Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Rhinosinusitis merupakan masalah kesehatan yang signifikan yang

tampaknya mencerminkan dari peningkatan frekuensi rhinitis alergi dan yang


menyebabkan beban keuangan yang besar pada masyarakat. Rhinosinusitis adalah
istilah yang luas yang mencakup beberapa penyakit, termasuk rhinosinusitis akut,
rhinosinusitis kronik dengan polip hidung atau tanpa polip hidung. Di Amerika
Serikat, survei rumah tangga berbasis populasi yang dilakukan oleh National
Center for Health menemukan prevalensi rinosinusitis dilaporkan sendiri 13%
pada tahun 2009. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang
merupakan infeksi virus, alergi dan gangguan anatomi yang selanjutnya dapat
diikuti infeksi bakteri.1,2
Rhinosinusitis sering disebut sebagai sinusitis. Sinusitis terjadi ketika
sinus tersumbat atau terlalu banyak lendir yang menyebabkan satu atau lebih
rongga menjadi meradang atau bengkak. Rhinitis alergi atau asma dapat dikaitkan
dengan sinusitis kronis. Di negara-negara Eropa Barat 40% dari anak-anak saat ini
menderita rhinitis alergi sehingga menyebabkan obstruksi pada hidung. Akibatnya
dapat mengganggu pertumbuhan tulang wajah.3,4
Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan
mungkin

akan

terus

meningkat

prevalensinya.

Rhinosinusitis

dapat

mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter
umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai

definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rhinosinusitis ini. Bahaya dari
rhinosinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini
terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tidak dapat
dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap rhinosinusitis ini menjadi
yang penting.5
1.2 Batasan Masalah
Referat ini membahas mengenai rhinosinusitis dengan komplikasinya
meliputi anatomi, fisiologi, dan histologi sinus paranasal, definisi, etiologi,
klasifikasi,

patofisiologi,

diagnosis,

penatalaksanaan

dan

komplikasi

rhinosinusitis.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan referat ini adalah unutk memahami mengenai anatomi,
fisiologi, dan histologi sinus paranasal, definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi,
diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi rhinosinusitis.

1.4 Metode Penulisan


Referat ini disusun berdasarkan studi kepustakaan dengan merujuk ke
berbagai literatur.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI
Sinus paranasal adalah ruang berisi udara yang terletak di dalam tulang
tengkorak dan wajah. Terdapat empat pasang sinus yaitu maksila, frontal,
sphenoid, dan ethmoid. Masing-masing sinus mempunyai muara ke rongga
hidung. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernapasan yang mengalami
modifikasi, mampu menghasilkan mukus, dan bersilia. Pada orang sehat sinus
berisi udara. 3,6
Di setiap sisi ada empat sinus paranasal udara dalam empat tulang tengkorak:
frontal, rahang, ethmoid dan sphenoid. Mereka dibagi menjadi dua kelompok:7
1. Anterior : sinus yang terbuka ke arah anterior basal lamella dari konka di
meatus tengah, membentuk kelompok anterior sinus paranasal. Terdiri dari
sinus maksila, frontal dan anterior sinus ethmoid.
2. Posterior : sinus yang terbuka kearah posterior dan superior pada basal
lamella dari konka media. Terdiri dari sinus ethmoid dan sinus sphenoid.
Posterior sinus etmoidalis terbuka di meatus superior dan sinus sphenoid
terbuka reses sphenoethmoidal.

2.1.1 Sinus Maksilaris


Sinus maksilaris adalah sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan
akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml. Sinus maksila berbentuk
pyramid.2

Dinding anterior

: permukaan fasial os maksila yang disebut fosa

kranina
Dinding posterior
Dinding medial
Dinding superior
Dinding inferior

: permukaan infra-temporal maksila


: lateral rongga hidung,
: dasar orbita
: prosesus alveolaris dan palantum

Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan
bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum. Dasar sinus maksila sangat
berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1
dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C), dan gigi molar (M3), bahkan akarakar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga infeksi gigi geligi
mudah naik ke atas dan menyebabkan infeksi.2

2.1.2 Sinus Frontalis


Sinus frontal terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat
fetus berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid.
Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan mencapai
ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Ukuran sinus frontal 2 x 2,4 x 2,8 cm
besekat-sekat dan tepi sinus berkelok-kelok. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang
yang relative tipis dari orbita dan fosa serebri. Sinus frontal berdrenase melalui
ostium yang terletak di resesus frontal yang berhubungan dengan infundibulum.2

2.1.3 Sinus Sfenoid


Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.
Sinus dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah
2,3 x 1,7 x 2 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7,5 ml. Saat sinus berkemabang,

pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus
sfenoid. Batas-batasnya:2
Superior

: fossa serebri media dan kelenjar hipofisis

Inferior

: atap nasofaring

Lateral

: sinus kavernosa dan arteri karotis interna

Posterior

: fosa serebri posterior daerah pons.

2.1.4 Sinus Etmoidalis


Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhirakhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fikus infeksi bagi
sinus-sinus yang lain. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti pyramid
dengan dasarnya di posterior. Ukuran dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4
cm dan lebar 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior.2
Sinus etmoid berongga-rongga seperti sel sarang tawon, yang terdapat di
dalam bagian os lateral os etmoid, yang terletak diantara konka media dan dinding
medial orbita. Berdasarkan letak dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior bermuara ke meatus
superior. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit disebut
resesus frontal yang berhugungan dengan sinus frontal. Di daerah etmoid anterior
terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuara sinus
maksila. Atap sinus etmoid disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan

membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di belakang sinus etmoid posterior
berbatasan dengan sinus sfenoid.2
Kompleks Osteo Meatal
Komplek osteo meatal (KOM) merupakan ruang 3-dimensi yang
berbatasan dengan papyracea lamina lateral, konka medial, reses frontal superior,
dan sinus maksilaris ostium inferior. Ruang ini meliputi infundibulum ethmoid
yang terdapat di belakang prosesus unsinutis, resesus frontalis, bula etmoid dan
dan ostium sinus maksila.3 Peradangan kronis dan edema dari KOM menyebabkan
obstruksi anatomis dan fungsional, yang menyebabkan peradangan kronis dari
sinus mengalir ke daerah tersebut.2

Gambar 2.1 Anatomi Sinus Paranasal2

2.2 HISTOLOGI SINUS PARANASAL


Sebagian besar epitel respirasi terdiri 5 jenis sel yang khas. Sel silindris
bersilia adalah sel yang terbanyak. Setiap sel memiliki lebih kurang 300 silia pada
permukaan apikalnya. Di bawah silia, selain terdapat badan-badan basal, banyak
terdapat mitokondria kecil yang menyediakan ATP untuk pergerakan silia. Sel
terbanyak kedua adalah sel goblet mukosa yaitu sel yang pada bagian apikalnya
mengandung droplet mucus yang terdiri atas glikoprotein. Sel silindris selebihnya
dikenal sebagai sel sikat karena banyaknya mikrovili pada permukaan apikalnya.
Sel sikat mempunyai ujung saraf aferen pada permukaan basalnya dan dipandang
sebagai reseptor semsorik. Sel basal adalah sel bulat kecil yang terletak di atas
lamina basal namun tidak meluas sampai permukaan lumen epitel. Sel ini diduga

merupakan sel induk generative yang mengalami mitosis dan kemudian


berkembang menjadi jenis sel yang lain. Jenis sel yang terakhir adalah sel granul
kecil yang mirip dengan sel basal kecuali bahwa sel ini memiliki banyak granul
berdiameter 100-300 nm dengan bagian pusat yang padat. Kajian histokimia
mengungkapkan bahwa sel-sel ini merupakan populasi sel dari system
neuroendokrin difus.7
Sinus paranasal adalah rongga tertutup dalam tulang yang dilapisi oleh
epitel respirasi yang lebih tipis dan sedikit mengandung sel goblet. Lamina
proprianya mengandung sedikit kelenjar kecil dan menyatu dengan periosteum di
bawahnya. Mukus yang dihasilkan di dalam rongga-rongga ini terdorong ke
dalam hidung sebagai akibat dari aktivitas sel-sel epitel bersilia.7

Gambar 2.2 Histologi Sinus Paranasal10

2.3 FISIOLOGI SINUS PARANASAL


Sinus paranasal memiliki berbagai fungsi, yaitu:5
1. Meringankan berat kepala,
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus digantikan dengan tulang, hanya
akan memberikan pertambhana berat 1% dari berat kepala.
2. Pelembab dan pemanasan menghirup udara
Sinus berfungsi sebagai penahan panas, melindungi orbita dan fossa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataan
sinus-sinus yang besar tidak terletak diantara hidung dan organ-organ yang
dilindungi.
3. Meningkatkan resonansi suara

Sinus berfungsi sebagai rongga resonansi suara dan mempengaruhi


kualitas suara.
4. Membantu produksi mucus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal membersihkan partikel yang
turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus dari meatus medius.

2.4 DEFINISI RHINOSINUSITIS


Rhinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan pada selaput lendir
hidung dan sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga
sering disebut rhinosinusitis. Penyebab utamanya ialah selesma (common cold)
yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.
Sinusitis dikarakteristikkan sebagai suatu peradangan pada sinus paranasal.
Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa
asinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut
pansinusitis.5,8

2.5 ETIOLOGI
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus,
bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip
hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan
kompleks osti-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik,
diskenesia silia seperti pada sindrom Kartgener, dan di luar negeri adalah penyakit
fibrosis kistik. Faktor predisposisi yang paling lazim adalah poliposis nasal yang
timbul pada rinitis alergika; polip dapat memenuhi rongga hidung dan menyumbat
sinus.3,5

10

Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis


sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan
menyembuhkan rhinosinusitisnya.Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan
foto polos leher posisi lateral.3
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara
dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaaan ini lama-lama
menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.3

2.6 KLASIFIKASI RHINOSINUSITIS


Menurut European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007,
rhinosinusitis dapat terbagi atas:8
1. Rhinosinusitis akut: gejala berlangsung kurang dari 12 minggu.
2. Rhinosinusitis kronik: gejala berlangsung selama lebih dari 12 minggu
tanpa resolusi lengkap.

2.7 PATOFISIOLOGI
Klirens Mukosiliar pada KOM (Kompleks Ostei Meatal) menjadi faktor
yang mempengaruhi kesehatan sinus. Mukus juga mengandung zat-zat
antimikrobiotik yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Edema
yang terjadi saat inflamasi pada rhinosinusitis akan menghambat pegerakan silia
pada KOM akibat perlekatan dari mukosa siliar. Sekret yang terkumpul
merupakan media yang baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret
menjadi purulen. Keadaan ini disebut rhinosinusitis akut bakterial. Jika tidak
diobati atau terapi tidak berhasil, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan

11

berkembangnya bakteri anaerob. Perubahan mukosa menjadi kronik yaitu


hipertrofi, polipoid atau pembentkan polip dan kista.5

Gambar 2.3 Patofisiologi rhinosinusitis11


2.8 GEJALA KLINIK

12

Keluhan utama pada rhinosinusitis adalah hidung tersumbat yang disertai


nyeri atau rasa tekanan pada muka dan ingus yang purulent. Ingus sering kali
turun ke tenggorok dimana pada pemeriksaan rinoskopi anterior akan terlihat post
nasal drip.5
Nyeri tekan pada sinus yang terkena merupakan ciri khas pada sinusitis
akut. Neri pada pipi merupakan tanda sinusitis maksila, nyeri di ke dua bola mata
menandakan sinusitiss etmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan
sinusitiss frontal. Nyeri alih ke gigi dan telinga bisa terjadi pada sinusitis maksila.
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia atau anosmia, halitosis. Pada anak-anak
gejala berupa batuk lebih bayak ditemukan dari hiposmia atau nyeri tekan pada
wajah.5

2.9 DIAGNOSIS
Diagnosis rinosisnusitis ditegakkan berdasarkan anamnesiss, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesiss perlu ditanyakan beberapa
keluhan seperti nyeri pada wajah, hidung tersumbat, sekret pada hidung dan
gangguan pada penciuman. Pada rinosinisitis bakterialis akut ditemukan 2 atau
lebih dari gejala tersebut dan sudah berlangsung lebih dari 7 hari. Pada
rhinosinusitis kronis, ditemukan 2 atau lebih gejala dan sudah berlangsung lebih
dari 8 minggu.5
Pemeriksaan fisik dilakukan rinosokopi anterior dan rinoskop posterior.
Tanda khas pada sinusitis maksila dan etmoid anterior dan frontal adalah pus yang
ditemukan di meatus media. Pus pada meatus superior ditemukan pada sinusitiss

13

etmoid posterior dan sfenoid. Pada rhinosinusitis akut ditemukan mukosa edema
dan hiperemis.5
Pemeriksaan penunjang dilakukan foto polos , CT Scan, pemeriksaan
tranluminasi, pemeriksaan mikrobiologi dan sinuskopi.5
1. Foto polos
Posisi PA dan lateral, Waters umumnya hanya mampu menilai sinus-sinus besar
seperti maksila dan frontal.

Gambar 2.4 Foto polos posisi Waters12


14

Gambar 2.5 Foto polos posisi lateral12


2. CT Scan
CT merupakan gold standar dalam merupakan sinusitis karena mampu menilai
anatomi hidung dan sinus.

Gambar 2.6 CT Scan sinus paranasal


3. Pemeriksaan transiluminasi

15

Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sangat jarang digunakan
4. Pemeriksaan mikrobiologik
Pemeriksaan mikrobilogik dilakukan untuk mendapat anti biotik yang tepat guna.
Sekret dialbil dari meatus media atau meatus inferior.
5. Sinuskopi
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila
melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila
yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.

2.10 PENATALAKSANAAN
A. Rhinosinusitis Akut
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan rhinosinusitis akut.
Amoksisilin merupakan terapi pilihan untuk bakteri gram positif dan negatif. Jika
diperikirakan kuman telah resisten maka dapat diberikan amoksisilin-klavunat
atau jenis sefalosporin generasi kedua. Pilihan terapi lini pertama yang lain adalah
kombinasi eritromicin dan dulfonamide atau cephalexin dan sulfonamide.5,8
Antibiotik parenteral diberikan pada rhinosinusitis yang telah mengalami
komplikasi seperti komplikasi orbita dan komplikasi intrakranial, karena dapat
menembus sawar darah otak. Ceftriakson merupakan pilihan terapi yang baik
karena ceftriakson dapat menembus sawar darah otak. Pada rhinosinusitis yang
disebabkan oleh bakteri anaerob dapat digunakan metronidazole atau klindamisin.
Klindamisin dapat menembus cairan serebrospinal. Antibiotik diberikan selam 1014 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.5,8

16

Terapi lain yang dapat diberikan jika diperlukan adalah analgetik,


mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl, dan
antihistamin. Antihistamin hanya diberikan pada rhinosinusitis alergi. Analgetik
dan kompres hangat dapat diberikan untuk mengurangi nyeri.5

17

Onset tiba-tiba dari 2 atau lebih gejala, salah sa


Keadaan yang harus sege
Edema
periorbita
tunya termasuk hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek; sekret hidung anterior/
posterior;
nyeri/ ras
Penghidu terganggu/ hilang
Pendorongan letak bola m
Penglihatan ganda
Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior
Foto Polos SPN/ Tomografi Komputer tidak direkomendasikan
Oftalmoplegi
Penurunan visus
Nyeri frontal unilateral ata
Bengkak daerah frontal
Tanda meningitis atau tan

Gejala menetap atau memburuk setelah 5 hari


Gejala kurang dari 5 hari atau membaik setelahnya

Common cold

Pengobatan simtomatik

Sedang

Steroid topikal

Tidak ada perbaikan setelah 14 hari


Perbaikan dalam 48 jam

Rujuk ke dokter spesialis Teruskan terapi untuk 7-14 hari

Gambar 9. Skema penatalaksanaan rhinosinusitis akut pada dewasa untuk


pelayanan kesehatan primer berdasarkan European Position Paper on
Rhinosinusitisnand Nasal Polyps 2007

18

Berat

Antibiotik + ster

Tidak ada perbaikan

Rujuk ke dokter

B. Rhinosinusitis Kronis

2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek; sekret hidung
Pikirkananteri
diag
Penghidu terganggu/ hilang
Gejala unilat
Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior
Perdarahan
Foto Polos SPN/ Tomografi Komputer tidak direkomendasikan
Krusta
Gangguan pe
Gejala Orbita
Edema Perior
Pendorongan
Penglihatan g
Oftalmoplegi
Nyeri kepala
Tersedia Endoskopi
Bengkak dae
Tanda menin

Polip

Tidak ada polip

Endosko

Pertimbangkan
diagnosis
lain
2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat atau pilek yang tidak jernih;
nyeri bagian
frontal,
Gejala unilateral
Gangguan Penghidu
Perdarahan
Pemerik
Pemeriksaan THT termasuk Endoskopi: Pertimbangkan Tomografi Komputer
Ikuti skema polip hidung
Ikuti
Dokter
skema
Spesialis
Rhinosinusitis
THT
kronik Dokter Spesialis
Foto Po
Krusta
Tes Alergi
Komput
Gambar
10.penatalaksanaan
Skema penatalaksanaan
rhinosinusitis
dengan atau
tanpa polip
Kakosmia
Pertimbangkan diagnosis
dan
penyakit
penyerta; kronik
misal Asma
hidung pada dewasa untuk pelayanan kesehatan primer
dan dokter
Gejala
Orbita
spesialis non THT berdasarkan European PositionEdema
PaperPeriorbita
on
Rujuk Dokter Spesialis THT jika Operasi Dipertimbangkan
Rhinosinusitisnand Nasal Polyps 2007
Penglihatan ganda
Steroid
Oftalmoplegi
Cuci hid
Nyeri kepala bagian frontal
y
Antihist
Edem frontal
Tanda meningitis atau tanda

Reevaluas
Ringan VAS 0-3

Sedang atau berat VAS >3-10

P
Steroid topikal Intranasal cuci hidung Gagal setelah 3 bulan

Perbaikan

Tindak lanjut Jangka Panjang + cuci hidung


Steroid topikal
Makrolide jangka panjang

19

Steroid topikal
Perlu in
Cuci hidung
Kultur & resistensi Kuman
Makrolid jangka panjang
La

Gambar 11. Skema penatalaksanaan berbasis bukti rhinosinusitis kronik tanpa


polip hidung pada dewasa untuk dokter spesialis THT berdasarkan
European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007

20

2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat atau sekret hidung berwarnar;
nyeridiagnosis
bagian front
Pertimbangkan
lain
Gangguan Penghidu
Gejala unilateral
Pemeriksaan THT termasuk Endoskopi: Pertimbangkan Tomografi Komputer
Perdarahan
Tes Alergi
Krusta
Pertimbangkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit penyerta; misal ASA
Kakosmia
Gejala Orbita
Edema Periorbita
Penglihatan ganda
Oftalmoplegi
Nyeri kepala bagian frontal ya
Edem frontal
Tanda meningitis atau tanda f

Ringan VAS 0-3

Sedang VAS 3-7

Berat VAS > 10

Perlu in
Steroid topikal (spray)

Steroid topikal tetes hidung

Dievaluasi setelah 3 bulan

Steroid oral jangka pendek


Steroid topikal

Evaluasi setelah 1 bulan

Gambar 12. Skema penatalaksanaan


rhinosinusitis kronik
dengan polip hidung
Perbaikan
Tidak membaik
pada dewasa untuk dokter spesialis THT berdasarkan European
Perbaikan
Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007
Lanjutkan Steroid Topikal

Bedah sinus endoskopi fungsional


(BSEF/FESS)
merupakan
operasi
Tindak
lanjut terkini
Evaluasi setiap
6 bulan
untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini

Cuci hidung
Steroid topikal + oral
telah
menggantikan
Antibiotika jangka panjang

hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih
memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak radikal. Indikasi tindakan ini
berupa sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis
kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel, polip ekstensif, adanya
komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.5

21

2.11 KOMPLIKASI
Komplikasi

merupakan

hal

yang

sering

terjadi

dan

seringkali

membahayakan nyawa penderita, namun seiring berkembangnya teknologi


diagnostik dan antibiotika, maka hal tersebut dapat dihindari.5,9
1. Komplikasi orbita
Sinus

etmoidalis

merupakan

penyebab

komplikasi

pada

orbita.

Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi etmoiditis akut, namun


sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak dekat orbita dan dapat
pula menimbulkan infeksi isi orbita. Terdapat lima tahapan:9
a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi
orbita akibat infeksi sinus etmoidalis di dekatnya. Keadaan
ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea
yang memisahkan orbita dan sinus etmoidalis seringkali
merekah pada kelompok umur ini.
b. Selulitis orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara
aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
c. Abses subperiosteal. Pus terkumpul di antara periorbita dan
dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
d. Abses orbita. Pada tahap ini, pus telah menembus periosteum
dan bercampur dengan isi orbita tahap ini disertai gejala sisi
neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius.
Keterbatasn gerak otot ekstraokular mata yang terserang dan

22

kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga


proptosis yang makin bertambah.
e. Trombosis sinus kavernosus. Komplikasi ini merupakan
akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena ke dalam
sinus kavernosus di mana selanjutnya terbentuk suatu
tromboflebitis septik.
2. Komplikasi oseus/tulang
Penyebab tersering dari infeksi tulang adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri
takan dahi setempat yang sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise,
demam, dan menggigil. Pembengkakan di atas alis mata juga sering terjadi
dan bertambah hebat bial terbentuk abses subperiosteal dimana telah
terbentuk edema supraorbita dan mata menjadi tertutup.9
3. Komplikasi intrakranial
a. Meningitis akut. Infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar
sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan,
seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau lamina kribtiformis
di dekat sistem sel udara etmoidalis.9
b. Abses dura. Terdapat kumpulan pus di antara dura dan tabula interna
kranium, seringkali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini mungkin
timbul lambat sehingga pasien mungkin hanya mengeluh nyeri kepala,
dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan
intrakranial.9
c. Abses otak. Setelah sistem vena dalam mukoperiosteum sinus
terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen
ke dalam otak.9

23

24

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Rhinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan pada selaput lendir
hidung dan sinus paranasal. Terdapat 4 sinus disekitar hidung yaitu sinus
maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis dan sinus sphenoidalis. Penyebab
utama sinusitis adalah infeksi virus, diikuti oleh infeksi bakteri. Gejala umum
rhinosinusitis yaitu hidung tersumbat disertai dengan rasa nyeri tekan pada wajah
dan ingus purulent, yang seringkali turun ke tenggorol (post nasal drip).
Klasifikasi dari sinusitis berdasarkan klinis yatu sinusitis akut, dan kronik.
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan rhinosinusitis akut.
Amoksisilin merupakan terapi pilihan untuk bakteri gram positif dan negatif. Jika
diperikirakan kuman telah resisten maka dapat diberikan amoksisilin-klavunat
atau golongan sefalosporin generasi kedua. Terapi lain yang dapat diberikan jika
diperlukan adalah analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga
hidung dengan NaCl, dan antihistamin. Antihistamin hanya diberikan pada
rhinosinusitis alergi. Analgetik dan kompres hangat dapat diberikan untuk
mengurangi nyeri. Komplikasi yang dapat ditemukan seperti; komplikasi orbita,
tulang dan intrakranial.

25

DAFTAR PUSTAKA

1.

Bachet C, Pawankhar R, Zhang L, Bunnang C, Wokkens WJ, Hammilon


DW et al, ICON: chronic rhinosinusitis. World Allergy Organ J. 2014;
7(1): 25.
2. Munir N, Clark R, Ear nose and throat. 2013.Edisi 1. Hal 46-48. Penerbit
UK
3. American Allergy Asthma and Immunology. Rhinosinusitis. 2015.
http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/conditionsdictionary/sinuses,-sinusitis,-rhinosinusitis.aspx. Diakses pada tanggal 11
April 2015
4. Stenner M, Rudack C, Diseases of the nose and paranasal sinuses in child.
2014. GMS Curr Top Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2014; 13: Doc10.
5. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Buku ajar ilmu kesehatan
telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi ketujuh. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.h.150-4.
6. Jungueira LC, Carneiro J, 2003. Histologi Dasar. Edisi 10. Penerbit buku
kedokteran EGC.
7. Bansal M, Diseases of Ear, nose and Throat. 2013. Jaypee Brothers
Medical Publishers (P) Ltd. Hal : 37-37.
8. Fokkens W, Lund V, Mullol J. European Position Paper on Nasal Polyps.
2007.
9. Hilger, PA. Penyakit Sinus Paranasalis. Buku ajar penyakit THT. Edisi
keenam. Jakarta; EGC; 1997.h.240-260.
10. Mescher AL, Junqueiras, Basic Histology Text and Atlas. Chapter 17.
Edisi 12. 2010.
11. Duggal, NM. Controversies in Medicine: An Integrative Approach to the
Management of Cough and Cold Symptoms in Rhinosinusitis. Terdapat
pada
http://integrativemedicinereport.com/intg/intg0101article.html.
Diakses pada tanggal 11 April 2015.
12. Thiagarajan, B. Role of X-ray in Rhinology. Stanley Medical College.

26