segera pada saat masuk rumah sakit

2.5.

Ureum dan kreatinin bila ada kecurigaan komplikasi ginjal.

2.6.

EKG dilakukan sejak hari I perawatan kemudian secara


serial minimal 1x / minggu kecuali bila ada indikasi bisa
dilakukan 2-3x / minggu.

V.

PENATALAKSANAAN

2,4,5,6,7,8,9,10,11,13,14,15,16

Ada dua tindakan :


V.1. Spesifik.
V.2. Umum
V.1. Spesifik
V.1.1. Tujuan :

menetralisasi toksin

eradikasi kuman

menanggulangi infeksi sekunder

V.1.2. Jenis tindakan :

75

Ada 3 jenis pengobatan :


V.1.2.1. Serum Anti Difteri (SAD)

Dosis

diberikan

berdasarkan

atas

luasnya

membran

dan

beratnya penyakit :
- Dosis 40.000 IU (untuk difteri sedang) : bila membran
terbatas pada tonsil saja yaitu sebagian / seluruh tonsil
secara unilateral atau bilateral.
- Dosis 80.000 IU (untuk difteri berat) : bila membran meluas
melewati tonsil yaitu meluas ke uvula, palatum molle,
dinding faring.
- Dosis 120.000 IU (untuk difteri sangat berat) : bila ada bull
neck, kombinasi difteri faring dan laring, komplikasi berupa
miokarditis, kolaps sirkulasi dan kasus kasus lanjut.
SAD diberikan dosis tunggal melalui IV (drips)

dengan cara melarutkan dalam 200 cc NaCI 0,9%, pemberian


selesai dalam waktu 2 jam (34 tetes permenit).
SAD merupakan serum heterolog dapat menimbulkan efek
samping berbahaya, karena itu setiap pemberian SAD harus
dilakukan :
1.

Uji kepekaan sebelum pemberian SAD untuk menentukan


kemungkinan peka/serasi terhadap serum heterolog.

2. Pengawasan (tanda tanda vital dan reaksi lain) selama dan


setelah pemberian SAD (terutama sampai 2 jam setelah
pemberian SAD).
3. Adrenalin 0,01 cc/kg BB secara I.M. maksimal diulang sampai
3 x dengan interval 5-15 menit.
4. Sarana dan penanggulangan reaksi renjatan anafilaktik harus
tersedia.
Uji kepekaan yang dilakukan terdiri dari :

Test kulit :

76

0,1 cc pengenceran 1 : 10 SAD dengan NaCI

0,9% secara intrakutan.

Hasilnya dibaca setelah 15-20 menit.

Dianggap positif bila teraba indurasi dengan


diameter paling sedikit 10 mm.
Test mata :

1 tetes pengenceran 1 : 10 SAD dengan NaCI 0,9 %


diteteskan pada salah satu kelopak bagian bawah.
1 tetes NaCI 0,9 % digunakan sebagai kontrol pada
mata lain.
Hasilnya dibaca setelah 15-20 menit.
Dianggap

positif

bila

mata

yang

ditetesi

SAD

menunjukkan tanda tanda konyungtivitis (merah +


bengkak + lakrimasi) bila positif di obati dengan 1
tetes adrenalin 1 : 1000.
Bila salah satu uji kepekaan positif, SAD tidak boleh diberikan
sekaligus tapi secara bertahap, yaitu dengan dosis yang
ditingkatkan secara perlahan lahan (desensibilisasi) dengan
interval 20 menit, SAD diencerkan dalam NaCI 0,9 % sebagai
berikut :
0,05 cc dari pengenceran 1 : 20 secara s.c.
0,1 cc dari pengenceran 1 : 20 secara s.c.
0,1 cc dari pengenceran 1 : 10 secara s.c.
0,1 cc tanpa pengenceran secara s.c.
0,3 cc tanpa pengenceran secara i.m.
0,5 cc tanpa pengenceran secara i.m.
0,1 cc tanpa pengenceran secara i.v.
SAD yang sisa diberikan melalui i.v secara drips. Jika ada
reaksi dari penderita (tanda tanda anafilaktik) segera
berikan adrenalin 1 : 1.000.
V.1.2.2. Antibiotik

77

Penisilin prokain 100.000 SI/kg BB / hari i.m selama

10 hari, dosis maksimal 3 gr / hari.


Bila

alergi

terhadap

penisilin

maka

diberikan

eritromisin 50 mg / kg BB/hr, secara oral 3-4x / hari selama


10 hari.
V.1.2.3. Kortikosteroid

Indikasi pemberian pada difteri berat dan sangat berat


(membran luas, komplikasi & bull neck).

Dosis prednison 2 mg/kg BB/hari selama 3 minggu atau


deksametason 0,5-1 mg/kg BB/hari secara IV (terutama
untuk toksemia).

V.2. Pengobatan Umum


2.1.

2.2.

Tujuan :

Mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi.

Mempertahankan / memperbaiki keadaan umum.

Mengatasi gejala atau akibat yang timbul.


Jenis tindakan

2.2.1. Perawatan tirah baring selama 2 minggu. Penderita


dirawat dalam ruang isolasi.
2.2.2. Menjamin masukan cairan dan makanan penderita.
Bentuk makanan disesuaikan dengan toleransi, untuk hal
ini dapat diberi makanan lunak, saring / cair, bila perlu
sonde lambung jika ada kesukaran menelan (terutama
paralisis palatum molle dan otot otot faring).
2.2.3. Menjamin kemudahan defekasi penderita. Untuk ini
kalau perlu diberikan obat obat membantu defekasi
(misalnya klisma, laksansia atau stool softener) untuk
mencegah mengedan berlebihan.
2.2.4. Bila anak gelisah beri sedatif, diazepam atau luminal.

78

2.2.5. Pemberian antitusif untuk mengurangi batuk (difteri


laring).
2.2.6. Aspirasi sekret secara periodik terutama untuk difteri
laring.
2.2.7. Bila ada tanda tanda obstruksi jalan napas:
Oksien
Tindakan trakeostomi disesuaikan dengan tingkat
dispnu laringeal menurut Jackson :
I.

Penderita tenang dengan cekungan ringan


suprasternal.

II.

Retraksi

suprasternal

lebih

dalam

ditambah cekungan epigastrum dan penderita


mulai gelisah.
III.

Retraksi

supra

dan

infrasternal,

supraklavikular, interkostal dan sangat gelisah.


IV.

Penderita sangat gelisah, kekuatan, muka


pucat kelabu, kemudian akibat kehabisan tenaga
nampak seolah olah tenang, tertidur dan
akhirnya meninggal karena asfiksia.

Indikasi

trakeostomi

bilamana

penderita

sudah

masuk ke tingkat II dan ke III.

VI.

PENGAMATAN LANJUT

2,4,5,11,12,15

VI.1. Tujuan :

Untuk mengevaluasi penyembuhan.

Untuk

mengawasi

komplikasi.
VI.2. Jenis Tindakan
2.1. Pemeriksaan fisis terdiri dari :

79

kemungkinan

terjadinya

Aktivitas / kesadaran, suhu, nadi, tekanan darah,

pernapasan (perubahan respirasi, stridor dan tanda tanda


retraksi).
Terbentuknya membran baru (minimal 12 jam selesai

pemberian SAD).

Perubahan suara dan cara makan penderita.

Kelancaran defekasi.

Bunyi jantung, irama jantung, frekuensi jantung dan


pembesaran jantung.

Pengawasan harus dilakukan secara terus menerus.


2.2. Pemeriksaan EKG secara serial.

VII.

PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI

3,11,13

Memerlukan perhatian lebih banyak


Kanula diikat kuat di belakang leher dan diusahakan jangan sampai
terlepas waktu batuk / ditarik oleh anak sendiri.
Mengusahakan agar keluar masuknya udara pernapasan cukup lambat
dan bersih dengan cara menutup lubang kanula dengan kasa yang
dilembabkan.
Oksigen tambahan perlu untuk meringankan pernapasan penderita.

Aspirasi lendir secara steril, kateter yang masuk lebih kurang 2x


panjang kanula (3-4 inchi) kemudian ditarik 1 cm dan sedapat mungkin
diputar 3600 pada waktu pengisapan, agar semua permukaan terkena
isapan. Lamanya pengisapan 5-10 detik (maksimum 15 detik),
diberikan

tenggang

waktu

minimal

detik

untuk

pengisapan

selanjutnya.
Awasi tanda tanda sumbatan pada kanula maupun jalan napas
bagian bawah a.l : perubahan respirasi, retraksi supra sternal,
perubahan warna kulit dan kegelisahan.

80

Anak kanula harus dilepas minimal 3x / hari dan dicuci bersih dengan
Hidrogen peroksida, dikeringkan dan dipasang kembali.
Kanula dilepas bila tidak tampak lagi tanda tanda obstruksi
pernapasan.

Luka trakeostomi setelah kanula diangkat tidak dijahit tapi dibiarkan


menutup sendiri. Perawatan luka cukup dengan menutup kasa steril.

VIII.
1.

TINDAKAN KHUSUS

2,4,9,10,14,18,19

Miokarditis
Biasanya timbul pada akhir minggu II atau awal minggu III
perjalanan penyakit difteri.
Pemeriksaan fisis : Irama derap, bunyi jantung melemah dan
redup, kadang kadang ditemukan tanda tanda payah jantung.
Gambaran EKG : depresi segmen ST, inversi gelombang T, blok AV,
BBB, takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel dan perubahan interval
DT.
Laboratorium : kadar enzim jantung meningkat (LDH, CPK, SGPT,
SGOT).
Radiologi : dapat ditemukan jantung membesar bila terdapat gagal
jantung.

2.

Kolaps perifer.
Terjadi pada akhir minggu I perjalanan penyakit.

Tanda tanda renjatan berupa tekanan darah menurun (sistol 80


mmHg) dan tekanan nadi menurun ( 20 mmHg), kulit berwarna
keabu abuan, dingin dan basah disertai anak gelisah.
Jenis tindakan :
Tirah baring minimal 2 minggu.

81

Hindari kerja jantung berlebihan (makanan lunak, klisma dan obat


penenang).
Kortikosteroid, yaitu deksametason 1 mg/kg BB / hari secara IV.
Digitalisasi diberikan hati hati untuk mengatasi payah jantung.
Atasi renjatan yang timbul dengan :
Pemberian cairan IVFD (tergantung dari derajat renjatan).
Berikan obat obat inotropik, misal : dopamine 5-20 ug/kg
BB/menit per drips.
Pemberian oksigen.

Bila perlu dipasang pace maker

untuk mengatasi aritmia yang

berat.
IX.

PEMULANGAN PENDERITA

Bila kelainan klinis / fisis telah menghilang.

Biakan 2x berturut turut negatif (bila keadaan


memungkinkan).

EKG 3x berturut turut normal.

Tidak ada kesulitan dalam pemberian makanan dan


defekasi.
Sebelum

penderita

dipulangkan,

penderita

dan

saudara saudaranya atau anggota keluarga lain yang serumah


(nonimun) diberikan vaksinasi dasar difteri dan booster.
DAFTAR PUSTAKA
1. Amrin Alkamar, Pelupessy JMCH, Makaliwy Ch.
Difteri di bagian anak RSU Ujung Pandang.
LIKA FK-UNHAS, 1985; 2 : 273-81.
2. Behrman RE, Vaughan VC, eds.
Nelson textbook of pediatrics. 13 th ed.
Tokyo, Sydney : Igaku Shoin, 1987 : 593-6.

82

3. Faried Kaspan, Dwi Atmaji S, Moersintowarti BN, Parwati Setiono,


Ismoedijianto, Soegeng S, Widodo Darmo W, Partana L.
Difteri. Pedoman diagnosis dan terapi.
Surabaya : Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak FK-UNAIR 1988 : 14-7.
4. Feigin RD, Stechenberg BW.
Diphtheria.
In : Feigin RD and Cherry JD, eds.
Test book of pediatric infectious diseases. 2 nd ed.
Philadelphia, London, Toronto : WB Saunders Co, 1987 : 1134-40.
5. Forbes JA
Diphtheria.
Medicine Internastional, 1989; 3 : 2141-4.
6. Hamson Hamzah, Hurtaman Tjokrohusada.
Efektifitas pengobatan difteri berat dengan ADS dosis tunggal dan
tinggi.
MKB, 1986 : 19 (2) : 96-9.
7. Husain Albar, Makaliwy Ch, Pelupessy JMCH.
Difteri farings larings.
LIKA FK-UNHAS, 1986; 3 : 28-34.
8. Ismoedijanto, Parwati SE, Dwi Atmadji Soejoso, Moersintowarti
BN, Faried Kaspan.
Tatalaksana penderita difteri.
Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak, 1984; 9 : 41-51.
9. Kempe CH, Silver HK, O Brien D, Fulginiti VA.
Current pediatric diagnosis and treatment. 9 tahun ed.
Singapore : Maruzen Asia Edition, 1987 : 864-5.
10.

Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilfert


CM.
Infectious diseases of children. 8th ed.
Saint Louis : CV Mosby Co, 1985 : 22-31.

11.

Lubis CP, Nurbafri Ny. Yazid E, Siregar Z.

83

Penatalaksanaan difteri pada anak di BIKA FK-USU/RS


Dr. Pirgadi Medan.
Majalah Dokter Keluarga, 1986; 5 (10) : 542-4.
12.

Lubis CP, Manihar D, Marbun, Sutanto AH.


Anti difteri serum (ADS) intravena pada difteri.
Medika Februari, 1989; 2 : 138-41.

13.

Makaliwy CH.
Difteri.
Diktat Kuliah infeksi Ilmu Kesehatan Anak FK-UNHAS 1987

14.

Nalley SW.
Kortikosteroid pada penyakit difteri.
Karya akhir Dokter Spesialis I.
Fakultas Pasca sarjana UNHAS Ujung Pandang 1987.

15.

Parwati SB, Dwi Atmaji S, Widodo DW.


Pengalaman penggunaan DAS intravena pada anak.
Surabaya : Laporan penelitian aboratorium Ilmu Kesehatan Anak Unair
1987.

16.

Sirisanthana V.
Prevention and Management of difteria.
J Pediatr Obstert Gynaecol, 1987; 13 (4) : 12-20.

17.

Sudiantoro JE, Teluk Sebodo, Saryanto,


Setiyono, Saliki Ismangoen.
Intramuscular and Intravenous ADS Treatment A Comparison of
Efficacy.
Paediatr Indones, 1986; 26 : 2-8.

18.

Thehumury D, Pelupessy JMCh, Makaliwy


Ch.
Miokarditis difteri.
LIKA FK-UNHAS, 1984 : 9-14.

84

19.

Zainal A. Amiruddin, Pelupessy JMCh,


Makaliwy Ch.
Difteri faring.
LIKA FK-UNHAS, 1984; 1 : 301-4.

85