Anda di halaman 1dari 151

PENDEKATAN ANALISA LINIER METALLIC DAMPER

TESIS
Oleh

MAHADIANTO ONG
057016010/TS

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

PENDEKATAN ANALISA LINIER METALLIC DAMPER

TESIS
Oleh

MAHADIANTO ONG
057016010/TS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik dalam Program Studi Teknik Sipil
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Judul Tesis

: PENDEKATAN ANALISA LINIER METALLIC


DAMPER
Nama mahasiswa : Mahadianto Ong
Nomor Pokok
: 057016010
Program Studi
: Teknik Sipil

Menyetujui
Komisi Pembimbing :

(Dr . Ing . Hotma Panggabean)

( Ir . Daniel Rumbi Teruna., MT )


Anggota

Ketua

Ketua Program Studi,

Direktur,

( Dr. Ir . Roesyanto ., MSCE)

(Prof. Dr. Ir.T Chairun Nisa B., MSc)

Tanggal Lulus : 31 Mei 2008

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Telah diuji pada


Tanggal 31 Mei 2008

_________________________________________

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua

Anggota :

DR. Ing. Hotma Panggabean


Prof. Dr. Ir. Bachrian lubis., Msc
Prof. Dr. Ing . Johannes Tarigan
Ir. Sanci Barus ., MT
Ir. Daniel Rumbi Teruna ., MT

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

ABSTRAK
Seismic devices bekerja dengan merubah kekakuan , damping dan menambah massa
ke struktur . Metallic damper disebut juga hysterestic-yield damper bekerja dengan
mendissipasi energi melalui pembentukan sendi plastis atau pelelehan bahan damper ,
metallic damper yang dibahas dalam tesis ini adalah damper pelat dengan kekakuan
bi-linier , yaitu jenis damper dengan dissipasi energi melalui pelelehan lenturan pelat.
Bila gaya yang bekerja pada damper adalah gaya siklik atau gempa , hubungan gaya
dan simpangan akan berbentuk loop jajaran genjang yang disebut juga dengan
hysteristic loop. Luas hysteristic loop merupakan energi yang didissipasi oleh
damper .
Struktur yang memakai metallic damper akan merubah persamaan dinamis menjadi
persamaan non-linier, Untuk menghindari kesulitan perencanaan dengan metode
riwayat waktu gempa yang lebih kompleks dan memerlukan waktu yang lebih lama ,
dipakai model pendekatan linier viscous damping untuk menggantikan model nonlinier . Model pengganti linier equivalent tersebut memakai konsep equivalent
viscous damping dengan menyamakan luas loop bilinier dengan luas loop bentuk
ellips dari linier viscous damping . Dari hasil analisa, response simpangan Model
pengganti equivalent tidak selalu memberikan hasil yang sama dengan model dinamis
non-linier , untuk itu dipakai faktor koreksi untuk menyamakan atau mendekati kedua
hasil perhitungan dalam batas toleransi tertentu .

Kata Kunci : Seismic devices. Damping. Metallic damper. Hysterestic loop. Konsep
equivalent viscous damping. Model pendekatan linier equivalent. factor
koreksi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

ABSTRACT

Seismic devices operate by modifying the stiffness, damping or adding mass to a


structure. Metallic damper , also known as hysteretic-yield damper, dissipating
energy by forming plastic hinges, or by yielding damper material. Metallic damper
that mentioned in this thesis is a plate damper with bi-linier stiffness behaviors, it
dissipates energy through flexural-yielding of plate. If harmonic or earthquake
excitation applied to damper, force - displacement relationship will form
parallelogram loop which is called hysteretic loop. The area of hysteretic loop is the
energy dissipated by damper.
The structure that equip metallic damper will change the dynamic equation to nonlinier equation. In order to avoid a time consuming and complex time-historical
analysis, the practice of approximate linier equivalent model is necessary. This linier
equivalent alternative model utilizes the viscous equivalent damping concept, by
equating bilinear loop area with elliptical loop area of viscous linier damping. From
the result of the displacement responses analysis, the alternative linier equivalent
model does not always provide the same result as the non-linier dynamical model.
For that purpose we use correction factor to equate or approximate both analysis
result within certain tolerated perimeter.

Keywords : Seismic devices. Damping. Metallic damper. Hysterestic loop.


Equivalent viscous damping concept. Linier viscous equivalent model.
Correction factor

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur bagi Tuhan yang telah memberikan kemampuan, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul PENDEKATAN ANALISA LINIER
METALLIC DAMPER

yang merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi pada

Program Studi Magister Teknik Sipil Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam proses penulisan tesis ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak DR. Ing. Hotma Panggabean sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Ir.
Daniel Rumbi Teruna .,MT sebagai anggota pembimbing yang telah memberikan
perhatian penuh sejak awal hingga selesainya penulisan tesis ini;
2. Bapak Prof. DR. Ing Johannes Tarigan , Bapak Prof. Dr. Ir. Bachrian Lubis., M.Sc
,Bapak Ir. Sanci Barus, MT dan Bapak Ir. Daniel Rumbi Teruna., MT atas masukan
masukan yang sangat berarti.
3. Bapak DR. Ir. Roesyanto.,MSCE sebagai Ketua Program Studi Magister Teknik Sipil
Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Ir. Rudi Iskandar.,MT sebagai Sekretaris Program Studi Magister Teknik Sipil
Universitas Sumatera Utara;
5. Seluruh staf pengajar Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera
Utara;
6. Bapak Prof. Dr. Ir. Chairun Nisa B., MSc selaku Direktur Program Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara;

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

7. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis DTM & H, Sp, AK selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara;
8. Seluruh rekan rekan mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas
Sumatera Utara .
Seperti pada ungkapan lama, bahwa tak ada gading yang tak retak namun, dengan satu
harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 10 April 2008


Penulis,

(Mahadianto Ong)
057 016 010

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
Nama

: Mahadianto Ong

Tempat dan tanggal lahir

: Medan, 23 Nopember 1961

Alamat

: Jl. Mojopahit No. 20 Medan (20112)

PENGALAMAN KERJA
1981 1982

: Supervisor Olympia Oplaza Building, Medan

1982 1983

: Supervisor Istana Plaza Building, Medan

1983 1985

: Sebagai estimator, site manager Pembangunan Gedung


Perisai Plaza, Medan

1985 1986

: Kontraktor / perencana / pelaksana pembangunan Pardede


Hall dan Gedung Institut Sains dan Teknologi T.D Pardede,
Jl. T.D Pardede Medan

1986 1987

: Project Manager, PT. Genta Bangun Sejahtera, Pusat Pasar


Mercubuana Development

1998 2003

: Konsultant & Supervisor PT. Waruna Nusa Sentana Kapal /


Dok development at Belawan

1986 now

: Planner and Supervisor development of Swalayan & Dept.


Store Suzuya Building

2003 now

: Planner & Supervisor PT. Graha Niaga Sumatera,


Development of Graha Niaga Office at Jl. Putri Hijau,
Medan

2004 2006

: Quantity Surveyor of PT. Orange Indonesia Mandiri,


Pembangunan Merdeka Walk, Mdn

2005 now

: Quantity Surveyor of PT. Multi Arta Semesta, City Hall


Medan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

DAFTAR ISI

ABSTRAK ......... i
ABSTRACT ............ ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP

.......... v

DAFTAR ISI ..............vi


DAFTAR TABEL ..........viii
DAFTAR GAMBAR ..... ix
DAFTAR LAMPIRAN ..... xii
DAFTAR NOTASI ...... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ..... 1
1.1. Umum .....................................1
1.2. Latar Belakang........... 9
1.3. Tujuan 11
1.4. Pembatasan Masalah .. 11
1.5. Metodologi ..13
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .......... 15
2.1. Peran Damper ....... 15
2.2. Vicous Damping ... 18
2.3. Dissipasi Energi Getaran .. 25

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.4. Hysteristic Loop 33


2.5. Equivalent Vicous Damping ... 35
2.6. Metode Dissipasi Energi Damper ... 37
2.7. Pengaruh Damping Terhadap Response Spectrum Gempa ..44
BAB III. DAMPER PELAT LENTUR ....... 50
3.1. Konsep Structural Fuse .... 50
3.2. Kekakuan dan Daktilitas Pelat Damper 51
3.2.1. Daktilitas Bahan .... 53
3.2.2. Pengaruh Bentuk Damper .. 55
3.3. Model Analisa ...84
3.4 Analisa Model Pengganti . 92
3.5 Response Spektrum Gempa .. 94
3.6. Faktor Koreksi Response . 97
3.7. Contoh Kasus ...105
BAB IV. PEMBAHASAN . 125
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .. 129
DAFTAR PUSTAKA .. 131

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

2.1

Faktor damping FEMA 2000 .............. 48

2.2

Faktor damping Ramirez et.al ............. 48

3.1

Perbandingan kekakuan dan daktilitas pelat damper .............. 83

3.2

Nilai faktor koreksi simpangan ( Model response spektrum


EL-CENTRO) 101

3.3

Nilai faktor koreksi simpangan ( Model response spektrum


SNI 03-1726-2002) 102

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

Halaman

1.1

Friction pendulum .

1.2

Rubber bearing ..

1.3

Damper pelat lentur ...

1.4

Damper batang tekuk

1.5

Friction damper .....

1.6

Viscous damper .....

1.7

Pemasangan damper di struktur

1.8

Kinematic hardening bahan ...

12

1.9

Metodologi perhitungan faktor koreksi .

14

2.1

Getaran bebas dan getaran dengan damping .

16

2.2

Magnification factor getaran

17

2.3

Getaran under-damped , critically-damped dan over-damped

24

2.4

Gataran SDOF dengan beban siklik ..

27

2.5

Dissipasi energi sistim linier viscous damper ...

32

2.6

Hysteristic loop Bi-linier

35

2.7

Hysteristic loop linier viscous damper ..

39

2.8

Hysteristic loop friction damper

41

2.9

Hysteristic loop yield damper ...

42

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.10

Hysteristic loop viscous-elastis damper

44

2.11

Idealisasi Response Spektrum Gempa EL-CENTRO dengan


Model Response Spektrum Peraturan Perencanaan Tahan
Gempa Indonesia Faktor

45

Response Spektrum Gempa EL-CENTRO dengan damping


5% , 20% dan 30% ...

46

2.13

Faktor damping ..

49

3.1

Deformasi plastis struktur SDOF ..

53

3.2

Hubungan tegangan-regangan baja ...

54

3.3

Deformasi pelat damper segi-4 .

56

3.4

Tegangan dan regangan penampang pelat damper ...

58

3.5

Deformasi pelat damper segi-3 .

70

3.6

Deformasi pelat damper X ...

78

3.7

Hubungan gaya dan deformasi pelat damper

83

3.8

Pembagian gaya struktur dan damper ...

85

3.9

Gabungan kekakuan struktur dan damper .

87

3.10

Pendekatan SDOF non-linier menjadi SDOF linier


equivalent ...

89

2.12

3.11

Response Spektrum EL-CENTRO dan SNI ..

3.12

Idealisasi response spektrum EL-CENTRO 0.35 g dengan


model response spektrum SNI ...

96

Faktor koreksi response spektrum ( Model response


spektrum gempa EL-CENTRO )

103

Faktor koreksi response spektrum ( Model response


spektrum SNI 03 1726 2002 ) .

104

3.13
3.14

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

95

3.15

Response spektrum SNI zone-3 tanah sedang ...

106

3.16

Response spektrum simpangan dengan EL-CENTRO 0.3 g


dan Zone-3 (sedang) SNI ...

108

3.17

Simpangan struktur dengan dan tanpa damper .

121

3.18

Denah dan potongan bangunan .....

123

3.19

Detail damper .....

124

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

Perhitungan faktor koreksi .. 132

Perbandingan faktor koreksi dengan Spektrum EL-Centro dengan


Spektrum SNI 152

Faktor koreksi untuk percepatan gempa yang berbeda .. 153

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

DAFTAR NOTASI
b

lebar pelat damper


konstanta damping
konstanta damping dari damper
damping kritis ( critical damping)
gaya lateral pelat

gravitasi sebesar 980 cm/detik2

tinggi pelat damper


Kekakuan
kekakuan awal ( jumlah kekakuan struktur dan kekakuan
damper)
kekakuan struktur
kekakuan damper dan bracing
kekakuan damper
kekakuan pelat
kekakuan pelat keadaan elastic
kekakuan pelat keadaan plastis
kekakuan struktur
Massa

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

tebal pelat damper


Simpangan
amplitudo getaran
deformasi pelat
deformasi pelat keadaan permulaan leleh
simpangan maksimum keadaan leleh
simpangan maksimum keadaan elastic
simpangan permulaan leleh
simpangan pada waktu t
simpangan pada waktu t =0
kecepatan awal pada waktu t = 0
CF

factor koreksi response non-linier


modulus elastika bahan pelat
dissipasi energi getaran akibat damping
dissipasi energi dari pelelehan bahan struktur
energi kinetic getaran
energi gempa yang masuk ke struktur
energi regangan pegas
gaya dalam struktur

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

gaya damping
gaya pegas
H

tinggi bangunan
momen inertia pelat
momen pelat diujung atau ditumpuan
momen pelat saat serat paling ujung mulai meleleh
momen plastis pelat

SDOF

single degree of freedom


magnification factor ( faktor dinamis)
percepatan spectral response gempa
percepatan spectral response gempa zone 3 SNI
percepatan spectral response gempa EL-CENTRO
simpangan spectral response gempa
simpangan spectral response spektrum gempa zone 3
SNI
simpangan spectral response gempa EL-CENTRO
kecepatan spectral response gempa
kecepatan spectral response gempa zone 3 SNI
kecepatan spectral response gempa EL-CENTRO

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

waktu getar
waktu getar awal ( struktur dengan damping )
waktu getar model pengganti equivalent
perbandingan kekakuan damper dengan kekakuan
struktur
faktor damping
daktilitas bahan pelat
perbandingan simpangan SDOF linier ( elastic) dengan
simpangan permulaan leleh
koefisien friksi
sudut fase getaran
tegangan pelat
tegangan leleh bahan pelat
frekwensi beban luar
frekwensi sudut getaran dengan damping
frekwensi sudut model pengganti equivalent
frekwensi sudut alami struktur

persen damping total

persen damping struktur

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

persen equivalent viscous damping


Percepatan getaran
Percepatan gerakan tanah
kecepatan getaran

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 .UMUM
Gempa merupakan fenomena alam yang telah banyak menimbulkan korban
jiwa, kerusakan sarana dan prasarana kehidupan. Kerusakan-kerusakan yang
disebabkan gempa pada umumnya berupa kerusakan struktur bangunan, baik
bangunan gedung maupun bangunan sipil, tanah longsor .
Gempa menyebabkan permukaaan tanah bergetar secara horizontal dan
vertikal, sesuai dengan Hukum Newton bahwa bila suatu massa diberi percepatan
akan timbul gaya inertia sebesar massa dikalikan dengan percepatan. Hal yang sama
terjadi pada struktur bangunan,

getaran tanah menyebabkan bangunan bergetar,

percepatan getaran dan massa bangunan menyebabkan timbulnya gaya inertia


tambahan yang membebani struktur bangunan secara lateral dan vertikal, gaya inertia
lateral yang paling banyak menyebabkan kerusakan dan keruntuhan bangunan, karena
pada umumnya struktur sistim pemikul gaya lateral lebih lemah,

dibandingkan

dengan sistim pemikul gaya vertical.


Sistim pemikul beban lateral yang direncanakan tahan terhadap beban gempa
besar, memerlukan biaya yang tinggi. Biaya bangunan menjadi tidak ekonomis, bila
dibandingkan dengan

kemungkinan

terjadinya

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

gempa besar

selama umur

bangunan. Karena gempa besar yang diperhitungkan berupa gempa dengan periode
kejadian yang cukup lama bila dibandingkan dengan umur bangunan, misalnya dalam
peraturan perencanaan Indonesia mengharuskan

bangunan direncanakan dengan

beban gempa besar periode 200 tahun.


Filosopi perencanaan bangunan tahan gempa koventional yang diadopsi oleh
hampir semua peraturan perencanaan gempa, yang mengutamakan segi keselamatan
jiwa dan segi ekonomis yang dikenal dengan perencanaan kapasitas, menggunakan
konsepsi dasar sebagai berikut :
1.

Struktur akan berperilaku elastis bila terjadi gempa kecil.

2. Bangunan akan mengalami kerusakan bila terjadi gempa sedang, tapi


terbatas hanya pada kerusakan yang dapat diperbaiki.
3. Bangunan tidak runtuh bila terjadi gempa besar.
Perencanaan kapasitas mengutamakan kolom yang lebih kuat dari balok dan
daktilitas penampang yang tinggi, sehingga kerusakan hanya terjadi ditumpuan balok
dengan pembentukan sendi-sendi plastis, hal ini akan memungkinkan struktur
berdeformasi cukup besar untuk mendissipasi energi gempa yang masuk ke struktur
sewaktu terjadi gempa besar, dengan demikian bangunan tidak runtuh tapi hanya
berdeformasi, tapi struktur akan mengalami kerusakan yang kemungkinan tidak dapat
dipakai lagi dan harus dirobohkan. Kerusakan yang terjadi sewaktu gempa sedang
juga menimbulkan kesulitan dan kendala dalam hal perbaikan. Baik ditinjau dari segi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

metode, biaya perbaikan maupun

kelangsungan pemakaian bangunan setelah

perbaikan.
Indonesia merupakan daerah dengan kegiatan kegempaan yang tinggi, hal ini
disebabkan oleh letak geografisnya dipertemuan beberapa lempengan kerak bumi
yang aktif bergerak.

Konsekwensi letak geografis ini mengharuskan bangunan-

bangunan di Indonesia

direncanakan tahan gempa. Perencanaan tahan gempa

Indonesia juga mengadopsi filosopi perencanaan tahan gempa koventional yang


sama. Sehingga kerusakan kerusakan struktur bangunan di Indonesia tidak dapat
dihindari bila terjadi gempa yang cukup besar.
Beberapa dekade belakangan ini muncul upaya untuk mengatasi kerusakankerusakan yang terjadi pada struktur dengan memberikan alat tambahan ke struktur,
untuk membatasi energi atau mendissipasi energi gempa yang masuk ke bangunan.
alat-alat tersebut dikenal dengan Seismic Devices. Dengan menambah alat-alat
tersebut, energy gempa yang masuk ke struktur dapat direduksi dan dikontrol
sehingga gaya-gaya dan simpangan struktur menjadi kecil, dengan demikian
bangunan dapat direncanakan dalam keadaan elastis untuk kejadian gempa besar
dengan biaya yang cukup ekonomis. Pemakaian seismic devices tidak hanya terbatas
di bangunan gedung ,juga dipakai di bangunan sipil seperti pada jembatan, jembatan
gantung ( cable stayed bridge) untuk mengontrol getaran jembatan, tangki penimbun,
dan lain-lain.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Seismic devices pada umumnya dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


1.

Actived seismic device

2.

Passived seismic device

Actived seismic device bekerja dengan menerima masukan data getaran dari
sensor yang dipasang disekeliling struktur, melalui computer data tersebut digunakan
untuk mengatur gerakan actuator sesuai dengan input gempa ke bangunan .
Passived seismic devices bekerja atau bereaksi setelah energi gempa masuk ke
struktur, pada umumnya reaksi seismic device semakin besar bila response struktur
atau energi yang masuk semakin besar.
Passived seismic devices sesuai fungsinya, secara garis besar dapat dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu yang bersifat isolasi dan yang bersifat dissipasi energy. jenis
yang pertama disebut seismic Isolator dan yang kedua disebut Damper.
Seismic Isolator dipasang dibagian bawah bangunan, alat ini mereduksi energi
yang masuk ke struktur dengan merubah getaran frekwensi tinggi menjadi frekwensi
rendah, percepatan bangunan bagian atas menjadi kecil sehingga gaya inertia juga
menjadi kecil. ada 2 jenis seismic isolator yang telah sering dipakai yaitu jenis
Rubber bearing dan jenis friction pendulum. Gambar 1.1. adalah gambar Isolator
jenis friction pendulum, isolator jenis ini bekerja dengan membentuk kekakuan dari
gesekan antara piringan bawah dengan tumpuan bulatan di bagian atas yang diberi
lapisan bahan Teflon. Gambar 1.2. adalah gambar rubber bearing yang diproduksi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

oleh perusahaan Dis Seismic Isolator, rubber bearing memiliki kekakuan dan sifat
damping yang rendah, untuk memperbesar damping dipasang batangan timah
dibagian tengah.

Gambar 1.1. Friction Pendulum

Gambar 1.2. Rubber bearing


Damper merupakan alat dissipasi energi yang berfungsi memperkecil response
simpangan struktur dan menghentikan getaran. alat ini memperkecil simpangan antar

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

tingkat sehingga gaya lateral kolom yang kecil. Alat-alat ini terdiri dari beberapa
jenis dengan metode dissipasi energi yang berbeda.

jenis viscous damper

mendissipasi energi berdasarkan perbedaan kecepatan deformasi dalam damper, lihat


Gambar 1.6., friction damper berdasarkan gesekan yang terjadi dalam damper, lihat
Gambar 1.5., Hysterestic-yield damper mendissipasi energi dengan berdeformasi
melewati batas elastis atau pelelehan bahan dengan pembentukan sendi plastis,
Gambar 1.3., Pelelehan bahan yield damper dapat berupa pelelehan oleh momen
lentur, pelelehan oleh momen puntir, ataupun berupa tekuk dari batangan baja.

Gambar 1.3. Damper pelat lentur

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 1.4. Damper batang tekuk

Gambar 1.5. Friction damper

Gambar 1.6. Viscous damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 1.7. Pemasangan damper di struktur

Pemasangan damper di struktur bangunan berbeda dengan pemasangan isolator


gempa, Isolator gempa dipasang pada bidang yang memisahkan bagian bangunan
yang akan dilindungi. sedangkan damper dipasang pada posisi yang akan dikurangi
simpangannya. Damper biasanya dipasang diantara lantai tingkat untuk mengurangi
perbedaaan pergeseran lantai ( storey drift ), umumnya dipasang bergabung dengan
bracing seperti gambar 1.7.
Damping struktur bangunan pada umumnya hanya sebesar 1 % sampai 5% ,
bergantung pada kekakuan bangunan yang direncanakan, makin besar kekakuan suatu
struktur makin kecil damping. bila suatu bangunan diberi tambahan alat dissipasi
energi (damper) dengan damping

sebesar 25% sampai 30%, akan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

mereduksi

tegangan dan response simpangan sekitar 50% sampai 75% dibandingkan dengan
response struktur dengan damping 5%, bila damper digabungkan dengan alat isolator,
dapat mereduksi response dapat sampai 95%.
Penambahan seismic devices ke struktur menyebabkan metode perencanaan
menjadi berbeda dengan metode perencanaan tahan gempa yang konventional,
seismic devices merubah analisa dinamis struktur menjadi analisa non-linier yang
pada umumnya dianalisa dengan metode riwayat waktu gempa, sedangkan
perencanaan koventional menggunakan analisa linier dengan

metode response

spektrum yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan metode riwayat waktu
gempa.
1.2 . LATAR BELAKANG
Telah disinggung sebelumnya bahwa perencanaan bangunan tahan gempa
umumnya dilakukan dengan 2(dua) metode pendekatan, yaitu ;
1.

Merencanakan bangunan dengan metode konventional, yaitu


dengan memakai sistim struktur yang sedemikian rupa sehingga
dapat mengakomodasi besarnya energi gempa yang masuk ke
struktur bangunan.

2.

Memasang alat tambahan ke struktur, yang biasanya disebut


dengan Seismic Devices.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Mengenai hal yang pertama, struktur dapat direncanakan sesuai dengan sistim
stuktur yang tercantum didalam peraturan perencanaan tahan gempa, seperti sistim
portal pemikul momen beban lateral, dinding geser, rangka batang pemikul beban
lateral

atau

gabungan

dari

beberapa

sistim-sistim

tadi.

perencanaan

ini

mengutamakan kekuatan dan kekakuan sistim strukturnya untuk memikul gaya


gempa dan mengurangi simpangan struktur.
Pemakaian seismic devices pada struktur akan memungkinkan struktur
direncanakan secara elastis untuk beban gempa besar dengan biaya struktur yang
cukup ekonomis, karena penambahan seismic devices ke sistim struktur akan
mengurangi beban gempa struktur

yang cukup besar. Dari segi perencanaan,

persamaan getaran struktur yang memakai seismic devices akan berubah menjadi
persamaan getaran non-linier, karena kekakuan dan damping gabungan menjadi
tidak konstan lagi .
Cara perencanaan dengan metode response spectrum gempa merupakan
metode perencanaan yang sederhana untuk tujuan pemakaian praktis, dan menjadi
metode utama semua peraturan perencanaan. Kurva response spectrum yang tersedia
dalam peraturan perencanaan adalah kurva response spectrum dari persamaan getaran
linier viscous damping sebesar 5% . Metode Analisa response spektrum adalah
metode analisa linier, walaupun metode ini juga digunakan sebagai metode
perencanaan untuk bangunan dengan seismic devices seperti yang direkomendasi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

SEAOC dan FEMA untuk struktur dengan batasan tertentu, tapi hasilnya tidak begitu
akurat bila dibandingkan dengan analisa dinamis riwayat waktu gempa .
Metode analisa dinamis riwayat waktu gempa merupakan metode perencanaan
yang selalu dihindari oleh perencana karena tidak praktis dan memerlukan waktu
yang lama, tidak seperti perencanaan metode response spectrum yang dapat dilakukan
dengan praktis secara manual.
1.3. TUJUAN
Adapun

tujuan yang

hendak dicapai adalah: Penyederhanaan

Analisa

persamaan non-linier getaran dengan pendekatan Analisa linier, dalam hal ini dipakai
metode analisa response spektrum gempa dengan memodelkan sistim non-linier
menjadi suatu sistim linier yang equivalent.
1.4. PEMBATASAN MASALAH
Dalam pembahasan masalah ini, akan dibatasi lingkup pembahasan sebagai
berikut :
1. Damper yang akan dibahas adalah damper pelat lentur.
2. Sistim struktur akan dibatasi hanya pada massa tunggal, single
degree of freedom ( SDOF ).
3. Deformasi struktur masih dalam batas elastis, pelelehan hanya
terjadi di damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

4. Response yang dijadikan acuan adalah response simpangan


maximum.
5. Bahan pelat bersifat elasto-plastis.
6. Bahan pelat damper bersifat kinematic hardening.
7. Pengaruh gaya geser pelat damper diabaikan.
8. Input gempa untuk analisa riwayat waktu gempa adalah gempa
El-centro dengan percepatan 0.35 g.
9. Response spectrum yang dipakai adalah response spektrum dari
gempa El-Centro dan response spectrum dari peratutran
perencanaan tahan gempa SNI.

GAYA
A'

B'

DISPL
A

Gambar 1.8 Kimematic-hardening bahan baja

Damper pelat lentur adalah damper yang terbuat dari pelat baja yang pelelehan
disebabkan oleh momen lentur gambar1.3.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Yang dimaksud kinematic hardening adalah tegangan batas elastic tarik dan
tekan bahan tidak berubah walaupun terjadi deformasi plastis. Hal ini ditunjukan
gambar (I.8) dengan panjang |A A| dan |BB| sama panjang dan sejajar.
1.5. METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam penulisan tesis adalah studi litratur, Model
SDOF non-linier dari persamaan getaran akan digantikan dengan Model getaran
SDOF linier equivalent, Analisa dilakukan dengan membandingkan hasil analisa
riwayat waktu gempa dari model SDOF non-linier dengan hasil analisa response
spektrum gempa dari model SDOF linier equivalent. Response hasil analisa yang
dijadikan acuan adalah simpangan maksimum. Bila perbandingan kedua response
simpangan

menyimpang dari batas toleransi, maka akan ditentukan suatu faktor

koreksi untuk menyesuaikan response maksimum dari kedua metode dengan


mempertimbangkan pola perbedaannya.
Untuk tujuan tersebut akan digunakan input gempa El-CENTRO .
Analisa dinamis riwayat waktu gempa

dan kurva response spectrum EL-

CENTRO dihitung dengan bantuan program NONLIN dari FEMA


Emergency Management Agency ) Amerika Serikat.
Adapun prosedur analisa dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

( Federal

METODOLOGI
ANALISA NON
LINIER

ANALISA LINIER
GEMPA:
ELCENTRO

KURVA RESPONSE
SPEKTRUM

RIWAYAT WAKTU GEMPA

( PROGRAM NONLIN)

ANALISA NON LINIER


( PROGRAM NONLIN )

PENYESUAIAN
HASIL

ANALISA LINIER
MODEL SDOF
EQUIVALENT

FAKTORKOREKSI

Gambar 1.9. Metodologi perhitungan faktor koreksi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 . PERAN DAMPING PADA GETARAN
Damper mempunyai sifat dan cara kerja yang berbeda dengan base isolator,
damper mendissipasi energi yang masuk ke struktur dengan merubah energi tersebut
menjadi panas, sehingga response simpangan struktur menjadi kecil.
Peran damping dalam struktur antara lain :
1.

Menyebabkan getaran dapat berhenti

2.

Memperkecil response simpangan ( displacement )

3.

Mengurangi simpangan saat resonansi

Damping dalam struktur yang disebut juga inherent damping, yaitu damping
yang berasal dari gesekan antara struktur dengan bagian non struktur, gesekan udara
dan tutup bukanya penampang beton yang retak, dan plastisitas bahan setelah struktur
mengalami deformasi inelastic. Besarnya damping tersebut sekitar 1% sampai 5%,
bergantung pada jenis dan kekakuan struktur.
Bila suatu struktur tanpa damping, getaran struktur tidak akan berhenti, seperti
yang ditunjukan gambar 2.1. untuk getaran bebas tanpa damping (undamped free
vibration) atau 0% damping, amplitude getaran akan tetap dan berulang-ulang terus

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

15

tanpa berhenti, sedangkan getaran dengan damping ( damped free vibration ) yang
ditunjukan oleh kurva dengan damping 5% dan 10%, amplitude getaran semakin
mengecil terhadap waktu. Makin besar damping dari suatu sistim makin cepat
amplitude getaran berkurang dan makin cepat berhenti bergetar, perbedaaan tersebut
ditunjukan oleh kurva dengan damping 5% dan kurva dengan damping 10% pada
gambar 2.1.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Bila terjadi resonansi pada getaran suatu sistim SDOF, simpangan getaran
akan menjadi membesar sesuai dengan amplikasi yang terjadi, besarnya amplikasi
ditentukan dengan faktor dinamis (magnification factor) yang berbanding terbalik
dengan besarnya factor damping , yaitu

Untuk getaran tanpa damping = 0, nilai

menjadi tak berhingga, sehingga

deformasi juga menjadi tak berhingga, sedangkan dengan damping 50%

factor

amplikasi menjadi satu atau tidak terjadi pembesaran simpangan sama sekali. gambar
2.2 menunjukan besarnya amplikasi simpangan yang terjadi untuk berbagai nilai
damping yang ditandai dengan magnification factor

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.2. VISCOUS DAMPING


Konsep viscous damping pada awalnya digunakan sebagai suatu besaran
dissipasi energi oleh struktur pada keadaana elastis. Bila ditinjau dari konsep getaran
yang paling dasar, yaitu getaran bebas tanpa damping dari sistim SDOF, Persaman
getaran dapat ditulis dalam bentuk :
(2.1)
Solusi persamaan ini adalah :

dimana

didefinisikan sebagai natural frequency getaran. Penyelesaian response


simpangan
kecepatan awal

persamaan 2.2 adalah dengan kondisi simpangan awal

dan

, amplitudo getaran adalah constant terhadap waktu dan sistim

akan bergetar tanpa henti, seperti yang ditunjukan oleh kurva dengan damping 0% di
gambar 2.1.
Hal tersebut tidak terjadi pada keadaan sebenarnya, getaran bagaimanapun
akan berhenti pada suatu waktu tertentu, berhentinya getaran disebabkan dissipasi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

energi dari getaran, faktor yang menyebakan dissipasi energi dinamakan damping
atau redaman dari sistim getaran.
Dissipasi energi dapat disebabkan oleh retak pada penampang, ketidak-linier
kekakuan dalam keadaan elastis, gesekan atau iteraksi antara struktur dengan nonstruktur dan non-struktur dengan non struktur, iteraksi antara struktur dengan tanah,
dan lain-lainnya. Besarnya masing-masing bagian disisipasi energi ini sulit
diperhitungkan, sehingga dipakai konsep Viscous Damping sebagai pengganti dari
semua bagian dissipasi energi tadi.
Viscous Damping

tidak ada hubungan langsung

dengan damping pada

keadaan sebenarnya di struktur, tapi pemakaian konsep Vicous Damping dapat


mengfasilitasi semua bagian dissipasi energi dan membentuk persamaan getaran
sederhana yang mudah diselesaikan.
Dalam hal ini besarnya gaya viscous damping diasumsikan sama gaya tahanan
piston dari sistim dashpot yang berisi cairan yang mengalir melalui lubang kecil,
besarnya gaya damping diasumsi berbanding lurus dengan kecepatan, bila factor
tersebut ditambahkan ke persamaan getaran, persamaan menjadi :
(2.4)
Dimana,

adalah faktor

viscous damping

persamaan 2.4. dapat diambil bentuk :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

dan penyelesaian umum

(2.5)
Subsitusikan ke persamaan getaran 2.3., diperoleh:

Supaya mempunyai solusi,

dan

tidak boleh bernilai nol, shingga

persamaan diatas berubah menjadi,

Persamaan terakhir disebut persamaan karateristik dari persamaan differensial


2.4. kedua nilai s dapat dihitung dengan rumus

Atau

Penyelesaian persamaan (2.5 ) menjadi :

Nilai

dan

adalah konstanta integrasi yang ditentukan dari keadaan awal

getaran.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Kombinasi nilai

dan

akan menentukan nilai

, nilai

yang berada dibawah tanda akar disebut diskriminan, nilai dapat berbentuk bilangan
riel atau bilangan kompleks bergantung pada nilai diskriminan lebih besar, sama atau
lebih kecil dari nol. Besarnya nilai diskriminan akan menentukan jenis getaran yang
berbeda.
Berdasarkan nilai diskriminan dari sistim getaran, getaran dapat dibagi menjadi
3 jenis :
1. Critically damped vibration, bila nilai diskriminan sama
dengan nol
2. Overdamped Vibration, bila nilai diskriminan lebih besar dari
nol
3. Underdamped Vibration, bila nilai diskriminan lebih kecil dari
nol
2.2.1 Critically damped Vibration
Untuk sistim getaran critically damped, nilai diskriminan sama dengan nol,

Atau

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

disebut Critical Damping, nilai tersebut dapat ditulis dalam bentuk


natural frekwensi,

Nilai menjadi

Persamaan getaran (II.5)

2.2.2 Overdamped Vibration


Getaran overdamped terjadi bila kedua nilai

adalah bilangan riel yaitu lebih

besar dari nol, sehingga penyelesaian persamaan getaran tetap dalam bentuk seperti
persamaan 2.5.

Sistim overdamped vibration dan critical damped vibration tidak menghasilkan


getaran, tetapi besarnya amplitude semakin mengecil secara eksponential menuju
nilai nol. lihat gambar 2.3.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.2.3 Under- Damped Vibration


Bila nilai diskriminan lebih kecil dari nol, nilai akan berbentuk bilangan
kompleks,

Dengan menggunakan persamaan Euler

Penyelesaian persamaan getaran (II.3) menjadi

Dimana

dan

adalah faktor integrasi dari syarat keadaan awal sistim .

adalah damped frekwensi dari sistim getaran, yang diperoleh dari

Atau

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

adalah natural frequency dari sistim tanpa damping.


didefinisikan sebagai damping ratio dari sistim yang ditentukan sebagai

Dengan memasukan syarat-syarat awal, seperti pergeseran awal


kecepatan awal

dan

, penyelesaian persamaan getaran 2.4. menjadi

Gambaran untuk ketiga jenis getaran dapat dilihat pada gambar (II.3), kurva
untuk critically damped dan overdamped tidak membentuk getaran karena tidak
bergerak secara periodic, tapi simpangan mengecil secara eksponential. sedangkan
kurva underdamped membentuk gerakan periodic atau getaran dengan amplitude
mengecil secara eksponential dengan perkalian

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.3. DISSIPASI ENERGI GETARAN


Tinjau suatu sitim SDOF yang dibebani oleh suatu beban cyclic yang
berbentuk sinusoidal, persamaan getaran adalah :
(2.18)
Penyelesaian persamaan tersebut terdiri dari 2 bagian, yaitu penyelesaian
Umum dan penyelesaian khusus, penyelesaian umum adalah penyelesaian dari
persamaan homogennya persamaan (2.18)

dengan

penyelesaian khusus adalah penyelesaian nilai dengan

sama dengan nol,


yang memenuhi

.
Secara umum dapat ditulis
(2.19)
Dimana

adalah penyelesaian umum yang memenuhi persamaan homogen,

yaitu persamaan 2.18 dengan ruas kiri sama dengan nol.

adalah penyelesaian

khusus yang memenuhi persamaan non-homogen 2.18.


Penyelesaian umum

sama dengan penyelesaian untuk sistim getaran bebas,

yaitu
(2.20)

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Penyelesaian khusus dapat diperoleh dengan mensubsitusikan

ke persamaan

2.18., dalam hal ini dapat diambil bentuk :


(2.21)
Dengan subsitusikan persamaan tersebut ke persamaan 2.18, diperoleh

Penyelesaian persamaan getaran 2.18 menjadi

(2.25)
Dimana Konstanta

dan

ditentukan dari keadaan awal getaran yaitu

kecepatan dan simpangan awal pada waktu t=0. Bagian ruas pertama yang disebut
dengan transient-state dan bagian kedua disebut dengan steady-state getaran, bentuk
getaran tersebut dapat dilihat pada gambar 2.4. dari gambar ini dapat dilihat bahwa
keadaan transient-state yang ditentukan oleh keadaan awal getaran dan mengecil

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

secara ekponential, sedangkan steady-state akan bergetar terus dengan frekwensi


yang sama dengan frekwensi gaya luar sesuai dengan gaya luar yang bekerja.
Lamanya getaran bergantung pada lamanya beban luar dan besar damping.

Untuk menghitung dissipasi energi, hanya dipakai bagian getaran steady-state


saja, yaitu:
(2.26)
Persamaan 2.26 dapat ditulis dalam bentuk fase getaran
(2.27)
Dimana

adalah amplitude getaran, dalam bentuk lain

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dimana ,

Dan

Subsitusikan nilai

dan

, diperoleh

Dimana
, adalah defleksi atau simpangan struktur dalam keadaan statis.

disebut magnification factor atau faktor dinamis getaran, factor tersebut


menggambarkan keadaan simpangan maksimum getaran dengan keadaan simpangan
statis. Grafik
nilai

dari persamaan 2.29. dapat dilihat digambar 2.2. untuk berbagai

dan .

Besarnya Input energi dari gaya luar


pembebanan

, adalah :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

yang bekerja untuk setiap siklus

Bila gaya luar

, dan persamaan getaran

Energi gaya luar yang bekerja adalah

(2.31)
Jumlah energy yang didissipasi dalam satu siklus getaran oleh redaman adalah:

Dari persamaan terakhir, energi yang didissipasi besarnya berbanding kwadrat


dengan amplitude getaran.
Dengan mensubsitusikan nilai sudut fase
input energi dapat ditulis sebagai berikut

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

ke persamaan 2.31. persamaan

Bila diperhatikan input Energi persamaan 2.33. dan Persamaan dissipasi


energy 2.32. kedua persamaan sama besar

Hal ini menunjukan bahwa besarnya energi yang didissipasi dalam satu siklus
getaran sebesar input energi beban luar, dengan amplitude sebesar
Energi kinetik dan energy regangan pegas tidak mendissipasi energi, jumlah
energi kinetik dan energi regangan adalah nol untuk satu siklus getaran, hal ini dapat
dibuktikan sebagai berikut.
Energi regangan :
(2.35)

Energy kinetic
(2.36)

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Besarnya amplitude

getaran dapat dihitung dengan menyamakan persamaan

2.31. dengan persamaan 2.32. diperoleh

Dari persamaan dissipasi energi, gaya damping

Atau dapat ditulis dalam bentuk

Bentuk persamaan terakhir 2.38.

adalah fungsi kurva ellips dari fungsi

.
Persamaan ellips 2.38. membentuk suatu loop yang tertutup, lihat gambar
2.5.2. loop yang digambarkan dari hubungan gaya dengan displacement ini disebut
hysteristic loop .
Luas dari loop adalah

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

atau

(2.39)
bila dibandingkan dengan persamaan 2.32. diperoleh

sama besar dengan

energi yang didissipasi dalam satu siklus getaran.


Penggambaran hysteristic loop juga dapat digambarkan dari fungsi gaya total (
dalam hal ini,

gaya damping dan gaya elastis pegas) atau (

(2.40)
Gambar dari persamaan terakhir juga berbentuk loop, gambar 2.5.3. dengan
rotasi sudut

, besarnya energi yang didissipasi adalah tetap sebesar

, karena dissipasi gaya pegas

Fs+ Fs
Fd
K

K
C

1.(a) SDOF
SDOF
Linier
- LINIER
VICOUS
viscous
DAMPING

um

um

2. LOOP
Hysteresic
loop
(b) HYSTERISTIC
LINIER VICOUS
DAMPING (Fd
Fd -- Um)
Um

3.

Hysteresic loop

(Fd + FsLOOP
) -( Fs+Fd)
Um - Um
(c) HYSTERISTIC

Gambar 2.5. Dissipasi energi sistim linier viscous damping

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.4. HYSTERESTIC LOOP


Hyterestic loop merupakan kurva hubungan gaya dengan simpangan pada
sistim SDOF yang dibebani dengan beban siklik. dan luas dari loop merupakan
besarnya energi yang dissipasi.
Hysteristic loop akan berbentuk ellips, kalau kekakuan konstan dengan
linier-viscous damping. Bila kekakuan tidak konstan dan damping bukan linier vicous
damping, loop tidak berbentuk ellips lagi.
Besar gaya dalam sistim adalah gaya dari kekakuan struktur ditambah gaya
damping, yaitu,

= total gaya dalam struktur.


= gaya dari kekakuan pegas =

= gaya dari damping =


Dari persamaaan undamped forced vibration,
kekakuan tidak konstant, tetapi sebagai fungsi dari simpangan

, bila
,

Maka gaya dalam struktur adalah :


(2.41)

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Persamaan getaran menjadi :

Bila kita gambarkan hubungan gaya

dengan displacement

akan terbentuk

loop, seperti pada getaran linier-vicous damping, tapi dengan bentuk yang berbeda,
lihat gambar 2.6.1. Tapi energi yang didissipasi tetap sama yaitu sebesar luas dari
loop.
Getaran dengan gaya gesekan yang konstan, seperti getaran dengan coulomb
friction , gaya gesekan
(2.41)
imana : Ff = Gaya gesekan
N = Gaya normal
fr = Koefisien gesekan
Dengan persamaan getaran menjadi

Hysteristic loop getaran akan berbentuk segi -4, lihat gambar 3.6.2. Energi
yang didissipasi dalam 1 siklus pembebanan

sama dengan luas segi 4,


(2.43)

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Bentuk hysteristic loop segi-4 ini, dinamai hyteristic loop bi-linier.

N.fr

Fy

uy

u0

1. Hysterestic loop bi-linier


(a) HYSTERISTICLOOP - KEKAKUAN BI-LINIER K(u)
k(u)

u0

2. Hysterestic loop coulomb


(a) HYSTERISTICLOOP - COULOUMB FRICTION
friction

Gambar 2.6. Hysterestic Loop kekakuan Bi-linier dan Gesekan

2.5. EQUIVALENT VISCOUS DAMPING


Menurut Bertero and Wang, Energi gempa yang masuk dan yang diterima
struktur yang memakai hysteresticyield damper dapat ditulis dengan :

(2.44)
Dimana:
= Energi gempa yang masuk ke struktur.
= Energi kinetic dalam struktur.
= Energi regangan dalam struktur.
= Energi yang didissipasi oleh damping dari struktur.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

= Energi

yang didissipasi oleh hysterestic loop dari sifat

inelastis bahan damper.


Ruas kiri merupakan energi yang diperlukan ( demand Energi ) sedangkan
bagian kanan adalah jumlah energi yang harus disediakan oleh struktur.
dan

merupakan energy yang bersifat tetap (konservatif), yang besarnya

adalah konstan, Dissipasi energy hanya dilakukan oleh viscous damping


dan hysteristic loop

dari sifat inelastis bahan .

Energi yang didissipasi oleh hysteristic loop dari sifat inelastic bahan sulit
diperhitungkan, untuk itu diupayakan penyederhanaan menghitung besarnya dissipasi
energy hysteristis loop dengan pendekatan model yang bersifat linier.
Pemodelan sifat inelastis menjadi model viscous damping dilakukan oleh
Jacobean (1930,1960), kemudian dikembangkan oleh Housner (1956) dan jenning (
1964), konsep equivalent viscous damping digunakan untuk menggantikan dissipasi
energy berbagai bentuk hysteristic loop menjadi dissipasi energi linier viscous
damping.
Dengan konsep Equivalent Viscous Damping, bentuk hysterestic loop dirubah
menjadi bentuk ellips dengan luas yang sama.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dari persamaan 2.34.

Dimana ,
Besar seluruh damping dapat dihitung memakai pendekatan dengan
menjumlahkan damping dari struktur dan damper, yaitu :
(2.46)
= Jumlah damping ratio
= Equivalent Damping Ratio dari dissipasi energy dari hyterestic loop.
= inherent damping atau viscous damping dari struktur.

2.6. METODE DISSIPASI ENERGI DAMPER


Damper adalah alat tambahan yang dipasang di struktur untuk menambah
redaman ( damping). Dengan memasang alat damper simpangan struktur akan
berkurang, demikian juga gaya dalam struktur akibat beban lateral. Damper yang
biasa dipasang pada struktur, dapat dibedakan menurut cara dissipasi energinya :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

1.

Viscous Damper

2.

Friction Damper

3.

Hysterestic-yield Damper

4.

Visco-elstic Damper

2.6.1 Viscous damper


Viscous damper mendissipasi energi berdasarkan kecepatan gerak dari bagian
damper, bentuk yang paling dasar adalah redaman cairan dalam dashpot
digunakan pada peralatan mesin.

yang

Liquid Viscous Damper mendissipasi energi

berdasarkan kecepatan gerak piston dan kekentalan cairan yang mengalir melalui
lobang di piston, ada yang memakai silicon sebagai pengganti cairan.
Dalam pemodelannya untuk analisa, bentuk umum dari gaya redaman atau
damping dapat ditulis
(2.47)
Dimana :
= gaya damping.
= kontanta damping dari damper
= kecepatan
Koefisien mempengaruhi kelinieran dari damping, bila
menjadi linier sedangkan bila

gaya damping

gaya damping menjadi non-linier.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Bila suatu sistim SDOF dipasang damper jenis ini, persamaan getarannya
untuk

adalah :
(2.48)
dimana :
= massa bangunan
= konstanta damping struktur
= konstanta damping dari damper
= kekakuan
= simpangan massa
= percepatan gerakan tanah dasar.
Damping alat ini bekerja untuk semua simpangan baik sewaktu simpangan

getaran kecil maupun besar, gaya damping paling besar terjadi pada saat simpangan
sama dengan nol. hysteristic loop untuk linier vicous damping yang dibawah beban
harmonis ( =1) akan berbentuk ellips seperti yang ditunjukan gambar 2.5.

Fd

um

Gambar 2.7. Hysterestic loop linier viscous damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2.6.2 . Friction damper


Untuk friction damper, besarnya energi

yang didissipasi bergantung pada

deformasi dan gaya gesekan yang terjadi. besarnya gesekan antar pelat bergantung
pada gaya tekan antar pelat, tidak bergantung pada simpangan, kecepatan maupun
percepatan. jadi dalam pemodelannya berupa suatu gaya yang konstan bila gaya tekan
antar pelat tetap.
(2.48)
Dimana :
Gaya damping dari damper
= gaya tekan antar pelat
= koefisien friksi antar pelat
Pemodelan Friction damper dalam bangunan derajat kebebasan 1 ( SDOF )
dengan input percepatan gempa

, persamaan getarannya dapat ditulis :


(2.49)

Dimana :
= massa bangunan
= konstanta damping bangunan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

= kekakuan struktur
= gaya gesekan damper ( gaya tersebut mempunyai nilai
absolute karena tetap berlawanan arah dengan arah getaran)
= Percepatan massa
= kecepatan massa
= percepatan gerakan tanah dasar.
Karena gaya gesekan selama getaran tidak bergantung pada simpangan, maka
bentuk hysterestic loop akan berbentuk rigid bilinier (empat persegi panjang) , lihat
Gambar 2.8.

Fd

um

Gambar 2.8. Hysterestic loop friction damper

2.6.3 Hysterestic-yield damper


Hysterestic-yielding damper, memiliki karateristik yang berbeda dengan kedua
jenis damper sebelumnya. damper jenis ini mendissipasi energi dengan membentuk
hysteristic loop dari perubahan kekakuan damper, yaitu dari keadaan elastic menjadi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

plastis ( yielding ). Pelelehan damper ada yang berupa pelelehan lentur , geser atau
secara axial ( tekuk ). Bahan yang sering digunakan adalah baja lunak dan timah .
Persamaan getaran untuk bangunan SDOF yang dipasang damper jenis ini
adalah :
(2.50)
Dimana :
= massa bangunan
= konstanta damping struktur
= kekakuan sebagai fungsi dari displacement
= percepatan gerakan tanah dasar.
Bentuk hysterestic loop dari metallic yield damper dapat dilihat di gambar 2.9.

Fm
Fy

uy

Gambar 2.9. Hysterestic loop yield damper


2.6.4 Viscous-elastic damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

um

Visco-elastic damper memilki sifat damping yang bergantung pada kecepatan


gerakan dan juga memiliki sifat kekakuan. bentuk yang paling banyak dijumpai
adalah dua lapisan polymer yang dilekatkan pada tiga lapisan pelat baja, ada juga
yang menggunakan bahan bitumen dan karet. lihat gambar 2.10.
Gaya damper dapat ditulis dengan persamaan :

Persamaan getaran untuk bangunan SDOF yang dipasang damper jenis ini
adalah :
(2.50)
Dimana :
k = Kekakuan struktur
= Kekakuan damper
= Simpangan / pergeseran damper
= persen damping damper
c = Persen damping struktur
= Kecepatan
Bentuk loop dissipasi energinya dapat dilihat pada gambar 2.10.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Fm
K

um

Gambar 2.10. Viscous-elastic damper damper dan Hyteristic loop

a. PENGARUH DAMPING TERHADAP RESPONSE SPEKTRUM GEMPA


Metode Analisa dinamis dengan metode Response Spektrum Gempa
merupakan metode yang paling sederhana dalam menentukan response suatu sistim
struktur, response yang diperoleh dengan metode tersebut adalah response maximum,
seperti simpangan maksimum, kecepatan maksimum atau percepatan maksimum.
Untuk menentukan response maksimum tersebut hanya diperlukan variable waktu
getar (T ).
Kurva response spectrum gempa digambarkan dari hubungan response
maksimum terhadap waktu getar. Response maksimum tersebut dihitung dari sistim
SDOF ( single degree of freedom) dengan berbagai waktu getar untuk suatu input
gempa tertentu.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk tujuan perencanaan biasanya dipakai kurva yang telah dihaluskan atau
diidealisasikan, lihat gambar 2.11.
Persamaan getaran SDOF yang dipakai adalah :

Dimana :

Nilai persentase damping yang dipakai dalam penentuan kurva response


spektrum biasanya sebesar 5%, response spektrum yang diperoleh dari persamaan
diatas adalah response spektrum simpangan Sd. Untuk response spektrum lainnya
seperti response percepatan Sa dan kecepatan Sv diturunkan dari response spektrum
simpangan.

.
Response spektrum kecepatan dihitung dari persamaan :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

(2.51)
Dan response spektrum percepatan dihitung dengan persamaan :
(2.52)
Nilai

dan

bukanlah harga maksimum dari response kecepatan dan

percepatan yang sebenarnya, tapi hanya suatu nilai yang mendekati, sehingga
disebut psudo- velocity dan

disebut psudo-acceleration.

Telah diuraikan sebelumnya bahwa damping akan memeperkecil response dari


getaran, makin tinggi nilai damping makin kecil response yang terjadi, gambar 2.11.
menunjukan pengurangan nilai response simpangan untuk nilai damping yang makin

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

besar. Untuk menentukan pengurangan response akibat besar damping yang berbeda
dipakai suatu faktor pengali yang disebut dengan faktor damping, faktor tersebut
merupakan faktor pengali atau koreksi terhadap response spektrum getaran dengan
damping 5%.
2.53
Besarnya factor damping

telah diberikan oleh beberapa peneliti antara

lain :
1. Kawashima-Aizawa
Kawashima Aizawa memberikan persamaan faktor damping terhadap
response spektral kecepatan , dengan persamaan

Dan response spectral kecepatan yang terkoreksi :

2. Bommer et al
Bommer et al mengajukan. Persamaan faktor damping :

Persamaan tersebut juga digunakan dalam EC8 ( euro code 8 )

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

3. FEMA 2000 NEHRP


Fema melalui peraturan atau standard NEHRP 2000 memberikan nilai faktor
damping seperti yang ditunjukanTabel 2.1.

Tabel 2.1. Faktor damping FEMA 2000 NEHRP


Damping

0.0
2
1.25

0.05

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

0.83

0.67

0.56

0.48

0.42

0.37

0.33

0.30

0.28

0.25

Nilai

dalam tabel diatas berlaku untuk waktu getar T 0.2 Ts

Untuk T=0 nilai


Untuk 0 < T < 0.2 Ts ; nilai

di interpolasi linier.

Mengenai Ts dapat dilihat pada gambar (II )


4. Ramirez et. al (2000)
Ramirez et.al memberikan factor damping yang hampir sama dengan yang
diajukan FEMA 2000, lihat tabel 2.2.

Tabel 2.2. Faktor damping dari Ramirez et.al(2000)


Damping

Nilai

0.02

0.05

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

1.25

0.83

0.67

0.59

0.53

0.45

0.39

0.34

0.30

0.27

0.25

1.25

0.83

0.67

0.59

0.53

0.45

0.38

0.43

0.42

0.41

0.40

dalam tabel diatas berlaku untuk T = 0.2 Ts

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk 0.2 Ts < T < Ts , nilai

Untuk T< 0.2 Ts , nilai


T=0) dan

di interpolasi linier antara

di interpolasi linier antara nilai 1 ( untuk

( untuk T =0.2 Ts )

Perbedaaan faktor damping untuk keempat peneliti diatas dapat dilihat di


gambar 2.13. kurva untuk dari Bommer et al, Ramirez et al dan FEMA 2000 agak
bersesuaian, sedangkan dari Kawashima-Aizawa agak menyimpang jauh dari factor
koreksi yang diajukan oleh ketiga peneliti lainnya.

Gambar 2.13. Faktor damping

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

BAB III
DAMPER PELAT LENTUR
3.1 . KONSEP STRUCTURAL FUSE
Konsep perencanaan struktur tahan gempa konventional memakai filosopi
bahwa :
1.

Bila terjadi gempa kecil struktur masih elastis

2.

Bila terjadi gempa sedang, struktur masih elastic, tapi terjadi


kerusakan non-struktural.

3.

Bila terjadi gempa besar, akan deformasi plastis struktur tapi tidak
terjadi keruntuhan.

Untuk menjamin tidak terjadi keruntuhan sewaktu gempa besar, maka struktur
harus cukup daktail, hal ini dapat dilakukan dengan pembentukan sendi plastis yang
cukup daktail pada lokasi-lokasi tertentu, lokasi pembentukan sendi-sendi plastis
biasanya dipilih pada tumpuan balok, bila pembentukan sendi plastis terjadi di kolom
maka akan terjadi soft-story dengan daktilitas struktur yag kecil , perencanaan yang
demikian dikenal dengan perencanaan kolom kuat dan balok lemah.

Pembentukan

sendi plastis pada struktur akan menimbulkan kerusakan-kerusakan, bila kerusakan


masih dalam batas tertentu masih dapat diperbaiki, tapi teknik perbaikan biasanya
cukup sulit, memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar.

50
Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008
USU e-Repository 2008

Dengan memilih pembentukan sendi plastis pada bagian struktur yang mudah
diganti atau memakai struktur tambahan yang direncanakan untuk terjadi kerusakan
bila terjadi gempa besar, maka pada struktur utama tidak akan terjadi kerusakan.
Konsep perencanaan yang demikian disebut dengan konsep structural fuse.
Untuk struktur yang dipasang metallic damper, damper direncanakan sebagi
fuse dari struktur, bila terjadi gempa besar damper akan rusak dengan deformasi
plastis yang besar, struktur utama tetap elastis untuk, walaupun keadaan struktur
pasca gempa besar akan terjadi off-center atau sideway yang tetap karena deformasi
plastis di damper, dengan melepaskan damper yang rusak sewaktu penggantian
damper baru, bangunan akan centering kembali kekeadaan awal.
3.2 KEKAKUAN DAN DAKTILITAS PELAT DAMPER
Tujuan utama pemakaian damper adalah untuk menjamin struktur utama tetap
dibebani dalam batas elastis baik terjadi gempa kecil maupun gempa besar. Beban
gempa yang lebih besar dari beban yang dapat dipikul secara elastis oleh struktur
akan dipikul oleh damper, untuk itu damper harus memiliki kekakuan dan daktilitas
yang cukup besar.
Damper direncanakan dalam keadaan elastic untuk gempa kecil atau sedang,
dan berperilaku inelastic dengan membentuk hysteristic loop untuk gempa besar.
Keperluan daktilitas yang besar pelat damper dapat diilustrasi sebagai berikut,
tinjau suatu SDOF dengan damper seperti gambar 3.1. struktur dalam keadaan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

mekanisma ( plastis) dibawah pembebanan gaya lateral, dengan deformasi simpangan


sebesar u, putaran sudut penampang kolom adalah :

, damper mengalami

simpangan yang sama dengan struktur dengan putaran sudut penampang sebesar :
.Bila tinggi struktur
sudut damper

dan tinggi damper h= 40 cm, maka putaran

kali putaran sudut dari penampang kolom

Keperluan daktilitas penampang untuk mendapatkan putaran sudut damper


dengan pembentukan sendi plastis dititik ujung pelat damper saja tidak mencukupi,
pada

pelat damper harus direncanakan tambahan titik sendi plastis. Tambahan

pembentukan sendi plastis ini bergantung pada bidang momen dan bentuk
penampang sepanjang tinggi pelat damper. Hal-hal yang mempengaruhi kekakuan
dan daktilitas damper, antara lain :
1. Daktilitas bahan pelat .
2. Pengaruh bentuk pelat .

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Damper

Bracing

Gambar 3.1. Deformasi plastis struktur SDOF

3.2.1 Daktilitas bahan pelat


Daktilitas adalah sifat dari kemampuan bahan mengalami deformasi yang
besar tanpa mengalami kerusakan. Daktilitas bahan biasanya ditentukan dari
deformasi aksial tarik.
Dari kurva hubungan tegangan dan regangan baja

gambar 3.2.1. sifat

regangan baja dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian elastis, bagian plastis
dan strength hardening, lihat gambar 3.2.2 ketiga bagian mempunyai karateristik
yang berbeda. Bagian elastis mempunyai hubungan yang linier antara regangan dan
tegangan sampai tegangan leleh, ditandai dengan titik A pada kurva gambar 3.2.2.
bagian plastis dengan tegangan kurang lebih tetap sebesar tegangan leleh sampai

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

batas titik B, sedangkan bagian strength-hardening mempunyai hubungan tegangan


dan regangan yang tidak linier sampai regangan putus.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 3.2.3. merupakan idealisasi kurva tegangan-regangan sampai titik B,


atau titik permulaan strain hardening. Bentuk idealisasi hubungan tegangan-regangan
ini yang digunakan untuk perencanaan plastis, dan titik B merupakan regangan batas
perencanaan. Bagian kurva setelah titik B yaitu bagian strength hardening, umumnya
diabaikan dalam perencanaan plastis dan dapat dianggap sebagai

tambahan

keamanan struktur. Panjang regangan plastis dari titik A sampai titik B sekitar 15 kali
panjang regangan elastis sampai titik A untuk baja lunak ( mild-steel ), perbandingan
panjang tersebut yang didefinisikan sebagai daktilitas tarik atau daktilitas regangan
dari bahan

3.2.2. Pengaruh bentuk pelat terhadap daktilitas dan kekakuan


Bentuk-bentuk pelat damper yang akan ditinjau adalah :
1.

Bentuk segi-4

2.

Bentuk segi-3

3.

Bentuk X

Dalam pembahasan hanya ditinjau 1 buah pelat damper.


3.2.2.1 Pelat damper bentuk segi-4
a.

Daktilitas lentur Pelat damper bentuk segi-4

Deformasi keadaan elastic :


Deformasi dan gaya-gaya yang bekerja pada pelat damper bentuk segi-4 dapat

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

MPu
plastis

Mdp

Fp

h/2
h

elastis

a
a

plastis

X
Mx
Fp
b

MPY

Upu
t

2. Bidang
3. Deformasi
4. Bidang momen
1. Bentuk pelat
(a) BENTUK PELAT DAMPER momen
(b) BIDANG MOMEN
(
C
)
DEFO
RMASI
PELAT
( C) BIDANG MOMEN
pelat
keadaan
batas
damper
KEADAAN ELASTIS
KEADAAN BATAS
KEADAAN BATAS
keadaan
keadaan
batas

Gambar 3.3. Pelat Damper Bentuk Segi- 4


dilihat pada gambar 3.3. deformasi lateral pelat dalam batas elastic dapat dihitung
dengan persamaan :

Dimana :
= Defomasi pelat damper dalam keadaan elastis.
= Gaya lateral pada pelat damper
= Modulus elastika bahan pelat

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

= Momen inertia

= Lebar pelat
= tebar pelat
Mengingat

, dimana

adalah Momen diujung damper,

simpangan damper menjadi

Dengan

memasukan

besaran

Momen

Inertia

dan

momen

diperoleh

Bila

bertambah besar, suatu saat tegangan

, deformasi saat ini adalah

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

akan mencapai tegangan leleh

adalah simpangan pelat saat permulaan meleleh, dan kapasitas momen


penampang saat mulai meleleh adalah

, dengan distribusi tegangan

masih bersifat linier, lihat gambar 3.3.3.


Deformasi keadaan plastis :
Bila beban

terus bertambah, maka penampang akan memasuki tahap

plastisitas , dengan distribusi tegangan yang ditunjukan oleh gambar 3.4.3. Momen
plastis dapat dihitung dari

Kapasitas batas penampang tercapai bila regangan serat


regangan batas leleh

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

(3.3)

terjauh mencapai

t
y
y
X

5. Pelat
(a) PELAT DAM PER
damper

4. Regangan1. Teganga
(b ) REGANGAN
( C ) TEGANGAN
KEADAAN
KEADAAN ELASTIS
keadaan
n ELASTIS
elastis
keadaan

2. Regang
(c ) REGANGAN
KEADAAN PLASTIS
an
keadaa

t/ 2
y

3. Tegang
( d ) TEGANGAN
KEADAAN
PLASTIS
an
keadaa

Gambar 3.4. Tegangan dan regangan pelat damper


Bila didefinisikan daktilitas regangan penampang pelat:

Dari gambar 3.3. daktilitas regangan

Momen batas

diperoleh dengan mensubsitusikan persamaan 3.5. ke

persamaan 3.3.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk nilai daktilitas regangan yang besar, misalnya untuk

diperoleh

Deformasi lateral batas

pelat damper dapat dihitung dari gambar 3.3.3.

tinjau distribusi momen pelat sepanjang


bagian, dari

keadaan pelat dapat dibagi menjadi 2

keadaan pelat masih elastis dan bagian

pelat

dalam keadaan plastis.


Panjang bagian elastis

dapat dihitung dari bidang momen gambar 2.3.2.

dan gambar 3.3.3.

Atau dengan subsitusikan persamaan 3.7. diperoleh

Sehingga

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Deformasi ujung

dapat dihitung dengan persamaan garis lentur

adalah radius lengkungan,

dengan mengabaikan

Persamaan garis lentur menjadi

Untuk bagian elastic 0xa :


Tinjau regangan diserat sejauh y dari garis netral di penampang

Tegangan diserat tersebut

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Subsitusikan persamaan 3.12. ke persamaan 3.13. diperoleh

Subsitusikan persamaan 3.14. ke persamaan garis lentur 3.11. Persamaan garis


lentur menjadi

Dari bidang momen gambar 3.3.2 :

Subsitusikan ke persamaan garis lentur 3.15.

Diintegralkan :

Dengan kondisi batas :


3.17. diperoleh,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

, subsitusikan ke persamaan

Deformasi di

, adalah

Putaran sudut persamaan 3.16. menjadi,

Simpangan atau lendutan persamaan 3.17. menjadi,

Untuk bagian Plastis a x h/2 :


Perhitungan deformasi untuk bagian plastis dilakukan dengan persamaan garis
lentur 3.11.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Letak garis tegangan nol dalam penampang

dari garis netral pada potongan

tampang sejauh x dapat dihitung dari persamaan 3.3.

atau

Dari gambar bidang momen gamabar 3.3.4. momen pada penampang


adalah :

Subsitusikan

,Diperoleh

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Persamaan garis lentur 3.11. keadaan plastis adalah :

Subsitusikan persamaan 3.20. ke persamaan garis lentur 3.21.

Diintergralkan,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk

: putaran sudut

, dari persamaan 3.22.

diperoleh,

Untuk

Dari persamaan 3.9.

, persamaan garis lentur menjadi,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dititik temu kedua garis lentur

, putaran sudut dan defleki dari kedua

garis lentur adalah sama, putaran sudut yang sama dilakukan dengan menyamakan
persaman 3.18. dengan persamaan 3.24.

Diperoleh ,

Dengan menyamakan persamaan 3.19. dan persamaan 3.25. untuk defleksi


yang sama dititik temu x =a

Diperoleh

Persamaan garis lentur 3.23. untuk bagian plastis

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Subsitusikan nilai

, dan

diperoleh deformasi maksimum setengah

panjang pelat sebesar atau setengah dari deformasi total,

untuk seluruh panjang pelat, deformasi menjadi dua kali yaitu,

Daktilitas pelat dapat dihitung dengan membandingkan deformasi maksimum


keadaan plastis dengan deformasi saat penampang mulai meleleh. Dari persamaan
3.26. untuk deformasi maksimum dan persamaan 3.2 untuk keadaan mulai meleleh,
diperoleh

b. Kekakuan pelat damper bentuk segi-4


Kekakuan pelat damper pada keadaan elastic dapat dihitung dari hubungan
gaya dengan deformasi,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk pelat dalam keadaan elastis, hubungan tegangan regangan sama dengan
persamaan 3.1.

Sehingga kekakuan keadaan elastis,

Untuk keadaan plastis, diasumsikan kekakuan bersifat constant dari keadaan


mulai meleleh sampai mencapai keadaan batas kekakuan,

persamaan kekakuan

adalah

Dimana ,
(3.31)
dan
(3.32)

Dari

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dan

Diperoleh
Beda gaya damper keadaan batas dengan keadaan leleh,
(3.33)
Deformasi keadaan batas dari persamaan 3.27.

Deformasi keadaan mulai leleh,

Beda deformasi keadaan batas dengan keadaan mulai meleleh

Kekakuan damper keadaan plastis, menjadi

3.2.2.2 Pelat damper bentuk segi-3

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

a.

Daktilitas lentur pelat damper bentuk segi-

3
fp

M dp

Mx

h
bx

3. Bentuk pelat
b
damper

fp
t

(a) BENTUK PELAT DAMPER

2. Bidang
momen

Up
1. Deformasi pelat
(b) DEFORMASI PELAT

Gambar 3.5. Pelat damper bentuk segi-3

( C ) BIDANG MOMEN

Deformasi pelat pada keadaan elastis :


Tumpuan damper pelat bentuk segi-3 berbeda dengan tumpuan dengan pelat
segi-4 dan bentuk X, pelat damper bertumpu pada sudut ujung dan sisi hadapannya,
tumpuan ujung sudut segi-3 adalah tumpuan sendi sedangkan tumpuan sisi segi-3
adalah tumpuan jepit. Lihat gambar 3.5.1.
Bila gaya damper

, Momen pada potongan sejauh

adalah

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

, dari ujung damper

Bila gaya

yang bekerja bertambah besar, dan momen pada sisi terjauh dari

damper mencapai momen leleh

, Momen pada potongan

adalah,

Dengan Lebar pelat pada potongan

Dan momen Inertia

Tegangan yang terjadi di penampang

penampang menjadi,

Dari persamaan 3.36. diperoleh bahwa tegangan dalam penampang sepanjang


batang adalah sama, karena tegangan dari persamaan tidak bergantung pada variable

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

. jadi seluruh penampang sepanjang pelat meleleh pada saat yang bersamaan,
Tegangan leleh diserat paling luar dengan

adalah,

Deformasi keadaan elastis dapat dihitung dari,

Dengan

dan

Persamaan deformasi menjadi :

Integrasikan :

Dan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

dengan kondisi batas : Untuk

; Diperoleh

Untuk

; Diperoleh

Deformasi maximum keadaan elastic :

Deformasi keadaan plastis :


Untuk keadaan batas momen

akan mencapai

damper, Dari persamaan 3.6 dan persamaan 3.5.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

pada sisi terjepit dari

Persamaan garis lentur menjadi :

Subsitusikan

dan

ke persamaan garis lentur,

Dengan memasukan kondisi batas :


Untuk

dan

ditumpuan ujung

disisi ujung lainnya

, diperoleh

, diperoleh

Deformasi atau lendutan maximum :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Daktilitas damper :

Subsitusikan persamaan 3.38. dan persamaan 3.39. diperoleh


(3.40)

Dari persamaan terakhir persamaan 3.40. daktilitas damper sama dengan


daktilitas bahan
b.Kekakuan Pelat Damper Bentuk Segi-3
Hubungan kekakuan damper sampai keadaan mulai meleleh, dapat dihitung
dari persamaan 3.38.

mengingat

defleksi menjadi

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dari bidang momen gambar 3.5.3.

Kekakuan keadaan elastis

Untuk keadaan plastis, juga diasumsi seperti pelat segi-4 kekakuan bersifat
constant sampai mencapai keadaan batas kekakuan dihitung dengan.

Dimana

dan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

dari persamaan 3.40.

dan persamaan 3.41.

dan bidang momen gambar 3.5.4. bidang

Dari persamaan 3.7.

momen tersebut bersifat linier berlaku untuk keadaan elastic dan keadaan beban
batas, sehingga berlaku

dan

, perbedaan gaya

menjadi,

Kekakuan pelat damper menjadi

Perbandingan kekakuan sesudah dan sebelum mencapai keadaan batas,


, untuk nilai

yang cukup besar, misalnya 15 untuk bahan baja

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

lunak, diperoleh

, nilai kekakuan

tersebut hampir mendekati

garis mendatar, dengan demikian kurva hubungan gaya dengan deformasi dapat
dianggap berbentuk Elasto-Plastis, lihat gambar 3.7.
2.2.2.3 Pelat bentuk X
a.

Daktilitas lentur pelat damper bentuk X

fp

Mdp

h
X

Mx

bx

fp
b

Ud

pelat
(a) BENTUK
PELAT DAMPER 2. Deformasi
(b) DEFORMASI
PELAT
1. Bentuk pelat
damper

3. Bidang
momen
( C) BIDANG
MOMEN

Gambar 3.6. Deformasi dan Bidang Momen pelat bentuk X

Deformasi keadaan elastis :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Damper dengan pelat bentuk X di gambar 3.6. merupakan gabungan 2 buah


damper segi- 3 disudut segi-3. Untuk damper bentuk ini, perhitungan deformasi dapat
dibagi menjadi 2 bagian segi-3.
Deformasi elastic untuk setengah bagian damper, dari persamaan 3.38. dengan
mengganti tinggi pelat menjadi

dan dikalikan 2 untuk 2 damper bentuk segi-3

dengan tinggi h/2 ,

Deformasi keadaan plastis :


Demikian juga untuk defleksi pelat keadaan batas, gantikan tinggi pelat h
menjadi h/2 pada persamaan 3.39. dan hasilnya digandakan :

Daktilitas pelat damper :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

b.

Kekakuan Pelat Damper Bentuk X

Kekakuan pelat damper dari keadaan elastic sampai saat mulai leleh dapat
dihitung dari,

Dengan menggantikan

, diperoleh

Dari bidang momen gambar 3.6.3.

Kekakuan keadaan elastis

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk keadaan plastis, juga diasumsi seperti pelat segi-4 kekakuan bersifat
constant sampai mencapai keadaan batas kekakuan dihitung dengan.

Dimana

Dari persamaan 3.44.

Dari persamaan 3.7.

dan persamaan 3.45.

dan bidang momen gambar 3.6.3.

bidang momen tersebut bersifat linier berlaku untuk keadaan elastic dan keadaan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

beban batas, sehingga berlaku


gaya

dan

perbedaan

menjadi ,

Kekakuan Pelat Damper kekaan plastis

Perbandingan kekakuan sesudah dan sebelum mencapai keadaan batas,


, untuk nilai
,

nilai kekakuan

yang cukup besar, misalnya 15, diperoleh


tersebut hampir mendekati garis mendatar,

dengan demikian kurva hubungan gaya dengan deformasi dapat dianggap berbentuk
Elasto-Plastis, lihat gambar 3.7.
3.2.2.4 Perbandingan daktilitas dan kekakuan bentuk-bentuk pelat damper
Perbedaan atau perbandingan daktilitas dan kekakuan pelat damper bentuk
segi-4, segi-3 dan x dapat dilihat pada tabel 3.1. dan gambar 3.7 adalah gambaran
dari tabel 3.1.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Tabel 3.1. Perbandingan daktilitas dan kekakuan damper


( untuk 1 pelat damper)
BENTUK
PELAT
DAMPER

DEFORMASI PELAT DAMPER


Leleh Uy

Batas Um

DAKILITAS

Segi -4

KEKAKUAN PELAT DAMPER


Elasitis

Plastis

BENTUK

BILINIER

Segi-3

ELASTOPLASTIS

ELASTOPLASTIS

Pada tabel 3.1. dapat dilihat bahwa pelat damper segi-3 dan bentuk x mempunyai
daktilitas yang besar yaitu sebesar daktilitas tarik bahan pelat dampernya. Pelat

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

dalam damper dipasang sejajar sehingga Jumlah pelat dalam damper tidak
mempengaruhi besarnya daktilitas, tapi akan memperbesar kekakuan damper,
kekakuan damper bertambah sebanding dengan jumlah pelat di damper. Hubungan
gaya dan defleksi pelat damper dari tabel 3.1. dapat dilihat pada gambar 3.7
3.3. MODEL ANALISA
Tinjau suatu damper yang tersusun dari beberapa pelat pada gambar 1.3.
deformasi semua pelat dalam satu damper adalah sama, daktilitas damper sama
dengan daktilitas pelat dalam damper, dengan demikian daktilitas damper hanya
bergantung pada ukuran pelat penyusunnya dan tidak bergantung pada jumlah pelat
yang ada.
Jumlah pelat damper hanya menambah kekakuan damper, pelat dalam dapat
dimodelkan sebagai pegas-pegas yang disusun secara seri. Sehingga besarnya
kekakuan damper adalah jumlah dari kekakuan masing-masing pelat,
(3.48)
Dimana :
= kekakuan damper
= kekakuan 1 pelat damper
= jumlah pelat dalam 1 damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dengan gaya leleh pada damper sebesar gaya

, simpangan permulaaan

leleh dari damper adalah

Dari uraian sebelumnya untuk pelat damper bentuk segi-3 dan bentuk X ,
hubungan gaya dengan simpangan

dapat diidealisasikan menjadi kurva

elasto-plastis, dengan kekakuan elastis

dan nol setelah simpangan melewati batas

leleh

Ub Ud

Fs/2

Fd

Fs/2

Fd

KG

(a) Deformasi damper

1. Deformasi damper

(b) Free-body gaya damper

2. Free-body gaya
damper

3.

(c) Idealisasi SDOF dari StrukturIdealisasi


SDOF
Damper

struktur -

Gambar 3.8. Pembagian Gaya Damper Dan Struktur


Bila damper dipasang diatas bracing

sistim cheveron yang direncanakan

berperilaku elastic, gambar 3.8. dan pengaruh defleksi chevron ikut diperhitungan,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

bracing dan damper dapat digabungkan dan digantikan dengan suatu damper
pengganti.
Dari gambar 3.8. bila pada damper bekerja gaya sebesar

, maka pada

bracing juga bekerja gaya


Simpangan seluruhnya

Kekakuan damper pengganti

Besarnya kekakuan pengganti

dari persamaan 3.50. hanya berlaku untuk

damper dalam keadaan elastis, setelah melewati batas leleh

, kekakuan

adalah nol, sesuai dengan asumsi kurva kekakuan damper sendiri berbentuk elastoplastis. Jadi bracing hanya memberikan konstribusi pengurangan kekakuan damper
dalam batas elastis, setelah melewati batas elastis tidak memberikan konstribusi .
Model struktur bangunan SDOF yang dipasang damper dengan sistim chevron
seperti gambar 3.8.1 dapat didealisasi menjadi suatu model SDOF dengan kekakuan
gabungan antara damper dengan struktur, gambar 3.8.3.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Kekakuan gabungan dari model analisa dapat dihitung dengan meninjau


deformasi dari sistim SDOF, bila terjadi simpangan struktur u, pada damper juga
terjadi simpangan yang sama, kekakuan effektif dapat dihitung sebagai berikut :
Gaya luar
struktur

P dipikul bersama oleh struktur dan damper, bila gaya dalam

dan gaya yang bekerja di damper

, dari syarat keseimbangan :

Bila deformasi adalah u dan kekakuan gabungan maka


Sedangkan gaya dalam struktur

, maka,

dan gaya dalam damper

Subsitusikan ke persamaan keseimbangan diperoleh :

(3.51)
Fm
K2
Fs

Fy
Fdy
Ks

um
LINIER STRUKTUR
3. (b) KEKAKUAN
Kekakuan
linier
struktur

K1
Kd

uy

um

DAMPER
2.(b) KEKAKUAN
Kekakuan
damper

uy

(C) KEKAKUANkekakuan
MODELKEKAKUAN BI-LINIER
1. Model
bi-( K(U) )
linier ( struktur +

Gambar (III.9
merupakan
kurva dariGabungan
, untuk
dalamdan
batasDamper
elastic
Gambar
3.9. Kekakuan
Struktur

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

um

Kekakuan Gabungan

setelah melewati batas elastic

Untuk membedakan
sebagai

, sehingga

dalam keadaan elastic dan plastis, dipakai

untuk damper keadaan elastic dan

untuk

damper keadaan plastis. Kurva hubungan gaya dengan simpangan berbentuk bilinier
dengan gaya leleh sebesar,
(3.52)
Bila gaya P yang
simpangan maximum

bekerja adalah beban siklus

dengan

persamaan getaran SDOF menjadi persamaan non-

linier karena kekakuan gabungan

berbentuk bilinier atau

sebagai fungsi dari

simpangan,
(3.53)
Dalam hal ini K(u) adalah kekakuan bilinier yang ditunjukan gambar 3.10.2.
dengan mengabaikan damping dari struktur sendiri , persamaan getaran menjadi,
(3.54)
Bila digambarkan hubungan gaya dalam pegas

dengan simpangan atau (

) akan terbentuk loop segi-4 yang merupakan jumlah energi yang didissipasi
dalam satu siklus pembebanan ,seperti yang ditunjukan gambar 3.10.3. Gambar
3.10.4 adalah SDOF dengan linier viscous damping .

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Fm

Fy
KG = K(U)

um

uy

1. (a)Nonlinier
NON - LINIER SDOF

2.(b) KEKAKUAN
Kekakuan
model
bi-linier
MODEL
KEKAKUAN
BIk(u) LINIER ( K(U) )

Fm
Fy

Fm
K

uy

um

3. ( CHyterestic
model
bi) HYSTERISTICloop
LOOP MODEL
BI-LINIER
linier

um

4.

hysteristic loop viscous

(d) HYSTERISTICLOOP MODEL KEKAKUAN LINIER ( K


damping
)

Fm
Fy

uy

um

5. Hysterestic loop model


(d) HYSTERISTIC LOOP MODELPENGGANTI
pengganti
linier
KEKAKUAN LINIER ( Ke)
equivalent

Ke

6. Model pengganti
(e) MODEL PENGGANTI LINIER
SDOF linier equivalent
SDOF

Gambar 3.10. Pendekatan SDOF Non-Linier Menjadi SDOF Linier

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Kedua sistim getaran lihat gambar 3.10.5. yaitu SDOF non-linier dan SDOF
yang linier, mempunyai kesamaan dissipasi energi dengan membentuk loop yang
berbeda, dengan penyederhanaan beberapa parameter, Model

SDOF

non-linier

disederhanakan menjadi model pendekatan SDOF linier yang equivalent dengan


Model SDOF dengan linier viscous damping.
Gambar 3.10.6 adalah model pengganti equivalent dari model SDOF dengan
damper, parameter yang disesuaikan untuk model pengganti equivalent adalah :
1. Mengganti kekakuan menjadi kekakuan pengganti
2. Mengganti damping dengan konsep equivalent linier vicous damping
Dengan memperhatikan gambar 3.10.6 Kekakuan pengganti

Dengan menggunakan konsep equivalent linier vicous damping, besarnya


damping pengganti adalah,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dalam bentuk damping ratio ,

Seluruh damping dari sistim atau damping total yang ada dalam sisitim dapat
disederhanakan dengan menjumlahkan kedua damping, yaitu damping equivalent dan
damping alami dari struktur,

Atau dalam bentuk damping ratio


(3.59)
Dimana

adalah damping alami dari struktur

Dengan demikian persamaan SDOF dengan damper :

Dapat diganti menjadi model equivalent dengan persamaan :


(3.60)
(3.61)

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

III.4. ANALISA MODEL PENGGANTI


Dengan memperhatikan persamaan Model
dengan damper di gambar 3.62.

Pengganti dari Sistim SDOF

nilai simpangan maximum dapat dihitung dengan

mudah menggunakan metode Response Spektrum.


Untuk mendapatkan nilai
diperlukan nilai
. Nilai

untuk menghitung

dari kurva response spectrum gempa,


, sedangkan nilai

bersifat variable sesuai dengan perubahan

ditentukan dari nilai

Dari persamaan sebelumnya :

Simpangan

adalah hasil dari perhitungan dan tidak diketahui pada awal

perhitungan, Untuk menghadapi kendala tersebut, perhitungan dapat dilakukan


dengan metode iterasi.
Perhitungan dapat dilakukan sebagai berikut:
1.

Asumsikan suatu nilai

yaitu nilai simpangan maksimum awal,

kemudian hitung kekakuan pengganti

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

dengan persamaan

2.

Hitung periode model pengganti :

3.

Dengan nilai periode

tentukan

dari kurva Response

Spektrum Gempa.
dan damping total dari persamaan :

4.

Hitung damping pengganti

5.

Tentukan factor koreksi damping

sesuai dengan persen damping

total
6.

Hitung response maximum

7.

Periksa kesesuaian

dengan

, bila tidak dalam batas toleransi

ulangi langkah awal (1) dengan memakai

8.

yang baru yaitu :

Ulangi perhitungan kembali dari langkah 1 sampai diperoleh kesesuaian

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

III.4 RESPONSE SPEKTRUM GEMPA


Gempa yang digunakan dalam analisa riwayat waktu gempa adalah Gempa ElCentro dengan percepatan tanah 0.35 g. Analisa linier dengan metode response
spectrum menggunakan 2 bentuk response spectrum :
1. Response spectrum dari gempa El-Centro
2. Response Spektrum yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan
Tahan Gempa SNI 03 1726 -2002
Gambar 3.11.1 adalah response spektrum simpangan El-Centro

dengan

percepatan tanah 0.35g yang dihitung dengan program Non-Lin. Response Spektrum
dalam peraturan gempa SNI 03-1726-2002 adalah response spectrum percepatan
pada umumnya response spektrum percepatan
simpangan dengan hubungan

diturunkan dari response spektum


Bentuk response spectrum percepatan

dari peraturan gempa SNI 03-1726-2002 ditunjukkan gambar 3.11.2. sedangkan


response spektrum simpangan ditunjukkan gambar 3.11.3. yang dihitung kembali
dari response spektrum percepatan dengan persamaan :
Gambar 3.12. menunjukkan response spektrum simpangan SNI yang
disesuaikan dengan response spektrum simpangan El-Centro 0.35g dengan
menggunakan metode curve-fitting.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 3.11. Response Spektrum Gempa EL-CENTRO dan SNI


Nilai Response spektrum percepatan EL-Centro yang disesuaikan untuk
percepatan 0.35g adalah :
T = 0

; Sa = 0.23 g

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


T = 0.2 s/d 0.5
; Sa =
USU e-Repository 2008

T > 0.5

0.463 g

; Sa = 0.386 g / T

Untuk waktu getar :


Response Spektrum pergeseran dari peraturan yang disesuaikan dan Response
spectrum pergesaran EL-centro dengan percepatan 0.35g akan digunakan dalam
analisa.

3.5. FAKTOR KOREKSI RESPONSE


Faktor Koreksi ditentukan dari perbandingan antara response simpangan
analisa non-linier riwayat waktu gempa dengan simpangan maksimum dari Model
Equivalent yang dihitung dengan metode response spectrum.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Dimana :
= Pergeseran maksimum Analisa Non-linier riwayat waktu gempa
= Pergeseran maksimum Analisa Linier dari Model Equivalent
Analisa riwayat waktu gempa yang menggunakan riwayat waktu gempa ElCentro dengan percepatan 0.35g, dan

analisa response Spektrum dari model

Equivalent menggunakan dua kurva response, yaitu response spectrum simpangan ElCentro dan Model kurva Response spectrum simpangan dari peraturan SNI yang
disesuaikan dengan percepatan dasar 0.35g dari gambar 3.12.
Bentuk hysteristic loop dari damper berbentuk empat persegi, luas hysteristik
loop ditentukan oleh factor

dan

. Untuk penyederhaan dalam menentukan

factor koreksi dipakai besaran non-dimensional :


dan

Faktor koreksi yang dihitung dengan menggunakan dua bentuk response


spectrum gempa dengan percepatan gempa yang sama yaitu 0.35 g. Tabel 3.2. adalah
faktor koreksi yang dihitung dengan menggunakan response spectrum Gempa ELCentro, sedangkan tabel 3.3. adalah faktor koreksi hasil perhitungan dengan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

menggunakan model response spektrum gempa dari peraturan gempa yang


disesuaikan terhadap gempa El-Centro 0.35g.
Perhitungan dalam bentuk tabel di lampiran 1.1. dibagi menjadi 4 kolom
utama, kolom pertama merupakan input data perhitugan yang terdiri dari waktu getar
T1, factor k dan faktor e. kolom kedua merupakan output dari program NONLIN
berupa Ue dan Umr . kolom ketiga perhitungan model equivalent dengan simpangan
maksimum Um. dan kolom keempat adalah factor koreksi

yang merupakan

perbandingan CF = Umr/Um
Waktu getar T1 adalah waktu getar

keadaan damper terpasang dengan

kekakuan K1 = Kd + Ks , waktu getar T1 dihitung dari :

Nilai Ue adalah simpangan maksimum dari response spectrum Sd dengan


asumsi sistim bergetar dengan periode T1 dalam keadaan linier ( elastis). Uy adalah
batas leleh pertama dari sistim getaran.
Hasil perhitungan disajikan dalam tabel di lampiran 2 dan tabel lampiran 5,
tabel lampiran 2 untuk hasil analisa dengan response spectrum El-Centro, dan tabel
lampiran 5

untuk analisa response spectrum dari SNI 03- 1726 -2002 yang

disesuaikan.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar lampiran 1 adalah gambaran dari tabel lampiran 2, sedangkan gambar


lampiran 2 adalah gambaran dari tabel lampiran 5. Dengan memperhatikan
kecenderungan dari pola yang terbentuk

dari grafik-grafik tersebut, dapat

disimpulkan bahwa untuk berbagai nilai T1, kurva untuk nilai e =2 agak terpisah
dari kurva untuk e = 4,6,8. untuk nilai e = 4,6,8 kurva agak berdekatan malahan
ada yang berpotongan. Sehingga untuk setiap jenis response spectrum akan
ditentukan dua kurva factor koreksi, yaitu factor koreksi untuk e =2 dan kurva
factor koreksi untuk e =4,6,8 yang diambil sebesar nilai rata-rata dari kurva e
=4,6,8. Dengan factor koreksi dari nilai rata-rata untuk e =4,6,8, penyimpangan
yang terjadi masih dibawah 15% seperti yang ditunjukan tabel lampiran 3 dan tabel
lampiran 6 untuk analisa dinamis besar penyimpangan 15% dapat dianggap cukup
teliti, bila dibandingkan ketelitian faktor input data seperti input besaran
gempa,kemungkinan gempa yang akan terjadi, penyederhanaan response spektrum
dalam peraturan Gempa, Kekakuan dan massa atau beban struktur yang
diperhitungkan.
Faktor koreksi dari analisa untuk input gempa El-Centro dengan percepatan
dasar 0.35g, juga berlaku untuk nilai percepatan tanah lainnya. Tabel lampiran 9,
tabel lampiran 10, Tabel lampiran 11. Lampiran 3 menunjukan nilai koreksi hasil
analisa dengan input gempa El-Centro dengan percepatan gerakan dasar 0.25 g dan
0.15 g, untuk berbagai nilai e dan waktu getar T1, nilai factor koreksi CF adalah
sama untuk ketiga percepatan dasar gempa.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Tabel 3.2 . Nilai faktor koreksi simpangan


( Model response spektrum EL-CENTRO )

0.5

Kd/Ks
T( detik)

0.950
0.833

0.975
0.866

0.991
0.892

1.004
0.902

NILAI KOREKSI

2
4 S/D 8

0.946
0.856

0.905
0.790

0.918
0.755

1.7

2
4 S/D 8

1.017
0.891

1.025
0.757

0.905
0.674

0.734
0.660

0.687
0.678

0.677
0.704

0.676
0.740

1.5

2
4 S/D 8

1.035
0.909

1.009
0.838

0.946
0.614

0.988
0.615

1.014
0.623

0.970
0.646

0.898
0.656

1.2

2
4 S/D 8

1.149
1.108

1.236
0.969

1.327
0.785

1.392
0.739

1.450
0.676

1.493
0.665

1.517
0.688

1.0

2
4 S/D 8

1.064
0.922

1.151
0.973

1.212
1.045

1.234
1.005

1.245
0.993

1.252
0.971

1.256
0.992

0.8

2
4 S/D 8

1.039
0.832

0.977
0.773

0.854
0.773

0.812
0.813

0.833
0.862

0.860
0.894

0.882
0.885

1.102

1.058

0.992

0.992

0.986

0.982

0.974

0.5

2
4 S/D 8

1.015

1.056

0.944

0.754

0.613

0.545

0.529

0.2

2
4 S/D 8

0.995

0.907

0.804

0.723

0.666

0.669

1.030

0.91

0.847

0.918

0.949

0.813

0.675
0.654

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Tabel 3.3 Nilai faktor koreksi simpangan


( Model response spektrum SNI 03 1726 -2002 )

Kd/Ks
T( detik)
e
2

1.7

1.5

1.2

0.8

0.5

0.2

0.5

NILAI KOREKSI

1.013

1.095

1.174

0.212

1.235

1.250

1.260

4 S/D 8

0.996

0.887

0.767

0.751

0.736

0.723

0.716

0.881

0.858

0.873

0.882

0.886

0.888

0.889

4 S/D 8

0.807

0.854

0.774

0.698

0.650

0.632

0.612

2
4 S/D 8

0.865
0.722

0.919
0.720

0.966
0.759

0.987
0.799

0.998
0.839

1.005
0.866

1.010
0.874

0.969

1.014

1.075

1.116

1.14

1.166

1.183

4 S/D 8

0.728

0.688

0.677

0.728

0.796

0.847

0.884

2
4 S/D 8

1.183
0.969

1.181
0.828

1.149
0.686

1.127
0.656

1.112
0.651

1.102
0.658

1.095
0.666

1.203

1.182

1.128

1.138

1.184

1.224

1.258

4 S/D 8

1.092

1.005

0.873

0.808

0.788

0.794

0.803

1.480

1.513

1.455

1.404

1.360

1.321

1.297

4 S/D 8

1.376

1.338

1.154

0.999

0.898

0.845

0.815

2
4 S/D 8

1.068
1.172

1.093
1.105

1.159
1.032

1.187
1.040

1.204
1.070

1.250
1.057

1.296
1.010

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 3.13. Nilai factor koreksi simpangan dengan model response spektrum
gempa EL-CENTRO

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 3.14 Faktor koreksi simpangan dengan model response


spektrum SNI 03- 1726 -2002

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

3.6. CONTOH KASUS :


Suatu bangunan berlantai satu dengan atap beton, dengan data sebagai berikut :
Ukuran bangunan :

60 x 12 m

Atap beton

: 12 cm

Jarak rangka

6m

Bentang rangka

12 m

Tinggi bangunan

: 5.5 m

Ukuran balok dan kolom seperti yang ditunjukan pada gambar terlampir,
bangunan terletak di daerah gempa zone 3 diatas tanah mutu sedang sesuai dengan
pembangian zona gempa dan kategori tanah dalam SNI 03-1726-200
Penyelesaian :
Data masukan :
Tinjau arah melintang bangunan arah X :
Kekakuan dan berat bangunan :
Dengan bantuan program ETABS diperoleh :
Berat

343285.4

kg

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Kekakuan struktur

13252.401

kg/cm

Spektrum gempa :
Spektrum percepatan : Untuk daerah gempa zone 3 tanah sedang SNI 031726-2002

(gambar 3.15)

Untuk : T = 0

Sa

0.23 g

T = 0.2 s/d 0.6

: Sa =

0.55 g

T > 0.6

0.33 g /T

Sa

Penyesuaian ree spektrum percepatan EL- Centro 0.35g dengan model

Response spektrum dari SNI ( curve fitting ) adalah :


Untuk : T

=0

0.27 g

T = 0.2 s/d 0.6

: Sa =

0.64 g

0.38 g / T

> 0.6

Sa

Sa

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Spektrum percepatan dirubah menjadi spektrum simpangan dengan persamaan

Untuk SNI zone-3 tanah sedang :


:

Sd3 = 0.23 g/n2

T = 0.2 s/d 0.6

Sd3 = 0.55 g / n2

T > 0.6

Sd3 = 0.33 g /(T n2 )

Untuk : T = 0

Penyesuaian response spektrum simpangan EL-Centro 0.35 g dengan model


response spektrum simpangan dari SNI ( curve fitting ) adalah :
Untuk : T = 0

Sdc = 0.27 g/ n2

T = 0.2 s/d 0.6

: Sdc = 0.64 g / n2

T >

0.6

Sdc = 0.39 g /(T n2 )

Plot nilai simpangan spectral Sd dapat dilihat pada

gambar 3.16

bila

dibandingkan dengan Spektrum Simpangan hasil curve-fitting spektrum Gempa ELCentro 0.35g diperoleh :

0.86

Percepatan gerakan tanah gempa El-Centro untuk gempa zone 3 (sedang )


menurut SNI, dapat diskalakan menjadi :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

= 0.86 x 341.7 cm/det2


= 292.34 cm/det2
Bila dipakai faktor reduksi = 1.60 ( struktur keadaan elastis), Percepatan
gerakan tanah menjadi :
= 182.71

Perhitungan
Perhitugan Secara Manual :
1. Analisa struktur tanpa Damper,

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

cm/det2

Sistim dinamis

: SDOF

Berat

343285.4

Kekakuan struktur

13252.401

kg
kg/cm

Massa
349.93415 kg detik2/cm

=
Simpangan :
Frekwensi

= 6.1539523 rad / detik


Periode

= 2 / n
= 1.021 detik

Dari response spektrum SNI zone 3 tanah sedang

= 317.0715

cm/detik2

cm

8.3723804

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Untuk faktor Reduksi R = 1.6


simpangan struktur menjadi :

5.2327378

cm

Syarat kinerja batas layan dari SNI :

= 10.3125 cm atau

3 cm

Simpangan maksimum
5.2327378

Untuk memenuhi syarat tersebut

> 3

cm

akan dipasang Damper untuk

mengurangi simpangan maksimum menjadi lebih kecil dari 3 cm


2 Analisa struktur dengan Damper :
3 cm

Bila Simpangan struktur dibatasi


dan simpangan leleh damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

cm

Dari input data :


= 13252.401

kg/cm

= 349.9341 kg detik2/cm
Asumsi nilai awal dari Model Pengganti equivalent :
Untuk iterasi 1
= 2.5

asumsi

dan

= 39757.204

cm
kg/cm

Kekakuan pengganti :

= 23854.322 kg/cm

= 8.2563934 rad/detik

0.7610085

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

detik

Dari kurva response spektrum SNI zone 3 untuk tanah sedang

= 337.21875 cm/detik2

= 4.9468752
Damping equivalent :

= 980.96962
Persen damping :

= 0.1697653
Damping struktur :

= 0.05

Jumlah Damping :
=

0.2197

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

cm

Faktor Amplikasi Damping :

0.6088453

Simpangan maksimum model equivalent :

= 3.0118819 > 2.5 cm ( asumsi awal )


Iterasi ke 2 :
Coba Nilai :

yang lain :
=

41281.23

kg/cm

dari sebelumnya :
=
Asumsi nilai

13252.401 kg/cm dan


2.283 cm

diperoleh :
=

25529.593

8.5413945

kg
rad/detik

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

=1 cm

0.7356159

detik

dari kurva response spektrum diperoleh :


=

274.76977 cm/detik2

3.7662694

Damping equialent :

cm
= 1028.4925

= 0.1720505
= 0.05
Jumlah Damping : = 0.2205
Faktor Amplikasi Damping : (u)

= 0.606282

Simpangan maksimum model equivalent :


2 .2834242 cm 2.28 cm
kekakuan damper :
= 28028.829
Faktor Koreksi CF :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

kg

= 0.5784911

detik

Dari kurva response spektrum dengan

diperoleh

336.87 cm/detik2
Simpangan Struktur :
=

2.8556336

cm

Dengan :
= 2.8556336

2.115

Diperoleh faktor koreksi CF dari tabel 3 .3


CF

1.18

Simpangan maksimum :

3.369 > 3 cm ( Target Simpangan )

Iterasi ke 3 :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Coba nilai

dan
=

yang lain :
2.024 cm

49272.428

kg/cm

31048.857

kg

9.419

0.667 detik

303.018 cm/detik2

Diperoleh :

rad/detik

dan

3.415 cm

Persen damping :
= 1217.036
= 0.184
= 0.05
0.234

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Faktor damping :
(u) =0.593
Simpangan maksimum model equivalent :
=

2.0243458

2.024 cm

Faktor koreksi CF :
=

36020.027

11.866122

rad/detik

0.5295062

detik

336.875

cm/detik2

kg

2.3924956

Dengan :
= 2.392
=

2.718

Faktor koreksi CF dari tabel III .3 :


CF

1.255

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

cm

3.002582 3 cm (target Simpangan )

A.3 . Rencana damper


=

36020.027

kg

Dipakai 2 buah damper bentuk X dipasang diatas bracing chevron:


= 18010.013 kg Kekakuan bracing ,

kekakuan 1 buah damper X :


dihitung dengan metode unit load :

Simpangan akibat gaya satu satuan horizontal di

4.717E-06

cm

212007.6

kg

Kekakuan pelat damper :

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

ujung bracing

= 19681.996 kg / cm
Simpangan leleh pelat :

1 cm

Diperoleh :

0.922 cm

Pakai baja lunak BJ 37 :

= 2600

tinggi pelat

= 61 cm

dan lebar pelat

= 23 cm

Diperoleh tebal pelat :

kg/cm2

= 2.499 cm

Kekakuan satu pelat :

= 29.918 cm4
= 2100000 kg/cm2

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

= 2214.35 kg
Jumlah pelat dalam satu damper :

=
Dipakai

8.89

buah

buah pelat

2.Perhitungan dengan Program Non-Lin


Dengan input data :
Berat

= 342935.47 kg = 3360.8 KN

Kekakuan

= 49272.428 kg = 482.87 KN

Kekakuan

= 13252.401 kg = 129.87 KN

Gaya leleh

= 482.87 KN

Gempa El-Centro dengan percepatan = 0.186 g


=0.186 x 9800 mm/det2
= 1827 mm/det2
Analisa dilakukan terhadap bangunan dengan damper dan tanpa damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Output dari Program : NONLIN


Analisa tanpa damper :
Simpangan maximum

4.408 cm

2.994

cm

Analisa dengan damper :


Simpangan maximum

Output dan input dari

analisa dengan Program NONLIN dapat dilihat pada halaman berikut,


perbedaan simpangan struktur dengan damper dan tanpa damper dapat
dapat dilihat pada gambar 3.17

cm

simpangan U

Dengan Damper
Tanpa Damper

detik

waktu

Gambar IV.3 Simpangan struktur dengan dan tanpa damper


Gambar 3.17 Simpangan struktur dengan dan tanpa damper
Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008
USU e-Repository 2008

3 Bidang Momen dan Bidang Gaya geser


Keterangan

Struktur tanpa damper

Struktur dengan damper

Kekakuan Struktur

13252.4 kg

13252.4 kg

Simpangan struktur

5.2 cm

3.0 cm

Gaya geser kolom

69346.3 kg

39791.4 kg

Momen kolom atas

381404.9 kg m

218852.8 kg m

Momen kolom bawah


Kekakuan pelat damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

5443.2 kg

Gambar 3.18. Denah dan potongan bangunan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Gambar 3.19. Detail damper

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

BAB IV
PEMBAHASAN

Struktur yang memakai damper pelat lentur adalah sistim struktur


SDOF dengan kekakuan non-linier, dengan asumsi kekakuan struktur tetap elastic
(constant) dan pelelehan hanya terjadi di damper. kekakuan gabungan struktur
dan damper dapat diasumsikan berbentuk bi-linier, sehingga persamaan getaran
sistim SDOF tersebut menjadikan persamaan getaran non-linier dengan kekakuan
sebagai fungsi dari simpangan atau K(u).
Suatu sistim SDOF dengan kekakuan non-linier K(u) yang dibebani
dengan beban siklik atau gempa akan mendissipasi energi yang masuk ke sistim
tersebut. Bila digambarkan hubungan gaya dengan simpangan akan terbentuk
suatu kurva yang tertutup atau loop, loop yang terbentuk dari pelelehan pelat
damper dinamai hysteristic- yielding loop, luas dari hysteristik loop sama
dengan besarnya energi yang didissipasi.
Makin besar energi yang dapat didissipasi oleh suatu sistim, makin kecil
simpangan

dan gaya gempa dalam struktur. Luasnya hyteristic loop


Energi yang didissipasi makin besar bila
makin besar, supaya

makin besar, pelat damper

harus memiliki daktilitas yang besar, besarnya daktilitas pelat damper ditentukan

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

125

oleh daktilitas bahan pelat dan bentuk dari pelat damper. Dari pembahasan
sebelumnya bentuk yang optimal adalah bentuk segi-3 dan bentuk X, karena
seluruh pelat meleleh pada saat yang bersamaan. sedangkan daktilitas baja yang
lebih sesuai adalah pelat baja lunak atau pelat baja yang dimudakan .
Penggunaan Model pengganti linier equivalent dengan konsep equivalent
viscous damping yang dianalisa dengan metode response spektrum gempa, tidak
selalu memberikan besar simpangan yang mendekati

besar simpangan dari

Model non-linier sebenarnya, yang dianalisa dengan metode riwayat waktu


gempa, hal ini disebabkan oleh penggunaan beberapa asumsi dalam
penyederhanaan model pengganti. Untuk menyesuaikan perbedaan kedua metode
hasil analisa dipakai suatu factor koreksi simpangan untuk mengkoreksi hasil
analisa model pengganti equivalent sehingga hasilnya mendekati hasil analisa
model sebenarnya.
Bebarapa hal yang menyebabkan diperlunya faktor koreksi , antara lain:
1. Pengaruh beban luar terhadap bentuk loop dari linier viscous damping.
Bentuk loop ellips dari sistim linier viscous damping diperoleh dari
steady-state response getaran dengan beban luar yang berbentuk harmonis,
untuk beban gempa bentuk loop tidak berbentuk ellips lagi ,sehingga
asumsi dalam konsep equivalent viscous damping dengan bentuk loop
ellips tidak lagi tepat.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

2. Penggunaan konsep equivalent viscous damping.


Model pengganti linier dengan konsep equivalent vicous damping
menggunakan loop bentuk ellips

menggantikan hysteristic loop yang

berbentuk segi empat. Dengan berpedoman pada luas yang sama, maka
besarnya gaya kedua loop tidak sama besar untuk simpangan yang sama
karena perbedaan bentuk.
Hyteristic loop yang berbentuk pipih atau

yang kecil, besarnya

perbedaan gaya dan bentuk kedua loop kecil, sehingga simpangan hasil
analisa dengan model equivalent mendekati hasil analisa response riwayat
waktu. Untuk

yang besar, perbedaaan gaya menjadi besar sehingga

perbedaan simpangan dari kedua analisa makin besar.


2 . Asumsi simpangan maksimum yang sama dengan simpangan minimum
Model pengganti menggunakan asumsi simpangan maksimum dan
minimum yang sama besar dalam menghitung besarnya equivalent viscous
damping , pada analisa riwayat waktu gempa simpangan minimum tidak
selalu diikuti oleh simpangan maksimum dalam satu siklus getaran,
sehingga besarnya equivalent viscous damping dengan asumsi simpangan
maksimum dan minimum dalam satu siklus getaran tidak begitu sesuai.
3. Peninjauan hanya pada satu siklus getaran

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

Analisa Model pengganti linier dengan metode response spektrum


gempa, hanya meninjau keadaan satu siklus pembebanan atau satu siklus
getaran,

pengaruh

simpangan

siklus

getaran

sebelumnya

tidak

diperhitungan, hal ini sangat berbeda dengan keadaan simpangan yang


dipengaruhi oleh simpangan sebelumnya pada analisa riwayat waktu
gempa.
4. Bentuk response spektrum yang dipakai
Metode analisa response spektrum menggunakan nilai satu nilai waktu
getar untuk menentukan simpangan maksimum, besarnya nilai maksimum
untuk bentuk response spektrum yang berbeda memberikan nilai yang
berbeda, demikian juga perbedaan bentuk kurva response spektrum yang
masih belum disederhanakan dengan kurva response spektrum yang telah
disederhanakan ( dihaluskan )

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
1)

Analisa linier dengan model equivalent tidak selalu memberikan hasil yang
memuaskan sebagai pendekatan untuk analisa persamaan getaran non-linier,
hal ini dapat dilihat dari factor koreksi CF yang tercantum di tabel 3.2. dan
tabel 3.3. factor koreksi CF

bervariasi dari nilai 0.6 sampai 1.3 , walaupun

sebagian nilai mendekati angka satu ( tanpa koreksi ).


2)

Faktor koreksi CF dipengaruhi oleh :


(a)Bentuk hysteristic loop yang ditentukan oleh faktor simpangan leleh damper
dan perbedaan kekakuan damper dan kekakuan struktur
(b) Waktu getar awal T1, sangat mempengaruhi besarnya factor koreksi, makin
besar perbedaan kekakuan damper dengan kekakuan struktur

makin

besar perbedaan factor koreksi.


(c) Model kurva response spektrum yang

berbeda memberikan nilai faktor

koreksi yang berbeda, hal ini dapat dilihat pada tabel 8 di lampiran 2. yang
menyajikan perbandingan atau selisih factor koreksi

dari model kurva

response spektrum gempa El-Centro dengan model kurva response spektrum


SNI, perbedaan kedua factor koreksi dapat mencapai 40%.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008

129

3)

Faktor koreksi tidak dipengaruhi oleh besarnya percepatan gerakan tanah,


perbandingan faktor koreksi CF untuk berbagai percepatan tanah

0.35 g,

0.25g, 0.15g ditabel 3.1, 3.2, 3.2 di lampiran 3 , memberikan nilai koreksi
yang sama besar.

5.2. SARAN
1) Faktor koreksi dalam bentuk tabel dan gambar kurang praktis untuk tujuan
aplikasi, untuk tujuan praktis perlu dicari suatu persamaan pendekatan yang
memadai.
2) Untuk pemakaian praktis faktor koreksi lebih baik dihitung dari spektrum
gempa rata-rata dari beberapa input gempa yang berbeda didaerah tersebut
untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, karena factor koreksi sangat
ditentukan oleh bentuk dari response spektrum yang dipakai.

Mahadianto Ong : Pendekatan Analisa Linier Metallic Damper, 2008


USU e-Repository 2008