Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOKIMIA
EVALUASI FITOKIMIA SIMPLISIA TUMBUHAN OBAT

Disusun Oleh:
Ade Yuli Budiharti
Rahadian Taufik Akbar
Rendi Prima Nugraha
M. Zaenal Abidin

SEKOLAH TINGGI FARMASI YPIB


CIREBON
2014
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanggal Praktikum

Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Agustus 2014.


B. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan yang dilakukan yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui adanya kandungan metabolit sekunder dari suatu
simplisia tumbuhan obat
2. Melakukan skrining fitokimia terhadap simplisia temu putih
C. Teori Dasar
Tumbuhan obat adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yang
digunakan untuk pencegahan penyakit atau untuk mengobati penyakitpenyakit tertentu. Khasiat atau aktifitas farmakologis yang menjadi
tumpuan bagi penggunaan suatu tumbuhan sebagai tumbuhan obat
ditentukan oleh senyawa kimia metabolit sekunder yang terkandung dalam
tumbuhan atau bagian tumbuhan tersebut. Kandungan senyawa metabolit
sekunder yang mempunyai arti penting dalam kaitan dengan khasiat atau
atau aktivitas farmakologis tumbuhan obat adalah senyawa metabolit
sekunder kelompok mono dan seskuiterpen, triterpenoid dan steroid,
saponin, alkaloid, flavonoid, tanin dan polifenol, kuinon.
Evaluasi fitokimia yang biasa dilakukan yaitu:
1. Skrining fitokimia
2. Identifikasi melalui analisis kromatografi atau spektroskopi
Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu
penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang
golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti.
Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian
warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang
berperan penting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan
metode ekstraksi.
Tanaman obat tradisional yang nama depannya menggunakan kata
temu cukup banyak jenisnya. Ada temulawak, temugiring, temu putih,
temu ireng, dan sebagainya. Namun, masing-masing mempunyai khasiat
berbeda. Seperti juga temu putih (Curcuma zedoaria). Yang biasa dipakai

sebagai pengobatan adalah rimpangnya (umbi). Warna rimpang ketiga


jenis tanaman obat tersebut memang mirip, yaitu putih.
Temu putih banyak ditanam di ladang dan merupakan tumbuhan
semak tinggi, yakni setinggi dua meter. Tumbuh di daerah tropis, 750 m
dpI di Jawa dibudidayakan sebagai tanaman obat, di bawah naungan.
Waktu berbunga Agustus Mei.Temu putih ini tumbuh di tanah yang
gembur, subur, mengandung bahan organic yang tinggi, drainase yang
baik, dan baik pula di tanam pada tanah yang mempunyai pH 5,6-7,8.
Tanaman temu putih ini cocok di tanam dalam ruangan, atau
seperti di atas dikatakan, di bawah naungan, memtuhkan air, tetapi jangan
terlalu banyak. Daerah persebarannya, selain di Indonesia (Jawa), India,
juga dapat ditemui di Florida, Georgia, Lousiana, Mississipi, Texas,
Virginia, dll.
D. Morfologi Tumbuhan
KLASIFIKASI TUMBUHAN TEMU PUTIH
Temu putih mempunyai klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas
: Commelinidae
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus
: Curcuma
Spesies
: Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe
Nama simplisia : Curcuma zedoaria
MORFOLOGI
Batangnya semu, berbentuk silindris, lunak. Batang di dalam tanah
membentuk rimpang berwarna hijau pucat. Herba setahun, dapat lebih dari
2 m. Batang sesungguhnya berupa rimpang yang bercabang di bawah
tanah, berwama coklat muda coklat tua, di dalamnya putih atau putih
kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatik.
Daun tunggal, lonjong, di bagian ujung meruncing, sedangkan di
pangkal tumpul. Panjang daun bisa mencapai 0,6-1 meter dan lebar 10-20

sentimeter. Pelepah daun membentuk batang semu, berwarna hijau coklat


tua, helaian 2-9 buah, bentuk memanjang lanset 2,5 kali lebar yang
terlebar, ujung runcing-meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau
dengan bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43-80 cm atau lebih.
Pertulangan menyirip, tipis, berbulu halus, hijau dan bergaris ungu. Daun
pelindung berjumlah banyak, spatha dan brachtea, rata-rata 3-8 x l,53,5cm.
Bunga majemuk, di ketiak daun, panjang 7-15 sentimeter. Bunga
majemuk susunan bulir,diketiak rimpang primer, tangkai berambut.
Benang sari melekat pada mahkota dengan panjang sekitar 0,5 sentimeter,
tangkai putik panjang dua sentimeter,. Benang sari 1 buah, tidak sempuma,
bulat telur terbalik, kuning terang, 12-16 x 10-115 mm, tangkai 3 5 x 2-4
mm, kepala sari putih, 6 mm.
Kelopak 3 daun, putih atau kekuningan, bagian tengah merah atau
coklat kemerahan, 3 -4 cm. Mahkota: 3 daun, putih kemerahan, tinggi ratarata 4,5 cm mahkota lonjong panjang 7-15 sentimeter. Bibir bibiran
membulat atau bulat telur terbalik, ujung 2 lobe, kuning atau putih, tengah
kuning atau kuning jeruk, 14-18 x 14-20 mm.Buah berbentuk kotak, bulat.
Rimpang dan daun Curcuma zedoaria mengandung saponim, flanoida, dan
polifenol.
ANATOMI
Temu putih mempunyai anatomi dan struktur yang hampir sama
dengan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza). Yang membedakan keduanya
adalah rhizomanya yang lebih besar dan berwarna putih. Rizomnya berasa
pahit, dan rhizomanya inilah yang dijadikan ramuan dalam obat-obatan.
Memiliki epidermis yang bergabus, terdapat sedikit rambut yang
berbentuk kerucut, bersel satu. Hipodermis agak menggabus, di bawahnya
terdapat periderm yang kuang berkembang.
Korteks dan silinder pusat parenkimatik, terdiri dari sel parenkim
berdinding tipis berisi butir pati; dalam parenkim tersebar banyak sel
minyak yang berisi minyak berwarna putih dan zat berwarna putih, juga
terdapat idioblast berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum kecil.

Butir pati berbentuk pipih, bulat panjang sampai bulat telur memanjang,
lamella jelas, hilus di tepi.
Berkas pembuluh tipe koleteral, tersebar tidak beraturan pada
parenkim korteks dan pada silinder pusat; berkas pembuluh di sebelah
dalam endodermis tersusun dalam lingkaran dan letaknya lebih berdekatan
satu dengan yang lainnya, pembuluh didampingi oleh sel sekresi, berisi zat
berbutir berwarna coklat yang dengan besi (III) klorida LP menjadi lebih
tua.
FISIOLOGI
Curcuma zedoaria yang merupakan suku Zingiberaceae, termasuk
kelompok tumbuhan C4. Tumbuhan C4 adalah tumbuhan yang didapati
mempunyai 4-karbon asid organik seperti oxalacetate, malate, dan asparte.
Spesies C4 mempunyai kadar fotosintesis yang lebih tinggi dan
memiliki keadaan yang lebih sensitif terhadap cahaya. C4 mempunyai
enzim PEP carboxylase yang mengambil CO2 lebih kuat dan
menyebabkan tumbuhan C4 berfotosintesis lebih lambat dibanding
tumbuhan C3 yang memiliki RuBP sebagai akseptor CO2. Tumbuhan C4
juga mempunyai RuBP tetapi konsentrasinya sangat rendah. Hal ini juga
menyebabkan tumbuhan C4 menggunakan tenaga yang lebih besar untuk
mengikat molekul CO2.
Spesies C4 mempunyai kloroplas dalam sel-sel berkas upih, dan
mempunyai satu membran luar tanpa grana. Spesies C4 adaptasi pada
kawasan panas, keadaan kering, dan lembab.Spesies C4 juga tidak
melakukan photorespiration atau respirasi waktu siang hari.
E. Kandungan Kimia dan Khasiat
KANDUNGAN KIMIA
Daun dan rimpang Curcuma zedoaria yang biasa digunakan untuk
obat-obatan mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol. Selain itu
juga mengandung Ribosome Inacting Protein (RIP), dan zat anti-oksidan.
Rimpangan temu putih mengandung 1-2,5% minyak menguap dengan
komposisi utama sesquiterpene. Minyak menguap tersebut mengandung
lebih dari 20 komponen seperti curzerenone (zedoarin) yang merupakan

komponen

terbesar,

curzerene,

pyrocurcuzerenone,

curcumin,

curcumemone, epicurcumenol, curcumol (curcumenol), isocurcumenol,


procurcumenol,

dehydrocurdone,

furanodienone,

isofuranodienone,

furanodiene, zederone, dan curdione. Selain itu mengandung flavonoid,


sulfur, gum, resin, tepung, dan sedikit lemak. Curcumol dan Curdione
berkasiat antikanker.
KHASIAT/KEGUNAAN
Rimpang Curcuma zedoaria berkhasiat untuk pelega perut, nyeri
waktu haid, tidak datang haid, pembersih darah setelah melahirkan,
memulihkan gangguan pencernaan makanan, sakit perut, rasa penuh dan
sakit di dada, limpa, antikanker, atasi kista, dll.
Untuk mengolahnya menjadi obat, umbinya yang mengandung
saponi, flavonoida, dan polifenol dapat diparut ter,ebih dahulu. Setelah itu
diperas dan disaring. Campurkan ke dalam air panas mendidih agar
melarut dengan sempurna. Bisa diminum dan dicampur sedikit gula agar
rasanya enak.
Temu putih memiliki sifat antikanker lewat kerja imunomodulator.
Ekstraknya akan memperbanyak jumlah limfosit, meningkatkan toksisitas
sel pembunuh kanker (natural killer) dan sintetis antibodi spesifik. Sifatsifat ini akan menguatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus
maupun sel kanker.

BAB II
METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat-alat
a. Mortar dan stamper
b. Kertas saring
c. Cawan penguap
d. Kaki tiga dan kassa asbes
e. Pipet tetes
f. Gelas ukur
g. Gelas beker
h. Tabung reaksi
i. Penangas
j. Rak Tabung
k. Penjepit tabung
l. Batang pengaduk
2. Bahan
a. Air
b. HCl encer
c. HCl 2N
d. Mg
e. Amil Alkohol
f. FeCl3
g. Larutan Gelatin 1 %
h. NaOH 5%
i. Temu putih

B. Cara Kerja
1. Saponin
a. Masukkan 5 gram serbuk simplisia dan 10 mL air dalam gelas
beker
b. Panaskan selama 10 menit kemudian disaring
c. Setelah dingin, kocok filtrat kuat-kuat dalam tabung reaksi selama
30 detik
d. Terdapat busa setiggi 1 cm dan tidak hilang dengan penambahan 1
tetes HCl encer menunjukka adanya senyawa saponin
2. Flavonoid
a. Ke dalam tabung reaksi masukkan 5 gram serbuk simplisia
b. Tambahkan serbuk Mg dan 5 mL HCl 2N

c. Campuran dipanaskan diatas penangas air selama 10 menit, lalu


disaring
d. Ke dalam filrat tambahkan 1 ml amil alkohol dan kocok kuat-kuat
e. Terbentuknya warna kuning merah menunjukkan adanya senyawa
flavonoid
3. Tanin dan Polifenol
a. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 gram serbuk simplisia dan
10 mL air
b. Panaskan diatas penangas air selama 10 menit lalu disaring
c. Filtrat dibagi 2
d. Ke dalam filrat I, tambahkan 5 tetes FeCl 3, terbentuknya warna
biru-hitam menunjukkan adanya senyawa polifenol
e. Ke dalam filtrat II, tambahkan larutan gelatin 1%, terbentuknya
endapan putih menunjukkan adanya senyawa tanin
4. Kuinon
a. Ke dalam tabung reaksi masukkan 5 gram serbuk simplisia dan 10
mL air
b. Panaskan ke dalam penangas air selama 10 menit lalu disaring
c. Ke dalam filtrat, tambahkan 2 mL larutan NaOH 5%
d. Terbentuknya warna kuning menunjukkan adanya senyawa kuinon
C. Hasil Pengamatan
1. Saponin
Hasil pengamatan
Kesimpulan
2. Flavonoid
Hasil Pengamatan
Kesimpulan
3. Tanin dan Polifenol
Tabung I
Hasil Pengamatan
Kesimpulan
Tabung II
Hasil Pengamatan
Kesimpulan
4. Kuinon
Hasil Pengamatan
Kesimpulan

: Terbentuk busa setinggi 1 cm


: Positif mengandung saponin
: Terbentuk warna kuning
: Positif mengandung flavonoid
: Warna kuning
: Tidak mengandung polifenol
: Terbentuk endapan putih kekuningan
: Positif mengandung tanin
: Terbentuk warna kuning
: Positif mengandung senyawa kuinon

BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. Pembahasan
Temu putih (Curcuma zedoaria) menurut beberapa sumber
simplisia tersebut mengandung metabolit sekunder diantaranya saponin,
flavonoida, dan polifenol.
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks yaitu senyawa
hasil kondensasi suatu gula dengan suatu senyawa hidroksil organik yang
apabila dihidrolisis akan menghasilkan gula (glikon) dan non gula
(aglikon).

Saponin

merupakan

glikosida

triterpen

yang

sifatnya

menyerupai sabun, merupakan senyawa aktif permukaan dan dapat


menimbulkan busa jika dikocok dengan air dan pada konsentrasi rendah
dapat menyebabkan hemolisis pada sel darah merah
flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak
terdapat dialam. Senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat
warna merah, ungu, biru, dan sebagian zat warna kunig dalam tumbuhan.
Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada
tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol
dalam molekulnya. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu
tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur.
Pada hasil percobaan diketahui bahwa sample temu putih yang
diperiksa mengandung saponin, flavonoida, tanin dan kuinon. Terlihat
bahwa terdapat perbedaan dengan pustaka yang ada bahwa temu putih
mengandung polifenol namun pada praktikum yang diujikan temu putih
negatif mengandung polifenol.
Hal tersebut dapat terjadi karena pada skrining fitokimia biasanya
adalah kesalahan menafsirkan hasil analisis pengujian/skrining, seperti :
Reaksi positif palsu adalah hasil pengujian menyatakan ada (positif),
tapi sebenarnya tidak ada (negatif), hal ini bisa disebabkan kesalahan
alat, atau pengaruh senyawa yang memiliki kesamaan sifat maupun
struktur atom yang identik

Reaksi negatif palsu adalah hasil pengujian menyatakan tidak ada


(negatif), tapi sebenarnya ada (positif), hal ini bisa disebabkan kurang
sensitifnya alat, atau karena kadar didalam bahan uji terlalu sedikit,
atau bahan ujinya (ekstrak simplisia) tidak memenuhi syarat, oleh
karena itu senyawa yang tadinya ada hilang/rusak karna reaksi
enzimatik maupun hidrolisis.

B. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dan dibandingkan
dengan berbagai pustaka yang ada dapat disimpulkan bahwa rimpang temu
putih (Curcuma zedoaria) mengandung senyawa metabolit primer saponin,
flavonoida, polifenol, tanin dan kuinon.